-->

Arsip Perpustakaan Toggle

Sasana Pustaka (Surakarta)

Pada 21 Januari 1920, di Surakarta, Sunan Pakubowono X meresmikan berdirinya Perpustakaan Istana bernama Sasana Pustaka. Arti penting perpustakaan ini memberitahu puncak-puncak kemasyhuran sastra Jawa. Awalnya hanya bisa diakses kalangan internal keraton, tapi sejak 1960-an bisa diakses oleh publik. Perpustakaan ini menyimpan puluhan babad tentang Dinasti Mataram, 350 kitab carikan, tiga ribu buku cetak beraksara Jawa, lima ribu buku cetak berbahasa Belanda.

<< DENGARKAN KRONIK AUDIO SASANA PUSTAKA DI SINI >>

Senjakala Lembaga Arsip KITLV

Tahun 2011 adalah tahun ketika dunia arsip berwibawa terancam. Di bulan-bulan awal tahun ini, PDS HB Jassin menyita perhatian dunia kebudayaan tatkala diinformasikan nyaris bubar lantaran dana operasionalnya dibabat pemerintah Jakarta dari 500 juta per tahun menjadi 50 juta per tahun.

Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV) juga bernasib sama. Perpustakaan dengan koleksi raksasa itu terancam gulung tikar. Mula-mula anggaran dipotong Kementerian pendidikan Belanda yang membikin masygul para pengelolanya. Bagaimana nasib lembaga arsip tua ini? “Jika begini terus, kami akan membuang koleksi yang sama dengan perpustakaan lain,” ujar salah satu peneliti KITLV. Ribuan peneliti telah merasai suasana perpustakaan ini. Termasuk Pramoedya Ananta Toer.

Download kisahnya DI SINI

Kafe Perpustakaan

Kineruku-Teman-teman-Menghias-Rumah-Buku1Buku adalah jendela dunia. Begitulah biasanya orang mengdeskripsikan buku, dari sebuah buku kita dapat mengenal dan mengetahui berbagai macam hal. Namun, tak jarang orang menganggap membaca buku adalah hal yang membosankan.

Ada sebuah tempat di Bandung yang dapat membuat kita menarik kembali anggapan tersebut. Kineruku adalah sebuah perpustakaan yang menawarkan konsep berbeda. Kafe-perpustakaan yang terletak di Jalan Hegarmanah No. 52 Bandung  itu hadir dengan konsep library-cafe classic.  Tempat ini didesain sedemikian rupa hingga kita akan bisa merasakan seperti berada di rumah sendiri. Tak heran, setelah masuk ke dalamnya, kita bisa betah tinggal sampai menghabiskan waktu berjam-jam.

Buku yang ditawarkan juga cukup bervariatif, mulai dari buku fiksi, perfilman, arsitektur, seni sampai buku-buku komunikasi pun ada. Itu sebabnya, Kineruku menjadi salah satu tempat nongkrong anak-anak seni dan arsitektur ITB. Buku ditempat ini berbeda dengan di tempat lain, karena banyak buku yang tidak dapat kita temukan di library cafe lain. Kineruku sengaja mengimpor buku-buku langka dari negaranya langsung.

Tak hanya buku yang tempat ini tawarkan, ada home theater yang cozy banget di tempat ini. Namun, film yang disajikan adalah film-film lama atau klasik, sesuai dengan konsep yang diusung Kineruku. Sambil nonton film kita juga bisa memesan popcorn dengan berbagai ukuran dan berbagai rasa. Pokoknya, sensasi yang didapat ketika masuk ke ruangan film yang  tidak terlalu besar itu akan membuat kita berkata feels like home. Tempat ini juga biasa digunakan untuk pemutaran film-film indie.

Buku dan film memang kurang lengkap tanpa adanya musik, maka disini juga terdapat ruangan yang dipenuhi dengan CD-CD musik. Sejumlah CD itu bisa kita pinjam dari sana. Karena konsepnya yang klasik, musik yang ditawarkan juga kebanyakan musik klasik, meski sejumlah aliran lain pun ada. Tak hanya itu, kadang tempat ini juga digunakan sebagai tempat launching album band-band indie.

Tak lengkap rasanya membaca buku tanpa ditemani cemilan, Kineruku menyediakan makanan yang harganya “mahasiswa banget”, dengan harga minuman dimulai dengan Rp 2.500 dan harga makanan dimulai dengan harga Rp 6.000. Pokoknya, kita bisa pintar dan gaul dengan harga yang hemat. (CJ-Kirizki Setiana)

*) reportase.com, 11 Agustus 2011

Balai Bacaan Srigunting Jogja

Sri GuntingPada musim hujan tahun 2008 Balai Bacaan Srigunting dibuka di Jogja, masih dengan sisa 2 lubang bocor di atapnya, setelah bertahun-tahun disiapkan puluhan orang muda, silih-berganti.

Yang Muda yang Bergerak

Bermula datang menuntut ilmu di Jogja orang-orang muda dari berbagai sudut kepulauan: dari dataran tinggi Gayo, Lampung, Bumi Cendrawasih, Pulai Bali, Pulau Samosir, tepian Sungai Musi/Brantas/Bengawan Solo, dari Bekasi ….. , dan alat apa yang memungkinkannya berjumpa? Bukan handphone / internet / laptop, bukan pula skor TOEFL, apalagi mie instan, melainkan pertama dan terutama: Bahasa Indonesia. Bahasa yang di masa Chairil Anwar mendapatkan harga dirinya, yang liar, bertenaga. Bahasa yang di tangan penulis seperti Siti Soendari makin menegaskan Jaman Bergerak hampir seabad silam.

Bahasa yang sejak dasawarsa 1970 jinak di alam pembangunan, dan hingga kini terus didera jakartanisasi resmi maupun gaul. Padahal sampai kapanpun, di aras kebahasaan-lah ingatan berada. Untuk menggerakkan ingatan kepulauan melalui bahasa itulah Srigunting ada.

Bacaan seperti apakah yang ada di Srigunting?

Yang utama adalah bacaan riwayat hidup. Riwayat siapa? Dari Kusni Kasdut sampai Okky Asokawati; dari Gus Dur sampai Gusmao; dari Ajengan di Cipasung ke Frans Asisi, dst. Kemudian cerita sastra maupun bukan. Ketiga, bacaan dari ilmu sosial dan sejarah.

Isi Srigunting bermula dari segelintir buku milik sepasang guru sejarah SMA di Semarang 50-an tahun silam. Bagian terbesarnya lalu bertambah selama dasawarsa 1990-an, bukan buku baru dari toko melainkan darikios buku bekas/lama, baik di kota-kota tanah Jawa, atau di Pantai Kuta, Bali, di Makassar, hingga ke kios-kios buku Titi Gantung di seberang Stasiun Kota Medan.

Babak berikutnya datang sumbangan/hibah dari para sahabat sekeprihatinan dan simpatisan (seperti Indonesia Tera di Magelang, LKiS -Lembaga Kajian Islam dan Sosial- di Jogja, media Talitakum dan Yayasan Haburas di Dili Timor Leste. Yang lain lagi menitipkan buku-bukunya di Srigunting. “Daripada dibaca sendiri di rumah”, ujar Transpiosa dari Surabaya dan Sashri dari Jalan Godean. Secara berkala sejumlah rekan mengirim bahan kliping dari Medan & Banda Aceh, melanjutkan rintisan mendiang Simon Doloksaribu; sebagaimana Eddy dkk. melakukan hal yang sama dari pedalaman Kalimantan.

Yang Terbuka

Selaku sayap usaha dari Nandan Institute of Art Studies (N.I.A.S), bacaan di Srigunting bisa dimanfaatkan berbagai kalangan, seperti:

a. mahasiswa yang sedang mencari bahan skripsi/tesis/tugas kuliah.

b. Para guru/dosen yang dalam himpitan beban keadministrasian dari diknas jelas perlu lebih berwawasan sehingga tak ketinggalan dari murid/mahasiswanya.

c. (terakhir dan terutama) orang-orang muda yang bekerja/belajar berkesenian, seperti penulis cerita, perupa, pemotret, pembuat lagu, pekerja kriya, pemain teater, dll; syukur-syukur suatu wawasan kesejahrahan bisa membantu keluar dari kebiasaan berkesenian berdasar stereotip dan pandangan kasat mata tentang manusia & lingkungannya.

Ringkas cerita, sekecil apapun Srigunting terbuka untuk siapa saja yang hendak membuka wawasan tentang riwayat Nusantara dan masyarakatnya, kenal dengan gejolak kejiwaan orang-orang sekepulauannya, menjadikan abad 20 dan sebelumnya sebagai kitab terbuka tentang kehidupan.

Bacaan dapat dipinjam dengan biaya antara Rp. 500 hingga Rp. 5000. Perolehan dana dari peminjaman bacaan ini digunakan sebagai subsidi silang untuk kegiatan workshop penulisan di NIAS yang sudah berjalan sejak tahun 2000 beserta penerbitan periodikalnya.

Yang Khas

1. Buku dan kliping biografi, kisah perjalanan serta wawancara aneka rupa sosok manusia di Indonesia maupun tanah seberang, baik pahlawan dan tokoh maupun orang-orang biasa/jalanan

2. Buku-buku cerita, ilmu sosial dan kesejarahan, terbitan sebelum tahun 2000 yang sudah tidak ada lagi di toko buku, seperti terbitan LP3ES, Bhratara, YOI, Jendela, Gunung Agung, Grafiti, Pustaka Jaya, dll.

3. Kliping:

a. Tema wiraswasta & aneka kisah home industry/perjuangan manusia berswadaya.

b. cerita pendek dari aneka media cetak sejak 1950-an hingga 50 tahun berikutnya.

c. Tema urban culture di Kepulauan Indonesia, dari Pulau Papua ke Pulau Sumatera.

4. Koleksi majalah:

a. Inside Sumatera

b. Kalimantan Review

c. Citra Yogya edisi 1980-an

d. Latitude Denpasar

e. BASIS edisi 1950-an s/d 1970-an

f. Horison edisi 1970-an s/d 1980

g. Jurnal Prisma

h. TEMPO edisi 1970-an s/d 1994

i. MKB (media kerja budaya)

j. Jakarta! (semasa editorial Dan Ziv)

k. National Geo. Indonesia

l. Komik Asterix, Tintin, Lucky Luke

m. Ekonomi: SWA, Warta Ekonomi, CAKRAM, dll.

Aturan Main

a. Fotokopi kartu identitas yang masih berlaku. Untuk mahasiswa, fotokopi kartu mahasiswa.

b. Sumbangan Rp. 10.000 untuk masa 1 tahun. Untuk mahasiswa S2/S3, Rp. 25.000.

c. Maksimal 7 buku sekali pinjam, paling lama 7 hari dan bisa diperpanjang 1 kali.

Jam Buka

Hari Senin s/d Jum’at

Jam 11.00 sampai 15.00

Hari Sabtu, Minggu dan hari libur, tutup

Alamat

Nandan No. 4A, RT 01/RW 38

(barat lapangan SMP Karitas)

Jl. Monjali Km 5, Sariharjo, Sleman, Jogja

[*] Petunjuk lokasi:

Dari perempatan Ring Road utara – Monjali ke selatan 100 meter, samping rumah makan Tenpura jalan konblok ke barat 300 meter sampai depan SMP Karitas jalan aspal 100 meter lagi ke barat

*) Disalin dari leaflet Balai Bacaan Srigunting Jogja

Perpustakaan Batu Api

10931361244496m

Sebagai seorang penulis, saya ‘berutang budi’ pada semua toko buku dan perpustakaan yang telah saya datangi sepanjang hidup saya – terutama toko-toko buku bekas yang bukunya bisa disewa per minggu dengan harga murah, semacam test drive buku.

Minggu lalu di Bandung, saya menjumpai tempat semacam itu, yang dikelola oleh Anton Solihin, seorang lulusan Sejarah dari Universitas Padjajaran yang pendiam dan bersuara halus.

Didorong oleh rasa cintanya – yang tampak tidak lazim di zaman sekarang – terhadap kata-kata, serta kepercayaannya akan kekuatan moral dan kuratif dari seni dan gagasan, Pak Anton yang berusia 41 telah menyulap ruangan depan rumahnya menjadi semacam tempat untuk publik.

Ini merupakan proyek sederhana, unik, tapi juga ambisius – seperti ‘mempertemukan’ Aristoteles dengan Marx, dalam upayanya membawa seni, sejarah dan filsafat untuk dinikmati banyak orang.

Namanya adalah Perpustakaan Batu Api, terletak di sebuah jalan yang ramai di Jatinangor, Bandung – tidak jauh dari almamater Pak Anton, Universitas Padjajaran.

Teras Perpustakaan Batu Api di depan rumah Pak Anton berubin keramik. Ada beberapa kursi rotan yang sudah tampak tua, juga poster-poster promosi festival film asing dan pemutaran film khusus tertempel rapi di dinding.
Filmnya macam-macam: film Perancis, film Indonesia tahun 60-an, dan film Iran.

Di dalam, di ruang yang tampak seperti ruang tamu- ada dua kamar yang penuh terisi buku, dari lantai hingga langit-langit. Sekilas, buku-buku ini seperti diatur asal-asalan. Tapi bila diperhatikan, ternyata ada nama-nama kategori yang ditempel dengan rapi di rak-raknya: India, Arab, Perancis dan Latin.

Tentu saja buku-buku yang tersusun ini adalah terjemahan bahasa Indonesia dari novel-novel karya pengarang-pengarang besar seperti Naipaul, Orhan Pamuk dan Amin Maalouf.

Buku-buku favorit Pak Anton diberi tanda. Seperti yang kita duga, dia adalah pengagum almarhum Pramoedya Ananta Toer – yang buku-bukunya sering dipinjam orang dengan teratur dari perpustakaan ini.

Novelis dan kolumnis Umar Khayyam adalah satu lagi pengarang favoritnya – terutama buku hikayat keluarga, Para Priyayi.

Perpustakaan ini didirikan dan dibiayai sendiri oleh Pak Anton. Pertama kali dibuka pada 1999, Pak Anton mencita-citakan tempat ini menjadi tempat beristirahat dan berkontemplasi bagi para mahasiswa di sekitarnya, juga bagi para pekerja pabrik garmen dan tekstil yang begitu banyak di lingkungan itu.

Pak Anton menjelaskan bahwa penduduk di lingkungan itu (termasuk para mahasiswa) tidak memiliki minat baca yang besar. Tapi dia tetap berhasil mengumpulkan lebih dari 5.500 anggota perpustakaan dan 8000 buku, sejumlah CD dan majalah-majalah untuk disewakan. Sekali pinjam, tiap buku hanya dikenakan biaya Rp 3.000,- untuk seminggu, dan biasanya 30 pengunjung meminjam dua buku sekaligus dalam sekali pinjam – jadi rata-rata 60 buku sehari.

Sebagai orang yang mengaku ‘agen perubahan’, Pak Anton mengorganisir banyak event: pembacaan buku, diskusi dan pemutaran film – termasuk yang dia adakan untuk saya di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

“Kami mengadakan banyak acara di lingkungan ini. Kami suka menantang asumsi dan membuat orang berpikir. Diskusi Anda itu pertama kalinya yang pernah kami adakan di IPDN. Kami ingin melihat responnya,” kata Pak Anton pelan.

Dia memang orang pemikir dan suka membaca: sepertinya tidak ada kata ‘heboh’ di DNA-nya.

Dia menambahkan: “Kami punya komunitas pembaca yang kecil tapi hidup di Jatinangor – termasuk beberapa pekerja pabrik Kahatex.”

Koleksi buku di perpustakaan ini begitu beragam, sampai kadang membuat bingung. Ada setumpuk map berisi potongan kliping koran, majalah Tempo dari tahun 80an dan 90-an hingga CD film-film luar negeri. Ini karena Pak Anton begitu memperhatikan koleksinya secara pribadi.

Dia tersenyum sambil menunjuk sebuah rak di sisi kirinya, dan berkata, “Ini buku-buku ‘kiri’ saya – dalam arti sebenarnya, karena memang adanya di sebelah kiri saya.”

Dia menunjukkan beberapa naskah pidato dan pamflet yang sudah kusam dari era Soekarno: Berdiri Diatas Kaki Sendiri, Penemuan Kembali Revolusi Kita dan Celaka Negara yg Tidak Bertuhan – kumpulan deklarasi kemerdekaan penuh semangat, yang diwarnai emosi dan gairah tinggi dari masa-masa itu.

Dalam era Twitter dan SMS, usaha Pak Anton ini mengingatkan kita akan masih adanya eksistensi yang terpenuhi dan juga memenuhi – eksistensi dalam kata-kata, musik, puisi dan gagasan – semuanya ada di sebuah ruang tamu sebuah rumah yang letaknya agak keluar dari Bandung, menunggu siapa saja yang mau meraihnya, hanya dengan Rp3.000. [mor]

Sumber: Portal berita Inilah.com, 14 Juni 2011

***

Baca juga:

Perpustakaan Batu Api yang Menebar Api

Perpustakaan Batu Api, sewakan buku dan film pergerakan

Wetick.com, Perpustakaan Online asal Kota Bandung

1

Dunia buku adalah salah satu segmen yang cukup besar, baik dari segi bisnis namun jumlah peminat, meski industri buku disini masih jauh dari cukup (dilihat dari perbandingan jumlah penduduk dan jumlah terbitannya rata-rata sekitar 7.000 judul pertahun) namun jika melihat langsung di lapangan, minat baca kita tidak bisa dibilang rendah.

Layanan berbasis internet yang ingin menjembatani antara perkembangan teknologi khususnya internet dengan penerbitan (cetak) juga terus bermunculan, baik itu buku berbasis teks atau bergambar seperti buku fotografi atau komik. Ada juga yang mengambil jalan untuk menjembatani proses pinjam-meminjam buku dan barang cetak, salah satunya adalah Wetick.com.

Proses pinjam-meminjam buku di Indonesia cukup populer, mulai dari taman bacaan sampai dengan perpustakaan selalu ada di setiap kota, meski untuk jumlah, lagi-lagi masih kurang. Perilaku masyarakat yang enggan membeli namun lebih memilih meminjam – meski sama-sama mengeluarkan uang juga menjadi salah satu peluang yang ingin diambil oleh layanan seperti Wetick.

2

Wetick, seperti yang tertera di situs mereka adalah perpustakaan online yang menyediakan berbagai buku, majalah, komik dalam bentuk fisik dari bermacam-macam kategori untuk bisa dipinjam oleh para penggunanya. Untuk meminjam Anda harus mendaftarkan diri di situs mereka dengan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 30.000 dan memilih dan membayar biaya paket keanggotaan yang terdiri dari paket Reguler, paket Express dan paket Unlimited. Ketika paket ini berbeda biaya dan kelengkapan fasilitasnya.

Setidaknya ada 3 pilihan bacaan, mulai dari buku (novel dan non-fiksi), majalah, dan komik. Untuk non-fiksi ada berbagai kategori mulai dari bisnis dan ekonomi, sosial politik sastra dan sebagainya.

Terus terang alur dari situs ini agak membingungkan, bahkan proses pembayaran juga membuat saya ragu untuk mentransfer uang karena tidak ada keterangan khusus yang menjelaskan tentang keterangan dan alamat transfer, saya hanya menemukan di pilihan paket keanggotaan itu pun tidak mencantumkan keterangan alamat pembayaran. Satu-satunya keterangan rekening ada di menu cara mendaftar Wetick, yang sepertinya lebih mirip contoh dari pada nomor rekening resmi.

3

Tampilan situsnya pun terlalu sederhana dan kurang menarik. Jumlah koleksi juga tidak terlalu banyak, meski beberapa buku populer saya lihat ada di rak buku. Masalah pengembalian buku juga sepetinya masih memiliki celah untuk terjadinya ketidaklancaran proses pinjam-meminjam. Memang Wetick telah memberikan penjelasan cukup panjang, termasuk peraturan tidak boleh meminjam jika masih ada buku yang dipinjam sesuai kuota. Yang paling menarik bagi pengguna mungkin adalah fasilitas pengembalian buku (pengiriman) yang akan ditanggung oleh Wetick, meski prosesnya kurang nyaman, misalnya saja Anda tidak boleh menghilangkan slip pengiriman dan hanya menggunakan jasa pengiriman JNE.

Dari beberapa hasil jelajah informasi, Wetick sepertinya merupakan bagian dari I3M, sebuah lembaga kemahasiswaan dari ITB, kantor operasional mereka juga masih ‘menumpang’ di asrama bumi ganesha. Wetick didirikan sejak Desember 2010.

Meski tidak muncul keterangan beta atau semacamnya di situs mereka, namun saya pikir masih banyak pengembangan yang bisa dilakukan Wetick. Seperti yang sering saya sebutkan, saya sendiri selalu tertarik dengan cara-cara baru atau pengembangan dari yang sudah ada yang membawa layanan yang berhubungan dengan buku dengan pemanfaatan internet.

Memang tidak semua cara-cara ini bisa berhasil, apalagi proses pinjam-meminjam buku-majalah-komik juga sering kali ‘tidak disukai’ oleh penerbit karena pengguna tidak membeli buku mereka tetapi meminjam. Salah satu yang bisa dikembangkan Wetick menurut saya dalah pendekatan lokal, misalnya selain menambah koleksi, proses pinjam-meminjam mereka dilakukan secara lokal terlebih dahulu (sambil mempelajari minat pengguna) atau minimal antar area/kota yang tidak terlalu luas, setelah berjalan lancar kemudian terus mengembangkan ke wilayah yang lebih luas.

Elemen sosial, termasuk sharing option, review juga bisa ditambahkan, atau jika memungkinkan mereka bisa bekerja sama dengan toko buku online atau penerbit untuk meminjamkan buku sebagai bentuk promosi atau menggunakan buku yang sudah masuk gudang.

Itu pendapat saya atas layanan Wetick, bagaimana dengan Anda?

Sumber: Blog DailySocial.net, 10 Juni 2011

Rumah Baca Sampoerno

sampoerno1Urunan demi Wujudkan Mimpi Anak Desa yang Cerdas

Menumbuhkan minat baca pada anak memang tak mudah, apalagi di pedesaan.Namun sejumlah relawan di Rumah Baca Sampoerno,Dusun Tameng, Desa Padi,Kecamatan Gondang,Kabupaten Mojokerto, mencoba mengubahnya.

Rumah yang menghadap ke jalan raya itu berbeda dengan rumah lain di sekitarnya. Rumah itu lebih ramai, dijelali puluhan anak di teras samping rumah.Riuh,gelak tawa mewarnai rumah yang penuh dengan hiasan bermakna edukasi itu. Di tembok rumah,dipenuhi dengan stiker,spanduk,poster yang merupakan hasil karya seni anak desa setempat.Meneguhkan jika rumah ini adalah rumah anak-anak. Berderet alat bermain ”mendidik” hingga halaman rumah, semakin menambah rasa kental jika rumah tersebut bukan rumah hunian. Sekitar 40 anak-anak ini sedang asyik menyaksikan pentas Panggung Boneka Kardus.

Uniknya,mulai dari pemain,pemeran,dalang dan sutradara pementasannya adalah dari mereka sendiri, yang rata-rata masih duduk di TK dan SD.Cerita demi cerita sederhana menghiasi suasana siang yang panas,kemarin. Cerita berdurasi pendek mereka mainkan di dari dakam kotak kardus berukuran besar.Tokoh-tokoh dalam cerita itu mereka buat dari kardus pula,yang sebelumnya digambar dengan bentuk tokoh masing-masing.Mereka peragakan cerita itu bak sebuah pagelaran wayang kulit. Tak hanya menyajikan cerita, mereka juga berebut mendapatkan hadiah dari kategori cerita terbaik.

Pementasan Panggung Boneka Kardus,adalah salah satu media yang digunakan Rumah Baca Sampoerno untuk membentuk rasa percaya diri (self confident) anak.Maklum,biasanya anak memang cenderung pemalu jika harus berbicara atau tampil di muka umum.”Agar mereka punya kepercayaan diri dan tak takut jika berbicara di depan banyak orang,” ujar Triani Candra,pengelola Rumah Baca Sampoerno. Rumah Baca Sampoerno sendiri berdiri sejak tiga tahun silam.Berbekal rumah warisan dari Kolonel Sampoerno, kakek Candra,rumah itu sengaja dibuat untuk memberikan pendidikan di luar sekolah bagi anak-anak warga sekitar.

Tak hanya bermain, rumah ini menyajikan ratusan buku yang bisa dibaca secara gratis.”Ada sekitar 700 judul,” ungkap Candra. Buku-buku itu diantaranya adalah komik,ensiklopedi, dan cerita bergambar yang biasa disukai anak-anak. Dengan cara demikian papar Candra,anak-anak akan bisa lebih enjoyuntuk membiasakan diri membaca.Karena dengan gemar membaca,anak akan memiliki pondasi dasar untuk menjadi pintar.”Target kami,membaca adalah ”makanan” bagi anak-anak,” tukasnya. Dalam keseharian,rumah baca ini memang tak pernah sepi dari kunjungan anakanak desa.Rumah itu seakan menjadi tempat bermain sekaligus belajar bersama tanpa biaya.

Alhasil,kini sudah ada sekitar 35 anak yang tercatat menjadi anak didik Rumah Baca Sampoerno.” Hanya empat orang yang menjadi relawan di sini,”ujar gadis berumur 24 tahun yang sehari-hari menjadi guru di SDN Kemiri II,Kecamatan Pacet ini. Mengelola rumah baca seperti ini memang tak mudah dilakukan.Terutama jika melihat biaya operasional dalam keseharian dan menambah buku serta sarana bermain anak.Sejauh ini memang,pengelola tak membebankan biaya kepada para anak didiknya.”Kita (pengelola) harus urunan.

Karena jika dibebankan biaya,para orang tua pasti keberatan,”tukasnya. Upaya Rumah Baca Sampoerno untuk mendidik anak agar percaya diri dan gemar membaca rupanya cukup efektif.Terbukti dari salah satu anak didiknya, Afit Rahma Dianita, 8,yang sudah mulai tak canggung saat bercerita di depan teman-temannya.Bahkan, siswi kelas 2 SD ini sudah mampu membuat naskah sebuah cerita pendek

*) Sindo, 25 Mei 2011, Foto:Koleksi Jabbar Abdullah

Perpustakaan Radio SS Media

1Ruangannya mungil saja, seukuran ruang tamu keluarga. Lokasinya tepat , di pucuk bukit Wonokitri. Alamat lengkapnya Jl. Wonokitri Besar 40 C Surabaya. Perpustakaan khusus milik radio Suara Surabaya(SS) ini menyimpan koleksi buku-buku jurnalisme yang cukup lengkap.

Menurut Novri Chitrawidya, pustakawan yang menjagai ruang buku ini sejak 2007, dulu awalnya Radio SS ini hanya sebuah sudut baca yang diperuntukkan bagi karyawan. Melihat buku-buku koleksi semakin bertambah, Novri kemudian mengusulkan untuk berpindah ruangan. Maka sejak 2009 ruangan Departemen Riset di lantai 2 kantor Radio SS itu menjadi rumah baru bagi buku-bukunya.

Buku-buku itu dahulunya adalah koleksi pribadi pemilik radio SS, juga hadiah dari para pendengar dan kolega SS. Sebagai sebuah perpustakaan yang dibidani sebuah radio, koleksi perpustakaan SS cukup lengkap menyediakan buku-buku seputar jurnalisme.

“Biasanya buku-buku itu digunakan karyawan SS yang membutuhkan referensi untuk menyelesaikan tugas dan memperdalam pengetahuan jurnalistiknya,” terang Novri.

Bukan hanya jurnalisme, koleksi bukunya juga dilengkapi dengan buku-buku pengetahuan umum, sastra, biografi, majalah,  dan surat kabar. Yang paling menarik adalah koleksi rekaman audio dari siaran-siaran SS. Rak penyimpanannya sampai menyentuh langit-langit perpustakaan.

“Sayang banyak koleksi lama yang dibuang dan belum sempat didigitalisasikan dalam bentuk CD,” keluh Novri menyesali terbuangnya beberapa rekaman siaran dari server komputer radi SS beberapa tahun lalu.

Bahkan perpustakaan ini memiliki koleksi buku-buku mengenai kota Surabaya yang representatif untuk merekam jejak kota. Sebuah tugas yang abai dilakukan banyak perpustakaan kota milik pemerintah. Disana dapat dijumpai Street Atlas surabaya (Periplus), 24 Hours in Citra Raya, Cak Narto Peduli Wong Cilik, biografi  Puruhito, Kembar Siam di RS Karang Menjangan, Perencanaan Pelestarian Benda Cagar Budaya, Kali Surabaya Sudah Mati, Ekonomi Surabaya pada Masa Kolonial, The Sampoerna Legacy:A Family Business History, dan sebagainya.

Perpustakaan radio SS yang buka mulai pukul 10.00 hingga 22.)) WIB ini dikhususkan bagi karyawan SS. Tapi bagi masyarakat umum yang ingin mengaksesnya untuk kebutuhan penelitian bisa menghubungi Mbak Novri di Telp. (031) 5683040, Fax. (031) 5683733 (DS)

Google: Perpustakaan Raksasa Abad Ini

2010 09 27_Senirupa_Logo Google Ulang Tahun7 September 1998-7 September 2010. Sudah 12 tahun mesin pencari ini hadir di jagat maya dan langsung menjadi mesin pencari tiada banding. Pada Oktober 2004, Google meluncurkan bagian pertama “Google Print” sebagai projek yang ditujukan untuk kepentingan publikasi penerbit atas buku terbitannya kepada pengguna internet dengan bisa mengintip contoh-contoh halaman buku terbitan mereka. Disusul pada Desember, Google kembali meluncurkan bagian kedua “Google Print” yang merupakan projek bagi perpustakaan-perpustakaan untuk membangun sebuah perpustakaan digital dunia. Ambisi yang mesti dihormati. Dan dunia pun terkagum dengannya. Selamat ulang tahun, Profesor Google. (Redaksi)

Paman Google si Robot Pelayan Pustaka

Oleh Diana AV Sasa

Namaku Google. Karena aku tinggal di negeri Paman Sam, panggil saja aku dengan Uncle Google. Tinggalku di dunia maya, tepatnya di alamat www.google.com. Rumahku adalah sebuah “Perpustakaan” sederhana. Ada tulisan ‘G-o-o-g-l-e’ besar-besar di depannya. Tulisan itu berubah-ubah sesuai tema hari. Jika valentine warnanya pink penuh bunga-bunga. Saat Halloween huruf ‘o’ nya berubah menjadi labu. Ketika natal ada lonceng dan lampu kecil bergelantungan di hurufnya. Dan banyak variasi di hari lainnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa penghuni rumah ini selalu ceria dan inovatif.

Rumahku ini, dibuat oleh dua bung: Bung Sergey Brin dan Bung Larry Page semasa mereka kuliah mengejar gelar Ph.D di Universitas Standford, California, Dalam coba-cobanya, mereka beranggapan bahwa jaringan antarwebsite dapat memberikan hasil lebih baik dengan menggunakan rangking jumlah halaman pencarian. Dua karib ini kemudian menciptakan mesin pencari web yang disebut “Backrub”. Itulah cikal bakalku. Kelebihan mesin ini karena dapat menunjukkan tingkat penting tidaknya sebuah web. Mesin ini ibarat gudang yang menyimpan jutaan memori dalam rumah Google.

Di rumah ini, aku menjadi robot pustaka yang akan menjadi book guide alias pustakawan (robot pustaka) selama kalian berkunjung di perpustakaan Google. Kusebut rumah Google sebagai perpustakaan karena di dalamnya tersimpan jutaan informasi tentang macam-macam hal. Mulai buku, jurnal, majalah, koran, peta, hingga arsip surat-menyurat. Bukan hanya teks, tapi juga data audio, video, dan gambar.

Jika aku boleh bersombong diri, Google ini adalah perpustakaan terbesar abad ini. Google mempunyai lorong-lorong menuju perpustakaan besar lainnya di seantero jagat maya. Aku memegang kunci banyak “pintu” yang bisa kupakai untuk membuka setiap pintu informasi di dalam Perpustakaan Google.

Coba ketik saja satu ”kata kunci” di kotak pencarian Google. Jika tepat kata yang kalian masukkan, aku akan menunjukkan di mana saja kalian bisa mendapatkan informasi tentang tema yang dicari itu. Semakin tepat kata kuncinya, semakin akurat informasi yang kuberikan.

Jika ragu, kalian boleh memasukkan lebih dari satu kata kunci. Gunakan saja tanda koma (,) atau plus (+) di setiap kata berbeda. Atau mencari kalimat utuh dengan membubuhkan tanda (”) di awal dan akhir kalimat. Kalau sudah siap, akan kutampilkan di mana saja data tentang hal itu tersimpan. Kalian bebas memilih mana yang kalian suka untuk dibaca lebih dulu. Kami menyediakan kutipan singkat dari keseluruhan halaman yang kami referensikan.

Tak usah risau jika halaman yang kami tawarkan terlampau banyak. Itu menunjukkan betapa lengkap koleksi rumah Google. Sebagai perpustakaan raksasa, kami memang harus menunjukkan kebesaran koleksi kami. Supaya pengunjung tak repot, kami membuat aturan klasifikasi urutan tampilan halaman yang kami sebut page rank. Dalam urutan 1-10, semakin atas posisi sebuah web, maka berarti ia semakin dekat dengan kata kunci dimaksud. Semakin ke bawah dan ke belakang akan semakin jauh. Karena itu, memiliki web yang bisa masuk dalam 10 besar Google adalah prestise tersendiri di dunia maya. Itu pertanda bahwa web tersebut semakin banyak di klik oleh pengguna internet karena berada pada prioritas utama.

Mekanisme penilaian Google terhadap urutan daftar situs dalam berbeda dengan perpustakaan maya lainnya. Jika yang lain menerapkan pola siapa membayar paling mahal, ia ada di atas, maka di Rumah Google yang paling atas adalah situs yang paling banyak direferensikan oleh situs lainnya. Sistem ini disebut page rank. Sistem ini disetujui dan ditetapkan oleh Universitas Standford pada 4 September 2001. Lawrence Page adalah pemegang lisensinya. Kata kunci di dalam Perpustakaan Google dijual berdasarkan kombinasi tawaran harga dan jumlah klik. Tawaran harganya mulai 5 sen (US$) per klik. Perpustakaan Google ini juga membiayai kebutuhannya dengan menyediakan ruang iklan bagi beberapa kata kunci terkait dengan produk.

Dari iklan-iklan inilah Perpustakaan Google ini membiayai dirinya. Tanpa biaya ini tentu rumahku ini tak akan sehebat dan sepopuler sekarang. Kepopuleran ini membuatku semakin bersemangat menjadi Uncle Google sang Robot Pustaka.

Bayangkan saja, setiap hari aku harus melayani jutaan pengunjung di seluruh dunia yang ingin mencari tahu tentang pelbagai hal. Sering kali aku harus bekerja untuk beberapa pelanggan dalam waktu bersamaan. Untunglah teknologi yang dipasang di Perpustakaan Google ini cukup memadai. Kami menyimpan server di lebih dari 100 tempat di dunia.

Dengan server yang luas dan koleksi yang luar biasa banyak, aku bisa memberikan lebih banyak referensi pada pengunjung. Batapa menyenangkan kerja pustakawan seperti aku. Pengunjung bukan hanya hemat waktu dan tenaga untuk mendapatkan referensi bacaan. Tapi juga hemat biaya, karena rumahku ini hadir tanpa biaya. Ia ada di depan siapa saja yang terhubung ke dunia maya. Sama seperti televisi hadir di rumah dengan perantara listrik.

Rumah Google dengan aku, si Uncle Google, di dalamnya adalah sebuah revolusi pustaka abad ini. Melalui “perpustakaan” maya ini siapa saja dapat memperoleh informasi dengan cepat mengenai sesuatu. Tak perlu membuka-buka katalog yang bertumpuk dan njlimet. Membacanya, lalu mencarinya di atas rak yang tersembunyi. Tak perlu menenteng buku tebal-tebal dan mencari bahan yang belum tentu tepat. Cukup ketik kata kunci, dan aku sebagai katalognya akan mencari bahan yang tepat untuk dihadirkan. Setepat-tepatnya. Kunci tepat bahan tepat. Si Uncle Google ini akan membereskannya.

Selamat datang di pustaka raksasa abad ini: GOOGLE. (Diana AV Sasa)

Perpustakaan SD Al-Irsyad

PeprustakaanPemenang Lomba Perpustakaan Se-Surabaya

Pada lomba Perpustakaan 2010 yang diselenggarakan Badan Arsip dan Perpustakaan Pemkot Surabaya, perpustakaan SD Al-Irsyad ditetapkan sebagai pemenang. Sebab, pengelolaan perpustakaan di sekolah yang terletak di Jalan Hang Tuah itu terbilang bagus.

SEJAK awal, SD Al-Irsyad ingin mengonsep perpustakaan dengan baik. Tidak sekadar sebagai tempat membaca. Namun, lebih dari itu, anak-anak bisa betah berada di perpustakaan. Karena itu, fasilitas perpustakaan juga dilengkapi. Di antaranya, terdapat fasilitas LCD dan layar. ”Bagi siswa SD, menumbuhkan minat baca sangat penting,” kata Zahratul Alimah, pustakawan SD Al-Irsyad.

Ruang perpustakaan di sekolah itu memang tidak begitu luas. Ukurannya sekitar 6 x 8 meter. Ada sekitar 1.700 judul buku. Mulai buku fiksi, ensiklopedia, sains, sosial, hingga sastra. Buku-buku tersebut tertata dengan rapi. Untuk bacaan anak-anak, Alimah mengatakan lebih mengutamakan buku seri lengkap. ”Jadi, bisa tuntas saat membaca,” ujarnya.

Penataan buku itu juga tidak asal. Buku-buku tersebut juga sudah diklasifikasikan sesuai jenis dan sangat detail dengan menggunakan sistem dewey decimal classification (DDC). Judul buku diklasifikasikan sesuai dengan kelas-kelas bukunya. ”Misalnya, buku tentang luar angkasa yang salah satu judulnya tentang bintang, harus lebih spesifik mengategorikan kelasnya,” jelas Alimah.

Selain melayani peminjaman buku, tersedia komputer dan laptop untuk browsing para siswa. Juga ada koleksi CD buku dan layanan audiovisual. ”Dengan adanya audiovisual, ada LCD dan layar, untuk library class, guru bisa me­ngajak siswa untuk belajar di perpustakaan ini,” tambahnya.

Namun, tidak semua siswa bisa masuk perpustakaan. Pengelola memberlakukan jam berkunjung dengan ketat. Pada Senin, Rabu, dan Jumat, jadwal kunjungan untuk siswa putra. Selasa, Kamis, dan Sabtu siswa putri. Jam berkunjung pun hanya pada saat istirahat dan pulang sekolah. Yakni, pukul 09.20-pukul 09.50 dan pukul 13.00-pukul 14.00. Di luar jam itu, bisa diisi library class. ”Sesuai aturan, untuk laki-laki dan perempuan, jam berkunjungnya memang dipisah,” kata Alimah.

Wajar saja pengaturan itu diperlukan. Sebab, ada 680 siswa yang harus dilayani. Jika tidak atur dengan bagus, jelas semrawut pelayanannya. Setiap siswa akan diberi kartu khusus. Saat meminjam buku, kartu tersebut harus ditunjukkan untuk dicatat. ”Jadi, kami bisa tahu siswa mana yang rajin berkunjung dan siswa mana yang tidak. Nanti ini dilaporkan kepada guru. Agar guru bisa membantu untuk menumbuhkan minat baca sang siswa,” tegasnya.

Menurut Alimah, kesenangan membaca bisa digunakan sebagai salah satu ukuran untuk mengetahui tingkat komunikasi seorang anak kepada orang lain. ”Ini berkaitan dengan komunikasi dengan temannya dan perilaku sang anak. Namun, membaca tidak bisa dipaksakan. Kami ingin menumbuhkan minat baca anak-anak,” katanya. (puj/hud)

*)Jawapos, 29 mei 2010

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan