-->

Arsip Resensi Toggle

Penggila Buku oleh Kurnia Effendi

kurnia effendi

kurnia effendi

Kurnia Effendi

(penulis cerpen dan penggemar buku)

Siapa sebenarnya yang disebut para penggila buku? Apakah mereka yang jadi gila gara-gara buku? Mari kita iseng berkunjung ke rumah sakit jiwa, adakah salah satu di antara mereka yang terkurung di situ lantaran sebuah buku? Boleh jadi, ada. Sering terjadi seseorang yang “ngelmu” (mencari ilmu yang terkait dengan kebatinan dan dunia tak tampak), mempelajari buku yang diberikan oleh guru “spiritualnya”, lalu karena tak sanggup menanggungkan secara mental, maka sintinglah dia. Jadi kesimpulannya, bukan dia sebagai penggila buku, tetapi gila akibat isi buku yang dibacanya.

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional (17 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Indonesia Buku bersama dengan Goodreads Indonesia (GRI), Kutu Buku Gila (Kubugil), dan Asosiasi Penulis Cerita (ANITA), menyelenggarakan peluncuran dan diskusi buku “Para Penggila Buku”. Bertempat di Newseum Café dengan pembicara kedua penulisnya, yakni Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan, didampingi oleh Taufik Rahzen, dan Aldo dari GRI. Bertindak sebagai moderator, Lita dari GRI. Acara dipandu oleh Kurnia Effendi dari ANITA.

Siapa ingat akan Hari Buku Nasional?  Mungkin hanya segelintir. Tanggal 17 Mei diambil dari peristiwa berdirinya IKAPI tahun 1950. Sementara para penerbit Yogya menolaknya dengan membuat ikatan penerbit dengan aneka nama. Biarlah masing-masing berbeda pendapat, yang penting adalah esensinya, bahwa buku memiliki hari kebesaran.

Adalah Muhidin M Dahlan (yang lebih dikenal dengan Gus Muh), dengan pengalamannya di dunia penerbitan di kawasan Yogya, berniat mengumpulkan sejumah besar esainya tentang buku yang dimuat di pelbagai media massa. Ia melihat potensi besar pada Diana Sasa, aktivis sosial dan politik asal Surabaya yang juga banyak menulis dunia buku terutama di harian Jawa Pos. Dengan bujukan yang membesarkan hati, Gus Muh berhasil menaklukkan Diana Sasa yang akhirnya bersedia menulis (menyusun) bersama 100 catatan di balik buku.

Di dalam buku yang tebalnya 668 halaman itu, dibahas 8 topik besar, yakni: Kisah Buku, Klub Buku, Musuh Buku, Guru Buku, Revolusi Buku, Film Buku, Rumah Buku, dan Tokoh Buku. Seratus esai di dalamnya itu dikumpulkan dan dilengkapi dalam waktu beberapa bulan (sejak Oktober 2008) dan akhirnya dapat menjadi saksi Hari Kebangkitan Nasional 2009.

Apa hebatnya sebuah buku? Tidak dapat diurai dengan sebaris kalimat atau sekuplet paragraf. Setidaknya ada Nehru, William Chester Minor, WJS Poerwadarminta, Ruth Baldwin, Haryoto Kunto, Om Whie, Pramoedya Ananta Toer, Oprah Winfrey, Kiswanti, dll, berada di balik peristiwa buku. Ada yang menganggapnya sebagai jendela dunia, ada yang cemas ketika televisi hadir ‘menggantikan’ buku, ada yang menyimpannya sebagai saksi sejarah, ada yang memopulerkan dengan cara masing-masing, ada yang memperjuangkannya agar terus dibaca oleh banyak orang.

Dengan membaca buku “Para Penggila Buku”, kita jadi tahu bahwa buku memiliki energi luar biasa. Adakah yang sanggup menyingkirkannya dari muka bumi? Bahkan saat lahir dunia gambar melalui kotak kaca berwarna, buku bergeming sebagai sesuatu yang tak luntur dimakan kemajuan. Saat  internet melaju dengan perkembangan luar biasa, adakah yang membawa-bawa laptop sambil antre di bank, berdesakan  dalam bus kota, atau membisu di toilet  hanya untuk membaca sepucuk kisah? Saat sahabat ulang tahun, buku masih sangat berharga dan menunjukkan kasih berkepanjangan jika dihadiahkan. Dengan keindahan sampul dan formatnya, terkadang buku menjelma karya seni yang patut diabadikan dalam sebuah simpanan.

Jadi, ya, buku mengandung energi yang sanggup membuat seseorang mengganti rasa putus asa menjadi semangat menggelora. Sebagai contoh buku “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang menjadi inspirasi bagi anak-anak putus sekolah di seantero Indonesia. Atau novel amarah berjudul “The Catcher in The Rye” karya JD Salinger yang memengaruhi pembacanya sampai ia membunuh John Lenon. Banyak pula buku Dale Carnegie telah berjasa membangkitkan jiwa, mengubah perilaku orang menjadi positif, seperti halnya Stephen Covey dengan “Seven Habit”-nya. Dan sejumlah buku buruk di masa remaja, karya Enny Arrow, membuat kita matang sebelum waktunya.

Buku ditulis dengan berbagai maksud. Wahyu yang turun kepada Rasulullah Muhammad SAW, sebagai risalah kekhalifahan di bumi, dengan ingatan yang dijaga oleh Allah, tertera secara estafet melalui perjalanan zaman sampai kemudian menjadi Al-Quran. Tentu Empu Walmiki, Nostra Damus, Djajabaya, dan Ronggowarsito, adalah para pujangga yang dikenal memiliki konsep atas kehidupan bernegara dan bermasyarakat, telah mewariskan banyak spirit yang energinya terus tersimpan hingga entah kapan. Strategi perang Sun Tzu, tak mungkin dikenal banyak orang di dunia (bahkan untuk kalangan ekonom) jika tidak diterbitkan dalam bentuk buku. Jadi benar kata Nehru, buku adalah jendela dunia. Tidak hanya bagi pembacanya, karena Karl May yang tak pernah menjelajahi Amerika Selatan sanggup menulis ribuan halaman tentang Old Shatterhand dan dunia Indian dengan latar tempat yang rinci.

Mengapa buku kadang kesepian tak memiliki pembaca? Jangan khawatir. Kata Gus Muh, buku memiliki nasibnya sendiri. Siapa menyangka buku “Ayat-Ayat Cinta” (Habiburrahman El-Shirazi) menjadi begitu populer? Mengapa JK Rowlings mampu menyihir pembaca segala umur di dunia dengan serial Harry Potter yang pernah ditolak beberapa penerbit di Inggris? Mengapa Lupus mewabah di kalangan remaja tahun 80-an dan kini giliran Raditya Dika heboh dengan “Kambing Jantan”? Tentu ada banyak faktor yang membuat buku itu memiliki perjalanan yang berbeda. Mulai dari materi sampai cara mengemas dan memperkenalkannya.

Para penggila buku, misalnya yang tergabung dalam Kubugil, adalah orang-orang militan yang membaca buku antara 10 -15 judul dalam sebulan. Tak hanya itu, mereka juga menuliskan kesannya dalam sebuah resensi, meski kebanyakan untuk konsumsi blogger. Para penggila buku semacam Kiswanti yang dengan sepedanya mengelilingkan perpustakaan, pasti menyimpan energi positif yang tak dapat dinilai dengan uang. Tapi, apakah ada penggila buku yang justru memiliki buku-buku dengan cara mencuri? Ada. Namanya Stephen Carrie Blumberg. Baca saja buku “Para Penggila Buku”, lengkap tertulis di sana kisahnya.

Bagi para pendiri republik ini, buku adalah bagian yang paling besar mengisi hidup mereka. Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka… Buku sering menjadi parameter intelektual. Buku yang kita cintai juga memiliki musuh alami: air, api, rayap. Maka penjahat paling besar terhadap buku adalah mereka yang membakar buku-buku. Karya intelektual langsung musnah dan tak berjejak kecuali sebagai abu yang tak terdaur ulang.

Untuk gemar membaca saja merupakan perjuangan yang berat di era audio-visual. Tetapi bagi keluarga yang anak-anaknya penggila buku, justru kerepotan memenuhi konsumsi mereka. Bayangkan, sekarang harga buku relatif mahal. Dana untuk membeli buku sering dinomorsekiankan. Lalu, bagaimana cara kita bisa memiliki? Menabung? Kalau hanya ingin membacanya, kini perpustakaan tumbuh di mana-mana. Milik negara, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, LSM, juga didirikan oleh orang-orang yang begitu cinta terhadap buku. Misalnya Oei Hiem Whie di Surabaya, Sigit Susanto dan Maria Bo Niok dari Apresiasi Sastra, juga kiprah Yessy Gusman dengan jaringan perpustakaannya di seluruh Indonesia. Sementara itu, Taufik Rahzen, diam-diam telah memiliki 14.000 koleksi buku dalam perpustakaan yang terbagi di beberapa kota, di antaranya Jakarta dan Yogyakarta.

Harapan Taufik Rahzen, buku harus terus diperjuangkan keberadaannya. Ia telah memiliki banyak pengalaman menerbitkan buku dengan segala risiko kerugian atas biaya produksi. Belakangan dengan siasat memadukan karya tulisan dengan karya seni rupa, buku dapat memiliki nilai yang tinggi. Memang benar, mungkin ada yang membeli dengan harga ratusan juta untuk satu eksemplar, tetapi apakah itu dijamin akan dibaca banyak orang? Bagaimanapun, buku dicetak terutama untuk dibaca.

Namun ada satu hal yang menarik dalam ungkapan Taufik, yakni tentang “artefax in the future”. Buku yang kita beli hari ini, yang kita baca saat ini, yang kita miliki dalam beberapa tahun ini, adalah buku yang akan sangat bernilai di masa depan. Contohnya “Di Bawah Bendera Revolusi” karya Soekarno, pernah dijual dengan harga jutaan karena langka. Jadi, pada suatu saat, sejarah (kenangan) memang menjadi panglima dalam sebuah industri. Retrospeksi selalu menarik dan dirindukan karena seseorang akan dibebaskan mengenang hal-hal besar di masa lalu.

Dari sisi itu ada benarnya bahwa buku memang tak akan terkubur oleh zaman. Terutama jika kandungan isinya mampu mencerahkan dari berbagai sudut pandang. Buku kumpulan puisi Hamzah Fanshuri, akan menjadi keindahan tersendiri yang bercahaya di masa lampau. Nietze masih dibaca hingga hari ini. Dan banyak lagi. Mereka adalah energi yang tak kunjung habis.
Memang tak perlu menjadi penggila buku. Bacalah buku sebelum dilarang membaca buku. Berbuku-buku ilmu telah melahirkan pengarang yang menulis ilmu berbuku-buku. ***

Dicuplik dari http://indonesiaenergywatch.com/kolom-kurnia-effendi/penggila-buku.html/comment-page-1#comment-260

Berguru Antikekerasan Pada Badshah Khan

Oleh Ibn Ghifarie

RESENSI_Eknath EaswaranJudul Asli: Nonviolent Soldier of Islam
Judul Terjemahan: Kisah Pejuang Muslim Antikekerasan yang Terlupakan
Karya: Eknath Easwaran
Penerjemah: Perwira Leo S
Penyuting: Haezal W
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal Penerbit: Januari 2009
Jumlah Halaman: xx+320

Pasca pemilihan Calon Legislatif banyak Caleg yang setress. Betapa tidak, setelah habis kerkuras uangnya untuk ongkos pemilu itu, kuris Anggota Dewan yang dicita-citakan pun tak kunjung datang.

Aksi demo yang berujung pada pengrusakan fasilitas Komisi Pemilihan Umum (KPU) di pelbagai daerah menjadi idangan berita keseharian kita. Seakan-akan kekerasan, demi kekerasan sekaligus budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas dalam menyelesaikan persoalan. Diranah politik apalagi.

Padahal, Rasulullah berpesan kepada kita “Mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya juga kafir.” (H R Bukhari-Muslim). Jangankan untuk membunuh, saling caci-maki seagama, atau antar beda parpol tak diperbolehkan.

Prinsip inilah yang dipegang kuat oleh Badshah Khan, pejuang risalah muslim antikekerasan dari Perbatasan Barat Laut.
Pasalnya, perlawanan antikekerasan merupakan satu-satunya cara efektif melawan kezaliman.

“Hanya dengan antikekrasan, dunia masa kini bisa bertahan hidup menghadapi produksi masal senjata-senjata nuklir. Sekarang ini dunia lebih mumbutuhkan pesan cinta kasih dan perdamaian Gandhi daripada waktu-waktu sebelumnya. Andai saja dunia sunguh-sungguh tidak ingin menyapu habis peradaban dan kemanusiaannya sendiri dari muka bumi ini”, ungkapnya kepada Eknath Easwaran tahun 1983.

Adalah Badshah Khan (1890-20 Januari 1988). Lahir dan besar dikeluarga berdarah Pushtun atau Pathan (ningrat) di perbatasan Barat laut (Pakistan dan Afganistan) yang beragama Islam.

Konon, penduduknya menjadikan balas dendam dan pembunuhan sebagai warisan abadi keluarga.

Postur tubuhnya luar biasa besar dan sosoknya terkesan angker tinggi dengan menjulang ke langit. Tapi, wajahnya memancarkan keteduhan dan perdamaian. Ia merupakan pribadi yang unik, tak suka menyakiti, bahkan berkelahi pun tak pernah.

Kecintaanya terhadap ajaran Mahatma Gandhi yang mempercayai bahwa perlawanan antikekrasan adalah satu-satunya cara sempurna untuk melawan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, Ia kerap kali dijuluki Gandhi dari perbatasan.

Memang Gandhi bagi Khan Abdul Ghaffar Khan adalah murid sekaligus guru antikekerasan. Kala puluhan ribu bangsanya binasa di tangan kekejaman Inggris, Khan tak sekalipun tergerak untuk membalasnya dengan mengangkat senjata. Kedengaranya, ironis sekali. Malahan Ia mencoba mengkampanyekan gerakan perdamaian dari dari Kampung ke Kampung selama 80 tahun.

Lihat saja, catatanya “Saat masih muda, aku pernah memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan; darah panas kaum pathan mengalir dalam urat nadiku. Namun, di penjara aku tidak mempunyai kesibukan lain kecuali membaca Al-Quran. Aku membaca tentang nabi Muhammad di Mekkah, tentang kesabaranya, pengorbanan dan pengabdianya.

Aku pernah membaca semua sebelumnya saat kanak-kanak tetapi sekarang aku membacanya dalam terang dari segala hal yang kudengar di sekelilingiku tentang perjuangan Gandhiji menentang Britsh Raj…Ketika akhirnya bertemu dengan Gandhiji aku mempelajari semua gagasanya tentang sikap antikekerasan dan program konstruktifnya, mereka mengubah hidupku semuanya. (Hal 177)

Keseriusanya kepada gerakan antikekrasan Ia Juga mendirikan sekolah bernama Azad di Utmanzai.

Guru dan muridnya menggunakan mimbar “Kebebasan Bercibara” supaya terbuka, toleran dan peka terhadap persaolan di sekitarnya.

Seorang muslim bersahaja ini terus gencar mengajak banyak pemuda untuk mendukung gerakan khudai Khidmatgar (pelayan Tuhan dan Kemanusiaan), sebuah antikekerasan yang dilancarkan untuk membendung kekerasan atas nama apa pun dengan semboyan; Pertama, Aku berjanji akan melayani kemanusiaan dalam nama Tuhan.

Kedua Aku berjanji akan menolak kekerasan dan balas dendam. Ketiga, Aku berjanji akan mengampuni mereka yang menindasku atau memperlakukanku dengan kejam.

Keempat, Aku berjanji akan menolak terlibat dalm permusuhan dan perselisihan serta tidak mencari musuh. Kelima, Aku berjanji akan memperlakukan setiap orang Pathan sebagai saudara dan temanku. (Hal 134-135)

Mencermati kehidupan yang tak kujung selesai dari peperangan, Khan menjawabnya “Dunia sekarang ini sedang berjalan ke arah yang aneh” katanya kepada seorang pewawancara di Afganistan tahun 1985 “Anda bisa melihat  kalau dunia ini sedang menuju ke kehancuran dan kekerasan.

Hal yang dilakukan oleh kekerasan adalah menciptakan kebencian di antaraumat manusia dan menciptakan ketakutan. Saya orang yang percaya pada antikekerasan.

Saya menyatakan bahwa tidak akan ada perdamaian atau keselarasan terlahir di tengah-tengah umat manusia di dunia ini kecuali antikekerasan diperaktikan, karena antikekerasan adalah cinta kasih dan cinta kasih ini mengorbankan keberanian di hati manusia. (Hal XII)

Hal serupa pula diungkapkan oleh Mahatma Gandhi saat ditanya apakah menurutnya antikekerasan sungguh-sungguh cara terbaik untuk menyelesaikan konflik. “Tidak” jawabnya. “Antikekerasan bukanlah cara terbaik, melainkan satu-satunya cara”.

Kekerasan menciptakan kekerasan lain. Baginya, pejuang antikekerasan yang bisa memutus lingkaran kekerasan itu dan menggerakan hati nurani para pelaku kekerasan untuk menciptakan perdamaian. (Hal XVIII)

Buku ini, menarik untuk dibaca, terutama bagi pegiat antikekerasan dan pegulat perdamaian, karena menyampaikan pesan dua tokoh pionir antikekerasan, Badshah Khan dan Mahatma Gandhi dengan keindahan yang menyentuh hati siapa saja yang merindukan kedamaian.

Selain itu, setiap memasuki bab terlebih dahulu diketengahkan semacam kata kunci sekaligus hikmah untuk mempermudah pembaca memahami sosok muslim pejuang risalah antikekerasan yang terlupakan ini.

Juga dilengkapi lampiran kronologis semasa hidup Khan. Sebelah kirinya, peta gerakan antikekrasan dan kananya kejadian luar biasa secara umum di Perbatasan Barat Laut.

Tentu ada kelemahanya, misalkan dalam biodatanya tak dicantumkan tanggal kelahirannya kapan? Ihwal kematianya pun sangat beragam ada yang mencatat tanggal 20, 21, 22 Januari 1988 (Hal 265).

Periodik ini berharga sekali bagi kalangan sejarawan.

Tak pernah tercatat dalam sejarah sebuah negara dimerdekakan tanpa bersimbah darah. Namun, Gandhi membuktikanya dengan membebasakan India dan Khan melepaskan belenggu  biadab, bengis, keras, picik, buas seperti macan tutul, pembunuh yang penuh tipu daya pada Suku Pushtun.

Sejatinya, sikap antikekerasan merupakan petanda orang-orang yang berani dan tak tergoyahkan; tenti saya tidak ada orang di muka bumi ini yang lebih brutal dan tak tergoyahkan daripada orang pathan, bahkan rata-rata suku Pashtun lebih memilih mati daripada dilecehkan.

Ia menyembunyikan benih-benih kebenaran yang lebih dalam. Benih-benih yang sangat dibutuhakn oleh dunia kita yang letih dan penuh kekerasan. Sudah tiba saatnya kisah ini diceritakan.  (Hal 9)

Kiranya, kita mesti belajar antikekerasan dari Badsah Khan bila ingin hidup damai, cinta, tentram dan sejahtera di Negara Indonesia ini. “Dua jenis pergerakan dilancarkan di provinsi kita. Pergerakan dengan kekerasan (perlawanan sebelum 1919) menciptakan kebencian di benak rakyat kita terhadap kekerasan.

Namun, pergerakan tanpa kekerasan menerangkan kecintaan, hasrat dan simpati rakyat. Jika seorang Inggris terbunuh dalam pergerakan dengan kekerasan bukan hanya orang yang bersalah yang dihukum seluruh desa dan wilayah pun menderita karenanya.

Rakyat menganggap kekerasan dan para pelakunya bertanggungjawab atas represi tersebut. Dalam gerakan antikekerasan, kita mengorbankan diri kita sendiri dank arena itulah gerakan ini memenangkan cinta dan simpati rakyat. (Hal 173-174)

Marilah kita berguru pada Badshah Khan tentang antikekerasan. Terwujudnya masyarakat, adil, sejahtera, damai, terbuka, toleran menjadi cita-cita bangsa Indonesia ini.

* Ibn Ghifarie, Pegiat Studi Agama-agama dan bergulat di Gerakan Antikekerasan.

Merekam Kisah-kisah Buku

Sadarkah kita jika buku ternyata tak sekedar berbicara tentang apa Sadarkah kita jika buku ternyata tak sekedar berbicara tentang apa yang terkandung di dalamnya. Dunia buku ternyata begitu luas dan kaya, bagaikan sebuah mata air yang tak pernah kering, kisah-kisah dibalik dunia buku selalu mengalir, memberikan kesegaran, dan memberi inspirasi baru bagi mereka yang selalu haus akan buku dalam hidup mereka. Namun kisah-kisah dibalik dunia buku itu harus dicari, ditelisik, diwartakan, agar semua penggila buku tahu bahwa dunia yang mereka geluti setiap harinya itu ternyata memiliki banyak kisah yang menarik dan tak terduga. Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa, adalah sedikit diantara para penggila buku yang mau berjerih lelah mencari kisah-kisah luar biasa dibalik buku. Muhidin yang kerap disapa Gus Muh adalah novelis, essais, kerani i:boekoe (Indonsia buku) yang hingga kini telah memiliki 3000-an buku di kamarnya. Sedangkan Diana AV Sasa adalah, aktivis buku yang juga kerap menulis essai tentang dunia buku di Koran Jawa Pos. Duo penggila buku inilah yang akhirnya memproklamirkan kegilaannya akan buku dengan membuat 100 catatan di balik buku dan membukukannya ke dalam sebuah buku dengan cover bersampul tebal y

Dalih Pembunuhan Massal

Oleh Muhidin M Dahlan

Dalih Pembunuhan MassalDalih Pembunuhan Massal
Diterjemahkan dari: Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’Etat in Indonesia
Penulis: John Rossa
Penerjemah: Hersri Setiawan
Penerbit: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, 2008
Tebal: xxiv+392 halaman

Inilah misteri sejarah yang paling dinamik yang diulik banyak orang sampai kini: Gerakan 30 September (G 30 S). Sebab ia tak semata persoalan “kup” politik, melainkan juga berkait peristiwa sesudahnya: pembunuhan massal dan asasinasi total atas seluruh gerakan kiri di Indonesia. Dalam hal ini PKI dan seluruh aliansinya, termasuk pendukung setia Sukarno.

Buku yang disusun John Rossa ini mesti kita beri rak terhormat dalam tumpukan kepustakaan G 30 S. Ia tak saja menumbangkan banyak analisis sebelumnya yang selalu mencari siapa dalang sesungguhnya dari peristiwa G 30 S itu (PKI, Sukarno, Angkatan Darat, Suharto, CIA); tapi ia menjalin kembali cerita baru yang segar dari serakan data yang membuat kita terhenyak. Betapa tidak, buku yang disusun laiknya roman detektif ini berkesimpulan: G 30 S adalah gerakan militer paling ngawur dan iseng, klandestin setengah hati, dan sama sekali tak direncanakan secara matang. Tapi akibat yang ditimbulkannya luar biasa parah. Ia dijadikan kelompok “militer kanan” sebagai dalih pembantaian massal yang sungguh tak terperikan.

Bagi sejarawan University of British Columbia, Vancouver, Kanada, ini, tak ada dalang utama yang mengerjakan proyek mengerikan ini. Yang ada ialah siapa yang paling diuntungkan setelah kejadian ini, ketika pada 1965 konfigurasi kekuatan politik tinggal dua kutub: PKI dan Angkatan Darat di mana bandulnya ada pada Presiden Sukarno.

Gerak pertama yang coba dilakukan Rossa adalah mempertanyakan seluruh analisis dan kesimpulan dari buku-buku yang sudah ada. Dengan gaya laiknya pakar forensik, ia membedah kembali dokumen Jenderal Pardjo yang disebut Rossa “sumber utama paling kaya serta paling bisa dipercaya”, selain karena ia memang tokoh inti dalam G 30 S. Hasilnya bahwa gerakan putsch ini dipimpin Sjam. Sekaligus ini menggugurkan pendapat Benedict Anderson dan Harold Crouch yang berpendapat bahwa perwira-perwira militer yang berperan penting (Untung, Latief, Soejono, Soepardjo).

Dengan petunjuk itu, Rossa mengejar identitas Kamaruzaman (Sjam) dan menemukan bahwa orang ini bawahan setia Aidit selama 15 tahun—yang sekaligus kesimpulan ini menampik spekulasi Wertheim dalam Indonesia’s Hidden History bahwa Sjam adalah intel militer yang ditanam di tubuh PKI. Sjam adalah orang Biro Chusus yang dibentuk Aidit di luar ketentuan Konstitusi Partai. Tugasnya untuk mendekati militer dan bertanggung jawab semata kepada Aidit. Jadi wajar kemudian anggota Politbiro dan Comite Central tak mengetahui secara detail kerja-kerja klandestin Biro Chusus ini.

Jika pun PKI ini terlibat, tulis Rossa, dua orang inilah yang mesti bertanggung jawab. Rossa percaya pada kesimpulan Iskandar Subekti—panitera dan arsiparis Politbiro—bahwa G 30 S bukan buatan PKI, dalam hal ini yang memikirkan, merencanakan, dan memutuskan. Sebab jika ia merupakan gerakan dari PKI, atau gerakan yang “didalangi” PKI, mestinya ia dibicarakan dan diputuskan badan pimpinan partai tertinggi, yaitu Central Comite dengan jumlah anggota 85 orang, dan hal ini tak pernah dilakukan sama sekali. Gerakan ini hanya diketahui beberapa gelintir orang dalam partai yang disebut Sukarno sebagai “oknum-oknum PKI yang keblinger”.

Jika Aidit melakukan gerakan “mendahului” atas musuh utamanya (Angkatan Darat) itu, apa alasannya? Aidit sangat insyaf bahwa partainya akan habis jika berhadapan muka-muka dengan Angkatan Darat lantaran nyaris mutlak anggotanya tak bersenjata. Jalan klandestin yang diambilnya dengan bekerja sama dengan perwira-perwira dalam tubuh Angkatan Darat sendiri dimaksudkan untuk menyelamatkan warga partai dari amukan bedil tentara.

Lagi pula Aidit mulai gelisah, bagaimana partai yang kian hari kian membesar ini tak menemukan arena bermain yang demokratis, yakni Pemilu. Sukarno pun tak menunjukan tanda-tanda akan menyelenggarakan pesta demokrasi lagi setelah sebelumnya yang direncanakan dilangsungkan pada 1959 dilucuti Angkatan Darat pimpinan Nasution yang “memaksa” Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli.

Dalam hitungan PKI, jika Pemilu dibuka pastilah mereka akan keluar sebagai juara. Sementara pimpinan teras Angkatan Darat dan sekutu Amerikanya ketar-ketir melihat kerumunan besar semut-semut merah itu di jalanan. Tapi mereka tak berani melakukan tindakan mendahului karena berdasarkan pengalaman, semua tindakan mendahului akan kalah, seperti kudeta gagal Nasution pada 17 Oktober 1952.

Tapi rencana ini menyelimpang. Operasi G 30 S itu dilakukan dengan tergesa-gesa. Digerakkan secara militer memang, tapi dengan cara ngawur. Sebagai seorang militer berdisiplin, Supardjo, misalnya, 3 hari sebelum operasi, berkali-kali menanyakan bagaimana kesiapan pasukan dari Jawa Barat, tapi selalu dijawab Sjam dengan murka dan mencerca para pembimbang sebagai pengecut.

Pada hari “H” kesalahan terjadi beruntun. Pasukan yang menculik Nasution salah masuk rumah dan salah tangkap, karena mereka tak mengadakan “gladiresik” sebelumnya. Pasukan yang didatangkan dari Jawa Tengah dan ditugaskan “mengamankan” Istana di Monas akhirnya bergabung kembali dengan Kostrad lantaran perut keroncongan karena perempuan-perempuan yang ditugasi membuka dapur umum tak datang.

Pembunuhan seluruh jenderal pun di luar skenario. Mestinya adalah: “Tangkap. Jangan sampai ada yang lolos”. Tapi betapa kagetnya Omar Dani setelah tahu bahwa jenderal dibunuh atas komando langsung dari Sjam. Saat itu Dani langsung berfirasat akan terjadi malapetaka besar. Disusul lagi ketaksetujuan Sukarno atas gerakan ini yang membikin kalap penggeraknya. Sementara janji Sjam bahwa G 30 S disokong jutaan massa PKI yang akan turun ke jalan-jalan tak pernah ada karena memang cuma hayalan Sjam. Karena memang jutaan anggota PKI itu tak mendapatkan informasi yang jelas soal putsch itu.

Dan inilah yang ditunggu-tunggu Angkatan Darat yang dibantu oleh CIA Amerika, biarkan lawan mendahului untuk menjadi dalih bumi-hangus. Di titimangsa ini Rossa tetap kukuh membantah spekulasi bahwa bahwa Angkatan Darat dan Amerika yang menjadi pengendali utama peristiwa ini. Termasuk spekulasi naif yang mengatakan Suharto adalah otaknya.
Gerakan ini tetap berasal dari Aidit, Biro Chusus, dan sekelompok perwira dan dirancang untuk berhasil. Ia gagal bukan karena dirancang untuk gagal, tapi karena diorganisasi dengan cara sangat buruk; sementara Angkatan Darat sudah mempersiapkan pukulan balik jauh sebelumnya. Mereka dilatih, dipersenjatai, dan didanai oleh Dewan Keamanan Nasional (NSC, National Security Council) Amerika Serikat sejak 1957.

Peristiwa putsch ini hanya dijadikan dalih Angkatan Darat untuk menghancurkan seluruh gerakan kiri di Indonesia. Karena PKI lah yang jadi batu sandung terkuat menghalangi perwira-perwira seperti Nasution yang—meminjam ungkapan politikus veteran Sjahrir—memendam “cita-cita militeristik dan fasis” untuk pemerintahan Indonesia. Kekuatan kiri ini juga yang jadi batu sandung berkuasanya modal asing Amerika.

Karena itu, Rossa menegaskan, bahwa sebetulnya Suharto tak peduli siapa organisator G 30 S ini karena memang tak penting. Mahmilub yang dia dirikan juga bukan untuk mencari kebenaran, tapi manipulasi dan prasyarat formal belaka.

Momentum ini sudah ditunggu lama untuk menghantam PKI dan memakzulkan Sukarno. Maka langsung saja Suharto menyerang PKI secara menyeluruh setelah 4 hari kejadian, sambil pura-pura melindungi Sukarno yang sampai wafatnya tak sepatah kata pun menyebut PKI sebagai pengkhianat untuk peristiwa dengan skala kecil seperti G 30 S ini.

Angkatan Darat melancarkan gaya “black letter (surat kaleng)” dan “operasi media”. Pelbagai bukti direkayasa untuk memperlihatkan kebencian atas orang-orang PKI, seperti kemaluan para jenderal disilet-silet Gerwani. Dengan agregasi dan modal kampanye hitam itu pasukan elite Angkatan Darat (Kostrad) kemudian terjun ke daerah-daerah dan memompa hasrat warga sipil untuk buas membunuh sesamanya.

Buku ini dengan terang membantu membaca silang-sengkarut interpretasi sekaligus membongkar hayat-sadar kita akan pengeramatan peristiwa yang relatif kecil (G 30 S) di mana justru menghapus ingatan akan peristiwa yang luar biasa jahatnya setelahnya, yakni pembunuhan massal yang tak terperikan.

Lekra Tak Membakar Buku

Ada "sesuatu" di ruang kosong itu. *Banned*

Ada "sesuatu" di ruang kosong itu. *Banned*

Judul : Lekra Tak Membakar Buku
(Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965)
Penulis : Rhoma Dwi Aria Yuliantri & Muhidin M Dahlan
Penerbit : Merakesumba
Cetakan : I, Sept 2008
Tebal : 584 hlm ; 15×24 cm

Panggung budaya Indonesia di era Demokrasi Terpimpin (1959-1965) dikuasai oleh sebuah lembaga kebudayaan yang sangat pro rakyat dan segaris dengan Manifestasi Politik (Manipol) nya Soekarno. Lembaga itu bernama Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Di masa inilah Lekra menemukan ‘masa keemasan’-nya. Seni rakyat dikembangkan, diberdayakan, dipersembahkan sepenuhnya untuk rakyat ,dan diarahkan untuk mencapai tujuan revolusi yang belum rampung.

Sayang, prahara politik tahun 65 membuat semua yang pernah dilakukan Lekra dilenyapkan dari ingatan sejarah bangsa , perannya dikerdilkan sehingga yang dicatat dalam sejarah hanyalah dosa politik kebudayaannya sebagai tukang ganyang, pembuat onar, pemicu konflik tak berkesudahan dengan para sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu), dan telibat pembakaran buku-buku di depan Kantor USIS (Pusat Informasi Amerika). Semua itu seolah tak terbantahkan karena mulut para mantan aktifis Lekra yang mencoba bersuara untuk meluruskannya telah dibungkam ketika penguasa orde baru ‘menjahit’ mulut para lawan-lawan politiknya.

Lalu apa dan bagaimana sesungguhnya Lekra ? Apa saja yang telah dikerjakannya selama lembaga
kebudayaan ini menguasai panggung budaya Indonesia selama lima belas tahun (1950-1965)?. Tak banyak yang mengetahuinya karena selain Keith Foulcher yang pernah menulis buku yang berjudul “Social Commitment in Literature and the Arts: the Indonesian “Institute of People’s Culture” 1950-1965 (Victoria Monash University, 1986) tak satu bukupun yang secara komprehensif pernah menulis tentang Lekra hingga akhirnya terbitlah buku bertajuk Lekra Tak Membakar Buku karya Muhidin M Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri.

Buku ini bisa dikatakan buku yang paling komprhensif mengenai Lekra yang disusun secara sistematis dalam sepuluh bab plus daftar singkatan /akronim, lampiran, dan indeks. Dimulai dari bab Mukadimah yang mencatat situasi menjelang Kongres I Lekra (1959) ketika seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia harus segaris dengan Manifestasi Politik (Manipol)-nya Soekarno. Demikian pula dengan sikap berkebudayaan yang arahnya sudah jelas : “Seni untuk Rakyat” dan “politik adalah panglima kebudayaan”. Dalam Konggres-nya inilah Lekra mencoba merumuskan berbagai aksi nyata di lapangan kebudayaan yang memihak Rakyat, anti imperialis, dan anti feodal!

Masih dalam bab yang sama, diungkapkan pula kelahiran dan peran Lekra secara umum sebelum dibahas secara detail di bab-bab berikutnya. Satu hal yang menarik adalah terungkapnya bahwa Lekra bukanlah salah satu organ PKI seperti yang selama ini banyak diasumsikan orang.

“ Lekra tak pernah menjadi underbow PKI. Lekra adalah organisasi merdeka yang tak masuk dalam kendali komando PKI…Walau tak bisa dipungkiri bahwa banyak pekerja budaya komunis yang menjadi anggota Lekra di pucuk-pucuk pimpinannya. “ (hal 61).

“Menyebut Lekra bersih sama sekali dari pengaruh PKI adalah kesalahan fatal, tetapi menyebutnya menginduk kepada PKI juga keliru. Lebih tepat hubungan itu adalah hubungan kekeluargaan ideologi..(hal 63)

Selain itu terungkap pula bahwa Pramoedya Ananta Toer bukanlah komunis. Hal ini terungkap ketika PKI hendak melakukan “pemerahan total” pada Lekra melalui konggres KSSR .

“..bahkan Nyoto yang pendiri Lekra pun menolak “pemerahan total“ Lekra dengan pertimbangan hengkangnya tenaga-tenaga potensial Lekra yang non-Komunis seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan sebagainya.” (hal 62)

Setelah bab Mukadimah, buku ini membahas mengenai Riwayat Harian Rakjat yang merupakan terompet PKI dan Koran politik nasional terbesar pada masanya, dan tempat dimana sastrawan-sastrawan Lekra mengisi secara penuh lembar-lembar kebudayaannya yang merupakan sumber utama dari lahirnya buku ini.

Kemudian mulailah buku ini membahas semua kerja Lekra dan pemikiran-pemikiran seniman Lekra diberbagai bidang kebudayaan yang dibagi secara bab per bab mulai dari sastra, film, seni rupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, dan buku. Dari berbagai bahasan dalam buku ini akan terlihat bahwa para Lekra sangat militan dalam melaksanakan kerja budaya yang segaris dengan prinsip Manipol yang menentang kebudayaan imperialis dan sepenuhnya memihak sekaligus memberdayakan kebudayaan Rakyat. Di tangan Lekra beberapa seni dan kebudayaan rakyat yang telah terkurung dalam kebudayaan feodal ( wayang, tari-tarian keraton, dll) yang tadinya hanya dipentaskan di kalangan dan tempat-tempat tertentu, kini dikembalikan pada rakyat sehingga semua rakyat bisa menikmati dan mengembangkannya.

Lekra juga membabat habis semua bacaan-bacaan, film, musik yang tidak sesuai dengan garis kebijakan Manipol termasuk karya-karya sastrawan Manikebu. Sebagai gantinya, Lekra menumbuh kembangkan bacaan, film, dan musik yang sesuai dengan jiwa revolusioner. Dalam berbagai simposium kebudayaannya Lekra mencatat dan menginventarisir semua kesenian-kesenian rakyat dan mengurus hak ciptanya. Kalau saja apa yang dikerjakan Lekra tak terkubur oleh sebuah prahara politik di tahun 65 mungkin kini tak ada ceritanya kalau kesenian reog ponorogo, dan beberapa lagu daerah diklaim sebagai milik budaya negara tetangga kita.

Dalam bidang musik, selain mengecam musik ngak-ngik-ngok yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian nasional, Lekra juga sangat prihatin terhadap perilaku anak-anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu dewasa yang liriknya cengeng dan cinta-cintaan. Karenanya Lekra membahasnya secara khusus dalam Konferensi Lembaga Musik Indonesia (LMI/Lekra). Kondisi ini tampaknya tak jauh berbeda dengan keadaan sekarang dimana anak-anak tak memiliki lagu-lagu yang sesuai dengan usia mereka sehingga tak heran kalau kita mendengar anak-anak menyanyikan lagu –lagu cinta orang dewasa.

Di bidang buku, kita akan melihat bagaimana saat itu pameran-pameran buku tak sekedar ajang bisnis semata, melainkan menjadi ajang propaganda politik melalui buku-buku yang dipamerkan. Secara menarik kita akan diajak melihat siapa-siapa saja yang ikut dalam pemeran buku yang saat itu bernama “Gelanggang Buku” dan buku-buku apa saja yang dipamerkan. Hal ini mungkin bisa berguna bagi penyelenggara pameran buku di masa kini yang umumnya hanya memindahkan aktifitas toko buku ke dalam pameran.

Kemudian dibahas pula politik sebagai panglima buku, politik buku pelajaran, lembaga penerbitan buku Lekra, dan bab khusus “Lekra tak membakar buku” yang berisi fakta-fakta bahwa Lekra tak pernah membakar buku dan melarang peredaran buku-buku yang notabene adalah wewenang Kejaksaan Agung. Berdasarkan guntingan-guntingan Koran Harian Rakjat yang menjadi dasar buku ini, kedua penulis buku ini sampai pada kesimpulan bahwa “tak satupun individu yang menyebutkan bahwa Lekra secara keorganisasian maupun individu-individu ikut serta dalam pembakaran buku” (hal 476)

Masih banyak sepak terjang Lekra yang akan kita dapat di buku ini. Pada intinya buku ini memang mengupas habis kerja-kerja kreatif yang dihasilkan Lekra selama 15 tahun (1950-1965) di bidang kebudayaan sebelum lembaga ini dibekukan dan seluruh kegiatannya dihapus dari memori dan sejarah bangsa Indonesia.

Kini kita patut bersyukur, karena kiprah Lekra yang telah dengan sengaja dihilangkan dari sejarah bangsa ini kembali terkuak dan dapat dibaca oleh semua orang. Ini semua berkat ‘kegilaan’ dua penulis muda yang dengan tekun menyelisik sekitar 15 ribu artikel kebudayaan di Harian Rakjat selama 1.5 tahun yang tersimpan dalam ruang terlarang untuk dibaca di sebuah perpustakaan di Jogya. Artikel-arttikel itu terpaksa mereka salin karena lembar koran yang sudah usang sebagian besar sudah tak memungkinkan lagi untuk di foto copy.

Dari ribuan artikel yang mereka baca dan salin inilah mereka dan menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku utuh yang enak dibaca.

“Kami hanya mengatur tempo dan menggilir siapa yang naik panggung duluan dan siapa yang kena giliran berikutnya. Untuk memberi suasana dan raut wajah dan suara semasa, maka kami sebanyak mungkin mengiringi kembali seluruh bahasan dengan kutipan langsung dari potongan-potongan berita braksen ejaan lama itu?” (hal 6).

Untungnya walau bersumber dari berbagai artikel-artikel lepas, kedua penulis berhasil merangkainya menjadi sebuah buku yang sistematis, runut, tak bertele-tele, dan enak dibaca sehingga walaupun tebal buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Tambahan lampiran-lampiran risalah rapat, hasil komunike, struktur organisasi, dan sebagainya merupakan bonus bagi mereka yang berniat meneliti lebih dalam mengenai Lekra.

Walau buku ini mengupas habis tentang kerja kreatif Lekra secara lengkap namun ada yang menyayangkan buku ini karena hanya bersumber dari guntingan-guntingan artikel lembar kebudayaan Harian Rakjat tanpa mencari sumber lain berupa wawancara terhadap pelaku sejarah yang masih hidup atau sumber-sumber kepustakaan lain.

Ketika hal tersebut saya tanyakan pada salah seorang penulisnya (Muhidin M Dahlan), ia mengatakan bahwa tak adanya narasumber dari para tokoh sejarah dalam menyusun buku ini sudah disadarinya sejak awal, “Itulah kelemahan sekaligus kekuatan buku ini”, ungkapnya. Wawancara terhadap tokoh-tokoh Lekra yang masih hidup dilakukan hanya sebatas konfirmasi nama, tak bisa lebih dari itu, faktor usia tampaknya menjadi kendala karena mungkin ingatan mereka sudah tak jernih lagi.

Hal lain yang disayangkan adalah hurufnya yang terlalu kecil dan beberapa kesalahan cetak sehingga mengganggu kenyamanan membaca. Untuk ukuran huruf mungkin ini salah satu cara untuk menyiasati agar buku ini tidak bertambah ‘gemuk’ yang tentunya akan mengakibatkan harganya menjadi mahal dan sulit dijangkau oleh khalayak ramai.

Terlepas dari baik buruknya buku ini, saya berani mengatakan bahwa buku ini merupakan karya monumental yang mendokumentasikan penggalan sejarah berkebudayaan di Indonesia. Karenanya buku ini wajib dimiliki dan dibaca oleh para pecinta sejarah, pemerhati, dan pelaku gerakan kebudayan Indonesia. Kiprah Lekra selama lima belas tahun tampil apa adanya dalam buku ini. Ada yang buruk, ada pula yang baik. Yang buruk bisa menjadi pelajaran agar hal serupa tak terulang kembali. Sedangkan apa yang baik dari kerja kreatif Lekra setidaknya dapat menjadi inspirasi dan bisa dijadikan contoh dalam mengembangkan kebudayaan kita saat ini.

Yang pasti buku ini akan membuka mata kita bahwa sejarah Lekra tak sekedar berisi polemik tak berkesudahan dengan pengusung Manifes Kebudayaan. Lekra bukan hanya diisi oleh orang-orang yang haus kuasa, tukang boikot, tukang cela, dan pembuat onar panggung kebudayaan, tapi Lekra adalah sebuah lembaga kebudayaan yang telah memberi warna dan sumbangsih yang luar biasa bagi kebudayaan Indonesia sebelum tragedi nasional menumbuk dan menghancurkan semua hasil kerja keras yang dipupuk selama 15 tahun tanpa henti itu.

H Tanzil, pengasuh blog buku: http://bukuygkubaca.blogspot.com. Pada awal Juni 2009, blog ini menjadi salah satu blog tersehat menurut pilihan Tim Sehat Blog

Judul : Lekra Tak Membakar Buku
(Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965)
Penulis : Rhoma Dwi Aria Yuliantri & Muhidin M Dahlan
Penerbit : Merakesumba
Cetakan : I, Sept 2008
Tebal : 584 hlm ; 15×24 cm

Panggung budaya Indonesia di era Demokrasi Terpimpin (1959-1965) dikuasai oleh sebuah lembaga kebudayaan yang sangat pro rakyat dan segaris dengan Manifestasi Politik (Manipol) nya Soekarno. Lembaga itu bernama Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Di masa inilah Lekra menemukan ‘masa keemasan’-nya. Seni rakyat dikembangkan, diberdayakan, dipersembahkan sepenuhnya untuk rakyat ,dan diarahkan untuk mencapai tujuan revolusi yang belum rampung.

Sayang, prahara politik tahun 65 membuat semua yang pernah dilakukan Lekra dilenyapkan dari ingatan sejarah bangsa , perannya dikerdilkan sehingga yang dicatat dalam sejarah hanyalah dosa politik kebudayaannya sebagai tukang ganyang, pembuat onar, pemicu konflik tak berkesudahan dengan para sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu), dan telibat pembakaran buku-buku di depan Kantor USIS (Pusat Informasi Amerika). Semua itu seolah tak terbantahkan karena mulut para mantan aktifis Lekra yang mencoba bersuara untuk meluruskannya telah dibungkam ketika penguasa orde baru ‘menjahit’ mulut para lawan-lawan politiknya.

Lalu apa dan bagaimana sesungguhnya Lekra ? Apa saja yang telah dikerjakannya selama lembaga
kebudayaan ini menguasai panggung budaya Indonesia selama lima belas tahun (1950-1965)?. Tak banyak yang mengetahuinya karena selain Keith Foulcher yang pernah menulis buku yang berjudul “Social Commitment in Literature and the Arts: the Indonesian “Institute of People’s Culture” 1950-1965 (Victoria Monash University, 1986) tak satu bukupun yang secara komprehensif pernah menulis tentang Lekra hingga akhirnya terbitlah buku bertajuk “Lekra Tak Membakar Buku” karya Muhidin M Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri.

Buku ini bisa dikatakan buku yang paling komprhensif mengenai Lekra yang disusun secara sistematis dalam sepuluh bab plus daftar singkatan /akronim, lampiran, dan indeks. Dimulai dari bab Mukadimah yang mencatat situasi menjelang Kongres I Lekra (1959) ketika seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia harus segaris dengan Manifestasi Politik (Manipol)-nya Soekarno. Demikian pula dengan sikap berkebudayaan yang arahnya sudah jelas : “Seni untuk Rakyat” dan “politik adalah panglima kebudayaan”. Dalam Konggres-nya inilah Lekra mencoba merumuskan berbagai aksi nyata di lapangan kebudayaan yang memihak Rakyat, anti imperialis, dan anti feodal!

Masih dalam bab yang sama, diungkapkan pula kelahiran dan peran Lekra secara umum sebelum dibahas secara detail di bab-bab berikutnya. Satu hal yang menarik adalah terungkapnya bahwa Lekra bukanlah salah satu organ PKI seperti yang selama ini banyak diasumsikan orang.

“ Lekra tak pernah menjadi underbow PKI. Lekra adalah organisasi merdeka yang tak masuk dalam kendali komando PKI…Walau tak bisa dipungkiri bahwa banyak pekerja budaya komunis yang menjadi anggota Lekra di pucuk-pucuk pimpinannya. “ (hal 61).

“Menyebut Lekra bersih sama sekali dari pengaruh PKI adalah kesalahan fatal, tetapi menyebutnya menginduk kepada PKI juga keliru. Lebih tepat hubungan itu adalah hubungan kekeluargaan ideologi..(hal 63)

Selain itu terungkap pula bahwa Pramoedya Ananta Toer bukanlah komunis. Hal ini terungkap ketika PKI hendak melakukan “pemerahan total” pada Lekra melalui konggres KSSR .

“..bahkan Nyoto yang pendiri Lekra pun menolak “pemerahan total“ Lekra dengan pertimbangan hengkangnya tenaga-tenaga potensial Lekra yang non-Komunis seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan sebagainya.” (hal 62)

Setelah bab Mukadimah, buku ini membahas mengenai Riwayat Harian Rakjat yang merupakan terompet PKI dan Koran politik nasional terbesar pada masanya, dan tempat dimana sastrawan-sastrawan Lekra mengisi secara penuh lembar-lembar kebudayaannya yang merupakan sumber utama dari lahirnya buku ini.

Kemudian mulailah buku ini membahas semua kerja Lekra dan pemikiran-pemikiran seniman Lekra diberbagai bidang kebudayaan yang dibagi secara bab per bab mulai dari sastra, film, seni rupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, dan buku. Dari berbagai bahasan dalam buku ini akan terlihat bahwa para Lekra sangat militan dalam melaksanakan kerja budaya yang segaris dengan prinsip Manipol yang menentang kebudayaan imperialis dan sepenuhnya memihak sekaligus memberdayakan kebudayaan Rakyat. Di tangan Lekra beberapa seni dan kebudayaan rakyat yang telah terkurung dalam kebudayaan feodal ( wayang, tari-tarian keraton, dll) yang tadinya hanya dipentaskan di kalangan dan tempat-tempat tertentu, kini dikembalikan pada rakyat sehingga semua rakyat bisa menikmati dan mengembangkannya.

Lekra juga membabat habis semua bacaan-bacaan, film, musik yang tidak sesuai dengan garis kebijakan Manipol termasuk karya-karya sastrawan Manikebu. Sebagai gantinya, Lekra menumbuh kembangkan bacaan, film, dan musik yang sesuai dengan jiwa revolusioner. Dalam berbagai simposium kebudayaannya Lekra mencatat dan menginventarisir semua kesenian-kesenian rakyat dan mengurus hak ciptanya. Kalau saja apa yang dikerjakan Lekra tak terkubur oleh sebuah prahara politik di tahun 65 mungkin kini tak ada ceritanya kalau kesenian reog ponorogo, dan beberapa lagu daerah diklaim sebagai milik budaya negara tetangga kita.

Dalam bidang musik, selain mengecam musik ngak-ngik-ngok yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian nasional, Lekra juga sangat prihatin terhadap perilaku anak-anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu dewasa yang liriknya cengeng dan cinta-cintaan. Karenanya Lekra membahasnya secara khusus dalam Konferensi Lembaga Musik Indonesia (LMI/Lekra). Kondisi ini tampaknya tak jauh berbeda dengan keadaan sekarang dimana anak-anak tak memiliki lagu-lagu yang sesuai dengan usia mereka sehingga tak heran kalau kita mendengar anak-anak menyanyikan lagu –lagu cinta orang dewasa.
Di bidang buku, kita akan melihat bagaimana saat itu pameran-pameran buku tak sekedar ajang bisnis semata, melainkan menjadi ajang propaganda politik melalui buku-buku yang dipamerkan. Secara menarik kita akan diajak melihat siapa-siapa saja yang ikut dalam pemeran buku yang saat itu bernama “Gelanggang Buku” dan buku-buku apa saja yang dipamerkan. Hal ini mungkin bisa berguna bagi penyelenggara pameran buku di masa kini yang umumnya hanya memindahkan aktifitas toko buku ke dalam pameran.

Kemudian dibahas pula politik sebagai panglima buku, politik buku pelajaran, lembaga penerbitan buku Lekra, dan bab khusus “Lekra tak membakar buku” yang berisi fakta-fakta bahwa Lekra tak pernah membakar buku dan melarang peredaran buku-buku yang notabene adalah wewenang Kejaksaan Agung. Berdasarkan guntingan-guntingan Koran Harian Rakjat yang menjadi dasar buku ini, kedua penulis buku ini sampai pada kesimpulan bahwa “tak satupun individu yang menyebutkan bahwa Lekra secara keorganisasian maupun individu-individu ikut serta dalam pembakaran buku” (hal 476)
Masih banyak sepak terjang Lekra yang akan kita dapat di buku ini. Pada intinya buku ini memang mengupas habis kerja-kerja kreatif yang dihasilkan Lekra selama 15 tahun (1950-1965) di bidang kebudayaan sebelum lembaga ini dibekukan dan seluruh kegiatannya dihapus dari memori dan sejarah bangsa Indonesia.

Kini kita patut bersyukur, karena kiprah Lekra yang telah dengan sengaja dihilangkan dari sejarah bangsa ini kembali terkuak dan dapat dibaca oleh semua orang. Ini semua berkat ‘kegilaan’ dua penulis muda yang dengan tekun menyelisik sekitar 15 ribu artikel kebudayaan di Harian Rakjat selama 1.5 tahun yang tersimpan dalam ruang terlarang untuk dibaca di sebuah perpustakaan di Jogya. Artikel-arttikel itu terpaksa mereka salin karena lembar koran yang sudah usang sebagian besar sudah tak memungkinkan lagi untuk di foto copy.

Dari ribuan artikel yang mereka baca dan salin inilah mereka dan menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku utuh yang enak dibaca,

“Kami hanya mengatur tempo dan menggilir siapa yang naik panggung duluan dan siapa yang kena giliran berikutnya. Untuk memberi suasana dan raut wajah dan suara semasa, maka kami sebanyak mungkin mengiringi kembali seluruh bahasan dengan kutipan langsung dari potongan-potongan berita braksen ejaan lama itu?” (hal 6).

Untungnya walau bersumber dari berbagai artikel-artikel lepas, kedua penulis berhasil merangkainya menjadi sebuah buku yang sistematis, runut, tak bertele-tele, dan enak dibaca sehingga walaupun tebal buku ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Tambahan lampiran-lampiran risalah rapat, hasil komunike, struktur organisasi, dan sebagainya merupakan bonus bagi mereka yang berniat meneliti lebih dalam mengenai Lekra.

Walau buku ini mengupas habis tentang kerja kreatif Lekra secara lengkap namun ada yang menyayangkan buku ini karena hanya bersumber dari guntingan-guntingan artikel lembar kebudayaan Harian Rakjat tanpa mencari sumber lain berupa wawancara terhadap pelaku sejarah yang masih hidup atau sumber-sumber kepustakaan lain.

Ketika hal tersebut saya tanyakan pada salah seorang penulisnya (Muhidin M Dahlan), ia mengatakan bahwa tak adanya narasumber dari para tokoh sejarah dalam menyusun buku ini sudah disadarinya sejak awal, “Itulah kelemahan sekaligus kekuatan buku ini”, ungkapnya. Wawancara terhadap tokoh-tokoh Lekra yang masih hidup dilakukan hanya sebatas konfirmasi nama, tak bisa lebih dari itu, faktor usia tampaknya menjadi kendala karena mungkin ingatan mereka sudah tak jernih lagi.
Hal lain yang disayangkan adalah hurufnya yang terlalu kecil dan beberapa kesalahan cetak sehingga mengganggu kenyamanan membaca. Untuk ukuran huruf mungkin ini salah satu cara untuk menyiasati agar buku ini tidak bertambah ‘gemuk’ yang tentunya akan mengakibatkan harganya menjadi mahal dan sulit dijangkau oleh khalayak ramai.

Terlepas dari baik buruknya buku ini, saya berani mengatakan bahwa buku ini merupakan karya monumental yang mendokumentasikan penggalan sejarah berkebudayaan di Indonesia. Karenanya buku ini wajib dimiliki dan dibaca oleh para pecinta sejarah, pemerhati, dan pelaku gerakan kebudayan Indonesia. Kiprah Lekra selama lima belas tahun tampil apa adanya dalam buku ini. Ada yang buruk, ada pula yang baik. Yang buruk bisa menjadi pelajaran agar hal serupa tak terulang kembali. Sedangkan apa yang baik dari kerja kreatif Lekra setidaknya dapat menjadi inspirasi dan bisa dijadikan contoh dalam mengembangkan kebudayaan kita saat ini.

Yang pasti buku ini akan membuka mata kita bahwa sejarah Lekra tak sekedar berisi polemik tak berkesudahan dengan pengusung Manifes Kebudayaan. Lekra bukan hanya diisi oleh orang-orang yang haus kuasa, tukang boikot, tukang cela, dan pembuat onar panggung kebudayaan, tapi Lekra adalah sebuah lembaga kebudayaan yang telah memberi warna dan sumbangsih yang luar biasa bagi kebudayaan Indonesia sebelum tragedi nasional menumbuk dan menghancurkan semua hasil kerja keras yang dipupuk selama 15 tahun tanpa henti itu.

@h_tanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com

Penerbit Jogja Membela Diri

Oleh Muhidin M Dahlan

Judul: Declare, Kamar Penerbit Jogja (1998-2007)
Penulis: Adhe
Penerbit: Komunitas Penerbit Jogja
Terbit: 2007
Tebal: xxxvi+341 halaman

Resensi di majalah Tempo pada bulan awal 2001 yang ditulis Nirwan Dewanto tentang terjemahan Milan Kundera oleh Penerbit Akubaca itu memang menusuk kalbu. Jika ada yang bilang bahwa resensi itu tak mengguncangkan, itu dusta besar. Sebab resensi yang menuding penerbit Jogja sebagai penerbit yang tak becus menggarap buku cukup bikin gerah.

Beberapa pentolan penerbit Jogja, termasuk Adhe (penulis buku ini), Anas Syahrul Alimi, Buldanul Khuri dan yang lain-lain nggerundel dan berencana membikin forum mengadili karya-karya terjemahan intelek-intelek Jakarta, termasuk terjemahan Nirwan Dewanto, kalau terjemahannya ada. Ada juga rencana menggelar pengadilan buku dengan tema: “Jogja Membela Diri”.

Forum itu setahu saya tak pernah ada. Bahkan setelah satu per satu muka berminyak para aktivis perbukuan itu menggesek tanah setelah panggung yang mereka ciptakan dengan gagah dan penuh kenekatan itu rubuh. Barangkali sisa dari gerundelan itu adalah buku ini.

Ini bukan buku yang dibuat oleh seorang ilmiawan dengan ditulis bergaya penelitian yang dingin, objektif, dan berjarak dari sumber serta suasana. Ini juga bukan tulisan seorang etnografis, yang walaupun menyentuh, tapi tetap saja tak ikut serta dalam deru buku Jogja 1998-2004. Ini lebih tepat disebut pleidoi dari aktivis perbukuan di Jogja setelah terus dirundung dakwaan yang bertubi-tubi dari pelbagai penjuru kota, terutama sekali dari Jakarta. Sebab penulisnya sendiri adalah pesakitan utama.

TAK ada fase yang mengharu biru dari Jogja selepas Presiden Soeharto jatuh ditimpuki demonstrasi mahasiswa selain perayaan penerbitan buku. Adhe menceritakan dengan segamblang-gamblangnya bagaimana sebuah penerbitan lahir dari sebuah warung remang-remang dan beroperasi di gang-gang sempit dan bahkan dalam sebuah kamar pengap sewaan yang tak urung sewanya pun masih dinegosiasi waktu dan ongkosnya.

Semua orang di luar Jogja kerap di kepalanya terbangun asumsi bahwa menerbitkan buku harus kondisinya seperti Gramedia, Yayasan Obor Indonesia, dan sederet penerbit-penerbit tua dan mapan dengan gedung-gedung yang mentereng dan asupan modal ratusan juta rupiah. Di Jogja, mereka sungguh kaget dan nyaris tak percaya bahwa buku-buku yang mereka baca selama ini diproduksi oleh penerbit yang terletak di ujung gang dan kerap dihadang plang: “Turun dari Motor Mas, Kalo nggak Benjut”.

Penerbit Jogja yang lahir pada 1998 dan mencapai puncak kegemilangannya antara tahun 2000-2002 adalah riwayat dari gabungan sikap idealis, keras kepala, nekat, dan sekaligus ngawur. Mereka tak terlalu repot dengan pertanggungjawaban modal, pengawasan produk yang berlapis dan berular-ular. Mereka juga tak dipusingkan dengan soal hak cipta yang kerap disoal dan dibesar-besarkan.

Semuanya bergerak cepat dan sigap. Naskah dikerjakan secepat-cepatnya dan dikoreksi sesigap-sigapnya. Persoalan terlalu banyak kesalahan, itu soal lain. Ada perlombaan di antara penerbit untuk menerbitkan buku. Kalau misalnya muncul fenomena buku sampai berganda empat (kasus Tan Malaka), bahkan sampai berganda sepuluh (kasus Khalil Gibran), itu adalah bagian dari risiko di sirkuit buku paling ajaib di Indonesia.

Tapi, semua hiruk-pikuk itu hanya di Jogja. Dan nyaris semua kepala nengok ke Jogja ketika bermunculan “buku-buku aneh”. Kalau kritik berjubel-jubel kemudian dialamatkan ke kota ini, itu tak terlalu mengagetkan. Penerbit di kota ini dikritik, tapi buku-buku cendekia dari kota semisal Jakarta mengalir terus ke kota ini. Bisa dideret sebabnya. Boleh jadi karena tak perlu menunggu antrian lama sebagaimana prosedur menerbitkan buku di penerbit-penerbit mapan yang minta ampun ribet dan lamanya. Di Jogja, sekali buku disetujui untuk diterbitkan, pekan depan penulisnya sudah bisa menyunggingkan senyum melihat bukunya sudah nangkring di rak toko buku. Soal laku atau tidak, itu soal yang lain lagi.

Dari seluruh kenekatan dan mungkin sikap banal dan keras kepala itu maka boleh dibilang Jogja telah mematahkan mitos bahwa menerbitkan buku itu sulit dan rumit. Manusia-manusia yang ingin menjadi cendekia tapi levelnya di kelas sangat bawah sangat terbantu dengan kondisi sirkus buku seperti yang terjadi di kota ini. Bahwa menulis buku semata milik kelas penulis elite berhasil diruntuhkan seketika oleh ulah grasah-grusuh penerbit di Jogja ini. Naskah apa pun bisa dan layak diterbitkan. Sirkus ini melahirkan juga gaya bikin buku dengan jurus “ATM” (amati, teliti, modifikasi) atau “Spanyol” (separuh nyolong).

Tapi ada juga ongkos dari semua ini. Karena dikerjakan oleh anak-anak muda yang terjun ke dunia buku dengan separuh nekat, maka jangan tuntut mereka untuk disiplin. Disiplin dalam hal apa saja. Jika royalti penulis terus dikemplang, jangan terlalu cerewet. Jika hak cipta buku terjemahan tak pernah diurus, jangan salah sangka sebab kalau sibuk ngurusi hak cipta itu ntar gimana kalau disalip penerbit lain yang lebih nekat dan cepat. Kalau gaji karyawan dibayar murah, jangan heran. Jika utang menggunung di percetakan atau distributor, jangan sakit kepala. Jika kepala-kepala penerbit yang rata-rata berusia belia ini susah dihubungi, jangan memaki karena mereka tengah dikejar para penagih dari sembilan penjuru mata angin.

Dan jika mereka pada akhirnya jatuh, mari tegakkan keyakinan bahwa itu hanya sesaat saja. Mereka punya sembilan nyawa dan naluri perbukuan untuk bangkit. Penulis buku ini memang jatuh bangkrut bersama penerbitnya, tapi ia tetap tegak dan kembali ke kemampuan asalinya sebagai penulis. Karena memang Adhe terjun ke penerbitan bukan karena ia telah mengantongi ilmu manajemen yang mbegawani dan matang. Hanya ia suka saja menulis dan membaca buku.

Di Jogja, itu hal biasa. Sebagaimana mesti juga diketahui, bahwa menerbitkan buku adalah separuh dari judi. Pemilik Penerbit Pustaka Pelajar, Cak Ud, pernah mengatakan kepada saya beberapa bulan sebelum para aktivis perbukuan Jogja periode 1998 itu tersungkur, bahwa semua hiruk-pikuk itu tak lama akan berakhir. Sebab mereka (para pekerja buku yang penuh semangat itu) tak sedang menaiki tanjakan 30 derajat. Mereka para pendaki gunung 90 derajat yang bersemangat dan berjudi dengan nasib.

Mungkin hari ini mereka bisa menikmati kemewahan seperti menaiki mobil BMW atau berumah mewah, tapi lihatlah sebentar lagi. Mereka semua akan terjatuh karena dakian yang mereka pilih terlalu curam dan berisiko sangat tinggi di mana pakar manajemen yang sudah berpengalaman puluhan tahun mengamati usaha-usaha pemasaran produk yang dilakukan manusia pun bisa geleng-geleng kepala.

Soalnya tiada lain gaya hidup yang luar biasa mewah dan sekaligus boros tak seimbang dengan risiko bagaimana manajemen pemasaran buku itu dibuat. Bahkan ada salah satu aktivis perbukuan di Jogja yang turut jatuh bersama berseloroh, sistem pembelian dengan Bilyet Giro (BG) itu nggak ada bedanya dengan membeli buku dengan uang palsu. Uangnya memang langsung dinikmati dan risiko akan datang kemudian hari ketika buku-buku itu dikembalikan ke penerbit lantaran tak laku. Dan jatuh bebas itu terletak di sini.

Tapi sudahlah. Semuanya sudah patah dan jatuh. Kendali atau kiblat perbukuan sudah kembali ke Jakarta. Dan buku ini cukup sebagai rangkaian dari memori banding dari dakwaan yang menghujam selama ini. Adhe sudah menulis pleidoi ini dengan baik. Apa pun kata orang, pembelaan ini penting agar orang juga tahu apa yang terjadi di dalam kamar-kamar kos penerbitan Jogja itu. Sebagai sesama aktivis buku yang tidur, makan, dan berak di kamar-kamar penerbit buku Jogja itu, saya ucapkan terima kasih kepada Adhe.

10 Buku Pilihan Pekan Ini

Tambahkan rak buku Anda dengan “10 Pilihan Pekan Ini” yang direkomendasikan oleh Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, dan Republika.

Seratus Buku Sastra Indonesia_HITAM1. Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan
An Ismanto dkk, I:BOEKOE, 2009, 1.001 halaman

Buku ini bisa menjadi semacam kamus atau ensiklopedia dunia sastra Indonesia yang memuat karya terbaik sepanjang masa, baik pra maupun pascakemerdekaan. Meskipun karya ini masih terbilang baru, tapi ia mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki karya-karya sastra lain. Di dalamnya dibedah dan disajikan secara terperinci tentang karya-karya sastra Indonesia yang diperkirakan mampu mewakili dan banyak menjadi referensi dunia sastra. Dari karya sastra klasik sebelum kemerdekaan hingga karya sastra modern pascakemerdekaan.

2. Ilusi Negara Islam (Ekspansi Gerakan Islam Transnasionalis di Indonesia)
Abdurrahman Wahid (ed), The Wahid Institute, Bhinneka Tunggal Ika & Maarif Institute, April 2009, 322 Halaman

Dari penelitian di 24 kota/daerah yang tersebar di 17 provinsi dan berlangsung tak kurang dua tahun, diperoleh fakta bahwa ajaran dan pandangan gerakan Islam transnasionalis telah menyebar dalam sejumlah ormas dan bahkan parpol di tanah air. Penelitian ini menyebut mereka sebagai Islam garis keras, baik di tataran individu maupun kelompok (organisasi) dengan ciri menganut pemutlakan pemahaman agama, bersikap tidak toleran terhadap keyakinan dan pandangan berbeda, hingga menginginkan adanya dasar dan bentuk Negara Islam atau Khilafah Islamiyah.

3. Persahabatan (Lysis): Mari Berbincang Bersama Plato
A Setyo Wibowo (penerjemah), Indonesia Publishing, 2009, 137 halaman

Teks yang diterjemahkan ini diperkirakan ditulis Plato waktu ia masih muda. Lysis adalah dialog, seperti hampir semua tulisan Plato. Sokrates, yang selalu menjadi corong Plato dalam dialog-dialognya, sedang berjalan di taman Akademia—sekolah di mana Plato mengajar. Di situ ia bertemu dengan beberapa pemuda dan mulai berdiskusi dengan mereka. Masalah yang mereka persoalkan adalah persahabatan. Segi lain pentingnya buku ini adalah sebagai ”demonstrasi” sebuah dialog hakiki. Lysis adalah dialog sejati, bukan traktat yang demi main-main diberi bentuk dialog. Meskipun Sokrates dengan segala kepintarannya mengemudikan arah dialog itu, dialog itu kelihatan tidak mempunyai arah yang jelas. Tetap bebas. Lain dari, misalnya, uraian Aristoteles tentang persahabatan dalam buku 8 dan 9 Etika Nikomacheia, dialog Lysis tidak maju secara sistematik, tetapi berliku-liku, ada pendapat silang, loncatan dalam argumentasi, dan kesimpulan yang sepertinya tidak dapat disimpulkan.

4. Kritik Ideologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan bersama Jurgen Habermas
F Budi Hardiman, Buku Baik, 2004, 124 halaman

Jurgen Habermas tidak diragukan lagi merupakan filsuf Jerman terpenting dewasa ini.Tulisan-tulisannya lebih dari 20 tahun dibicarakan di fakultas-fakultas filsafat Eropa kontinental. Buku ini menyajikan pemikiran Habermas seputar pengembangan sebuah teori kritis masyarakat secara mendalam dan mendasar. Juga memberi penguraian atas filsafat sains kontemporer, ilmu-ilmu sosial kritis, dan berbagai problem kemanusiaan dalam masyarakat akibat dominasi sistem ekonomi kapitalis, seperti alienasi, marginalisasi, dan hegemoni sains.

5. Dari Karyawan Menjadi Juragan
Erie Sasmito, 2009

Memiliki keinginan untuk mendapatkan posisi nyaman atas pekerjaan dengan gaji rutin, memang bukan hal yang salah. Tidak semua orang berani untuk mengambil risiko keluar dari zona nyaman itu dan mencoba menghadapi peruntungan atas usahanya. Tidak mengherankan jika dari kesuluruhan populasi di Indonesia hanya 0,18 persen yang berani memilih sebagai pelaku usaha. Buku ini menantang Anda untuk menjadi majikan atas diri sendiri, memberi gaji kepada diri sendiri atas setiap tetes keringat yang dikeluarkan.

6. Berpikir Seperti Nabi
Fauz Noor, LKiS, 2009

Buku ini ingin mengajukan gagasan yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Yakni tentang cara berpikir nabi. Bagaimanakah cara nabi berpikir sehingga ia dapat memberikan jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang sama ketika pertanyaan tersebut dilemparkan oleh dua orang yang berbeda karakter? Bagaimana jalan pikir nabi hingga ia mengeluarkan sabda? Bagaimana ide cemerlang meloncat dalam pikiran nabi sedemikian hingga dalam waktu kurang dari seperempat abad sudah berhasil meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi kecemerlangan peradaban Islam? Bagaimana cara nabi berpikir sehingga pikirannya tidak kebablasan dan menjadi kufur? Buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

7. Tribes: Andalah Pemimpin yang Kami Cari
Seth Godin, One Publishing, 2009, 144 halaman

Tribe adalah sekelompok orang yang terhubung karena sebuah ide dan seorang pemimpin. Sejak berjuta tahun lalu, manusia jadi bagian dari tribe atas dasar agama, etnik, politik, atau bahkan sekadar musik. Tapi siapa yang layak jadi pemimpin? Diakah orang yang hanya bisa mengumbar janji? Diakah orang yang sanggup memoles citra diri dan kepopuleran dengan modal besar? Penulis buku ini mengatakan kepemimpinan harus berasal dari individu yang memiliki hasrat mewujudkan impian. Orang yang mau membuat perubahan. Karena itu, pemimpin bisa jadi siapa saja.

8. Disguised (Sang Penyamar)
Rita la Fontaine de Clercq Zubli, GPU, Mei 2009, 377 halaman

Setelah terbit pertama kali di Amerika Serikat pada 2001 dengan judul Disguised: A Teenage Girl’s Survival in World War II Japanese Prison Camps, buku ini menghilang begitu saja. Kisah Rita ini tak akan sampai ke Indonesia andai penulis buku anak, Alison Morris, tak gigih mencari jejak keberadaannya. Berkisah tentang Rita la Fontaine de Clercq Zubli menjadi lelaki selama tiga bulan lebih. Itu terjadi di masa pendudukan Jepang di Indonesia. Rita menceritakan ulang kisah hidupnya itu dalam enam bagian berdasarkan bulan-bulan ia menjadi tawanan perang.

9. How to Talk so Kids will Listen and Listen so Kids Will Talk
Adele Faber dan Elaine Mazlish, Lentera Hati, 363 halaman

Buku ini menawarkan konsep menarik mengatasi kesulitan komunikasi antara orangtua dan anak. Keduanya pakar komunikasi ortu-anak yang telah diakui secara internasional. Walaupun terjemahan dari buku Amerika Serikat, tetapi buku ini bisa dijadikan rujukan setiap orangtua di seluruh dunia. Karena kesulitan komunikasi antara orangtua dan buah hatinya relatif terjadi di mana pun, termasuk di Indonesia.

10. Nge-Blog dengan Hati
Ndoro Kakung, GagasMedia, 2009, 144 halaman

Buku ini lebih berupa tip dan anjuran agar ngeblog tak diniatkan untuk menaikkan trafik kunjungan, untuk mencari uang, atau malah akal-akalan saja. Barangkali dengan membaca buku ini para blogger bisa terinspirasi dan tertulari spirit ngeblog ala Ndoro Kakung. Keyword penting dan perlu diresapi adalah soal ”berbagi”, eksperimen, dan interaksi di dunia maya. Bagaimana kabar spirit ngeblog Anda saat ini? Bila masih loyo silakan simak saja buku ini. Mungkin buku ini bisa jadi sebuah saklar untuk menggairahkan kembali hasrat menulis dan berbagi di dunia maya.

G 30 S, Klandestin Setengah Hati

Buku Dalih Pembunuhan Massal yang disusun John Rossa ini mesti kita beri rak terhormat dalam tumpukan kepustakaan G 30 S. Ia tak saja menumbangkan banyak analisis sebelumnya yang selalu mencari siapa dalang sesungguhnya dari peristiwa G 30 S itu (PKI, Sukarno, Angkatan Darat, Suharto, CIA); tapi ia menjalin kembali cerita baru yang segar dari serakan data yang membuat kita terhenyak. Betapa tidak, buku yang disusun laiknya roman detektif ini berkesimpulan: G 30 S adalah gerakan militer paling ngawur dan iseng, klandestin setengah hati, dan sama sekali tak direncanakan secara matang.>>resensi

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan