-->

Arsip Tokoh Toggle

Suryadi, Penyuntuk Naskah-naskah Kuno

Suryadi | niadilova.blogdetik.com

Suryadi | niadilova.blogdetik.com

Dia percaya pada takdir. Jalan hidupnya yang penuh onak dan duri diyakini bukanlah kebetulan. Ada semacam garis nasib yang membentang antara kampung halaman di pedalaman Pariaman, Sumatera Barat, hingga Leiden, Belanda, tempat ia bermukim sejak 10 tahun terakhir.

Suryadi memang tipikal perantau Minang. Ulet dan tahan banting. Hanya saja, sebagai perantau, ia tak menekuni sektor informal, sebagaimana profesi urang awak perantauan umumnya. Ia memilih jalur keilmuan melalui dunia akademik. Bidang yang ia tekuni pun tak terlalu umum: naskah-naskah lama!

Menjadi penelaah naskah dan buku klasik (bahasa kerennya filolog) memang bukan profesi yang bisa mengantarkannya menjadi selebritas, seperti fenomena para ”komentator” bidang ekonomi, politik, dan hukum di Tanah Air. Dari aspek ekonomi pun, profesi ini jauh dari menjanjikan kehidupan mewah dan berkecukupan.

Namun, di balik dunia yang sepi itu, ketika larut bersama naskah tua yang ia kaji di pojok perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Eropa, Suryadi mengaku menemukan ”dunia kecil”-nya itu justru luas membentang. Jalan kehidupan dia kian terbuka lebar.

”Ternyata saya tidak sendiri. Ada juga orang lain yang menyukai bidang ini, yang bisa menjadi teman dalam satu network keilmuan,” tuturnya.

Hasil penelitian yang ia publikasikan di sejumlah jurnal internasional banyak mendapat tanggapan. Kajiannya atas surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, dan Minangkabau, misalnya, dimasukkan dalam satu proyek (Malay Concordance Project) yang berpusat di Australian National University, Camberra, Australia.

Berkat penelitiannya atas naskah-naskah lama itu pula ia kerap diundang menjadi pemakalah seminar di mancanegara. Suryadi bahkan dipercaya memimpin satu proyek pernaskahan yang didanai the British Library.

Kajian komprehensif atas Syair Lampung Karam—satu-satunya sumber pribumi tentang letusan Gunung Krakatau tahun 1883, yang diikuti gelombang tsunami dan memorak-porandakan wilayah sekitar Selat Sunda (Kompas, 12 September 2008)—hanya satu dari sekian banyak teks Melayu klasik yang sudah ia teliti.

Syair dalam tulisan Arab-Melayu alias Jawi itu kemudian ia transliterasikan ke teks beraksara Latin, sebelum dibandingkannya dengan pandangan para penulis asing (baca: Eropa).

Menggeluti naskah lama atau buku-buku klasik mengenai Nusantara ternyata memberi keasyikan tersendiri bagi Suryadi. Perpustakaan KITLV dan Universiteitsbibliotheek Leiden menjadi rumah kedua, tempat ia ”bersemedi”, intens menekuni ribuan naskah tentang Indonesia yang pada zaman kolonial diangkut ke negeri Belanda.

”Saya seperti menyelam ke masa lalu. Banyak hal menarik dari bangsa kita yang terekam dari naskah-naskah lama. Kadang, sewaktu membaca, saya tertawa sendiri,” ujarnya.

Honor seadanya

Tahun 1998 menjadi semacam titik balik bagi Suryadi. Sejak September 1998 ia menetap di Belanda, negeri tempat naskah-naskah lama tentang Nusantara menumpuk. Ia memulai bekerja sebagai pengajar di Universiteit Leiden untuk penutur asli bahasa Indonesia.

Jalan menuju ke Leiden penuh tikungan. Setelah menunggu tanpa kepastian sebagai asisten dosen di Universitas Indonesia (UI, 1994-1998), pada pertengahan 1998 lowongan (vacature) mengajar di Universiteit Leiden datang. Peluang itu langsung ia tangkap. Lamarannya diterima.

”Ini sebenarnya soal jalan hidup saja. Soal pilihan,” kata Suryadi terkait kepergiannya dari UI.

Menunggu tanpa kepastian—juga tanpa masa depan yang jelas—seperti dilakoninya semasa menjadi asisten dosen di UI, bukan hal baru. Sebelumnya, saat diajak Lukman Ali (alm)—dan didukung filolog senior Achadiati Ikram—untuk merintis pengembangan studi Bahasa dan Sastra Minangkabau di UI, Suryadi sudah tiga tahun diterima sebagai asisten dosen di almamaternya: Universitas Andalas (Unand) di Padang.

Seperti halnya saat meninggalkan UI, di Unand pun ia menunggu tanpa kepastian kapan diangkat menjadi dosen tetap. Tentang hal ini, ia hanya berkata, ”Konon, kata mereka, karena tak ada posisi. Tapi anehnya, yang belakangan lulus dari saya diangkat jadi dosen. Saya tidak tahu kenapa?”

Begitu pun di UI. Hidup di Jakarta dari honor sebagai asisten dosen tentu sulit dibayangkan. Di tahun terakhirnya di UI, ia menerima Rp 70.000-an sebulan. Ini pun jauh lebih baik mengingat pada tahun awal ia mendapat honor Rp 35.000 sebulan.

Untuk biaya kontrak rumah saja tak cukup. Menyiasati keadaan ini, Suryadi mendekati teman-teman sesama asisten dosen. Dengan semangat gotong royong ia bersama empat teman bisa menyewa rumah kontrakan di Gang Fatimah, Depok, Jawa Barat.

Bagaimana untuk hidup sehari-hari? ”Saya terpaksa mencari obyekan. Misalnya, selama beberapa tahun saya membantu Ibu Pudentia di Asosiasi Tradisi Lisan. Barangkali memang tidak ada suratan tangan saya menjadi pegawai negeri,” katanya.

Masa kecil

Hidup di tengah penderitaan bukan hal baru baginya. Terlahir sebagai anak petani kebanyakan di Nagari Sunur, Pariaman, sejak kecil Suryadi hidup hanya dengan ibunya, Syamsiar. Orangtuanya bercerai. Ibunya kawin lagi, tetapi perkawinan itu pun bubar setelah memberi Suryadi satu adik lelaki bernama Mulyadi.

Di tengah kondisi serba pas-pasan, ia menamatkan SD di Sunur (1977). Kesulitan hidup juga menyertainya saat di SMP Negeri 3 Pariaman di Kurai Taji (1981). Begitu pun ketika menyelesaikan pendidikan lanjutannya di SMA Negeri 2 Pariaman (1985).

Akibat kesulitan biaya hidup, setamat SMA Suryadi tak bisa langsung kuliah. Setahun ia menganggur, sebelum masuk Unand di Padang. ”Saya masih ingat, Ibu menjual cincin satu-satunya untuk membayar uang masuk kuliah saya.”

Selama kuliah, ia mondok di rumah saudara ibunya, Emi. Suami Emi, Duski Sirun—yang dipanggil Suryadi dengan sebutan Apak—punya beberapa toko kain di Pasar Raya Padang. Di sinilah Suryadi kerja, membantu Apak-nya sambil kuliah. Tak ada gaji, kecuali imbalan tinggal dan makan gratis di rumah sang Apak, serta dibayarkan uang kuliah.

Begitulah selama lima tahun ia kerja siang-malam, termasuk kuliah. Pagi sekitar pukul 05.00 ia bangun dan segera ke pasar untuk membuka toko. ”Kalau ada kuliah, saya ’lari’ ke kampus, lalu kembali ke toko. Malam hari, di tengah rasa capek, saya ulangi pelajaran. Kadang sampai larut, padahal pagi-pagi saya harus bangun dan ke pasar membuka toko,” ujarnya.

Hidup memang butuh perjuangan. Pengelanaannya hingga bermukim di Leiden, meretas tradisi pengajar tamu bagi penutur asli bahasa Indonesia di Leiden yang maksimal lima tahun, tetap saja membutuhkan perjuangan baru. Ia merasa seperti pengelana (wanderer) yang tak punya rumah tetap, tempat berdiam.

Tak ingin pulang? ”Pasti saya tidak selamanya di Leiden. Suatu saat saya dan keluarga tentu pulang ke Indonesia, atau mungkin pindah rantau ke negara lain. Biasanya seorang wanderer selamanya akan jadi wanderer,” tambahnya.

Itulah Suryadi. Berbeda dengan slogan seorang politisi masa kini bahwa hidup adalah perbuatan, ia masih dibelenggu masa lalu: hidup adalah perjuangan! Entah sampai kapan….

Sumber: Harian Kompas, 17 Oktober 2008, “Suryadi, Pengelana dari Pariaman”

Prapti Wahyuningsih, Pendidikan Baca-Tulis

Ningsih dan Pendidikan Baca-Tulis
Kamis, 19 Agustus 2010 | 03:23 WIB
KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG
Cornelius Helmy
”Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi makanan.Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi pakaian.Bila saat ini dipandang hina karena keadaanku, izinkanlah suatu saat aku mempunyai sekolah.”
Doa itulah yang disampaikan Prapti Wahyuningsih pada malam Idul Fitri puluhan tahun lalu. Doa kala lapar karena tak punya uang ternyata memberikan kekuatan dalam perjalanan hidupnya. Setelah berdoa, mendadak rasa laparnya hilang. Bahkan, ia bersemangat menjalani pekerjaannya sebagai buruh. Ibunya pun mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh anak-anak tetangga.
”Tuhan mungkin ingin agar kami tidak menyerah, mungkin ada hal lain yang Dia inginkan untuk kami lakukan,” ujar Ningsih, panggilannya.
Tahun berganti, perjalanan hidupnya tak berubah. Pangkat tertinggi sebagai buruh hanya pengawas keuangan. Namun, karena melihat banyak ketidakadilan terhadap buruh dan mulai berkenalan dengan organisasi buruh, ia lantas bergabung dengan salah satu organisasi buruh.
”Saya mulai banyak membaca berbagai macam buku. Entah mengapa, saya mudah menangkap isi buku tentang buruh. Mungkin karena saya adalah salah satunya,” kata Ningsih yang menjadi buruh sejak berusia 11 tahun.
Tahun 1999 ia berhenti bekerja dan memilih konsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin. Ia merintis Sanggar Budaya Anak Indonesia (Sang Budi) yang mengajarkan bernyanyi dan membaca anak di sekitar tempat tinggalnya.
Hasil dari banyak membaca buku, ia yakin pendidikan itu amunisi utama yang harus dimiliki kaum miskin di Indonesia. Tanpa pendidikan, mereka terus tertindas.
”Saya teringat doa saya ketika ingin membuka sekolah. Dalam bayangan saya, sekolah adalah tempat berbagi ilmu dan pengetahuan antarmanusia, bukan sekadar gedung,” ujarnya.
Sekolah hijau
Ningsih lalu berkelana. Pengalaman pertamanya terjadi di Cibenda, Ciampel, Karawang, tahun 2002. Desa itu terletak di tengah pabrik-pabrik besar. Malam hari, saat cerobong asap tak berhenti membuat polusi, kampung gelap dan sunyi.
Idenya membuat sekolah muncul saat melihat petani ditipu bandar dalam jual-beli jagung. Bandar mengklaim hasil timbangan lebih ringan daripada seharusnya. Tak ada protes dari petani karena ia tak bisa baca-tulis.
Namun, ia ditertawakan warga saat mengusulkan membuat sekolah. Dia lalu mengajari anak-anak. ”Tempatnya berpindah-pindah, di tepi sungai atau di lapangan. Tadinya hanya seorang anak yang mau belajar, baru diikuti belasan anak lain,” ujarnya.
Usaha Ningsih membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian, saat ada lagi petani ditipu, anak didiknya mengatakan bahwa timbangan itu salah. Untuk pertama kali, sang bandar ketahuan ”belangnya”.
Tempat kedua Ningsih adalah Desa Tapos, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, pada 2003. Di sini anak-anak hanya mendapatkan pendidikan agama. Mereka fasih berbahasa Arab, tapi kurang paham bahasa Indonesia.
Saat ia bertanya siapa yang pernah ke Kota Bogor, hanya sedikit anak yang mengacungkan tangan. Saat dia tanya siapa yang pernah ke Jawa Barat dan Indonesia? Justru tak ada seorang pun yang mengangkat tangan.
”Itu artinya, pendidikan belum dinikmati semua anak Indonesia. Saya lalu mengajar baca-tulis dan menyanyi, seperti di Sang Budi,” ujar Ningsih yang menolak beasiswa pendidikan tinggi di luar negeri dari salah satu perusahaan karena perbedaan prinsip.
Sempat pulang ke Solo untuk merawat orangtuanya yang sakit, tahun 2007 Ningsih pergi ke Bandung. Ia bergabung dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menggarap isu masyarakat dan lingkungan.
Tinggal di kota besar membuatnya akrab dengan sampah plastik. Ia membuat warung kepercayaan, di mana masyarakat bebas mengambil, membayar, bahkan memasak sendiri. Cara itu ternyata meringankan orang-orang di sekitarnya. Namun, sampah plastik muncul menjadi masalah.
Berbekal keterampilan menganyam daun kelapa saat kanak-kanak, ia mengolah sampah plastik menjadi kerajinan pedang-pedangan hingga dompet. Ia lalu menularkan keterampilannya itu kepada warga yang mau belajar.
Dengan pinjaman uang dari Suster Irene OSU dari Santa Angela, ia menyewa rumah di daerah Cigending, Ujungberung, Bandung. Di sini ia kembali memperkenalkan produk berbahan baku sampah plastik. Hasilnya, banyak ibu rumah tangga yang mau belajar membuat produk serupa. Di sinilah konsep sekolah hijau benar-benar ia terapkan.
”Sekolahnya tidak formal. Saya fokus pada pengolahan sampah dan pemahaman pola hidup sehat, seperti tidak menggunakan penyedap rasa buatan. Warga juga merintis taman kanak-kanak yang pengajarnya pun warga yang bisa baca-tulis,” kata Ningsih yang ikut mendirikan organisasi Sarikat Hijau Indonesia.
Zakat sampah
Ningsih kemudian membuat program zakat sampah. Di sini sampah plastik rumah tangga dikumpulkan, lalu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga ramah lingkungan. Cara ini berhasil membesarkan sekolah hijau.
Awal 2010 Ningsih meninggalkan Cigending karena ingin warga bisa mengelola secara mandiri program sekolah hijau yang telah dirintisnya. Ia ingin mengembangkan sekolah hijau di banyak tempat lain.
”Saya sempat sedih karena dianggap tak bertanggung jawab. Namun, saya juga bahagia karena warga mau meneruskan konsep sekolah hijau itu. Ini berarti semangat sekolah hijau sudah tertanam,” ujarnya.
Maka, sejak Maret 2010, Ningsih berada di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ia melakukan pendekatan yang sama, yakni lewat zakat sampah. Di sini pun upayanya relatif berhasil, warga secara mandiri mendirikan taman kanak-kanak.
”Berbagi itu rupanya sudah menjadi hal langka,” kata Ningsih yang mengaku hidup dari bantuan masyarakat. Buktinya, apa pun yang ia tawarkan kepada warga relatif mendapat sambutan hangat.
Setelah usahanya membuat semakin banyak orang bisa baca-tulis relatif berhasil, Ningsih sering diminta oleh berbagai pihak untuk berbagi ilmu. Ia pernah didaulat menjadi guru tamu yang mengajarkan tentang wirausaha dan lingkungan di hampir semua kota dan kabupaten se-Jawa Barat.
Pada peringatan Hari Kartini, 21 April lalu, Ningsih menjadi salah satu penerima penghargaan A Tribute to Woman 2010 dari Plaza Semanggi, Village Mall, dan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. Ia dianggap mampu mengubah hal kecil menjadi bermakna bagi masyarakat.
http://cetak.kompas.com/read/2010/08/19/03232731/ningsih.dan.pendidikan.baca-tulis.
Prapti Wahyuningsih | Kompas

Prapti Wahyuningsih | Kompas

”Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi makanan.Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi pakaian.Bila saat ini dipandang hina karena keadaanku, izinkanlah suatu saat aku mempunyai sekolah.”

Doa itulah yang disampaikan Prapti Wahyuningsih pada malam Idul Fitri puluhan tahun lalu. Doa kala lapar karena tak punya uang ternyata memberikan kekuatan dalam perjalanan hidupnya. Setelah berdoa, mendadak rasa laparnya hilang. Bahkan, ia bersemangat menjalani pekerjaannya sebagai buruh. Ibunya pun mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh anak-anak tetangga.

”Tuhan mungkin ingin agar kami tidak menyerah, mungkin ada hal lain yang Dia inginkan untuk kami lakukan,” ujar Ningsih, panggilannya.

Tahun berganti, perjalanan hidupnya tak berubah. Pangkat tertinggi sebagai buruh hanya pengawas keuangan. Namun, karena melihat banyak ketidakadilan terhadap buruh dan mulai berkenalan dengan organisasi buruh, ia lantas bergabung dengan salah satu organisasi buruh.

”Saya mulai banyak membaca berbagai macam buku. Entah mengapa, saya mudah menangkap isi buku tentang buruh. Mungkin karena saya adalah salah satunya,” kata Ningsih yang menjadi buruh sejak berusia 11 tahun.

Tahun 1999 ia berhenti bekerja dan memilih konsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin. Ia merintis Sanggar Budaya Anak Indonesia (Sang Budi) yang mengajarkan bernyanyi dan membaca anak di sekitar tempat tinggalnya.

Hasil dari banyak membaca buku, ia yakin pendidikan itu amunisi utama yang harus dimiliki kaum miskin di Indonesia. Tanpa pendidikan, mereka terus tertindas.

”Saya teringat doa saya ketika ingin membuka sekolah. Dalam bayangan saya, sekolah adalah tempat berbagi ilmu dan pengetahuan antarmanusia, bukan sekadar gedung,” ujarnya.

Sekolah hijau

Ningsih lalu berkelana. Pengalaman pertamanya terjadi di Cibenda, Ciampel, Karawang, tahun 2002. Desa itu terletak di tengah pabrik-pabrik besar. Malam hari, saat cerobong asap tak berhenti membuat polusi, kampung gelap dan sunyi.

Idenya membuat sekolah muncul saat melihat petani ditipu bandar dalam jual-beli jagung. Bandar mengklaim hasil timbangan lebih ringan daripada seharusnya. Tak ada protes dari petani karena ia tak bisa baca-tulis.

Namun, ia ditertawakan warga saat mengusulkan membuat sekolah. Dia lalu mengajari anak-anak. ”Tempatnya berpindah-pindah, di tepi sungai atau di lapangan. Tadinya hanya seorang anak yang mau belajar, baru diikuti belasan anak lain,” ujarnya.

Usaha Ningsih membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian, saat ada lagi petani ditipu, anak didiknya mengatakan bahwa timbangan itu salah. Untuk pertama kali, sang bandar ketahuan ”belangnya”.

Tempat kedua Ningsih adalah Desa Tapos, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, pada 2003. Di sini anak-anak hanya mendapatkan pendidikan agama. Mereka fasih berbahasa Arab, tapi kurang paham bahasa Indonesia.

Saat ia bertanya siapa yang pernah ke Kota Bogor, hanya sedikit anak yang mengacungkan tangan. Saat dia tanya siapa yang pernah ke Jawa Barat dan Indonesia? Justru tak ada seorang pun yang mengangkat tangan.

”Itu artinya, pendidikan belum dinikmati semua anak Indonesia. Saya lalu mengajar baca-tulis dan menyanyi, seperti di Sang Budi,” ujar Ningsih yang menolak beasiswa pendidikan tinggi di luar negeri dari salah satu perusahaan karena perbedaan prinsip.

Sempat pulang ke Solo untuk merawat orangtuanya yang sakit, tahun 2007 Ningsih pergi ke Bandung. Ia bergabung dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menggarap isu masyarakat dan lingkungan.

Tinggal di kota besar membuatnya akrab dengan sampah plastik. Ia membuat warung kepercayaan, di mana masyarakat bebas mengambil, membayar, bahkan memasak sendiri. Cara itu ternyata meringankan orang-orang di sekitarnya. Namun, sampah plastik muncul menjadi masalah.

Berbekal keterampilan menganyam daun kelapa saat kanak-kanak, ia mengolah sampah plastik menjadi kerajinan pedang-pedangan hingga dompet. Ia lalu menularkan keterampilannya itu kepada warga yang mau belajar.

Dengan pinjaman uang dari Suster Irene OSU dari Santa Angela, ia menyewa rumah di daerah Cigending, Ujungberung, Bandung. Di sini ia kembali memperkenalkan produk berbahan baku sampah plastik. Hasilnya, banyak ibu rumah tangga yang mau belajar membuat produk serupa. Di sinilah konsep sekolah hijau benar-benar ia terapkan.

”Sekolahnya tidak formal. Saya fokus pada pengolahan sampah dan pemahaman pola hidup sehat, seperti tidak menggunakan penyedap rasa buatan. Warga juga merintis taman kanak-kanak yang pengajarnya pun warga yang bisa baca-tulis,” kata Ningsih yang ikut mendirikan organisasi Sarikat Hijau Indonesia.

Zakat sampah

Ningsih kemudian membuat program zakat sampah. Di sini sampah plastik rumah tangga dikumpulkan, lalu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga ramah lingkungan. Cara ini berhasil membesarkan sekolah hijau.

Awal 2010 Ningsih meninggalkan Cigending karena ingin warga bisa mengelola secara mandiri program sekolah hijau yang telah dirintisnya. Ia ingin mengembangkan sekolah hijau di banyak tempat lain.

”Saya sempat sedih karena dianggap tak bertanggung jawab. Namun, saya juga bahagia karena warga mau meneruskan konsep sekolah hijau itu. Ini berarti semangat sekolah hijau sudah tertanam,” ujarnya.

Maka, sejak Maret 2010, Ningsih berada di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ia melakukan pendekatan yang sama, yakni lewat zakat sampah. Di sini pun upayanya relatif berhasil, warga secara mandiri mendirikan taman kanak-kanak.

”Berbagi itu rupanya sudah menjadi hal langka,” kata Ningsih yang mengaku hidup dari bantuan masyarakat. Buktinya, apa pun yang ia tawarkan kepada warga relatif mendapat sambutan hangat.

Setelah usahanya membuat semakin banyak orang bisa baca-tulis relatif berhasil, Ningsih sering diminta oleh berbagai pihak untuk berbagi ilmu. Ia pernah didaulat menjadi guru tamu yang mengajarkan tentang wirausaha dan lingkungan di hampir semua kota dan kabupaten se-Jawa Barat.

Pada peringatan Hari Kartini, 21 April lalu, Ningsih menjadi salah satu penerima penghargaan A Tribute to Woman 2010 dari Plaza Semanggi, Village Mall, dan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. Ia dianggap mampu mengubah hal kecil menjadi bermakna bagi masyarakat. (Cornelius Helmy)

Sumber: Kompas, 19 Agustus 2010

Eko Ramaditya Adikara, The Indonesian Blind Blogger

Rama, Kiprah Seorang “Blogger” Tunanetra
KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT / Kompas Images
Selasa, 8 Juli 2008 | 03:00 WIB
PEPIH NUGRAHA
Dalam buku tamu di blog miliknya, Eko Ramaditya Adikara menyebut dirinya sebagai The Indonesian Blind Blogger. Rama, demikianlah ia biasa dipanggil, memang seorang tunanetra. Namun, jika bertemu Rama jangan sekali-kali mengasihaninya sebagai orang berkekurangan. Salah-salah kita yang dikasihani karena terlalu banyak kekurangan!
Contoh saat dia mempraktikkan bagaimana menulis artikel di atas papan ketik komputer pribadi yang diperuntukkan bagi orang normal (bukan papan ketik Braille), Rama mampu menulis 60 kata per menit. Kemampuan itu setara dengan pengetik profesional mana pun yang biasa bekerja di atas papan ketik QWERTY. Rama bahkan tidak membuat kesalahan satu huruf pun atas apa yang ia tulis secepat angin berlalu itu.
Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang tunanetra sejak lahir mampu melakukan pekerjaan yang galibnya dilakukan orang normal? Bagaimana mungkin dia menjadi blogger yang bukan hanya sekadar mengisi kontennya, tetapi juga mendesain perwajahannya, bahkan dengan latar belakang musik digital gubahannya? Bagaimana dia bisa bekerja di atas laptop yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi? Bagaimana pula Rama mengerti perintah komputer yang jumlahnya tak terhitung itu? ”Saya meninggalkan huruf Braille sejak sepuluh tahun lalu saat teknologi pembaca layar (screen reader) hadir. Bagi saya itu sebuah revolusi. Sampai sekarang praktis saya tidak menggunakan Braille lagi. Saya bisa membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan normal,” kata Rama saat kami temui pada sebuah acara Komunitas Multiply Indonesia di Jakarta, Rabu (2/7) malam lalu.
Aplikasi pembaca layar yang digunakan Rama adalah JAWS, singkatan dari Job Access With Speech. Ini sebuah peranti lunak yang dikembangkan Blind and Low Vision Group di Freedom Scientific St Petersburg, Florida, Amerika Serikat. Dengan JAWS yang pertama kali diluncurkan 1989 itu, komputer apa pun asalkan menggunakan Microsoft Windows, dimungkinkan dioperasikan oleh mereka yang menderita cacat penglihatan. JAWS mengubah teks menjadi berbicara atau text-to-speech. Tahun 1992 JAWS lebih dikenal luas seiring meluasnya penggunaan Microsoft Windows.
Rama memiliki domain sendiri untuk blog-nya, tetapi karena juga ngeblog di Multiply, ia hadir dalam pertemuan para blogger Multiply yang dimotori Sri Sarining Diyah tersebut. Pada malam itu, Rama menjadi ”bintang” di antara blogger dengan banyaknya peserta yang ingin berfoto bersama. Rama tidak canggung berfoto. Bahkan, saat kaum perempuan berebut berfoto ia nyeletuk, ”Wah, saya kayak raja semalam saja.”
Screen reader yang disebut Rama adalah peranti lunak yang memungkinkan apa-apa yang tertulis di layar komputer atau layar ponsel bisa ”terbaca” dengan cara bersuara. Saat Rama menulis menggunakan pengolah kata Word, misalnya, mesin secara otomatis mengeluarkan suara atau mengeja apa pun yang ia tulis. Kesalahan huruf pun akan diketahui dan segera diperbaiki.
Cara yang sama dilakukan Rama saat dia membaca buku Star Wars kesukaannya. Ia pindai (scan) halaman demi halaman buku itu agar bisa dibaca di layar komputer. Otomatis komputer akan membacanya dengan mengeluarkan suara. Jangan heran jika ia mengoleksi dan sudah membaca 320 buku Star Wars. Pesan pendek (SMS) di ponselnya pun ditanam peranti lunak pembaca layar serupa untuk kebutuhan mobile, yakni TALKS. Setiap Rama membuka pesan pendeknya, suara mesin terdengar persis seperti apa yang tertulis di layar ponsel.
Percaya diri
Karena berbekal kemampuan teknologi informasi itulah Rama ke mana-mana membawa ponsel dan laptop Asus dengan layar 7 inci. Ponsel perlu untuk berkomunikasi dan mengirimkan pesan, sementara laptop diperlukan untuk menulis di blog atau menulis artikel untuk media online. Kegiatan blogging dilakukannya sejak 2003 saat blog belum booming. Untuk itulah buku tamunya sudah terisi oleh 464 netter yang memberi pesan. Sebagaimana fatsun blogger, Rama menjawab sendiri semua pesan dan komentar yang masuk.
Pemuda yang kini berusia 27 tahun sejak lahir memang sudah ditakdirkan tunanetra. Sempat berhasil ditolong dengan operasi pembuatan diafragma buatan pada mata kanan sehingga mampu melihat 10 persen, tetapi setelah itu dia buta total. Meskipun menderita cacat netra, ayahnya, Rahadi Sudarsono, tidak memperlakukannya sebagai ”orang buta”. Sang ayah memperlakukan anaknya secara wajar sebagaimana orang normal, kecuali dalam hal merekam pelajaran saat Rama duduk di bangku SLTA.
”Bapak merekam semua buku pelajaran ke dalam kaset, sementara ibu membantu dengan doa dan dukungan moril,” kata Rama sebagaimana tertulis dalam blog-nya.
Rasa percaya diri itulah yang ditumbuhkan Rahadi kepada anaknya, sementara Rama menerimanya sebagai sebuah ”tantangan” karena ternyata tunanetra pun bisa mandiri tanpa harus bergantung kepada orang normal. Itu sebabnya, di semua artikel yang ditulisnya di blog, tidak ada kata mengiba-iba dan meminta dikasihani. Sebagai gantinya, ia memberi harapan dan optimisme. Ironisnya, harapan dan optimisme itu lebih ia tujukan kepada orang berpenglihatan normal yang membaca blog-nya.
Tawarkan harapan
Kepada sesama tunanetra, ia menawarkan harapan dan mengajarkan pantang berputus asa. Misalnya, ia memberi tips yang positif bagi penyandang tunanetra. ”Bagi tunanetra bisa naik pesawat terbang itu suatu keistimewaan, maka saya pun menulis tips bagaimana naik pesawat bagi tunanetra,” katanya.
”Saya ini (tunanetra) sudah beda (dengan orang normal), tetapi saya ingin berbeda dari perbedaan itu,” kata Rama mengenai filosofi hidupnya. Saat diminta menjelaskan lebih dalam makna hidupnya itu, ia mengatakan, ”Saya ingin berbeda dari rekan-rekan sesama tunanetra.”
Kalau sekadar prinsip itu, sebenarnya Rama memang beda dan bahkan istimewa dibanding tunanetra lainnya, setidaknya dalam urusan teknologi informasi. Bayangkan saja, selain menguasai berbagai program peranti lunak, dari yang paling ”jadul” seperti DOS (Disc Operation System), WordStar, sampai Windows Vista yang terbaru, ia juga mampu mengutak-atik perangkat keras komputer. ”Saya pernah merakit komputer. Memang pakai kesetrum dan ’ledakan’ segala, tetapi alhamdulillah berhasil,” kenangnya sambil terkekeh.
Rama mulai mengenal ”komputer” saat berusia lima tahun, yakni ketika Game Atari mulai muncul dan kebetulan dimiliki salah seorang tetangganya. Tahun 1996, seorang mahasiswi bernama Silvi mengajarinya mengetik 10 jari karena terkesan dengan tekad Rama yang mati-matian belajar menulis di WordStar.
Perjalanan hidup Rama dalam urusan ilmu komputer pun berubah ketika JAWS lahir dengan pembaca layarnya. Ibarat menemukan tongkat ajaib yang telah lama hilang, perjalanan Rama di bidang teknologi informasi seperti tidak terbendung. Ia kini ”mampu melihat” dan belajar tentang apa pun sesuka dia.
Dia membaca hampir semua buku best seller dan mengaku apa yang sudah dibacanya seperti menempel terus di ingatannya. Pengalaman interaksinya dengan buku dan teman-teman ia tuangkan dalam catatan harian di blog-nya.
”Bagi saya, blog sudah menjadi kehidupan kedua,” kata Rama yang pada Agustus mendatang menerbitkan dua buku dari hasil ngeblog-nya itu.
Ramaditya | Kickandy.com

Ramaditya | Kickandy.com

Dalam buku tamu di blog miliknya, Eko Ramaditya Adikara menyebut dirinya sebagai The Indonesian Blind Blogger. Rama, demikianlah ia biasa dipanggil, memang seorang tunanetra. Namun, jika bertemu Rama jangan sekali-kali mengasihaninya sebagai orang berkekurangan. Salah-salah kita yang dikasihani karena terlalu banyak kekurangan!

Contoh saat dia mempraktikkan bagaimana menulis artikel di atas papan ketik komputer pribadi yang diperuntukkan bagi orang normal (bukan papan ketik Braille), Rama mampu menulis 60 kata per menit. Kemampuan itu setara dengan pengetik profesional mana pun yang biasa bekerja di atas papan ketik QWERTY. Rama bahkan tidak membuat kesalahan satu huruf pun atas apa yang ia tulis secepat angin berlalu itu.

Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang tunanetra sejak lahir mampu melakukan pekerjaan yang galibnya dilakukan orang normal? Bagaimana mungkin dia menjadi blogger yang bukan hanya sekadar mengisi kontennya, tetapi juga mendesain perwajahannya, bahkan dengan latar belakang musik digital gubahannya? Bagaimana dia bisa bekerja di atas laptop yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi? Bagaimana pula Rama mengerti perintah komputer yang jumlahnya tak terhitung itu? ”Saya meninggalkan huruf Braille sejak sepuluh tahun lalu saat teknologi pembaca layar (screen reader) hadir. Bagi saya itu sebuah revolusi. Sampai sekarang praktis saya tidak menggunakan Braille lagi. Saya bisa membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan normal,” kata Rama saat kami temui pada sebuah acara Komunitas Multiply Indonesia di Jakarta, Rabu (2/7) malam lalu.

Aplikasi pembaca layar yang digunakan Rama adalah JAWS, singkatan dari Job Access With Speech. Ini sebuah peranti lunak yang dikembangkan Blind and Low Vision Group di Freedom Scientific St Petersburg, Florida, Amerika Serikat. Dengan JAWS yang pertama kali diluncurkan 1989 itu, komputer apa pun asalkan menggunakan Microsoft Windows, dimungkinkan dioperasikan oleh mereka yang menderita cacat penglihatan. JAWS mengubah teks menjadi berbicara atau text-to-speech. Tahun 1992 JAWS lebih dikenal luas seiring meluasnya penggunaan Microsoft Windows.

Rama memiliki domain sendiri untuk blog-nya, tetapi karena juga ngeblog di Multiply, ia hadir dalam pertemuan para blogger Multiply yang dimotori Sri Sarining Diyah tersebut. Pada malam itu, Rama menjadi ”bintang” di antara blogger dengan banyaknya peserta yang ingin berfoto bersama. Rama tidak canggung berfoto. Bahkan, saat kaum perempuan berebut berfoto ia nyeletuk, ”Wah, saya kayak raja semalam saja.”

Screen reader yang disebut Rama adalah peranti lunak yang memungkinkan apa-apa yang tertulis di layar komputer atau layar ponsel bisa ”terbaca” dengan cara bersuara. Saat Rama menulis menggunakan pengolah kata Word, misalnya, mesin secara otomatis mengeluarkan suara atau mengeja apa pun yang ia tulis. Kesalahan huruf pun akan diketahui dan segera diperbaiki.

Cara yang sama dilakukan Rama saat dia membaca buku Star Wars kesukaannya. Ia pindai (scan) halaman demi halaman buku itu agar bisa dibaca di layar komputer. Otomatis komputer akan membacanya dengan mengeluarkan suara. Jangan heran jika ia mengoleksi dan sudah membaca 320 buku Star Wars. Pesan pendek (SMS) di ponselnya pun ditanam peranti lunak pembaca layar serupa untuk kebutuhan mobile, yakni TALKS. Setiap Rama membuka pesan pendeknya, suara mesin terdengar persis seperti apa yang tertulis di layar ponsel.

Percaya diri

Karena berbekal kemampuan teknologi informasi itulah Rama ke mana-mana membawa ponsel dan laptop Asus dengan layar 7 inci. Ponsel perlu untuk berkomunikasi dan mengirimkan pesan, sementara laptop diperlukan untuk menulis di blog atau menulis artikel untuk media online. Kegiatan blogging dilakukannya sejak 2003 saat blog belum booming. Untuk itulah buku tamunya sudah terisi oleh 464 netter yang memberi pesan. Sebagaimana fatsun blogger, Rama menjawab sendiri semua pesan dan komentar yang masuk.

Pemuda yang kini berusia 27 tahun sejak lahir memang sudah ditakdirkan tunanetra. Sempat berhasil ditolong dengan operasi pembuatan diafragma buatan pada mata kanan sehingga mampu melihat 10 persen, tetapi setelah itu dia buta total. Meskipun menderita cacat netra, ayahnya, Rahadi Sudarsono, tidak memperlakukannya sebagai ”orang buta”. Sang ayah memperlakukan anaknya secara wajar sebagaimana orang normal, kecuali dalam hal merekam pelajaran saat Rama duduk di bangku SLTA.

”Bapak merekam semua buku pelajaran ke dalam kaset, sementara ibu membantu dengan doa dan dukungan moril,” kata Rama sebagaimana tertulis dalam blog-nya.

Rasa percaya diri itulah yang ditumbuhkan Rahadi kepada anaknya, sementara Rama menerimanya sebagai sebuah ”tantangan” karena ternyata tunanetra pun bisa mandiri tanpa harus bergantung kepada orang normal. Itu sebabnya, di semua artikel yang ditulisnya di blog, tidak ada kata mengiba-iba dan meminta dikasihani. Sebagai gantinya, ia memberi harapan dan optimisme. Ironisnya, harapan dan optimisme itu lebih ia tujukan kepada orang berpenglihatan normal yang membaca blog-nya.

Tawarkan harapan

Kepada sesama tunanetra, ia menawarkan harapan dan mengajarkan pantang berputus asa. Misalnya, ia memberi tips yang positif bagi penyandang tunanetra. ”Bagi tunanetra bisa naik pesawat terbang itu suatu keistimewaan, maka saya pun menulis tips bagaimana naik pesawat bagi tunanetra,” katanya.

”Saya ini (tunanetra) sudah beda (dengan orang normal), tetapi saya ingin berbeda dari perbedaan itu,” kata Rama mengenai filosofi hidupnya. Saat diminta menjelaskan lebih dalam makna hidupnya itu, ia mengatakan, ”Saya ingin berbeda dari rekan-rekan sesama tunanetra.”

Kalau sekadar prinsip itu, sebenarnya Rama memang beda dan bahkan istimewa dibanding tunanetra lainnya, setidaknya dalam urusan teknologi informasi. Bayangkan saja, selain menguasai berbagai program peranti lunak, dari yang paling ”jadul” seperti DOS (Disc Operation System), WordStar, sampai Windows Vista yang terbaru, ia juga mampu mengutak-atik perangkat keras komputer. ”Saya pernah merakit komputer. Memang pakai kesetrum dan ’ledakan’ segala, tetapi alhamdulillah berhasil,” kenangnya sambil terkekeh.

Rama mulai mengenal ”komputer” saat berusia lima tahun, yakni ketika Game Atari mulai muncul dan kebetulan dimiliki salah seorang tetangganya. Tahun 1996, seorang mahasiswi bernama Silvi mengajarinya mengetik 10 jari karena terkesan dengan tekad Rama yang mati-matian belajar menulis di WordStar.

Perjalanan hidup Rama dalam urusan ilmu komputer pun berubah ketika JAWS lahir dengan pembaca layarnya. Ibarat menemukan tongkat ajaib yang telah lama hilang, perjalanan Rama di bidang teknologi informasi seperti tidak terbendung. Ia kini ”mampu melihat” dan belajar tentang apa pun sesuka dia.

Dia membaca hampir semua buku best seller dan mengaku apa yang sudah dibacanya seperti menempel terus di ingatannya. Pengalaman interaksinya dengan buku dan teman-teman ia tuangkan dalam catatan harian di blog-nya.

”Bagi saya, blog sudah menjadi kehidupan kedua,” kata Rama yang pada Agustus mendatang menerbitkan dua buku dari hasil ngeblog-nya itu. (Pepih Nugraha)

Sumber: Kompas, 8 Juli 2008

Mas Hikmatul Azimah: Juara Cipta Puisi Kandungan Alquran Pospenas 2010

2010 08 16_TOKOH_JP_Mas Hikmatul AzimahHatiku perahu di samudera
Saat kicau burung menyambut mentari
Engkau bernyanyi
Menggores luka

ROJIFUL MAMDUH, Mojokerto

SEPENGGAL puisi di atas adalah karya Mas Hikmatul Azimah yang berjudul Jauh. Gadis berparas ayu ini lahir di Surabaya 25 April 1992. Ia keturunan KH Mas Baidlowi dan ibu Nyai Mas Nur Zaenab dari Sidoresmo Dalem Surabaya.

Setelah lulus MI (setingkat SD) At-Tauhid Sidoresmo, Azimah, panggilan akrab Mas Hikmatul Azimah, tidak melanjutkan ke jenjang sekolah formal. Tapi memilih masuk ke Pondok Pesantren Darul Falah Jerukmacan, Sawo, Jetis, Kabupaten Mojokerto mengambil program tahfid Alquran dan madrasah diniyah.

Pada 2004 ia mengikuti program wajar dikdas tingkat wustha (setingkat SMP) dan dinyatakan lulus ujian nasional pada tahun 2007.

Penampilannya manis mungil, sederhana dan rendah hati. Ia suka bergaul dan tidak canggung akrab dengan teman-temannya. Meski dia termasuk keluarga berdarah biru. Di pondok ia lebih suka menyembunyikan identitasnya. Kerendahan hati memang betul-betul yang ditanamkan kedua orang tuanya.

Termasuk setelah memenangi Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Nasional (Pospenas) V di Jatim bulan lalu. Orang tuanya berpesan supaya kemenangannya tidak menjadikannya takabur, tetapi justru menjadikannya lebih rendah hati dan tawadu. Baik kepada teman maupun guru-gurunya.

Di Pondok Darul Falah Jerukmacan, ia termasuk santri yang tekun menghafal dan belajar. Dia suka membaca buku-buku sastra. Untungnya di pesantren ini tidak dilarang membaca buku-buku sastra, justru malah dianjurkan.

Ia bersama teman-temannya sangat menikmati nadhom-nadhom Alfiyah yang dibaca bareng-bareng diantara salat jamaah Maghrib dan isya. Maklum, terjemahan nadhom Alfiyah tersebut oleh Gus Muhammad, salah seorang pengasuhnya diterjemah dengan gaya syair berbahasa Jawa. Sehingga lebih mudah dan lama-lama hafal sendiri karena istikamah dibaca bersama-sama.

”Saya beruntung dibimbing langsung oleh Gus Chamim Kohari,” ujarnya. Sebab Gus Chamim merupakan penulis antologi ”Pehpeh”. Gus Chamim merupakan aktivis Komunitas Sastrawan Pesantren Jawa Timur. ”Alhamdulillah, dibawah bimbingannya, saya mampu meraih juara satu Lomba Cipta Puisi Kandungan Alquran Pospenas V di Surabaya 5-11 Juli lalu.

Untuk memenangi kejuaraan itu, Azimah harus melalui jalan terjal. Saat lomba berlangsung, ia sempat terlambat lebih dari 30 menit. Sebab ia tidak diberi tahu pendampingnya saat technical meeting, bahwa jadwalnya dimajukan sehari dari jadwal semula 7 Juli.

Ia baru tahu saat dihubungi oleh salah seorang panitia kalau perlombaan sudah berlangsung selama 30 menit. Mendengar hal itu, ia pun bergegas mencari ojek menuju tempat lomba yang jaraknya dua kilometer dari tempatnya menginap.

Untung saa tiba di lokasi masih diperbolehkan mengikuti lomba oleh penyelenggara dengan tanpa perpanjangan waktu.

Di sini, Azimah menunjukkan mental juaranya. Dia cukup tenang dan sabar dalam mengerjakan karya puisinya. Meskipun aturannya sangat ketat, di antaranya tidak boleh ada coretan dalam lembar kertasnya.

Karena sudah terbiasa dengan menulis puisi, dan memang setiap Sabtu mengikuti latihan secara serius. ”Tugas penyair yang paling berat adalah menaklukkan kata dan realitas dengan imajinasi,” begitu wejangan Gus Chamim untuk Azimah.

Mas Hikmatul Azimah bergabung dengan Komunitas Sastrawan Pesantren pada 2007. Bakat menulis puisinya semakin terasah sejak dibina oleh Gus Chamim di kelas X. Madrasah Aliyah Unggulan Darul Falah Jerukmacan. Banyak karya puisi yang telah ditulisnya. Suatu saat ia berkeinginan menerbitkannya dalam bentuk antologi.

Di sela-sela takrir untuk menguatkan hafalan Alquran, ia juga aktif mengikuti diskusi-diskusi, baik yang diadakan oleh Pondok Pesantren, Dewan Kesenian atau komunitas-komunitas sastra. Dia juga sering membacakan puisi di mana-mana. Penyair yang paling berpengaruh dalam perkembangan kreatifnya adalah Ibnu Malik dari Andalusia yang mampu merangkum ilmu gramatika Arab menjadi seribu nadham.

Juga Syaikh An-Nidhami yang mampu menguraikan cinta Qais dan Laila menjadi abadi, dan masih banyak lagi yang lain seperti Rabindranat Tagore yang mampu merubah apa saja yang dirasa dan yang dilihatnya menjadi indah. Satu kutipan yang menjadi penyemangat proses kreatif menulisnya datang dari A. Su’udi, Kemarin adalah hari ini, dan esok adalah impian masa kini. Seni itu panjang, agama itu dalam, dan hidup itu pendek. (yr)

*)Radar Mojokerto, 16 Agustus 2010

Alberthiene Endah, Penulis Memoar Paling Moncer Saat Ini

Alberthiene Endah | Tempo

Alberthiene Endah | Tempo

Tiga tahun lalu, penyanyi legendaris Chrisye, meninggal dunia karena kanker paru-paru. Dia tidak kuasa menahan penyakitnya yang telah mamasuki stadium empat. Menjelang akhir hayatnya Chrisye menerima seorang jurnalis, Alberthiene Endah. Ia meminta AE – sapan Alberthiene – menuliskan perasaannya sebagai manusai yang divonis bakal meninggal. AE tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.

Bagi AE perjuangan Chrisye bertahan dari sakitnya layak diceritakan kepada mereka yang sedang mendampingi salah satu keluarganya yang sakit parah. “Satu yang diharapkan (orang yang sakit parah) jangan dikasihani, jangan dijauhi. Tapi posisikan diri kita ada seperti dia. Jadi dia merasa ada teman yang mengerti,” kata AE.

AE kembali meluncurkan buku tentang Chrisye  Jumat pekan lalu, “The Last Words of Chrisye.” Buku ini berisi curahan hati, kebencian, rasa sedih sang maestro itu. Rupanya, AE tak cuma menjadi spesialis penulis biografi para artis.  Beberapa hari sebelumnya, buku pengusaha Probosutedjo, “Saya dan Mas Harto” juga diluncurkan. Penulisnya ternyata AE juga.

Bagaimana AE bisa dipercaya para artis dan Probosutedjo untuk menuliskan riwayat hidup mereka dalam mengupas rahasia-rahasia hidup narasumbernya. Berikut petikan perbincangan Tempo dengan AE melalui telepon, kemarin.

Awal menulis sejak kapan?
Dulu pernah bekerja di Majalah Femina, 11 tahun. Waktu itu saya sering kebagian tugas wawancara tokoh seperti Xanana Gusmao yang masih di penjara. Dari sekian banyak jenis liputan, aku paling favorit kalau disuruh wawancara orang. Enggak tahu kenapa, selalu saja aku ingin menggali dalam. Ternyata jatah halaman yang cuma empat halaman per artikel menjadi kurang banget buat aku.

Pada 2004 aku keluar dari majalah ini. Tiba-tiba aku dapat tawaran dari Krisdayanti. “Mbak AE aku ingin membuat buku tentang hidupku dong.” Buku pertamaku ya Krisdayanti itu. Ini menjadi peluang, menjadi pintu gerbang buat aku untuk mengenal apa yang disebut dengan biografi.

Bagaimana anda mengeruk rahasia narasumber?
Aku yakin setiap orang itu kepengen terbuka, siapapun. Semua orang lebih seneng menceritakan apa yang ngganjel  di hatinya, apa yang dirahasiakan, atau apa yang selama ini dia tutupi. Cuma tidak semua media atau cara itu tepat. Tidak semua orang punya kesempatan untuk terbuka. Saya itu tidak tahu kenapa memiliki, ini yang saya rasakan ada satu kekuatan di diri saya yang bisa membuat orang lain itu cerita.

Even Krisdayanti yang harus jaga image, atau Ram Punjabi yang hidupnya dengan bisnis, Chrisye yang kena kanker sampai stadium empat, Bu Ani (Ani Yudhoyono), Probosutedjo, semua bisa cerita lepas sama aku. Aku sendiri tidak tahu kekuatanku itu dimana yang jelas ini berkah Tuhan bahwa setiap kali membuat buku biografi aku bisa menggali begitu banyak cerita yang sebetulnya itu adalah cerita yang belum pernah terungkap.

Apalagi saat bukunya Krisdayanti My Life My Secret, aku berhasil membuat dia mengaku kena narkoba. Itu luar biasa. Chrisye juga bagi saya luar biasa karena dalam keadaan kanker stadium empat, dengan sifat dia yang tertutup dan pendiam, introvert banget, saya berhasil membuat dia menceritakan tentang perasaan dia. Bahwa dia orang cina tulen cerita pertama kali ke saya. Selama ini ditutupin, karena waktu kecil pernah ditimpuk kepalanya hingga berdarah hanya karena dia Cina. Jadi pernah dikatain “Cina Cina Cina.” Jadi dia menutupi itu karena takut anak-anaknya mengalami hal yang sama. Tapi kepada saya dia bercerita. Dia juga menceritakan apa yang ditakutkan dalam hidupnya. Di buku The Last Words of Chrisye inilah saya tulis.

Apa informasi yang baru dari Chrisye?
Dia mengakui selama ini pendam sendiri seperti percecokannya dengan Yockie Suryo Prayogo dan Eros Jarot. Mereka dan Chrisye beberapa dekade lalu adalah trio yang hebat. Mereka pernah mengeluarkan album “Badai Pasti Berlalu” sampai dunia pop Indonesia guncang. Namun beberapa tahun setelah itu mereka tercerai berai. Chrisye tiba-tiba lari ke pop kreatif yang dinamis, sedangkan Yockie dan Eros berada di kubu yang lain. Pertentangan ketiganya itu tertutup rapat. Intinya mereka udah tidak teguran lagi.

Berapa lama tidak teguran?
Sampai dibuat bukunya. Buku biogarfi Chrisye saya buat 2006. Saya yang kemudian mempertemukan Yockie, Eros dengan Chrisye. Mereka akhirnya baikan. Nah, di buku “The Last Words of Chrisye” saya ceritakan kenapa Chrisye betah mempertahankan perseturan itu sampai berpuluh-puluh tahun. Itu karena gengsi.  Lalu perasaan-perasaan orang yang takut mati. Sebenarnya premis terbesar di buku Chrisye adalah ketika kita di-”beri tahu” oleh Tuhan bahwa umur kita tinggal setahun lagi apa yang akan kita lakukan. Nah itu yang ada di buku ini.

Chrisye mengalami metamorfosa mulai dari marah kepada Tuhan ketika di tahu (mengidap) kanker, sampai akhirnya dia berpikir positif. “Gue dikasih penghormatan oleh Tuhan, dikasih tahu kapan matinya, jadi gue harus cepet-cepet bikin pembenahan. Mungkin kalau orang lain tidak dikasih tahu.” Dia justru bisa mengambil sisi positifnya. Sampai akhirnya dia pasrah dan meninggal.

Menjelang meninggal Chrisye mengurangi dan menghapus perseteruan-perseteruan itu?
Ya, seperti juga diungkapkan isterinya, buku ini tidak cuma penting bagi penggemar Chrisye. Ini luas artinya. Buku ini juga saya tujukan untuk orang-orang yang sedang menunggui keluarganya yang sakit parah. Karena orang-orang yang berada dalam ancaman sakaratul maut itu gelisah. Pikiran dia perlu (ada) orang yang mendengar.

Buku biografi selalu berisi sesuatu yang menginspirasi. Anda masih ikut dalam genre ini?
Saya lebih suka menyebut buku-buku saya memoar bukan biografi. Kalau biografi udah ada pakemnya dari lahir sampai apalah. Kebanyakan buku saya, memang ada yang biografi sifatnya, tapi kalau My Life My Secret-nya KD sifatnya memoar banget. Itu hanya cerita 5 kejadian penting dalam hidupnya. Sementara Chrisye yang baru ini juga memoar banget karena bercerita setahun terakhir dalam hidupnya. Jadi harus diluruskan (antara biogarfi dan memoar) karena banyak orang yang salah kaprah. Cerita orang langsung dianggap biogarfi, padahal belum tentu. Bisa juga itu cerita soal, misalnya, hal-hal terindah dalam hidupnya. Di Barat sana banyak banget yang menulis buku tentang perasaan-perasaan yang disebutnya memoar.

Biografi yang anda tulis?
Saya fifty-fifty. Ada yang biografi murni sepert Titiek Puspa, Raam Punjabi, Ibu Ani (Ani Yudhoyono), dan Probosutedjo itu biografi murni. Di luar itu masih banyak seperti tokoh-tokoh politik yang tidak diterbitkan secara umum.

Yang akan diterbitkan?
Ibu Ani (Ani Yudhoyono) sebentar lagi, bulan depan mungkin. Proyek lain yang sangat menggugah saya kali ini, saya tidak membicarakan orang. Bulan Juni ini saya berada di Bali mendapatkan proyek buat buku eksklusif tentang sejarah (Bandara) Ngurah Rai. Bagaimana Ngurai Rai itu menjadi pintu gerbang dunia.

Siapa menawarkan proyek ini?
Direktur Angkasa Pura Bali. Buku itu termasuk yang cukup besar karena juga pakai liputan segala macam. Harus diakui Bali itu awalnya lebih dikenal dibanding Indonesia dan dia menjadi pintu gerbang.

Apa nilai-nilai yang anda dapatkan dari tokoh-tokoh yang Anda tulis?
Banyak. Saya sendiri kalau sudah menulis orang lain selalu geleng-geleng sendiri. Saya juga membuat biografi Siti Aminah, pemilik penerbit Tiga Serangkai. Itu perempuan hebat dari Solo. Hampir semua buku yang saya tulis itu menawarkan satu pesan yakni bagaimana membuat keadaan yang nol itu menjadi sesuatu. Dari nothing menjadi something. Saya ingin ajarkan ke orang tentang semangat untuk membangun diri. Bahwa hidup itu tidak akan stag kalau kita bergerak, berjuang. Semua buku saya nilai itu ada. Orang-orang yang saya tulis adalah orang-orang yang berhasil bangkit dari titik nol. Kedua bagaimana mencermati hikmah kehidupan bahwa tidak semuanya sempurna. Tapi Tuhan pasti kasih jalan keluar kalau kita mau berpikir jernih. Seperti KD, kan, nggak sempurna banget. Bahkan jauh dari sempurna. Bagaimana dia operasi plastik berkali-kali karena minder.

Anda pilih-pilih orang untuk ditulis?
Ya, jelas. Yang saya akan lihat, ya, itu tadi. Apakah buku yang saya buat akan memberi nilai buat orang lain. Kalau tidak saya akan berpikir-pikir. Apakah dia cukup pantas untuk dibuat bukunya. Itu juga pertanyaan yang saya pertimbangkan. Bukan karena saya arogan tapi dia cukup inspiratif nggak di mata orang, Dia memiliki contoh-contah atau teladan yang baik nggak. Kalau dikasih tahu ke publik orang bisa mendapatkan nilainya. Dan jangan salah, patokannya bukan kaya dan tenar. Bisa juga seorang Ibu yang berhasil mendampingi anaknya sembuh dari kanker. Meski nggak terkenal, bisa saya tulis. Karena apa yang dia ceritakan bisa menjadi sesuatu yang besar.

Dengan siapa dan pertimbangan apa?
Saya sendiri dan pakai naluri. Saya pernah meeting dengan orang berkali-kali dan di tengah-tengah jalan saya bilang, “Sory saya tidak bisa terus.” Karena memang merasa tidak mendapatkan soul lagi. Tapi yang lucu dari pengalaman saya. Saya tidak pernah tidak berantem dengan narasumber saya. Selalu berantem. Tapi itu baik. Saya sengaja ciptakan suasana supaya dia keluar marahnya karena membuat biogarfi itu kita harus menggali ekspresi paling jujur. Kalau kita basa-basi saya masih ganjel. Kalau orang yang saya tulis sudah bisa ngomelin saya, berarti saya udah dapet.

Pernah diomelin Chrisye dong?
Pernah, dia ngomel di-sms, masih saya simpan.

Boleh tahu?
Dia menulis, “Jangan terlambat mulu dong. Kalau saya ingin bercerita ingin bercerita langsung.” Itu saya tulis di buku. Tapi berantemnya lebih ke cekcok kecil ya. Tapi saya senang karena kalau saya bisa ngelawan dia, dia ngomel ke saya, tapi habis itu kita akrab lagi berati hubungan kita sudah sangat baik. Kalau dia takut sama saya, misalkan saya takut tersinggung, itu susah. Karena biogarfi itu kan puluhan kali wawancara. Kita bicara interaksi batin yang tidak main-main. Kita bicara kedalaman. Mungkin bisa dibilang hubungan kita lebih dari orang pacaran.

Ketika saya wawancara Titiek Puspa saya memposisikan diri seperti cucu dia. Waktu saya wawancara Raam, saya menganakkan diri. Harus begitu. Prosesnya tidak bisa seperti wawancara untuk artikel seperti kita bekerja di majalah. Kita harus berbicara batin. Dalam wawancara, tape rekaman kita hanya berguna 30 persen saja. Merekam dia lahir dimana, dia berpestasi dimana saja itu 30 persen saja. 70% yang penting adalah bagaimana batin kita membaca hati dia. Kalau kita sudah tahu bagaimana ketakutan dia terhadap hidup, kita gampang nulisnya.

Dengan Chrisye Anda memposisikan sebagai apa?
Sebagai sahabat, Saya ingin dia tahu bahwa saya ingin merasakan sakitnya dia. Karena orang-orang yang dirundung sakit berat itu sebenarnya cuma satu yang diharapkan jangan dikasihani jangan dijauhi, tapi posisikan bahwa diri kita itu ada seperti dia. Jadi dia merasa ada teman yang mengerti.

Duitnya pasti lebih gede dibandingkan wartawan ya?
Ya jelaslah hahaha. Terutama kalau buku itu laku, ya, lumayan banget dan kita dapat honor dari orang (narasumber). Tanpa saya bilang itu berapa, jelas jauh lebih besar dibandingkan wartawan. Tapi saya rasa wartawan itu menjadi sekolah yang baik yaitu kesabaran.

Buku-Buku Karya Alberthiene Endah

1. Krisdayanti, ‘1001 KD’
2. Dwi Ria Latifa SH, ‘Berpolitik Dengan Nurani’
3. Venna Melinda, ‘Guide To Good Living’
4. Raam Punjabi, ‘Panggung Hidup Raam Punjabi’
5. Chrisye, ‘Sebuah Memoar Musikal’
6. Titiek Puspa, ‘A Legendary Diva’
7. Anne Avantie, ‘Aku, Anugerah dan Kebaya’
8. Krisdayati, ‘My Life My Secret’
9. Siti Aminah, ‘Membangun Tiga Serangkai’
10. 1001 Masalah Transportasi Indonesia-Bambang Susantono Phd.
11. ANI SBY, ‘Kepak Sayap Puteri Prajurit’ (segera terbit)
12. PROBOSUTEDJO “Saya dan Mas Harto”
13.The Last Words of Chrisye

Akbar Tri Kurniawan

Sumber: TEMPOINTERAKTIF.COM, 11 Mei 2010, “Alberthiene Endah: Selalu Berantem Dengan Nara Sumber”

Raditya Dika Patriotisme Modern

image.tempointeraktif.com_raditya dikaLain Sukmawati, lain pula dengan Raditya Dika. Pria yang akrab dipanggil Adit ini punya cara tersendiri dalam memaknai peringatan 17 Agustus.

“Menurut gue, bukan zamannya lagi patriotisme dalam kemasan yang jadul. Patriotisme era sekarang haruslah modern, tanpa meninggalkan jati diri Indonesia,” tuturnya saat disambangi dalam sebuah acara di Hong Kong Kafe, Sarinah, Jakarta.

Penulis buku-buku jenaka ini tercatat sebagai salah seorang pemuda yang aktif menulis di blog pribadi. Buku pertamanya, Kambing Jantan, masuk kategori best seller dan sudah dibuatkan film. “Gue ingin orang muda masa kini memiliki patriotisme dengan membuka kesempatan seluas-luasnya berkiprah di dunia internasional,” katanya bersemangat.

Adit kini memang rajin mengajak anak muda untuk masuk komunitas menulis aktif di blog dalam perspektif modern membicarakan Indonesia dalam bahasa asing, eperti bahasa Inggris dan Prancis. Dia mengajak komunitas tersebut untuk selalu berpikir kreatif dan menciptakan ide-ide cemerlang, sehingga tidak takut ikut ersaing dan berani uji nyanyi ke ajang atau kompetisi kreativitas internasional.

“Buat gue, enggak salah remaja sekarang suka ngomong dan berpikir ala Barat. Cuma, gue tetap mengingatkan bahwa mereka harus menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia,” ujarnya. Kemudian penulis buku Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa, dan Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang ini menegaskan, anak era sekarang sudah enggak zaman lagi harus mengikuti seremoni 17-an yang monoton.
“Makna patriotisme era kini harus dikemas secara modern, asalkan tidak ngawur atau bablas melupakan keindonesiaannya.” tuturnya, serius. Okelah, kalau begitu, Adit! | HADRIANI P

*) Dikronik dari Tempointeraktif 13 Agustus 2010

Eko Cahyono, Hero Buku dari Malang

Eko Cahyono
Published: 08 Feb 2010 18:35:00 WIB by: kickandy
Berawal dari hobi membaca tabloid-tabloid dan merasa sayang untuk meloakkan sekitar 400-an koleksinya, Eko mulai meminjamkannya kepada masyarakat. Eko mempunyai tekad untuk memajukan pendidikan bagi anak –anak dan remaja putus sekolah.
Untuk mendapatkan tambahan koleksi, ia mencari sumbangan buku-buku dari rumah ke rumah. Sampai saat ini sudah sekitar 1.246 pintu rumah ia ketuk. Karena koleksi bukunya terus bertambah, Eko akhirnya mendapat teguran dan tentangan dari keluarganya sehingga ia akhirnya rela diusir dari rumah.
Eko akhirnya mulai mengontrak tempat untuk menampung buku-buku yang makin lama makin banyak. Perpustakaan yang didirikannya sejak tahun 1998 ini sampai sekarang sudah pindah kontrakan sebanyak 9 kali dalam kurun waktu 11 tahun. Tempat yang sekarang ditempatinya berupa bubuk bambu berukuran 6 kali 9 meter yang terletak di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di tempat inilah sekarang Eko tinggal dan mengelola perpustakaan kampungnya.
Menurut Eko anggota perpustakaannya sudah mencapai 8000 orang dan koleksinya terdiri dari buku, majalah, tabloid, kamus, ensiklopedia, buku pengetahuan umum, sastra, pelajaran sekolah hingga komik anak-anak. Total seluruhnya sudah mencapai sekitar 15.000. Salah seorang guru mengusulkan agar perpustakaannya diberi nama Perpustakaan Anak Bangsa (PAB). Perpustakaan ini buka 24 jam sehari, senin – minggu dan tidak pernah tutup. PAB melayani hampir semua desa di seluruh Kabupaten Malang karena kebanyakan sekolah kabupaten tidak memiliki perpustakaan sehingga mereka meminjam buku-buku referensi dari PAB.
Untuk membiayai operasional perpustakaan dia bekerja apa saja termasuk menjadi penjaga stand. Eko memang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia khawatir jika ia bekerja full time maka tidak ada yang mengontrol perpustakaannya. Untuk mempertahanakan PAB, sejak 2 tahun lalu Eko sudah bersiap-siap menjual salah satu ginjalnya. Syaratnya, orang yang mau membeli ginjalnya harus mau membangunkan gedung permanen untuk PAB. Pernah ada orang dari Jawa Tengah yang berminat untuk membeli ginjalnya sebesar Rp. 200 juta namun tidak jadi karena orang tersebut akhirnya keburu meninggal.
Eko sudah banyak berkorban untuk perpustakaannya. Ia sudah menjual playstation, radio, HP dan sepeda motor kesayangannya untuk sewa gubug, bayar listrik dan biaya operasional PAB. Ditambahkannya, PAB pernah tertimpa pohon tumbang dan kebanjiran. Namun, tidak sekalipun ada bantuan dari pemerintah kabupaten yang paling hanya datang melakukan kunjungan sesekali.
Motivasi Eko mempertahankan PAB adalah agar anak-anak di kampung yang memiliki banyak waktu luang bisa pintar tanpa harus sekolah. Ia juga ingin membudayakan membaca kepada mereka. Sekarang ini, Eko sedang menghadapi permasalahan yang cukup sulit karena dalam waktu sebulan PAB sudah harus pindah lagi namun ia tidak mempunyai biaya. Menurutnya orang-orang yang datang tidak pernah mau tahu dari mana buku-buku tersebut berasal.
http://kickandy.com/heroes/index.php/candidate/2010/02/08/58/1800/1/Eko-Cahyono
Eko Cahyono | Kickandy.com

Eko Cahyono | Kickandy.com

Berawal dari hobi membaca tabloid-tabloid dan merasa sayang untuk meloakkan sekitar 400-an koleksinya, Eko mulai meminjamkannya kepada masyarakat. Eko mempunyai tekad untuk memajukan pendidikan bagi anak –anak dan remaja putus sekolah.

Untuk mendapatkan tambahan koleksi, ia mencari sumbangan buku-buku dari rumah ke rumah. Sampai saat ini sudah sekitar 1.246 pintu rumah ia ketuk. Karena koleksi bukunya terus bertambah, Eko akhirnya mendapat teguran dan tentangan dari keluarganya sehingga ia akhirnya rela diusir dari rumah.

Eko akhirnya mulai mengontrak tempat untuk menampung buku-buku yang makin lama makin banyak. Perpustakaan yang didirikannya sejak tahun 1998 ini sampai sekarang sudah pindah kontrakan sebanyak 9 kali dalam kurun waktu 11 tahun. Tempat yang sekarang ditempatinya berupa bubuk bambu berukuran 6 kali 9 meter yang terletak di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di tempat inilah sekarang Eko tinggal dan mengelola perpustakaan kampungnya.

Menurut Eko anggota perpustakaannya sudah mencapai 8000 orang dan koleksinya terdiri dari buku, majalah, tabloid, kamus, ensiklopedia, buku pengetahuan umum, sastra, pelajaran sekolah hingga komik anak-anak. Total seluruhnya sudah mencapai sekitar 15.000. Salah seorang guru mengusulkan agar perpustakaannya diberi nama Perpustakaan Anak Bangsa (PAB). Perpustakaan ini buka 24 jam sehari, senin – minggu dan tidak pernah tutup. PAB melayani hampir semua desa di seluruh Kabupaten Malang karena kebanyakan sekolah kabupaten tidak memiliki perpustakaan sehingga mereka meminjam buku-buku referensi dari PAB.

Untuk membiayai operasional perpustakaan dia bekerja apa saja termasuk menjadi penjaga stand. Eko memang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia khawatir jika ia bekerja full time maka tidak ada yang mengontrol perpustakaannya. Untuk mempertahanakan PAB, sejak 2 tahun lalu Eko sudah bersiap-siap menjual salah satu ginjalnya. Syaratnya, orang yang mau membeli ginjalnya harus mau membangunkan gedung permanen untuk PAB. Pernah ada orang dari Jawa Tengah yang berminat untuk membeli ginjalnya sebesar Rp. 200 juta namun tidak jadi karena orang tersebut akhirnya keburu meninggal.

Eko sudah banyak berkorban untuk perpustakaannya. Ia sudah menjual playstation, radio, HP dan sepeda motor kesayangannya untuk sewa gubug, bayar listrik dan biaya operasional PAB. Ditambahkannya, PAB pernah tertimpa pohon tumbang dan kebanjiran. Namun, tidak sekalipun ada bantuan dari pemerintah kabupaten yang paling hanya datang melakukan kunjungan sesekali.

Motivasi Eko mempertahankan PAB adalah agar anak-anak di kampung yang memiliki banyak waktu luang bisa pintar tanpa harus sekolah. Ia juga ingin membudayakan membaca kepada mereka. Sekarang ini, Eko sedang menghadapi permasalahan yang cukup sulit karena dalam waktu sebulan PAB sudah harus pindah lagi namun ia tidak mempunyai biaya. Menurutnya orang-orang yang datang tidak pernah mau tahu dari mana buku-buku tersebut berasal.

Sumber: KICKANDY.COM, 8 Februari 2010

Djoko Utomo, “Arsip Membuat Kita Tahu Fakta Sejarah”

KORANTEMPO 31 Agustus 2008
Djoko Utomo, Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia
“Arsip Membuat Kita Tahu Fakta Sejarah”
Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat yang pernah diucapkan Presiden Soekarno itu disimpan lama dalam diri Djoko Utomo, yang dua pekan lalu menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) itu dianggap berjasa mengumpulkan dan menyelamatkan banyak arsip nasional yang menjadi bukti otentik sejarah Indonesia. ”Ini kan karya kawan-kawan semua, saya cuma mewakili,” ujar alumnus Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, itu.
Menurut Djoko, penghargaan itu dimaknai sebagai pengakuan negara, karena selama ini kearsipan dimarginalkan. Padahal, sebagai pengingat dan bukti otentik sejarah bangsa, arsiplah yang dicari-cari. Dia menyayangkan, masih banyak pihak yang kurang peduli.
Di tengah kesibukannya yang padat, mendata dan mengunjungi beberapa instansi untuk “menagih” arsip-arsipnya, Djoko menerima wartawan Tempo Ngarto Februana, Yophiandi, dan fotografer Yosep Arkian, Kamis lalu di kantornya, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, untuk sebuah wawancara. Berikut petikannya.
Apa arti penghargaan itu buat Arsip Nasional?
Penghargaan itu kan karya kawan-kawan semua, saya cuma mewakili. Penghargaan ini saya maknai untuk arsip dan kearsipan di Indonesia, yang selama ini ”dipinggirkan”, ”dimarginalkan”. Karena itu, kami mencoba mempromosikan bahwa arsip itu memang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Contoh sederhana, kita bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyelamatkan arsip yang kena tsunami sebanyak 84 meter kubik. Karena bisa menyelamatkan itu, bersama bantuan Jepang dan lain-lain, akhirnya BPN bisa menerbitkan sertifikat berdasarkan arsip yang ada.
Mengapa selama ini arsip dipinggirkan?
Karena pemahaman yang tidak pas, tidak sesuai dengan undang-undang, dari banyak pihak, termasuk para pejabat, yang menganggap arsip seolah-olah barang rongsokan, berupa kertas usang. Ini harus kita ubah betul bahwa arsip tidak seperti itu. Karena itu, saya berusaha mendudukkan dalam proporsi yang sebenarnya. Sesuai dengan undang-undang, arsip itu adalah naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, badan pemerintah, badan swasta, dan perseorangan, dalam bentuk corak apa pun. Dulu arsip itu, sebelum berkembang teknologi sedemikian hebat, hanya yang terekam di atas kertas. Bagaimana kalau yang terekam di tape recorder, video, film? Saya mencoba untuk mengaitkan dengan definisi yang dari luar negeri, yang berlaku di dunia kearsipan. Arsip itu disebut recorded information, apa pun mediumnya, tetapi bukan sembarang informasi.
Arsip dibuat dalam rangka pelaksanaan kegiatan. In the conduct is a business. Di Indonesia, juga dalam pelaksanaan kegiatan, kegiatan pemerintahan dan kehidupan bangsa. Arsip itu tumbuh dan berkembang secara wajar. Dia ada, tidak diada-adakan, kecuali dalam kasus khusus, mau memalsukan. Arsip ada yang palsu juga. Arsip dalam arti sebenarnya, dia itu otentik, dia realible, dia legal (absah).
Kriteria itu untuk menentukan suatu naskah disebut arsip?
Betul. Persis. Nah, berkaitan dengan itu, sekarang ada beberapa copy Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), jelas itu tidak otentik, tidak realible; (karena itu) tidak perlu saya analisis.
Mengapa tidak otentik?
Otentik, dalam artian informasi yang direkam di kertas, arsip yang otentik. Arsip yang ”konvensional”, itu direkam di kertas, artinya dia melekat terus pada medium atau obyeknya. Mediumnya kertas, ya, melekat terus. Kalau itu copy, jelas tidak melekat. Saya tidak perlu menganalisis. Dan di situ tidak ada otentikasi bahwa itu disalin sesuai dengan aslinya. Pernah ndak, lihat Supersemar yang disalin sesuai dengan aslinya?
Peran arsip dalam kehidupan berbangsa?
Arsip itu simpul pemersatu bangsa. Saya sampaikan, ada suatu Konvensi Wina 1983, Vienna Convention on Succession of States in respect of State Property, Archives and Debts Esensinya adalah wilayah negara beserta properti, arsip, dan utang yang ditinggalkan oleh negara terdahulu menjadi milik negara penerusnya. Berarti, dalam konteks Indonesia, wilayah negara yang ditinggalkan penjajah, dari Merauke sampai Sabang, itu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Titik.
Arsipnya bagaimana?
Kalau arsip itu otentik, menurut konvensi tadi, surat aslinya harus ada di Indonesia. Yang kedua, ada principal of propenant, asas asal-usul, kalau arsip diciptakan di negara itu, harus tetap berada di negara itu.
Djoko memberi contoh tentang surat Bung Karno yang dikirim dari penjara Sukamiskin, Bandung, yang ditujukan kepada ke Jaksa Agung Hindia Belanda. Karena kedudukannya di Hindia Belanda, pemberkasan surat itu di Indonesia, seharusnya surat itu di Indonesia. Tapi sampai sekarang arsip itu belum diketahui keberadaannya.
Arsip kita masih banyak di Belanda?
Nah, ini begini, yang ditanya arsip yang diberkaskan di Belanda atau mengenai hubungan Indonesia dengan Belanda. Itu beda. Arsip yang kena Konvensi Wina, yang diberkaskan di sini, apalagi yang diambil (oleh Belanda) di Yogya, harus dikembalikan. Surat Bung Karno dari Sukamiskin, kalau ketemu aslinya, saya jamin, saya bisa tarik ke sini.
Arsip VOC itu, yang menjadi memori kolektif dunia, di Indonesia terbesar, 2,5 kilometer kalau kita jejer. Sedangkan di Belanda 1,3 kilometer. Termasuk arsip Lagu Indonesia Raya, ada di kita. Aslinya. Arsip yang mengatur memasang bendera. Boleh nggak masang bendera sampai malam berkibar terus? Masang bendera di mobil di sebelah kiri? Boleh nggak ukurannya yang seenaknya? Nggak boleh.
Bagaimana dengan arsip di negara lain?
Tahun lalu, bulan September, kami mengadakan seminar internasional, saya memetakan arsip dan dokumen kita di luar. Saya undang, mereka bicara tentang Indonesia dari dokumen yang ada pada mereka, dari situ kami tahu arsip apa saja yang masih ada di sana.
Sejauh mana keberhasilan kita menarik arsip-arsip kita di luar?
Ya, kami kan tidak bisa langsung. Yang penting kami tahu dulu arsip itu ada di mana. Seperti Suriname, mereka akan mengkopi dokumen imigran Indonesia yang lari ke sana. Kalau Belanda, catatan harian VOC, asli di kita, kopi di sana.
Berarti arsip tentang Belanda di Indonesia sudah 100 persen di Indonesia?
Arsip Hindia Belanda di sini itu sampai 7,5 kilometer. Bahkan arsip Perjanjian Giyanti, Bungaya, ada di sini. Makanya, saya mau membuat diorama tentang sejarah perjalanan bangsa.
Mungkin juga memang belum 100 persen…. Persentase di Belanda, berapa ya, saya tidak berani bilang, tapi sebagian besar ada di sini. Kalau Jepang, ini menarik: hampir tidak ada, karena Jepang memusnahkan arsip.
Kok bisa?
Begini, dulu kan arsip kita di Jalan Gajah Mada. Ketika Jepang mau masuk, Belanda mengambil semua arsip diturunkan ke lantai dasar dan ditimbun pasir setinggi satu meter. Jadi kalau gedung dibom, arsip tidak akan hancur. Arsip Belanda soal tambang diambil, supaya kalau Jepang datang tak bisa menemukan sumber tambang.
Apa kriteria arsip yang menjadi rahasia negara?
Kalau diberikan pihak luar akan membahayakan. Arsip KKP, Komisi Kebenaran dan Persahabatan, misalnya, dari sana (Timor Leste) mengharapkan tidak diakses dulu, masih rahasia negara.
Soal dokumen rahasia, ada ketentuan berapa tahun bisa dibuka?
Begini, kami tidak pakai tahun untuk itu. Yang jadi kondisi, tidak membahayakan keamanan nasional. Saat itu, kami akan melakukan declassified, artinya tidak rahasia lagi. Kalau dikaitkan dengan kasus di Amerika Serikat, waktu itu hal menarik, ketika ada sejarawan suami-istri Cahin, minta kasus PRRI-Permesta dibuka. Tapi tidak tuh, karena dianggap masih membahayakan. Ini cerita soal keterlibatan CIA (agen rahasia Amerika) dalam pemberontakan itu. Dalam kasus ini, kami ambil kesimpulan, bahkan ketentuan 30 tahun sejarah harus dibuka pun bisa dipertimbangkan kembali. Dari kasus ini juga saya tahu betapa penting Indonesia di mata Amerika.
Kalau arsip Timor Leste bagaimana?
Nah, ini menarik, setelah berunding, pihak Timor Leste juga minta arsip-arsip (saat masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia). Dia minta arsip-arsip yang dibuat, diberkas di Timor Leste. Kalau gubernur saat itu mengirim surat ke Menteri Dalam Negeri, ya haknya Indonesia. Tapi yang di sana, milik Timor Leste. Tapi semua kan terbakar.
Bagaimana dengan dokumen-dokumen milik TNI dan Polri?
Wah, ya di sini semua. Kalau ada yang minta kami kasih, tapi harus dapat izin dulu dari Cilangkap (Markas Besar TNI), khususnya Angkatan Darat-Polri. Kalau dapat izin, baru dikasih.
Bagaimana perhatian negara maju terhadap arsip?
Negara maju, perhatiannya, nomor satu itu arsip. Ketika Perang Dunia II, Jerman kalah perang; 60 ton arsip dibawa ke Rusia dan Amerika.
Kalau negara berkembang?
(Waktu perang) politik kita politik bumi hangus. Negara berkembang kurang apik (dalam mengurus arsip). Kekalahan kita soal Pulau Sipadan dan Ligitan kan karena kurang arsip.
Orang Asia tidak menghargai arsip, ya?
Kecuali Vietnam. Vietnam itu bagus sekali arsipnya. Dokumen-dokumennya dijaga betul selama perang, dibawa ke gua-gua. Kesadaran mereka tinggi, saat pelarian mereka bawa. Sayangnya, kan kita tidak seperti Vietnam, politik bumi hangus, termasuk arsip kita sendiri.
Bagaimana dengan pemeliharaan arsip?
Saya sangat risau ketika listrik dimatikan PLN. Kalau dalam keadaan darurat tiba-tiba mati, saya nggak ada masalah. Tapi sengaja bergilir dimatikan. Kita sudah nulis surat jangan sampai dimatikan. Film itu, kalau listrik dimatikan (sehingga AC mati), akan muncul penyakit vinegar syndrome, film itu rusak, lengket-lengket, nggak bisa diakses. Kalau (arsip medium) kertas, masih bisa.
Dulu ketika ada pembatasan beli BBM (bahan bakar minyak), mati listrik. Kita bawa jeriken, beli BBM ke pompa bensin (untuk menghidupkan genset), nggak boleh beli. Akhirnya kami beli pakai bus, terus disedot ke genset.
Mereka tidak ada yang mengerti, pompa bensin nggak mengerti, PLN nggak mengerti. Satu jam 200 liter, supaya genset hidup. Bisa dibayangkan kalau 24 jam. Ruang arsip itu harus hidup 24 jam, sepanjang tahun. AC tidak boleh mati. Kalau ada penghematan, ruang arsip tidak dihemat. Yang dihemat, di sini (ruang perkantoran).
Ruang penyimpanan arsip, yang di dalamnya brankas empat lapis berisi teks asli Proklamasi, baik yang diketik Sayuti Melik maupun tulisan tangan Bung Karno, memerlukan suhu dan kelembapan tertentu.
PLN mengerti tidak masalah ini?
Tidak mengerti. Bolak-balik kita menyurati.
Artinya kesadaran orang untuk peduli pada arsip masih kurang?
Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ini kan memori kolektif bangsa, jati diri bangsa, warisan nasional. Ini tidak hanya untuk sekarang, tetapi untuk generasi mendatang, sampai kiamat.
Individu yang masih menyimpan arsip sejarah bagaimana?
Ketika ribut-ribut soal Supersemar, kami juga menelusuri. Saya punya feeling ya, suatu saat naskah asli Supersemar akan ketemu. Begini, naskah teks Proklamasi asli yang ditulis tangan Bung Karno baru diserahkan kepada pemerintah pada 1992 oleh wartawan waktu itu, B.M. Diah. Naskah yang diketik Sayuti Melik baru diserahkan pada 1957. Pernyataan berhenti Pak Harto sudah di Arsip Nasional.
Soal Supersemar ini, Anda memburunya?
Iya, kalau ada informasi apa pun, di mana pun, kejar, sebab ini dokumen sejarah, arsip buat memori kolektif bangsa. Bahkan waktu dapat informasi Supersemar di Mojokerto, saya suruh Pak Tolchah (Deputi Akusisi) kejar, subuh-subuh berangkat. Ternyata kopian juga hahaha.
Dari para pelaku sejarah yang masih hidup bagaimana?
Nah, ini, ada yang menarik. Ternyata Soeharto itu jadi presiden dikukuhkan MPRS karena desakan mahasiswa, waktu itu Pak Cosmas Batubara. Karena mahasiswa berpikir satu-satunya yang berani membubarkan PKI adalah Pak Harto. Mahasiswa takut Supersemar dicabut kembali oleh Bung Karno.
Kami sudah datangi Pak Nasution waktu masih hidup (A.H. Nasution, waktu itu Ketua MPRS 1966). ”Pak, waktu itu kan Bapak mengukuhkan berdasarkan salinan legalisir Supersemar, mana sekarang, Pak?” ”Wah lupa tuh, coba tanya Sekjen (MPRS) waktu itu Abdul Kadir Besar.” Semua sudah lupa. Makanya kami, sejak tahu begini, membuat program sejarah lisan, termasuk program kembalinya GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ke pangkuan ibu pertiwi.
Sejarah lisan, apa tujuannya?
Untuk mengisi kekosongan, supaya cepat, ingatannya masih segar. Mengisi gap juga memperkaya khazanah. Arsip audio visual semacam ini juga kan bisa memperlihatkan ekspresi.
Sudah ada indikasi di mana Supersemar?
Belum, tapi tetap kami lacak. Kami wawancara Pak Moerdiono, dulu kan dia masih letnan satu, dia ditugaskan membuat draf pembubaran PKI. Dia memerlukan Supersemar untuk membuat konsiderans. Nah, kami diberi tahu ada nama Komeri. Kami sedang menunggu untuk mewawancarai. Dulu dia ini yang ditugaskan mengkopi. Ada satu lagi letnan kolonel, tapi belum tahu namanya. Yang jelas, Supersemar itu ada.
Arsip juga bisa untuk meluruskan sejarah?
Ya, kami cuma berdasarkan dokumen bersejarah, kami munculkan saja. Misalnya, ini (menunjukkan kalender), kami tahu penggagas Serangan Umum 1 Maret itu Sultan Hamengku Buwono IX, bukan Pak Harto. Dulu Sultan datang ke Jenderal Sudirman di hutan. Waktu itu Sultan tahu ada Sidang Umum PBB di New York hari itu. Nah, dia minta supaya Indonesia show off force, kita punya tentara. Sebentar saja, tak usah lama-lama, kalau lama, ya, kalah juga kita. Nah, kata Pak Dirman, ya, si itu saja, Letkol Soeharto. Jadi, ya, Soeharto itu eksekutornya. Pemrakarsanya ya Sultan.
Arsip di tempat lain, seperti di kerajaan-kerajaan?
Yang baik itu pengarsipannya di Yogyakarta. Di Solo, Mangkunegaran ada sedikit. Kalau di Yogyakarta kan Sultan mau mengelola sendiri. Kalau dari kerajaan Bima ada di sini. Arsip Bank Indonesia juga ada di Bank Indonesia. Mereka punya sarananya. Hukumnya, memang mereka wajib menyerahkan, tapi mereka punya sarana yang baik.
Obsesi Anda yang belum tercapai?
Supaya arsip nasional menjadi centre of excellence. Semua data ada di sini. Arsip KPU juga sudah ada di sini.
Anda memang suka arsip sejak kecil? Apa sih menariknya?
Ya, kemudian saya masuk (jurusan) Sejarah di UGM, kemudian saya ambil master di Inggris, dan magang di seluruh dunia.
Apa saja yang Anda koleksi?
Ada satu koper surat cinta pacar-pacar saya. Masih saya simpan. Istri saya memang tidak suka hahaha, tapi itu kan membangkitkan memori sendiri, bagaimana dulu mesranya hahaha.
Pendidikan kearsipan kita bagaimana?
Ya, sekarang kan yang sedang berjalan kerja sama dengan Universitas Diponegoro, Padjadjaran, Gadjah Mada, melaksanakan D-3 Kearsipan. Kami buka D-4 dengan Universitas Terbuka. Ada titel, sarjana sains terapan. Sekarang kami juga bekerja sama dengan Universitas Leiden, membuka Jurusan Kearsipan.
Biodata Djoko Utomo
Nama: Djoko Utomo
Lahir: Klaten, 22 Desember 1949
Pekerjaan: Kepala Arsip Nasional RI
Pendidikan:
1. Master of Arts dari University of London, Inggris, Archives Studies (1989)
2. Doktorandus dari Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (1981)
3. Sekolah arsip, Rijksarchief School, Utrecht, Belanda (1977)
4. Sarjana muda dari Jurusan Sejarah, Universitas Gajah Mada (1971)
Karier dan prestasi: Anggota Dewan Kear
Djoko Utomo | portaltiga.com

Djoko Utomo | portaltiga.com

Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat yang pernah diucapkan Presiden Soekarno itu disimpan lama dalam diri Djoko Utomo, yang dua pekan lalu menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) itu dianggap berjasa mengumpulkan dan menyelamatkan banyak arsip nasional yang menjadi bukti otentik sejarah Indonesia. ”Ini kan karya kawan-kawan semua, saya cuma mewakili,” ujar alumnus Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, itu.

Menurut Djoko, penghargaan itu dimaknai sebagai pengakuan negara, karena selama ini kearsipan dimarginalkan. Padahal, sebagai pengingat dan bukti otentik sejarah bangsa, arsiplah yang dicari-cari. Dia menyayangkan, masih banyak pihak yang kurang peduli.

Di tengah kesibukannya yang padat, mendata dan mengunjungi beberapa instansi untuk “menagih” arsip-arsipnya, Djoko menerima wartawan Tempo Ngarto Februana, Yophiandi, dan fotografer Yosep Arkian, Kamis lalu di kantornya, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, untuk sebuah wawancara. Berikut petikannya.

Apa arti penghargaan itu buat Arsip Nasional?

Penghargaan itu kan karya kawan-kawan semua, saya cuma mewakili. Penghargaan ini saya maknai untuk arsip dan kearsipan di Indonesia, yang selama ini ”dipinggirkan”, ”dimarginalkan”. Karena itu, kami mencoba mempromosikan bahwa arsip itu memang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Contoh sederhana, kita bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyelamatkan arsip yang kena tsunami sebanyak 84 meter kubik. Karena bisa menyelamatkan itu, bersama bantuan Jepang dan lain-lain, akhirnya BPN bisa menerbitkan sertifikat berdasarkan arsip yang ada.

Mengapa selama ini arsip dipinggirkan?

Karena pemahaman yang tidak pas, tidak sesuai dengan undang-undang, dari banyak pihak, termasuk para pejabat, yang menganggap arsip seolah-olah barang rongsokan, berupa kertas usang. Ini harus kita ubah betul bahwa arsip tidak seperti itu. Karena itu, saya berusaha mendudukkan dalam proporsi yang sebenarnya. Sesuai dengan undang-undang, arsip itu adalah naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, badan pemerintah, badan swasta, dan perseorangan, dalam bentuk corak apa pun. Dulu arsip itu, sebelum berkembang teknologi sedemikian hebat, hanya yang terekam di atas kertas. Bagaimana kalau yang terekam di tape recorder, video, film? Saya mencoba untuk mengaitkan dengan definisi yang dari luar negeri, yang berlaku di dunia kearsipan. Arsip itu disebut recorded information, apa pun mediumnya, tetapi bukan sembarang informasi.

Arsip dibuat dalam rangka pelaksanaan kegiatan. In the conduct is a business. Di Indonesia, juga dalam pelaksanaan kegiatan, kegiatan pemerintahan dan kehidupan bangsa. Arsip itu tumbuh dan berkembang secara wajar. Dia ada, tidak diada-adakan, kecuali dalam kasus khusus, mau memalsukan. Arsip ada yang palsu juga. Arsip dalam arti sebenarnya, dia itu otentik, dia realible, dia legal (absah).

Kriteria itu untuk menentukan suatu naskah disebut arsip?

Betul. Persis. Nah, berkaitan dengan itu, sekarang ada beberapa copy Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), jelas itu tidak otentik, tidak realible; (karena itu) tidak perlu saya analisis.

Mengapa tidak otentik?

Otentik, dalam artian informasi yang direkam di kertas, arsip yang otentik. Arsip yang ”konvensional”, itu direkam di kertas, artinya dia melekat terus pada medium atau obyeknya. Mediumnya kertas, ya, melekat terus. Kalau itu copy, jelas tidak melekat. Saya tidak perlu menganalisis. Dan di situ tidak ada otentikasi bahwa itu disalin sesuai dengan aslinya. Pernah ndak, lihat Supersemar yang disalin sesuai dengan aslinya?

Peran arsip dalam kehidupan berbangsa?

Arsip itu simpul pemersatu bangsa. Saya sampaikan, ada suatu Konvensi Wina 1983, Vienna Convention on Succession of States in respect of State Property, Archives and Debts Esensinya adalah wilayah negara beserta properti, arsip, dan utang yang ditinggalkan oleh negara terdahulu menjadi milik negara penerusnya. Berarti, dalam konteks Indonesia, wilayah negara yang ditinggalkan penjajah, dari Merauke sampai Sabang, itu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Titik.

Arsipnya bagaimana?

Kalau arsip itu otentik, menurut konvensi tadi, surat aslinya harus ada di Indonesia. Yang kedua, ada principal of propenant, asas asal-usul, kalau arsip diciptakan di negara itu, harus tetap berada di negara itu.

Djoko memberi contoh tentang surat Bung Karno yang dikirim dari penjara Sukamiskin, Bandung, yang ditujukan kepada ke Jaksa Agung Hindia Belanda. Karena kedudukannya di Hindia Belanda, pemberkasan surat itu di Indonesia, seharusnya surat itu di Indonesia. Tapi sampai sekarang arsip itu belum diketahui keberadaannya.

Arsip kita masih banyak di Belanda?

Nah, ini begini, yang ditanya arsip yang diberkaskan di Belanda atau mengenai hubungan Indonesia dengan Belanda. Itu beda. Arsip yang kena Konvensi Wina, yang diberkaskan di sini, apalagi yang diambil (oleh Belanda) di Yogya, harus dikembalikan. Surat Bung Karno dari Sukamiskin, kalau ketemu aslinya, saya jamin, saya bisa tarik ke sini.

Arsip VOC itu, yang menjadi memori kolektif dunia, di Indonesia terbesar, 2,5 kilometer kalau kita jejer. Sedangkan di Belanda 1,3 kilometer. Termasuk arsip Lagu Indonesia Raya, ada di kita. Aslinya. Arsip yang mengatur memasang bendera. Boleh nggak masang bendera sampai malam berkibar terus? Masang bendera di mobil di sebelah kiri? Boleh nggak ukurannya yang seenaknya? Nggak boleh.

Bagaimana dengan arsip di negara lain?

Tahun lalu, bulan September, kami mengadakan seminar internasional, saya memetakan arsip dan dokumen kita di luar. Saya undang, mereka bicara tentang Indonesia dari dokumen yang ada pada mereka, dari situ kami tahu arsip apa saja yang masih ada di sana.

Sejauh mana keberhasilan kita menarik arsip-arsip kita di luar?

Ya, kami kan tidak bisa langsung. Yang penting kami tahu dulu arsip itu ada di mana. Seperti Suriname, mereka akan mengkopi dokumen imigran Indonesia yang lari ke sana. Kalau Belanda, catatan harian VOC, asli di kita, kopi di sana.

Berarti arsip tentang Belanda di Indonesia sudah 100 persen di Indonesia?

Arsip Hindia Belanda di sini itu sampai 7,5 kilometer. Bahkan arsip Perjanjian Giyanti, Bungaya, ada di sini. Makanya, saya mau membuat diorama tentang sejarah perjalanan bangsa.

Mungkin juga memang belum 100 persen…. Persentase di Belanda, berapa ya, saya tidak berani bilang, tapi sebagian besar ada di sini. Kalau Jepang, ini menarik: hampir tidak ada, karena Jepang memusnahkan arsip.

Kok bisa?

Begini, dulu kan arsip kita di Jalan Gajah Mada. Ketika Jepang mau masuk, Belanda mengambil semua arsip diturunkan ke lantai dasar dan ditimbun pasir setinggi satu meter. Jadi kalau gedung dibom, arsip tidak akan hancur. Arsip Belanda soal tambang diambil, supaya kalau Jepang datang tak bisa menemukan sumber tambang.

Apa kriteria arsip yang menjadi rahasia negara?

Kalau diberikan pihak luar akan membahayakan. Arsip KKP, Komisi Kebenaran dan Persahabatan, misalnya, dari sana (Timor Leste) mengharapkan tidak diakses dulu, masih rahasia negara.

Soal dokumen rahasia, ada ketentuan berapa tahun bisa dibuka?

Begini, kami tidak pakai tahun untuk itu. Yang jadi kondisi, tidak membahayakan keamanan nasional. Saat itu, kami akan melakukan declassified, artinya tidak rahasia lagi. Kalau dikaitkan dengan kasus di Amerika Serikat, waktu itu hal menarik, ketika ada sejarawan suami-istri Cahin, minta kasus PRRI-Permesta dibuka. Tapi tidak tuh, karena dianggap masih membahayakan. Ini cerita soal keterlibatan CIA (agen rahasia Amerika) dalam pemberontakan itu. Dalam kasus ini, kami ambil kesimpulan, bahkan ketentuan 30 tahun sejarah harus dibuka pun bisa dipertimbangkan kembali. Dari kasus ini juga saya tahu betapa penting Indonesia di mata Amerika.

Kalau arsip Timor Leste bagaimana?

Nah, ini menarik, setelah berunding, pihak Timor Leste juga minta arsip-arsip (saat masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia). Dia minta arsip-arsip yang dibuat, diberkas di Timor Leste. Kalau gubernur saat itu mengirim surat ke Menteri Dalam Negeri, ya haknya Indonesia. Tapi yang di sana, milik Timor Leste. Tapi semua kan terbakar.

Bagaimana dengan dokumen-dokumen milik TNI dan Polri?

Wah, ya di sini semua. Kalau ada yang minta kami kasih, tapi harus dapat izin dulu dari Cilangkap (Markas Besar TNI), khususnya Angkatan Darat-Polri. Kalau dapat izin, baru dikasih.

Bagaimana perhatian negara maju terhadap arsip?

Negara maju, perhatiannya, nomor satu itu arsip. Ketika Perang Dunia II, Jerman kalah perang; 60 ton arsip dibawa ke Rusia dan Amerika.

Kalau negara berkembang?

(Waktu perang) politik kita politik bumi hangus. Negara berkembang kurang apik (dalam mengurus arsip). Kekalahan kita soal Pulau Sipadan dan Ligitan kan karena kurang arsip.

Orang Asia tidak menghargai arsip, ya?

Kecuali Vietnam. Vietnam itu bagus sekali arsipnya. Dokumen-dokumennya dijaga betul selama perang, dibawa ke gua-gua. Kesadaran mereka tinggi, saat pelarian mereka bawa. Sayangnya, kan kita tidak seperti Vietnam, politik bumi hangus, termasuk arsip kita sendiri.

Bagaimana dengan pemeliharaan arsip?

Saya sangat risau ketika listrik dimatikan PLN. Kalau dalam keadaan darurat tiba-tiba mati, saya nggak ada masalah. Tapi sengaja bergilir dimatikan. Kita sudah nulis surat jangan sampai dimatikan. Film itu, kalau listrik dimatikan (sehingga AC mati), akan muncul penyakit vinegar syndrome, film itu rusak, lengket-lengket, nggak bisa diakses. Kalau (arsip medium) kertas, masih bisa.

Dulu ketika ada pembatasan beli BBM (bahan bakar minyak), mati listrik. Kita bawa jeriken, beli BBM ke pompa bensin (untuk menghidupkan genset), nggak boleh beli. Akhirnya kami beli pakai bus, terus disedot ke genset.

Mereka tidak ada yang mengerti, pompa bensin nggak mengerti, PLN nggak mengerti. Satu jam 200 liter, supaya genset hidup. Bisa dibayangkan kalau 24 jam. Ruang arsip itu harus hidup 24 jam, sepanjang tahun. AC tidak boleh mati. Kalau ada penghematan, ruang arsip tidak dihemat. Yang dihemat, di sini (ruang perkantoran).

Ruang penyimpanan arsip, yang di dalamnya brankas empat lapis berisi teks asli Proklamasi, baik yang diketik Sayuti Melik maupun tulisan tangan Bung Karno, memerlukan suhu dan kelembapan tertentu.

PLN mengerti tidak masalah ini?

Tidak mengerti. Bolak-balik kita menyurati.

Artinya kesadaran orang untuk peduli pada arsip masih kurang?

Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ini kan memori kolektif bangsa, jati diri bangsa, warisan nasional. Ini tidak hanya untuk sekarang, tetapi untuk generasi mendatang, sampai kiamat.

Individu yang masih menyimpan arsip sejarah bagaimana?

Ketika ribut-ribut soal Supersemar, kami juga menelusuri. Saya punya feeling ya, suatu saat naskah asli Supersemar akan ketemu. Begini, naskah teks Proklamasi asli yang ditulis tangan Bung Karno baru diserahkan kepada pemerintah pada 1992 oleh wartawan waktu itu, B.M. Diah. Naskah yang diketik Sayuti Melik baru diserahkan pada 1957. Pernyataan berhenti Pak Harto sudah di Arsip Nasional.

Soal Supersemar ini, Anda memburunya?

Iya, kalau ada informasi apa pun, di mana pun, kejar, sebab ini dokumen sejarah, arsip buat memori kolektif bangsa. Bahkan waktu dapat informasi Supersemar di Mojokerto, saya suruh Pak Tolchah (Deputi Akusisi) kejar, subuh-subuh berangkat. Ternyata kopian juga hahaha.

Dari para pelaku sejarah yang masih hidup bagaimana?

Nah, ini, ada yang menarik. Ternyata Soeharto itu jadi presiden dikukuhkan MPRS karena desakan mahasiswa, waktu itu Pak Cosmas Batubara. Karena mahasiswa berpikir satu-satunya yang berani membubarkan PKI adalah Pak Harto. Mahasiswa takut Supersemar dicabut kembali oleh Bung Karno.

Kami sudah datangi Pak Nasution waktu masih hidup (A.H. Nasution, waktu itu Ketua MPRS 1966). ”Pak, waktu itu kan Bapak mengukuhkan berdasarkan salinan legalisir Supersemar, mana sekarang, Pak?” ”Wah lupa tuh, coba tanya Sekjen (MPRS) waktu itu Abdul Kadir Besar.” Semua sudah lupa. Makanya kami, sejak tahu begini, membuat program sejarah lisan, termasuk program kembalinya GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ke pangkuan ibu pertiwi.

Sejarah lisan, apa tujuannya?

Untuk mengisi kekosongan, supaya cepat, ingatannya masih segar. Mengisi gap juga memperkaya khazanah. Arsip audio visual semacam ini juga kan bisa memperlihatkan ekspresi.

Sudah ada indikasi di mana Supersemar?

Belum, tapi tetap kami lacak. Kami wawancara Pak Moerdiono, dulu kan dia masih letnan satu, dia ditugaskan membuat draf pembubaran PKI. Dia memerlukan Supersemar untuk membuat konsiderans. Nah, kami diberi tahu ada nama Komeri. Kami sedang menunggu untuk mewawancarai. Dulu dia ini yang ditugaskan mengkopi. Ada satu lagi letnan kolonel, tapi belum tahu namanya. Yang jelas, Supersemar itu ada.

Arsip juga bisa untuk meluruskan sejarah?

Ya, kami cuma berdasarkan dokumen bersejarah, kami munculkan saja. Misalnya, ini (menunjukkan kalender), kami tahu penggagas Serangan Umum 1 Maret itu Sultan Hamengku Buwono IX, bukan Pak Harto. Dulu Sultan datang ke Jenderal Sudirman di hutan. Waktu itu Sultan tahu ada Sidang Umum PBB di New York hari itu. Nah, dia minta supaya Indonesia show off force, kita punya tentara. Sebentar saja, tak usah lama-lama, kalau lama, ya, kalah juga kita. Nah, kata Pak Dirman, ya, si itu saja, Letkol Soeharto. Jadi, ya, Soeharto itu eksekutornya. Pemrakarsanya ya Sultan.

Arsip di tempat lain, seperti di kerajaan-kerajaan?

Yang baik itu pengarsipannya di Yogyakarta. Di Solo, Mangkunegaran ada sedikit. Kalau di Yogyakarta kan Sultan mau mengelola sendiri. Kalau dari kerajaan Bima ada di sini. Arsip Bank Indonesia juga ada di Bank Indonesia. Mereka punya sarananya. Hukumnya, memang mereka wajib menyerahkan, tapi mereka punya sarana yang baik.

Obsesi Anda yang belum tercapai?

Supaya arsip nasional menjadi centre of excellence. Semua data ada di sini. Arsip KPU juga sudah ada di sini.

Anda memang suka arsip sejak kecil? Apa sih menariknya?

Ya, kemudian saya masuk (jurusan) Sejarah di UGM, kemudian saya ambil master di Inggris, dan magang di seluruh dunia.

Apa saja yang Anda koleksi?

Ada satu koper surat cinta pacar-pacar saya. Masih saya simpan. Istri saya memang tidak suka hahaha, tapi itu kan membangkitkan memori sendiri, bagaimana dulu mesranya hahaha.

Pendidikan kearsipan kita bagaimana?

Ya, sekarang kan yang sedang berjalan kerja sama dengan Universitas Diponegoro, Padjadjaran, Gadjah Mada, melaksanakan D-3 Kearsipan. Kami buka D-4 dengan Universitas Terbuka. Ada titel, sarjana sains terapan. Sekarang kami juga bekerja sama dengan Universitas Leiden, membuka Jurusan Kearsipan.

Biodata Djoko Utomo

Nama: Djoko Utomo

Lahir: Klaten, 22 Desember 1949

Pekerjaan: Kepala Arsip Nasional RI

Pendidikan:

1. Master of Arts dari University of London, Inggris, Archives Studies (1989)

2. Doktorandus dari Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (1981)

3. Sekolah arsip, Rijksarchief School, Utrecht, Belanda (1977)

4. Sarjana muda dari Jurusan Sejarah, Universitas Gajah Mada (1971)

Sumber: Harian Koran Tempo, 31 Agustus 2008

Ajip Rosidi, Mengalir Bersama Sandal Jepit

The Jakarta Post

The Jakarta Post

Dua puisi Taufiq Ismail terasa begitu menggetarkan hati. Para hadirin terkurung suasana senyap saat puisi berjudul ‘Mengejar Umur, Dikejar Umur’ dan ‘Cerita Yatim Piatu’ itu dibacakan di Aula Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kamis (31 Januari 2008). Hari itu, gelaran yang khidmat dilangsungkan untuk memperingati 70 tahun tokoh sastra dan budaya Sunda, Ajip Rosidi.

Bersamaan dengan peringatan ini, Ajip juga meluncurkan otobiografinya yang berjudul Hidup tanpa Ijazah. Orang-orang ternama seperti mantan menlu Mochtar Kusumaatmadja, tokoh film Slamet Rahardjo, penyair Rendra, mantan menteri perhubungan Agum Gumelar, serta tokoh lain ikut menghadiri acara tersebut.

Tak hanya biografi, sebanyak 16 buku yang lain karya Ajip juga diluncurkan dalam kesempatan itu. Di antara judul buku yang diluncurkan adalah Badak Pamalang, Sangkuriang Kesiangan, Mundinglaya Di Kusumah, Ciung Wanara, Jalan ke Surga atawa Si Kabayan. Sebagian besar buku yang diluncurkan itu merupakan edisi cetak ulang.

Ajip memang telah menulis lebih dari 100 judul buku. Maklum, sejak berusia 17 tahun, dia telah menulis buku. Buku pertamanya yang terbit tahun 1955 itu berjudul Tahun-tahun Kematian yang merupakan kumpulan cerita pendek.

Sebelum melahirkan sebuah buku, putra kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, ini telah aktif menulis sejak berusia 15 tahun. Berbagai cerita pendek, sajak, juga roman karyanya telah dimuat di berbagai majalah yang terbit di tahun 1950-an, seperti Mimbar Indonesia, Zenith, Gelanggang, Konfrontasi, Indonesia.

Pergulatannya yang akrab dengan dunia menulis juga telah mengantarkannya untuk menjadi pengelola berbagai penerbitan. Di tahun 1953 hingga 1955 misalnya, dia menjadi redaktur sekaligus pemimpin majalah Suluh Pelajar. Kemudian di tahun 1965-1967 dia mendirikan dan sekaligus menjadi pemimpin redaksi Mingguan Sunda (kemudian berubah menjadi Madjalah Sunda) yang terbit di Bandung.

Tak hanya di dunia majalah, Ajip juga sangat dekat dengan dunia buku. Bersama sastrawan Ramadhan KH, Obon Harris, dan Tatang Suryaatmadja, pada tahun 1962 dia mendirikan Penerbit Kiwari. Kemudian pada periode 1964-1969 dia merintis Penerbit Tjupumanik di kampung kelahirannya. Setelah itu, yakni pada tahun 1971 dia memimpin Badan Penerbit Pustaka Jaya (Yayasan Jaya Raya).

Karena begitu dekatnya dengan dinamika penerbitan buku, Kongres Ikapi tahun 1973 pun memilihnya sebagai ketua umum lembaga tersebut. Di tahun 1976, dia terpilih kembali untuk memimpin Ikapi hingga tahun 1979. Di akhir jabatannya sebagai ketua umum Ikapi pada 1979, dia menolak dipilih kembali karena menerima beasiswa dari The Japan Foundation untuk mukim di Jepang.

Tulis-menulis hanyalah salah satu saluran yang dia manfaatkan untuk mengekspresikan diri. Ayah tujuh anak dari pernikahannya dengan Fatimah Wirjadibrata ini juga aktif dalam berbagai organisasi. Dewan Kesenian Jakarta adalah salah satu organisasi yang lahir dari cetusan idenya.

Di tahun 1968 dia mengusulkan kepada gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin, untuk membentuk Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Begitu DKJ terbentuk, Ajip terpilih untuk menjadi ketuanya selama tiga periode secara berturut-turut (1972-1981).

Akar Sunda yang sangat kental dalam kehidupannya mendorong Ajip terus berupaya secara serius melestarikan sastra dan budaya Sunda. Di tahun 1983 dia membangun Yayasan Rancage, dan sejak 1989 yayasan ini secara periodik memberikan penghargaan kepada setiap karya sastra Sunda dan tokoh yang berperan besar dalam pelestarian budaya Sunda. Kini penghargaaan Rancage diperuntukkan pula bagi karya sastra berbahasa Jawa, Bali, dan Lampung.

Semangatnya untuk menghidupkan budaya Sunda terus terjaga hingga sekarang. Dia terus mendorong upaya penelitian naskah-naskah Sunda kuno. Dia pun mengaku prihatin dengan rendahnya perhatian terhadap pendalaman isi naskah-naskah sunda kuno. Menurut dia, dari sekitar 200 naskah Sunda kuno yang telah ditemukan, baru sekitar 23 naskah yang bisa dibaca isinya.

Besarnya peran Ajip dalam dunia sastra membuatnya dilirik beberapa kampus di Jepang. Sejak 1981 dia menjadi profesor tamu di beberapa kampus di Jepang. Barulah pada 2003 dia pensiun dan kembali ke Tanah Air. Ajip kemudian tinggal di Pabelan, Magelang, Jawa Tengah, sampai sekarang. Sejak 2004 dia menjadi pemimpin umum majalah bulanan berbahasa Sunda, Cupumanik.

Aktivitas yang terus dijalankannya penuh pengabdian telah mengantarkannya sebagai tokoh sastra yang sangat berpengaruh. Tak hanya di Tatar Sunda atau di Indonesia, pengaruh karya-karya Ajip ini juga dirasakan di berbagai negara. ”Waktu saya sekolah dulu, murid nggak lulus kalau nggak kenal Ajip Rosidi,” tutur tokoh film Slamet Rahardjo.

Keberadaan Ajip, buat Slamet memang memiliki arti tersendiri. ”Dia adalah orang yang mengantarkan saya saat remaja untuk mulai mengenal karya-karya sastra,” ungkap dia. Slamet pun meyakini bahwa dalam dunia modern saat ini yang sudah sangat kental dengan pengaruh Barat, pemikiran-pemikiran Ajip menjadi sangat diperlukan.

Seperti Slamet, Taufiq Ismail pun punya kesan tersendiri terhadap Ajip. Dia mengaku telah puluhan tahun bersahabat dengan Ajip. ”Dan dalam persahabatan yang sudah cukup panjang ini, saya kira Ajip belum pernah pakai sepatu,” ungkap Taufik. Ucapan Taufik ini memang terbukti. Saat menghadiri acara ’70 Tahun Ajip Rosidi’ tersebut, Ajip memang hanya mengenakan sandal jepit kulit.

Barangkali, sandal jepit itu menjadi wakil kehidupannya yang memang apa adanya. Bahkan untuk menjadi fenomena penting dalam dunia sastra, Ajip pun mengaku tidak pernah merancangnya secara khusus. ”Semuanya mengalir begitu saja,” tutur Ajip saat menyampaikan renungan perjalanan hidupnya dalam helatan tersebut.

Sumber: Harian Republika, 3 Februari 2008

Semute, Berdialog lewat Komik

semuteOleh Maria Serenade Sinurat

Sekitar tiga bulan lalu ada setumpuk komik yang diperbanyak dengan cara fotokopi. Salah satu dari komik itu dijilid rapi, judulnya ”Komik Palsu”. Salah satu ceritanya berjudul ”Konversi Minyak Tanah”.

Gambaran cerita dalam ”Konversi Minyak Tanah” itu tidak seperti komik-komik yang biasa beredar di toko-toko buku. Konversi minyak tanah di sini digambarkan sebagai barisan orang-orang bersayap tanpa kepala.

Tidak ada panel-panel dalam komik itu, hanya guratan garis tebal dan tipis yang seakan seperti coretan asal-asalan. Di sini juga tak ada dialog, hanya kalimat-kalimat seperti racauan.

Cerita dalam komik karya Abdoel Semute dan Benny Soekendo itu seakan menjadi cermin kebisuan masyarakat. Mereka yang tidak memiliki pilihan lagi, selain mengganti minyak tanah menjadi gas.

Namun, masyarakat hanya bisa diam. Mereka hanya bisa menerima seperti satu gambaran yang diterakan Semute, panggilannya, pada salah satu lembarnya, yakni menutup mata dan menyimpan bom di dada.

Bagi Semute, komik seharusnya menjadi media yang dapat menangkap kegelisahan sehari-hari. ”Komik seharusnya tidak eksklusif, tetapi bisa dibuat dan dibaca oleh siapa pun, bahkan oleh seorang tukang becak,” ujarnya.

Menyatukan

Semute lebih suka bicara tentang esensi daripada menjelaskan tentang definisi komik yang disebut sebagai komik perlawanan atau komik bawah tanah itu. Dia bercerita, semua itu bermula dari kegelisahannya melihat gempuran komik Jepang (manga).

Industri komik yang begitu masif membuat komik menjadi sekadar produk bisu. ”Seseorang membeli komik dan membacanya sendiri. Dia tidak pernah tahu siapa yang membuat komik itu dan bagaimana prosesnya. Semua selesai di sini, tidak ada dialog,” ujarnya.

Situasi itu, bagi Semute, seakan mencerabut manusia dari dirinya sendiri. Belum lagi di Surabaya, tempat industri melaju cepat dan masyarakat seakan hanya menjadi robot. ”Aku rindu pada masa ketika anak-anak masih bermain gambar umbul dan saling berbagi,” ujarnya.

Dengan jejaring dan kelihaian dia berkomunikasi, Semute dan para pegiat komik membentuk Oret 101 di Surabaya, tahun 2000. Angka 101 itu merujuk nomor rumah seorang komikus, yang sering digunakan komunitas komik berkumpul.

Mereka mengusung slogan ”Manga Ora Manga, Kumpul”. Itu adalah pelesetan dari buku karya Umar Kayam yang berjudul Mangan Ora Mangan Kumpul.

Semangat mereka kala itu adalah menyatukan pegiat komik dari mana pun, baik yang beraliran manga maupun tidak. Mereka bisa membuat karya kolektif yang diproduksi dan didistribusikan sendiri.

Prinsip yang dipegang teguh di sini adalah membuat komik tanpa didikte penerbit dan menerabas pakem komik pada umumnya. Lewat Oret 101, mereka berhasil membuat tiga jilid komik.

”Tetapi, semakin banyak orang (membuat komik) dan (menghasilkan) duit, malah makin banyak masalah. Setelah itu, satu per satu (pegiat komik) malah menghilang,” katanya.

Meskipun Oret 101 kemudian meredup, Semute tetap gencar membentuk jejaring sosialnya. Dia, antara lain, turut menghidupkan kelompok Keras Kepala di Jember. Setelah era Keras Kepala, Jember memiliki komunitas komik Nasi Putih.

Ketimbang menjual komik, para komikus tersebut lebih memilih barter komik. Dari proses itulah Semute melihat bahwa komik telah menjadi ruang atau wadah untuk berdialog dan pertemuan.

”Komik tidak lagi benda mati. Inilah ruang kita untuk sambang-sinambang, saling menyambangi dan berdiskusi,” kata ayah dua anak ini.

Wajah kota

Di Surabaya, tempat tinggalnya selama sekitar 16 tahun terakhir ini, Semute tetap berusaha memperkuat komunitas komik di sini. Walaupun begitu, dia menolak disebut sebagai pelopor ataupun pendiri.

”Saya hanya tukang ngomporin ’anak-anak’ saja agar memulai membuat komik,” katanya beralasan.

Dari hasil ngomporin itu, faktanya para komikus Surabaya kembali giat berkarya. Dalam dua tahun terakhir, pameran-pameran komik di Surabaya mulai tumbuh. Produk komik pun semakin beragam. Salah satu yang patut dicatat ialah karya kolektif ”Area 031” yang digagas Semute, Alfajr X-Go Wiratama, dan Anitha Silvia.

Dibuatnya ”Area 031” tergolong penting mengingat Surabaya kerap dinilai ”terbelakang” dari segi perkembangan komik. Ide cerita yang muncul dalam kompilasi komik itu menceritakan banyak wajah Kota Pahlawan. Di sini ada tentang pecel Semanggi, lokalisasi Dolly, hingga perkembangan industri.

Selain itu, pada Agustus nanti, Semute bersama Yayasan Suku Bengi juga akan membuat pameran komik bertema ”Sindikat Pasar Gelap”. Tema itu dipilih untuk menyikapi wacana komik sebagai barang dagangan.

Pameran komik itu penting bagi Semute sebab selama ini komik sudah menjadi ladang penghidupan bagi mayoritas komikus. Karena itu, alur cerita hingga gaya gambar (harus) disesuaikan dengan keinginan penerbit dan industri. Padahal, Semute dan pegiat komik bawah tanah bersepakat untuk menghidupi komik, bukan hidup dari komik. Kemandirian ini membuat mereka bebas menyuarakan apa pun lewat karya komik tanpa tekanan.

Menjual jamu

Agar terhindar dari tekanan itu, Semute dan para komikus bawah tanah memilih bekerja di bidang lain. Semute, misalnya, menjual jamu tradisional di rumahnya di kawasan Kremil, Surabaya.

Meskipun berpendidikan hukum di Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya, Semute tidak memilih pekerjaan di bidang hukum. ”Saya tidak siap melihat realita hukum di masyarakat. Saya memilih jadi juragan bagi diri sendiri,” katanya.

Dengan menjadi tukang jamu, Semute bisa melihat lebih jelas problem kehidupan pembeli yang mayoritas dari kelas bawah. Hidup yang suram di kawasan rumahnya pun menjadi inspirasi bagi karyanya. Di sela-sela berjualan, dia masih sempat mengajari anak-anak di sekitar rumah untuk menggambar.

”Saya berencana membuat workshop komik di lokalisasi,” ungkap pria yang memakai nama Semute sejak ia berusia 19 tahun.

Meskipun banyak berbicara soal komik, Semute terkesan ”menutup diri” tentang keluarganya. Dia hanya bercerita, menikahi teman sekampus, yang dipanggilnya Genduk. Perempuan itulah ibu dari kedua anaknya, yang disebut Semute sebagai ”cah ganteng” dan ”cah ayu”.

___________________________________________________________
ABDOEL SEMUTE

• Nama asli: Abdullah

• Lahir: Bojonegoro, Jawa Tengah, 14 Agustus 1975

• Pendidikan: Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya

• Kegiatan: Membuat komik dan mengelola komikpalsu.blogspot.com

*)Kompas, 2 Juli 2010

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan