-->

Arsip Resensi Toggle

Novel Leksikon Kamus Khazar

15163_166841319730_736144730_2606101_3545373_aHERNADI TANZIL:

Ingin mencoba menikmati pengalaman baru dalam membaca sebuah novel ? Silahkan mencobanya dengan membaca novel leksikon Kamus Khazar karya Milorad Pavic, profesor sejarah kesusasteraan Universitas Beograd dan salah satu penyair kenamaan Yugoslavia. Walau buku ini diberi judul “Kamus Khazar” (Dictionary of The Khazars) namun ini adalah novel. Tepatnya novel berbentuk kamus atau mungkin lebih tepatnya novel berbentuk ensiklopedia. Nah bagaimana mungkin?

Inilah keunikan buku ini, walau berbentuk seperti ensiklopedia namun ini bukanlah buku yang dapat dijadikan buku referensi karena ini adalah sebuah karya fiksi yang mencampuradukkan sejarah, budaya, dongeng, mimpi dan imajinasi penulisnya tentang sebuah bangsa yang bernama bangsa Khazar.

Bangsa Khazar sendiri pada kenyataannya memang pernah ada. Sejarah mencatat bahwa pada puncak kejayaannya mereka menguasai sebagian besar dari wilayah Rusia selatan sekarang, Kazakhstan barat, Ukraina timur, dan sebagian besar Kaukasus (termasuk Dagestan, Azerbaijan, Georgia, dll.) Bangsa Khazar memasuki catatan sejarah ketika mereka memerangi bangsa Arab dan berrsekutu dengan Kekaisaran Bizentium pada 627 M.

Walau Bangsa Khazar pernah menguasai sebagian besar wilayah Rusia sekarang dan pernah memerangi bangsa Arab namun ironisnya hingga kini sedikit sekali yang dapat kita ketahui tentang bangsa ini, seluruh jejak mereka musnah, tidak menyisakan apa pun yang bisa dipakai untuk mengetahui asal-usul bangsa ini. Konon bangsa Khazar lenyap dari panggung sejarah setelah mereka mengalami peristiwa yang akan menjadi bahasan utama buku ini.

Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah ‘Polemik Khazar’ . Sebuah peristiwa besar ketika bangsa Khazar hendak melakukan perpindahan keyakinan dari keyakinan asli mereka ke salah satu dari tiga agama yang telah dikenal pada masa itu yaitu Yahudi, Islam, dan Kristen. Keruntuhan Imperium Khazar terjadi tidak lama setelah perpindahan agama itu saat Kekaisaran Rusia menghancur leburkan bangsa ini (965 – 970 M).

Tidak hanya bangsa ini yang lenyap, tapi kebudayaan, tulisan, dan artefak-artefak budaya merekapun hancur, nyaris lenyap dan hanya menyisakan sedikit bahan yang sangat sulit untuk dijadikan acuan untuk mempelajari kebudayaan Bangsa yang telah punah ini.

Namun minimnya bahan yang bisa diperoleh mengenai bangsa Khazar rupanya tak menyurutkan Milorad Pavic untuk membuat novel mengenai bangsa ini. Hal ini malah memberinya ruang imajinasi yang tanpa batas untuk mengisahkan bangsa Khazar menurut versinya. Dalam hal ini Pavic secara sastrawi mencoba menjajaki dan menyingkap Polemik Khazar ke dalam novelnya secara menarik dan tidak biasa, yaitu dengan cara penyajian layaknya sebuah ensiklopedi.

Dari mana Pavic memperoleh idenya ini? dalam catatan pendahuluannya yang terdapat dalam novel ini, ia mengungkapkan bahwa novelnya ini adalah rekonstruksi ulang dari edisi orisinal kamus Khazar karya Daubmannus yang terbit pada tahun 1691 dan dimusnahkan secara barbar pada tahun 1692 karena dianggap sebagai buku sesat. Untungnya masih ada halaman-halaman atau fragmen-fragmen yang tersisa dari kamus edisi orisinalnya. Berdasarkan lembar-lembar yang tersisa inilah Pavic mencoba merekonstruksi seperti apa kira-kira wujud dan isi dari kamus yang telah lenyap itu.

Sama dengan edisi Daubmannus 1691, Pavic menyajikan bukunya ini dalam tiga bagian utama berdasarkan tiga sudut pandang agama yang saling merebut simpatik penguasa Khazar agar memilih agamanya. Pembagian bab buku ini masing-masing diistilahkan sebagai ‘buku’ , yaitu Buku Merah (perspektif Kristen), Buku Hijau (perspektif Islam), dan Buku Kuning (perspektif Yahudi) yang masing-masingnya memberikan penjelasan tentang bangsa Khazar beserta polemiknya.

Karena setiap bagian disajikan menggunakan sudut pandangnya masing-masing maka tentunya akan ada beberapa bagian yang saling bertentangan, namun ada juga yang memiliki persamaan, atau saling melengkapi satu bagian dengan bagian lainnya.

Tidak hanya polemik Khazar yang dibahas dalam buku ini namun ada berbagai lema lainnya mengenai bangsa Khazar seperti dongeng, anekdot, sejarah, sejarah kamus Khazar karya Daubmannus, dll, bahkan kisah tentang para peneliti bangsa Khazar di masa kini pun ikut mewarnai buku ini.

Dengan gaya penyajian novel seperti halnya sebuah kamus/ensiklopedia yang terususun berdasarkan alfabetikal maka jangan harap kita akan mendapatkan gambaran dan sejarah mengenai bangsa khazar secara kronologis. Akibatnya jika novel ini dibaca secara berurutan dari halaman pertama hingga terakhir, maka pembaca akan dibawa terlempar bolak-balik dari satu masa ke masa lainnya.

Bukan hal yang mudah memang untuk membaca novel ini. Pembaca yang tidak sabaran dan tidak telaten kemungkinan akan menyerah dan mogok di tengah jalan sebelum menamatkannya. Untungnya di awal buku ini, penulis memberikan pendahuluan yang berisi sejarah bangsa Khazar beserta polemiknya secara runut sehingga walau pembaca menyerah di tengah jalan, setidaknya ia bisa memperoleh gambaran umum mengenai bangsa Khazar dan polemiknya.

Seperti halnya ketika kita membaca sebuah ensiklopedia, tentunya kita tak harus membaca buku ini secara berurutan dari halaman pertama hingga akhir. Kita bisa membacanya dari mana saja. Bisa saja kita membacanya berdasarkan lema-lema yang kita sukai atau topic yang ingin kita ketahui. Karena ada tiga bagian yang mungkin akan memiliki lema yang sama, rasanya akan lebih mengasyikan jika kita memilih sat

Seorang Jerman, Westerling, dan Kronik Indonesia

Oleh: Sri Pudyastuti Baumeister

Bekas direktur perusahaan telekomunikasi Jerman mengisahkan kronik pengalamannya selama di Indonesia. Kocak, terang, dan mengangkat fakta-fakta yang jarang diketahui.

Tampaknya tak satu pun orang Indonesia yang akan melupakan nama Raymond Westerling, komandan pasukan khusus Belanda yang membantai sekitar 40 ribu warga Sulawesi Selatan selama 1946-1947. Namun, Horst H. Geerken, pengarang Jerman, mengungkap kembali fakta-fakta mengenai kapten bengis itu, khususnya kisah yang tak tersebut di buku-buku sejarah Indonesia.

Dalam bukunya, Der Ruf des Geckos, 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien (Panggilan Sang Tokek: Pengalaman Mengesankan Selama 18 Tahun Tinggal di Indonesia), yang baru diterbikan bulan ini, Horst menyebut Westerling sebagai “iblis Belanda yang pantas menyandang tudingan penjahat perang”.

Westerling, kata Horst, tak cuma menginstruksikan tembak tengkuk (sebuah metode cepat dan mematikan untuk membunuh), tetapi juga penggal kepala. “Ratusan karung sarat penggalan kepala dilarung ke laut untuk menghilangkan identitas,” tulis pengarang kelahiran Stuttgart, Jerman, pada 1933 itu.

Rentetan kekejaman yang ditunjukkan pemerintah kolonial Belanda terhadap bangsa Indonesia dikritik Horst sebagai sikap ular bermuka dua. “Belanda mengutuk serangan Nazi ke negaranya pada Perang Dunia, tetapi di saat yang sama menjalankan ‘aksi tentara Nazi’ di Indonesia, menjalankan kerja paksa dan pembunuhan massal,” kata Horst kepada Tempo di rumahnya di Bonn, dua pekan lalu.

Jerman menutup seluruh kamp konsentrasi Nazi sesudah Perang Dunia II usai, tetapi Belanda malah membuka banyak kamp konsentrasi baru di Irian Jaya, Sumatera dan pulau-pulau lainnya dua tahun setelah Indonesia merdeka. Para simpatisan yang ikut dalam perang kemerdekaan Indonesia dijebloskan, disiksa dan dibunuh di situ.

Horst tidak sedang berupaya menulis sejarah sebagai seorang sejarawan, tapi fakta-fakta yang gamblang digelar di dalam buku setebal 436 halaman itu mengungkap banyak hal yang jarang diketahui orang. Di Belanda majalah berita VRIJ Nederland menyebutnya sebagai “Buku yang layak dibaca oleh mereka yang mendambakan fakta yang dilakukan bangsa ini (Belanda).” Harian lokal General Anteiger dan Blickpunkt sama-sama menyebut buku ini sebagai “Buku bernilai dengan uraian yang luar biasa tentang perjalanan pembangunan negara muda menjadi negara industri modern.”

Sebagian besar kisah di buku itu ditulis Horst berdasarkan pengalamannya selama 18 tahun (1963-1981) tinggal di Indonesia. Bekas direktur perusahaan telekomunikasi Jerman, AEG Telefunken, cabang Indonesia itu menambahnya dengan riset puluhan buku dan media, seperti harian Frankfurter Algemeine Zeitung dan majalah der Spiegel edisi 1980-an danThe Strait Times edisi tahun 1946, serta wawancara terhadap beberapa veteran RI. Ia perlu tiga tahun untuk menggarap bukunya ini.

Selain kisah Westerling, Horst juga mengungkapkan kisah mencekam dan menegangkan di masa kritis pemerintahan Presiden Soekarno pada 1965. “Amerika Serikat dan Inggris, yang tidak suka dengan Soekarno karena hubungannya kelewat mesra dengan Rusia dan Republik Rakyat Cina, mendukung kudeta Soeharto dan pasukannya,” kata Horst, menganggap Indonesia sebagai tanah airnya yang kedua.

“Saya mendengar seluruh pembicaraan tentang sokongan senjata dari basis Amerika Serikat di Filipina ke Indonesia lewat saluran radio milik saya,” kata Horst, insiyur teknik elektro yang pernah membangun radar “sistem pembacaan dini pertahanan” di akhir 1950-an di Buffalo, Amerika Serikat, sebuah radar yang memberi peringatan dini jika ada serangan bom dan roket dari Uni Soviet ke Amerika dan Kanada. Dengan keahliannya bermain di saluran radio itulah, Horst bisa merekam banyak data keterlibatan Badan Intelijen Pusat (CIA) dalam peristiwa kudeta itu. Horst adalah orang pertama yang membangun saluran radio di Indonesia setelah 40 tahun dilarang keberadaannya oleh Belanda. Ia pula yang membangun stasiun dan studio RRI.

Horst mengaku mengenal Sukarno dengan baik. Seseorang yang, menurutnya, memang dilahirkan sebagai pemimpin. “Dia tahu bagaimana harus membela rakyatnya, dia juga tahu bagaimana mesti bersikap menghadapi lawan-lawannya,” kata Horst.

Di waktu senggang mereka bertemu menyalurkan hobi menyanyi. “Saya malu, Presiden Soekarno fasih menyanyikan lagu militer Jerman Ich habe einen Kameraden, sedang saya tidak,” kata Horst. Karena hubungan akrab itulah, Soekarno mengirim ajudannya untuk mengawal keluarga Horst melewati suasana menegangkan dan berbahaya selama kudeta.

Kronik sejarah itu ditulis Horst dengan gaya populer yang jelas, jernih dan kocak, tetapi serius mengungkap data dan fakta. Kekocakan muncul, misalkan, ketika membahas bahasa Indonesia, yang disebutnya gampang-gampang susah, yang bisa rancu artinya jika tidak jelas terdengar bagi pendatang baru.

Ia bercerita, seorang ekspatriat bertanya kepada gadis muda yang melamar jadi pembantu di rumahnya: “Apakah kau suatu hari mau punya anak?” Sang calon pembantu menjawab, “Kalau Tuhan mau.” Tapi huruf “h” tidak jelas terdengar, maka jadilah bunyinya, “Kalau tuan mau.” Atau ketika seorang nyonya bule menyuruh bujangnya membuka jendela. Tetapi, karena pengucapannya kagok, maka yang terdengar, “Tolong buka celana.” Sang pembantu jadi malu dan keluar dari pekerjaan itu.

“Saya beruntung mendapat kesempatan mukim di Indonesia,” ujar Horst. Pengalaman yang diperolehnya memberi warna yang berbeda dengan kehidupannya di Eropa. Kecintaannya pada alam dan masyarakat Indonesia itulah yang membuatnya terus memperpanjang kontrak kerjanya setiap tiga tahun sampai enam kali berturut-turut.

Dia menghabiskan hari-hari pensiunnya sejak berusia 50-an tahun di Bukit Cinta, Ubud, Bali, dengan menulis buku ini. Secara berkala ia masih menengok Indonesia. “Saya menikmati keindahan alam dan keramahtamahan masyarakat. Bahkan, saat saya berada di Jerman, saya bisa mencium harumnya rokok kretek dan kopi Indonesia,” ujar Horst.

Buku Horst yang diterbitkan penerbit besar Jerman BoD (Book on Demand) ini ternyata cukup laris di pasar. Cetakan pertamanya sebanyak seribu eksemplar beredar pada Juli lalu dalam versi paperback seharga € 24,90 atau sekitar Rp 375 ribu dan hardcover € 39,90 atau Rp 600 ribu. Pada September lalu cetakan kedua mulai beredar. Kini buku itu sedang dialihbahasakan ke bahasa Inggris.

Jika ia melanglang ke desa-desa bunyi tokek terdengar amat mengesankan. Konon bunyi tokek itu berarti pertanda keberuntungan. Horst mengaku mempercayai mitos itu. Itu sebabnya bukunya bejudul dan bergambar cecak besar itu. Ta

nda awal keberuntungan terlihat pada kelarisan bukunya. Meski begitu, “Saya cuma mendapat € 1,45 (Rp 20.600) per buku. Tetapi, saya bukan mencari uang. Yang penting saya bisa berbagi pengalaman dan saya puas dengan karya ini,” katanya.

Diunduh dari Ruang Baca Tempo edisi 26 Oktober 2009

books

Judul Der Ruf des Geckos: 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien
Penulis Horst H. Geerken
Edisi 2
Penerbit BoD – Books on Demand, 2009
ISBN 3839110408, 9783839110409
Tebal

Bahasa

436 halaman

Jerman

Ada Perpustakaan Mewah Terselip di Braga

BragaDi paruh pertama abad ke 20 Bragaweg (Jalan Braga) adalah jalan paling mashyur dan telah menjadi landmark kota Bandung. Jika Bandung pernah dikenal dengan sebutan “Parijs van Java”, tampaknya hanya jalan Braga yang paling mewakili sebutan itu karena Braga merupakan jalan pertokoan yang paling bernuansa Eropa di seluruh Hindia yang memiliki keunikan dan daya tarik yang khas.

Istilah Parijs van Java sendiri hingga saat ini belum diketahui secara pasti kapan tepatnya mulai digunakan. Namun demikian, setidaknya sebuah buku berjudul Boekoe Penoenjoek Djalan Boeat Plesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja yang kemungkinan diterbitkan tahun 1906 telah menyebutkan Bandung sebagai “Parisnya tanah Jawa”. Kenyataannya memang pada masa itu sudah tampak upaya-upaya yang mewujudkanBandung seperti kota Paris seperti mulai dibangunnya societiet, bioskop, café dan restoran, gedung kesenian, serta taman hiburan rakyat yang mampu menghidupkan suasana malam Bandung seperti suasana Paris di malam hari.

Upaya-upaya mewujudkan Bandung yang bernuansa Paris mencapai puncaknya pada masa 1920-1930 terlebih ketika Pasar malam tahunan Jaarbeurs pada tahun 1920 (sekarang lokasi Gedung Kodiklat TNI AD Jl. Aceh) dipromosikan hingga ke luar negeri. Slogan Parijs van Java juga makin populer setelah Boscha sering mengutipnya di berbagai pidatonya. Selain itu di pada masa 1920-1940 Bandung juga dikenal sebagai pusat mode seperti halnya Paris. Saat itu di Braga berdiri berbagai toko mode diantaranya toko mode Au Bon Marche milik orang Perancis yang spesialis menjual pakaian-pakaian mode terbaru dari Perancis.

Di masa kini Braga tak ubahnya seperti jalan-jalan umum lainnya yang padat dan berdebu. Namun di tengah kemacetan Braga pada jam-jam sibuk kita atau suramnya Braga di waktu malam kita masih bisa menikmati sedikit sisa-sisa kejayaan Bandung tempo dulu. Bagaimana caranya? Bacalah buku kecil berjudul Braga – Jantung Parijs van Java, dan kita akan diajak menyusuri sepanjang Braga sambil mengoreh-ngoreh apa saja yang tersisa dari masa keemasan Braga.

Buku setebal 167 halaman ini memang disusun laiknya panduan wisata jalan kaki sehingga pembaca dapat menyusuri sepanjang Braga mulai dari sisi paling selatan di pertigaan jalan Asia Afrika dan Jalan Braga hingga ke berakhir di ujung utaranya di persimpangan Jalan Braga, Jalan Wastukencana, dan Jalan Perintis Kemerdekaan sekarang . Mulai dari gedung bekas toko Van de Vries hingga berakhir di gedung Javasche Bank (kini Bank Indonesia). Ada lebih dari 30 bangunan yang dibahas dalam buku ini, ada yang masih ada hingga kini, namun ada juga yang sudah hilang tak berbekas dan digantikan dengan bangunan yang lebih modern.

Masing-masing bangunan penting sepanjang Braga itu dikisahkan dengan menarik dan cukup detail lengkap dengan kondisinya di masa kini. Dari kisah puluhan bangunan yang terdapat dalam buku ini yang mendapat porsi bahasan yang banyak dibahas adalah Gedung Societeit Concordia (Gedung Merdeka) yang menjadi pusat hiburan masyarakat Belanda di Bandung

Societeit Concordia awalnya adalah nama perkumpulan yang terdiri dari para Preangerlpanter (pengusaha perkebunan di Priangan) dan para elite kota Bandung. Pada 1895 perkumpulan tersebut menempati gedung yang diberi nama Gedung Societeit Concordia. Pada tahun 1940 gedung Societeit Concordia mengalami renovasi yang mengubah penampilannya hingga berbentuk seperti sekarang. Di sinilah Societeit Concordia sebagai perkumpulan kaum elite mencapai puncak popularitasnya

Gedung yang dapat menampung 1.200 orang ini dilengkapi dengan ruang makan, ruang dansa yang luas, ruang bowling serta perpustakaan yang cukup lengkap dengan ruang bacanya . Setiap akhir pekan gedung ini diadakan berbagai pertunjukan seni seperti konser musik (Ismail Marzuki & WR Supratman pernah berkonser di tempat ini) , tonil, dan dansa. Sedangkan di hari minggu pagi gedung ini juga dipakai oleh anak muda Belanda untuk bermain sepatu roda.

Maraknya kegiatan yang dilakukan di dalam gedung ini membuat seorang pelancong Belanda, L.H.C. Horsting menyimpulkan bahwa tidak ada Societeit di seluruh Hindia Belanda yang dapat mengalahkan Societeit Concordia Bandung. Setelah melewati segala kemeriahan dan masa keemasan sebagai pusat hiburan bergengsi pada zaman Hindia Belanda, gedung ini kemudian menjadi terkenal ke seluruh dunia karena menjadi tempat Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955.

Tentunya kita bisa membayangkan bagaimana semaraknya suasana gedung ini di masa lampau, jauh berbeda dengan kondisinya kini yang hanya menjadi sebuah museum bisu yang jarang sekali dipakai untuk aktivitas seni seperti di masa lampau.

Setelah gedung Soceiteit Concordia, gedung legendaris yang mendapat porsi bahasan agak panjang dalam buku ini adalah Maison Bogerijen (Braga Permai) dimana ada lambang kerajaan Belanda yang terpampang di muka restoran ini. Restoran ini dikenal sebagai restoran paling elite di seantero kota yang mendapat piagam restu langsung dari ratu Belanda. Maka dari itu tidak heran jika Maison Bogerijen adalah satu-satunya restoran yang diizinkan menyajikan berbagai hidangan istimewa khas kerajaan Belanda yang tidak bisa ditemukan di sembarang tempat.

Selain kedua gedung diatas, masih banyak gedung-gedung lain yang tak kalah menariknya yang dibahas dalam buku ini seperti gedung DENIS Bank dengan gaya bangunan unik yang merupakan bank pertama kali menggunakan system hipotek di Bandung, Het Snopheus (Sumber Hidangan) , toko mobil Fuchs en Rens yang menjual mobil-mobil terkenal (Peugeot, Renault, Chlyser, Plymouth,dll). Lalu ada pula toko buku van Dorp (sekarang gedung Landmark) yang memiliki cara pemasaran unik yang secara tidak langsung menggiring warga Bandunguntuk kerajingan menanam bunga.

Menarik memang menyusuri spanjang Braga bersama buku ini. Hanya saja satu hal yang disayangkan adalah tak adanya kisah-kisah humanis dibalik keberadaan gedung-gedung yang dibahas dalam buku ini karena buku ini hanya mendeskrpisikan sejarah gedung, fungsi bangunan di masa lampau, arsitek pembuatannya,dll. Jika saja penulis memasukkan sedikit kisah-kisah remeh temeh yang merupakan bagian dari orang-orang yang tingal di gedung-gedung ini tentunya buku ini akan lebih menarik lagi dan gedung-gedung yang dibahas dalam buku ini akan terasa lebih bernyawa jika kita mengunjunginya saat ini.

Karena format buku yang kecil, tidak terlalu tebal, bahasan yang runut, mudah dicerna dan informatif karena dilengkapi dengan daftar istilah, indeks, peta, dan tampilan foto-foto yang tajam membuat buku ini sangat nyaman dibawa sebagai pedoman dalam menyusuri sepanjangBraga untuk menemukan serpihan-serpihan kejayaan Braga di masa lampau.

Selain itu kehadiran buku ini juga ikut melengkapi sejumlah buku tentang Bandung yang telah ditulis selama ini. Satu hal yang menarik, walau dikemas dalam gaya popular, namun salah satu penulis dari buku ini adalah lulusan dari jurusan sejarah. Selama ini buku-buku tentangBandung ditulis oleh budayawan, wartawan, dan ahli planologi.

Namun siapapun yang menulisnya dan apapun yang dibahas mengenaiBandung di masa lampau, buku-buku tersebut, termasuk buku ini bukanlah sekedar hanya menigsahkan kembali sejarah panjang sebuahkota. Ada banyak hal yang positif yang bisa dipelajari, ditimbang, dan mungkin dijadikan teladan khususnya bagaimana mengelola sebuahkota baik untuk masa kini maupun di masa yang akan datang.

Judul : Braga – Jantung Parijs van Java
Penulis : Ridwan Hutagalung & Taufani Nugraha
Penerbit : Ka Bandung
Cetakan : Oktober 2008
Tebal : 168 hlm

Disalin ulang dari blog pribadi Hernadi Tanzil http://bukuygkubaca.blogspot.com/

Perantauan Sebagai Inspirasi Novel

negeri 5 menara::Oleh: Oktamanjaya Wiguna::

Orang berilmu dan beradab tak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti dari kerabat dan sahabatmu. Bersakit-sakitnya, maka manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Sebagaimana kata mutiara Imam Syafii itu, betapapun melelahkannya, petualangan atau perantauan bisa membuahkan pengalaman yang membangkitkan inspirasi. Dan bagi ketiga penulis–A. Fuadi, Nugraha Wasistha, dan Muhammad Najib–petualangan menginspirasi mereka untuk menulis novel.

Dari tanah kelahirannya di Bayur, Sumatera Barat, Ahmad Fuadi merantau ke Jawa untuk meneruskan pendidikan di Pondok Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, lantas melanjutkan kuliah ke Washington dan London. Ia menuangkan pengalaman itu dalam novelnya, Negeri 5 Menara, yang jalan ceritanya mirip pengalamannya.

Lewat tokoh Alif Fikri dan lima sahabatnya yang nyantri di Pondok Madani, Fuadi mengisahkan seluk-beluk kehidupan pesantren, yang niscaya asing bagi mereka yang tak pernah mengalaminya. Sepintas, jalan ceritanya mengingatkan kita pada kisah Harry Potter, namun bukan masuk sekolah sihir, melainkan pesantren.

Novel ini memang tanpa sihir atau misteri. Fuadi semata mengisahkan semangat dan pengalaman unik tokoh-tokohnya, yang berupaya maju dalam pendidikan yang inspiratif. Dengan kelucuan yang terasa wajar dan penuh kepolosan khas anak-anak, sesekali ceritanya mengundang tawa.

Dari gaya berceritanya, terkesan Fuadi cukup menguasai bahasa dan kata, sehingga diksinya mantap dan kosakatanya kaya. Deskripsi yang mendetail–namun tak berlebihan–bertaburan dalam novel ini, sehingga membuat dunia Alif terasa begitu hidup.

Dengan pengalaman yang mirip, Muhammad Najib memberikan atmosfer berbeda. Ketua Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menuangkan saripati pengalamannya melanglang buana ke 30 negara dalam novelnya, Safari.

Novel yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Republika ini mengisahkan Jamal bin Mujahid alias Amal, yang mengambil kuliah di Jerman dan perjalanannya ke berbagai negara, mulai Turki hingga Amerika Serikat. Sosok Najib sebagai pengurus organisasi Islam mempengaruhi tema cerita, sehingga novel ini “terpeleset” pada diskusi serius tentang problema dunia Islam. Halaman demi halaman dipenuhi perdebatan dan tukar pikiran Jamal dengan mahasiswa dan aktivis Islam di berbagai negara.

Hal itu membuat novel ini cenderung kaku, karena tak meluangkan bagi adegan yang deskriptif. Untunglah, Najib menyelipkan kisah asmara dan gambaran karakter Jamal yang terbuka, sehingga novel ini masih memiliki drama yang sempat mengundang rasa penasaran. Cuma sayang, penyuntingan novel ini kurang bersih sehingga terdapat beberapa kesalahan yang mengganggu keasyikan membaca.

Sementara kedua penulis tersebut mendasarkan cerita pada perantauan di dunia nyata, novel Saharakarya Nugraha Wasistha lahir dari petualangannya di dunia imajinasi. Ia mempertemukan tiga tokoh kisah 1.001 Malam, yakni Aladin, Ali Baba, dan Sinbad, dalam satu cerita. Ia menawarkan versinya mengenai kisah legendaris itu, bahkan “mempertemukan” mereka dengan beberapa tokoh dari kisah lainnya.

Ia juga menginterpretasi ulang kisah 1.001 Malam, terutama terhadap versi Walt Disney, yang melepaskan tokoh Aladin dari tradisi dan budaya Islam tempat cerita itu tumbuh. Ia seolah ingin meluruskan bahwa kisah yang berlangsung di Persia (kini Iran) itu sebagai “kisah dakwah”. Sehingga Sinbad, misalnya, ia ceritakan bukan sekadar sebagai pelaut gagah perkasa yang mengarungi samudra dan menghajar monster, melainkan juga sebagai mubalig.

Nugraha, yang berlatar belakang pendidikan desain visual dan lebih sering membuat komik, sangat piawai bermain dengan kata. Ia membangun cerita yang penuh adegan laga, dan mengisahkannya dengan gaya bahasa yang lincah, sehingga ia terkesan memiliki kekayaan repertoire yang beragam sebagai referensi.

Itu terutama terlihat pada berbagai analogi yang ia comot dari berbagai bacaan. Sebut saja saat ia menggambarkan tawa seorang bajak laut yang ia deskripsikan “sedikit mendengus seperti babi hutan Galia”–yang niscaya familiar bagi mereka yang telah membaca komik Asterix.

Setelah dunia perbukuan dibombardir oleh kisah-kisah fiksi Islami yang mengekor Ayat-ayat Cinta, kini lahir novel-novel yang memberi warna berbeda: bahwa kisah cinta, betapapun menjual, tema cerita berupa komedi dan aksi, bahkan diskusi pun, bisa sama menariknya.(Oktamanjaya Wiguna)

Negeri 5 Menara, Pengarang: A. Fuadi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juli 2009 Tebal: xvi + 416 halaman

Sahara,Pengarang: Nugraha Wasistha Penerbit: Serambi, Jakarta, Agustus 2009 Tebal: 335 halaman

Safari , Pengarang: Muhammad Najib Penerbit: Ufuk Press, Jakarta, April 2009 Tebal: 348 halaman

Diunduh dari Media Online Tempo Interaktif Edisi 4 Oktober 2009

Mengurai Krisis 2008 Ala Dahlan Iskan

Oleh Umar Fauzi*)

Krisis finansial yang pernah terjadi tahun 1998, ternyata terulang lagi dipenghujung tahun 2008. Penyebab krisis kali seperti lingkaran setan yang rumit diuraikan dengan bahasa ekonomi. Tapi kerumitan itu bisa diurai dengan bahasa sederhana oleh seorang Dahlan Iskan; Seorang jurnalis yang tidak pernah mengenyam pendidikan ekonomi secara formal, kecuali mengikuti “kuliah umum” perbisnisan seiring gairahnya mengembangkan Jawa Pos.

Dahlan Iskan menguraikannya dalam buku “Kentut Model Ekonomi” (KME). Buku keenam yang ditulis Dahlan Iskan secara berturut-turut setelah 1,5 tahun, pasca transplantasi liver ini merupakan kumpulan ulasannya yang dimuat di Jawapos. Dahlan berusaha menjelaskan dengan gamblang proses transaksi kerakusan orang-orang kapitalis dengan baik dan kontemplatif. Sering kali saya mendengar orang-orang mencemooh kapitalisme yang diciptakan oleh Amerika, namun jarang sekali saya temui penjelasan berarti tentang apa yang  dicemooh itu. Dahlan Iskan berusaha memaparkan kebusukan kapitalisme ini dengan berimbang dan solutif. Tidak sedikit Dahlan Iskan menggunakan kata “kerakusan” untuk selanjutnya mencemooh kapitalisme modern.

Kapitalisme yang mendasari pola ekonomi di krisi 2008 pun ia paparkan dengan bahasa sederhana.  Bermula dari subprime mortagage, sebuah usaha mirip perkreditan rumah yang “bersekongkol” dengan investement banking, semacam Lehman Brother.Investement Banking memberi pinjaman dalam proses perkreditan mortagage, sekaligus mencari penyandang dana. Kemudian, investement banking, dengan kerakusannya, tak lagi mempertimbangkan kepatutan individu yang berhak mendapatkan kredit mortagage. Maka yang terjadi adalah banyak kredit macet.  Banyak yang tidak mampu membayar. Rumah banyak yang di sita. Harga rumah pun ikut turun.

Hal itu belum diperparah oleh usaha perlindungan kredit bagi mereka yang tidak mampu membayar, yang dikenal dengan istilah CDS (Credit Default Swaps). CDS diciptakan oleh Joseph J. Cassano. Dialah yang kemudian yang “dikutuki” orang beramai-ramai. Dengan fasilitas CDS ini  mereka yang gagal,  dapat menikmati lagi fasilitas itu. Cassano menjamin semuanya melalui AIG, perusahaan asuransi terbesar di dunia. Lingkaran setan inilah yang meletuskan krisis finansial edisi 2008.

Mengapa krisis  ini bisa merambah pada negara lain? Beberapa negara terperdaya oleh iming-iming laba dan fasilitas dari investement banking bagi mereka yang mau menginvestasikan dananya. Walhasil setelah kredit macet, dengan seketika “penyandang dana” pun kehilangan uang sejumlah yang ditempatkan. Alih-alih mendapatkan laba dan fasilitas yang dijanjikan, sepersenpun mereka tak mendapatkan kembali uang tersebut. Maka banyak orang (konglomerat) stress. Mereka terpaksa menutup perusahaannya, membangkrutkan diri, dan para pekerjanya di rumahkan. Permainan pun makin rumit karena melibatkan semakin banyak pihak.

Dahlan Iskan menyebut beberapa nama yang secara terpisah adalah pencipta keruwetan yang berbeda-beda. Selain Cassano yang menciptakan CDS, masih ada Howar Sosin dan Randy Rackson yang pernah menciptakan software interest rate swaps yang diharapkan mampu melakukan perhitungan transaksi jangka panjang (puluhan tahun); serta Bernard Lawrence Madoff, yang menciptakan over the counter, sebuah jalan pintas bentuk transaksi perdagangan (uang, saham, obligasi, dan seterusnya) dengan biaya murah dan bunga besar. Dengan transaksi ini Bernie –demikian ia dipanggil– menciptakan kemudahan bagi mereka yang memercayakan uang kepadanya tanpa proses “birokrasi” yang rumit.

Sederhana dan hidup

Begitu sederhana cara tutur Dahlan Iskan sampai-sampai saya yang awam masalah seperti ini pun dapat memahaminya dengan baik, bahkan banyak ekonom yang terperangah oleh kesederhanaan ulasan itu (baca, Kata Pengantar). Kesederhanaan itu mirip dengan apa yang dituturkan Dahlan Iskan sendiri ketika pada suatu kesempatan datang tamu dari investement banking menawarkan banyak fasilitas jika dia mau menempatkan dana di sana: Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Weny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Kesederhanaan itu menjadi jembatan menarik dengan pembaca awam. Salah satunya dapat kita lihat melalui tulisan berjudul “Sebuah Jalan Enak Menuju Bangkrut” yang menjelaskan seluk-beluk tentang bangkrut; atau “Definisi Uang yang Kian Panjang” yang menjelaskan bagaimana uang yang selama ini dipahami orang awam sebagai alat pembayaran untuk membeli barang dan mendapatkan jasa, belum cukup. Tapi di mata orang-orang tertentu, definisi uang seperti itu tidak cukupHarus ditambah sesuai dengan kepentingan masing-masing, begitulah Dahlan Iskan menuliskannya. Sebuah Pilihan kata atau diksi yang menarik, puitis, sederhana, serta mampu merasuki ruang suasana pembaca. Tentu selain penjelasan yang cukup sederhana, pilihan kata yang digunakan Dahlan Iskan cukup menarik, kadang parodis, namun tidak sedikit yang sarkastik.

Selain itu, Dahlan menuturkan beberapa peristiwa dengan cukup dramatis. Itulah yang membuat buku ini terasa “hidup”. Seperti ketika Dahlan menceritakan kebijaksanaan menteri keuangan Sri Mulyani yang tidak bisa mengunjungi ibunya yang sedang kritis. Bahkan ketika akhirnya meninggal dunia. Beliau masih memimpin rapat membahas cara penyelamatan para penabung di bank. Hasilnya, DPR menyetujui suntikan dana sebesar 2 miliar. Begitu juga cerita seputar Bernie, Cassano, serta kebangkrutan dan kehilang uang dalam jumlah besar yang dialami oleh perusahaan maupun individu. Semua dengan bahasa yang enak dibanca dan ringan.

Catatan Sejarah

Dahlan Iskan memang merendah dalam kata pengantarnya, sekaligus memberikan wanti-wanti kepada pembacannya agar tidak terlalu berharap akan kedalaman analisisnya tentang krisis finansial 2008 dalam buku ini. Namun perlu diingat bahwa sejatinya seorang Dahlan Iskan adalah jurnalis. Karena itu mau tidak mau dan wajar jika sebelum menulis, Dahlan telah membekali diri dengan segudang pengetahuan mengenai apa yang akan ditulisannya. Jika dikemudian hari tulisan itu mendapatkan apresiasi baik dari masyarakat, maka itu tak lain adalah diri sang penulisnya yang mampu menafsikan fenomena dengan baik.

Karena itu kumpulan ulasan Dahlan Iskan ini, seyogyanya ditempatkan sebagai sebuah catatan (indah) si penulis tentang fenomena yang terjadi saat ini, dan tidak berharap lebih, untuk dikatakan sebagai sebuah analisis ekonomi. Perpaduan cara tutur jurnalis, sastra (feature), dan bahan dasar ilmu ekonomi ini adalah repertoar menarik. Karenanya buku ini sebenarnya diniatkan/ seyogyanya dikatakan sebagai catatan sejarah. Semacam album yang akan dikenang generasi selanjutnya. Karena itu usaha “mengliping” tulisan Dahlan yang tercerai-berai dalam berbagai edisi Jawa Pos ini menjadi berharga.

Dahlan Iskan menuliskan hal ini pada masa “jalan-jalan” sebagaimana lima buku yang telah terbit. KME pun ditulis selama kebersamaannya dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengikuti berbagai pertemuan puncak 20 kepala negara untuk membahas krisis ini di Amerika Serikat dan menghadiri pertemuan APEC. Kasus ini dengan sendirinya menjawab proses buku ini dan bagaimana orang sekaliber Dahlan Iskan yang tidak punya riwayat formal pendidikan ekonomi, ternyata mampu berbicara banyak untuk menjadi teman pertimbangan SBY selama lawatan untuk berunding masalah terkait ekonomi.

Sebagai sejarah yang memuat fakta saat ini apa adanya, temasuk beberapa foto-foto terkait di dalamnya, KME tidak berlalu begitu saja sebagai paparan fakta-fakta, ada sekelumit harapan di sana-sini yang diselipkan penulisnya. Tentu, selain menjadi jembatan bagi pembaca awan untuk memahami seluk-beluk krisis finansial secara bijaksana. Hal ihwal mengenai berbagai istilah ekonomi; bursa saham, bangkrut, derivatif, dan berbagai intrik ekonomi diulas dengan sangat baik dan sederhana dalam buku ini. Mungkin yang perlu ditambahkan dalam buku ini adalah glosarium, sehingga pembaca lebih mudah menerima berbagai istilah ilmiah secara definitif.

Lebih dari itu, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah “cara tutur” buku dan “cara tutur” koran. Tulisan-tulisan ini sebelumnya memang menjadi catatan di Jawa Pos. Justru itu, ketika telah menjadi buku bebarapa hal terkait “cara tutur” koran harus diadaptasi sesuai “cara tutur” buku, meskipun di dalamnya terdapat sejarah pemuatan. Sehingga kalimat; (Besok pagi, di ruangan ini, saya akan menguraikan bagaimana perusahaan surat kabar..), dan sebagainya, tidak perlu dicantumkan, meskipun berada dalam tanda kurung. Bila buku ini cetak ulang, sebaiknya dilakukan penyuntingan ulang. (Umar Fauzi)

Judul: Kentut Model Ekonomi

Penulis: Dahlan Iskan

Penerbit: Jaring Pena, Surabaya

Cetakan: Februari 2009

Tebal: xxvi + 181 halaman

*) Umar Fauzi aktif di kelompok diskusi Komunitas Rabo Sore (KRS) Surabaya.

Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway

Lelaki-Tua-WEBLELAKI TUA DAN LAUT

Ernest Hemingway | PT Serambi Ilmu Semesta | 2009 | 145 halaman

Pengantar: Keteguhan Kunci Keberhasilan

Memancing memang mengasyikkan. Kalau umpan dilahap oleh target, wah… lega benget. Rasanya, waktu lama yang sudah dikorbankan buat nungguin kail pancing sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Seekor ikan yang guede banget, misalnya. Itulah klimaks dari sebuah kegiatan memancing.

Benar apa yang orang kebanyakan bilang, memancing butuh kesabaran ekstra. Tapi, kali ini bukan cuma kesabaran, Ernest Hemingway mencoba menuturkan kisah yang penuh dengan pelajaran hidup mengenai ketabahan dan kerja keras pantang menyerah lewat lembaran-lembaran penuh semangat. Apa pun konsekuensinya harus dihadapi dengan tegar. Termasuk, menunggu hasil pancingan selama 84 hari…

84 hari? Ya, betul. Itulah waktu yang harus dibayar oleh Santiago, nelayan tua yang digambarkan oleh Ernest Hemingway dalam bukunya yang berjudul Lelaki Tua dan Laut. Sesuai judulnya, kisah dalam buku ini menceritakan tentang perjuangan Santiago. Hanya berbekal perahu tua, kail pancing, umpan, dan niat untuk menggapai keberhasilan di dalam 84 hari tersebut, dia menantang lautan untuk mendapatkan ikan marlin raksasa.

Mulai hari pertama hingga terakhir, dia menunggu umpannya disentuh ikan marlin. Tak ada setitik rasa putus asa di dalam hatinya. Terus saja dia tunggu ikan itu sampai datang menghampiri perahu dan umpannya tadi. Akhirnya dia berhasil. Meski, dia harus menghadapi kenyataan bahwa ikan tersebut tak bisa dibawanya ke daratan secara utuh.

Cerita Gigih Santiago, sang Nelayan dalam Lelaki Tua dan Lautan
Jangan Pernah Menyerah

Memancing. Apa sih yang ada di bayangan kalian mendengar kata tersebut? Nunggu, nunggu, dan nunggu. Membosankan? Kata itu tidak ada di kamus Santiago.

Santiago, tokoh utama dalam novel The Oldman and The Sea (Lelaki Tua dan Lautan), digambarkan punya semangat baja. Dia tidak menyerah meski usahanya mencari ikan sering terbentur kegagalan. Santiago sudah menganggap memancing sebagai tujuan hidup. Hal itulah yang coba diteladani para bookaholic kali ini.

Mustaghfiroh, Sena Aditya, Rischa Puspita, Bayu Santoso, dan Debrina Tedjawidjaja sangat mengagumi kegigihan Santiago. Nelayan satu itu dinilai para bookaholic memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya.

“Wow, bener-bener cerita keteladanan yang luar biasa. Santiago, dalam kisahnya, mampu memberi kita pelajaran berarti untuk menjalani hidup. Meski katanya dia sudah nggak punya keberuntungan lagi dalam memancing seperti waktu mudanya dulu, dia tetep keukeuh memancing di lautan lepas demi seekor ikan marlin raksasa,” ujar Firoh, sapaan akrab Mustaghfiroh.

Debrina juga memuji kandungan cerita dalam novel Lelaki Tua dan Lautan itu. Ceritanya sangat inspiratif. Debrina juga memberikan acungan jempol untuk penghargaan Pulitzer atau nobel sastra untuk buku tersebut. Salah satu bagian yang disuka Debrina adalah cover.

“Di bagian cover depan ditulis bahwa manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan. Itu artinya sebagai manusia kita nggak boleh lemah. Meski harus jatuh bangun kayak Santiago gitu, kita harus tetep semangat,” ujar Debrina.

Ica, panggilan Rischa Puspita, setuju dengan dua bookaholic di atas. Dia juga merasakan keuntungan membaca buku itu. Apalagi kalo bukan pengetahuan tentang kelautan. Sebab, dalam buku itu, beberapa fungsi hewan laut disebutkan.

“Contohnya aja disebutin bahwa minyak ikan hiu itu bermanfaat bagi manusia. Makanya banyak dicari orang. Ato ternyata di laut itu ada ikan bernama marlin yang ukurannya sangat besar,” ujar Ica sambil menyantap spageti yang dipesannya.

“Iya ya, kirain yang namanya cuma artis aja. Marylin Monroe, Ha ha ha…” guyonan Ica disambut tawa keempat bookaholic lain.

Sambil memakan es krim miliknya, Sena ikut nimbrung. Dia lebih terkesan dengan persahabatan Santiago dan Manolin. Dua orang itu tidak punya hubungan darah atau saudara. Namun, saking lengketnya, hubungan dua orang itu seperti saudara kandung. Ada satu cerita yang membuat Sena terharu. Yaitu, ketika Manolin menyambut Santiago pulang dari melaut.

“Tapi omong-omong, spagetiku masih banyak nih. Siapa yang mau bantuin ngabisin ya?” Ica membuka tawaran untuk bookaholic lain. Tanpa pikir panjang, semua tangan bookaholic langsung terangkat, tanda menerima tawaran Ica.

CUAP – CUAP

Usung Kisah Inspiratif
Menyentuh. Nggak percuma deh di depan bukunya ada tulisan pemenang Pulitzer. Sebab, memang aslinya buku ini bisa jadi sumber inspirasi banget. Perjuangan Santiago untuk mendapatkan ikan marlin patut diacungi empat jempol sekaligus. Bayangin aja, dia nggak cuma menaklukkan ikan marlin, tapi dia juga harus mengalahkan ikan hiu yang buas. Selain itu, banyak kata-kata bijak dalam buku ini. Meskipun kadang tersampaikan secara tersirat, nasihat-nasihatnya mengena banget. Di sini, Santiago menemui berbagai halangan sewaktu dia mincing. Namun, dia tidak menghiraukan semua itu. Sebab, dia memiliki satu mimpi yang menjadi pendorong semangatnya.
Debrina Tedjawidjaja, Unair
Buku favorit: Pretty Pritta
Pengarang: Andrei Aksana
Rating: 4

– – –

Menarik Diimajinasikan
Bagi yang suka novel-novel terjemahan, buku ini bisa jadi salah satu pilihan. Tema cerita yang diusung relatif langka. Selain itu, ceritanya menarik buat diimajinasikan. Contohnya, waktu Santiago berhasil mendapatkan ikan itu. Sebelumnya, kan dia harus berjuang untuk melawan hiu, bagian ini seru buat diimajinasikan. Wah, perjuangannya pasti menegangkan. Coba aku ikutan berperan di cerita tersebut. Tak bantuin deh, Pak Santiago! Ha ha. Satu lagi yang menarik adalah pas Santiago berhasil ngedapetin ikan yang selama ini dia tungguin. Ukurannya raksasa.
Bayu Santoso, SMAN 7 Surabaya
Buku favorit: Harry Potter
Pengarang: J.K. Rowling
Rating: 4

– – –

Pekerja yang Tangguh
Sebagai seorang pekerja, Santiago patut dijadikan contoh. Dia adalah seorang nelayan yang supersabar. Nunggu umpan pancingannya disantap ikan marlin sampai 84 hari bakal dia lakoni. Hebatnya, dia melakukannya dengan senang hati tanpa mengeluh. Itu adalah pelajaran hidup yang sangat berharga buat kita. Yakni, kita harus total dalam menjalani sesuatu. Meski cobaannya begitu besar, kita harus tabah. Jangan sampai kita menyerah di tengah jalan. Sebab, di akhir nanti kita bakal mendapatkan hasil yang sepadan dengan apa yang sudah kita usahakan.
Mustaghfiroh Y., SMAN 4
Buku Favorit: 100 Orang yang Mewarnai Jakarta
Pengarang: Benny & Mice
Ratting: 5

– – –

Persahabatan Mengharukan
Seru! Ceritanya sarat petuah dan nasihat tentang kehidupan. Inti cerita ini begitu menyentuh. Terutama, bagian persahabatan antara Santiago dan lelaki muda itu. Nggak tau juga sih itu bisa dikategorikan sebagai persahabatan apa nggak. Tapi, yang jelas, di antara mereka muncul emosi yang kuat. Meskipun si lelaki muda tersebut nggak dibolehin sama orang tuanya melaut dengan Santiago, dia tetap menyambutnya sepulang dari menangkap ikan. Perbedaan usia di antara mereka jauh. Tapi, itu tak menjadi halangan bagi mereka untuk saling berbagi pikiran.
Sena Aditya, SMA Giki 2
Buku Favorit: 10 Things Before I Die
Pengarang: Daniel Ehrenhafi
Rating: 4

– – –

Tularkan Kegigihan
Biasanya, aku tertarik buat baca buku kalau sudah ada pembuktian bagus dari orang lain atau film. Kayak beberapa novel yang difilmkan itu, aku pasti baca. Nah, sama halnya kayak buku ini. Kayak yang aku tahu di beberapa website, buku ini sudah banyak direkomendasiin sama orang. Apalagi, dengan penghargaan Putlizer itu, bikin aku semangat baca. Kenyataannya, emang nggak rugi. Banyak hal baru yang bisa kita dapat dari sini. Intinya, seorang nelayan dengan kegigihannya dalam mendapat ikan. Waw, itu menurutku luar biasa.
Rischa Puspita, Unesa Surabaya
Buku favorit: AAC
Pengarang: Habiburrahman El Shirazy
Rating: 4

* Dikronik dari Harian Jawa Pos Edisi 28 September 2009

Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/_D54w_K_rzek/SiSdoLOIisI/AAAAAAAABQ8/6_oTmE3WupE/s1600/Lelaki.jpg

Visual (Buku) Punk!

Oleh: FX Koskow Widyatmoko*)

Sabtu sore, 1 Agustus 2009, Jogja National Museum. Hari cerah, cenderung (men)dingin. Buku Punk! Fesyen-Identitas-Subkultur, diluncurkan di Lantai II, gedung bekas Studio Patung (sewaktu bernaung di bawah nama kampus ASRI). Malamnya, di lantai dasar, anak-anak Punk turut merayakan peluncuran buku tersebut dalam ritual musik.

Ini bukan sesuatu yang istimewa. Namun, momen ini menjadi istimewa ketika kita boleh terperangah betapa erat ikatan di dalam subkultur Punk, dan betapa sebagai sebuah subkultur, Punk pun tak enggan untuk duduk bersama orang lain dan membicarakan diri mereka.

Buku Punk! Fesyen-Identitas-Subkultur “ditulis” oleh John Martono (Kapten John) dan Arsita Pinandita Djumadi (Dito). Buku tersebut diterbitkan oleh Halilintar Books, penerbit yang menginisiasikan diri sebagai penerbit visual books. Buku setebal 112 halaman, dicetak dalam dua warna (merah, hitam), baik isi maupun sampulnya. Maka tak heran jika visual (gambar, foto, tipografi) menyikat perhatian saat membacanya. Meski demikian, buku ini kurang mendapat pembicaraan saat acara launching dan diskusi sebagai sebuah (genre) visual books. Tulisan ini adalah sebuah usaha dalam mengapresiasi buku Punk! sebagai sebuah visual books.

Pengalaman membaca

Pengalaman saya membaca buku ini, diam-diam, belumlah akrab dengan visual sebagai unsur (utama) kebahasaan. Selama ini, saya memandang teks (tulisan) sebagai medium utama yang mengantarkan makna tiap-tiap kata yang dituliskan. Seolah-olah, tulisan menjadi perpanjangan lidah, menjadi perpanjangan apa-apa yang hendak dikatakan, menjadi apparatus kebenaran. Sedangkan, sang gambar, sebatas medium pendukung, perannya nomor dua (setelah tulisan). Maka tak heran jika pembaca yang terlanjur meyakini bahwa tulisan sebagai (satu-satunya) medium penyampai kebenaran akan kesulitan melihat visual-visual yang berhamburan dalam buku Punk! Meski demikian, menurut Halilintar Books, mereka mensinergikan tulisan dan gambar sebagai visual books. (hlm. 110)

Tulisan ini hendak menyampaikan mengenai bagaimana membaca visualitas buku Punk! tersebut. Visualitas menjadi penting manakala tulisan diperhatikan tidak sebatas konvensi bahasa verbal. Tulisan diperhatikan melalui tingkat visualitasnya, baik gaya (style)/karakter, jenis huruf, ekspresi, bahkan hingga bagaimana ia diletakkan dalam lembaran-lembaran kertas (layout). Tingkatan ini bukan sebuah usaha kreatif yang berhenti pada tataran indah dalam artian nyaman untuk mata, alias sedap pandang dalam pengertian normal. Pada momen seperti inilah visual-visual dalam buku Punk! tersebut berusaha mampu dalam menghadirkan Punk sebagai sebuah subkultur. Artinya, melalui visualitas tersebut, Punk sebagai sebuah subkultur yang dituliskan, seperti menjadi jurubicara atas diri mereka sendiri: bahwa ukuran-ukuran normal adalah sebuah khayalan.

Meski demikian, jika kita (pembaca) sebatas memandang visual-visual dalam buku ini sebagai penghias, itu mengartikan kita percaya sepenuhnya atas tugas tulisan sebagai penyampai pesan. Apa-apa yang dituliskan dalam buku ini, tak mampu menghadirkan subkultur Punk. Sepertinya Punk dalam konteks penerbitan buku ini, akan memakan beratus-ratus halaman. Sedang, buku ini memilih (medium) visual untuk mengemban misi-misi tertentu dalam menyampaikan apa yang tak disampaikan oleh (medium) tulisan.

Pembaca yang menghendaki dirinya dipuasi dan menuntut terpuasi oleh tulisan, akan terhenyak ketika menemui tulisan-tulisan dalam buku Punk! yang tak seperti buku-buku pada umumnya. Bahkan, bagi yang selama ini merasa (baca: menuntut) nyaman dan mapan bahwa buku (harus) senantiasa demikian, mungkin merasa kecewa. Kekecewaan itu muncul manakala merasai sajian-sajian visual yang bolehlah dikata kurang sedap: warna merah, hitam, abu-abu, latar halaman berupa remasan kertas, juga kain, foto, gambar manual, tulisan tangan yang hadir bersamaan dengan tulisan komputer, juga ekspresi huruf yang kasar. Ke-kurangsedap-an tersebut merupakan salah satu cara dalam menghadirkan Punk, yang rupanya kurang mendapat ruang yang cukup jika sebatas dihadirkan melalui (medium) tulisan.

Hal-hal di atas harus pembaca dapati sendiri ketika membaca buku ini. Meski dibalut melalui latar belakang sejarah, isi buku tersebut kurang memuaskan karena begitu kikir dalam menginormasikan fesyen, subkultur, dan identitas Punk. Namun, buku tersebut justru tidak berusaha membagi tugas antara tulisan dan gambar yang sepertinya tulisan dan gambar memiliki wilayah masing-masing yang senantiasa harus demikian. Buku tersebut mensinergikan tulisan dan gambar. Jika sinergi yang demikian sudah dapat ditemukan, barulah terasa bahwa buku tersebut cukup proporsional dalam memaparkan fesyen, subkultur, dan identitas Punk.

Pembacaan yang demikian memerlukan usaha dalam melupakan kenyamanan dan kemapanan kita, yaitu sebagai pembaca pada buku pada umumnya. Usaha nuntuk melupakan menjadi penting manakala kita, sebagai pembaca buku pada umumnya, terlanjur meyakini bahwa buku adalah tulisan, tulisan, dan selamanya (harus) tulisan. Sedangkan, gambar adalah ilustrasi, ilustrasi, dan selamanya (harus) ilustrasi, yaitu sebagai penghias, penjelas, atau pengisi ruang estetik halaman. Kita harus berani melupakan kenyamanan masa lampau dan memberi ruang dan kedudukan bagi gambar, bahwa dia (visual) mampu untuk menjadi tulisan, tulisan, dan tulisan. Dengan demikian, bukan tulisan sebagai tulisan, atau gambar sebagai tulisan, atau tulisan sebagai gambar, namun sinergi kuduanyalah merupakan satu kesatuan praktik kebahasaan: menulis. Dalam kerangka pemahaman yang demikianlah buku Punk! gebutan Dito dan Kapten John layak kita apreasiasikan.

Membaca: merumuskan diri
Jika kita terlanjur menaruh perhatian dan keyakinan sebatas (medium) tulisan dalam buku ini, maka dengan segera kita kecewa. Kecewa karena (mengukur) begitu minimnya tulisan. Namun, jika kita terlanjur percaya bahwa gambar adalah yang utama, maka dengan segera merasa tersesat dan kehilangan alur keseluruhan. Meski demikian, sebagai pembaca yang diharapkan telah mengalami perluasan pengalaman perseptual, saya menyampaikan bahwa Punk sebagai sebuah subkultur mencoba dihadirkan melalui berbagai jenis medium: gambar, tulisan, dan boleh jadi rabaan serta bau-bauan hasil cetakan.

Dalam buku ini, kadang tulisan menjadi pemandu utama. Manakala sang pemandu mulai lesu darah, atau dinilai terhegemoni kuasa verbal (jargon-jargon/isme-isme), gambar mencoba mengingatkan bahwa dirinya bukan hantu-hantu Punk, namun Punk itu sendiri, yang berusaha hadir melalui pengalaman-pengalaman riil mereka yang terekspresikan (praktik fesyen) dalam lembar-lembar buku. (Membaca) buku ini menyediakan alat dalam melawan kemapanan bagi diri kita, yang selama ini duduk di atas singgasana: pembaca dominan.

Meski demikian, sebagai pembaca dominan yang sedikit banyak mengenali Punk, dalam kadar tertentu visualitas buku ini dirasa kurang (nge)Punk. Barangkali, sang penerbit ternegosiasi oleh (selera) pasar. Atau, barangkali hal tersebut merupakan wujud mengendurnya garis demarkasi Punk itu sendiri. Namun di sini hendak disampaikan bahwa boleh jadi ekspresi visual buku yang demikian merupakan penanda Punk yang secara otentik sedang merumuskan kediriannya kini di sini, yang berbeda dari kultur asalnya. Siapa bilang bahwa Punk sebagai sebuah subkultur tidak mengenal demokratisasi. Halaman-halaman dalam buku ini menuliskan bahwa dalam tubuh Punk dihuni komunitas-komunitas dengan berbagai macam aliran dengan berbagai gaya berpakaian.

Buku ini memberi sumbangan bagi kedirian kita dalam melawan lupa untuk menjadi diri sendiri: bahwa kedirian kita kian ditentukan oleh mekanisme pasar. Selamat membaca, melawan, dan merumuskan diri. Salam.

Judul: Buku Punk! Fesyen-Identitas-Subkultur

Penulis: John Martono (Kapten John) dan Arsita Pinandita Djumadi (Dito)

Penerbit: Halilintar Books (Edisi pertama, Agustus, 2009)

Tebal: 112 halaman

*) FX Koskow Widyatmoko adalah designer sampul buku yang juga dosen DKV ISI Jogja sekaligus penulis buku “Merupa Buku”. Resensi ini dinukil dari catatan pribadi di facebook Koskow Widyatmoko tanggal 26 September 2009

Kisah Sukses Wikipedia

Oleh M. Iqbal Dawami

Wikipedia_sampul bukuJudul: Kisah Sukses Wikipedia :Ensiklopedia Gratis Terbesar Dan Terpopuler di Dunia
Penulis: Andrew Lih
Penerjemah: Alex Tri Kantjono W.
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: xxi + 287 hlm.
———————–

“Bayangkan sebuah dunia ketika setiap orang bisa mendapatkan semua pengetahuan yang telah dicapai oleh manusia secara cuma-cuma. Itulah yang sedang kami usahakan.” (Jimmy Wales, pendiri Wikipedia)

Buku ini adalah kisah proyek ensiklopedia bebas dan multibahasa yang didukung oleh Yayasan Wikimedia. Nama situs Web ini menggabungkan makna dua kata, yakni Wiki (teknologi untuk menciptakan situs Web kolaboratif) dan Ensiklopedi. Sepuluh juta artikel Wikipedia telah ditulis secara kolaboratif oleh relawan-relawan dari seluruh dunia, dan hampir semua artikelnya dapat disunting oleh siapa pun yang dapat mengakses situs Web Wikipedia.

Diluncurkan pada tahun 2001 oleh Jimmy Wales dan Larry Sanger, kini Wikipedia menjadi karya rujukan umum paling besar dan paling populer di Internet. Buku ini menapak tilas sukses fenomenal Wikipedia ke akar-akarnya, dan menampilkan orang-orang yang telah memberikan sumbangan mereka dalam meraih tujuan memberi setiap orang akses bebas ke kumpulan pengetahuan manusia.

Andrew Lih, penulis buku ini, telah menjadi administrator (pengguna yang memperoleh kepercayaan untuk memiliki akses ke fasilitas-fasilitas teknis) di Wikipedia selama lebih dari empat tahun, selain menjadi pembawa acara tetap dalam mingguan Podcast Wikipedia. Dalam buku ini, ia merinci proses kelahiran situs Wikipedia pada tahun 2001, evolusinya, serta pertumbuhannya yang luar biasa, sambil menerangkan reaksi-reaksi budayanya yang lebih besar. Wikipedia tidak hanya sebuah situs web; Wikipedia juga komunitas global yang terdiri atas kontributor-kontributor yang sengaja bergabung berkat hasrat bersama untuk menjadikan pengetahuan sesuatu yang bebas.

Dengan lebih dari 2.000.000 artikel tentang segala sesuatu dari Aa! (Sebuah kelompok penyanyi pop Jepang) hingga Zzyzx, California, yang ditulis oleh banyak sekali kontributor relawan, Wikipedia menjadi situs kedelapan paling populer di World Wide Web. Dibuat (dan dikoreksi) oleh siapa pun yang memiliki akses ke komputer, kumpulan pengetahuan dalam jumlah sangat mengesankan ini tumbuh dengan laju perkembangan yang memesona, lebih dari 30.000.000 kata dalam satu bulan.

Wikipedia adalah ensiklopedia bebas lisensi yang ditulis oleh sejumlah relawan dalam banyak bahasa. Sekarang Wikipedia besar sekali. Ensiklopedia ini berisi lebih dari satu miliar kata, yang menjadikannya beberapa kali lebih besar daripada gabungan Britannica dan Encarta.

Dalam waktu kurang dari satu dasawarsa Wikipedia telah melengkapi sekaligus mengubah dunia ensiklopedia, dengan melibas hampir setiap ensiklopedia yang sudah mapan dalam berbagai bahasa di dunia.

Wikipedia menjadi begitu populer sehingga tanpa disengaja orang mengambil informasi dari dalamnya setiap hari di internet, dan juga semakin sering dirujuk dalam buku-buku, dokumen-dokumen legal, bahkan budaya pop. Namun, hanya sebagian kecil masyarakat pengguna Wikipedia sadar bahwa Wikipedia sepenuhnya dibuat oleh sejumlah besar relawan yang tidak menerima bayaran, dan sering tidak ingin dikenal. Setiap artikel dalam Wikipedia mempunyai sebuah tombol bertuliskan “edit this page”, yang memungkinkan siapa pun, termasuk anonim yang semula hanya “numpang lewat”, menyunting isi setiap entri yang ada.

Karena telah menemukan cara untuk bekerja sama (co-labor), komunitas Wikipedia telah mampu menghasilkan kerja sama sehari-semalam yang lebih cepat daripada kantor pemberitaan mana pun yang bekerja dua puluh empat jam. Wikipedia tidak akan menjadi sepopuler hari ini tanpa laporan-laporan yang tepat waktu dan tersusun rapi secepat kejadian-kejadian yang sedang diberitakan. Dengan cara ini, Wikipedia melanggar peran tradisional sebuah ensiklopedia sebagai rangkuman sejarah yang sudah berlalu. Kebalikannya, Wikipedia bekerja secepat media pemberitaan. Secepat kejadian yang sedang berlangsung, seperti lebah pekerja yang sedang sibuk di sebuah sarang, Wikipedia mencatatkan, menyunting, dan mengorganisasikan berita-berita sampai detik terakhir ke dalam artikel-artikel di situs web ini. Fungsinya sebagai mesin pencatat sejarah yang terus berjalan betul-betul belum pernah memiliki tandingan dan secara unik mengisi “kesenjangan informasi” tradisional yang tercipta oleh selang waktu antara penerbitan surat kabar dan buku sejarah.

Dalam Wikipedia berbahasa Inggris, dengan kegiatan yang tak kenal henti, artikel-artikelnya telah menjadi potret sesaat situasi dunia, yang bertindak sebagai catatan sejarah yang terus dilengkapi.

Awalnya, Wikipedia didominasi oleh sekelompok pengguna yang ahli dalam teknologi komputer. Akan tetapi, setelah menjadi besar dan makin dipandang penting, kelompok pengguna serius dan setia yang tumbuh belakangaan mencakup orang-orang non-teknik—mahasiswa, akademisi, pakar hukum, dan seniman. Mereka yang menemukan kebahagiaan setelah menyumbangkan karya mereka ke dalam proyek ini secara online menemukan bahwa mereka juga ingin bertemu di dunia nyata. Wikipedia adalah sebuah produk maya di sebuah ruang maya, tetapi ia tetap mempunyai implikasi di “ruang pertemuan” fisik.

* Dinukil dari blog resensor. KODE KRONIK IBOEKOE (B Lok  2009 MIDW)

Buku untuk Meditasi Penulis

IMG_0269Buku ini saya rekomendasikan untuk kawan-kawan yang ingin tekun menulis, bercita-cita jadi penulis, atau siapa saja yang ingin belajar menjadi penulis, namun menemukan beberapa kebuntuan di jalan.

Judul : Aku Bisa Menulis! Buku Meditasi untuk Para Penulis

Penulis: Susan Shaughnessy

Penerbit: Mizan Learning Centre (2004)

Hanya Soal Mau Rutin Menulis

“Hanya dengan menulis setiap pagilah seseorang bisa menjadi penulis. Mereka yang tidak melakukan itu akan tetap menjadi amatir” (Gerald Brenan)

Susan Shaughnessy mengingatkan bahwa pada dasarnya seorang penulis adalah orang yang menulis. Mereka menulis dalam kondisi apa pun. Tertekan, gembira, jatuh cinta, bersedih, ke dokter gigi, atau ketika tidak sedang melakukan itu semua. Mereka tetap menulis dalam kondisi pemerintahannya digulingkan atau sedang dibangun kembali. Mereka menulis karena mereka menulis.

Susan menambahkan, pemikiran yang ada di hari ini, ide yang siap mengalir hari ini, tak akan bisa dituangkan esok hari. Waktu yang diluangkan untuk menulis tak pernah sia-sia. Seandainya Anda hanya bisa meluangkan waktu selama 20 menit, dan hanya bisa menuliskan satu atau dua kalimat saja, Anda tetap melakukan sesuatu yang penting. Anda telah menuliskannya.

Kemudian Susan mengakhiri dengan kalimat menggugah: Aku akan menulis hari ini. Inilah kesempatanku untuk melakukan apa yang aku katakan ingin aku lakukan.

Susan menuturkan semua itu ketika membahas tentang cinta. Tak ada salahnya cinta menulis. Tapi cinta saja tak cukup untuk menjadi seorang penulis. Kecintaan itu harus diwujudkan dalam keseharian hingga terbukti. Seorang yang cinta menulis harus menulis setiap hari, demikian tulis Susan.

Menulis memang harus menjadi sebuah ritual. Dilakukan di waktu yang sama dan terus menerus. Sekali berhenti maka ia akan berhenti lagi, lagi, dan lagi. Tak ada hari libur yang tak menyenangkan. Dan sekali libur menulis berarti membuang satu kesempatan berharga untuk mencurahkan ide dalam tulisan. Ide itu akan selalu ada dalam kondisi apa pun. Depresi sekalipun.

Bagi Susan, depresi bukan halangan untuk menulis. Memang menulis tak mampu mengusir depresi, tetapi depresi tak perlu melumpuhkan menulis. Ciamik sekali cara Susan membalikan cara berpikir negatif menjadi positif ini. Kebanyakan penulis akan berkata ia sedang tak dapat menulis karena tengah mengalami depresi akibat masalah lain. Susan membalikkan logikanya. Kalimat menggugah yang ditulisnya: “Hari ini aku kembali meneguhkan janji untuk menulis secara teratur, tanpa tergantung suasana hatiku. Aku tahu aku bisa menulis dengan baik dalam kondisi apa pun.”

Menulis dalam segala kondisi. Dibutuhkan keyakinan dan keteguhan niat untuk itu. Alih-alih menulis dalam kondisi apa pun, banyak orang yang ingin menulis tapi berdalih peralatannya tak menunjang, komputernya lambat—atau tak punya—penanya jelek, kertasnya habis, ruangannya tak nyaman, situasinya kurang pas, masih banyak masalah, atau mood-nya belum dapat. Hambatan-hambatan dalam diri itu sebenarnya bisa diatasi dengan sedikit perubahan cara berpikir.

Bukan komputer, pena, kertas, situasi, ruangan, atau mood-nya yang mesti diubah, melainkan kemauan untuk mau menulis dan melakukannya dengan rutin dalam media apa pun. Komputer hanya alat bantu, jika tak ada komputer masih banyak alat tulis lainnya. Marques de Sade, pengarang dari Perancis itu, sebagaimana tergambar dalam film The Quills, sampai menggunakan darah dan kotorannya untuk menulis hanya karena semua alat tulisnya dirampas. Jika Sade saja bisa, maka siapa pun yang ingin menjadi penulis pasti juga bisa mengatasi hambatan kecil semacam itu. Tak perlu menunggu hidup yang layak dan tenang untuk mulai menulis.

Sade memang mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Menjadi penulis sudah menjadi tujuan dan garis hidupnya. Dengan memiliki tujuan maka penulis akan tahu ke mana ia akan menuju dan untuk apa ia ke sana. Tujuan itu juga bisa dijadikan pelecut semangat kembali jika di tengah perjalanan menggapai tujuan ditemukan hambatan. Ini adalah upaya menjadikan menulis sebagai sebuah tujuan dan cita-cita untuk diraih. Sebagai sebuah ritual, menulis memang harus menjadi aktivitas yang berdedikasi.

Simak apa yang dikutip Susan dari Janet Frame berikut ini: ”Satu-satunya hal yang pasti tentang menulis dan upaya untuk menjadi penulis adalah bahwa menulis itu harus dilakukan, bukan diimpikan atau direncanakan tanpa pernah ditulis, atau dibicarakan, tetapi hanya dengan menulis; inilah fakta menyebalkan dan menyakitkan bahwasanya menulis tidak berbeda dengan pekerjaan lainnya.”

Susan adalah seseorang yang telah memilih menulis sebagai pilihan pekerjaannya. Dengan begitu ia bisa merumuskan tujuan, langkah-langkah, dan strategi untuk mewujudkan pencapaian di setiap tahapnya. Seperti halnya pekerjaan lainnya, Susan juga mengalami kendala dalam menulis. Dan seperti bagaimana orang lain menyelesaikan hambatan dalam pekerjaannya, Susan juga memilih teori dan penyelesaian yang tak jauh berbeda.

Susan sadar betul, sebagai sebuah pekerjaan, menulis juga membutuhkan cara bertahan dari terpaan krisis. Naskah yang selalu ditolak, dokumen naskah hilang, keuangan yang carut-marut, adalah hal lumrah seorang penulis di awal karirnya. Pada titik ini seorang penulis tak boleh menyerah. Keadaan justru seringkali terbalik pada titik ini. Yang perlu dilakukan adalah tetap bekerja teratur setiap hari, meski dengan waktu yang sangat terbatas, dan setia pada tujuan awal. Cita-cita untuk menjadi penulis dan terus menulis. Karena menulis sudah menjadi pilihan pekerjaan.

Dan pekerjaan menulis itu harus dimulai. Segera setelah niat dan cita-cita itu terpatri di hati, sekarang, hari ini, duduklah menghadap meja tulis dan mulai menulis. Tentang apa pun. Tak perlu berpikir. Tulis saja semuanya apa adanya. Jangan lagi ada penundaan. Apa yang ada hari ini akan berbeda dengan esok hari. Setiap hari memiliki kisah dan mimpi yang berbeda.

Lompatan-lompatan pemikiran itu disusun dengan apik dan sederhana dalam buku ini. Buku ini ditulis Susan berdasarkan pengalamannya selama bekerja sebagai penulis. Susan membagi setiap halaman untuk sebuah bahasan yang bisa dibaca secara acak. Di tiap halaman ia mengutip kalimat-kalimat menggugah dari penulis lain yang telah lebih dulu mengalami masa-masa sulit kepenulisan. Kemudian ia membuat perenungannya. Lalu membangun sebuah kalimat untuk membangkitkan semangatnya sendiri. Sebuah motivasi dari dalam diri.

Topik motivasi yang dikembangkan Susan hampir mirip dan berulang. Ini memang sesuai dengan pengalaman kebanyakan penulis. Hambatan yang sama seringkali terulang lagi di masa yang berbeda. Dalam kondisi yang berbeda ini maka penyelesaiannya bisa sama bisa juga berbeda. Susan berusaha menghimpun yang terserak itu hingga siapa saja yang ingin menjadi penulis bisa membaca buku itu. Kapan saja, mulai dari mana saja, tak masalah. Tanpa harus membaca keseluruhan isinya, Susan menghadirkan bacaan yang memang digunakan untuk penenangan penulis yang resah. Untuk itu ia harus ringan dan tak menambah beban. (Diana AV Sasa)

Krisdayanti: The Power of Book

Cover 003Judul     : Catatan Hati Krisdayanti : My Life My Secret

Penulis : Albertheine Endah

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN         : 978-979-22-4703-9

Tebal                : 358 + 68 foto

Harga               : Rp. 88000

Jika Anda ingin tidak dilupakan orang segera setelah Anda meninggal dunia, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau buatlah sesuatu yang pantas untuk diabadikan. (Franklin)

Krisdayanti (KD), begitu orang mengenalnya. Ia dikenang karena lagu-lagunya beberapa kali merajai pasar musik Indonesia hingga manca. Permainan perannya di layar kaca sempat memukau dan menguras air mata ibu-ibu pecinta sinetron. Tampilan panggungnya glamor, atraktif, dan memikat. Setiap gaya rambut, pakaian, hingga alisnya menjadi barometer trend para perempuan. Ia menjadi sorotan halayak. Kiprahnya dikenang dan tercatat dalam sejarah musik tanah air. Ibarat produk, ia adalah barang kelas 1.

Sebagai ‘produk’ kelas 1, KD menjaga sekali kepuasan pelanggannya, dalam hal ini pengemarnya. Untuk itu ia berusaha sebisa-bisanya untuk menjaga kualitas ‘produk’. KD bukan hanya menjaga kualitas suara, tapi juga penampilan panggung dan citra diri seutuhnya. Baginya, pengemar yang sudah membayar mahal untuk melihatnya di panggung, layak mendapat suguhan terbaik. Penata musik, pinata rias, penata kostum, koreografer, hingga tata panggung dilakukan oleh orang-orang terpilih dan terbaik dikelasnya. Penggemar yang mengaguminya sebagai bintang, juga layak mendapat apresiasi penuh. Citra diri sorang bintang dibangunnya dengan pondasi keyakinan, harapan, dan menejemen yang kuat.

Sebagai seorang ‘bintang’, KD bukan hanya ingin populer tapi juga ingin  agar dirinya selalu dikenang penggemarnya, KD menjalankan petikan kalimat Franklin di atas dengan baik. Di jagad tarik suara, ia akan dilupakan jika lagu-lagunya tak lagi memenuhi selera telinga pasar. Tapi KD terus berinovasi. Dan seperti kata Franklin, KD menulis sesuatu yang pantas dibaca orang lain, buku.

Buku itu bertajuk “Catatan Hati Krisdayanti: My Life My Secret” (MLMS), ditulis dan tata ulang oleh Alberthiene Endah, penulis yang sudah akrab dengan dunia artis dan pernah menulis biografi beberapa artis lain seperti Chrisye, Titik Puspa, Anne Avanty, Venna Melinda, dan KD sendiri. Buku ini adalah buku kedua yang mengupas sisi hidup seorang KD, sang diva, sang bintang.

MLMS ditulis dengan semangat berbagi. Menguak rahasia kesalahan di masa lalu, dan membagi pelajaran berharga dari dalamnya. Tentu saja ini bukan hal baru. Banyak orang penting (baca:public figure) yang menguak sisi-sisi gelap dirinya dengan semangat berbagi kisah dan teladan hidup. Namun, sebagai seorang bintang, upaya KD membukukan catatan hidupnya bukan semata karena ingin berbagi. Ini adalah satu dari sekian banyak upaya yang ia lakukan untuk mempertahankan kebintangannya.

Dalam rumus karir KD, eksistensi adalah kunci untuk tetap bertahan dan dikenang sebagai seorang bintang. Ketika pasar musik Indonesia digeruduk musik-musik band dan maskulin, KD harus mempertahankan kebintangannya dengan terus berkarya. Ia tak bisa memaksakan masyarakat untuk selalu menerima musik dan lagunya. Maka ia harus berkarya dalam format lain agar masyarakat terjaga ingatannya akan seorang KD. Dan ia memilih untuk membuat buku (lagi).

Buku adalah monumen perjalanan yang merekam jejak sang bintang. Ketika sang bintang masih menghela nafas, pembacanya dapat menilik kebenaran dari apa yang dikatakan buku dengan memadankannya dengan realitas. Ini tentu berbeda jika buku ditulis ketika sang bintang sudah berkalang tanah. Pembaca hanya bisa membayangkan dan mengira-ngira saja. Itu pula alasan mengapa Omi Intan Naomi menulis proses berkarya Ugo Untoro dalam senirupa justru ketika Ugo masih hidup. Meski tak lama setelah buku itu terbit, Omi rebah untuk selama-lamanya. Namun ia telah meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang:buku. Ugo maupun KD adalah bintang, dan mereka patut membangun monumennya dalam sebuah buku.

Buku pertama KD, “1001 KD”, lebih banyak mengungkap sisi positif KD sebagai bintang. Pencapaian-pencapaian dan pernik-pernik hidupnya yang membentuk citra seorang bintang. Maka MLMS mengimbanginya dengan menampilkan sisi KD sebagai manusia biasa yang tak luput dari alpa dan luput.

Dalam beberapa wawancara dengan media massa, KD menyebutkan bahwa ada tiga rahasia penting yang diungkapnya dalam MLMS. Pertama, KD pernah mengonsumsi narkoba pada 1998 hingga 1999. Kedua, KD pernah ditalak oleh Anang, suaminya. Dan ketiga, ia mengungkapkan bahwa ia pernah operasi plastik. Bagi KD, ketiga hal itu adalah rahasia besar dalam kehidupannya. KD memang bertahan untuk menjaga citra yang dibangunnya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memunculkan sosok KD yang nyaris sempurna :Cantik, tubuh sempurna, populer, materi melimpah, keluarga bahagia,dan banyak kawan.Maka segala hal-hal buruk yang dapat menurunkan citranya wajib segera ditutup dan diupayakan tidak tersiar ke publik. Maka MLMS menjadi semacam sensasi untuk kembali mengetuk ingatan orang akan seorang KD.

Bagi saya, tidak ada yang terlalu mengejutkan dari ketiga rahasianya. Narkoba adalah barang yang sudah akrab dengan dunia selebriti. Media massa sudah banyak merekam kronik artis yang pernah menjajalnya. Sebut saja Roy Marten, Ari Laso, Doyok, Slank, Sheila Marcia, dan lain-lain. Mereka itu yang kebetulan tertangkap, yang masih menikmati surga semu itu juga tak sedikit. Padatnya kegiatan keartisan yang membutuhkan stamina prima, psikologi yang tertekan karena terus menjadi sorotan, hingga lingkungan pergaulan yang akrab dengan dunia malam adalah beberapa alasan yang acap kali terlontar. Narkoba menjadi identik dengan dunia keartisan secara tidak langsung karena media banyak memberitakan artis yang menggunakan barang memabukkan itu. Maka ungkapan KD pernah menghisap shabu-shabu tidaklah terlalu mengejutkan.

Pengakuan bahwa Anang pernah melontarkan talak pada KD gara-gara KD bersikap kasar pada ibu mertuanya juga tak terlampau mengejutkan sebenarnya. Sekali lagi, ini karena media telah banyak memberitakan peristiwa kawin-cerai dikalangan artis. Hingga hal itu menjadi hal yang dianggap biasa bagi kalangan artis dimata penikmat media.

Demikian juga dengan operasi plastik. Sudah bukan gossip atau hisapan jempol jika artis banyak melakukan operasi  plastik untuk merubah atau mempertahankan penampilannya agar tetap prima. Lagi pula, operasi plastik banyak dilakukan untuk membantu mengembalikan kondisi tubuh wanita paska melahirkan yang kendur. Ketika KD melakukannya, sudah tidak aneh. Selain banyak orang melakukannya, beberapa media memang pernah mempertanyakan postur tubuhnya dan melontar tuduhan operasi plastic. Maka pengakua KD kemudian hanya menjadi satu pembenaran saja atas tuduhan itu.

Selebihnya, MLMS layak mendapat apresiasi mengingat tak banyak seniman kita yang memiliki kesadaran untuk membukukan perjalanan hidup dan karirnya sehingga generasi mendatang dapat belajar dari bukunya. Pencatatan ini penting, karena sejarah ditorehkan dari sini. Buku menjadi semacam monumen sejarah hidup. Tempat dimana setiap pencapaian dan peristiwa dikenang. Kita akan mengenal sejarah dengan baik jika kita dapat mengenali sejarah diri kita sendiri, begitu kata Pramoedya. Maka tulislah sejarah hidupmu sebaik-baiknya, serapi-rapinya. (Diana AV Sasa)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan