-->

Lainnya Toggle

Toko Buku Sebagai Gaya Hidup

Oleh: Dwi Arjanto dan Rommy Fibri

MILAN KUNDERA, Arief Budiman, Y.B. Mangunwijaya. Nama-nama itu bermunculan di layar internet ketika Anda memencet tombol www.aksara.com, sebuah toko buku yang menyajikan buku-buku asing dan Indonesia berdampingan tanpa beban dan tanpa soal.

Dibangun sejak 1997 dan dibuka secara resmi sebulan silam, Toko Buku Aksara menjadi pelengkap toko buku impor, yang langka di Jakarta setelah berdirinya Times Bookstore (Mal Pondok Indah dan Plaza Indonesia), QB World Books (Jalan Sunda dan Plaza Senayan), Toko Buku Limma (Kemang), dan Kinokuniya. Ini sebuah bisnis yang cukup riskan, tidak hanya karena masyarakat Indonesia dikenal kurang akrab dengan aktivitas membaca (bersedia membeli tas Escada berharga jutaan rupiah, misalnya, tapi keberatan untuk membeli buku karya Franz Kafka berharga di atas Rp 200 ribu).

Kedua, sejak krisis moneter, harga buku impor tentu saja ikut melejit secara meteorik hingga mencapai harga yang begitu mustahil untuk masyarakat pembaca yang jumlahnya amat sedikit itu.

Toh, ada juga warga Jakarta yang masih cukup “nekat” untuk mendirikan toko buku semacam itu. Ia adalah Winfred Hutabarat, 30 tahun. Kenapa toko buku? “Gaya hidup. Saat ini toko buku bukan hanya menjadi tempat belanja buku. Tetapi, orientasinya lebih ke gaya hidup. Kami menyelenggarakan aktivitas yang berhubungan dengan buku. Pelanggan bisa mendengarkan ceramah, mengikuti diskusi ataupun jumpa pengarang,” tutur Winfred, direktur utama toko buku itu, kepada TEMPO.

Dengan jumlah buku impor 80 persen dari yang mereka miliki dan 20 persen buku berbahasa Indonesia, tampaknya toko buku yang berdesain artistik dan bersuasana nyaman itu memang tidak hanya menawarkan “makanan” bagi rohani, tetapi juga makanan dalam arti harfiah di kafenya. Kafe dan toko buku tentu bukan perkawinan yang baru. QB World Books di Jalan Sunda sebelumnya sudah merupakan “surga” bagi para pembaca.

Layanan pembelian buku melalui situs seperti Amazon.com tentu bisa memenuhi keinginan para pembaca buku impor. Namun, membelinya sendiri ke toko buku tentu merupakan keasyikan tersendiri, bagai memasuki sebuah dunia baru yang terpisah dari rutinitas yang riuh-rendah. Seorang warga Amerika Serikat, Celine Elizabeth, 38 tahun, direktur layanan pelanggan sebuah perusahaan asuransi asing yang tengah merencanakan tata ruang kantornya, sebelumnya agak sulit mencari buku interior dengan nuansa Thailand. “Baru di sini saya menemukannya,” ujarnya ketika dijumpai TEMPO tengah menjelajahi toko buku QB World Books. Penggemar karya Alexander Solzhenitsyn itu merasa kini tak perlu lagi repot memesan lewat internet untuk mendapatkan buku karya novelis Rusia tersebut. Cukup pergi ke toko buku impor terdekat.

Kemudahan mencari literatur berbahasa asing memang bertambah, meski masih kalah jauh dengan lengkapnya dan besarnya toko buku impor di Malaysia atau Singapura. Baru selama satu setengah tahun terakhir toko buku impor besar di Thamrin, Jakarta Pusat, dan Kemang, Jakarta Selatan, masing-masing menggelar puluhan ribu judul buku. “Penjualan kami dari tahun 1999 ke 2000 meningkat 20 persen, dan tiap bulan kami selalu bisa memetik keuntungan,” ujar Mohamad Lazmi, 39, Manajer Operasi Times Bookshop, yang didirikan pada 1989 dengan investasi US$ 1 juta. Lain lagi Kinokuniya, toko buku franchise dari Jepang. Sugiarto Gunawan, manajer operasional toko buku yang separuh koleksinya berbahasa Jepang itu, tak khawatir dengan hasil penjualannya karena target pasarnya sudah tersedia. “Sebab, ekspatriat Jepang di Jakarta jumlahnya bisa sampai 8.000 orang. Jadi, walau hanya ekspatriat Jepang pembelinya, itu sudah cukup bagi kami untuk eksis,” tutur Sugiarto.

Menurut pengamatan sekilas, separuh lebih calon pembeli toko buku impor seluruh Jakarta adalah orang asing. Itu pun hanya ramai pada akhir pekan. Ini juga dirasakan Ditta Amahorseya, karyawan Citibank yang mendirikan sebuah kelompok pembaca buku impor. “Makin lama ketahuan bahwa yang sering datang makin sedikit dan itu-itu saja. Kalau pergi ke toko-toko buku impor, paling lagi-lagi ketemunya sama bule saja,” kata Ditta. Pendiri dan anggota Book Club yang berdiri sejak 1992 itu khawatir apakah mereka dapat bertahan dengan rendahnya minat para pembaca lokal.

Ini beralasan, mengingat harga buku impor dipatok berdasarkan kurs mata uang dolar. Sebuah buku saku kecil yang berisi periodisasi Presiden Amerika Serikat dari dulu hingga kini berharga mencapai Rp 150 ribu. Buku filsafat Origin of Totalitarian (Hannah Arent) berharga Rp 204 ribu, dan From Beirut to Jerusalem(Thomas Fredman) Rp 191 ribu. Edisi hardcover buku Tiananmen Papers (Liang Zhang) di QB World Books dijual seharga Rp 360 ribu, sementara di Aksara Bookstore Rp 295 ribu. Padahal, Amazon.com menjualnya seharga US$ 24 dengan ongkos kirim US$ 6, atau bila dirupiahkan setara dengan Rp 285 ribu (dengan kurs dolar Rp 9.500). “Tetapi saya optimistis, apalagi bila dolar dalam level Rp 9.000-Rp 10 ribu,” ujar Winfred Hutabarat, pemilik Aksara Bookstore, yang dalam waktu dua pekan sejak dibuka awal Februari lalu telah sukses menjual 150 buah buku. Keyakinannya itu karena ia melakukan upaya-upaya agar tidak tersungkur.

Jadilah kini toko buku impor tak hanya menjadi tempat belanja, tetapi berorientasi ke gaya hidup bak toko-toko buku di mancanegara. Mereka menyelenggarakan aneka aktivitas yang berhubungan dengan buku: ceramah, diskusi, dan jumpa pengarang. Bahkan berikutnya ada toko buku impor yang melakukan kerja sama dengan taman kanak-kanak untuk melakukan pembacaan buku di salah satu bilik mereka yang khusus untuk anak-anak. Sayangnya, hampir semua toko buku (baik toko buku impor maupun lokal) belum menyediakan sofa empuk di sebuah pojok yang membuat toko buku itu senyaman toko buku di AS atau Inggris. Bahkan, di beberapa toko buku yang hanya menjual buku lokal, ada lo yang bukunya dibungkus plastik semua. Lalu, bagaimana dong kita tahu bukunya menarik atau tidak?

Tetapi, para pemilik toko buku impor ini tampaknya sudah mulai memahami bahwa tak mungkin mereka hanya “menjual” buku, tanpa aksesori lainnya selain kafe, kenyamanan, dan musik klasik. Winfred Hutabarat mengatakan, memang peluncuran buku dan jumpa pengarang sudah menjadi menu wajib di toko-toko buku luar negeri. Kebiasaan itu kemudian ditiru oleh toko-toko buku Indonesia. “Model toko buku ini saya adaptasi dari sebuah toko buku, New York Books and Company. Toko buku itu menjadi pusat aktivitas para pengarang. Mereka sering datang ke sana, juga melakukan diskusi,” tuturnya.

Richard Oh, 42 tahun, pemilik QB World Books, berambisi toko bukunya menjadi salah satu pusat kebudayaan. Selain aktif mengadakan acara peluncuran buku, ia juga menerima karya fotografi dan lukisan untuk dipamerkan di toko bukunya. Tetapi semua mesti berujung pada bagaimana caranya membuat aktivitas yang menarik minat baca. Sebab, sudah waktunya toko buku membantu meningkatkan minat baca, apa pun bentuk kegiatannya.

Dwi Arjanto dan Rommy Fibri

*) Dikronik dari Majalah Tempo, 05 Maret 2001

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan