-->

Arsip Tokoh Toggle

Bambang Tri Mulyono | Penulis Buku Jokowi Undercover | Blora

Beberapa pekan terakhir nama Bambang Tri Mulyono menjadi pembicaraan di media sosial. Namanya terkerek naik setelah menerbitkan buku Jokowi Undercover. Dalam buku tersebut, dia menulis sisi negatif presiden ketujuh Indonesia itu. (lebih…)

Muhammad Fauzi | Pustaka Sang Penjual Jamu | Sidoarjo, Jawa Timur

Di antara semua tukang jamu yang berkeliling menjajakan dagangannya, mungkin hanya Muhammad Fauzi yang menyediakan ”menu jamu” komplet. Ia menjual bermacam jamu untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus menawarkan buku untuk menyegarkan pikiran.

Muhammad Fauzi (34) atau yang akrab dipanggil Fauzi Baim bisa ditemui hampir setiap pagi di Jalan Gatot Subroto, Desa Karangbong, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Senin (14/11) pagi itu, ia mangkal di depan sebuah pabrik pengolahan udang untuk menunggu para buruh yang menjadi pelanggan setianya. Mereka biasa membeli jamu beras kencur, kunyit asam, sinom, dan pinang yang dijual Rp 2.500 per gelas. (lebih…)

Harya Suraminata “Hasmi” | Komikus Gundala Putera Petir | Yogyakarta

Harya Suraminata atau Hasmi (69), komikus dan dramawan asal Yogyakarta, meninggal dunia, Minggu (6/11), pukul 12.30, di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Kepergian penulis komik serial Gundala Putra Petir ini meninggalkan mata rantai sejarah tentang sastra komik di Indonesia. Sebagaimana dikabarkan Harian Kompas, Hasmi meninggal setelah menjalani operasi gangguan usus dan beberapa hari dirawat. Pemakaman pria kelahiran Yogyakarta, 25 Desember 1946, ini dilangsungkan pada hari Senin (7/11), di makam seniman Imogiri, DI Yogyakarta. (lebih…)

George Junus Aditjondro | Pengkritik Kekuasaan | Pekalongan

Berkisahlah Daniel Dhakidae tentang George Junus Adtjondro. Setelah setahun di Cornell, Amerika Serikat, suatu hari Ben berkata kepadanya: “Daniel, ada lamaran aneh dari Indonesia; ini orang tidak ada ijazah secarik pun! Ijazah SMA tidak ada, ijazah sarjana muda tidak ada, apalagi sarjana, dan mau ambil program doktor di Cornell!” (lebih…)

Ben Anderson | Sang Pembangkang

Profesor Benedict Anderson meninggal di Jawa Timur pada 13 Desember lalu. Selain keluarganya, yang merasa paling kehilangan adalah para cendekiawan dengan keahlian studi Indonesia dan Asia Tenggara. Nama besar Ben Anderson yang dibangun sejak dekade 1960-an sudah lama melampaui wilayah keahlian utamanya.

Jenazah ahli dan peneliti tentang Indonesia, Ben Anderson, disemayamkan di rumah duka Adiyasa, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/12).
Di tingkat global, Anderson dikenal sebagai teoretisi fenomena nasionalisme dengan diterbitkannya buku Imagined Communities pada 1983. Selama kariernya, pengaruh Anderson membentang dari ilmu politik, sosiologi, antropologi, hingga bahasa dan sejarah. Namun, ada benang merah dalam kariernya, yaitu kebiasaan untuk “membangkang” pada konvensi, terutama pada topik akademis yang digelutinya.

Kadang kala kebiasaan itu disertai pembangkangan politik sehingga Anderson dikenal sebagai pengkritik kebijakan luar negeri Pemerintah Amerika Serikat sejak zaman Perang Vietnam. Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah negeri yang pernah ditelitinya, terutama dalam masalah demokrasi dan HAM. (lebih…)

Nurani Soyomukti | Penggiat Literasi | Trenggalek

Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, ia sudah menulis puisi dan dimuat di media berbahasa Jawa. Beberapa waktu kemudian, dia mendirikan komunitas pencinta sastra, arisan sastra, hingga lembaga berbadan hukum yang fokus mengawal literasi. Sebanyak 28 buku tentang politik, filsafat, dan pendidikan telah dihasilkannya, plus lima buku yang ditulis secara bersama.

”Ada orang tua yang masih mau membaca puisi, menulis sastra, itu luar biasa,” ujar Nurani Soyomukti (36), mengawali obrolan, Minggu (22/11) di Trenggalek, salah satu kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur.

Penghargaan penulis muda dari Kemenpora, selaku Juara Umum Lomba menulis esai pemuda dalam rangka hari Sumpah Pemuda 2007
Ia pun mendeskripsikan singkat tentang daerahnya. Dengan luas 1.261 kilometer persegi, hampir dua pertiga wilayah Trenggalek berupa pegunungan. Dari 14 kecamatan, hanya 4 yang berada di dataran rendah. (lebih…)

Leon Agusta | Penyair Pembaru | Padang

Leon Agusta (77) yang berpulang di Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (10/12) pukul 16.15, dikenal sebagai pembaru puisi Indonesia. Leon dikenal sebagai penyair yang progresif sekaligus kritikus yang tajam terhadap dunia sastra Indonesia.

“Papa mendapat serangan asma mendadak hari Kamis pagi, jam 03.00,” kata Paul Agusta, putra bungsu Leon, ketika dihubungi di Jakarta, Kamis (10/12). Leon segera dilarikan ke RS Yos Sudarso, namun segera dirujuk ke RSUD Muhammad Djamil. Komplikasi penyakit paru, diabetes, dan gangguan jantung membuat tubuh Leon lemah sehingga harus dipapah ketika bergerak. Selama dua pekan terakhir, Leon tinggal bersama salah satu istrinya, Lisa Agusta, bersama putra mereka, Irvan, di Padang. (lebih…)

Korrie Layun Rampan: Keteguhan Sang Penyair di Jalan Sepi dan Pesan Kepada Penerbit

Kompas

Kompas

Di laut kebar layar, silhuet gemetar

Di darat tunas tunas tumbuh, tunggul terbakar.

Bianglala, keranda diusung

Duka, bayang bayang murung (Korrie Layun Rampan, 1975)

Sajak “Usia” dari penyair Korrie Layun Rampan itu dinukil dari sajak-sajak Korrie yang dimuat di harian Kompas, Selasa, 14 Oktober 1975. Saat itu, usia Korrie 22 tahun dan karya tersebut menjadi karya pertamanya yang bisa dilacak di arsip harian Kompas.

Karya pertama di Kompas itu bernuansa sedih, yang kiranya masih relevan untuk mengawal kepergian beliau. “Duka, bayang-bayang murung” masih menggelayuti kehidupan Korrie saat membaca tulisan terakhir Korrie di Kompas pada 11 November lalu, atau delapan hari yang lalu sebelum ia berpulang. Maka, “keranda diusung” akan menyertai kepergian sang penyair itu esok hari.

Korrie, kelahiran Samarinda, 17 Agustus 1953, telah meninggalkan kita semua pada Kamis (19/11). Ia merupakan penulis, penyair, dan sastrawan yang pernah tinggal di Jakarta, tapi kemudian memilih menepi ke daerah asal yaitu di Sendawar, Kuta Barat, Kalimantan Timur.

Walaupun ia termasuk penulis produktif, dan pernah menjadi anggota DPRD, namun hidupnya hingga akhir hayatnya selalu sederhana. Jalan hidupnya pantas menjadi renungan kita saat ini, bagaimana seorang Korrie memilih untuk berjuang dari daerah, di tengah berbagai persoalan di daerah. Ia berusaha memperjuangkan haknya atas royalti buku pada penerbit yang pernah menerbitkan buku-bukunya, namun sebagian tak berhasil. (lebih…)

Leila Paramita H | Menghidupkan Taman Bacaan Masyarakat | Malang

Bermodalkan 50-an eksemplar buku, pada 2011 Leila bersama dua rekannya mendirikan taman bacaan di kampung. Kini, koleksi buku taman bacaan ini telah melampaui 400 eksemplar, sebagian dibeli dari uang hasil penjualan pakaian bekas yang mereka kumpulkan.

Di ruang tamu rumahnya yang masih belum rampung, Leila Paramita H (30) menempatkan buku-buku itu dalam sebuah rak kayu kecil. Di atasnya, sehelai kain putih berisi puluhan cap tangan anak-anak dari cat warna-warni menempel di dinding yang masih berupa batu bata merah. Posisinya bersebelahan dengan tumpukan koran dan beberapa kardus pakaian bekas.

Di lantai ruang tamu yang dilapisi karpet plastik inilah anak-anak setempat biasa membaca buku sambil lesehan. Tidak hanya membaca, di ruang ini pula anak-anak setempat mengikuti kelas kreatif setiap Minggu siang. Di tempat yang sama pula, sejak tiga bulan terakhir, belasan anak belajar bersama setiap malam tiba. (lebih…)

Suyadi | Pak Raden, Memori Abadi Generasi “Ini Budi” | Jakarta

Siapa pun yang mengenyam pendidikan sekolah dasar pada periode 1975-1990 pasti ingat gambar-gambar ilustrasi buku pelajaran bahasa Indonesia yang sangat legendaris dengan tokoh-tokoh di dalamnya, seperti Budi, Wati, Ibu Budi, atau Bapak Budi. Pencipta gambar-gambar tersebut ternyata adalah almarhum Suyadi (82), pengisi suara sosok Pak Raden dalam serial Si Unyil yang sangat terkenal pada tahun 1980-1991.

Dua sketsa hitam putih buatan Suyadi pada 1973 dan 1974 terpampang dalam situs web http://pakraden.org/. Sketsa pertama bergambar tiga anak belajar ditemani tiga kelinci dan burung kakatua. Sketsa kedua bergambar tiga anak berpakaian seragam yang siap berangkat sekolah. Keduanya merupakan sampul buku Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis 2a serta Bahasa Indonesia Bacaan Jilid 4a milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan