-->

Arsip Perpustakaan Toggle

Rumah Baca Jala Pustaka

jala pustakaRUANG berukuran 6 x 3 m2 itu, jauh dari layak untuk sebuah etalase. Selain dinding dari bambu yang reyot dan penerangan ala kadarnya, ruangan juga terlalu dekat dengan kamar tidur, dapur, bahkan kakus.

Tapi belasan anak dan remaja, sepertinya tak terusik dengan situasi tersebut. Mereka terlihat nyaman dan asik membaca, sebagian memilih-milih buku yang berjejer di rak sederhana.

Demikianlah suasana sehari-hari di Rumah Baca Jala Pustaka, di Jalan Raya Kranji, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Rumah baca yang dikelola keluarga sederhana itu, kini menjadi salah satu tempat mangkal anak-anak dan remaja yang haus akan bacaan.

Belum lama ini, Jala Pustaka bahkan menjadi tuan rumah pertemuan para sastrawan dan penuiis, dari berbagai daerah di tanah air. Dari mulai workshop, sepeda pustaka, bedah novel, diskusi pustaka, hingga pentas teater dan puisi digelar.

“Tak ada bantuan pemerintah, sponsor, atau donatur. Semuanya dari iuran dan kantong para penulis,” ujar Adi Thoha, pemilik Rumah Baca Jala Pustaka.

Jala Pustaka, yang lahir 15 Oktober 2008 memang diniatkan untuk kegiatan sosial, yaitu memin-jamkan bacaan dan buku secara cuma-cuma kepada warga.

“Siapa pun bebas meminjam karena tak ada keanggotaan ketat dan tak ada biaya pendaftaran atau peminjaman,” ujar Adi yang baru saja meluncurkan novelnya berjudul ‘Valharald”.

Saat awal beroperasi, rumah baca itu sering diprotes oleh keluarga. Ruang tamu tergusur oleh etalase dan tak ada lagi ruang privat untuk lima anggota keluarga yang menghuni rumah itu.

“Tapi lama-lama, keluarga bisa menerima, bahkan kini bapak atau ibu saya juga sering ikut melayani pengunjung yang ingin pinjam buku,” tutur pemuda kelahiran Kedungwuni, September 1982 itu.

Makin lama pengunjung makin banyak, kini rata-rata tiap hari, Jala Pustaka dikunjungi sekitar 50 pembaca. Begitu juga dengan jumlah buku yang dipinjam tiap hari, rata-rata sekitar 50 judul.

Jala Pustaka yang awalnya didirikan untuk memanfaatkan koleksi buku pribadi agar bisa dibaca masyarakat, kini makin ramai.

Koleksi bukunya sudah ber-tambah dari sekitar 400 judul menjadi 2.000-an judul.

Adi Toha bahkan berani mengklaim jika banyak buku sastra koleksi Jala Pustaka yang tidak dimiliki perpustakaan lain, termasuk milik Pemkab yang didukung dengan anggaran rutin untuk pembelian buku.

Meski makin ramai dan dipadati berbagai kegiatan, Jala Pustaka tetap tidak membuat aturan yang ketat untuk mereka yang ingin pinjam. Memang ada denda bagi mereka yang meminjam lebih lama dari batas waktu yang ditetapkan. Namun itupun sukarela dan sering tidak ditagih.

Adi Toha yang pemah kuliah di Universitas Padjajaran, Jurusan llmu Fisika yakin, jika kultur membaca dan cinta buku sudah terbangun, pembaca akan melindungi sendiri buku itu.

“Sekarang para peminjam bahkan ikut melayani pengunjung baru yang ingin pinjam,” jelasnya.

Membangun kultur membaca dan menulis jauh lebih penting dari membisniskan perpustakaan. Bahkan keluarga sederhana yang jauh dari berkecukupan rela menghabiskan isi kantong untuk mengelola rumah baca yang jika dilihat dari luar lebih menyerupai gubuk sederhana. Sebuah gubuk yang ternyata bisa mengobarkan pencerahan (Muhammad Burhan-74)

*) Dikronik dari Suara Merdeka, 4 Mei 2010

Tang Lebun:Cafe,Buku,Film

Tang 3I:BOEKOE,SURABAYA: Teman-teman pecinta buku di Surabaya akan dimanjakan lagi dengan munculnya satu tempat nongkrong yang bernuansa cafe dipadu dengan sinematek (film) dan perpustakaan mini. Tang Lebun namanya.

Tang Lebun yang dalam bahasa Madura berarti sarangku rumahku ini adalah cafe milik Arik Rahman, seorang pegiat film indie di Surabaya. Cafe mungil yang menempati bekas tempat Billiard di Jl Karangmenjangan Gg 2 ini disetting dengan dinding batu bata merah abu-abu dan poster film. Karena Arik juga penggemar film, maka disediakan pula layar lebar untuk memutar film.

Silain film, Arik juga menyukai buku. Koleksi buku dari kakek dan ayahnya ia tata dengan rapi di beberapa sudut cafe. Buku-buku itu cukup beragam. Dari sastra, politik, filsafat, komik, hingga seni budaya. Beberapa koleksi lawasnya cukup membangkitkan gairah masa kecil tentang buku-buku cerita anak-anak terbitan balai pustaka.

Sambil membaca atau nonton film, kita bisa sembari mengudap beberapa makanan kecil dengan resep ala Tang Lebun yang harganya cukup bersahabat di kantong. Jika berkunjung kesana dimalam hari, suara jangkrik akan memberi nuansa pedesaan yang sunyi dan melenakan.

Cafe ini tersembunyi di gang kecil, maka baiknya setelah masuk Gang 2 lihat kanan jalan hingga menemukan gang kecil. Tang Lebun ada sekitar 500 meter dari jalan utama. Atau tanyakan saja ke penduduk sekitar, bekas tempat billiard. (DS)

Perpustakaan SDN Kertajaya

Lima Persen Dana Operasional Sekolah untuk Perpustakaan

Lima tahun lalu, SDN Kertajaya menyulap gudang menjadi perpustakaan. Mereka juga punya banyak strategi untuk menumbuhkan minat baca siswa. Kerja keras sekolah itu akhirnya membuahkan penghargaan juara lomba perpustakaan SD negeri se-Surabaya.

Upik Dyah Eka N.

BEBERAPA slogan terpampang jelas di dinding perpustakaan. Salah satunya berbunyi, Tiada hari tanpa membaca. Membaca mengubah duniamu. Tulisan itu tampak mencolok karena berukuran lebih besar daripada slogan lain.

“Sebelumnya, anak-anak di sini memang kurang giat membaca. Makanya, kami terus mengingatkan dengan slogan-slogan itu,” kata Lusiatingsih, pengelola Perpustakaan SDN Kertajaya.

Menumbuhkan minat baca memang bukan hal mudah. Apalagi, siswa SD lebih tertarik bermain daripada pergi ke perpustakaan. Problem itulah yang coba dipecahkan pengelola sekolah.

Mereka merancang formulasi untuk menarik perhatian siswa. Namun, jalan yang ditempuh SDN Kertajaya tidaklah mudah. Sebab, awalnya sekolah itu tidak punya perpustakaan yang representatif. Jangankan koleksi bacaan yang lengkap, gedung saja mereka tidak punya.

Nah, pada 2004, sekolah mulai meng­ge­ber program menumbuhkan minat baca. Mereka mengubah sebuah gudang un­tuk menyimpan barang bekas dan arsip menjadi sebuah ruangan yang cu­kup me­wah, setidaknya untuk sekolah negeri.

Tembok ruangan berukuran 6 x 4 meter dipermak habis. Sebuah AC (air con­ditioner) dipasang untuk membuat siswa nya­man ketika membaca. Sebuah televisi 29 inci ikut menghiasi ruangan. “Kami juga meng­hiasi perpustakaan dengan pernak-pernik lucu,” ujar Lusiatingsih.

Misalnya, memasang poster dan slogan imbauan membaca. Namun, semua fasilitas itu dirasa belum cukup untuk menarik minat siswa ke per­pus­takaan. Sekolah kemudian getol ber­bu­ru buku untuk mengisi rak-rak di ruangan yang sudah ber-AC tersebut. Saking semangatnya, SDN Kertajaya mengalokasikan lima persen anggaran operasional sekolah untuk melengkapi fasilitas perpustakaan.

Hasilnya, kini perpustakaan itu memiliki 1.100 koleksi buku referensi serta 2.000 buku paket dan buku BOS (bantuan operasional sekolah). Per­pus­takaan juga dilengkapi puluhan DVD dan VCD berisi ensiklopedia.

Gedung sudah ready, koleksi juga cukup banyak. Sekolah lantas membuat program penunjang untuk menum­buh­kan minat baca siswa. Caranya, mem­berlakukan jam khusus untuk pergi ke perpustakaan. Aturan itu berlaku wajib bagi seluruh siswa.

“Anak-anak digilir bergantian setiap kelas untuk membaca buku di perpustakaan. Cara ini paling efektif untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak pada membaca dan perpustakaan,” ucap Lusiatingsih.

Pelayanan serta administrasi juga ikut diperbaiki. Setiap buku wajib memiliki kode buku dan nomor klasifikasi. Buku yang dipinjam dan dikembalikan akan dicatat dalam buku harian. Katalog dan kantong buku harus ada dalam setiap buku.

Administrasi yang cukup baik me­ngan­tarkan perpustakaan itu menjadi juara satu lomba perpustakaan tingkat SD negeri se-Kota Surabaya. Peng­hargaan diberikan pada April 2009. “Penghargaan itu jadi pemicu anak-anak untuk gemar membaca,” ucap lulusan Unair tersebut.

Pengunjung jadi semakin banyak. Dia mengaku, yang berkunjung setiap hari bisa mencapai 500 murid. Meski capai menghadapi tingkah siswanya, ibu dua anak tersebut merasa senang melihat anak didiknya rajin membaca buku. (*/fid)

Dikronik dari Koran Jawa Pos, 10 Januari 2010 dengan judul Asli “Upaya SDN Kertajaya menumbuhkan Minat Baca yang Berbuah Penghargaan”

Perpustakaan Elsam Jakarta

Bagaimana menemukan hubungan antara demokrasi, penguatan budaya politik, neoliberalisme, dengan perpustakaan? Robert W. McChesney dalam pengantar salah satu buku karya Noam Chomsky memberi penjelasan sebagai berikut:
Demokrasi menuntut agar orang merasakan hubungan dengan sesama warga kelompoknya. Hubungan ini menjelma dalam berbagai organisasi dan lembaga non-pasar.

Untuk apa budaya politik diperkuat? Warga negara yang berbudaya aktif, kritis, dan partisipatif bisa melawan neoliberalisme yang menginginkan warga negara yang terdepolitisasi yang ditandai dengan apatisme dan sinisme. Pada hakikatnya neoliberalisme adalah musuh utama dari demokrasi partisipatif.

Jika menginginkan budaya politik yang kuat maka harus ada suatu jalan yang menjadi sarana bagi warga negara untk bertemu, berkomunikasi, dan berinteraksi. Jalan itu berupa kelompok komunitas, perpustakaan, sekolah umum, organisasi antartetangga, koperasi, atau perkumpulan sukarelawan.

Dengan demikian, perpustakaan merupakan perwujudan komunitas yang berbudaya aktif, terdiri dari kumpulan orang-orang yang kritis dan selalu siap untuk berpartisipasi dalam menciptakan masyarakat sipil yang memiliki acuan moral yang pro-demokrasi dan berkekuatan sosial.

Pada titik inilah Perpustakaan ELSAM berusaha mendedikasikan keberadaannya sebagai hub of learning, simpul pembelajaran guna membangun komunitas yang peduli terhadap penegakan dan penyadaran Hak Asasi Manusia, bukan sekadar membangun fisik berisi pengetahuan statis.

Mengonsentrasikan dirinya di ranah Hak Asasi Manusia sejak 1993, sampai saat ini Perpustakaan ELSAM telah mengoleksi lebih dari 4000 judul buku pilihan, makalah, prosiding, laporan, dan berkas kasus pelanggaran HAM yang menonjol yang terjadi di Indonesia. Usaha penyadaran akan esensi Hak Asasi Manusia juga didukung dengan penyediaan materi audio visual, yang sampai saat ini berjumlah sekitar 300 judul yang efektif digunakan sebagai alat pelatihan. Semua koleksi tersebut bisa diakses oleh siapapun yang berminat akan penegakan HAM.

Peneliti, pemerhati, akademisi, mahasiswa, atau aktivis bisa datang langsung ke ELSAM di Jalan Siaga II Nomor 31 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, atau melalui telpon +62 21 7972662, 79192564, faksimili 79192564, via email ana@elsam.or.id atau online melalui Yahoo Messenger di ana_arfan@yahoo.com. Semua jalan akan terbuka bagi siapapun yang mendambakan keadilan, demokrasi, dan tegaknya Hak Asasi Manusia di Indonesia.

* Dinukil dari Buletin ASASI Edisi Juli – Agustus 2009 (Artikel ini direkomendasikan pustakawan Ahmad Subhan a.k.a Galih)

Sumber foto depan: elsam.minihub.org

Perpustakaan dan Demokrasi

Oleh: Putu Laxman Pendit

Salah satu tesis yang paling banyak dipegang oleh pengamat perpustakaan –terutama perpustakaan umum– adalah bahwa institusi ini hanya bisa tumbuh dalam suatu masyarakat yang demokratis. Salah satu negara yang dianggap sebagai pemrakarsa perpustakaan umum sebagai institusi demokrasi adalah Amerika Serikat.

Anggapan yang barangkali terdengar sangat optimistis adalah bahwa perpustakaan umum merupakan “arsenals of a democratic culture”, dikedepankan oleh Sidney H. Ditzion yang meneliti sejarah pertumbuhan perpustakaan umum di Amerika Serikat. Bersama Jessa Shera, Ditzion kemudian dikenal sebagai cendekiawan AS pertama yang “menemukan” tempat perpustakaan umum dalam pertumbuhan tradisi demokrasi. Ia mengutip pernyataan presiden AS, Franklin D. Roosevelt, yang mengatakan, “Perpustakaan secara langsung terlibat dalam konflik yang kini membelah dua dunia kita, karena dua alasan: pertama, perpustakaan merupakan hal yang esensial dalam masyarakat demokratik; kedua, karena konflik saat ini menyangkut integritas kecendekiawanan, kebebasan berpikir, dan bahkan kelangsungan sebuah kebudayaan; dan perpustakaan adalah sarana yang luar-biasa bagi kecendekiawanan, pemelihara kebudayaan, dan simbol megah dari adanya kebebasan berpikir.”

Menurut Ditzion salah satu unsur penting yang mendorong kelahiran “perpustakaan untuk semua orang” atau “perpustakaan-perpustakaan umum yang bebas” (free public libraries) adalah protes terbuka terhadap adanya “perpustakaan berkelas” (class libraries) yang diperuntukkan bagi sejumlah terbatas elit cendekiawan. Salah satu contohnya adalah pada suatu masa di tahun 1815-an, seorang bernama Joshua Bates mendesak masyarakatnya agar menyediakan ruang baca bagi orang awam yang sama nyamannya dengan yang disediakan untuk orang-orang terpelajar. Fasilitas seperti itu akan mempertemukan “the humblest and the highest” seperti halnya pemilihan umum mempertemukan suara mereka pada tingkatan yang sederajat.

Ditzion juga mengaitkan perkembangan perpustakaan umum dengan kebangkitan kaum pekerja, dengan contoh sebuah perpustakaan yang didirikan di Pacific Mills, sebuah pabrik di kota Lawrence, Massachussets. Perpustakaan ini diperuntukkan bagi para pekerja pekerja pabrik, sehingga tidak bisa dikatakan perpustakaan umum. Tetapi Ditzion menggarisbawahi filosofi yang mendasari pendiriannya, dan menyimpulkan bahwa konsep “universitas untuk para pekerja” (the workingman’s university) adalah landasan utama pendirian perpustakaan di pabrik-pabrik. Selanjutnya, ia juga menguraikan betapa kemudian muncul dermawan-dermawan yang mendukung filosofi ini secara finansial. Filosofi ini penting bagi pertumbuhan demokrasi, dan dianggap memungkinkan suatu kelompok dalam masyarakat meningkatkan diri mereka sejajar dengan kelompok-kelompok lainnya.

Interpretasi progresif yang dilakukan Ditzion dan Sherra terhadap sejarah perpustakaan umum AS bukan tanpa kritik. Pada akhir era 1970-an, tiga sejarahwan lain (Dee Garrison, Michael Harris, dan Rosemary DuMont) mengkritik dua pendahulu mereka dengan mengatakan bahwa anggapan tentang perpustakaan umum sebagai lembaga demokrasi terlampau optimistis. Menurut ketiganya, sejarah kelahiran perpustakaan umum dalam era-era yang dikaji Ditzion tetap memperlihatkan suatu upaya hegemoni kultural oleh salah satu kelas dalam masyarakat terhadap kelas lainnya, selain upaya kontrol sosial oleh kelas yang waktu itu berkuasa.

Tetapi baik Ditzion maupun pengkritiknya sebenarnya juga hanya memperhatikan perkembangan perpustakaan umum. di daerah-daerah perkotaan (urban) dan luput mencermati perkembangan di pedesaan (rural). Para sejarawan itu mengamati pembangunan institusi kultural di kota-kota besar, yang notabene dimotivasi oleh keinginan membangun monumen di kalangan individu-individu tertentu. Dengan kekayaan yang berlimpah dan tindakan-tindakan yang sering kontroversial, para orang kaya dermawan ini memang menjadi subjek yang amat menarik bagi para sejarawan untuk diamati. Dengan latar ini, perpustakaan-perpustakaan umum yang banyak dibangun dengan bantuan para milyuner dermawan, segera diidentifikasi sebagai institusi demokratis.

Di luar institusi-institusi megah di kota besar, sebagian besar perpustakaan umum justru dibangun di desa-desa, dan ini sering luput dari pengamatan. Ketika dilakukan pengamatan terhadap kondisi di desa-desa AS pada saat pertama kali mengenal perpustakaan umum, terlihatlah bahwa di satu sisi interpretasi optimistik Ditzion harus diperlunak, tetapi di sisi lain kritik yang mengatakan bahwa perpustakaan umum semata-mata lahir karena ada kaum elit yang ingin mengendalikan massa di bawahnya, juga harus ditolak.

Contoh kasusnya adalah perpustakaan umum yang didirikan pada awal tahun 1900-an di Hagerstown di Maryland, sebuah desa kecil yang sampai sekarang tetap adalah desa para petani. Fenomena di desa kecil ini, yang juga terjadi di desa-desa lainnya di AS pada waktu yang hampir sama, menggugat pernyataan bahwa hanya orang-orang dengan pemikiran tentang kontrol sosial saja yang berinisiatif mendirikan perpustakaan umum. Di Hagerstown, perpustakaan umum didirikan dengan tujuan murni untuk pendidikan rakyat banyak, sejalan dengan pernyataan Andrew Carnegie yang dipopulerkan pada saat itu, “the true university of these days is a collection of books”. Carnegie adalah seorang imigran miskin dari Inggris yang menjadi milyuner AS, dan yang bersikeras bahwa kesuksesannya “naik kelas” adalah karena dia bisa membaca buku-buku di perpustakaan umum.

Selain contoh sukses Carnegie, rupanya perpustakaan umum di Hagerstown juga didorong oleh kemunculan profesi pustakawan yang waktu itu oleh promotornya, Melvil Dewey, dinyatakan sebagai profesi yang harus melancarkan fungsi perpustakaan umum sebagai institusi pendidikan untuk orang banyak. Dewey menyetarakan “the free library” dengan “the free school” sebagai sebuah gerakan budaya besar-besaran di AS waktu itu, untuk membantu jutaan penduduk miskin “naik kelas” lewat peningkatan pendidikan. Gerakan ini tentu bisa dihubungkan dengan upaya negara itu untuk menciptakan sebuah masyarakat yang setiap individunya punya kesempatan mengembangkan diri lebih lanjut, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan politik. Pendek kata, untuk demokratisasi.

Dus, walaupun tidak bisa seoptimistis Ditzion dan Sherra, sejarah perpustakaan umum di AS tetap bisa ditunjuk sebagai indikator dari eratnya hubungan antara pendirian insitusi ini dengan proses demokratisasi sebuah masyarakat. Selain itu, pertumbuhan pesat perpustakaan umum di AS juga bisa dihubungkan dengan tiga fenomena lainnya, yaitu kebangkitan asosiasi para pekerja, perjuangan kelas yang menajam, dan munculnya asuransi masyarakat. Asosiasi-asosiasi yang berkesan “kelas menengah”, seperti kelompok pekerja, kelompok wanita, kelompok religius dan berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya juga banyak dihubungkan dengan pendirian berbagai perpustakaan umum di AS. Kelompok-kelompok bisnis independen, dalam rangka memenuhi kepentingan bisnis yang bebas terbuka, juga mendukung pertumbuhan perpustakaan-perpustakaan umum.

Nah, bagaimana dengan di Indonesia. Apakah “perpustakaan umum” kita adalah institusi demokratis? Apakah konsep dan kegiatannya mencerminkan demokratisasi, atau lebih memperlihatkan otokrasi dan kekuatan negara-intergralistik yang berlebihan? Apakah peran “kelas menengah” Indonesia cukup penting dalam pertumbuhannya?

Tidak pada tempatnya membandingkan AS dan Indonesia tercinta. Tetapi apa yang terjadi di negara itu patut jadi pelajaran bagi bangsa yang sedang membangun ini.

* Diunduh dari kepustakawanan.blogspot.com

Sumber foto depan: nikonians.org

Perpus Mini Polres Tuban

TUBAN — Kalau ingin tahu bagaimana menaklukkan kerasnya hati orang-orang “antibuku” alias nggak banget dengan buku, maka liriklah usaha yang dilakukan kepolisian Tuban ini. Perpus ini unik karena banyak hal. pertama tentu saja karena berada di lingkup aparat keamanan yang kerap dianggap jauh dari komunitas buku. Kedua, pengunjung perpustakaan ini adalah mereka yang mengurus SIM kendaraan bermotor.

Seperti diberitakan Harian Jawa Pos edisi 19 September 2008, awalnya Satpas SIM Polres Tuban hanya ingin bagaimana caranya memandu pemohon agar benar-benar layak mengantongi SIM. Sebuah perpustakaan mini dibangun untuk tempat belajar pemohon yang hendak tes tulis ataupun praktik SIM.

Biasanya, pemohon SIM yang tak lulus ujian teori selalu berkumpul di kursi tunggu. Mereka serius membahas jawaban ujian yang kebenarannya masih diragukan dan bisa mengakibatkan mereka tidak lulus.
Meski lama saling berdiskusi, jawaban pasti tak juga didapatkan. Bahkan, sejumlah materi jawaban yang dibahas berkembang ke mana-mana.

Mendengar obrolan itu, Briptu Deby, anggota bagian urusan (baur) SIM, mendekat. Setelah menanyakan materi yang diperdebatkan, dia membimbing pemohon SIM yang tidak lulus ke perpustakaan mini Satpas SIM Polres, tak jauh dari tempat pemohon itu mengobrol.
“Bapak-Ibu bisa mendapatkan jawaban yang diperdebatkan tadi di sini,” kata Deby sambil menunjukkan sebuah etalase berisi tumpukan leaflet berjudul Mekanisme Penerbitan SIM dan buku saku kecil. Tanpa komando, pemohon SIM tersebut lalu berebut mengambil leaflet untuk dibaca.

Itulah salah satu fasilitas terbaru yang dimiliki Satpas SIM Polres Tuban. Perpustakaan mini itu disiapkan untuk pemohon SIM yang memerlukan referensi tentang kelalulintasan. Leaflet dan buku saku tersebut tidak hanya dipinjamkan untuk dibaca di ruang tunggu pelayanan. Referensi itu juga bisa dipinjam untuk dibaca di rumah selama tiga hari.

Walau sederhana, tapi usaha yang dilakukan polisi itu sebagai sebuah usaha kreatif bagaimana mempertemukan buku dengan pembacanya yang memang betul-betul membutuhkan bacaan. Ini yang disebut buku yang bertemu jodohnya. Buku dan leaflet lalu lintas siapa lagi jodohnya kalau bukan mereka yang mengurus SIM.

Selain itu, mumpung lagi musim menghujat-hujat polisi (baca: elitenya), mengapa tidak ikut-ikutan melempari kantor-kantor polisi dengan buku-buku sastra, puisi, biografi, atau apa saja yang bermanfaat. Siapa tahu berguna, paling tidak buat yang ngantri ngurus SIM. (GM–diolah dari berita Jawa Pos Edisi  19 September 2008)

Pondok Maos Guyub

Oleh Muhamad Sulhanudin

Maos-Guyub_Taman-BacaTaman baca yang beralamat di Jalan Raya Bebengan No.221, Boja, Kendal, Jawa Tengah ini dirintis Sigit Susanto, warga asli Kendal yang saat ini tinggal di Swiss bersama istrinya. Sehari-hari yang bertindak sebagai pengelola adalah Hartono. Yang unik, meski taman baca ini ada di daerah pedesaan, buku-buku sastra dunia dari pelbagai bahasa ada di sana. Bahkan untuk koleksi buku sastra, Guyub lebih komplit dari koleksi di perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.  Ada Satanic Verses karya Salman Rushdie, karya-karya Franz Kafka dalam bahasa Jerman, Dostoyevsky, Gunter Grass, Garcia Marquez, Orhan Pamuk, dan sebagainya.

Selain seri buku sastra, tentunya juga ada jenis buku lain. Tanaman hias, Peternakan, Primbon, dan buku untuk bacaan anak-anak juga tersedia.

Dari mana saja koleksi buku di Guyub? Ada koleksi pribadi, ada dari donatur. Suatu kali, kata pengelolanya, Hartono, ada bapak-bapak sepuh bertandang ke Guyub. Awalnya dikira mau minta sumbangan. Ternyata eh ternyata, bapak yang jauh-jauh datang dari Semarang itu berniat menyumbangkan bukunya.

Guyub tak sekadar sebagai tempat baca, tapi juga beberapa kali mengadakan kegiatan apresiasi seni sastra. Seperti pada gelaran Literasi 4 Kota bulan April 2009. Ada diskusi buku, Pementasan, Dokumentasi karya anak-anak setempat, dan diselingi karoke dangdut sampai larut malam. Kegiatan itu dilakukan untuk merangsang minat baca masyarakat sekitar.

Di Guyub aktivitas membaca sebisa mungkin dibuat santai. Bisa sambil tiduran, bawa cemilan, dan bahkan kalau masih kurang pengelolanya membolehkan pembaca untuk nginap sekalian.

Tak seperti di perpustakaan umum, peminjam mengisi buku yang dipinjam sendiri. Tak ada kartu anggota. Masa waktu peminjaman fleksibel. Jaminannya moral. Kalau tidak kembali? Ya biar urusan dia sama Yang di Atas, ungkap Hartono. Makanya, Hartono menamakan taman bacanya ini dengan Perpustakaan Jujur. (Selengkapnya silakan dilihat di blog: http://pondokmaos.multiply.com)

Apa Kabar Perpustakaan UI yang Telan Biaya 110M?

uiRI Bakal Miliki Perpustakaan Terbesar di Dunia

DEPOK – Universitas Indonesia (UI) melakukan upacara pemancangan tiang pertama menandai dimulainya pembangunan Gedung Perpustakaan UI, hari ini.

Fasilitas tersebut dibangun di atas area seluas 2,5 hektare, sehingga akan menjadi salah satu perpustakaan terbesar, termodern, dan terindah di dunia. Perpustakaan ini akan menjadi salah satu motor internasionalisasi pendidikan tinggi di Indonesia. Penting artinya untuk memacu produktivitas dan inovasi kampus sebagai salah satu motor kemajuan peradaban bangsa.

Deputy Director Corporate Communications UI Devie Rahmawati mengatakan, luas bangunan keseluruhan sekitar 30.000 m2 dan merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun tahun 1986-87.

Pembangunan gedung delapan lantai ini ditargetkan selesai pada bulan Desember 2009. “Proyek ini didanai dari sumber pemerintah dan industri,terutama Bank BNI, dengan anggaran senilai Rp100 miliar,” papar Devi dalam siaran pers, Senin (1/6/2009).

Dia menjelaskan gedung perpustakaan ini didisain dengan konsep sustanaible building. Sebagian kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan (solar energy). Di dalam gedung tidak diperkenankan menggunakan plastik. “Area baru ini bebas asap rokok, hijau, serta hemat listrik, kertas dan air,” ungkap Devi.

Menurut dia, Perpustakaan Pusat UI tersebut akan dapat menampung sekitar 10.000 pengunjung dalam waktu bersamaan atau diperkirakan akan menampung pengunjung sekitar 20.000 orang per hari. “Perpustakaan ini akan menampung sejumlah 3-5 juta judul buku, dilengkapi ruang baca, silent-room bagi dosen dan mahasiswa yang sedang menulis laporan penelitian atau karya ilmiah lainnya,” kata Devi.

Selain itu, tambah dia, perpustakaan akan dilengkapi sistem ICT mutakhir yang menungkinkan pengunjung menikmati secara leluasa sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal, dan lainnya.
Sementara itu, sistem peminjaman akan berbasis sepenuhnya ICT. Akses luas akan dibuka di perpustakaan ini dengan pusat pembelajaran dan perpustakaan lain di dunia.

Sedangkan, keindahan perpustakaan lahir dari perpaduan gaya arsitektur yang unik seperti prasasti, dinding perpustakaan terbuat dari batu dan kaca yang berisi tulisan atau huruf dari seluruh dunia.

Pepohonan besar berusia 30 tahunan, dengan diameter lebih 100 cm, yang tidak ditebang saat pembangunan, melengkapi bagian depan dan samping lanskap gedung tersebut. Keindahan menjadi lengkap karena gedung mengeksplorasi secara maksimal keindahan tepi danau yang  asri, sejuk, dan, teduh.

Secara lebih spesifik, fasilitas ini dimaksudkan pula bagi upaya meningkatkan mutu UI dan perguruan tinggi lain di Indonesia seperti
tercermin di ranking yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga internasional. Sebagai contoh UI mencanangkan masuk 200 besar dunia atau 30 besar Asia. Posisi UI saat ini di tingkat dunia adalah 287 dan di Asia 50 menurut versi THES QS. (ram) Dadan Muhammad Ramdan – Okezone

Perpustakaan Terbesar di Dunia Seharga Rp110 M

DEPOK – Universitas Indonesia (UI) telah memulai pembangunan salah satu gedung perpustakaan terbesar, termodern, dan terindah di dunia.

Menurut rencana, proyek pembangunan akan selesai pada Desember 2009 dengan total anggaran Rp110 miliar. Dalam rangka pembangunan gedung berlantai delapan tersebut, tadi siang dilakukan pencanangan tiang pertama di atas lahan seluas 30.000 m2. Hadir dalam acara itu Rektor UI Gumilar R Soemantri, Dirut PT Waskita M Kholik, dan Ketua Wali Amanah UI Purnomo Prawiro.

Gedung perpustakaan yang diklaim sebagai salah satu perpustakaan terbesar di kawasan Asia ini didesain dengan konsep sustanaible building. Yang unik dari gedung ini adalah sebagian dari kebutuhan energi menggunakan sumber energi matahari yang hemat energi dan air.

Gedung perpustakaan juga akan didesain bebas dari asap rokok dan hemat air. Yang unik lagi, untuk mencapai gedung ini pengunjung diwajibkan menggunakan sepeda atau dengan berjalan kaki. “Kita ingin menghadirkan suasana yang ramah lingkungan,” ujar Rektor UI Gumilar R Soemantri di Depok, Senin (1/6/2009).

Koleksi 5 juta buku akan didatangkan. Ada tiga lantai yang berisi buku-buku berdasarkan rumpun ilmu. Di antaranya Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Ilmu Sosial dan Humaniora serta Ilmu Science dan Engineering dengan masing-masing lantai seluas 6 ribu m2.

Keunikan lain, terdapat berbagai huruf aksara dari seluruh dunia yang akan ditulis di kaca gedung sebagai dinding. Untuk menambah keindahan bangunan gedung, nantinya gedung akan dibangun dengan gaya arsitektur yang unik seperti prasasti.

Sedangkan pepohonan besar berusia 30 tahunan, dengan diameter lebih 100 cm, yang tidak ditebang saat pembangunan, melengkapi bagian depan dan samping lanskap gedung tersebut. “Keindahan menjadi lengkap karena gedung mengeksplorasi secara maksimal keindahan tepi danau yang asri, sejuk, dan, teduh,” ujarnya.

Gedung ini juga dilengkapi silent-room bagi dosen dan mahasiswa yang sedang menulis laporan penelitian atau karya ilmiah lainnya. “Perpustakaan akan dilengkapi sistem ICT mutakhir yang menungkinkan pengunjung menikmati secara leluasa sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal, dan sebagainya,” kata Gumilar.

Mengenai alokasi dana, Gumilar menjelaskan, mendapat bantuan pendidikan dari negara sebesar Rp78 miliar. “Sedangkan sisanya sebanyak Rp32 miliar dibantu oleh BNI 46,” jelasnya.

(ful)Marieska Harya Virdhani

Dinukil dari Okezone.com edisi 1 Juni 2009


Kathleen Azali: Perpus Pribadi untuk Publik

Pasti banyak yang memiliki perpustakaan pribadi. Namun, membukanya untuk umum, mungkin hanya satu atau dua orang yang berani. Sebab, risikonya, buku koleksi bisa rusak atau bahkan hilang. Di antara yang sedikit itu, ada Kathleen Azali, pengelola Perpustakaan C2O.

kathleen azali_thumbC2O adalah singkatan Cipto 20. Di jalan itulah perpustakaan milik Kathleen Azali berada. Tempat tersebut khas. Meski tak ada papan nama, setiap orang yang lewat pasti langsungngeh. Sebab, dinding depan bangunan itu begitu eye-catching. Ada hiasan mural dengan aneka warna dan bentuk yang ceria.

C2O berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 4 x 15 meter. Ruangan itu dibagi empat. Tak ada sekat yang memisahkan antarruang, kecuali antara ruang tengah dengan dapur.

Meski tanpa sekat, variasi warna dinding sudah menunjukkan perbedaan ruangan. Ada hijau, kuning, dan oranye. Kathleen memang menggunakan warna-warna cerah. Itu menyesuaikan dengan segmen perpustakaannya, yakni anak muda.

Di beberapa sisi, dia menyediakan meja-kursi untuk mereka yang ingin membaca di tempat. Untuk mereka yang suka lesehan, Kathleen menyediakan hamparan alas busa warna-warni plus beberapa bantal kecil. Penataan ruang itu menimbulkan suasana nyaman seolah-olah orang membaca di rumah sendiri. ”Kalau ada yang mau seharian baca buku di sini, boleh aja,” kata cewek kelahiran 7 Agustus 1981 itu.

Kathleen mengaku, ada sekitar 4 ribu judul buku yang dikoleksinya. Jenisnya bermacam-macam. Mulai teori sosial, politik dan budaya, sastra, sampai referensi untuk desain interior. Ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, bahkan Prancis. Semua tertata rapi di rak warna-warni yang ditempel di dinding plus beberapa rak kecil di tengah ruangan.

Menurut Kathleen, sebagian besar bukunya berasal dari koleksi pribadi. Tapi, ada juga yang disumbang kawan-kawannya. ”Waktu awal-awal buka dulu. Makanya, isinya macam-macam. Ada yang nyumbang buku resep juga,” ujar alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) tersebut.

Dia memang punya banyak judul buku yang terbilang langka, sulit dicari di pasaran. ”Memang sengaja saya bikin begitu. Soalnya, kalau banyak di pasaran, buat apa orang datang ke sini,” ujarnya. Dia lantas menyebut beberapa judul buku. Di antaranya, The Savage Mind karya Claude Levi Strauss dan The Practice of Everyday Life milik Michael de Certeau.

Bukan hanya itu. Dia juga berusaha melengkapi koleksinya dengan buku-buku asli milik sastrawan lama Indonesia. ”Sebab, sayang kan kalau nggak dibaca sama anak sekarang,” ujarnya. Sampai saat ini, dirinya sudah dapat sekitar 10 karya Pramoedya Ananta Toer. Dia juga punya karya Marah Rusli. Semua edisi lama, bukan yang cetakan anyar seperti yang dijual di toko-toko buku.

Di perpustakaannya, Kathleen menggunakan metode pengelompokan buku seperti perpustakaan lain. Untuk yang nonfiksi, dia memakai penggolongan standar. Misalnya, kode 00 untuk buku teori umum dan jurnalistik. Kalau 100, itu kode untuk filsafat. ”Gitu-gitu, deh,” ujar gadis yang juga seorang desainer grafis freelance tersebut.

Untuk menambah koleksinya, Kathleen berburu ke pasar buku bekas. Dia juga kerap huntingke Jakarta atau Jogjakarta. Dua kota tersebut memang lebih ”ramah” memberikan akses terhadap para pencinta buku. Tidak jarang pula, dia menitip kepada beberapa temannya yang bepergian ke luar negeri. ”Kalau ada yang mau pesan buku tertentu, bisa. Akan kami carikan, tapi tidak bisa dipastikan bakal ada,” ungkapnya.

Sebenarnya, ide membuka perpustakaan pribadi untuk umum bukan berasal darinya. Sang kakak, Erwin Azali, yang lebih dulu memulai. Sebab, Erwin memiliki cukup banyak buku desain grafis. ”Dulu bernama Good Idea,” kata Kathleen. Tapi, karena sibuk, perpustakaan tersebut tidak terurus. Lantaran dianggap sebagai pencinta buku, Kathleen pun ketiban sampur.

”Karena suka, ya saya anggap proyek senang-senang,” cerita cewek yang serius mengelola C2O sejak setahun lalu itu. Apalagi, setiap buku baru selalu dibaca lebih dulu. Dalam sehari, dia bisa membaca satu buku. Dia juga membuat sedikit review tentang buku tersebut, lalu dipasang di situs khusus perpustakaannya. ”Sekarang agak repot, jadi review-nya udahjarang,” ucapnya.

Namun, belakangan Kathleen mulai merasa kelabakan karena pemasukan tidak sesuai operasional. Buku terus bertambah, sedangkan minat masyarakat yang ingin membaca tidak terlalu besar. Dia pun terus-menerus mengeluarkan duit dari kantong sendiri. Orang tua juga sudah mendesak agar dia segera mengambil keputusan tentang nasib perpustakaannya tersebut. Namun, Kathleen memilih bertahan.

Untuk menambal biaya operasional, dia memang memberlakukan sistem sewa. Setiap buku bisa dipinjam dengan biaya sepersepuluh dari harga buku. Namun, tidak semua bisa dipinjam. Koleksi khusus yang harganya mahal serta sulit mendapatkannya hanya bisa dibaca di tempat. ”Biasanya sih buku desain. Sebab, kalau saya lihat di perpus kampus, sering digunting-gunting,” ungkapnya.

Beberapa kawannya menyarankan untuk menambahkan usaha tambahan yang bisa mendatangkan uang. Misalnya, kafe atau kaus. Namun, Kathleen masih enggan. Cewek berkacamata itu merasa hal tersebut akan mengganggu budaya membaca yang sudah dirintisnya. ”Saya nggak tahu. Rasanya nggak rela kalau akhirnya perpustakaannya kalah oleh yang lain,” katanya lantas tertawa.

Kathleen pun tak ingin memperbanyak koleksi komik. Dia tak mau perpustakaannya sama seperti tempat persewaan komik lain. Kalaupun ada komik, dia memilih yang tak terlalu pasaran. Misalnya, komik Prancis.

Saat ini, yang bisa dia lakukan adalah menambah aktivitas di perpustakaan itu. Yakni, nonton film bareng setiap Sabtu dan Minggu. Yang diputar adalah film-film indie atau film yang tidak masuk ke bioskop umum.

”Lumayan sih. Kalau ada pemutaran film, banyak yang datang. Biasanya kami sambung dengan diskusi ramai-ramai,” tutur cewek yang dibantu seorang pegawai untuk mengelola perpustakaan tersebut.

Tujuan utama Kathleen membuka Perpustakaan C2O memang tidak untuk memperoleh profit. Dia ingin menularkan minat baca kepada banyak orang. Sekaligus, memberi akses kepada masyarakat untuk membaca buku yang mungkin jarang beredar di Surabaya.

Karena itu, dia berusaha agar tujuan tersebut tidak terganggu. ”Sampai kapan? nggak tahu. Sekuatnya mungkin,” ucapnya lantas tersenyum.

* Artikel ini disalin ulang dari harian Jawa Pos edisi Jumat, 28 Agustus 2008 dengan judul “Awalnya Proyek Senang-Senang, Kini Kelabakan”. Terimakasih pada Kathleen yang sudah menjaga budaya baca di Surabaya dengan ketekunan.

Library 2.0: Generasi Kedua

Oleh Agus M. Irkham

Buku tak pernah sendiri. Ia senantiasa berkumpul dengan buku lainnya. Baik secara fisik, yang tertata di rak buku, perpustakaan, dan toko buku, maupun secara substansial (isi). Maka benar jika ada yang mengatakan buku yang terbit saat ini sejatinya merupakan hasil pembacaan atas buku yang terbit di masa lalu. Sejak kelahirannya, buku tak pernah sendirian. Setiap buku selalu lahir bersama, dan melahirkan buku-buku lainnya.

Tidak ada satu pun buku di dunia ini yang berdiri sendiri. Ia selalu menjadi bagian dari buku lainnya. Kita cenderung mengait-kaitkan/menggandengkan isi buku satu dengan lainnya. Adalah tugas penulis untuk mencari, dan menemukan ragam ucap dan ekspresi kebahasaan yang berbeda (baru) atas satu subjek pembahasan yang sama. Itu sebabnya dalam dunia perbukuan muncul istilah buku berbalas buku.

Sebagaimana lahirnya suatu teori: tesis, antitesis, sintesa; demikian pula buku. Dengan begitu, buku yang lahir saat ini, merupakan himpunan upaya manusia mencari kebenaran suatu teori, dalam tingkat yang lebih tinggi. Lahirnya suatu buku bukanlah sesuatu yang sudah jadi/final/selesai. Melainkan sedang menjadi (becoming). Maka, jangan heran, di waktu bersamaan, ada sementara pihak yang fanatik terhadap satu buku, tapi ada juga yang mengharamkannya. Sebab, dinilai sebagai bentuk pemaksaan secara halus (hegemoni) satu kelas (ideologi) kepada kelas (ideologi) lainnya.

Tiga Nilai Dasar

Ada beberapa nilai dasar yang harus dipahami dari kenyataan buku yang tak pernah sendiri itu. Pertama, buku mempunyai nilai di luar bentuk fisiknya. Bukti yang paling bisa dilihat dari value ini adalah penataan buku di rak buku. Mereka tidak diletakkan berdasarkan ukuran fisik (tebal-tipis, panjang-pendek, lebar-sempit), tapi berdasarkan kesamaan isi. Mereka memunyai hak yang sama untuk didaras.

Kedua, ketika satu buku diterbitkan, maka sudah dengan sendirinya membawa serta dekontekstualisasi suatu teks. Artinya, tiap pembacanya memunyai kebebasan menentukan cara pembacaan dan pemberian makna terhadap buku itu. Termasuk pilihan untuk tidak membacanya.

Ketiga, munculnya perpustakaan sebagai bentuk konsekuensi nyata perpanjangan alamiah dari upaya terus-menerus memperbesar himpunan buku (kumpulan dari kelompok-kelompok buku–terciptanya berbagai bentuk data, informasi, dan pengetahuan– yang saling bertalian satu sama lain).

Mengingat perpustakaan, awalnya merupakan wadah bagi buku yang tak pernah sendiri, otomatis ia menjadi lembaga yang bersifat terbuka pula. Terbuka bagi pembaca buku yang memunyai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, minat dan ketertarikan berbeda.

Perpustakaan diharapkan menjadi institusi budaya. Tempat bagi tiap orang untuk mengembangkan dan memelihara budaya yang berbasis pada tulisan. Perpustakaan menjadi tujuan orang-orang yang ingin menimba nilai-nilai penting dari sebuah budaya. Ia harus menjalankan fungsi memproduksi, menjaga, dan menyebarluaskan nilai-nilai budaya membaca.

Selain itu, perpustakaan hendaknya juga berfungsi sebagai memori kolektif. Sebuah kenangan bersama yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk mempertahankan warisan kebudayaan (cultural heritage) mereka. Semua orang memunyai kesempatan yang sama dalam membaca hal yang sama (Laxman Pendit, Mata Membaca Kata Bersama, 2007; 135)

Namun, perpustakaan-perpustakaan milik pemerintah yang ada baik di tingkat kabupaten dan provinsi, belum sepenuhnya berfungsi demikian. Perpustakaan dikelola lebih sebagai tempat menyimpan buku. Pustakawannya pun tidak berinisitif mengambil posisi sebagai penggerak utama (prime mover) kerja-kerja kreatif program keberaksaraan. Perpustakaan ditempatkan hanya sebagai pendukung teknis dari institusi lain. Bukan menjadi sesuatu yang ”otonom”.

Dari sinilah mulai muncul gerakan minat baca (dan tulis) dari komunitas literasi. Basis gerakan komunitas literasi biasanya berupa pembentukan perpustakaan. Hingga disebut sebagai perpustakaan komunitas. Perpustakaan komunitas adalah gerakan keberaksaraan yang berpamrih menghilangkan batas antaranggota masyarakat dalam membaca, dan mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai tempat ke mana seseorang dapat memeroleh kembali haknya untuk membaca buku yang ingin dibacanya. Pada titik ini, perpustakaan komunitas hendak mengembalikan kemerdekaan fungsi dan peran perpustakaan itu sendiri.

Generasi kedua

Selain bermekarannya berbagai perpustakaan komunitas, perkembangan perpustakaan (wadah buku yang tak pernah sendiri) ditandai pula dengan pergeseran sistem simpan dan temu-kembali, yang semula manual (katalog, koleksi, dan pelayanan berbasis atom/kertas) berubah menjadi digital/otomasi (berbasis image/byte/sistem komputer). Cara pertama dapat kita sebut sebagai perpustakaan generasi pertama. Sesudahnya bisa disebut sebagai perpustakaan generasi kedua (library 2.0).

Ciri paling kentara dari library 2.0 adalah terjadinya relasi interaktif, multiarah, dan partisipatif antara pengguna dan pustakawannya, serta sistem kerja dan koleksi yang bersifat kolaboratif (dari banyak sumber) nan dinamis. Pada titik ini, perpustakaan generasi kedua menjadi wadah paling ideal bagi himpunan buku yang tak pernah sendiri itu. Praktik library 2.0 di Indonesia dapat ditandai dengan mulai berkembangnya software sistem otomasi perpustakaan (SOP). Baik yang bersifat gratis (open source, seperti ”Senayan” dan ”Athenaeum Light”) maupun yang berbayar.

Library 2.0 mensyaratkan adanya pustakawan yang melek teknologi, bersahabat (friendly), mau berbagi, gaul, aktif di situs jejaring sosial (facebook, friendster), mahir menulis, sekaligus narsis. Dalam logika library 2.0, upaya ”menjual” citra diri berada dalam satu tarikan napas dengan tujuan memasarkan perpustakaan. Oleh karenanya tiap pustakawan wajib mempunyai blog/website pribadi.

Muncul pertanyaan-sangkaan klise: siapkah para pustakawan dan perpustakaan di Indonesia (terutama perpustakaan pemerintah) menghadapi perubahan tersebut? Saya kira, daripada sibuk menjawab pertanyaan itu –yang besar kemungkinan pasti bersifat reaktif sekaligus mencari pembenaran/pemakluman– lebih baik mereka segera insaf. Bergegas melakukan transisi kelembagaan, menyangkut sistem, keterampilan (skill) dan sikap (atitude).

*) Agus M. Irkham, Instruktur Literasi Forum Indonesia Membaca!

Diunduh dari Harian Jawa Pos Edisi 19 Juli 2009 dengan judul “Lubrary 2.0”

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan