-->

Arsip Ruang Toggle

Kota Salatiga | Perpusda Jadi Tulang Punggung

Jika yang Anda bayangkan adalah perpustakaan yang sepi dengan deretan buku yang terpajang monoton di rak-rak, itu bukan wajah Perpustakaan Daerah Kota Salatiga di Jawa Tengah. Pada 2013, Pemerintah Kota Salatiga memindah dan mengubah wajah perpustakaan daerah yang suram dan kurang layak untuk menyimpan buku dan arsip menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Pengunjung tidak hanya bisa meminjam buku yang tertata rapi di rak-rak secara gratis, tetapi juga bisa mengakses internet secara gratis, dengan komputer yang disediakan ataupun dengan Wi-Fi. Selain itu, tersedia ruang multimedia yang biasanya digunakan untuk “nonton bareng” film-film bertema pendidikan atau sejarah, dan dapat digunakan warga untuk kegiatan pendidikan, seni, atau budaya.

Di belakang ruangan perpustakaan, tersedia tiga gazebo yang bisa dipakai untuk membaca buku atau berdiskusi. Tersedia pula buku-buku dengan huruf braille untuk penyandang tunanetra. Perpustakaan juga buka setiap hari, pada Senin-Jumat hingga pukul 20.00 dan pada Sabtu-Minggu hingga pukul 16.00. (lebih…)

Delapan Tahun Apresiasi Sastra di Sewon Bantul

Agenda hari kedua gelaran #RamaikanSelatan dalam rangka 9 tahun Indonesia Buku adalah malam Apresiasi Sastra: Obrolan 10 Karya Sastra Dalam Semalam. Komunitas ini dibentuk delapan tahun yang lalu oleh pecinta sastra dari milis online dan kemudian memanfaatkan grup di Facebook. Apresiasi sastra kedelapan ini akan membahas sejumlah karya, yaitu: (lebih…)

Ramaikan Selatan : Indonesia Buku Rayakan Hari Jadi

Merayakan hari jadinya yang kesembilan sejak 21 April 2006, Yayasan Indonesia Buku – lebih dikenal dengan IBOEKOE – menghelat perayaan literasi bertajuk #RamaikanSelatan.

Berlangsung dua hari, 22 & 23 April 2015, kegiatan ini terutama sekali adalah rangkaian pengenalan – pada hari pertama – dahan-dahan baru Iboekoe berupa: Katalog Offline Warung Arsip, Dinding Massa, Studio Baru Radiobuku, dan Warung Kopi Bintang Mataram 1915. Disusul Apresiasi Sastra pada hari kedua; mendiskusikan 10 karya sastra dalam semalam.

(lebih…)

Bincang-Bincang Sastra edisi 114: MAHATMANTO, PELOPOR PENYAIR YOGYA

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta dan Radio Buku, di bulan ketiga tahun 2015 ini akan menggelar Bincang-Bincang Sastra (BBS) edisi 114, dengan acara “Menilik Pelopor Penyair Yogya, Mahatmanto” pada Sabtu, 28 Maret 2015 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta pukul 20.00 WIB. Dalam acara ini akan hadir Enes Pribadi dan R. Toto Sugiharto sebagai pembicara dengan moderator Hayu Avang Dharmawan. Akan ada pula pertunjukan baca puisi karya-karya Mahatmanto oleh para penyair dan aktivis sastra Kulon Progo, seperti Marjuddin Suaeb, Papi Sadewa, Marwanto, Sumarno, Imam Syafei, Bardal Dersonolo Dewi, Samsul Ma’arif, Hendri S., Diana Trisnawati, Aris Zurkhasanah, & Chahyo Edi Pramono. (lebih…)

Idwriters | Arsip Digital para Penulis

Berbagai informasi tentang penulis Indonesia dan karya-karya mereka bisa disimpan secara digital di Idwriters. Harian Media Indonesia 20 Februari 2015, hlm 20, menurunkan laporannya. (lebih…)

Finchickup With Farah Dini Novita

Pengumuman Kopral3
Acara : “Check up Keuangan”
Penyelenggara : Forum Kopral
Hari, tanggal : Jumat, 30 Januari 2015
Waktu : 15.00 – 17.30 WIB
Tempat : Djendelo Cafe, Toko buku Togamas, Jl. Affandi, Yogyakarta
Tema : “Investasi tapi Tetap Trendy”
Pembicara : Farah Dini Novita, Penulis buku “Finchickup, Financial Check up for Ladies”
(lebih…)

STUDIO PERTUNJUKAN SASTRA: MENGUBUR NISAN DI TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

“…Pada sebuah senja yang menyelurupkan matahari dalam langit jingga, lelaki itu mencari namamu, memburu kuburmu. Duganya, kau sudah berbaring tenang di dalam sekotak petiyang baru diketam kemarin malam. Di sana, di antara barisan nisan di bawah naungan kamboja berbunga ruah. Mungkin pula, kau sudah melupakannya atau kau sudah tak memiliki ingatan lagi karena nyawamu telah terbang ke langit. Betapapun, lelaki itu tak akan meninggalkan tanah pekuburan tanpa melihat namamu dalam sepatok nisan…” (lebih…)

Pameran Lukisan “Selfie Zone” | Gerimis Ungu Production | Yogyakarta

MEDSOS

Jumat, 2 Januari 2015, 19.30 WIB
Seniwati : Anjani Imani Citra Afsiser dan Arce Priangsari
Kurator : Opée Wardany
Diskusi : 9 Januari 2015, 15.30 WIB
Lokasi :
Kersan Art Studio
Jl. As Asmawat No. 154, Dusun II Kersan, Tirtonirmolo,
Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia 55000
dimeriahkan oleh Tari “Perempuan dari Masa Lalu” oleh Kiki Rahmatika; adaptasi naskah Putu Wijaya. Musik oleh Riza.Dipandu oleh Menik Sithik & Hardoko (MC Cangkem Reget)

Membuka tahun 2015, Gerimisungu Production bekerja sama dengan Kersan Art Studio, JogjaNews, IBOEKOE/RBOEKEOE mempersembahkan sebuah pameran seni rupa bertajuk “Selfie Zone” yang mengangkat tema wilayah diri.

Wilayah Diri pada Selfie Zone

Mengambil istilah yang sedang kondang di dunia fotografi dan media sosial, kata selfie begitu menggelitik. Ada kesan ringan, sedikit genit, tanpa meninggalkan kata dasarnya; diri. Selfie menjadi semacam kata sifat yang berkaitan dengan diri. Sementara zone, merujuk pada wilayah. Secara sepintas dan gamblang, selfie zone tidaklah berbeda dengan wilayah diri yang menjadi tema kegiatan.

Berbicara tentang diri (manusia); ada banyak hal yang serta-merta muncul di benak kita. Kita bisa membicarakan kedirian sebagai satu individu, diri yang berkaitan dengan sosial, diri yang berkaitan dengan lingkungan (alam; tumbuhan, hewan), atau juga dalam pola hubungan transenden. Dapat kita ketahui pula bahwa diri (manusia) tak melulu satu muka yang tertampil atau satu wajah yang tertangkap.

Ketika mencoba menambahkan kata ‘wilayah’ pada diri, terasa mulai ada pembatasan yang bisa dipegang atas penjabaran diri. Wilayah berkaitan dengan teritori dalam korelasi kekuasaan, atau cakupan/jangkauan yang dapat direngkuh diri, atau hal-hal yang menguar dari diri, atau –lagi- segala macam yang ada di dalam dan dialami oleh diri.

Sebagaimana diri (manusia), wilayah diri juga tak bermakna tunggal. Hal ini justru terasa menguntungkan sehingga pengejawantahan wilayah diri sebagai tema kegiatan (pameran seni rupa) menjadi kerangka yang tetap menyisakan ruang-ruang terbuka untuk keliaran seniman dan kurator untuk berproses dan memproduksi karya-karya seni yang bakal dipajang.

Wilayah diri diterjemahkan secara luas oleh kedua seniwati; Anjani Imania Citra Afsiser dan Arce Priangsari, Bagi keduanya; wilayah diri memiliki makna filosofi sebagai sebuah tema untuk berporses kreatif dan menghasilkan produk berupa karya-karya kreatif. Dari segi media; wilayah diri dapat dikaitkan dengan wilayah gambar atau bidang sebagai media kreatif. Sementara, dari sudut teknik; wilayah diri adalah sesuatu yang dikuasai dan dieksplorasi untuk mewujudkan karya kreatif.

Tak menutup kemungkinan, tema ini terjemahan tema ke dalam wujud karya-karya seni rupa menjadi lebih jamak, beragam, bercabang ke banyak sudut. Seyogyanya, harapan kurator dan 2 seniwati, tema ini mampu membangkitkan gairah dan membebaskan diri dalam berproses dan berkarya kreatif tanpa membuat diri lupa pada dasar yang menjadi pijakan, yaitu: wilayah diri.

Anjani Imania Citra Afsiser dan Arce Priangsari

Kedua seniwati yang masih dalam tahap penyelesaian kuliah strata 1 di Institus Seni Indonesia (ISI) DI Yogyakarta ini bertekad mewujudkan tema dalam berbagai media juga teknik. Citra, panggilan akrab Anjani Imania Citra Afsiser, yang banyak mengolah bentuk-bentuk abstrak tetap tak meninggalkan kanvas dan cat akrilik sebagai media bermainnya selama ini. Ia pun akan menjajal bahan-bahan lain untuk mewujudkan karya-karya kreatifnya dalam pameran ini.

Sementara, Arce yang banyak bermain dengan kertas, cat timbul, dan tinta akan juga mengolah pewarna batik, malam, canting. Selain itu, kedua seniwati bersama kurator mengeksplorasi pengolahan dan pemajangan karya yang digelar di Kersan Art Studio pada tanggal 2 sampai 13 Januari 2015.

Tentang Gerimisungu

Gerimisungu Production adalah kelompok yang bergerak dalam kegiatan-kegiatan seni seperti mengorganisir pameran karya seni, proyek seni, dan mendukung kelompok seni dan/atau seniman individu. Gerimisungu Production percaya bahwa seni tidak dapat dipisahkan dari sektor-sektor lain kehidupan (sosial, ekonomi, politik, budaya, spiritual, dan sebagainya). Tanpa melupakan pentingnya proses dalam menciptakan karya seni, seni yang memiliki muatan estetika adalah media untuk menyampaikan berbagai hal. Melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan seni; ruang-ruang berbagi, belajar, bekerja, dan berkarya kreatif yang melibatkan para seniman, para narasumber, dan masyarakat dapat berlangsung.

Kontak :
Gerimisungu Production
Keloran IV, RT 05, Tirtonirmolo
Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta
Indonesia 55181
+62 274 9117696
E: gerimisungu@gmail.com
www.Gerimisungu.com

—————————————————

Kersan Art Studio
Jl. AS. Samawaat No 154 Dusun II Kersan
RT 06 / RW 05
Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul
Yogyakarta – INDONESIA

www.kersanartstudio.com
+62 274 – 4398179
+62 81 392 868 300

FESTIVAL FILM PELAJAR JOGJA 2014

FFPJ5_Pamflet_Fix(1)

Festival yang merupakan penyelenggaraan tahun ke-5 ini akan dibuka dengan penampilan grup band Simponi. Simponi merupakan nama lain dari Sindikat Musik Penghuni Bumi yang berbasis di Jakarta dan diinisiasi oleh aktivis sosial dan hak asasi manusia, seniman dan aktivis lainnya yang memiliki perhatian terhadap isu-isu penting global dan menyuarakannya melalui musik. Beberapa kiprahnya adalah Juara I Sounds of Freedom 2014 di London-Inggris (lagu Sister in Danger), Juara II Fair Play Music Competition 2012 di Belgia/Brazil (lagu Vonis/Verdict), dan wakil Indonesia di Asia Pacific Environmental Youth Forum 2011 & 2012 di Korea Selatan. Sejak 2010 sampai sekarang terus melakukan serangkaian tour diskusi musikal bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisi Nasional Perempuan, Indonesia Corruption Watch (ICW), dll di Jawa, Bali & Sumatera. Tahun ini Simponi melakukan Bung Hatta Tour, yaitu sebuah diskusi musikal anti-korupsi di 11 universitas, 11 kota dan dalam rangka 11 tahun Hari Anti Korupsi Internasional.

(lebih…)

Bincang-bincang Sastra Edisi 110 Memandang Negara Lewat Panggung Srandul

B2xOIP0CAAEr5A5.jpg large

 

Apa jadinya jika karya sastra berupa geguritan dirangkai dalam sebuah pertunjukan drama tari Srandul? Apalagi tema yang di angkat mengenai persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia saat ini. Inilah yang akan dihadirkan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Radio Buku, Paguyuban Srandhul Suketeki, dan Sanggar Anak Bagaskara UNY dalam Bincang-bincang Sastra edisi 110. Acara tersebut sedianya akan berlangsung pada Sabtu (22/11) pukul 20.00 WIB. di Amphi Teater Taman Budaya Yogyakarta. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan