-->

Arsip Ruang Toggle

Secret Annex: Menyimak "Bisikan" Anne

Oleh: Brigitta Isworo Laksmi

”Suatu hari perang yang mengerikan ini akan berakhir. Akan tiba saatnya ketika kita kembali menjadi manusia dan bukan hanya menjadi Yahudi! Kita tidak akan bisa hanya menjadi orang Belanda, atau hanya menjadi orang Inggris, atau apa pun, tetapi kita akan juga menjadi orang Yahudi. Dan saat itu, kita ingin menjadi.”

Kutipan dari buku harian Anne Frank yang dituliskannya pada 9 April 1944 itu—sekitar empat bulan sebelum dia dan semua penghuni Secret Annex ditangkap tentara Nazi—tanpa basa- basi langsung memerangkap mata saat kita memasuki ruang pertama dari Anne Frank House—museum dari bekas tempat persembunyian keluarga Otto Frank.

Sabtu tengah hari itu, gerimis mengguyur Amsterdam, Belanda. Suasana kota terasa muram. Hari itu tepat sehari sebelum ulang tahun Anne Frank yang ke-82 apabila dia masih hidup. Antrean untuk masuk ke rumah di sudut jalan itu mengular sekitar 17 meter. Setelah lebih dari setengah jam mengantre, kami akhirnya masuk ke bangunan di Prinsengracht 263, Amsterdam, yang diresmikan tahun 1960 itu.

Menapaki ruang-ruang sempit di lantai dua, yang berujung pada lantai tiga bangunan tambahan (annex) di belakang bangunan, adalah menapaki sejarah kekejian umat manusia. Ada yang terasa mengerut di dada saat membayangkan bagaimana mereka yang bersembunyi di Secret Annex harus selalu “berbisik” dan berjalan berjingkat agar para pekerja kantor di lantai di bawahnya tak mengetahui keberadaan mereka di loteng itu.

”Kami harus berbisik dan melangkah pelan-pelan pada siang hari, kalau tidak orang-orang di gudang akan mendengar kami,” tulis Anne Frank pada 11 Juli 1942. Kutipan ini pun terpampang di dinding. Kalimat itu terasa mencengkam, menyiratkan rasa ketakutan yang pekat. Setiap hari setelah pukul 07.30, Otto Frank harus di ruang keluarga. Tak boleh ada air mengucur, tidak boleh berjalan-jalan, tidak boleh mengguyur toilet, atau suara apa pun. Senyap. Ini dituliskan Anne Frank, 6 Agustus 1943.

Otto Frank, ayah Anne, membawa keluarganya yang terdiri dari istrinya, Edith Frank-Holländer; dan anak-anaknya, Margot yang lahir tahun 1926 dan Anne hijrah ke Belanda tahun 1933 setelah pada Januari 1933 Hitler naik ke puncak pimpinan melalui kemenangan Partai Pekerja Sosialis Nasional Jerman (NSDAP) yang anti-Yahudi.

”Dunia di sekitarku runtuh … aku harus menanggung akibatnya dan meskipun ini teramat dalam melukaiku, aku menyadari Jerman bukan duniaku dan aku meninggalkannya untuk selamanya,” demikian Otto Frank seperti dikutip dalam a History for Today Anne Frank yang diterbitkan Anne Frank House.

Otto Frank kemudian memiliki dua perusahaan, yang pertama Opekta—yang menjual bahan pembuat selai, dan yang kedua Pectacon yang berubah menjadi Gies & Co yang memproduksi bumbu daging. Secret Annex yang kemudian menjadi tempat persembunyian Otto dan keluarga serta teman-temannya dibangun di atas kantor perusahaan tersebut.

Minggu yang menentukan

Hari itu hari Minggu, 5 Juli 1942. Pukul 3 siang. Seorang polisi mengetuk pintu rumah. Edith Frank membukakan pintu dan menerima selembar kartu. Isi kartu: Margot Frank harus melaporkan diri ke SS (SchutzStaffel) atau Nazi Jerman.

Otto tidak mengulur waktu. Senin 6 Juli 1942 keluarga Otto Frank mulai bersembunyi di loteng bangunan tambahan di belakang—bagian ini kemudian disebut sebagai Secret Annex. Bersama mereka juga bersembunyi Hermann van Pels dan Auguste van Pels bersama anak mereka, Peter dan Fritz Pfeffer.

Kehidupan mereka di Belanda sudah mulai sulit sejak 1940 ketika pasukan Jerman masuk ke Belanda. Kebebasan kaum Yahudi mulai dibatasi. Yahudi harus menyematkan bintang kuning (besar), Yahudi harus menyerahkan sepedanya ke pemerintah, Yahudi dilarang berada di jalan raya, Yahudi dilarang mengunjungi kaum Kristen, Yahudi bersekolah di sekolah Yahudi, dan banyak pembatasan lainnya. Maka orang Yahudi tidak melakukan ini dan dilarang berbuat itu. Anne Frank menuliskan itu pada buku hariannya, tertanggal 20 Juni 1940.

Kecemasan, kegembiraan kecil, dan permenungan Anne Frank tersaji nyata dalam lorong-lorong sempit ruangan-ruangan di Secret Annex yang warna dindingnya dominan kuning telur. Sayang bahwa tak ada lagi perabot dalam ruang-ruang itu karena bangunan tersebut sebenarnya sudah nyaris dihancurkan.

Anne Frank yang berwatak periang, tetapi sekaligus perasa itu berusaha mempertahankan kegembiraannya dengan memasang gambar-gambar bintang film dan juga tokoh kerajaan seperti keluarga Kerajaan Belanda, putri Elizabeth dan Margaret dari Kerajaan Inggris. Dia mengguntingnya dari majalah film yang didapatnya dari Victor Kugler. Kugler menjabat direktur pada perusahaan Otto karena ketika itu orang Yahudi dilarang memiliki usaha.

Mereka dibantu oleh karyawan kantor yang menyuplai makanan, surat kabar, dan majalah. Miep Gies bertutur dalam suatu wawancara, ”Otto menarik napas dan bertanya, ’Miep kamu mau bertanggung jawab menjaga kami saat kami bersembunyi?’ ’Tentu,’ jawab saya. Saya bukan pahlawan. Tidak ada yang istimewa tentang diri saya. Saya hanya melakukan apa yang diminta dari saya dan tampaknya hal itu perlu pada waktu itu.” Meski bersembunyi, Otto masih memberi konsultasi soal usahanya, Pada malam hari, Margot dan Anne kadang-kadang membantu beberapa pekerjaan kantor.

Rasa cemas, ketakutan, kegembiraan yang muncul dari kejadian-kejadian kecil, semua terekam di lorong-lorong sempit dan ruang-ruang muram Secret Annex. Dan rangkaian kengerian yang tertahan itu berakhir ketika mereka semua ditangkap Nazi pada 4 Agustus 1944, tiga hari setelah terakhir kali Anne Frank menulis di buku hariannya. Dan kisah Anne Frank berakhir ketika dia diketahui meninggal di Bergen-Belsen, Jerman, Maret 1945, akibat tifus, hanya beberapa hari setelah Margot meninggal dunia. Kisah Anne berakhir…, kaki menapaki lorong Secret Annex ke pintu keluar. Di luar, sore itu Amsterdam masih disaput mendung.

Kisah Secret Annex adalah ”kisah Anne Frank” yang dia tuturkan kepada Kitty—buku harian pertamanya ini. Pada 29 Maret 1942 Anne Frank mendengar pengumuman dari radio Inggris bahwa seusai perang semua buku harian akan dikumpulkan. Dan, dia pun mulai mengedit buku hariannya. Buku hariannya kemudian disimpan Miep Gies yang kemudian memberikannya kepada Otto Frank—satu-satunya yang selamat dari Nazi dari delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex. Kisah perjuangan melawan ketakutan di Secret Annex ini telah menyentuh jutaan manusia. Buku Anne Frank edisi definitif adalah hasil penyusunan yang kelima kalinya dan sudah menyebar di 65 negara.

Sumber: Kompas, 25 Agustus 2011

Foto: http://jeffwerner.ca

Balai Bacaan Srigunting Jogja

Sri GuntingPada musim hujan tahun 2008 Balai Bacaan Srigunting dibuka di Jogja, masih dengan sisa 2 lubang bocor di atapnya, setelah bertahun-tahun disiapkan puluhan orang muda, silih-berganti.

Yang Muda yang Bergerak

Bermula datang menuntut ilmu di Jogja orang-orang muda dari berbagai sudut kepulauan: dari dataran tinggi Gayo, Lampung, Bumi Cendrawasih, Pulai Bali, Pulau Samosir, tepian Sungai Musi/Brantas/Bengawan Solo, dari Bekasi ….. , dan alat apa yang memungkinkannya berjumpa? Bukan handphone / internet / laptop, bukan pula skor TOEFL, apalagi mie instan, melainkan pertama dan terutama: Bahasa Indonesia. Bahasa yang di masa Chairil Anwar mendapatkan harga dirinya, yang liar, bertenaga. Bahasa yang di tangan penulis seperti Siti Soendari makin menegaskan Jaman Bergerak hampir seabad silam.

Bahasa yang sejak dasawarsa 1970 jinak di alam pembangunan, dan hingga kini terus didera jakartanisasi resmi maupun gaul. Padahal sampai kapanpun, di aras kebahasaan-lah ingatan berada. Untuk menggerakkan ingatan kepulauan melalui bahasa itulah Srigunting ada.

Bacaan seperti apakah yang ada di Srigunting?

Yang utama adalah bacaan riwayat hidup. Riwayat siapa? Dari Kusni Kasdut sampai Okky Asokawati; dari Gus Dur sampai Gusmao; dari Ajengan di Cipasung ke Frans Asisi, dst. Kemudian cerita sastra maupun bukan. Ketiga, bacaan dari ilmu sosial dan sejarah.

Isi Srigunting bermula dari segelintir buku milik sepasang guru sejarah SMA di Semarang 50-an tahun silam. Bagian terbesarnya lalu bertambah selama dasawarsa 1990-an, bukan buku baru dari toko melainkan darikios buku bekas/lama, baik di kota-kota tanah Jawa, atau di Pantai Kuta, Bali, di Makassar, hingga ke kios-kios buku Titi Gantung di seberang Stasiun Kota Medan.

Babak berikutnya datang sumbangan/hibah dari para sahabat sekeprihatinan dan simpatisan (seperti Indonesia Tera di Magelang, LKiS -Lembaga Kajian Islam dan Sosial- di Jogja, media Talitakum dan Yayasan Haburas di Dili Timor Leste. Yang lain lagi menitipkan buku-bukunya di Srigunting. “Daripada dibaca sendiri di rumah”, ujar Transpiosa dari Surabaya dan Sashri dari Jalan Godean. Secara berkala sejumlah rekan mengirim bahan kliping dari Medan & Banda Aceh, melanjutkan rintisan mendiang Simon Doloksaribu; sebagaimana Eddy dkk. melakukan hal yang sama dari pedalaman Kalimantan.

Yang Terbuka

Selaku sayap usaha dari Nandan Institute of Art Studies (N.I.A.S), bacaan di Srigunting bisa dimanfaatkan berbagai kalangan, seperti:

a. mahasiswa yang sedang mencari bahan skripsi/tesis/tugas kuliah.

b. Para guru/dosen yang dalam himpitan beban keadministrasian dari diknas jelas perlu lebih berwawasan sehingga tak ketinggalan dari murid/mahasiswanya.

c. (terakhir dan terutama) orang-orang muda yang bekerja/belajar berkesenian, seperti penulis cerita, perupa, pemotret, pembuat lagu, pekerja kriya, pemain teater, dll; syukur-syukur suatu wawasan kesejahrahan bisa membantu keluar dari kebiasaan berkesenian berdasar stereotip dan pandangan kasat mata tentang manusia & lingkungannya.

Ringkas cerita, sekecil apapun Srigunting terbuka untuk siapa saja yang hendak membuka wawasan tentang riwayat Nusantara dan masyarakatnya, kenal dengan gejolak kejiwaan orang-orang sekepulauannya, menjadikan abad 20 dan sebelumnya sebagai kitab terbuka tentang kehidupan.

Bacaan dapat dipinjam dengan biaya antara Rp. 500 hingga Rp. 5000. Perolehan dana dari peminjaman bacaan ini digunakan sebagai subsidi silang untuk kegiatan workshop penulisan di NIAS yang sudah berjalan sejak tahun 2000 beserta penerbitan periodikalnya.

Yang Khas

1. Buku dan kliping biografi, kisah perjalanan serta wawancara aneka rupa sosok manusia di Indonesia maupun tanah seberang, baik pahlawan dan tokoh maupun orang-orang biasa/jalanan

2. Buku-buku cerita, ilmu sosial dan kesejarahan, terbitan sebelum tahun 2000 yang sudah tidak ada lagi di toko buku, seperti terbitan LP3ES, Bhratara, YOI, Jendela, Gunung Agung, Grafiti, Pustaka Jaya, dll.

3. Kliping:

a. Tema wiraswasta & aneka kisah home industry/perjuangan manusia berswadaya.

b. cerita pendek dari aneka media cetak sejak 1950-an hingga 50 tahun berikutnya.

c. Tema urban culture di Kepulauan Indonesia, dari Pulau Papua ke Pulau Sumatera.

4. Koleksi majalah:

a. Inside Sumatera

b. Kalimantan Review

c. Citra Yogya edisi 1980-an

d. Latitude Denpasar

e. BASIS edisi 1950-an s/d 1970-an

f. Horison edisi 1970-an s/d 1980

g. Jurnal Prisma

h. TEMPO edisi 1970-an s/d 1994

i. MKB (media kerja budaya)

j. Jakarta! (semasa editorial Dan Ziv)

k. National Geo. Indonesia

l. Komik Asterix, Tintin, Lucky Luke

m. Ekonomi: SWA, Warta Ekonomi, CAKRAM, dll.

Aturan Main

a. Fotokopi kartu identitas yang masih berlaku. Untuk mahasiswa, fotokopi kartu mahasiswa.

b. Sumbangan Rp. 10.000 untuk masa 1 tahun. Untuk mahasiswa S2/S3, Rp. 25.000.

c. Maksimal 7 buku sekali pinjam, paling lama 7 hari dan bisa diperpanjang 1 kali.

Jam Buka

Hari Senin s/d Jum’at

Jam 11.00 sampai 15.00

Hari Sabtu, Minggu dan hari libur, tutup

Alamat

Nandan No. 4A, RT 01/RW 38

(barat lapangan SMP Karitas)

Jl. Monjali Km 5, Sariharjo, Sleman, Jogja

[*] Petunjuk lokasi:

Dari perempatan Ring Road utara – Monjali ke selatan 100 meter, samping rumah makan Tenpura jalan konblok ke barat 300 meter sampai depan SMP Karitas jalan aspal 100 meter lagi ke barat

*) Disalin dari leaflet Balai Bacaan Srigunting Jogja

Perpustakaan Batu Api

10931361244496m

Sebagai seorang penulis, saya ‘berutang budi’ pada semua toko buku dan perpustakaan yang telah saya datangi sepanjang hidup saya – terutama toko-toko buku bekas yang bukunya bisa disewa per minggu dengan harga murah, semacam test drive buku.

Minggu lalu di Bandung, saya menjumpai tempat semacam itu, yang dikelola oleh Anton Solihin, seorang lulusan Sejarah dari Universitas Padjajaran yang pendiam dan bersuara halus.

Didorong oleh rasa cintanya – yang tampak tidak lazim di zaman sekarang – terhadap kata-kata, serta kepercayaannya akan kekuatan moral dan kuratif dari seni dan gagasan, Pak Anton yang berusia 41 telah menyulap ruangan depan rumahnya menjadi semacam tempat untuk publik.

Ini merupakan proyek sederhana, unik, tapi juga ambisius – seperti ‘mempertemukan’ Aristoteles dengan Marx, dalam upayanya membawa seni, sejarah dan filsafat untuk dinikmati banyak orang.

Namanya adalah Perpustakaan Batu Api, terletak di sebuah jalan yang ramai di Jatinangor, Bandung – tidak jauh dari almamater Pak Anton, Universitas Padjajaran.

Teras Perpustakaan Batu Api di depan rumah Pak Anton berubin keramik. Ada beberapa kursi rotan yang sudah tampak tua, juga poster-poster promosi festival film asing dan pemutaran film khusus tertempel rapi di dinding.
Filmnya macam-macam: film Perancis, film Indonesia tahun 60-an, dan film Iran.

Di dalam, di ruang yang tampak seperti ruang tamu- ada dua kamar yang penuh terisi buku, dari lantai hingga langit-langit. Sekilas, buku-buku ini seperti diatur asal-asalan. Tapi bila diperhatikan, ternyata ada nama-nama kategori yang ditempel dengan rapi di rak-raknya: India, Arab, Perancis dan Latin.

Tentu saja buku-buku yang tersusun ini adalah terjemahan bahasa Indonesia dari novel-novel karya pengarang-pengarang besar seperti Naipaul, Orhan Pamuk dan Amin Maalouf.

Buku-buku favorit Pak Anton diberi tanda. Seperti yang kita duga, dia adalah pengagum almarhum Pramoedya Ananta Toer – yang buku-bukunya sering dipinjam orang dengan teratur dari perpustakaan ini.

Novelis dan kolumnis Umar Khayyam adalah satu lagi pengarang favoritnya – terutama buku hikayat keluarga, Para Priyayi.

Perpustakaan ini didirikan dan dibiayai sendiri oleh Pak Anton. Pertama kali dibuka pada 1999, Pak Anton mencita-citakan tempat ini menjadi tempat beristirahat dan berkontemplasi bagi para mahasiswa di sekitarnya, juga bagi para pekerja pabrik garmen dan tekstil yang begitu banyak di lingkungan itu.

Pak Anton menjelaskan bahwa penduduk di lingkungan itu (termasuk para mahasiswa) tidak memiliki minat baca yang besar. Tapi dia tetap berhasil mengumpulkan lebih dari 5.500 anggota perpustakaan dan 8000 buku, sejumlah CD dan majalah-majalah untuk disewakan. Sekali pinjam, tiap buku hanya dikenakan biaya Rp 3.000,- untuk seminggu, dan biasanya 30 pengunjung meminjam dua buku sekaligus dalam sekali pinjam – jadi rata-rata 60 buku sehari.

Sebagai orang yang mengaku ‘agen perubahan’, Pak Anton mengorganisir banyak event: pembacaan buku, diskusi dan pemutaran film – termasuk yang dia adakan untuk saya di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

“Kami mengadakan banyak acara di lingkungan ini. Kami suka menantang asumsi dan membuat orang berpikir. Diskusi Anda itu pertama kalinya yang pernah kami adakan di IPDN. Kami ingin melihat responnya,” kata Pak Anton pelan.

Dia memang orang pemikir dan suka membaca: sepertinya tidak ada kata ‘heboh’ di DNA-nya.

Dia menambahkan: “Kami punya komunitas pembaca yang kecil tapi hidup di Jatinangor – termasuk beberapa pekerja pabrik Kahatex.”

Koleksi buku di perpustakaan ini begitu beragam, sampai kadang membuat bingung. Ada setumpuk map berisi potongan kliping koran, majalah Tempo dari tahun 80an dan 90-an hingga CD film-film luar negeri. Ini karena Pak Anton begitu memperhatikan koleksinya secara pribadi.

Dia tersenyum sambil menunjuk sebuah rak di sisi kirinya, dan berkata, “Ini buku-buku ‘kiri’ saya – dalam arti sebenarnya, karena memang adanya di sebelah kiri saya.”

Dia menunjukkan beberapa naskah pidato dan pamflet yang sudah kusam dari era Soekarno: Berdiri Diatas Kaki Sendiri, Penemuan Kembali Revolusi Kita dan Celaka Negara yg Tidak Bertuhan – kumpulan deklarasi kemerdekaan penuh semangat, yang diwarnai emosi dan gairah tinggi dari masa-masa itu.

Dalam era Twitter dan SMS, usaha Pak Anton ini mengingatkan kita akan masih adanya eksistensi yang terpenuhi dan juga memenuhi – eksistensi dalam kata-kata, musik, puisi dan gagasan – semuanya ada di sebuah ruang tamu sebuah rumah yang letaknya agak keluar dari Bandung, menunggu siapa saja yang mau meraihnya, hanya dengan Rp3.000. [mor]

Sumber: Portal berita Inilah.com, 14 Juni 2011

***

Baca juga:

Perpustakaan Batu Api yang Menebar Api

Perpustakaan Batu Api, sewakan buku dan film pergerakan

Wetick.com, Perpustakaan Online asal Kota Bandung

1

Dunia buku adalah salah satu segmen yang cukup besar, baik dari segi bisnis namun jumlah peminat, meski industri buku disini masih jauh dari cukup (dilihat dari perbandingan jumlah penduduk dan jumlah terbitannya rata-rata sekitar 7.000 judul pertahun) namun jika melihat langsung di lapangan, minat baca kita tidak bisa dibilang rendah.

Layanan berbasis internet yang ingin menjembatani antara perkembangan teknologi khususnya internet dengan penerbitan (cetak) juga terus bermunculan, baik itu buku berbasis teks atau bergambar seperti buku fotografi atau komik. Ada juga yang mengambil jalan untuk menjembatani proses pinjam-meminjam buku dan barang cetak, salah satunya adalah Wetick.com.

Proses pinjam-meminjam buku di Indonesia cukup populer, mulai dari taman bacaan sampai dengan perpustakaan selalu ada di setiap kota, meski untuk jumlah, lagi-lagi masih kurang. Perilaku masyarakat yang enggan membeli namun lebih memilih meminjam – meski sama-sama mengeluarkan uang juga menjadi salah satu peluang yang ingin diambil oleh layanan seperti Wetick.

2

Wetick, seperti yang tertera di situs mereka adalah perpustakaan online yang menyediakan berbagai buku, majalah, komik dalam bentuk fisik dari bermacam-macam kategori untuk bisa dipinjam oleh para penggunanya. Untuk meminjam Anda harus mendaftarkan diri di situs mereka dengan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 30.000 dan memilih dan membayar biaya paket keanggotaan yang terdiri dari paket Reguler, paket Express dan paket Unlimited. Ketika paket ini berbeda biaya dan kelengkapan fasilitasnya.

Setidaknya ada 3 pilihan bacaan, mulai dari buku (novel dan non-fiksi), majalah, dan komik. Untuk non-fiksi ada berbagai kategori mulai dari bisnis dan ekonomi, sosial politik sastra dan sebagainya.

Terus terang alur dari situs ini agak membingungkan, bahkan proses pembayaran juga membuat saya ragu untuk mentransfer uang karena tidak ada keterangan khusus yang menjelaskan tentang keterangan dan alamat transfer, saya hanya menemukan di pilihan paket keanggotaan itu pun tidak mencantumkan keterangan alamat pembayaran. Satu-satunya keterangan rekening ada di menu cara mendaftar Wetick, yang sepertinya lebih mirip contoh dari pada nomor rekening resmi.

3

Tampilan situsnya pun terlalu sederhana dan kurang menarik. Jumlah koleksi juga tidak terlalu banyak, meski beberapa buku populer saya lihat ada di rak buku. Masalah pengembalian buku juga sepetinya masih memiliki celah untuk terjadinya ketidaklancaran proses pinjam-meminjam. Memang Wetick telah memberikan penjelasan cukup panjang, termasuk peraturan tidak boleh meminjam jika masih ada buku yang dipinjam sesuai kuota. Yang paling menarik bagi pengguna mungkin adalah fasilitas pengembalian buku (pengiriman) yang akan ditanggung oleh Wetick, meski prosesnya kurang nyaman, misalnya saja Anda tidak boleh menghilangkan slip pengiriman dan hanya menggunakan jasa pengiriman JNE.

Dari beberapa hasil jelajah informasi, Wetick sepertinya merupakan bagian dari I3M, sebuah lembaga kemahasiswaan dari ITB, kantor operasional mereka juga masih ‘menumpang’ di asrama bumi ganesha. Wetick didirikan sejak Desember 2010.

Meski tidak muncul keterangan beta atau semacamnya di situs mereka, namun saya pikir masih banyak pengembangan yang bisa dilakukan Wetick. Seperti yang sering saya sebutkan, saya sendiri selalu tertarik dengan cara-cara baru atau pengembangan dari yang sudah ada yang membawa layanan yang berhubungan dengan buku dengan pemanfaatan internet.

Memang tidak semua cara-cara ini bisa berhasil, apalagi proses pinjam-meminjam buku-majalah-komik juga sering kali ‘tidak disukai’ oleh penerbit karena pengguna tidak membeli buku mereka tetapi meminjam. Salah satu yang bisa dikembangkan Wetick menurut saya dalah pendekatan lokal, misalnya selain menambah koleksi, proses pinjam-meminjam mereka dilakukan secara lokal terlebih dahulu (sambil mempelajari minat pengguna) atau minimal antar area/kota yang tidak terlalu luas, setelah berjalan lancar kemudian terus mengembangkan ke wilayah yang lebih luas.

Elemen sosial, termasuk sharing option, review juga bisa ditambahkan, atau jika memungkinkan mereka bisa bekerja sama dengan toko buku online atau penerbit untuk meminjamkan buku sebagai bentuk promosi atau menggunakan buku yang sudah masuk gudang.

Itu pendapat saya atas layanan Wetick, bagaimana dengan Anda?

Sumber: Blog DailySocial.net, 10 Juni 2011

Rumah Baca Sampoerno

sampoerno1Urunan demi Wujudkan Mimpi Anak Desa yang Cerdas

Menumbuhkan minat baca pada anak memang tak mudah, apalagi di pedesaan.Namun sejumlah relawan di Rumah Baca Sampoerno,Dusun Tameng, Desa Padi,Kecamatan Gondang,Kabupaten Mojokerto, mencoba mengubahnya.

Rumah yang menghadap ke jalan raya itu berbeda dengan rumah lain di sekitarnya. Rumah itu lebih ramai, dijelali puluhan anak di teras samping rumah.Riuh,gelak tawa mewarnai rumah yang penuh dengan hiasan bermakna edukasi itu. Di tembok rumah,dipenuhi dengan stiker,spanduk,poster yang merupakan hasil karya seni anak desa setempat.Meneguhkan jika rumah ini adalah rumah anak-anak. Berderet alat bermain ”mendidik” hingga halaman rumah, semakin menambah rasa kental jika rumah tersebut bukan rumah hunian. Sekitar 40 anak-anak ini sedang asyik menyaksikan pentas Panggung Boneka Kardus.

Uniknya,mulai dari pemain,pemeran,dalang dan sutradara pementasannya adalah dari mereka sendiri, yang rata-rata masih duduk di TK dan SD.Cerita demi cerita sederhana menghiasi suasana siang yang panas,kemarin. Cerita berdurasi pendek mereka mainkan di dari dakam kotak kardus berukuran besar.Tokoh-tokoh dalam cerita itu mereka buat dari kardus pula,yang sebelumnya digambar dengan bentuk tokoh masing-masing.Mereka peragakan cerita itu bak sebuah pagelaran wayang kulit. Tak hanya menyajikan cerita, mereka juga berebut mendapatkan hadiah dari kategori cerita terbaik.

Pementasan Panggung Boneka Kardus,adalah salah satu media yang digunakan Rumah Baca Sampoerno untuk membentuk rasa percaya diri (self confident) anak.Maklum,biasanya anak memang cenderung pemalu jika harus berbicara atau tampil di muka umum.”Agar mereka punya kepercayaan diri dan tak takut jika berbicara di depan banyak orang,” ujar Triani Candra,pengelola Rumah Baca Sampoerno. Rumah Baca Sampoerno sendiri berdiri sejak tiga tahun silam.Berbekal rumah warisan dari Kolonel Sampoerno, kakek Candra,rumah itu sengaja dibuat untuk memberikan pendidikan di luar sekolah bagi anak-anak warga sekitar.

Tak hanya bermain, rumah ini menyajikan ratusan buku yang bisa dibaca secara gratis.”Ada sekitar 700 judul,” ungkap Candra. Buku-buku itu diantaranya adalah komik,ensiklopedi, dan cerita bergambar yang biasa disukai anak-anak. Dengan cara demikian papar Candra,anak-anak akan bisa lebih enjoyuntuk membiasakan diri membaca.Karena dengan gemar membaca,anak akan memiliki pondasi dasar untuk menjadi pintar.”Target kami,membaca adalah ”makanan” bagi anak-anak,” tukasnya. Dalam keseharian,rumah baca ini memang tak pernah sepi dari kunjungan anakanak desa.Rumah itu seakan menjadi tempat bermain sekaligus belajar bersama tanpa biaya.

Alhasil,kini sudah ada sekitar 35 anak yang tercatat menjadi anak didik Rumah Baca Sampoerno.” Hanya empat orang yang menjadi relawan di sini,”ujar gadis berumur 24 tahun yang sehari-hari menjadi guru di SDN Kemiri II,Kecamatan Pacet ini. Mengelola rumah baca seperti ini memang tak mudah dilakukan.Terutama jika melihat biaya operasional dalam keseharian dan menambah buku serta sarana bermain anak.Sejauh ini memang,pengelola tak membebankan biaya kepada para anak didiknya.”Kita (pengelola) harus urunan.

Karena jika dibebankan biaya,para orang tua pasti keberatan,”tukasnya. Upaya Rumah Baca Sampoerno untuk mendidik anak agar percaya diri dan gemar membaca rupanya cukup efektif.Terbukti dari salah satu anak didiknya, Afit Rahma Dianita, 8,yang sudah mulai tak canggung saat bercerita di depan teman-temannya.Bahkan, siswi kelas 2 SD ini sudah mampu membuat naskah sebuah cerita pendek

*) Sindo, 25 Mei 2011, Foto:Koleksi Jabbar Abdullah

Perpustakaan Radio SS Media

1Ruangannya mungil saja, seukuran ruang tamu keluarga. Lokasinya tepat , di pucuk bukit Wonokitri. Alamat lengkapnya Jl. Wonokitri Besar 40 C Surabaya. Perpustakaan khusus milik radio Suara Surabaya(SS) ini menyimpan koleksi buku-buku jurnalisme yang cukup lengkap.

Menurut Novri Chitrawidya, pustakawan yang menjagai ruang buku ini sejak 2007, dulu awalnya Radio SS ini hanya sebuah sudut baca yang diperuntukkan bagi karyawan. Melihat buku-buku koleksi semakin bertambah, Novri kemudian mengusulkan untuk berpindah ruangan. Maka sejak 2009 ruangan Departemen Riset di lantai 2 kantor Radio SS itu menjadi rumah baru bagi buku-bukunya.

Buku-buku itu dahulunya adalah koleksi pribadi pemilik radio SS, juga hadiah dari para pendengar dan kolega SS. Sebagai sebuah perpustakaan yang dibidani sebuah radio, koleksi perpustakaan SS cukup lengkap menyediakan buku-buku seputar jurnalisme.

“Biasanya buku-buku itu digunakan karyawan SS yang membutuhkan referensi untuk menyelesaikan tugas dan memperdalam pengetahuan jurnalistiknya,” terang Novri.

Bukan hanya jurnalisme, koleksi bukunya juga dilengkapi dengan buku-buku pengetahuan umum, sastra, biografi, majalah,  dan surat kabar. Yang paling menarik adalah koleksi rekaman audio dari siaran-siaran SS. Rak penyimpanannya sampai menyentuh langit-langit perpustakaan.

“Sayang banyak koleksi lama yang dibuang dan belum sempat didigitalisasikan dalam bentuk CD,” keluh Novri menyesali terbuangnya beberapa rekaman siaran dari server komputer radi SS beberapa tahun lalu.

Bahkan perpustakaan ini memiliki koleksi buku-buku mengenai kota Surabaya yang representatif untuk merekam jejak kota. Sebuah tugas yang abai dilakukan banyak perpustakaan kota milik pemerintah. Disana dapat dijumpai Street Atlas surabaya (Periplus), 24 Hours in Citra Raya, Cak Narto Peduli Wong Cilik, biografi  Puruhito, Kembar Siam di RS Karang Menjangan, Perencanaan Pelestarian Benda Cagar Budaya, Kali Surabaya Sudah Mati, Ekonomi Surabaya pada Masa Kolonial, The Sampoerna Legacy:A Family Business History, dan sebagainya.

Perpustakaan radio SS yang buka mulai pukul 10.00 hingga 22.)) WIB ini dikhususkan bagi karyawan SS. Tapi bagi masyarakat umum yang ingin mengaksesnya untuk kebutuhan penelitian bisa menghubungi Mbak Novri di Telp. (031) 5683040, Fax. (031) 5683733 (DS)

Buku-buku Romeo dari Pontianak

Hingga angka 0880, saya baru mencatat dua entri untuk nama penerbit “Romeo Grafika” dalam buku inventarisasi koleksi perpustakaan tempat saya bekerja. Selebihnya, daftar tersebut didominasi oleh penerbit-penerbit dengan gelar Pustaka Utama, Yayasan Obor Indonesia, Tiara Wacana, LP3ES, dan penerbit-penerbit seputaran Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Kalaupun ada nama-nama penerbit di luar segi tiga kota itu, buku-buku “penerbit lokal” yang saya catat pada umumnya adalah produk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, dan pemerintah daerah; lembaga-lembaga yang aktivitas pokoknya bukanlah sebagai produsen bacaan untuk umum.

Romeo Grafika, lengkapnya Romeo Grafika Pontianak (RGP). Dari namanya sudah terlacak lokasinya. Kalimantan dan beberapa kota di kawasan Indonesia Tengah, sepengetahuan saya sangat jarang tercantum sebagai alamat penerbit buku-buku yang pernah saya catat, kecuali Institut Dayakologi. Apalagi penerbit dari kawasan timur Indonesia, kecuali Ende Flores.

Dua buku terbitan RGP yang tercantum dalam daftar koleksi perpustakaan saya adalah: 1) Pontianak 1771-1900: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi; dan 2) Konflik Antarkomunitas Etnis di Sambas 1999. Suatu Tinjauan Sosial Budaya.

Merujuk pada makalah Henny Warsilah (2001) dalam Seminar Hasil Penelitian “Dunia Perbukuan dan Penerbitan di Luar Jawa” yang diselenggarakan oleh Ford Foundation dan Yayasan Adikarya IKAPI, perkembangan dunia penerbitan buku di daerah, terutama di luar Jawa, kurang berkembang dikarenakan beberapa kondisi. Beberapa temuan riset, Henny kelompokkan dalam kategori kondisi terkait faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat di daerah sebagai biang melempemnya penerbit lokal. Saya hanya mengutip tiga dari sepuluh fakta yang diajukan Henny, yakni:

1. Jumlah pengarang dan penulis di daerah masih terlalu sedikit, atau meski jumlah penulis banyak, hasil karya mereka sering ditulis dalam bentuk kumpulan puisi, prosa, cerpen, yang diterbitkan di koran-koran daerah, bukan dalam bentuk naskah buku.

2. Kebijakan ketat yang dilakukan pemerintah atau instansi untuk menyebarluaskan dokumen-dokumen penelitian yang baik dan penting.

3. Image toko buku sebagai toko peralatan sekolah dan kantor, bukan sebagai toko yang menjual hasil karya intelektual dan budayawan setempat. Akibatnya penulis harus memasarkan secara hand to hand, ini memperlihatkan tidak ada kerja sama antara penerbit, toko buku, dan pengarang.

Ada tujuh kota yang Henny jadikan lokasi penelitian, Pontianak adalah kota terakhir yang ia sambangi. Ketimbang Makassar dan Samarinda, Henny mencatat optimisme di Negeri Khatulistiwa ini. Karena di kota ini ada satu “Romeo” yang dimotori oleh seorang Haji bernama Sulaiman Ahmad. Haji Sulaiman punya peran besar dalam membangkitkan gairah intelektualitas dan perbukuan di Pontianak. Ia mendorong orang-orang yang potensial sebagai penulis (dosen dan budayawan) agar berkarya. Haji Sulaiman bahkan mengongkosi dosen-dosen yang melakukan penelitian untuk kemudian hasilnya ia terbitkan dan pasarkan.

Romeo Grafika Pontianak menjadi pabrik bahan-bahan bacaan bermuatan lokal. Cukup banyak judul buku bermuatan kajian sejarah dan budaya lokal diterbitkan oleh penerbit ini, antara lain:

1. Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Barat.
2. Kamus Bahasa Melayu Sambas.
3. Taman Nasional Danau Sentarum Lahan Basah Terunik di Dunia.
4. Sejarah Pemerintahan Kesultanan dan kota Pontianak.
5. Landak di Balik Nukilan Sejarah.
6. Peristiwa Mandor: Sebuah Tragedi dan Misteri Sejarah.
7. Susur Galur Kerajaan Landak: Sejarah Perkembangan Bekas Kerajaan Landak dari Pertumbuhan Tahun 1292 hingga Restrukturisasi dan Refungsionalisasi Budaya Tahun 2000.
8. Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat.
9. Syarif Abdurrahman Alkadri. Perspektif Sejarah Berdirinya Kota Pontianak.

Buku-buku bermuatan lokal itulah yang diangkut ke Library of Congress (LOC) di Amerika Serikat melalui kantor perwakilannya di Jakarta. Katalog online LOC memuat 30 judul buku RGP. National Library of Australia memiliki 18 judul.

Sementara, hasil penelusuran saya melalui katalog online Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) menampilkan keterangan “Data tidak ditemukan” untuk buku-buku terbitan RGP. Sedangkan Perpustakaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hanya memiliki satu judul koleksi buku keluaran RGP. Bahkan katalog online Perpustakaan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Kalimantan Barat hanya mencantumkan satu judul buku terbitan RGP. Itu pun bukan buku sejarah atau budaya, tapi buku manajemen sumber daya manusia.

Tidak mengherankan bukan bila ada ungkapan ironi bahwa orang Indonesia harus ke negeri orang untuk memahami negeri sendiri.

*) Ahmad Subhan, Pustakawan IRE Yogyakarta

Indie Book Corner

Indie Book CornerIndie Book Corner adalah sebuah proyek yang digawangi oleh Irwan Bajang bersama Anindra Saraswati. Di tengah ketidaksibukan menulis dan menyunting naskah, mereka menyempatkan untuk membantu penulis-penulis pemula yang ingin menerbitkan bukunya. Banyak buku yang ditolak penerbit major label, padahal belum tentu buku itu jelek dan tidak layak baca. Kebanyakan masalahanya terletak pada tinjaun pasar dan perhitungan untung rugi. “Indie Book Corner” lahir untuk menjawab tantangan itu dan memberi solusi.

Sudah saatnya, buku akan gampang diproduksi, meskipun dalam jumlah yang barangkali tak sebanyak produksi penerbit konvensional. Biarkan penulis mempublikasi bukunya dan pembaca menikmati apapun jenis buku tanpa harus kompromi dengan pasar.

Berikut ini adalah wawancara Irwan Bajang yang dikutip Indonesia Buku dari blog Salamatahari edisi “Berkas” dengan satu harapan bahwa menerbitkan buku itu mudah.

Halo Mas Irwan … cerita dikit, dong, tentang awal mula berdirinya “Indie Book Corner”

Hmmm … mulainya dari mana, ya? Dari ide dulu, ya. Awalnya tahun 2006 sebenernya. Waktu itu saya lagi rajin-rajinnya menulis puisi dan ingin menerbitkannya menjadi buku. Nah, karena saya baru aja beberapa bulan di Jogja, saya sama sekali buta bagaimana menerbitkan buku. Akhirnya saya browsing internet, cari di mbah google, dan ketemu beberapa kontak penerbit. Saya tawarkan buku puisi saya ke mereka. Kok gak ada yang respon ya? Jawaban mereka sih, konon buku puisi nggak laku. Ya sudahlah, akhirnya saya bikin aja sendiri.

Caranya?

Waktu itu saya punya komputer dan printer, serta seorang temen yang pinter desain. Materi puisinya saya layout sendiri, saya edit dan print. Lalu saya potong dan jilid. Jadilah ia buku, buku pertama saya yang saya kerjakan dari menulis sampai jadi berbentuk semacam buku. Itulah buku saya pertama yang memperkenalkan saya pada dunia “buku indie”. Judulnya: Sketsa Senja.

Jadi pas itu, ya, lahir Indie Book Corner?

Belum. Tahun 2008 saya punya naskah novel dan diterbitkan di sebuah penerbit di Jogja. Setelah itu sedikit demi sedikit saya ngintip proses penerbitan buku. Dari situ saya kenal apa itu editing, proof reader, bagaimana mengkonsep cover, ilustrasi dan model kerjasama dengan distributor. Akhirnya tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 saya bikinlah weblog Indie Book Corner (IBC) di www.indiebook.co.cc bersama Anindra Saraswati (Yayas) setelah sebelumnya mempraktekkan menerbitkan buku indie dengan beberapa teman dan sempat bekerja setahun di sebuah penerbitan di Jogja. Sejak itulah IBC resmi berdiri dan membuka layanan self publish ala buku indie. Saya mulai rajin mencari tahu percetakan yang murah dan bisa cetak sedikit. Bergerilya dari satu percetakan ke percetakan yang lain. Kebetulan juga waktu itu ada temen kos yang punya percetakan. Sekarang kita udah kerjasama dengan Quantum Printing dan punya percetakan sendiri. Cetak-mencetak sudah bukan masalah lagi bagi IBC!

Asoy! Jadi udah nerbitin buku apa aja, nih, dari taun 2009 itu?

Kami menerbitkan nyaris semua jenis buku. Naskah yang masuk ada naskah horror, komedi, cinta, novel religi, puisi perlawanan dan ada juga buku serius masalah ekonomi global, politik, bahkan tutorial dan text book bahasa Inggris.

Yang ngebedain IBC sama penerbit lainnya?

Sangat berbeda. Terutama dalam hal bagaimana memperlakukan naskah dan penulis. Di IBC semua penulis berhak menerbitkan buku. Semua naskah bisa terbit, dan tentu saja dalam jumlah terbatas, bahkan bisa dihitung jari. Pertama kali menerbitkan, kami hanya mencetak 10 eksemplar untuk satu judul. IBC tidak meberi royalti, tapi penulis menentukan royalti dari bukunya (kalau buknya dijual).

Sebenarnya Indie Book ini bukan penerbit, tapi lebih tepatnya sebuah “gerakan perbukuan/ gerakan buku indie”. Kami mengampanyekan bagaimana buku biar mudah diproduksi, diedarkan, dibaca dan diapresisi. Fokus kami bukan di industri perbukuan itu sendiri, tapi bagaimana menghadirkan sebuah “cara” menerbitkan alternatif, di tengah pusaran dunia perbukaun yang memang tak bisa terlepas dari “kapital”. Berbicara penerbitan konvensional atau penerbitan mayor, jelas tak bisa lepas dari bagaimana menimbang untung rugi, marketable atau tidak buku yang diterbitkan. Sebab menerbitkan 1000 atau 3000 buku jelas butuh dana yang tak sedikit dan tidak ada yang mau rugi. Nah Indie Book Corner coba keluar dari mainstream tersebut. Kami bukan saja melawan mitos 1000 atau 3000 buku sebagai standar jumlah minimal cetak buku, tapi kami memotong mitos menerbitkan buku itu susah dan berbiaya tinggi.

Indie Book berusaha memberi tahu, bagaimana cara menerbitkan buku. Jadi, kalau semua orang sudah tahu bagaimana cara menerbitkan buku, bisa jadi kelak IBC sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan kami akan bahagia sebab cita-cita kami terpenuhi: semua penulis bisa menerbitkan karyanya dalam bentuk buku.

Waduh, cita-citanya mulia sekali. Terus, nih, kalau ada temen yang mau nerbitin buku lewat IBC, syaratnya apa dan ngirim naskahnya ke mana?

Persaratannya cuma satu. Punya tulisan. Nggak ada yang lain. Lalu kirim ke kami di Pajeksan GT 1/727, Yogyakarta (untuk info lebih lengkap klik http://indiebook.co.cc/).

Nanti sistem promosi-distribusinya gimana?
Kita sudah kerjasama dengan distributor untuk persebaran buku se-Indonesai Raya. Tapi itu untuk buku yang dicetak 500 atau 1000 dan jumlah di atasnya. Kalau di bawah itu, kita titip di kafe, distro, warung makan dan pasarkan sendiri via internet.

Boleh diedit dan layout sendiri, nggak?
Kami menyediakan jasa editor, tapi kalau penulis punya temen editor bisa minta bantuan tuh dan nggak perlu pakai bantuan IBC. Naskah bisa diedit sendiri, bikin cover dan layout sendiri (atau sama tim penulis) nanti cetaknya kami bantu. Tapi sebisa mungkin buku harus diedit. Sebab bagaimana pun, penulis pasti punya kesalahan, minimal kesalahan ejaan atau istilah. Bahkan editor sekalipun pasti ada salahnya. Kami mau, buku jebolan IBC adalah buku dengan standar mutu yang tinggi, layaknya buku keluaran penerbitan besar.

Selama tahun 2010 kemarin apa yang menarik di perjalanan IBC?
Awal tahun seperti biasa wordpress.com mengirimi email untuk para pengguna blognya. Kebetulan blog IBC kan bernaung di wordpress tuh, nah mereka mengirimi kami statistik penilaian dan memberi ratting “WOW” untuk perkembangan blog kami. Pengunjungnya banyak, banyak yang bertanya dan banyak yang kami bantu. Senang sekali membantu banyak orang. Satu lagi, 2010 kami bisa menerbitkan lebih dari 30 judul, ini angka yang lumayan besar dan mengagetkan kami sendiri. Saya aja nggak sadar kalau kami sudah membantu menerbitkan buku penulis sebanyak itu.

Cihui, selamat, ya … terus apa target di taun 2011?
Targetnya adalah membantu semakin banyak penulis menerbitkan bukunya. Kalau bisa satu minggu satu naskah terbit. Jadi setahun kita nerbitkan 48 buku minimalnya.

Amin. Semoga tercapai. Terakhir, nih. Salamatahari minggu ini kan temanya “Berkas”. Apa yang ada di pikiran Mas Irwan pas denger kata “berkas” ?
Berkas itu kalau nggak salah artinya sekumpulan cahaya, atau bisa juga sekumpulan naskah atau surat. Hhhmmm. Berkas bisa jadi saya artikan sebagai sebuah kilatan ide. Kadang ada ide yang terlintas begitu saja, bagai seberkas cahaya yang tiba-tiba muncul. Nah, berkas ide itu perlu dicatat dan dikenang, siapa tahu nanti idenya bisa muncul lagi dan terwujud jadi kenyataan.

Widiiih … pas banget, dong, sama IBC. Nggak salah, nih, Dea milih Mas Irwan Bajang dan IBC buat penyalamatahari edisi pertama taun ini.
Kalau berkas yang kaitannya dengan naskah, surat atau kertas, saya jadi kepikiran banyak naskah numpuk di IBC dan saya butuh bantuan banyak orang menyelesaikannya.

Hahaha … ayo, Teman-teman, ada yang mau bantu, nggak, tuh …?
Seberkas harapan di dunia literasi bertumbuh bersama Indie Book Corner. Semoga kelak menjadi terang yang memberkati. Teman-teman, mari berkumpul membawa berkas, menjadi berkas, kemudian tumbuh menerbit …

Sundea

Komunitas Lubang Jarum Indonesia: Alkimia Jurnalisme Fotografi

Lubang Jarum2Penemuan teknologi fotografi adalah sebuah rangkaian cerita yang panjang dari gairah kebutuhan untuk bisa merekam gambar sepersis mungkin. Teknologi ini hadir sejak penulis Cina, Moti, pada abad ke-5 SM, Aristoteles pada abad ke-3 SM, ilmuwan Arab ibnu al Haitam atau Al Hazen pada abad ke-10 M, Gemma Frisius, tahun 1554, hingga teknologi digital yang paling mutakhir.

Dan di Indonesia, tahun 1997, saat penggunaan teknologi digital mulai marak, sekelompok fotografer seperti Ray Bachtiar Dradjat dilanda resah. Mereka bukan antidigital. Tapi, pendidikan fotografi Indonesia akan kehilangan satu elemen penting dari fotografi: proses alkimia dari kerja rekam objek.

Berawal dari sukses memotret pagar depan rumah tinggal dengan menggunakan KLJ kaleng susu 800 gr, dengan negatif kertas Chen Fu, digelarlah workshop perdana pada 2001 di lokasi pembuangan sampah Bantar Gebang. Hasilnya, terbit buku “MEMOTRET dengan KAMERA LUBANG JARUM”. Pinhole camera adalah sebutan Kamera Lubang Jarum (KLJ) lantaran konsep dasar inovasi berbeda. Di sini, “teknik” tak jadi soal, yang penting “secukupnya”.

Itulah awal dari gerilya panjang yang sambung-menyambung: Jawa, Bali, hingga Makassar, hingga pada 17 Agustus 2002 para kimiawan fotografi ini mengumandangkan proklamasi berdirinya Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI).

Sebagai kimiawan, KLJI tak pernah menyoal “kamera”, melainkan mengeksplorasi makna “lubang jarum”; suatu situasi manakala sulit bertandang saat itu juga kita dituntut mampu meloloskan diri. Sebagaimana kata Leonardo Da Vinci: “Siapa yang akan percaya dari sebuah lubang kecil, kita dapat melihat alam semesta.”

Karena sifatnya alkimia, KLJ di Indonesia bisa diterima dan sekaligus dipakai sebagai kendaraan “pendidikan” dan juga bersekutu dengan “seni”. Ia menawarkan seni proses, tapi juga pemanjaan gagasan. Kembali ke gagasan paling dasar mengapa fotografi dicipta. Sebagaimana di tahun-tahun awal abad 20 dituliskan jurnalis Tirto Adhi Soerjo dalam sebuah artikel berjudul “Ilmu Menggambar Sorot” yang dimuat di Soenda Berita, No 3, Tahun I, 21 Februari 1903 dan dimuat ulang di Poetri Hindia, No 17, Tahun II, 1 Juli 1909, hlm. 232-233 dan 244-255: “Jikalau orang akan belajar menggambar sorot, pertama-tama patutlah dia kenal dulu dengan perkakas-perkakas gambar sorot (photographie tustel) itu. Perkakas ini ada dirakit daripada dua jenis, yaitu doos (kotak) di mana peta orang atau benda dibawa masuk oleh sorot matahari, yakni yang disebut kamera dan bumbungan di mana didapat gelas yang disebut lens yang menarik gambar ke dalam kamera itu.”

Sebagai bagian dari kealamiahan, KLJ ramah bahan baku dan bersifat handmade. Bagi Indonesia yang kaya akan bahan baku dan manusia-manusia kreatif, membangkitkan kembali proses salt print, albumen print, cyanotype, dan banyak lagi, bukan lagi soal. Terbukti keterbatasan alat dan bahan yang selama ini menghantui, berubah menjadi kelebihan bahkan pada akhirnya malah menjadi khas daerah. Misalnya, karena di Yogyakarta kaleng rokok mudah didapat lahirlah KLJ kaleng rokok, bahkan ditemukan pula KLJ kaleng yang bisa menghasilkan distorsi dan ini lahir dan menjadi khas KLJ Jogja. Tapi karena di Malang kaleng susah didapat, maka lahirlah KLJ pralon bahkan lahir pula seorang ahli kamera KLJ kotak tripleks. Dan di Jakarta lahir kamera KLJ “pocket” dalam arti sebenarnya, bisa dimasukan ke dalam saku.

Artinya, KLJI mengambalikan suatu momen dalam fotografi, yakni ritual dan upacara, sekaligus memberikan kembali kepada kita pemahaman tentang apa arti pelambatan di tengah digitalisasi kehidupan yang menawarkan percepatan:  percepatan pembangunan daerah tertinggal, pertumbuhan teknologi, dan munculnya budaya instan dan konsumsi.

Lubang Jarum memanifestasikan suatu diktum bahwa proses alam dan kenyataan harus diikuti oleh sebuah proses alkimia dengan menggunakan hukum jarum sebagai proses. Apabila itu dilakukan sendiri-sendiri hanya akan menjadi hobi. Tapi jika dilakukan secara kolektif dan sadar maka ia menjadi sebuah kesaksian jurnalistik di tengah deru percepatan yang dielukan. Lantas jurnalistik kemudian tak semata hasil, tapi bagaimana hal itu dicapai dengan sebuah proses alkimia.

Atas ikhtiar itulah Newseum Indonesia memberikan Anugerah Tirto Adhi Soerjo kepada Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) dalam kategori communiNATION.

Dunia Tera, Terminal Literasi Magelang

“Duniatera” Terminal Pengembangan Masyarakat Membaca
Kamis, 21 Oktober 2010 03:36 WIB | Hiburan | Buku/Novel | Dibaca 1344 kali
Magelang (ANTARA News) – Pendiri “Rumah Baca Duniatera” Borobudur, Dorothea Rosa Herlyani, mengemukakan, fasilitas edukasi itu dibangun sebagai suatu terminal untuk upaya mendorong pengembangan masyarakat gemar membaca secara cerdas dan kreatif.
“Antara lain menjadi sarana untuk mewujudkan pengembangan masyarakat membaca yang cerdas dan kreatif,” katanya saat sarasehan budaya bertajuk “Wedangan Di 20102010”, di Magelang, Jateng, Rabu malam.
Rosa yang juga penyair Magelang itu mengatakan, dirinya merintis pendirian RB Duniatera di Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur di lokasi seluas 600 meter persegi.
Menurut rencana, RB itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas antara lain internet dan ratusan buku koleksinya terutama bidang humaniora seperti sastra, sosial, filsafat, dan budaya.
Selain itu, katanya pada sarasehan yang dihadiri kalangan seniman dan budayawan Magelang, berbagai buku bacaan edukatif untuk anak-anak, remaja dan pemuda.
Ia menjelaskan tentang RB Duniatera sebagai komunitas buku, ruang baca, dan rumah penulisan buku.
Selain itu, katanya, tempat itu untuk membangun suatu komunitas belajar penerbitan dan komunitas belajar bahasa.
“Untuk ruang belajar bersama mengembangkan berbagai komunitas, memberikan situasi konfusif bagi siapa saja yang ingin mengembangkan minta baca dan tulis, ruang diskusi di antara pembaca buku dan kaum muda dari berbagai tempat,” katanya.
Pihaknya membangun jejaring dengan masyarakat umum terutama kaum muda, institusi kampus, kelompok, dan komunitas seni budaya, penulis, seniman, dan pihak lainnya yang memiliki perhatian terhadap dunia perbukuan, seni, budaya, dan kemanusian di berbagai tempat baik di dalam maupun luar negeri.
Ia menyatakan telah merencanakan sejumlah program RB Duniatera seperti pelatihan secara gratis menyangkut menulis buku, menerbitkan buku, mendistribusikan buku, dan mengelola situs internet.
“Mereka yang tertarik bisa menjadi anggota Duniatera, kami akan mendorong anak-anak muda untuk mempunyai komunitas baik di dunia maya dan dunia nyata untuk kepentingan pengembangan potensi diri,” katanya.
Ia mengatakan, peletakan batu pertama pembangunan RB Duniatera telah dilaksanakan pada Rabu (20/10) siang bertepatan dengan HUT ke-47 dirinya.
“Rencananya pada Desember 2010 akan kami resmikan dan Januari 2011 diharapkan sudah bisa dimulai berbagai program pelatihan dan tindak lanjut atas kegiatan itu,” katanya.
Budayawan Kota Magelang, Soetrisman, menyebut, pembangunan RB Duniatera sebagai nafas baru dunia perbukuan.
“Tempat itu akan menjadi terminal gagasan kreatif, tempatnya yang di Borobudur akan menjadikan nilai baru kawasan peninggalan peradaban dunia itu,” kata Soetrisman yang juga pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar Magelang itu.
Ia mengharapkan, berbagai kalangan terutama anak dan pemuda setempat memanfaatkan RB itu untuk pengembangan potensi diri dan wawasannya. (*)
(U.M029/M028/R009)
http://www.antaranews.com/berita/1287607017/duniatera-terminal-pengembangan-masyarakat-membaca

Dunia TeraMAGELANG – Pendiri “Rumah Baca Duniatera” Borobudur, Dorothea Rosa Herlyani, mengemukakan, fasilitas edukasi itu dibangun sebagai suatu terminal untuk upaya mendorong pengembangan masyarakat gemar membaca secara cerdas dan kreatif.

“Antara lain menjadi sarana untuk mewujudkan pengembangan masyarakat membaca yang cerdas dan kreatif,” katanya saat sarasehan budaya bertajuk “Wedangan Di 20102010”, di Magelang, Jateng, Rabu malam.

Rosa yang juga penyair Magelang itu mengatakan, dirinya merintis pendirian RB Duniatera di Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur di lokasi seluas 600 meter persegi.

Menurut rencana, RB itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas antara lain internet dan ratusan buku koleksinya terutama bidang humaniora seperti sastra, sosial, filsafat, dan budaya.

Selain itu, katanya pada sarasehan yang dihadiri kalangan seniman dan budayawan Magelang, berbagai buku bacaan edukatif untuk anak-anak, remaja dan pemuda.

Ia menjelaskan tentang RB Duniatera sebagai komunitas buku, ruang baca, dan rumah penulisan buku.

Selain itu, katanya, tempat itu untuk membangun suatu komunitas belajar penerbitan dan komunitas belajar bahasa.

“Untuk ruang belajar bersama mengembangkan berbagai komunitas, memberikan situasi konfusif bagi siapa saja yang ingin mengembangkan minta baca dan tulis, ruang diskusi di antara pembaca buku dan kaum muda dari berbagai tempat,” katanya.

Pihaknya membangun jejaring dengan masyarakat umum terutama kaum muda, institusi kampus, kelompok, dan komunitas seni budaya, penulis, seniman, dan pihak lainnya yang memiliki perhatian terhadap dunia perbukuan, seni, budaya, dan kemanusian di berbagai tempat baik di dalam maupun luar negeri.

Ia menyatakan telah merencanakan sejumlah program RB Duniatera seperti pelatihan secara gratis menyangkut menulis buku, menerbitkan buku, mendistribusikan buku, dan mengelola situs internet.

“Mereka yang tertarik bisa menjadi anggota Duniatera, kami akan mendorong anak-anak muda untuk mempunyai komunitas baik di dunia maya dan dunia nyata untuk kepentingan pengembangan potensi diri,” katanya.

Ia mengatakan, peletakan batu pertama pembangunan RB Duniatera telah dilaksanakan pada Rabu (20/10) siang bertepatan dengan HUT ke-47 dirinya.

“Rencananya pada Desember 2010 akan kami resmikan dan Januari 2011 diharapkan sudah bisa dimulai berbagai program pelatihan dan tindak lanjut atas kegiatan itu,” katanya.

Budayawan Kota Magelang, Soetrisman, menyebut, pembangunan RB Duniatera sebagai nafas baru dunia perbukuan.

“Tempat itu akan menjadi terminal gagasan kreatif, tempatnya yang di Borobudur akan menjadikan nilai baru kawasan peninggalan peradaban dunia itu,” kata Soetrisman yang juga pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar Magelang itu.

Ia mengharapkan, berbagai kalangan terutama anak dan pemuda setempat memanfaatkan RB itu untuk pengembangan potensi diri dan wawasannya.

Sumber: Antara, 21 Oktober 210, “”Duniatera” Terminal Pengembangan Masyarakat Membaca”

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan