-->

Arsip Komunitas Toggle

STUDIO PERTUNJUKAN SASTRA: MENGUBUR NISAN DI TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

“…Pada sebuah senja yang menyelurupkan matahari dalam langit jingga, lelaki itu mencari namamu, memburu kuburmu. Duganya, kau sudah berbaring tenang di dalam sekotak petiyang baru diketam kemarin malam. Di sana, di antara barisan nisan di bawah naungan kamboja berbunga ruah. Mungkin pula, kau sudah melupakannya atau kau sudah tak memiliki ingatan lagi karena nyawamu telah terbang ke langit. Betapapun, lelaki itu tak akan meninggalkan tanah pekuburan tanpa melihat namamu dalam sepatok nisan…” (lebih…)

Pameran Lukisan “Selfie Zone” | Gerimis Ungu Production | Yogyakarta

MEDSOS

Jumat, 2 Januari 2015, 19.30 WIB
Seniwati : Anjani Imani Citra Afsiser dan Arce Priangsari
Kurator : Opée Wardany
Diskusi : 9 Januari 2015, 15.30 WIB
Lokasi :
Kersan Art Studio
Jl. As Asmawat No. 154, Dusun II Kersan, Tirtonirmolo,
Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia 55000
dimeriahkan oleh Tari “Perempuan dari Masa Lalu” oleh Kiki Rahmatika; adaptasi naskah Putu Wijaya. Musik oleh Riza.Dipandu oleh Menik Sithik & Hardoko (MC Cangkem Reget)

Membuka tahun 2015, Gerimisungu Production bekerja sama dengan Kersan Art Studio, JogjaNews, IBOEKOE/RBOEKEOE mempersembahkan sebuah pameran seni rupa bertajuk “Selfie Zone” yang mengangkat tema wilayah diri.

Wilayah Diri pada Selfie Zone

Mengambil istilah yang sedang kondang di dunia fotografi dan media sosial, kata selfie begitu menggelitik. Ada kesan ringan, sedikit genit, tanpa meninggalkan kata dasarnya; diri. Selfie menjadi semacam kata sifat yang berkaitan dengan diri. Sementara zone, merujuk pada wilayah. Secara sepintas dan gamblang, selfie zone tidaklah berbeda dengan wilayah diri yang menjadi tema kegiatan.

Berbicara tentang diri (manusia); ada banyak hal yang serta-merta muncul di benak kita. Kita bisa membicarakan kedirian sebagai satu individu, diri yang berkaitan dengan sosial, diri yang berkaitan dengan lingkungan (alam; tumbuhan, hewan), atau juga dalam pola hubungan transenden. Dapat kita ketahui pula bahwa diri (manusia) tak melulu satu muka yang tertampil atau satu wajah yang tertangkap.

Ketika mencoba menambahkan kata ‘wilayah’ pada diri, terasa mulai ada pembatasan yang bisa dipegang atas penjabaran diri. Wilayah berkaitan dengan teritori dalam korelasi kekuasaan, atau cakupan/jangkauan yang dapat direngkuh diri, atau hal-hal yang menguar dari diri, atau –lagi- segala macam yang ada di dalam dan dialami oleh diri.

Sebagaimana diri (manusia), wilayah diri juga tak bermakna tunggal. Hal ini justru terasa menguntungkan sehingga pengejawantahan wilayah diri sebagai tema kegiatan (pameran seni rupa) menjadi kerangka yang tetap menyisakan ruang-ruang terbuka untuk keliaran seniman dan kurator untuk berproses dan memproduksi karya-karya seni yang bakal dipajang.

Wilayah diri diterjemahkan secara luas oleh kedua seniwati; Anjani Imania Citra Afsiser dan Arce Priangsari, Bagi keduanya; wilayah diri memiliki makna filosofi sebagai sebuah tema untuk berporses kreatif dan menghasilkan produk berupa karya-karya kreatif. Dari segi media; wilayah diri dapat dikaitkan dengan wilayah gambar atau bidang sebagai media kreatif. Sementara, dari sudut teknik; wilayah diri adalah sesuatu yang dikuasai dan dieksplorasi untuk mewujudkan karya kreatif.

Tak menutup kemungkinan, tema ini terjemahan tema ke dalam wujud karya-karya seni rupa menjadi lebih jamak, beragam, bercabang ke banyak sudut. Seyogyanya, harapan kurator dan 2 seniwati, tema ini mampu membangkitkan gairah dan membebaskan diri dalam berproses dan berkarya kreatif tanpa membuat diri lupa pada dasar yang menjadi pijakan, yaitu: wilayah diri.

Anjani Imania Citra Afsiser dan Arce Priangsari

Kedua seniwati yang masih dalam tahap penyelesaian kuliah strata 1 di Institus Seni Indonesia (ISI) DI Yogyakarta ini bertekad mewujudkan tema dalam berbagai media juga teknik. Citra, panggilan akrab Anjani Imania Citra Afsiser, yang banyak mengolah bentuk-bentuk abstrak tetap tak meninggalkan kanvas dan cat akrilik sebagai media bermainnya selama ini. Ia pun akan menjajal bahan-bahan lain untuk mewujudkan karya-karya kreatifnya dalam pameran ini.

Sementara, Arce yang banyak bermain dengan kertas, cat timbul, dan tinta akan juga mengolah pewarna batik, malam, canting. Selain itu, kedua seniwati bersama kurator mengeksplorasi pengolahan dan pemajangan karya yang digelar di Kersan Art Studio pada tanggal 2 sampai 13 Januari 2015.

Tentang Gerimisungu

Gerimisungu Production adalah kelompok yang bergerak dalam kegiatan-kegiatan seni seperti mengorganisir pameran karya seni, proyek seni, dan mendukung kelompok seni dan/atau seniman individu. Gerimisungu Production percaya bahwa seni tidak dapat dipisahkan dari sektor-sektor lain kehidupan (sosial, ekonomi, politik, budaya, spiritual, dan sebagainya). Tanpa melupakan pentingnya proses dalam menciptakan karya seni, seni yang memiliki muatan estetika adalah media untuk menyampaikan berbagai hal. Melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan seni; ruang-ruang berbagi, belajar, bekerja, dan berkarya kreatif yang melibatkan para seniman, para narasumber, dan masyarakat dapat berlangsung.

Kontak :
Gerimisungu Production
Keloran IV, RT 05, Tirtonirmolo
Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta
Indonesia 55181
+62 274 9117696
E: gerimisungu@gmail.com
www.Gerimisungu.com

—————————————————

Kersan Art Studio
Jl. AS. Samawaat No 154 Dusun II Kersan
RT 06 / RW 05
Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul
Yogyakarta – INDONESIA

www.kersanartstudio.com
+62 274 – 4398179
+62 81 392 868 300

FESTIVAL FILM PELAJAR JOGJA 2014

FFPJ5_Pamflet_Fix(1)

Festival yang merupakan penyelenggaraan tahun ke-5 ini akan dibuka dengan penampilan grup band Simponi. Simponi merupakan nama lain dari Sindikat Musik Penghuni Bumi yang berbasis di Jakarta dan diinisiasi oleh aktivis sosial dan hak asasi manusia, seniman dan aktivis lainnya yang memiliki perhatian terhadap isu-isu penting global dan menyuarakannya melalui musik. Beberapa kiprahnya adalah Juara I Sounds of Freedom 2014 di London-Inggris (lagu Sister in Danger), Juara II Fair Play Music Competition 2012 di Belgia/Brazil (lagu Vonis/Verdict), dan wakil Indonesia di Asia Pacific Environmental Youth Forum 2011 & 2012 di Korea Selatan. Sejak 2010 sampai sekarang terus melakukan serangkaian tour diskusi musikal bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisi Nasional Perempuan, Indonesia Corruption Watch (ICW), dll di Jawa, Bali & Sumatera. Tahun ini Simponi melakukan Bung Hatta Tour, yaitu sebuah diskusi musikal anti-korupsi di 11 universitas, 11 kota dan dalam rangka 11 tahun Hari Anti Korupsi Internasional.

(lebih…)

Bincang-bincang Sastra Edisi 110 Memandang Negara Lewat Panggung Srandul

B2xOIP0CAAEr5A5.jpg large

 

Apa jadinya jika karya sastra berupa geguritan dirangkai dalam sebuah pertunjukan drama tari Srandul? Apalagi tema yang di angkat mengenai persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia saat ini. Inilah yang akan dihadirkan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Radio Buku, Paguyuban Srandhul Suketeki, dan Sanggar Anak Bagaskara UNY dalam Bincang-bincang Sastra edisi 110. Acara tersebut sedianya akan berlangsung pada Sabtu (22/11) pukul 20.00 WIB. di Amphi Teater Taman Budaya Yogyakarta. (lebih…)

14 Tahun Studio Pertunjukan Sastra

 

Pada bulan Oktober 2014  Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta (SPS) sampai pada usianya yang ke-14 (empatbelas). Bekerjasama dengan Radio Boekoe, kali ini dalam acara 14 Tahun Studio Pertunjukan Sastra akan digelar acara Hari Bersastra Yogya #2 sekaligus Bincang-bincang Sastra edisi 109 dengan “Ziarah” pada Jumat, 31 oktober 2014 pukul 19.30 WIB. di Panggung Terbuka halaman Taman Budaya Yogyakarta. Acara ini akan menghadirkan Daru Maheldaswara, Iman Budhi Santosa, Mustofa W. Hasyim, dan Hasta Indriyana yang akan memberi kesaksiannya tentang sastrawan Yogyakarta yang sudah berpulang. Di samping itu, akan tampil Teater JAB, Sanggar Lincak, Agus Sandiko feat. Muzain, dan Kak Arif Rahmanto memanggungkan karya para sastrawan.
Setelah pada ulang tahun ke 13 lalu menggelar acara Hari Bersastra Yogya, kini di ulang tahunnya yang ke 14, SPS kembali dengan Hari Bersastra Yogya #2 mengajak masyarakat sastra Yogyakarta untuk kembali ziarah kepada sastrawan leluhur  Yogyakarta. Di Yogyakarta banyak sastrawan yang telah meninggal dunia, melahirkan karya dan menorehkan jasa-jasanya dalam perkembangan sastra. Meresponse hal tersebut, SPS mewujudkannya dengan membuat buku antologi karya leluhur sastra Indonesia di Yogyakarta dengan harapan kita selaku generasi penerus sastra Yogya dapat kembali mengenal sosok sastrawan Yogyakarta yang sudah mendahului kita dan karya-karyanya.
Astana Kastawa, demikianlah SPS memberikan judul dalam buku antologi sastra yang memuat karya leluhur sastra Indonesia di Yogyakarta ini. Mereka yang karyanya terhimpun dalam antologi ini adalah Angger Jati Wijaya, Arifin C. Noer, Arwan Tuti Artha, B. Soelarto, Bakdi Soemanto, Boedi Ismanto S.A., Dick Hartoko, Endang Susanti Rustamaji, Fahrudin Nasrulloh, Hari Leo AER, Heru Kesawa Murti, Kirdjomuljo, Kuntowijoyo, Linus Suryadi Ag., Mohammad Diponegoro, Motinggo Boesje, Nasjah Jamin, Niesby Sabakingkin, Omi Intan Naomi, Ragil Suwarna Pragolapati, S.H. Mintardja, Subagio Sastrowardoyo, Suryanto Sastroatmojo, Umar Kayam, W.S. Rendra, Y.B. Mangunwijaya, Zainal Arifin Thoha dengan karya berupa puisi, cerpen, esai sastra, nukilan naskah drama, dan nukilan novel. Buku sederhana tersebut semoga dapat menjadi tempat ziarah sekaligus juru kunci sastra Indonesia di Yogyakarta.
Buku tersebut dipersembahkan untuk Hari Leo AER (alm.) penggagas sekaligus pendiri dari Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta dan para almarhum sastrawan Yogyakarta. Kesadaran dan dedikasinya di dunia seni sastra terutama dalam memasyarakatkan sastra ke masyarakat perlu diperjuangkan.
Sebagaimana diketahui, bahwa sastra merupakan identitas suatu negara yang berbudaya. Dengan sastra, manusia mampu menerjemahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi menjadi karya yang indah. Karya sastra telah mencipta nuansa yang menghadirkan suasana-suasana yang layak. Dan, melalui pemanggungan sastra, SPS tidak hanya menghadirkan sastra sebagai teks, namun juga sebagai sebuah pertunjukan (baca: sastra pasca karya). Karya sastra dihadirkan dalam pertunjukan, dalam ekspresi yang lebih  memberikan kesegaran dan gairah tersendiri sehingga sastra hadir dengan beragam ekspresi, respon serta terjemah-terjemah lain yang memikat. SPS memberikan peluang bagi hadirnya tafsir-tafsir baru dalam bentuk pertunjukan dan gelaran sastra tanpa melepaskan semangat sastra, yakni pembaruan.

Latief S. Nugraha, Sekretaris Studio Pertunjukan Sastra.

Rumah Puisi Taufiq Ismail

Dokumentasi berita feature Jawa Pos edisi 7 Juli 2014 ini mengulas biokomunitas rumah puisi yang didirikan Taufiq Ismail di Padang-Panjang, Bukittinggi. Perpustakaan yang kaya koleksi sastra ini adalah warisan literasi sang penyair untuk sastra Indonesia ~ Redaksi
(lebih…)

Perpus Mini “Pangkalan Ojek Pintar” | Kebukit | Bandung

BANDUNG – Komunitas Kelola Buku Kita (Kebukit) mendirikan sebuah perpustakaan mini di pangkalan ojeg bernama “Pangkalan Ojek Pintar”, di Jalan Cikutra Kota Bandung, Jawa Barat. “Pangkalan Ojek Pintar di Jalan Cikutra ini adalah yang pertama kami buat di Kota Bandung,” kata Ketua Komunitas Kebukit Nuriska Fahmiany. (lebih…)

#23Tweets | Komunitas Taman Bacaan Masyarakat Mall RA Media (Sulis Puji Astuti) | Samarinda

Ibu Sulis Puji Astuti merupakan pemilik Taman Bacaan Masyarakat Mall RA Media di Samarinda. TBM ini berdiri atas kesadaran pemilik untuk meningkatkan minat baca masyarakat di Kalimantan Timur yang mulai menurun akibat banyaknya anak yang putus sekolah dan kondisi sosial ekonomi. Berawal dari membuka toko buku RA Media lantas berkembang menjadi taman bacaan untuk masyarakat luas. Bersama harapan agar pemikiran masyarakat dapat berubah ketika Mall yang tadinya sumber konsumsi dapat juga menjadi sumber mencari wawasan, Ibu Sulis mengembangkan TBM ini. Berikut adalah perbincangan singkat tentang TBM yang berada di Mall Mesra Indah, Samarinda ini. Booklovers, selamat mendengarkan. (lebih…)

Koran Sekolah SMA Seminari Mertoyudan | “Koran Jendela” | Magelang

Apa yang kalian ketahui tentang jendela? Mungkin pikiran kita langsung merujuk pada jendela yang terpasang di dinding. Atau kita masuk pada kiasan seperti jendela hati dan jendela dunia. Namun, jendela yang satu ini berbentuk koran. “Koran Jendela” tidak dipasang di jendela, tetapi inilah surat kabar sekolah yang menjadi salah satu ekstrakurikuler siswa SMA Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. (lebih…)

Komunitas – Kampung Buku Makassar

Kampung Buku adalah perpustakaan berbasis komunitas yang dikelola Penerbit Ininnawa dengan bermacam koleksi buku. Mulai seri cerita komik, chicklit & teenlit, majalah khusus wanita seperti Elle atau Kartini, majalah musik Rolling Stone, seri penelitian populer National Geographic, serta beberapa genre buku yang kerap tidak tersedia di perpustakaan-perpustakaan di Makassar dan sekitarnya. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan