-->

Arsip Tokoh Toggle

Suparto Brata: Jangan Sekadar Datang di Acara Buku!

Suparto Brata

Suparto Brata

Malam itu dia datang seorang diri saja. Dengan kaos kebesarannya yang bertuliskan www.supartobrata.com Dan seperti biasa, beliau membaur dengan anak-anak muda yang mengerumuninya. Tawa yang sumringah membuatnya terlihat bugar dan penuh semangat.

Suparto Brata bukan hanya seorang yang tekun menulis, ia juga tekun hadir di acara-acara buku. Dan ia bukan hanya sekedar hadir, ia juga tekun menyimak. Karenanya ia tak suka jika ada yang tidak menyimak alur diskusi di forum.

Tadi malam, 29 Juni 2009, di acara peluncuran buku Para penggila Buku karya Muhidin M dahlan dan Diana AV Sasa, beliau membuat kuis kecil untuk nge-tes konsentrasi dan ingatan peserta diskusi. Pertanyaannya sederhana: Di mana pertama kali Cak Giryadi (salah satu pembicara, redaktur buku harian Surabaya Post) pertamakali belajar menulis di media masa? Dan ternyata nyaris semua peserta terdiam.

Hanya ada satu bapak yang mengacungkan tangan. Namanya Pak Jamal, seorang tukang becak yang cinta buku dan tekun pula hadir di acara buku. Maka beruntunglah Pak Jamal mendapatkan hadiah buku terbaru Suparto Brata sebagai buah ketekunan, keseriusan dan daya ingatnya.

Pelajaran berharga bagi setiap pecinta buku. Jika datang di acara buku, memang semestinya menjadi peserta aktif, tidak hanya sekadar datang dan bersapa halo ria. Menurut Pak Parto, forum ini menjadi ajang kesempatan belajar dan berbagi pengalaman, jadi jangan disia-siakan.  (DS)

Dipo Andy, Bukan Buku tapi Televisi

Dipo Andy

Dipo Andy

Jika kau bertanya apa arti membaca bagiku, maka jawabku adalah membaca tanda-tanda. Pembacaan atas tanda-tanda itu melahirkan pengertian atas situasi psikologis masyarakat. Tentu tanda yang kubaca bukanlah tanda yang sudah sangat jauh di belakang, tanda tradisional, melainkan perkembangan masyarakat kini dan di sini. Aku berada dalam kereta yang masih beroperasi dan bukan kereta yang sudah disimpan di museum sebagai barang antik dan sesekali dioperasikan untuk memuaskan hasrat para turis atau antikes (pencinta barang antik).

Dan yang paling progresif dari tanda-tanda itu adalah apa yang diproduksi alat-alat elektronik. Mungkin kau menyanggahku. Kenapa bukan buku. Mungkin kau akan bilang, bukankah barang-barang elektronik itu sampah yang memproduksi kedangkalan, kebanalan, dan tak ada sama sekali refleksi di dalamnya. Penuh spekulasi. Gosip murahan.

Barangkali kau benar. Tapi tunggu dulu. Kuberitahu bahwa gerak produksi alat elektronik sangat progresif. Ia selalu memperbarui dirinya. Terus-menerus. Sedikit saja lengah, ia akan disalip produk elektronik lainnya. Kubayangkan orang yang bekerja di pabrik elektronik itu adalah orang-orang yang tak pernah bisa tidur karena harus mengawal masa depan setiap detik. Mereka setiap saat mesti terjaga, seperti masyarakat yang tak pernah tidur untuk menyongsong masa depannya. Seperti ucapan gembel-gembel itu: besok mau makan apa. Ucapan gembel itu menurutku sangat kontemporer.

Nah, begitulah. Justru tempat yang kau anggap murahan itu kuletakkan pembacaanku. Dari barang-barang banal itu kucecap inspirasi. Gosip itu menggetarkan kalau kau tahu. Selalu mengejutkan. Walau banyak juga yang membosankan. Penuh repetisi.

Membaca buku itu susah. Sekarang saja aku tak bisa lagi baca buku (tebal) secara tuntas dan total. Karena ternyata setelah kucoba-coba lagi membaca, aku temukan diriku susah sekali berkonsentrasi, karena waktu yang aku pakai adalah waktu sisa-sisa dari kegiatan untuk berkarya. Kau perlu tahu berkarya itu membutuhkan energi dan konsentrasi yang tinggi. Bukan sekedar fisik yang bekerja, tapi pikiran pun diperas untuk menyelesaikan karya. Apalagi beberapa tahun terakhir, aku sangat giat berkarya. Kondisi yang berbeda ketika masih mahasiswa dan beberapa tahun setelahnya.

Selain itu aku sebetulnya muak melihat gaya-gaya orang-orang pembaca buku; mereka itu sombong sekali. Seolah-olah mereka itu lebih hebat dan lebih tahu dari siapa pun. Padahal mereka hanya kutap sana kutip sini. Malu juga aku melihat kesombongan manusia pembaca buku seperti itu.

Tapi kau terus juga memaksaku untuk terus memegang buku. Bahkan meminta menyebutkan 5 buku yang mempengaruhiku. Dengan terpaksa kusebutkan bahwa yang mempengaruhiku adalah Tetralogi Pramoedya Ananta Toer di mana untuk cetakan keduanya setelah lama dibreidel, yakni pada 2002, akulah yang membuat sampulnya. Buku itu mengisahkan perjuangan yang tulus yang terkadang tak terbayar dengan apa yang didapatkan kemudian. Yang penting jalani proses dan yakni akan jalan yang dipilih ditempuh.

Tapi kau menagih satu lagi untuk sampai cukup lima. Jawabku sudah lupa semua. Buku terakhir yang kubaca adalah karya Gabriel Garcia Marquez, Seratus Tahun Kesunyian. Tapi tak selesai. Berat. Adapun buku-buku seni itu soal perkuliahan di ISI Jogja (Institut Seni Indonesia). Tak usahlah disebutkan.

Tapi bukan berarti aku anti bacaan. Toh anak-anakku tetap kuantar ke toko buku. Aku juga masih menyempatkan waktu untuk baca koran dan majalah-majalah seni langgananku, seperti Visual Art, C-Art, dan Arti. Saban bulan aku masih menyempatkan membeli majalah-majalah impor ihwal desain grafis. Semua itu kulakukan agar aku tak ketinggalan isu dunia pop terbaru. Jadi kau sudah tahu bukan, bahwa konsep-konsepku dalam berkarya juga dipengaruhi potongan-potongan artikel isu spekulatif dari bacaan-bacaan pop itu. Dan menurutku, justru dari spekulasi-spekulasi itu memunculkan banyak pertanyaan untuk memulai ide dalam berkarya.

Mesti aku membaca, tapi di sini kuberitahu kepadamu bahwa bukan buku yang mempengaruhi lukisanku, walau kukatakan bahwa sejak 1998 hingga 2003 aku menjadi pembuat sampul buku di banyak penerbitan Jogjakarta. Bahkan aku menjadi salah satu pengelola penerbitan arti.line. Jadi biar begini-begini, aku pernah menjadi orang buku.

Yang mempengaruhiku adalah seleraku yang berhubungan dengan dunia pop, film, dan kecenderungan hidup sehari-hari. Buku sudah tak kubaca. Yang dari luar negeri paling kulihat-lihat saja gambarnya, selain bahasanya tak kumengerti. Bagi seniman seperti aku ini, cukuplah melihat gambar tanpa kata-kata. Dengan menangkap pesan visual aku sudah membangun teori sendiri di mana terkadang konsep yang kupahami berbeda sama sekali dengan konsep yang dibangun oleh gambar itu.

Dari seluruh perjalananku atas pembacaan terhadap masyarakat lewat barang-barang elektronik dan kehidupan pop dan vulgar-vulgar yang tampil di halaman majalah-majalah life style itu, aku kemudian berkesimpulan bahwa lukisan itu mestilah memiliki akar langsung dari kehidupan sehari-hari; sebagai sebuah cara hidup. Aku bukanlah seniman yang beraneh-aneh dalam masyarakat. Aku adalah bagian dari arus besar masyarakat dengan satu semangat: terus menjalani hidup di sini dan kini. Jenis masyarakat yang begitu itu yang kurekam secara terus-menerus di atas kanvas. (Muhidin M Dahlan)

Dipo Andy, Sumbawa, 21 Agustus 1975
1999 Voice of Nation (Intaran Gallery Bandung, Indonesia) 2000 Feminografi (Gelaran Budaya Yogyakarta, Indonesia) 2001 Muka-Kamu-Amuk-Muak: Serigraphy of 500 Face of Indonesia Parliament Member 1999-2004 (Museum Nasional Jakarta, Indonesia) 2002 Bolart: Choreography of Soccer, Serigraphy of 750 Face-World Cup Player 2002 (Museum Olahraga, TMII Jakarta, Indonesia) 2006 Mirror: Masters Revisited (Vanessa Art Link, Jakarta, Indonesia 2008 Passion Fashion (Semarang Gallery, Semarang, Indonesia)

Nur Mursidi, Juara Blog Buku karena Daya Tahan

Nur Mursidi

Nur Mursidi

Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambahnya. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.

Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi [sini].

BAGIAN I


Saya denger dari teman, blogmu pernah menjadi juara untuk blog resensi buku di Jakarta Islamic Book Fair. Diceritakan ya….

Blog saya (http://etalasebuku.blogspot) memang pernah meraih juara pertama lomba blog buku yang diadakan Pesta Buku Jakarta 2008. Ceritanya, waktu itu (tahun 2008) Pesta Buku Jakarta 2008 menggelar beberapa lomba di antaranya adalah lomba blog buku. Karena saya kebetulan memiliki blog buku yang semula saya jadikan sebagai “dokumentasi resensi-resensi buku” yang pernah dimuat di media massa, maka saya pun iseng-iseng mengikutkan blog saya dalam lomba tersebut.

Tetapi di luar dugaan, ternyata blog saya itu meraih juara pertama. Padahal, sejak awal saya ikut lomba sudah tidak yakin kalau bisa menjuarai lomba, apalagi persyaratan yang ditentukan panitia nyaris tak bisa saya penuhi. Jika pada akhirnya blog saya bisa meraih juara, saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku bahkan juga proses kreatis menulis dan semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain; baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut.

Sejak awal saya ikut lomba hanya iseng, maka saya pun melupakan lomba blog tersebut. Anehnya, justru saya meraih juara dan saya tahu jika saya meraih juara justru dari seorang teman saya kebetulan pada waktu itu hadir di Pesta Buku Jakarta sewaktu pengumuman pemenang blog diumumkan panitia. Cerita yang lucu…!

Mengapa dirimu mencintai buku sepenuh2nya. Bisa diceritakan latarnya?

Keluarga saya adalah keluarga yang jauh dari buku. Perkenalan saya dengan buku diawali dengan kisah yang unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak tinggal di rumah tua yang saya kontrak bersama beberapa teman di Krapyak, Yogyakarta di masa awal kuliah dulu. Tak tahunya, rumah itu angker. Saya yang memiliki jiwa usil, dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Tepat hari pertama, saya langsung menelisik rumah itu dan saat saya temukan kamar di belakang rumah, saya ditikam penasaran. Di kamar itu, ternyata tersimpan bertumpuk-tumpuk buku.

Tidak sabar, saya mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintu, saya menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang saya raih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, saya yang waktu itu belum pernah baca buku –maksud saya; selain buku pelajaran sekolah– langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Jujur, novel itu pula yang membuka mata saya mengenal sastra.

Sejak perjumpan saya dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, diam-diam saya sering bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis saya baca, saya kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang saya baca, menjadikan saya disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya saya kuliah, dan tak sengaja bertemu Arief Syarwani –teman sekampus– yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mata saya seperti berbinar.

Buku itu kemudian saya pinjam. Meski dia sendiri meminjam buku tersebut dari Muhammad Rifa`i, ternyata ia tak keberatan meminjamkan buku itu padaku. Ia bahkan mengajari saya menulis resensi buku untuk buku tersebut. Dua hari, buku itu saya baca lalu saya resensi–untuk saya kirimkan ke Kedaulatan Rakyat.  Tidak pernah saya duga, kalau resensi saya itu pada akhirnya dimuat. Rentetan “peristiwa-peristiwa” itulah yang membuat saya mencintai buku sepenuhnya, apalagi setelah saya “menerjunkan diri jadi peresensi buku”. Ada kegilaan untuk membaca, membaca dan membaca.

Untuk apa orang menyuntuki buku. Apa yang bisa dicari di sana. Bagaimana suka dukamu jadi pembaca yang sekaligus penulis resensi buku?

Orang menyukai buku, karena lewat buku orang bisa melihat dunia. Ada banyak hal yang dapat dicari seseorang lewat buku, tetapi bagi saya pribadi, setidaknya saya bisa belajar dari buku tentang banyak hal, ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Lebih dari itu, lewat buku saya mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup setelah melakukan semacam kontemplasi dan perenungan lebih jauh dan dalam.

Adapun cerita sukanya menjadi pembaca dan sekaligus peresensi buku tidak lain adalah saat mendapatkan kiriman “hadiah buku dan honor” dari menulis resensi. Meski buku dan honor itu bukan segala-galanya, karena membaca dan menulis resensi itu bagi saya adalah satu proses belajar yang menyenangkan sekaligus sebagai media terapi dari keterasingan hidup, tapi kiriman buku gratis dan honor itu tetap menjadi motivasi yang tak bisa dinafikan.

Sementara untuk cerita duka menjadi pembaca sekaligus peresensi buku adalah saat kita salah melakukan penafsiran atas sebuah buku. Karena pada dasarnya membaca dan menulis resensi itu adalah proses menafsrikan dan menilai sebuah buku. Tentu, ada kritik yang kadang dikemukakan oleh orang (pembaca) lain yang kemudian menanggapi hasil pembacaan kita, jika kita memang salah menimbang sebuah buku.

Sudah berapa buku di rak? Dari mana saja (sebagian besar) asalnya kalau boleh tahu? Gratis dari penerbit atau beli sendiri???

Saya mungkin termasuk penulis yang tidak setia memelihara dan merawat buku. Karena itu, saya tidak tahu berapa jumlah buku yang saya miliki. Tak sedikit buku-buku saya yang dipinjam orang lain, ternyata tak kembali ke rak buku saya. Bahkan, sebagian besar buku saya masih saya titipkan seorang teman di Yogyakarta.

Terlepas dari semua itu, buku-buku yang saya miliki sebagian adalah hadiah dari penerbit dan sebagian yang lain saya beli dari uang honor menulis. Apalagi tatkala saya dulu gemar memburu buku-buku bekas dari penampung barang-barang bekas (rongsok) di mana saya banyak membeli buku dengan cara kiloan. Hampir tiap hari saya mendapat buku loak dengan harga murah karena saya membeli kiloan. (Bersambung ke Rubrik TIPS-Daya Tahan Meresensi Buku)

Benny Wicaksono : Membaca New Media

benny wicaksono

benny wicaksono

Kamis malam (11/6/09) pelataran Balai Pemuda Surabaya mendadak jadi ajang rave party. Empat orang laki-laki muda, asyik memainkan House music di belakang audio mixer. Di sisi kanan-kiri mereka berdiri 2 televisi layar datar. Layar itu menampilkan gambar dan permainan cahaya yang senada seirama dengan alunan musik. Pengunjung terbius untuk menari bersama. Hingar bingar, spektakuler, penuh asap, tawa, dan kegilaan. Siapa menyangka jika itu adalah sebuah acara pembukaan pameran seni? Tak ada tamu kehormatan, tak ada gong dipukul, apa lagi pita digunting. Tapi itu benar-benar pembukaan pameran seni. Surabaya International Video Festival 2009.

Dan seseorang dibalik ide gila itu tersebutlah satu nama: Benny Wicaksono. Ia seorang video jockey dan penggerak pameran video art.

Ben, kamu sejak kapan tertarik video art?

Kalau aku sih dari SMA sudah tertarik banget dengan dunia seni visual. Aku banyak tahu dari majalah-majalah. Makanya aku ngebet banget pengin kuliah di akademi seni. Waktu itu aku pilih ISI Jogja. Tapi 2 kali test masuk, tetep nggak masuk. Akhirnya, karena pilihannya harus tetap di dunia seni, ya udah, aku masuk desain grafis UK Petra. Sayang, aku gak bisa lulus juga dari kampus itu. Dunia seni lebih menarik bagiku ketimbang kampus. Dan pilihanku jatuh pada seni video.

Sejak 1999 aku sudah kepengin banget bikin pameran tunggal. Jadi aku buat aja pameran kecil-kecilan. Disitu sebenarnya, jejak-jejak karyaku yang sampai sekarang tuh muncul. Sistem Saluran Televisi Terbuka, Close Circuits Television, itu sampai sekarang masih jadi idiom dalam karya-karyaku. Keinginan pameran tungal yang benar-benar kupersembahkan untuk publik seni rupa baru bisa terwujud 4 tahun kemudian. Sejak itu aku banyak diundang mengisi pelatihan, mengajar, dan menjadi pembicara forum-forum diskusi seputar seni video gitu. Aku juga kadang jadi kurator  beberapa karya video teman-teman.

Kamu bilang, mengenal seni visual dari majalah. Emang kamu suka baca?

Wah, suka sekali. Aku adalah tipe orang, yang jika kehabisan bacaan di ruanganku, di studioku gitu, aku akan sangat gelisah. Aku cenderung gak peduli  mengeluarkan biaya berapapun buat buku dari pada untuk hal-hal yang nggak berguna. Koleksi bukuku termasuk koleksi yang lumayan banyak juga sih.

Berapa buku kamu punya?

Emm, sekitar 200-an lah. 200 teks book dan 50-an buku-buku tentang design gitu.

Sukanya baca buku apaan?

Cultural studies, filsafat

5 buku yang kamu suka?

Lima buku yang aku suka, sebentar..sebentar.. aku mikir ya…

Satu, Dunia yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang. Terus kedua itu, Subculture, The Meaning of Style, Dick Hebdige. Kemudian, The Language of New Media, Lev Manovich. Kurang dua ya? Ehmm, karena aku pengagum berat Yasraf Amir Piliang, bukunya semua aku koleksi, Hipersemiotika! Suka banget aku Hipersemiotika. Satu lagi, sebentar-sebentar aku ambilkan dari buku-buku ini,eh..apa ya…emm….ada satu buku yang aku suka banget, eh… The War of the Worlds, dari Mark Slouka, tentang pandangan pesimistisnya terhadap dunia internet. Aku suka banget buku itu.

Diantara buku-buku itu, yang paling mempengaruhi karyamu?

Aku mungkin Yasraf Amir Piliang. Tulisan-tulisannya sangat relevan dengan pemikiran-pemikiran progresif di Indonesia. Aku berkenalan pertama dengan tulisannya itu di Dunia Yang Dilipat. Tulisan-tulisan dia mencakup banyak hal yang harus aku baca. Dari persoalan internet, media, sampai politik. Aku suka banget buku dia.

Bagaimana mentransfer buku-buku itu ke dalam karyamu?

Ada bab-bab tertentu di buku Yasraf, tentang masyarakat yang belum melek media. Satu-satunya jalan untuk membuat masyarakat melek media, ya memang harus menggunakan aktivitas budaya yang menggunakan media. Jadi ada semacam counter culture disitu. Jadi bukan hanya merayakan datangnya media dengan televisi, sinetron, bla bla bla… tapi kita harus ada satu agenda, satu kegiatan, satu diskusi dimana disitu kita bukan hanya merayakan datangnya media tapi kita mengkritisi. Ada kesadaran untuk tidak hanya sebagai penikmat tapi juga sebagai pelaku aktif. Itu kuat banget dalam buku itu. Akhirnya, ketika aku ngomongin karya-karyaku yang notabene new media, aku juga ngomongin itu, aku juga mengkritik apa yang ada di medium video. Seperti contoh, ketika aku harus membelokkan makna tentang CCTV yang notabene jadi alat pengawasan, bersifat interfensi, surveillance, tapi ditanganku, itu, jadi alat untuk bersenang-senang saja. CCTV itu bisa aku sorot ke karya drawing-ku, lalu aku mixing jadi satu bentukan yang baru sehingga jadi karya video yang artistik. Ada pemutar balikan makna disitu.

Menurut kamu, perlu gak sih seniman membaca?

Sangat perlu. Seniman sangat perlu membaca. Seniman, dia juga sebagai sebuah representasi dari  masyarakat disekitarnya. Dia harus peka, kepekaan itu didapat dari cara mengamati, dan bagaimana dia  membaca situasi. Jadi membaca buku menurutku sangat sangat perlu. Karena ya itu tadi, pengetahuan mungkin hanya bisa di dapat dengan membaca ya. Sekarang bukan eranya, ketika seorang seniman ditanya ‘apa sih sebenernya basic lahirnya karya-karyamu?’ ‘Oh, tiba-tiba datang dari inspirasi-inspirasi  ketika saya menyepi’ Wah, sudah bukan jamannya itu. Seniman harusnya sudah bicara tentang strategi perubahan-perubahan di masyarakat, strategi budaya, di sekitarnya, itu.

Kamu suka nulis?

Oh aku nulis, aku seneng banget nulis. Aku tuh pengin menulis dan mengungkapkan gagasan lewat tulisan.

Sudah nulis apa saja?

Menulis satu tema yang utuh sih belum, paling hanya sekedar menulis komentar, mengkritisi, memberi masukan-masukan pada karya teman-teman dan dimuat di katalog-katalog mereka.

Apa sih asyiknya nulis?

Tantangan menulis adalah tantangan bagaimana aku harus mendapatkan informasi lebih banyak lagi. Seperti contoh, ketika aku diminta menulis pengantar untuk sebuah fashion illustration, maka aku harus membuka banyak buku yang berkaitan dengan dunia pop. Aku harus mencari informasi tentang itu.

Pesan kamu untuk seniman tentang buku?

Koleksi buku… sebanyak mungkin…. di lemarimu…..

Aku melihat teman-teman muda punya kecenderungan untuk punya koleksi buku yang cukup bagus ya. Buku ini tidak hanya yang dibeli di toko-toko buku ya. Coba datang ketempat-tempat art community, seperti Ruang Rupa, Selasar Sunaryo, Common Room, Cemeti, mereka menerbitkan buku-buku yang menurutku bagus banget dan sayangnya, mereka memang nggak menjualnya di toko buku umum. Jadi untuk mendapatkannya memang harus datang ke tempat-tempat itu. Dan kalo menjadi seniman, mengoleksi buku-buku seperti itu, menurutku harus, harus punya.

Jika kamu nanti bisa bikin buku, mau diterbitkan terbatas atau di publish luas?

Kalau aku sih ‘tak publish.  Siapapun yang minat dengan buku itu dan merasa dengan membaca buku itu bisa memberi makna penting dalam kehidupannya, ya aku pikir itu keberhasilan sebuah buku sih. (Diana AV Sasa)

Nama                                      : Benny Wicaksono

Tempat Tanggal Lahir      : Probolinggo, 25 Maret 1973

Alamat                                    : Jl. Siwalankerto Timur Raya 213 A

Telepon                                   : 031. 91517773

E-mail                                      : benny_illustration@yahoo.com

“Benny adalah perupa seni alternatif  yang tidak melihat apakah karyanya masuk market atau tidak. Tapi ia punya semangat bagaimana membangun Surabaya dengan Media Art. Dia inisiator dan penggerak seniman seni video yang masih di bawah tanah untuk muncul ke permukaan dan melakukan pameran” (Agus Koecink, Kurator-Penulis)

Taufik ‘Monyonk’ Hidayat: Jangan Curi Bukuku

MonyonkKepada kalian yang mengaku seniman, kepada kalian yang mengaku perupa, kepada kalian yang mengaku anti buku, kepada kalian yang mengaku penyembah buku, kusampaikan pesan ini.

Ada perupa yang tak mau menyentuh buku. Buku adalah musuh imajinasi. Buku hanya akan membunuh daya hayal. Mematikan proses berkarya yang alami. Buku menjadikan karya perupa kurang bernilai seni, tidak estetik, seadanya, bahkan cenderung ngawur(buruk). Perupa seperti itu pastilah perupa yang bermazhab pada wangsit dalam berkarya. Buku dianggapnya sebuah distorsi.

Mereka, perupa yang anti buku, mungkin lupa bahwa buku adalah kitab pemandu. Buku membantu seniman membuat analisis strategi pilihan dalam berkarya. Buku memberi pilihan filsafatnya, pilihan gagasannya, pilihan visualnya. Sebuah gagasan dalam berkarya harus memiliki filosofi yang jelas. Dengan begitu, berkarya tidak hanya mementingkan sisi estetika, namun juga visi dan pesan yang jelas. Pesan itu mestilah menggugah kesadaran, menggerakkan.

Aku memang perupa yang menyembah buku. Bagiku, buku adalah kunci dari  segala gagasan. Buku akan memberiku pondasi sebuah proses pembacaan. Pembacaan ini sudah tidak lagi teksbook tapi lebih pada pembacaan realitas sosial. Karya-karyaku mungkin jauh dari kesan estetik, tapi pesan yang kusampaikan jelas, karena aku punya gagasan yang kuat dan aku tahu filsafat setiap gagasanku. Dengan buku, aku bisa melakukan pembacaan sosial, memetakannya, sehingga karya-karyaku pun mencerminkan realitas sosial disekitarku. Sebuah karya yang dihasilkan tanpa pembacaan sosial yang komprehensif tidak akan menghasilkan apa-apa. Perupa yang krisis terhadap proses pembacaan, kuanggap hanya berkarya sebagai respon saja. Tidak ada pembacaan secara menyeluruh bahwa sebenarnya karya-karyanya bisa memiliki visi yang lebih jauh.

Lihat saja apa yang tercermin dalam karya-karyaku dua tahun terakhir. Secara estetika barangkali sungguh jauh dari kesan indah. Apa indahnya memunguti dan mempertontonkan sekumpulan sampah di pantai Kenjeran? Tapi bukankah pesan yang ingin kusampaikan sungguh jelas? Itu adalah cermin kegelisahan sosial. Aku mengajak masyarakat berpikir tentang kearifan lokal. Menyadarkan tentang kearifan alam. Aku menggugah kesadaran bagaimana agar masyarakat punya toleransi pada alam dan situs-situs sosial. Harapanku, sekian tahun kedepan, arogansi manusia terhadap alam bisa kita tangkal. Kehancuran ekosistem bisa diminimalisir. Karya-karyaku memang lebih brsifat kritik sosial, kritik pada perilaku masyarakat, kritik pada ambiguitas kehidupan manusia yg lebih berdifat destruksif, menghancurkan semua ekosistem hanya untuk kepentingan sesaat. Jadi, bagiku, estetika memang tidak berada diurutan atas dalam proses berkarya. Pesan, buatku jauh lebih penting. Karena karya harus menggerakkan.

Jelas, bahwa pengetahuan dalam proses pembacaan itu kuserap dari buku-buku yang kubaca. Aku membaca buku-buku filsafat, sejarah, anthropologi, biografi, sampai sastra. Maka nama-nama seperti Nietszche, Marx, Che Guevara, Fidel Castro, Mao Tze Tjung, Soekarno, Tan Malaka, Romo Mangun, Pram, Ayu Utami, Jenar, Fai Faradiba, sampai Kahlil Gibran bisa kulafal dengan jelas karena lekat diingatanku. Buku-buku itu bukan sekedar menyuntikkan berbagai wacana tapi juga memberiku inspirasi untuk memberi judul karya-karyaku. Di dalamnya banyak kutemukan nama-nama dan istilah unik yang menginspirasi. Maka sekali lagi kukatakan, jangan jadikan buku musuh dalam berkarya, karena ia sungguh kaya akan inspirasi.

Ingin kusampaikan pula pada kalian para penulis buku tentang satu buku impianku. Sebagai seniman, sungguh ingin aku mendapati satu buku yang mengarsipkan secara rinci dan lengkap tentang seniman dan karya-karyanya. Jika Indonesia terlalu luas, cukuplah kota Surabaya saja. Belum pernah kutemui penulis yang mau melakukan penulisan tentang dokumentasi seniman. Dari buku itu akan kita tahu, di Surabaya ada berapa seniman tradisinya, seniman modernnya, seniman kontemporernya, seniman yang menghasilkan karya tarinya berapa, musiknya berapa, rupanya berapa, instalasinya berapa, lalu yang bersifat karya seni puisinya berapa, karya-karyanya apa saja. Tidak ada buku tentang itu. Maka tulislah buku itu. Kata novelis Toni Morrison, “Bila kau ingin sekali membaca sebuah buku, tetapi belum ada yang menulisnya maka kau harus menulis”

Terakhir, pada para kutu buku, penyembah buku, yang suka meminjam bukuku dan tak pernah kembali, kusampaikan serapahku: kalian telah membunuh kreativitasku. Kalian memutus referensi logikaku. Maka kalian sungguh lebih sadis dan beringas dari buku yang dianggap musuh imajinasi itu. (Diana AV Sasa)

1996 Traditional Decorative (Kantor Kec. Randu Agung,Lumajang) 2002 Dua Sisi (Café Djendela, Surabaya) 2007 Revolusi Sebuah Cita-cita (Galeri Surabaya, Surabaya) 2009 Expedition Art (RRI, Surabaya), Patung Sampah (Pantai Kenjeran, Surabaya), Perang Sket (Ruang Art Gallery, Surabaya), Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila (Martadinata, Bandung)

Kutipan

(1)   Karya-karya Taufik adalah ekspresi dari jiwa dan karakter Taufik itu sendiri (Sabrot D. Malioboro– Ketua DKS 2009-2014)

(2)  Jika kalian pinjam bukuku dan kalian tak kembalikan, kalian telah membunuh kreatifitasku. Kalian memutus referensi logikaku. Maka kalian sungguh lebih sadis dan beringas dari buku yang dianggap musuh imajinasi itu.

Joni ‘Wiono’ Ramlan: Berguru Melukis Pada Buku

joni

Joni Ramlan

Joni Ramlan. Nama sejatinya Wiono, karena lidah orang Jawa sering menyisipkan huruf “Y”, kawan-kawan semasa kecilnya memanggilnya ‘Yono’. Lalu lama kelamaan terpeleset lidah Jawa itu menjadi ‘Jono’. Kemudian terpeleset lagilah lidah itu menjadi “Joni” yang lebih ngepop. Ramlan adalah nama ayahnya, Ramlan Sawie Mulya. Joni Ramlan kemudian melekat sebagai trade mark di jagad seni rupa.

Tak ada darah seni menurun dari keluarga Joni. Awalnya, ia lebih tertarik pada seni musik. Joni memilih belajar not balok dan menekuni alat musik bass guitar. Jenis musik dangdut, rock, jazz, etnik, klasik semua dijajalnya. Namun musik dirasanya kurang personal, perlu kerja tim, dan dia tak menemukan komunitas yang cocok. Maka ia pun beralih. Setelah tamat Sekolah Menengah Atas ia pun mulai menekuni dunia seni lukis.

Tak ada guru, tak ada pembimbing. Ia belajar melukis seorang diri, dengan caranya sendiri. Pemandu kompasnya adalah: perjalanan dan buku.

Bagi Joni, membaca adalah mengamati, merasakan, dekat, akrab, dan akhirnya memahami. Maka ia pun melakoni perjalanan panjang dengan menunggang motor trail-nya menyusuri Surabaya, Pasuruan, Malang, Banyuwangi, Solo, Semarang, Jakarta, hingga tanah Parahyangan, Bandung. Dia tertarik sekali untuk membaca kehidupan orang-orang pinggiran di kota-kota tua. Orang desa menganggap kota sebagai tempat yang lebih menjanjikan dan mencoba hidup di kota karena ingin berusaha maju meski dengan bekal seadanya. Karena bekal pas-pasan, akhirnya yang menjadi jujugan adalah kota-kota tua di pinggiran itu.

Dari proses pembacaan Joni tentang kota-kota tua itu, ia kemudian bisa merasakan, dekat, akrab dan faham dengan realitas hidup orang-orang pinggiran. Mereka sebenarnya belum siap untuk jadi orang kota karena modalnya pas-pasan. Seringkali malah dinggap pemerintah kota hanya membuat kotor saja. Realitas-realitas inilah yang coba ia bacai dan tuangkan dalam goresan kuasnya.

Seperti lukisan sepeda yang ia jadikan simbol kehidupan orang-orang pinggiran. Bagi tukang besi tua, tukang sayur, pemulung, dan pedagang keliling, sepeda itu betul-betul menjadi bagian hidupnya. Dengan melihat sepeda yang tua, karatan, dan aus, Joni seperti melihat sepeda itu bercerita tentang keras dan beratnya laku kehidupan penunggangnya. Demikian juga dengan bangunan-bangunan tua. Panjangnya waktu yang dilampaui untuk bertahan, menjadikan bangunan itu menuturkan dengan sendirinya kisah-kisah kehidupan sebuah kota yang tergerus roda jaman. Joni menyukai benda-benda yang dari bentuknya saja ia sudah bisa bercerita. Perjalanan mengajarinya cara ‘membaca’ dengan makna.

Sadar bahwa ia bukan pelukis yang punya pendidikan khusus di bangku sekolahan, Joni memilih buku sebagai gurunya. Ia membaca buku apa saja, sedikit-sedikit, seperlunya. Buku tentang senirupa dan kisah biografi perupa lebih ia minati. Sebut saja misal buku Cornelis Springer, Hendrik Dubbles,dan Charles Bloom yang membantunya membuat lukisan repainting di awal karir melukisnya. Ia juga membaca majalah senirupa seperti Visual Art. Dari sana ia mendapat masukan dari kurator-kurator tentang bagaimana seharusnya agar perupa bisa maju.

Meski merasa perlu belajar sastra, tapi ia gagal menjadi penikmat. Menurutnya, sulit menangkap bahasa sastra. Jadi seperlunya saja. Maka ketika diminta menyebut satu nama penulis sastra, ia tertawa dan mengingat-ingat, lalu menyebut satu nama:Pramoedya.

Joni bukan pembaca buku yang tekun, karena ia lebih suka sedikit teori tapi banyak bekerja. Ia tak pernah mencari buku di perpustakaan. Buku-buku itu ia pinjam saja. Ada beberapa yang sengaja ia beli karena ia memang suka dan butuh isi buku itu. Baginya, membaca cukup menyehatkan bagi pelukis, selama isi buku itu memberi masukan bagi proses berkaryanya. Salah satu buku yang paling diingatnya adalah buku tentang pelukis Affandi yang ditulis Umar Kayam walau ia lupa siapa penerbitnya.

Buku Affandi menyimpan sejarah penting baginya. Ketika itu sekitar tahun 1992. Harga bukunya 115 ribu. Joni sangat mengidolakan Affandi maka ia ingin sekali memiliki buku itu. Baginya, goresan kuas Affandi benar-benar mewakili karakter pelukisnya. Dan ia menyukainya. Maka meskipun dalam keadaan tidak punya uang, ia berusaha mati-matian untuk membeli buku itu. Dengan kemampuan melukis yang pas-pasan, ia buat lukisan-lukisan mungil seharga 10 ribu. Hasil penjulan seratus lebih lukisan itu lah yang mengantarkan buku Affandi ke pangkuannya. Dengan buku itu, ia menyerap kisah perjalanan dan semangat berkarya sang maestro. Affandi, bagi Joni sangat berpengaruh pada awal perjalanan melukisnya. Sekarang, jika butuh menyegarkan semangat berkarya, ia sempatkan menilik Jogja dan menyerap kembali energi idolanya itu di Museum Affandi.

Karena tahu buku itu adalah guru, maka Joni ingin anak-anaknya dekat dengan buku. Meski tidak ada ada dana khusus untuk beli buku, sesekali ia ajak anaknya ke toko buku atau ia suruh meminjam buku di perpustakaan. Joni sudah membuktikan bahwa belajar tak melulu dari sekolah dan guru, karena buku juga bisa menjadi guru. Buku adalah guru lukisnya. Perjalanan adalah membacanya. (Diana AV Sasa)

Pameran Bersama :2001 Kwarta Artistika (Rupa Gallery, Surabaya) 2002 The Colour of Nature (Padi Gallery, Malang), 2003 Borobudur International Festival (Museum Widayat, Magelang), 2004 Membaca Peta Senirupa Jatim (Taman Budaya, Surabaya) 2005 Bienalle Jogja VIII “Disini & Kini” (Taman Budaya, Yogya), 2006 Homage 2 Homesite (Jogja National Museum, Yogya), 2007 Illustrasi Cerpen Kompas Tour Exhibition (Jogja, Bali, Malang, Jakarta) 2008 Finalis Indonesia Art Award (Galeri Nasional, Jakarta), 2009 C-Art Show(Grand Indonesia Hotel, Jakarta, Indonesia) 2009 Indonesia Art Festival (Ritz Carlton, Jakarta, Indonesia) 2009 Celebration (The PEAK Contemporer Art Gallery, Jakarta, Indonesia)

Pameran Tunggal : 2009 Menggantung Masa Lalu (Orasis Gallery, Surabaya, Indonesia)

KUTIPAN :

(1)   “Joni adalah seorang pelukis yang tertarik pada obyek-obyek yang cenderung archaic, yang mengguratkan narasi sejarah dibaliknya. Joni mengubah problematika masa lalu, untuk karya-karya seni lukisnya, dengan perenungan, kedalaman, dan penuh penghayatan”(Suwarno Wisetrotomo, Kurator)

(2) “Membaca adalah mengamati, merasakan, dan memahami. Untuk bisa melukis saya harus sampai pada tahap memahami”.

Kathleen Azali, Campuran C2O, Library, Cinemateque, Café

C2O Library

C2O Library

Mungil dan malu-malu. Begitu lah rumah buku C2O itu. Seperti siempunya yang juga mungil dan malu-malu mempromosikan istana bukunya. Rumah buku itu terselip diantara beton-beton yang melingkupi Surabaya. Bersembunyi di sebuah rumah tua di jalan Dr. Cipto. Hanya selemparan batu dari hadapan Konjen Amerika. Sunyi, sesunyi buku-buku yang ada di dalamnya.

Adalah Kathleen Azali, gadis kutu buku yang menunggui rumah buku itu. Bermula dari ketekunannya mencari informasi dari buku, ia ingin membaginya untuk masyarakat kota Surabaya. Kathleen merasa dia banyak tak tahu tentang banyak hal. Karenanya ia susuri buku-buku untuk membuka jendela pengetahuannya. Dan diraupnya segala macam buku. Dari sejarah, filsafat, anthropologi, sastra, saint, sampai komik dan dunia anak. Buku-buku itu membuatnya asyik di dunia kecil sarat informasi. Dan ia tak mau beranjak. Sunyi adalah kawannya. Dalam sunyi itu ia begitu benderang. Karena buku menyinarinya.

Istana itu pun dibangunnya dengan senyap. Rumah bagi buku-buku kesayangannya. Ia manjakan betul buku-bukunya dengan kasih sayang dan kecintaan penuh. Seperti ibu mengasuh anak-anaknya. Kamar dan perabot ia sapu dengan warna-warna ceria dan tertata apik. Jendela dan pintu dibukanya lebar-lebar hingga udara segar memenuhi ruang. Makanan dan minuman ringan ia sediakan di sudut. Sebuah televisi dan DVD player ia tambahkan di tengah ruangan. Dinding halaman ia jadikan kanvas karya-karya komikus muda Surabaya yang bersembunyi di bawah tanah. Menyuarakan pemberontakan pada sistem sosial dan kegelisahan anomali kekuasaan.  Ruang kosong di samping rumah ia sediakan untuk ajang pameran dan kegiatan budaya seputar buku, film, dan seni. Rumah buku itupun menjadi wadah yang lebih luas, sebuah ruang budaya publik urban kota niaga.

Menampung kebutuhan informasi tentang seni dan buku di Surabaya, C2O menyimpan 3000 buku fiksi dan non fiksi dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Juga 700 film klasik yang selalu diputar setiap sabtu pukul 4 sore. Disinilah biasanya komunitas film indie dan pecinta film klasik mendiskusikan film dengan keseriusan tanpa melepas jiwa muda nan kreatif dan progresif. Kathleen juga menerima pemesanan film-film atau buku yang tidak diputar di Sinema 21. Rak khusus komik independen ia sediakan untuk menampung karya-karya kreatif komikus muda Surabaya. Di rumah buku ini, seni dan buku berbaur dengan intim dalam nuansa yang dinamis dan ceria.

Tak berhenti disitu, Kathleen menerbitkan bulletin Douze sebagai media informasi koleksi dan kegiatan. Bulletin ini memuat artikel, maupun liputan seputar buku, komik, film, dan music dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Tak ketinggalan juga rubrik yang memajang karya visual sperti komik, karikatur, fotografi, dan ilustrasi. Bulletin ini terbuka untuk umum.

–      Info : http://coffee-cat.net/c2o/library/

Cathleen 0858 5472 5932

C2o.library@yahoo.com

C2O Library, Jl Dr. Cipto No 20 Surabaya 60264

Soekarno, Hiburanku di Buku-buku

Oleh Muhidin M Dahlan

”Saya mencari consolation, hiburan hidup dari buku-buku. Saya membaca buku-buku. Saya meninggalkan alam ini, alam jasmaniah. Saya punya pikiran, saya punya mind terbang, meninggalkan alam kemiskinan ini, masuk di dalam ”world of the mind”; berjumpa dengan orang-orang besar, dan bicara dengan orang-orang besar, bertukar pikiran dengan orang-orang besar.” (Soekarno)

Presiden Soekarno berpidato. Pena-nya ada di ujung lidahnya.

Presiden Soekarno berpidato. Pena-nya ada di ujung lidahnya.

Hampir semua orang tahu, naskah pleidoi Indonesia Menggugat yang ditulis dan dibacakan Soekarno di Landraad Bandung pada 18 Agustus 1930 itu mencengangkan. Bukan hanya karena bahasanya bergemuruh, penuh gelora, propagandis, menghentak, menjambak, menunjuk, dan sekaligus membanting, melainkan juga naskah itu kaya akan literatur.

Jika kita mengindeks naskah itu dengan jeli, maka kita dapatkan ada sekira 66 nama tokoh yang dikutip Soekarno. Sebut saja Albarda, Anton Menger, August de Wit, Bauer, Boeke, Brailsford, Brooshooft, Clive Day, Colenbrander, Daan van der Zee, de Kat Angelino, Dietrich Schafer, Dijkstra, Duys, Engels, Erskin Childres, Federik Peter Godfried, FG Waller, Gonggijp, Henriette Roland Holsts, Herbert Spencer, HG Wells, Houshofer, Huender, Jaures, John Robert Seeley, dan Jozef Mazzini.

Ada juga Jules Harmand, Karl Kautsky, Karl Marx, Karl Renner, Kilestra, Koch, Kraemer, Lievegoed, Mac Swiney, Manuel Quezon, Michael Davitt, Multatuli, Mustafa Kamil, Parvus, Peter Maszlow, Pieter Veth, Raffles, Reinhard, Rouffaer, Rudolf Hilferding, Sandberg, Sarojini Naidu, Schrieke, Scmalhausen, Sister Nivedita, Sneevliet, Snouck Hugronje, Stokvis, Sun Yat Sen, Treub, Troelstra, van den Bergh van Eysinga, van Gelderen, van Heldingen, van Kol, van Lith, dan Vleming.

Tokoh-tokoh itu menempati posisi dari pelbagai penjuru aliran pemikiran; dari sosialis liberal, komunis, kaum agamawan, hingga penganjur kapitalis modern. Nama-nama itu berbaur dalam 33 judul buku yang dijadikan sandaran gagasan Soekarno di mana 99 persennya berbahasa Belanda.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa Soekarno mendapatkan begitu banyak pasokan buku? Padahal, naskah itu ditulisnya saat ia disekap dalam penjara sudra Banceuy yang kotor dan jorok selama 330 hari. Dalam kamar sel 1.5 x 2.5 meter itu, Soekarno dijaga ketat dan berlapis oleh spion-spion karena dianggap sebagai musuh pemerintah kolonial kelas wahid.

Adalah Inggit Garnasih yang mengambil peran itu. Inggit adalah ibu kos Soekarno saat ia kuliah di ITB Bandung yang kemudian dinikahinya. Umur mereka terpaut cukup jauh, tapi Soekarno yang masih berusia ting-ting merasa lebih tenteram dalam dekapan Inggit ketimbang dengan putri Tjokroaminoto, Utari, yang kemudian dipulangkannya lagi ke Peneleh Surabaya.

Inggit sadar bahwa Soekarno pemuda cerdas dan memiliki talenta besar sebagai seorang pemimpin nasional. Dan, sekaligus Inggit tahu Soekarno adalah hantu buku. Ia pelahap buku yang rakus. Bahkan, ketika rekannya yang membeli buku belum sempat membacanya, sudah direbut Soekarno duluan dan setelah selesai barulah buku itu dikembalikan.

”Kalau buku yang saya anggap penting, saya baca dari A sampai Z. Dan yang penting-penting saya garis-bawahi. Saya tulisi dengan pendapat saya. Pendek kata saya orek-orek (corat-coret) setengah ajur (hancur) buku tersebut,” seru Soekarno.

Tapi penjara dan pengucilan memutus semua itu, walau Soekarno tak sudah-sudah berteriak: ”Biar engkau meringkuk di antara empat tembok ini, tetapi besarkanlah engkau punya hati; ide yang terkandung di dalam dadamu memecahkan ini tembok, akan menjalar keluar tembok ini.”

Dan pada posisi ini kerja Inggit, istri yang sangat setia dan mencintai Soekarno sepenuh-penuh diri itu, diperlukan. Soekarno boleh saja menjadi hantu buku yang lahap, tapi penjara Banceuy tetap mengharamkannya bertemu dengan buku. Inggitlah yang membuka jalan bagaimana Soekarno kembali bergulat dengan buku, terutama sekali saat ia sedang mempersiapkan sebuah pleidoi panjang atas rentetan tuduhan subversif yang dituduhkan pengadilan kepadanya.

Dengan caranya sendiri yang sederhana, Inggit menempuh jalan klandestin. Mula-mula, Inggit mengutus kurir ke Jakarta untuk mengambil buku-buku milik Mr Sartono. Tak lupa Inggit memesan kurir untuk berpindah-pindah kendaraan agar tak diketahui spion-spion pemerintah kolonial yang berkeliaran menginternir aktivis-aktivis pergerakan.

Untuk bisa lolos ke dalam penjara, buku-buku itu dililitkan Inggit distagennya dengan didahului puasa tiga hari supaya perutnya bisa kempis betul. Lolos dari pintu depan, tak berarti mata para spion Banceuy lepas. Namun Inggit selalu berhasil memperdaya penjagaan berlapis spion itu hingga Soekarno mendapatkan pasokan buku yang cukup dalam selnya yang apak.

Buku-buku pasokan Inggit itulah yang dinukil Soekarno secara diam-diam nyaris setiap malam. Pembelaan yang telah diterjemahkan ke dalam lusinan bahasa di daratan Eropa itu ditulis Soekarno di atas kaleng rombeng yang berbau pesing lantaran dipakai untuk buang hajat sekalian. Pada saat Soekarno ingin menulis, kaleng ini dibersihkan lagi.

Soekarno butuh waktu empat pekan untuk membacakan pleidoi ini mulai 18 Agustus hingga 22 Desember 1930 dengan didampingi kwartet pembela: Sartono, Sasromuljono, Sujudi, dan R Ipih Prawiradiputra. Tapi Landraad tetap tak bergeming dengan keputusannya. Soekarno tetap dihukum 4 tahun penjara. Sementara tiga rekannya, Gatot Mangkupradja, Maskun, dan Supriadinata masing-masing kena 2 tahun, 1 tahun 8 bulan, dan 1 tahun 3 bulan.

Tapi ini bukan soal gagalnya pleidoi itu membebaskan Soekarno dan rekan-rekannya dari interniran, melainkan bagaimana pleidoi itu sendiri menjadi naskah klasik yang paling gemilang yang dilahirkan manusia republik di masa pergerakan.

Dan di antara deretan kutipan pleidoi Soekarno itu, jangan dilupakan keringat dan ikhtiar Inggit Garnasih, perempuan pendamping paling setia dan tabah yang kemudian dibuang begitu saja oleh Soekarno lantaran dia mendapatkan gadis yang lebih muda di dataran Bengkulu: Fatmawati.

Susilo Bambang Yudhoyono, “Saya Senang Berburu Buku”

sbyMau tahu berapa buku yang dikoleksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?

Sebanyak 17 ribu buah. Wah, jumlah yang luar biasa untuk sebuah perpustakaan rumah. Bukunya pun beragam, dari yang terbitan dalam negeri hingga asing. Dia mengaku setiap akhir pekan selalu menyediakan waktu dua jam untuk membaca buku.

“Saya punya hobi berburu buku baru, termasuk kalau sedang ke luar negeri,” tutur Presiden dalam sebuah kesempatan pekan lalu. Pada awal kehidupan berkeluarga, kata dia, sebelum membeli buku, dia harus meminta izin sang istri dulu. Maklum, menurut dia, gaji tentara pas-pasan. “Jadi baru beli kalau keperluan dapur tidak terganggu.”

Pada pengujung 2007, dia menerbitkan buku terbarunya, Indonesia on the Move. Buku ini berisi kumpulan pidato pilihan Yudhoyono dan sejumlah artikel yang ditulisnya sendiri.

* Digunting dari Koran Tempo Edisi 2 Januari 2008

Susilo Bambang Yudhoyono, "Saya Senang Berburu Buku"

sbyMau tahu berapa buku yang dikoleksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?

Sebanyak 17 ribu buah. Wah, jumlah yang luar biasa untuk sebuah perpustakaan rumah. Bukunya pun beragam, dari yang terbitan dalam negeri hingga asing. Dia mengaku setiap akhir pekan selalu menyediakan waktu dua jam untuk membaca buku.

“Saya punya hobi berburu buku baru, termasuk kalau sedang ke luar negeri,” tutur Presiden dalam sebuah kesempatan pekan lalu. Pada awal kehidupan berkeluarga, kata dia, sebelum membeli buku, dia harus meminta izin sang istri dulu. Maklum, menurut dia, gaji tentara pas-pasan. “Jadi baru beli kalau keperluan dapur tidak terganggu.”

Pada pengujung 2007, dia menerbitkan buku terbarunya, Indonesia on the Move. Buku ini berisi kumpulan pidato pilihan Yudhoyono dan sejumlah artikel yang ditulisnya sendiri.

* Digunting dari Koran Tempo Edisi 2 Januari 2008

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan