-->

Arsip Perpustakaan Toggle

Kota Salatiga | Perpusda Jadi Tulang Punggung

Jika yang Anda bayangkan adalah perpustakaan yang sepi dengan deretan buku yang terpajang monoton di rak-rak, itu bukan wajah Perpustakaan Daerah Kota Salatiga di Jawa Tengah. Pada 2013, Pemerintah Kota Salatiga memindah dan mengubah wajah perpustakaan daerah yang suram dan kurang layak untuk menyimpan buku dan arsip menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Pengunjung tidak hanya bisa meminjam buku yang tertata rapi di rak-rak secara gratis, tetapi juga bisa mengakses internet secara gratis, dengan komputer yang disediakan ataupun dengan Wi-Fi. Selain itu, tersedia ruang multimedia yang biasanya digunakan untuk “nonton bareng” film-film bertema pendidikan atau sejarah, dan dapat digunakan warga untuk kegiatan pendidikan, seni, atau budaya.

Di belakang ruangan perpustakaan, tersedia tiga gazebo yang bisa dipakai untuk membaca buku atau berdiskusi. Tersedia pula buku-buku dengan huruf braille untuk penyandang tunanetra. Perpustakaan juga buka setiap hari, pada Senin-Jumat hingga pukul 20.00 dan pada Sabtu-Minggu hingga pukul 16.00. (lebih…)

Rumah Puisi Taufiq Ismail

Dokumentasi berita feature Jawa Pos edisi 7 Juli 2014 ini mengulas biokomunitas rumah puisi yang didirikan Taufiq Ismail di Padang-Panjang, Bukittinggi. Perpustakaan yang kaya koleksi sastra ini adalah warisan literasi sang penyair untuk sastra Indonesia ~ Redaksi
(lebih…)

Perpustakaan Mini Newseum Indonesia | Jakarta

JAKARTA – Koleksi ribuan buku beragam tema pilihan pecinta buku Taufik Rahzen. Disusun bersandingan dengan karya-karya seni dengan warna-warna yang berani. Di depan perpus mini inilah beragam event kebudayaan digelar, seperti diskusi buku, refleksi budaya, dan pertemuan-pertemuan intelektual nyaris semua aliran dan paham.

Silakan berkunjung ke Perpus Mini Newseum Indonesia, Veteran I No 26, Monas, Jakarta Pusat. Dikelola oleh pustakawan patikelir Nay “Nana” Deana.

Perpus Newseum Indonesia 1

Bexar County Digital Library: Di Perpus Ini Tidak Ada Buku

Sebuah perpustakaan di San Antonio, Texas, bertransformasi dari cetak ke digital. Perubahan ini dinilai sangat dramatis. Bexar County Digital Library (BiblioTech), nama perpustakaan itu, hanya berisi monitor-monitor, tanpa buku. Jika masuk ke dalam, bangunan itu juga tidak tampak seperti perpustakaan. (lebih…)

Pesan SBY Saat Kunjungi Perpustakaan Bung Hatta

BUKITTINGGI – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan pemikiran para Bapak Bangsa Soekarno, Muhammad Hatta dan yang lainnya tetap relevan dengan kondisi saat ini sehingga tetap bisa menjadi pedoman dalam pembangunan bangsa. “Kita bersyukur pikiran besar pendahulu kita terwadahi dalam satu keutuhan. Negara yang kuat tapi juga rakyat berdaulat, pentingnya politik kebangsaan, demokrasi dan ekonomi yang menunjukkan kedaulatan rakyat. Ini mutiara dan wajib kita lestarikan dan pedomani pikiran besar pendiri republik,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mengunjungi perpustakaan Bung Hatta di Bukittinggi Selasa (29/10). (lebih…)

Perpustakaan Kota Surabaya Terbaik Nasional Tahun 2013

JAKARTA – Perpustakaan umum Kota Surabaya, Jawa Timur, meraih sebagai perpustakaan terbaik dalam lomba perpustakaan kabupaten/kota tingkat nasional 2013. “Juara satu untuk kluster A lomba perpustakaan umum kabupaten/ kota tingkat nasional diraih oleh Kota Surabaya,” kata Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Woro Titi Haryanti, dalam acara yang digelar Perpustakaan Nasional di Jakarta. (lebih…)

Perpustakaan Kota Gagas Seribu Buku | Yogyakarta

YOGYAKARTA — Dalam rangka memperingati HUT Bank Buku ke-3 sekaligus mendukung peringatan Hari Buku Sedunia, Perpustakaan Kota Yogyakarta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk dapat berbagi buku melalui program yang bertajuk ‘Seribu Buku Untuk Jogja’. (lebih…)

Taman Baca Sari Sandu, Pulau Rote

TBMTaman Bacaan Sari Sandu di Kota Ba’a, Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, begitu populer di kalangan masyarakat setempat. Letaknya berdampingan dengan yayasan yatim piatu.

Setiap hari, 50-100 warga, sebagian besar anak-anak, datang ke sana untuk membaca. Keberadaan taman bacaan itu sebagai upaya mencerdaskan generasi muda di pulau terpencil yang berbatasan dengan negara tetangga, Australia.

Taman bacaan itu beroperasi pertengahan 2011 atas inisiatif beberapa orang. Mereka, antara lain, Yandris Nggebu, Miraden Patola, PNS di Kantor Bappeda Rote Ndao; Devi Bessy, dan Milan Patola. Semuanya warga asli Rote. Devi dan Milan sebagai pengajar matematika dan bahasa Inggris bagi anak-anak di taman bacaan itu setiap Senin dan Kamis sore.

Yakoba Elim Kiak Nggebu (60), penjaga Taman Bacaan Sari Sandu (TBSS), di Ba’a, ibu kota kabupaten, Senin (3/12), mengatakan, sumber daya manusia di Rote, sebagai pulau terluar selatan Indonesia, masih jauh tertinggal.

Sejumlah generasi muda di pulau itu selalu tersandung masalah penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) di perairan Australia dan penyelundupan imigran ke Australia. Selain itu, mereka juga dinilai kerap mengabaikan tradisi sadap lontar, bermental pemalas, dan suka mabuk-mabukan. ”Beberapa anak muda sampai hari ini masih ditahan di Australia,” kata Yakoba.

”Pulau Rote, Ndao, Ndana, Batek, dan pulau-pulau lain di selatan Indonesia masuk pulau terpencil, jauh dari pusat provinsi NTT, Kupang. Di sini tidak ada perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, taman bacaan, ataupun pusat bacaan lain. Kondisi ini mendorong kami menghadirkan taman bacaan ini,” kata Yakoba.

Lengkap

Sosialisasi TBSS melalui gereja dan masjid setempat agar generasi muda, mahasiswa, pelajar, petani, peternak, pedagang, PNS, dan kalangan mana saja dapat memanfaatkan TBSS. Buku-buku yang tersedia cukup lengkap, antara lain bacaan anak-anak, seperti cerita rakyat, dongeng, mata pelajaran, novel, puisi, cerpen, serta buku-buku pertanian, peternakan, ilmu politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Hanya buku-buku itu belum ditata sesuai kategori, jenis bacaan, dan bidang-bidangnya. Tempat membaca pun masih terbatas sehingga anak-anak harus berdiri selama membaca.

”Kami masih kekurangan banyak. Tetapi, dengan kondisi ini saja, banyak pihak sudah senang. Lebih baik kami memulai dari keterbatasan daripada tidak ada sama sekali,” kata Yakoba.

Hari Senin dan Kamis, anak-anak datang mengikuti pendidikan bahasa Inggris dan matematika secara cuma-cuma. Dua ibu guru dengan spesialisasi bahasa Inggris dan matematika memberikan pelajaran tambahan di taman bacaan itu sekaligus memberikan tugas kepada peserta. Jumlah peserta sekitar 50 orang.

Para peserta, pembaca, dan peminjam buku tidak dipungut biaya sama sekali. Daya beli masyarakat masih sangat rendah. Yang terpenting, melalui TBSS mereka dapat pengetahuan baru, mengubah pola pikir, dan mengubah tata cara bertani, beternak, belajar, dan lainnya.

Yakoba menuturkan, dalam waktu dekat diadakan kursus musik sasando bagi generasi muda dan menganyam topi tilangga khas Rote Ndao. Alat musik khas Rote ini hanya dikenal kalangan tertentu saja.

Pengelola TBSS pun berencana memanfaatkan TBSS untuk menghapus buta aksara di Rote Ndao. Kini, masih ada ribuan warga Rote Ndao yang tidak tahu menulis dan membaca.

Belum ada buku daftar nama pengunjung, sumbangan, besar sumbangan, dan lainnya. Peminjam buku pun hanya berdasarkan sikap saling percaya. Buku-buku itu disumbang Andy F Noya (pembawa acara Kick Andy), Sarah Lery Mboeik (anggota DPD), dan sejumlah dermawan lain.

”Kami adakan program yang disebut gerakan 1.000 buku. Siapa saja yang ingin menyumbang buku, majalah, atau koran apa saja, kami terima. Buku-buku ini memiliki nilai sangat istimewa sebagai investasi sumber daya generasi muda Rote Ndao ke depan,” katanya.

Mikel Tambuwun, Pemimpin Panti Asuhan Rumah Hati Bapa Rote Ndao, yang letaknya berdampingan dengan TBSS, mengatakan, 15 anak yatim yang tinggal di panti itu pun memanfaatkan TBSS untuk belajar dan membaca. Anak-anak panti itu memiliki keterbatasan, antara lain cacat dan lemah daya ingat.

Tiga pengasuh di panti itu setiap pagi dan sore hari mengantar anak-anak tersebut ke TBSS untuk membaca, menulis, dan menghitung, serta belajar kreasi lainnya. Anak-anak sangat senang. Kebanyakan mereka tidak mengikuti pendidikan formal sehingga memanfaatkan TBSS untuk belajar.

Fitri Nggebu (12), salah satu siswi SMP 2 Kota Ba’a, juga pengunjung di perpustakaan itu, mengatakan, jika ada tugas dari sekolah, dia selalu memanfaatkan TBSS untuk mengerjakan tugas-tugas itu. Buku-buku cukup tersedia kecuali tugas kliping koran. Di TBSS belum ada koran atau majalah bekas, seperti Harian Pos Kupang, Timor Express, Victory News, Bobo, Kawanku, dan Donal Bebek.

”Lebih baik kalau pengelola menyediakan juga air minum atau makanan ringan lain atau mesin fotokopi. Untuk meningkatkan kualitas TBSS, pengunjung dapat membayar tetapi sesuai kemampuan anak-anak, seperti Rp 500 atau Rp 1.000 per pengunjung. Zaman sekarang tidak ada yang gratis lagi,” kata Fitri.

Siswi yang bercita-cita menjadi dokter ini mengaku sangat bangga dengan kehadiran TBSS. Melalui sarana itu, ia bisa bertemu dengan berbagai teman atau sahabat dari sejumlah sekolah.

Tokoh masyarakat Ba’a, Abia Mandala (69), mengatakan, TBSS itu seharusnya mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Namun, sejak dioperasikan, belum ada pejabat daerah yang berkunjung ke TBSS itu. Padahal, di sana terdapat interaksi yang sangat menarik di antara berbagai kelompok anak dari sejumlah sekolah, suku, kecamatan, dan desa.

”Sejak dioperasikan pertengahan 2011, baru anak-anak usia sekolah dasar dan menengah yang memanfaatkan TBSS itu, termasuk di antaranya beberapa mahasiswa Universitas Nusa Lontar Rote Ndao. TBSS mempersilakan juga guru-guru, PNS, masyarakat umum menggunakan taman bacaan itu. TBSS tidak tertutup bagi kalangan tertentu saja,” kata Abia.

Peran taman bacaan itu seakan menggantikan perpustakaan di daerah ini. Kehadirannya mendapat perhatian masyarakat luas meskipun TBSS belum diresmikan pemerintah daerah setempat.(KORNELIS KEWA AMA)

*)Kompas, 15 Desember 2012

Taman Bacaan Sari Sandu di Kota Ba’a, Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, begitu populer di kalangan masyarakat setempat. Letaknya berdampingan dengan yayasan yatim piatu.Setiap hari, 50-100 warga, sebagian besar anak-anak, datang ke sana untuk membaca. Keberadaan taman bacaan itu sebagai upaya mencerdaskan generasi muda di pulau terpencil yang berbatasan dengan negara tetangga, Australia.

Taman bacaan itu beroperasi pertengahan 2011 atas inisiatif beberapa orang. Mereka, antara lain, Yandris Nggebu, Miraden Patola, PNS di Kantor Bappeda Rote Ndao; Devi Bessy, dan Milan Patola. Semuanya warga asli Rote. Devi dan Milan sebagai pengajar matematika dan bahasa Inggris bagi anak-anak di taman bacaan itu setiap Senin dan Kamis sore.

Yakoba Elim Kiak Nggebu (60), penjaga Taman Bacaan Sari Sandu (TBSS), di Ba’a, ibu kota kabupaten, Senin (3/12), mengatakan, sumber daya manusia di Rote, sebagai pulau terluar selatan Indonesia, masih jauh tertinggal.

Sejumlah generasi muda di pulau itu selalu tersandung masalah penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) di perairan Australia dan penyelundupan imigran ke Australia. Selain itu, mereka juga dinilai kerap mengabaikan tradisi sadap lontar, bermental pemalas, dan suka mabuk-mabukan. ”Beberapa anak muda sampai hari ini masih ditahan di Australia,” kata Yakoba.

”Pulau Rote, Ndao, Ndana, Batek, dan pulau-pulau lain di selatan Indonesia masuk pulau terpencil, jauh dari pusat provinsi NTT, Kupang. Di sini tidak ada perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, taman bacaan, ataupun pusat bacaan lain. Kondisi ini mendorong kami menghadirkan taman bacaan ini,” kata Yakoba.

Lengkap

Sosialisasi TBSS melalui gereja dan masjid setempat agar generasi muda, mahasiswa, pelajar, petani, peternak, pedagang, PNS, dan kalangan mana saja dapat memanfaatkan TBSS. Buku-buku yang tersedia cukup lengkap, antara lain bacaan anak-anak, seperti cerita rakyat, dongeng, mata pelajaran, novel, puisi, cerpen, serta buku-buku pertanian, peternakan, ilmu politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Hanya buku-buku itu belum ditata sesuai kategori, jenis bacaan, dan bidang-bidangnya. Tempat membaca pun masih terbatas sehingga anak-anak harus berdiri selama membaca.

”Kami masih kekurangan banyak. Tetapi, dengan kondisi ini saja, banyak pihak sudah senang. Lebih baik kami memulai dari keterbatasan daripada tidak ada sama sekali,” kata Yakoba.

Hari Senin dan Kamis, anak-anak datang mengikuti pendidikan bahasa Inggris dan matematika secara cuma-cuma. Dua ibu guru dengan spesialisasi bahasa Inggris dan matematika memberikan pelajaran tambahan di taman bacaan itu sekaligus memberikan tugas kepada peserta. Jumlah peserta sekitar 50 orang.

Para peserta, pembaca, dan peminjam buku tidak dipungut biaya sama sekali. Daya beli masyarakat masih sangat rendah. Yang terpenting, melalui TBSS mereka dapat pengetahuan baru, mengubah pola pikir, dan mengubah tata cara bertani, beternak, belajar, dan lainnya.

Yakoba menuturkan, dalam waktu dekat diadakan kursus musik sasando bagi generasi muda dan menganyam topi tilangga khas Rote Ndao. Alat musik khas Rote ini hanya dikenal kalangan tertentu saja.

Pengelola TBSS pun berencana memanfaatkan TBSS untuk menghapus buta aksara di Rote Ndao. Kini, masih ada ribuan warga Rote Ndao yang tidak tahu menulis dan membaca.

Belum ada buku daftar nama pengunjung, sumbangan, besar sumbangan, dan lainnya. Peminjam buku pun hanya berdasarkan sikap saling percaya. Buku-buku itu disumbang Andy F Noya (pembawa acara Kick Andy), Sarah Lery Mboeik (anggota DPD), dan sejumlah dermawan lain.

”Kami adakan program yang disebut gerakan 1.000 buku. Siapa saja yang ingin menyumbang buku, majalah, atau koran apa saja, kami terima. Buku-buku ini memiliki nilai sangat istimewa sebagai investasi sumber daya generasi muda Rote Ndao ke depan,” katanya.

Mikel Tambuwun, Pemimpin Panti Asuhan Rumah Hati Bapa Rote Ndao, yang letaknya berdampingan dengan TBSS, mengatakan, 15 anak yatim yang tinggal di panti itu pun memanfaatkan TBSS untuk belajar dan membaca. Anak-anak panti itu memiliki keterbatasan, antara lain cacat dan lemah daya ingat.

Tiga pengasuh di panti itu setiap pagi dan sore hari mengantar anak-anak tersebut ke TBSS untuk membaca, menulis, dan menghitung, serta belajar kreasi lainnya. Anak-anak sangat senang. Kebanyakan mereka tidak mengikuti pendidikan formal sehingga memanfaatkan TBSS untuk belajar.

Fitri Nggebu (12), salah satu siswi SMP 2 Kota Ba’a, juga pengunjung di perpustakaan itu, mengatakan, jika ada tugas dari sekolah, dia selalu memanfaatkan TBSS untuk mengerjakan tugas-tugas itu. Buku-buku cukup tersedia kecuali tugas kliping koran. Di TBSS belum ada koran atau majalah bekas, seperti Harian Pos Kupang, Timor Express, Victory News, Bobo, Kawanku, dan Donal Bebek.

”Lebih baik kalau pengelola menyediakan juga air minum atau makanan ringan lain atau mesin fotokopi. Untuk meningkatkan kualitas TBSS, pengunjung dapat membayar tetapi sesuai kemampuan anak-anak, seperti Rp 500 atau Rp 1.000 per pengunjung. Zaman sekarang tidak ada yang gratis lagi,” kata Fitri.

Siswi yang bercita-cita menjadi dokter ini mengaku sangat bangga dengan kehadiran TBSS. Melalui sarana itu, ia bisa bertemu dengan berbagai teman atau sahabat dari sejumlah sekolah.

Tokoh masyarakat Ba’a, Abia Mandala (69), mengatakan, TBSS itu seharusnya mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Namun, sejak dioperasikan, belum ada pejabat daerah yang berkunjung ke TBSS itu. Padahal, di sana terdapat interaksi yang sangat menarik di antara berbagai kelompok anak dari sejumlah sekolah, suku, kecamatan, dan desa.

”Sejak dioperasikan pertengahan 2011, baru anak-anak usia sekolah dasar dan menengah yang memanfaatkan TBSS itu, termasuk di antaranya beberapa mahasiswa Universitas Nusa Lontar Rote Ndao. TBSS mempersilakan juga guru-guru, PNS, masyarakat umum menggunakan taman bacaan itu. TBSS tidak tertutup bagi kalangan tertentu saja,” kata Abia.

Peran taman bacaan itu seakan menggantikan perpustakaan di daerah ini. Kehadirannya mendapat perhatian masyarakat luas meskipun TBSS belum diresmikan pemerintah daerah setempat.(KORNELIS KEWA AMA)

Perpustakaan Gerobak

Perpustakaan-Gerobak-KelilingBANGKALAN – Berisikan 600 buku yang sudah tertata rapi, gerobak terbuat dari kayu warna cokelat itu sudah ada sejak pagi, sebelum bel kelas berbunyi.

Seorang pria berusia 45 tahun sambil memegang sebuah kemucing, sibuk membersihkan debu-debu yang mengotori etalase gerobak.

“Saya hanya melaksanakan tugas. Pekerjaan ini terasa lebih ringan karena siswa sangat senang membaca,” ujar Suwarto, Kepala Perpustakaan SDN Tanah Merah Dajah I, Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (7/12/2012).

Buku-buku yang disediakan tidak hanya buku pelajaran sekolah, buku cerita juga ada.

“Rata-rata siswa lebih gemar membaca buku cerita bergambar. Di antara mereka masih ada yang suka baca buku pelajaran,” tutur Suwarto.

Selain buku-buku pelajaran dan buku cerita bergambar, siswa juga dikenalkan dengan aneka mata uang Indonesia dan perangko zaman dulu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, Suwarto mulai berkemas. Penyangga roda gerobaknya pun dilepas. Dalam waktu 30 menit jam istirahat, ia harus menjangkau enam kelas.

“Kadang juga tidak keliling. Cukup mangkal di satu kelas, siswa yang mendatangi gerobak. Itu suatu kepuasan bagi saya,” ucap Suwarto yang sudah dua tahun mendorong gerobak perpustakaan.

Sulaiman, siswa kelas 5 menuturkan, ia lebih memilih membaca buku-buku di perpustakaan gerobak, kendati buku di perpustakaan sekolah lebih banyak.

“Di ruang perpustakaan sekolah pengunjungnya banyak, membacanya kurang konsentrasi,” jelas Sulaiman.

Kepala SDN Tanah Merah Dajah I M Nashir mengungkapkan, minat baca 273 anak didiknya sangat tinggi, hingga pihak sekolah menyediakan 3.500 buku di perpustakaan sekolah.

“Mereka sudah terbiasa masuk perpus. Kami hanya memantau dan terus menanamkan pentingnya membaca buku,” paparnya kepada Surya.

Gerobak perpustakaan berlabel Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) sengaja dibuat, untuk lebih memberikan tempat kepada siswa agar gemar membaca.

“Kami pernah Juara Harapan II Tingkat Provinsi Jatim dalam acara Lomba Perpustakaan se-Jatim Tahun 2009,” ungkapnya.

Kabid TK/SD/SDLB Dinas Pendidikan Bangkalan Fauzi mengemukakan, keberadaan gerobak perpustakaan keliling di SDN Tanah Merah Dajah I merupakan inovasi sekolah.

“Perlu dikembangkan dan dijadikan contoh oleh sekolah-sekolah lain di Kabupaten Bangkalan,” harapnya.

Mantan Kepala UPT Kecamatan Burneh tak henti-hentinya memberikan apresiasi kepada Suwarto, atas dedikasinya terhadap dunia pendidikan.

“Dia (Suwarto) terus mencari referensi dan sumber-sumber buku untuk kepentingan siswa. Karena, dari pusat belum ada program khusus bantuan buku, kecuali lewat DAK (Dana Alokasi Khusus),” urainya.

Fauzi berharap, SDN Tanah Merah Dajah I bisa menjadi percontohan bagi sekolah lain. Apa yang diharapkan Fauzi nampaknya belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Sebab, belum semua SD yang ada di Bangkalan memenuhi syarat memiliki perpustakaan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Disdik Bangkalan, hanya 400 SD dari 600 SD yang status lahannya jelas.

“Dari jumlah (400 SD) itu, hanya 60-70 persen yang mempunyai perpustakaan. Selebihnya masih terkendala lahan dan luas tanah,” terang Kabid Sarpras Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika.

SD yang tidak memiliki perpustakaan tak hanya ada di pelosok desa. Di perkotaan pun masih ada SD yang belum mempunyai perpustakaan.

“Seperti SDN Demangan 3 dan 4 yang terkendala oleh luas lahan. Tidak mungkin dibangun perpus dengan cara ditingkat. Karena, konstruksi bangunan di bawahnya bukan untuk bangunan tingkat,” cetusnya. (*)

*)Tribunnews, 8 Desember 2012

Rumah Baca Asma Nadia Majalengka

Rumah Baca Asma Nadia Majalengka merupakan salah satu dari Jaringan Rumah Baca Asma Nadia yang ada di pelosok nusantara. Rumah baca ini awalnya hanya berupa Taman Bacaan Keluarga yang bernama Iqra Madani yang didirikan pada tahun 2007. Seiring dengan berjalannya waktu, Taman Bacaan Ini semakin dikenal di kalangan siswa maupun umum, sehingga yang berkunjung ke taman bacaan tidak hanya dari masyarakat di kecamatan Ligung tapi juga dari Luar Kecamatan.
Mengandalkan koleksi buku keluarga ternyata tidak dapat memberikan kontribusi lebih bagi minat baca di Masyarakat. Hal ini dikarenakan jumlah buku yang terus berkurang karena rusak dan hilang. Selain itu, pengadaan buku yang terbatas juga berpengaruh pada jumlah pembaca dan minimnya kegiatan di taman bacaan.
Berawal dari sebuah status Penulis Bunda Asma Nadia yang mengulas tentang keberadaan Rumah Baca Asma Nadia, maka Kang Rama sebagai pendiri sekaligus pengelola di Taman Bacaan, memutuskan untuk menjalin kerja sama pengelolaan Rumah Baca Asma Nadia. Dengan melakukan komunikasi dan melengkapi persyaratan pendirian, akhirnya pada bulan November 2010, Rumah Baca Asma Nadia dibuka. Dan sebagai bentuk kontribusi Rumah Baca Asma Nadia pusat, bertepatan pada bulan Januari 2011 mengirimkan buku bacaan sebanyak 125 eksemplar.
Barokah dari jalinan silaturahmi dan Nama Besar Penulis Bunda Asma Nadia, Rumah Baca Asma Nadia mulai banyak di kenal oleh masyarakat. Beberapa relawan datang menawarkan diri untuk bersama-sama memakmurkan Rumah Baca dengan aneka kegiatan dan layanan.
Mendirikan TPQ Salamadina
Hanya mengandalkan buku yang berjejer, tempat yang cukup nyaman ternyata tidak serta merta mampu merangsang minat baca di masyarakat sekitar rumah baca. Hal ini terus menjadi tantangan bagi para Relawan untuk mencari cara bagaimana rumah baca ini bisa berkiprah lebih banyak. Maka berdasarkan hasil musyawarah para Pendiri dan Relawan, bersepakat untuk mendirikan Balai Belajar bagi anak dhuafa berupa Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Salamadina.
TPQ Salamadina melakukan pembelaran selama 5 hari dari hari senin hingga hari Jum,at. Pada hari sabtu dan minggu rumah baca di buka untuk umum full selama 9 jam dari pukul 7 hingga pukul 15.oo wib. Untuk agenda lain selain pembelajaran anak-anak, RBA Majalengka menggelar beberapa acara seperti :
1. Nonton Bareng
2. Penyuluhan dan pembinaan
3. Pelatihan Komputer untuk relawan dan anggota
4. Pengajian mingguan
5. Reuni peserta program
6. Dan kegiatan lainnya
Rumah Baca Asma Nadia Majalengka, meski dengan merayap namun terus melakukan pembenahan. Mulai dari Pengadaan buku-buku dari berbagai donator, Rekrutmen anggota dan relawan hingga pengembangan aktivitas program.

*)http://rbamajalengka.webs.com/, 24 September 2012

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan