-->

Kronik Buku Toggle

Agung Laksono: DPR Bukan Monster Politik

Jakarta: Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Agung Laksono menegaskan bahwa DPR bukanlah momok atau monster politik.

Dia mengatakan hal itu menanggapi imbauan Amien Rais, Ketua Umum Partai Amanat Nasional yang meminta dirinya tidak segan-segan dalam menghadapi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Bila dalam 100 hari SBY belum bagus, hajar terus. Jangan sungkan-sungkan,” kata Amien Rais dalam sambutannya pada acara peluncuran buku biografi Agung Laksono di Golden Ballroom, Hotel Hilton Jakarta, Senin (13/12) siang ini.

Namun, menurut Agung, DPR harus tetap menjadi mitra pemerintah. Tugas DPR mengawasi pemerintah akan dilakukan secara proporsional dan tidak apriori. “Kalau bagus kami dukung, kalau jelek ya kami sikat,” ujarnya.

Sampai saat ini, menurut Agung, belum ada kebijakan pemerintah yang dipersoalkan. Namun, dalam pemberantasan korupsi, lanjutnya, DPR akan meminta pemerintah segera memberi penjelasan. “Rakyat minta bukti, bukan janji,” kata dia. (suliyanti)

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 13 Desember 2004

Tangerang Terapkan Pendidikan Dasar dengan Metode Tematik

Jakarta:Pemerintah Kabupaten Tangerang mencanangkan tahun 2005 sebagai tahun Sekolah Dasar (SD). Pencanangan program berbasis pendidikan sekolah dasar ini telah diawali dengan menyelenggarakan penggunaan bahan ajar tematik yang merupakan implementasi dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK).

“Untuk sementara bahan ajar tematik ini akan diberlakukan di 181 SD inti yang ada di Kabupaten Tangerang,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Mas Iman Kusnandar Kepada Tempo usai peletakan batu pertama SMK Negeri Mauk.

Menurut Iman, bahan pelajaran Tematik merupakan program belajar mengajar. Sistem ini menerapkan antara teori dan
praktek langsung dilakukan oleh siswa. “Guru mengajar secara bertema dan langsung diimlementasikan oleh siswa,
Tangerang boleh berbangga, karena ini yang pertama kali di Indonesia,” kata Iman.

Sejauh ini, kata Iman, pendidikan dasar di Indonesia tidak mendidik secara dasar. “Kebanyakan orang berpikir, di SD
itu hanya cukup bisa membaca, berhitung dan menulis, padahal justru di SD inilah pondasi, dasar pendidikan harus dikembangkan dan ditanamkan ke setiap siswa”.

Menurut Iman, program ini, akan menghemat biaya pendidikan sekecil mungkin.” Setiap siswa akan memegang modul yang sama dengan guru pengajar dan berlaku hingga enam tahun kedepan”. Ide ini muncul dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) SD Balaraja, tersusun buku bahan ajar tematik khusus bagi anak kelas 1.

Setelah bekerja selama satu tahun, tim yang terdiri dari para tenaga didik yang berada dalam pengarahan asisten
Dirjen Pendidikan Dasar, Menengah dan Kejuruan Dr Hari Suderadjat, akhirnya dapat menyelesaikan penyusunan buku
bahan ajar tersebut. Tindak lanjut yang dilakukan setelah acara peluncuran buku yang dibuka Bupati Kabupaten
Tangerang Ismet Iskandar pada Jumat (26/11) lalu di SDN Batan Indah Cisauk adalah mensosialisasikan buku tersebut
pada SD yang ada di Kabupaten Tangerang.

Secara terpisah, Kepala Sub Bagian Kurikulum TK/SD Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Arsyad Husein, mengatakan penerapan sosialisasi buku bahan ajar ini akan dimulai pada tahun depan. Hal ini berhubungan dengan semester gasal yang akan segera berakhir pada akhir tahun ini. Sehingga penggunaan buku yang telah disesuaikan dengan
kurikulum 2004 tersebut baru akan digunakan setelah memasuki semester baru (genap) tahun depan.

Arsyad mengemukakan bahwa bahan ajar yang baru ada satu-satunya di Indonesia ini tidak diperjualbelikan. Semua pelajar diberi kesempatan menggunakan buku bahan ajar dengan cuma-cuma. “Akan tetapi, untuk kali ini buku tersebut baru dapat digunakan untuk 181 Sekolah Inti yang ada di kabupaten Tangerang,” jelas Arsyad.

Peluncuran buku bahan ajar tematik ini tidak berhenti sampai di sini saja. Akan tetapi akan terus dikaji ulang. Selain sebagai upaya menyempurnakan buku tersebut, bahan ajar tersebut juga merupakan langkah awal bagi pengembangan kelas selanjutnya. “Apabila penyempurnaan terus dilaukan secara berkesinambungan maka tidak menutup kemungkinan buku ini akan menjadi salah satu aset nasional dalam rangka kurikulum basis kompetensi(KBK), tandas
Arsyad.

Joniansyah–Tempo

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 01 Desember 2004

Buku Tentang Kelompok Islam Radikal, Diluncurkan

Yogyakarta: Buku yang mengupas seluk beluk organisasi Al Qaedah, Jamaah Islamiyah (JI), Majelis Mujahidin dan sejumlah organisasi Islam radikal lainnya, Minggu (3/10), diluncurkan di Yogyakarta. Buku setebal seribu halaman, itu bukan saja membahas sejarah berdirinya organisasi-organisasi radikal itu berikut jaringannya. Tapi juga menyajikan dokumen-dokumen rahasia milik Al Qaedah, JI dan lainnya.

Buku “Negara Tuhan: The Thematic Encyclomedia” diterbitkan oleh Seyasa Research Institute (SR-Ins), dan ditulis oleh Agus Maftuh Abegebriel, Ahmad Yani Abeveiro dan tim dari SR-Ins. Agus Maftuh dan Ahmad Yani adalah Direktur dan Sekretaris Jenderal SR-Ins yang juga merupakan staf pengajar di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Para penulis memaparkan, mengapa muncul radikalisme, baik oleh kelompok Al Qaedah, JI maupun kelompok lainnya; bagaimana berbagai kelompok yang berasal dari berbagai negara, dapat bersatu, berkumpul dan membuat jaringan internasional. “Kelompok-kelompok militan yang datang dari berbagai negara, mereka bertemu di Pesyawar, yang kemudian disebut sebagai alumni The Virtual Universities. Tapi jika kita kaitkan, radikalisme mereka tentu tidak bisa dilepaskan dari peran CIA dalam Operasi Merah,” kata Agus Maftuh, kepada Tempo.

Al Qaedah, JI, MILF misalnya, kata Maftuh, memang kelompok-kelompok radikal. Hanya saja, tidak berasal dari akar yang sama. “Al Qaedah menjadi radikal karena persoalan ekonomi. Usamah bin Ladin bukanlah seorang ideolog, tapi seorang pebisnis yang marah karena dikhianati Amerika dalam perdagangan minyak internasional. Kebetulan Usamah memang mempunyai jaringan, karena memegang semua daftar mujahidin yang masuk ke Afganistan,” kata Maftuh.

Menurut Maftuh, penulisan buku itu dilakukan setelah melakukan penelitian ilmiah bertahun-tahun. Penelitian tidak hanya dilakukan di Indonesia, tapi sampai Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Afganistan, Malaysia, Singapura, Philipina dan sejumlah negara lain.

Pada bagian akhir buku itu, terdapat lampiran sejumlah dokumen tentang JI, seperti laporan keuangan, kalender akademis latihan perang, dokumen cara membuat bom, dokumen nilai hasil latihan menembak, dan soal-soal ujian peserta latihan perang. “Semua dokumen yang kami peroleh dari berbagai pihak di Indonesia dan Pesyawar, sahih. Jika Sidney Jones saja bisa memperoleh, mengapa yang lain tidak bisa?” kata Maftuh.

Menurut Maftuh, salah satu poin penting buku itu adalah penekanan, radikalisme tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Ketika kelompok-kelompok radikal terus ditekan, yang terjadi adalah teori spiral atau terjadinya arus perlawanan. “Satu-satunya cara adalah dengan dialog,” katanya.

Poin penting lainnya, kelompok-kelompok radikal itu, kata Maftuh, semua organisasi radikal pasti mempunyai kaitan dengan Amerika. “Apa yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang harus dibayar oleh Amerika. The USA was now paying the price for ignoring Afganistan between 1992 and 1996, while Taliban were providing sanctuary to the most hostile and militant Islamic fundamentalist movement. The Arab-Afghans had come Full Cyrcle,” kata Maftuh.

Peluncuran buku, itu justru membuat kecewa Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Irfan S. Awwas. Maklum, Irfan tidak diundang. Padahal, buku itu juga secara khusus membahas MMI dalam sekitar 98 halaman.

*) Dikronik dari Tempo Interaktif, 03 Oktober 2004

Arifin Panigoro Meluncurkan Dua Buku Politik

Jakarta: Politikus PDI Perjuangan, Arifin Panigoro malam ini meluncurkan buku berjudul “Membangun Lansekap Politik Baru” dan “Sketsa Politik Arifin Panigoro” yang ditulis oleh Suryana Sudradjat dan Budi Wibowo di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (29/9) malam. Hadir dalam peluncuran buku itu sejumlah tokoh politik dan ekonomi seperti Ginandjar Kartasasmita, Aburizal Bakrie, Hidayat Nur Wahid, Siswono Yudohusodo, Fahmis Idris, Marsilam Simandjuntak, Robby Djohan dan Eep Saefullah Fatah.

Dalam buku “Sketsa Politik Arifin Panigoro” terungkap peran Arifin dalam pertemuan di Hotel Radisson, Yogyakarta, 5 Februari 1998. Dalam pertemuan itu, Panigoro dinilai melakukan sebuah pembangkangan terhadap negara, sebelum akhirnya rezim Orde Baru tumbang. Pertemuan itu sendiri dianggap sebagai debut politik pertama Panigoro yang tercatat pada tingkat publik.

Menurut pengamat politik Fachry Ali, yang berbicara dalam peluncuran buku itu, Panigoro mempunyai mimpi yang tak bisa dikonstruksikan yang kemudian akumulasi mimpi itu akhirnya terlontar begitu saja dalam pertemuan Radisson tersebut. Fachry Ali menilai buku tersebut masih bersifat kronologis. “Buku ini belum menempatkan diri pada sprekturm perubahan yang lebih luas,” ujarnya. Kendati demikian, ia menilai buku semacam ni tetap penting bagi pembangunan politik di Indonesia.

Peluncuran buku ini ditandai dengan penyerahan buku oleh Panigoro kepada sejumlah rekan dekatnya seperti Hidayat Nur Wahid, Siswono Yudo Husodo, Aburizal Bakrie, Marsilam, Fahmi idris, Ginandjar dan Robby Djohan. Peluncuran ditutup dengan sebuah diskusi “Membangun lansekap politik baru” dengan pembicara Eep Suafullah Fatah, Marsilam, Fahmi Idris, Hidayat Nur Wahid dan juga Panigoro.

*) Dikronik dari Tempointeraktif.com edisi 29 September 2004

Arifin Panigoro Meluncurkan Dua Buku Politik

Jakarta: Politikus PDI Perjuangan, Arifin Panigoro malam ini meluncurkan buku berjudul “Membangun Lansekap Politik Baru” dan “Sketsa Politik Arifin Panigoro” yang ditulis oleh Suryana Sudradjat dan Budi Wibowo di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (29/9) malam. Hadir dalam peluncuran buku itu sejumlah tokoh politik dan ekonomi seperti Ginandjar Kartasasmita, Aburizal Bakrie, Hidayat Nur Wahid, Siswono Yudohusodo, Fahmis Idris, Marsilam Simandjuntak, Robby Djohan dan Eep Saefullah Fatah.

Dalam buku “Sketsa Politik Arifin Panigoro” terungkap peran Arifin dalam pertemuan di Hotel Radisson, Yogyakarta, 5 Februari 1998. Dalam pertemuan itu, Panigoro dinilai melakukan sebuah pembangkangan terhadap negara, sebelum akhirnya rezim Orde Baru tumbang. Pertemuan itu sendiri dianggap sebagai debut politik pertama Panigoro yang tercatat pada tingkat publik.

Menurut pengamat politik Fachry Ali, yang berbicara dalam peluncuran buku itu, Panigoro mempunyai mimpi yang tak bisa dikonstruksikan yang kemudian akumulasi mimpi itu akhirnya terlontar begitu saja dalam pertemuan Radisson tersebut. Fachry Ali menilai buku tersebut masih bersifat kronologis. “Buku ini belum menempatkan diri pada sprekturm perubahan yang lebih luas,” ujarnya. Kendati demikian, ia menilai buku semacam ni tetap penting bagi pembangunan politik di Indonesia.

Peluncuran buku ini ditandai dengan penyerahan buku oleh Panigoro kepada sejumlah rekan dekatnya seperti Hidayat Nur Wahid, Siswono Yudo Husodo, Aburizal Bakrie, Marsilam, Fahmi idris, Ginandjar dan Robby Djohan. Peluncuran ditutup dengan sebuah diskusi “Membangun lansekap politik baru” dengan pembicara Eep Suafullah Fatah, Marsilam, Fahmi Idris, Hidayat Nur Wahid dan juga Panigoro.

Thontowi – Tempo

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 29 September 2004

Mizan Terbitkan Buku ‘Munir Sebuah Kitab Melawan Luka’

Jakarta:Penerbit Mizan malam ini meluncurkan buku setebal 548 halaman yang berjudul ‘Munir Sebuah Kitab Melawan Luka’ untuk mengenang 100 hari wafatnya Munir.

Selain istri almarhum, Suciwati, beberapa tokoh masyarakat, aktivis hak asasi manusia, seniman, dan sekitar 200 orang lainnya hadir dalam peluncuran buku ini. Beberapa tokoh yang hadir antara Syafei Maarif, Mustofa Bisri (Gus Mus), Todung Mulya Lubis, Butet Kertarajasa, W.S. Rendra, dan Iwan Fals.

Usai serah terima buku dari Mizan kepada Suciwati, buku dengan editor Jaleswari Pramodhawardari dan Andi Widjajanto ini, diserahkan pula oleh Suci ke lima orang lainnya. Mereka yang menerima buku tersebut adalah Gus Mus, Syafei Maarif, dua orang guru kembar, dan Sumiarsih (ibu dari korban penembakan mahasis di Semanggi, Jakarta).

Dalam kata sambutannya, Suciwati tidak dapat menahan kesedihannya. Dia mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas kepergian almarhum dengan cara yang tidak manusiawi itu. “Mengapa engkau yang mesti dibungkam, mengapa dirimu yang mereka pilih untuk dihilangkan” kata Suciwati.

Suci mengatakan buku ‘Munir Sebuah Kitab Melawan Luka’ ini amat berarti baginya dan kedua anaknya, Alif dan Diva. Dua orang anaknya hingga saat ini selalu bertanya tentang ayahnya. Melalui buku ini, Suciwati berharap, kelak kedua anaknya akan memahami perjuangan ayahnya. “Diva dan Alif, buku ini jadi saksi buat kalian akan jejak-jejak langkah abahmu,” katanya.

Suci juga menyatakan tekadnya untuk terus mencari keadilan buat suaminya. Dia amat mnyesali Presiden yang tidak menyetujui dibentuknya tim investigasi independen untuk kasus Munir. “Dengan gampangnya kasus ini dianggap ringan oleh kepala negara meski sudah menjadi sorotan,” katanya.

Sementara itu, para tokoh yang hadir juga turut memberikan kata sambutan dan komentar tentang Munir. Todung Mulya Lubis, teman dan juga aktivis hak asasi manusia mengatakan, Munir adalah sang kreator pembela hak asasi manusia. “Tidak hanya dari pengadilan ke pengadilan Munir membela HAM, tapi juga dari demo ke demo, kota ke kota, diskusi ke diskusi,” kata Todung.

Sedangkan Butet Kertarajasa yang mendapatkan kesempatan membacakan puisi, memplesetkan karya Chairil yang berjudul ‘Antara Karawang Bekasi’, dia ganti menjadi puisi berjudul ‘Antara Jakarta Amsterdam’. W.S. Rendra menyampaikan puisi yang khusus yang dia tujukan untuk istri Munir, Suciwati. Di penghujung acara, tampil Iwan Fals yang menyenandungkan tiga buah lagu khusus untuk mengenang munir.

Khairunisa – Tempo

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 17 September 2004

AS Sudah Lima Tahun Kirim Buku Ke Sekolah di Indonesia

Jakarta: Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengirim buku-buku ke sekolah, termasuk pesantren, di Indonesia. Menurut Atase Pers Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia M. Max Kwak, hal tersebut sudah dilakukan selama 50 tahun.

Komentar ini muncul setelah sejumlah pesantren di Jawa Barat mendapat kiriman buku-buku dari kedutaan Amerika. Buku-buku itu berisi sejarah dan konsep demokrasi. Beberapa pesantren mengembalikan paket-paket buku itu dengan dititipkan ke kantor Kodim setempat.

Kedutaan Amerika sudah mendengar kabar penolakan sejumlah pesantren atas kiriman buku itu. Jika mereka tidak suka, ya tidak usah dibaca,” kata Kwak.

Meski ada yang mengembalikan, kata Kwak, “Ada juga yang mengirim surat ke kedutaan, mengucapkan terimakasih atas kiriman itu.”

Kedutaan Amerika membuat program ini selama puluhan tahun, bukan hanya saat-saat terakhir saja. “Saya pikir, kedutaan Anda (Indonesia) di Washington juga melakukan hal yang sama,” kata Kwak.

Jumlahnya sendiri Kwak tidak bisa memastikan. Yang jelas, katanya, “Jumlahnya ribuan.”

Nurkhoiri

*) Dikronik dari tempo News Room, 26 Agustus 2004

Beberapa Pesantren di Jabar Mengembalikan Buku soal AS ke TNI

Bandung: Beberapa pesantren di Kota Garut dan Tasikmalaya mengembalikan 5 buku paket dari Kedutaan Besar Amerika Serikat ke Korem 062/Taruma Nagara, Jawa Barat. Menurut Danrem 062, Kolonel (Inf.) Osaka Meliala, pihaknya tidak bisa menolak permintaan warga. “Ini kepercayaan masyarakat,” kata Kolonel Osaka kepada Tempo News Room, Rabu (25/08), di Garut.

Pengembalian buku ini sebagai bentuk penolakan. Ini dilakukan sejak 18 Agustus lalu. Hingga Rabu (25/08), buku terus berdatangan ke Korem 062/Taruma Nagara. Termasuk dari kota Tasikmalaya. Buku itu berisi penjelasan soal aspek sosial, budaya, ekonomi dan geografis Amerika Serikat.

Menurut Osaka, doktrin Amerika ini ditolak mentah-mentah oleh pesantren yang dikirimi buku. “Sudah jelas berbeda. Dari segi budaya saja, orang telanjang di Amerika tidak diapa-apakan. Sudah biasa. Tapi coba disini?. Lalu dari segi ekonomi. Amerika kan kapitalis. Sedangkan Indonesia berdasarkan ekonomi kerakyatan, koperasi,” kata Osaka.

Dia mengaku tidak bisa menolak permintaan warga yang ingin buku ini dikumpulkan oleh TNI. Hingga berita ini dibuat, buku ditumpuk di ruangan Korem 062. Menurut rencana, Osaka akan menyerahkan buku ini ke Kodam III Siliwangi di Bandung. Dari Kodam, buku diproses ke Mabes TNI AD di Jakarta.

Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) sepakat dengan tindakan beberapa pesantren di Garut dan Tasikmalaya. “Kembalikan saja. Toh tidak diwajibkan dalam kurikulum pesantren,” kata ketua FUUI, KH.Athian Ali. Menurut Athian, buku itu hanya propaganda Amerika. “Isinya hanya membaik-baikkan Amerika,” kata Athian.Bobby Gunawan –

*) DIkronik dari Tempo News Room 25 Agustus 2004

Harga Siluman Buku Matematika

Pengadaan buku pelajaran matematika untuk sekolah dasar berbau korupsi. Harganya jauh di atas harga buku sejenis.
BERLATAR belakang fajar yang sedang merekah, deretan angka mengapung di atas perahu yang meluncur di laut nan biru. Sampul buku matematika kelas tiga sekolah dasar ini cukup menarik, apalagi di mata anak-anak. Kerumitan olah angka dalam matematika diusahakan diredam lewat ilustrasi yang memikat.

Buku matematika yang dikeluarkan sebuah penerbit di Jakarta tersebut biasa digunakan siswa sekolah dasar di Ibu Kota. Anak-anak di daerah lain bisa saja memakai buku terbitan berbeda. Hanya, isinya mirip. Statusnya pun hampir semuanya sama: telah direkomendasi oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Sepintas tak ada yang aneh. Rumus-rumus dan contoh-contoh soal yang disajikan lumrah saja dan bisa dipahami para siswa. Yang agak ganjil justru harganya. Di pasaran, buku-buku tersebut dijual dengan harga Rp 20 ribu sampai Rp 40 ribu, bergantung pada penerbitnya. Padahal, untuk buku lain yang sejenis, di luar yang direkomendasi Departemen Pendidikan, harganya hanya separuhnya.

Itulah yang diungkapkan sekaligus dipersoalkan Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Pendidikan Bangsa (LSM P2B) dua pekan lalu. Lembaga pemerhati pendidikan ini menduga terdapat penggelembungan biaya alias mark-up dalam pengadaan buku-buku tersebut. Dugaan itu muncul setelah mereka melakukan investigasi pada 300 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiah di 12 provinsi dan 36 kabupaten.

“Buku matematika yang ditetapkan harganya 50 persen di atas buku terbitan lain,” kata Saidin Yusuf, ketua lembaga swadaya itu. Rencananya, lembaga ini akan melaporkan temuannya ke Markas Besar Kepolisian RI dan Kejaksaan Agung.

Mahalnya harga buku wajib tersebut disebabkan oleh jalur penunjukannya yang panjang dan penuh kolusi. Proyek ini berawal pada adanya dana block grant untuk pengadaan buku sekolah sebesar Rp 150 miliar. Departemen Pendidikan lalu menyaring delapan dari 29 penerbit setelah mereka mengajukan naskah ke Pusat Perbukuan dan tim penilai naskah.

Proses seleksi telah selesai tahun lalu. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Indra Djati Sidi, sebagai Ketua Panitia Nasional Penilaian Buku Pelajaran, kemudian mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 358/C/Kep/DS/2003. SK ini menyebutkan buku-buku pelajaran matematika untuk sekolah dasar yang lolos seleksi, yang terdiri atas 72 buku, dari delapan penerbit.

Kali ini Departemen Pendidikan menggunakan cara yang akan berbeda dalam membelanjakan anggaran untuk pengadaan buku. Sementara pada tahun-tahun sebelumnya departemen langsung membayarkannya ke penerbit, kini dana itu disalurkan ke rekening 300 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiah yang ditunjuk di seluruh Indonesia. Sekolah-sekolah inilah yang akan memilih sendiri buku yang mereka pakai.

Saidin Yusuf menuding para penerbit bersaing memberikan diskon ke oknum pegawai dinas pendidikan di tingkat provinsi agar buku buatan mereka dipilih. Ini membuat buku menjadi mahal. Dia memberikan contoh penghitungan. Buku serupa yang dijual bebas di pasar hanya menghabiskan biaya Rp 93,75 hingga Rp 187,50 per halaman, sementara harga buku matematika yang direkomendasi

Departemen Pendidikan mencapai Rp 190 hingga Rp 380 per halaman. Bahkan beberapa penerbit menetapkan harga Rp 200 hingga Rp 400 tiap halaman.
Terlambatnya proses pengadaan buku juga membuat negara makin dirugikan. Seharusnya buku-buku tersebut sudah dipakai siswa sejak tahun ajaran baru tahun lalu, Juli 2003. Ternyata sebagian besar buku itu baru sampai ke sekolah-sekolah tujuan pada Februari 2004. “Akibatnya, sebagian buku yang dibeli itu sampai sekarang menumpuk di gudang-gudang,” kata Saidin.

Temuan tersebut ditampik para penerbit yang bukunya lolos seleksi. Menurut Direktur Utama Ganeca Group, Suardhana Linggih, mahalnya harga buku itu karena biaya distribusinya cukup tinggi. “Untuk mengirim buku ke Nias atau Papua, tentunya dibutuhkan biaya transportasi yang besar,” katanya. Penerbit lain beralasan mahalnya buku itu karena kualitas kertasnya bagus serta penggunaan warna dan ilustrasinya lebih banyak dibandingkan dengan buku lain di pasaran. Soalnya, mereka harus memenuhi kualitas berdasarkan standar yang telah ditetapkan Departemen Pendidikan.

Salah satu penerbit dari Bandung, PT Remaja Rosdakarya, juga berhasil meloloskan bukunya yang berjudul Tangkas Berhitung. Direktur pemasarannya, Aan Soenendar, mengakui adanya isu “uang pelicin” yang diberikan oleh para penerbit kepada tim seleksi agar buku mereka bisa lolos. “Namun kami tidak melakukannya,” ujarnya.

Aan menilai, dibebaskannya sekolah menentukan sendiri buku yang akan mereka pakai bisa mengurangi tingkat penyelewengan di lapangan. Sebab, pembayaran dilakukan sekolah langsung ke rekening penerbit. Namun sistem baru ini juga menyebabkan biaya pemasaran membengkak. “Kami harus mendatangi langsung sekolah-sekolah yang memperoleh dana itu,” kata Aan.

Dugaan kolusi dan korupsi buku pelajaran bukan kali ini saja terjadi. Sekitar sembilan tahun lalu, Departemen Pendidikan menjalankan proyek pengadaan buku bernama Pengembangan Buku dan Minat Baca. Setelah proyek yang dibiayai melalui utang dari Bank Dunia sebesar Rp 1,4 triliun ini berjalan sekitar empat tahun, skandal kolusi di dalamnya terbongkar.

Sejak penunjukan penerbit, penilaian dari tim ahli, hingga buku itu siap disebarkan ke sekolah, tercium aroma korupsi yang kuat. Para pakar matematika, bahasa, dan biologi yang diundang TEMPO untuk menilai buku itu menunjuk beberapa kesalahan fatal yang bisa meracuni logika siswa. Namun, hingga kini, kasus ini tidak pernah diusut tuntas.

Kali ini, menanggapi tudingan korupsi dari LSM P2B, Indra Djati Sidi tampak berang. Dia mengancam akan menggugat balik lembaga yang dianggap telah memfitnah departemennya. “Kita tidak main-main. Kalau memang ada unsur KKN dan mark-up di tempat lain, kok, kita dibawa-bawa?” katanya.

Indra memaparkan, Departemen Pendidikan kini tidak lagi menyelenggarakan tender untuk memilih buku pelajaran. Tugas itu diserahkan kepada Panitia Nasional Buku Pelajaran (PNBP), yang terdiri atas para pakar dari universitas, dosen eks IKIP, dan guru. Selama menyeleksi buku, mereka diisolasi. Dia mengatakan, untuk tahun ini ada 29 penerbit yang bukunya dinilai PNBP. Buku yang dinilai tahun ini meliputi buku matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan bahasa Indonesia?semuanya buku pelajaran sekolah dasar.

Menurut Indra, dana pengadaan buku sekolah pada tahun anggaran 2003 adalah bantuan pemerintah pusat untuk pemerintah daerah. Pemimpin proyek di setiap daerah bersama kepala dinas pendidikan setempat menentukan sekolah yang berhak menerima dana bantuan pengadaan buku sekolah itu. Departemen hanya mengirimkan daftar delapan seri buku itu ke daerah. “Terserah setiap sekolah memilih buku yang mana. Kami enggak pernah ngatur-ngatur,” kata Indra.

Kepala Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Wukir Ragil, mengakui perlu adanya standardisasi buku pelajaran. Dengan cara ini, kelak tidak lagi diperlukan penunjukan terhadap penerbit yang mengadakan buku. Cara ini akan menghapuskan kemungkinan adanya korupsi dan kolusi.

Masyarakat juga diuntungkan karena mereka bisa menentukan sendiri penerbit yang membuat buku pelajaran sesuai dengan standar. Sedangkan pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator dan tidak perlu membuat proyek lagi seperti sekarang. “Namun, untuk bisa mencapai standardisasi, dibutuhkan waktu sekitar lima tahun,” kata Wukir.

Sebelum konsep ideal itu terlaksana, laporan LSM P2B tidak bisa dibiarkan. Dan reaksi positif datang dari Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar. “Kalau itu memang benar, biar saja diambil langkah pengusutan siapa yang terlibat,” katanya dengan nada keras.
Agung Rulianto, Sita Planasari, Rana Akbari (Bandung)

*) Dikronik dari MBM tempo edisi Edisi. 14/XXXIII/31 Mei – 06 Juni 2004

Fadli Zon: Saatnya Menguliti Keburukan Semua Capres

Jakarta: Fadli Zon, orang dekat Prabowo yang menulis buku “Politik Huru-Hara Mei 1998” mengajak kepada masyarakat untuk menguliti kebusukan semua calon presiden yang bakal bertarung di pemilihan presiden 5 Juli ini. Ini agar publik tahu siapa calon presiden yang akan dipilihnya.

Berbicara dalam bedah buku yang penuh kontroversi itu di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya, Jumat (28/5), ia mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak salah memilih presiden akibat tidak adanya upaya mengungkap fakta dan data buruk tentang calon presiden itu. Ujungnya, jika masyarakat salah memilih presiden padahal ia menang secara demokratis dalam pemilu, maka publik juga yang akan menanggung segala risikonya.

“Jangan sampai kita tersandera oleh presiden yang memiliki catatan buruk. Apakah kalau presiden adalah pelanggar HAM kemudian bangsa ini mendapat boikot ekonomi dunia, maka yang merasakan presiden itu? Tidak. Kita semua, 220 juta bangsa Indonesia yang bakal kena,” tegasnya.

Selain itu, kata dia, masyarakat saat ini diberikan informasi dan data yang baik-baik saja tentang calon presiden. Karena itu, menjadi tugas dari siapa pun yang memiliki informasi kebusukan tentang capres untuk mengungkapkannya. “Kalau kampanya yang baik-baik, itu sih sudah dilakukan semua capres. Semua kecap nomor satu. Karena itu, masyarakat harus mengungkap keburukan capres. Tentu, harus tetap menggunakan data dan koridor hukum,” katanya.

Ia mencontohkan, bagaimana publik Amerika Serikat terbiasa sekali untuk mendapatkan fakta dan informasi tentang siapa calon presidennya. Media massa di AS juga terbiasa membongkar sisi hitam dari calon presiden. Ia mencontohkan diungkapnya kebiasaan selingkuh Clinton dan masyarakat Amerika secara luas mengetahuinya. Karena itulah, Fadli Zon mengajak siapa pun untuk mengungkap keburukan Wiranto, SBY, Amien Rais, Megawati dan juga Hamzah Haz.

Meski begitu, Fadli Zon mengelak segala tudingan yang menyebutkan bahwa terbitnya buku “Politik Huru-Hara Mei 1998” sebagai bagian kampanye hitam terhadap Wiranto. Ia mengemas pernyataannya bahwa buku itu terbit untuk mengungkap fakta dan data sejarah.

Sementara itu, pembicra lain di acara ini, Mayjen (Purn) Kivlan Zen, yang juga orang dekat Prabowo mengatakan bahwa sebagai sesama pensiunan tentara yang berarti sebagai masyarakat sipil, ia memiliki posisi yang sama dengan Wiranto. Kivlan, yang menyebut Wiranto sebagai pengecut yang tidak mau bertanggungjawab atas kerusuhan Mei 1998, ingin mengungkapkan fakta itu kepada masyarakat agar tidak terus mendapatkan berita bohong dari Wiranto.

Meski begitu, senada dengan Fadli, ia menolak disebut sebagai orang yang sakit hati terhadap Wiranto sehingga melakukan pembunuhan karakter ketika Wiranto maju sebagai capres. Kivlan yang sempat tersinggung dengan omongan Gus Dur yang menyebut dalang kerusuhan Ambon adalah seorang berinisial Mayjen K, juga mengingatkan masyarakat agar tidak salah memilih presiden.

Menjawab tudingan peserta diskusi bahwa ia menjadi tim sukses capres rival Wiranto, Kivlan dengan tegas mengelakanya. “Saya bukan tim sukses capres siapa pun. Dan saya tidakmenjadi bagian dari tim sukses capres siapa pun,” tegasnya.

Hanya saja, dalam kesempatan itu, Kivlan sempat menyebut bahwa SBY di matanya lebih bersifat satria. Ini dibuktikan dengan keberaniannya untuk mundur dari kabinet Megawati. Selain itu, SBY ia lihat juga lebih pintar dan memiliki visi.

Sunudyantoro – Tempo News Room

*) Dikronik dari tempointeraktif, 28 Mei 2004

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan