-->

Kronik Buku Toggle

Puisi bagi Yogya

Jakarta:Di bawah payung-payung dengan kursi-kursi mengelilingi meja di bawahnya, puluhan orang mengarahkan matanya pada satu sudut di dekat jendela. Tak ada panggung, tapi di situlah sejumlah orang yang dipanggil, maju dan membaca puisi. Ada Zen Hae, Endang Supriadi, Fikar W. Eda, Sanggar Devies Matahari, Shobier Poer, Saut Situmorang, dan lain-lain.

Suasana temaram membekap di halaman belakang MP Book Point, Jakarta Selatan, Sabtu malam lalu. Baca puisi itu adalah bagian dari peluncuran buku antologi puisi Jogja 5,9 Skala Richter. Seperti judulnya, buku ini didedikasikan untuk korban bencana gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2006.

Buku ini menghimpun 100 puisi dari 100 penyair. Tentu tidak mudah untuk memilih puisi itu. Sebab, seperti dikatakan salah seorang editornya, Kurnia Effendi, puisi yang masuk mencapai 563 buah dari 236 penyair. Dari situ kemudian dipilih puisi-puisi yang cocok untuk masuk buku setebal 157 halaman ini.

Selain nama-nama di atas, dalam buku ini ada puisi karya nama-nama seperti Sitor Situmorang, Afrizal Malna, Eka Budianta, Isbedy Stiawan Z.S., Joko Pinurbo, Dianing Widya Yudhistira, Abdul Wachid B.S., Mustafa Ismail, Tulus Widjanarko, Iyut Fitra, Gunoto Saparie, dan Raudal Tanjung Banua. Tapi tak semua nama yang tercantum dalam buku tersebut bisa hadir pada malam itu.

Secara umum, puisi-puisi dalam buku ini berbicara tentang Yogyakarta yang ditimpa bencana. Tapi cara pandangnya tentu berbeda-beda: ada yang menuliskan simpati, perasaan, pikiran, juga ada yang mengungkapkan kenangan.

Tengok salah satu puisi misalnya, berjudul Jogja yang dibacakan sendiri oleh penulisnya, Fikar W. Eda, malam itu. Di pagi yang belum sempurna/Jogja datang kepadaku/Dengan tubuh penuh luka/Bahu remuk/Air mata deras/Membentuk kolam darah//Jogja datang/Ketika lukaku sendiri/Masih bernanah.

Puisi pendek itu melukiskan sosok Yogya yang remuk dihantam bencana. Fikar, penyair asal Aceh, mengungkapkan bencana Jogja datang ketika luka penyair sendiri belum sembuh. “Lukaku” dalam sajak ini tentu saja adalah simbol tragedi tsunami Aceh, yang masih begitu terasa dampaknya.

Penyair Endang Supriyadi menuliskan impresinya tentang seorang sukarelawan gempa Yogya dengan puisi berjudul Duka Ranjang yang Menggenang. … di dusun imogiri, sebuah perkampungan/telah hilang. dan kau menangis untuk/kedua kali untuk birahi yang mati/ini akar, seperti tombak bermata seribu/menukik ke bumi. membelah rumah saudara-/saudara kita.

Dalam baris-baris terakhir Endang, dia menggambarkan heroisme sang sukarelawan itu: bukan kau kalau harus diam. tanganmu, ranting yang bergerak. menyentuh dinding-dinding jiwa. dan/kau tak juga pedih saat hidupmu tinggal sehari.

Penyair Medy Lukito, yang malam itu menjadi pemandu acara, menulis puisi pendek Aku, yang penuh perenungan tentang bencana: aku sayap meluka angin/kian tinggi kian menyakiti//aku derap melupa ingin/ kian cepat kian mengakhiri//.

Malam itu, di pengujung acara, sebuah film pendek tentang Yogya diputar. Film itu menggambarkan sebuah rumah, tempat sebuah organisasi budaya beraktivitas, runtuh meninggalkan puing-puing serta membenamkan buku-buku, lukisan, dan plang nama organisasi itu. Ini pun sebetulnya puisi, tapi dengan cara ungkap yang berbeda.

MUS

*) DIkronik dari Tempointeraktif, 21 September 2006

Buku 100 Tahun Puputan Badung Diterbitkan

Denpasar:Sebuah buku yang memuat dokumentasi sejarah mengenai peristiwa Puputan Badung diluncurkan hari ini di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Buku itu memuat dokumen versi Belanda dan versi Bali yang ditulis oleh para saksi mata saat kejadian dan laporan resmi untuk pemerintah kolonial.

Menurut Profesor Henk Schulte Nordholt yang menjadi editor , penerbitan adalah dalam rangka memperingati 100 tahun atau 1 abad peristiwa yang terjadi pada 20 September 1906 itu. “Kami menilai selama ini kajian terhadap peristiwa itu masih terlalu sedikit,” tegas guru besar sejarah Asia di Universitas Rotterdam itu.

Di Belanda, perhatian berbagai kalangan memang sangat minim. Namun, berbeda halnya dengan di Bali dimana setiap tahunnya peristiwa Puputan selalu dirayakan secara khusus.

Adapun sumber-sumber belanda terdiri dari laporan resmi pimpinan ekspedisi Belanda Jenderal Rost Van Tonningen. Sementara laporan saksi mata terdri dari laporan H.M van Weede.

Ia adalah seorang turis kaya yang kemudian mendapat izin untuk mengikuti ekspedisi sehingga dapat disebut sebagi embedded journalist (jurnalis yang mengikuti pasukan perang) pertama di dunia.

Satu kesaksian lainnya ditulis oleh seorang serdadu Belanda bernama Cees yang terlibat dalam penyerangan ke Puri Denpasar dan Puri Badung.

Sumber-sumber dari Bali diantaranya adalah catatan harian perang Badung 1906 yang ditulis I Gusti Putu Jlantik, punggawa pemerintah kolonial Belanda yang saat itu telah menguasai Bali Utara.

Sumber lainnya berbentu kidung yang ditulis Ida Pedanda Ngurah dari Griya Gede, Blayu, Tabanan serta berbentuk babad yang ditulis A.A. Ngurah Putrakusuma. Ada pula tulisan oleh A.A. Sagung Putri Kapandyan berdasarkan cerita lisan dari orang tuanya yang terlibat dalam peristiwa puputan Badung dan diberi judul: Cerita Seorang Wanita Hamil Muda.

Menurut Nordholt, pihaknya hanya sebatas menyajikan dua perspektif itu tanpa melakukan analisa dan perbandingan. Namun, dari teks yang ada kelihatan sejumlah kontras dalam penafsiran terhadap peristiwa tersebut.

Misalnya penafsiran mengenai tingkah para wanita yang melemparkan koin emas kepada para serdadu Belanda. Menurut Van Weede, itu adalah upaya agar para serdadu Belanda segera membunuh mereka. Tapi versi Bali dalam tulisan ” Cerita Seorang Wanita Hamil Muda” menyebut, upaya itu adalah agar mereka tidak menjadi korban pemerkosaan.

Rofiqi Hasan

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 19 September 2006

KPK Bagi 80 Ribu Buku Saku

Jakarta:Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan aksi kampanye simpatik dengan membagikan buku saku mengenai korupsi kepada masyarakat umum dan pegawai negeri sipil. Pembagian dilakukan oleh 250 karyawan KPK dibantu oleh relawan yang berasal dari berbagai lembaga swadaya masyarakat di 40 kantor pemerintahan.

Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas mengatakan, pembagian buku saku itu dilakukan karena masih rendahnya pemahaman masyarakat dan penyelenggara negara mengenai tindak pidana korupsi. “Ini merupakan bagian dari pendidikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat,” kata Erry dalam jumpa pers di kantor KPK, Jakarta, Rabu (16/8).

Biaya kampanye dan pembuatan buku ini sepenuhnya ditanggung oleh Uni Eropa yang bekerja sama dengan LSM Kemitraan. KPK mencetak sebanyak 100 ribu buku dan membagikan 80 ribu di berbagai tempat dan 40 instansi pemerintah. Di antaranya adalah Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, Markas Besar Kepolisian RI, Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak, Bea dan Cukai, Sekretariat Negara, Departemen Dalam Negeri, Departemen Hukum dan HAM, Markas Besar TNI, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Mahkamah Kosntitusi, dan Badan Pertanahan Nasional.

Buku yang dibagi-bagi itu berjudul ”Memahami Untuk Membasmi: Buku Saku Untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi”. Buku berwarna cokelat itu berisi berbagai aspek korupsi dan pasal-pasal yang mengaturnya dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Buku berukuran 10 x 15 sentimeter itu memiliki 115 halaman. | TITO SIANIPAR

*) Dikronik dari Tempo interaktif, 16 Agustus 2006

Buku Sinema Ngamen Diluncurkan

Jakarta: Toko Buku Aksara, Kemang, Jakarta, akan menggelar peluncuran buku Dari Sinema Ngamen ke Art Cinema hari ini pukul 19.00 WIB.

Buku karya sineas Gotot Prakosa ini berisi kompilasi tulisan mengenai kegiatan produksi film alternatif di Indonesia yang selama ini masih kurang mendapat perhatian publik.

Catatan-catatan tentang usaha apresiasi pertumbuhan film alternatif Tanah Air dikumpulkan Gotot dan disusun dengan konsep kino eye, ketika obyek dilihat dari satu sudut pandang penyusun.

Selain peluncuran buku, juga digelar diskusi bertajuk Perjalanan Film Alternatif di Indonesia dengan pembicara Gotot Prakosa, Alex Sihar (konfiden), dan Lulu Ratna (Boemboe).

SITA

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 03 Agustus 2006

Minat Baca Warga Jakarta Rendah

Jakarta: Minat baca masyarakat DKI Jakarta rendah. Indikasinya, pengunjung perpusatakaan umum daerah DKI Jakarta sangat minim. “Sekitar 200 orang per hari,” kata Bose Devi , Kepala Kantor Perpustakaan Umum Daerah DKI, di Jakarta hari ini.

Sebagai perbandingan, kata Bosea, perpustakaan di Beijing menerima kunjungan hingga 10 ribu orang setiap harinya. Sebagian besar masyarakat membaca untuk kepentingan pendidikannya. Bila mempunyai waktu luang, mereka lebih suka berbelanja atau ke tempat hiburan. Saat ini Jakarta memiliki 30 perpusatakaan.

Tantowi Yahya, Duta Baca Nasional 2006 mengatakan, “masyarakat tidak bisa disalahkan karena rendahnya minat baca. Kondisi perpustakaan tidak mendukung dan jumlah koleksi buku juga terbatas,” ujarnya.

INDRIANI DYAH

*) Dikronik, Jum’at, 28 Juli 2006  dari TEMPO Interaktif,

Ketika si Ong Tertusuk Keris Arok

Oleh Muhidin M Dahlan

Seorang gadis Jawa berwajah bulat. Rambutnya berkonde dan memakai kebaya hijau sederhana. Matanya sipit, teduh, dengan kulit agak gelap. Ia duduk di bale dengan latar pantai, ombak, nyiur, dan gulungan awan. Tangan kirinya mencauk sabuk kuning sembari sebelahnya lagi menapak lantai bale. Sementara di sudut lain, seorang priyayi bersurjan bertolak pinggang dengan sebelah tangannya menyandera sebilah tongkat. Dadanya membusung. Mata awas. Kumis tersisir rapi. Di belakangnya, seorang abdi memayungi.

Itu bukan serangkai paragraf novel. Tapi narasi untuk gambarkan sampul buku yang bertitel Gadis Pantai. Melihat sampul itu, penulisnya, Pramoedya Ananta Toer, mengangguk-angguk senang. “Luar biasa. Hebat sekali yang bikin. Ini yang saya bayangkan Gadis Pantai.”

Siapa pembikin sampul yang membuat Pram angkat puji itu? Ia Ong Hari Wahyu (46) atau biasa disapa Mas Ong. Menyebut revolusi sampul buku di Indonesia, orang tak boleh melupakan nama ini. Dari Yogyakarta, ia menjadi pionir yang menjadikan sampul buku serupa kanvas karya seni. Ia telah membuat ratusan sampul buku dari sekian banyak penerbit. Hingga ia pun berkesempatan membuat sampul buku Pram.

“Saya gembira dan bangga sekali bisa melayani beliau. Tokoh je. Bukan hanya nasional, tapi dunia. Punya spirit luar biasa. Walau di penjara bisa menulis dengan sangat bagus. Bahkan sampai usia tua daya ingatnya bagus. Saya sangat respek. Dan beruntung sekali saya. Terimakasih sekali dikasih kesempatan untuk bikin sampul bukunya,” kata Ong dalam sebuah perbincangan di rumah joglonya yang asri dan sederhana di Bugisan Yogyakarta.

Bagi Ong, membuat sampul buku Pram ia seperti dipaksa untuk masuk dalam studi antropologi; seperti halnya Pram berpayah-payah menelusuri arsip sejarah sebelum menulis. Dan itu yang dilakukan Ong ketika membuat sampul yang salah satunya Gadis Pantai.

Awalnya spirit Gadis Pantai didapatkan Ong dari sedikit perbincangan dengan Pram. “Waktu ngobrol-ngobrol saya menangkap ideologi Pram, perjuangannya. Lantas saya dapat data juga dari Bowo (M Bakkar Wibowo, red). Kata Bowo, gambaran perempuan menurut Pak nggak seperti perempuan sekarang. Pram menggambarkan perempuan itu ulet, gigih, pekerja.”

Dari situ Ong lalu membayangkan bahwa Gadis Pantai itu orangnya pasti tak begitu putih. “Lha, cah pantai je. Wajahnya keras. Wajahnya harus dibuat agak gelap-gelap. Dan kebetulan saya punya arsip foto perempuan Jawa lama. Lalu saya ubah sedikit-sedikit. Setelah saya amat-amati lama-lama, kayaknya ini ya. Saya merasa pas sekali terhadap apa yang saya bayangkan tentang Gadis Pantai yang juga suka jual-jualan. Dan idenya itu ya saya dapatkan di Pantai Parangtritis waktu saya mancing. Kan sama. Sama-sama asongan kue. Tapi di sini saya kasih sedikit unsur cantiknya. Karena ia tokoh.”

Hal yang sama dilakukan Ong ketika membuat sampul Tetralogi Buru ketika masih diterbitkan Hasta Mitra. Ong mengaku, empat buku itu sudah ia baca sejak SMA dengan sembunyi-sembunyi. Dan di kepalnya sudah terbayang tipologi Ontosoroh. Juga sosok Minke yang terpelajar yang masuk dalam dunia Annelis. Untuk latar, Ong harus membongkar-bongkar arsipnya tentang Surabaya tahun dulu-dulu. Ia lalu mencocok-cocokkan dengan pengalaman empirisnya sendiri, walau tidak pas dengan kondisi-kondisi bangunan awal abad.

Sebelum memutuskan membuat sketsa Minke, Ong diberitahu editornya, Joesoef Isak, bahwa Minke itu seperti Soekarno muda. Dia adalah Tirto Adhi Surjo. “Saya memang membayangkan Minke ini anak Pribumi yang cerdas. Karakteristiknya revolusioner atau apa gitu. Saya kemudian buka-buka data-data tentang wajah orang-orang tahun awal abad. Lho, saya lihat nggak ada yang cakap. Orang-orang Jawa jaman semono (waktu itu) dahinya mengkilat. Tulang pipinya nonjol. Mulutnya maju. Nah saya tertolong dengan Soekarno. Soekarno ini kan ngganteng sekali. Kalau orang sebelum Karno, wah nggak cakap. Padahal Minke kan tokoh yang mesti agak gantenglah. Saya pun mencampur antara Tirto, Karno, dan orang lain. Sekian wajah saya campur-campur di situ. Hahahahahaha.”

Tapi Ong tak selalu menepati janjinya melakukan studi antropologi dalam membuat sampul buku Pram. Ia suatu kali tergelincir yang membuatnya malu sungguh. Yakni sewaktu membikin sampul Arok Dedes. Pangkal soalnya, Ong tak membaca sama sekali karya itu. Sinopsisnya pun tak. Hanya Joesoef Isak memberitahu bahwa ada kemiripan kudeta Arok dan kudeta Harto ’65. Saat itu praktis Ong hanya mengandalkan ingatannya saat mendapat cerita Ken Dedes dan Ken Arok—yang terbukti kemudian payah—bahwa cerita itu identik dengan keris Mpu Gandring. Padahal, dalam novel Pram tak ada sama sekali keris. Ong sadar dengan itu setelah temannya memberitahu.

“Saya malu sekali. Teman saya bilang: ‘Kamu kok nggambar keris, padahal di dalamnya nggak ada keris-kerisan itu.’ Malu aku. Malu benar. Malu. Waduh. Ini gara-gara saya nggak membacanya. Sejarah SD kan Mpu Gandring identik dengan pembuat keris. Kemudian saya mengimajinasikan Arok itu menyelinap dengan keris terhunus. Makanya ada pohon pisang. Terus ada gelap. Pokoknya menyelinaplah. Nggak mungkin berhadap-hadapan. Celaka sekali keris itu. Bodoh dan fatal sekali itu. Ha ha ha ha ha ha,” aku Ong mengenang kembali sampul Arok Dedes warna merah gelap terbitan Hasta Mitra itu. Saat ada kesempatan buku itu cetak ulang, Ong buru-buru merevisi sampulnya dengan membuang keris sialan itu.

Di luar keris sialan itu, Ong memang memperlakukan buku Pram tak biasanya. Sebab bagi Ong, Pram itu tokoh luar biasa. Maka betapa kagetnya Ong ketika pada suatu hari Pram dan keluarganya berkunjung ke rumahnya di Bugisan.

“Saya bingung sekali. Ini ada orang besar datang ke rumah saya. Saya bingung sekali. Saya harus melakukan apa. Padahal saya kira Pram nggak suka disuguhi berlebihan. Tapi, saya sebagai orang menghormati rasanya harus menjunjungnya. Bagaimana ya. Nervous gitu. Saya harus ngomong apa. Shock benar saya. Apalagi orang kayak saya ini yang hanya bermimpi-mimpi waktu di SMA membaca Tetralogi Buru sembunyi-sembunyi, kayak apa ya pengarang buku hebat ini. Itu 20 tahun sudah. Terus ia datang di depan saya, sungguh kayak mimpi. Apalagi saya kan orang Jawa yang harus melayani tamu sebaik-baiknya. Mana saya harus bekerja keras belajar memanggilnya Bung, bukan Mas. Hahahahaha. Padahal saya tahu Pram itu Jawa yang bukan Jawa. Jadi saya nggak tahu harus berbuat apa. Di rumah nggak ada istri dan anak lagi. Terpaksa untuk bikin wedang (air minum) saya minta tolong tetangga sebelah. Dan malu sekali saya. Sirupnya pakai air panas. Panas sekali. Siang panas gitu lagi. Kan nggak nyambung sirup pakai air panas. Aduh, malu sekali saya.”

M Bakkar Wibowo juga merasakan hal yang sama ketika diminta Lentera Dipantara membikin sampul untuk tujuh buku, antara lain Sang Pemula, Di Tepi Kali Bekasi, dan Hikayat Siti Mariah. “Saya sangat bangga. Juga tentu saja tegang. Bukan apa, kapasitas Pram sebagai sastrawan internasional itu. Walaupun beberapa kali makan bersama, saya tetap menganggap Pram manusia luar biasa. Membuatkan sampul buku Pram saya anggap puncak karier pembuatan sampul saya,” ujar Bakkar. Walau demikian, pembuat sampul buku yang sudah berjumlah hampir 150 buku ini baru membaca karya Pram yang halamannya tipis-tipis seperti Larasati dan Gadis Pantai. “Nggak ding. Gadis Pantai nggak selesai,” serunya ngakak.

Bagi Ong—juga Bakkar—Pram adalah pribadi yang menarik, keras, dan teguh. Dan Ong tak akan lupa kata-kata Pram: “Kerja, kerja, kerja, kerja, kerja!” Menurut Ong, itu kalimat yang sangat dahsyat. “Kerja itu kan, ya sebagai manusia kamu harus bekerja menghasilkan sesuatu. Kalau nggak, kamu bukan manusia. Kerja! Kerja! Kerja!” pungkas Ong.

Sumber: Tabloid IBOEKOE, Edisi I/Vol I/Juni 2006

Peringati Hari Buku, IKAPI dan Penulis Gelar Demo

Jakarta:Bertepatan dengan hari buku 17 Mei 2006 Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta menggelar aksi demonstrasi simpati. Pukul 11.00 WIB para anggota IKAPI dan beberapa anggota pengarang berkumpul di depan Plaza Indonesia untuk melaksanakan aksi itu.

Ketua Pelaksana aksi, Junaedi, 34 tahun, mengatakan aksi kali ini baru berupa embrio untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Slogan ini misalnya “Discovering the joy of reading” diharapkan dapat membentuk suatu pemikiran dalam benak masyarakat bahwa membaca itu menyenangkan.

DItemui di lokasi aksi H. Usman, seorang pengarang mengatakan bahwa pengarang ikut meramaikan aksi ini karena pengarang adalah unsur utama dari buku.

Ia juga mengatakan bahwa dengan royalti rata-rata 10 persen yang diberikan penerbit sesungguhnya pengarang dapat hidup layak. Akan tetapi pengarang Indonesia belum berani menjadi pengarang profesional yang total menulis karena takut tak bisa hidup. Hal ini diamini Bambang Joko Susilo yang juga seorang penulis.

Aksi ini akan diwarnai dengan pembagian stiker di depan Hotel Niko dengan dibantu oleh beberapa mahasiswa dari Atmajaya Jakarta, Politeknik UI, dan sejumlah simpatisan.

Saat ini sekitar 10 orang sudah berkumpul di depan Plaza Indonesia untuk mulai aksi.

Meski ada aksi lalu lintas di bundaran HI lancar. Polisi juga tampak berjaga-jaga di lokasi aksi. asa estheria vipana

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 17 Mei 2006

Buku Panduan Museum di Bali Diluncurkan

Denpasar: Sebuah buku yang mengulas keberadaan museum-museum di Bali diluncurkan di Museum Lukisan Klasik Gunarsa kemarin. Buku terbitan Himpunan Museum Bali (Himusba) berjudul “Treasure Island” ini diharapkan dapat menjadi panduan wisata maupun bahan pengajaran ilmiah.

Di Bali, menurut Ketua Himusba Nyoman Gunarsa, terdapat 27 museum mulai dari museum ilmu pengetahuan hingga museum seni. “Karenanya Bali bahkan bisa
disebut sebagai pulau museum,” tegasnya.

Keberadaan museum itu, tegas maestro pelukis ini, juga menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap sejarah dan perkembangan kreativitas masyarakat Bali.

Sejumlah museum yang termasuk dalam museum ilmu pengetahuan antara lain adalah museum purbakala di Gilimanuk, museum Subak di Tabanan dan Gedung Kirtya di Singaraja yang menyimpan naskah-naskah lontar.

Untuk penulisan buku, Himusba bekerja sama dengan Richard Mann dari Gateway book International, penerbit buku terkemuka dari Inggris.

Untuk tahap pertama buku berbahasa Inggris ini akan dicetak 5.000 eksemplar dan dijual seharga Rp300 ribu.

Rofiqi Hasan

*) Dikroik dari Tempointeraktif, 07 Mei 2006

Suara-suara Saya di Senayan

Jakarta: Komentar mantan Ketua MPR Amien Rais tentang pemberian konsesi blok Cepu selama 30 tahun kepada ExxonMobil membuat Direktur Pertamina, Ari H. Soemarno, meninggalkan sebuah acara peluncuran buku di Hotel Le Meridien, Jakarta, hari ini.

“Pemberian konsesi itu adalah contoh yang sangat nyata, cetho welo-welo, tentang penjualan Indonesia kepada asing,” kata Amien dalam pidato peluncuran buku “Suara-suara Saya di Senayan” itu. Buku ditulis oleh Catur Sapto Edi, anggota Komisi Energi DPR dari Partai Amanat Nasional.

Menurut Amien, yang juga Ketua Dewan Kehormatan PAN, pemerintah telah korupsi luar biasa dalam konsesi itu karena merugikan keuangan negara. “Saya tak tahu jin mana yang membisiki pemimpin kita untuk menjual sumber daya alam, yang bisa mensejahterakan rakyat, kepada asing.”

Ari masih bertahan ketika Amien berpidato. Tapi, begitu Amien turun podium, Direktur Pertamian yang baru dilantik 8 Maret lalu itu buru-buru meninggalklan ruangan. Adapun pembicara lainnya, masih tinggal yakni Amien, Ketua Komisi Energi DPR Agusman Effendy, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, dan bekas Menteri Keuangan Fuad Bawazier. “Saya acara lain,” ujar Ari kepada pers di luar ruangan.

Ari mengaku tak bisa menolak kehadiran Exxon karena begitu menjabat direktur utama, ia sudah ada kesepakatan pemerintah dengan perusahaan minyak dari Amerika Serikat tadi. Pertamina hanya mencari solusi agar eksplorasi bisa segara dilakukan. “Kami tak bisa berbuat apa-apa,” kata nya.

Thonthowi Jauhari

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 16 Maret 2006

Besok, Bedah Buku Mesin Ketik Tua

Padang: Besok, Komunitas Pegiat Sastra Padang (KPSP), Sumatra Barat, akan menggelar peluncuran dan bedah buku Mesin Ketik Tua karya H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie di Gedung Abdullah Kamil Jalan Diponegoro Padang.

Peluncuran buku itu akan dihadiri oleh Gubernur Sumatra Barat Gamawan Fauzi. Sebagai pembedah akan hadir sejarawan Dr. Mestika Zed dari Universitas Negeri Padang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, M.S Dt Pahlawan G.P Gajah Tongga, akedemisi dan ninik mamak.

Menurut Ketua KPSP Yurnaldi, acara ini diadakan terkait dengan Hari Pers Nasional (HPN)ke-60 dan sekaligus maalekkan (merayakan) hari ulang tahun ke-73 Kamardi Rais, salah seorang jurnalis senior, mantan Ketua PWI Sumatra Barat dua periode (periode 1981-1985 dan 1985-1989) dan kini Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatra Barat.

Buku Mesin Ketik Tua merupakan pemikiran dan renungan perjalanan jurnalistik Kamardi Rais selama 53 tahun. Buku ini memuat berbagai persoalan adat dan budaya Minangkabau, sejarah, sosial, politik, dan in-memoriam tokoh-tokoh pers Sumatra Barat.

“Ketekunan menulis adalah sikap yang sesungguhnya
perlu kita teladani dari sosok Kamardi Rais. Banyak catatan-catatan peristiwa dan fakta sejarah yang terjadi luput dari perhatian kita,” ulasnya.

Dalam perspektif sejarah pers di Indonesia, Yurnaldi mengatakan, orang Minang bukan kemarin mulai membaca koran. Di bulan Desember 1864, orang Minang untuk pertama kalinya membaca surat kabar berbahasa Melayu.

Pada bulan itu edisi perdana Bintang Timor diluncurkan. Itulah koran pribumi pertama (vernacular press) yang terbit di kota yang sudah berusia tua ini. “Padang memang merupakan kota pers tertua di Sumatra dan termasuk kota Indonesia yang paling awal mengenal surat kabar.”

“Untuk itu pula, kehadiran buku yang diterbitkan Pusat Pengkajian Islam Minangkabau ini dalam kerangka sejarah pers menjadi sangat penting nilainya,” ujarnya lagi.

Budi Putra

*) Dikronik dari Tempointeraktif 10 Maret 2006

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan