-->

Kronik Buku Toggle

Kabar Resensi Buku | Minggu, 23 Agustus 2015

Setiap Minggu, pers cetak mengeluarkan rubrikresensibuku untuk mengulas buku-buku termutakhir. Kami informasikan kabar resensi dan kabar buku lainnya di #KoranMinggu tersebut. Jika berminat mendapatkan kopi digital atas resensi tersebut, tersedia di bagian arsip kamar koran perpustakaan Gelaran Ibuku,  warungarsip.co atau twitter @warungarsip. Kabar resensi ini disusun oleh Aya Nurhidayah. (lebih…)

28 Agustus 2015 | Setahun Mojok | Sleman, Yogyakarta

Poster Setahun Mojok

Agenda : Setahun Mojok dan Peluncuran Buku Mojok
Tanggal : 28 Agustus 2015
Tempat : Angkringan Mojok, Jl Damai, Sleman, Yogyakarta
Pukul    : 19.00 – 22.00

(lebih…)

23 Agustus 2015 | Bincang-bincang Sastra edisi 119, Puisi “Suluk Senja” karya Dimas Indiana Senja

Peluncuran antologi puisi Suluk Senja karya Dimas Indiana Senja

Pukul: 20.00 WIB – Selesai

Hari/tanggal: Minggu, 23 Agustus 2015

Tempat: Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY)

 

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta dan didukung oleh Radio Buku  menggelar acara Bincang-bincang Sastra edisi 119, peluncuran antologi puisi Suluk Senja karya Dimas Indiana Senja. Acara ini akan diselenggarakan Minggu, 23 Agustus 2015 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pukul 20.00 WIB. gratis. Didaulat sebagai pembicara dalam acara ini adalah Bustan Basir Maras dipandu oleh Eka Safitri. Selain itu akan ada penampilan musik puisi dari Kopi Basi, teaterikal puisi oleh Shinta Kusumasari, serta pembacaan puisi oleh Ulfatin Ch., Eka Anggraini, Dinar Suci Mayaratih, Retno Iswandari dan Umi Kulsum. (lebih…)

Matinya Literasi

Laporan khusus Media Indonesia 22 Juli 2015 tentang literasi di Yogyakarta ini muncul saat arus balik lebaran mulai berular-ularan di jalan raya. Judulnya pun seram, seseram angka jiwa-jiwa yang direnggut karnaval sosial setiap tahun dalam opera bernama mudik dan arus balik setelahnya.

“Matinya Literasi di Kota Pelajar”, demikian judul besar yang dituliskan Furqon Ulya Himawan. Mati. MATI. Mati. Sesuatu disebut “mati” bila tidak punya dayaguna. Kita bilang lampu itu mati karena si lampu sudah tak memancarkan cahaya. Kita bilang hape mati bila tidak bisa digunakan sedemikian mestinya.

Apakah literasi Yogyakarta sudah betul-betul mati dalam arti tak berguna lagi? Tiga artikel dalam dua halaman “Laporan Khusus” Media Indonesia ini mencoba menyorotinya. Termasuk pandangan dari kami yang bergiat di Sewon direkam di dalamnya.

Selamat mengunduh dan membacanya. Unduh di sini file pdf-nya di sini dan di sini.

Sofie Dewayani | Literasi dan Kelisanan

Banyak mahasiswa pascasarjana mengeluhkan kemampuan mereka untuk membaca. Mereka membaca dengan kecepatan yang sangat rendah dan tidak efektif karena mereka tidak mampu membuat prioritas dalam memilah informasi ketika membaca. Mereka tidak membaca dengan aktif dan merasa kesulitan ketika harus menganalisis dan menyintesis bacaan.

Dalam kegiatan mem baca terbimbing (guided-reading), guru bekerja dengan siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga hingga empat anak yang setara kemampuan membacanya. Guru lalu membantu anak untuk mengidentifikasi gagasan utama, pendukung, hubungan sebab-akibat atau pola argumen yang terdapat dalam bacaan, kemudian membimbing anak untuk melakukan asumsi, inferensi, dan menarik kesimpulan. Guru juga membantu anak untuk memaknai bacaan tersebut dalam konteks pengalaman mereka. Guru membantu menggugah minat anak terhadap teks yang dibacanya. (lebih…)

8-9 Agustus 2015 | Festival Tlatah Bocah IX | Boyolali

Acara
“Festival Tlatah Bocah IX” 8-9 Agustus 2015

Kegiatan:
– Pentas 23 Kesenian Tradisi
– Sarasehan
– 3 Lokakarya
– Pameran
Tempat:
Desa Klakak, Kec. Selo, Kab. Boyolali

mail.google.com

(lebih…)

Andy F Noya | Kisah Hidupku | Jakarta

Meluncurkan buku biografi dilematis bagi Andy F Noya. Pasalnya, selama ini, ia memberikan `panggung’ kepada narasumber yang inspiratif.

Kini, dirinya menjadi `panggung’ bagi orang banyak. Peraih Panasonic Gobel Award 2010 dan 2011 itu, selain pernah menjadi pemimpin redaksi Metro TV dan Media Indonesia, pernah menjadi host program Jakarta Round Up yang kemudian Jakarta First Channel di Radio Trijaya pada 1994-1999.

Pembawa acara Kick Andy (Metro TV), Andy F Noya, 54, meluncurkan buku biografinya yang berjudul Kisah Hidupku. (lebih…)

Brilliant Yotenega | Pencetak Mimpi Para Penulis Pemula di nulisbuku.com | Jakarta

Apa yang bisa diberikan kepada Indonesia? Pertanyaan itu selalu terngiang di telinga Brilliant Yotenega (37). Hendak menjawab pertanyaan itu, dia mengajak semua orang untuk menulis buku dan menerbitkannya sendiri. Dia mengajak para penulis mencetak mimpi-mimpi mereka di nulisbuku.com.

Laman nulisbuku.com membuka kesempatan kepada semua orang untuk menulis, mengunggah, menerbitkan, sampai menjual karyanya dalam bentuk buku. Beberapa penawaran, seperti penerbitan ISBN, pembuatan sampul, percetakan, paket, sampai pemasaran bisa dipilih. Jika penulis mau mencetak saja dan ingin mengerjakan proses lainnya secara mandiri, tentu saja boleh. (lebih…)

Hairus Salim | Khitah, Islah, dan NU

Teman saya baru-baru ini mengirim peran singkat. “Besok saya pulang ke kampung. Saya mau kembali ke khittah saja. Pamit. Mohon doanya.” Yang ia maksudkan kembali ke khittah (dengan huruf “t” ganda) adalah menjadi pedagang sebagaimana tradisi keluarganya dan meninggalkan profesi penulis yang selama beberapa tahun terakhir digeluti.

Kamus Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta (1952) belum memasukkan kata khitah ini. Tapi Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) sudah memasukkannya dengan mengartikan khitah sebagai cita-cita; langkah; rencana; tujuan dasar; garis haluan; landasan perjuangan; kebijakan. Bisa jadi kata “khitah” masuk ke perbendaharaan bahasa Indonesia atas “sumbangan” NU secara tidak sengaja melalui dinamika organisasinya yang mendapat liputan media.

Menjelang Pemilu 1982, NU–kala itu masih menjadi partai dan bagian dari fusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP)-mengajukan nama-nama tokohnya sebagai calon legislator. Namun sebagian besar nama tokoh ini dicoret dan digantikan nama-nama baru dari luar NU. Terjadilah konflik antara NU dan Parmusi, dua unsur dalam fusi PPP di satu pihak. Di pihak lain, konflik yang lebih sengit pecah antara Ketua NU KH Idham Chalid dan para kiai yang dipimpin Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Konflik ini berlangsung panjang dan lama, sehingga sangat melemahkan NU. Di tengah konflik itulah, muncul ide agar NU kembali ke hakikat pendiriannya yang awal. Ketika didirikan pada 1926, NU bukanlah partai politik, melainkan organisasi sosial-keagamaan dan berkhidmat pada masalah sosial-keagamaan. Gagasan ini kemudian dikenal sebagai kembali ke “Khittah 1926”, yang artinya NU kembali menjadi organisasi sosial-keagamaan. Sejak saat itu, kata khitah–dengan “t” tunggal–kondang di masyarakat. (lebih…)

Muhidin M Dahlan | Kejahatan Bermantel Buku

Kita memang menunggu KPK membuktikan O.C. Kaligis menjadikan buku sebagai “sandi” kejahatan suap dalam perkara operasi tangkap tangan di PTUN Medan. Kode buku ini mencuat dari pengakuan “ajudan” Kaligis, Yagari Bhastara Guntur. Dari nyanyian sumbang Gerry itulah buku diketahui dijadikan wadak menyimpan uang siluman yang dibawa Yurinda Tri.

Memakai “sandi buku” ini menarik pada dua perihal. Pertama, buku menunjukkan bahwa O.C. Kaligis adalah seorang yang sangat terpelajar. Bukan cuma itu saja, Kaligis di tengah kesibukannya yang luar biasa dikenal sebagai laki-laki yang doyan menerbitkan buku. Allahu Akbar, Kaligis telah menulis 78 judul buku. Belum termasuk rencananya membukukan cerita 10 istrinya. Jadi, menggunakan sandi buku dalam melakukan kejahatan suap direken-reken bisa mengelabui mata elang sang pemburu. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan