-->

Kronik Buku Toggle

Kesepian di Perpustakaan DPR RI

JAKARTA — Pada 26 Oktober 2015, Harian Umum Media Indonesia menyoroti dua halaman utama kehidupan di Perpustakaan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Jakarta.

Di salah satu artikel di koran itu dilansir data jumlah koleksi di perpustakaan itu mencapai 25.060 yang mencakup 15.078 buku, 1.271 peraturan dan undang-undang, dan 962 referensi. Bahkan ada pula skripsi, tesis, dan disertasi, yang jumlahnya mencapai 133 jilid, serta jurnal sebanyak 73 buah. (lebih…)

Muhidin M Dahlan | Infrastruktur Buku setelah Buchmesse

Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Harmonie Hall Congress Center Messe Frankfurt memukau ribuan hadirin yang menyaksikan pembukaan Frankfuter Buchmesse, 13 Oktober silam. Menteri Baswedan memampatkan sedemikian rupa wacana penghormatan pada keragaman dan politik bahasa sebagai instrumen mempersatukan bangsa. Indonesia mampu keluar dari momok kebinasaan dan menjadikan keragaman sebagai kekuatan karena “Bahasa Indonesia” diciptakan 27 tahun mendahului terciptanya negara-bangsa. (lebih…)

Inilah Pernyataan Resmi UWRF Terkait Pembatalan Program Terkait “65”

Dalam situs resmi Ubud Writers & Readers Festival, ubudwritersfestival.com, tertanggal 23 Oktober 2015, mengumumkan secara resmi pembatalan beberapa programnya terkait dengan tema “1965”. Berikut adalah isi pernyataannya:

Pada hari ini, Jumat tanggal 23 Oktober 2015, dengan berat hati Ubud Writers & Readers Festival secara resmi mengumumkan beberapa sesi yang dibatalkan. (lebih…)

Linda Christanty di Pekan Raya Buku Frankfurt: Ketegangan Baru di Aceh

FRANKFURT — Perdamaian tahun 2015 di Aceh bukan hal yang diinginkan masyarakat Aceh, tapi perdamaian yang diberikan pemerintah Jakarta untuk meredam gejolak puluhan tahun perang. Pemberian itu berbentuk syariat Islam.

Demikian potongan pendapat Linda Christanty di Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt, siang waktu setempat (16/10).

“Syariat Islam di Aceh itu membangun ketegangan baru di tengah masyarakat. Yang berjalan berduaan yang bukan muhrim ditangkap dan dihukum. Laki-laki yang tidak salat Jumat dikejar. Bahkan ada sekelompok orang yang memperkosa perempuan yang dituduh melanggar syariat Islam. Pemerkosa lolos hukuman syariat, si perempuan yang menerima dua hukuman,” kata penulis buku “Dari Jawa Menuju Atjeh” ini. (lebih…)

Ayu Utami dan Lily Yulianti Farid di Pekan Raya Buku Frankfurt: Dari Semar hingga Bissu

P1060495 - CopyFRANKFURT — Isu seks, tradisi, dan agama menjadi topik pembahasan Ayu Utami dan Lily Yulianti Farid di Paviliun Indonesia di Pekan Raya Buku Frankfurt (15/10).

Dua penulis sastra ini berangkat dari akar kebudayaan berbeda. Ayu Utami lahir di Jawa dan besar di kota metropolitan Jakarta. Sementara Lily Yulianti tumbuh bersama budaya bugis di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari budaya Jawa, Ayu menemukan sosok Semar yang menurutnya “beyond”. Gendernya laki-laki tapi memiliki payudara. Dari situ kemudian Ayu memahami kode-kode budaya yang maju melihat motif dan kcenderungan seksualitas yang tidak tunggal.

“Pandangan tunggal melihat seksual berdampak pada demonisasi perempuan. Semakin misterius seks, semakin dikontrol oleh kekuasaan,” kata pengarang buku Saman ini. Buku ini hak ciptanya telah dibeli penerbit dalam bahasa Belanda, Inggris, Italia, Perancis, Ceko, Jerman, Korea, dan Ethiopia. (lebih…)

Taufiq Ismail di Pekan Raya Buku Frankfurt: “Komunis Gaya Baru Itu Ada”

P1060470 - CopyFRANKFURT — Setengah abad bangsa Indonesia diikat rantai yang melintang dari kuburan Marx di London hingga kuburan Lenin di Moskow. Rantai itu telah diputus hingga berkeping-keping.

Demikian Taufiq Ismail membuka percakapannya di Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt (15/10). Bersama penulis cerita pendek Zen Hae, Ismail menyebut komunisme itu penyakit menular. Penahanan politik, pemecatan, pembunuhan massal, breidel penerbitan dan koran adalah sebagian dari penyakit yang ditularkan komunisme. Termasuk komunisme itu rajin membikin jargon, seperti 7 setan desa, 3 setan kota, kapbir, dan sebagainya.

“Semuanya sudah berlalu dan yang kita inginkan sekarang adalah suatu perdamaian total. Ikhlas melupakan semuanya,” kata penulis buku “Katastrofi Mendunia: Marxisma Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba” ini. (lebih…)

Oka Rusmini dan Intan Paramaditha di Pekan Raya Buku Frankfurt: Dua Yang Menolak Tabu

FRANKFURT — Dengan tema “T(r)opical Issues: Women and Taboo”, Oka Rusmini dan Intan Paramaditha berbicara di Pekan Raya Buku Frankfurt tentang keterbukaan informasi dan dobrakan atas tabu.

Oka Rusmini, pengarang buku “Tarian Bumi” ini meneguhkan cerita tentag perempuan yang otonom. Ia bahkan tak segan-segan menabrak tabu di Bali, seperti ritus pariwangi. Menurut adat ini, jika seorang perempuan menikah dengan laki-laki biasa, secara otomatis kasta perempuan itu turun.

“Patiwangi ini adalah teror psikologis,” ujar Oka Rusmini di Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt (14/10). Teror itu dilawan Oka Rusmini dengan “membuang” gelar kebangsawanan yang melekat di namanya, “Ida Ayu”. (lebih…)

Ahmad Tohari di Pekan Raya Buku Frankfurt: “Bahasa Banyumas Hilang, Ronggeng Ikut Hilang”

P1060432 - CopyFRANKFURT – “70 persen orang Indonesia itu tinggal di desa,” kata Ahmad Tohari di Paviliun Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt, Frankfurt Am Main (14/10). Oleh karena itulah Ahmad Tohari lebih nyaman menjadi orang desa.

Penulis buku “Ronggeng Dukuh Paruk” ini mengatakan untuk orang di luar Indonesia yang ingin mengetahui tentang desa, bacalah buku-bukunya. “Saya pengarang dari desa yang mencintai desa, dan menggali inspirasi cerita dari pengalaman hidup di desa,” kisah pengarang kelahiran Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948 ini.

Ronggeng, misalnya, adalah budaya desa di mana Tohari tinggal. Ronggeng adalah “pesta desa” yang diselenggarakan sesudah panen atau ketika ada hajatan di kampung seperti sunatan.

Dunia ronggeng yang turut dalam pemusnahan orang-orang komunis tahun 1965 yang ditulis Tohari ini juga menjadi pengetahuan sendiri bagaimana kekerasan budaya dan budaya kekerasan berlangsung di desa. “Saya menulis bagian kekerasan terhadap komunisme itu di ‘Ronggeng’ bukan untuk berpihak pada kelompok tertentu, tapi pada kemanusiaan. Manusia jangan dibunuh. Ronggeng dibunuh dan diperlakukan dengan kejam lewat penyiksaan. Saya tidak rela mereka dibegitukan,” tutur Tohari. (lebih…)

NH Dini di Pekan Buku Frankfurt: “Menulis Itu Seperti Memasak”

P1060440 - CopyFRANKFURT — Novel “Pada Sebuah Kapal” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul “On The Ship” dikisahkan kembali NH Dini di Paviliun Indonesia di Pekan Raya Buku Frankfurt, Frankfurt Am Main, Jerman (14/10). NH Dini tampil sepanggung dengan pengarang asal Banyumas Ahmad Tohari dengan tema “In Conversation: Kampong and City Tales”.

Menurut NH Dini, tokoh utama Sri dalam roman biogafi itu adalah empat tokoh nyata yang semuanya bernama Sri. Sri yang pertama adalah istri seorang profesor yang tinggal di London. Sri kedua adalah dosen yang mengajar di kampus UGM Yogyakarta. Sri yang ketiga adalah penari dari Bali. Dan Sri keempat adalah istri diplomat dari Jawa.

“Nama saya sendiri juga adalah Sri,” kisah NH Dini yang bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin.

Empat Sri yang disebutkan NH Dini itu diaduknya jadi satu dan menjadi seutuhnya Sri yang “berontak” dengan ketakbahagiaannya. Ia selingkuh dengan nakhoda kapal dalam sebuah perjalanan. Tokoh perempuan ini menikah dengan seorang diplomat. (lebih…)

Nano dan Butet Memanggungkan Kata-kata di Pekan Raya Buku Frankfurt

FRANKFURT — Jalan pelarangan adalah jalan yang ditempuh Teater Koma. Lakon “Opera Kecoa” dan “Suksesi”, untuk menyebut dua lakon, adalah jejak Koma berhadapan dengan kekuasaan yang diperintah di bawah sepatu lars.

Nano Riantiarno menceritakan kiprah Teater Koma di Pavilion Indonesia, Pekan Raya Buku Frankfurt, siang waktu setempat (14/10). Bersama aktor Butet Kartaradjasa, Nano Riantiarno silih berganti berbagi pengalaman memanggungkan kata-kata.

“Teater Koma sudah berkiprah selama 38 tahun. Sudah 182 karya dipentaskan. Artinya, sudah hampir empat dekade kami mencoba bertahan menjaga sikap kritis masyarakat,” kisah Nano.

Separuh lebih dari kronik pemanggungan Nano dilakonkan berada di bawah bayang-bayang pelarangan. Interogasi pihak keamanan sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan teater yang didirikan pada 1 Maret 1977 ini. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan