-->

Arsip Perpustakaan Toggle

Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana

Pelesir di Tatar Sunda tak selalu harus menyambangi lokasi wisata. Bepergian mengenal budaya dan masyarakat Sunda lebih luas juga bisa dilakukan lewat buku. Salah satunya di Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana di Bandung yang punya koleksi ribuan bahan bacaan.

Seperti namanya, tempat bacaan itu berada di sebuah rumah di Jalan Margawangi VII Nomor 4 Perumahan Margawangi, Bandung. Begitu masuk, deretan buku di rak kiri dan kanan langsung menyambut. Seperti datang ke perpustakaan, hampir seluruh ruang depan dan tengah rumah disesaki buku.

Tempat membaca di tengah rumah, berupa meja kayu dikelilingi kursi-kursi. Di atas dan di kolong mejanya penuh oleh tumpukan puluhan buku dan keranjang berisi air kemasan gelas plastik. Di sekelilingnya buku-buku memenuhi rak kayu yang tingginya menggapai langit-langit rumah. “Sekarang bukunya ada 5.000-6.000 eksemplar termasuk majalah,” kata pendiri sekaligus pengelolanya, Mamat Sasmita, 61 tahun.

Pensiunan PT Telkom itu membuat katalog koleksinya menjadi 14 macam. Mulai dari bacaan cerita anak, budaya Sunda dan umum, cerita pantun, tentang Bandung, humor Sunda. Juga kumpulan cerita pendek, novel, roman pop, sajak Sunda, sejarah, Islam, dan wawacan. Mayoritas isi bukunya memang berbahasa Sunda. Tapi ratusan judul lain ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda.

Jika ingin menelusuri kisah Bandung baheula, ada buku Bandung Purba tulisan T.Bachtiar, Album Bandung Tempo Doeloe tulisan Sudarsono Katam, atau Semerbak Bunga Di Bandung Raya serta Wajah Bandung Tempo Doeloe karya mendiang Haryoto Kunto. Di rak katalog sejarah, ada judul Priangan I-IV karangan De Haan, penulis Belanda yang diterbitkan 1910-1912, Sejarah Tatar Sunda oleh Nina Lubis, juga Naskah Sunda tulisan Edi S Ekajati. Juga Gedenkboek der Nederlandsch Indische Theecultuur atau Buku Kenangan Sejarah Perusahaan Teh di Indonesia.

Di deretan buku novel anak dan remaja, ada sebuah buku simpanan Mamat yang isinya dulu menjadi bahan dongeng ayahnya. Judulnya Purnama Alam karangan R. Soeriadiredja. Buku terbitan 1956 itu berbahasa Sunda dengan ejaan lama. Kisahnya pertempuran orang biasa dan manusia setengah jin melawan makhluk-makhluk gaib. “Ceritanya lebih seru dari Harry Potter,” katanya.

Koleksi buku di Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana itu hasil kegemaran Mamat membaca dan membeli buku sejak 1975-1980. Soal buku baru atau bekas, mantan Pemimpin Redaksi majalah Cupumanik, itu tak pilih-pilih. Asal isinya masih bisa utuh dibaca dan tentang budaya Sunda, ia beli dari sejumlah tempat. Misalnya Pasar Buku Palasari, juga pedagang buku di Jalan Dewi Sartika, serta Jalan Cikapundung Timur, Cihapit, serta Cicadas.

Sejak pensiun dua tahun lalu, pembelian bukunya mulai berkurang. Memakai dana pensiun, dalam sebulan rata-rata hanya ada 2-4 buku tambahan koleksi. Selain itu, kata Mamat, buku-buku berbahasa atau tentang budaya Sunda kini kebanyakan hasil cetak ulang yang sudah dimilikinya. “Sekarang cenderung menunggu telepon dari tukang buku daripada mencari,” ujarnya.

Tumpukan buku itu seringkali membuat istrinya mengomel karena rumah terkesan selalu berantakan. “Mau bagaimana lagi kalau buku-buku suka dibaca,” katanya. Kebetulan pada 2009, tetangganya ingin menjual rumah. Setelah dibeli Mamat, ribuan buku itu punya rumah dan tamu sendiri. Selain kenalannya, pengunjung Rumah Baca berasal dari kalangan pelajar hingga mahasiswa, seniman, budayawan, serta pendongeng.

Uniknya, siapa pun boleh meminjam buku secara gratis dan tak perlu membuat kartu seperti di perpustakaan. Mamat hanya meminta peminjam menuliskan nama, alamat, judul buku, dan tanggal pinjam. “Ada beberapa yang tak kembali, tapi saya yakin saja selalu ada (buku) penggantinya yang lebih baik,” ujarnya. Jika ada peminjam yang sangat membutuhkan, Mamat menyilakannya menghubungi langsung pemegang buku terakhir.

*)Tempo.co, 19 September 2012

Perpustakaan Soeman Hasibuan

Perpustakaan delapan lantai itu berdiri megah di Jl Sudirman, Pekanbaru, persis bersebelahan dengan Kantor Gubernur Riau. Gedung yang dulunya merupakan bekas gedung DPRD Riau ini diapit dua gedung megah lainnya, sebelah selatan ada Bank Indonesia (BI) dan sebelah utara ada Kantor Gubernur Riau. Gedung pustaka Soeman HS ini terkesan unik dan eksotis. Bentuk bangunan dari kejauhan seperti atap gedung saling menyilang setengah lingkaran, tak ubahnya sebagai meja tempat untuk membaca Al Quran. Bentuk ini sebagai filosofi akan ajaran Islam yang erat dengan budaya Melayu.

Mulai beroperasi sejak 2008 gedung ini memiliki fasilitas khusus Bilik Melayu dengan koleksi berbagai karya tulis tentang Melayu dan juga sejumlah salinan naskah kuno. Sejak dibuka, perpustakaan ini direncanakan menjadi E-Pilot National Project percontohan Perpustakaan di Indonesia.  Gedung yang menelan dana Rp 144 miliar ini memiliki daya tampung 1.000 pengunjung. Sebagai daya tarik, gedung ini dindingnya dilapisi kaca transparan. Sehingga dari ketinggian gedung pengunjung juga dapat menikmati keindahan kota.

Di perpustakaan ini terdapat 239.032 eksemplar buku. Berbagai bacaan tersedia di sana, mulai buku pendidikan, untuk mahasiswa, umum dan buku untuk anak-anak. Secara umum, di lantai dasar khusus untuk taman bacaan anak-anak. Sedangkan di lantai dua taman bacaan untuk remaja. Lantai tiga taman bacaan untuk orang dewasa dan tersedia bilik Melayu yang menyediakan bacaan khusus tentang Melayu. Sedangkan lantai empat dan lima tersedia ruang konferensi, referensi dan teknologi informasi. Sedangkan lantai enam tersedia ruangan diskusi dan serbaguna. Masyarakat yang berminat membaca buku di Perpustakaan Soeman Hasibuan dapat menikmatinya dengan gratis.

Kendati di pustaka ini sudah banyak buku yang tersedia, namun bukan berarti sudah dapat mencukupi dari kebutuhan yang ada. Pemprov Riau selain menyediakan buka sendiri, namun tetap mengajak masyarakat maupun perusahaan untuk dapat menyumbangkan buku di pustaka tersebut.

Di sana pengunjung begitu dimanja. Bagi pengunjung yang ingin membaca buku, tinggal menyebut judul buku ke petugas piket. Di perpustakaan sudah ada sistem komputerisasi yang melacak judul buku yang diinginkan. Dari komputer itu akan diketahuan ada atau tidaknya buku yang dinginkan. Bila buku yang diinginkan pengunjung terdapat di perpustakaan itu, petugas akan memberitahukan letak buku tersebut.

Tidak hanya dimanjakan dengan berbagai jenis buku. Pengunjung pustaka ini juga dimanjakan dengan Wifi serta tersedianya aula untuk rapat dan ruang kedap suara. Bagi pengunjung yang membawa laptop, bisa mengakses internet tanpa dipungut biaya. Perpustakaan modern ini pun di lantai dasar dilengkapi cafe yang sangat terkenal di Pekanbaru, yakni kopi Kimteng.

Perpustakaan yang merupakan bangunan milik Pemprov Riau itu diberi nama Soeman Hasibuan untuk mengenang nama besar Soeman Hasibuan berdarah Batak yang dikenal sebagai sastrawan ulung yang ada di Riau. Salah satu karya sastranya yang cukup terkenal adalah “Mencari Pencuri Anak Perawan” yang terbit tahun 1932.

Sayangnya, karena Soeman Hasibuan berdarah Batak, nama perpustakaan ini pun disingkat menjadi Soeman Hs. Marga Batak Hs yang artinya Hasibuan tidak terlalu ditonjolkan.

*)Berbagai sumber

Perpustakaan Ababil Airline

Di TK Yayasan Al Falah Desa Oro oro Ombo Kota Batu terdapat sebuah pesawat. Bukan replica atau sekedar bangunan yang menyerupai pesawat, namun pemilik yayasan sengaja membeli pesawat bekas tersebut dan diletakkan di halaman sekolah. Pesawat jenis Howker Sidely buatan Inggris tahun 1982 ini memang sudah tidak diterbangkan lagi, tetapi disulap jadi ruang perpustakaan.

Menurut Rahma Widianita kepala sekolah TK Al Falah pesawat yang diberi nama Ababil Airline barus sekitar sebulan mendarat di halaman sekolah.

Ini kalau sekarang dalam perbaikan pemasangan ini alat-alat dipasang didalam ada kursi peswat itu akan dipasang kursi sesungguhnya gitu sekarang kursi-kursi sudah ada, trus cockpit juga dibuat seperti itu tetap seperti pesawat sungguhan, terus kebelakang itu ada kamar mandi, kebelakang ada rak itu nantinya rak itu disetting untuk perpustakaan

Anak-anak sudah banyak yang berebut untuk membaca di perpustakaan pesawat ini. Perpustakaan di dalam pesawat ini mampu mendorong kegemaran anak untuk membaca.

Rahma mengaku anak-anak khususnya TK kelas B kerap tidak sabar untuk bisa belajar di kelas pesawat itu.

iya, yang belum anak-anak memang cenderung, kita sebenarnya harus mempersiapkan buku yang memang kekanak-kanakan artinya banyak gambar, menarik, jadi dari kecil sudah diperkenalkan dengan perpustakaan, setiap ada event bukan event tapi emang kita jadwalkan setiap minggu keberapa gitu anak playgrup ke perpustakaan, selanjutnya itu TK B gitu

Sayangnya Kata Rahma perpustakaan ini tidak untuk umum. Pesawat yang diberi nama Ababil Airline hanya untuk anak-anak yang bersekolah di TK AL Falah saja.

Menurut Ketua Yayasan Al Falah, H Zainul Arifin menuturkan dengan dibukanya kelas pesawat yang diberi nama Ababil Air ini menambah motivasi belajar anak di TK yang terletak di desa Oro-oro Ombo ini.

“Dengan keberadaan pesawat ini kami berharap ada motivasi bagi anak-anak, selain itu anak-anak silahkan mempunyai cita-cita setinggi langit,” ujar Zainul Arifin.

Di sana nanti, mereka bisa bermimpi menjadi pilot atau pramugari. Sebab, selain belajar seperti TK pada umumnya, para siswa diajak untuk beraksi menyetir pesawat.

“Yang Jelas, pembelajarannya unik. Di dalam pesawat dipasang layar lebar untuk video. Mereka akan menonton film-film Islami dan do’a-do’a,” ujar Zainul.

Pesawat itu dia beli dari sebuah lelang dengan nilai sekitar 60 ribu dolar AS atau sekitar Rp 550 juta pada pertengahan Desember 2011.

‘’Sebenarnya pesawat itu masih bisa terbang. Tapi demi pendidikan, lebih baik pesawat itu parkir di halaman TK untuk belajar siswa,’’ kata Zainul, pengusaha yang berkecimpung di bidang perbaikan pesawat di Juanda, Surabaya itu.

Pesawat yang sebelumnya digunakan maskapai Bali Air ini kondisinya masih baik termasuk instrument di dalam kokpit pesawat. Pada 1 April sekitar pukul 01.30, tiga truk trailer membawa badan pesawat dan sayap menyisir jalan dari Juanda Sidoarjo ke Kota Batu. Empat teknisi menyelesaikan pemasangan kembali pesawat hingga bisa berfungsi seperti sekarang ini. Seluruh kabin pesawat itu disulap menjadi ruang belajar. Di dalamnya juga dipasang media pembelajaran multimedia. Sedangkan kokpit tetap tak berubah, difungsikan untuk mengenalkan siswa terhadap dunia dirgantara. Adapun ruang kargo, diubah menjadi perpustakaan berjajar rak berisi buku bacaan anak-anak.

Selain untuk belajar anak -anak dari PG-TK Al-falah,  kelas ini juga dibuka untuk siswa dari sekolah lain di kota Batu maupun luar kota. Untuk itu disediakan kru pesawat dari guru Al Falah serta instruktur dari Lanud Abdul Rahman Saleh.

*)Disalin dari berbagai sumber

Perpustakaan Baitul Amin

Sejak didirikan Perpusba telah menjadi sarana bagi jamaah Surau Baitul Amin (SBA) dan masyarakat sekitar untuk menambah wawasan di bidang agama maupun umum. Keberadaan Perpusba diprakarsai oleh Ketua Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya (YPDKY), H. Abdul Khalik Fajduani, SH, yang gemar membaca buku.

Koordinator Perpusba, Ahmad Fakar, mengatakan didirikannya sarana ini diawali dengan tujuan memfasilitasi jamaah untuk membaca buku-buku karangan Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, pendiri YPDKY. Setiap malam wirid; Senin dan Kamis malam, Perpusba juga berfungsi sebagai tempat dilaksanakannya sesi penjelasan mengenai Tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah.

Kini perpustakaan yang menempati bangunan dua lantai ini juga kerap digunakan sebagai arena rapat, pelatihan, serta pengajian. Perpusba juga berfungsi sebagai ruang konferensi pers Festival Baitul Amin 2010 pada Maret lalu.

Pengunjung tidak hanya datang dari jamaah saja, melainkan juga masyarakat sekitar terutama anak-anak. “Anak-anak suka membaca disini karena ada komiknya dan ruangannya ber-AC,” tutur Adi Bahtiar, anak surau yang bertugas sebagai pustakawan Perpusba. Begitu juga yang diutarakan Mardian Syah. Siswa SDN 03 Curug ini mengaku sering datang untuk membaca komik favoritnya Captain Tsubasa dan Naruto. Bersama tiga temannya, Mardian datang dua kali seminggu dengan bersepeda.

Berbentuk unik segi enam dimana masing-masing lantai berukuran 75m2, lantai bawah Perpusba merupakan kantor perpustakaan serta ruang untuk menerima tamu. Ruang baca berada di lantai atas dengan fasilitas berupa proyektor, giant screen, dan sistem audio. Buku-buku yang ada di Perpusba adalah sumbangan dari para jamaah serta keluarga pendiri YPDKY. Koleksi Perpusba kini mencapai 2.800 buku; mulai dari buku agama, pengetahuan umum, teknologi, ekonomi, komik anak anak hingga novel-novel pop, yang jumlahnya terus bertambah. Nah, bagi yang belum pernah, Ayo, berkunjung ke Perpusba!

Perpustakaan Baitul Amin berlokasi di Komplek Area Surau Baitul Amin Bojongsari, Depok.

Untuk keperluan informasi tentang Buku dan Pustaka, kami siap membantu anda, silahkan hubungi langsung ke kontak person berikut.

Kontak Person:

  1. Abdul Mufid – 0888-999-5563
  2. Adi Bahtiar – 0812-8233-2780
kampus@baitulamin.org
http://pustaka.baitulamin.org

Taman Baca “AMIN”

Anda punya hobby membaca tetapi kebetulan saat ini sedang berada di Kota Batu? Tidak usah khawatir, karena di Kota Wisata yang tidak terlalu luas ini terdapat sebuah Taman Baca dengan nama “Amin”. Di taman baca ini pengunjung bebas memilih sendiri buku atau majalah yang ingin dibacanya tanpa dipungut biaya alias gratis. Selain Taman Baca gratis, di tempat ini juga disediakan layanan poligigi gratis.

Pengawas Sementara Poligigi dan Taman Baca “Amin”, menjelaskan, layanan poligigi serba gratis itu diperuntukkan bagi seluruh masyarakat kurang mampu yang mendapat masalah pada gigi sehingga mereka bisa mendapat sejumlah layanan gratis seperti tambal gigi, cabut gigi, sampai pada perawatan karang gigi dengan peralatan kedokteran gigi yang terbaru. Layanan poligigi dibuka setiap Jumat dan Minggu pukul 11. 00 WIB sampai 16.00 WIB. Poligigi terdapat di lantai satu. Di lantai satu ini terdapat dua ruang dokter gigi dan satu dokter umum.

Suasana beberapa ruangan

Bangunan Taman Baca dan Poligigi ini tergolong sangat unik karena seluruh bangunan fisiknya tidak berupa tembok-tembok seperti bangunan gedung pada umumnya, tetapi menggunakan 7 container dengan ukuran berbeda-beda (3 container berukuran 20 feet dan 4 container berukuran 40 feet). Dengan menggunakan “bahan” yang tidak umum ini, maka bentuk fisik dari Taman Baca ini jadi begitu unik, terdiri dari container yang ditata sedemikian rupa sehingga jika dilihat dari wujud luarnya pasti membuat siapa saja yang melihatnya menjadi penasaran ingin tahu lebih lanjut seperti apa desain interiornya.

Di counter pintu masuk anda akan diminta untuk mengisi buku tamu dan harus menitipkan tas atau jaket di locker yang sudah disediakan. Kunci locker diserahkan pada anda, yang artinya hanya anda yang bisa membuka locker tersebut. Di counter pintu masuk ini juga disediakan makanan dan minuman siap saji yang bisa anda beli untuk menemani keasyikan anda membaca buku. Secara garis besar taman baca ini terdiri dari 3 container utama, Ruang Biru atau container berwarna biru untuk bacaan populer, bacaan umum dan bacaan hiburan, Ruang Kuning untuk ruang baca kewanitaan dan Ruang Merah untuk bacaan iptek.

Tempat duduk yang nyaman

Di lantai dua merupakan loby, ruang baca out door, teras kaca bundar dan ruang bundar untuk anak-anak. Setelah melewati pintu masuk, anda langsung bisa memilih ruang atau container di mana setiap ruang atau container berisi buku-buku bacaan menurut klasifikasinya. Ada taman baca untuk anak-anak yang tentu saja berisi buku-buku pembelajaran dan hiburan bagi anak-anak, lalu ada container yang berisi buku-buku dan majalah-majalah Iptek seperti “National Geographic”, buku-buku biografi tokoh-tokoh dunia dan Indonesia, dan banyak lagi ragam buku menurut golongannya masing-masing. Ada satu container berukuran agak kecil yang terletak di atas berisi majalah-majalah wanita yang cukup populer, dan container yang berisi buku-buku politik dan umum. Secara keseluruhan jumlah buku yang ada di Taman Baca ini sekitar 6000 buku. Jika anda memiliki kesempatan untuk singgah, silakan anda jelajahi tiap container yang ada di sini karena semuanya memang diperuntukkan bagi anda yang gemar membaca.

Tempat duduk untuk membaca juga bertebaran di tiap-tiap container, jika anda beruntung, anda bisa duduk di sofa empuk dan nyaman yang juga disediakan bagi pengunjung, tetapi jika sofa itu sudah ditempati, anda harus rela duduk di kursi-kursi yang berada di kiri kanan rak buku yang berjajar rapi. Pencahayaan di tiap container juga sangat bagus sehingga meskipun malam hari tidak akan mengganggu kenyamanan kita dalam membaca. Lantai di tiap container ini dilapisi dengan karpet tebal dan tulisan di pintu masuk container mengharuskan anda untuk melepas alas kaki dan menyimpan sepatu atau sandal di rak-rak terdekat. Di setiap container tidak disediakan asbak, yang artinya, bagi anda yang perokok, harus rela duduk di luar container untuk membaca buku-buku pilihan anda sambil menikmati tiap hisapan rokok kesayangan anda.

Pembukaan Poligigi dan Taman Baca yang berlokasi di Jalan Raya Sultan Agung (di sebelah selatan Stadion Gelora Brantas Batu) atau di ujung jalan masuk Jawa Timur Park I itu ditandai dengan peresmian oleh Wali Kota Batu, Bapak Eddy Rumpoko, pada hari Minggu Tgl. 30 November 2008.

Taman Baca dan Poligigi ini merupakan sumbangan Bapak Sastro Sendjojo dan Ibu, Rio Imam Sendjojo, Ronny Sendjojo, serta Jawa Timur Park dalam rangka memperingati ulang tahun ke-7 Kota Batu dan sumbangan bagi masyarakat Kota Batu.

Taman baca ini, tiap hari dibuka untuk umum tanpa pungutan biaya dengan jam kunjungan setiap hari mulai pukul 14.00 WIB sampai 21.00 WIB.  Jadi bagi anda yang gemar membaca dan punya banyak waktu luang, tidak ada salahnya anda menghabiskan waktu anda yang begitu berharga tersebut di tempat ini.

Disalin dari  pesonamalangraya.com 6 September 2012

Rumah Baca Mejikuhibiniu

Mejikuhibiniu merupakan rumah baca yang diperuntukkan untuk umum, mengemban misi sosial untuk mengajak masyarakat meningkatkan gemar membaca dan menumbuhkan kesadaran menjaga kelestarian alam.

Dengan pendampingan Lembaga Kajian Konservasi Lingkungan (LK2L), perpustakaan yang diberi nama Mejikuhibiniu ini didirikan. Tidak hanya membawa misi gemar membaca dan menulis, rumah baca ini dipergunakan sebagai tempat berdiskusi, mengkaji serta klinik keluarga. Diharapkan rumah baca ini bisa menjadi solusi bagi setiap permasalahan yang dialami oleh siapa saja yang membutuhkan melalui klinik keluarga, serta beberapa wadah yang dibentuk untuk pemberdayaan.

Nama Rumah Baca Mejikuhibiniu dipilih untuk menggambarkan anggota rumah baca Mejikuhibiniu yang berasal dari berbagai warna (golongan) yang bersinergis menjadi sebuah keindahan. Keindahan ini disuguhkan untuk siapa saja yang melihatnya. Jika warna pelangi dicampur menjadi satu maka akan menjadi warna putih. Warna putih melambangkan hal-hal yang baik misalnya bisa menentramkan hati serta bisa juga membawa kedamaian.

Berikut beberapa bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan di rumah baca ini.

  1. Perpustakaan

Rumah baca ini akan dilengkapi dengan berbagai jenis koleksi buku, mulai dari buku ilmu pengetahuan hingga buku mengenai kewirausahaan serta koran. Buku ini dikumpulkan oleh pengurus rumah baca secara swadaya serta donasi dari beberapa anggota masyarakat yang peduli. Buku-buku yang ada di perpustakaan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat secara gratis, kecuali apabila buku tersebut dipinjam untuk dibawa pulang, pengurus membebani peminjam dengan dana perawatan buku yang terjangkau oleh masyarakat. Kedepan, koleksi buku ini akan dilengkapi dengan perpustakaan virtual dengan menggunakan teknologi yang ada.

  1. Kajian ilmu

Rumah Baca Mejikuhibiniu tidak hanya dipergunakan sebagai tempat untuk mendapatkan berbagai jenis buku yang dibutuhkan oleh anak, remaja dan masyarakat umum, secara rutin pengurus rumah baca akan menjadwalkan forum kajian ilmu, bedah buku hingga diskusi terkait berbagai macam permasalahan yang ada di masyarakat.

  1. Pelatihan

Keberadaan rumah baca ini diharapkan tidak hanya menjadi referensi keilmuan bagi masyarakat, akan tetapi juga bisa dipergunakan untuk menambah ketrampilan. Secara rutin pengurus akan menjadwalkan berbagai kursus yang bisa diikuti masyarakat secara gratis. Contohnya seperti program English days pada hari Selasa, pengurus mewajibkan kepada siapa saja yang masuk ke dalam perpustakaan untuk berbahasa Inggris. Tidak perlu khawatir, karena pengurus juga menyiapkan pendamping yang akan mendampingi siapa saja untuk belajar bahasa Inggris. Selain itu secara rutin, pengurus akan menjadwalkan berbagai macam pelatihan, mulai dari pelatihan membuat website, pelatihan kewirausahaan hingga pelatihan kehumasan. Pada saat-saat tertentu, pengurus akan mendatangkan narasumber untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat.

  1. Klinik Psikologi

Keberadaan rumah baca ini diharapkan bisa menjadi bagian dari penyelesaian permasalahan yang dihadapi masyarakat khususnya anak muda dan keluarga. Karena itu, pengurus mempersiapkan sebuah klinik keluarga/psikologi dimana masyarakat bisa memanfaatkannya untuk berkonsultasi seputar permasalahan hidup yang dihadapi. Beberapa psikolog serta pemerhati sosial dan pendidikan sudah menyatakan bergabung dengan Rumah Baca Mejikuhibiniu.

  1. Sosialisasi lingkungan hidup

Tidak melupakan kewajiban untuk melestarikan lingkungan, secara rutin Mejikuhibiniu akan menggelar sosialisasi lingkungan hidup terhadap pengunjung. Tidak hanya melalui brosur, pamphlet dan kalimat-kalimat ajakan melestarikan lingkungan, di rumah baca ini akan diprogramkan secara rutin pengajian bertema lingkungan akan dilaksanakan ditempat ini. Selain itu, pengurus akan mengajak setiap pengunjung untuk lebih berdisiplin dalam membuang sampah.

  1. Wadah Organisasi

Mejikuhibinu menjadi wadah organisasi bagi anak-anak, generasi muda, orang tua dalam mengembangkan SDM melalui beberapa organisasi sayap. Salah satunya wadah bagi penulis serta pecinta buku untuk mengembangkan keahliannya.

Lokasi Rumah Baca

Rumah Baca berada di Jl Mawar Putih IV No 5, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Email :facebook : Mejikuhibiniu Kota Batu.

rumahbacamejikuhibiniu@gmail.com

*)Disalin dari situs mejikuhibiniu

Perpustakaan Keliling Mahanani

Disebuah gang kecil di permukiman warga di Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, beberapa anak usia sekolah dan ibu-ibu terlihat mengerubuti sebuah becak yang penuh dengan muatan berbagai macam buku bacaan.

Ada yang sibuk membolak-balik buku, adapula yang sekadar menonton. “Ya, bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik, embak-embak, ayo, siapa yang mau baca atau pinjam buku, silakan datang. Gratis!” teriak seorang pemuda melalui pengeras suara yang ditentengnya, seperti dilansir Senin(12/3/2012).

Pemuda itu adalah Naim. Sejak setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, warga Jalan Supit Urang Nomor 13, Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri, ini menggunakan moda transportasi becak untuk mempermudah keluar masuk gang demi meminjamkan buku.

Dengan kendaraan roda tiganya itu, ia membentuk beberapa titik atau tempat mangkal becaknya untuk melayani masyarakat. Tidak ketinggalan pula pengeras suara untuk melengkapinya.

Jika suara Naim terdengar, masyarakat hafal betul bahwa sudah tiba saatnya meminjam atau mengembalikan buku. Buku yang disiapkan beraneka ragam, mulai dari buku ajar, pengetahuan umum, hingga fiksi.

Masing-masing buku dapat dipinjam selama seminggu. Sementara peminjamnya juga lumayan banyak, tercatat ada tiga ratus anggota mulai anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu.

“Awalnya anak saya yang sering pinjam buku pelajaran atau buku cerpen. Lalu saya ikutan pinjam, seperti buku ini. Lumayanlah untuk menambah wawasan,” kata ibu Tamsil, salah satu peminjam buku sambil mengangkat sebuah buku resep masakan.

Untuk membantu rutinitasnya itu, Naim ditemani oleh seorang rekan yang biasanya berasal dari kalangan mahasiswa yang menjadi sukarelawan. Partnernya itu bertugas membukukan sirkulasi peminjaman.

Meski demikian, penggunaan becaknya itu bukanlah program utamanya. Upayanya meminjamkan buku dengan sistem jemput bola itu merupakan satu dari beberapa program taman baca yang ia kelola bersama keluarga di rumahnya.

Taman baca yang ia beri nama Mahanani itu juga cukup sederhana. Bangunannya berukuran sekitar 6 x 10 meter yang didominasi kayu dan dindingnya pun hanya anyaman bambu. Maklum saja, bangunan itu dulunya bekas kandang sapi.

Meskipun demikian, koleksi bukunya mencapai dua ribu buah yang tertata rapi pada dua rak bertingkat empat. Asal-usul buku itu selain milik pribadi, banyak juga hasil sumbangan dari masyarakat yang simpatik.

Naim menuturkan, apa yang dilakukannya sekadar untuk mengajak masyarakat agar terus belajar, salah satunya melalui media buku itu. Ketulusannya itu didasari atas keinginannya untuk dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Tentunya kita semua ingin bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita,” ujar pemuda yang sempat mengenyam pendidikan tingkat sekolah menengah atas ini.

Sementara buku menjadi mediumnya dalam mengabdi kepada masyarakat karena ia merasakan pentingnya buku dalam menunjang pembelajaran. “Pada intinya belajar itu dapat dilakukan dengan apa saja, salah satunya dengan buku ini,” imbuhnya.

Untuk operasionalnya, tidak ada sumber pendanaan yang tetap. Ia hanya pekerja paruh waktu di bidang media promo. Namun, hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk tetap berkarya. “Saya sendiri heran kenapa bisa terus bertahan,” ujarnya. (jek/kcm)

*)Disarikan dari Detik.com

Project Sophia

“”Membaca buku membuat hati saya sangat senang. Dengan membaca, saya bisa melihat dunia yang luas meskipun saya hanya tinggal di desa”

Ini cerita kami; Mimpi Kami
*  *  *

Rasa senang dari hati, mahal harganya bagi anak-anak yang mengalami masa-masa konflik dan pasca konflik. Kehidupan masa kecil mereka dirampas oleh pengalaman buruk yang traumatis; penembakan, pembunuhan, pembakaran, penyiksaan, berlarian mengungsi berhari-hari hingga bulan di tengah hutan. Tidak ada waktu bermain, apalagi bercanda, selain teror.

Pasca konflik, dunia yang mereka tinggali adalah dunia mayoritas yang dilindungi dalam benteng identitas suku atau agama. Rasa curiga, dendam juga kebencian terhadap dunia di luar komunitasnya bukan saja menimbulkan perasaan asing, tapi juga dimusuhi bahkan jika perlu diperangi. Perbedaan adalah sesuatu yang asing. Di usia belia, dunia mereka dibatasi, tidak ada ruang.

Buku, yang menjembatani perasaan mereka. Memungkinkan mereka memiliki mimpi-mimpi. Dengar saja kata Andi,12 tahun “Saya mau jadi seperti Arai, seperti di buku Laskar Pelangi. Dia bisa pintar, biar miskin, biar di desa, meskipun orangtuanya sudah tidak ada”  atau kata Murni, 17 tahun “saya mau jadi penulis komik. Kalau menggambar saya bisa bercerita perasaan saya”. Dari bermimpi, mereka memotivasi diri mengejar cita-cita untuk kehidupan yang lebih baik.

Buku, membuat mereka melewati batas dunia kotak identitas mereka, membawa berpetualang di dunia luas. Menyadarkan mereka tentang beragam hal yang indah di dunia meskipun berbeda.

Ide tentang Perpustakaan Keliling, juga berasal dari cerita anak-anak di sekitar wilayah pemukiman pengungsi. Agar “hati sangat senang” dan “melihat dunia yang luas” belasan anak-anak menempuh perjalanan yang jaraknya 2-3 kilometer untuk menjangkau Perpustakaan Sophia. 20 buku di perpustakaan, dibaca secara bergiliran, dan berulang-ulang oleh ratusan anak-anak.Semangat anak-anak ini dibatasi dengan ketiadaan akses terhadap buku-buku. Oleh karena itu, tidak terkira perasaan “hati sangat senang” yang dimiliki anak-anak, ketika beberapa pihak yang diorganisir oleh Indonesian Community in Japang (ICJ) memberikan donasi ratusan buku-buku dalam Project Sophia.
Untuk itu, Project Sophia mengambil bentuk Perpustakaan Keliling. Agar semakin banyak anak-anak bisa memiliki “hati sangat senang” dan “melihat dunia yang luas”. Bermimpi, bekerja mewujudkan mimpi, untuk kehidupan pasca konflik yang indah dan damai.

Bagaimana Cara Kerja Project Sophia?
Project Sophia, perpustakaan keliling Sophia adalah perpustakaan yang menggunakan mobil, bergerak berkeliling dari satu desa ke desa lain. Mobil Perpustakaan yang disebut juga “Kotak Ajaib” akan berisi : buku-buku cerita anak-anak dan remaja, buku pelajaran, buku gambar, alat tulis menulis, puzzle, kertas origami, film anak-anak Indonesia, dan lagu anak-anak

Di setiap satu desa yang akan dikunjungi, Kotak Ajaib Sophia akan berkeliling desa mengumumkan keberadaannya, sekaligus mengundang anak-anak dan orang tua. Kotak Ajaib akan ditempatkan di balai desa/lapangan desa atau tempat strategis lainnya yang dapat dijangkau oleh anak-anak. Setiap orang, terutama anak-anak dapat mengakses buku-buku, permainan yang ada di Kotak Ajaib. Aktivitas ini didampingi oleh orangtua, pendamping Project Sophia.

Pada akhir hari, Kotak Ajaib akan memutarkan film anak-anak yang dapat ditonton juga oleh masyarakat umum Dengan demikian, disetiap tempat dimana Project SOPHIA dikembangkan, dapat berperan untuk:

1.     Menumbuhkan minat baca bagi anak-anak

2.     Memberikan ruang terbuka, akses yang besar  dan dukungan yang luas bagi anak-anak untuk membaca di beberapa desa.

3.     Menjembatani ruang pertemuan antar anak dari berbagai identitas untuk saling berbagi, mendukung dan berdialog yang berdampak pada pembangunan karakter generasi muda pasca konflik yang damai.

4.     Membuka ruang komunikasi yang intensif dan massif lintas generasi dari berbagai identitas suku dan agama; memungkinkan terjadinya dialog yang berdampak pada upaya bersama membangun perdamaian.

Dalam hal inilah mimpi Project Sophia; Books Without Borders, terwujud!

Donasi Project Sophia
Untuk memungkinkan mimpi Project Sophia terlaksana dan dikembangkan, kami membutuhkan bantuan anda. Bantuan dapat berupa sumbangan buku-buku cerita anak-anak (baru dan bekas), buku pelajaran; alat tulis menulis; permainan dan uang tunai. Sumbangan buku,alat tulis dengan label “Project Sophia”dapat di kirimkan ke:  Perpustakaan SOPHIA, Institut MOSINTUWU  Jl. Watumpoga’a No. 13 Pamona, Pamona Puselembah, Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Indonesia. 94663

Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, dapat juga mengirimkan ke :
Reslian Pardede
Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD)
Jl. Tebet Barat Dalam III A no.2
Jakarta Selatan
Telp:  021-8379-4518/8379-4469
(In front of SMA26)  Sumbangan dana dapat melalui link donation for Project Sophia (lihat link sebelah kanan) atau dapat dikirimkan melalui Rekening Institut Mosintuwu:

Bank Nasional Indonesia (BNI)
Atas Nama: Institut Mosintuwu Nomor Rekening : 0206443950
MARI BERGABUNG DENGAN KAMI
UNTUK MASA DEPAN GENERASI PASCA KONFLIK

ONE BOOK AT A TIME!

*)Disalin dari blog sophialibrary, 23 Juli 2012

Perpustakaan Mitra Netra

Selasa, 10 Juli 2012, ruang perpustakaan Mitra Netra mulai berfungsi kembali. Setelah mengalami proses renovasi sejak awal April 2012 lalu, saat ini lantai dasar ruang perpustakaan dapat segera difungsikan kembali. Di dalam ruang perpustakaan yang baru ini, terdapat sudut untuk pelayanan, tempat membaca buku yang nyaman, internet cafe, serta rak-rak yang dirancang dengan sangat praktis untuk menyimpan koleksi buku audio digital dan buku Braille.

Perpustakaan Mitra Netra yang menyediakan buku, baik buku audio digital maupun buku Braille, adalah tempat yang “langka” di Indonesia. Jika untuk anak-anak kurang mampu banyak warga masyarakat mendirikan “taman bacaan” guna membantu mereka agar dapat membaca buku, maka bagi tunanetra belum banyak inisiatif yang dilakukan untuk membuat tunanetra dapat mengakses literasi.

Itu sebabnya, layanan produksi dan distribusi buku serta layanan perpustakan untuk tunanetra merupakan salah satu layanan strategis yang Mitra Netra sediakan sebagai bagian penting dari program pemberdayaan tunanetra.

Sejak berdiri 21 tahun yang lalu hingga saat ini, layanan perpustakaan Mitra Netra telah memungkinkan tunanetra menempuh pendidikan di sekolah umum hingga perguruan tinggi secara inklusif bersama siswa lain yang tidak tunanetra. Salsa, Arif Budiman, dan Esa adalah contoh konkrit sebagian dari tunanetra yang menempuh pendidikan secara inklusif tersebut.

Kisah Salsa, Arif Budiman dan Esa.

Alifia Indriani Salsabila, biasa dipanggil Salsa–siswa tunanetra kelas enam–dapat belajar bersama teman-temannya di sebuah SD Negeri di Jakarta Selatan karena Mitra Netra senantiasa menyediakan semua buku yang ia butuhkan untuk belajar di sekolah. Hampir tiap hari, Salsa ke Mitra Netra setelah pulang sekolah untuk belajar dan meminjam buku di perpustakaan. Mata pelajaran yang ia senangi adalah Matematika. Salsa ingin menjadi guru matematika.

Sedangkan Esa Ana Mirabellia, biasa dipanggil Esa, adalah gadis tunanetra asal Purwokerto, Jawa Tengah. Saat ini berkuliah di Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Atmajaya, Jakarta. Seperti Salsa dan tunanetra muda lainnya di Jakarta, Esa juga merupakan pengunjung rutin perpustakaan Mitra Netra. Ia senang membaca karya sastra bermutu serta buku-buku motivasi.

Senin 25 Juni 2012 lalu, Arif Budiman, pemuda tunanetra asal Bogor, baru saja menyelesaikan ujian skripsi di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Arif termasuk tunanetra yang terlambat bersekolah karena ketidakmengertian orangtuanya. Namun, itu tak membuat ia patah semangat. Layanan pendidikan yang Mitra Netra sediakan, termasuk layanan perpustakaan yang menyediakan semua buku pelajaran yang ia butuhkan, telah membantu Arif Budiman menempuh pendidikan hingga menyelesaikan pendidikan tinggi.

Perjalanan Kepemilikan Perpustakaan Mitra Netra

Setelah 8 tahun berada di kantor yang terletak di Jalan Gunung Balong II Nomor 58, Lebak Bulus III, Jakarta Selatan, ruang perpustakaan adalah tempat di lokasi kantor Mitra Netra yang kondisinya paling memprihatinkan. Ruangan berukuran 62 meter persegi itu semula adalah ruang kerja penjahit. Sebelum kantor tersebut Mitra Netra beli atas bantuan Foundation Dark & Light Blind Care (DLBC) dari Belanda, rumah berukuran kurang lebih 550 meter persegi di atas tanah seluas 950 meter persegi ini adalah milik seorang penjahit.

Memiliki ruang perpustakaan yang lebih memadai adalah impian Mitra Netra. Di sana, tunanetra dapat melakukan kegiatan yang mengasah kapasitas berpikir: membaca buku, belajar, mencari informasi di internet serta berdiskusi.

Rencana Pembangunan

Rencana untuk merenovasi ruang perpustakaan ini telah dimulai sejak pertengahan 2010. Setelah membuat desain awal berikut perkiraan dana yang dibutuhkan–renovasi ini membutuhkan dana sebesar Rp450 juta–upaya penghimpunan dana pun segera dilakukan pada 10 November 2010. Kegiatan penghimpunan dana ini dinamai “Mitra Bercahaya”. Melalui dukungan para “mitra” atau sahabat, Mitra Netra akan terus menebarkan cahaya bagi tunanetra di Indonesia melalui buku.

Penghimpunan dana dilakukan dalam dua cara. Cara pertama, menawarkan paket donasi. Penawaran ini terutama ditujukan kepada donatur individu guna memudahkan mereka memberikan kontribusi. Sedangkan cara kedua adalah menyampaikan proposal permohonan bantuan dana ke lembaga, baik lembaga pemberi dana (donor agent) maupun perusahaan.

Hingga akhir Maret 2012, upaya penghimpunan dana ini telah berhasil mengumpulkan uang hampir mencapai Rp150 juta. Ini berarti, baru sepertiga dari dana yang dibutuhkan telah terhimpun. Namun, mengingat kondisi perpustakaan yang telah kritis, renovasi telah dimulai secara bertahap sejak 2 April 2012.  Adapun hasil penghimpunan dana hingga 30 Juni 2012 adalah Rp255 juta.

Dari dana yang telah terhimpun di atas, telah dimanfaatkan untuk persiapan dan proses renovasi perpustakaan berikut fasilitas pendukung lainnya sebesar Rp222 juta. Mitra Netra menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi mewujudkan impian tersedianya perpustakaan untuk tunanetra yang lebih memadai di Jakarta dan melayani perpustakaan untuk tunanetra di kota-kota lain di seluruh Indonesia.

Saat ini upaya penghimpunan dana masih terus dilaksanakan karena Mitra Netra masih harus membangun lantai dua di atas ruang perpustakaan yang baru tersebut. Lantai dua ini akan dimanfaatkan untuk ruang produksi buku audio, yang meliputi studio rekaman untuk membaca, ruang editing, ruang duplikasi dan labeling serta ruang pengepakan dan pengiriman.

Di samping itu, ruang produksi buku Braille juga akan ditempatkan di lantai dua tersebut. Hal ini perlu dilakukan mengingat ruang yang ada saat ini tidak lagi memadai untuk menjalankan fungsi produksi buku audio digital dan buku Braille.

Setelah 21 tahun Mitra Netra mengabdi, lembaga ini terus menjalankan dan mengembangkan fungsi sebagai penyedia dan pengembang layanan bagi tunanetra guna mewujudkan kehidupan tunanetra yang cerdas, mandiri, dan bermakna dalam masyarakat inklusif.

Layanan produksi dan distribusi buku untuk tunanetra Mitra Netra saat ini telah menjangkau 43 kota di 14 provinsi di Indonesia dan melayani lebih dari 2.000 tunanetra. Sedang kapasitas produksinya adalah 300 judul buku audio dan 150 judul buku Braille tiap tahun. Hingga 30 Juni 2012, jumlah koleksi buku audio secara keseluruhan adalah 1.749 judul, sedangkan buku Braille adalah 1.538 judul. Jumlah ini akan terus bertambah dan harus terus bertambah karena Mitra Netra memimpikan setiap tunanetra di negeri ini dapat dengan mudah memperoleh dan membaca buku.

Oleh karena itu adalah penting untuk memperbesar kapasitas produksi buku Mitra Netra, dan salah satu langkah yang harus ditempuh adalah dengan menyediakan ruang yang lebih memadai sebagai tempat kegiatan produksi buku tersebut dilakukan.

Donasi yang Ada berikan akan memungkinkan Mitra Netra terus mengembangkan fungsi sebagai lembaga lokomotif penggerak kemajuan tunanetra Indonesia, satu di antaranya menumbuhkembangkan masyarakat tunanetra yang gemar membaca dan belajar melalui program produksi dan distribusi buku untuk mereka.

*)VIvanews, 19 Juli 2012

Lontar Project

Di Bali, penulisan asli dari buku disebut lontar, yang berarti naskah lontar .

Ini adalah praktek yang sangat khusus, dimana semua tahapan dilakukan dengan tangan. Lontar terbuat dari daun pohon Siwalan, tumbuh dan dirawat oleh 2 keluarga di Bali. Lebar lontar  bervariasi 25cm sampai 45cm, bahkan ada yang lebih besar, tergantung pada panjang dokumen dan ketersediaan daun. Daun harus diproses selama lebih dari setahun sebelum dapat digunakan untuk naskah. Dibutuhkan kira-kira antara 2 dan 3 bulan untuk mengukir lontar, tergantung pada jumlah teks.

Setelah mereka diukir dengan ukuran, diukir dengan pisau logam, digosok dengan semir untuk menggelapkan alur, dan kemudian diusap sekali lagi untuk membersihkan cat yang berlebihan, daun kelapa berukir tersebut kemudian diikat dan kemudian dibungkus dengan sarung Bali dan ditempatkan di kotak kayu dengan ukiran tangan nan indah. Paling sering, lontar dibungkus sutra sebelum ditempatkan di dalam kotak karena buku-buku berisi teks suci.

Membaca lontars adalah memberi hormat pada para leluhur dan membangkitkan kembali minat dan popularitas masyarakat dalam membaca teks-teks.

Di Bali, lontars sudah ada selama kurang lebih 100 tahun tapi akhirnya rusak karena kelembaban daerah. Ada kebutuhan besar untuk melestarikan naskah-naskah dan mencegah kehilangan besar terhadap budaya dan dunia.

Seperti halnya Perpustakaan Agung Alexandria, ribuan lontar akan hilang dari dunia bila tidak ada upaya pelestarian dengan menyimpan dan menyalinnya. Untuk itu lah David Patten, Mary Brentwood, Meredith Bressie, dan Debra Simons mengagas sebuah project restorasi Lontar di Bali.

David, seorang ahli linguistik dengan minat khusus dalam naskah kuno Asia Tenggara, menghabiskan masa mudanya di Montana. Dia adalah seorang penerbit, guru, dan kontraktor. Bahasa dan budaya Indonesia telah menarik dia untuk fokus pada naskah-naskah kuno (lontar) yang menghilang, dan kepedulian terhadap kelanjutan mereka, karena mereka mendukung kehidupan rohani modern Bali.

Sebagai guru dalam Program Nine Gates Mystery School, dia telah menyelidiki beberapa praktek spiritual dunia, yang memungkinkan siswa untuk mengalami dunia dengan cara yang lebih bermanfaat. Sejak tahun 1989, ia telah memimpin tur tahunan ke Bali, sehingga siswa mungkin mengalami praktek-praktek spiritual di sana. Tujuh tahun yang lalu ia mulai membantu untuk menghidupkan kembali proses tradisional mereplikasi lontar, warisan tertulis dari Bali. Hari ini (2012), David berusia 71, dan ingin memastikan seluruh  usaha  proses pelestarian prasasti naskah akan berkembang.

Dr Brentwood adalah lulusan Nine Gates Mystery School dan melakukan perjalanan ke Bali dengan David Patten mana dia diperkenalkan kepada Proyek Lontar. Dr Brentwood berkomitmen untuk menggunakan keahliannya dalam manajemen proyek besar untuk memfasilitasi keberhasilan Proyek Lontar.

Meredith Bressie, lulusan arsitektur, bertemu David Patten pada tahun 2000 di Nine Gates Mystery School. Setelah jatuh cinta dengan budaya Bali yang kaya, sejarah dan spiritualitasnya, ia tertarik untuk membantu melestarikan pembuatan Lontar dan bergabung untuk melanjutkan misi mereka melestarikan lontar.

Debra Simons adalah mitra awal RockShox, sebuah perusahaan yang mengembangkan sistem suspensi sepeda gunung. Perusahaan ini dijual pada bulan Maret, 1995. Sejak itu, Debra telah mendedikasikan waktunya untuk keluarga dan Yayasan Wanda Bobowski.

Untuk mewujudkan misinya itu, mereka membuat sekolah menulis lontar bgai anak-anak. Saat ini ada 3 sekolah di Bali yang dibina Yayasan. Lokasinya di provinsi Gianyar. Kelas-kelas ini bukan bagian dari sekolah apapun tetapi ada di rumah-rumah para guru. Karakteristik orang Bali mereka tidak akan ingin nama mereka digunakan, setidaknya secara publik. Sekolah di Bangli, Bali mengajarkan semua 4 tingkat pengambilan naskah lontar.

Level 1: Pengenalan Script 2-3 tahun
Level 2: Awal Cutting 2 tahun
Level 3: Intermediate Cutting 2 tahun
Level 4: Profesional Grade (script kecil) 2 tahun

Biaya Project

Dibutuhkan US$ 25.00 (sekitar Rp.250.000) untuk membeli 20 minggu daun lontar untuk satu anak untuk berlatih. Setiap keluarga bertanggung jawab untuk membeli perlengkapan anak-anak mereka yang meliputi daun kelapa dan pisau. Namun, karena tingginya biaya hidup di Bali sebagian besar keluarga tidak mampu membelinya, bahkan untuk satu sen sehari. Yayasan kemudian mengambil alih setengah biaya untuk membeli daun untuk semua anak.

Saat ini ada 200 anak lebih yang terdaftar di sekolah dan kebutuhan untuk daun lontar meningkat setiap hari.

Guru di sini digaji $50.00/bulan (sekitar Rp.500.000) untuk mengajar sekitar 100 siswa. Saat ini, ada tiga guru yang bekerja dengan lebih dari 200 siswa.

Empat sampai lima lembar daun lontar yang digunakan per hari, untuk merekonstruksi sebuah lontar. Dibutuhkan antara 8 dan 12 minggu untuk membuat lontar dan dapat berisi sebanyak 200 lembar hingga menjadi sebuah buku/naskah.

Lontars, terbungkus sutra dan hati-hati dikemas dalam kotak ukiran tangan, akan tersedia untuk dijual dalam waktu dekat. Pembelian lontar adalah cara untuk mendukung upaya yayasan membiayai biaya sekolah dan restorasi.

*)Disarikan dari situs Lontar Project

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan