-->

Arsip Resensi Toggle

Penoentoen Kaoem Boroeh | Semaoen

Semaoen Menoentoen
Oleh: Zen RS

“Seorang bocah beperawakan pendek, bercelana panjang, dan berkemaja pendek, semua serba putih, dengan gesitnya menghidangkan air teh. Setelah meletakkan gelas-gelas, ia berdiri tegak dan dalam bahasa Belanda yang lancar mengucapkan selamat datang…. Setelah itu ia membungkuk seperti seorang pengawal kerajaan di istana-istana Eropa dan memerkenalkan namanya: Namaku Semaeon…. (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, 1988: hlm. 239)

Penuntun BuruhPara buruh Indonesia kembali bangkit dari kuburnya. Dipicu oleh revisi Undang-undang Ketenagakerjaan yang dinilai terlampau doyong ke pihak pengusaha, para buruh berbareng bergerak dalam arus yang mengumbalang ruas jalan-jalan protokol di kota-kota besar, dengan mengusung satu isu yang sama, dan dengan eskalasi yang terus membubung.

Ancaman mereka untuk melakukan mogok nasional jika para buruh tak dilibatkan dalam proses revisi Undang-undang pemicu sumbu itu ditanggapi serius. Presiden bahkan mengundang perwakilan mereka ke istana. Hasilnya jelas: tuntutan mereka agar revisi Undang-undang Ketengakerjaan di bahas ulang dengan melibatkan para buruh pun kabul. Ancaman mogok nasional pada 1 Mei 2006 yang bertepatan dengan Hari Buruh pun akhirnya urung.

Semaoen, seorang ektivis pergerakan yang bisa disebut sebagai salah satu bapak moyang gerakan buruh di negeri ini, pasti senang menyaksikan soliditas kaum buruh dalam hal isu terakhir ini. Apa yang ia harap dan bayangkan ketika menulis brosur Penoentoen Kaoem Boeroeh di penjara Wirogunan Yogyakarta pada 1919, sedikit banyak sudah menuai hasil.

Sebetulnya Semaoen tak perlu menunggu puluhan tahun kemudian untuk menyaksikan para buruh bisa berbareng bergerak, isitilah yang sering ia pakai untuk memerikan satu situasi di mana para buruh bisa bergerak dan berjuang dalam satu barisan yang solid. Semasa ia menjadi pemimpin Sarekat Islam Semarang, yang lazim dikenal sebagai Sarekat Islam Merah, Semaoen sudah berhasil mengorganisir belasan pemogokan dan demonstrasi kaum buruh, yang beberapa di antaranya menuai hasil baik.

***

Sesuai judulnya, Penoentoen Kaoem Boeoroeh (selanjutnya disebut Peneoenton saja) memang diniatkan betul-betul untuk dijadikan panduan, semacam buku ajar, untuk kaum buruh di Hindia Belanda yang berniat mendirikan serikat buruh (vakbond).

Peneoenton terdiri atas 10 bab. Semaoen membuka buku itu lewat sebuah analisis ekonomi politik Hindia Belanda dan dunia secara ringkas dan padat lewat sebuah bab yang dijuduli, Penjebab di Indonesia Ada Perkoempoelan. Semaoen kemudian melaju dengan memerikan 3 tipe perkumpulan buruh yaitu perkumpulan politik yang berorientasi perubahan struktur politik, koperasi yang bertujuan (terutama) mensejahterakan ekonomi kaum buruh dan serikat kerja yang sengaja dibuat untuk membangun solidaritas dan menegakkan kekuatan kaum buruh, baik secara ekonomi maupun politik.

Jika pada dua bab awal Semaoen seperti memerankan seoran analis sosial, pada bab tiga-lah Semaoen hadir sebagai “guru kaum buruh”. Sejak bab itulah, hingga bab 9, Semaoen secara rigid dan mendetail memberikan panduan ihwal bagaimana caranya mendirikan serikat kerja. Di sini Semaoen hadir dengan aura betul-betul sebagai seorang guru kaum buruh yang mengajar bukan dengan teori, melainkan dengan pengalaman seorang pemimpin buruh yang sudah kenyang asam garam medan perlawanan kaum buruh.

Dalam panduannya ini, Semaoen bahkan secara telaten memberi contoh konkrit dari apa yang sedang ia paparkan. Jangan heran jika mulai bab tiga hingga bab 9, Peneoenton kaya oleh contoh-contoh. Ketika ia berbicara tentang maksud didirikannya serikat kerja, ia mencontohkan bagaimana redaksi maksud pendirian sebuah serikat dalam berbaris-baris kalimat yang bisa dipakai dalam statuten (Anggaran Dasar).

Hal yang sama terus berulang tiap kali Semaoen memaparkan pokok-pokok penting daripendirian sebuah serikat kerja, dari mulai bagaimana membuat rumusan asas, bentuk organ, penyusunan kepengurusan, jenis-jenis ikhtiar yang bisa dipakai, hingga teknis pengelolaan uang hasil iuran anggota. Ia juga memberi contoh bagaimana sebuah kartu anggota serikat kerja disusun.

Ketika sedang menguraikan jenis-jenis ikhtiar yang bisa dilakukan serikat kerja dalam bab berjudul Ikhtiar, Alat dan Senjata Vakbond, Semaoen memaparkan apa yang sebaiknya dilakukan oleh sebuah serikat kerja sewaktu hendak menggelar sebuah demonstrasi, aksi boycott (boikot) dan pemogokan. Ketika itulah ia sudah berbicara tentang arti penting “kas mogok” yang bisa dimaksimalkan untuk membantu keuangan anggota serikat yang melakukan mogok maupun yang dipecat.

Pada paragraf terakhir bab itulah Semaoen menuliskan kalimatnya yang kemudian menjadi mayshur: “Pemogokan adalah senjata kaum buruh yang (paling) tajam, tetapi kalau kaum buruh kurang pintar memakainya maka senjata itu bisa membunuh kaum buruh sendiri (senjata makan tuan).”

***

Yang segera membikin takjub tiap kali orang membaca Semaoen adalah betapa di usia yang masih sangat belia ia sudah menjadi salah satu pemimpin pergerakan.

Ia memulai karirnya dengan menjadi anggota aktif Sarekat Islam (SI) afdeling (cabang) Semarang pada usia 13 tahun. Perkenalannya dengan Snevliet, simbah kaum kiri di Hindia Belanda, pada usia 15 tahun membuat laju Semaoen sebagai propagandis makin kencang. Tak lama dari perkenalannya itulah ia sudah menjadi sekretaris ISDV, organ pergerakan radikal yang kebanyakan diisi oleh orang Belanda dan Indo.

Salah satu capaian paling spektakuler dari Semaoen adalah ia sukses “merebut” (SI) Semarang dengan menjadi komisaris pada usia 18 tahun, menggantikan Mohammad Joesoef yang merupakan wakil generasi tua SI. Jalan masuk Semaoen ke puncak tertinggi SI Semarang terjadi setelah ia terlibat polemik yang begitu keras dengan Joesoef soal bagaimana menyikapi penangkapan Marco Kartodikromo. Semaoen berada di sisi ekstrim dengan menyarankan agar SI aktif secara terang-terangan dalam membela Marco (sikap ini didukung mayoritas anggota SI Semarang), berkebalikan dengan Josoef yang condong menjura-jura dan memohon-mohon pada eyang Gubernur Jenderal.

Segera setalah ia sukses merebut kepemimpinan SI Semarang dari angkatan tua, Semaoen langsung membawa SI Semarang tancap gas: menjadi cabang SI paling radikal yang selain progresif dan paling terang benderang menyatakan perang terhadap kolonialisme Belanda. Di bawah suluh ide-ide sosialisme yang terang-terangan merujuk pada Marx itulah, Semaoen menjadi aktor terpenting yang membikin SI Semarang dicap sebagai SI Merah.

Pada 1919 Semaoen akhirnya dijebloskan ke penjara Wirogunan Yogyakarta. Pemicu utamanya karena ia menerjemahkan tulisan Snevliet, Kelaparan dan petonedjoekan Koeasa. Tapi sesungguhnya, pemenjaraan itu sudah direncanakan sejak Semaoen dianggap sebagai propagandis yang berada di balik serangkaian pemogokan buruh selama 1918.

***

Dengan menerbitkan Penoentoen Kaoem Boeoroeh, Semaoen telah mendahului Tan Malaka, Tjokroaminoto, Haji “Merah” Misbach, Soekarno atau Hatta dalam dua hal sekaligus: (1) mengikhtiarkan membumikan ide-ide sosialisme dengan Marx sebagai acuan utama dalam struktur pengetahuan dan kesadaran kaum pergerakan dan (2) dalam hal mencari sebentuk penyesuaian ide-ide itu untuk penduduk Hindia Belanda yang punya struktur sosial, ekonomi, politik dan mental yang berbeda dengan Eropa.

Berbeda dengan kaum sosialis Belanda seperti Sneevliet, Baars, atau Bergsma yang lebih mengedepankan hal-hal yang prinsipil dari ideologi sosialisme dan agar dipraksiskan secara konsisten dengan prinsip dasar ideologi itu, Semaoen (karena menyadari ide sosialisme belum banyak diketahui dan dimengerti) lebih menitikberatkan pada upaya untuk memberi pemahaman rakyat Hindia-Belanda dan para aktivis pergerakan tentang ide-ide sosialisme dan mengupayakan pemahaman itu dengan cara yang lebih mudah.

Penoentoen, seperti yang sudah dipaparkan secara singkat di awal, yang lebih dipenuhi contoh-contoh ketimbang teori-teori yang sofistikatif, adalah upaya Semaoen, yang dilakukan semampu ia bisa dan dengan berbuntal-buntal keterbatasan seorang anak muda, untuk memberi pengertian tentang apa arti sosialisme. Dengan memberi contoh bagaimana menyusun statuten (anggaran dasar), asas, cita-cita dan model perjuangan dalam bentuk konrit berupa redaksi kata-kata yang sudah diselipi dengan kosa kata dan konsep dasar sosialisme, Semaoen telah berupaya merealisasikan hal pertama tadi.

Sementara poin kedua yang menjadi upaya Semaoen bisa diendus jejaknya dari bagaimana Semaoen, lewat Penoentoen itu, memberi titik tekan bahwa perjuangan kaum buruh, tentu juga perjuangan sosialisme, adalah dalam rangka mencapai penghidupan yang selamat pikiran maupun badan, singkatnya menuju kesmepurnaan batin.

Jadi, tak perlu diherankan jika dalam Penoentoen Tuhan Yang Maha Esa masih sering ditemukan dalam sejumlah paragraf; dan dengan itulah Semaoen mendahului (berhasil atau tidaknya usaha Semaoen ini adalah soal lain) Tjokroaminoto, Misbach, Seokarno dan Hatta yang kemudian hari mencoba mengawinkan sosialisme yang berasal dari Eropa dengan struktur keyakinan religius-mitis bangsa Indonesia, dan juga mendahului Tan Malaka, yang juga mencoba “mengawinkan” secara kreatif sosialisme-komunisme dengan kondisi kha Indonesia dengan cara yang berbeda banyak dengan tokoh lain yang disebutkan tadi.

Semua itu mesti diberi satu catatan penting: Semaoen sudah melakukannya pada usia belasan tahun.

——————————————

Buruh yang Bergerak,
Semaoen yang Menuntun
Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boeroeh dari Hal Vakbond-vakbond
Penulis: Semaoen
Penerbit: Anonim, Semarang
Cetakan: I, Mei 1920
(Ini edisi pertamanya)

Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boroeh dari Hal Sarekat Sekerdja
Penulis: Semaoen
Penerbit: Soeloeh Sosialis 2, Pesindo, Surakarta
Catakan: I, 1946
(Ini edisi yang terbit pasca proklamasi)

Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boroeh
Penulis: Semaoen
Penerbit: Jendela, Yogyakarta
Cetakan: I, Juli 2001
Halaman: xiii + 113 halaman
(Ini edisi abad 21. Cover di atas kuambil dari edisi terakhir ini)

Zen RS, Kontributor Utama Indonesia Buku

Jalan Baru untuk Republik Indonesia | Musso

MussoJalan Baru untuk Republik Indonesia | Musso | 1948 | Yayasan “Pembaruan” Jakarta 1953, Cetakan Ke-VII

RISALAH JALAN BARU MUSSO

Oleh Zen RS

Pada 31 Oktober 1948, di sebuah Minggu yang terik, sebuah tragedi mengenaskan terjadi. Musso, Sekertaris Jenderal PKI, ditembak mati di sebuah kamar mandi. Mayatnya lantas dibawa ke Ponorogo. Di sana, mayat yang disimbahi darah dan luka itu dipertontonkan. Dan…. dibakar!

Tragis sekali. Padahal, 2,5 bulan sebelumnya, tepatnya pada 13 Agustus 1948, Musso yang baru kembali ke Indonesia setelah 13 tahun lamanya hidup di Sovyet, berjumpa dengan Presiden Soekarno dalam suasana hangat dan akrab. Seorang wartawan yang menyaksikan perjumpaan keduanya memberi testimoni: “Bung Karno memeluk Musso dan Musso memeluk Soekarno. Mata berlinang. Kegembiraan ketika itu rupanya tidak dapat mereka keluarkan dengan kata-kata.”

Kala itu, Soekarno memuji Musso sebagai “jago pencak yang suka berkelahi, …yang kalau berpidato akan nyincing lengan bajunya”. Sebelum berpisah, seusai menyerahkan buku Sarinah sebagai kenang-kenangan, Soekarno berharap agar Musso sudi membantunya melancarkan revolusi nasional yang lajunya masih terpatah-patah. Mendengar permintaan itu, Musso membalas dengan jawaban singkat, lugas dan sungguh menggetarkan: “Itu memang kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen (Saya kemari untuk membereskannya).”

Sejarah ternyata tidak terhampar seperti yang dikehendaki aktor-aktornya. 2,5 bulan berselang, Soekarno dan Musso malah saling memunggungi, saling memaki. Ujung dari semua lakon itu sungguh pahit bagi Musso: ia menjadi “korban” kecamuk revolusi yang ia pernah sesumbar hendak membereskannya. Ternyata, Musso sendiri yang “dibereskan” oleh revolusi.

Sewaktu merefleksikan tragika Kudeta Madiun yang memakan banyak korban, termasuk Musso dan Amir Syarifuddin, Jenderal Simatupang dalam memoirnya Laporan dari Banaran, menulis: “Saya yakin bahwa do’a yang terakhir dari anak-anak itu (prajurit dan pemuda yang terlibat dalam Madiun Affair) semua adalah untuk kebahagian dan kebesaran tanah air yang satu juga.”

Saya jadi ingat Aristoteles. Nilai manusia, sebutnya, “bukanlah ditentukan oleh kehancuran hidup dan cita-citanya tetapi oleh perjuangannya mempertahankan harkat kemanusiaannya.” Itu pula yang jadi soal kenapa biografi Musso, dan semua yang ditelan dan dikalahkan proses sejarah secara kejam, menjadi menarik dan justru berharga untuk dipelajari.

Risalah Jalan Baru: Sebuah Jalan Terjal
Setelah 13 tahun hidup di Sovyet, Musso datang ke Indonesia persis ketika kelompok Sayap Kiri (PKI, Partai Buruh Indonesia dan Partai Sosialis) yang tergabung dalam FDR (Front Demokratik Rakyat) sedang dilanda krisis akibat Amir Syarifuddin meletakkan jabatan PM (Perdana Menteri).

Dalam situasi krisis itu, kedatangan Musso diharapkan bisa membangkitkan kembali Sayap Kiri/FDR dari krisis internal yang semakin akut. Dan dengan segera, tidak sampai seputaran siklus hujan-kemarau, Musso berhasil mengendalikan Sayap Kiri. Berkat reputasinya sebagai “alumni” pemberontakan PKI 1926 yang telah berjasa membangkitkan PKI dari “liang lahat sejarah” lewat aktivitas bawah tanahnya pada 1935, Musso sontak tampil di depan panggung dengan sungguh superior. Peran yang dilakoninya tak ubahnya seperti “Peniup seruling dalam cerita Grimms dan tokoh-tokoh lain (termasuk Amir Syarifuddin) mengikutinya sebagai anak-anak yang patuh”.

Dua minggu setelah kedatangannya, tepatnya pada 26-27 Agustus, Musso menghadiri Konfrensi PKI di Yogya. Di situ Musso mengajukan sebuah risalah yang kelak terkenal sebagai Jalan Baru Musso; Risalah ini tak bisa dilewati begitu saja oleh siapapun yang hendak mempelajari Indonesia pada masa-masa itu.

Di risalahnya itu, kegagalan gerakan buruh dianggap Musso sebagai akibat orang-orang komunis yang bergerak di bawah tanah tidak mendirikan sebuah partai komunis tunggal begitu proklamasi dikumandangkan, malah mendirikan Partai Sosialis, Partai Buruh dan PKI sendiri.

Selanjutnya, demikian Musso, tiga partai Marxis yang tergabung dalam kelompok Sayap Kiri terpaksa memasuki jalur politik reformis dan kompromis. Penandatanganan Perjanjian Renville yang dilakukan pemerintahan Sayap Kiri pimpinan Amir Syarifuddin membawa Indonesia ke tubir jurang kolonialisme jilid II.

Semua keruwetan itu berujung pada blunder mundurnya Amir Syarifuddin dari kursi PM. Seperti yang pernah digariskan Lenin, Musso menganggap menyerahkan begitu saja kekuasaan kepada kelompok reformis dan kompromis sebagai hal yang tak bisa ditolerir. Ini kian memperlemah posisi kelompok Sayap Kiri yang saat itu tergabung dalam wadah Front Demokratik Rakyat (FDR).

Untuk menuntaskanya, Musso menawarkan dua ide. Pertama, secepatnya mendirikan sebuah partai tunggal dengan nama Partai Komunis Indonesia (PKI) yang membawahi semua gerakan buruh. Semua anggota Partai Sosialis dan Partai Buruh harus secepatnya mendaftar menjadi anggota PKI.

Ide Musso tentang partai tunggal dengan nama PKI langsung terealisir dalam tempo yang sungguh singkat. Seperti dipaparkan George M.T. Kahin (1995: 349), tak sampai tiga hari, Partai Buruh Indonesia dan Partai Sosialis menyatakan bergabung (fusi) dengan PKI. Pada 1 September, komposisi kepengurusan PKI hasil fusi langsung terbentuk. Musso terpilih sebagai Sekertaris Jenderal PKI, sedang Amir Syarifuddin menjadi Sekretariat Pertahanan.

Jalan Baru tampaknya sudah on the track. Salah satu pokok terpenting Jalan Baru telah terealisir. Selanjutnya, tinggal memikirkan bagaimana cara membentuk Front Nasional yang mewadahi kekuatan-kekuatan utama di Indonesia yaitu PNI dan Masyumi.

Seperti yang akan kita lihat sebentar lagi, semua rencana itu ternyata membentur tembok. Gagal total. Musso akhirnya harus mengakui, dirinya ternyata belum sepenuhnya memahami peta politik Indonesia dan psiko-sosial rakyat Indonesia.

Di Ujung Integritas
Ide Musso selanjutnya adalah Front Nasional. Musso berkeyakinan, untuk menuntaskan revolusi, kelompok Sayap Kiri dan gerakan buruh tak bisa melakukannya sendirian, melainkan harus bekerjasama dengan partai dan organisasi lain yang progresif dan anti-imperialisme. Musso menyarankan agar PKI memimpin upaya pembentukan Front Nasional dengan cara meyakinkan partai-partai lain akan arti penting Front Nasional.

Ide Front Nasional ternyata mati prematur. Pada 10 September, Masyumi menolak ajakan PKI untuk mendirikan Front Nasional. Enam hari kemudian, PNI juga menampik ajakan PKI.

Kendati PNI dan Masyumi pernah melakukan oposisi kepada pemerintah (Syahrir), oposisi yang dilakukan keduanya berbeda jauh dengan konfrontasi. Dalam kamus Komunisme Sovyet, di mana Musso belasan tahun hidup di sana, oposisi memang persis dengan konfrontasi. Tapi Indonesia dan Sovyet tidak identik. Di sini, Musso gagal memetakan medan. Dan ini bukan kegagalannya yang terakhir.

Mengetahui ide Front Nasional tak bisa lagi diharapkan, Musso akhirnya memfokuskan diri untuk mengobarkan semangat massa lewat jargon-jargon komunis. Musso melakukan turne dengan menemui langsung massa lewat vergadering-vergadering (rapat umum) di daerah yang dianggap menjadi kantong gerakan Kiri: Surakarta, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu dan terakhir di Purwodadi.

Ternyata, Purwodadi menjadi tempat terakhir Musso melakukan vergadering. Hari itu juga, Musso dan segenap petinggi PKI menyadari bahwa prakarsa untuk melakukan revolusi telah terlepas dari tangan mereka. Ketika 18 September mereka tiba di Madiun, Musso dan elit PKI lainnya menemukan kenyataan bahwa organissi PKI setempat, dengan dipimpin unsur Pesindo (organ pemuda Partai Sosialis) dan Divisi IV TNI yang pro PKI, telah mela
ncarkan kudeta bersenjata dan merebut kekuasaan di Madiun. Musso dihadapkan pada fait accompli: dia ternyata tak sepenuhnya bisa mengendalikan keadaan.

Menghadapi kenyataan demikian, tak ada jalan lain bagi Musso selain menyatakan dukungannya pada Kudeta Madiun. Situasi ternyata menjadi kian sulit karena kali ini, pemerintah tak mau lagi berkompromi. Di corong radio, pada malam 19 September, Soekarno berpidato dan menuduh Musso telah mendirikan pemerintahan Sovyet. Soekarno lantas mengajukan dua pilihan: “Ikut Musso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta yang…. akan memimpin RI yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun.”

Musso tak kalah gertak. Di hari yang sama, juga di corong radio, ia mencaci Soekarno-Hatta sebagai “pengkhianat jahanam” dan “pedagang romusha”. Dangan lantang dan Musso berpidato: “Kami yakin rakyat akan berkata: Musso selalu mengabdi rakyat Indonesia.”

Siapapun yang pernah membaca naskah pidato Musso itu akan menangkap kesan betapa ia sungguh percaya diri. Tak ada kesan gentar, apalagi takut. Artikulasinya mantap. Tanpa metafor. Dan ofensif. Lewat pidatonya itu, Musso seakan hendak menunjukkan “kelasnya” sebagai seorang kawakan di medan revolusi.

Saya membayangkan, ketika berkoar di depan corong radio itu, Musso seakan sedang memfersonifikasi dirinya sebagai, pinjam sekuplet sajaknya Asrul Sani, “…panglima dari segala burung rajawali. Aku tutup segala kota, aku sebar segala api, Aku jadikan belantara jadi hutan mati.”

Tetapi, menjelang 20 September, Musso akhirnya menyadari dirinya bukanlah “panglima dari segala burung rajawali”. Pengaruhnya ternyata sama sekali tak ada apa-apanya dibanding pengaruh Soekarno-Hatta.

Dalam artikelnya yang dimuat keesokan harinya (21 September), tampak ada getar kekhawatiran. Nadanya ganti bercorak defensif. Musso berusaha keras mencari simpati rakyat dengan berkali-kali menyatakan bahwa kudeta Madiun bukan untuk mendirikan pemerintahan Sovyet. Padahal, pada pidato sehari sebelumnya di corong radio, Musso sama sekali tak menolak tuduhan Soekarno ihwal pembentukan pemerintahan Sovyet. Anehnya lagi, di artikel yang sama, Musso justru mengatakan jika kudeta Madiun berhasil, barulah akan didirikan pemerintahan Sovyet.

Paradoks. Musso berusaha mengendalikan keadaan, tetapi jelas dirinya sama sekali tak memiliki kendali atas situasi. Ia berada di persimpangan. Integritas dia sebagai seorang Stalinis garis keras yang tanpa kompromi benar-benar diuji. Hasilnya, gambaran sosok Musso sebagai seorang yang keras, pemberani, dan konsisten luruh perlahan, ketika ia menampilkan sikap dan pernyataan yang penuh kontradiksi.

Seruan Musso dan pemimpin PKI lain (termasuk Amir) yang telah diperlunak juga gagal melahirkan dukungan massa. Keyakinan Musso ihwal kekuatan Sovyet di Asia yang akan mendukung setiap gerakan anti-imperilisme ternyata jauh panggang dari api. Tak ada dukungan dari Sovyet yang datang. Pelan tapi pasti, pasukan pemerintah berhasil memulihkan keadaan. Pada 30 September 1948, Madiun akhirnya jatuh ke tangan pemerintah.

“Dibakar Percikan Api”
Mempelajari riwayat Musso, juga tokoh-tokoh utama Indonesia lainnya di masa-masa awal kemerdekaan, kita akan mafhum betapa sungguh sukar dan tak mudah menjadi pemimpin pada masa-masa transisi yang penuh kecamuk. Terlampau banyak aral dan tantangan yang membentang di hadapan. Dalam setiap kesempatan, mereka harus berpikir dan bertindak cepat tetapi tetap tidak boleh gegabah dan serampangan.

Terkadang mereka harus mengkompromikan visi dan garis ideologi yang dihayatinya dengan kenyataan di lapangan yang seringkali pahit dan menyesakkan. Termasuk jika harus saling berhadapan dengan orang yang dihormati, orang yang dulunya barangkali adalah sahabat dekat. Seperti ketika Soekarno berhadapan dengan Kartosuwiryo dan Musso yang pernah bersamanya sewaktu mondok di kediaman Cokroaminoto.

Dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (1997: 273), Soe Hok Gie menuliskan refleksinya atas peristiwa berdarah Kudeta Madiun: “Radikalisme ini seperti perlombaan mobil di lereng gunung yang makin lama makin menyempit. Pastilah suatu hari roda-roda yang berputar ini akan saling bersinggungan dan dari percikan api ini semuanya akan dibakar.”

Musso jelas merasakan dan mengalami semua dilema-dilema itu. Dan seperti yang telah kita lihat, Musso pada akhirnya berada di pihak yang “kalah”, dan benar-benar (dalam kata-kata Hok Gie) “dibakar oleh percikan api akibat gesekan roda radikalisme”.

Dengan perasaan tak menentu, Musso menyaksikan rencana dan program-programnya tanggal satu persatu. Perasaan tak menentu itu juga yang kiranya berkecamuk di benak Musso ketika pada 31 Oktober ia berjalan sendiri tanpa pengawal. Di hari Minggu yang mengenaskan itu, ia menemukan sebuah mobil yang ditumpangi pasukan TNI dan berniat menggunakannya. Ia berhasil melumpuhkan prajurit TNI yang berjaga di mobil sasaran.

Sial, mobil itu ternyata tak bisa distater. Prajurit TNI malah berhasil menguasai keadaan dan balik menodong Musso. Tapi Musso tak bergeming. Dengan keberanian yang penuh, Musso berteriak lantang: “Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani meminta saya menyerah pada engkau. Lebih baik mati daripada menyerah, walau bagaimana saya tetap merah putih.”

Prajurit TNI itu kalah wibawa dan malah melarikan diri ke desa terdekat. Tapi pasukan TNI pimpinan Kapt. Sumadi keburu datang. Musso lantas bersembunyi di sebuah kamar mandi. Ia menolak menyerah. Baku tembak tak terhindarkan. Akhirnya Musso tertembak mati. Mayatnya di bawa ke Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar.

Kita tidak akan tahu apa yang ada di kepala Musso saat itu. Bisa jadi, yang dilakukan Musso di detik-detik terakhir hidupnya tadi adalah sebuah upaya untuk menjaga sisa-sisa integritasnya dengan kukuh (mungkin keras kepala). Ketika Musso mengumumkan bahwa Kudeta Madiun bukan untuk mendirikan negara model Sovyet, Musso sadar bahwa dirinya sedang berkompromi dengan kenyataan. Pendek kata, itu cuma sekadar taktik.

Tapi ketika taktik itu tak berbuah bagus, Musso menyadari dirinya telah kehilangan dua hal sekaligus: karir politik dan integritas sebagai seorang Stalinis garis keras. Maka, ketika Musso menampik untuk menyerah di kamar mandi yang telah terkepung, hal itu bisa dimengerti sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan sisa integritas yang sebelumnya telah memiuh entah ke mana.

Kita tahu, upaya terakhir itu membawanya pada sebuah kematian yang tragis dan mengenaskan. Tapi bagi Musso, aktivis yang bolak-balik menelan kepahitan dan kegagalan, upaya itu pasti bukanlah kesia-siaan.

Zen RS, Contributor Utama Indonesia Buku

Surat-Surat Politik (1964-1966) | Iwan Simatupang

SURAT-SURAT POLITIK IWAN SIMATUPANG 1964-1966 Penerbit: LP3ES, Jakarta, 986, 257 halaman
Iwan Simatupang, penulis sejumlah novel ganjil, cerita pendek yang aneh, lakon-lakon yang tak biasa, dan esei-esei yang sulit, tampaknya bakal dikenang juga sebagai semacam Ibu Kartini.
Dia pastilah orang kedua setelah putri bupati Jepara itu yang menggunakan surat sebagai bentuk ekspresi yang lengkap, dalam jumlah yang begitu besar dan dengan isi yang bisa jadi bahan rekaman tentang situasi Indonesia di suatu masa.
H.B. Jassin, kritikus termasyhur itu, juga pernah menerbitkan kumpulan surat-suratnya di tahun 1984. Tapi kelebihan surat-surat Iwan Simatupang bukan saja bentuknya yang panjang, dengan fokus yang jelas, melainkan juga kemampuannya mengungkapkan sesuatu yang tak sehari-hari. Kumpulan ini disebut “surat-surat politik”: di dalamnya memang tampak suatu sikap terhadap suasana politik yang mencekam dalam satu periode gawat sejarah Indonesia modern, tahun-tahun menjelang dan segera setelah peristiwa “Gerakan 30 September 1965”.
Di masa itu, surat memang bisa jadi alat pernyataan sikap dan ekspresi yang tak terelakkan. Di masa itu (seperti halnya di masa kini), tak semua orang dapat menyatakan pikirannya secara terbuka tentang keadaan. Dan yang bisa pun tak akan sepenuhnya berterus terang. Pers dalam masa akhir “Demokrasi Terpimpin” itu umumnya dikuasai oleh mereka yang sebarisan dengan PKI, yang waktu itu berpengaruh besar dl bidang media dan pemikiran. Banyak penulis lebih baik diam, atau mencoba memahami keadaan sembari mencoba menjaga pendiriannya sendiri, atau menulis dengan nama samaran, bila namanya sudah termasuk daftar hitam. Atau, seperti halnya Iwan, menulis surat kepada teman sendiri.
Kelebihan Iwan ialah bahwa ia memang gemar menulis surat. Ketika saya berada di Eropa tahun 1965-1966, saya juga ikut menerima beberapa pucuk suratnya (Juga “surat politik”): semuanya panjang, sampai empat halaman, ditulis tangan dengan huruf yang bagus serta rapi.
Ia menulis seperti ia bicara: iramanya retoris, pesonanya menemui suatu audtence dengan kembang api warna-warni kata-kata. Iwan kita adalah Iwan yang fasih, Iwan yang bijak bestari. Ia sangat mencintai kata-kata, khususnya yang keluar dari mulutnya sendiri dalam nada bariton yang lantang, atau dari guratan tangannya sendiri yang artistik.
Ada satu kalimat dalam Le Petit Prince yang bagi saya cocok untuk Iwan yang fasih ini: jika kita suka memakai ungkapan yang segar, menarik, lucu, dan terdengar cerdas, jika kita ingin bermain dalam I’esprit, kita harus berbohong sedikit.
Dalam kasus Iwan Simatupang, I’esprit itu begitu kuat mendorong, hingga kita tiap kali harus berhati-hati mana yang dipergunakan Iwan untuk cari efek, mana yang hasil imajinasi yang dimaksudkan untuk menghidupkan pembicaraan, dan mana yang betul-betul mengandung fakta.
Yang terakhir ini persentasenya sering kecil. Surat-surat Iwan karena itu bukan sepenuhnya rekaman keadaan. Ia harus hanya dilihat sebagai bahan rekaman.
Kumpulan ini berguna bagi mereka yang kini, dalam umur antara 20 dan 30 tahun, kurang bisa membayangkan bagaimana seorang intelektual seperti Iwan menghadapi masa yang genting itu.
Artinya, kumpulan ini penting sebagai ilustrasi sejarah. Toh artinya lain dari yang misalnya kita dapatkan dalam catatan harian Rosihan Anwar yang kemudian diterbitkan, Sebelum Prahara.
Rosihan, seorang wartawan ulung, adalah pencatat yang teliti. Iwan bukan: akurasi bahkan baginya sering seperti penghambat kenikmatan bercerita. Data, baginya, bisa membebani tubuh sebuah prosa yang asyik ingin terbang.
Namun, Iwan bisa mengagumkan dalam hal kemampuannya menganalisa keadaan. Baca saja teorinya tentang beberapa kemungkinan motif “Gerakan 30 September”, dan tentang kemungkinan-kemungkinan politik sebelum Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaannya. Bahkan di bulan Agustus 1965, sementara orang banyak belum mengenal Soeharto, Iwan telah menyebut nama perwira tinggi ini sebagai salah satu “jaminan bangsa kita” (hal. 91).
Itu dilakukannya waktu mencoba menyusun skenario “masa-depan-tanpa-Sukarno”. Tentu saja harus dicatat: Iwan adalah seorang antikomunis dalam bentuknya yang paling marah, juga seorang anti-Soekarno dalam bentuknya yang paling tajam. Ia memang pernah menyebut diri “Marxis” dalam suratnya, juga menyebut kekagumannya pada Bung Karno — tapi rasanya itu cuma sejenis teknik memperkukuh pernyataan. Saya tak mendapat kesan bahwa Iwan pernah berusaha memahami keadaan masa itu, pernah mencoba memahami Marxisme-Leninisme yang sedang berdengung, pernah mencoba menerima pikiran-pikiran Bung Karno. Dalam banyak surat ia bahkan menunjukkan sikap yang simplistis di dalam perkara ini.
Tapi mungkin justru di situlah kekuatannya dalam menghadapi kebingungan ideologis masa itu: iman antikomunis Iwan adalah iman yang sederhana dan teguh. Saya teringat, dalam suatu konperensi sastrawan di tahun 1964, yang berusaha dengan cara konyol menahan tekanan kuat PKI dan doktrin “Politik Sebagai Panglima”, Iwan bicara keras menentang ajaran penguasa waktu itu Manipol.
Semua orang, termasuk saya, jadi cemas atau bingung. Tapi Iwan dengan tenang tetap — lalu menghilang dari ruang konperensi ….
Ada tampaknya selalu yang kurang enak dalam pendirian semacam itu, tapi ada sikap Iwan yang bisa meluas bagai laut: Ia bisa membicarakan tokoh-tokoh politik waktu itu dengan semangat benci yang bahkan mengandung fitnah, juga sampai-sampai menyangkut soal keturunan, tapi Iwan juga bisa menulis begini: “Aidit harus diganyang dan seterusnya dan seterusnya — akur! Tapi jangan ikut kebuang prestasi-prestasi sosial yang sudah menjadi kenyataan di tanah air kita berkat Aidit dan kawan-kawan!”. Itu termuat dalam suratnya tertanggal 11 Oktober 1965. (Goenawan Mohamad)
Sumber: TEMPO, 28 Juni 1986
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1986/06/28/BK/mbm.19860628.BK33638.id.html

Surat-surat seorang yang antikomunis

Oleh: Goenawan Mohamad

Surat Politik Iwan SimatupangSURAT-SURAT POLITIK IWAN SIMATUPANG 1964-1966 Penerbit: LP3ES, Jakarta, 986, 257 halaman

Iwan Simatupang, penulis sejumlah novel ganjil, cerita pendek yang aneh, lakon-lakon yang tak biasa, dan esei-esei yang sulit, tampaknya bakal dikenang juga sebagai semacam Ibu Kartini.

Dia pastilah orang kedua setelah putri bupati Jepara itu yang menggunakan surat sebagai bentuk ekspresi yang lengkap, dalam jumlah yang begitu besar dan dengan isi yang bisa jadi bahan rekaman tentang situasi Indonesia di suatu masa.

H.B. Jassin, kritikus termasyhur itu, juga pernah menerbitkan kumpulan surat-suratnya di tahun 1984. Tapi kelebihan surat-surat Iwan Simatupang bukan saja bentuknya yang panjang, dengan fokus yang jelas, melainkan juga kemampuannya mengungkapkan sesuatu yang tak sehari-hari. Kumpulan ini disebut “surat-surat politik”: di dalamnya memang tampak suatu sikap terhadap suasana politik yang mencekam dalam satu periode gawat sejarah Indonesia modern, tahun-tahun menjelang dan segera setelah peristiwa “Gerakan 30 September 1965”.

Di masa itu, surat memang bisa jadi alat pernyataan sikap dan ekspresi yang tak terelakkan. Di masa itu (seperti halnya di masa kini), tak semua orang dapat menyatakan pikirannya secara terbuka tentang keadaan. Dan yang bisa pun tak akan sepenuhnya berterus terang. Pers dalam masa akhir “Demokrasi Terpimpin” itu umumnya dikuasai oleh mereka yang sebarisan dengan PKI, yang waktu itu berpengaruh besar dl bidang media dan pemikiran. Banyak penulis lebih baik diam, atau mencoba memahami keadaan sembari mencoba menjaga pendiriannya sendiri, atau menulis dengan nama samaran, bila namanya sudah termasuk daftar hitam. Atau, seperti halnya Iwan, menulis surat kepada teman sendiri.

Kelebihan Iwan ialah bahwa ia memang gemar menulis surat. Ketika saya berada di Eropa tahun 1965-1966, saya juga ikut menerima beberapa pucuk suratnya (Juga “surat politik”): semuanya panjang, sampai empat halaman, ditulis tangan dengan huruf yang bagus serta rapi.

Ia menulis seperti ia bicara: iramanya retoris, pesonanya menemui suatu audtence dengan kembang api warna-warni kata-kata. Iwan kita adalah Iwan yang fasih, Iwan yang bijak bestari. Ia sangat mencintai kata-kata, khususnya yang keluar dari mulutnya sendiri dalam nada bariton yang lantang, atau dari guratan tangannya sendiri yang artistik.

Ada satu kalimat dalam Le Petit Prince yang bagi saya cocok untuk Iwan yang fasih ini: jika kita suka memakai ungkapan yang segar, menarik, lucu, dan terdengar cerdas, jika kita ingin bermain dalam I’esprit, kita harus berbohong sedikit.

Dalam kasus Iwan Simatupang, I’esprit itu begitu kuat mendorong, hingga kita tiap kali harus berhati-hati mana yang dipergunakan Iwan untuk cari efek, mana yang hasil imajinasi yang dimaksudkan untuk menghidupkan pembicaraan, dan mana yang betul-betul mengandung fakta.

Yang terakhir ini persentasenya sering kecil. Surat-surat Iwan karena itu bukan sepenuhnya rekaman keadaan. Ia harus hanya dilihat sebagai bahan rekaman.

Kumpulan ini berguna bagi mereka yang kini, dalam umur antara 20 dan 30 tahun, kurang bisa membayangkan bagaimana seorang intelektual seperti Iwan menghadapi masa yang genting itu.

Artinya, kumpulan ini penting sebagai ilustrasi sejarah. Toh artinya lain dari yang misalnya kita dapatkan dalam catatan harian Rosihan Anwar yang kemudian diterbitkan, Sebelum Prahara.

Rosihan, seorang wartawan ulung, adalah pencatat yang teliti. Iwan bukan: akurasi bahkan baginya sering seperti penghambat kenikmatan bercerita. Data, baginya, bisa membebani tubuh sebuah prosa yang asyik ingin terbang.

Namun, Iwan bisa mengagumkan dalam hal kemampuannya menganalisa keadaan. Baca saja teorinya tentang beberapa kemungkinan motif “Gerakan 30 September”, dan tentang kemungkinan-kemungkinan politik sebelum Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaannya. Bahkan di bulan Agustus 1965, sementara orang banyak belum mengenal Soeharto, Iwan telah menyebut nama perwira tinggi ini sebagai salah satu “jaminan bangsa kita” (hal. 91).

Itu dilakukannya waktu mencoba menyusun skenario “masa-depan-tanpa-Sukarno”. Tentu saja harus dicatat: Iwan adalah seorang antikomunis dalam bentuknya yang paling marah, juga seorang anti-Soekarno dalam bentuknya yang paling tajam. Ia memang pernah menyebut diri “Marxis” dalam suratnya, juga menyebut kekagumannya pada Bung Karno — tapi rasanya itu cuma sejenis teknik memperkukuh pernyataan. Saya tak mendapat kesan bahwa Iwan pernah berusaha memahami keadaan masa itu, pernah mencoba memahami Marxisme-Leninisme yang sedang berdengung, pernah mencoba menerima pikiran-pikiran Bung Karno. Dalam banyak surat ia bahkan menunjukkan sikap yang simplistis di dalam perkara ini.

Tapi mungkin justru di situlah kekuatannya dalam menghadapi kebingungan ideologis masa itu: iman antikomunis Iwan adalah iman yang sederhana dan teguh. Saya teringat, dalam suatu konperensi sastrawan di tahun 1964, yang berusaha dengan cara konyol menahan tekanan kuat PKI dan doktrin “Politik Sebagai Panglima”, Iwan bicara keras menentang ajaran penguasa waktu itu Manipol.

Semua orang, termasuk saya, jadi cemas atau bingung. Tapi Iwan dengan tenang tetap — lalu menghilang dari ruang konperensi ….

Ada tampaknya selalu yang kurang enak dalam pendirian semacam itu, tapi ada sikap Iwan yang bisa meluas bagai laut: Ia bisa membicarakan tokoh-tokoh politik waktu itu dengan semangat benci yang bahkan mengandung fitnah, juga sampai-sampai menyangkut soal keturunan, tapi Iwan juga bisa menulis begini: “Aidit harus diganyang dan seterusnya dan seterusnya — akur! Tapi jangan ikut kebuang prestasi-prestasi sosial yang sudah menjadi kenyataan di tanah air kita berkat Aidit dan kawan-kawan!”. Itu termuat dalam suratnya tertanggal 11 Oktober 1965. (Goenawan Mohamad)

Sumber: TEMPO, 28 Juni 1986

Sang Pencerah | Akmal Nasery Basral

Sang Pencerah
Oleh: Priyantono Oemar
Kiai Dahlan mengutamakan dialog ketimbang memerintahkan perbuatan anarkis.
Area permainan gobak sodor menjadi salah satu area terlihatnya kepemimpinan Ahmad Dahlan di masa kecil. Di area gobak sodor, ia mengatur strategi agar teman-temannya bisa lolos dari kepungan lawan.
Lingkungan keluarga kemudian banyak memupuknya. Anggota keluarga besarnya -dengan caranya masing-masing– mendukung dirinya sepenuhnya.
Kegusaran sosialnya muncul ketika melihat ibu sahabatnya harus berutang hanya untuk mengadakan tahlil 40 hari sepeninggal ayah sahabatnya itu. Sampai dewasa, dahlan terus mendakwahkan bahwa tahlil bukan suatu keharusan. Apalagi jika dengan tahlil beramai-ramai itu, malah mengganggu tetangga yang sedang butuh istirahat. Dalam kasus berbeda, masih sering pula terjadi saat ini, mengadakan pawai kendaraan saat pengajian sehingga jalanan macet karena dipakai parkir kendaraan.
Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwis) tumbuh di lingkungan religius di dalam keraton: Kauman. Ia beruntung memiliki lingkungan yang tepat dan mendukung. Ayahnya selalu bisa menenangkan kegundahannya. Pamannya –yang kemudian juga mertuanya– sering menasihatinya soal keteguhan hati dan pengendalian diri. Istrinya -yang tak perlu istikharah untuk memilih Dahlan sebagai suami, karena sudah yakin akan kepribadian Dahlan– bisa membesarkan hatinya
”Ini kondisi yang menjadi rumit. Kalau yakin pendapatmu yang benar, kau harus perjuangkan meski kau harus dicopot dari jabatanmu sekarang, Dahlan,” ujar Kiai Fadlil, paman sekaligus mertua Dahlan, saat Dahlan harus menghadapi pembongkaran mushala oleh orang-orang yang tak setuju dengan dirinya. (Sang Pencerah, hlm 243-244).
Tak banyak referensi soal pembakaran ini, sehingga banyak orang Muhammadiyah juga tak tahu ada peristiwa ini. Akmal memakai rujukan buku KH Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya karya Junus Salam (1962).
Dahlan saat itu sudah diangkat sebagai khatib Masjid Gede, menggantikan ayahnya yang telah meninggal. Menjadi khatib adalah kesempatan baginya untuk bisa memandang langsung wajah Sultan dari posisi yang jauh lebih tinggi dari Sultan -hal yang sering ia bayangkan di masa kanak.
Dalam kesempatan pertama khutbah di masjid itu, Dahlan langsung menyinggung soal kemudahan yang diberikan agama. ”Merahmati itu artinya melindungi, mengayomi, membuat damai, tidak mengekang atau membuat takut umat, atau membuat rumit dan berat kehidupan Muslim dengan upacara-upacara dan sesajen yang tidak pada tempatnya,” ujar Dahlan.
Tapi, untuk perayaan grebeg yang diadakan Keraton –yang dianggap sebagai bagian dari dakwah Islam– Dahlan tak mengkritiknya. Untuk menyampaikan pandangannya, ia memilih tak bertatap muka dengan Sultan, karenanya ia bertemu di ruang gelap (Purifying the Faith: The Muhammadijah Movement in Indonesian Islam, JL Peacock, 1992). Rupanya, sebagai orang Keraton, ia masih harus rendah hati dan patuh menjunjung budaya Jawa.
Suatu ketika, ia pernah menyatakan ”para anggota Muhammadiyah harus menaruh segenap perhatian pada beberapa tradisi Jawa yang tampak menyimpang dari aturan-aturan Islam.” Dahlan jelas tidak terganggu. Ia merasa ”bahwa secara perlahan-lahan tradisi-tradisi itu akan melemah seiring gerak evolusi dan perubahan sebagai akibat kemajuan dalam pendidikan.” (Muhammadiyah Jawa, 2010)
Sosok Dahlan
Membaca Sang Pencerah kita akan bisa melihat sosok Dahlan yang melampaui kemampuan pemuda-pemuda Kauman di masanya. Tegas dalam hal prinsip, tapi bisa kompromis dalam hal metode -dan ia mempunyai cara sendiri dalam berdakwah.
Dahlan digambarkan sebagai sosok yang mengayomi, toleran, terbuka, visioner, tak menilai orang dari luaran, dan sebagainya. Sifat-sifat kepemimpinan Dahlan ini digambarkan secara detail sesuai dengan nilai-nilai kepemimpinan Jawa. (Tafsir Jawa Keteladanan Kiai Ahmad Dahlan, hlm 33-95).
Ia berani mengenakan jas dengan tetap berserban ketika mengikuti acara-acara Boedi Oetomo atau mengajar di Kweekschool. Adalah Dahlan yang pertama kali mengajar agama di Kweekschool. Dalam penelitiannya tentang pemberontakan petani di Banten pada 1888, Sartono Kartodirdjo menyebutkan Yogyakarta yang berpenduduk 651.123 jiwa pada 1887 hanya memiliki 187 guru agama dan 485 haji.
Dahlan juga bisa memanfaatkan biola untuk mengajarkan agama kepada anak-anak, untuk mendorong mereka mencari jawaban, sebelum ia memberikan jawaban. Ia tetap pada pilihannya itu, meski hal itu bisa mengundang salah pengertian. ”Kenapa main musik londo, Kiai?”
Dahlan harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk ketika langgarnya dirobohkan orang-orang utusan Kiai Penghulu, hingga ia pergi diam-diam dari Kauman. Dia dicap kafir, karena mengusulkan perubahan arah kiblat dengan berpatokan pada alat kompas dan peta yang dibuat kaum kafir, karena pakaiannya, karena biolanya, dan sebagainya.
Ia merasa sudah tak ada tempat dan tak ada yang bisa ia perbuat lagi di Kauman. Tapi, kakak iparnya, Kiai Saleh dan istrinya, mencegahnya di stasiun dan memberikan dukungan mental kepadanya.
”Mereka akan semakin tegar jika ada kau di samping mereka, bukan meninggalkan mereka di tengah kesulitan,’ ujar Kiai Saleh. ”Seorang pemimpin yang baik di mata Allah tidak akan pernah meninggalkan keluarga dan umatnya, sebesar apa pun kesulitan yang sedang dihadapinya,” ujar Nyai Saleh. (Sang Pencerah, hlm 260).
Menghalau Kristenisasi
Versi Sang Pencerah, sepulang dari Tanah Suci pada 1888, Dahlan menerima kabar dari kakak iparnya soal adanya bangsawan Pakualaman yang telah dikristenkan oleh Kiai Sadrach. Sadrach adalah penyebar Injil di Purworejo yang memakai idiom-idiom Islam, yang di kemudian hari mengubah nama menjadi Raden Mas Ngabehi Surapranata (surapranata berarti pahlawan ketertiban).
Dalam dialog, kakak ipar Dahlan menyebut pengikut Sadrach telah menjadi lebih dari 5.000 orang. Disebutkan, sebagian besar pengikutnya di Jawa Timur –penyebutan ini tentu tidak tepat, karena keberhasilan di Jawa Timur adalah kerja keras Coolen beserta murid-murid Jawanya. Untuk mendukung bagian ini, Akmal memakai referensi MC Ricklefs (Sejarah Indonesia Modern 1200-2004) yang menyebutkan data 1890 pengikut Sadrach hampir 7.000. Data 1890 ini dipakai Akmal untuk dialog di tahun 1888.
Pada 1888, Sadrach -yang dibaptis pada 1867 dan mulai memimpin persekutuan di Karangjoso pada 1870, menggantikan Ny Philips yang ia bantu sejak 1869– tentu belum memiliki pengikut sebanyak itu. Menurut catatan penginjil Wilhelm, pengikut Sadrach baru 3.000 orang pada 1889. Sebanyak 1.013 orang di antaranya berada di Karesidenan Yogyakarta. Sisanya menyebar di Bagelen, Banyumas, Tegal, dan Pekalongan. (Sedjarah Geredja di Indonesia, Muller Kruger, 1959).
Setelah mendapat cerita sepak-terjang Sadrach, Sang Pencerah melanjutkan cerita tentang Dahlan yang mencoba berdialog dengan para pendeta/pastur/misionaris. Dahlan ingin penyebaran agama tetap dalam semangat tanpa saling menyakiti. Dialog terakhir dilakukan dengan dr Zwijner, yang ia tantang: Jika ia kalah berdebat, ia rela masuk Kristen, tapi jika Zwijner yang kalah, Zwijner harus rela masuk Islam. Debat dengan Zwijner batal, dan Ki Hajar Dewantara menulis hal itu di Darmo Kondo.
Akmal mempunyai cara sendiri dalam mununjukkan tahun peristiwa. Peristiwa penghancuran langgar, misalnya, ia jelaskan dengan kalimat ”Mataku sempat melihat sobekan kalender basah akibat tersiram hujan. Tertulis di situ 1899”. Tapi, ia gagal menunjukkan tahun peristiwa dialog Dahlan-para pendeta/pastur itu. Ia mengakhiri cerita di bagian ini dengan alinea ”Pergantian abad Masehi yang hanya tinggal beberapa bulan lagi sebelum memasuki tahun 1900…” Ini memberi gambaran bahwa peristiwa Dahlan menjalin dialog antaragama terjadi di tahun-tahun sebelum 1900.
Tentu Akmal tahu, Ki Hajar Dewantara pertama kali menulis pada 1910, lewat Medden Java dan De Express di Bandung (Nyi Hajar Dewantara, BS Dewantara, 1979). Darmo Kondo pun baru mulai terbit pada 1903, yang kemudian mulai Januari 1911 terbit dalam bentuk majalah hingga 1930-an.
Kemungkinan, dialog Dahlan dengan para pendeta justru baru dimulai di atas tahun 1900. Dialog dengan Pastur van Driese dilakukan, setelah Dahlan intens bergaul dengan kalangan nasionalis (ini tentu di tahun-tahun awal Boedi Oetomo), dan dialog dengan Pendeta Bakker dilakukan di Jetis (ini tentu setelah Dahlan mengajar di Kweekschool).
Purbawakatja memiliki catatan tentang persahabatan Dahlan dengan Pastur van Lith ketika ia menjadi murid Dahlan pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog oleh Dahlan. ”Antara lain beliau bersahabat dengan Pastur van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan keagamaan Katholik. Dan, suatu keajaiban pada waktu Kiai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan pakaian hajinya.” (Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Haedar Nashir, 2010).
”Kisah-kisah (episode Kiai Dahlan-para pendeta) itu saya kumpulkan pada satu bagian saja untuk tidak muncul berulang-ulang pada penceritaan lain, karena penekanan pada kisah ini adalah bahwa Kiai Dahlan lebih mengutamakan dialog (open baar sebagai istilah saat itu) dengan pemuka agama lain, ketimbang melakukan atau menyerukan tindakan anarkis kepada para muridnya,” jelas Akmal memberi alasan.
Tapi, kurang tepat mengurai kegusaran Dahlan tentang Kristenisasi berangkat dari kiprah Kiai Sadrach. Sebab, Kiai Sadrach dan penginjil-penginjil pribumi, dalam menyebarkan Injil tak menyakiti umat Islam. Mereka menempatkan Injil sebagai ngelmu yang di setiap debat terbuka selalu bisa mengalahkan ngelmu Islam yang dimiliki orang-orang Islam.
Tradisi saat itu memang demikian, yang kalah berguru kepada yang ngelmu-nya lebih tinggi. Maka, Sadrach dengan cepat bisa mengkristenkan orang-orang Jawa. (baca juga Sejarah Pertemuan Kristen dan Islam di Indonesia, Jan S Aritonang, 2005).
Hal-hal yang menyakitkan justru muncul dari penginjil Belanda -hal yang lebih tepat menjadi penyebab Dahlan harus berdialog dengan para pendeta/pastur. Penginjil-penginjil Belanda menggunakan pendekatan pengobatan untuk merekrut orang-orang Jawa agar beralih ke Kristen. Juga lewat perekonomian dan sekolah. (lihat Tumbuh Dewasa Bertanggungjawab, CW Nortier, 1981 –terjemahan dari terbitan 1939– dan lihat juga Benih yang Tumbuh VII, Handoyomarno, 1976).
Akan lebih mengena jika Akmal mengurai kegusaran Dahlan terhadap Kristenisasi, berawal dari pemberian izin Sultan kepada para misionaris di Yogyakarta. Kristenisasi di Yogyakarta berkembang pesat setelah pada 1889 Sultan -atas tekanan Belanda– memberi izin kepada para misionaris di Yogyakarta menyebarkan Kristen di Jawa.
Izin ini keluar sebelum Dahlan berangkat haji pertama pada 1890, di usia 22 tahun -tahun Dahlan berhaji pertama yang dicatat A Mukti Ali (1957), H Soedja (1989), dan MY Asrofie (1983) di buku masing-masing. Di Sang Pencerah, Akmal memakai referensi website Muhammadiyah yang menyebut Dahlan berhaji di usia 15 tahun berdasarkan buku KH Ahmad Dahlan: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, karya Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan (1991).
Sultan kemudian menebus dosanya itu dengan mendukung penuh pendirian Muhammadiyah yang akan menghalau Kristenisasi. Menurut penuturan kerabat Keraton yang diwawancara Ahmad Najib Burhani pada 2003, Sultan memberi uang dan tanah untuk sekolah-sekolah Muhammadiyah demi tujuan menahan Kristenisasi dan pengaruh budaya Barat di Jawa. (Muhammadiyah Jawa, hlm 69).
Sultan juga mengungkapkan penyesalannya, lantaran “kesewenangan” Kiai Penghulu yang membuat Dahlan harus mengundurkan diri dari khatib Masjid Gede. Sikap Kiai Penghulu yang selalu apriori terhadap Dahlan itu membuat kita bisa tertawa bersama Sultan di bagian akhir novel ini.
Kiai Penghulu menolak pendirian Muhammadiyah hanya karena Dahlan, menurutnya, memiliki motif pribadi hendak menjadi residen. Dalam surat permohonan, disebut Dahlan sebagai presiden Muhammadiyah. ”Jadi, Kiai Penghulu tidak tahu bedanya president dan resident?”
Sumber: Republika, 05 September 2010 “Keluwesan Sang Pencerah”

Sang PencerahOleh: Priyantono Oemar

Area permainan gobak sodor menjadi salah satu area terlihatnya kepemimpinan Ahmad Dahlan di masa kecil. Di area gobak sodor, ia mengatur strategi agar teman-temannya bisa lolos dari kepungan lawan.

Lingkungan keluarga kemudian banyak memupuknya. Anggota keluarga besarnya -dengan caranya masing-masing– mendukung dirinya sepenuhnya.

Kegusaran sosialnya muncul ketika melihat ibu sahabatnya harus berutang hanya untuk mengadakan tahlil 40 hari sepeninggal ayah sahabatnya itu. Sampai dewasa, dahlan terus mendakwahkan bahwa tahlil bukan suatu keharusan. Apalagi jika dengan tahlil beramai-ramai itu, malah mengganggu tetangga yang sedang butuh istirahat. Dalam kasus berbeda, masih sering pula terjadi saat ini, mengadakan pawai kendaraan saat pengajian sehingga jalanan macet karena dipakai parkir kendaraan.

Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwis) tumbuh di lingkungan religius di dalam keraton: Kauman. Ia beruntung memiliki lingkungan yang tepat dan mendukung. Ayahnya selalu bisa menenangkan kegundahannya. Pamannya –yang kemudian juga mertuanya– sering menasihatinya soal keteguhan hati dan pengendalian diri. Istrinya -yang tak perlu istikharah untuk memilih Dahlan sebagai suami, karena sudah yakin akan kepribadian Dahlan– bisa membesarkan hatinya

”Ini kondisi yang menjadi rumit. Kalau yakin pendapatmu yang benar, kau harus perjuangkan meski kau harus dicopot dari jabatanmu sekarang, Dahlan,” ujar Kiai Fadlil, paman sekaligus mertua Dahlan, saat Dahlan harus menghadapi pembongkaran mushala oleh orang-orang yang tak setuju dengan dirinya. (Sang Pencerah, hlm 243-244).

Tak banyak referensi soal pembakaran ini, sehingga banyak orang Muhammadiyah juga tak tahu ada peristiwa ini. Akmal memakai rujukan buku KH Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya karya Junus Salam (1962).

Dahlan saat itu sudah diangkat sebagai khatib Masjid Gede, menggantikan ayahnya yang telah meninggal. Menjadi khatib adalah kesempatan baginya untuk bisa memandang langsung wajah Sultan dari posisi yang jauh lebih tinggi dari Sultan -hal yang sering ia bayangkan di masa kanak.

Dalam kesempatan pertama khutbah di masjid itu, Dahlan langsung menyinggung soal kemudahan yang diberikan agama. ”Merahmati itu artinya melindungi, mengayomi, membuat damai, tidak mengekang atau membuat takut umat, atau membuat rumit dan berat kehidupan Muslim dengan upacara-upacara dan sesajen yang tidak pada tempatnya,” ujar Dahlan.

Tapi, untuk perayaan grebeg yang diadakan Keraton –yang dianggap sebagai bagian dari dakwah Islam– Dahlan tak mengkritiknya. Untuk menyampaikan pandangannya, ia memilih tak bertatap muka dengan Sultan, karenanya ia bertemu di ruang gelap (Purifying the Faith: The Muhammadijah Movement in Indonesian Islam, JL Peacock, 1992). Rupanya, sebagai orang Keraton, ia masih harus rendah hati dan patuh menjunjung budaya Jawa.

Suatu ketika, ia pernah menyatakan ”para anggota Muhammadiyah harus menaruh segenap perhatian pada beberapa tradisi Jawa yang tampak menyimpang dari aturan-aturan Islam.” Dahlan jelas tidak terganggu. Ia merasa ”bahwa secara perlahan-lahan tradisi-tradisi itu akan melemah seiring gerak evolusi dan perubahan sebagai akibat kemajuan dalam pendidikan.” (Muhammadiyah Jawa, 2010)

Sosok Dahlan

Membaca Sang Pencerah kita akan bisa melihat sosok Dahlan yang melampaui kemampuan pemuda-pemuda Kauman di masanya. Tegas dalam hal prinsip, tapi bisa kompromis dalam hal metode -dan ia mempunyai cara sendiri dalam berdakwah.

Dahlan digambarkan sebagai sosok yang mengayomi, toleran, terbuka, visioner, tak menilai orang dari luaran, dan sebagainya. Sifat-sifat kepemimpinan Dahlan ini digambarkan secara detail sesuai dengan nilai-nilai kepemimpinan Jawa. (Tafsir Jawa Keteladanan Kiai Ahmad Dahlan, hlm 33-95).

Ia berani mengenakan jas dengan tetap berserban ketika mengikuti acara-acara Boedi Oetomo atau mengajar di Kweekschool. Adalah Dahlan yang pertama kali mengajar agama di Kweekschool. Dalam penelitiannya tentang pemberontakan petani di Banten pada 1888, Sartono Kartodirdjo menyebutkan Yogyakarta yang berpenduduk 651.123 jiwa pada 1887 hanya memiliki 187 guru agama dan 485 haji.

Dahlan juga bisa memanfaatkan biola untuk mengajarkan agama kepada anak-anak, untuk mendorong mereka mencari jawaban, sebelum ia memberikan jawaban. Ia tetap pada pilihannya itu, meski hal itu bisa mengundang salah pengertian. ”Kenapa main musik londo, Kiai?”

Dahlan harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk ketika langgarnya dirobohkan orang-orang utusan Kiai Penghulu, hingga ia pergi diam-diam dari Kauman. Dia dicap kafir, karena mengusulkan perubahan arah kiblat dengan berpatokan pada alat kompas dan peta yang dibuat kaum kafir, karena pakaiannya, karena biolanya, dan sebagainya.

Ia merasa sudah tak ada tempat dan tak ada yang bisa ia perbuat lagi di Kauman. Tapi, kakak iparnya, Kiai Saleh dan istrinya, mencegahnya di stasiun dan memberikan dukungan mental kepadanya.

”Mereka akan semakin tegar jika ada kau di samping mereka, bukan meninggalkan mereka di tengah kesulitan,’ ujar Kiai Saleh. ”Seorang pemimpin yang baik di mata Allah tidak akan pernah meninggalkan keluarga dan umatnya, sebesar apa pun kesulitan yang sedang dihadapinya,” ujar Nyai Saleh. (Sang Pencerah, hlm 260).

Menghalau Kristenisasi

Versi Sang Pencerah, sepulang dari Tanah Suci pada 1888, Dahlan menerima kabar dari kakak iparnya soal adanya bangsawan Pakualaman yang telah dikristenkan oleh Kiai Sadrach. Sadrach adalah penyebar Injil di Purworejo yang memakai idiom-idiom Islam, yang di kemudian hari mengubah nama menjadi Raden Mas Ngabehi Surapranata (surapranata berarti pahlawan ketertiban).

Dalam dialog, kakak ipar Dahlan menyebut pengikut Sadrach telah menjadi lebih dari 5.000 orang. Disebutkan, sebagian besar pengikutnya di Jawa Timur –penyebutan ini tentu tidak tepat, karena keberhasilan di Jawa Timur adalah kerja keras Coolen beserta murid-murid Jawanya. Untuk mendukung bagian ini, Akmal memakai referensi MC Ricklefs (Sejarah Indonesia Modern 1200-2004) yang menyebutkan data 1890 pengikut Sadrach hampir 7.000. Data 1890 ini dipakai Akmal untuk dialog di tahun 1888.

Pada 1888, Sadrach -yang dibaptis pada 1867 dan mulai memimpin persekutuan di Karangjoso pada 1870, menggantikan Ny Philips yang ia bantu sejak 1869– tentu belum memiliki pengikut sebanyak itu. Menurut catatan penginjil Wilhelm, pengikut Sadrach baru 3.000 orang pada 1889. Sebanyak 1.013 orang di antaranya berada di Karesidenan Yogyakarta. Sisanya menyebar di Bagelen, Banyumas, Tegal, dan Pekalongan. (Sedjarah Geredja di Indonesia, Muller Kruger, 1959).

Setelah mendapat cerita sepak-terjang Sadrach, Sang Pencerah melanjutkan cerita tentang Dahlan yang mencoba berdialog dengan para pendeta/pastur/misionaris. Dahlan ingin penyebaran agama tetap dalam semangat tanpa saling menyakiti. Dialog terakhir dilakukan dengan dr Zwijner, yang ia tantang: Jika ia kalah berdebat, ia rela masuk Kristen, tapi jika Zwijner yang kalah, Zwijner harus rela masuk Islam. Debat dengan Zwijner batal, dan Ki Hajar Dewantara menulis hal itu di Darmo Kondo.

Akmal mempunyai cara sendiri dalam mununjukkan tahun peristiwa. Peristiwa penghancuran langgar, misalnya, ia jelaskan dengan kalimat ”Mataku sempat melihat sobekan kalender basah akibat tersiram hujan. Tertulis di situ 1899”. Tapi, ia gagal menunjukkan tahun peristiwa dialog Dahlan-para pendeta/pastur itu. Ia mengakhiri cerita di bagian ini dengan alinea ”Pergantian abad Masehi yang hanya tinggal beberapa bulan lagi sebelum memasuki tahun 1900…” Ini memberi gambaran bahwa peristiwa Dahlan menjalin dialog antaragama terjadi di tahun-tahun sebelum 1900.

Tentu Akmal tahu, Ki Hajar Dewantara pertama kali menulis pada 1910, lewat Medden Java dan De Express di Bandung (Nyi Hajar Dewantara, BS Dewantara, 1979). Darmo Kondo pun baru mulai terbit pada 1903, yang kemudian mulai Januari 1911 terbit dalam bentuk majalah hingga 1930-an.

Kemungkinan, dialog Dahlan dengan para pendeta justru baru dimulai di atas tahun 1900. Dialog dengan Pastur van Driese dilakukan, setelah Dahlan intens bergaul dengan kalangan nasionalis (ini tentu di tahun-tahun awal Boedi Oetomo), dan dialog dengan Pendeta Bakker dilakukan di Jetis (ini tentu setelah Dahlan mengajar di Kweekschool).

Purbawakatja memiliki catatan tentang persahabatan Dahlan dengan Pastur van Lith ketika ia menjadi murid Dahlan pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog oleh Dahlan. ”Antara lain beliau bersahabat dengan Pastur van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan keagamaan Katholik. Dan, suatu keajaiban pada waktu Kiai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan pakaian hajinya.” (Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Haedar Nashir, 2010).

”Kisah-kisah (episode Kiai Dahlan-para pendeta) itu saya kumpulkan pada satu bagian saja untuk tidak muncul berulang-ulang pada penceritaan lain, karena penekanan pada kisah ini adalah bahwa Kiai Dahlan lebih mengutamakan dialog (open baar sebagai istilah saat itu) dengan pemuka agama lain, ketimbang melakukan atau menyerukan tindakan anarkis kepada para muridnya,” jelas Akmal memberi alasan.

Tapi, kurang tepat mengurai kegusaran Dahlan tentang Kristenisasi berangkat dari kiprah Kiai Sadrach. Sebab, Kiai Sadrach dan penginjil-penginjil pribumi, dalam menyebarkan Injil tak menyakiti umat Islam. Mereka menempatkan Injil sebagai ngelmu yang di setiap debat terbuka selalu bisa mengalahkan ngelmu Islam yang dimiliki orang-orang Islam.

Tradisi saat itu memang demikian, yang kalah berguru kepada yang ngelmu-nya lebih tinggi. Maka, Sadrach dengan cepat bisa mengkristenkan orang-orang Jawa. (baca juga Sejarah Pertemuan Kristen dan Islam di Indonesia, Jan S Aritonang, 2005).

Hal-hal yang menyakitkan justru muncul dari penginjil Belanda -hal yang lebih tepat menjadi penyebab Dahlan harus berdialog dengan para pendeta/pastur. Penginjil-penginjil Belanda menggunakan pendekatan pengobatan untuk merekrut orang-orang Jawa agar beralih ke Kristen. Juga lewat perekonomian dan sekolah. (lihat Tumbuh Dewasa Bertanggungjawab, CW Nortier, 1981 –terjemahan dari terbitan 1939– dan lihat juga Benih yang Tumbuh VII, Handoyomarno, 1976).

Akan lebih mengena jika Akmal mengurai kegusaran Dahlan terhadap Kristenisasi, berawal dari pemberian izin Sultan kepada para misionaris di Yogyakarta. Kristenisasi di Yogyakarta berkembang pesat setelah pada 1889 Sultan -atas tekanan Belanda– memberi izin kepada para misionaris di Yogyakarta menyebarkan Kristen di Jawa.

Izin ini keluar sebelum Dahlan berangkat haji pertama pada 1890, di usia 22 tahun -tahun Dahlan berhaji pertama yang dicatat A Mukti Ali (1957), H Soedja (1989), dan MY Asrofie (1983) di buku masing-masing. Di Sang Pencerah, Akmal memakai referensi website Muhammadiyah yang menyebut Dahlan berhaji di usia 15 tahun berdasarkan buku KH Ahmad Dahlan: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, karya Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan (1991).

Sultan kemudian menebus dosanya itu dengan mendukung penuh pendirian Muhammadiyah yang akan menghalau Kristenisasi. Menurut penuturan kerabat Keraton yang diwawancara Ahmad Najib Burhani pada 2003, Sultan memberi uang dan tanah untuk sekolah-sekolah Muhammadiyah demi tujuan menahan Kristenisasi dan pengaruh budaya Barat di Jawa. (Muhammadiyah Jawa, hlm 69).

Sultan juga mengungkapkan penyesalannya, lantaran “kesewenangan” Kiai Penghulu yang membuat Dahlan harus mengundurkan diri dari khatib Masjid Gede. Sikap Kiai Penghulu yang selalu apriori terhadap Dahlan itu membuat kita bisa tertawa bersama Sultan di bagian akhir novel ini.

Kiai Penghulu menolak pendirian Muhammadiyah hanya karena Dahlan, menurutnya, memiliki motif pribadi hendak menjadi residen. Dalam surat permohonan, disebut Dahlan sebagai presiden Muhammadiyah. ”Jadi, Kiai Penghulu tidak tahu bedanya president dan resident?” (Priyantono Oemar, Wartawan Republika)

Sumber: Republika, 05 September 2010 “Keluwesan Sang Pencerah”

Esai-Esai Iwan Simatupang

Iwan Simatupang, Sartre Indonesia
oleh Sigit Susanto

Buku Sartre, Iwan, Camus | Sigit Susanto
Buku Sartre, Iwan, Camus | Sigit Susanto

Judul: Esai-Esai Iwan Simatupang
Penulis: Iwan Simatupang
Cetakan: I (Oktober 2004)
Penerbit: Buku Kompas
Tebal: 366 hal

Membaca karya sastra dalam bentuk novel, puisi, teater, atau cerpen, kita lebih sering dihadapkan pada imajinasi seni penulisnya. Dengan kata lain seluruh kekuatan seni menulis, gaya bahasa, pilihan tema menjadi prioritas. Sebaliknya pada penulisan esai, imajinasi seni sering tidak dikedepankan lagi, melainkan lebih mengutamakan wawasan, pengalaman, pandangan politik, dan sosial dari penulis bersangkutan. Faktor lain yang tak kalah penting pada penulisan esai adalah mengikuti secara intensif berita teraktual yang sedang beredar di masyarakat. Kualitas esai sering pula dinilai dari bagaimana esais mampu mengaplikasikan antara tema yang dipilih dengan banyak referensi buku bacaan. Schopenhauer menyebutnya, membaca ibarat berpikir dengan menggunakan kepala orang lain. Akan tetapi Nietzsche justru berseberangan dengan argumen, orang-orang yang banyak belajar dan bekerja dengan baik, maka tak perlu membaca lagi.

Pada buku “Esai-Esai Iwan Simatupang”  ini, Iwan menulis 44 esai yang secara garis besar terbagi dalam tiga bagian. Bagian I: Masa Menjadi Guru SMU (1950-1955). Bagian II: Masa di Eropa (1955-1959). Bagian III: Masa Menulis Novel (1960-1970).

Buku setebal 366 halaman ini cukup menantang. Setidaknya untuk mengintip pandangan-pandangan seorang Iwan terhadap dunia sastra pada umumnya. Novel-novel Iwan, seperti: “Ziarah“ ,“Kering“, dan “Merahnya Merah“  bisa kita anggap sebagai ciptaan imajinasi seni Iwan. Pada esai-esai ini pembaca disodori sumpah serapah, emosional serta niveau intelektual seorang pengarang yang kritis. Kalau orang membicarakan kepengarangan Iwan, sering dikaitkan dengan gaya bahasanya yang berbeda dengan pengarang sezamannya. Atau kepengarangannya sering pula diparalelkan dengan tokoh eksistensialisme Perancis, Sartre atau Camus.

Pada esai berjudul “Sartre dan Konsekuensi“  (hal:75), Iwan tampak habis-habisan mendudukkan persoalan seorang Sartre yang dianggap hanyalah sebagai Ecce homo. Keterlibatan Sartre pada Partai Komunis Perancis, serta kesalahan tentara Rusia menduduki Hongaria, tak bisa dinilai secara separuh-separuh. Istilah yang dipakai Iwan harus dinilai secara totalitet. Kalau tidak ingin pincang menemukan sosok Sartre sebagai filsuf. Pada esai itu disebutkan keretakan hubungan antara Sartre dan Camus dipicu lahirnya buku Camus berjudul “L`Home révolté“. Polemik Sartre-Camus dilangsir oleh jurnal “Les Modernes Temps“. Jurnal yang didirikan oleh Sartre sendiri dan lebih banyak menganalisis hasil pemikirannya. Pada jurnal tersebut Camus mengakhiri perpisahannya dengan mengucapkan, ”Adieu, Monsieur le Directuur – Bien, Bien.”  Sartre menjawab, ”Au revoir, Monsieur Camus.“ Iwan pada esai ini tidak banyak menyinggung Camus. Justru ketertarikan Sartre pada marxisme, dibela oleh Iwan dengan membandingkan ketertarikan awal Dostojewsky pada sosialisme.

Pada buku Sartre ”L`Existentialisme est un humanisme”  (Eksistensialisme Adalah Humanisme), Sartre menyitir pula pandangan Dostojewsky yang menyebut, ”Bila Tuhan tidak ada, semuanya bisa dibebaskan.“  Pandangan Dostojewsky tersebut bagi Sartre dianggap sebagai jalan keluar pemikiran eksistensialisme. Pada prinsipnya manusia terlempar ke dunia tanpa harus punya rasa beban bersalah. Sebaliknya mereka harus bebas. Sebab masa depan manusia terletak pada manusia itu sendiri. Mereka bisa dan harus mandiri. Di sini letak perbedaan sekaligus persamaan teori marxisme dengan eksistensialisme. Marxisme mengajak manusia menentukan masa depannya dengan kekuatan kolektif kaum proletar seluruh dunia. Artinya kaum proletar lah yang dapat dan harus mengubah sistem untuk masa depannya. Sebaliknya eksistensialisme menawarkan kemandirian menatap masa depan dimulai dari diri sendiri secara individu. Niscaya bila setiap individu sudah mampu mandiri, dengan sendirinya masyarakat bisa mengurus dan menjawab beban hidupnya di dunia.

Sebaliknya Camus menyebutkan pada bukunya ”L`Homme révolté“, kejahatan zaman kini bukan lagi dari anak-anak bersenjata, melainkan dari orang-orang dewasa yang berusaha mencari alasan dengan logika. Sejalan dengan itu pada buku ”Inspirasi? Nonsens!“  karangan Kurnia Jr mengutip perkataan Gunawan Mohamad sebagai berikut, ”Tokoh pada `Merahnya Merah` ada selalu unsur ke-Tarzan-an. Tokoh Iwan yang tak bernama dan disebut `tokoh kita` dan `dia` punya fisik mental yang kuat untuk memilih situasi yang paling keras sekalipun. …seperti pahlawan dalam sastra realisme-sosialis.“  Pada buku yang sama Kurnia Jr menyitir pendapat Arief Budiman, “Tapi kesulitan Iwan menurut saya, dia terlalu genit, bombas dengan ide-idenya. Dia menurut saya bukan pengarang. Dia lebih seorang esais atau kritikus. Sebenarnya dia tidak pantas menulis novel, dia lebih pantas menulis esai atau kritik.“

Lepas dari berbagai interpretasi terhadap kepengarangan Iwan, tetap saja Iwan telah pergi dan mewariskan guratan corak kepenulisan baru. Tampaknya Iwan lebih dekat dengan pemikiran Sartre daripada Camus. Pada beberapa esainya di buku ini dia sering menyinggung dan membenarkan pemikiran Sartre. Iwan menganggap eksistensialisme Sartre itu bertuju ke suatu bentuk sosiologi yang lempang mengunjuk ke suatu acara sosial. Sartre bercondong ke suatu bentuk moral berlatar luas yakni, sosiologi yang marxistis. Sebagai pengarang Indonesia, Iwan lah yang terlihat paling loyal dan membenarkan pemikiran Sartre. Sebab itu layak dia disebut sebagai Sartre Indonesia. Seperti halnya Edward Said pernah menjuluki Nagib Machfuz sebagai Thomas Mann dari Arab. Atau Lu-Xun sering dijuluki sebagai Gorki dari China.

Pada esainya berjudul ”Manusia-souterrain“  (hal:43), dia berang dengan seorang berinisial H.S. Berawal dari pidato Iwan di sebuah radio, mendapat kritik pedas dari H.S yang dimuat di majalah ”Jaman Baru“  milik Lekra edisi 20 Juni 1953. Iwan ditantang bertemu H.S untuk berdialog. Tapi Iwan menolak dengan jawaban santai “Mari mencipta! Masih terlalu sedikit ciptaan dalam kesustraan kita. Yang banyak baru ngomongnya saja.”  Apalagi kalau dikaitkan dengan prediksinya, bahwa masa produktif seorang pengarang berkisar antara 15-20 tahun. Masa itu penanya masih basah, khayalnya kaya. (Sekitar Surat Kabar Selentingan, hal:202).

Tentang proses kreatif pengarang, Iwan menurunkan esai berjudul “Kemungkinan-kemungkinan bagi Para Tunas Muda“  (hal:195). Dia memaparkan kejujuran Winston Churchill, peraih nobel sastra yang mengakui, karyanya “Memoires“ yang terdiri atas empat jilid sangat sukses. Kesuksesannya bukan karena mutu karyanya, malainkan Churchill menganggap lebih banyak disebabkan oleh pengaruh kepopuleran namanya sebagai negarawan dan pengarang.

Pengembaraan Iwan di negeri Eropa tak hanya mempelajari seni teater di Amsterdam, antropologi di Leiden, dan filsafat di Sorbonne, namun dia melakukan pengamatan pada perkembangan sastra di Belanda khususnya serta Eropa pada umumnya. Iwan mencontohkan seorang pengarang Belanda bernama Simon Vestdijk yang sangat berbakat saat itu. Pria bujang berusia 50 tahun itu dalam waktu setahun mampu menghasilkan tiga novel, satu kumpulan esai, dan satu kumpulan sajak. Karya-karya Vestdijk digemari dan selalu ditunggu-tunggu publik. Dalam pandangan Iwan keberhasilan sebuah karya lebih banyak ditentukan oleh ba
kat penulisnya.

Penyair kenamaan Jerman, Reiner Maria Rilke tak lepas pula dari kritiknya. Iwan menuduh Rilke penyair nyinyir, berdasar bacaan Iwan atas buku berjudul “Buku harian Malte Laurids Brigge“  (Die Aufzeichnungen des Malte Laurids Brigge). Iwan muak dengan ulasan panjang Rilke berhalaman-halaman hanya bicara tentang cat yang hampir pudar pada sebuah bingkai. Inginnya Iwan melemparkan jauh-jauh atau merobek-robek buku itu. Mitos  seniman yang harus morat-marit hidupnya atau didepak dari asmaranya, seperti dilakukan Rilke tak seharusnya diteruskan. Cara demikian menurut Iwan seperti beribadah pada era romantik. Sastrawan Jerman lain yang disinggung adalah Heinrich Böll. Ia mengharapkan kita untuk menuliskan apa saja yang Böll belum tulis.

Dari daratan Jerman Iwan meluruk ke Australia mempertanyakan kritik Harry Aveling perihal tak adanya humor sastra Indonesia yang sophiticated. Iwan memperkirakan humor model Indonesia sering tidak langsung. Puisi rakyat jelata kita adalah puisi alam bernada riang gembira. Dongeng-dongeng kita adalah folklore yang kocak tentang peri, jin, raksasa, dan roh nenek moyang kita. Singkatnya tanpa bakat alam akan humor ini, sudah sejak lama bangsa kita pupus dari muka bumi.

Dengan membaca kumpulan esai Iwan Simatupang ini, setidaknya pembaca bisa mendekatkan diri pada pola pikir pengarang yang pernah dijuluki sebagai pembaharu sastra Indonesia. Bagi pembaca yang datang dari generasi belakangan, terasa akan sedikit terganggu dengan banyaknya ungkapan bahasa Belanda yang dipakai Iwan. Mungkin pada zaman itu trend berbahasa Belanda menjadi barometer niveau intelektual seseorang. Pengantar Frans M. Parera berjudul “Visi dan Misi Seniman Pascarevolusi“  sampai 57 halaman, terlalu panjang. Terdapat kesalahan nomor jalan pada alamat Museum Multatuli di Amsterdam. Sekarang ini bukan di jalan Korsjepoortsteeg, No. 44, melainkan No. 20. (Museum Multatuli, hal:152) (Sigit Susanto)

Sumber: Note Facebook Sigit Susanto, 31 Agustus 2010

Aku Ingin Jadi Peluru | Wiji Thukul (1999)

AWAL: Untuk memperingati hari kelahiran Wiji Thukul pada 26 Agustus dan penghormatan atas tubuh yang dihilangkan kekuasaan, redaksi menurunkan lagi review salah satu karya Thukul yang cukup terkenal. Karya ini dipilih oleh Tim Sastra Indonesia Buku sebagai salah satu dari seratus buku sastra utama yang pernah diterbitkan di Indonesia. Selamat membaca. (Red)

80. Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul (1999)

Wiji ThukulHanya Satu Kata: Lawan!

seumpama bunga

kami adalah bunga yang

dirontokkan di bumi kami sendiri

Sastra tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Ia menyuarakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar manusia dengan tenang, sedikit menggelegar, bahkan garang. Tentunya, dari sekian metode penyampaian sebuah karya sastra kepada khalayak, segala risiko sudah siap menghadang.

Jika dicermati, salah satu dari beberapa persoalan yang kerap menjadi pemantik lahirnya karya sastra adalah persoalan politik. Politik dengan mudah dapat mengubah perasaan seorang rakyat jelata seperti raja. Ia juga dapat menyulap ajaran-ajaran agama yang luhur menjadi tak ubahnya barang dagangan. Bahkan, kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan adagium “politik itu kotor.”

Dalam perjalanan politik bangsa ini, Orde Baru telah menerakan kenangan sejarah yang hitam putih di segala lini kehidupan. Dengan alasan menjaga “stabilitas keamanan nasional”, tangan besi Orde Baru terlalu berlebihan membungkam mulut rakyat. Pada kondisi semacam inilah biasanya suara hati nurani seseorang sulit untuk berbohong. Apalagi jika yang tampak di matanya adalah keberingasan penguasa yang ditumpahkan sewenang-wenang kepada rakyat jelata.

Wiji Thukul adalah salah seorang dari sekian ratus juta warga Indonesia yang memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi. Hati nuraninya terketuk ketika melihat kesewenang-wenangan sistem politik Orde Baru. Rakyat dan segala kekayaan sumber daya alam Indonesia bagi orde ini tak lebih dari sapi perah. Parahnya, para penguasa itu tidak hanya mengeksploitasi, tetapi juga berupaya melakukan pembodohan-pembodohan publik melalui jalur-jalur pendidikan, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Maka, yang tampak adalah rakyat makin sengsara, sebagaimana digambarkan dalam puisi di bawah ini:

(“Bunga dan Tembok”)

………….

seumpama bunga

kami adalah bunga yang

dirontokkan di bumi kami sendiri

Bunga adalah lambang keceriaan. Bunga juga dapat diartikan sebagai harapan. Tentu sangat ironis apabila keceriaan atau harapan harus pupus bukan karena seleksi alam, melainkan karena ada unsur paksaan manusia.

Sosok dan pemikiran Wiji Thukul pada waktu itu mungkin terlalu berani. Kita dapat menyimak dari gagasan-gagasannya, misalnya, sebagaimana tertuang dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru ini. Lewat sastra, Wiji Thukul “menyerang” berbagai penyelewengan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru beserta aparaturnya. Dia juga membakar semangat rakyat marjinal agar memperjuangkan hak-hak mereka. Tentu saja, suara-suara Wiji Thukul membuat merah telinga penguasa dan oleh karena itulah dia harus membayar mahal atas keteguhannya memegang prinsip.

Meski demikian, rupanya gagasan-gagasan Wiji Thukul masih tetap menarik untuk direnungkan. Beberapa sajaknya menyiratkan optimisme yang kuat.

(“Sajak”)

sajakku adalah kata-kata

yang mula-mula menyumpal di tenggorokan

lalu dilahirkan ketika kuucapkan

sajakku adalah kata-kata

yang mula-mula bergulung-gulung

dalam perasaan

lalu lahirlah ketika kuucapkan

sajakku

adalah kebisuan

yang sudah kuhancurkan

sehingga aku bisa mengucapkan

dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan

Dalam sajak di atas, ada gagasan dari Wiji Thukul yang bisa dibedah, yaitu bahwa sebelum seseorang melakukan perlawanan terhadap orang lain atau situasi di luar dirinya, maka ia haruslah melawan dirinya sendiri. Kalimat sajakku/adalah kebisuan/yang sudah kuhancurkan/ adalah perwujudan dari tindakan mengeliminasi kelemahan diri agar tidak mengalahkan sifat optimis.

Aspek lain yang mendominasi puisi-puisi Wiji Thukul adalah semangat memberontak penindasan terhadap sesama. Sebab, manusia hakikatnya memiliki hak dan kewajiban yang setara. Selanjutnya kembali kepada orang itu sendiri apakah ia akan bertanggung jawab atau justru menjadi pecundang. Negara hanya berfungsi sebagai fasilitator, pelayan, atau pembantu bagi terciptanya keadilan dan kemakmuran.

Ironisnya, yang menimpa Indonesia pada masa Orde Baru adalah merajalelanya KKN dan tindakan-tindakan represif.  Maka, tak heran kalau kemudian Wiji Thukul menulis puisinya berjudul “Riwayat.”

(“Riwayat”)

……..

berkali-kali

kuhancurkan

kubentuk lagi

kuhancurkan

kubentuk lagi

patungku tak jadi-jadi

aku ingin sempurna

patungku tak jadi-jadi

Dari penggalan puisi tersebut, Wiji Thukul menampilkan gagalnya citra sebuah negara yang sudah seharusnya berperan sebagai fasilitator, pelayan, atau pembantu bagi terciptanya keadilan dan kemakmuran. Dia seolah mengiyakan bahwa para penguasa Orde Baru adalah patung-patung yang sangat keras kepala, meskipun sudah kuhancurkan dan kubentuk lagi. Penguasa memang tak ubahnya (patung) yang gagal memperoleh kesempurnaan estetika. Mereka adalah batu yang tak ada nilainya di mata rakyat.

Kritik Wiji Thukul terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah Orde Baru juga terasa cukup mengena. Dia mengibaratkan negara seperti sebuah bangunan rumah yang seharusnya dapat menjadi tempat berteduh dari sengatan terik maupun guyuran air hujan. Namun, bagaimana mungkin pemilik rumah itu dapat mempercantik interiornya jika rumah itu sendiri masih dalam angan-angan?

(“Suara dari Rumah-Rumah Miring)

………

kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak

tapi bersama hari-hari pengap yang

menggelinding

kami harus angkat kaki

karena kami adalah gelandangan

Tampaknya ada alasan kuat bagi Wiji Thukul untuk mengibaratkan negara seperti rumah. Keduanya memiliki tugas yang sama, memberikan perlindungan kepada orang yang bermukim di dalamnya. Hanya saja, “negara” sifatnya abstrak. Sementara “rumah” sifatnya konkret. Namun, keduanya akan mengalami seleksi alam yakni bakal diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Semangat nasionalisme Wiji Thukul semakin terasa menggigit pada bait akhir salah satu puisinya yang lain:

(“Sajak Kepada Bung Dadi”)

………

ini tanah airmu

di sini kita bukan turis

Tanah air mencakup pengertian yang luas, meliputi hasil bumi dan laut. Dari puisi ini, Wiji Thukul seolah ingin mengajak (tepatnya, menyindir) masyarakat agar memupuk rasa cinta tanah air. Sebab, dengan tertanamnya rasa cinta akan tumbuh rasa memiliki. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh seorang turis.

(“Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun”)

…………..

walau senjata ditodongkan kepadamu

walau sepatu di atas kepalamu

di atas kepalaku

di atas kepala kita

ceritakanlah ini kepada siapa pun

sebab itu cerita belum tamat

Tentunya pesan yang mudah ditangkap dari puisi di atas adalah bahwa sejarah bangsa ini hendaknya jangan ditutup-tutupi. Biarkan generasi selanjutnya menyimak jejak-jejak orang tua mereka.

Beberapa persoalan masyarakat kita yang tidak lepas dari bidikan Wiji Thukul adalah persoalan kesenian. Hakikat kesenian adalah keindahan. Di dalamnya, seorang seniman menyampaikan gagasan-gagasan tentang berbagai peristiwa faktual yang terjadi di sekeliling kita. Bagi Wiji Thukul, seorang seniman yang menggantungkan hidupnya dari tangan kesenian sejatinya kurang tepat. Kesenian bukanlah alat untuk bertahan hidup, melainkan sebagai alat untuk menyebarkan semangat humanisme universal. Kesenian adalah pendidikan bagi masyarakat.

Wiji Thukul sangat memegang teguh idealisme bahwa berkesenian adalah bukan untuk bertahan hidup. Oleh karenanya, dia sendiri harus bekerja untuk menghidupi anak dan istrinya. Maka, tak heran jika dia pun melontarkan pertanyaan:

(“Catatan Hari Ini”)

…………….

jam setengah tujuh malam

aku berangkat latihan teater

apakah seni bisa memperbaiki hidup?

Puisinya yang lain tampil lebih tegas daripada puisi di atas. Dalam puisi berikut ini, posisi “puisi” adalah otonom dan independen. Ia tidak boleh dimanfaatkan sebagai alat untuk mencari-cari kebenaran atas sebuah tindakan kejahatan. Puisi hendaknya dibiarkan mencari dan menyampaikan kebenarannya sendiri.

Sebaliknya, seorang penyair juga hendaknya bisa menjaga dirinya sendiri. Dengan kata lain, ketika seorang penyair melempar karyanya ke publik, maka ia harus bertanggung jawab dengan puisinya tersebut. Pada tataran ini, Wiji Thukul telah melampauinya.

(“Para Penyair Adalah Pertapa Agung”)

……………….

keadilan adalah duniawi

bukan tanah ladang puisi

korupsi jangan terusik oleh puisi

puisi cuma mencari jatidiri

jangan dibuka mata batin bagi kemiskinan

dan penindasan

puisi jangan menuntut yang bukan-bukan

Selain sebagai penyair dan aktivis yang terbiasa hidup menantang buasnya penguasa, ternyata ada sisi lain dari puisi-puisi Wiji Thukul yang cukup menarik. Dia tidak garang, tetapi mampu juga menyampaikan gagasannya dengan lembut.

(“Catatan Malam”)

…………….

aku ini penyair miskin

tapi kekasihku cinta

cinta menuntun kami ke masa depan

Cinta telah menjadi bagian dari tubuh puisi-puisi Wiji Thukul. Dalam setiap cinta terdapat keindahan, kedamaian, dan ketenteraman jiwa. Puisi yang baik adalah puisi yang bisa memberikan pencerahan kepada manusia. Pencerahan itulah yang akan menyemaikan bibit-bibit cinta di antara sesama. Kita bisa menanam cinta itu dalam diri kita sendiri, keluarga, bahkan negara.

Dengan cinta, eksistensi manusia akan kokoh. Ia tidak akan mudah terombang-ambing oleh gelombang tipu daya yang akan menjerumuskannya. Begitu juga dengan Wiji Thukul, kecintaannya terhadap dunia tulis menulis sebagai alat memperjuangkan hak-hak kaum marjinal tampaknya tidak akan membuatnya goyah sekalipun banyak bahaya yang siap menghadang langkahnya. Inilah jiwa sejati seorang penulis, di mana dia bersungguh-sungguh ingin menulis karena dia adalah penulis yang akan terus menulis untuk memperjuangkan keadilan.

(“Puisi di Kamar”)

………

tak menyerah aku pada tipudaya bahasamu

yang keruh dan penuh dengan genangan darah

aku menulis aku penulis terus menulis

sekalipun teror mengepung

Puisi-puisi Wiji Thuku yang terkumpul dalam antologi Aku Ingin Jadi Peluru bisa dikatakan sebagai potret carut marutnya kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya pada masa kekuasaan Orde Baru. Rezim yang berada di bawah kepemimpinan Soeharto diduga telah menyelewengkan kekuasaan di seluruh lini kehidupan. Namun, setidaknya ada dua hal yang cukup terasa waktu itu: pertama, rakyat tidak diberi kebebasan berekspresi secara utuh. Kedua, keadilan tak ubahnya barang dagangan yang hanya dikuasai oleh orang-orang berduit.

Wiji Thukul adalah salah seorang dari beberapa gelintir orang yang berani menerima resiko karena dianggap melawan kebijakan-kebijakan pemerintah. Puisi-puisinya lebih banyak membuat merah telinga pemerintah beserta aparaturnya.

Namun, dari antologi ini setidaknya bisa dibedah gagasan-gagasan Wiji Thukul yang sesungguhnya, antara lain:

  1. Pemberontakan terhadap kesewenang-wenangan pemerintah Orde Baru, yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
  2. Masalah kesenian bagi masyarakat.
  3. Hubungan puisi dengan kondisi sosial.
  4. Masalah cinta, antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya.

Dalam menulis puisi, Wiji Thukul berangkat dari apa yang dilihat dan dirasakan di sekelilingnya, terutama yang berkaitan dengan nasib rakyat, buruh, atau orang-orang yang dipinggirkan oleh bobroknya sistem pemerintahan. Pilihan diksi yang dipakai juga jelas dan lugas, sehingga karya-karyanya mudah dipahami oleh masyarakat yang datang dari berbagai elemen.

Pada akhirnya, sastra memang harus dikembalikan pada hakikatnya, yakni sebagai wadah pendidikan dan pencerahan kepada masyarakat. Di mana ada kebobrokan, di situ sastra akan melakukan perlawanan. Hal ini terbaca dengan jelas pada salah satu larik dari sajak “Peringatan” karya Wiji Thukul yang telah menjadi “bacaan wajib” dan legendaris itu: Hanya ada satu kata: Lawan!

Biografi Penyair

Wiji Thukul, yang bernama asli Wiji Widodo, lahir pada 26 Agustus 1963 di kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah. Wiji lahir dan dibesarkan dari keluarga tukang becak. Dia adalah anak sulung dari tiga bersaudara, menamatkan pendidikan SMP (1979), kemudian melanjutkan sekolah di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, namun tidak sampai tamat (1982).

Selanjutnya, Wiji Thukul menjalani hari-harinya antara lain dengan berjualan koran dan tak lama kemudian dia bekerja di sebuah perusahaan meubel antik atas ajakan tetangganya. Di perusahaan itu Wiji bekerja sebagai tukang pelitur. Saat itulah Wiji mulai dikenal sebagai penyair pelo (cedal) karena dia sering mendeklamasikan beberapa puisinya di depan teman-temannya.

Wiji Thukul mulai menulis puisi sejak duduk di bangku SD. Ketika dia masuk SMP, dia pun berkenalan dengan dunia teater dan pernah bergabung dengan kelompok teater JAGAT (Jagalan Tengah). Bersama teman-teman teaternya itu Wiji Thukul sering keluar masuk kampung-kampung untuk ngamen puisi dengan iringan berbagai instrumen musik.

Wiji Thukul tidak hanya ngamen di Solo, melainkan dia dan teman-temannya sudah merambah sampai Yogyakarta, Klaten, bahkan sampai ke Surabaya.

Pada tahun 1988, Wiji Thukul pernah bekerja sebagai wartawan MASA KINI, meski hanya bertahan tiga bulan. Puisi-puisinya pernah diterbitkan oleh berbagai media cetak, baik dalam maupun luar negeri, seperti Suara Pembaruan, Bernas, Suara Merdeka, Surabaya Post, Merdeka, Inside Indonesia (Australia), Tanah Air (Belanda), dan juga di penerbitan-penerbitan mahasiswa, seperti: Politik (UNAS), Imbas (UKSW), Pijar (UGM), Keadilan (UII), serta di berbagai buletin LSM-LSM. Selain menulis puisi, Wiji Thukul juga menulis cerpen, esai, dan resensi puisi.

Wiji Thukul menikah dengan Dyah Sujirah (Sipon) dam dikaruniai dua anak, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, semasa masih berada di sisi keluarganya, di samping membantu istrinya yang membuka usaha jahitan, Wiji Thukul juga menerima pesanan kaos, tas, dan lain-lain. Dia pernah menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis untuk anak-anak. Pengalamannya yang lain adalah pernah menjadi fasilitator workshop teater untuk para buruh perkebunan di Sukabumi, Bandung, Jakarta, dan kampung-kampung.

Dua kumpulan puisinya Puisi Pelo dan Darman dan Lain-Lain telah diterbitkan oleh Taman Budaya Surakarta (TBS). Tahun 1989 dia diundang membaca puisi oleh Goethe Institut di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Tahun 1991 Wiji Thukul tampil di Pasar Malam Puisi yang diselenggarakan Erasmus Huis, di pusat kebudayaan Belanda di Jakarta. Masih di tahun yang sama, dia menerima WERTHEIM ENCOURGE AWARD yang diberikan oleh Wertheim Stichting di negeri Belanda, dia dan W.S. Rendra adalah orang pertama yang mendapatkan penghargaan itu sejak yayasan tersebut didirikan untuk menghormati sosiolog dan ilmuwan Belanda, WE Wertheim.

Tahun 1992, sebagai penduduk Jagalan-Pucangsawit, Wiji Thukul bergabung bersama masyarakat sekampungnya di sekitar pabrik tekstil PT Sariwarna Asli untuk ikut memprotes pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pembuangan limbah pabrik tersebut. Dia juga pernah bergabung dengan aksi perjuangan petani di Ngawi (1994), memimpin pemogokan buruh di PT Sritex (1995). Selain itu, dia pernah terlibat aksi memperjuangkan kebebasan sipil bersama mahasiswa dan beberapa elemen masyarakat.

Sayangnya, peristiwa 27 Juli 1996 telah menjadikan Wiji Thukul sebagai salah satu korban “asap” politik Orde Baru dan keberadaannya hingga kini tidak pernah diketahui oleh publik.

Meski dinyatakan hilang sejak tahun 1996, pada tahun 2002 Wiji Thukul memperoleh YAP THIAM HIEN AWARD ke-10 atas jasa-jasanya dalam pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia. (Moh. Fahmi Amrulloh)

Sumber: Seratus Buku Sastra Indonesia Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan (An Ismanto [ed.], IBOEKOE, 2009), halaman 782-791

From Beirut to Jerusalem | Ang Swee Chai

Koran Jakarta, Selasa 24 Agustus 2010
Judul buku : From Beirut to Jerusalem: Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan di Kamp Pengungsian Palestina
Penulis : dr. Ang Swee Chai
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Agustus, 2010
Tebal buku : 444 halaman
Harga : 59.000,-
PALESTINA tak henti-henti dirundung duka. Serangkaian pembantaian yang dilakukan tentara Israel terhadap warga Palestina tak cuma meninggalkan duka lara, melainkan juga mengundang keprihatinan. Karena tak sedikit wanita dan anak-anak menjadi korban –meninggal, terluka, dan mengalami trauma berkepanjangan. Kepedihan rakyat Palestina itulah, yang “mengundang” orang-orang yang memiliki empati dan hati nurani kemudian tergerak hati datang ke Palestina untuk menjadi relawan dan dr. Ang Swee Chai adalah salah satunya.
Tetapi, dr Ang Swee Chai tidak hanya datang sebagai seorang dokter yang memberikan sumbangsih pengabdian (merawat dan berkorban dengan segala cara), melainkan juga berani memberikan kesaksian tentang apa yang dia lihat atas kebengisan Israel. Padahal, latar belakang religius Ang sebenarnya memihak Israel tapi tuntutan profesi dokter bedah membuatnya tak bisa berpaling. Awalnya, ketika datang permintaan pengiriman dokter bedah ke Beirut, ia segera memutuskan berangkat. Ia keluar dari RS London, meninggalkan suami (Francis), lalu memutuskan mengabdikan hidup di kamp pengungsian Palestina. Anehnya, setelah di kamp itu ia justru sadar. Ia balik memihak Palestina dan kemudian memberi kesaksian.
Buku ini adalah kesaksian dr. Ang, dokter perempuan yang telah merawat para korban perang dan melihat dari dekat kekejaman Israel di negeri Lebanon. Bulan Agustus 1982 dr. Ang meninggalkan London berangkat bersama 100 tenaga medis dari berbagai negara yang disponsori PRCS (Palestina Red Crescent Society). Setiba di Beirut, ia “tersentak” menjumpai kehancuran: 20.000 keluarga kehilangan rumah, rumah sakit rusak dan ia terpaksa merawat korban di rumah sakit darurat (Lahut). Hari pertama tugas, dr. Ang harus merawat 50 pasien bahkan menjalani operasi tanpa penerangan.
Beberapa hari kemudian, ia bertugas di rumah sakit Gaza. Anehnya, justru di kamp pengungsian Palestina (di Sabra dan Sathila) itu, dr. Ang disadarkan dengan keadaan yang bertolak belakang dengan apa yang ia peroleh dari media Barat tentang orang Pelestina. Sebelum berangkat ke Beirut ia memihak Israel. Tapi keadaan yang ditemui di kamp pengungsian membuatnya harus memihak keadilan. “Melihat orang yang terluka di Lebanon membuatku pedih. Pertama, karena mereka telah disakiti Israel. Kedua, aku orang Kristen dan ketiga, karena aku seorang dokter” (hal. 35).
Dari situ, ia memutuskan memihak Palestina. Ia berjuang demi rakyat Palestina yang terbuang (dari tanah air mereka) sejak tahun 1948. Karena itu, nurani dr Ang tak ingin pembantaian itu berlanjut. Dengan lantang ia (Paul Morris dan Ellen) lalu memberi “kesaksian” untuk membela Palestina di Komisi Kahen, di Tel Aviv sebelum dia pulang ke London November 1982.
Meski kesaksian itu tak membuat Palestina terbebas dari kekejaman, tapi jiwanya untuk memihak Palestina tidak surut. Setelah pulang ke London (1984), ia mendirikan organisasi amal medis MAP -Medical Aid for Palestina/bantuan Medis untuk Rakyat Palestina. Di bawah panji MAP, dr. Ang menyumbang obat-obatan. Pada 1985 kamp pengungsi Palestina (Bourj el-Brajneh) diserang dan dikepung (orang-orang Amal, kelompok Muslim Lebanon), ia berangkat ke Lebanon. Kepergian kali ini tak hanya bertugas sebagai dokter, tapi juga negosiator dan sopir yang mengangkut bantuan obat untuk rakyat Palestina.
Enam kali dr Ang ke Lebanon saat perang berkecamuk, berjuang untuk Palestina. Ia mendapat penghargaan Star of Palestina (1987) dari Yasser Arafat. The Gardian Inggris menjuluki Malaikat dengan Sayap Terbelenggu atas usaha pembebasan Pelestina itu. Sebagai pengungsi –yang lahir di Penang Malaysia- yang kini tinggal di Inggris, Ang merasakan nasib orang Palestina yang tidak punya negara. Karena itu upaya pembebasan dan kesaksian yang diberikan itu tak sekadar dukungan, juga harapan. Dari situ, dr. Ang memberi “titel” buku ini; From Beirut to Jerusalem.
Buku ini -seperti ditulis The Guardian- adalah kesaksian tentang pembantaian yang menukik. ***
*) N. Mursidi, blogger buku dan owner toko buku online etalasebuku.com

PalestinaFrom Beirut to Jerusalem: Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan di Kamp Pengungsian Palestina | dr. Ang Swee Chai | Mizan, Bandung | Agustus, 2010 | 444 halaman | 59.000,-

Palestina  tak henti-henti dirundung duka. Serangkaian pembantaian yang dilakukan tentara Israel terhadap warga Palestina tak cuma meninggalkan duka lara, melainkan juga mengundang keprihatinan. Karena tak sedikit wanita dan anak-anak menjadi korban –meninggal, terluka, dan mengalami trauma berkepanjangan. Kepedihan rakyat Palestina itulah, yang “mengundang” orang-orang yang memiliki empati dan hati nurani kemudian tergerak hati datang ke Palestina untuk menjadi relawan dan dr. Ang Swee Chai adalah salah satunya.

Tetapi, dr Ang Swee Chai tidak hanya datang sebagai seorang dokter yang memberikan sumbangsih pengabdian (merawat dan berkorban dengan segala cara), melainkan juga berani memberikan kesaksian tentang apa yang dia lihat atas kebengisan Israel. Padahal, latar belakang religius Ang sebenarnya memihak Israel tapi tuntutan profesi dokter bedah membuatnya tak bisa berpaling. Awalnya, ketika datang permintaan pengiriman dokter bedah ke Beirut, ia segera memutuskan berangkat. Ia keluar dari RS London, meninggalkan suami (Francis), lalu memutuskan mengabdikan hidup di kamp pengungsian Palestina. Anehnya, setelah di kamp itu ia justru sadar. Ia balik memihak Palestina dan kemudian memberi kesaksian.

Buku ini adalah kesaksian dr. Ang, dokter perempuan yang telah merawat para korban perang dan melihat dari dekat kekejaman Israel di negeri Lebanon. Bulan Agustus 1982 dr. Ang meninggalkan London berangkat bersama 100 tenaga medis dari berbagai negara yang disponsori PRCS (Palestina Red Crescent Society). Setiba di Beirut, ia “tersentak” menjumpai kehancuran: 20.000 keluarga kehilangan rumah, rumah sakit rusak dan ia terpaksa merawat korban di rumah sakit darurat (Lahut). Hari pertama tugas, dr. Ang harus merawat 50 pasien bahkan menjalani operasi tanpa penerangan.

Beberapa hari kemudian, ia bertugas di rumah sakit Gaza. Anehnya, justru di kamp pengungsian Palestina (di Sabra dan Sathila) itu, dr. Ang disadarkan dengan keadaan yang bertolak belakang dengan apa yang ia peroleh dari media Barat tentang orang Pelestina. Sebelum berangkat ke Beirut ia memihak Israel. Tapi keadaan yang ditemui di kamp pengungsian membuatnya harus memihak keadilan. “Melihat orang yang terluka di Lebanon membuatku pedih. Pertama, karena mereka telah disakiti Israel. Kedua, aku orang Kristen dan ketiga, karena aku seorang dokter” (hal. 35).

Dari situ, ia memutuskan memihak Palestina. Ia berjuang demi rakyat Palestina yang terbuang (dari tanah air mereka) sejak tahun 1948. Karena itu, nurani dr Ang tak ingin pembantaian itu berlanjut. Dengan lantang ia (Paul Morris dan Ellen) lalu memberi “kesaksian” untuk membela Palestina di Komisi Kahen, di Tel Aviv sebelum dia pulang ke London November 1982.

Meski kesaksian itu tak membuat Palestina terbebas dari kekejaman, tapi jiwanya untuk memihak Palestina tidak surut. Setelah pulang ke London (1984), ia mendirikan organisasi amal medis MAP -Medical Aid for Palestina/bantuan Medis untuk Rakyat Palestina. Di bawah panji MAP, dr. Ang menyumbang obat-obatan. Pada 1985 kamp pengungsi Palestina (Bourj el-Brajneh) diserang dan dikepung (orang-orang Amal, kelompok Muslim Lebanon), ia berangkat ke Lebanon. Kepergian kali ini tak hanya bertugas sebagai dokter, tapi juga negosiator dan sopir yang mengangkut bantuan obat untuk rakyat Palestina.

Enam kali dr Ang ke Lebanon saat perang berkecamuk, berjuang untuk Palestina. Ia mendapat penghargaan Star of Palestina (1987) dari Yasser Arafat. The Gardian Inggris menjuluki Malaikat dengan Sayap Terbelenggu atas usaha pembebasan Pelestina itu. Sebagai pengungsi –yang lahir di Penang Malaysia- yang kini tinggal di Inggris, Ang merasakan nasib orang Palestina yang tidak punya negara. Karena itu upaya pembebasan dan kesaksian yang diberikan itu tak sekadar dukungan, juga harapan. Dari situ, dr. Ang memberi “titel” buku ini; From Beirut to Jerusalem.

Buku ini -seperti ditulis The Guardian- adalah kesaksian tentang pembantaian yang menukik.

* N. Mursidi, blogger buku dan owner toko buku online etalasebuku.com

Sumber: Koran Jakarta, Selasa 24 Agustus 2010

Gelora Api 26

Laporan pembacaan buku Gelora Api 26: Kumpulan Cerpen dan Puisi (Ultimus, 2010, xxiv+108 hlm)

Oleh: Diana AV Sasa

“Sastrawan adalah mata, telinga, dan suara klasnya. Ia boleh djadi tak menjadari hal ini, namun ia adalah pantjaindera klasnja.” (Alexei Maximowitj Gorki)

Buku Karya Sastrawan Lekra

Buku Karya Sastrawan Lekra

Peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menggulingkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda pada 12 November 1926 di Jawa, khususnya Banten dan Batavia dan merembet ke Jawa Tengah, ibarat bara api dalam sekam dan meledak dengan gelegar yang menghentak. Dua bulan berikutnya pemberontakan meletus pula di Sumatera Barat.

Pemberontakan yang berlangsung di kota yang berbeda-beda ini gampang betul dilumpuhkan. Sekejap. PKI dilarang dan ribuan pengikutnya dibuang ke pedalaman Papua yang ganas, Boven Digul. Namun sejarah telah mencatat bahwa peristiwa ini menjadi tonggak pemberontakan terbuka pertama di Indonesia yang dilakukan organisasi modern di bawah bendera partai.

Dan sejarah itu coba ditafsir ulang oleh sastrawan-sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) generasi yang dalam kategori genetika gerakan PKI, sejajar dengan generasi ketiga (Generasi pertama: 20-an, Kedua: 40-an, Ketiga: 60-an). Sebagian dari tafsir itulah yang terbingkai dalam Gelora Api 26.

Zubir AA (Sabotase), dan Agam Wispi (Rapat Penghabisan) mencoba merekam detail-detail peristiwa dan tokoh pemberontakan di Sumatera. Sugiarti Siswadi (Sukaesih) menafsir kisah pemberontakan Haji Hasan yang menolak menyerahkan hasil padinya pada Belanda di Garut, Jawa Barat. S. Anantaguna melalui cerpen Sel D mencatatkan kepedihan siksaan bagi tahanan PKI dalam sel terakhir sebelum dibuang ke Boven Digul. Kemudian T. Iskandar A.S. melanjutkan dengan menapaki jejak para pelarian Digul yang menyeberangi lautan menuju Australia dalam cerpen Dari Daerah Pembuangan. Dan A. Kembara melalui Kakek, menarik perspektif seorang cucu terhadap heroisme keluarga Marco yang memimpin sebuah pemberontakan. Nama tokoh dalam cerita ini mengingatkan pada Marco Kartodikromo, tokoh komunis yang berpena belati pada masanya.

Sementara itu Alifdal, Chalik Hamid, A. Kembara, Anantya, Nurdiana, Mahyuddin, Mawie Ananta Jonie, M.D. Ani, dan Z. Afif menganyam bait-bait puisi yang sarat dengan semangat perlawanan, dan menggugah keberanian. Puisi-puisi yang mereka tulis memuat jejak-jejak peristiwa dan tokoh seputar pemberontakan PKI 1926 itu pula. Mulai dari peristiwa Prambanan[1], pemberontakan di beberapa daerah, hingga tokoh revolusioner Ali Archam[2].

Melihat demikian rinci dan padatnya data yang terhimpun dalam karya-karya, patutlah kiranya memberikan penghargaan dan apresiasi atas upaya penerbitan beberapa cerpen dan puisi yang terserak di dalam dan luar negeri menjadi buku Gelora Api 26 oleh Ultimus ini. Keberadaannya menambah lagi satu referensi tentang Digul dari perspektif sastra. Imajinasi, keindahan bahasa, dan kemampuan para sastrawan itu merekam peristiwa-tokoh memberikan ruh pada laku sejarah yang didokumentasikannya.

Penerbitan buku-buku tipis seperti ini mengingatkan pada tradisi awal PKI berdiri, di mana buku menjadi alat propaganda dan pengkaderan partai, terutama teori-teori penopang jiwa partai. Maka dibutuhkan penyebaran wacana seputar teori ini. Pembelajaran pada kader memerlukan media yang bisa dipahami oleh kader di level terendah. Buku, menjadi pilihan utama bagi PKI sebagai media panduan pengkaderan dan penyebaran wacana.

Poestaka Ketjil Marxis, nama proyek ini, umumnya menerbitkan buku berukuran mungil, 10,5 x 14 cm, tipis saja antara 20-100 hlm, berisi teori dan panduan, dan disebar hingga kader terbawah partai. Aksi buku kecil ini pernah pula mendapat reaksi dari Front Anti Komunis yang berpusat di Bandung yang menerbitkan buku kecil sejumlah 32 halaman. Buku ini hanya 5 halaman saja yang berisi tentang PKI membela Negara asing, selebihnya mengatakan bahwa negara kapitalis itu demokratis, rakyatnya makmur, sementara negara sosialis tidak demokratis, rakyatnya sengsara.

PKI meluaskan gerakannya dengan mendirikan Jajasan Pembaruan pada Mei 1951 di Jakarta. Ini adalah sebuah lembaga penerbitan yang menjadi “mesin ilmiah” partai. Rata-rata menerbitkan 1 judul sepekan. Tahun pertama: Rentjana Konstitusi PKI, Djalan Baru Untuk Republik Indonesia, Pengantar Ekonomi Politik Marxis, Dimitrov Menggugat Fasisme, Tentang Ajaran2 dan Perjuangan Karl Marx, dan Bintang Merah (Jurnal). Penulis-penulis Indonesia yang pernah diterbitkan antara lain: Ir. Sukarno, Njoto, Sudisman, Ir. Sakirman, Mr. Jusuf Adjitorop, Nursuhud, Peris Pardede, J. Piry, Nungtjik. AR, Hutomo Supardan, Joebaar Ajoeb, Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, F.L. Risakotta, Sugiarti Siswadi, S. Rukiah Kertapati, Dhalia, Sobron Aidit, dan lain-lain.

PKI juga memiliki Biro Penerjemahan CC PKI yang diawasi langsung Ketua Aidit. Umumnya yang diterjemhkan adalah tulisan pemimpin kiri dunia, seperti Stalin, Mao Zedong, Maurice Thorez (Perancis), Paul de Groot (Belanda), Ajoy Gosch (India), dan lain-lain. Selain itu Bintang Merah sering memuat terjemahan sajak-sajak progresif maupun tulisan dari/tentang pengarang terkenal karya sastra dunia seperti Ilya Erenburg, Maxim Gorki, Martin Carter, Ho Chi Minh, dan sebagainya[3].

Sementara Lekra, sebagai organ yang secara ideologis sejalan dengan PKI (baca Lekra tak Membakar Buku tentang posisi Lekra-PKI ini), memiliki media propaganda sastra pula. Bagian Penerbitan Lekra didirikan tahun 1960 di Jakarta. Terbitan pertamanya adalah 4 buku puisi Sahabat (Agam Wispi), Pulang Bertempur (Sobron Aidit), Bukit 1211 (Rumambi, Sudisman, dan FL Risakotta), dan Lagu Manusia (Nikola Vaptsarov – diterjemahkan Risakotta, Agam Wispi, Walujadi Toer, dan Bintang Suradi). Setelah 2 tahun sudah menerbitkan 30 buku di antaranya karya sastra (pengarang Indonesia) 47%, 30 % terjemahan, 16% karya-karya musik, dan 7% ilmu. Puisi menandai diluncurkannya Badan Penerbitan Lekra dan menjadi satu-satunya buku yang dibawa delegasi sastrawan Indonesia untuk Konferensi Sastrawan Asia Afrika II di Kairo Lekra paling produktif melahirkan puisi ketimbang prosa-prosa lainnya. Puisi kemudian menjadi gaya politik elite-elite partai.

Kembali pada Gelora Api 26. Meski para sastrawan yang menulisnya cukup berjarak jauh dengan peristiwa pemberontakan 1926 (rata-rata mereka lahir tahun 30-an), namun ketika menulis, mereka tak kehilangan semangat zaman di saat peristiwa itu terjadi. Ini tak lepas dari prinsip-prinsip satrawan Lekra dalam berkarya. Mari menengok apa yang dihimpun Muhidin M Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam Lekra Tak Membakar Buku tentang cara kerja satrawan Lekra.

Asas – Kombinasi – Metode 1-5-1

(1) Politik sebagai panglima

(5.1) Meluas dan Meninggi

(5.2) Tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik

(5.3) Tradisi baik dan kekinian revolusioner

(5.4) Kreativitas individual dan kearifan massa

(5.5) Realisme sosial dan romantik revolusioner

(1) Turun ke bawah

(1) Politik sebagai panglima

  • “Politik tanpa kebudayaan masih bisa jalan, tapi kebudayaan tanpa politik tidak bisa sama sekali” (Joebaar Ajoeb, 1959)
  • “1001 kali seniman tidak berpolitik, 1001 kali pula politik akan mentjampuri seni dan seniman” (Amir Pasaribu, 1957)
  • “Djika kita menghindarinja (politik), kita akan digilas mati olehnja. Oleh sebab itu dalam hal apapun dan kapan sadjapun, politik harus menuntun segala kegiatan kita. Politik adalah panglima!” (Njoto, 1959)
  • “Perkenankanlah saja mengemukakan: orang jang berkata ,,hai, djangan kamu berpolitik, karja senimu akan merosot, dia itu bisa kita samakan dengan seorang guru jang berkata ,,hai, djangan kamu olahraga, kau nanti bodoh. Menurut jang empunja cerita, tak lama kemudian guru itu mati dan dikubur hanja karena dia tak pernah berolahraga…” (Njoto, 1959

(5.1) Meluas dan Meninggi

  • Meluas diartikan sebagai kondisi atas kenyataan karya cipta Rakyat yang beragam, kaya, dan luas di pelbagai daerah dan di antara sukubangsa yang ribuan jumlahnya itu. (“Laporan Umum” Kongres Lekra I, Solo, 1959)
  • Meninggi diartikan bagaimana segi-segi budaya luas itu dihidupkan kembali dengan isi baru untuk kepentingan Rakyat dan Revolusi.
  • Jalan yang ditempuh untuk program “meninggikan” adalah jalan pendidikan dengan melatih tenaga-tenaga muda yang belum cukup terlatih tapi memiliki bakat dan kesanggupan.

(5.2) Tinggi mutu ideologi dan artistik

  • Seni mestilah berpihak. Bertendens.
  • “Mutu ideologi” diperoleh dari kesadaran politik yang tinggi, sementara “mutu artistik” adalah bentuk karya yang diperoleh dari tafsir atas kenyataan dalam berkarya. Keduanya harus dicapai setinggi-tingginya. Karena mutu ideologi yang diperoleh dari kesadaran politik yang tinggi dalam kreasi tak mungkin dicapai tanpa disertai mutu artistik yang tinggi pula.
  • Isi yang jelek, politik reaksioner, jika didukung oleh bentuk yang artistik bisa menyembunyikan bentuk ketakreaksionernya; sebaliknya pun demikian, bahwa isi yang tepat, politik revolusioner, tidak didukung oleh bentuk yang artistik bisa menjadi jelek sebagai keseluruhan dan bisa menghasilkan interpretasi-interpretasi yang mengelirukan. (HR Bandaharo, 1965)

(5.3) Tradisi baik dan kekinian revolusioner

  • Mengembankan “3 Baik”: (1) bekerja/berkarya baik; (2) belajar baik; (3) bermoral baik—”bukan berarti hub kelamin antara pria dan wanita tok, tetapi bertanggung jawab dalam pembentukan kejiwaan bangsa”.
  • “Kekinian Revolusioner” berarti menajamkan kepekaan atas perkembangan masa kini. Karena tugas seniman adalah memberi respons yang bersifat tanggap cepat atas situasi politik, ekonomi, sosial, dsb.

(5.4) Kreativitas individual dan kearifan massa

  • Lekra menghormati kreativitas individual, namun bukan (kreativitas) individual yang—meminjam paragraf Pramoedya Ananta Toer: “… setiap orang hidup dalam alam jang penuh dengan penderitaan batin dan pesimisme; individu nampak dan merasa hidup dalam kesunjian, terapung-apung entah dimana, tidak ada kesempatan untuk berhati tulus dan ikhlas terhadap sesamanja, dan setiap orang nampak dan terasa sebagai keledai jang tak tahu kemana akan pergi, darimana ia datang, tetapi terus berdjalan, terus berdjalan, dengan beban berat dan sia2 pada tengkuknja”.
  • Kreativitas individual berguna bila di dalamnya ada komitmen sosial yang kuat.

(5.5) Realisme sosial dan romantik revolusioner

  • Realisme sosial adalah realisme yang didasarkan pada tujuan sosialisme.
  • Wataknya: (1) militansi dan tak kenal kompromi dengan lawan seperti kapitalisme internasional dan komprador2nya dalam negeri; (2) membakar sumbu semangat pada Rakyat untuk melawan dan menentang penindasan dan penghisapan serta penjajahan nasional maupun internasional—bukan saja berdasarkan emosi atau sentimen tapi juga berdasarkan ilmu dan pengetahuan, terutama memberanikan Rakyat untuk melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri.

(5.5) Turun ke bawah

  • Rambunya adalah “tiga sama”: (1) bekerja bersama; (2) makan bersama; (3) tidur bersama.
  • Turba mengharuskan sastrawan untuk tinggal di tengah-tengah Rakyat jelata, merasai denyut napas mereka. Dengan demikian, Turba boleh dibilang adalah pisau pemutus yang selama ini memisahkan kehidupan sastrawan dengan Rakyat.
  • Turba memperlihakan bagaimana Lekra tak ingin melihat sastrawannya mendiskusikan kemelaratan Rakyat dari kamar-kamar mewah berpendingin dan eksklusif atau menggambarkan derita Rakyat hanya dari rujukan buku-buku sosiologi.

Teranglah sudah mengapa cerpen-cerpen dan puisi-puisi dalam Gelora Api 26 tampak begitu dekat dengan kehidupan rakyat dan kaya akan data. Dalam karya-karya itu juga tercermin keberpihakan yang jelas secara ideologis. Nampak pula bahwa setiap sastrawan memiliki kesadaran ideologis yang tinggi.

Sastrawan Lekra tak semata berkarya dengan imajinasi. Mereka melakukan riset mendalam, menghimpun data-data, turun langsung ke masyarakat, kemudian menafsir ulang dengan kemampuan imajinasi dan keindahan sastrawinya. Keseragaman dalam pilihan tema dan isu yang diusung menunjukkan bahwa mereka memiliki ideologi yang diperjuangkan bersama, cita-cita bersama yang dikerjakan, dengan sastra sebagai pisau.

Ciri-Ciri Umum Cerpen Lekra:

  • “Reportase” atas kenyataan sosial yang bergerak di kehidupan masyarakat bawah. Nyaris tak ada cerpen-cerpen yang bertendensi takhayul, hantu-hantuan, mempermainkan atau mengolok-olok atau merendahkan agama atau keyakinan masyarakat, atau tema-tema abstrak dan “aneh” lainnya yang jauh dari perhubungan kondisi real masyarakat.
  • Tema-tema yg umumnya diusung: patriotisme, pengadilan kaum tani melawan tuan tanah, penegasan sikap pada partai, dialektika melawan trengginasnya kekuatan kapitalisme internasional dan feodalisme, kesadaran persatuan Rakyat, dan penghormatan atas perempuan.

Ciri Puisi Lekra

  • Respons cepat atas peristiwa penting sebagai ejawantah dari konsep: “pentjerminan kongkrit jang menjeluruh dari kehidupan dan aspek subjektif dari realitet (kemampuan)”
  • Puisi memikul tanggung jawab sosial dan tak boleh mengkhianati Rakyat.
  • Tak boleh hanya berhenti pada klangenan dan tangisan cengeng.
  • Puisi Lekra umumnya dideklamasikan.

Dari apa yang terurai di atas, saya pribadi sebagai bagian dari penulis muda, merasa sungguh malu akan karya-karya yang selama ini saya hasilkan. Tulisan-tulisan saya (yang mungkin juga banyak ditulis oleh kawan lain) kebanyakan saya tulis dari kamar yang nyaman dengan referensi dari buku para ahli dan internet. Sehingga apa yang saya tulis terkadang demikian jauh berjarak dengan realitas masyarakat di sekitar saya. Turba adalah hal yang asing.

Saya juga tidak menulis untuk sebuah tujuan tertentu yang sifatnya nasional, apalagi ideologis dan membangun kesadaran terhadap penindasan. Tidak ada tugas nasional yang saya pundaki dan saya rasakan sebagai sebuah kerja bersama dengan kawan-kawan penulis lain. Kami menulis dengan cara kami masing-masing untuk tujuan kami masing-masing, dan juga kesenangan, dan sekaligus keisengan kami sendiri. Ketika peristiwa demi peristiwa politik, sosial, ekonomi terjadi di negeri ini, bukannya merekam dalam karya yang saya lakukan, tapi muak dan menyingkir. Saya kemudian berpikir, lantas di mana kelak posisi saya sebagai penulis dalam sejarah bangsa ini?

Daftar Bacaan

Chamber-loir, Henry.2009. Sadur: Sejarah Terjemahan Di Indonesia Dan Malaysia. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta

Bondan, Molly.2008. Spanning a revolution: Kesaksian eks Digul dan Pergerakan Nasional Indonesia, Yayasan Obor Indonesia: Jakarta

Dahlan, Muhidin M, Rhoma Dwi Aria, 2008.Trilogi Lekra Tak Membakar Buku, Gugur Merah, Laporan dari Bawah. Merakesumba: Yogyakarta

Mona, Matu, 2010. Pacar Merah Indonesia: Peranan Tan Malaka dalam Berbagai Konflik Dunia, buku kedua, Beranda Publishing: Yogyakarta

Wispi, Agam dkk. 1965.Kepada Partai, Kumpulan Sandjak; Yayasan Pembaruan: Jakarta


[1] Konferensi CC PKI pada 25 Desember 1925 yang memutuskan pemberontakan 12 November 1926

[2] Ali Archam adalah pemimpin perjuangan PKI yang cukup disegani. Ia dipandang mampu menengahi pertikaian antar tapol mengenai status tahanan dan dukungan terhadap berbagai organisasi politik mereka. Ali meninggal karena tubercolosis, di atas kole-kole dalam perjalanan menuju rumah sakit di Tanah Merah, Digul. Ali dimakamkan dengan penghormatan besar. Di antara semua makam yang digali di Digul, hanya makamnya yang dibuat dengan baik. Nisannya dari marmer, tiang dan atapnya dari besi. Nama ini diabadikan menjadi nama akademi sosial dalam tubuh PKI, Akademi Sosial Aliarcham. (Molly Bondan, Spanning a revolution: Kesaksian eks Digul dan Pergerakan Nasional Indonesia, Yayasan Obor Indonesia, 2008, hal:214)

[3] Ibarruri Sudarsono, dalam Sadur, 2009, hlm. 703, 705

De Expres

Oleh Mahtisa Iswari

DE EXPRESDe Expres diterbitkan di Bandung pada 1 Maret 1912 dengan harga banderol mula-mula enam gulden untuk pelanggan dalam negeri dan tujuh setengah gulden bagi yang berdomisili di luar negeri setiap empat bulan. Pendirinya Douwes Dekker dan dibantu oleh dua orang yang di kemudian hari menjadi alamat-alamat kunci sejarah pergerakan pertama Indonesia: Ki Hajar Dewantara dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiga orang ini kerap diberi simpul sebut: “Tiga Serangkai”.

De Expres menjadi kereta paling kenceng larinya. Di sanalah Dekker menuangkan gagasannya tentang apa pun, terutama kesetaraan antara Indo dengan Pribumi. Dipimpin Douwes Dekker dan dibantu oleh H.C. Kakebeeke, harian berbahasa Belanda ini tak hanya menyediakan forum guna membahas berbagai masalah politik di Hindia Belanda. Lebih jauh dari itu suratkabar De Expres menjadi tungku panas pematangan ide-ide tentang nasionalisme yang disebar Dekker dkk.

Ide pembentukan organisasi politik diawali dengan menjalin hubungan dengan beberapa organisasi pribumi yang tidak bersifat keagamaan. Kemudian hal tersebut disusul dengan mengadakan forum diskusi tentang pembentukan organisasi politik. Pada 5 Oktober di Semarang Indische Partij lahir dari sebuah ajang diskusi yang dihadiri sekira 200 orang yang menganggap Hindia sebagai tanahairnya.

Pendekatan selanjutnya dilakukan terhadap Tjipto Mangoenkoesoemo agar mau duduk di komite sentral IP sekalian mengajarkannya ilmu jurnalistik. Pada Desember 1912 Tjipto pindah ke Bandung dan duduk sebagi anggota dewan redaksi De Expres. Selain itu ia juga ditunjuk menjadi salah satu pemimpin IP.

Sejak diterbitkannya, koran ini paling sering memuat tulisan dari “Tiga Serangkai” yang menjadi momok dan bisul oleh pemerintah kolonial. Seperti tulisan Douwes Dekker yang isinya menghimbau kaum Indo-Eropa untuk tak usah lagi mengaku-aku dirinya menjadi orang Eropa kalau mau maju. Terhadap golongan ini Douwes Dekker menyebutnya “kaum Hindia” atau “Indonesier“.

Kata “Indonesier” yang kemudian menjadi Indonesia inilah yang dianggap tabu pemerintah Belanda. Akibat dari tulisan tersebut, pemerintah kian berang dan pasang tampang. Masalahnya, imbauan Douwes Dekker melalui partainya itu ternyata berefek domino. Ia bisa menarik simpati orang Indo dan kaum Pribumi. Mereka setuju akan himbauan itu dan bersedia untuk masuk menjadi anggota Indische Partij.

Sejak 1912 sudah banyak suratkabar yang di-black list oleh pemerintah dan dianggap berhaluan kiri alias merah karena sering menampilkan bacaan-bacaan liar yang menghasut. Terhadap koran-koran itu pada awalnya pemerintah tak langsung memukul tengkuknya. Namun pemerintah kolonial bersiasat agar koran-koran tersebut bangkrut dengan sendirinya. Caranya: melarang semua pegawai negeri membaca koran-koran tersebut. Yang melanggar akan dikeluarkan dari pekerjaannya. Konon banyak Pribumi yang ditolak ketika melamar menjadi pegawai negeri hanya lantaran berlangganan koran merah.

Aturan itu diperluas sedemikian rupa sehingga orang-orang swasta yang membaca koran terlarang juga bisa dapet sanksi. Akibatnya banyak perusahaan yang enggan menerima pegawai yang berlangganan koran merah.

De Expres pun yang tak luput kena black list dan dicap merah. Konsekuensinya De Expres dilarang dibaca oleh semua pegawai negeri. Tentang larangan membaca koran ini telah diceritakan Margono Djojohadikusumo dalam bukunya, Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman. Dikisahkan dalam buku itu, pada 1912 penulisnya telah dipromosikan seorang Belanda untuk menjadi pegawai dari kantor Volkscredietwezen (Perkreditan Rakyat). Untuk itu Margono telah diwawancarai oleh RMA Kusumoyudo. Karena sponsornya adalah orang Belanda, wawancara itu boleh jadi cuma basa-basi. Namun ketika ketahuan dia berlangganan De Expres, seketika wajah Kusumoyudo menjadi merah dan tegang. Wawancara menjadi buntu dan keadaan menjadi serbakaku. Dan akhirnya, wawancara ditutup dengan kata-kata Kusumoyudo, “Saya pribadi tidak keberatan, tetapi entah bagaimana pendapat tuan-tuan besar yang berada di Batavia.” Hasil wawancara itu tiada kabar beritanya lagi.

Sudah lama pemerintah membidik De Expres. Dan saat itu datang juga rupanya tatkala De Expres memuat tulisan Ki Hadjar Dewantara yang berjudul “Als ik Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Tulisan pendek tersebut hanya mengisi satu kolom. Namun isinya mengkritik pemerintah Hindia Belanda yang sedang memperingati hari kemerdekaannya. Baca salah satu pasase tulisan yang jadi musabab De Expres tutup buku selamanya itu:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun.”

Tulisan tersebut dimuat pada 1913. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kritik itu dianggap keterlaluan, menusuk perasaan, dan penuh ejekan.

Selain korannya diberangus, Tiga Serangkai juga ditangkap kemudian dibuang ke negeri Belanda dan De Indsche Partij dinyatakan sebagai partai terlarang. Setelah peristiwa pemukulan De Expres, koran-koran yang sudah masuk daftar hitam dan para pengelolanya pun ikut-ikutan dipukul. Termasuk Bung Karno dan kawan-kawannya yang dijebloskan ke penjara dan korannya diberangus gara-gara tulisannya yang terlalu mencampuri urusan politik dan dianggap menghasut rakyat.

* Periset utama program Seabad Pers Kebangsaan 1907-2007 di Indonesia Buku

KUTIPAN

De Expres adalah koran kritis milik Indische Partij dari Bandung. Koran yang melahirkan tiga redakturnya sebagai “Tiga Serangkai” (Dekker, Ki Hajar, dan Dr. Tjipto) menjadi bulan-bulanan pembreidelan pemerintah kolonial. Pasalnya koran ini menyerukan untuk tak usah lagi mengaku-aku dirinya menjadi orang Eropa kalau mau maju. Terhadap golongan ini Dekker menyebutnya “kaum Hindia” atau “Indonesier“.

De Expres

“Ik ben Indisch, Ik ben Indonesier!!!”[*]

De Expres diterbitkan di Bandung pada 1 Maret 1912 dengan harga banderol mula-mula enam gulden untuk pelanggan dalam negeri dan tujuh setengah gulden bagi yang berdomisili di luar negeri setiap empat bulan. Pendirinya Douwes Dekker dan dibantu oleh dua orang yang di kemudian hari menjadi alamat-alamat kunci sejarah pergerakan pertama Indonesia: Ki Hajar Dewantara dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiga orang ini kerap diberi simpul sebut: “Tiga Serangkai”.

De Expres menjadi kereta paling kenceng larinya. Di sanalah Dekker menuangkan gagasannya tentang apa pun, terutama kesetaraan antara Indo dengan Pribumi. Dipimpin Douwes Dekker dan dibantu oleh H.C. Kakebeeke, harian berbahasa Belanda ini tak hanya menyediakan forum guna membahas berbagai masalah politik di Hindia Belanda. Lebih jauh dari itu suratkabar De Expres menjadi tungku panas pematangan ide-ide tentang nasionalisme yang disebar Dekker dkk.

Ide pembentukan organisasi politik diawali dengan menjalin hubungan dengan beberapa organisasi pribumi yang tidak bersifat keagamaan. Kemudian hal tersebut disusul dengan mengadakan forum diskusi tentang pembentukan organisasi politik. Pada 5 Oktober di Semarang Indische Partij lahir dari sebuah ajang diskusi yang dihadiri sekira 200 orang yang menganggap Hindia sebagai tanahairnya.

Pendekatan selanjutnya dilakukan terhadap Tjipto Mangoenkoesoemo agar mau duduk di komite sentral IP sekalian mengajarkannya ilmu jurnalistik. Pada Desember 1912 Tjipto pindah ke Bandung dan duduk sebagi anggota dewan redaksi De Expres. Selain itu ia juga ditunjuk menjadi salah satu pemimpin IP.

Sejak diterbitkannya, koran ini paling sering memuat tulisan dari “Tiga Serangkai” yang menjadi momok dan bisul oleh pemerintah kolonial. Seperti tulisan Douwes Dekker yang isinya menghimbau kaum Indo-Eropa untuk tak usah lagi mengaku-aku dirinya menjadi orang Eropa kalau mau maju. Terhadap golongan ini Douwes Dekker menyebutnya “kaum Hindia” atau “Indonesier“.

Kata “Indonesier” yang kemudian menjadi Indonesia inilah yang dianggap tabu pemerintah Belanda. Akibat dari tulisan tersebut, pemerintah kian berang dan pasang tampang. Masalahnya, imbauan Douwes Dekker melalui partainya itu ternyata berefek domino. Ia bisa menarik simpati orang Indo dan kaum Pribumi. Mereka setuju akan himbauan itu dan bersedia untuk masuk menjadi anggota Indische Partij.

Sejak 1912 sudah banyak suratkabar yang di-black list oleh pemerintah dan dianggap berhaluan kiri alias merah karena sering menampilkan bacaan-bacaan liar yang menghasut. Terhadap koran-koran itu pada awalnya pemerintah tak langsung memukul tengkuknya. Namun pemerintah kolonial bersiasat agar koran-koran tersebut bangkrut dengan sendirinya. Caranya: melarang semua pegawai negeri membaca koran-koran tersebut. Yang melanggar akan dikeluarkan dari pekerjaannya. Konon banyak Pribumi yang ditolak ketika melamar menjadi pegawai negeri hanya lantaran berlangganan koran merah.

Aturan itu diperluas sedemikian rupa sehingga orang-orang swasta yang membaca koran terlarang juga bisa dapet sanksi. Akibatnya banyak perusahaan yang enggan menerima pegawai yang berlangganan koran merah.

De Expres pun yang tak luput kena black list dan dicap merah. Konsekuensinya De Expres dilarang dibaca oleh semua pegawai negeri. Tentang larangan membaca koran ini telah diceritakan Margono Djojohadikusumo dalam bukunya, Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman. Dikisahkan dalam buku itu, pada 1912 penulisnya telah dipromosikan seorang Belanda untuk menjadi pegawai dari kantor Volkscredietwezen (Perkreditan Rakyat). Untuk itu Margono telah diwawancarai oleh RMA Kusumoyudo. Karena sponsornya adalah orang Belanda, wawancara itu boleh jadi cuma basa-basi. Namun ketika ketahuan dia berlangganan De Expres, seketika wajah Kusumoyudo menjadi merah dan tegang. Wawancara menjadi buntu dan keadaan menjadi serbakaku. Dan akhirnya, wawancara ditutup dengan kata-kata Kusumoyudo, “Saya pribadi tidak keberatan, tetapi entah bagaimana pendapat tuan-tuan besar yang berada di Batavia.” Hasil wawancara itu tiada kabar beritanya lagi.

Sudah lama pemerintah membidik De Expres. Dan saat itu datang juga rupanya tatkala De Expres memuat tulisan Ki Hadjar Dewantara yang berjudul “Als ik Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Tulisan pendek tersebut hanya mengisi satu kolom. Namun isinya mengkritik pemerintah Hindia Belanda yang sedang memperingati hari kemerdekaannya. Baca salah satu pasase tulisan yang jadi musabab De Expres tutup buku selamanya itu:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun.”

Tulisan tersebut dimuat pada 1913. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kritik itu dianggap keterlaluan, menusuk perasaan, dan penuh ejekan.

Selain korannya diberangus, Tiga Serangkai juga ditangkap kemudian dibuang ke negeri Belanda dan De Indsche Partij dinyatakan sebagai partai terlarang. Setelah peristiwa pemukulan De Expres, koran-koran yang sudah masuk daftar hitam dan para pengelolanya pun ikut-ikutan dipukul. Termasuk Bung Karno dan kawan-kawannya yang dijebloskan ke penjara dan korannya diberangus gara-gara tulisannya yang terlalu mencampuri urusan politik dan dianggap menghasut rakyat. (Mahtisa Iswari)


[*] Aku seorang Indo, aku bangsa Indonesia!!!

Hari-hari Terakhir Leo Tolstoy

TolstoyOleh: Leila S.Chudori

Pada 1910, ketika Leo Tolstoy sudah mencapai 82 tahun, dia adalah seorang sastrawan dunia yang kharismatik. Di dalam tubuhnya yang ringkih dan bicaranya yang terbata, kata-kata Tolstoy hampir dianggap sebagai cahaya, sebagai inspirasi, bahkan sebagai nyawa dari gerakan Tolstoyan yang anggotanya mematuhi segala katanya dengan takzim dan patuh (melebihi sang sastrawan sendiri). Filsafat Tolstoy yang dianut oleh para pengikutnya adalah : pasifisme, vegetarian, egaliter, spiritualisme dan kehidupan selibat.

Film ini dibuka dengan kisah seorang eseis dan penulis berbakat Valentin Bulgakov (James MacAvoy) yang diangkat menjadi asisten pribadi Leo Tolstoy. Adapun Vladimir Chertkov (Paul Giamatti) adalah pimpinan gerakan Toltoyan mempunyai agenda tersendiri. “Tolong catat tingkah laku Sofya, isteri Tolstoy. Dia perempuan yang berbahaya,” kata Chertkov mengisi udara penuh racun.

Problem dalam film ini hanya satu. Chertkov, atas nama perjuangan dan gerakan, memaksa Tolstoy untuk mewarisi semua royalti karyanya dipersembahkan pada rakyat Rusia. Itu artinya, Sofya dan 13 anaknya tak akan mendapatkan apa-apa. Sang isteri, yang 48 tahun mendampingi Tolstoy, sekaligus membantu berdiskusi pembuatan novel War and Peace dan Anna
Karenina tentu saja menentang usul itu.

Helen Mirren sebagai Sofya, isteri yang setia, penuh cinta sekaligus emosional dan temperamental itu tampil enerjetik dan meledak. Chrstipher Plummer tampil sebagai Leo Tolstoy yang tua renta dan tampak mencoba berpegang teguh pada filsafatnya, meski sesekali dia sendiri menertawakan kewajiban selibat yang rasanya tak mungkin dipatuhi.

Seluruh kisah dituturkan melalu pandangan Valentin, sang asisten, eseis dan pengagum Tolstoy yang mencoba menjadi penengah suami isteri yang meledak-ledak tetapi sesungguhnya saling mencintai itu. James MacAvoy, seperti biasa, berhasil mengangkat karakter lelaki muda yang peka. Film ini memang cenderung memperlihatkan sosok Tolstoy dari sisi yang positif, seorang sastrawan yang bijak yang dikelilingi wartawan dan intelektual dan oengikutnya, sementara sang isteri nampak sebagai perempuan posesif yang histeris. Akhir film ini tentu saja tragis, karena sang isteri sulit untuk bertemu dengan suaminya yang sudah sakit-sakitan. Upayanya selalu dihalangi oleh Chertkov yang khawatir sang isteri akan mengacaukan rencana pergerakan mereka.

Sebagai sebuah perkenalan pada ujung hidup Tolstoy, film ini bisa menjadi referensi awal, dengan harapan setelah menyaksikan film ini, mereka akan membaca buku-buku Tolstoy yang sudah menjadi karya klasik dunia.

THE LAST STATION
Sutradara : Michael Hoffman
Skenario : Michael Hoffman, Berdasarkan novel biopic karya Jay Parini
Pemain : Hellen Mirren, Christopher Plummer, James MacAcoy, Paul Giamatti

Sumber: TEMPOINTERAKTIF.COM, 28 Juni 2010

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan