-->

Arsip Tokoh Toggle

RA Kosasih: Bapak Komik Indonesia

RA KOSASIHBagi generasi tahun 1950-1960-an, komik-komik karya RA Kosasih memenuhi ruang imajinasi anak-anak sampai orang tua di masa itu. Karya-karyanya banyak berhubungan dengan kesusastraan Hindu (Ramayana dan Mahabharata) dan sastra tradisional Indonesia, terutama dari sastra Jawa dan Sunda. Generasi komik masa kini menggelarinya Bapak Komik Indonesia. Dia meninggal dengan tenang pada usia 93 tahun pada 24 Juli 2012 di kediamannya, Cempaka Putih, Ciputat.

Komikus yang namanya dijadikan nama jalan di daerah Sukabumi ini lahir pada 4 April 1919 di Bogor, Jawa Barat. Kedua orang tuanya berdarah ningrat. Ayahnya bernama Raden Wirakusumah seorang pedagang dari Purwakarta. Ibunya bernama Rasmani, perempuan Bogor. Ia adalah anak bungsu dari delapan bersaudara.

Minat menggambar Kosasih datang tanpa sengaja. Ketika kelas satu Inlands School, Bogor, ia acap menunggu ibunya berbelanja. Nah, di saat membantu membongkari belanjaan sang ibu itulah, matanya menangkap  komik Tarzan dari potongan-potongan koran bungkus belanjaan. Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan.

Lulus dari Inlands School 1932, ia melanjutkan ke Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan. Di HIS inilah Kosasih mulai tertarik pada seni menggambar secara formal. Ketertarikannya itu muncul setelah ia melihat ilustrasi pada buku pelajaran Bahasa Belanda yang bagus-bagus. Buku catatannya banyak yang cepat habis karena dibuatnya jadi tempat gambar.

Selepas HIS, Kosasih tidak meneruskan sekolah, meski kesempatan menjadi pamong praja menunggunya. Masa menganggur itu ia puaskan dengan menggambar dan menonton wayang golek. Ia selalu pulang pagi, terutama jika lakonnya Arjuna, Bima, atau Gatotkaca. Karena sering menonton, ia sampai hapal semua cerita wayang, juga gaya para pedalang. Setelah menonton wayang, kepalanya masih selalu dipenuhi gambaran cerita wayang. Saat itu, ia mendapat ide bagaimana jika cerita itu dipersingkat tapi tetap berbobot dan disukai banyak orang. Tapi, ide itu hanya sebatas ide.

Tahun 1939, ia melamar sebagai juru gambar di Departemen Pertanian Bogor. Diterima, ia pun menjadi penggambar hewan dan tumbuhan. Gajinya cukup, meski tak mewah. Ketika Jepang ekspansi ke Indonesia tahun 1942, RA. Kosasih kelimpungan dan hidupnya tak karuan. Pekerjaan pun jadi berantakan. Ia tak lagi mendapatkan komik-komik kegemarannya. Yang ia dapatkan hanya komik Flash Gordon dari bekas kertas pembungkus. Flash Gordon adalah sosok pahlawan fiksi Australia yang digambar Alex Raymond yang diterbitkan sejak tahun 1934.

Setelah merdeka, ia melihat banyak peluang di koran-koran. Pada tahun 1953, ia melamar kerja sebagai komikus di harian Pedoman Bandung. Setelah diterima, ia masuk malam, karena siang masih bekerja di Departemen pertanian.

Pada tahun yang sama, salah satu majalah terbitan Jakarta memuat iklan. Isinya, penerbitan Melodie mencari penggambar komik. Kosasih tertarik lalu mengirimkan karyanya. Tatang Atmadja, pemilik penerbitan Melodie kepincut dengan karya Kosasih dan menemuinya di Bogor.

Dari pertemuan itu, Kosasih diberikan komik-komik Amerika. Dia diminta untuk meniru, namun harus dijadikan tokoh Indonesia. Kosasih tertarik dengan superhero Wonder Woman terbitan King Feature Syndicate. Kosasih menyulapnya menjadi tokoh Sri Asih.

Serial komik Sri Asih dirampungkan sebagai komik pertamanya. Sri Asih dikarakterkan sebagai superhero perempuan berkostum wayang. Memakai kain kebaya dan kemben, rambutnya panjang dengan mata besar, bermahkota giwang dan manik di dahi. Perempuan yang jago berkelahi, bertenaga kuat, dan bisa terbang.

Komiknya laku keras di pasar dengan cetak 3000 eksemplar. Honornya tak tanggung-tanggung, Kosasih mengantongi Rp 4.000. Jauh lebih besar dibandingkan honornya menjadi pegawai Departemen Pertanian yang hanya Rp150.

Sukses komik pertama, Kosasih semakin bersemangat membuat komik. Akhirnya terbitlah komik keduanya, namanya Siti Gahara. Komik ini bercerita tentang pendekar wanita bernama Siti Gahara. Sosok Gahara adalah plesetan dari Sahara, ratu Kerajaan Turkana yang berpakaian Timur Tengah. Kostumnya, dengan perut terbuka, lengan baju sebatas siku, dan bercelana panjang. Keheroan perempuan ini, bisa terbang dan jago berkelahi. Musuh bebuyutannya, nenek sihir. Komik ini pun laku keras.

Meski pundi-pundi honor hasil komiknya terus bertambah, Kosasih tak tinggal diam. Ia terus berimajinasi. Selanjutnya RA. Kosasih menggambar serial Sri Dewi. Sosok yang dikenal sebagai dewi kesuburan yang oleh orang Jawa dan Bali identik dengan
Dewi Padi.
Minat menggambar Kosasih datang tanpa sengaja. Ketika kelas satu Inlands School, Bogor, ia acap menunggu ibunya berbelanja. Nah, di saat membantu membongkari belanjaan sang ibu itulah, matanya menangkap komik Tarzan dari potongan-potongan koran bungkus belanjaan. Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan.

Pada serial ini, sosok Sri Dewi kontra dengan Dewi Sputnik. Pada komik ini, Kosasih menggambarkan Sri Dewi merupakan perempuan dengan gaya tradisional dan Dewi Sputnik bersosok modern. Kosasih ingin memperlihatkan kepada pembaca bahwa Sri Dewi tak bisa dikalahkan dan selalu menang.

Di tengah upayanya merintis karir sebagai komikus, Kosasih yang sudah berumur 31 tahun belum juga menikah. Padahal, banyak perempuan yang ingin merebut hatinya. Alasannya, Kosasih berpikir mencari pendamping hidup. Pamannya kemudian memperkenalkan Kosasih dengan seorang perempuan. Namanya Lili Karsilah yang saat itu berusia 25 tahun. Kosasih langsung kepincut dan bersedia menikahinya. Dari perkawinan mereka dikarunia dua orang anak. Anak pertama laki-laki diberi nama Kusumandana. Dan yang kedua, perempuan bernama Yudowati Ambiyana. Namun Tuhan berbicara lain. Hidup putranya Kusumandana tak berlangsung lama. Tahun 1957 pada usia empat tahun, Kusumandana meninggal dunia terkena serangan demam. Kemudian dikuburkan di pemakaman Dreded, Bondongan, Bogor, Jawa Barat.

Dengan komik, Kosasih menafkahi keluarganya. Jika sedang berimajinasi, ia menolak untuk diganggu oleh siapa pun termasuk istri dan anak-anaknya. Kosasih bahkan tak segan-segan mengunci kamarnya. Hingga makan pun terkadang luput dari ingatannya. Ia bahkan berpesan kepada istrinya untuk mengatakan bahwa dirinya sedang pergi jika ada tamu yang tidak penting mencarinya.

Kosasih bahkan tak ingin orang lain tahu mengenai dirinya yang tenar dari komiknya. Begitu pula dengan wartawan apalagi dengan tetangga rumahnya. Ia selalu mewanti-wanti agar tidak memberikan alamat tempat tinggalnya. Tapi sepintar-pintarnya sembunyi, akhirnya identitasnya terbongkar juga. Seorang wartawan Kompas bernama Arswendo Atmowiloto pada 1970-an mengetahui alamatnya saat berada di Paris.

Arswendo langsung mendatangi rumahnya di Bogor dan Kosasih bersedia menemuinya untuk diwawancarai. Tidak lama kemudian, Kompas memuat tulisan tentang sosok RA. Kosasih. Sejak itu, pengemar komik buatan Kosasih mulai berdatangan. Tetangga mulai menaruh hormat padanya. Bahkan, banyak pengemar perempuan yang mengirimi surat. Bermacam-macam isinya, ada yang memberikan apresiasi karyanya, sekadar menyapa berkenalan, bahkan tak sedikit yang mengajak menikah.

Pada tahun 1955, Kosasih mengambil keputusan berhenti menjadi pegawai Departemen Pertanian karena kesibukannya di dunia komik. Tahun 1960-an, kondisi politik membuat dirinya menghentikan dulu komiknya. Saat itu, PKI melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) mengecam komiknya karena dianggap berunsur ke barat-baratan. Tak ayal, tiras komiknya berkurang. Justru yang banyak beredar adalah komik-komik keluaran China.

Karena tidak mau tinggal diam, Kosasih menyiasatinya dengan menggambar sosok wayang. Komiknya antara lain, Mundinglaya Dikusuma, Ganesha Bangun, Burisrawa Gandrung, dan Burisrawa Merindukan Bulan. Dua komik terakhir menjadi komik terlaris di pasar. Singkat cerita, komik-komik Kosasih kembali merajai pasar komik Indonesia.

Selanjutnya, Kosasih membuat komik Ramayana dan Mahabharata. Idenya dari bacaan Bhagawat Gita terjemahan Balai Pusaka. Hasilnya luar biasa. Angka penjualannya mencapat 30 ribu eksemplar. Tiras paling besar sepanjang sejarah komik Indonesia.

Dua karya itu memang melambungkan nama Kosasih, namun yang lebih penting lagi, komik Mahabbarata berhasil memperkenalkan kisah itu kepada generasi baru, yakni anak-anak dan remaja perkotaan yang jarang nonton wayang kulit atau wayang orang. Bagi mereka, komik Kosasih adalah referensi awal ke kisah klasik asal India itu.

Walau tidak ada catatan pasti berapa jumlah komik Mahabbarata yang berhasil terjual. Kosasih ingat bahwa Mahabbarata dan Ramayana adalah dua karya yang kemudian berhasil membuatnya membeli rumah. Kesuksesan sebagai komikus jualah yang membuat Kosasih berani berhenti dari pekerjaannya dan total menggambar.

Di tahun-tahun selanjutnya, ia tetap menguasai pasar komik Indonesia dengan kembali membuat komik wanita superhero, Cempaka. Sosok perempuan berbaju loreng, kekar, tinggi dan seksi. Sosok Cempaka diilhami oleh sosok Tarzan. Sayangnya, komik itu tidak terlalu laris seperti komik sebelumnya.

Ketika popularitas komik wayang menyusut, Kosasih membuat komik berkarakter lain dengan imajinasinya sendiri. Ia beralih ke komik dari legenda. Misalnya, komik tentang Lutung Kasarung, Sangkuriang dan lainnya.

Pada tahun 1964, Kosasih hijrah ke Jakarta dan bekerja untuk penerbitan Lokajaya. Ia membuat serial Kala Hitam dan Setan Cebol. Lagi-lagi, ia tak seberuntung dulu. Komiknya hanya laku 2000 eksemplar. Empat tahun kemudian, 1968, kesehatannya mulai tidak stabil. Kosasih memilih istirahat setahun lamanya dan kembali ke Bogor.

Dua tahun setelah istirahat, tahun 1970-an, ia diminta oleh penerbit Maranatha Bandung untuk membuat komik ulang Mahabharata. Karyanya berbeda dengan gambar yang kali pertama dibuatnya. Hasilnya pun dianggap gagal.

Dengan sisa kekuatan imajinasi, ia terus menggambar. Pada tahun 1984, ketika sedang menggambar, tangannya gemetaran. Pensilnya sulit dikendalikan. Tangannya secara tiba-tiba membuat gambarnya menjadi berantakan. Sejak saat itu, Kosasih sudah benar-benar tidak pernah lagi menggambar. Ia tidak mau memaksakan diri lagi dan lebih memilih berhenti total sebagai pembuat komik. Tahun 1994, ia menyatakan diri ‘pensiun’ dari dunia komik dan memilih menikmati sisa hidupnya.

Sejak tahun 1990-an, Kosasih hijrah ke rumah anak perempuannya Yudowati di daerah Rempoa, Ciputat, Jakarta Selatan. Kosasih menempati satu kamar yang berada di lantai dua. Sedangkan rumah di Bogor, dijualnya. Alasannya, agar dekat dengan anak dan cucu satu-satunya bernama Adinadra. Pada tahun 1994, istrinya Lili Karsilah, dipanggil sang Khalik setelah menderita stroke dan asma. Sang istri tercinta dikebumikan di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.

Kini kondisi kesehatan peraih penghargaan anugerah Lifetime Achievement (2005) ini semakin menurun. Ia tidak dibolehkan banyak bicara karena akan terjadi pengeringan cairan pada bagian paru-parunya. Penyakitnya tidak boleh kekurangan dan kelebihan air putih. Untuk itu, ia tidak boleh jauh dari air minum.

Sejak tahun 2009, Kosasih sering keluar-masuk rumah sakit. Ia mengidap sakit pembengkakan pembuluh jantung. Ketika Kosasih masuk RS Bintaro pada Januari 2009, perlu dana 15 juta untuk membiayai perawatannya. Lalu saat masuk rumah sakit itu kembali pada November 2009, ia mengeluarkan dana sekitar Rp 18 juta.

Melihat kondisi itu, para penggemar komik tak tinggal diam. Apalagi diketahui, Kosasih keluar dari rumah sakit karena keluarganya tidak punya biaya lagi. Para komunitas komik menggalang dana untuk kesembuhan RA. Kosasih.

Setiap awal bulan, Kosasih harus periksa ke dokter. Dan setiap periksa, ia mendapatkan obat baru yang habis setiap bulan sekali. Biaya periksa dan obat-obatan memerlukan biaya minimal sejuta. Untuk biaya pengobatan itu, Kosasih tidak bisa berharap dari royalti komiknya karena tidak ada royalti. Dulu ia dibayar sesuai pesanan.

Pada 4 April 2010, usianya mencapai 91 tahun. Kondisi matanya masih cukup baik untuk pria seusianya. Ia masih bisa melangkah dengan kakinya. Tongkat yang ia gunakan hanya sebagai alat bantu saja. Begitu juga dengan kacamata yang sesekali saja dipakai jika diperlukan. Saat itu, Kosasih sudah siap dipanggil Tuhan. Hal itu terlihat ketika Kosasih merayakan ulang tahunnya yang ke-91, para tamu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Namun, saat tiba di kalimat “selamat panjang umur…”, tiba-tiba Kosasih memotong. Ia tidak mau lagi didoakan selamat panjang umur karena merasa umurnya sudah kepanjangan. Bahkan peraih Satyalancana Kebudayaan (2008) dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ini bergurau bagaimana kalau umurnya yang panjang itu dibagikan saja ke tamu yang datang.

Memang tidak ada seorangpun yang bisa menentukan lamanya hidup seseorang. Dua tahun kemudian, di usianya yang ke-93, Kosasih akhirnya dipanggil Sang Pencipta. Ia meninggal di kediamannya dini hari, Selasa 24 Juli 2012, sekitar pukul 01.00 WIB. Sebelumnya, Kosasih sempat menjalani perawatan di RS Bintaro karena penyakit jantung. Walaupun ia sudah tiada, karya-karyanya akan tetap hidup selamanya. e-ti | muli, mlp

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

*)Disalin dari tokohindonesia.com, 24 Juli 2012

Remy Sylado: Seperti tak Pernah Berhenti

Ia menghasilkan tak kurang dari 300-an karya, yang ia harap memberi pengharapan dan penghiburan kepada pembaca. ”Kalau sekadar senang sendiri, itu bukan hiburan. Dan hiburan itu bukan dosa. Justru bagaimana membuat karya sastra itu karya yang menghibur,” katanya.

Remy memiliki wawasan kepenulisan yang sangat lebar. Bukan hanya novel dan puisi, ia kini juga tengah menyiapkan buku 123 ayat tentang kesenian. Ia menulis tentang sastra, seni rupa, musik, film, dan teater. Ia bahkan pernah menulis tentang teologi, kamus, dan ensiklopedia.

Dalam setahun, Remy menghasilkan dua sampai tiga novel.

Dalam satu ruang dan waktu, Remy bisa bekerja simultan menggarap tiga novel sekaligus. Untuk itu, dia bekerja menggunakan tiga mesin tik yang berbeda. ”Selalu pakai mesin tik dan tip-eks, ha-ha…,” kata Remy di rumahnya di Cikarawang, Dramaga, Bogor, Juni lalu.

Saat ini ia tengah menyelesaikan Malaikat Lembah Tidar, novel yang menggunakan lanskap kota Magelang tahun 1898. Novel ini ditulis sejak tahun 2011 dan belum selesai karena memerlukan riset data, termasuk ke Museum KNIL di Belanda. Riset juga dilakukan Remy untuk menulis novel Matahari, yang menjadi cerita bersambung di harian Kompas. Ia mendatangi tempat-tempat yang menjadi lokasi peristiwa, termasuk Paris dan Berlin.

Memerintah inspirasi

Menulis dua tiga karya dalam waktu bersamaan apakah bisa fokus?

Persoalannya satu, kita menganggap kerja ini karunia Ilahi atau kutukan dewata. Jika kutukan, ya, tidak jadi-jadi. Ini kita anggap karunia Ilahi. Menulis secara wartawan harus disiplin. Ada batasan deadline.

Apa yang terjadi ketika pindah mesin tik?

Tergantung mood. Kalau macet, diselingi main musik. Harus ada disiplin waktu, bekerja tiap hari. Lebih banyak pagi, dari pukul empat sampai pukul sepuluh. Kalau ada tamu datang ke rumah, ya, berhenti.

Inspirasi datang dari mana?

Inspirasi itu diperintah, bukan ditunggu. Kalau menunggu inspirasi, keburu jatuh miskin, ha-ha…. Motivasinya harus bekerja. Inspirasi itu cerita tahun 1950-an. Bahan sudah kita lihat dan kita simpan dalam daya kreatif. Sewaktu-waktu perlu kita panggil. Jadi kita perintah, bukan ditunggu. Dari kehidupan sehari-hari, kita amati, lalu kita simpan dalam daya ingat. Kalau misal harus disertai angka, ya, ambil catatan dan ditulis. Cilaka jika nunggu ilham.

Kalau menulis ditunggu dan dipacu itu, apakah kreativitas bisa mandek?

Tanggung jawabnya malah makin bagus. Kita ditantang. Ditunggu redaktur dan pembaca. Tapi sekarang saya enggak berani lagi kayak gitu. Kadang putus di tengah jalan pas bikin yang lain.

Mimpi besar Anda?

Saya kepingin novel yang saya tulis lebih baik dari sebelumnya. Menurut saya, novel yang sedang saya tulis ini (Malaikat Lembah Tidar) lebih baik karena setahun lebih belum rampung-rampung. Tiba-tiba sudah ditulis, eh ada yang kelupaan. Bongkar lagi. Sudah bab 42 menjadi 44.

Yang sekarang ini saya bikinnya memang lama. Selalu dengan riset. Seperti Paris van Java, itu riset saya tentang Bandung tahun 1926. Saya hafal kota itu, tapi saya harus riset bagaimana tahun 1926-1930 karena cerita dimulai dari Utrecht (Belanda).

Serba bisa

Selain menulis, Remy juga bermain dan menyutradarai teater. Ia juga bermain film dan sinetron, bermain musik. Ia membuat sejumlah karya musikal, termasuk Jesus Christ Super Star. Pada pertengahan 1970-an ia juga pernah merekam lagu-lagu yang ia nyanyikan sendiri lewat kelompok Remy Sylado Company dengan album Folk Rock serta Orexas yang juga menjadi judul novelnya.

Remy menguasai sejumlah bahasa, yaitu Yunani, Ibrani, Arab, dan China. Itu belum termasuk bahasa Jawa dan Sunda, Makassar, Totempoan, Bugis, dan Ambon. Ia memang pernah tinggal di Makassar, Semarang, Solo, dan Bandung

Bagaimana kemampuan bahasa dan menulis itu tumbuh?

Waktu di SMP Domenico Savio (Semarang), saya dapat tugas mengarang. Tulisanku dijadikan contoh di kelas. Tapi waktu itu saya belum tahu arep dadi opo (mau jadi apa). Sama sekali ndak ngerti. Waktu masuk akademi teater di Solo, saya belajar sedikit tentang sastra. Belajar tentang teater Yunani, terus bikin naskah drama.

Kembali ke Semarang, aku ditawari masuk seminari. Aku bilang enggak mau jadi pendeta, tapi mau belajar bahasa Yunani dan Ibrani saja. Dari situ aku mulai suka filologi. Jadi, aku belajar karya Plato dari bahasa Yunani. Nah, mulai dari situ.

Bagaimana Anda bisa multitalenta?

Itu dari kecil, waktu SMP di Semarang, SMA di Solo. Celakanya, tahun 1950-an setelah kita baru merdeka, ada pemikiran budaya waktu itu. Antara lain Amir Pasaribu, orang-orang yang sekolah di Belanda, yang mengatakan harus ada spesialisasi untuk menguasai satu bidang. Mereka lupa bahwa zaman Renaisans adalah zaman Eropa yang menemukan kembali keahlian Yunani klasik yang diperciki sastra, musik, dan teater. Itu satu. Pemikirannya beda-beda, tapi satu. Itu bagian dari kebudayaan.

Leonardo Da Vinci kita tahunya hanya pelukis Monalisa. Padahal, dia termasuk salah satu dari komponis yang menulis opera, tragedi, dan komedi. Dia juga ahli hidrologi dan kedokteran. Kalau kita lihat sejarah China, zaman Dinasti Tang, aktor, penyair, dan pelukis itu semuanya satu. Tapi sejak 1950-an, orang seperti Amir Pasaribu dan JA Dungga mulai bicara tentang spesialisasi. Padahal tidak benar juga.

Pemikiran dasar spesialisasi dari mana?

Tahun 1950-an mereka menganggap orang menjadi paripurna kalau memilih satu bidang saja, karena kebetulan pada saat itu (novelis) Armijn Pane membuat kritik musik. Geram orang-orang musik ini karena bukan orang musik, kok, membuat kritik musik. Padahal tidak salah juga. Kalau dia bisa main musik, apa salahnya. Spesialisasi malah memperkerdil pengetahuan kita. Ada penyair yang merasa dirinya penyair betul, tapi bisanya cuma itu saja. Sutardji bisa nyanyi juga. Sapardi Djoko Damono itu juga main musik juga. Gitaris.

Pengharapan dan penghiburan

Remy mengkritik karya yang, menurut dia, hanya dinikmati oleh penulisnya sendiri, atau setidaknya oleh pengasuh rubriknya. Menurut Remy, tanggung jawab kenabian itu perlu. Semua puisi yang memberikan pengharapan dan penghiburan pasti dibaca. ”Paling enggak, orang sakit diberi kumpulan puisi yang isinya doa supaya cepat sembuh,” katanya.

Remy memberi contoh puisi Nabi Daud, ”Tuhan adalah Gembalaku”, yang dari abad ke abad selalu dibacakan di acara pemakaman film Amerika.

”Kita harus bicara tentang tanggung jawab kenabian di dalam puisi. Jika kita ingin bicara kenapa kita bersastra. Dari awal sejarah, kalau kita baca filologi, dari awal tanggung jawab seperti itu. Dari Yunani dan China. Semuanya berbicara tentang itu. Orang baca mendapat penghiburan dan pengharapan. Puisi sekarang tidak.”

Kalau pada fiksi?

Saya rasa sekarang apa tanggung jawab kita? Memberikan pengharapan kepada orang. Kalau fiksi, lebih enak karena verbal. Kalimat fiksi itu kalimat panjang, naratif semua. Justru harus menjadi pandai mengungkapkan falsafah kita. Kalau puisi, perlu perenungan tersendiri.

Ketika masih menulis puisi bahasa Melayu dengan arab gundul. Semua itu, kan, nasihat. Sekarang enggak. Kita lihat puisi Jawa, misalnya, karya Sunan Kalijaga, Ilir-ilir. Luar biasa itu. Dia bicara tentang suruh sembahyang lima waktu. Sanepan gaya Jawa. Ada sesuatu yang diberikan. Puisi yang sekarang enggak ketemu saya.

Apa yang menyebabkan puisi kita berubah?

Akarnya dari diferensiasi dan spesialisasi tahun 1950-an tadi. Kita mau menjadi diri sendiri. Paham individualisme berkembang. Padahal kita lupa Chairil Anwar masih berbicara tentang itu. Takut sekali orang dibilang hiburan. Padahal saya mau tanya karya Sartre yang merupakan tesis dari eksistensialisme dia, apakah bukan hiburan bagi orang intelektual. Taruhlah karya Les Mots atau Huis Clos, begitu menjadi naskah drama, begitu ditontonkan, menjadi hiburan.

Kalau sekadar senang sendiri, itu bukan hiburan. Menurut saya, hiburan itu bukan dosa. Justru bagaimana membuat karya sastra itu karya yang menghibur. Itu kalau takut disebut hiburan. Walaupun semua sastra yang menjadi sastra teater pada hakikatnya adalah hiburan, karena begitu ada sepuluh orang yang datang duduk di gedung teater itu dalam rangka mencari penghiburan.

Orang Indonesia belum ada yang meraih Nobel Sastra sebagai ukuran pencapaian di bidang sastra?

Orang Indonesia baru bebas buta huruf, tapi belum bebas membaca. Ada uang, tapi belum bebas membaca semua hal yang berbeda pikiran. Orang tidak suka pada sesuatu, dia membuat peraturan, lalu menyalurkan frustrasi ke banyak orang.

Tapi pertanyaannya apakah awam mendapat sesuatu dari fiksi Indonesia. Kenapa bisa orang intelektual Indonesia tahu karya sastra luar, tapi tidak Indonesia. Pasti ada sesuatu yang salah dengan sastra Indonesia. Dapatkah sastra Indonesia memberikan sesuatu kepada pembaca. Minimal dua, pengharapan dan penghiburan.

Nakal, tapi Konsekuen

Dua Jembatan: Mirabeau & Asemka

Mengapa orang mau dengar Apollinaire

Yang berkisah tentang kebohongan dunia

Et Sous le pont Mirabeau coule la Seine

Et nous amours

?

Mengapa tak mau dengar Remyfasolasido

Yang berkisah tentang kejujuran dunia

Ning ngisore kretek Asemka iku

Akeh umbele Cino

?

Kutipan di atas adalah salah satu puisi mbeling ala Remy Sylado yang dimuat di majalah Aktuil pada paruh kedua era 1970-an. Lewat rubrik cerpen dan Puisi Mbeling, Remy mengajak pembaca untuk berkenalan dan mengapresiasi sastra.

”Saya bikin rubrik cerpen dan yang pertama dimuat itu cerpennya Sutardji (Calzoum Bachri). Setelah itu, Arswendo, Putu Wijaya, dan Abdul Hadi (WM) pada ngirim,” kata Remy.

Aktuil yang didirikan Denny Sabri, Toto Rahardjo, dan Sony Soeryatmadja adalah majalah hiburan yang didominasi musik. Remy bergabung dengan majalah Aktuil tahun 1970. Majalah yang dapur redaksinya berada di Jalan Lengkong Kecil 41, Bandung, itu mempunyai pengaruh besar pada apresiasi sastra di kalangan remaja pada era 1972-1975, masa-masa ketika Remy mengasuh rubrik cerpen dan Puisi Mbeling.

Ia ingin merangsang kaum muda bersastra. Pada edisi awal, Remy memuat dua puisi karyanya sendiri, plus lagu dari Marc Bolan dan John Lennon. Setelah itu berdatanganlah puisi dari penulis-penulis muda.

”Aku merasa bersastra kok jadi seperti onani. Orang menulis dan mereka sendiri yang membaca. Kenapa kita yang menulis dan orang lain yang membaca,” kata Remy mengkritik majalah sastra yang terkesan ”angker”.

”Saya merangsang orang menulis. Saya mengingatkan bahwa menulis itu gampang, main-main. Dan orang mulai berani bergurau. Anak muda bangsa Seno (Gumira Ajidarma), Noorca (Massardi) mengirim tulisan.” Remy juga menyebut nama Mustofa Bisri sebagai salah satu pengirim tulisan, dengan nama samaran.

Mbeling diambil dari bahasa gaul Jawa yang artinya ’nakal, bengal, jahil’. ”Mbeling itu tidak ada bahasa Indonesianya. Jawa banget. Dan itu sekaligus merupakan reaksiku terhadap Rendra yang mengatakan bahwa untuk membongkar tatanan budaya yang mapan harus dengan sikap urakan.”

”Aku bilang elek urakan itu. Yang bagus itu mbeling: nakal, tapi sembada (konsekuen). Anak-anak yang pengin nakal itu terus pindah ke Aktuil.”

Kliping: Kompas, 22 Juli 2012

Irwan Bajang: Gerakan Buku Indienesia

Disalin dari #Twitteriak Season 3 Eps. 25. #Twitteriak adalah obrolan seru di ranah twitter produksi Scriptozoid! yang hadir setiap Selasa siang bersama penulis, editor, ilustrator, penerjemah, penerbit, dengan topik-topik di seputar buku, sosial dan sejarah.

SEJARAH pergerakan bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari buku-buku “indie”. Apa maksudnya? Sementara mesin-mesin cetak dari kelompok penerbitan bermodal bekerja memproduksi buku-buku laris, ternyata ada segelintir kelompok yang dengan sengaja menerbitkan buku-buku dengan maksud yang bertolak-belakang dari misi para penerbit bermodal. Mereka hadir, ternyata bukan hanya hari ini saja, tetapi merasuk jauh ke masa-masa sebelum Indonesia mewujud.

Pada kurun waktu 1920-1926 terjadi banjir buku-buku “indie” ini yang mendapat sebutan “bacaan liar”. “Bacaan liar” ini hadir sebagai oposisi untuk melawan dominasi penerbitan barang-cetakan yang diproduksi oleh Balai Poestaka (BP). C.W. Watson (1971, 1982) dalam kajiannya tentang “bacaan liar” menunjukkan “bacaan liar” yang diproduksi oleh kaum nasionalis radikal dalam bentuk novel secara sadar atau tidak sadar merupakan ekspresi perlawanan terhadap ketimpangan kebudayaan. Semisal Raden Darsono yang melakukan perang suara (perang pena) dengan Abdoel Moeis dalam novel berjudul “Moeis telah mendjadi Boedak Setan Oeang” atau karya Darsono lainnya yang menentang peraturan kolonial yang berjudul “Pengadilan Panah Beratjun.” Tak lupa karya Semaoen berjudul “Hikayat Kadiroen”, serta “Student Hidjo” karya Mas Marco Kartodikromo.

Kemudian, karya-karya “bacaan liar” ini ditandai oleh agitasinya dan kemampuannya merebut hati pembaca menggunakan bahasa Melayu pasar untuk membibitkan kesadaran kolektif kebangsaan. Balai Pustaka di lain pihak, berada di posisi penerbit bermodal yang melakukan perang wacana tentang bacaan yang baik. Balai Pustaka menerapkan bahasa Melayu tinggi untuk semua karya tulisannya dan menyuburkan cerita-cerita roman percintaan. Standar bahasa ini “dibakukan” Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim pada 1901. Hasil pembakuan itu dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen. Kepada buku-buku liar, Balai Pustaka menyebut karya-karya itu menggunakan “Bahasa Melayu Rendah”, “Bahasa Melayu Gado-Gado”, “Bahasa Melayu Kacau”, dan sebagainya.

Ada banyak nama yang hadir saat menyebut bacaan liar. Seperti Tirto Adhi Soerjo, penulis yang dengan sadar memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi di Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia. Tokoh ini pula yang menyatakan pendapat ketaksetujuannya ketika pemerintah mendirikan BP pertama kali. Menurut Tirto, kenapa dana itu tak diberikan kepada rakyat saja untuk mengongkosi bacaan mana yang mereka butuhkan dalam kehidupan.

Apa yang dilakukan Tirto mendorong pribadi-pribadi lain mengikuti jalan “bacaan liar” ini, seperti Soeardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Tjokroaminoto, Abdul Muis, Mas Marco Kartodikromo, Misbach, Soerjopranoto, Abdul Muis, Semaoen, Darsono, dan aktivis pergerakan lainnya. Mereka semua menghasilkan bacaan-bacaan populer yang terutama ditujukan untuk mendidik bumiputra yang miskin (kromo). Bacaan-bacaan yang mereka hasilkan merupakan ajakan untuk mengobati badan bangsanya yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan ilmu dan pengetahuan. Bacaan itu juga membeberkan pemahaman dan kesadaran politik kekuasaan kolonial.

Soal harga pun dibuat bersaing dengan harga bacaan BP. Harganya rata-rata di atas f.0,30,- dan bahkan untuk Sjair Internationale yang diterjemahkan oleh Soeardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada 1921 menjadi Darah Ra’jat, dijual dengan harga f. 0,15. Jelas harga yang murah merupakan kesengajaan dari para penulis dan penerbit buku-buku “bacaan liar” agar bisa bersaing dengan BP. Dalam hal distribusi bacaan, pesan-pesan penerbit “bacaan liar” lebih dapat diterima oleh para pembaca.

Kemudian bacaan liar ini berevolusi dan kemudian kita mengenalnya dengan sebutan “buku indie”. Mengaku dipengaruhi oleh semangat gerakan ‘underground’ yang menyempal atau melawan hegemoni budaya mapan seperti industri kapitalisme, media, budaya pabrik, dan politik negara. semangat menyempal ini diterjemahkan dengan membangun kreativitas, sikap independen, dan sikap otonom. Caranya dengan membangun semuanya secara mandiri. Jumlah mereka yang melakukannya dari tahun ke tahun bertambah banyak dan perlu untuk dipetakan.

Itulah sebabnya, sebagai pembuka Season 3 obrolan #Twitteriak bertema “Wajah Indonesia dalam Dunia Menulis dan Membaca”, secara khusus kami bahas topik “Buku Indienesia”, yaitu mencari wajah Indonesia dalam buku-buku indie dengan menghadirkan Irwan Bajang, penggagas penerbitan independen Indie Book Corner di Yogyakarta.

Irwan “Bajang” Firmansyah adalah pria kelahiran Aik Anyar, Lombok Timur, tahun 1987. Minatnya terjun ke penerbitan buku indie dimulai sejak 9 September 2009 bersama Anindra Saraswati. Irwan lebih nyaman menyebut Indie Book Corner bukan sebagai penerbit, tapi sebuah gerakan perbukuan. Cara kerja penerbitan buku indie berbeda dengan penerbit besar, begitu juga soal royalti penulis. Gagasan buku indie ini adalah refleksi saat Irwan sulit menerbitkan buku kumpulan puisi tahun 2006.

Setiap tahun, Irwan lewat Indie Book Corner semakin banyak menerbitkan buku indie. Maka untuk tahu lebih banyak mengenai jalur buku indie, yuk simak obrolan seru bersama Irwan Bajang berikut ini!

#Twitteriak: Kita kenal film indie, musik indie, tapi buku indie apa definisinya? Bedanya apa dengan buku2 lain?
Irwan Bajang: Buku Indie adalah buku yang dibuat sendiri, tanpa melalui penerbit tapi dengan usaha sendiri penulisnya . Jadi buku indie adalah tulisan yang diusahakan sendiri menjadi buku oleh penulisnya.

#Twitteriak: Apa syarat-syaratnya buku diterbitkan secara indie?
Irwan Bajang: Syarat pertama adalah tulisan tersebut harus selesai :) Baru naskah bisa didiskusikan dengan editor, desainer dll‪. Nah, dengan diskusi bareng editor, layouter n desainer, mk penulis bs tahu potensi bukunya, berapa ukuran, tebal dll

#Twitteriak: Apakah buku indie sama artinya dengan self publishing? Cerita sukses buku model DIY ini ada gak?
Irwan Bajang: Mungkin sama ya dengan self publish, hanya saja di model buku indie, penulis bebas kolaburasi dengan siapa aja. Keduanya sama-sama mencari celah dalam produksi Print on Demand (POD) yang memungkinkan buku bisa diproduksi dalam jumlah terbatas. Dan keduanya mungkin adalah cara lain menerbitkan buku di luar jalur penerbit konvensional.s

#Twitteriak: Apa keterbatasan buku indie? Apa juga kelebihannya?
Irwan Bajang: Penulis bisa terlibat dalam segalanya, tentu dengan pertimbangan diskusi & masukan dari editor, desainer dan tim lain :) Sebab itulah produksi buku gak harus banyak, buku diproduksi sesuai dana aja. Dipasarkan, lalu cetak ulang lagi. Jadi jangan pernah jadi patokan bahwa buku harus dicetak masal 1000 atau 3000 tapi bisa aja cuma 10 atau 50 eks.

#Twitteriak: Seberapa besar kepercayaan Irwan buku indie ini akan berhasil diterima masyarakat?
Irwan Bajang: Saya sangat percaya, bahkan ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita udah gak butuh penerbit lagi :) Penulis gak harus hanya nulis, tapi belajar atau berjejaringlah dgn komponen pekerja buku lainnya (editor dll).

#Twitteriak: Seorang Dewi Lestari pada akhirnya menerbitkan buku-buku di penerbit besar. Apa pendapat Irwan soal ini?
Irwan Bajang: Dewi Lestari adalah contoh awal penulis indie, mungkin setelah pembacanya meluas, makin banyak, Dee butuh kru yang lebih solid. Dibutuhkan jejaring yang lebih banyak lagi, agar tenaga penulis tidak habis karena merangkap penjual. (Dalam skala besar). Ketika besar, penulis gak bisa lagi berbuat seperti ketika bukunya hanya beberapa eks.

#Twitteriak: Pernahkah buku-buku yang diterbitkan secara indie ini dipandang sebelah mata?
Irwan Bajang: Sering, ingat buku yang diterbitkan di luar karena ditolak penerbit dalam negeri? Lalu muncul polemik karena buku itu indie. Buku indie sering dipandang remeh karena katanya gak ada pertimbangan dan penyaringan naskah…. Padahal kalo diedit, didesain dengan sangat mendalam, gak ada bedanya dengan buku-buku dari penerbit besar. Semua buku kalo melalui prosedur yang lengkap, indie atau tidak indie akan sama aja kualitasnya.

#Twitteriak: Banyak yang bilang buku indie lemah di editing dan pemasaran. Benarkah begitu?
Irwan Bajang: Buku indie yang asal-asalan akan lemah, demikian juga dengan penerbit konvensional yang asal-asalan. Makanya diperlukan ketekunan dan keseriusan juga kerjasama dengan editor, atau mungkin manajer pemasaran juga. Intinya, buku, meskipun indie harus dikerjakan serius dan bertanggung jawab. Biar penulis dan bukunya bermartabat.

#Twitteriak: Sudah berapa banyak penulis yang menerbitkan buku indie lewat Irwan? Dan seperti apa kisahnya?
Irwan Bajang: Sampai sekarang (2,5 tahun) ada 150 judul lebih kami bantu terbitkan. Beberapa cetak ulang dan bukunya banyak dikenal orang. Beberapa memang pasarnya sempit, jadi hanya beredar terbatas. Tiap-tiap penulis punya niat dan ekspektasi yang brbeda tentang bukunya.

#Twitteriak: Jadi pilihan buku indie apa bisa dibilang hanya batu loncatan menuju penerbit besar?
Irwan Bajang:. Harusnya bukan batu loncatan. Sebab indie atau mayor sama aja, pengelolaan aja yang beda. Artinya, dibutuhkan ruang dan manajemen yang lebih rapi aja kalo seorang penulis indie makin produktif‪. Buku indie bukan batu loncat, tapi ‘cara lain’ publikasi dan distribusi buku. Beberapa komponen sama aja. Sebab nggak ada beda kualitas buku indie & mayor, tergantung perlakuan penulisnya pada proses kelahiran buku .‬

#Twitteriak: Cita-cita gerakan @IndieBookCorner yang didirikan Irwan “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Apa maksudnya ya?
Irwan Bajang: Haha, setidaknya kami bisa berkontribusi pada persebaran wacana dari satu penulis ke banyak pembaca. Buku bagus, tapi mungkin gak marketable, jadi ditolak penerbit…. Nah, kami membantu gagasan brilian (yang mungkin gak propasar) itu tersebar luas ke pembaca.

#Twitteriak: Sebetulnya, apa kelemahan utama sistem penerbitan konvensional di mata Irwan?
Irwan Bajang: Kelemahan 1. Tidak bebasnya penulis mengatur sendiri naskahnya, ukuran, cover, oplah dll. Kelemahan 2. Kalau tidak marketable, sebagus apapun gagasan buku, tetap akan ditolak. Kelemahan 3. Meskipun tidak semua penerbit, tapi banyak yang “nakal” pada royalti, laporan dan hak penulis. Kelemahan 4. Penulis tidak akan seenaknya ambil buku, bikin acara kapan dan di mana aja. Sebab kontrol buku tak sepenuhnya di tangan penulis, maka segalanya harus dibawah koordinasi dan kesepakatan. Intinya, dengan buku indie, penulis merdeka ngapa-ngapain aja sama bukunya. Hehehehe. ‪

#Twitteriak: Gerakan indie biasanya gerakan perlawanan. Gimana hubungan Irwan dengan toko-toko buku yang jadi mata rantainya? ‪
Irwan Bajang: Meski tidak berdandan Punk, hati saya Punk! Haha. Saya banyak belajar dr tradisi Zine anak-anak Punk :) Sejak kecil saya terobsesi membuat sendiri buku dari tulisan saya, saya jilid-jilid sendiri. Kayak Zine-zine Punk. Nah, di Jogja kan banyak skali aktivis buku, jadi saya banyak belajar dari mereka, dan berkenalan dengan dunia buku. Tradisi publikasi mandiri juga banyak dilakukan anak-anak pers mahasiswa di kampus. Spirit itu aja yang saya kembangkan.

#Twitteriak: Agar gagasan buku indie ini semakin membesar, apa saja yang sudah dilakukan Irwan?
Irwan Bajang: Mengkampanyekannya dengan berbagai cara & media. Socmed, tv, radio, koran dan kami membuat Sekolah Menulis Gratis. Kami bikin Independent School, keliling SMA dan mengajak mereka menulis dan nerbitin buku. Gratis. Selain itu ya saya menulis dan saya menunjukkan bahwa tanpa penerbit pun, saya bisa jadi penulis. Hehehe

#Twitteriak: Dari 150 judul buku indie, buku mana yang seharusnya penting untuk jadi tonggak dunia buku kita?
Irwan Bajang: Wao, pertanyaannya menakutkan. Hmmm. Oke, saya sebut beberapa buku ya :) ‪Pertama, #Agonia‬ buku puisi 2 kota, Jogja-Jember. Menghimpun 50 lebih penyair muda… ‪ke depan akan menjangkau kota-kota lain, dan kelak menjadi ruang komunikasi yang luas bagi banya penulis. ‪#PengantarIlmuPolitik‬ kami terbitkan, tapi bukan Miriam Budiharjo yg selama ini jadi satu-satunya referensi kuliah Fisipol. ‪#RepublikRimba‬ buku ini seperti Animal Farm by Orwel. Penting sebagai kritik berbangsa kita. ‪#JebakanLiberalisasi‬ catatan kritis tentang aset bangsa kita yang banyak digadai ke asing. Mungkin itu hanya beberapa judul dari beberapa buku yang layak dibaca banyak org :) hehehe

#Twitteriak: Gerakan buku indie ini seperti social entreprenuership, jadi kuat aspek sosialnya daripada bisnis. Inikah roh IBC?
Irwan Bajang: Betul sekali. Malahan, intinya kami mau semua penulis bisa paham cara menerbitkan buku…. ‪Nah, kalau semua penulis sudah tau dan bisa menerbitkan sendiri bukunya. Buat apa ada IBC? Bubar juga gak apa2 :) Banyak fakta perbukuan yang dirahasiakan, jadi ayo kita buka dan kita ketahui bersama aja.

#Twitteriak: Apa impian Irwan yang belum terwujud dalam membangun gerakan buku indie ini?
Irwan Bajang: Saya mau semua orang sadar: buku indie itu bukan buku nomer 2. Dan gaya indie itu bukan pelarian, apalagi batu loncat. Kesadaran itu kadang belum muncul, jadi pelaku indie harus PeDe dan yakin juga atas jalan yang ia tempuh :) 1 lagi, saya mau buku itu murah, g boleh mahal, tapi kesejahteraan penulis harus terjamn! Caranya? Itu yang sedang saya cari.

#Twitteriak: Apakah ada niat memperluas @IndieBookCorner ini sehingga tidak hanya di Yogya, tapi juga muncul di seluruh Indonesia? ‪
Irwan Bajang: @IndieBookCorner Berniat sekali memperluas IBC. Di Batam, @bagustianiskndr sudah membuat Freedom Writer jadi jejaring. Buku sudah mudah produksi, murah yang belum. Itu penting untuk membumikan buku biar gak hanya dibaca kelas menengah.

#Twitteriak: Apa impian Irwan pada dunia membaca & menulis di Indonesia? Apalagi menghadapi lesunya perbukuan sekarang ini?
Irwan Bajang: Mirip dengan kendala-kendala tadi ya. Saya maunya harga kertas murah dan buku bisa diproduksi murah, biar makin banyak yang akses. Selama ini buku-buku kita tebal dan mahal. Kalo bisa dipecah jadi kecil-kecil, mungkin daya beli akan naik, pembaca makin banyak. Selain itu, kami mau buat Bank Buku yang menyisihkan dan menampung buku untuk disumbangkan ke pembaca yang kurang mampu.

#Twitteriak: Apakah ada komunitas penerbit indie? Apa peluang terbesar yang dimiliki penerbit buku indie? (Pertanyaan @helvrySINAGA)
Irwan Bajang: peluangnya adalah, kita bisa membuka jejaring penulis dan pembaca yang bisa saling mensupport distribusi buku dan wacana.

#Twitteriak: Pemasaran di toko buku? Penulis Indie, apalagi pemula, punya keterbatasan disini. Apakah IBC bisa distribusikan? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: @indiebookcorner bekerjasama dengan beberapa distributor, buku bisa masuk toko kalo produksi agak banyak. Tapi kalo buku diproduksi terbatas, kita bisa titip di kafe, distro atau jaringan komunitas-komunitas buku :)

#Twitteriak: Dalam web IBC, tersedia layanan promosi. Seberapa jauh layanan promosi @indiebookcorner sebagai jaringan indie? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: @indiebookcorner yang itu sedang dikonsep sama @renggodarsono jadi ke depan akan dibuat dan dibangun jejaring2 lebih serius untuk distribusi terutama promo :)

#Twitteriak: Kalo boleh buka-bukaan, standard cetak satu buku di @IndieBookCorner itu berapa eksmplar? Atau ksepakatan? (Pertanyaan @fiksimetropop)
Irwan Bajang: @IndieBookCorner gak ada standar oplah, berapa aja bisa. Cuma, kalo dikit jatuhnya per buku jadi agak mahal. Nah, tapi kalo produksi dikit dan distribusi non toko buku, kita gak perlu sisihkan rabat buat toko. Jadi kalo dijual pun, tetap masih ada selisih harga dengan biaya produksi :)

#Twitteriak: Menurut analisa @Irwanbajang buku Indie sudah mengambil berapa persen pasar di dunia perbukuan? (Pertanyaan @nabilabudayana)
Irwan Bajang: belum banyak sih ya, tapi punya pasar spesifik. Terutama di komunitas membaca dan menulis :) rencana ke depan, menambah terus jejaring perbukuan untuk kampanye buku indie. selain itu, kami akan membuat promosi audio n video yang bisa diakses dan disaksikan banyak orang :)

#Twitteriak: Secara kuantitas, apakah buku yang diterbitkan jumlahnya sesuai harapan? (Pertanyaan @tezarnet)
Irwan Bajang: bukan sesuai harapan, tapi sesuai kemampuan penulisnya. Keuntungannya, jarang ada retur, segitu cetak, segitu habis :)

#Twitteriak: Gimana perbandingan biaya buku indie sama major label apakah penulis harus keluar duit juga? (Pertanyaan @bukunya)
Irwan Bajang: kalo di major kan gak ada biaya, tapi dapat royalti. Kalo indie, mau gak mau ada biaya, tp semua keuntungan jual ke penulis.

#Twitteriak: Berapa persen yang ditanggung penulis? (Pertanyaan @bukunya)
Irwan Bajang: Bisa semuanya, bisa juga kerjasama 50:50, bisa juga kita cari sponsor bersama untuk pendanaannya :)

#Twitteriak: Apakah buku indie ga ada kewajiban untuk bayar pajak2 yang terkait penerbitan dan distribusi ? :) (Pertanyaan @funkyinyang)
Irwan Bajang: sejauh ini karena produksi dikit jadi gak pernah ada tagihan pajak. Ahahaha

#Twitteriak: Bagaimana dengan hak produksi/ memperbanyak? Siapa pemegang hak produksi untuk buku yang diterbitkan secara indie? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: segala hak apapun ada pada penulis, hak perbanyak, hak distribusi, copyright, dan semuanya :)

#Twitteriak: Pernahkah mas @Irwanbajang menerbitkan tesis/disertasi? (Pertanyaan @helvrySINAGA)
Irwan Bajang: Pernah, ada beberapa.‪ #JebakanLiberalisasi‬ itu tesis juga. Tapi harus dibuat bahasa popular dulu.

#Twitteriak: Kalo bayar sendiri kan berarti semua orang bisa terbitin buku. Lalu kualitas isinya gimana? :D (Pertanyaan @Anneshakka)
Irwan Bajang: Pentingnya editor dan diskusi bersama penulis. Penulis harus sdar juga proses menulis itu panjang.

Demikian obrolan #Twitteriak tentang gerakan buku-buku Indienesia bersama Irwan Bajang. Semoga bermanfaat.

Delima Lestari

delimaMeski puluhan tahun tinggal di Belanda, jiwa Indonesia Delima Lestari Widya Astuti de Wilde Sri tak pernah luntur. Di sana dia berhasil menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi. Sebagian besar bertema tentang Indonesia. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Sidiq Prasetyo yang akhir Juni lalu menemuinya di Belanda.
————————–
Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula Delima Lestari Widya Astuti de Wilde Sri tinggal di Belanda dan kini telah dikaruniai dua anak. Mereka adalah Qalifahsari Dinda Ambarwati, 14, dan Arissaputra Aji Rayendra, 10, hasil pernikahannya dengan pria Belanda, Tom de Wilde.

“Saya sejak 1991 sudah datang ke Belanda. Awalnya, saya mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah,” kata Delima kepada Jawa Pos.

Di sela-sela mengajarkan bahasa Indonesia tersebut, dia memanfaatkannya untuk mendalami bahasa Belanda. Karena sangat menyukai puisi sejak di Indonesia, ketika pindah ke Belanda, kegemaran itu dia lanjutkan. Suatu ketika, perempuan 41 tahun itu tertarik dengan sebuah artikel di internet yang membahas puisi. “Dari situlah saya kemudian tertarik untuk membuat kumpulan puisi dan dikirim lewat dunia maya,” jelas Delima.

Melalui dunia maya itulah, perempuan asal Solo, Jawa Tengah, ini mulai menjalin hubungan dengan para penulis puisi. Kebanyakan adalah penulis puisi dari Indonesia. Tapi, ada juga penulis puisi dari Malaysia dan Singapura. Dari hasil ngobrol di dunia maya itulah, lantas lahir himpunan puisi berjudul Padang 7,6 Skala Richter pada 2009.

Kumpulan puisi ini lantas diabadikan dalam sebuah buku. “Ini sebagai kepedulian kami, para penulis puisi, akan bencana gempa bumi yang melanda saudara-saudara kita di Padang dan sekitarnya pada saat itu,” terang Delima.

Tahun 2009 memang menjadi tahun kelam bagi Padang. Pada saat itu, tepatnya 30 September 2009, gempa berkekuatan 7,6 skala Richter yang berpusat di 57 km dari Pariaman, Sumatera Barat, memakan banyak korban dan meluluhlantakkan daerah yang dilewatinya. Diberitakan saat itu, jumlah korban luka akibat bencana alam tersebut mencapai 4.151 orang dan 676 orang hilang. Selain itu, 60.156 orang harus mengungsi.

“Saat itu kami berharap, kumpulan puisi yang kami buat bisa membuat Padang dan sekitarnya bangkit dari keterpurukan,” ucap perempuan yang tinggal di Bergen op Zoom tersebut.

Setelah membuat buku kumpulan puisi tentang gempa di Padang, Delima kembali menerbitkan buku puisi. “Judulnya Hawa. Masih tentang kumpulan puisi dan juga buat membantu kemanusiaan,” tambah Delima.

Nah, setelah itu lahirlah buku kumpulan puisi yang ketiga dengan judul Kenang Sebayang. Buku yang dicetak pada 2010 ini memberikan kesan lebih mendalam kepada Delima. “Saya dipercaya sebagai ketuanya,” lanjutnya. Bedanya, bila dibandingkan dengan dua buku kumpulan puisi sebelumnya, semua penulis pada buku ketiga ini berasal dari Indonesia. Pembuatannya pun memakan waktu yang tak sebentar. “Kalau nggak salah, hampir satu tahun. Lamanya waktu ini karena banyaknya animo para pengirim. Ada sekitar 30 penulis,” ungkap Delima.

Bahkan, satu penulis puisi bisa mengirimkan hingga 10 puisi atau lebih. Imbasnya, Delima pun harus selektif untuk menerbitkannya. Dalam Kenang Sebayang, selain dirinya, terdapat nama Ari Oktora, Bibi Cantik, Damai Prasetyo, Daniel Prima, dan Imron Tohari. “Kami juga membuat perjanjian bahwa para pengirim puisi di buku yang akan diterbitkan tersebut tidak dibayar. Perjanjian itu sudah diumumkan di dunia maya dan jejaring sosial,” papar Delima.

Kendala lain, jika ada kesulitan, mereka tak bisa bertemu. Pasalnya, para penulis puisi tersebut berasal dari berbagai daerah. Bahkan, ada yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. “Perbedaan waktu juga sering menjadi masalah. Di Belanda kan waktunya lima jam lebih lambat daripada Indonesia,” paparnya.

Untung, kerja kerasnya tersebut selesai. Bahkan, dia sempat mendatangi peluncuran buku Kenang Sebayang di Jakarta. “Hasil penjualan Kenang Sebayang dipakai untuk membantu beberapa sekolah di Indonesia yang dirasa perlu dibantu. Setahu saya, ada yang di Medan,” kenang perempuan kelahiran 15 September ini.

Dalam waktu dekat Delima juga berencana menerbitkan buku keempat. Saat ini, lanjutnya, prosesnya sudah mendekati akhir. “Tapi, belum berani dikasih judul. Nanti saja kalau sudah jadi,” ungkapnya.

Salah satu penulis puisi di Kenang Sebayang, Nur Hayati, pun memuji kinerja Delima meski dia tak pernah bertatap muka. “Dia selalu mengajak saya berkonsultasi jika ada masalah dalam puisi yang saya kirim. Biasanya, ya lewat dunia maya,” jelas perempuan asal Surabaya tersebut.

Dengan memakai nama Rayung Sekar, dua karya Nur muncul di Kenang Sebayang, yakni Wanita dan Remah Roti serta Belantara Kalbu. Sebenarnya, kesempatan bertemu Delima terjadi pada peluncuran Kenang Sebayang. Sayang, hal itu gagal terlaksana karena dia berhalangan hadir.(c2/kum)

*)JawaPos, 12 Juli 2012

Melanie Subono: Musik, Buku, dan Kepedulian Sosial

Seperti pilihan musiknya— rock—Melanie Subono adalah sosok yang energik dan tak pernah berhenti. Perempuan penyanyi rock Indonesia kelahiran Hamburg, Jerman, ini tidak hanya menarik urat lehernya untuk melengkingkan lagu rock, tetapi juga menjadikan rock sebagai sikap, pola pikir, dan perilaku.

Dia tidak hanya menjadi penyanyi rock dan pencipta lagu, tetapi juga menulis buku. Bukunya yang berjudul OUCH!!! dan Liaison Officer Forever mendapat sambutan baik dari kalangan muda.

Giat bersuara di media sosial, ia punya kepedulian tinggi terhadap masalah sosial. Empatinya tergugah saat mengetahui nasib Imas Tati, buruh migran yang bekerja di Kuwait dan terluka saat berusaha melarikan diri karena terancam diperkosa. Ia menggalang petisi sebagai bentuk solidaritas. Melanie juga ikut mengampanyekan gerakan hak asasi manusia dan jender serta gerakan pembatasan penggunaan kantong plastik demi lingkungan yang lebih baik.

Bagi Melanie, tidak perlu menyalahkan orang lain untuk mencari akar masalah atau memulai sesuatu. Namun, sudah sejauh mana diri sendiri melakukan sesuatu untuk menyelesaikan suatu masalah.

***

Banyak kasus HAM yang menimpa tenaga kerja Indonesia (TKI) di sejumlah negara. Berbagai upaya dilakukan pemerintah, tetapi belum menunjukkan perubahan signifikan. Menurut Anda, apa yang menjadi pokok masalahnya? Bagaimana solusi untuk meminimalkannya? (Samuel Laborsipago, Jakarta)

Kata siapa enggak ada perubahan signifikan? Kata siapa itu harus selalu jadi urusan pemerintah? Menurut saya, semua masalah terjadi karena kita sendiri dan kebetulan hobi kita adalah menunjuk dan mencari pihak lain untuk menjadi penyebab.

Pernahkah kamu ada di keadaan, di mana kamu sebener-nya dirugikan, baik skala besar maupun kecil. Kamu jawab, ”Ah, udahlah enggak usah dibahas daripada nyari ribut.” Nah, siapa yang enggak sadar akan haknya sendiri? Mengapa kita mengharapkan orang membela hak kita?

Apa sich yang membuat Kak Melanie menjadi seorang lady rocker? (Uci, Jakarta)

Waduh, saya enggak tau. Kan, saya, enggak pernah kasih julukan itu kepada diri saya sendiri. Itu orang lain yang selalu ngomong seperti itu selama bertahun-tahun. Mungkin karena gue main musik rock, ya?

Apa faktor yang melandasi Mbak Melanie membuat petisi Imas Tati? (Aan P, Garut)

Pertama gue dari dulu sangat sering aktif di hal-hal yang memang berhubungan dengan hak asasi manusia dan hal yang berhubungan dengan wanita. Sebenarnya petisi itu bukan hanya untuk Imas Tati, melainkan juga menurut saya tidak ada—sekali lagi tidak ada—manusia yang berhak mengeluarkan kalimat yang saat itu dikeluarkan oleh Ketua Satgas TKI atau Pak Marzuki Alie sebelumnya. Sebab, tidak ada manusia yang lebih tinggi, apa pun jabatannya di bumi ini.

Hal kedua adalah karena Imas Tati berbicara kepada gue secara langsung, dan gue akan sangat tidak berperikemanusiaan kalau diam saja.

(Imas Tati adalah tenaga kerja wanita berusia 23 tahun yang kini sulit berjalan. Imas patah tulang di beberapa tempat akibat lari dari majikannya yang hendak melakukan pelecehan seksual. Kepedulian Melanie ibarat disiram bensin saat mendengar komentar dari Ketua Satgas Tenaga Kerja Indonesia Maftuh Basyuni yang menuding berbagai kasus pelecehan seksual yang menimpa TKW disebabkan oleh sikap mereka yang genit, nakal, dan pergaulan bebas. [Kompas, 20 Juni 2012])

Untuk Mbak Melanie Subono yang menginspirasi, kapan waktu terbaik Mbak Melanie untuk menulis, sedangkan kayaknya kegiatan Mbak banyak sekali, ya? Terus, apa yang membuat Mbak Melanie berempati atas permasalahan sosial di masyarakat yang terjadi? (Fitri Al Tigris, Bogor)

Hmm… bukankah sekarang ini semua sudah sangat canggih? Dengan membawa satu handphone dan laptop kita sudah bisa membuat artikel, buku, bahkan merekam lagu, mengedit foto, korespondensi dengan orang-orang dan sejuta kerjaan lain?

Jadi, sebenarnya di mana pun, kapan pun, saat mood itu datang, cukup dengan gadget itu, gue bisa berkarya.

Yang membuat gue empati pada hal sosial? Simpel! Karena gue juga manusia, sama seperti orang yang mengalami dan sama seperti elu. Mengapa gue peduli sama hal-hal bertemakan wanita? Simpel! Karena gue wanita….

Apa sih yang menginspirasi kakak dalam berkarier? Coba kasih satu saja kalimat motivasi yang sangat memberkati kakak. (Indy Mangi, Kupang-NTT)

Hidup ini indah kalau saja kita mau membuka mata kita dan melihat ke arah yang tepat. Kalau kita terus lihat ke orang/hal yang lebih indah atau beruntung, hidup kita pasti merasa sangat buruk. Namun, kalau kita bisa ngeliat ke arah bawah, ke arah hal-hal yang lebih kurang beruntung lagi, elu akan sangat ngerasa beruntung dan semangat dan rasa bersyukur akan muncul dengan sendirinya.

Kedua, semua manusia itu hebat. Tuhan menciptakan semua manusia sama. Semuanya tergantung kita, mau memotivasi diri atau pasrah.

Saya selalu bilang, ”Saya ’tidak’ smart seperti kata orang-orang. Sama sekali tidak. Saya cuma dikasih otak, tenang, kemampuan dan lain-lain dari Tuhan yang kadang-kadang suka saya pakai.

Dari pengalaman Anda sebagai Duta Antinarkoba, mengapa banyak orang terjerembap menjadi pengguna narkoba? Terus, mengapa Indonesia sekarang menjadi pasar narkoba besar, apakah karena hukum terhadap para pengedarnya terlalu ringan? (Dimas, Ciputat, Tangerang Selatan)

Umumnya, mereka hanya karena mencoba. Dunia ini adalah satu lingkaran sebab akibat, mungkin saja penyebabnya adalah kita-kita juga. Tidak jarang ada orang yang akhirnya lari ke hal tersebut hanya karena tidak berani menghadapi kenyataan. Mungkin saja itu datangnya dari satu ucapan kecil dari mulut kita, dan itu menyakitkan, dan secara tidak langsung kita menyebabkan mereka masuk ke dunia itu.

Mengapa Indonesia jadi pasar narkoba terbesar? Ya, karena pembelinya ada. Menurut gue, tidak ada urusannya sama hukum.

Apakah kamu di mobil pake seatbelt cuma karena hukumannya berat? Sama saja, narkoba juga begitu.

Kak Melanie katanya sering menyempatkan diri berkeliling daerah untuk mengajar membaca dan mengajak masyarakat agar gemar membaca. Sebenarnya, apa sih Kak masalahnya, kok minat baca masyarakat kita rendah. Apa karena buku-buku juga mahal? (Satrio Pandawa, Jakarta Pusat)

Heran, mengapa selalu mencari hal lain untuk dipersalahkan? Sekali lagi, kembali pada orangnya. Kalau memang niat membaca, bisa ke tempat sangat murah dan lengkap bernama perpustakaan.

Seberapa sering kamu ke perpustakaan sebelum kamu menanyakan ini?

Ayah Melanie, kan, Adrie Subono, juragan Java Musikindo. Apakah yang sangat memengaruhi Melanie dari Om Adrie, kan, kata orang, apel jatuh tak akan jauh dari pohonya… he-he-he…. (Rara Kinanti, Bojongkoneng, Bandung)

Pengaruh ayah saya ke saya tidak ada hubungannya dengan beliau juragan Java Musikindo. Kamu mau tanya beliau sebagai ayah atau bos saya? Itu dua hal yang beda. Pengaruh Adrie Subono ada pada saya dari saya kecil saat beliau masih seorang businessman, di luar entertainment. Yang sangat memengaruhi saya adalah cara bekerja yang benar. Menghargai waktu dan orang lain serta disiplin.

Sebenarnya apa sih yang kamu kerjakan sebagai anggota Sahabat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia? Sedih juga, ya, kalau ngeliat lingkungan negeri kita tuh udah rusak bener….(Tono Widyanto, Yogyakarta)

Sebelum saya jawab, saya tanya kamu apakah yang sudah kamu kerjakan untuk alam? Siapakah yang merusak? Kita.

Apakah yang merusak itu selalu yang membangun pabrik, limbah, dan lain-lain? Mungkin. Tetapi, itu sama merusaknya dengan kita membuang sampah sembarangan, atau kita menggunakan hairspray, atau kita tidak menanam pohon….

Sebagai sahabat Walhi, gue banyak menjalankan tugas dan sosialisasi kepada orang-orang mengenai kesadaran. Sekarang gue sedang fokus campaign di pengurangan penggunaan plastik.

Namun, sebagai penghuni rumah ”Indonesia”, gue sudah tidak menggunakan plastik. Gue sudah menanam pohon di rumah, tidak menggunakan bahan yang merusak, dan selalu mencoba memberi contoh kepada sekeliling.

Kapan merilis album terbarunya, Mbak? Ada rencana untuk membuat album dengan genre lain gak, misalnya pop ato hiphop? Bikin dong festival ladies rock Indonesia, kayaknya lady rocker Indonesia kalah pamor, ya, ama rocker-rocker cowoknya… he-he-he…. (Ian Keliek Jovi, Klaten, Jateng)

Album baru Januari kemarin. Kamu belum jadi anggota Sahabat Melanie, ya? Silakan buka www.melaniesubono.com. Di situ bisa kamu unduh album terakhir gue. Gratis.

Soal album dengan genre lain? Nope! Rock adalah napas saya.

Apa arti sebuah keluarga buat Melanie? Dari mana kamu mendapatkan energi terbesarmu untuk menjalani kehidupanmu…. Keep on rock, ya, jeng! (Dudi Sugandhi, Cijagra, Bandung)

Keluarga? Keluarga saya (orangtua, suami, kakak-adik, dan lain-lain) adalah urat nadi saya. Yesus adalah pelindung saya dan Indonesia adalah rumah saya

Yang memberi energi terbesar? Pada saat saya down, capek, lelah, kalah, dan saya sadar saya punya tiga hal di atas.

Menurutmu, bagaimana sih sebenernya sikap pemerintah itu? Kok, nasib TKI kita di negeri orang tak reda dirundung malang. (Ditya, Depok)

Tidak selalu. Ada sisi di mana pemerintah kita emang gebleg, tetapi ada juga kok kasus-kasus yang memang akhirnya selesai dan dibantu.

Sekali lagi saya tanya balik: Apakah yang sudah kamu lakukan untuk saudara-saudara TKI kita?

Bagaimana cara seorang Melanie Subono untuk mengejar passion-nya? Kasih dong saran-saran buat teman-teman di luar sana untuk mengejar passion-nya masing-masing. Thank you! (Devananta Rizqi Rafiq, Yogyakarta)

Kalau kamu menemukan hal yang kamu anggap passion kamu, otomatis kamu akan mengejarnya. Kalau tidak, ya udah jelas, itu bukan passion kamu. Carilah dahulu arti kata passion.

Industri musik Indonesia pernah diramaikan oleh munculnya sejumlah lady rocker berkualitas, seperti Nicky Astria, Anggun C Sasmi, Mel Shandy, dan Atiek CB. Menurut Anda, bagaimana caranya agar fenomena bagus seperti ini bisa terulang kembali? Siapa lady rocker yang menjadi panutan Anda? (Harrys Simanungkali, Jakarta)

Nah, itu dia, saya juga bingung. Sampai sekarang, 6-7 tahun belakangan ini, solo rock cewek saya doang isinya. Saya sangat menanti cewek-cewek lain untuk bergabung.

Anyway, kalau nanti udah waktunya, juga akan datang dengan sendirinya, kok. Kalau fenomena itu harus di-setting atau dibuat, apa bedanya kita dengan yang lain?

Dalam konsep Mbak Melanie, bahagia itu apa? Apakah Mbak pernah merasa terpuruk? Makasih, ya, sukses selalu? (Rosa Ermawar, Klaten, Jawa Tengah)

Saya belum punya sayap: masih makan nasi, masih napas. Mau nabi sekalipun, akan punya perasaan itu selama hidup?

Sebenarnya simpel saja, bahagia adalah bersyukur dengan yang ada, semangat. Liat sekeliling kita. Tentukan mimpi, kalau gagal, ya, kejar lagi, nikmati setiap emosi yang ada….

Hmm… satu lagi sih, mimpi saya he-he-he… udah dua taun enggak kesampean pengen banget foto dan nyanyi ama Faank Wali…. Anyone? *ngumpet*

Halo Mbak Melanie, apa suka dan duka Mbak menjadi seorang LO? Request terunik apa yang pernah Mbak Melanie temukan ketika menjadi seorang LO dari para artis asing yang Mbak Melanie datangkan ke sini? (Prawatya EP, Jatibening Baru, Bekasi)

Kalau diceritakan suka duka enggak akan pernah muat ditulis di sini. Karena itu artinya ngomongin pengalaman puluhan tahun. Buat gue, setiap ”majikan” yang dateng itu semua unik dan beda. Kalau soal request paling unik, mungkin yang terjadi adalah gue udah kelamaan kerja gini dan gak ada yang ngagetin gue lagi. Jadi, jarang ada yang gue bilang aneh.

Sumber: Kompas, 17 Juli 2012, hlm 33, “Hidup Ini Indah kalau Kita Membuka Mata”

Aan Ratmanto:Menemukan Sejarah yang Hilang

Thomas Pudjo Widijanto

Kawasan Shopping Center, Yogyakarta, bukan sekadar tempat penjualan buku-buku loak alias bekas. Mereka yang beruntung bisa menemukan buku-buku lama yang bagi pembelinya merupakan ”emas”. Buku yang menjadi referensi keilmuan.

Di sisi lain, tempat ini juga menjajakan ribuan skripsi karya mahasiswa dari hampir semua perguruan tinggi di Yogyakarta. Bahkan, disertasi pun ada di sini. Sulit menjawab mengapa karya ilmiah itu ada di sini. Beberapa pedagang buku pun bercerita, ada saja mahasiswa yang membuat skripsi dengan ”membeli” karya skripsi yang diperdagangkan itu.

Pada titik inilah contek-mencontek karya ilmiah terjadi. Bahkan, Universitas Gadjah Mada pernah mendiskualifikasi tesis seorang kandidat doktor karena kasus mencontek. Inilah tragedi keilmiahan. Orang bisa lulus cepat meski dengan ”kriminalisasi intelektual”, menjiplak karya orang lain.

Adalah Aan Ratmanto, kala itu tahun 2009, sedang mempersiapkan skripsi untuk S-1 Jurusan Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk mewujudkan skripsi yang menyoroti soal tentara Wirkres III pada masa pergolakan kemerdekaan di Yogyakarta, ia mencari literatur dengan masuk-keluar perpustakaan.

Ketika sedang asyik mencari buku-buku di Perpustakaan Museum Kodam IV/Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Aan melihat dua bendel dokumen yang membuatnya terkesima. Di sini, ia menemukan fakta, pada 1 Mei sampai 30 Juli 1949—saat pemerintahan Republik Indonesia berada di Yogyakarta—ada pemerintahan transisi yang dipegang langsung oleh Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) atas mandat Presiden Soekarno. Saat itu, Bung Karno dan Bung Hatta dalam pengasingan di Menumbing, Bangka.

”Ini informasi sejarah baru,” kata Aan. Untuk menguatkan dugaan itu, ia semakin dalam menyuruk dari perpustakaan ke perpustakaan mencari literatur sejarah yang berkaitan dengan kedua dokumen tersebut.

”Dua tahun lebih saya mencari-cari, tetapi belum menemukan buku yang secara tegas menceritakan adanya pemerintahan transisi Republik Indonesia di Yogyakarta pada masa perjuangan kemerdekaan. Artinya, banyak orang belum tahu bagian sejarah masa perjuangan kemerdekaan,” katanya.

Membuat buku

Dari temuan dokumen itu, ia lantas berpikir untuk menjadikannya sebagai buku. ”Di sini ada missing link, ada sejarah yang hilang dalam perjuangan kemerdekaan RI, khususnya saat ibu kota RI berada di Yogyakarta,” ujarnya.

Dari studi pustaka selama lebih dari dua tahun, Aan mampu menyelesaikan karyanya mengenai dokumen sejarah itu. Namun, mencari penerbit bukan hal mudah. Empat penerbit besar di Yogyakarta tak bersedia menerbitkan karyanya.

”Bahkan, ada penerbit yang menganggap tak ada hal baru di sini,” katanya.

Sampai seorang teman memperkenalkan dia kepada pemilik Penerbit Matapadi, yang tak begitu besar, tetapi mengkhususkan penerbitannya pada karya sejarah dan kemiliteran. Buku itu diberi judul Mengawal Transisi: Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Pemerintahan Transisi Republik Indonesia Yogyakarta 1949.

”Begitu buku itu terbit, Widihasto, Ketua Sekretariat Bersama Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, mau meluncurkannya. Setidaknya ada masyarakat yang mendengar, ada sejarah lain di bumi Yogyakarta,” ujar Aan tentang peluncuran bukunya, awal Juli lalu.

Ia lalu bercerita, pada periode 1 Mei-30 Juli 1949, ibu kota RI berada di Yogyakarta. HB IX pernah mengeluarkan pernyataan proklamasi menandai penyerahan kedaulatan RI dari tangan Belanda, sekaligus penarikan pasukan Belanda dari Yogyakarta.

Saat itu adalah masa pemerintahan transisi, dan HB IX mendapat mandat menjalankan roda pemerintahan dari Bung Karno yang sedang berada di tempat pembuangan.

Beberapa waktu setelah ibu kota pemerintahan RI dipindahkan ke Yogyakarta, Bung Karno, Bung Hatta, dan beberapa pemimpin lain diasingkan ke Bangka, tetapi pemerintahan tak kosong. Bersama Paku Alam VIII, HB IX menjaga keamanan Yogyakarta sebagai ibu kota negara. Untuk menjaga keamanan Yogyakarta, HB IX mengadakan serangan terhadap Belanda, yang kemudian dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949.

Dampaknya, selain membuka perhatian dunia, serangan itu pun mendorong Bung Karno menyerahkan pemerintahan RI untuk sementara ke tangan HB IX. Penyerahan itu ditandai surat penetapan yang ditandatangani Presiden Soekarno dari pengasingan, tertanggal 1 Mei 1949.

Penyerahan inilah yang disebut Aan sebagai masa transisi, sampai HB IX menyerahkan kembali kepada Bung Karno pada 30 Juli 1949.

Lebih lanjut, Aan mengatakan, selama menjalankan tugasnya sebagai pemimpin pemerintahan transisi, HB IX telah mengeluarkan 42 kebijakan, baik berupa peraturan, maklumat, instruksi, maupun pengumuman.

Hasil penting yang dicapai pada masa itu adalah peristiwa penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta. ”Secara berturut-turut Sultan HB IX memberi jadwal penarikan itu, mulai 24 Juni sampai 30 Juni 1949. Jadwalnya tersusun rapi dan dilaksanakan sesuai jadwal itu,” tuturnya.

Pada hari akhir penarikan, HB IX membuat teks proklamasi, yang inti isinya antara lain menyebutkan, dirinya ditunjuk Bung Karno untuk menyelesaikan semua persoalan yang menyangkut pengembalian pemerintahan RI dari tangan Belanda, berikut penarikan pasukan keluar dari Yogyakarta.

Dalam proklamasi itu juga disebutkan, HB IX segera mengembalikan kekuasaan kepada Pemerintah RI yang sah jika situasi sudah memungkinkan.

”Tutur Tinular”

Aan Ratmanto bisa menjadi contoh sosok akademisi muda yang tidak terlibat arus pendidikan instan. Bukan termasuk mereka yang berharap lulus sarjana atau pascasarjana secara cepat meskipun terkadang menggunakan segala cara. Pencarian ilmu yang ditekuninya telah melahirkan catatan baru sejarah Indonesia.

Aan mengaku sejak masih kanak-kanak sudah tertarik pada sejarah. ”Waktu itu, saya sering mendengarkan sandiwara radio berlakon Tutur Tinular. Itu sandiwara yang mengisahkan sejarah Majapahit. Hasilnya, ketika ada tes (pelajaran) Sejarah, saya langsung bisa menjawab tanpa belajar lagi dari buku,” ungkapnya.

Aan mencontohkan, kisah tentang siapa sebenarnya Raja Tumapel dia dapatkan dari sandiwara radio. ”Informasi tentang Raja Tumapel saya dengar dari radio, bukan dari buku sejarah,” ujarnya.

Ketertarikannya pada sejarah juga mendapat dukungan dari sang ayah, seorang seniman ketoprak tradisional. ”Lakon dalam ketoprak itu, hampir semua ceritanya mengangkat epos sejarah. Sering berdiskusi dengan Bapak makin mendorong saya mencintai sejarah,” katanya.

*)Kompas, 11 Juli 2011

Moeslim Abdurrahman, Obituari Penulis Buku "Islam Transformatif"

Oleh Muhammad AS Hikam

Kang Moeslim Abdurrahman, bagi saya, adalah sosok multi-talenta. Ia bukan saja seorang penulis, peneliti, aktivis LSM, dosen, politisi, tetapi juga seorang yang penuh humor dan canda.

Sebelum mengenal almarhum face to face, secara intelektual saya sudah diperkenalkan oleh almaghfurlah Gus Dur beberapa tahun sebelumnya. Sering dalam obrolan di PBNU atau dalam perjalanan kluyuran bersama almaghfurlah dan Pak Ghofar Rahman (mantan Sekjen PBNU dan aktivis LSM juga), nama Kang Moeslim muncul dengan kekocakannya yang brilian. Bahwa Kang Moeslim adalah seorang intelektual Islam yang berlatarbelakang Muhammadiyah, tidak menjadi masalah bagi Gus Dur seperti juga intelektual dengan latar belakang lain. Maka sebelum saya bertemu Kang Moeslim di kampus Cornell University Ithaca, NY pada 1994 -kalau tak keliru, saya sudah mengagumi dan menjadikannya sebagai salah satu figur intelektual yang harus saya timba kawruh dan pengalamannya.

Dan memang tidak keliru. Bersama almaghfurlah Gus Dur, almarhum Cak Nurcholish Majid, almarhum Romo Mangunwijaya, almarhum Aswab Mahasin, Pak Djohan Effendi, Pak Chabib Chirzin dan beberapa nama cendekiawan dan aktivis senior lain, saya kira almarhum Kang Moeslim adalah salah satu “hero” dalam kehidupan kecendikiawanan saya. Kendati tak selalu sependapat dengan pandangan dan langkah-langkah politik almarhum, tapi toh tak menghalangi saya untuk selalu berusaha mengikuti perkembangan pemikirannya sampai detik terakhir.

Saya bertemu terakhir dengan almarhum saat Pak Hendroprijono mengadakan pesta ulang tahun dan peluncuran buku awal Mei 2012 lalu di Hotel Dharmawangsa. Waktu itu saya lihat beliau masih seperti biasa: ceria dan penuh canda dengan tampilan khasnya yang sangat sederhana untuk ukuran seorang cendekiawan kaliber internasional.

Kang Moeslim adalah figur cendekiawan hibrid, seperti juga Gus Dur almaghfurlah. Dia tidak merasa terlalu silau sebagai seorang doktor lulusan salah satu universitas terkemuka di AS, yakni University of Illinois at Urbana-Champaign. Sosok Kang Moselim selalu mengingatkan saya kepada sosok Asghar Ali Engineer, cendekiawan Muslim dari India yang sangat sederhana, kocak, dan brilliant, yang juga karib dari almaghfurlah Gus Dur.

Buat Kang Moeslim tidak ada hal yang tidak bisa dibahas secara mendalam dan non konvensional. Mirip almarhum Ahmad Wahib yang juga karib Pak Djohan Effendi, Kang Moeslim tak segan atau menghindar dari kontroversi kendatipun harus beresiko terhadap kehidupannya. Jarang seorang cendekiawan yang guyonnnya agak “kurang ajar” di hadapan Gus Dur, dan rasanya almaghfurlah pun selalu ngakak bila di sekitarnya ada beliau.

Kang Moeslim adalah cendekiawan muslim avant garde, yang pikirannya tak mau dihalangi batas-batas aliran dan benua. Seorang jebolan pesantren kampung tetapi juga mampu bicara dalam seluruh fora dunia tentang masalah-masalah keislaman yang terjait dengan kemiskinan, kesalehan beragama, dan trensformasi umat beragama termasuk Islam. Ia memang asli Muhammadiyah tetapi sangat dekat dengan NU karena beliau share dengan terobosan yang diupayakan Gus Dur almaghfurlah.

Kang Moselim juga mengakrabi para kampiun cendekiawan seperti Romo Mangun, dan Bu Gedong dari Bali karena kesamaan obsesi mereka dengan pendidikan dan menyantuni kaum miskin. Sama dengan almarhum Gus Dur, almarhum Ibu Gedong dan almarhum Romo Mangun, Kang Moeslim juga sangat mengagumi Paolo Freire yang model pendidikannya berupa membebaskan kaum miskin dari jebakan struktural dan model pendidikan elietis yang memantapakan struktur penindasan atas nama ilmu pengetahuan!

Saya sangat berhutang budi kepada Kang Moeslim karena kecermatannya dalam mengupas masalah dan kesederhanaan dalam hidup. Saya kehilangan salah satu figur cendekiawan setelah Gus Dur yang mampu membongkar urusan yang kompleks menjadi cukup sederhana tanpa pretensi keilmuan yang ndakik-ndakik. Kang Moeslim yang saya kenal adalah seorang cendekiawan yang membumi, dan seorang yang membumi dengan tuntunan kecendekiaan. Kang Moeslim, saya teramat kehilangan anda. Selamat jalan Kang, salam hormat saya untuk almaghfurlah Gus Dur. Insya Allah anda berdua akan bertemu dan guyon lagi dalam keabadian.

Muhammad AS Hikam, Penulis adalah mantan Menristek era Presiden Gus Dur, Wakil Rektor President University

Sumber: rmol.co, 9 Juli 2012, “Gus Dur Selalu Ngakak Bila Ada Kang Moeslim”

Ineke Turangan: Buku Kreasi Janur

Janur, tiga kuntum anggrek, dan serumpun setaria itu menjelma menjadi seperti gunungan, perlambang bumi dan segala makhluk hidup penghuninya dalam pewayangan Jawa. Dengan irisan dan lipatan lain, janur pun menjelma jadi sriti, burung-burung kecil yang bersukaria terbang dalam kawanannya.

Teresa Maria Ineke Turangan (48) merangkai aneka bentuk janur—dan sisipan bunga—lalu memuat model-model rangkaian itu dalam buku Janur, Introducing Tradition into Modern Style. Buku dalam dua bahasa ini ia luncurkan setahun lalu. ”Lebih banyak pembaca dari luar negeri yang antusias menyambut daripada di negeri kita sendiri,” ujarnya.

Ineke bukan sekadar menulis buku. Ia juga mendirikan dan mengelola Newline Floral Education Center sejak tahun 2003. Di sekolah itu, ia mengajarkan teknik melipat, mengiris/memotong, dan menganyam janur menjadi rangkaian cantik dan bentuk karya seni.

Tidak cukup sampai di situ, janur juga materi flora yang selalu ia promosikan dengan bangga sebagai kekayaan tradisi Indonesia dalam berbagai forum demo dan ekshibisi di berbagai negara. Saat ini, Ineke aktif sebagai anggota beberapa asosiasi desainer bunga internasional. Itulah profesi yang ia lakoni: desainer bunga dan pengajar seni merangkai bunga.

Berbeda dengan penjual bunga (florist), desainer bunga atau floral designer mendesain segala sesuatu yang berhubungan dengan bunga ataupun materi flora lainnya, seperti daun, akar, sulur, dan batang. Seorang desainer membuat suatu rangkaian flora—termasuk bunga, mendesain dekorasi ruang atau gedung dengan materi flora, dan menciptakan tren.

Sebagai desainer bunga, selama 12 tahun terakhir, Ineke adalah koordinator dan desainer keseluruhan penataan bunga di Istana Negara dan Istana Merdeka pada setiap peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus.

Ia akrab dengan aneka jenis flora yang juga ia manfaatkan dalam karyanya. Namun, janur—daun muda dari pohon kelapa—menempati posisi khusus di hati Ineke.

”Saya sebel jauh-jauh ke Jerman, belajar macam-macam teknik jalinan, eh, di sana bahannya cuma rumput,” ujarnya menuturkan saat awal ia mendalami salah satu teknik merangkai bunga. Indonesia punya janur yang bernilai seni tinggi. Janur pun sudah menjadi bagian dari berbagai kegiatan tradisi turun-temurun di negeri ini.

Di Bali, rangkaian bunga dan buah terbingkai dengan janur dalam upacara keagamaan dan adat. Di Jawa, upacara pernikahan sesuai tradisi menggunakan janur. Janur lebih dari sekadar pembungkus ketupat saat Lebaran.

”Saya percaya di berbagai daerah banyak yang bisa merangkai janur, bahkan lebih bagus daripada yang ada di buku saya. Namun, mereka belum melihat pasarnya siapa,” ujar ibu dua anak ini.

Nilai janur

Di luar lingkup acara tradisi, janur bukan perangkat dekorasi yang dipandang berkelas. ”Konsumen kelas atas belum melihat janur sebagai sesuatu yang orisinal dan punya nilai seni. Mereka lebih memilih bunga impor seperti lili dan mawar.”

Padahal, Ineke menemukan penghargaan dunia luar pada rangkaian janur yang ia suguhkan di berbagai kesempatan. ”Saya promosi janur ke luar negeri dengan harapan apresiasi dari luar itu akan membuat kita lebih menghargai apa yang kita punya. Biasanya kalau sudah populer di luar, baru kita bilang, lho itu, kan, dari Indonesia.”

Situasi ini membuatnya geregetan. Ia sudah menyaksikan beragam jenis bunga yang tumbuh di pedalaman hutan Indonesia ”diambil” bibitnya lalu dikembangkan dengan budidaya dan teknologi di negara-negara lain. Lalu, dipopulerkan sebagai milik mereka. Jangan sampai tragedi yang sama terjadi pada janur.

”Itu yang mendorong saya membuat buku tentang janur dan mendirikan sekolah ini. Saya ingin kita lebih sadar bahwa kita punya sesuatu yang berharga untuk kita olah menjadi karya seni, lapangan kerja, alternatif mencari nafkah.”

Dengan janur, pada suatu forum di Belanda, misalnya, Ineke menampilkan bentuk baju-baju daerah Indonesia melalui tatanan di manekin. Tergelitik menyaksikan itu, banyak yang menyarankan kepada Ineke untuk mendorong perangkai janur di Indonesia mendalami ilmu melipat dan mendapatkan gelar di bidang itu.

”Aduh, boro-boro mau ambil spesialisasi melipat, yang umum dalam merangkai bunga saja di Indonesia enggak ada sekolahnya. Di Eropa dan Amerika, ada pendidikan dan gelar khusus untuk itu.” kata Ineke yang meraih gelar sebagai desainer bunga bersertifikasi dari American Institute of Floral Designers.

Berawal dari Baju

Maria Teresa Ineke Turangan lebih dulu ahli mendesain busana sebelum menggeluti desain flora. Ia merampungkan pendidikan di Paris Academy School of Fashion di London, Inggris. Kemudian selama 10 tahun menggeluti bisnis fashion dengan mengelola butik miliknya di Jakarta.

Perkenalannya dengan bunga semula sekadar karena ketertarikan mengikuti kelas ikebana atau merangkai bunga ala Jepang pada tahun 1990-an. Ternyata, hatinya terpikat di situ. ”Begitu mulai belajar bunga, saya seperti haus ingin terus memahami lebih banyak,” ujarnya.

Beragam program pendidikan tentang seni merangkai bunga dan desain flora di berbagai negara—Amerika Serikat, Belanda, Australia, Jerman, dan China—ia ikuti. Bunga dan aneka bentuk flora lainnya menyedot perhatian dan energi Ineke, hingga ia tak melanjutkan lagi bisnis fashion yang sudah sempat mapan berjalan.

Tak cuma tancap

Berulang kali Ineke menghadapi ”keheranan” orang tentang apa perlunya belajar merangkai bunga. Toh, tinggal tancap-tancap saja bunga sudah akan tersaji cantik, begitu pendapat sebagian orang. ”Ternyata semua ada ilmunya. Makin dipelajari, makin terasa perlunya terus belajar.”

Pandangan awam lainnya, asalkan bunganya cantik dan segar—apalagi mahal—rangkaiannya bukan perkara penting. Padahal, dengan seni merangkai bunga, keindahan bisa ditampilkan bukan hanya oleh bunga yang mahal, melainkan juga dengan daun kering—termasuk janur yang dikeringkan—dan kulit batang.

Ineke bercerita, salah satu momen mengesankan baginya, adalah saat menerima kunjungan salah satu pembimbingnya, Gregor Lersch, guru besar seni merangkai bunga dari Jerman yang begitu mencintai ilmu botani. Di Kebun Raya Bogor, sang profesor menjelaskan bagaimana setiap pohon yang dia lihat menginspirasi suatu rangkaian bunga.

”Kalau dibilang cuma tancap-tancap, ya, bisa saja begitu. Namun, kalau kita pelajari, kita akan tahu persis apa yang kita buat dengan rangkaian itu. Alam, bentuk bangunan, bahkan motif kain semua bisa jadi sumber inspirasi merangkai bunga,” ujar Ineke.

Totalitasnya belajar, kemudian mengajar bunga, sekaligus mempromosikan kekayaan flora Indonesia itu pula yang membuat Ineke terpilih menjadi koordinator dan desainer penataan bunga di Istana Negara dan Istana Merdeka pada peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus sejak era Presiden BJ Habibie tahun 2000 hingga saat ini.

Setiap tahun, untuk dekorasi flora Istana pada acara 17 Agustus itu, dipilih tema suatu daerah. Tahun 2011, misalnya, dipilih tema Papua. ”Papua punya daun kadaka. Satu lembar daun itu bisa setinggi orang, hampir 2 meter. Desainnya saya buat lebih natural. Rangkaiannya tidak pakai vas-vas, tetapi pakai pisang-pisangan atau air.” (DAY)

*)Kompas, 8 Juli 2012

Chairul Tanjung, Si Anak Singkong

CTOleh: Dedi Muhtadi dan Cornelius Helmy

Dari selembar kain batik halus milik ibunya, 31 tahun lalu, Chairul Tanjung atau CT kini mampu menyediakan pekerjaan bagi sekitar 75.000 orang di berbagai perusahaan miliknya. Kalau rata-rata karyawan itu anggota keluarganya empat orang, maka sekitar 300.000 orang hidup dari berbagai kegiatan usahanya.

Saya yakin, hal itu tidak akan mungkin terjadi tanpa kehendak Yang Maha Kuasa,” ujar Chairul saat berbincang santai di sela-sela kesibukannya mempersiapkan peresmian Kompleks Trans Studio dan hotel mewah berstandar internasional, Trans Luxury Hotel, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/6) malam.

Oleh karena itu, ekspansi bisnis ke berbagai bidang usaha yang dilakukannya merupakan bagian rasa syukur dari semua kesempatan yang diberikan Allah SWT.

Bagi Chairul, rasa syukur tak cukup hanya berdoa dan mengucap alhamdulillah, tetapi harus bekerja keras dan terus berusaha. Dengan berkembang, berarti semakin banyak kesempatan kerja dan semakin banyak orang bisa hidup dari perusahaannya. Dan, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berguna untuk manusia lainnya.

”CT di mata saya adalah seorang Indonesia yang diimpikan siapa saja. Muda, bekerja keras, sukses besar, bersih dan gentleman,” ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan.

Namun, Chairul berusaha tetap rendah hati. Ia merasa bukan orang pintar karena orang pintar di negeri ini banyak. Begitu pula yang bekerja keras, pun tidak sedikit.

Sukses menjalankan usaha dan mempekerjakan puluhan ribu orang tidak membuat Chairul merasa menjadi aktor utamanya. ”Itu skenario Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Kain batik halus

”Chairul, uang kuliah pertamamu yang Ibu berikan beberapa hari lalu Ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus Ibu. Belajarlah dengan serius, Nak.” Kata-kata yang diucapkan Hj Halimah, ibunda Chairul, itu masih terngiang jelas dan menyentuh kalbu yang paling dalam.

Ia tidak menyangka ibunya terpaksa melepas kain batik halus simpanan untuk membiayai ongkos masuk kuliahnya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI) tahun 1981. Padahal Chairul yakin, kain batik itu adalah harta paling berharga yang kala itu dimiliki ibundanya.

”Di satu sisi, saya terpukul dan terharu mendengar hal itu. Namun, dari situlah saya bertekad tidak akan meminta uang lagi kepada ibu. Saya harus bisa memenuhi biaya kuliah sendiri,” kata Chairul.

Kompleks bisnis terpadu itu akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan duta besar sejumlah negara. Ia mendedikasikan acara ini untuk perjuangan ibunya, Halimah, yang telah menjadi sosok penyemangat hidupnya hingga kini.

Batik halus yang mirip dengan milik ibunya dulu, akan dijadikan suvenir utama bagi para undangan.

Buku praktikum

Titik balik kemandiriannya dimulai saat Chairul melihat peluang usaha pembuatan buku praktikum kuliah. Ia menjual cetakan buku praktikum dengan harga lebih murah dibandingkan dengan di kios fotokopi yang ada di sekitar Kampus UI.

Ia bekerja sama dengan usaha percetakan milik kerabat salah seorang temannya. Beruntung, usaha pertamanya ini dilakukan tanpa modal karena pemilik percetakan tak mengharapkan uang muka. ”Keuntungan pertama saya Rp 15.000, dan terhitung besar pada zaman itu. Namun, pengalaman yang paling berharga adalah saat belajar soal jaringan dan kepercayaan,” cerita Chairul Tanjung.

Pengorbanan ibu dan keuntungan Rp 15.000 pertama itu membangkitkan rasa percaya dirinya. Perlahan Chairul mengembangkan usahanya dengan mencoba bisnis importir alat kedokteran hingga eksportir sandal.

Dia juga pernah merugi saat gagal merintis pembuatan pabrik sumpit. Namun, kejadian itu tidak membuatnya patah arang.

”Saya selalu menerima kegagalan dengan tangan terbuka. Percaya atau tidak, bila semuanya diterima dengan terbuka, lama-lama kegagalan akan enggan datang,” selorohnya.

Berbekal semangat dan filosofi itu, Chairul dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses Indonesia kini. Majalah Forbes menempatkan Chairul Tanjung pada urutan 937 orang kaya di dunia dengan total kekayaan satu miliar dollar AS.

Beberapa kalangan menyebut Chairul bertangan emas, yang bisa menjadikan semua usahanya nyaris sempurna.

Mengambil alih

”Tangan emas” dibuktikannya saat mengambil alih kembali Bank Mega tahun 1996. Saat itu Bank Mega tengah sakit keras dengan saldo merah di Bank Indonesia mencapai Rp 90 miliar. Sebesar 90 persen di antaranya merupakan kredit macet. Hasilnya, tahun 2011 Bank Mega masuk jajaran 12 bank di Indonesia dengan aset Rp 62 triliun.

Stasiun televisi TransTV dan Trans7 dibawanya menjadi favorit masyarakat dengan program yang dikelola sendiri oleh para personelnya. Pusat hiburan masyarakat di Makassar dan Bandung, seperti Trans Studio, pun dalam waktu singkat menjadi kawasan idola masyarakat Indonesia.

Tidak heran, banyak perusahaan berskala lokal dan internasional menawarkan diri untuk dibidaninya. Salah satunya adalah saat dia mengakuisisi raksasa ritel Perancis, Carrefour. Chairul mengatakan, bukan dia yang memilih mengakuisisi, tetapi pihak Carrefour yang menawarkan kepadanya tahun 2010.

Selain terus membuka kesempatan kerja lewat berbagai unit usaha baru, Chairul Tanjung juga menggagas berbagai organisasi dan kegiatan amal, baik untuk warga miskin maupun korban bencana alam. Di antaranya lewat Chairul Tanjung Foundation, Rumah Anak Madani, Komite Kemanusiaan Indonesia, dan We Care Indonesia. ”Saya sempat terharu saat seorang warga mengatakan akan terus berbelanja di Carrefour agar saya bisa membantu semakin banyak orang,” katanya.

Sebagai manusia biasa, Chairul Tanjung juga pernah punya kekhawatiran besar. Ia merasa cemas bila tidak punya energi lagi untuk mengurus perusahaan yang memayungi puluhan ribu orang ini.

Namun, dia menambahkan, sekarang ia sudah punya jurus jitu untuk menekan kecemasan itu. Tahun 1995, saat mengantar ibunda menunaikan ibadah haji, di pintu Kabah ia mengikrarkan diri sebagai prajurit Allah.

”Sebagai prajurit, apa pun yang Dia berikan, baik, buruk, susah, senang, ringan, berat, insya Allah akan senantiasa saya jalankan dengan ikhlas. Saya pasrah kepada-Nya yang sudah memberikan berkah ini. Karena, toh, dulu juga saya bukan siapa-siapa,” ujar Chairul tersenyum, tanpa beban.

Sumber: Kompas, 2 Juli 2012, “Chairul Tanjung, Tangan Emas, Skenario yang di Atas”

Wendo dan Tujuh Samurai

Oleh Agus Sopian

RESMINYA, ia bernama Sarwendo. Lantaran dianggap kurang komersial dan … ngepop, ia mengubahnya jadi Arswendo. Di belakangnya, ia bubuhkan nama sang ayah. Jadilah ia Arswendo Atmowiloto. Untuk menyapa, Anda tak perlu bersusah-payah menyebut selengkap-lengkapnya. Cukup memanggil Wendo, pasti ia menoleh.

Lebih 10 tahun silam, tabloid yang dipimpinnya, Monitor, membuat semacam angket. Ekornya, publik tak cuma kaget. Tapi juga marah. Ia dituding menghina Nabi Muhammad S.A.W. Ia dihujat melukai hati kaum Muslim, warga mayoritas di Indonesia.

Kemarahan itu mereka luapkan dalam aksi-aksi unjuk rasa sepanjang akhir Oktober hingga awal November 1990. Klimaksnya, Wendo ditahan. Dari sini klimaks-klimaks lain bermunculan: organisasi wartawan tempatnya berlindung mencabut status keanggotaannya, perusahaan tempatnya bekerja mempreteli seluruh jabatannya, pengadilan tempatnya mencari selarik sinar keadilan malah menggodamnya dengan hukuman maksimal.

Jangan tanya Monitor, anak rohani kreativitas Wendo. Sebelum dirinya benar-benar masuk bui, tabloid “ser dan lher” itu sudah tewas di tangan penguasa.

Kekusutan nasib Wendo tak hanya sampai di sana. Keluarganya, yang semula hidup berkecukupan, tiba-tiba kelimpungan. Cecilia Tiara, si bungsu, terpaksa bersekolah sambil berjualan kue buatan ibunya. Separuh harta mereka ludes dipakai mengongkosi perkara Wendo. Perkara Monitor juga.

Wendo habis?

KEAHLIAN melukis tato menyelamatkan Wendo. Tak berani menato orang, sandal jepit jadi sasaran. Dalam sehari, Wendo bisa menggambari sandal sampai berpuluh-puluh. Sandal yang mulanya cuma berharga Rp 500, bisa ia lego dengan harga Rp 2.000 – Rp 2.500 setelah ditato.

Belakangan, ia mengajarkan keahliannya pada anak-anak buahnya. “Saya punya anak buah sampai 700 orang. Saya jadi bos yang tak terlawan. Bener-bener bos dari yang bos,” kata Wendo kepada saya dengan nyengir khasnya.

Seperti bos gangster dalam kisah-kisah mafioso, hari-hari Wendo berikutnya hampir tak pernah luput dari kawalan. Minimal ada dua “letnan” Wendo yang sangat setia. “Saya nggak tahu siapa mereka sebenarnya. Saya namai mereka Charlie dan Safei,” ungkap Wendo. Charlie berasal dari Manado, Safei datang dari Madura.

Pernah suatu ketika Wendo berjalan-jalan menghirup angin. Charlie dan Safei tiba-tiba berlari menyalip. Orang di depan Wendo, mereka pukul bergantian. “Ngapain kamu mukul-mukul orang. Kan dia nggak salah?” hardik Wendo.

“Dia ngalangin jalan, Bos,” Safei menjawab.

“Kamu tahu,” Wendo menyunggingkan senyum pada saya, “orang nginjek bayangan saya, bisa dipukul. Itu real.”

Satu-satunya sumber ketakutan Wendo sejak awal adalah aktivis A.M. Fatwa dan Tony Ardhie. Anda tahu sendiri, mereka dikerangkeng rezim Orde Baru karena memperjuangkan keyakinan politiknya yang berbasiskan syariat Islam. Bukannya mengambil jarak, Wendo malah mendekati mereka. Persahabatan terjalin.

Dicky Iskandar Dinata, yang kebetulan selnya bersebelahan, pun jadi sahabat Wendo. Bahkan, santer dikabarkan, sebagian anak buah Wendo didapat dari keakrabannya dengan pesakitan kasus valuta asing Bank Duta itu.

Persahabatan yang kian meluas memudahkan Wendo bersosialisasi. Ia makin tahu seluk-beluk penjara. Tahu aturan main, penjara jadi ramah buat Wendo. Ruang komunikasi yang dulunya sempit, tiba-tiba saja jadi serasa longgar. Wendo menggunakan ruang ini untuk mulai mengintensifkan aktivitas menulisnya, yang sempat tertunda untuk beberapa waktu lama karena larangan membabi-buta. Ini jangan, itu tak boleh.

Ia memelihara kepercayaan sipir dengan berlaku “koperatif” ketika diinspeksi. Ingat inspeksi, ingat sensor. Ingat sensor, Wendo jadi ingat pengalaman yang membuatnya sering senyum-senyum sendiri. Kisahnya, suatu saat Wendo menerima sepucuk surat dari temannya di luar negeri. Sipir yang bertugas menyensor memerintah Wendo untuk menerjemahkan surat tersebut. “Sensornya hilang,” Wendo ngakak.

Pengalaman membekas buatnya juga berlangsung tatkala membuat naskah novel. “Sensor … sensor ….” seru sipir, mengetuk-ngetuk dinding selnya, “mana ini lanjutannya?”

“Hahaha…” Wendo tergelak, “rupanya gara-gara nyensor jadi suka baca novel.”

Selama di sel, Wendo sekurang-kurangnya mengarang tujuh novel. Belum lagi puluhan artikel, tiga naskah skenario, dan beberapa cerita bersambung. Sebagian di antaranya ia kirimkan ke redaksi suratkabar seperti Kompas, Suara Pembaruan dan Media Indonesia. Tentu saja dengan alamat gadungan dan identitas palsu. Untuk alamat, ia acap menggunakan “Jalan Bekasi Raya 45.”

“Sampai tahun 1995 saya belum pake nama sendiri. Saya cuma ingin membuktikan bahwa saya profesional di bidang ini,” ungkapnya. Ia kemudian menyebut nama-nama samaran yang digunakannya selama ngendon di penjara dan beberapa tahun sesudahnya. Sekadar untuk menyebut contoh, Wendo menggunakan nama Sukmo Sasmito untuk Sudesi (Sukses dengan Satu Istri), novelnya yang dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas. Sedangkan untuk cerita bersambung Auk di Suara Pembaruan, Wendo memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng ia pungut sekenanya. Masih ada nama lain yang juga dipakainya. Katakanlah Said Saat atau B.M.D Harahap.

Tulisan Wendo tak cuma hasil lamunan. Inspirasinya antara lain juga mengalir dari perpustakaan yang ia bangun di bloknya.

“Siapa pun boleh membaca di situ,” kata Wendo. “Syaratnya cuma dua. Satu, kaki harus bersih. Dua, sudah mandi.”

WENDO lahir di Harjopuran, Surakarta, pada 26 Nopember 1948. Ia anak ketiga dari enam bersaudara. Sarono adalah sulung mereka, yang di belakang hari mengubah namanya jadi Satmowi Atmowiloto. Di bawah Sarono berturut-turut Kamtinah, Wendo, Kamtari, Sarsidi, dan Kusukaningsih. Sarsidi, yang tak pernah melepaskan nama baptisnya, Gregorius, kelak ikut Wendo mengeloni Monitor.

Ayah mereka, Djoko Kamit, kemudian mengganti namanya jadi Atmo Wiloto, meninggal pada 1960 dalam usia 68 tahun atau saat Wendo duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Sang ayah lulusan AMS (Algemene Middelbare School), setingkat sekolah menengah atas. Menjelang hayatnya berakhir, ia bekerja di balai kota Surakarta. Sedangkan ibu mereka, Sardjiem, meninggal pada 1965. Praktis, di usia 17 tahun Wendo jadi anak yatim-piatu.

Sejak ayahnya meninggal, mereka hidup dari uang pensiunan dan sewaan pendopo rumah yang disulap jadi Sekolah Dasar Negeri Harjopuran. Bagi mereka, sekolah itu jelas mendatangkan berkah. Wendo dan saudara-saudaranya hanya perlu beberapa langkah dari tempat tidur untuk menuntut ilmu.

Wendo hampir tak pernah mendapat uang saku untuk jajan. Tapi ia bukan tipe manusia melankolis dan terus-menerus meratapi nasib, yang makin hari makin terasa kalau ia dan saudara-saudaranya ternyata miskin. Majalah Tempo pada 1990 pernah secara dramatis mendeskripsikan kemiskinan mereka, yang untuk membeli beras saja terpaksa harus mencongkel beberapa lembar genting untuk dijual.

Karenanya, ia memburuh: dari tukang pungut bola tenis, kuli pabrik bihun, sampai jaga sepeda di apotek. Di sela-sela waktu kerjanya, Wendo meluangkan waktu membaca komik dan cerita wayang. Pengarang favoritnya R.A. Kosasih dan B. Ardi Soma, keduanya komikus asal Bandung dan sangat terkenal dalam dekade 1970-an. “Mungkin kamu benar gara-gara itu daya khayal saya kuat sekali,” kata Wendo pada saya, di awal November 2001.

Daya khayal itu pula agaknya yang menuntun Wendo ke dunia tulis-menulis. Awalnya, saat duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas, tahun 1967, iseng-iseng Wendo membuat tulisan. Ia mengirimkannya ke Gelora Berdikari, suratkabar mingguan di kotanya. Ia kaget sendiri sebab tanpa dinyana tulisannya ternyata dimuat. “Lupa berapa honornya, Rp 150 atau Rp 1.500. Tapi kira-kira cukup untuk makan tiga harilah,” kata Wendo.

Tamat sekolah menengah atas, Wendo girang betul begitu dinyatakan mendapat beasiswa ikatan dinas dari Akademi Pos dan Telekomunikasi Bandung, pada 1968. Kegirangan yang wajar, agaknya. Tidak banyak siswa yang mendapat keberuntungan seperti itu. Dari Jawa Tengah, hanya dua orang yang beruntung. Wendo di antaranya.

Hari-hari terakhir berangkat ke Bandung tiba. Pagi-pagi sekali Wendo keluar dari rumahnya dengan membawa tiga setel pakaian di dalam tasnya. Ia berjalan sepanjang lima kilometer dengan tujuan stasiun kereta api Solo-Balapan. Pukul 07.00 lebih Wendo sampai di sana.

Di tengah arus manusia, Wendo menunggu kereta datang dengan hati gamang. Kereta api ke Bandung biasanya berangkat dari Solo-Balapan sekitar pukul 09.00 kalau tidak ada gangguan. Ini artinya, Wendo punya banyak waktu untuk mencari wajah-wajah yang mungkin dikenalnya.

Sepanjang penantian Wendo berjalan hilir mudik. Sama sibuknya dengan kaki, kepalanya tengok kanan tengok kiri.

Dari sebelah timur, pukul 09.00 lebih, lokomotif mengasapi langit. Mestinya Wendo senang sebab kota Bandung yang hendak ditaklukkannya tinggal hitungan jam. Tapi Wendo justru tambah gamang. Kegetiran merambati sekujur dirinya.

Kereta api berangkat. Wendo masih berdiri di sana. Rupanya, ia tak berhasil mencari wajah-wajah yang dikenalnya itu. Ia tak punya duit untuk beli karcis.

Wendo putar badan. Sekali lagi ia menempuh perjalanan sepanjang lima kilometer, menyusuri rute yang dijejaknya tiga jam lalu. Kali ini ia memikul beban harapan yang baru saja hilang.

URUNG kuliah di Bandung, Wendo tidak terus-menerus menyumpahi takdirnya. Ia kembali pada kegiatan yang telah dirintisnya: menumpahkan imaji-imajinya ke dalam tulisan dan mengirimkannya ke berbagai media massa.

Sejumlah cerita pendek, baik dalam bahasa ibunya, bahasa Jawa, maupun bahasa Indonesia, ia kirimkan ke Gelora Berdikari di Surakarta dan majalah Mekarsari Yogyakarta. Jakarta pun ditembusnya. Majalah anak-anak Si Kuntjung sering memuat karya Wendo. Belakangan, Wendo bergabung dengan suratkabar mingguan Dharma Kanda terbitan Surakarta. Kegiatan jurnalistik mulai diotak-atik, menulis fiksi terus didalami.

Mengikuti jejak kakaknya, Satmowi Atmowiloto, Wendo menginjakkan kaki di Jakarta pada 1973. Di ibukota, sastrawan Julius Sijaranamual yang sudah lama menunggunya, menyambut Wendo. Ia ditempatkan sebagai wakil pemimpin redaksi Astaga, majalah humor yang didirikan Sijaranamual.

Dari Astaga yang mati muda, Wendo melangkah ke Midi, majalah remaja yang diterbitkan Kelompok Kompas Gramedia. Habis Midi, terbit Hai. Di majalah yang disebut terakhir, Wendo benar-benar mengencangkan tali sabuk dan ngebut dengan sejumlah karya-karya kreatifnya, mulai serial detektif Jawa Imung, petualangan Kiki dan Komplotannya, serta cerita silat Senopati Pamungkas. Remaja generasi 1980-an, terutama pembaca Hai, niscaya tahu buku Wendo yang sangat terkenal: Mengarang Itu Gampang.

Karya-karya itu sekaligus menunjukkan kelas Wendo sebagai wartawan-cum-pengarang produktif. Dengan jumlah lebih 200 cerita pendek, puluhan novel, sejumlah cerita bersambung, beberapa naskah drama, puluhan artikel lepas, esai, dan kolom, produktivitas Wendo jelas tak terlawan oleh siapa pun pada masanya di Indonesia.

Tak usah mendiskusikan hubungan produktivitas dengan kualitas. Wendo agaknya dengan mudah mematahkan teori yang tak jelas asal-usulnya itu. Simak saja daftar pemenang sayembara penulisan naskah drama yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta. Sepanjang tahun 1970-an saja, Wendo tiga kali menyabet juara: 1972, 1974, dan 1975.

Tipikal tulisan Wendo biasanya ringan dan siap saji seperti fast food, renyah bagai rempeyek, dan berasal dari dunia remaja. Tulisan mengenai televisi, lain lagi. Wendo bisa saingan dengan seorang akademisi. Kalau perlu ia bermain-main dengan grafik, tabel, angka-angka. Majalah mingguan Tempo pada 1990 menyebut Wendo sebagai pengamat televisi yang jeli. “Kritik-kritiknya terus mengalir, tanpa peduli ditanggapi atau tidak,” tulis Putut Trihusodo dari Tempo.
Kritik-kritik Wendo terhadap pertelevisian Indonesia, yang pada 1980-an dihegemoni sepenuhnya oleh TVRI, tersebar di berbagai media, terutama Kompas yang jadi rumah keduanya setelah Hai.

Sebagai kritikus televisi, Wendo mengatakan hampir tak pernah mematikan pesawat televisi di ruang kerjanya. Kepada awak Monitor kelak, ia sering berujar, “TV itu altarmu. Rezekimu.”

Ia telah membuktikan kata-katanya, paling tidak pada 1981.

Sekadar menyegarkan ingatan, terhitung sejak 1 April 1981, TVRI mengubah pola siarannya, termasuk membuang siaran niaga. Pada tanggal itu, terlontar janji bahwa TVRI hendak membenahi diri, mengurangi porsi berita-berita seremonial, meminimalisasi laporan aktivitas pejabat.

Wendo sangsi. Maka, mata Wendo pun ditajam-tajamkan untuk memelototi layar kaca secara intensif. Setahun.

Sepanjang April 1982, puncak pengamatannya, Wendo merekam siaran berita TVRI. Hasilnya, ia presentasikan di suratkabar Kompas pada Juni, tahun yang sama. Dalam artikel yang dilengkapi tabel-tabel itu, Wendo memperlihatkan betapa masih dominannya suara pejabat. Itu pun didominasi pejabat tertentu. Tak ada bantahan, tak ada gugatan. TVRI mati angin.

Bukan sekadar menonton. Referensi Wendo tentang masalah pertelevisian banyak didapatkan selagi mengikuti The International Writing Program pada 1979, di Iowa, Amerika Serikat. Program ini –didirikan Paul Engle dan Hualing Nieh Engle pada 1967– dianggap berhasil mengentaskan ribuan penulis berbakat dari 100 negara lebih. Beberapa nama penulis dan pengarang terkenal di Indonesia seperti Taufiq Ismail, Toeti Herati Noerhadi, Nano Riantiarno, Sutardji Calzum Bahri, Ahmad Tohari, atau Putu Wijaya tercatat pernah mengikuti program tersebut.

Mungkin karena kejeliannya itulah, Wendo akhirnya diserahi tanggung jawab mengurus Monitor.

Pada mulanya, Monitor berbentuk majalah. Diterbitkan oleh Direktorat Televisi Departemen Penerangan pada 1972, Monitor lebih berfungsi sebagai gardu jaga TVRI. Tak usah diratapi kalau majalah ini mati suri sejak 1973, setelah terbit 20-an nomor.

Pada Agustus 1980, Monitor dibangkitkan lagi di bawah bendera Yayasan Gema Tanah Air. Berkaca pada pengalaman, redaksi Monitor versi baru tak lagi diasuh oleh para pegawai negeri di lingkungan Departemen Penerangan. Tenaga-tenaga profesional dipompakan ke situ untuk menjaga konsistensi, untuk tidak sekadar asal terbit. Salah seorang di antaranya Lazuardi Ade Sage, yang ditunjuk sebagai redaktur pelaksana.

Debut manajemen baru ditandai oleh meluncurnya oplah sebanyak 25 ribu eksemplar. Lagi-lagi sial, sejak 1984 Monitor mulai limbung. Setahun kemudian ngos-ngosan. Ia jadi “majalah tempo.” Tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak. Akhirnya, lagi-lagi mati suri.

Di tangan Wendo, Monitor terbit tak lagi dalam format majalah menyerupai tipografi Life; tapi tabloid dengan ketebalan 16 halaman, berukuran 285 x 410 milimeter. Harganya dibandrol Rp 300.

Penerbit masih Yayasan Gema Tanah air, namun manajemen sepenuhnya dikendalikan oleh Gramedia. Monitor pada gilirannya jadi ruangan yang sempurna buat perselingkuhan penguasa dan pengusaha. Suatu perselingkuhan antara orang-orang Departemen Penerangan yang acap jadi semacam thypoon bagi kehidupan pers dan orang-orang di Gramedia yang nyata-nyata telah memerankan dirinya sebagai tycoon dalam industri pers Indonesia.

YAYASAN Gema Tanah Air, penerbit tabloid Monitor, sekurang-kurangnya dikuasai pejabat Departemen Penerangan: Harmoko, Subrata, dan M. Sani.

Harmoko, siapa tak mengenalnya. Ia bekas wartawan yang di akhir kekuasaan rezim Orde Baru menjadi tukang stempel pemerintah dalam kapasitasnya sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. Saat itu, ia menjabat Menteri Penerangan, penentu hitam-birunya pers Indonesia. Subrata –yang sebelumnya memangku jabatan pemimpin umum tatkala Monitor masih berwajah majalah– adalah direktur TVRI. Di kemudian hari, Subrata diangkat jadi direktur jenderal Pembinaan Pers dan Grafika dan menjadi terkenal ke seluruh dunia karena meneken surat pembunuhan terhadap mingguan Tempo, Editor, Detik pada 1994. Lalu M. Sani, yang relatif tak dikenal dalam percaturan pers, sehari-harinya memangku jabatan direktur radio Departemen Penerangan.

Kedudukan mereka di yayasan itu menempatkannya sebagai para penguasa saham Monitor. Bagian perorangan terbesar berada dalam genggaman Harmoko yang menguasai saham sampai 30 persen. Kelompok Kompas Gramedia santer disebut-sebut menguasai saham hingga mencapai 40 persen. Komposisi ini tak serta-merta mengamankan kedudukan Gramedia selaku pemegang saham mayoritas. Sebab sekiranya terjadi pertarungan zero-sum games dalam rapat umum pemegang saham, Gramedia mudah ditikam oleh gabungan penguasa 60 persen. Opsi saham Wendo sebanyak lima persen, agaknya lebih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas Gramedia.

Ada perimbangan kekuatan jadinya. Perimbangan ini terelaborasikan dalam pohon organisasi manajemen puncak. Harmoko komisaris utama; Godfather Gramedia Jakob Oetama direktur utama; Wendo wakilnya. Perimbangan pun dapat terlukis dalam distribusi kekuasaan di tingkat kepala dan leher kepemimpinan Monitor. M. Sani ditunjuk sebagai pemimpin umum menggantikan posisi Subrata. Di bawahnya, sebagai wakil pemimpin umum tercantum nama Suyanto, yang tak lain adik Subrata. Representasi Gramedia lebih ke tingkat operasional, dengan puncak kepemimpinan di bahu Arswendo sebagai pemimpin redaksi.

Kehadiran Wendo di Monitor bukannya tanpa rintangan. Bahkan intrik-intrik di sekitar pendirian Monitor agaknya lebih tertuju pada pribadi Wendo yang dianggap terlampau cepat melesat. Sampai-sampai, di belakang hari, gaya rambut Wendo menyibak kening dan ekspresinya dalam berbicara yang penuh percaya diri, diejek sebagai epigon Jakob Oetama.

“Calon putra mahkota Kompas,” ledek di satu sudut.

“Karbitan,” kata sudut lain.

Wendo cuek.

Ia baru bangkit dari kursinya ketika modal disetor tak diterimanya secara utuh. Aturan, mestinya ia menerima Rp 400 juta sebagai investasi awal, namun yang datang hanya Rp 300 juta. “Asem,” gerutunya.

Wendo kasak-kusuk cari tahu. Ia akhirnya paham juga, Rp 100 juta sengaja ditahan lantaran manajemen Gramedia tak sepenuhnya mempercayai eksistensi Wendo. Rekor kegagalan mengelola Astaga dan Midi, ditambah suara-suara sumbang saingan-saingannya di tubuh Gramedia, agaknya mendeterminasi semua itu.

Soal lain muncul. Wendo yang terlalu bersemangat dengan persiapan, menginjak pedal gas promosi sekencang-kencangnya. Tahu-tahu ia sudah menghabiskan uang sebesar Rp 56 juta. “Semua orang teriak-teriak. Mereka marahin saya,” tutur Wendo.

Apa boleh buat, nasi sudah jadi kerak. Wendo tak punya daya untuk bereaksi. Menghibur diri, ia menerima kemarahan itu sebagai suatu ekspresi semangat kolegial yang sudah mulai mengristal. Sungguh pun demikian, ada efek berantai yang mau tak mau harus dirasakan Wendo dan anak buahnya. Mereka tak bisa membeli perabotan kantor, semisal meubelair. Untunglah, kelak ada pembaca baik hati yang mau menyumbangkan meja-kursi untuk mengisi ruang tamu. “Bukan kursi yang bagus-bagus bener, tapi cukuplah untuk nyantai,” ucap Wendo.

Fasilitas yang minim ditafsirkan Wendo sebagai bekal semangat untuk memacu diri. Diberi izin menerbitkan tabloid pun sebenarnya sudah membuatnya senang. Kini ia tinggal mewujudkan mimpinya membidani lahirnya sebuah media yang tidak melulu berpihak pada topik permasalahan, tetapi juga manusia-manusia yang menukangi topik tadi. “Masyarakat Indonesia,” Wendo menuliskannya nanti dalam Telop, sebuah kolom di halaman awal Monitor, “boleh diibaratkan sebuah kampung, bukan suatu kompleks real estate, tapi juga bukan pemukiman suaka suku terasing. Di dalam sebuah kampung, kita bisa lebih jujur dan berani untuk memuji, mencaci, memberi saran.”

Singkat kata, Monitor menurut Wendo tak disetel untuk menjadi, apa yang dia sebut “pers priyayi.” Pernyataan ini, buat sebagian orang, dapat ditangkap sebagai sebuah tamparan terhadap jurnalisme ala Kompas –yang selama ini dianggap melingkar-lingkar di wilayah kepriyayian itu. Bagaimana sebetulnya jurnalisme Kompas? Kalau pandangan Jakob Oetama dapat dianggap sebagai pemberi warna dominan terhadap cetak biru jurnalisme Kompas, buku lawas Perspektif Pers Indonesia barangkali dapat menjelaskannya.

Di sana Jakob Oetama bertutur, bahwa kecenderungan eksekutif dan masyarakat Indonesia adalah melihat persoalan dari satu segi sehingga get things done, mencapai hasil, jadi prioritas. Kecenderungan ini mendesakkan dimensi cara, termasuk dimensi permasalahan dan dimensi etikanya. Media seperti Kompas, lanjut Jakob Oetama, mempunyai kewajiban untuk melengkapi kecenderungan tersebut dengan menyajikan visi, menampilkan berbagai dimensi, menyoroti dan menekankan dimensi yang terdesak ke belakang.

Yang hendak dimaksudkan Oetama, barangkali, betapa perlunya wartawan membiasakan diri melakukan verifikasi, sehingga isi liputan dapat menjelaskan duduk perkara suatu kejadian, suatu fenomena yang berkembang.

“Fakta itu harus tampil selengkap mungkin,” kata Oetama.

“Jurnalisme Kompas memang baik, tapi itu bukan satu-satunya,” Wendo berkelit di depan saya.
Ia minta waktu kepada para bosnya untuk membuktikan bahwa ada bagian-bagian tertentu dalam masyarakat yang justru minta dilayani oleh jurnalisme di luar mainstream. “Kita ingin melayani ini,” tandas Wendo, yakin akan pandangannya.

Begitu diiyakan, Wendo buru-buru menyiapkan pasukan untuk dikirim ke medan peperangan baru, sebuah zona jurnalisme yang dianggap aneh kala itu.

Wendo tak memerlukan pasukan besar untuk jurnalisme yang diyakininya. Ibaratnya peleton kecil, pasukan Wendo tak sampai sepuluh orang. Mereka berasal dari Gramedia dan Monitor lama. Dari Gramedia, Wendo merangkul Veven Sp. Wardhana, Syamsudin Noer Moenadi, dan Irene Suliana. Dari Monitor lama, ia mengambil Hans Miller Banureah. Mereka mengisi jajaran redaksi. Untuk melengkapi, Wendo menerima Mayong Suryo Laksono, yang disodorkan P. Swantoro, salah seorang redaktur Kompas. Di sektor foto, hadir dua fotografer yang kelak menyangga kekuatan grafis Monitor. Mereka Gunawan Wibisono dan Atok Sugiarto.

Beberapa bulan sebelum Monitor diluncurkan perdana pada 5 Nopember 1986, Wendo dan pasukannya sudah mengambil posisi siap tempur di Jalan Lomba Layar 345, Senayan, Jakarta. Sejumlah mesin tik baru Olivetti dan Brother ditenggerkan dalam keadaan siaga 1 x 24 jam untuk melontarkan kata-kata ke hadapan publik. Tak-tik-tak-tik … Monitor sebentar lagi menggelitik.

SUATU Senin sore di awal Nopember 1986. Hari itu, orang-orang percetakan Gramedia berbaik hati mempersilakan awak Monitor ikut menyaksikan deru mesin cetak Goss Urbanite, yang mampu mencetak tabloid sebanyak 20 ribu eksemplar dalam sejam. Jabang bayi Monitor sedang dipersiapkan kelahirannya.

Seumumnya menunggu kelahiran bayi, mereka menanti dengan harap-harap cemas. Mesin meleset sedikit saja dari area cetak jadi pangkal kecerewetan. Komposisi warna, kualitas cetak, mereka perhatikan dengan seksama. Mereka ingin Monitor tampil mengesankan pada pandangan pertama. Saking ingin terlihat keren, cetakan awal Monitor dilakukan berkali-kali.

“Suasananya seru banget,” sambung Aris Tanjung.

Sebanyak 200 ribu eksemplar akhirnya tuntas dicetak. Wajah-wajah penuh suka cita mengembang di antara bentangan tabloid yang sedang disimaknya. “Nggak nyangka kita akhirnya berhasil juga bikin tabloid,” tutur Tanjung kemudian. Ia ingat, selama berbulan-bulan dirinya pontang-panting mempersiapkan dummy bersama seluruh awak Monitor. Siang, malam.

“Kita mempersiapkannya sembilan bulan,” tambah Tanjung.

“Cepat kok, cuma tiga bulan,” sanggah Wendo.

Edisi pertama Monitor tampil dengan sampul Veronika sedang mendekap gitar. Di bawah judul “Pak Haji Sedang Diuji Tuhan,” bekas istri raja dangdut Rhoma Irama itu bertutur tentang calon suami barunya, sambil menyemburkan kekesalannya pada Rhoma Irama, yang disebut-sebut telah melukai hatinya.

Hanya ada dua judul di sampul itu. Satunya lagi tulisan tentang Tatiek Maliyati, penulis serial drama Losmen TVRI, yang menuturkan resepnya jadi istri ideal. Judulnya menegangkan: “Guna-guna Tatiek.” Item lain, daftar isi yang disandingkan dengan gambar tokoh Oshin, sebuah drama asal Jepang yang konon banyak menguras air mata pemirsa televisi.

Logo Monitor didesain secara atraktif, dengan menggunakan huruf kecil dalam dominasi warna merah, kecuali huruf “t” yang dibiarkan putih–dengan bingkai hitam dan dibentuk menyerupai gagang payung. Di atas logotif, mereka mencantumkan slogannya sebagai “Mingguan Televisi, Video, Radio dan Film” dengan huruf kapital.

Tak ada surat pembaca di dalamnya. “Kejujuran setidaknya kita mulai (dari) penerbitan ini dengan polos. Tanpa surat pembaca, walaupun kami bisa mengarang dan memberikan jawaban. Walaupun kami bisa minta kepada tokoh-tokoh masyarakat yang kampiun. Kami ingin memulai sebisanya, seadanya,” begitu Wendo memberi semacam sambutan edisi pertamanya, sebagaimana tertuang dalam kolom Telop di halaman kedua Monitor.

Seperti juga tipikal tulisan Wendo, sajian Monitor terasa ringan dan akrab. Sederhana. Pendek-pendek. Gaya stakato bertebaran di hampir seluruh halaman, yang didesain rata kiri (align left) dan memberi kesempatan pada mata untuk menangkap ruang-ruang kosong. Dua halaman tengah dijadikan kavling acara televisi untuk sepekan yang diambil dari sembilan stasiun TVRI, termasuk stasiun pusat Jakarta.

Dari keseluruhan halaman, terasa betul kalau Monitor dimaksudkan sebagai media hiburan. Tapi di mana sesungguhnya letak kepioniran Monitor seperti banyak digunjingkan orang itu? Dari segi bentuk, Monitor jelas bukan yang pertama. Tabloid Bola sudah memulainya sejak 1984, setelah sebelumnya menjadi sisipan di halaman tengah Kompas. Juga Mutiara asuhan duet Subagyo–Aristides Katoppo yang mengambil bentuk tabloid sejak awal 1980-an.

Dari segi isi, Monitor pun bukan sang pemula. Jauh di masa lalu, sejumlah media hiburan, di antaranya berisi film dan musik, telah muncul meramaikan persada pers Indonesia. Dalam Rahasia Dapur Majalah di Indonesia, wartawan Kurniawan Junaedhie mencatat, setidaknya sejak tahun 1920-an Indonesia sudah memiliki media-media semacam itu. Ia antara lain menunjuk Doenia Film dan Pertjatoeran Doenia Film.

Agak sulit memang menakar kepioniran Monitor dari penglihatan parsial. Ini karena, kepeloporan Monitor justru terletak pada gabungan bentuk dan isi. Dalam kalimat Wendo, “tabloid bentuknya, tabloid pula isinya.” Di luar negeri, Veven Sp. Wardhana menambahkan, tabloid identik dengan suatu semangat jurnalistik yang mengedepankan laporan-laporan penuh sensasi. Dan Monitor berlaga di wilayah itu.

“Ada sensasi, tanpa berubah menjadi sensasional,” kata Wendo.

“Geber sekarang, konfirmasi nomor depan. Itu semangat Monitor,” Wardhana menggenapi.

Mereka yakin, konsep semacam ini belum pernah dilahirkan dunia pers Indonesia. Mereka percaya, apa yang mereka bikin adalah sesuatu yang genuine, datang dari kepala sendiri. Bukan jiplakan. Bukan pula hasil kerja konsultan. Santer memang disebut-sebut Monitor menggunakan jasa konsultatif Maynard Karper, pemimpin majalah Playboy edisi Belanda.

“O, nggak. Nggak. Dia datang jauh sebelum Monitor terbit. Dia memang memberikan saran pada majalah-majalah di Gramedia. Tapi Monitor dia udah nggak ikut. Saya berani mengklaim itu orisinal,” Wendo menerangkan, dengan raut mukanya serius, dengan intonasi bicara yang penuh tekanan di sana-sini. “Bahwa kita mengintip gaya Daily Mirror atau Sun, itu belakangan. Setelah kita besar.”

“Kita sampai melombakan desainnya,” kata Wardhana, di tempat berbeda, “desain Aries Tanjunglah akhirnya yang dipakai.”

“Dari mana Anda menjiplak?” saya menggoda Tanjung.

“Otak-atik sendiri. Saya membuatnya berkali-kali. Akhirnya sampai ke desain norak itu,” jawabnya. Di seberang telepon, saya mendengar tawa kecilnya.

EDISI pertama Monitor sampai di tangan Jakob Oetama. Ia hanya melihatnya sekilas. “Apa ini? Nggak ada arah,” ucapnya, sebagaimana ditirukan Wendo. Wardhana melukiskan adegannya: Oetama membanting Monitor ke meja.

Tak ada adu argumentasi. Wendo kembali ke markasnya, dan menenggelamkan diri dalam pekerjaannya sembari menunggu datangnya kabar oplah yang terjual.

Kabar yang kemudian sampai sungguh menyesakkan dadanya: Monitor cuma laku sekitar lima persen. Artinya, kurang lebih 10 ribu eksemplar. Ini pun dijual di bawah bandrol: Rp 100.

Segera terbayang di benak Wendo cibiran orang-orang di Gramedia, terutama yang selama diketahui memendam iri padanya. Benar saja. Ungkapan Jakob Oetama ‘apa ini’ tiba-tiba jadi semacam ayat suci buat mereka yang hendak menguliti Wendo. Wendo, yang biasanya menanggapi segala sesuatu dengan lempang, berang juga. Ia merasa diperlakukan tak adil dan dijadikan bulan-bulanan cemoohan.

“Kalau kita jualan seratus, laku satu, itu nggak soal. Tapi tolong jangan dibilang laku satu padahal seratus,” pekiknya, “sekarang kalau perlu cetak lebih banyak dan tolong sampaikan ke masyarakat. Sekali lagi, sampaikan ke masyarakat. Judgement ada di masyarakat. Bukan di kita,” Wendo tidak ingat lagi kepada siapa ia melontarkan kegusarannya. “Tapi itulah yang saya katakan, dan saya ingat.”

Tak ada alasan bagi Gramedia untuk mengikuti saran Wendo menaikkan tiras. Mereka tetap mencetak 200 ribu eksemplar. Berbeda dengan sebelumnya, edisi kedua yang dipasangi gambar sampul Euis Darliah dalam posisi ngangkang dengan rok ditiup angin, diserap pasar sampai 30 persen atau sekitar 60 ribu eksemplar. Optimisme tiba-tiba melompat dari satu meja ke meja lainnya di ruangan redaksi.

Hari-hari berikutnya tambah menyenangkan. Telepon dari pembaca terdengar lebih sering berdering menanyakan ini-itu, termasuk menanyakan bagaimana kalau satu kupon kuis difotokopi agar bisa dipakai rame-rame. Surat-surat pun berdatangan, dan awak Monitor berebutan membukanya. Ucapan selamat terus mengalir dari pelbagai pelosok. Ada juga yang mengirimkan tumpeng sekadar ungkapan tumbuhnya kecintaan pada Monitor.

Reaksi pembaca agaknya bisa diterjemahkan sebagai reaksi pasar. Secara signifikan, tiras Monitor memang terus meningkat pada edisi-edisi berikutnya hingga pada edisi kelima oplah mencapai 200 ribu lebih. Tak berhenti sampai di sini. Pada minggu ketujuh, oplah mengalami ledakan hingga 280 ribu eksemplar. Ini agaknya dipicu edisi sebelumnya yang bersampul panas.
Pada edisi keenam, Monitor memang menurunkan laporan Veven Sp. Wardhana yang menguntit Lina Budiarti, salah seorang bintang tamu serial Losmen. Ia dikenal sebagai artis yang berani buka-bukaan. Budiarti dijadikan gambar sampul, dengan pose aduhai untuk ukuran waktu itu: rambut tergerai melewati bahu dengan kesan basah, dan dada berisi dalam balutan busana renang.

Edisi tersebut sekaligus jadi tonggak awal dibakukannya tipografis Monitor. “Format Monitor baru ketahuan di nomor keenam atau ketujuh,” tandas Wardhana. Dalam format baru, sejauh saya lihat, logo digeser ke pinggir kiri sehingga tidak lagi mengambil posisi sentrum. Ruang kosong di sebelah kanan dipakai untuk iklan kuping. Masih ada perubahan-perubahan lain di bagian dalam, namun saya kira yang paling pokok adalah hal tadi.

Oplah Monitor terus beringsut naik sampai edisi ke-12, dan meledak lagi di edisi ke-14 hingga hampir mencapai 500 ribu eksemplar. Ledakan ini, menurut Wendo, kemungkinan dipicu oleh edisi sebelumnya ketika Monitor menurunkan cover story artis Australia Rebecca Gilling dalam judul “Waaaauuu…!”

Laporan Gilling adalah hasil perburuan Mayong Suryo Laksono dan fotografer Atok Sugiarto. Khawatir keduluan media lain–Gilling akan datang di Jakarta hari Minggu sore, menit-menit deadline buat Monitor–Laksono dan Sugiarto bertolak ke Bali, tempat Gilling akan transit. Semula Monitor hendak mencegat di Sydney, namun mereka cemas tak bisa mendapatkan tiket pesawat. Berhasil. Di berbagai kesempatan, Gilling dapat mereka “todong.”

Lumrah publik begitu antusias ingin mendapat kepingan informasi mengenai Rebecca Gilling. Pemeran tokoh Stephanie Harper dalam Return to Eden –opera sabun asal Autralia, yang sukses di berbagai negara antara lain Indonesia, Turki, dan Polandia– ini mewakili karakter tokoh protagonis yang mengundang simpati. Mungkin ini karena penderitaan yang datang padanya begitu bertubi-tubi: kehilangan anak, dirusak wajahnya, hingga kehilangan perusahaan miliknya.

Return to Eden diproduksi sejak 1983 dalam bentuk blockbuster enam miniseri. TVRI menayangkannya setiap Rabu malam sejak 1986 atau ketika Return to Eden memasuki produksi kedua berisikan 22 episode. Monitor sendiri, sejak edisi kedua, mengangkatnya dalam satu halaman penuh. Di edisi lainnya, sampai-sampai Monitor merasa perlu mengurai plot cerita dalam bentuk skema, sehingga pemirsa televisi dapat dengan mudah melihat hubungan antara satu karakter dengan karakter lainnya; siapa si baik, siapa si buruk.

Keseriusan menggarap tema dan kepekaan menangkap isu, tak syak lagi, itulah yang melahirkan kekuatan redaksional Monitor. Semua itu tak datang dengan sendirinya. Mereka terus membangunnya dalam rapat-rapat redaksi yang biasa digelar saban Senin, yang mereka sebut “hari mati.” Sambil sekalian melakukan evaluasi terhadap penerbitan sebelumnya, pada “hari mati” itu mereka terus berdiskusi saling memancing ide. Tak ada dominasi pendapat di sini. “Suasananya enak banget,” ujar Laksono.

Pria asal Yogyakarta yang belakangan menikah dengan artis Nurul Arifin itu melihat figur Wendo sebagai pemimpin yang tak suka memaksakan pendapatnya. “Cara melatih dan mendidik dia itu nggak didaktik, dogmatis. Dia lebih mengarahkan.”

Yanto Bhokek mengiyakan. “Ia teman ngobrol yang menyenangkan. Kebiasaannya, ngajak diskusi dan diskusi. Begitu setiap hari. Ilmu kita jadi bertambah terus,” kata Yanto Bhokek yang mengawali kariernya di Monitor sebagai pesuruh, laden minuman. Dari “sekolah Monitor” ini ia bisa menulis, kemudian jadi stringer sampai akhirnya dipercayai memimpin biro Surabaya. Kini, ia jadi pemimpin redaksi Bintang Indonesia, tabloid hiburan juga.

Suasana lain yang terekam Yanto Bhokek adalah luasnya koridor demokrasi dalam mekanisme kerja sehari-hari. Dari Wardhana, saya tahu kalau di Monitor ada yang dinamakan satgas, kependekan satuan tugas. Seorang satgas diambil bergiliran dari lembaga dewan redaksi. “Fungsi satgas, fungsi pemred. Bisa memerintah Wendo untuk wawancara.”

AWAK Monitor tak bertekuk lutut di bawah konsep nilai berita ‘name makes news.’

Secara faktual terlihat, cerita sampul yang jadi dagangan utama Monitor kebanyakan datang dari ‘artis kelas dua’ atau paling tidak mereka yang berada di balik bayang-bayang nama besar ‘artis kelas satu.’ Sejak nomor perdana, formula ini sudah terlihat ketika Monitor memilih Veronika dan bukannya Rhoma Irama. Di edisi-edisi berikutnya, Monitor lebih suka membidik Euis Darliah ketimbang Vina Panduwinata, menguber-uber Lina Budiarti ketimbang Dewi Yul, mencandai Nena Rossier ketimbang Christine Hakim.

Kalaupun akhirnya pilihan terhadap artis kelas satu harus diambil, Monitor dijamin akan ‘memperkosa’ sang artis dengan jepretan-jepretan fotonya. Nungky Kusumastuti, umpamanya. Ia difoto dengan posisi dimasukkan ke dalam kain sarung yang digantung pada palang bambu. Hanya wajah dan kaki telanjangnya saja yang kelihatan. Kesannya, bugil. Keluarga Kusumastuti dikabarkan sempat memarahinya.

Memajang sampul artis kelas dua, tak hanya membutuhkan keuletan para fotografer untuk melobi dan menahan nafas dalam menyelesaikan tugasnya. Tapi juga perlu ketekunan para wartawan tulis untuk terus bereksperimen. Monitor akhirnya sampai pada kiat baru untuk masanya, yakni membuat judul-judul asosiatif. Simak umpamanya: “Saya Pasrah. Terserah Buka Mana …” Lina Budiarti menerangkan kebiasannya berbuka-bukaan di depan kamera; “Saya Masih Doyan Laki-laki …” Joice Erna membantah isu sebagai wanita biseks; “Cuma Sekali …” Nia Zulkarnaen menjelaskan adegan cium dengan Amy Search, penyanyi asal Malaysia, dalam syuting film Isabella.

Tidak semua pembacanya senang dengan foto-foto seronok dan judul-judul macam itu. Kritikan, protes, makian bahkan datang sejak pekan-pekan pertama Monitor dilarikan ke hadapan publik. “Sebagai media umum, Monitor sebaiknya selektif pada gambarnya,” tulis Nana Sastrawaty, seorang pembaca dari Makassar, memprotes gambar Euis Darliah yang ngangkang.
Pembaca lain, Sunarto S. Gondoutomo dari Jakarta, merasa kesal dengan ulah Monitor yang bukannya mengurangi porsi ‘berita dan foto panas’ justru malah menaikkan suhu dengan sajian-sajian berikutnya. Taruhlah seperti gambar Titi Qadarsih yang memang tidak ‘ngangkang’ tapi ‘ngongkong.’ Efeknya sama saja, yang menurut si empunya surat, “memancing selera rendah.”

Terhadap suara-suara pembaca demikian, Monitor acap langsung memberi komentar pada akhir surat pembaca. Kalau perlu, Wendo menggunakan Telop Monitor untuk menjelaskan sikap tabloidnya. Menulislah Wendo suatu ketika, “Euis adalah bintang segala ratu panggung, dan hanya Euis Darliah yang mampu bergaya seperti itu. Vero sedang memeluk gitar, Renny Jayusman dengan bayi lelakinya, Lenny dengan pakaian senam, adalah pas. Dan wajar. Impresi seperti itu yang ingin kita tonjolkan. Bukan sekadar mau mengobral gambar dan tulisan tentang ‘ngangkang.’ Betapa tidak menariknya kalau Chintami memakai pakaian penerjun.”

Bagaimana menghadapi kritik dari para dosen komunikasi, wartawan lain, atau pihak-pihak lain yang dianggap punya bobot intelektual berlebih? Apakah cukup dengan mengomentari surat pembaca sedang mereka tidak membuat surat pembaca? Apakah cukup mengurai penjelasan dalam Telop sedang mereka tidak membaca Monitor secara intens?

Monitor panjang akal. Taruhlah ketika menghadapi Astrid S. Susanto, pengecam pertama Monitor. Tak menunggu ledakan kemarahan berikutnya, dosen komunikasi dari Universitas Indonesia itu langsung diwawancarai awak Monitor. Jitu hasilnya. Astrid S. Susanto tak terdengar menyerang Monitor lagi.

Kritik, protes, kecaman pelan-pelan mereda. Monitor terus melanjutkan perjalanannya mencari ceruk-ceruk pasar yang masih bisa dimasuki. Setahun kemudian, tiras Monitor sudah menotok angka 600 ribu eksemplar. Tiga mesin dikerahkan untuk mencetaknya. Apa komentar Jakob Oetama kini?

“Jurnalisme raw itulah yang mungkin kita perlukan sekarang,” Wendo mengutip bosnya ketika memberikan prasaran di depan insan-insan Serikat Penerbit Suratkabar pada 1987.

Raw? Ini bahasa Inggris untuk “mentah,” kan?

HANYA dalam setahun Monitor dikabarkan mencapai break event point. Kalkulasinya sederhana: titik impas bisa dicapai sekiranya Monitor beroplah rata-rata 115 eksemplar setiap terbit dalam setahun. Nyatanya, oplah Monitor melambung jauh di atas target. Bahkan setelah harganya dinaikkan jadi Rp 500 pada 1989, oplah Monitor masih saja seperti gelombang air laut yang terkena angin barat. Pasang naik terus.

Gambaran menggilanya penjualan tiras Monitor barangkali bisa dijejak ke aktivitas setiap Selasa siang, hari ketika Monitor selesai dicetak seluruhnya. “Puluhan mobil dan motor,” begitu Wendo mengungkapkan, “siap menunggu palang pintu dibuka, dan dalam detik yang bersamaan, meluncurlah iringan bagai konvoi yang tak kalah dengan mereka yang berada di arena balap mobil. Pawai? Kampanye? Bukan. Ini kejadian rutin.”

Pemandangan yang ditangkap Wendo selanjutnya, para agen pulang dengan barang bawaan yang memenuhi kendaraan setelah berjuang rebutan jatah. “Satu sepeda motor, dengan berboncengan, bisa mengangkut 1.200 eksemplar,” ungkap Wendo.

Bisa saja Wendo cuma berbangga hati, dan ingin membuat semuanya jadi terkesan fantastis. Tapi, tunggu dulu. Simak Media Scene Indonesia edisi 1989/1990 yang dikeluarkan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia –yang bersandar pada data Survey Research Indonesia sepanjang 1985-1989.

Dari data yang ada, terlihat dengan jelas, bahwa dalam kurun waktu 1987-1989, Monitor terus memimpin oplah dalam kategori majalah mingguan, melampaui Bola, Tempo, Bobo, Femina, Nova, Hai, Tribun Olahraga, dan Jakarta-Jakarta. Angka kontribusinya terhadap oplah nasional dalam kategori tersebut adalah 46,9 persen (1987), 51,9 persen (1988), dan 55,4 persen (1989).
Tak ada penjelasan angka persisnya. Kalau pun ada, saya mungkin harus meragukannya. Sudah menjadi semacam rahasia umum, penerbit kadang-kadang nakal juga dalam mengumumkan oplahnya. Angka tiras dikatrol sejadi-jadinya demi gengsi, kalau bukan untuk lebih memancing masuk kalangan advertensi. Beda lagi dengan laporan ke Departemen Penerangan, hampir bisa dipastikan mereka akan berusaha memberi kesan miskin se-miskin-miskinnya biar “setoran” bisa diatur nafasnya.

Kembali ke oplah Monitor, berapa sebenarnya angka persis tiras Monitor, katakanlah tiras tertingginya? Wardhana bilang, oplah tertinggi Monitor mencapai sekitar 814 ribu eksemplar.

Saat tiras pasang naik, mereka pernah suatu ketika bergurau, jika kelak mencapai satu juta eksemplar, mereka akan menggunduli rambut. Tiras sebesar ini tak pernah kesampaian dalam hitungan real. Ini karena, sejak 26 Nopember 1989, Monitor dipecah jadi dua: Monitor (reguler) dan Monitor Minggu. Dan pada 26 September 1990, Wendo memecahnya kembali. Lahir kemudian Monitor Anak itu. Kebijakan unbundling ini memacu kanibalisasi Monitor reguler.

Toh kalau Monitor-Monitor itu disatukan oplahnya dalam satu paket hitungan, bisa jadi jumlahnya sudah mencapai sejuta eksemplar. Tapi ini bukan alasan bagus buat mereka untuk menggunduli rambut, agaknya.

Sejuta atau tidak, oplah Monitor tetap paling top. Ini memudahkan bagian iklan untuk terus bergerilya mengambil ceceran dari belanja iklan nasional. Media Scene Indonesia pada edisi yang sama memperlihatkan, Monitor mendapatkan kue iklan sebesar Rp 1,08 miliar pada 1987. Setahun kemudian jumlahnya sudah hampir tiga kali lipat menjadi Rp 3,17 miliar dan pada 1989 melipat lagi jadi Rp 6,32 miliar. Ini menempatkan Monitor sebagai salah satu ‘big five’ dalam perolehan iklan setelah Tempo, Kartini, Femina.

Oplah yang terus menggila, iklan yang merajalela, membawa konsekuensi melegakan bagi kesejahteraan awak Monitor. Dalam setahun, mereka bisa mendapat gaji 18 kali. Di luar gaji reguler yang 12 kali itu, mereka memang mendapatkan pemasukkan lain semisal bonus, grativikasi bagian keuntungan, selain gaji tambahan ketika datang hari raya Idul Fitri dan Natal. “Seorang reporter lepas bisa satu juta sebulan, kalau saya tak salah,” kata Wardhana. Untuk tahun 1990, pendapatan reporter sebesar itu, jelas lebih jreng ketimbang wartawan pemula di Kompas atau Tempo sekalipun.

“Saya pernah dapat seratus, lalu dua ratus,” sambung Wendo mengacu pada angka pembagian keuntungan saham yang mulanya hanya Rp 100 juta pada tahun pertama, dan meningkat jadi Rp 200 juta pada tahun-tahun berikutnya. “Itu cuma dari saham lima persen. Bayangkan berapa yang Harmoko dapet, dari saham 30 persen itu,” ungkap Wendo.

Karena ledakan bisnisnya, Wendo sempat mengangankan Monitor dapat memiliki gedung sendiri, tidak lagi menempati bangunan milik Gramedia, yang disebutnya ‘bedeng.’ Soal ini sering ditiup-tiupkan ke anak buahnya di Monitor, bahkan sekali waktu dihembuskan ke hadapan publik dalam guyonan khas Monitor di Telop 26 September 1990: “Insya Allah kami akan pindah ke … bedeng lagi. Sebelum akhirnya punya gedung sendiri, lewat mimpi kali.”

Konon bangunan itu direncanakan setinggi 11 lantai. Jika niat ini terwujud, alhasil akan lebih tinggi dari Kompas yang berlantai tujuh. Lokasi pembangunan, menurut Wardhana, direncanakan di Jalan Palmerah Barat, di samping kantornya. Tak kesampaian. Areal itu kini telah disulap jadi tempat kursus Lembaga Pendidikan Keterampilan Komputer.

Sekiranya tidak dibredel, mampukan Wendo mewujudkan mimpinya? Mungkin ada baiknya Anda melihat figur bisnis Monitor. Saya mulai dengan oplah. Dalam setahun, misal pada periode 1989-1990, akan didapatkan jumlah oplah trio Monitor sebesar 1.000.000 x 4 x 12 yakni 48 juta eksemplar. Dikalikan harga per eksemplar Rp 500, akan didapat omzet sekitar Rp 24 miliar. Sedangkan total perolehan iklan, bercermin pada Media Scene Indonesia tadi –ini didasarkan pada data Surindo Utama pada 1989– adalah Rp 6,3 miliar. Untuk lebih gampangnya katakanlah Rp 6 miliar –walaupun sebenarnya Media Scene Indonesia membuat proyeksi yang lebih gile lagi untuk 1990 yakni Rp 10,503 miliar.

Berbekal angka moderat itu maka perputaran omzet bisnis Monitor pada periode 1989/1990 adalah sekitar Rp 30 milyar per tahun, pada periode 1989 Ð 1990 itu. Ini angka ngawur? Mari kita lihat kalkulasi lain.

Dalam Rahasia Dapur Majalah di Indonesia, Kurniawan Junaedhie menuliskan angka pemasukan Rp 24,5 miliar. Angka ini bersandar pada analisis majalah Prospek terbitan awal Nopember 1990. Jika “pemasukan” diterjemahkan sebagai omzet, angka yang saya dapatkan itu lumayan ngaco. Namun, bila “pemasukan” tersebut dianggap tafsir gain, mohon maaf, justru Junaedhie yang ngawur. Paling tidak, angka “gain” ini agak susah untuk mengkonfirmasi perolehan pembagian keuntungan saham lima persen Wendo yang Rp 200 juta itu pada, kira-kira, periode yang sama.

Bagaimana sebenarnya bisnis Monitor yang nyaris di luar akal sehat itu bisa dijelaskan? Saya bisa saja langsung mengecap Monitor cuma beruntung. Jawaban versi asal nguap ini bisa benar bisa tidak. Dibilang tidak, karena ada realitas lain yang menunjukkan jalan masuk ke arah kemungkinan yang lebih rasional.

Sejarah memperlihatkan, tabloid Monitor hidup tanpa saingan di masa jayanya. Apa yang digarapnya, adalah segmen baru yang sama sekali belum dirambah media lain. Orang membutuhkan informasi acara televisi, siapa pengisi acara tersebut, bagaimana acara dibuat. Lebih jauhnya, bagaimana kehidupan para pengisi acara, artis, dan macam-macam lagi termasuk gosip yang bersliweran di antara mereka.

Masalah-masalah televisi tadi kemudian diramu dengan paha dan dada. Wendo menamainya jurnalisme “ser dan lher.” Bumbunya, kuis berhadiah dan ramalan judi. Dalam penanganan kuis, Monitor bahkan harus menunjuk Globe Promotion Service sebagai kontraktor, sekadar untuk mengirimkan hadiah.

Akan halnya ramalan, ini cerita lain. Awalnya, Monitor mengetengahkan ramalan “Porkas Cuaca,” yang diidentikkan dengan kode pemecah Porkas, program judi nasional yang dirancang Soedomo, menteri koordinator politik dan keamanan saat itu. Judi Porkas dimaksudkan sebagai upaya untuk menimbun dana buat perkembangan olahraga. Nyatanya, olahraga tak pernah mengalami perkembangan signifikan, sementara jutaan rakyat Indonesia ternggelam dalam mimpi-mimpi kosong.

Ketika Porkas yang menggunakan kode huruf diprotes dan bubar, Monitor menghidangkan “Mbah Bejo.” Sama saja, orang menggunakannya untuk menebak judi Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah yang lazim disingkat SDSB, yang juga dicanangkan Soedomo. Bila Porkas menggunakan huruf, SDSB memakai angka.

Segala keunikkan yang didesain Monitor, selain mendongkrak pasar eceran, juga melahirkan pembaca-pembaca fanatis yang selalu merasa rindu akan kehadiran terbitan Monitor terbaru. Saking fanatisnya, beberapa di antara mereka mengganti nama dirinya dengan “Monitor.” Ini antara lain dilakukan Syahrir, siswa Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri I Medan. “Saya sih setuju saja ganti nama saya menjadi Monitor,” tulisnya. Tak cuma sekadar ganti nama, pembaca lain bernama Agus Mulyono dari Tegal (dengan alamat lengkap), menamai anaknya Adi Darmawan Monitor. “Biar cepat gede, kita kirimkan payung, kaos, dan sekadar buat beli bubur,” balas pengasuh surat pembaca.

Keluarga Agus Mulyono pun ketiban rezeki Rp 50 ribu.

EKONOMI Indonesia memperlihatkan wajah cerah sejak awal 1990-an. Picu agaknya berasal dari beleid pencabutan sejumlah retriksi investasi secara gradual, yang antara lain memungkinkan digantinya Daftar Negatif Investasi (DNI) oleh Daftar Skala Prioritas (DSP). Praktis, sektor-sektor usaha yang bisa ditanami modal jadi lebih banyak. Investor asing tergoda. Cerita susulannya Anda tahu sendiri, mereka berbondong-bondong merelokasikan industrinya –frasa lain untuk memindahkan mesin-mesin usang sambil menadah hujan keuntungan dari upah buruh murah.

Fenomenal dampaknya. Investasi dengan fasilitas PMA (Penanaman Modal Asing) pada 1990 mencapai kenaikan fantastis hingga mampu menembus angka 8,7 miliar dolar AS dari angka tahun sebelumnya yang 4,7 miliar dolar AS. Serbuan ini melahirkan efek domino. Investor-investor lokal yang hendak menggunakan fasilitas PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) ikut-ikutan berlaga di sekeliling putaran rolet ekonomi yang kian cepat. Sebagian melayani investor asing sebagai partner, sebagian menjadi subkontraktor. Lainnya, terjun ke sektor-sektor bisnis yang masuk hitungan DSP. Indonesia beringsut dari ekonomi agraris ke ekonomi uang.

Dunia pers yang selama ini tenang-tenang saja, tiba-tiba bergemuruh. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, sebuah organisasi kemasyarakatan keagamaan, membuat Republika, sebuah koran harian. Pengusaha-pengusaha nonmedia seperti Fadel Muhammad merogoh koceknya memodali majalah mingguan Warta Ekonomi dan majalah otomotif Mobil Motor. Lalu Peter Gontha di Indonesian Observer, Probosutedjo (Berita Buana), Abdul Latief (Harian Ekonomi Neraca), Bambang Yoga Sugama (Berita Yudha), dan Sudwikatmono yang menafasi Sinar. Di belakang hari, stasiun televisi swasta pun disentuh mereka. Gontha mendirikan RCTI, Siti Hardijanti Rukmana bikin TPI.

Buat Kelompok Kompas Gramedia, situasi itu, selain sebuah peluang, juga mungkin dianggap ancaman bagi stabilitas dirinya. Segera saja Gramedia menyusun siasat untuk mengamankan situasi. Tapi, bagaimana mereka bisa mendapatkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) padahal pemerintah sudah menyetop perizinan baru untuk suratkabar dan majalah umum?

Gramedia mulai menjalankan siasatnya. Ke daerah, mereka sibuk beraliansi dengan sejumlah media-media lokal. Dengan Serambi Indonesia di Aceh, Mandala di Bandung, Bernas di Yogyakarya, Pos Maluku di Ambon, Pos Kupang di Kupang, Suara Timor Timur di Dili, dan banyak lagi. Di pusat, mereka memborong SIUPP dan membikin tabloid banyak-banyak, selain majalah-majalah bersegmen khusus. Separuh besar jatuh ke pangkuan Wendo.

Pria yang tak pernah necis dalam berpakaian itu tiba-tiba saja dikenal sebagai juragan penguasa 22 SIUPP. Orang pun akhirnya tak cuma mengenal Wendo sebagai pemimpin redaksi Monitor, tapi juga wakil direktur Gramedia Majalah, sebuah direktorat yang diberi hak mensupervisi seluruh penerbitan majalah dan tabloid di kerajaan Palmerah. Bisa dibayangkan berapa besar kekuatan yang dimiliki Wendo saat itu.

Ada peribahasa lama, makin tinggi pohon makin kencang angin menerpa. Ini pula yang dialaminya setelah Wendo berada di puncak. Tapi ia bukan manusia tempe. Ia menghadapi tiupan angin di sekitarnya dengan sikapnya yang serba mengentengkan masalah. Di balik kesan kendo ini, diam-diam ia membuat kelompok yang dikenal sebagai “Seven Samurai.” Tak penting benar siapa anggotanya. Ini cuma kelompok akal-akalan yang dibikinnya untuk menggertak para bos di Gramedia yang gatal tangan untuk turut campur urusan orang.

“Saya lawan mereka,” ujar Wendo.

Urusan yang begitu bejibun –termasuk mengangkat pamor majalah berita bergambar Jakarta-Jakarta yang redup gara-gara konflik internal, diikuti mundurnya pemimpin redaksi Noorca M. Massardi– karuan saja membuat Wendo harus pontang-panting. Wendo akhirnya menyerahkan urusan perut redaksi Monitor kepada Tavip Riyanto sebagai wakil pemimpin redaksi-cum-penanggung jawab sehari-hari Monitor. Siapa dia?

Riyanto berkarier di Monitor sejak minggu-minggu pertama terbit. Ia suka menulis masalah-masalah radio, termasuk meMonitor perkembangan drama radio dengan segala pernak-pernik di belakangnya, mulai pengarang cerita sampai pengisi suara. Namanya mulai tercantum pada edisi kedelapan terbitan 24-30 Desember 1986 sebagai pembantu tetap. Ada dua pembantu tetap sebenarnya. Satunya lagi, Djoko Supriyadi yang kelak jadi kepala produksi dan punya kaitan langsung dengan kasus angket Monitor yang terkenal itu.

Markas Monitor kontan gonjang-ganjing. Suasana yang semula serba adem berubah gerah. Sejumlah redaktur bangkit dari tempat duduknya dan mempertanyakan kriteria penempatan Tavip Riyanto di pos barunya. Celakanya Wendo, Riyanto keponakannya. Ini jadi titik lemahnya. Wendo terjepit. Ia mulai kehilangan rasa humornya, “Kalau nggak sejalan ya sudah. Kamu keluar atau saya keluar.” Begitu Aries Tanjung melukiskan reaksi Wendo.

Dihadapkan dengan tantangan itu, para redaktur Monitor memilih jalan untuk melawan. “Seven Samurai” mereka adaptasi. Terbentuklah “Tujuh Samurai” yang beranggotakan Veven Sp. Wardhana, Aries Tanjung, Mayong Suryo Laksono, Hans Miller Banureah, Gunawan Wibisono, Bujang Praktiko, ditambah fotografer Sondjaya Arifin.

Para ‘pemberontak’ itu lantas membuat petisi lisan tidak percaya pada kepemimpinan Wendo, utamanya pada keputusannya mengangkat Riyanto sebagai bos baru mereka. Lobi-lobi dilakukan. Rapat-rapat tak resmi digelar. Tak hanya di kantor, mereka membawa masalah ini keluar. Puncaknya, mereka menggelar rapat di sebuah restoran di kawasan Tomang.

“O ya, saya yang membawa mereka,” kata Aries Tanjung menerangkan, “Saya ngajak teman-teman ke rumah Mas Wendo untuk nanya baik-baik.”

Apa yang terjadi?

Tanjung bilang, Wendo tidak segarang ketika di kantor. Petisi mereka mendapat perhatian serius. “Sudah nanti dilihat lagi,” kata Wendo, sebagaimana diucapkan Tanjung.

Walau tak memperoleh jawaban optimal, mereka kembali ke kantor. Syamsudin Noer Moenadi, yang sebelumnya berada di garis politik Tujuh Samurai, namun menghilang tak jelas rimbanya begitu datang niat mendemo rumah Wendo, jadi sasaran pelampiasan sisa-sisa kekesalan mereka. Moenadi dicap pengkhianat. Di kantor, seperti dituturkan Wardhana, dengan berang Bujang Praktiko menudingkan telunjuknya ke wajah Moenadi, “Judas kamu!”

Perpecahan tak terhindarkan lagi.

“Saya kira situasinya emosional sekali. Kadang-kadang kalau ingat malu juga. Rupanya dia (Wendo) punya rencana lain, jangka panjang. Dia akan berikan SIUPP-SIUPP itu,” tutur Tanjung.

Penuturan Tanjung ada benarnya. Hanya beberapa waktu setelah keributan itu, Laksono dipanggil. Dia diminta mengurus penerbitan Monitor Minggu setelah diterbangkan ke luar negeri memperdalam pengetahuan jurnalistiknya. Lalu Irene Suliana, ditugasi menangani Monitor Anak. Wardhana tak ketinggalan. Setelah mengajukan konsep tabloid kriminal karena memang Gramedia tak memilikinya, ia diserahi SIUPP Saksi, selain Bintang Indonesia. Yang disebut terakhir diperoleh Wendo dari ‘bandar SIUPP’ Noor Slamet Asmaprawira, adik Harmoko.

Anggota Tujuh Samurai lain juga mendapat bagian. Banureah, misalnya, diserahi SIUPP Citra Musik. Sedang Moenadi, yang hampir tak pernah akur dengan Wendo, diberi SIUPP Film dan Artis.

Untuk lebih mendinginkan situasi, dengan mengambil latar berkomunikasi pada publiknya, Wendo memerlukan diri menulis di kolom Telop yang intinya menekankan, bahwa perubahan struktural dan fungsional yang dilakukannya semata untuk lebih sadar akan tanggung jawab. Lebih jauhnya, sadar akan perlunya pendekatan di sana-sini sesuai dengan target pembaca. “Walau wartawan baru kalau menunjukkan kemampuan memimpin dan mengkoordinasikan tugas-tugas, bisa menduduki jabatan ‘satgas’–yang menyatukan tugas dalam satu nomor penerbitan,” tulis Wendo.

“Soalnya bukan soal yunior atau senior, dia (Riyanto) nggak mampu aja. Nggak punya perspektif,” komentar Wardhana pada saya. Ia kemudian menuturkan oplah Monitor yang terus merosot hingga mencapai titik 400 ribu atau malah 300 ribu eksemplar memasuki paruh kedua 1990-an.

Mungkin faktor individu bukan satu-satunya penyebab kemerosotan Monitor.

Sebuah lembaga pers, yang berada di dalam dan di antara sistem sosial, bukanlah institusi terasing dan harus mengasingkan diri. Ia harus selalu berhubungan dengan publiknya untuk dapat terus bertahan. Perhatian, sekaligus kepercayaan publik, menjadi penentu akhir apakah sebuah lembaga pers dapat bertahan atau habis sama sekali. Pertanyaan yang bisa dikedepankan adalah seberapa lama jurnalisme ‘ser dan lher’ ala Monitor dapat mengikat perhatian sekaligus memelihara kepercayaan publiknya?

BERKARUNG-KARUNG kartu pos datang ke Jalan Palmerah Barat, markas besar Monitor. Djoko Supriyadi menyortirnya dengan tekun. Ia dibantu tiga pesuruh: Miseri, Jumiyo, dan Ngateno.

“Yang saya sortir tak kurang dari lima karung,” kata Supriyadi.

Tiap seratus lembar kartu yang sudah tersortir, mereka ikat dengan karet gelang. Tuntas menyeleksi dan mengarsipkannya, Supriyadi memroses seluruh data sortiran ke dalam komputer dengan menggunakan perangkat Lotus. Ia kemudian membuat salinannya dalam bentuk hard copy untuk diantarkan ke ruang kerja Wendo. Ia taruh begitu saja di meja karena Wendo kebetulan sedang sibuk.

Selang beberapa waktu, Wendo memeriksa print-out itu. Tangannya mulai bekerja untuk memberi pengantar sekaligus penjelasan terhadap data-data tadi. Naskah yang baru saja diketiknya dijuduli “Ini Dia: 50 Tokoh Yang Dikagumi Pembaca Kita.” Baik naskah maupun tabel nama tokoh-tokoh yang diurut segera dikirim ke Supriyadi untuk ditata dalam komputer Macintosh. Wendo sama sekali tak membayangkan naskahnya akan membuat dia tidak dikagumi publik, kelak. “Tak terpikir sekelebat pun, bahwa ini sebuah kesalahan fatal,” tutur Wendo.

Dalam Monitor edisi 255 yang terbit pada 15 Oktober 1990, naskah Wendo ditaruh di halaman satu, berdampingan dengan foto sampul Nia Zulkarnain dalam balutan kaos putih ketat sehingga lekuk-lekuk dadanya terlihat jelas. Tulisan itu hasil akhir dari kuis “Kagum 5 Juta.”

Seperti diungkap pledoi Wendo di pengadilan negeri, kuis tersebut dari bermula dari isian untuk mengetahui tokoh yang dikagumi pembaca Monitor dan alasan mengaguminya. Demi kuis “Kagum 5 Juta” Wendo mengorbankan kuis Teka-Teki Televisi, galib disingkat TTT, yang dimuat sejak pertama kali Monitor terbit. “Sesungguhnyalah tak ada istimewanya dengan TTT rutin yang selama ini diadakan. Tidak juga jumlah rupiahnya, karena merupakan kumpulan sekian jumlah yang biasa diberikan,” tandasnya. Kuis TTT biasa memberikan hadiah Rp 500 ribu untuk 10 pemenang. Sedangkan “Kagum 5 Juta” memberi hadiah untuk 100 pemenang.

“Kagum 5 Juta” pertama kali diumumkan pada Monitor Minggu edisi 2 September 1990. “Nomor ini tebakannya mudah, hadiahnya gagah,” demikian antara lain Wendo memberi pengantar.

Tak ada batasan apapun untuk kandidat tokoh yang dipilih. Kuis terkesan gado-gado jadinya. Ada politisi, negarawan, penyanyi, olahragawan, pelukis, pengusaha, sultan, bahkan nabi. Sebagian dari mereka sudah meninggal, sebagian lagi masih hidup. Ada tokoh dalam negeri, ada tokoh luar negeri. Maksud Wendo memang hanya iseng-iseng. Kesan lebih iseng mungkin akan makin terasa kalau saja Wendo tidak membatasi sampai 50 tokoh. Simak saja, dari 33.963 lembar kartu pos yang masuk, sebanyak 1.721 suara di antaranya memilih ibu kandung, pacar, tetangga, malahan dirinya sendiri.

Dalam ranking 50, jumlah pemilih terbanyak jatuh kepada Soeharto, presiden Indonesia waktu itu, dengan 5.003 pemilih. Di bawahnya, terdapat nama B.J. Habibie (2.975), disusul Soekarno (2.662). Iwan Fals satu-satunya artis yang nyelip di antara peringkat 10 besar. Ia menempati urutan ke-4 dengan 2.431 pemilih. Wendo sendiri rupanya beken juga. Ia berada di peringkat ke-10, dengan 797 suara. Di bawah Wendo tercantum Nabi Muhammad.

Tak ada tanda-tanda langit bakal mendung, tak ada sinyal-sinyal Monitor bakal kena pentung. Tapi apa yang terjadi hari berikutnya sungguh di luar dugaan: telepon yang datang ke redaksi bukannya dari orang yang menanyakan hadiah, tapi dari mereka yang marah. Ada yang mengatasnamakan tukang becaklah, gurulah, atau aktivis masjid. Pada 17 Oktober 1990 atau dua hari setelah terbit edisi “Kagum 5 Juta,” massa datang secara sporadis. Sama sekali tak ada kekaguman pada wajah-wajah mereka.

Di beberapa wilayah, demikian pula di luar Jakarta, Monitor sudah mulai jadi bahan perbincangan. Udara pengap mulai terasa di dalam kantor.

Sehari kemudian, Subrata dari Departemen Penerangan melayangkan peringatan keras.

Kantor agaknya makin pengap buat Wendo. Ditemani wakil pemimpin umum Suyanto, Wendo memilih tinggal di hotel dan membahas langkah-langkah yang perlu diambil untuk mendinginkan situasi, sekaligus meloloskan diri dari malapetaka yang mungkin menerkamnya. Ia pun mengetikkan pernyataan maaf untuk dimuat Monitor pada 22 Oktober 1990, sekaligus menyusun draf pidato di televisi. Orang-orangnya sibuk mem-booking kavling iklan di berbagai suratkabar, baik yang terbit di ibukota maupun daerah. Jumat 19 Oktober 1990, Wendo tampil di televisi. Dalam wajah serius, ia bersungguh-sungguh meminta maaf.

Keadaan bukannya tambah tenang. Hampir seluruh kota besar di Indonesia, terutama Jakarta dan Bandung, berguncang di hari berikutnya. Permintaan maaf Wendo langsung ditafsirkan sebagai pernyataan telah berbuat salah. “Gantung Arswendo!” “Bakar Arswendo!” “Cincang!” “Rajam!” Begitulah kira-kira hujatan buat pria yang doyan canda itu.

Ricke R. Senduk, salah seorang wartawan lepas, merasakan kemarahan itu. Ia, yang sudah merasa Monitor sebagai tempatnya menyandarkan hidup, segera mengamankan sejumlah inventaris kantor yang dianggap vital, terutama dokumentasi foto, biodata artis, kartu-kartu nama. Ia bekerja cepat sejak Minggu malam, 21 Oktober 1990. Bersama kawan-kawannya, seluruh lemari kabinet ia buka dan isinya ia tumpahkan ke kardus, karung, atau apa saja. “Saya bawa ke Taman Ratu,” kata Senduk, mengacu tempat tinggalnya.

Esoknya, Monitor terbit tanpa tenaga. Tak ada paha yang mengangkang, tak ada dada yang menantang. Halaman satu melulu berisi pernyataan maaf. Bukan dari Wendo pribadi, tapi dari seluruh karyawan Monitor. Ia mencabut tulisan “Ini Dia: 50 Tokoh Yang Dikagumi Pembaca Kita,” dengan alasan tulisan tersebut dapat menimbulkan penafsiran keliru dan dapat menyinggung perasaan, khususnya umat Islam. Iklan dikunci dengan kalimat, “Mohon maaf atas kekhilafan kami.”

Ini dia antara lain hasilnya: 23 Oktober 1990, SIUPP nomor 194/1984 untuk Monitor dicabut. Langsung diteken oleh Menteri Penerangan Harmoko, pemilik saham 30 persen itu.

Harmoko tak beraksi sendirian. Keputusannya mendapat dukungan wartawan-wartawan tua yang tergabung dalam Dewan Pers, organ boneka penguasa Orde Baru. “Kalau tindakan itu tak diambil dampaknya akan luas,” kata pengurus harian Atang Ruswita, bos Pikiran Rakyat, Bandung.

Situasinya memang terbalik-balik saat itu. Wartawan merasa harus menjaga stabilitas politik dan keamanan, sementara menteri koordinator politik dan keamanan justru asyik ngurus judi. Judi SDSB.

HATI-HATI bikin angket. Saya tidak bermaksud memperingatkan Anda. Klausa itu saya sambil dari judul laporan Tempo edisi 27 Oktober 1990.

Terpaparkan di sana, betapa angket bisa menjadi sumber masalah bagi pembuatnya. Simak umpamanya kasus yang menimpa PT Suburi –sebuah perusahaan asing di Jakarta yang bergerak di bidang survei dan riset. Direktur John M. di Gregorio, asal Amerika, pada 1972 sempat dituduh melakukan kegiatan subversif oleh Amir Machmud, yang ketika itu menjabat menteri dalam negeri.

Kisah kasus Suburi dimulai dari dua mahasiswa Universitas Diponegoro yang melapor pada intelijen Komando Daerah Militer Diponegoro. Mereka merasa curiga melihat kerangka survei PT Suburi, yang antara lain meminta pendapat masyarakat tentang delapan tokoh nasional, dan di situ tercantum nama Presiden Soeharto di urutan ketiga. Padahal, seperti kata Harijadi S. Hartowardojo, salah seorang pendiri perusahaan itu, “Presiden Soeharto dicantumkan dalam urutan ketiga, karena dalam metodologi riset, pertanyaan itu haruslah objektif dan tidak memberikan sugesti kepada responden,” ujarnya.

Namanya juga tentara. Dikasih tahu, yang keluar “pokoknya.” Pokoknya ini membahayakan negara, kira-kira begitu militer memberi tanggapan. Masih ada ekornya: Suburi dituding melakukan kegiatan spionase. Maka, izin operasi Suburi pun dicabut.

“Angket Monitor tidak bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis,” kata Enceng Sobirin pada saya, tempo hari. Sobirin sehari-harinya bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, organisasi nirlaba yang didirikan sejumlah intelektual Indonesia pada 1971, di bawah sokongan institusi penyandang dana Friedrich Niemann Stiftung.

Sobirin tak tahu apakah yang dilakukan Wendo sekadar suatu trik jurnalistik untuk mendongkrak sirkulasi, atau menjual sensasi, sebagaimana dikatakan berulang-ulang si empunya angket bahwa ia hanya bermaksud iseng. “Secara jurnalistik sah-sah saja asal jangan diklaim survei,” kata Sobirin, seraya buru-buru menambahkan, “saya kira jurnalistik tidak bebas nilai. Harusnya kepekaan ini dipegang.”

Trik jurnalistik atau bukan, dua tahun sebelum kasus Monitor meruyak, Matra pernah jadi pusat perhatian publik gara-gara memuat hasil angket yang menyimpulkan dua pertiga pria di Jakarta pernah berselingkuh, bahkan berhubungan seksual di luar nikah. Banyak yang mempertanyakan metodologi pengumpulan datanya setelah tahu bahwa respondennya cuma 499 orang. Tentu, ini sulit merepresentasikan 3,5 juta pria Jakarta.

Tak ada bredel yang menimpa Matra. Tak ada jaring hukum menjerat pemimpin redaksinya. Tapi Monitor soal lain. Wendo adalah hal berbeda. Massa boleh jadi tak tahu dan tak pernah mau berurusan dengan tetek-bengek metodologi angket, kriteria, sampel, responden, kategorisasi-kategorisasi. Mereka lebih tertarik isu besar, sebuah isu yang berkenaan dengan agama yang diyakininya; nabi yang menjadi panutannya. Mereka merasa terhina, terlukai.

Majalah Sastra pernah kesandung soal beginian ketika memuat cerita pendek Langit Makin Mendung karangan Ki Panji Kusmin pada edisi Agustus 1968. Cerita fiksi sepanjang enam halaman itu antara lain menceritakan Nabi Muhammad, yang memohon izin kepada Tuhan, cuti ke bumi untuk melakukan riset, karena “akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.” Kantor majalah Sastra tak urung dirusak. Penanggung jawab majalah, H.B. Jassin, diseret ke pengadilan pada Februari 1970, walau dirinya sudah minta maaf dan mencabut karya fiksi tadi.

Umat Islam pun marah besar ketika Salman Rushdie merilis novelnya, Ayat-Ayat Setan (The Satanic Verses) pada awal 1990. Novel ini dianggap menghina Nabi Muhammad. Di negara-negara mayoritas Muslim, novel itu dibakar. Rushdie dihujat, diburu. Ayatollah Khomeini, mullah tertinggi di negara Iran, bahkan menjatuhkan hukuman mati pada novelis asal Inggris itu.

Wendo barangkali tak sebego yang ia katakan. Mungkin ia tahu kasus-kasus semacam itu. Tapi tak tertutup pula kemungkinan lain: ia mengetahui adanya perkara sejenis, yang justru luput dari tatapan publik, khususnya umat Islam. Anda benar, Wendo memang tidak benar-benar bego.

Di depan sidang pengadilan waktu itu, Wendo mengajukan kasus yang nyaris sama persis. Yakni, kasus buku Perbedaan Antara Pemimpin dan Aktivis Gerakan Protes Mahasiswa buah karya Sarlito Wirawan Sarwono. Buku ini dibuat Sarwono dari disertasinya untuk meraih gelar doktor di bawah pembimbing Fuad Hassan dan S. Sadli, dengan promotor Slamet Imam Santosa, J.M.F. Jaspar, I.R. Poedjawijatna. Kecuali S. Sadli, mereka bergelar profesor semuanya.

Dalam buku tersebut, di bawah topik “Tokoh Ideal” tercantum nama Nabi Muhammad, setelah Soekarno di urutan pertama dan J.F. Kennedy di urutan kedua. Berikutnya, ada nama Soeharto, Henry Kissinger, R.A. Kartini, Napoleon Bonaparte, pun Ali Sadikin. Jumlahnya mencapai 13 tokoh, diikuti tokoh-tokoh lain. Metode yang dilakukan Sarwono, ya angket juga.

Hasil angket tersebut, demikian Wendo, dikutip dengan urutan dan persentasenya oleh majalah berita mingguan Tempo, terbitan 3 Juni 1978 dalam laporan utamanya di bawah judul “Dan Ia Pun Kita Bicarakan Lagi.”

Soal membandingkan nabi, Wendo pun menunjuk buku lainnya. Buku itu, The 100: a Ranking of the Most Influential Persons in History karya Michael H. Hart, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah oleh Mahbub Djunaedi.

Buku-buku tersebut, begitu pula majalah Tempo yang mengutip detail, hemat Wendo adalah media massa seperti halnya Monitor. “Sama-sama dicetak dan dijualbelikan untuk umum, sama-sama membandingkan Nabi Muhammad S.A.W,” ujarnya. “Saya mengemukakan ini bukan untuk mengajak rekan-rekan berada dalam sidang pengadilan, dan menjadi terdakwa. Jauh dari niatan itu. Saya kemukakan sebagai bahan pertimbangan, sebagai bahan perbandingan.”

Wendo tidak bisa terus bersikukuh dengan pendapatnya. Ia akhirnya mengikuti opini massa, bahwa memang dia bersalah dan menyesali perbuatannya. “Bahwa Nabi Muhammad S.A.W. tak bisa dibandingkan dengan manusia biasa, atau tak boleh dimasukkan ke dalam tokoh yang dikagumi dan dibandingkan, saya berani mengorbankan kejujuran saya dan tidak memuatnya,” katanya kemudian.

Sayup-sayup di Yogyakarta, Djarnawi Hadikusumo dari Muhammadiyah, berujar dan direkam Tempo, “Bila Monitor meletakkan Nabi Muhammad S.A.W. pada peringkat ke-11 di bawah Arswendo, itu versi Monitor. Ukuran yang digunakan Monitor adalah tokoh yang paling banyak penggemar. Biar saja. Saya tidak perlu memprotes. Saya malah baru merasa heran kalau Nabi Muhammad menjadi tokoh nomor satu di Monitor. Soalnya, pembacanya adalah orang yang suka dansa-dansi, hura-hura, bukan kaum agama.”

“Nabi tidak berkurang kebesarannya karena angket Monitor,” timpal Abdurrahman Wahid.

Baik suara Hadikusumo maupun Wahid tenggelam di antara gelora massa. Kalau pun terdengar, belum tentu jaksa dan hakim mengikuti garis pendapat macam itu.

BANDUNG, Oktober 1990. Saya memutuskan berhenti dulu dari kegiatan jurnalistik sebagai koresponden koran harian Pelita dan kembali ke kampus untuk membereskan kuliah yang selama ini terbengkalai. Di sela-sela ini, kawan-kawan di kampus pusat Universitas Padjadjaran minta saya berpartisipasi mengirim massa untuk mendemo Monitor. Kampus Universitas Padjadjaran saat itu masih berceceran di berbagai tempat, antara lain di Jalan Dago Atas, Jalan Bagusrangin, Jalan Pasirkaliki serta di kompleks perkampungan Sekeloa.

“Ini aksi spontan, Bung,” kata seorang kawan, yang saya sudah lupa namanya. Demi aksi “spontan” ini, saya dan kawan-kawan berangkat dari Sekeloa ke Jalan Dipatiukur, Bandung, tempat massa dikonsentrasikan.

Di sana, tepatnya di lapangan parkir utara kampus pusat, massa sudah menyemut. Saya yang tak tahu masalah karena memang bukan pembaca Monitor, memilih duduk di bawah pohon rindang di depan aula. Namanya juga partisipasi, saya lebih banyak nonton demo, persisnya nonton penonton demo yang menurut saya, beberapa di antaranya cantik-cantik. “Bakar Arswendo!” teriak seorang pengunjuk rasa lewat megaphone. Dan patung happening art terbuat dari kertas tabloid Monitor itu, yang mempersonifikasikan Wendo itu, dilalap api. Teriakan “Allahu Akbar” mengiringinya.

Menjelang bubaran, laksana pahlawan saya berlari ke tengah massa mencoba mengamankan Jalaluddin Rakhmat dari kerumunan massa yang berebut menyalami dan menciumi tangannya. Saya punya ikatan emosional padanya. Jalaluddin Rakhmat dosen favorit kami di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, yang ketika itu menjadi simbol perlawanan atas kebobrokan rezim Orde Baru. Kini, setelah dipecat dari kampus dan menyelesaikan studi doktoralnya di Australia, Rakhmat cenderung memilih jadi seorang sufis Islam.

Aksi-aksi yang melibatkan Rakhmat nyaris selalu besar. Saya baca di koran-koran, di kota-kota lain pun aksi masa besar-besar, melibatkan ratusan sampai ribuan orang. Namun, saya kira, aksi-aksi itu tidak semassif dan sedramatis di kota saya. Di Bandung, seingat saya, unjuk rasa menghujat Monitor meletus di hampir semua perguruan tinggi papan atas, sejak di Institut Teknologi Bandung, Institut Agama Islam Negeri, Universitas Islam Bandung, hingga Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung. Di tempat ibadat pun, mulai pusat aktivisme Islam Masjid Salman dan Istiqomah sampai Masjid Agung, kutukan terhadap Monitor nyaring terdengar di selang-seling shalawat badar.

Akan tetapi, segalak-galaknya aksi di Bandung, massa tak sampai merusak simbol-simbol kerajaan Kelompok Kompas Gramedia seperti kantor perwakilan Kompas di Jalan Martadinata, atau kantor redaksi tabloid Mandala di Jalan Gatot Subroto waktu itu.

Di Jakarta situasinya berbeda. Selain berduyun-duyun ke Jalan Palmerah Selatan, ibukota kerajaan Gramedia, massa menyatroni kantor Monitor di Jalan Palmerah Barat.

Massa datang dari pelbagai penjuru kota mengepung kantor Monitor pada Senin, 22 Oktober 1990. Dari hanya bergerombol dan adu urat leher dengan petugas pengamanan, sekitar pukul 11.00, kaca jendela ditimpa sebuah batu. Praaak! Bak sebuah komando, mereka sontak melempari jendela-jendela kantor. Sebagian di antaranya menerobos ruang redaksi, mengaduk-aduk arsip yang belum terselamatkan, menghantam komputer, menjungkir-balikkan kursi dan meja. Sejumlah foto artis yang menempel di dinding tak urung mereka robek-robek dengan murka sejak pertama kali mereka datang menyerbu. Ijazah sekolah menengah dan buku tabungan Mayong Suryo Laksono ikut-ikutan kena sasaran anarkisme ini.

“Salah saya sendiri. Saya membiarkan barang-barang geletakan begitu saja,” ucap Laksono, yang kala itu sedang berada di Yogyakarta menghadiri peringatan 40 hari meninggalnya Suryadi Ari, kakaknya.

Jeritan histeris karyawan-karyawan perempuan sejak massa datang, seolah bagai sebuah lagu mars bagi pengunjuk rasa untuk tambah bersemangat meluluhlantakkan isi kantor. “Apa saja dirusak massa,” Ricke R. Senduk mencoba melukiskan.

Sadar situasi tak lagi bisa dikendalikan, Wendo diseret sejumlah karyawan dan diloloskan lewat jalan belakang. Di sana, sekitar sepuluh karyawati bergerombol dengan wajah-wajah pucat.

Wendo diberi helm dan dinaikkan ke dalam pick up, kendaraan yang biasa digunakan untuk mendistribusikan Monitor. “Saya satu-satunya cowok di antara cewek-cewek,” ujar Wendo. Dalam kebingungan, kendaraan dilarikan ke Jalan Bangka, ke rumah Kristina Ermin, salah seorang fotografer magang yang membuat gambar sampul Nia Zulkarnaen pada Monitor bermasalah itu.

Hanya sebentar di sana. Sempat terpikir oleh Wendo untuk mencari hotel atau segera pulang ke rumahnya di Jalan Damai, Kompleks Kompas. “Saya ke Kramat akhirnya,” ujar Wendo merujuk markas kepolisian di Jalan Kramat, tempat ia meminta perlindungan, yang kemudian “dinaikkan” statusnya menjadi ditahan.

Ia tak sempat mengontak ke rumah, memberi kabar keluarganya. Di Jalan Damai, Agnes Sri Hartiningsih, istri Wendo dan anak-anaknya, dilanda kecemasan luar biasa. Mereka tak berani keluar rumah.

“Saya malah mengunci diri di dalam kamar,” ungkap Cecilia Tiara, si bungsu, yang kini bekerja sebagai reporter RCTI membidangi masalah ekonomi dan keuangan. Tiara dicatat Wendo sebagai penyambung semangat di kala sedang benar-benar down. Wendo belum lupa sebuah surat yang ditulis Tiara, “Papa nggak salah, seperti Yesus yang disalib itu.”

SEBELUM kantor Monitor diporak-porandakan aksi massa, Wendo sempat menghubungi Emha Ainun Nadjib. Wendo tak berhasil mendapat bantuan Cak Nun, panggilan akrab Nadjib. Kolumnis yang dekat dengan sejumlah aktivis Islam dan kalangan santri ini merasa tak sanggup meredakannya. Alasan Cak Nun –sebagaimana dikemukakan Wendo dan beberapa awak Monitor lain– massa bukan hanya datang dari basisnya di Jawa Timur, tapi juga dari tempat-tempat lain.

Untuk alasannya, Cak Nun tidak salah. Massa yang menghujat Monitor memang tersebar di pelbagai penjuru Nusantara. Bahkan, bisa dikatakan, reaksi pertama justru datang dari seberang Pulau Jawa. Adalah Hasrul Azwar –seorang tokoh Partai Persatuan Pembangunan dari Sumatra Utara– merasa tersinggung oleh “Kagum 5 Juta.” Angket itu dianggap Azwar menghina Islam. Ia menyatakan soal ini hanya terpaut sehari setelah Monitor edisi 255 meluncur ke pasar sana. Dan Waspada, suratkabar harian setempat beroplah 85 ribu eksemplar saat itu, melahap pernyataan Azwar untuk dimuntahkan pada edisi 17 Oktober 1990. Medan pun gempar.

Tuduhan menghina Islam yang mengendap dalam tatar sosial dengan cepat masuk ke dalam etalase politik nasional. Monitor pun tak ayal lagi dicap sebagai pengganggu kerukunan antarumat beragama yang selama ini sedang direparasi habis-habisan oleh pemerintah bersama elemen-elemen masyarakat dari berbagai latar agama. Pemutakhiran upaya tersebut sekurang-kurangnya dimulai sejak meletusnya huru-hara Tanjung Priok pada 1984 yang menyisakan percikan-percikan api dendam berbasis agama.

“You pull the carpet from under my table,” kata Nurcholish Madjid kepada Jakob Oetama. Nurcholis Madjid, yang biasa disapa Cak Nur, adalah pendiri sekaligus pemimpin Yayasan Paramadina, lembaga pengajian untuk berbagai lintas disiplin mulai filsafat hingga sains.

Dalam wawancara dengan majalah Tempo, Cak Nur mengemukakan, bahwa kemarahannya tidak didasarkan pada sikapnya untuk mengakomodasi umat yang gusar sehubungan munculnya “Kagum 5 Juta.” Reaksi Cak Nur lebih sebagai ungkapan keprihatinan dirinya karena selama ini ia merasa ikut bersusah-payah untuk memberi lem perekat pada upaya membangun toleransi antarumat beragama. “Tiba-tiba Arswendo mengganggu dengan guyon begitu saja. Saya merasa disepelekan betul. Sebab, teman-teman saya, yang selama ini tidak setuju dengan istilah toleransi dan sebagainya itu, akan dengan gampang mengatakan: ‘Nah, betul kan, Cak Nur, bahwa mereka kayak gitu itu. Masa begitu kok ditolerir.’ Jadi, itu namanya menarik karpet dari bawah meja,” tandasnya.

Selama aksi-aksi massa berlangsung, nama Cak Nur nyaring terdengar. Ia bukan saja menyarankan agar Monitor dibredel mutlak, tapi juga meminta pemerintah untuk tidak menutup-nutupi kalau-kalau ada mekanisme yang sedang bekerja di belakang kasus tersebut.

Reaksi senada meluncur dari sejumlah tokoh-tokoh organisasi massa Islam, tak terkecuali dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Angket yang dimuat Monitor kemarin telah menjurus ke hal SARA,” kata Kiai Haji Hasan Basri, ketua MUI, “kalau pun pengelola Monitor menganggap angket itu sebagai suatu gurauan, harusnya mereka tahu diri, mana yang boleh diguraukan dan mana yang tidak. Keyakinan adalah hal yang sangat hakiki, tidak boleh dibuat suatu gurauan.”

Daftar kemarahan masih bisa diperpanjang oleh reaksi Amien Rais. Dosen Univesitas Gadjah Mada yang kini menjadi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu memandang, apa yang dilakukan Monitor merupakan suatu pukulan telak yang sangat menghina umat Islam, sekaligus menghancurkan seluruh usaha pemerintah selama ini untuk membangun kerukunan antarumat beragama.

Upaya membangun kerukunan antarumat beragama di Indonesia memang tidak semudah memecah kulit telor. Ini lantaran, akar-akar permasalahan telah sedemikian tertanam kuat dalam sejarah sejak zaman kolonialisme Belanda.

Dalam kasus Monitor, Kelompok Kompas Gramedia yang kebetulan dianggap dekat dengan gereja Katholik, setidaknya pada pendiriannya 1965, berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan dan amat mudah menjadi sasaran caci-maki begitu mereka ditenggarai berbuat salah.

“Misi mereka macam-macam,” kata Zainuddin M.Z. sebagaimana dikutip Tempo, “Bisa berjalan lewat media massa milik mereka, lewat diakonia, layanan-layanan sosial, atau lewat pendidikan. Saya sendiri berusaha mengarahkan umat Islam untuk jaga gawang. Dalam arti menganjurkan mereka agar tidak beli media massa yang berorientasi non-Islam.” Mubaligh itu seolah mengafirmasi realitas semacam tadi. “Adanya kasus Monitor dan Senang ini tampaknya sedikit mengganggu kerukunan beragama yang selama ini terbina.”

Kasus Senang yang disebut-sebut Zainuddin M.Z. adalah sebuah peristiwa susulan setelah Monitor memuat angket. Majalah Senang, yang berada di bawah payung Gramedia–yang notabene dalam supervisi Wendo–dinilai memuat gambar yang memvisualkan Nabi Muhammad dalam rubriknya, Ketok Magic. Sebelum reaksi membesar, Jakob Oetama buru-buru menutup Senang. Apa boleh buat, telunjuk-telunjuk marah tak serta merta melipat, malah justru makin diacung-acungkan ke Gramedia. Tak sebatas dimaki. Gramedia pun dituding telah melakukan konspirasi ideologis untuk menghina Islam.

Tidak semua komentar seserius itu. Arief Budiman, saat itu masih menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, menulis kolom di majalah Tempo. Ia mendeskripsikan siapa Wendo, bagaimana gaya hidupnya, sekaligus melukiskan ekspresi wajah Wendo, yang menurut Arief Budiman, bertampang ‘kampungan’ dengan nyengir kuda yang siap pakai.

Buat Budiman, seperti pahlawan, pendosa lahir karena adanya kebutuhan sejarah. Wendo hasil proses sosial ketika sejarah membutuhkan seorang pendosa.

Ia punya banyak argumen untuk itu. Dalam pandangannya, Wendo dibutuhkan sebagai korban karena proses sosial sedang membutuhkan kambing hitam. Kelompok Islam, yang meskipun merupakan mayoritas bangsa ini kurang berarti peran politiknya. Adanya kasus Monitor memungkinkan mereka menunjukkan bahwa golongan ini perlu diperhitungkan. Menteri Penerangan Harmoko membutuhkan sebuah kasus untuk menunjukkan bahwa pembredelan masih diperlukan.

Munculnya persoalan Monitor ibarat pucuk dicinta kasus tiba. Persaingan bisnis yang ketat di kalangan usaha pers juga membuat kasus ini tampil sebagai anugerah bagi pesaing-pesaing Monitor karena terciptanya sebuah peluang bisnis baru yang perlu disyukuri. Saya gunting sampai di sini pendapat Arief Budiman. Pertanyaan bisa disampaikan kepadanya, apakah betul Monitor melahirkan peluang bisnis baru?

Sejarah memperlihatkan jejaknya dengan jelas. Sebelum Monitor benar-benar tewas, walau tak sampai menyukuri kematiannya, Bintang Indonesia sudah memperlihatkan dirinya. Tabloid yang diasuh Veven Sp. Wardhana ini terbit dengan menu yang nyaris sama persis dengan Monitor. Bedanya, Bintang Indonesia mencurahkan perhatian pada acara-acara televisi swasta. “Belum apa-apa angka PA-nya sudah mencapai 250 ribu eksemplar. Belum promosi,” kata Wardhana. Angka PA yang dimaksud adalah “pesanan agen.”

Bintang Indonesia hanya terbit satu edisi. Tak berarti setelah itu kalangan lainnya ikut-ikutan menahan diri. Kata-kata Arief Budiman makin menjadi kenyataan beberapa waktu kemudian, menyusul terbitnya Bintang Indonesia versi Kelompok Subentra, Wanita Indonesia di bawah kucuran dana pengusaha Cendana Siti Hardijanti Rukmana serta Dharma Nyata yang diambil-alih manajemennya oleh Jawa Pos News Network. Citra Musik “Tabloid Penuh Gebyar” milik Gramedia, yang semula terfokus pada hiburan musik, pun tak urung mempermak diri dengan logotif baru Citra “Pedoman Pasti Penonton Televisi.”

Keadaan tersebut tidak saja dapat diterjemahkan sebagai fenomena perburuan harta karun Monitor, tapi yang esensial juga: ide memang selalu berkaki. Terlepas apakah kaki itu kuat atau lemah, media-media penerus semangat Monitor tak pernah dicurigai sebagai bahaya laten yang akan mengganggu kerukunan beragama.

KEMARAHAN massa sedikit mereda setelah Wendo diberitakan media resmi ditahan polisi terhitung sejak 26 Oktober 1990, atau selang empat hari setelah penyerahan dirinya demi meminta pengamanan. “Padahal enggak. Kita masih bisa bebas main kartu dan canda-canda dengan petugas kok,” Wendo nyengir, “saya dijebloskan ke sel cuma sehari saat wartawan mau wawancara.” Itu pun, ia menambahkan, cuma sebentar. Artinya, begitu para wartawan pulang, Wendo bisa wara-wiri lagi.

Wendo baru benar-benar masuk sel ketika dipindahkan ke Rumah Tahanan Salemba untuk keperluan pemeriksaan jaksa guna keperluan persidangan. Di sini Wendo mulai main mata dengan jaksa penuntut Soeryadi W.S. Uang senilai Rp 70 juta direlakan Wendo sekadar untuk memperoleh keringanan hukuman. Si jaksa setuju, Wendo agak tenang.

Untuk sebuah kasus pelik, persidangan Wendo tergolong cepat. Akhir Januari 1991 ia mulai menginjakkan kaki di pengadilan, pertengahan April tahun yang sama Wendo sudah dibekali vonis untuk masuk hotel prodeo. Semuanya seperti sudah diatur, tak ubahnya kereta api yang menggelinding di atas relnya.

Barangkali yang di luar skenario adalah membludaknya pengunjung. Tempo memberitakan, jumlah petugas yang dikerahkan untuk mengamankan jalannya sidang mencapai sekitar 1.000 personel. Sebanyak 200 personel di antaranya dibon dari markas Komando Daerah Militer Jaya, Jakarta. Ditilik dari jumlah aparat, Wendo sudah bikin rekor –jauh lebih ketat dari persidangan H.R. Dharsono dalam kasus subversif pada 1985 atau Agus Nasser dalam kasus mayat potong tujuh pada 1989.

Soal rekor-rekoran, masih ada yang lain. Dari sisi jumlah saksi, umpamanya, sidang Wendo luar biasa banyaknya. Ada tokoh keagamaan, tokoh organisasi pemuda Islam, tokoh pers, pihak perusahaan tempat Wendo terakhir bekerja, ahli hukum, aparat kepolisian dan macam-macam lagi. Pendeknya, sidang Wendo benar-benar seperti sebuah seminar maraton, tempat orang pamer pengetahuan. Jangan lupa pula, Soeharto, presiden Indonesia saat itu, secara terbuka memerintahkan agar pihak berwenang segera menyeret Wendo ke pengadilan. Siapa yang bisa mengabaikan imbauan dari seorang yang paling berkuasa ini, yang setiap kata-katanya menjadi semacam sabda pandhita ratu.

Rekor lain mungkin dalam tuntutan jaksa. Berlapis-lapis pasal ditebar untuk menjerat Wendo, mulai pasal 156 a huruf a KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) tentang penghinaan agama, pasal 157 (1) KUHP tentang penyebaran penghinaan terhadap golongan penduduk, sampai pasal 19 UUPP (Undang-Undang Pokok Pers) tahun 1982 tentang pelanggaran fungsi dan kewajiban pers. Belum lagi ayat suci Al-Quran seperti Surat An Nissa ayat 59 dan 80 atau Al Maidah 32 hampir dapat dipastikan akan menjadi pertimbangan hakim untuk tidak goyah pada putusannya.

Buat Wendo seluruh rekor itu artinya cuma satu: ia tak akan bisa menyelamatkan diri dari vonis bersalah. Persoalannya, berapa tahun ia harus mendekam di penjara. Ia tak bisa mempercayai uangnya begitu saja, yang telah ditebar ke pihak-pihak yang berkepentingan. Ia dipaksa keadaan untuk berjuang, memberi sedikit tenaga pada penasihat hukumnya, Oemar Senoadji, yang sudah jungkir balik membelanya.

Permintaan maaf secara terbuka di depan persidangan, sebagaimana tradisi hukum Eropa-Kontinental, adalah salah satu cara untuk mendapatkan keringanan hukuman, pikir Wendo barangkali. Maka, pledoi Wendo yang setebal 16 halaman –11 halaman lebih tipis dari tuntutan jaksa yang 27 halaman– memberi titik kuat pada kata yang tiba-tiba bernilai mahal itu. Maaf itu.

“Saya mohon maaf,” kata Wendo. Permohonan ini, yang dituliskan di bab pendahuluan, ditujukan kepada masyarakat, khususnya pemeluk Islam. Kepada para bosnya di Gramedia. Kepada para anak buahnya –baik di Monitor atau di media lain, termasuk mereka yang bekerja membuat sinetron dengan Wendo.

“Sedikit pun saya tidak bermaksud menyengsarakan saudara-saudara semua,” tandas Wendo diikuti sebuah pengandaian yang ia kutip dari kata-kata ibunya: kesandung ing dalan rata, kebentur ing awang-awang (tersandung di jalan datar, terjedot di langit). Peribahasa itu segera saja menjadi makanan empuk media massa. Tempo menerjemahkannya “tersandung di jalan datar, terbentur di langit.”

Dalam pledoi berjudul “Sebagai Pribadi Atau Kelompok Kita Ini Lemah dan Mudah Cemas Sebagai Bangsa Kita ini Kuat, Liat dan Selalu Mayoritas” Wendo juga menyatakan penyesalannya, sebelum antara lain menguraikan kronologis pembikinan angket “Kagum 5 Juta” itu. “Harusnya saya sudah tahu. Tanpa ada yang memberi tahu pun, harusnya sudah tahu. Nyatanya saya bego. Sangat bego. Jahilun,” kata Wendo.

Di bagian lain, Wendo mengungkapkan ketidak-berdayaannya saat harus menghadapi kasus Monitor –seperti halnya ia tak berdaya ketika menghadapi anaknya yang diserang penyakit paru-paru. “Kalau saja saat itu kami sekeluarga cukup punya duit dan tahu untuk segera mengobati paru-paru si kecil, kepedihan batin ini sedikit banyak terhibur.” Wendo pada intinya tak pernah membayangkan kalau angket yang kelihatannya remeh-temeh itu akan punya efek dahsyat hingga seisi negeri berguncang hebat.

Pledoi itu tak menghasilkan apa-apa. Juga uangnya. Wendo tetap terkena hukuman maksimal. Lima tahun penjara.

Wendo terhenyak.

Dalam suatu kesempatan menjelang banding, Wendo sempat bertemu jaksa Soeryadi W.S. Dari mulutnya meluncur sebuah pertanyaan retoris, “Pak ini bagaimana?”

“Saya hanya menjalankan tugas,” jawab Soeryadi singkat.

Mulut Wendo terkunci. Kemudian seluruh tubuhnya. Di sebuah sel.

AWAL November 2001 menjelang senja di sebuah rumah, di kawasan Cempaka Putih, Jakarta. Ini tempat tinggal Gideon Tengker, pemusik jazz. Istrinya, Rita Amelia, berbaik hati meminjami Wendo ruangan kerja hari itu. Rita Amelia dikenal sebagai artis sinetron dan pernah dikontrak PT Atmochademas Persada, rumah produksi milik Wendo, untuk Satu Kakak Tujuh Ponakan, yang ditayangkan RCTI beberapa waktu lalu.

Ruang kerja itu terletak tepat di depan di kamar studio milik Tengker, yang mulanya mungkin dimaksudkan sebagai paviliun atau kamar tamu. Ukurannya kecil saja, paling-paling seluas 3 x 5 meter persegi dan hanya muat sebuah meja tulis. Di situ Wendo didapati sedang memeloti sebuah notebook keluaran terbaru, yang antarmukanya hampir setipis ketebalan sandal jepit. “Ini katanya paling top sekarang,” ujar Wendo.

“Memang betul,” saya mengafirmasi, “ini di atas 20.” Maksud saya Rp 20 juta.

Di ruang sebelah, Rita Amelia dan Cut Mini, juga artis sinetron, terlihat sedang kongko-kongko. Kelihatannya mereka belum mandi. Beberapa awak Atmochademas hilir mudik ke ruang tersebut.

“Pernah affair dengan artis?” iseng-iseng saya tanya Wendo, di lain waktu.

“O, nggak. Saya dikenal produser rada bener.”

Kehadiran Wendo di Cempaka Putih bukan semata mengikuti mata kaki dan janji ngobrol dengan saya. Ia sedang memonitor aktivitas syuting sinetron Doa Itu Nyawa Kedua, juga sinetron bikinan rumah produksinya. Wendo memang sedang keranjingan bikin sinetron kini. Selain judul tadi, yang akan ditayangkan RCTI, pada tahun 2001 saja sekurang-kurangnya ia mesti menggeber empat sinetron anyar lainnya: Juragan Sinetron untuk SCTV, Auk (RCTI), Panggung Jakarta Mall (TPI), serta Jika Bukan Oma Pastilah Opa (RCTI).

Praktis, aktivitas menulisnya lebih banyak ditumpahkan untuk pembikinan naskah skenario. Sesekali memang ia bikin novel atau nongol di media melalui kolomnya. Toh dua yang disebut terakhir tidak seluar-biasa yang dikerjakan tahun 1980-an silam.

Ia tidak membuat naskah skenario untuk dirinya sendiri. Ia melayani juga pihak lain di luar rumah produksinya, seperti Rano Karno atau Dede Yusuf.

“Sekarang tidak miskin lagi, kan?” tanya saya sekadar menyambung-nyambung perbincangan.

“Enggaklah.”

“Selepas penjara itu, persisnya Mas ke mana?”

Pembicaraan terpotong. Seorang pembantu membawa baki minuman. Sebuah botol kecil berisi tablet terdapat di atasnya. “Rita … Rita, obat apaan ini?” seru Wendo.

“Obat perangsang,” Rita Amelia keluar dari ruang sebelah, mendekati meja tempat kami ngobrol.

Wendo menelan beberapa Calcusol, obat untuk mengurangi kadar kolesterol.

“Wuih, waktu itu saya benar-benar susah. Duit nggak ada, kerjaan nggak punya. Orang nggak berani kasih kerjaan,” tutur Wendo.

Nasib akhirnya mempertemukan Wendo dengan Sudwikatmono, seorang konglomerat penguasa lini bisnis perfilman dan bioskop, selain terjun ke sejumlah media cetak di bawah payung Kelompok Subentra. Sudwikatmono bercerita kepada Wendo, bahwa dirinya sudah menghabiskan Rp 2 miliar untuk membangun Bintang Indonesia. Surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) Bintang Indonesia sempat berada dalam genggaman Wendo. “Waktu aksi massa pertama itu, malamnya saya sedang ngerjain layout Bintang Indonesia,” kata Aris Tanjung, bekas redaktur artistik Monitor.

Dalam bernegosiasi dengan Sudwikatmono, Wendo masih bisa memperlihatkan taringnya. “Bayaran saya mahal Pak,” kata Wendo kepada Sudwikatmono, “Kasih saya waktu setahun, kembali itu.” Yang dimaksud Wendo adalah mengembalikan kerugian Rp 2 miliar yang diderita Bintang Indonesia dan lainnya. Kesepakatan tercapai. Wendo diberi gaji Rp 15 juta untuk jabatan direktur –pihak luar mengenalnya konsultan. “Saya ambil BMW,” kata Wendo membicarakan fasilitas kerja yang diterimanya.

“Tahun pertama saja sudah untung,” kata Wendo, bangga. Hanya tiga tahun di situ. Pada 1998, Wendo bercerai dengan Subentra dan mendirikan PT Atmo Bismo Sangotrah, perusahaan yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Cuma Ino yang relatif punya nafas panjang. Dua lainnya ditutup karena Wendo tak lagi sejalan dengan mitranya, Agus Lasmono, anak Sudwikatmono, yang belakangan membikin rumah produksi Indika.

“Jadi setelah penjara itu Mas nggak sempat mampir ke Gramedia dulu?” tanya saya.

“Apa? Saya sudah dipecat kok. Saya pikir, waktu di dalam, saya cuma dipecat boong-boongan, eh tahunya asem, saya dipecat betulan.”

“Gede dong duit PHK-nya?”

“Nggak seperak pun.”

Saya mencoba mengkonsentrasikan daun telinga, khawatir saya salah dengar. “Padahal Noorca itu, dulu, dikasih Rp 100 juta,” katanya lagi.

Noorca yang dimaksud seniman Noorca M. Massardi, yang kini mengemudikan majalah Forum Keadilan. Ia sempat memimpin Jakarta-Jakarta, majalah milik Gramedia yang ditutup pada tahun 2000. Massardi diminta mundur oleh Gramedia dengan mendapat kompensasi Rp 100 juta, menyusul rentetan kekisruhan di tubuh redaksi yang mengakibatkan oplah Jakarta-Jakarta sempoyongan. Tangan dingin Wendo sempat memberi sentuhan hingga Jakarta-Jakarta kembali membiakkan oplahnya di bawah pupuk jurnalisme, lagi-lagi, “ser dan lher.”

“Tidak mendapat seperak pun,” saya ingin penegasan.

“Tak seperak pun.” ***

*) Majalah Pantau, edisi Januari 2002

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan