-->

Kronik Toggle

Rumus Kamus

Penataran ahli-ahli bahasa indonesia, termasuk ahli dari malaysia, diselenggarakan di tugu, jawa barat. penataran untuk persiapan penyusunan kamus besar bahasa indonesia dan kamus bahasa daerah.

APA itu leksikograti? Barangkali kata ini baru dikenal umum ketika Lembaga Bahasa Nasional (LBN) memamerkan tak kurang dari kamus berbagai bahasa 9 sd 11 Mei lewat di gedung Trisula Jakarta, mengawali penataran leksikografi selama dua bulan (9 Juni sd 4 Agustus) di Tugu Jawa Barat. Drs Djajanto Supra, sastrawan dan sekretaris LBN, menyebut leksikografi sebagai tetek-bengek soal perkamusan.

Sementara kepalanya, Dra Ny. SWRudjiati Muljadi pada pembukaan penataran menyatakan “leksikugrafi mempelajari kata-kata, dan karena itu memegang
peranan yang menentukan dalam penyusunan kamus”. Dan “penataran ini memang baru pertama kali diselenggarakan”, seperti dikatakan Djajanto pula.

Yang Punya Bobot

Rupanya penataran ini memang mau menjangkau jauh, sebab erat hubungannya dengan kerja penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Bahasa Daerah yang harus selesai pada penutup Pelita II nanti. “Akan diterbitkan 20 Mei 1978, tepat pada ulang-tahun Sumpah Pemuda ke-50”, tutur sang sekretaris. Hubungan penatarandan kamus ini memang nyaris pasti, sebab memang diharapkan dapat dipersiapkan oleh orang-orang yang sudah ditatar itu.

Dan rencananya, itu kamus akan ditangani oleh team penyusun yang diketuai Drs Anton M. Moeliono, penasihat Bidang Perkamusan LBN Sembilan dari 10 anggota team yang juga staf LBN, ikut pula dalam penataran di Tugu itu.

Peserta-peserta penataran ini rupanya orang-orang pilihan. “Dari
140 pendaftar, hanya 40 orang saja yang diundang”, kata Djajanto. Terdiri dari ahli-ahli dari IKIP, fakultas sastra dan hukum, Departemen P & K — di antaranya terdapat seorang dari Malaysia dan tiga wanita. Dan yang 40 itu saja belum tentu semuanya bisa harus sampai tahap terakhir. Soalnya penataran ini
berlangsung lima tahap. Pertama: dua bulan di dalam negeri. Kedua: sembilan bulan tugas lapangan di daerah. Ketiga: sembilan bulan meloka-karyakan hasil-hasil tugas lapanan. Keempat:sembilan bulan penataran di luar negeri (khusus diikuti oleh peserta-peserta terbaik). Kelima: seluruh peserta berkumpul dalam sebuah sanggar untuk membicarakan seluruh hasil penataran.

Mudah-Mudahan

Rupanya memang masih nasib bahwa penataran ini mengambil orang asing sebagai pengajar. Tersebutlah tiga sarjana asing ahli bahasa Indonesia: Prof Dr A Teeuw (Belanda), Prof AL Becker (AS) dan Dr Jack Prentice (Australia). Tak ketinggalan sarjana-sarjana yarg lagi meneliti bahasa di Indonesia, Pilipina
dan Irian Timur, yaitu Dr Stockhof dan Dr Steinhauer (Belanda) serta Dr Richard Elkins dan Dr Karl Franklin Summer Institute of Linguistics). Mengapa mesti orang asing? “Soal perkamusan masih kurang diperhatikan di Indonesia”, jawab Djajanto, “sedang mereka adalah orang-orang yang ahli di bidang itu”. Cuma tentu saja mereka juga didampingi oleh ahli-ahii pribumi, antaranya Dr
Amran Halim, Drs Anton M. Moeliono, Djoko Kencono MA .

Menurut catatan LBN, khasanah kamus bahasa Indonesia — termasuk Melayu — ada sejumlah 336 buah. Jumlah ini masih bisa ditambah lagi dengan 189 buah kamus bahasa daerah. Cuma, dan inilah sayangnya, sampai kini menurut penilaian LBN belum ada kamus bahasa Indonesia yang baik. Itu tidak berarti tak ada tokoh penyusun kamus yang ‘boleh’, misalnya WJS Poerwodarminto
almarhum yang tahun 1970 mendapat Satyalencana Kebudayaan.

Kalaupun bicara tentang kamus bahasa Indonesia paling lengkap dewasa ini, menurut Djajanto, paling-paling cuma berisi 25 ribu kata. Lalu mungkinkah kamus besar nanti akan berisi dua kali lipat? “Mudah-mudahan”, jawab Djajanto sembari tertawa hingga tubuhnya terguncang-guncang.

Ia sendiri — lulusan Fakultas Sastra UI — memang punya cukup alasan untuk menyebut perlunya kamus besar itu. Karena perkembangan bahasa, banyak istilah baru yang belum sempat terwadahi. Sementara itu Djajanto memberitahu bakal bertemunya ahli-ahli bahasa Indonesia dan Malaysia yang keempat kalinya di Semarang, 24 sd 27 Juni ini. Utusan Indonesia sebanyak sembilan
orang diketuai Drs Anton Moeliono, sedang Malaysia dengan jumlah yang sama dipimpin oleh Tuan H. Sujak bin Rahiman, dari Jawatan Kuasa Tetap Bahasa Malaysia. Kabarnya pembicaraan soal ejaan dan istilah yang pernah dibahas dalam pertemuan sebelumnya akan sampai pada pembicaraan final. Sesudah itu dilanjutkan dengan pembicaraan sekitar tata-bahasa.

Lembur
Pertemuan itu erat kaitannya dengan Seminar Politik Bahasa Indonesia yang hampir pasti diselenggarakan 3 sampai 5 Pebruari tahun depan, yang bakal diawali oleh pra-seminar 31 Oktober nanti. Seminar itu nanti akan membahas 10 kertas kerja. Tanpa melupakan “seluruh aspek yang hidup dalam masyarakat”, kertas kerja sebanyak itu akan disampaikan oleh sastrawan, wartawan,
ahli bahasa, pendidik, bahkan juga dari Hankam.

Sementara itu memang bisa diakui bahwa proklamasi Ali Sadikin buat mengindonesiakan seluruh papan-nama dalam wilayah DKI, sebagai tindakan jempolan. Tak luput LBN pun jadi sibuk pula. Selama ini ada kira-kira 25 orang yang telah berkonsultasi dengan LBN — lewat telepon atau langsung — minta pertimbangan penggantian papan-nama dalam bahasa Indonesia. Lebih dari itu,
14 Juni yang lalu LBN menerima buku berjudul Direktoir Perdagangan, Industri dan Pariwisata Jakarta Dewasa Ini Buku setebal 692 halaman yang terdiri dari empat bab berisi istilah-istilah yang harus diindonesiakan itu, mesti diserahkan
kembali ke DKI paling lambat 22 Juni ini. “Akan disyahkan oleh Ali Sadikin bertepatan dengan HUT ke-447 Jakarta”, kata Djajanto.

Maka buru-buru LBN membentuk Team Khusus yang bisa dipastikan harus lembur menyelesaikan kerja yang cuma diberi waktu seminggu itu.

*) Dikronik dari MBM TEMPO Edisi. 17/IV/29 Juni – 05 Juli 1974

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan