-->

Arsip Penerbit Toggle

Yayasan Pantau

Yayasan Pantau adalah sebuah lembaga yang bertujuan memperbarui jurnalisme di Indonesia. Nama “Pantau” berasal dari sebuah majalah yang diterbitkan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) pada tahun 1999. ISAI dan Article XIX, sebuah organisasi kebebasan media dari London, bersama-sama memantau televisi dan menerbitkan penelitiannya lewat “newsletter” Pantau.

Pada akhir 2000, muncul pemikiran untuk membuatnya lebih populer, tak hanya mengandalkan analisis isi. Maka Maret 2001 Pantau diubah jadi majalah bulanan. Partnership for Governance Reform in Indonesia dan Ford Foundation membantu pendanaan. Tujuannya, menjadikan Pantau sebagai majalah bulanan dengan liputan mendalam soal media dan jurnalisme. Beberapa perusahaan dan organisasi memberikan sumbangan sehingga total dana Pantau terpakai sekitar $350,000 dalam dua tahun (termasuk investasi awal).

Pantau terbit rutin tiap Senin pertama. Tiap bulan dicetak 3,000 eksemplar dan sirkulasi terjualnya naik hingga mencapai 2,500 pada Februari 2003. Menurut survei Business Digest pada Oktober 2002, sebuah majalah Pantau rata-rata dibaca enam orang dan 62 persen pembaca Pantau adalah wartawan (media cetak disusul wartawan televisi). Sisanya politisi, akademisi, orang public relation, dan mahasiswa.

Ali Alatas, mantan menteri luar negeri Indonesia, termasuk pelanggan Pantau dan menyukai majalah ini. Liem Sioe Liong dari organisasi hak asasi manusia Tapol London menyebut majalah ini sebagai “majalah terbaik di Indonesia.” Muchtar Buchori, seorang legislator dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan kolumnis Jakarta Post, menyebutnya “majalah investigasi.”

Pantau terbit dengan laporan-laporan panjang baik soal media, Aceh, terorisme, dan lain-lain. Isinya, sekitar 60 persen soal media dan 40 persen non-media. Pantau jadi fenomena baru dalam jurnalisme Indonesia karena pertama kalinya media Indonesia diliput media lain dengan standar wajar – tanpa standar ganda karena khawatir saling mengganggu sesama wartawan. Pada 10 Februari 2003, ISAI mengambil keputusan menutup Pantau. Manajemen ISAI berpendapat majalah macam ini tak viable ketika ISAI juga lagi menghadapi kesulitan finansial.

Sekitar 100 kontributor Pantau merasa misi mereka meningkatkan mutu jurnalisme Indonesia dan melayani publik lewat informasi-informasi yang independen dan bermutu, jadi terputus. Mereka menilai majalah ini harus diterbitkan lagi karena di Indonesia tak ada media yang menyajikan informasi dengan bercerita atau “story telling” macam The New Yorker atau The Atlantic Monthly. Riset dalam, referensi banyak, dan enak dibaca.

Manajemen ISAI mendukung dan bersedia memberikan copy rights majalah Pantau kepada Yayasan Pantau. Desember 2003, majalah Pantau kembali menemui pembaca dengan desain baru, dan isu lebih luas: politik-cum-kebudayaan. Kesulitan keuangan, ditambah pengelolaan bisnis yang runyam, lagi-lagi menghantui Pantau sehingga majalah ini kembali berhenti terbit pada Maret 2004.

Tidak hanya sebatas menerbitkan majalah, bagi Yayasan Pantau banyak cara untuk menunjukkan sikap perduli terhadap jurnalisme di Indonesia. Kini Yayasan Pantau berkosentrasi penuh pada pelatihan-pelatihan wartawan dan diskusi terbatas, selain menerbitkan buku dan melakukan kerjasama, baik secara internasional maupun nasional.

Kerjasama internasional yang sudah dikerjakan dan dirintis Yayasan Pantau adalah dengan Bill Kovach, wartawan terkemuka dunia, ketua Committee of Concerned Journalist dan kurator Nieman Foundation, Harvard University. Di bawah pengorganisasian Yayasan Pantau, Kovach pada Desember 2003 lalu berdiskusi di sejumlah kota di Indonesia, sambil meluncurkan bukunya The Elements of Journalism, yang diterbitkan Yayasan Pantau dalam bahasa Indonesia. Kemudian, pada Desember 2004, Yayasan Pantau menggandeng Michael Cowan, pengajar pada Columbia Graduate School of Journalism, New York, yang juga produser acara “Today” NBC.

Kerjasama internasional lain adalah dengan penulis buku Covering Globalization, Anya Schiffrin dari Initiative of Policy Dialogue, sebuah lembaga nirlaba yang dikembangkan penerima Nobel Joseph E. Stiglitz. Beberapa nama lain adalah Mila Rosenthal dari Columbia University dan Kevin Cassidy dan Carmen dari ILO, Noriel dan Agatha Schmaedick dari the Worker’s Right’s Consortium.

Mei 2005, Yayasan Pantau jadi institusi resmi yang menjalankan program The East-West Center Jefferson Fellowships di Asia Pasifik. Program ini telah berlangsung selama 38 tahun di berbagai negara, yang menghimpun sedikitnya 400 jurnalis negara-negara maju, dengan mata acara mulai seminar hingga studi lapangan dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

*) http://asopian.blogspot.com, 1 Januari 2005

Majalah Aktuil

Akt-013-B-ManPutus Dirundung Malang

Kisah sukses majalah Aktuil sebelum bermimikri jadi Editor.

Oleh Agus Sopian

ANGIN kering bulan Juni berembus di Jalan Lengkong Kecil, Bandung. Percetakan PT Timbul yang menempati gedung nomor 57, bangunan ekskolonial Belanda berlantai dua, terasa sunyi.

Di lantai satu, terlihat sebuah kamar kerja dengan perabotan tua yang menyita ruang. Hanya ada dua orang di situ: Maman Sagith, pemimpin kantor, dan Ina Herlina, satu-satunya tenaga administrasi.

Areal percetakan, yang terletak di ekor bangunan, hanya berjarak beberapa langkah dari ruang mereka. Di mulut pintu, tampak mesin absen ketok produk 1970-an yang sudah tak digunakan.

Panas dan pengap. Dua kipas yang berfungsi membuang udara sudah pensiun. Sekurang-kurangnya ada dua meja dan empat meja kecil. Semuanya penuh cacat oleh goresan benda tajam dan lelehan tinta membatu. Di atas meja, kertas-kertas tak beraturan, mulai kertas folio, afvaal, sampai doorslag, berceceran di sana-sini.

Di tengah ruangan teronggok satu unit mesin cetak buatan Italia, Nebiolo Invicta 36. Tahun 1970-an, ketika dunia pers dijangkiti demam offset, impian besar para pengusaha percetakan dan penerbitan di negeri ini disandarkan padanya.

Di seberangnya terdapat mesin potong Polar-Mohr Standar 90. Tak jauh darinya, ada sebuah bangunan aneh, terpencil di pojok ruangan sebelah kiri. Isi bangunan mirip saung petani di sawah ini tak lain dari meja exposer uzur untuk mengerjakan plate. Di atas meja, tampak deretan lampu neon, yang bingkainya sudah dipenuhi kembang debu.

Bergeser ke sayap kanan, dua letter press, mesin cetak yang masih menggunakan klise pelat timah, mengundang perhatian. Original Heidelberg, demikian jati diri sang mesin, di hari tuanya, masih sanggup mencetak sampul buku atau majalah sebanyak 1.500 lembar per jamnya.

Seorang pria dengan uban putih tumbuh merata di kepalanya bekerja di sana. Namanya Kuswari. Dia tak menoleh ketika saya tegur. Pada teguran ketiga, baru dia menoleh dan tersenyum. Sesekali dia mengambil kuas dan mengkilik-kilik mesin. Kali lain dia memindahkan hasil cetak ke meja di sebelahnya.

Kuswari dan mesin itulah yang melahirkan jabang bayi sebuah majalah fenomenal 1970-an: Aktuil.

PADA masa jayanya, ruang redaksi Aktuil menempati lantai dua percetakan PT Timbul. “Mari ke atas,” ajak saya kepada Maman Sagith, layaknya tuan rumah kepada tamu.

Saya menaiki tangga pendek. Ruangan redaksi benar-benar sudah berubah. Tak ada lagi meja tulis yang semrawut karena tumpukan kertas atau majalah-majalah luar negeri. Tak ada lagi Royal dan Remington, mesin tik berkelas pada 1970-an. Ruangan berlantai teraso kerang luks warna abu-abu coklat seluas 250 meter persegi, yang semula tanpa sekat itu, kini jadi bilik-bilik kecil. Ada empat bilik di sana: ruang tamu, kamar tidur, studio, dan kantor studio.

Di pojok sayap kanan saya membayangkan seorang pria gondrong, berkaos oblong, dan bercelana jins sedang mengetik dengan cepat, karena harus mengurusi hal-hal lain yang menunggu sentuhannya dari koordinasi reportase, menyunting naskah, membayar honor tulisan, mengecek mesin cetak, distribusi majalah, sampai memegang kunci kantor.

Pria yang saya bayangkan tak lain dari Maman Sagith, yang kini berdiri di samping saya. Penampilan eksmanajer Dara Puspita, sebuah kelompok musik asal Surabaya yang terkenal pada 1970-an ini, seperti pria kebanyakan yang sedang menghadapi senja, dengan sejumput kenangan masa jaya yang tak jelas lagi buat apa.

Seperti juga Kuswari, Sagith adalah awak Aktuil. Sagith bekerja sejak 1967, tahun pertama Aktuil dihadirkan ke hadapan publik. “Tapi saya tidak termasuk pendiri Aktuil. Yang mendirikan Mas Toto,” katanya. Mas Toto adalah Toto Rahardjo, sepupunya dari garis ibu, yang memiliki PT Timbul.

Aktuil memang lahir dari sebuah kesepakatan. Prakarsa bermula datang dari Denny Sabri Gandanegara, kontributor majalah Discorina, Yogyakarta. Putra pertama Sabri Gandanegara, wakil gubernur Jawa Barat periode 1966 – 1974 ini, tidak puas dengan majalah tempatnya berkarya yang hanya menyajikan profil pemusik dan chord lagu. Dia lalu bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas masalah-masalah perfilman. Dari obrolan ringan, mereka sampai pada perbincangan intens dan serius untuk membuat majalah hiburan.

Avianto menemui Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Gayung bersambut. Rahardjo rupanya sudah lama mengidamkan sebuah media yang dapat memberikan panduan informasi, selain untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan seninya.

Di rumah Syamsudin -publik musik mengenalnya pemusik Sam Bimbo- mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. “Ini bahasa Indonesia yang salah memang. Tapi, saat itu kami sedang gandrung-gandrungnya majalah Actueel,” kata Denny Sabri Gandanegara. Actueel adalah majalah musik terbitan Belanda, yang masuk ke kota Bandung melalui jalur bursa media Cikapundung. “Nama Aktuil diusulkan untuk pertama kalinya oleh Avianto, sedang logonya dibuatkan Dedi Suardi,” tambah Rahardjo.

Timbul persoalan bagaimana mereka mendapat tambahan biaya investasi, yang setelah dihitung ternyata memerlukan dana sekitar Rp 10 juta (kurs rupiah saat itu Rp 900 untuk US$1). Mereka kemudian mengajak Roy Sukanto dan Bernard Jujanto, keduanya anggota Viatikara.

Ramai-ramai menunjuk Toto Rahardjo sebagai pemimpin umum-cum-pemimpin redaksi, mereka berencana meluncurkan edisi perdana pada Mei 1967. Namun, karena satu dan lain hal, terutama karena hampir sebagian besar dari mereka tidak memiliki latar jurnalistik, peluncuran nomor perdana molor. Ketika urusan redaksional teratasi, kerumitan lainnya muncul: mereka tak tahu tempat mendapatkan kertas. Selebihnya, percetakan milik keluarga Rahardjo ternyata memerlukan tambahan listrik. Puncak kesulitan, tak ada seorang pun di antara mereka yang tahu persis bagaimana mengerjakan separasi dan opmaak.

Toh, akhirnya, satu per satu kesulitan mereka singkirkan. Berbekal izin Penguasa Perang Daerah Jawa Barat, organisasi militer yang sangat berkuasa, nomor perdana Aktuil diterbitkan pada 8 Juni 1967.

Awak Aktuil yang hampir seluruhnya berasal dari keluarga kelas menengah kota. Tak urung mereka merasakan suka-duka mengecerkan majalah. Para pengecer dadakan ini berkeliling kota bersepeda motor. Sebagian bahkan melarikan majalah ke luar kota Bandung, seperti Sumedang, Garut, dan Cianjur.

Oplah 5.000 eksemplar ludes dalam waktu kurang seminggu. “Siga kacang goreng kasar na mah (seperti kacang goreng kasarnya),” kenang Gandanegara.

Pada nomor kedua, mereka tak mau diganggu lagi problem keredaksian. Karenanya, Maman Sagith, mantan awak Harian Banteng, mereka comot. Pada nomor ini mereka baru berani menetapkan kebijakan periodisasi terbit: dwimingguan.

DENNY Sabri Gandanegara, kelahiran Garut 1948, tidak perlu rumah sakit jiwa untuk mengobati kegilaannya pada Deep Purple, sebuah kelompok musik rock asal Inggris yang sedang merajai ingar-bingar blantika musik cadas. Maka, selepas edisi nomor tiga, dia siap-siap menuju Eropa. Kepada ayahnya, dia bilang bakal kuliah di sana. Kepada kawan-kawannya di redaksi Aktuil, dia janji akan mengirimkan laporan pandangan mata pentas para pemusik rock, terutama Deep Purple.

Ternyata, Gandanegara malah makin tenggelam ke dasar kegilaannya hingga uang di koceknya untuk hidup dua tahun terancam habis hanya dalam beberapa bulan. Tangannya pun enggan menyentuh mesin tik. Alhasil, laporan pandangan mata yang dijanjikan hendak dikirimkan segera sesampai di Eropa, hanya menjadi dedak di dalam benak.

Di Bandung, pekerjaan redaksi praktis hanya dikerjakan oleh dua orang: Maman Sagith dan Sonny Suriaatmadja, seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Kurangnya personel membuat kerja mereka benar-benar spartan. Apa saja mereka garap. Dari pengumpulan sampai pengolahan informasi, dari pekerjaan layout sampai mengocek tinta cetak, dari menjilid sampai mengepak, juga mengedarkan majalah. “Wartawan sekarang sungguh beruntung. Semua serba otomatis. Ada tape recorder, ada komputer. Dulu, kalau tangan belum belepotan, belum bisa disebut wartawan,” ujar Sagith pada saya.

Pada 1968, kantor redaksi Aktuil di 2000 Hamburg 52, Wichman Sto. 42/B Grahn, Jerman Barat, mulai mengirimkan hasil reportase. Namun, sambutan publik masih biasa-biasa saja. Tampaknya, reportase tersebut kurang menggigit karena sebagian besar isinya menyadur majalah asing.

Di Bandung, sejak awal rezim Orde Baru naik ke altar kekuasaan, majalah-majalah asing, baru atau bekas pakai, boleh dibilang menyerbu deras bursa media Cikapundung. Tak terkecuali Muziek Express, terbitan Belanda, yang acap dijadikan rujukan Gandanegara.

Sonny Suriaatmadja tidak kehabisan akal. Ia menerjemahkan artikel dari majalah-majalah tersebut untuk tulisan-tulisannya, sekadar usaha untuk menanamkan kebiasaan membaca Aktuil. Paling tidak, berusaha bertahan hidup dari kurangnya artikel-artikel yang masuk.

Usaha Suriaatmadja tidak sia-sia. Aktuil terus bertahan sampai Suriaatmadja punya ide menurunkan tulisan bertema perubahan gaya hidup Barat nun jauh di seberang benua. Dikemas dalam artikel serial sepanjang 1969, Suriaatmadja antara lain memotret abc kehidupan hippies: mulai sistem sosial yang mereka bangun, ideologi, cara berbusana, seks dan orgi, sampai bagaimana mereka bergaul dengan mariyuana.

Artikel serial tersebut mendapat sambutan luar biasa. Surat-surat dari pembaca terus mengalir ke meja redaksi untuk memberi komentar atau sekadar bertanya. Oplah Aktuil pun bergerak naik hingga tiga kali lipat dibanding terbit pertama kali. Percetakan PT Timbul gelagapan. Ledakan oplah tiba-tiba, karena banyaknya pesanan, memaksa PT Aktuil -payung penerbitan majalah Aktuil yang dibangun setelah dua tahun terbit- melarikan sebagian order cetak ke PT Ekonomi, di Jalan Oto Iskandar Dinata, di Bandung juga.

Oplah terus mengalami perkembangan signifikan. Lebih-lebih setelah seniman Remy Sylado menyuntikkan eksperimen sastra mbeling dalam bentuk cerita bersambung Orexas. Cerita ini sekaligus menegaskan Aktuil sebagai majalah anak muda. Orexas sendiri bukan dewa atau ksatria dari mitos Yunani, melainkan kependekan dari “organisasi sex bebas.”

Di negeri asalnya, baik di daratan Eropa maupun Amerika Serikat, pemberontakan anak muda dimulai setidak-tidaknya sejak 1950-an dalam bentuk tumbuhnya subkultur rock’n roll, dengan embrio munculnya generasi cross boy. Film-film Hollywood yang dibintangi James Dean macam East of Eden atau Rebel without Cost, memberi siluet bagaimana pemberontakan itu dilakukan, bagaimana kebebasan berekspresi menentukan nasibnya sendiri.

Di Indonesia, pemberontakan anak muda, secara eklektis disalurkan melalui bahasa nonverbal dalam bentuk peniruan tingkah laku dan gaya. “Di sana,” kata Remy, “perlawanan berlangsung sangat verbal, dinyatakan dengan kata-kata. Di sini, orang tidak terlatih berkalimat.”

Ironisme mengalir lancar.

Sejumlah kaum muda Jakarta, misalnya, mengapresiasi tokoh Shane dalam film Shane yang dibintangi Alan Ladd, melulu sebagai tukang gebuk, jagoan tak kenal kompromi. Walhasil, Shane -yang dikagumi cendekiawan muda Arief Budiman karena moralitas ceritanya yang antikekacauan sosial- tak lebih dari simbol kebengalan. Shane, tokoh protagonis yang biasa melilitkan selendang kuning, pada akhirnya melahirkan kelompok antagonis bagi masyarakat dalam wujud geng Selendang Kuning Boy, yang pada 1970-an bikin pening aparat karena peperangan bengisnya melawan geng Marabunta Boy.

Remy mencoba meluruskan persoalan dengan caranya sendiri. Kemampuannya berbahasa dalam sejumlah bahasa dunia dan kemauannya untuk mencoba berpikir lintas bangsa, memungkinkan dirinya dapat memindahkan teks yang bersembunyi di balik fenomena pertempuran budaya tua-muda itu ke dalam sastra eksperimental yang ditekuninya.

SEGERA setelah perubahan surat perizinan, dari izin Penguasa Perang Daerah Jawa Barat ke Izin Menteri Penerangan melalui surat keputusan nomor 0929/SK/Dir/SIT/1970, Denny Sabri Gandanegara dari Jerman Barat mengontak markas pusat dan menyarankan agar Remy direkrut jadi redaktur, “Dia seniman hebat.”

Menjelang 1970 berakhir, oplah Aktuil mencapai 30 ribu eksemplar. Percetakan PT Ekonomi yang mulai kepayahan, mengharuskan PT Timbul menambah kapasitas cetaknya, dengan mendatangkan mesin baru Gordon.

Untuk menampung karya-karya yang terus mengalir ke dapur redaksi, ukuran majalah yang semula 16 x 21 centimeter diubah menjadi 21 x 29,7 centimeter. Tiba-tiba saja, Aktuil merasakan betapa berat kerja mereka. Karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk merekrut tenaga-tenaga pracetak, yang selama ini dikerjakan Dedi Suardi.

Maman Husen Somantri, seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung, yang dianggap menguasai seluk-beluk pekerjaan desain, direkrut Aktuil. Untuk pertama kalinya, Somantri menelurkan gagasan pemberian bonus stiker, poster, dan gambar setrikaan. Dalam tempo cepat, atribut Aktuil menyebar ke pelosok kota; dan Aktuil tak urung jadi simbol sosial anak muda kota Bandung.

“Rasanya belum menjadi anak muda kota kalau tidak menenteng Aktuil,” kata Yusran Pare, penanggung jawab harian Metro Bandung, yang pada 1980-an menjadi penjaga gawang rubrik kebudayaan di Bandung Pos. Dia sendiri, di awal 1970, sudah biasa merengek pada ayahnya untuk dibelikan Aktuil.

Tiras Aktuil menembus angka 126 ribu eksemplar. Sagith memperkirakan oplah sebesar itu dicapai dalam kurun 1973-1974, atau setelah Aktuil Fans Club, komunitas kaum muda pembaca Aktuil, terbentuk di berbagai daerah. Asal tahu saja, di Jakarta, Aktuil Fans Club diurus kelompok musik Panbers. Sedangkan di Bandung, ditangani antara lain oleh A.M. Ruslan, kini penanggung jawab redaksi Pikiran Rakyat.

Gara-gara tiras yang tiba-tiba melompat ke angka fantastis, PT Aktuil tidak bisa lagi hanya mengandalkan dua percetakan. Sebagian order cetak akhirnya dilarikan ke PT Masa Baru yang berlokasi di kawasan Viaduct, Braga, Bandung; tempat berdirinya Bank Republik Indonesia Tower sekarang. Belakangan, dari keuntungan yang diperoleh, PT Timbul menambah lagi mesin cetaknya: Invicta 36.

Habis masalah percetakan, terbit problem pemasaran. Kian Thiong, manajer pemasaran, keteteran. PT Aktuil kemudian memanggil Billy Silabumi, koordinator wartawan Aktuil di Jakarta, untuk turut menangani sirkulasi dan distribusi, terutama untuk kawasan Jakarta dan luar Bandung lainnya.

Adakah korelasi antara peningkatan oplah dengan keterlibatan Remy Sylado? Saya tak tahu. Di Bandung hampir tidak ada dokumen pendukung. Jangankan dokumen, kumpulan majalah dari setiap edisi, yang dulu dibendel dengan rapi dan memenuhi kamar kerja Toto Rahardjo, sudah tidak ada (saya mendapat koleksi Aktuil di perpustakaan pribadi Sylado).

Namun, dari sejumlah narasumber yang saya hubungi, hampir semuanya merujuk pada nama Remy sebagai pemberi sapuan besar pada lelakuing urip media itu. Arief Gustaman, redaktur budaya Metro Bandung, mengatakan, “Remy Sylado sedang gila-gilanya.” Remy membangun komunitas sastrawan Bandung, terutama dari lapisan kaum muda. Gedung Kesenian di Jalan Naripan, Bandung, boleh dibilang tak pernah sepi pertunjukkan.

REMY Sylado adalah nama baptis Jubal Anak Perang Iman Tambajong, atau ia biasa menyingkatnya Japi Tambajong. Nama Remy Sylado, sesekali cukup ditulis 23761, diambilnya dari chord pertama lirik lagu All My Loving milik The Beatles. “Nama saya diinterpretasikan macam-macam. Padahal saya bikin asal-asalan,” ujarnya terkekeh.

Remy lahir di Makassar pada 1945. Sebelum menjadi redaktur Harian Tempo, Semarang (1965) dan redaktur Aktuil, dia belajar bahasa Arab, Ibrani, Mandarin, dan Yunani di Seminari Theologia Baptis, Semarang; belajar seni rupa di Akademi Kesenian Surakarta; serta teater di Akademi Teater Nasional Surakarta. Hampir berbarengan dengan keterlibatannya secara formal dengan pekerjaan redaksional di Aktuil, Remy menjadi dosen di Akademi Sinematografi Bandung untuk matakuliah estetika, make-up, dan dramaturgi.

Di Aktuil, Remy tidak hanya membuat cerita bersambung Orexas, ia juga jadi guru para awak redaksi dan kontributor Aktuil. “Remy itu guru saya. Saya masuk ke Aktuil karena banyak baca artikel dia. Saya termotivasi,” ungkap Bens Leo, wartawan Aktuil di Jakarta sejak 1975.

Pernyataan seirama terlontar dari Yudhistira Ardi Noegraha Massardi, seorang penggiat seni 1970-an yang sering menulis buat Aktuil. “Guru saya satu-satunya cuma dia. Remy yang mengajarkan saya menulis sajak sesuka-sukanya.” Massardi kini menjabat pemimpin umum majalah Gatra, Jakarta.

Kolom-kolom Remy, yang hadir di setiap edisi sejak bergabung secara resmi pada 1973 punya daya magnetis. “Ada saja komentar orang yang dikirimkan ke redaksi,” begitu Maman Sagith.

Remy, di mata Sagith, berhasil memberikan cetak biru Aktuil untuk tidak sebagai majalah hiburan belaka, tetapi juga tempat digodoknya gagasan-gagasan baru dan orisinal. Artikel musik di tangannya adalah catatan tentang kebudayaan dan peradaban. Dari titik pandangnya, sastra dan musik bisa juga jadi sebuah pertautan yang utuh, koheren, seperti terekam dalam tulisan-tulisannya mengenai Marc Bolan atau H.G. Wells, tokoh-tokoh penting 1970-an yang mengawinkan puisi dan musik. “Saya mencoba mencari alternatif, di luar musik pop yang menjadi musik niaga,” Remy menerangkan.

Remy menilai, pop sudah sedemikian merasuki sendi-sendi kehidupan kaum muda, sehingga mereka tenggelam ke dalam massifikasi produk pop. Sialnya, musik pop yang digaulinya tak lebih dari musik yang menurut Remy “cengeng.” Ia hendak menawarkan pilihan lain. Ia tahu, musik alternatif versinya, baik yang ditampilkan melalui pentas maupun lewat tulisan-tulisannya di Aktuil, berpotensi untuk tidak laku. “Tapi, saya tidak mau tenggelam dalam model yang lain,” tandasnya.

Tulisan-tulisan Remy di Aktuil menginspirasi sejumlah musisi untuk melakukan perlawanan terhadap selera pasar. Yan Hartlan dan kawan-kawannya sesama musisi Bandung mempopulerkan irama country di Bandung. Syairnya tidak melulu cinta dan patah hati, tapi juga tafsir hidup lain yang lebih luas.

YANG menarik dari Remy Sylado adalah kepeloporan dan sikapnya yang cenderung devian. Pada 1980-an, ia misalnya mementaskan sebuah opera di Senayan, dengan tokoh Yesus seorang putra Papua dari kelompok Black Brother. Sebelumnya, untuk pertama kalinya, Remy membuat buku dramaturgi pertama. Dan di Aktuil, ia memelopori eksperimen sastra mbeling, termasuk dalam puisi.

Tidak ada batasan usia, status sosial, dan “derajat” kepenyairan untuk menulis puisi mbeling di Aktuil. Dalam beberapa kesempatan, Remy Sylado bahkan sengaja menampilkan puisi-puisi yang disebutnya jelek. Tak usah heran kalau gerakan mbeling berhasil mencetak ribuan puisi dan karya sastra lainnya, selain menelurkan ratusan nama dari dalam dan luar negeri.

Kebanyakan penyair mbeling memang suka berkelakar. Lihat misalnya, bagaimana Nhur Effendhi Ardhianto memberi makna pada puisinya, “Penyakit Turunan” (1974):

habis makan
kenyang.

Atau Remy dengan puisinya, “Waktu Doa Ulangtahun Frya Immambonjol” (1974):

terima kasih tuhan atas hidangan ini
berhubung botty tiba-tiba kentut
terpaksa
amin kami ganti dengan
jancuk

Dasar ideologis puisi-puisi mbeling tentu saja bukan dimaksudkan semata untuk lelucon. Lebih dari itu, para penyair mbeling -yang dirumuskan redaksi Aktuil sebagai “sikap nakal yang tahu aturan”- pada mulanya bermaksud memberi tandingan pada puisi-puisi establishment yang mendewakan bobot dan pesan.

Sebagai sebuah gerakan sastra, ungkap Massardi, mbeling boleh dibilang kredo sastrawan muda 1970-an, yang secara tegas ingin mendobrak kebekuan, sekaligus menggugat dominasi Jakarta yang berpusat pada penyair macam Sapardi Djoko Damono atau Goenawan Mohamad. “Saya gembira saya ambil bagian di dalamnya,” kata Massardi.

Di kesempatan lain, Remy menegaskan, “Manusia lahir bukan untuk jadi seniman. Manusia lahir untuk menjadi manusia. Hidup berada di atas junjungan kepalanya. Bukan seni yang harus dijunjungnya. Seni harus diletakkan di telapak kaki …. Yang merasa bangga jadi penyair mudah-mudahan hanya mereka yang mimpi di langit dalam tidurnya di atas tikar yang penuh kepindingnya.”

Disemangati atau tidak oleh pernyataan-pernyataan seperti itu, muncul kemudian gejala umum, para penyair mbeling secara akrobatis ramai-ramai melemparkan sindiran, ejekan, pun caci-maki kepada para penyair yang sibuk dengan suku kata, bunyi, tekanan, aspek ortografis, visual, gaya, bentuk, dan imajinasi. Melalui “Buat Penyair Tua” (1973), Remy memukul gong peresmian proyek sastra untuk mengejek:

Selamat istirahat
Buat kau, ini kain kafan
Semoga cepet dirundung frustasi.

Hari-hari selanjutnya, puisi-puisi ejekan jadi mode. Penyair garang sekelas W.S. Rendra sekalipun, kena sentil. Pada edisi nomor 136 tahun 1974, Aktuil memberi kesempatan Estam Supardi untuk mengolok-olok Rendra:

selamat malam tuan rendra
oh, tuan laki-laki bukan?
burung
tuan
kondor, kedodor.

Walau terkesan asal jadi, puisi mbeling tak dapat dibendung kehadirannya di forum-forum pembicaraan sastra. Hasil penelitian Soedjarwo, Th. Sri Rahayu Prihatmi, dan Yudiono K.S., para dosen fakultas sastra dan budaya Universitas Diponegoro, Semarang, yang belakangan dibukukan menjadi: Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas, terungkap bahwa pada pemilihan buku kumpulan puisi terbaik, buku Sajak Sikat Gigi karya Yudhistira Ardi Noegraha Massardi diputuskan Dewan Kesenian Jakarta sebagai salah satu pemenangnya, bersama Peta Perjalanan (Sitor Situmorang), Meditasi (Abdul Hadi W.M.), dan Amuk (Sutardji Calzoum Bachri). Tiga nama yang disebut terakhir keberatan disandingkan dengan Massardi.

Di mata Sutardji Calzoum Bachri, Yudhistira Massardi adalah penyair yang lugu.

Syairnya?

“Kitsch,” kata Abdul Hadi W.M.

“Parodi yang gagal dari sajak,” ujar Sitor Situmorang.

“Mereka sangat tersinggung karya saya disejajarkan dengan mereka. Mereka ini teman-teman saya juga, sama-sama pernah menyuarakan mbeling. Justru Goenawan Mohamad yang memberikan respon. Padahal dia yang selama ini digugat,” tutur Massardi. Goenawan Mohamad, dalam pemilihan tersebut, bertindak sebagai salah seorang juri.

Sejumlah media ramai memberitakan dewan juri menarik keputusannya. Padahal, kisah persisnya tidak seperti itu. “Mereka mengambil hadiahnya. Saya nggak. Kurang ajar. Ha ha ha ha,” Massardi ngakak, menceritakan ulah teman-temannya itu.

TAHUN 1975, bekerja sama dengan Peter Basuki dari Buena Ventura, Denny Sabri Gandanegara dari Aktuil mengundang Deep Purple ke Indonesia. Selama dua hari, 5-6 Desember 1975, Jakarta berguncang. Kaum muda, dari berbagai penjuru tanah air, datang ke Jakarta memastikan bahwa mereka sedang tidak bermimpi. Sekurang-kurangnya 150 ribu orang tersedot pertunjukan itu.

“Mulanya mereka tidak mau datang ke Indonesia. Tapi saya meyakinkannya. Saya berbicara dengan (Richie) Blackmore, lalu saya bujuk Ian Gillian,” Gandanegara mengenang. Blackmore adalah pemetik gitar Deep Purple, dan sering tampil menjadi juru bicara grup ketika mereka sedang beraksi di panggung. Sedangkan Gillian adalah penyanyi, dengan lengkingan vokal yang khas.

Kehadiran mereka di Jakarta memang lebih didasarkan hubungan Gandanegara dengan anggota kelompok musik tersebut sejak paruh 1960-an. Pada 1970, Deep Purple bahkan memasukkan Gandanegara sebagai salah satu kru mereka ketika tur di delapan kota Jerman: mulai Hamburg, Hannover, Berlin, Kóln, Frankfurt, Munchen, Leverkusen, sampai Wina, juga Paris.

Ketika Deep Purple jalan ke Amerika Serikat pada 1971, Gandanegara ikut pindah. Sampai di Amerika, Gandanegara melihat wajah Paman Sam yang sesungguhnya, yang selama ini bersembunyi di balik kekagumannya pada Eropa. Amerika, pikirnya, cepat atau lambat akan menjadi pusat kekuatan musik dunia. Dengan mata dan kepalanya sendiri, Gandanegara melihat indikator-indikatornya dalam bentuk megahnya panggung-panggung pertunjukan, aliran dana yang terkesan tanpa batas, atau para manajer profesional yang bekerja penuh disiplin.

Interelasi dari semua itu, musik berkembang secara akseleratif di sana. Inggris boleh melahirkan para rocker, namun Amerika memberinya uang, popularitas, dan harga diri. Inggris boleh melahirkan tradisi musik rock, tapi Amerika berhasil melakukan degresi dan inovasi atas rock: hard rock, pop rock, art rock, atau glam rock.

Gandanegara segera mengontak redaksi di Bandung untuk membuat jaringan koresponden di sana. Mendapat sambutan, Gandanegara kemudian merangkul Yan Mufni, seorang mahasiswa asal Bandung. Gandanegara juga mengajak Chondone, seorang pria campuran Amerika-Subang untuk memotret. Adang R. Sanusi yang sudah lebih dulu mewakili Aktuil di Amerika, dikukuhkan sebagai kepala perwakilan. Untuk melapis Amerika, Aktuil menunjuk Paul Subekti sebagai koresponden Kanada.

Tahun 1972, Gandanegara kembali ke Jerman Barat. Kantor redaksi luar negeri yang selama ini terbengkalai, ditata ulang. Beberapa kawannya dari Werkskunstschule, Universitas Hamburg -tempat Gandanegara menimba ilmu desain grafis selepas pra-universitas di Studium College, Universitas Aachen- direkrutnya jadi koresponden. Mereka adalah Rudy Tjio, Harry T, serta Robert Yo. Reportase mereka, ditambah koresponden lain di berbagai negara, yang makin marak, menambah gengsi Aktuil.

Kehadirannya di Indonesia bersama Deep Purple sekaligus mengakhiri karier kewartawanan Gandanegara sebagai redaktur luar negeri Aktuil. Ia mulai mempraktikan jurus-jurus talent scouting yang dipelajarinya dari Andy Cavalier, ketika tinggal di Amerika. Cavalier adalah manajer yang mengorbitkan sejumlah musisi ke blantika musik dunia, seperti Grand Funk Railroad, Hellen Ready, dan Isis.

Gandanegara mendirikan perusahaan manajemen artis: Denis International Inc. “Saya mulai dengan Superkid,” kata Gandanegara. Banyak artis yang lahir dari tangannya. Sebut saja Sylvia Sartje, Emma Ratnafuri, Nicky Astria, Nike Ardilla, Poppy Mercury, Farid Hardja, dan Deddy Stanzah. Gandanegara juga mengorbitkan Priyo Sigit, Dennys Rouses, atau Richie Ricardo. “Kadang-kadang saya suka … apa ya … hampir seluruh penyanyi orbitan saya meninggal di puncak kariernya,” katanya perlahan.

SONNY Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado adalah triumvirat pemikir Aktuil yang berhasil menaklukkan hati publik. “Peran mereka sangat besar, membawa Aktuil sebagai pelopor di berbagai hal. Dari sastra sampai musik, dari film sampai pergaulan sosial,” ujar Maman Sagith.

Sagith mungkin benar. Tapi juga, tumbuh dan besarnya Aktuil boleh jadi lantaran ia melenggang hampir tanpa saingan. Khusus di kota Bandung, Aktuil bahkan hadir sebagai satu-satunya majalah hiburan.

Itu hitung-hitungan bisnisnya. Dari sisi politis, Aktuil pun sebenarnya diuntungkan sejarah. Ia mendapat “subsidi politik” rezim Orde Baru. A. Tjahjo Sasongko dan Nug Katjasungkana dalam esai “Pasang Surut Musik Rock di Indonesia” yang dimuat majalah Prisma, Oktober 1991, memaparkan bagaimana Orde Baru melakukan counter budaya terhadap sisa-sisa pengaruh rezim Presiden Soekarno, seraya menanamkan keyakinan kepada rakyat bahwa mereka tak anti-Barat.

Berbeda dengan Soekarno yang sejak 1964 melakukan pembabatan musik Barat -Soekarno menyebutnya musik “ngak-ngik-ngok”- Orde Baru dukungan militer ini justru menyokong pertunjukan-pertunjukan yang digelar anak muda. Malahan Angkatan Darat turun tangan untuk tujuan itu dengan membentuk orkes Badan Koordinasi Seni Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (BKS-Kostrad). Orkes ini dikelilingkan ke sejumlah kota besar di Indonesia, dengan artis pendukung Onny Suryono, Lilis Suryani, dan lainnya.

Badan itu pun pada akhir 1966 sengaja mendatangkan The Blue Diamond, kelompok musik terkenal dari Belanda, untuk tur bersama. Penyanyi Titiek Puspa, Bob Tutupoly, dan Ernie Djohan ikut menyemarakkan tur ini. Di hampir semua tur, BKS-Kostrad sudah lazim mempertunjukkan musik, penyanyi, atau kelompok musik, yang di masa rezim Soekarno jadi sasaran intel bahkan dilarang main.

Tidak hanya panggung pertunjukan. Rezim Orde Baru pun mendukung produksi rekaman lagu. Stasiun-stasiun radio yang menyiarkan lagu-lagu barat tak diganggu kemunculannya.

William H. Frederick dalam tulisan “Rhoma Irama and the Dangdut Style” dalam jurnal Indonesia, mengemukakan, “Sebelum Orde Baru terbuka pada aktivitas ekonomi barat, mereka terbuka pada musik rock Inggris dan Amerika.”

Rezeki boom minyak 1970-an mendukung proyek menarik hati rakyat yang digalang Orde Baru ini. Di berbagai kota, bermunculan sarana-sarana hiburan untuk berbagai kelas. Pertunjukan musik tiba-tiba bergetar di banyak kota. Perusahaan-perusahaan rokok galibnya berada di balik semua panggung pertunjukan.

Kelompok-kelompok musik tumbuh subur. Calon artis bejibun antre kesempatan. Triumvirat Aktuil memanfaatkan momentum ini untuk bahan-bahan tulisannya. Aktuil memperkenalkan artis-artis luar, mulai profil sampai pada kebiasaannya manggung. “Saya yang memperkenalkan Bob Dylan,” ujar Remy Sylado, mengacu pada penyanyi balada asal Amerika Serikat yang kehadirannya di sana identik dengan gerakan anti Perang Vietnam 1960-an dan 1970-an.

Tiadanya televisi komersial dan klip video, memacu pertumbuhan bisnis Aktuil sebagai sarana promosi kaset, artis debutan baru, dan aktivitas para promotor showbiz. Bisa dipahami kalau Aktuil kemudian jadi bacaan wajib buat kalangan pecinta musik.

“Ketika rock sedang booming di seluruh Indonesia, Aktuil menyatukan semua ini. Ia menjadi outlet dari seluruh daerah musik,” kata Massardi.

KEBERHASILAN Aktuil menggugah orang lain untuk melakukan investasi pada media yang menekuni musik, film, dan … sastra mbeling. Di Jakarta, misalnya, penerbitan pers Tiara Klik berdiri. Dari kelompok ini lahir sejumlah penerbitan yang jadi pesaing Aktuil seperti Ultra dan Top.

Sejak 1974, Remy Sylado sering diminta menulis di Top. Pada 1975, Remy mengundurkan diri dari Aktuil dan masuk Top. “Memang faktor ekonomis masuk dalam pertimbangan, tapi saya pindah lebih disebabkan oleh persahabatan,” tutur Remy. Lagi pula, aktivitas seni dan kegiatan mengajarnya di Jakarta makin meminta perhatian lebih.

Hanya itu? Kalau daftar alasan kepindahan Remy hendak diperpanjang, maka suasana kerja di Aktuil sepanjang tahun 1974 mungkin benar jadi pemicunya. Sejak dia membantu Top, Remy merasakan suasana kerja yang gerah. “Membantu Top,” ujarnya, “buat orang Aktuil saya itu dianggap musuh dalam selimut.”

Kepergian Remy yang disusul Denny Sabri Gandanegara, karena makin jarang masuk kantor demi kesibukannya mencari artis-artis berbakat, tampaknya merupakan pukulan telak buat Aktuil. Bukan saja Aktuil kehilangan daya sastranya, reportase luar negeri yang tadinya terkoordinasi rapi, pun tak lagi menghadirkan greget.

Triumvirat Aktuil habis. Di dalam kantor, tinggal Sonny Suriaatmadja sendirian. Tahun 1976, tiras Aktuil mengalami saturasi: melorot dan terus melorot.

“Saya kira,” ungkap Remy, “redaksi Aktuil sudah mulai menua. Kalau redaksi menua dan tulisan-tulisannya adalah pelimpahan ketuaannya, itu sudah tidak cocok lagi dengan segmen pembacanya.”

Sejak awal, Remy dan sejawatnya tahu persis mereka harus membuat bacaan untuk kisaran umur 16-18 tahun. “Sudah saya katakan pagi-pagi betul, potensi Aktuil itu remaja,” tandas Remy ketika saya temui di rumahnya baru-baru ini.

Lonceng kematian mulai berdentang di tahun 1977, ketika oplah Aktuil yang sebelumnya sudah menembus angka 100 ribu eksemplar lebih, tinggal sekitar 30 ribu eksemplar.

Toto Rahardjo mulai mondar-mandir di dalam kantor dan menyuruh anak buahnya, Billy Silabumi, untuk mengecek permohonan paten merk Aktuil ke Departemen Kehakiman. Paten dianggap penting sebagai usaha mempertahankan diri dari jarahan orang.

Akhir 1978, oplah Aktuil secara dramatis meluncur tajam. Tinggal 3.000 atau 4.000 eksemplar.

Sondang Pariaman Napitupulu, ekspentolan organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dan mantan wartawan beberapa majalah, rupanya mencium ancaman kehancuran Aktuil. Napitupulu hilir-mudik Jakarta-Bandung mengutarakan niatnya “membeli” Aktuil. Rahardjo tak punya kekuatan untuk menolaknya.

Pada 1979 Aktuil pun mulai diterbitkan dari Jakarta. Toto Rahardjo tetap pemimpin umum tapi jabatan pemimpin redaksi dialihkan ke Napitupulu. Musik dan sastra mbeling tak lagi dijadikan generator pendongkrak oplah. Di tangan Sondang Pariaman Napitupulu, Aktuil disulap jadi majalah umum. Menurut Remy Sylado, majalah ini lebih tertarik pada “politik dan tetek.” Bens Leo menyebutnya “Aktuil Gaya Sondang.”

DARI Asbari Nurpatria Krisna saya memperoleh gambaran hidup Aktuil di perantauannya. Di Jakarta, Aktuil berkantor di kawasan Proyek Senen, Jakarta Pusat, dengan percetakan PT Karya Nusantra, yang berlokasi di Kemayoran.

Krisna adalah salah seorang editor Aktuil periode Jakarta. Dia kini tinggal di Belanda dan sejak 1986 bekerja buat Radio Netherland. Sejarah mencatat, Krisna dan istrinya, Josephine Yuyu Mandagie adalah pasangan pertama yang memperoleh anugerah hadiah jurnalistik Adinegoro. Mandagie sampai kini masih jadi koresponden Suara Pembaruan.

Krisna didatangi Sondang Napitupulu yang meminta Krisna jadi redaktur pelaksana Aktuil. “Saya terima tawaran tanpa membicarakan gaji,” kata Krisna seraya mengungkapkan, “Saya menjaga gawang isi, karena Sondang mempercayakannya kepada saya, termasuk soal bahasa Indonesia dan penggunaan bahasa asing.”

Di tangan dwitunggal Napitupulu-Krisna, Aktuil dapat merangkak lagi. Untuk dapat berlari, Napitupulu mencoba membujuk Remy Sylado, yang sejak 1975 mengelola majalah Top. Remy menyatakan oke.

Aktuil sempat menembus tiras 25 ribu eksemplar, namun angka ini tak bertahan lama. Penyebabnya? Berbeda dengan semasa Bandung, Aktuil periode Jakarta hampir bisa dikatakan abai terhadap penggalian ide-ide baru, baik dalam musik maupun sastra.

Napitupulu bahkan terkesan hendak mengembalikan Aktuil ke semangat tahun 1950-an, ketika jagat media penuh dengan teriakan dan caci-maki. “Orang tidak suka lagi pada pers yang gegap-gempita. Muak orang baca media seperti itu,” komentar Remy.

Namun demikian, satu hal yang pantas dicatat, laporan investigasinya lebih maju ketimbang Bandung. Aktuil “Gaya Sondang” diwarnai oleh “jurnalisme bongkar kasus sampai ke akar-akarnya.”

“Sebagai wartawan,” ujar Krisna, “Sondang P.N. sangat baik dalam investigasi. Kerjanya seperti kuda, pantang menyerah, walaupun diancam akan dibunuh sekalipun.”

Tapi Napitupulu bukan superman, yang dengan sigap berani menantang maut. Dia tak jarang main lempar tanggung jawab. Krisna masih ingat, misalnya, kehadiran seorang perwira militer yang murka karena merasa dirugikan Aktuil. “Saya yang harus menghadapinya,” kata Krisna.

Peristiwa hampir senada juga dialami Remy Sylado ketika Aktuil digugat Soehoed Warnaen, wakil gubernur Jawa Barat. Warnaen merasa difitnah telah menyerobot sepetak tanah milik seorang pensiunan militer, di kawasan Jalan Setiabudhi, Bandung. “Tak ada satu pun wartawan Bandung berani muat. Saya memberitakannya sampai kasus ini disidangkan,” ujar Remy.

Di masa kepemimpinan Napitupulu, sudah jamak awak Aktuil dipanggil departemen penerangan untuk “dibina” berkaitan dengan tulisan dan foto yang dimuatnya, baik karena dianggap melanggar susila maupun mencemarkan nama baik.

Kebanggaan awak Aktuil terhadap Napitupulu rupanya tak bertahan lama. Oplah merosot. Satu per satu, awak Aktuil meninggalkan Napitupulu. Krisna keluar pada 1981 karena merasa tak cocok lagi. Pada tahun itu pula Napitupulu diturunkan dari kursi pimpinan oleh para anak buahnya.

ASBARI Nurpatria Krisna yang sedang memulai kehidupan baru, kembali ke bangku kuliah, ramai-ramai didatangi bekas anak buahnya. Dia diminta memimpin mereka. Krisna menyatakan siap jadi pemimpin redaksi, dengan sejumlah persyaratan bahwa selama setahun kepemimpinannya orang tidak boleh merecoki kebijakannya.

Dia ingin menaikan kembali Aktuil yang mulai terpuruk, seraya menata manajemen sumber daya manusia, yang dinilainya lemah. Krisna pun mencanangkan program pendidikan buat wartawannya. Namun, bekerja tertib ala Krisna rupanya tak populer bagi mereka. Lebih-lebih setelah Krisna langak-longok ke sektor bisnis, yang dalam pandangan Krisna, mengesankan adanya ketidakberesan. Ia, misalnya, terheran-heran ketika muncul “Konsep Iklan 3-1” alias tiga iklan dibayar satu yang didesain Nuke Mayasaphira, manajer iklan.

Apa benar konsep seperti itu ada?

“Ada kali, ya?” kata Lies Hindriati, yang waktu lampau menjadi staf tata usaha Aktuil. Hindriati kini bekerja untuk PT Nindotama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan outdoor, tempat Mayasaphira jadi direktur utamanya.

Toto Rahardjo, pemimpin umum Aktuil, membenarkan adanya konsep semacam itu. “Waktu itu,” ungkapnya, “memang kita susah cari iklan.” Toh Rahardjo tak memungkiri kalau resep tersebut tak cukup manjur menyehatkan kembali Aktuil, yang mulai terseok-seok.

Konflik menggejala. Saling curiga merajalela. “Mereka tidak lagi satu misi. Tidak sekompak dulu. Waktu di Bandung, Aktuil kompak sekali. Kita malahan sering piknik beramai-ramai, termasuk ke Bali,” kata wartawan Aktuil Bens Leo.

Krisna patah arang. Dalam sebuah rapat lengkap, tepat setahun kepemimpinannya, Krisna berucap, “Kalau ingin kedudukan saya, ambillah, saat ini juga saya keluar.” Krisna meninggalkan rapat, dan sejak itu pula tak pernah kembali ke Aktuil.

Rahardjo, sekalipun masih menjabat pemimpin umum, tak bisa berbuat banyak. Kekuasaannya hanya berdaulat di atas kertas. Secara de facto, kekuasaan Aktuil kini sepenuhnya di tangan Noor Slamet Asmaprawira, adik Harmoko, seorang tokoh Persatuan Wartawan Indonesia dan selama hampir 15 tahun jadi menteri penerangan rezim Soeharto.

Belum tuntas konflik ditangani, hantu masalah lain muncul: kelangkaan pasokan kertas. Asmaprawira, yang kepemimpinannya semula tak mau direcoki, kini melunak dan minta bantuan Toto Rahardjo. Atas perintah Rahardjo, Maman Sagith mencoba menyurati Apandi, bendahara Serikat Penerbit Pers Jawa Barat, untuk meminta suplai kertas 10 ton per bulan agar Aktuil bisa meningkatkan tiras jadi 30 ribu eksemplar per terbit.

Yang disurati angkat tangan. Apandi merasa, Aktuil bukan lagi tanggung jawabnya. Domisili Aktuil tidak lagi di Jawa Barat. Giliran Jakarta yang disurati. Juga tak berhasil. Jakarta melihat, dalam surat izin terbit, Aktuil dinyatakan diterbitkan di Bandung.

Lonceng kematian nyaring berdentang. Hanya sekitar tiga bulan setelah Krisna mundur, Aktuil masuk ke liang lahat sejarah.

Tahun 1986, Krisna terbang ke Belanda. Beberapa saat kemudian, surat izin usaha penerbitan pers Aktuil terbang ke sekelompok wartawan pecahan Tempo yang memulai majalah berita Editor. Majalah ini dimodali Bambang Rachmadi, pengusaha yang dikenal karena menjalankan waralaba restoran McDonald di Indonesia.

MATAHARI sudah beranjak dari titik kulminasinya. Empat karyawan percetakan PT Timbul yang berdinas hari itu, satu per satu meletakkan pekerjaannya; bersiap pulang.

“Saya biasa pulang pukul 14.30,” ujar Maman Sagith, seraya membereskan sejumlah dokumen Aktuil yang berserak di mejanya.

Di luar, tawuran sejumlah pelajar bermotor sudah mereda. “Dulu, tak pernah ada tawuran di jalan ini. Anak-anak muda memilih main band di sana,” Sagith menunjuk sebuah rumah di depan kantornya. Di situ New Rhapsodia, kelompok musik asal Bandung 1970-an, bermarkas.

Kantornya sendiri, di masa jaya-jayanya, jadi tempat persinggahan musisi, penyair, dan bintang film bila mereka melewati Bandung. Bahkan mereka sengaja datang mengunjungi Aktuil sekadar untuk berkenalan dan kongko-kongko. “Musisi atau penyanyi cita-citanya masuk Aktuil,” kata Bens Leo, wartawan Aktuil Jakarta, yang sempat dikirim ke Jepang untuk reportase.

Kini, gedung tua itu hanya ditemani sepi segera setelah jarum jam menunjuk pukul 15.00. Tak ada lagi awak redaksi yang naik ke atas meja, membaca puisi. Tak ada lagi wartawan yang balapan membuat tulisan sekadar iseng. “Tak seorang pun orang Aktuil datang ke sini sejak Aktuil dibawa ke Jakarta,” ungkap Sagith.

Ia mendengar tak sedikit awak redaksi Aktuil yang makmur seperti Maman Husen Somantri, yang mengepalai perwakilan Bank Indonesia, di London, Inggris atau Goenadi Harjanto yang menekuni bisnis lapangan golf serta real estate. Lalu, di mana triumvirat itu? Sagith menggelengkan kepala.

Remy Sylado-Denny Sabri Gandanegara-Sonny Suriaatmadja punya kesibukan sendiri-sendiri. Remy tinggal di Jakarta, di belakang penjara Cipinang, di rumah kayunya seukuran sekitar 100 meter persegi dengan benteng mirip kampung Galia dalam komik Asterix. Ia masih mengajar, melukis, menulis esai, puisi, drama, dan novel. Salah satu karyanya, Cau Bau Kan, belakangan difilmkan.

Gandanegara masih suka keluyuran dan hidup berpindah-pindah. Rumahnya di Jalan Lodaya, Bandung, tempat dulu para artis, promotor showbiz dan pengusaha rekaman berkumpul, sekarang sudah ditempati orang. Gandanegara kini asyik berkebun tomat di atas sepetak tanah warisan keluarga di Wanaraja, Garut, setelah membuka pengobatan alternatif tenaga dalam di daerah Margahayu, Bandung.

Suriaatmadja? Kabar yang sampai ke telinga saya, terakhir ia bergabung dengan radio Antassalam, Bandung, pada 1992. Dia mengasuh acara musik dangdut; musik yang tak pernah diresensinya. Di sela-sela waktu luangnya, ia menyempatkan diri mengarang beberapa buku cerita anak. Setelah terlibat problem keluarga dengan istrinya, ia menghilang … seperti juga Aktuil yang tertimbun tumpukan puing-puing sejarah grand narrative negeri ini. ■

Majalah Pantau, edisi Agustus 2001

Kompas Gramedia

Jakob-Oetama-P.K.Ojong-Adisubrata-dan-Irawati

Jakob-Oetama-P.K.Ojong-Adisubrata-dan-Irawati

Dari Sang Pemula ke Jaringan Bisnis KG

Ketika tahun 1963 Jakob Oetama diajak P.K. Ojong mendirikan Majalah Intisari, tak terbayangkan bahwa inilah langkah awal Sang Pemula, yang kemudian menjadi jaringan bisnis raksasa Kompas Gramedia (KG).

Majalah Intisari didirikan P.K. Ojong (Auwjong Peng Koen 1920-1980) bersama Jakob Oetama pada 1963. Ojong mendirikan Intisari, setelah pada 1 Agustus 1957, Harian Keng Po dibredel Pemerintah. Kemudian pada 7 Oktober 1961 menyusul Majalah Star Weekly, grup Keng Po, juga diberangus. Star Weekly dibredel karena tinjauan luar negeri yang ditulis Ojong sangat tajam mengritik kebijakan pemerintah.

Sebelum mendirikan Intisari, Ojong adalah Redaktur Pelaksana Star Weekly, dan Jakob adalah Redaktur Mingguan Penabur, sambil kuliah di Perguruan Tinggi Publisistik.

Intisari edisi perdana terbit tanpa baju (sampul), dan dicetak di percetakan PT Kinta, nama baru dari PT Keng Po. Majalah Intisari, yang sekarang berkantor di Gedung Gramedia Majalah, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, adalah cikal bakal bisnis KG. Maka secara intern, Intisari disebut sebagai Sang Pemula. Dalam waktu sangat singkat, tiras Intisari, Majalah Bulanan untuk Umum ini, meningkat terus, hingga pernah mencapai 350.000 eksemplar sekali terbit. Selain Ojong dan Jakob, yang ikut mengelola Intisari adalah J. Adi Subrata dan Irawati.

Koran Partai Katolik

Dekade pertama 1960-an, dunia politik Indonesia disebut oleh para petinggi Partai Komunis Indonesia sebagai “sedang hamil tua”. Politik Indonesia condong ke Poros Jakarta Peking (Beijing). Indonesia keluar dari PBB, merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda, dan berkonfrontasi dengan Malaysia. Presiden Soekarno mencanangkan Nasional Agama Komunis (NASAKOM). Dominasi Harian Rakyat, koran Partai Komunis Indonesia, sangat kuat. Maka, Menteri Panglima Angkatan Darat, Jenderal Ahmad Yani, minta kepada Drs Frans Seda sebagai Ketua Partai Katolik, untuk membuat “koran Katolik”. Sebagai pencetus NASAKOM, Bung Karno merestui pendirian “koran Katolik” ini.

Banyak kendala hingga “koran katolik” itu belum juga bisa terbit. Soal dana sebenarnya bukan kendala utama, sebab semua partai politik mendapat bantuan dana pemerintah. Kendala utamanya, Ojong yang paling kapabel mengelola “koran Katolik” justru menolak. Di Intisari pun ia tak mau namanya tercantum. Pemerintah masih mengincar nama Ojong. Ojong juga tidak mau apabila “koran Katolik” itu hanya sekadar menjadi corong partai. Ia ingin mengelola koran sebagai sumber informasi, dan membela kepentingan rakyat.

Kompromi akhirnya tercapai. Ojong dan Jakob akan mengelola koran tersebut, dengan syarat untuk sementara nama Ojong tak tercantum di masthead, dan koran itu tidak akan menyuarakan kepentingan partai, tetapi kepentingan umum. Secara harafiah, Katolik memang berarti umum. Maka, siaplah koran bernama Bentara Rakyat, Harian untuk Umum, dengan slogan Amanat Hati Nurani Rakyat. Dalam KBBI, Bentara berarti abdi dalem (pembantu). Sebelum Bentara Rakyat naik cetak di percetakan Era Grafika, Frans Seda melapor ke Bung Karno, yang tak setuju dengan nama tersebut. Bung Karno memberi nama koran itu Kompas.

Berkah Karmila

Di satu pihak, G30S adalah tragedi nasional. Namun, di pihak lain, juga ada berkah yang dibawanya. Salah satu berkah tersebut adalah dibredelnya korankoran utama yang beraliran kiri. Pada 2 Oktober 1965 Kompas juga ikut dibredel, dan baru boleh terbit tanggal 6 Oktober 1965. Sejak terbit pertama, 28 Juni 1965, Kompas mendapat julukan sebagai Kompas Morgen, yang berarti datang esok hari. Sebab sebagai koran kecil yang edisi perdananya bertiras 4.800 eksemplar, Kompas harus mengalah dicetak belakangan. Hingga koran ini baru bisa beredar tengah hari, atau malah esok hari.

Dari Era Grafika, Kompas pindah cetak ke Masa Merdeka, kemudian ke PT Kinta. Berkat kredit dari Bank BNI 1946, pada tahun 1971 Kompas mulai membangun percetakan sendiri di Jalan Pal Merah Selatan. Tanggal 25 November 1972 Percetakan PT Gramedia diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Tahun 1970-an adalah era terentangnya sayap “Sang Pemula”. Diawali dengan membuka Toko Buku Gramedia di Jalan Gajah Mada pada 2 Februari 1970. Tahun lalu (2010) sudah ada 80 Toko Buku Gramedia, yang tersebar di Indonesia, ditambah TriMedia Bookstore di Surabaya. Sementara percetakan yang dibangun pada 1971, sekarang sudah menjadi jaringan cetak jarak jauh di Jakarta, Cikarang, Bandung, Bawen (Semarang), Surabaya, Makassar, Banjarmasin, Palembang, dan Medan.

Kemudian, tahun 1972, mengudaralah Radio Sonora, yang sekarang punya jaringan stasiun di 13 kota. Tahun 1973, “Sang Pemula” punya saudara, majalah anak-anak Bobo. Saat ini Kantor Divisi Majalah Kompas Gramedia di Jalan Panjang dan di Graha Mandiri di Jl Imam Bonjol, menerbitkan puluhan majalah, dengan karyawan lebih dari 1.500 orang. Yang menarik adalah kisah lahirnya penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) tahun 1974, yang kemudian disusul PT Elex Media Komputindo, Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Penerbit Kompas, dan Bhuana Ilmu Populer (BIP).

Akhir tahun 1960-an, tiras semua koran di Indonesia stagnan, atau turun, karena kesulitan ekonomi masyarakat. Kedaulatan Rakyat di Yogya tertolong, tirasnya naik tajam, karena memuat cerita bersambung Nogososro Sabuk Inten, karya S.H. Mintardja. Tiras Kompas juga terdongkrak berkat cerita bersambung Karmila karya Marga T., dan kemudian Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar. Antusiasme pembaca Kompas terhadap Karmila demikian luar biasa, hingga mereka menuntut cerita bersambung ini diterbitkan. Novel Karmila karya Marga T. adalah cikal bakal penerbit GPU. Selain diterbitkan sebagai buku, Karmila dan Cintaku di Kampus Biru kemudian juga difilmkan.

Uang pribadi

Tahun 1977, ada sebuah hotel kecil di sudut kota Bandung, akan dijual. Ketika itu P.K. Ojong masih hidup. Terjadi perdebatan, apakah “hotel bangkrut” perlu dibeli? Sebagian personel manajemen Kompas menyetujui hotel ini dibeli, namun sebagian besar menolak. Jakob Oetama kemudian memutuskan: “Dibeli, kalau perlu pakai uang saya pribadi!” Maka “hotel bangkrut” itu pun jadi dibeli oleh Kompas. Di bawah manajemen PT Grahawita Santika, jaringan hotel KG saat ini sudah mencapai 33 hotel yang tersebar di Indonesia, dengan brand Santika, Santika Premiere, Royal Collection, dan Amaris. Di luar jaringan bisnis hotel ini, Kompas juga masih punya Wisma Kompas di Anyer, Kab Serang, dan di Pacet, Kab Cianjur.

Selain nekad dan ngotot, Jakob juga bisa sangat hati-hati. Sejak 3 Maret 1984, Kompas memberi “bonus” sisipan Bola pada setiap hari Jumat. Empat tahun kemudian, pada April 1988, Jakob baru berani memutuskan, sisipan Bola dilepas. Sekarang, sisipan itu menjadi Tabloid Bola. Kisah yang agak mirip dengan pendirian Santika juga terjadi ketika Majalah Tempo, bersama Detik, dan Editor dibredel pemerintah pada 21 Juni 1994. Ketika itu, wartawan Tempo, Detik dan Editor cerai berai. Wartawan desk ekonomi Tempo mencoba menawarkan konsep penerbitan baru, kepada manajemen KG.

Waktu itu, kesan tabloid adalah murah, dan hanya memuat isi berupa hiburan. Kasus Tabloid Monitor pada 1990, menguatkan pendapat ini. Ketika itu Monitor yang juga diterbitkan oleh KG, memuat angket yang menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan ke-11. Umat Islam Indonesia marah, Monitor dibredel, dan Arswendo Atmowiloto, Pemimpin Redaksi, diadili dan dipenjara. Para wartawan Tempo desk ekonomi, menawarkan membuat tabloid ekonomi bernama Kontan. Ekonomi adalah hal serius, sementara tabloid dikenal sebagai media hiburan kelas bawah. Kembali manajemen KG bersilang pendapat, dan Jakob memutuskan: “Kalau perlu pakai uang pribadi saya!”

Pada 27 September 1996 Mingguan Kontan terbit. Sekarang, Mingguan dan Harian Kontan menjadi salah satu produk andalan KG. Naluri bisnis Jakob juga terjadi ketika ia mempertahankan Warta Kota tetap terbit meskipun merugi. Sejak terbit perdana pada 3 Mei 1999, Warta Kota memang “berdarah-darah”, istilah yang diciptakan oleh intern manajemen KG. Warta Kota adalah koran lokal Jakarta terbesar dengan tiras 200.000 eksemplar per hari. Ini terjadi setelah masyarakat bosan dengan gaya pemberitaan Pos Kota, Lampu Merah, dan Rakyat Merdeka.

Jaringan bisnis KG juga melebar ke pers daerah. Perintis pers daerah adalah Harian Serambi Indonesia (Banda Aceh). Pos Kupang (Kupang), Bernas (Yogja), Bangka Pos (Pangkal Pinang), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Sriwijaya Pos (Palembang), Tifa (Papua), dan Harian Surya (Surabaya). Sejak 2003, Pers daerah KG dengan brand Tribun, tersebar di hampir semua kota di Indonesia, lengkap dengan majalah pendukung, dan percetakan sendiri.

Dari Tivi 7 ke Kompas Tivi

KG juga merambah ke bisnis Event Organizer. Tercatat antara lain PT Dyamall Graha Utama/E-Mall; PT Dyandra Communication/Dyacomm (Advertising Agency); PT Samudra Dyan Praga (Exhibition Contractor); PT Kerabat Dyan Utama (Radyatama); dan Bali Nusa Dua Convention Center. KG juga punya pabrik tisu Tessa, dan Lembaga Pendidikan English Language Training International (ELTI). Pada 20 November 2006 KG mendirikan Universitas Multimedia Nusantara di Scientia Garden, Summarecon Serpong, Tangerang, yang memfokuskan pada pendidikan Information Communication and Technology (ICT).

Sukses bisnis KG tentu bukan pekerjaan mulus tanpa rintangan. Beberapa majalah KG berguguran. Salah satunya majalah Jakarta-Jakarta (JJ). Kasus tabloid Monitor juga menjadi ganjalan tersendiri. Setelah menjadi raksasa, manajemen KG juga kedodoran karena fixed cost sering lebih gemuk dibanding variable cost. Maka, sejak dekade pertama 2000-an, berbagai pembenahan dilakukan. Contohnya, manajemen penerbitan buku GPU, Elex, dan Grasindo, disatukan di bawah satu direktur. Maka, sejak itulah di lingkungan KG populer istilah “pendi” akronim dari pensiun dini.

KG juga pernah masuk ke industri film layar lebar melalui PT Gramedia Film. Produksi pertamanya “Suci Sang Primadona” disutradarai oleh Arifin C. Noer, tidak begitu laku di pasaran, hingga akhirnya PT Gramedia Film ditutup. KG juga pernah membuka dua pasar swalayan “Grasera” di Jakarta, namun akhirnya juga ditutup.

Salah satu sandungan bisnis KG adalah Tivi 7. Stasiun tivi ini pernah disebut oleh manajemen KG sebagai “berdarah-darah” sebelum saham mayoritasnya dijual ke Trans Tivi, hingga namanya menjadi Trans 7. Namun, Jakob Oetama, pada usia menjelang 80 tahun, tetap menunjukkan kengototannya. Impiannya tentang media televisi tak surut. Maka, tanggal 6 September 2011, sebagai Presiden Komisaris KG, Jakob Oetama meresmikan beroperasinya Studio Berita Kompas Tivi, dengan pemotongan tumpeng. Ini adalah “kado ulang tahun” Jakob Oetama yang pada 27 September 2011 genap berusia 80 tahun.

“Saya bersyukur masih bisa menyerahkan Kompas TV, unit paling baru Kompas Gramedia, kepada yang muda-muda!” kata Jakob.

F. Rahardi

*)hidupkatolik.com, 11 Januari 2012

Jejak Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri

DI ATAS pintu depan toko itu hanya terlihat papan kayu biru kusam bertuliskan “SURABAYA”. Toko di Jalan Dhoho, Kediri, itu menjual bahan makanan seperti abon, dendeng, ke-rupuk. Pada era 30-an, toko itu bernama “SOE-RABAIA”, terkenal sebagai pusat penjualan ban Dunlop dan onderdil mobil.

Berjajar dengan toko tersebut terdapat bangunan 12 meter persegi yang kini sehari-hari berfungsi sebagai tempat praktek dokter gigi. Dari foto 1930-an, dapat diketahui bangunan itu dahulu sebuah toko buku yang pemiliknya juga pemilik toko onderdil itu. Papan namanya berbunyi TOKO TAN KHOEN SWIE, SEDIA BOEKOE DJAWA MELAJOE DAN OLLANDA.

Dari toko itulah mengalir buku-buku pujangga- -Ja-wa tersohor, seperti Kalatida karya Ronggowar-sito, Ki-tab Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono- IV, atau Wedatama karya Mangkunagoro IV. Juga bu-ku- lain karangan R. Ngabehi Yosodipuro, pujangga Pad-mosusastro, Suwandi Tjitrowasito, dan sebagainya-.

Boleh dibilang nama besar para pujangga itu tidak akan muncul tanpa peran toko buku itu. Sekitar tahun 1920-an buku-buku itu dijual dengan harga 0,35 – 0,95 gulden. Mulanya penerbit itu menyebarkan buku-buku beraksara Jawa Kuno. Tapi, sejak 1950-an, mereka menerbitkan buku-buku beraksara Latin. (lebih…)

Buku-buku Romeo dari Pontianak

Hingga angka 0880, saya baru mencatat dua entri untuk nama penerbit “Romeo Grafika” dalam buku inventarisasi koleksi perpustakaan tempat saya bekerja. Selebihnya, daftar tersebut didominasi oleh penerbit-penerbit dengan gelar Pustaka Utama, Yayasan Obor Indonesia, Tiara Wacana, LP3ES, dan penerbit-penerbit seputaran Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Kalaupun ada nama-nama penerbit di luar segi tiga kota itu, buku-buku “penerbit lokal” yang saya catat pada umumnya adalah produk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, dan pemerintah daerah; lembaga-lembaga yang aktivitas pokoknya bukanlah sebagai produsen bacaan untuk umum.

Romeo Grafika, lengkapnya Romeo Grafika Pontianak (RGP). Dari namanya sudah terlacak lokasinya. Kalimantan dan beberapa kota di kawasan Indonesia Tengah, sepengetahuan saya sangat jarang tercantum sebagai alamat penerbit buku-buku yang pernah saya catat, kecuali Institut Dayakologi. Apalagi penerbit dari kawasan timur Indonesia, kecuali Ende Flores.

Dua buku terbitan RGP yang tercantum dalam daftar koleksi perpustakaan saya adalah: 1) Pontianak 1771-1900: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi; dan 2) Konflik Antarkomunitas Etnis di Sambas 1999. Suatu Tinjauan Sosial Budaya.

Merujuk pada makalah Henny Warsilah (2001) dalam Seminar Hasil Penelitian “Dunia Perbukuan dan Penerbitan di Luar Jawa” yang diselenggarakan oleh Ford Foundation dan Yayasan Adikarya IKAPI, perkembangan dunia penerbitan buku di daerah, terutama di luar Jawa, kurang berkembang dikarenakan beberapa kondisi. Beberapa temuan riset, Henny kelompokkan dalam kategori kondisi terkait faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat di daerah sebagai biang melempemnya penerbit lokal. Saya hanya mengutip tiga dari sepuluh fakta yang diajukan Henny, yakni:

1. Jumlah pengarang dan penulis di daerah masih terlalu sedikit, atau meski jumlah penulis banyak, hasil karya mereka sering ditulis dalam bentuk kumpulan puisi, prosa, cerpen, yang diterbitkan di koran-koran daerah, bukan dalam bentuk naskah buku.

2. Kebijakan ketat yang dilakukan pemerintah atau instansi untuk menyebarluaskan dokumen-dokumen penelitian yang baik dan penting.

3. Image toko buku sebagai toko peralatan sekolah dan kantor, bukan sebagai toko yang menjual hasil karya intelektual dan budayawan setempat. Akibatnya penulis harus memasarkan secara hand to hand, ini memperlihatkan tidak ada kerja sama antara penerbit, toko buku, dan pengarang.

Ada tujuh kota yang Henny jadikan lokasi penelitian, Pontianak adalah kota terakhir yang ia sambangi. Ketimbang Makassar dan Samarinda, Henny mencatat optimisme di Negeri Khatulistiwa ini. Karena di kota ini ada satu “Romeo” yang dimotori oleh seorang Haji bernama Sulaiman Ahmad. Haji Sulaiman punya peran besar dalam membangkitkan gairah intelektualitas dan perbukuan di Pontianak. Ia mendorong orang-orang yang potensial sebagai penulis (dosen dan budayawan) agar berkarya. Haji Sulaiman bahkan mengongkosi dosen-dosen yang melakukan penelitian untuk kemudian hasilnya ia terbitkan dan pasarkan.

Romeo Grafika Pontianak menjadi pabrik bahan-bahan bacaan bermuatan lokal. Cukup banyak judul buku bermuatan kajian sejarah dan budaya lokal diterbitkan oleh penerbit ini, antara lain:

1. Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Barat.
2. Kamus Bahasa Melayu Sambas.
3. Taman Nasional Danau Sentarum Lahan Basah Terunik di Dunia.
4. Sejarah Pemerintahan Kesultanan dan kota Pontianak.
5. Landak di Balik Nukilan Sejarah.
6. Peristiwa Mandor: Sebuah Tragedi dan Misteri Sejarah.
7. Susur Galur Kerajaan Landak: Sejarah Perkembangan Bekas Kerajaan Landak dari Pertumbuhan Tahun 1292 hingga Restrukturisasi dan Refungsionalisasi Budaya Tahun 2000.
8. Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat.
9. Syarif Abdurrahman Alkadri. Perspektif Sejarah Berdirinya Kota Pontianak.

Buku-buku bermuatan lokal itulah yang diangkut ke Library of Congress (LOC) di Amerika Serikat melalui kantor perwakilannya di Jakarta. Katalog online LOC memuat 30 judul buku RGP. National Library of Australia memiliki 18 judul.

Sementara, hasil penelusuran saya melalui katalog online Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) menampilkan keterangan “Data tidak ditemukan” untuk buku-buku terbitan RGP. Sedangkan Perpustakaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hanya memiliki satu judul koleksi buku keluaran RGP. Bahkan katalog online Perpustakaan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Kalimantan Barat hanya mencantumkan satu judul buku terbitan RGP. Itu pun bukan buku sejarah atau budaya, tapi buku manajemen sumber daya manusia.

Tidak mengherankan bukan bila ada ungkapan ironi bahwa orang Indonesia harus ke negeri orang untuk memahami negeri sendiri.

*) Ahmad Subhan, Pustakawan IRE Yogyakarta

Indie Book Corner

Indie Book CornerIndie Book Corner adalah sebuah proyek yang digawangi oleh Irwan Bajang bersama Anindra Saraswati. Di tengah ketidaksibukan menulis dan menyunting naskah, mereka menyempatkan untuk membantu penulis-penulis pemula yang ingin menerbitkan bukunya. Banyak buku yang ditolak penerbit major label, padahal belum tentu buku itu jelek dan tidak layak baca. Kebanyakan masalahanya terletak pada tinjaun pasar dan perhitungan untung rugi. “Indie Book Corner” lahir untuk menjawab tantangan itu dan memberi solusi.

Sudah saatnya, buku akan gampang diproduksi, meskipun dalam jumlah yang barangkali tak sebanyak produksi penerbit konvensional. Biarkan penulis mempublikasi bukunya dan pembaca menikmati apapun jenis buku tanpa harus kompromi dengan pasar.

Berikut ini adalah wawancara Irwan Bajang yang dikutip Indonesia Buku dari blog Salamatahari edisi “Berkas” dengan satu harapan bahwa menerbitkan buku itu mudah.

Halo Mas Irwan … cerita dikit, dong, tentang awal mula berdirinya “Indie Book Corner”

Hmmm … mulainya dari mana, ya? Dari ide dulu, ya. Awalnya tahun 2006 sebenernya. Waktu itu saya lagi rajin-rajinnya menulis puisi dan ingin menerbitkannya menjadi buku. Nah, karena saya baru aja beberapa bulan di Jogja, saya sama sekali buta bagaimana menerbitkan buku. Akhirnya saya browsing internet, cari di mbah google, dan ketemu beberapa kontak penerbit. Saya tawarkan buku puisi saya ke mereka. Kok gak ada yang respon ya? Jawaban mereka sih, konon buku puisi nggak laku. Ya sudahlah, akhirnya saya bikin aja sendiri.

Caranya?

Waktu itu saya punya komputer dan printer, serta seorang temen yang pinter desain. Materi puisinya saya layout sendiri, saya edit dan print. Lalu saya potong dan jilid. Jadilah ia buku, buku pertama saya yang saya kerjakan dari menulis sampai jadi berbentuk semacam buku. Itulah buku saya pertama yang memperkenalkan saya pada dunia “buku indie”. Judulnya: Sketsa Senja.

Jadi pas itu, ya, lahir Indie Book Corner?

Belum. Tahun 2008 saya punya naskah novel dan diterbitkan di sebuah penerbit di Jogja. Setelah itu sedikit demi sedikit saya ngintip proses penerbitan buku. Dari situ saya kenal apa itu editing, proof reader, bagaimana mengkonsep cover, ilustrasi dan model kerjasama dengan distributor. Akhirnya tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 saya bikinlah weblog Indie Book Corner (IBC) di www.indiebook.co.cc bersama Anindra Saraswati (Yayas) setelah sebelumnya mempraktekkan menerbitkan buku indie dengan beberapa teman dan sempat bekerja setahun di sebuah penerbitan di Jogja. Sejak itulah IBC resmi berdiri dan membuka layanan self publish ala buku indie. Saya mulai rajin mencari tahu percetakan yang murah dan bisa cetak sedikit. Bergerilya dari satu percetakan ke percetakan yang lain. Kebetulan juga waktu itu ada temen kos yang punya percetakan. Sekarang kita udah kerjasama dengan Quantum Printing dan punya percetakan sendiri. Cetak-mencetak sudah bukan masalah lagi bagi IBC!

Asoy! Jadi udah nerbitin buku apa aja, nih, dari taun 2009 itu?

Kami menerbitkan nyaris semua jenis buku. Naskah yang masuk ada naskah horror, komedi, cinta, novel religi, puisi perlawanan dan ada juga buku serius masalah ekonomi global, politik, bahkan tutorial dan text book bahasa Inggris.

Yang ngebedain IBC sama penerbit lainnya?

Sangat berbeda. Terutama dalam hal bagaimana memperlakukan naskah dan penulis. Di IBC semua penulis berhak menerbitkan buku. Semua naskah bisa terbit, dan tentu saja dalam jumlah terbatas, bahkan bisa dihitung jari. Pertama kali menerbitkan, kami hanya mencetak 10 eksemplar untuk satu judul. IBC tidak meberi royalti, tapi penulis menentukan royalti dari bukunya (kalau buknya dijual).

Sebenarnya Indie Book ini bukan penerbit, tapi lebih tepatnya sebuah “gerakan perbukuan/ gerakan buku indie”. Kami mengampanyekan bagaimana buku biar mudah diproduksi, diedarkan, dibaca dan diapresisi. Fokus kami bukan di industri perbukuan itu sendiri, tapi bagaimana menghadirkan sebuah “cara” menerbitkan alternatif, di tengah pusaran dunia perbukaun yang memang tak bisa terlepas dari “kapital”. Berbicara penerbitan konvensional atau penerbitan mayor, jelas tak bisa lepas dari bagaimana menimbang untung rugi, marketable atau tidak buku yang diterbitkan. Sebab menerbitkan 1000 atau 3000 buku jelas butuh dana yang tak sedikit dan tidak ada yang mau rugi. Nah Indie Book Corner coba keluar dari mainstream tersebut. Kami bukan saja melawan mitos 1000 atau 3000 buku sebagai standar jumlah minimal cetak buku, tapi kami memotong mitos menerbitkan buku itu susah dan berbiaya tinggi.

Indie Book berusaha memberi tahu, bagaimana cara menerbitkan buku. Jadi, kalau semua orang sudah tahu bagaimana cara menerbitkan buku, bisa jadi kelak IBC sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan kami akan bahagia sebab cita-cita kami terpenuhi: semua penulis bisa menerbitkan karyanya dalam bentuk buku.

Waduh, cita-citanya mulia sekali. Terus, nih, kalau ada temen yang mau nerbitin buku lewat IBC, syaratnya apa dan ngirim naskahnya ke mana?

Persaratannya cuma satu. Punya tulisan. Nggak ada yang lain. Lalu kirim ke kami di Pajeksan GT 1/727, Yogyakarta (untuk info lebih lengkap klik http://indiebook.co.cc/).

Nanti sistem promosi-distribusinya gimana?
Kita sudah kerjasama dengan distributor untuk persebaran buku se-Indonesai Raya. Tapi itu untuk buku yang dicetak 500 atau 1000 dan jumlah di atasnya. Kalau di bawah itu, kita titip di kafe, distro, warung makan dan pasarkan sendiri via internet.

Boleh diedit dan layout sendiri, nggak?
Kami menyediakan jasa editor, tapi kalau penulis punya temen editor bisa minta bantuan tuh dan nggak perlu pakai bantuan IBC. Naskah bisa diedit sendiri, bikin cover dan layout sendiri (atau sama tim penulis) nanti cetaknya kami bantu. Tapi sebisa mungkin buku harus diedit. Sebab bagaimana pun, penulis pasti punya kesalahan, minimal kesalahan ejaan atau istilah. Bahkan editor sekalipun pasti ada salahnya. Kami mau, buku jebolan IBC adalah buku dengan standar mutu yang tinggi, layaknya buku keluaran penerbitan besar.

Selama tahun 2010 kemarin apa yang menarik di perjalanan IBC?
Awal tahun seperti biasa wordpress.com mengirimi email untuk para pengguna blognya. Kebetulan blog IBC kan bernaung di wordpress tuh, nah mereka mengirimi kami statistik penilaian dan memberi ratting “WOW” untuk perkembangan blog kami. Pengunjungnya banyak, banyak yang bertanya dan banyak yang kami bantu. Senang sekali membantu banyak orang. Satu lagi, 2010 kami bisa menerbitkan lebih dari 30 judul, ini angka yang lumayan besar dan mengagetkan kami sendiri. Saya aja nggak sadar kalau kami sudah membantu menerbitkan buku penulis sebanyak itu.

Cihui, selamat, ya … terus apa target di taun 2011?
Targetnya adalah membantu semakin banyak penulis menerbitkan bukunya. Kalau bisa satu minggu satu naskah terbit. Jadi setahun kita nerbitkan 48 buku minimalnya.

Amin. Semoga tercapai. Terakhir, nih. Salamatahari minggu ini kan temanya “Berkas”. Apa yang ada di pikiran Mas Irwan pas denger kata “berkas” ?
Berkas itu kalau nggak salah artinya sekumpulan cahaya, atau bisa juga sekumpulan naskah atau surat. Hhhmmm. Berkas bisa jadi saya artikan sebagai sebuah kilatan ide. Kadang ada ide yang terlintas begitu saja, bagai seberkas cahaya yang tiba-tiba muncul. Nah, berkas ide itu perlu dicatat dan dikenang, siapa tahu nanti idenya bisa muncul lagi dan terwujud jadi kenyataan.

Widiiih … pas banget, dong, sama IBC. Nggak salah, nih, Dea milih Mas Irwan Bajang dan IBC buat penyalamatahari edisi pertama taun ini.
Kalau berkas yang kaitannya dengan naskah, surat atau kertas, saya jadi kepikiran banyak naskah numpuk di IBC dan saya butuh bantuan banyak orang menyelesaikannya.

Hahaha … ayo, Teman-teman, ada yang mau bantu, nggak, tuh …?
Seberkas harapan di dunia literasi bertumbuh bersama Indie Book Corner. Semoga kelak menjadi terang yang memberkati. Teman-teman, mari berkumpul membawa berkas, menjadi berkas, kemudian tumbuh menerbit …

Sundea

Balai Poestaka

Oleh: Muhidin M Dahlan

Balai Pustaka, radjanovelbekasblogspotcomBalai Poestaka/Volkslectuur didirikan dalam rangka Politik Etis di samping lembaga-lembaga lain, yaitu sebagai alat untuk menyisipkan dan menyebarkan sejumlah konsep dan nilai Barat bercap modern di Hindia Belanda, sekaligus untuk menjaga tatanan kolonial. Di sini, tulis Jedamski (2009) dan Jerome (2009) Balai Poestaka (BP) telah berfungsi sebagai “penyebar peradaban, penyebar modernisasi, penenang”.

Menurut J.S. Furnivall (2009), Biro untuk Bacaan Rakyat atau BP ini dihadirkan untuk menyediakan literatur yang layak untuk Jawa modern lantaran bacaan yang tersedia untuk Pribumi “murahan dan memuakkan”.

Kehadiran BP itu, lanjut Furnivall, adalah salah satu bukti yang menonjol dari gagasan etis bahwa rakyat yang belajar membaca perlu buku, dan bahwa di antara rakyat yang tidak pernah membaca buku perlu disuntikkan kebiasaan membaca. Perkara ini tidak sama sekali diabaikan selama banjir pertama Liberalisme, ketika semangat balas budi pada 1848—irigasi, imigrasi, edukasi—belum lagi tenggelam oleh pertimbangan praktis.

Sudah sejak 1851 upaya dilakukan untuk mendorong publikasi buku-buku yang pantas, dan pada 1855, dan sekali lagi pada 1858, pemerintah menawarkan hadiah untuk “cerita atau sajak moral, lebih disukai dengan konteks Timur, atau cerita Barat yang mudah disesuaikan dengan lingkungan Timur”.

Van Deventer bolehlah disebut Bapak Politik Etis di Hindia, tapi Van Heutsz pada 1908 yang merombak model pendidikan dengan menawarkan sekolah desa. Menurut Heutsz, tak banyak guna mengajar anak membaca kecuali kalau mereka punya buku untuk dibaca setelah meninggalkan sekolah. Dan dibentuklah Komite untuk meneliti semua itu. Namun tak banyak yang dilakukan hingga 1910 tatkala Dr D.A. Rinkes dari Departemen Urusan Pribumi diangkat sebagai ketua Balai Pustaka.

Pemahamannya yang mendalam akan kehidupan pribumi memungkinkan dia sadar bahwa perlu sekali mengatur permintaan akan buku; sekadar menerbitkannya hanya perkara membelanjakan uang, tapi kecuali yang dibaca, dan akan menjadi uang yang tersia-sia. Orang yang tak pernah membaca atau melihat buku tak punya kebiasaan membaca, dan kesulitan utama adalah menciptakan kebiasaan membaca; kalau dia bisa mengorganisasikan permintaan akan buku tak akan ada kesulitan dengan suplai.

Solusinya adalah bahwa rakyat, yang tak mau membuang uang untuk membeli buku, bisa dibujuk membayar sedikit untuk meminjam, dan bahwa, kalau anak-anak bisa diajar menikmati bacaan, mereka mungkin akan terus membaca setelah meninggalkan sekolah. Karena itu Rinkes berusaha mendirikan perpustakaan di setiap sekolah Kelas Kedua atau sekolah standar dan pada 1914 ada perpustakaan kecil di 680 sekolah. Segera tampak bahwa ada juga permintaan untuk buku-buku Belanda, dan pada 1916 buku-buku berbahasa Belanda disediakan di 100 perpustakaan.

Anak sekolah diperbolehkan meminjam buku dengan gratis, tapi orang dewasa harus membayar 2,5 sen sejilid. Manajer sekolah, sebagai pustakawan, didorong untuk mempromosikan pembacaan dengan diperbolehkan menyimpan sewa yang diterima dari buku yang dipinjamkan.

Ketika permintaan di tempat mana pun memperlihatkan bahwa mungkin ada pembeli di sana, Rinkes menunjuk seorang agen lokal sebagai penjual buku, yang biasanya berhasil untuk beberapa waktu. Tapi karena kecilnya ukuran pasar, penjualan segera menurun, dan agen kehilangan minat pada bisnis itu. Untuk mengatasi masalah ini mobil-buku disebar, dan sebagian agen yang diserahi pekerjaan ini berhasil menjual hingga 2.500 buku per bulan dengan nilai f 1000. Mobil-buku ini terus-menerus berpindah.

Tapi untuk setiap publikasi baru selalu ada pembeli potensial yang tak tercapai di mobil ini, dan BP mengatasinya dengan mengirimkan edaran. Usaha ini terbatas pada mereka yang melek huruf dan dengan mengirimkan edaran kepada semua pemilih, BP mampu membangun daftar kuat pelanggan reguler.

Buku-buku yang dikirimkan ke perpustakaan biasanya adalah terbitan BP sendiri dan terdiri dari cerita pribumi yang ditulis ulang untuk generasi berikutnya, atau diadaptasi dari karya-karya Barat. Buku-buku yang ditulis untuk dunia Barat biasanya tak terbaca atau bahkan tidak bisa dimengerti bila dipindahkan ke dalam bahasa Timur.

Tapi BP mengatasi kesulitan ini dengan mengontrakkan sebagaian besar pekerjaan itu kepada penulis-penulis luar yang bayarannya sebagian bergantung pada hasil penjualan buku, dan cara ini BP menyusun teknik untuk penerjemahan dan adaptasi.

Menurut Jedamski (2009), umumnya naskah yang diterjemahkan mencerminkan: (1) minat ilmiah atau hobi anggota Commisie; (2) pandangan mereka yang Eropa-sentris tentang penduduk pribumi dan kebutuhan mereka. Buku-buku berbahasa Belanda diterjemahkan ke bahasa sasaran seperti Melayu, Sunda, Jawa, dan Madura. Karena proyek penerjemahan itu adalah proyek politik untuk menandai wilayah kuasa, maka bahasa sasaran terbanyak adalah Sunda, Jawa, dan Madura. Terjemahan ke bahasa Melayu sangat sedikit. Dan fenomena ini bertahan hingga awal 1920.

Yang dipilih Commissie sebagai terbitan Volkslectuur yang pertama, untuk menunjuk contoh, ialah saduran Jawa dari versi Belanda yang dibuat Juynboll dari naskah Kawi Serat Mahabarata yang asalnya dari saduran bahasa Sanskerta. Yang lain-lain umumnya bertema soal mental hubungan antara pribumi yang menjadi jongos bagi tuan majikan orang Belanda.

Samuel (2009) memerinci tiga kriteria penerjemahan ke bahasa Melayu: pengarang atau penerjemah harus (1) menyusun kalimat yang sangat pendek; (2) menghindari bentuk berimbuhan; dan (3) mengutamakan kosa kata yang lazim dipakai tanpa memandang baku tidaknya. Sebaliknya tata bahasa harus tetap mengikuti patokan-patokan yang ditentukan van Ophuysen.

Di antara karya-karya yang sudah diadaptasi berdasarkan kriteria-kriteria itu terdapat The Old Curiosity Shop, Oliver Twist, Baron Munchausen, Le Gendre de M. Poirier, dan L’Avare; dan di antara yang diterjemahkan terdapat Monte Cristo, The Three Musketeers, Twenty Years After, Tom Sawyer, The Jungle Book, Gulliver’s Travels, dan Ivan the Fool.

Karya-karya lain termasuk Sejarah Jawa, Panduan untuk Tukang Kayu, Tukang Batu, dan Tukang Listrik, dan buku-buku soal pertanian, higiene, dan sebagainya, sebagaimana yang menjadi konsens tema yang termuat dalam majalah Sri Poestaka yang terbit pertama kali pada 1918.

Setelah memiliki mesin cetak sendiri pada 1921, BP mengembangkan sayapnya dan menerbitkan majalah Pandji Pustaka pada 1923 yang terbit tiap pekan. Majalah ini berisi berita-berita penerangan dari pemerintah dan memuat cerita-cerita pendek. Cerita-cerita pendek itu kebanyakan reproduksi dari sastra lisan tradisional yang sudah dikenal sejak lama sebagai cerita pelipur lara. Sifatnya adalah hiburan semata dan dapat dikategorikan sebagai bacaan di waktu senggang.

Jika pun ada terbitan BP yang sedikit “melawan”, umumnya sudah mengalami domestifikasi, publikasi terbatas, dan sudah dinyatakan “aman”. Itulah yang ditemukan pada roman seperti Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, dan Salah Asuhan yang juga merupakan cara BP merekrut penulis-penulis dari kaum pergerakan untuk “meluluhkan” kaum pergerakan yang makin hari makin intens penyerangannya terhadap pemerintah.

Sitti Nurbaya, misalnya, sering menjadi alamat bagi adat kawin paksa yang banyak dihujat. Padahal, Sitti Nurbaya dalam roman ini tidaklah terpaksa menikah lantaran adat, melainkan soal lain: ekonomi.

Kejanggalan lainnya adalah asumsi prokolonial yang dikandungnya: Samsulbahri dilukiskan sebagai serdadu yang memerangi rakyat yang menolak belasting atau pajak yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial. Adapun Datoek Meringgih digambarkan sebagai tokoh yang luar biasa jahat. Dengan gambaran ini posisi Datuk Meringgih sebagai orang yang menentang pajak dan kekuasaan kolonial secara terbuka pupus.

Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana sudah mulai “bertendens”, walau tak lugas sebagaimana kita lihat pada “bacaan liar”. Roman ini mengajukan ide-ide cemerlang tentang hal ini, terutama tentang emansipasi
perempuan.

Sedangkan Belenggu bergerak semakin mendalam dengan melampaui batas sosial dan memasuki ranah psike. Monolog interior dalam Belenggu belum biasa digunakan pada masa roman ini terbit. Namun yang lebih belum biasa lagi adalah sikap dan ide yang diajukannya tentang hubungan pernikahan, peran intelektual dalam masyarakat, dan peran sosial perempuan. Saking janggalnya bagi masanya, novel ini ditolak awal-awal Balai Poestaka dan mau menerbitkannya dengan catatan dipotong di sana-sini.

Puncak dari usaha BP merekrut tenaga penulis Indonesia untuk mau menulis atau menjadi penerjemah di penerbitan pemerintah ini adalah lahirnya angkatan baru dalam kesasteraan Indonesia yang menyebut diri dengan Poedjangga Baroe dengan merujuk pada majalah terbitan mereka: Poedjangga Baroe. (Dari pelbagai sumber. Kuplet ini bagian dari riset panjang tentang “Keaksaraan Membangun Peradaban”)

Foto: radjanovelbekas.blogspot.com

Balai Poestaka dan Penjina'an “Batjaan Liar”

Oleh: Muhidin M Dahlan

Student HidjoSalah satu tugas utama Balai Poestaka (BP) adalah menjinakkan apa yang mereka sebut “bacaan liar” atau meminjam istilah Furnivall sebagai bacaan “murahan dan memuakkan”. Dan umumnya “bacaan liar” itu adalah buku atau naskah-naskah yang diproduksi aktivis pergerakan dan organ-organ kebangsaan yang bekerja habis-habisan untuk membibitkan kesadaran kolektif kebangsaan.

Tugas menghalau “bacaan liar” itu disebutkan Rinkes dalam kalimat berikut ini: “Tambahan lagi harus pula dicegah, janganlah hendaknya kepandaian membaca dan kepandaian berpikir yang dibangkitkan itu menjadi hal yang kurang baik dan kurang patut, sehingga merusakkan tertib dan keamanan negeri dan lain-lain… hasil pengajaran itu boleh juga mendatangkan bahaya, kalau orang-orang yang tahu membaca itu mendapatkan kitab-kitab bacaan yang berbahaya dari saudagar kiab yang kurang suci hatinya dan dari orang-orang yang bermaksud hendak mengharu.”

Yang dimaksud “bacaan liar” adalah jenis bacaan yang diterbitkan swasta (Pribumi, Tionghoa, dan Indo Peranakan) yang tak mengikuti aturan kebahasaan yang sudah ditetapkan pemerintah Hindia Belanda, yakni bahasa “Melayu Tinggi” sebagaimana yang “dibakukan” Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim pada 1901. Hasil pembakuan itu dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen.

Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menerbitkan Kitab Logat Melajoe, van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.

Adapun bahasa Melayu terdahulu mereka berikan atribut merendahkan seperti “Bahasa Melayu Rendah”, “Bahasa Melayu Gado-Gado”, “Bahasa Melayu Kacau”, dan sebagainya. Dan bahasa itulah yang dipakai aktivis pergerakan menerbitkan brosur dan tulisan-tulisan yang dianggap “liar”.

Mengulas “bacaan liar”, kita mestilah menyebut nama Tirto Adhi Soerjo sebagai salah satu pribadi yang dengan sadar memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi di Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia. Tokoh ini pula yang menyatakan pendapat ketaksetujuannya ketika pemerintah mendirikan BP pertama kali. Menurut Tirto, kenapa dana itu tak diberikan kepada rakyat saja untuk mengongkosi bacaan mana yang mereka butuhkan dalam kehidupan.

Apa yang dilakukan Tirto mendorong pribadi-pribadi lain mengikuti jalan “bacaan liar” ini, seperti Soeardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Tjokroaminoto, Abdul Muis, Mas Marco Kartodikromo, Misbach, Soerjopranoto, Abdul Muis, Semaoen, Darsono, dan aktivis pergerakan lainnya. Mereka semua menghasilkan bacaan-bacaan populer yang terutama ditujukan untuk mendidik bumiputra yang miskin (kromo). Bacaan-bacaan yang mereka hasilkan merupakan ajakan untuk mengobati badan bangsanya yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan ilmu dan pengetahuan. Bacaan itu juga membeberkan pemahaman dan kesadaran politik kekuasaan kolonial.

Salah satu “bacaan liar” yang cukup terkenal adalah tulisan Soeardi Soerjaningrat “Seandainya Saya Seorang Belanda,” yang ditulisnya dalam rangka menyambut perayaan bebasnya Nederland dari kekuasaan Prancis.
Dalam menulis brosur tersebut Soeardi dibantu kedua sahabatnya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Tulisan ini diumumkan dalam suratkabar Indissche Partij, De Expres, yang saat itu tirasnya mencapai 1.500. Gara-gara tulisan tersebut penerang Indissche Partij itu ditangkapi dan dibuang ke Belanda yang 10 tahun kemudian membelokkan Soeardi dari gerakan politik menjadi aktivis pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa pada 1923.

Penulis “bacaan liar”—dan berkembang menjadi “literatuur socialistich”—selalu menyesuaikan tulisannya dengan kebutuhan para pembacanya (pendukung), sehingga bahasa maupun ungkapan yang ditampilkan dalam bacaan, sarat dengan ekpresi dan ideologi pendukungnya. Umpamanya untuk menjelaskan perkembangan modal, diciptakan istilah “setan oeang” atau kebebasan diganti dengan “mardika”.

Harganya pun dibuat bersaing dengan harga bacaan BP. Harganya rata-rata di atas f.0,30,- dan bahkan untuk Sjair Internationale yang diterjemahkan oleh Soeardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada 1921 menjadi Darah Ra’jat, dijual dengan harga f. 0,15.

Jelas harga yang murah merupakan kesengajaan dari para penulis dan penerbit buku-buku “bacaan liar” agar bisa bersaing dengan BP. Dalam hal distribusi bacaan, pesan-pesan penerbit “bacaan liar” lebih dapat diterima oleh para pembaca. Penyebaran bacaan, biasanya beriringan dengan rapat-rapat umum.

Misalnya saja Sjair Internasionale dinyanyikan pada rapat-rapat umum, sebagaimana ditegaskan Marco dalam Rasa Merdika: “berbareng dengen keloeranja orang-orang itoe maka terdengerlah soeara dalem vergadering itoe lagoe-lagoe socialisme dinjanjikan orang, jang maksoednja membangoenkan hati persaudaraan bersama.” Syair ini juga didengungkan pada saat pemogokan besar di Solo pada tahun 1923, di mana massa Sarekat Islam menjanjikan Sjair Internasionale.”

Alhasil, bacaan yang dianggap “bacaan liar” itu sesungguhnya “bacaan politik”. Hampir semua bacaan yang diproduksi oleh para pemimpin pergerakan apakah bentuknya novel, roman, surat perlawanan persdelicht dan cerita bersambung, isinya menampilkan kekritisan dan perlawanan terhadap tata-kuasa kolonial.

Salah satu tokoh pergerakan Aliarcham mengatakan: “Ada kaoem intelektuil jang tida soeka tjampoer dengan pergerakan kita karena merasa maloe, tetapi mereka djoega akan berhoeboengan dengan fihak sana djoega tidak lakoe, paling2 djadi orang soeroehan. Tapi kita kaoem intelektuil proletar berdjoeang oentoek mendirikan koeltoer baroe, dimana tida terdjadi orang minoem darah orang lain. Dari sekarang pendidikan haroes dimoelai dari sekolah rendahan. Kita haroes banjak mengeloearkan batjaan oentoek anak2 Ra’jat kita. Batjaan ini boekannja mengadjar orang takoet sama pemerentah tapi mendidik rasa mardika dan rasa berkoempoel dan nafsoe berdjoeang melawan batjaan2 jang dikeloearkan pemerentah.”

Selain “roman politik” dan “literatuur socialis”, yang turut masuk dalam “bacaan liar” adalah cerita-cerita silat yang diproduksi percetakan dan disiarkan lewat pers-pers Tionghoa dan juga roman-roman karya keturunan Indo seperti F.H. Wiggers, H. Kommer, dan F. Pangemanan. (Dari pelbagai sumber)

* Penjelajahan lebih dalam tentang “Batjaan Liar”, bisa dilihat dari artikel panjang yang ditulis Razif. Klik di sini.

Romeo Grafika Pontianak (RGP)

Buku-buku Romeo dari Pontianak
Bagikan
Selasa pukul 18:24
Hingga angka 0880, saya baru mencatat dua entri untuk nama penerbit “Romeo Grafika” dalam buku inventarisasi koleksi perpustakaan tempat saya bekerja. Selebihnya, daftar tersebut didominasi oleh penerbit-penerbit dengan gelar Pustaka Utama, Yayasan Obor Indonesia, Tiara Wacana, LP3ES, dan penerbit-penerbit seputaran Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Kalaupun ada nama-nama penerbit di luar segi tiga kota itu, buku-buku “penerbit lokal” yang saya catat pada umumnya adalah produk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, dan pemerintah daerah; lembaga-lembaga yang aktivitas pokoknya bukanlah sebagai produsen bacaan untuk umum.
Romeo Grafika, lengkapnya Romeo Grafika Pontianak (RGP). Dari namanya sudah terlacak lokasinya. Kalimantan dan beberapa kota di kawasan Indonesia Tengah, sepengetahuan saya sangat jarang tercantum sebagai alamat penerbit buku-buku yang pernah saya catat, kecuali Institut Dayakologi. Apalagi penerbit dari kawasan timur Indonesia, kecuali Ende Flores.
Dua buku terbitan RGP yang tercantum dalam daftar koleksi perpustakaan saya adalah: 1) Pontianak 1771-1900: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi; dan 2) Konflik Antarkomunitas Etnis di Sambas 1999. Suatu Tinjauan Sosial Budaya.
Merujuk pada makalah Henny Warsilah (2001) dalam Seminar Hasil Penelitian “Dunia Perbukuan dan Penerbitan di Luar Jawa” yang diselenggarakan oleh Ford Foundation dan Yayasan Adikarya IKAPI, perkembangan dunia penerbitan buku di daerah, terutama di luar Jawa, kurang berkembang dikarenakan beberapa kondisi. Beberapa temuan riset, Henny kelompokkan dalam kategori kondisi terkait faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat di daerah sebagai biang melempemnya penerbit lokal. Saya hanya mengutip tiga dari sepuluh fakta yang diajukan Henny, yakni:
1. Jumlah pengarang dan penulis di daerah masih terlalu sedikit, atau meski jumlah penulis banyak, hasil karya mereka sering ditulis dalam bentuk kumpulan puisi, prosa, cerpen, yang diterbitkan di koran-koran daerah, bukan dalam bentuk naskah buku.
2. Kebijakan ketat yang dilakukan pemerintah atau instansi untuk menyebarluaskan dokumen-dokumen penelitian yang baik dan penting.
3. Image toko buku sebagai toko peralatan sekolah dan kantor, bukan sebagai toko yang menjual hasil karya intelektual dan budayawan setempat. Akibatnya penulis harus memasarkan secara hand to hand, ini memperlihatkan tidak ada kerja sama antara penerbit, toko buku, dan pengarang.
Ada tujuh kota yang Henny jadikan lokasi penelitian, Pontianak adalah kota terakhir yang ia sambangi. Ketimbang Makassar dan Samarinda, Henny mencatat optimisme di Negeri Khatulistiwa ini. Karena di kota ini ada satu “Romeo” yang dimotori oleh seorang Haji bernama Sulaiman Ahmad. Haji Sulaiman punya peran besar dalam membangkitkan gairah intelektualitas dan perbukuan di Pontianak. Ia mendorong orang-orang yang potensial sebagai penulis (dosen dan budayawan) agar berkarya. Haji Sulaiman bahkan mengongkosi dosen-dosen yang melakukan penelitian untuk kemudian hasilnya ia terbitkan dan pasarkan.
Romeo Grafika Pontianak menjadi pabrik bahan-bahan bacaan bermuatan lokal. Cukup banyak judul buku bermuatan kajian sejarah dan budaya lokal diterbitkan oleh penerbit ini, antara lain:
1. Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Barat.
2. Kamus Bahasa Melayu Sambas.
3. Taman Nasional Danau Sentarum Lahan Basah Terunik di Dunia.
4. Sejarah Pemerintahan Kesultanan dan kota Pontianak.
5. Landak di Balik Nukilan Sejarah.
6. Peristiwa Mandor: Sebuah Tragedi dan Misteri Sejarah.
7. Susur Galur Kerajaan Landak: Sejarah Perkembangan Bekas Kerajaan Landak dari Pertumbuhan Tahun 1292 hingga Restrukturisasi dan Refungsionalisasi Budaya Tahun 2000.
8. Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat.
9. Syarif Abdurrahman Alkadri. Perspektif Sejarah Berdirinya Kota Pontianak.
Buku-buku bermuatan lokal itulah yang diangkut ke Library of Congress (LOC) di Amerika Serikat melalui kantor perwakilannya di Jakarta. Katalog online LOC memuat 30 judul buku RGP. National Library of Australia memiliki 18 judul.
Sementara, hasil penelusuran saya melalui katalog online Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) menampilkan keterangan “Data tidak ditemukan” untuk buku-buku terbitan RGP. Sedangkan Perpustakaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hanya memiliki satu judul koleksi buku keluaran RGP. Bahkan katalog online Perpustakaan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Kalimantan Barat hanya mencantumkan satu judul buku terbitan RGP. Itu pun bukan buku sejarah atau budaya, tapi buku manajemen sumber daya manusia.
Tidak mengherankan bukan bila ada ungkapan ironi bahwa orang Indonesia harus ke negeri orang untuk memahami negeri sendiri.
Ahmad Subhan, Pustakawan IRE Yogyakarta

romeoHingga angka 0880, saya baru mencatat dua entri untuk nama penerbit “Romeo Grafika” dalam buku inventarisasi koleksi perpustakaan tempat saya bekerja. Selebihnya, daftar tersebut didominasi oleh penerbit-penerbit dengan gelar Pustaka Utama, Yayasan Obor Indonesia, Tiara Wacana, LP3ES, dan penerbit-penerbit seputaran Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung.

Kalaupun ada nama-nama penerbit di luar segi tiga kota itu, buku-buku “penerbit lokal” yang saya catat pada umumnya adalah produk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, dan pemerintah daerah; lembaga-lembaga yang aktivitas pokoknya bukanlah sebagai produsen bacaan untuk umum.

Romeo Grafika, lengkapnya Romeo Grafika Pontianak (RGP). Dari namanya sudah terlacak lokasinya. Kalimantan dan beberapa kota di kawasan Indonesia Tengah, sepengetahuan saya sangat jarang tercantum sebagai alamat penerbit buku-buku yang pernah saya catat, kecuali Institut Dayakologi. Apalagi penerbit dari kawasan timur Indonesia, kecuali Ende Flores.

Dua buku terbitan RGP yang tercantum dalam daftar koleksi perpustakaan saya adalah: 1) Pontianak 1771-1900: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi; dan 2) Konflik Antarkomunitas Etnis di Sambas 1999. Suatu Tinjauan Sosial Budaya.

Merujuk pada makalah Henny Warsilah (2001) dalam Seminar Hasil Penelitian “Dunia Perbukuan dan Penerbitan di Luar Jawa” yang diselenggarakan oleh Ford Foundation dan Yayasan Adikarya IKAPI, perkembangan dunia penerbitan buku di daerah, terutama di luar Jawa, kurang berkembang dikarenakan beberapa kondisi. Beberapa temuan riset, Henny kelompokkan dalam kategori kondisi terkait faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat di daerah sebagai biang melempemnya penerbit lokal. Saya hanya mengutip tiga dari sepuluh fakta yang diajukan Henny, yakni:

1. Jumlah pengarang dan penulis di daerah masih terlalu sedikit, atau meski jumlah penulis banyak, hasil karya mereka sering ditulis dalam bentuk kumpulan puisi, prosa, cerpen, yang diterbitkan di koran-koran daerah, bukan dalam bentuk naskah buku.

2. Kebijakan ketat yang dilakukan pemerintah atau instansi untuk menyebarluaskan dokumen-dokumen penelitian yang baik dan penting.

3. Image toko buku sebagai toko peralatan sekolah dan kantor, bukan sebagai toko yang menjual hasil karya intelektual dan budayawan setempat. Akibatnya penulis harus memasarkan secara hand to hand, ini memperlihatkan tidak ada kerja sama antara penerbit, toko buku, dan pengarang.

Ada tujuh kota yang Henny jadikan lokasi penelitian, Pontianak adalah kota terakhir yang ia sambangi. Ketimbang Makassar dan Samarinda, Henny mencatat optimisme di Negeri Khatulistiwa ini. Karena di kota ini ada satu “Romeo” yang dimotori oleh seorang Haji bernama Sulaiman Ahmad. Haji Sulaiman punya peran besar dalam membangkitkan gairah intelektualitas dan perbukuan di Pontianak. Ia mendorong orang-orang yang potensial sebagai penulis (dosen dan budayawan) agar berkarya. Haji Sulaiman bahkan mengongkosi dosen-dosen yang melakukan penelitian untuk kemudian hasilnya ia terbitkan dan pasarkan.

Romeo Grafika Pontianak menjadi pabrik bahan-bahan bacaan bermuatan lokal. Cukup banyak judul buku bermuatan kajian sejarah dan budaya lokal diterbitkan oleh penerbit ini, antara lain:

1. Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Barat.

2. Kamus Bahasa Melayu Sambas.

3. Taman Nasional Danau Sentarum Lahan Basah Terunik di Dunia.

4. Sejarah Pemerintahan Kesultanan dan kota Pontianak.

5. Landak di Balik Nukilan Sejarah.

6. Peristiwa Mandor: Sebuah Tragedi dan Misteri Sejarah.

7. Susur Galur Kerajaan Landak: Sejarah Perkembangan Bekas Kerajaan Landak dari Pertumbuhan Tahun 1292 hingga Restrukturisasi dan Refungsionalisasi Budaya Tahun 2000.

8. Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat.

9. Syarif Abdurrahman Alkadri. Perspektif Sejarah Berdirinya Kota Pontianak.

Buku-buku bermuatan lokal itulah yang diangkut ke Library of Congress (LOC) di Amerika Serikat melalui kantor perwakilannya di Jakarta. Katalog online LOC memuat 30 judul buku RGP. National Library of Australia memiliki 18 judul.

Sementara, hasil penelusuran saya melalui katalog online Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) menampilkan keterangan “Data tidak ditemukan” untuk buku-buku terbitan RGP. Sedangkan Perpustakaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hanya memiliki satu judul koleksi buku keluaran RGP. Bahkan katalog online Perpustakaan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Kalimantan Barat hanya mencantumkan satu judul buku terbitan RGP. Itu pun bukan buku sejarah atau budaya, tapi buku manajemen sumber daya manusia.

Tidak mengherankan bukan bila ada ungkapan ironi bahwa orang Indonesia harus ke negeri orang untuk memahami negeri sendiri.

* Ahmad Subhan, Pustakawan IRE Yogyakarta dan kontributor web Indonesia Buku

Rumah Penerbitan Ininnawa Makassar

Sumber: Kompas

Sumber: Kompas

Oleh Didit Putra Erlangga dan Nasrullah Nara

Ingar-bingar unjuk rasa mahasiswa di Makassar yang berujung rusuh sudah menjadi suguhan sehari-hari layar televisi. Begitu mendengar kata ”Makassar”, seketika ingatan kolektif khalayak tertuju pada situasi onar.

Di balik hiruk-pikuk mahasiswa di jalan raya, sekelompok mahasiswa dan sarjana lintas disiplin ilmu mencoba mengimbangi stigma itu dengan kegiatan intelektual. Menerjemahkan hasil penelitian bertema sosial-budaya dan kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku merupakan keseharian anak-anak muda yang dikenal sebagai komunitas Ininnawa ini. Dalam bahasa setempat, ininnawa artinya harapan dan cita-cita.

Hasilnya, enam tahun terakhir, 20 judul buku mengenai kajian masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat telah terbit. Masyarakat Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi kini bisa mendapatkan literatur seputar kebudayaan mereka sendiri yang selama ini didominasi pihak asing. Tanpa perlu susah payah menerjemahkan, warga setempat bisa membacanya dan membeli buku dengan harga terjangkau.

Liana Siraji, mahasiswi FISIP Universitas Hasanuddin, misalnya, bisa membeli hasil terjemahan itu cukup dengan merogoh kocek rata-rata Rp 60.000 per buku. Dua-tiga kali lebih murah ketimbang buku aslinya.

Sebutlah, misalnya, Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17 karya Leonard Y Andaya (pengajar sebuah universitas di Hawaii, Amerika Serikat). Buku ini coba menyajikan sudut pandang alternatif atas perseteruan Arung Palakka dengan Sultan Hasanuddin.

Judul lain Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300- 2000. Hasil penelitian Thomas Gibson, peneliti Universitas Rochester, Amerika, ini mengulik simbol-simbol budaya dan kekuasaan di Makassar.

Setahun terakhir, sebuah buku pembelajaran seksual bersumberkan kitab Lontara’ sempat membuat heboh khalayak karena kevulgarannya menyaingi buku Kamasutra. Hasil penelitian Mukhlis Hadrawi itu terpajang di toko-toko buku dengan judul Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis.

”Kami ingin mendekatkan warga jazirah selatan Sulawesi dengan literatur budaya mereka sendiri, baik secara geografis maupun secara ekonomi,” kata Anwar Jimpe Rachman, Direktur Penerbitan Ininnawa.

Nurhady Sirimorok, perintis komunitas Ininnawa, mengungkapkan, hasil penelitian pihak asing jarang kembali ke Sulawesi dengan sendirinya. Umumnya berakhir dalam bentuk jurnal ilmiah dengan bahasa akademik atau terbukukan di luar negeri. Padahal, di satu sisi, sebagian besar masyarakat di daerah ini belum tentu paham akar kebudayaan sendiri.

Menerjemahkan naskah asing barulah setengah dari mekanisme Ininnawa. Agar tidak bias makna, Jimpe dan rekan-rekannya harus getol memasukkan informasi terbaru dan mengonfirmasi langsung beberapa hal kepada penulisnya.

Umumnya, pemilik naskah asli tidak menuntut pembayaran royalti. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Leiden, Belanda, misalnya, malah turut menanggung biaya cetak untuk buku Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan. Buku tersebut ditulis Roger Tol, Kees van Dijk, dan G Acciaioli.

Muhlis Hadrawi, salah satu penulis, melihat ketulusan pihak asing itu sebagai komitmen mengangkat penerbit lokal.

Hindari subyektivitas

Dosen antropologi Universitas Hasanudin, Yahya Kadir, menilai literatur dari peneliti asing bisa menjadi pengimbang dari literatur peneliti lokal yang sulit menghindari subyektivitas. Sejumlah tulisan bahkan bisa menyadarkan bahwa beberapa ritual yang dianggap lumrah ternyata memiliki makna lebih dalam.

Contohnya, buku Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Budaya di Baliknya. Buku tersebut ternyata secara obyektif mampu mengungkap nilai di balik meriahnya pesta pernikahan suku Bugis sebagai ekspresi penguasaan sumber daya ekonomi. ”Kita bisa berkaca dari sudut pandang yang lebih netral,” ujarnya.

Komunitas Ininnawa, yang terintis 10 tahun silam, setidaknya telah ikut mewarnai peradaban di jazirah selatan Sulawesi. Euforia unjuk rasa dan gemuruh roda kapitalisme perlu diimbangi gerakan kultural.

Sumber: Kompas, 6 Februari 2010

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan