-->

Arsip Resensi Toggle

The Ghost, Sang Penulis Bayangan | Robert Harris | 2008

GhostJudul: The Ghost
Pengarang: Robert Harris
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, November 2008
Tebal: 320 halaman

Penulis Hantu: Antara Profesionalitas dan Hati Nurani

Oleh: Irwan Bajang

Memoar seorang mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang, diperkirakan akan menjadi buku otobiografi paling laris dan akan menghasilkan keuntungan jutaan dollar bagi penerbitnya. Buku itu menjadi buku yang ditunggu-tunggu banyak orang, sebuah penuturan perdana menteri yang mundur karena kontroversi cerita di balaik perang dan sifatnya yang keras terhadap terorisme.

Namun sebelum buku itu selesai, seorang ghostwriter atau penulis bayangan yang mengerjakannya, Mike McAra, ditemukan tewas tenggelam setelah terjatuh dari kapal penyeberangan. Ia diduga terlalu mabuk dan terjatuh ke dari kapal ke laut. Penerbit kebingungan dan menunjuk seorang penulis bayangan asal London, seorang yang hasil kerjanya selalu memuncaki daftar buku laris. Ia dipilih menjadi pengganti penulis sebelumnya, dibayar sangat mahal, namun harus merampungkan buku tersebut dalam waktu sebulan.

Di tengah revisi naskah tebal yang pernah ditulis oleh pendahulunya itul, merebak khabar Adam Lang memerintahkan penangkapan warga Inggris lalu diserahkan pada CIA dan menjalani interogasi yang tak berperikemanusiaan. Selain itu, sang penulis baru ini menemukan keganjilan pada kematian McAra dan banyak fakta bahwa perdana menterinya adalah kader binaan lembaga intelejen Amerika.

Sebelum menulis novel ini, Robert Harris, dikenal sebagai penulis buku fiksi dan nonfiksi sejarah. Salah satu novel sejarahnya yang terkenal adalah Imperium: sebuah novel yang menceritakan sejarah kerajaan Romawi. Novel The Ghos rupanya novel Harris yang menyebrang. Novelnya kali ini adalah novel bertema politik, yang konon merupakan bentuk protes atas kekecewaan penulis terhadap pemerintah Inggris di bawah pimpinan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang mendukung serbuan Amerika Serikat ke Irak.

Harris awalnya pendukung sejati Blair namun belakangan berbalik setelah melihat berbagai masalah yang terjadi di Inggris akibat kebijakan luar negerinya. Saat Blair mengundurkan diri Harris mulai menulis novel ini. Tak heran jika kemudian ada kemiripan cerita antara tokoh Adam Lang dengan sosok Tony Blair. Harris mencoba mengambil setting setelah perang antiterorisme dikorbarkan. Ia memfokuskan diri pada merebaknya kontroversi penangkapan tersangka teroris dan pengangkutan mereka memakai pesawat dari Timur Tengah menuju penjara Guantanamo yang berujung pada interogasi yang penuh penyiksaan. Dengan mengisahkan kebijakan Adam Lang yang sepertinya selalu mendukung Amerika Serikat, ia membuka pintu dugaan permaianan badan intelejen di baliknya. Harris juga banyak mencampurkan fakta dan fiksi, misalnya tentang konspirasi perekrutan agen CIA di kampus-kampus pada era 1970-an. Bahkan, penerbit buku ini pada awalnya takut dan akan membatalkan penerbitannya, lantara khawatir muncul tuduhan pencemaran nama baik. Namun meski ada kemiripan, novel ini menciptakan Inggris yang iamjinatif dan berbeda dalam beberapa kasus.

Novel ini memang murni soal intrik politik internasional, namun ini bukan novel yang bikin pusing pembacanya. Harris membumbuinya dengan drama dan romantisme. Bagi peminat bacaan-bacaan triller, tentu saja Anda tidak akan menemukan kepuasan penuh saat membacanya. Novel ini sangat sedikit menyuguhkan adegan kejar-kejaran, baku tembak, atau kontak fisik yang menegangkan. Sempat bosan ketika membacanya, namun kebosanan terobati dengan banyaknya deskripsi yang mengena tapi singkat dan jenaka. Jika penulis lain berlama-lama menulis perasaan atau gejolak emosi tokohnya, maka Harris seringkali mengganti deskripsi yang kemungkinan kelewat panjang dengan analogi yang seringkali lucu dan terkadang sarkastis dengan meminjam mulut tokoh utamanya. Inikah kejeniusan Harris dalam mengeksploitasi sosok tokoh utamanya yang dalam keadaan ini berperan sebagai seorang penulis bayangan.

Penulis bayangan yang acap kali cuek akibat sadar dirinya tak akan ikut kondang meski bukunya sukses sehingga membuang ikatan emosi agar dengan mudah berpindah proyek berikutnya menjadi cocok untuk sarana mendeskripsikan semua hal secara satir tanpa mau berpanjang-panjang yang dengan sendirinya membuat cerita novel tak bertele-tele meski novel ini lumayan tebal. Saking berpegang pada filosofi kerja penulis bayangan yang menjadi tulang penegak badan cerita novel ini, Harris bahkan konsisten menyembunyikan nama dari tokoh protagonisnya. Karena itu tadi, penulis bayangan memang ditutupi identitasnya meski buku yang ditulisnya terkenal.

Alur novel ini sebenarnya sangat lamabat, dan klise. Layaknya kisah-kisah konspirasi lainnya, tokoh utama yang apolitis dan buta soal dunia intelejen tiba-tiba membaca benang merah dari satu fakta ke fakta yang ujungnya ada pada konspirasi besar yang ditutup-tutupi. Lalu ia akan terdorong mengurai fakta yang bak benang kusut, lalu akhirnya ia terjebak sendiri dalam permainan penuh intrik yang membuatnya tak bisa membedakan lagi mana kawan ataupun lawan. Harris berhasil menyuguhkan konflik yang matang. Tokoh protagonis yang apolitik karena pilihan dan pekerjaan itu dipaksanya menjadi peduli dengan urusan politik. Bahkan ia diseret masuk dalam konflik batin antara mengungkap kebenaran yang berarti pengkhianatan terbesar terhadap profesinya atau memilih acuh tak acuh agar tak kehilangan proyek penulisan terbesar dalam hidupnya.

Kutipan-kutipan tentang penulis bayangan diapakai Harris untuk membuka setiap bab. Hal ini menunjukkan dengan jelas, bahwa tokohnya yang semakin terseret ke tengah pusaran masalah dan terus menjauh dari prinsip-prinsip hidup dan pekerjaannya. Harris sangat pelit membagi petunjuk dan memaksa pembacanya mengikuti cerita sampai akhir di mana ia akhirnya membuka semuanya. Berbagai rentetan peristiwa yang disuguhkan serta peran dan aksi para tokohnya baru terasa dan kita pahami setelah buku ini selesai dibaca. Novel ini mengawinkan dunia politik yang penuh intrik, konspirasi intelejen yang disesaki misteri, dengan seluk beluk dunia penerbitan yang ruwet. Sebuah perpaduan yang membuat novel ini kompleks sekaligus cerdas namun tak membuat pembaca jenuh dan pusing. Salut untuk Robbert Harris!!

Irwan Bajang, penyair

Finding Forrester | Gus van Sant | 2000

Finding ForresterPemain: Sean Connery (William Forrester), Laurence Mark (Jamal Wallace)

Tulis Saja, Jangan Berpikir!

“Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis. Tulis naskah pertamamu itu dengan hati. Barulah kemudian kau tulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.”

Itu pelajaran pertama Jamal Wallace dari seorang novelis pemenang Pulitzer yang hanya menerbitkan satu buku kemudian menghilang, William Forrester. Pelajaran itu menjadi sabetan pertama mengasah bakat menulis Jamal hingga menjadi penulis yang berkarakter. Karakter itu ditemukannya setelah menemukan serangkaian latihan demi latihan di kamar William.

Jamal adalah seorang kulit hitam yang tumbuh menjadi remaja di lingkungan Bronx. Kawasan ras kulit hitam yang padat dan kasar. Ia hidup serumah dengan ibunya. Ayahnya pergi lantaran tak tahan dengan omelan ibunya karena jorok. Saudara laki-lakinya ikut pergi setelah ayahnya pergi. Kesepian membawanya ke sudut kamar bersama buku harian. Di lembar-lembar kertas itulah ia torehkan segala kecamuk hati.

Nah, buku-buku harian itu tertinggal di kamar William ketika suatu malam ia lari terbirit-birit setelah terpergok menerobos masuk rumah William tanpa izin atas tantangan kawan-kawannya.

Buku harian itu dikembalikan William dengan melempar tas dari jendela saat Jamal pulang sekolah. Sampai di rumah, Jamal mendapati catatan hariannya dicoret-coret dengan tinta merah. Lebih tepatnya dikoreksi dan diberi komentar.

Di antaranya adalah komentar “paragraf ini fantastik”, “ketelitian”, “bagus sekali”, “menakjubkan”. Juga beberapa koreksi gramatika, dan sebuah pesan: “Saya ingin mendukung penulis ini. Bisakah kita pergi keluar The Bronx sebentar?”

Undangan itu dipenuhi Jamal. Tapi tak semulus harapannya. Dan memang, tak ada tiket gratis memasuki dunia senyap William. Ia akan menerima Jamal kalau menyetorkan 5000 kata tentang: “Mengapa kau akan tetap berada di luar rumahku?” Jamal pun pulang dengan dongkol dan sekaligus mengerjakan tantangan itu. Lima ribu kata itu ditulisnya dari balik kamar di antara teriakan perempuan tetangganya yang sedang diamuk nafsu.

Rupanya, 5000 kata adalah kunci yang berhasil membuka pintu rumah William. Itu juga menjadi pelajaran pembuka yang diterima Jamal mengenai esensi sebuah pertanyaan. Pertanyaan adalah kunci pertama bagaimana memperoleh informasi yang berarti. Karena itu hindari sedemikian rupa menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah kita tahu; pertanyaan yang hanya butuh penegasan.

William dan Jamal menyebut model pertanyaan demikian dengan “soup question”. Seperti sup krim yang jika tidak diaduk dan dibiarkan saja, maka akan membuih. Pertanyaan seperti itu lama-lama akan menjadi bualan omong kosong jika diteruskan.

Pelajaran selanjutnya adalah tentang menghormati buku. Selalu kembalikan buku setelah dibaca ke raknya semula dengan rapi. Jangan sekali-kali melipat sudut kertas untuk menandai batas membaca. Itu seperti membuat kuping anjing saja. Menghina penulisnya.

Pelajaran-pelajaran sederhana ini mengalir dalam pertemuan-pertemuan awal William dan Jamal tanpa sengaja. Sebuah pondasi yang dibangun untuk mencintai buku dengan hati melalui hal-hal kecil yang remeh sebelum mereka bersepakat untuk menjadi mentor dan murid.

William mau menjadi mentor asal tak ada pertanyaan tentang pribadinya, keluarganya, dan mengapa hanya satu buku yang ditulisnya. Ia juga meminta jaminan bahwa segala yang ia ceritakan yang terjadi di kamar itu tak akan pernah diceritakan pada orang lain. Jamal menerima semua syarat itu, asal William mengajarinya menulis. Maka pelajaran menulis itu pun dimulai.

Sebagai awal, William meminjamkan judul dan paragraf pertamanya untuk memberi pancingan agar Jamal mampu menemukan kata-katanya sendiri. Strategi itu manjur. Tulisan pertama Jamal mendapat pujian profesor menulisnya di kelas.

Namun profesor itu terus meragukan orisinilitas tulisan Jamal. Bagi sang profesor, seorang anak kulit hitam dari Bronx dan berasal dari sekolah kecil yang miskin sangat meragukan bisa memiliki tulisan sebagus itu.

Jamal tersinggung tulisannya diragukan. Namun ia tak marah. Disimpannya dendam itu untuk memicunya menulis lebih baik. Ia menulis lagi dengan dibantu judul dan paragraf dari William. Lalu ia mengumpulkan tulisannya untuk lomba menulis novelet akhir tahun di sekolah. Sayang setelah menulis itu Jamal lalai tak mengganti judulnya. Begitu saja dibawa ke sekolah dan mengumpulkan untuk lomba menulis.

Kelalaian itu akhirnya menjadi bumerang. Profesornya—yang sejak semula meragukan kemampuannya—menemukan bahwa judul dan paragraf pertama itu pernah diterbitkan atas nama William Forrester di  majalah New Yorker. Jamal lemas tak berdaya. Dewan sekolah mengancam akan menarik beasiswa. Ia akan diampuni jika mau membuat surat permintaan maaf pada semua siswa atas plagiat yang dilakukannya atau mendapat izin dari si empunya paragraf. Jamal tak memilih dua-duanya.

Ia marah sekali pada gurunya, William. Ia menyesal mengapa William tak mengatakan bahwa tulisan itu pernah dipublikasikan sehingga Jamal bisa menyebutkan sumber kutipan.

Tapi William justru berbalik marah karena sejak awal ia sudah menerapkan aturan bahwa apa yang ditulis di kamarnya akan tetap ada di kamarnya, tanpa kecuali. Jamal membela diri. Ketika ia akan minta izin membawa tulisan itu keluar William sedang tertidur pulas. Jamal malah mengumpat dan mengatakan William tak lebih dari seorang pengecut.

“Untuk apa menulis sampai almarimu penuh jika tak ada seorang pun di luar sana yang mengetahui tulisanmu?!”

William naik pitam. Jamal juga. Mereka berseteru.

Jamal tak menulis surat permintaan maaf, tapi juga tak mengatakan pada dewan sekolah atau siapa pun bahwa ia telah mendapat izin dari si empunya paragraf. Ia pegang teguh sumpahnya kepada sang guru. Ia juga siap melepas beasiswanya. Namun sebuah keajaiban terjadi.

Di saat acara pemenang lomba menulis akhir tahun itu hampir diumumkan, tiba-tiba William muncul dan meminta waktu membacakan sebuah paragraf. Seluruh hadirin yang ada di ruangan itu terkejut ketika ia menyebutkan nama sambil menunjuk foto yang tergantung di atas dinding. Mereka terdiam. Apa yang dibaca William sangat menohok perasaan. Kalimatnya sederhana, lugas, dan dalam. Tentang keluarga dan persahabatan. William membacanya dengan sepenuh hati. Hadirin bertepuk tangan riuh.

William katakan bahwa ia ada di ruangan itu karena seorang sahabat mengizinkannya untuk hadir. Sahabat yang tetap melindunginya di saat William tak bisa melakukan hal yang sama. William beritahu semua orang di ruang itu bahwa ia membantu Jamal menemukan kata-katanya dengan meminjamkan kalimatnya asal Jamal tak menceritakan pada siapa pun tentang dirinya. Dan janji itu dipegang teguh.

Meski Jamal nyaris kehilangan segala kebanggaannya sekaligus. Itulah seorang sahabat sejati. Diberitahukannya juga bahwa paragraf yang dibacanya tadi bukan tulisannya, itu karya Jamal. Hadirin terhenyak dan berdecak kagum sebelum kemudian bertepuk tangan riuh lagi. Sebuah tepuk tangan kebanggaan dan penghormatan. Pengakuan akan sebuah karya dan talenta.

Jamal memang menulis karena ia punya bakat. Tapi bakat saja tak cukup. Perlu pengetahuan tentang bagaimana menulis yang baik dan terus berlatih. Dari sanalah pisau bakat itu menjadi kian tajam dan mengkilap. Sungguh sebesar apa pun bakat menulis seseorang, tak akan pernah berkilau jika ia tak terus melatihnya. Tak cukup di situ. Penulis harus mulai membiarkan tulisannya dibaca orang lain. Seorang penulis harus belajar menghakimi tulisannya. Hingga ia bisa terus melakukan perbaikan-perbaikan. (Diana AV Sasa)

* Resensi ini juga dimuat dalam “Para Penggila Buku: Seratus Catatan Di Balik Buku” karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan (IBOEKOE, 2009: 338).

The Grand Design | Stephen Hawking | 2010

01 NOVEMBER 2010
Semesta dalam Genggaman Hawking
Sejak pertanyaan “mengapa kita ada” mengusik manusia berpuluh abad silam, ikhtiar untuk mencari jawabannya tak pernah berhenti. Banyak orang berpaling ke berbagai kekuatan besar di luar manusia. Para filsuf sejak Yunani klasik menyodorkan jawaban-jawaban spekulatif dengan mengandalkan kekuatan logika. Merekalah yang mendominasi pikiran manusia.
Tapi filsafat kini mati, kata Stephen Hawking. Filsafat tak sanggup mengimbangi perkembangan sains modern, terutama fisika. Obor penerang bagi pencarian ilmu pengetahuan kini dipikul para ilmuwan. Walaupun sains modern dianggap baru bermula pada abad ke-17, sumbangannya luar biasa bagi kemajuan peradaban, meski-sayangnya-juga bagi kerusakan.
Bagi Hawking, untuk memahami semesta pada tingkat terdalam, kita perlu beranjak dari sekadar menjawab pertanyaan bernada “bagaimana” menuju “mengapa”. “Bagaimana” adalah pertanyaan praktis yang lazim diajukan ilmuwan. Dengan kemajuan sains, kinilah saatnya kita mengajukan pertanyaan seperti: Mengapa sesuatu ada dan bukan tak ada? Mengapa kita ada? Mengapa hukum tertentu berlaku, dan bukan yang lain? Inilah pertanyaan pamungkas tentang kehidupan dan alam semesta yang secara “tradisional” beredar di ranah filsafat. Hawking, bersama Leonard Mlodinow, berusaha menjawabnya dalam karya mereka yang baru terbit, The Grand Design.
Bukanlah hal baru, sesungguhnya, bahwa ilmuwan berbicara melampaui batas-batas sains. Terutama ketika mereka berbicara tentang gerak, matahari dan bumi, planet dan semesta. Juga ketika Charles Darwin menerbitkan kitabnya, The Origin of Species, Tuhan dibawa-bawa ke dalam arena perdebatan. Revolusi yang ditimbulkan oleh Teori Evolusi menyebabkan orang berdebat di manakah peran Tuhan.
Pada masa yang lama, filsuf adalah juga ilmuwan (minus eksperimentasi). Aristoteles berbicara mengenai logika, etika, dan retorika, sebagaimana ia memikirkan mekanika dan semesta (kosmos). Jika kita memahami apa yang menyebabkan gerak, menurut Aristoteles, kita akan memahami sebab adanya dunia.
Isaac Newton membaca Nicomachean Ethics, yang ditulis Aristoteles berabad-abad sebelumnya. Ia membuat catatan-catatan di bukunya mengenai filsuf Yunani ini. Ia mengajukan “beberapa pertanyaan filosofis”. Newton bertanya: “Dapatkah kita mengetahui, melalui kekuatan logika, apakah materi bersifat kontinu dan bisa dipecah-pecah secara tak terhingga, ataukah diskontinu dan individual?”
Newton, dalam pandangan Hawking, lebih ilmiah dalam memahami gerak. Dia diterima luas berkat hukum gerak dan gravitasinya, yang mampu menjelaskan orbit bumi, bulan, dan planet, bahkan fenomena naik-turunnya permukaan laut. Persamaan gravitasi yang memakai namanya masih diajarkan hingga kini. Newton, bersama barisan ilmuwan seperti Nicolas Copernicus, Johannes Kepler, Francis Bacon, Rene Descartes, dan Galileo Galilei, berupaya menemukan hukum-hukum yang mengatur alam. Mereka berusaha menjawab pertanyaan bagaimana alam ini bekerja.
Lewat perumusan dalam bahasa matematika (Newton, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, 1687), para ilmuwan itu ingin menjawab pertanyaan dengan cara yang melampaui spekulasi. Mereka meninggalkan pandangan sebelumnya, yang mencari tujuan di balik berbagai fenomena, dan menganggap pertanyaan berkaitan dengan Tuhan, roh manusia, dan etika mempunyai signifikansi tertinggi.
Toh, itu bukanlah jalan yang serta-merta menafikan konsekuensi yang lebih luas: filosofis, teologis, maupun praktis. Pandangan heliosentris Copernicus dan Galileo mematahkan pandangan geosentris Ptolemeus yang diikuti Gereja, dan serangan pada keyakinan religius ini telah menimbulkan masalah serius bagi kedua ilmuwan. Bagi Gereja, pandangan heliosentris adalah bidah, meski Descartes mengatakan hukum alam adalah takdir Tuhan dan Newton meyakini sistem tata surya tidak muncul dari kekacauan semata-mata dikarenakan hukum alam. Keteraturan di semesta, kata Newton, “diciptakan oleh Tuhan pada mulanya dan dipelihara olehnya hingga hari ini dalam keadaan dan kondisi yang sama”.
Fisika klasik dari generasi Newton juga mempengaruhi pandangan dunia, menembus wilayah di luar fisika. Selama abad ke-19 para ilmuwan terus mengembangkan model mekanistis alam dalam fisika, kimia, biologi, yang kemudian merambah area ilmu sosial dan psikologi. Fisikawan nuklir Fritjof Capra (The Turning Point) menunjukkan betapa pandangan mekanistis Cartesian-Newtonian mempengaruhi cara manusia memperlakukan alam, bukan untuk memperoleh kearifan, melainkan menguasainya. Alam dipahami dengan cara direduksi jadi bagian-bagiannya.
Dasar-dasar yang dibangun barisan raksasa itulah, seperti matematika dan metode penalaran oleh Descartes (Discourse on Method) dan metode ilmiah oleh Francis Bacon, yang memberikan keyakinan kuat kepada para ilmuwan hingga kini perihal kepastian pengetahuan ilmiah. Sebuah kepastian yang melampaui spekulasi filosofis. Sebuah keyakinan yang kemudian diwarisi Hawking, yang mengagungkan determinisme ilmiah.
l l l
Pengaruh Newton dalam fisika, khususnya, mulai terusik ketika Michael Faraday melakukan eksperimen dan James Clerk Maxwell berhasil menggabungkan gaya listrik dan magnet menjadi elektromagnetik. Maxwell pula yang menemukan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik. Inilah masa peralihan menuju fisika modern yang ditandai lahirnya pemikiran revolusioner Albert Einstein tentang relativitas. Di usianya yang baru 26 tahun (1905), Einstein mempublikasikan makalahnya tentang relativitas khusus.
Selama 11 tahun kemudian, Einstein mengembangkan teori baru mengenai gravitasi, yang ia sebut relativitas umum (November 1915). Ia mengajukan pemikiran revolusioner bahwa ruang-waktu tidak datar, sebagaimana diasumsikan sebelumnya, tapi berbentuk kurva dan ini terjadi karena distorsi oleh massa dan energi di dalamnya. Ini perombakan besar atas pemikiran Newtonian mengenai ruang dan meletakkan waktu sebagai dimensi yang sama penting di samping tiga dimensi ruang.
Dua tahun sesudah itu, Einstein menerbitkan tulisan berjudul Cosmological Considerations (Tinjauan Kosmologis). Ia menerapkan teori barunya untuk mengkaji alam semesta. Maka dimulailah era kosmologi modern. Sekali lagi Einstein memperlihatkan kepionirannya. Kosmologi mempelajari alam semesta yang sebagian besar telaahnya berdasarkan sejumlah hipotesis, dan gravitasi Einsteinian merupakan konsep terpenting dalam kosmologi.
Semula kosmologi dipandang sebagai pseudo-sains, tapi dua perkembangan penting menjadikannya tak bisa diremehkan lagi. Pertama, terobosan dalam pengamatan astronomi, yang mampu mendeteksi galaksi-galaksi terjauh, membuat semesta menjadi laboratorium untuk menguji model-model kosmologi. Kedua, teori relativitas umum Einstein telah teruji sebagai teori gravitasi yang andal dan akurat yang berlaku di seluruh alam semesta.
Namun fisika klasik Newton dan fisika Einstein kesulitan ketika harus menjelaskan fenomena di dunia atomik dan subatomik. Pada 1920-an, kemampuan para fisikawan dalam memahami alam semesta dihadapkan pada tantangan yang serius. Setiap kali mereka bertanya kepada alam tentang suatu masalah dalam eksperimen atom yang mereka lakukan, alam menjawabnya dengan paradoks, hingga fisikawan Werner Heisenberg berulang kali bertanya pada diri sendiri: “Mungkinkah alam itu absurd sebagaimana yang tampak pada kita dalam eksperimen-eksperimen atom ini?” (Capra, The Tao of Physics, 1975).
Kegagapan menghadapi jagat subatomik itulah yang mendorong para ilmuwan semasa Einstein, seperti Heisenberg, Neils Bohr, Max Planck, Erwin Schr�dinger, Paul Dirac, Louis deBroglie, dan Wolfgang Pauli, merumuskan kerangka konseptual bagi fisika baru. Materi subatom merupakan entitas sangat abstrak yang beraspek ganda, tergantung bagaimana kita memandangnya: sebagai partikel dan sebagai gelombang. Penemuan ini melumpuhkan pengertian klasik tentang obyek padat.
Dualitas partikel/gelombang itu dipahami Bohr sebagai komplementaritas, dan fisikawan Denmark ini kerap mengatakan pengertian ini mungkin juga bermanfaat dalam ilmu di luar fisika. Fisikawan Fritjof Capra termasuk perintis penafsiran yang meluas hingga wilayah spiritualitas. Karyanya yang masyhur, The Tao of Physics (1975), melihat kesejajaran dualitas ini dengan mistisisme Timur. Yin/yang dalam masyarakat Cina, misalnya.
Namun penemuan berikutnya membikin Einstein tak habis pikir. Heisenberg menemukan prinsip ketidakpastian (1926), yang menyatakan kita memiliki keterbatasan dalam mengukur secara serentak posisi dan kecepatan suatu partikel. Partikel subatom tak bisa dipahami sebagai entitas yang mandiri, tapi mesti dilihat dari interaksinya dengan partikel lain. Tercium aroma posmo, memang. Dan inilah dimulainya babak baru bagi peran penting fisika kuantum.
Apa dampak relativitas Einstein dan fisika kuantum? Bom atom yang menjadi kekuatan ampuh untuk menghentikan Perang Dunia II dan kemudian memacu perlombaan senjata antara Uni Soviet dan Amerika Serikat beranjak dari teori relativitas khusus. Teori kuantum memberi landasan kuat bagi pengembangan teknologi informatika, dan kita sehari-hari memanfaatkannya: Internet.
Tak kalah dahsyat dari itu ialah implikasinya atas pemikiran filosofis manusia mengenai diri dan alamnya. Teori relativitas berujung pada gambaran bahwa alam semesta terbatas dalam ruang dan berkembang meluas tak terhindarkan, bermula pada satu peristiwa besar ketika jagat raya lahir dalam suatu Dentuman Besar di awal semesta. Dan Einsteinlah yang membuka jalan bagi kosmologi modern.
Teori kuantum berujung pada gambaran bahwa pada skala terkecil benda-benda, termasuk jagat raya di awal hidupnya (bukan di masa sekarang), peristiwa-peristiwa fisik yang terjadi saat itu merupakan kebetulan tanpa sebab. Karena ukuran alam semesta amat-sangat kecil pada saat awal, menurut para penafsir teori kuantum, prinsip ketidakpastian Heisenberg dalam teori kuantum juga berlaku pada alam itu.
Teori relativitas berujung pada kepastian, sedangkan teori kuantum berujung pada ketidakpastian. Inilah yang membuat Einstein geleng-geleng kepala: “(Rasanya) Tuhan tidak bermain dadu.” Di tengah kegalauannya, Einstein berusaha keras menyatukan gaya-gaya elektromagnetik (yang dipersatukan Maxwell), gaya nuklir lemah, gaya nuklir kuat, dan gaya gravitasi (yang mengatur alam semesta) dalam satu rumusan tunggal dan final, yang oleh sebagian orang disebut Theory of Everything (Teori Segala Hal). Einstein gagal.
Di antara perdebatan yang kelak kerap diceritakan ulang oleh sejarawan sains itu, Edwin Hubble mempublikasikan hasil observasinya bahwa alam semesta mengembang (1929), tiga belas tahun sebelum Stephen Hawking lahir. Hawking memasuki dunia akademis ketika riset kosmologi berbasis relativitas umum Einstein tengah mekar-mekarnya. Barangkali zaman memang menunggu kehadirannya untuk memberikan kontribusi.
Pada awal 1970-an, teori lubang hitam sedang naik daun. Lubang hitam (black hole) adalah istilah yang ditemukan kosmolog AS, John Wheeler (1969), untuk “bintang-bintang yang mengalami keruntuhan gravitasi sempurna”. Di Moskow, Pasadena, Princeton, dan Cambridge, istilah ini pun segera populer.
Hawking, yang batal melakukan riset doktoralnya di bawah Fred Hoyle, penemu istilah Big Bang (Dentuman Besar) pada 1949, mulai bekerja di bawah arahan Dennis Sciama. Sebagai bukan matematikawan murni, Hawking menerapkan teknik matematika yang diperkenalkan Roger Penrose untuk mempelajari lubang hitam. Penrose sendiri kemudian berusaha mencari jawaban atas pertanyaan “bagaimana kita berpikir” dan “apa yang menjadikan kita manusia” (dua kitabnya: The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind).
Menjelang kelumpuhannya, Hawking mulai menonjol dalam kosmologi, khususnya lubang hitam. Alih-alih memakai tangan untuk menulis dan menggambarkan gagasannya, Hawking mulai beradaptasi untuk menggunakan gambaran mentalnya. Ia berusaha menyatukan teori relativitas tentang gravitasi dan fenomena skala besar dengan teori kuantum mengenai partikel subatom.
Dari coretan-coretan di benaknya saja, Hawking melahirkan Hukum Pertambahan Luas pada permukaan lubang hitam. Bunyinya: “Luas permukaan suatu lubang hitam hanya dapat tetap sama atau bertambah, tetapi tidak pernah berkurang.” Ilham tentang ide ini muncul tiba-tiba. “Begitu hebat pengaruh ini sehingga saya terjaga hampir semalaman,” tutur Hawking.
Pernyataan “tidak pernah berkurang” dalam rumusan Hawking itu mengingatkan pada besaran entropi dalam Hukum Termodinamika II. Entropi (ketidakteraturan) suatu sistem hanya dapat tetap sama atau meningkat, tetapi tidak pernah berkurang (jika sistem itu terisolasi dan dibiarkan mencapai kesetimbangan). Ludwig Boltzmann, fisikawan Austria, pada 1878 menyebutkan definisi entropi sebagai banyaknya kemungkinan dalam melakukan penyusunan molekul. Misalnya, jika suatu keadaan mempunyai banyak cara yang berbeda untuk menyusun molekul-molekulnya, sistem itu mempunyai entropi yang besar.
Ketika benda mencapai kesetimbangan termal, benda itu mempunyai suhu tertentu dan karenanya memancarkan radiasi serta mengalami pertukaran energi dengan lingkungannya. Tapi ketika itu umum orang berpendapat, lubang hitam tidak mungkin memancarkan apa pun. Segala sesuatu bisa jatuh ke dalam lubang hitam, tak ada yang bisa keluar darinya. Cahaya sekalipun.
Namun Jacob Bekenstein, mahasiswa pascasarjana yang dibimbing John Wheeler, berpendapat bahwa lubang hitam mempunyai entropi dan ini mungkin berkaitan dengan hukum pertambahan luas permukaan lubang hitam yang ditunjukkan Hawking. Bekenstein lalu menulis makalah singkat yang mengidentifikasi luas permukaan lubang hitam sebagai entropi lubang hitam.
Hawking menganggap mahasiswa itu telah menyalahgunakan teorinya. Namun pikirannya mulai terusik setelah bersama James Bardeen dan Brandon Carter di Pegunungan Alpen, Prancis, menemukan hukum yang mengatur evolusi lubang hitam berdasarkan relativitas Einstein. Hukum mekanika lubang hitam ini mirip dengan hukum termodinamika. Namun mereka ketika itu menganggapnya kebetulan belaka. Lain halnya bagi Bekenstein. Ia menganggap penemuan itu memperkuat pendapatnya bahwa luas permukaan lubang hitam adalah entropinya.
Kekukuhan pendapat Bekenstein mulai menggoyahkan Hawking. Ia lalu menelaah apa yang bisa terjadi di permukaan lubang hitam dengan memakai prinsip ketidakpastian Heisenberg, yang meramalkan energi muncul dan lenyap bergantian dalam skala waktu yang ditentukan oleh skala Planck (10-33). Dengan persamaan Einstein, E=mc2, energi ini diubah menjadi partikel dan antipartikel yang silih berganti muncul dan lenyap.
Dalam telaah itulah, Hawking menggabungkan mekanika kuantum dan relativitas umum dalam rumusan tunggal untuk pertama kalinya (1974). Dari sini ia berkesimpulan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya hitam, tapi memancarkan radiasi-Bekenstein benar, rupanya. Jadi, lubang hitam tidak hanya mempunyai entropi, tapi juga suhu, dan mematuhi hukum termodinamika klasik yang ditemukan Boltzmann pada akhir abad ke-19.
Temuan itu diakui amat penting. Hanya beberapa pekan setelah tulisan tentang radiasi lubang hitam diterbitkan, Hawking menerima gelar kehormatan akademik tertinggi Inggris. Di usia 32 tahun, ia diangkat menjadi anggota Fellow of the Royal Society. Ia diundang untuk melakukan riset di Caltech, Pasadena, AS. Ketika itulah Hawking menerima surat pemberitahuan dari Vatikan bahwa ia dipilih oleh Akademi Sains Vatikan untuk menerima medali Paus Paulus XI. Penghargaan ini mulai menggeser riset Hawking dari lubang hitam ke permulaan alam semesta, dengan Dentuman Besar sebagai tesis yang diminati Gereja Katolik Roma.
l l l
Namun sejarah kemudian mencatat Hawking bergerak menjauhi harapan Vatikan. Penafsiran Richard Feynman, jenius fisika dari AS, atas teori kuantum melahirkan apa yang disebut sebagai “sum over histories”. Model kuantum menyebutkan partikel dikatakan tidak memiliki posisi yang pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Dalam tafsiran Feynman, partikel justru mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan kedua titik itu.
Kesimpulan Feynman: suatu sistem bukan hanya memiliki satu sejarah, melainkan setiap sejarah yang mungkin. Ini gagasan radikal, bahkan bagi banyak fisikawan. Dalam teori Newtonian, masa lalu diasumsikan ada sebagai serangkaian peristiwa yang pasti. Menurut fisika kuantum, alam semesta memiliki bukan hanya satu masa lalu, melainkan banyak. Semesta bukan hanya memiliki eksistensi tunggal, tetapi setiap versi yang mungkin dari semesta ada secara simultan dalam apa yang disebut quantum superposition.
Penafsiran Feynman inilah yang membangkitkan semangat Hawking untuk memperbaiki teorinya. Dalam sejarah sains, kita telah menemukan serangkaian teori atau model yang lebih baik dan lebih baik, sejak Plato hingga teori klasik Newton sampai teori-teori kuantum modern. “Akankah rangkaian ini akhirnya mencapai suatu titik akhir, teori pamungkas tentang semesta, yang akan mencakup seluruh gaya dan memprediksi setiap observasi yang kita lakukan, ataukah kita akan terus selamanya menemukan teori yang lebih baik, tetapi tidak pernah menemukan satu teori yang tak bisa diperbaiki lagi?” tulis Hawking dalam The Grand Design.
“Kita belum memperoleh jawaban definitif atas pertanyaan ini,” tulis Hawking, “tapi kita sekarang memiliki calon bagi teori pamungkas tentang segala Hal, jika memang ada, yang disebut Teori-M.” Bagi Hawking, Teori-M adalah satu-satunya model yang mengandung seluruh sifat yang harus dimiliki teori yang final. Dan ini melibatkan 10 dimensi ruang dan satu dimensi waktu.
Berpijak pada penafsiran Feynman, Hawking mengatakan, menurut Teori-M, semesta kita tidaklah tunggal. Gagasan seperti ini di masa lampau pernah dilontarkan Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), yang menolak konsep geosentris Ptolemeus-yang berarti mendahului Copernicus maupun Kepler dan Galileo. Al-Razi juga menyebutkan alam semesta ini tidak tunggal dan sangat banyak.
Namun, berbeda dengan Al-Razi yang berpaling kepada adanya pencipta, Hawking berujung di kesimpulan bahwa penciptaan alam semesta tidak memerlukan intervensi sesuatu yang supernatural atau Tuhan. Semesta yang banyak ini muncul alamiah dari hukum fisika. “Masing-masing semesta memiliki banyak sejarah yang mungkin dan banyak keadaan yang mungkin pada masa-masa yang kemudian, misalnya pada masa seperti sekarang, jauh sesudah terciptanya mereka. Semesta adalah prediksi sains.”
Sebuah klaim yang lebih deterministik dibanding pernyataannya 22 tahun lalu dalam A Brief History of Time. “Apabila semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun, seandainya semesta benar-benar mandiri, tidak memiliki batas atau titik ujung, semesta tidak memiliki awal maupun akhir: semesta hanyalah ada. Kalau begitu, di mana tempat bagi Sang Pencipta?”
Scientific determinism, yang beberapa kali ditegaskan Hawking, tidak memberi tempat bagi Tuhan. Dalam sejarah perdebatan sains-agama, ini bukan hal baru. Charles Darwin telah memulainya, dan kini diwarisi dengan penuh keyakinan oleh ilmuwan Richard Dawkins (The Selfish Gen dan A Devil’s Chaplain). Dawkins menggusur peran Tuhan dalam penciptaan. Steven Weinber, fisikawan yang meraih Nobel bersama Abdus Salam, dalam Dreams of a Final Theory, menyebutkan semakin sains menukik ke dalam hakikat segala sesuatu, alam semesta ini tampaknya semakin tidak memberi tanda-tanda bahwa ia merupakan jejak Tuhan yang “menaruh perhatian kepadanya”.
Sebagian ilmuwan enggan menarik Tuhan ke dalam arena sains, seperti diwakili Peter Woit, fisikawan dari Universitas Columbia, AS, ketika menanggapi The Grand Design: “Saya lebih suka pada naturalisme dan tidak melibatkan Tuhan dalam fisika.” Fisikawan seperti Paul Davies memilih posisi yang berseberangan dengan Hawking (The Mind of God dan God and the New Physics). Ada banyak posisi dalam menanggapi perkembangan sains (fisika, biologi), dan posisi Hawking adalah salah satunya.
Barangkali tepat belaka pandangan Keith Ward dalam God, Chance and Necessity (1996) bahwa ini adalah perkara interpretasi. Dan Hawking memilih interpretasi materialistik.
Dian Basuki
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/01/IQR/mbm.20101101.IQR134963.id.html
01 NOVEMBER 2010
Semesta dalam Fisika
Sekitar 2.600 tahun silam, Thales mengubah pandangan mitologis mengenai semesta dan kehidupan manusia. Menurut dia, alam konsisten mengikuti prinsip yang bisa dipahami. Pandangan Thales dilanjutkan para pengikutnya, yang lalu menjadi tumpuan proses panjang penggantian ide tentang dewa-dewa dengan konsep semesta yang diatur hukum alam dan diciptakan menurut cetak biru yang suatu saat bisa dipelajari. Tapi proses ini baru benar-benar dimulai setelah 20 abad kemudian.
Elektromagnetisme
Medan elektromagnetik terdapat di balik hampir semua fenomena kehidupan sehari-hari, kecuali gravitasi. Temuan-temuan tentang hal yang mengidentifikasi hubungan erat antara gaya listrik dan magnet ini dimulai dari Hans Christian Orsted (1820). Michael Faraday dan James Clerk Maxwell, antara lain, yang menyempurnakannya. Implikasi teoretis dari temuan tentang elektromagnetik merupakan fondasi dari Teori Relativitas Khusus yang dirumuskan Albert Einstein.
Fisika Kuantum
Teori fisika dari masa Newton merupakan cermin pengalaman sehari-hari, dengan obyek material yang memang eksis, bisa ditentukan lokasinya, mengikuti jalur tertentu, dan seterusnya. Fisika kuantum, yang dikembangkan sejak abad ke-20, merupakan cara memahami alam pada skala atom dan subatom. Model kuantum menyebutkan partikel tak memiliki posisi pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Tapi Richard Feynman belakangan menafsirkan bahwa partikel mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan dua titik secara bersamaan.
Hukum Alam
Konsep modern tentang hukum alam muncul pada abad ke-17. Johannes Kepler adalah ilmuwan pertama yang memahaminya dalam pengertian sains modern. Sesudahnya, antara lain, ada Galileo Galilei dan Rene Descartes. Tapi baru Isaac Newton-lah yang diterima luas, berkat hukum gerak dan gravitasinya. Tiga pertanyaan pokok yang timbul setelah hukum yang mengatur alam diakui adalah (1) dari mana asal-usul hukum itu; (2) apa ada perkecualian, misalnya keajaiban; dan (3) apa hanya ada satu kemungkinan dari hukum itu.
Teori Relativitas
Inilah teori yang memperkaya fisika dan astronomi sepanjang abad ke-20. Melalui empat makalah pada 1905, yang merupakan fondasi Teori Relativitas Khusus, Einstein mengubah persepsi yang dipengaruhi teori mekanika Newton. Tapi orang lebih mengingat teori ini dalam kaitannya dengan bom nuklir. Einstein menerbitkan Teori Relativitas Umum pada 1915, yang menegaskan ruang-waktu tidak datar, sebagaimana diasumsikan sebelumnya, tapi berbentuk kurva karena adanya distorsi oleh massa dan energi di dalamnya.
Teori M
“M” di sini bisa berarti “master”, “miracle” (keajaiban), atau “misteri”. Atau malah ketiga-tiganya. Pencetusnya, Edward Witten, mengatakan penafsiran atas “M” bergantung pada selera penggunanya. Sebagai perluasan teori dawai (string theory), yang merupakan ikhtiar menggabungkan fisika kuantum dan teori relativitas umum, inilah teori yang digadang-gadang sebagai teori segalanya, yang menyatukan keempat gaya fisika; Hawking bahkan yakin inilah satu-satunya kandidat teori paripurna tentang semesta. Tapi observasilah yang masih harus membuktikannya.
Realitas
Kebanyakan ilmuwan berpendapat hukum alam merupakan ekspresi matematis dari realitas eksternal, lepas dari siapa pun pengamat yang menyaksikannya. Tapi telaah mengenai bagaimana kita mengamati dan merumuskan konsep tentang alam telah memunculkan pertanyaan apakah realitas obyektif memang ada. Timbul kubu realis dan antirealis. Realisme tergantung-model mempertemukan keduanya pada titik apakah suatu model sesuai dengan pengamatan atau tidak. Maka bisa dikatakan tidak ada model matematika atau teori tunggal yang bisa mendeskripsikan setiap aspek alam semesta.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/01/IQR/mbm.20101101.IQR134964.id.html
01 NOVEMBER 2010
Ilmuwan Paling Populer
roduser seri animasi terkenal The Simpsons rupanya jatuh cinta pada Stephen Hawking. Setidaknya sudah empat kali ilmuwan Inggris ini muncul dan bergaul dengan keluarga Pak Homer Simpson. Padahal tokoh dunia yang diparodikan dalam seri itu biasanya bintang film, sutradara, atau penyanyi. Sesekali muncul tokoh lain seperti pengarang Harry Potter, J.K. Rowling, serta negarawan top Bill Clinton dan Tony Blair. Sangat jarang ilmuwan seperti Hawking.
Mungkin ia dianggap memiliki “karakter kuat”, gampang diingat penampilannya, karena tak mampu menggerakkan anggota badan dan jika berbicara mesti dengan suara komputer yang dipasang di kursi rodanya. Tidak banyak ilmuwan yang wajah atau penampilannya gampang diingat. Mungkin hanya Albert Einstein yang bisa menyainginya. “Saya pikir, mungkin saya cocok dengan stereotipe ilmuwan sinting atau jenius cacat,” kata Hawking suatu ketika.
Bisa jadi pula produser The Simpsons tertarik karena prestasi akademisnya. Hawking memang menghasilkan penelitian yang spektakuler, terutama yang berkaitan dengan lubang hitam, dan sering membuat pernyataan kontroversial yang menjadi pembicaraan bahkan di kalangan awam. Media massa juga senang karena ia pintar mengungkapkan ide dengan ungkapan yang sedap ditulis.
Dalam buku mutakhir yang dia tulis bersama ilmuwan Leonard Mlodinow, The Grand Design, misalnya, Hawking menyatakan bahwa penciptaan alam semesta tidak harus melibatkan Tuhan. Dua dekade silam, dalam bukunya yang sangat terkenal, A Brief History of Time, ia menyatakan bahwa begitu Teori Penyatuan Agung dapat disusun, ia akan menjadi puncak temuan manusia. “Saat itu, kita bisa mengetahui pikiran Tuhan,” ujarnya.
Kemampuan Hawking secara akademis serta kepandaiannya membuat pernyataan kontroversial itu kemungkinan besar terpengaruh penyakit Lou Gehrig. Penyakit yang disebut pula dengan amyotrophic lateral sclerosis ini membuatnya lumpuh dan bahkan akhirnya tidak bisa berbicara.
Kelumpuhan itu membuatnya bekerja dengan unik. “Saya menghindari persoalan dengan banyak persamaan-saya mengubahnya menjadi pertanyaan geometri,” kata Hawking. “Dengan itu, saya bisa menggambarkan di otak saya.”
Hawking akan membayangkan teori-teori fisika yang njelimet dalam bentuk geometris di dalam otak. Hal ini yang membuat ide dan pikirannya kadang meloncat dibanding para ilmuwan lain. “Saya pikir mungkin benar ia menghasilkan banyak penelitian karena kekurangannya itu,” kata Kip Thorne, ahli fisika teoretis dari Caltech, yang mengenal Hawking sejak awal 1960-an.
Karena sulit berbicara, Hawking terlatih berhemat kata dan membuat ungkapan dramatis. “Ia mesti membuat kalimatnya sepadat mungkin,” kata Bernard Carr, mahasiswa pertama yang bisa tinggal gratis serumah dengan Hawking dan keluarganya pada 1974 sekaligus mendapat bimbingan intens-sebagai ganti, Carr mesti membantu Hawking yang mulai lumpuh parah. “Pembicaraan 15 menit dengan Stephen seperti berbicara dengan orang lain selama beberapa jam.”
Kelumpuhan Hawking tidak datang dalam sekejap. Ia mendapat diagnosis penyakit Lou Gehrig ketika masih 21 tahun. Meski tak termasuk anak yang pintar bermain sepak bola, atau tulisan tangannya seperti cakar ayam, Hawking, lahir 8 Januari 1942, tak merasa sebagai anak yang memiliki koordinasi buruk. Malah, saat mulai kuliah di Oxford pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan tim dayung dan sering mewakili fakultasnya bertanding.
Pada tahun ketiga kuliah itulah Hawking mulai mengalami gejala lumpuh. Kadang ia terjatuh tanpa sebab. Ayahnya membawa dia ke dokter. Setelah mendapat pemeriksaan dua pekan, dia mendapat diagnosis penyakit yang melumpuhkan sebagian anggota badan. Masih ada tambahan pada diagnosis itu: dia akan meninggal dalam beberapa tahun.
Dokter yang merawat tak tahu apa yang mesti dilakukan dan berapa cepat kelumpuhan itu akan menjadi akut-dan mengakhiri segalanya. Jadi, mereka menyuruh Hawking kembali ke kampus dan kembali meneliti fisika teori tentang relativitas dan kosmologi. “Meski saat itu saya tidak banyak mendapat kemajuan karena tidak memiliki banyak latar belakang matematika,” tuturnya dalam satu tulisan.
Hawking sempat stres. Ia mencoba melupakan penyakitnya dengan mendengarkan musik karya komposer Jerman, Wilhelm Richard Wagner. Sebelum diagnosis itu pun Hawking sudah cenderung bosan dengan kehidupannya. Setelah divonis usianya tinggal beberapa tahun, ia merasa hidup begitu berharga. “Biarpun ada awan mendung di atas masa depan, saya temukan, dan ini mengejutkan, bahwa saya menikmati hidup saat itu daripada sebelumnya,” katanya.
Hawking mulai mendapat kemajuan dalam risetnya. Ia kemudian berkenalan, bertunangan, dan menikah dengan Jane Wilde. Hubungan ini memaksanya mendapat pekerjaan sehingga ia melamar ke Cambridge. Mereka memiliki tiga anak, Robert (lahir 1967), Lucy (1970), dan Timothy (1979).
Karier akademis Hawking setelah divonis bakal berumur pendek terus moncer. Bersama Roger Penrose, Hawking menemukan bahwa teori relativitas Einstein menyatakan alam semesta dimulai dari Big Bang (Dentuman Besar) dan berakhir dalam lubang hitam. Hawking kemudian juga memunculkan teori bahwa lubang hitam tak sepenuhnya berwarna hitam. Masih ada cahaya di sana dan disebut Radiasi Hawking.
Hawking juga pintar membuat terobosan ilmiah dari pemikiran orang lain. “Sangat sedikit yang memiliki pemahaman dan pandangan, atau kemampuan, untuk menanyakan hal yang tepat sehingga bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” kata Thorne.
Masalah dengan penyakit tak berhenti di kelumpuhan itu saja. Pada 1985, Hawking kesulitan bernapas. Agar oksigen lebih lancar mengalir, ia dibedah. Akibat lain muncul. Kemampuan bicaranya, yang sebelum bedah saja sudah lemah, setelah bedah menjadi hilang sama sekali alias tak bisa berbicara. Untung saja seorang ahli komputer dari Amerika Serikat, Walt Woltosz, mengirim program komputer bernama Equalizer.
Program itu semula dipasang di komputer meja tapi kemudian dipindah ke komputer yang berada di kursi berjalan. Hawking bisa berbicara 15 kata per menit. Hawking cukup puas dengan sistem komputer yang membuat suaranya seperti suara robot dalam film fiksi ilmiah itu. Hanya satu keluhannya. “Ini membuat saya memiliki dialek Amerika,” kata orang Inggris yang sudah mendapat gelar “Sir” dari Ratu Elizabeth itu.
Nama Hawking menjadi populer setelah menulis buku yang menjelaskan teori-teori penciptaan semesta dengan bahasa sederhana, A Brief History of Time, pada akhir 1980-an. Buku ini di luar dugaan sangat laris. Pernyataannya tentang Tuhan menjadi kontroversial. Selain itu, penampilannya sebagai ilmuwan “aneh”, lumpuh total dan hanya bisa berbicara dengan komputer, menjadikannya sangat terkenal.
Dan penampilan itulah yang membuatnya sering muncul bersama Pak Homer Simpson.
Nur Khoiri
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/01/IQR/mbm.20101101.IQR134965.id.html

HawkingSemesta dalam Genggaman Hawking

Oleh: Dian R. Basuki

Sejak pertanyaan “mengapa kita ada” mengusik manusia berpuluh abad silam, ikhtiar untuk mencari jawabannya tak pernah berhenti. Banyak orang berpaling ke berbagai kekuatan besar di luar manusia. Para filsuf sejak Yunani klasik menyodorkan jawaban-jawaban spekulatif dengan mengandalkan kekuatan logika. Merekalah yang mendominasi pikiran manusia.

Tapi filsafat kini mati, kata Stephen Hawking. Filsafat tak sanggup mengimbangi perkembangan sains modern, terutama fisika. Obor penerang bagi pencarian ilmu pengetahuan kini dipikul para ilmuwan. Walaupun sains modern dianggap baru bermula pada abad ke-17, sumbangannya luar biasa bagi kemajuan peradaban, meski-sayangnya-juga bagi kerusakan.

Bagi Hawking, untuk memahami semesta pada tingkat terdalam, kita perlu beranjak dari sekadar menjawab pertanyaan bernada “bagaimana” menuju “mengapa”. “Bagaimana” adalah pertanyaan praktis yang lazim diajukan ilmuwan. Dengan kemajuan sains, kinilah saatnya kita mengajukan pertanyaan seperti: Mengapa sesuatu ada dan bukan tak ada? Mengapa kita ada? Mengapa hukum tertentu berlaku, dan bukan yang lain? Inilah pertanyaan pamungkas tentang kehidupan dan alam semesta yang secara “tradisional” beredar di ranah filsafat. Hawking, bersama Leonard Mlodinow, berusaha menjawabnya dalam karya mereka yang baru terbit, The Grand Design.

Bukanlah hal baru, sesungguhnya, bahwa ilmuwan berbicara melampaui batas-batas sains. Terutama ketika mereka berbicara tentang gerak, matahari dan bumi, planet dan semesta. Juga ketika Charles Darwin menerbitkan kitabnya, The Origin of Species, Tuhan dibawa-bawa ke dalam arena perdebatan. Revolusi yang ditimbulkan oleh Teori Evolusi menyebabkan orang berdebat di manakah peran Tuhan.

Pada masa yang lama, filsuf adalah juga ilmuwan (minus eksperimentasi). Aristoteles berbicara mengenai logika, etika, dan retorika, sebagaimana ia memikirkan mekanika dan semesta (kosmos). Jika kita memahami apa yang menyebabkan gerak, menurut Aristoteles, kita akan memahami sebab adanya dunia.

Isaac Newton membaca Nicomachean Ethics, yang ditulis Aristoteles berabad-abad sebelumnya. Ia membuat catatan-catatan di bukunya mengenai filsuf Yunani ini. Ia mengajukan “beberapa pertanyaan filosofis”. Newton bertanya: “Dapatkah kita mengetahui, melalui kekuatan logika, apakah materi bersifat kontinu dan bisa dipecah-pecah secara tak terhingga, ataukah diskontinu dan individual?”

Newton, dalam pandangan Hawking, lebih ilmiah dalam memahami gerak. Dia diterima luas berkat hukum gerak dan gravitasinya, yang mampu menjelaskan orbit bumi, bulan, dan planet, bahkan fenomena naik-turunnya permukaan laut. Persamaan gravitasi yang memakai namanya masih diajarkan hingga kini. Newton, bersama barisan ilmuwan seperti Nicolas Copernicus, Johannes Kepler, Francis Bacon, Rene Descartes, dan Galileo Galilei, berupaya menemukan hukum-hukum yang mengatur alam. Mereka berusaha menjawab pertanyaan bagaimana alam ini bekerja.

Lewat perumusan dalam bahasa matematika (Newton, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, 1687), para ilmuwan itu ingin menjawab pertanyaan dengan cara yang melampaui spekulasi. Mereka meninggalkan pandangan sebelumnya, yang mencari tujuan di balik berbagai fenomena, dan menganggap pertanyaan berkaitan dengan Tuhan, roh manusia, dan etika mempunyai signifikansi tertinggi.

Toh, itu bukanlah jalan yang serta-merta menafikan konsekuensi yang lebih luas: filosofis, teologis, maupun praktis. Pandangan heliosentris Copernicus dan Galileo mematahkan pandangan geosentris Ptolemeus yang diikuti Gereja, dan serangan pada keyakinan religius ini telah menimbulkan masalah serius bagi kedua ilmuwan. Bagi Gereja, pandangan heliosentris adalah bidah, meski Descartes mengatakan hukum alam adalah takdir Tuhan dan Newton meyakini sistem tata surya tidak muncul dari kekacauan semata-mata dikarenakan hukum alam. Keteraturan di semesta, kata Newton, “diciptakan oleh Tuhan pada mulanya dan dipelihara olehnya hingga hari ini dalam keadaan dan kondisi yang sama”.

Fisika klasik dari generasi Newton juga mempengaruhi pandangan dunia, menembus wilayah di luar fisika. Selama abad ke-19 para ilmuwan terus mengembangkan model mekanistis alam dalam fisika, kimia, biologi, yang kemudian merambah area ilmu sosial dan psikologi. Fisikawan nuklir Fritjof Capra (The Turning Point) menunjukkan betapa pandangan mekanistis Cartesian-Newtonian mempengaruhi cara manusia memperlakukan alam, bukan untuk memperoleh kearifan, melainkan menguasainya. Alam dipahami dengan cara direduksi jadi bagian-bagiannya.

Dasar-dasar yang dibangun barisan raksasa itulah, seperti matematika dan metode penalaran oleh Descartes (Discourse on Method) dan metode ilmiah oleh Francis Bacon, yang memberikan keyakinan kuat kepada para ilmuwan hingga kini perihal kepastian pengetahuan ilmiah. Sebuah kepastian yang melampaui spekulasi filosofis. Sebuah keyakinan yang kemudian diwarisi Hawking, yang mengagungkan determinisme ilmiah.

Pengaruh Newton dalam fisika, khususnya, mulai terusik ketika Michael Faraday melakukan eksperimen dan James Clerk Maxwell berhasil menggabungkan gaya listrik dan magnet menjadi elektromagnetik. Maxwell pula yang menemukan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik. Inilah masa peralihan menuju fisika modern yang ditandai lahirnya pemikiran revolusioner Albert Einstein tentang relativitas. Di usianya yang baru 26 tahun (1905), Einstein mempublikasikan makalahnya tentang relativitas khusus.

Selama 11 tahun kemudian, Einstein mengembangkan teori baru mengenai gravitasi, yang ia sebut relativitas umum (November 1915). Ia mengajukan pemikiran revolusioner bahwa ruang-waktu tidak datar, sebagaimana diasumsikan sebelumnya, tapi berbentuk kurva dan ini terjadi karena distorsi oleh massa dan energi di dalamnya. Ini perombakan besar atas pemikiran Newtonian mengenai ruang dan meletakkan waktu sebagai dimensi yang sama penting di samping tiga dimensi ruang.

Dua tahun sesudah itu, Einstein menerbitkan tulisan berjudul Cosmological Considerations (Tinjauan Kosmologis). Ia menerapkan teori barunya untuk mengkaji alam semesta. Maka dimulailah era kosmologi modern. Sekali lagi Einstein memperlihatkan kepionirannya. Kosmologi mempelajari alam semesta yang sebagian besar telaahnya berdasarkan sejumlah hipotesis, dan gravitasi Einsteinian merupakan konsep terpenting dalam kosmologi.

Semula kosmologi dipandang sebagai pseudo-sains, tapi dua perkembangan penting menjadikannya tak bisa diremehkan lagi. Pertama, terobosan dalam pengamatan astronomi, yang mampu mendeteksi galaksi-galaksi terjauh, membuat semesta menjadi laboratorium untuk menguji model-model kosmologi. Kedua, teori relativitas umum Einstein telah teruji sebagai teori gravitasi yang andal dan akurat yang berlaku di seluruh alam semesta.

Namun fisika klasik Newton dan fisika Einstein kesulitan ketika harus menjelaskan fenomena di dunia atomik dan subatomik. Pada 1920-an, kemampuan para fisikawan dalam memahami alam semesta dihadapkan pada tantangan yang serius. Setiap kali mereka bertanya kepada alam tentang suatu masalah dalam eksperimen atom yang mereka lakukan, alam menjawabnya dengan paradoks, hingga fisikawan Werner Heisenberg berulang kali bertanya pada diri sendiri: “Mungkinkah alam itu absurd sebagaimana yang tampak pada kita dalam eksperimen-eksperimen atom ini?” (Capra, The Tao of Physics, 1975).

Kegagapan menghadapi jagat subatomik itulah yang mendorong para ilmuwan semasa Einstein, seperti Heisenberg, Neils Bohr, Max Planck, Erwin Schrodinger, Paul Dirac, Louis deBroglie, dan Wolfgang Pauli, merumuskan kerangka konseptual bagi fisika baru. Materi subatom merupakan entitas sangat abstrak yang beraspek ganda, tergantung bagaimana kita memandangnya: sebagai partikel dan sebagai gelombang. Penemuan ini melumpuhkan pengertian klasik tentang obyek padat.

Dualitas partikel/gelombang itu dipahami Bohr sebagai komplementaritas, dan fisikawan Denmark ini kerap mengatakan pengertian ini mungkin juga bermanfaat dalam ilmu di luar fisika. Fisikawan Fritjof Capra termasuk perintis penafsiran yang meluas hingga wilayah spiritualitas. Karyanya yang masyhur, The Tao of Physics (1975), melihat kesejajaran dualitas ini dengan mistisisme Timur. Yin/yang dalam masyarakat Cina, misalnya.

Namun penemuan berikutnya membikin Einstein tak habis pikir. Heisenberg menemukan prinsip ketidakpastian (1926), yang menyatakan kita memiliki keterbatasan dalam mengukur secara serentak posisi dan kecepatan suatu partikel. Partikel subatom tak bisa dipahami sebagai entitas yang mandiri, tapi mesti dilihat dari interaksinya dengan partikel lain. Tercium aroma posmo, memang. Dan inilah dimulainya babak baru bagi peran penting fisika kuantum.

Apa dampak relativitas Einstein dan fisika kuantum? Bom atom yang menjadi kekuatan ampuh untuk menghentikan Perang Dunia II dan kemudian memacu perlombaan senjata antara Uni Soviet dan Amerika Serikat beranjak dari teori relativitas khusus. Teori kuantum memberi landasan kuat bagi pengembangan teknologi informatika, dan kita sehari-hari memanfaatkannya: Internet.

Tak kalah dahsyat dari itu ialah implikasinya atas pemikiran filosofis manusia mengenai diri dan alamnya. Teori relativitas berujung pada gambaran bahwa alam semesta terbatas dalam ruang dan berkembang meluas tak terhindarkan, bermula pada satu peristiwa besar ketika jagat raya lahir dalam suatu Dentuman Besar di awal semesta. Dan Einsteinlah yang membuka jalan bagi kosmologi modern.

Teori kuantum berujung pada gambaran bahwa pada skala terkecil benda-benda, termasuk jagat raya di awal hidupnya (bukan di masa sekarang), peristiwa-peristiwa fisik yang terjadi saat itu merupakan kebetulan tanpa sebab. Karena ukuran alam semesta amat-sangat kecil pada saat awal, menurut para penafsir teori kuantum, prinsip ketidakpastian Heisenberg dalam teori kuantum juga berlaku pada alam itu.

Teori relativitas berujung pada kepastian, sedangkan teori kuantum berujung pada ketidakpastian. Inilah yang membuat Einstein geleng-geleng kepala: “(Rasanya) Tuhan tidak bermain dadu.” Di tengah kegalauannya, Einstein berusaha keras menyatukan gaya-gaya elektromagnetik (yang dipersatukan Maxwell), gaya nuklir lemah, gaya nuklir kuat, dan gaya gravitasi (yang mengatur alam semesta) dalam satu rumusan tunggal dan final, yang oleh sebagian orang disebut Theory of Everything (Teori Segala Hal). Einstein gagal.

Di antara perdebatan yang kelak kerap diceritakan ulang oleh sejarawan sains itu, Edwin Hubble mempublikasikan hasil observasinya bahwa alam semesta mengembang (1929), tiga belas tahun sebelum Stephen Hawking lahir. Hawking memasuki dunia akademis ketika riset kosmologi berbasis relativitas umum Einstein tengah mekar-mekarnya. Barangkali zaman memang menunggu kehadirannya untuk memberikan kontribusi.

Pada awal 1970-an, teori lubang hitam sedang naik daun. Lubang hitam (black hole) adalah istilah yang ditemukan kosmolog AS, John Wheeler (1969), untuk “bintang-bintang yang mengalami keruntuhan gravitasi sempurna”. Di Moskow, Pasadena, Princeton, dan Cambridge, istilah ini pun segera populer.

Hawking, yang batal melakukan riset doktoralnya di bawah Fred Hoyle, penemu istilah Big Bang (Dentuman Besar) pada 1949, mulai bekerja di bawah arahan Dennis Sciama. Sebagai bukan matematikawan murni, Hawking menerapkan teknik matematika yang diperkenalkan Roger Penrose untuk mempelajari lubang hitam. Penrose sendiri kemudian berusaha mencari jawaban atas pertanyaan “bagaimana kita berpikir” dan “apa yang menjadikan kita manusia” (dua kitabnya: The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind).

Menjelang kelumpuhannya, Hawking mulai menonjol dalam kosmologi, khususnya lubang hitam. Alih-alih memakai tangan untuk menulis dan menggambarkan gagasannya, Hawking mulai beradaptasi untuk menggunakan gambaran mentalnya. Ia berusaha menyatukan teori relativitas tentang gravitasi dan fenomena skala besar dengan teori kuantum mengenai partikel subatom.

Dari coretan-coretan di benaknya saja, Hawking melahirkan Hukum Pertambahan Luas pada permukaan lubang hitam. Bunyinya: “Luas permukaan suatu lubang hitam hanya dapat tetap sama atau bertambah, tetapi tidak pernah berkurang.” Ilham tentang ide ini muncul tiba-tiba. “Begitu hebat pengaruh ini sehingga saya terjaga hampir semalaman,” tutur Hawking.

Pernyataan “tidak pernah berkurang” dalam rumusan Hawking itu mengingatkan pada besaran entropi dalam Hukum Termodinamika II. Entropi (ketidakteraturan) suatu sistem hanya dapat tetap sama atau meningkat, tetapi tidak pernah berkurang (jika sistem itu terisolasi dan dibiarkan mencapai kesetimbangan). Ludwig Boltzmann, fisikawan Austria, pada 1878 menyebutkan definisi entropi sebagai banyaknya kemungkinan dalam melakukan penyusunan molekul. Misalnya, jika suatu keadaan mempunyai banyak cara yang berbeda untuk menyusun molekul-molekulnya, sistem itu mempunyai entropi yang besar.

Ketika benda mencapai kesetimbangan termal, benda itu mempunyai suhu tertentu dan karenanya memancarkan radiasi serta mengalami pertukaran energi dengan lingkungannya. Tapi ketika itu umum orang berpendapat, lubang hitam tidak mungkin memancarkan apa pun. Segala sesuatu bisa jatuh ke dalam lubang hitam, tak ada yang bisa keluar darinya. Cahaya sekalipun.

Namun Jacob Bekenstein, mahasiswa pascasarjana yang dibimbing John Wheeler, berpendapat bahwa lubang hitam mempunyai entropi dan ini mungkin berkaitan dengan hukum pertambahan luas permukaan lubang hitam yang ditunjukkan Hawking. Bekenstein lalu menulis makalah singkat yang mengidentifikasi luas permukaan lubang hitam sebagai entropi lubang hitam.

Hawking menganggap mahasiswa itu telah menyalahgunakan teorinya. Namun pikirannya mulai terusik setelah bersama James Bardeen dan Brandon Carter di Pegunungan Alpen, Prancis, menemukan hukum yang mengatur evolusi lubang hitam berdasarkan relativitas Einstein. Hukum mekanika lubang hitam ini mirip dengan hukum termodinamika. Namun mereka ketika itu menganggapnya kebetulan belaka. Lain halnya bagi Bekenstein. Ia menganggap penemuan itu memperkuat pendapatnya bahwa luas permukaan lubang hitam adalah entropinya.

Kekukuhan pendapat Bekenstein mulai menggoyahkan Hawking. Ia lalu menelaah apa yang bisa terjadi di permukaan lubang hitam dengan memakai prinsip ketidakpastian Heisenberg, yang meramalkan energi muncul dan lenyap bergantian dalam skala waktu yang ditentukan oleh skala Planck (10-33). Dengan persamaan Einstein, E=mc2, energi ini diubah menjadi partikel dan antipartikel yang silih berganti muncul dan lenyap.

Dalam telaah itulah, Hawking menggabungkan mekanika kuantum dan relativitas umum dalam rumusan tunggal untuk pertama kalinya (1974). Dari sini ia berkesimpulan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya hitam, tapi memancarkan radiasi-Bekenstein benar, rupanya. Jadi, lubang hitam tidak hanya mempunyai entropi, tapi juga suhu, dan mematuhi hukum termodinamika klasik yang ditemukan Boltzmann pada akhir abad ke-19.

Temuan itu diakui amat penting. Hanya beberapa pekan setelah tulisan tentang radiasi lubang hitam diterbitkan, Hawking menerima gelar kehormatan akademik tertinggi Inggris. Di usia 32 tahun, ia diangkat menjadi anggota Fellow of the Royal Society. Ia diundang untuk melakukan riset di Caltech, Pasadena, AS. Ketika itulah Hawking menerima surat pemberitahuan dari Vatikan bahwa ia dipilih oleh Akademi Sains Vatikan untuk menerima medali Paus Paulus XI. Penghargaan ini mulai menggeser riset Hawking dari lubang hitam ke permulaan alam semesta, dengan Dentuman Besar sebagai tesis yang diminati Gereja Katolik Roma.

Namun sejarah kemudian mencatat Hawking bergerak menjauhi harapan Vatikan. Penafsiran Richard Feynman, jenius fisika dari AS, atas teori kuantum melahirkan apa yang disebut sebagai “sum over histories”. Model kuantum menyebutkan partikel dikatakan tidak memiliki posisi yang pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Dalam tafsiran Feynman, partikel justru mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan kedua titik itu.

Kesimpulan Feynman: suatu sistem bukan hanya memiliki satu sejarah, melainkan setiap sejarah yang mungkin. Ini gagasan radikal, bahkan bagi banyak fisikawan. Dalam teori Newtonian, masa lalu diasumsikan ada sebagai serangkaian peristiwa yang pasti. Menurut fisika kuantum, alam semesta memiliki bukan hanya satu masa lalu, melainkan banyak. Semesta bukan hanya memiliki eksistensi tunggal, tetapi setiap versi yang mungkin dari semesta ada secara simultan dalam apa yang disebut quantum superposition.

Penafsiran Feynman inilah yang membangkitkan semangat Hawking untuk memperbaiki teorinya. Dalam sejarah sains, kita telah menemukan serangkaian teori atau model yang lebih baik dan lebih baik, sejak Plato hingga teori klasik Newton sampai teori-teori kuantum modern. “Akankah rangkaian ini akhirnya mencapai suatu titik akhir, teori pamungkas tentang semesta, yang akan mencakup seluruh gaya dan memprediksi setiap observasi yang kita lakukan, ataukah kita akan terus selamanya menemukan teori yang lebih baik, tetapi tidak pernah menemukan satu teori yang tak bisa diperbaiki lagi?” tulis Hawking dalam The Grand Design.

“Kita belum memperoleh jawaban definitif atas pertanyaan ini,” tulis Hawking, “tapi kita sekarang memiliki calon bagi teori pamungkas tentang segala Hal, jika memang ada, yang disebut Teori-M.” Bagi Hawking, Teori-M adalah satu-satunya model yang mengandung seluruh sifat yang harus dimiliki teori yang final. Dan ini melibatkan 10 dimensi ruang dan satu dimensi waktu.

Berpijak pada penafsiran Feynman, Hawking mengatakan, menurut Teori-M, semesta kita tidaklah tunggal. Gagasan seperti ini di masa lampau pernah dilontarkan Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), yang menolak konsep geosentris Ptolemeus-yang berarti mendahului Copernicus maupun Kepler dan Galileo. Al-Razi juga menyebutkan alam semesta ini tidak tunggal dan sangat banyak.

Namun, berbeda dengan Al-Razi yang berpaling kepada adanya pencipta, Hawking berujung di kesimpulan bahwa penciptaan alam semesta tidak memerlukan intervensi sesuatu yang supernatural atau Tuhan. Semesta yang banyak ini muncul alamiah dari hukum fisika. “Masing-masing semesta memiliki banyak sejarah yang mungkin dan banyak keadaan yang mungkin pada masa-masa yang kemudian, misalnya pada masa seperti sekarang, jauh sesudah terciptanya mereka. Semesta adalah prediksi sains.”

Sebuah klaim yang lebih deterministik dibanding pernyataannya 22 tahun lalu dalam A Brief History of Time. “Apabila semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun, seandainya semesta benar-benar mandiri, tidak memiliki batas atau titik ujung, semesta tidak memiliki awal maupun akhir: semesta hanyalah ada. Kalau begitu, di mana tempat bagi Sang Pencipta?”

Scientific determinism, yang beberapa kali ditegaskan Hawking, tidak memberi tempat bagi Tuhan. Dalam sejarah perdebatan sains-agama, ini bukan hal baru. Charles Darwin telah memulainya, dan kini diwarisi dengan penuh keyakinan oleh ilmuwan Richard Dawkins (The Selfish Gen dan A Devil’s Chaplain). Dawkins menggusur peran Tuhan dalam penciptaan. Steven Weinber, fisikawan yang meraih Nobel bersama Abdus Salam, dalam Dreams of a Final Theory, menyebutkan semakin sains menukik ke dalam hakikat segala sesuatu, alam semesta ini tampaknya semakin tidak memberi tanda-tanda bahwa ia merupakan jejak Tuhan yang “menaruh perhatian kepadanya”.

Sebagian ilmuwan enggan menarik Tuhan ke dalam arena sains, seperti diwakili Peter Woit, fisikawan dari Universitas Columbia, AS, ketika menanggapi The Grand Design: “Saya lebih suka pada naturalisme dan tidak melibatkan Tuhan dalam fisika.” Fisikawan seperti Paul Davies memilih posisi yang berseberangan dengan Hawking (The Mind of God dan God and the New Physics). Ada banyak posisi dalam menanggapi perkembangan sains (fisika, biologi), dan posisi Hawking adalah salah satunya.

Barangkali tepat belaka pandangan Keith Ward dalam God, Chance and Necessity (1996) bahwa ini adalah perkara interpretasi. Dan Hawking memilih interpretasi materialistik.

Ilmuwan Paling Populer

Produser seri animasi terkenal The Simpsons rupanya jatuh cinta pada Stephen Hawking. Setidaknya sudah empat kali ilmuwan Inggris ini muncul dan bergaul dengan keluarga Pak Homer Simpson. Padahal tokoh dunia yang diparodikan dalam seri itu biasanya bintang film, sutradara, atau penyanyi. Sesekali muncul tokoh lain seperti pengarang Harry Potter, J.K. Rowling, serta negarawan top Bill Clinton dan Tony Blair. Sangat jarang ilmuwan seperti Hawking.

Mungkin ia dianggap memiliki “karakter kuat”, gampang diingat penampilannya, karena tak mampu menggerakkan anggota badan dan jika berbicara mesti dengan suara komputer yang dipasang di kursi rodanya. Tidak banyak ilmuwan yang wajah atau penampilannya gampang diingat. Mungkin hanya Albert Einstein yang bisa menyainginya. “Saya pikir, mungkin saya cocok dengan stereotipe ilmuwan sinting atau jenius cacat,” kata Hawking suatu ketika.

Bisa jadi pula produser The Simpsons tertarik karena prestasi akademisnya. Hawking memang menghasilkan penelitian yang spektakuler, terutama yang berkaitan dengan lubang hitam, dan sering membuat pernyataan kontroversial yang menjadi pembicaraan bahkan di kalangan awam. Media massa juga senang karena ia pintar mengungkapkan ide dengan ungkapan yang sedap ditulis.

Dalam buku mutakhir yang dia tulis bersama ilmuwan Leonard Mlodinow, The Grand Design, misalnya, Hawking menyatakan bahwa penciptaan alam semesta tidak harus melibatkan Tuhan. Dua dekade silam, dalam bukunya yang sangat terkenal, A Brief History of Time, ia menyatakan bahwa begitu Teori Penyatuan Agung dapat disusun, ia akan menjadi puncak temuan manusia. “Saat itu, kita bisa mengetahui pikiran Tuhan,” ujarnya.

Kemampuan Hawking secara akademis serta kepandaiannya membuat pernyataan kontroversial itu kemungkinan besar terpengaruh penyakit Lou Gehrig. Penyakit yang disebut pula dengan amyotrophic lateral sclerosis ini membuatnya lumpuh dan bahkan akhirnya tidak bisa berbicara.

Kelumpuhan itu membuatnya bekerja dengan unik. “Saya menghindari persoalan dengan banyak persamaan-saya mengubahnya menjadi pertanyaan geometri,” kata Hawking. “Dengan itu, saya bisa menggambarkan di otak saya.”

Hawking akan membayangkan teori-teori fisika yang njelimet dalam bentuk geometris di dalam otak. Hal ini yang membuat ide dan pikirannya kadang meloncat dibanding para ilmuwan lain. “Saya pikir mungkin benar ia menghasilkan banyak penelitian karena kekurangannya itu,” kata Kip Thorne, ahli fisika teoretis dari Caltech, yang mengenal Hawking sejak awal 1960-an.

Karena sulit berbicara, Hawking terlatih berhemat kata dan membuat ungkapan dramatis. “Ia mesti membuat kalimatnya sepadat mungkin,” kata Bernard Carr, mahasiswa pertama yang bisa tinggal gratis serumah dengan Hawking dan keluarganya pada 1974 sekaligus mendapat bimbingan intens-sebagai ganti, Carr mesti membantu Hawking yang mulai lumpuh parah. “Pembicaraan 15 menit dengan Stephen seperti berbicara dengan orang lain selama beberapa jam.”

Kelumpuhan Hawking tidak datang dalam sekejap. Ia mendapat diagnosis penyakit Lou Gehrig ketika masih 21 tahun. Meski tak termasuk anak yang pintar bermain sepak bola, atau tulisan tangannya seperti cakar ayam, Hawking, lahir 8 Januari 1942, tak merasa sebagai anak yang memiliki koordinasi buruk. Malah, saat mulai kuliah di Oxford pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan tim dayung dan sering mewakili fakultasnya bertanding.

Pada tahun ketiga kuliah itulah Hawking mulai mengalami gejala lumpuh. Kadang ia terjatuh tanpa sebab. Ayahnya membawa dia ke dokter. Setelah mendapat pemeriksaan dua pekan, dia mendapat diagnosis penyakit yang melumpuhkan sebagian anggota badan. Masih ada tambahan pada diagnosis itu: dia akan meninggal dalam beberapa tahun.

Dokter yang merawat tak tahu apa yang mesti dilakukan dan berapa cepat kelumpuhan itu akan menjadi akut-dan mengakhiri segalanya. Jadi, mereka menyuruh Hawking kembali ke kampus dan kembali meneliti fisika teori tentang relativitas dan kosmologi. “Meski saat itu saya tidak banyak mendapat kemajuan karena tidak memiliki banyak latar belakang matematika,” tuturnya dalam satu tulisan.

Hawking sempat stres. Ia mencoba melupakan penyakitnya dengan mendengarkan musik karya komposer Jerman, Wilhelm Richard Wagner. Sebelum diagnosis itu pun Hawking sudah cenderung bosan dengan kehidupannya. Setelah divonis usianya tinggal beberapa tahun, ia merasa hidup begitu berharga. “Biarpun ada awan mendung di atas masa depan, saya temukan, dan ini mengejutkan, bahwa saya menikmati hidup saat itu daripada sebelumnya,” katanya.

Hawking mulai mendapat kemajuan dalam risetnya. Ia kemudian berkenalan, bertunangan, dan menikah dengan Jane Wilde. Hubungan ini memaksanya mendapat pekerjaan sehingga ia melamar ke Cambridge. Mereka memiliki tiga anak, Robert (lahir 1967), Lucy (1970), dan Timothy (1979).

Karier akademis Hawking setelah divonis bakal berumur pendek terus moncer. Bersama Roger Penrose, Hawking menemukan bahwa teori relativitas Einstein menyatakan alam semesta dimulai dari Big Bang (Dentuman Besar) dan berakhir dalam lubang hitam. Hawking kemudian juga memunculkan teori bahwa lubang hitam tak sepenuhnya berwarna hitam. Masih ada cahaya di sana dan disebut Radiasi Hawking.

Hawking juga pintar membuat terobosan ilmiah dari pemikiran orang lain. “Sangat sedikit yang memiliki pemahaman dan pandangan, atau kemampuan, untuk menanyakan hal yang tepat sehingga bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” kata Thorne.

Masalah dengan penyakit tak berhenti di kelumpuhan itu saja. Pada 1985, Hawking kesulitan bernapas. Agar oksigen lebih lancar mengalir, ia dibedah. Akibat lain muncul. Kemampuan bicaranya, yang sebelum bedah saja sudah lemah, setelah bedah menjadi hilang sama sekali alias tak bisa berbicara. Untung saja seorang ahli komputer dari Amerika Serikat, Walt Woltosz, mengirim program komputer bernama Equalizer.

Program itu semula dipasang di komputer meja tapi kemudian dipindah ke komputer yang berada di kursi berjalan. Hawking bisa berbicara 15 kata per menit. Hawking cukup puas dengan sistem komputer yang membuat suaranya seperti suara robot dalam film fiksi ilmiah itu. Hanya satu keluhannya. “Ini membuat saya memiliki dialek Amerika,” kata orang Inggris yang sudah mendapat gelar “Sir” dari Ratu Elizabeth itu.

Nama Hawking menjadi populer setelah menulis buku yang menjelaskan teori-teori penciptaan semesta dengan bahasa sederhana, A Brief History of Time, pada akhir 1980-an. Buku ini di luar dugaan sangat laris. Pernyataannya tentang Tuhan menjadi kontroversial. Selain itu, penampilannya sebagai ilmuwan “aneh”, lumpuh total dan hanya bisa berbicara dengan komputer, menjadikannya sangat terkenal.

Dan penampilan itulah yang membuatnya sering muncul bersama Pak Homer Simpson. (Nur Khoiri)

Semesta dalam Fisika

Sekitar 2.600 tahun silam, Thales mengubah pandangan mitologis mengenai semesta dan kehidupan manusia. Menurut dia, alam konsisten mengikuti prinsip yang bisa dipahami. Pandangan Thales dilanjutkan para pengikutnya, yang lalu menjadi tumpuan proses panjang penggantian ide tentang dewa-dewa dengan konsep semesta yang diatur hukum alam dan diciptakan menurut cetak biru yang suatu saat bisa dipelajari. Tapi proses ini baru benar-benar dimulai setelah 20 abad kemudian.

Elektromagnetisme

Medan elektromagnetik terdapat di balik hampir semua fenomena kehidupan sehari-hari, kecuali gravitasi. Temuan-temuan tentang hal yang mengidentifikasi hubungan erat antara gaya listrik dan magnet ini dimulai dari Hans Christian Orsted (1820). Michael Faraday dan James Clerk Maxwell, antara lain, yang menyempurnakannya. Implikasi teoretis dari temuan tentang elektromagnetik merupakan fondasi dari Teori Relativitas Khusus yang dirumuskan Albert Einstein.

Fisika Kuantum

Teori fisika dari masa Newton merupakan cermin pengalaman sehari-hari, dengan obyek material yang memang eksis, bisa ditentukan lokasinya, mengikuti jalur tertentu, dan seterusnya. Fisika kuantum, yang dikembangkan sejak abad ke-20, merupakan cara memahami alam pada skala atom dan subatom. Model kuantum menyebutkan partikel tak memiliki posisi pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Tapi Richard Feynman belakangan menafsirkan bahwa partikel mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan dua titik secara bersamaan.

Hukum Alam

Konsep modern tentang hukum alam muncul pada abad ke-17. Johannes Kepler adalah ilmuwan pertama yang memahaminya dalam pengertian sains modern. Sesudahnya, antara lain, ada Galileo Galilei dan Rene Descartes. Tapi baru Isaac Newton-lah yang diterima luas, berkat hukum gerak dan gravitasinya. Tiga pertanyaan pokok yang timbul setelah hukum yang mengatur alam diakui adalah (1) dari mana asal-usul hukum itu; (2) apa ada perkecualian, misalnya keajaiban; dan (3) apa hanya ada satu kemungkinan dari hukum itu.

Teori Relativitas

Inilah teori yang memperkaya fisika dan astronomi sepanjang abad ke-20. Melalui empat makalah pada 1905, yang merupakan fondasi Teori Relativitas Khusus, Einstein mengubah persepsi yang dipengaruhi teori mekanika Newton. Tapi orang lebih mengingat teori ini dalam kaitannya dengan bom nuklir. Einstein menerbitkan Teori Relativitas Umum pada 1915, yang menegaskan ruang-waktu tidak datar, sebagaimana diasumsikan sebelumnya, tapi berbentuk kurva karena adanya distorsi oleh massa dan energi di dalamnya.

Teori M

“M” di sini bisa berarti “master”, “miracle” (keajaiban), atau “misteri”. Atau malah ketiga-tiganya. Pencetusnya, Edward Witten, mengatakan penafsiran atas “M” bergantung pada selera penggunanya. Sebagai perluasan teori dawai (string theory), yang merupakan ikhtiar menggabungkan fisika kuantum dan teori relativitas umum, inilah teori yang digadang-gadang sebagai teori segalanya, yang menyatukan keempat gaya fisika; Hawking bahkan yakin inilah satu-satunya kandidat teori paripurna tentang semesta. Tapi observasilah yang masih harus membuktikannya.

Realitas

Kebanyakan ilmuwan berpendapat hukum alam merupakan ekspresi matematis dari realitas eksternal, lepas dari siapa pun pengamat yang menyaksikannya. Tapi telaah mengenai bagaimana kita mengamati dan merumuskan konsep tentang alam telah memunculkan pertanyaan apakah realitas obyektif memang ada. Timbul kubu realis dan antirealis. Realisme tergantung-model mempertemukan keduanya pada titik apakah suatu model sesuai dengan pengamatan atau tidak. Maka bisa dikatakan tidak ada model matematika atau teori tunggal yang bisa mendeskripsikan setiap aspek alam semesta.

Sumber: TEMPO Edisi 1 November 2010, Rubrik “IQRA”

Betelgeuse Incident – Insiden Bait Al-Jauza

Betelgeuse Incident – Insiden Bait Al-Jauza
oleh Tanzil Hernadi pada 20 Oktober 2010 jam 8:11
[No. 243]
Judul : Betelguese Incident – Insiden Bait Al-Jauza
Penulis : Toba Beta
Penerbit : PT. Bumi  joInitama Semesta
Cetakan : I, Juni 2010
Tebal : 492 hlm
Betelgeuse adalah adalah bintang yang terletak 427 tahun cahaya dari Bumi. Bintang ini merupakan bintang paling terang kedua di rasi bintang Orion dan bintang paling terang kesembilan pada langit malam. Nama Betelgeuse berasal dari kata Bait al-Jauzā, berasal daribahasa Arab yang berarti “rumah sang raksasa”.
Bintang yang menurut para ahli astronomi sedang mendekati kehancurannya dan dapat membengkak 100 kali lipat sebelum meledak ini oleh Toba Beta dijadikan judul sebuah novel science fiction Sebuah genre yang boleh dibilang masih jarang digarap oleh penulis-penulis lokal. Ini adalah novel pertamanya dan sekaligus merupakan buku pertama dari sebuah seri yang diberinya nama “Novel berseri petualangan jagad raya : Sandi Semesta”
Yang menjadi dasar dari novel berseri ini adalah sebuah rangkaian peristiwabencana alam sangat dahsyat yang terjadi akibat ledakan kataklismik Gunung Sunda Purba dan Gunung Toba Purba antara 100.000 hingga 50.000 tahun yg lalu. Efek dari Bencana tersebut </span>ternyata memancarkan badaipartikel unik. Badai partikel tersebut terus merambat dan melintasi ruang antarbintang dan mengarah ke suatu sector yang berjarak 36.200 tahun cahaya dari pusat galaksi Bimasakti.
Badai partikel itu akhirnya menghantam bintang Sactir yang berada di kawasan Global Cluster NGC-6101. Ada 10 planet yang mengitari bintang Sactir. Planet kedua dan ketiga terpanggang habis. Namun ada satu planet yang tak terkena bencana dimana di atas planet tersebut ada kehidupan dengan 600 juta jiwa dengan teknologi antarbintang yang canggih. Mereka adalah bangsa Sactirion. Mereka mengira bencana ini diakibatkan oleh sebuah peradaban di bumi sehingga mereka menyiapkan armada perang untuk menghantam bumi dan isinya.
Pada tahun 2056 sebuah pesan dari galaksi lain yang tidak diketahui darimana berasal sampai ke Bumi tepatnya pusat luar angkasa Indonesia. Saat itu Indonesia dikisahkan telah menjadi negara yang sangat maju dalam bidang IPTEK khususnya dalam hal teknologi ruang angkasa dimana Ciwidey – Bandung yang menjadi sentral penelitian ruang angkasa. Karena isi dari pesan itu belum mampu dipecahkan dan khawatir merupakan pesan penting dari kehidupan lain maka para ilmuwan dan petinggi negeri secara rahasia mengadakan rapat darurat untuk mencoba memahami isi pesan tersebut.
Lalu kisah dalam novel ini mundur ke tahun 2016-2037 yang mencertiakan sepak terjang dua orang mahasiswa INTERAIN (Institut Ruang Angkasa Indonesia)yang berlokasi di Ciwidei Bandung bernama Sandi Semesta dan Mira Darwis.Sandi Semesta adalah mahasiswa cerdas yang lahir dari keluarga sederhana. Sedangkan Mira Lesmana adalah putri seorang konglomerat yang memiliki pengaruh luas dan banyak membiayai proyek-proyek luar angkasa Indonesia.
Awalnya keduanya tidak saling mengenal namun sebuah persitiwa perkelahian antara dua geng pemuda yang melibatkan Mira Darwisyang saat itu sedang berpacaran dengan salah satu pimpinan geng tersebut akhirnya membuat mereka bertemu karena secara tidak disengaja Sandi Semesta menyelamatkan Mira dari kejaran anggota geng yang memusuhinya. Setelah kejadian itu Mira putus dengan pacarnya dan lambat laun tumbuh rasa cinta antara Sandi dan Mira
Bertahun-tahun kemudian di jagad raya sana dimana para Dewan Devara yang dalam novel ini dikisahkan menjadi semacam entitas yang mengatur kendali semesta tengah terjadi perselisihan pendapat soal pengaturan semesta raya, pertengkaran mereka mengakibatkan salah satu Dewan Devara yang bernama Bara keluar dengan membawa niat untuk mempengaruhi dan menguasai dewan devara yang ada.
Devara Bara berniat turun ke bumi untuk melakukan hal-hal jahat, niat ini diketahui oleh anggota dewan Devara lain. Devata Talmis yang mengetahui bahwa Bara sedang melakukan aktivitas berbahaya di dalam ruang yang sudah lama diciptakannya di gua Belanda area Taman Hutan Raya Dago, Bandung segera mengejarnya.
Pertemuan mendadak antara dua entitas tersebut menyebabkan kota Bandung dilanda guncangan gempa hebat berkekuatan 6.2 SR. Planet bumi seakan shock akibat peremuan dua kekuatan dahsyat yang muncul spontan di permukaannya. Saat itu kebetulan Mira Darwis dan keluarganya sedang mengunjungi Gua Belanda di Tahura dengan ditemani Dewi yang adalah adik dari Sandi Semesta. Gempa berkekuatan besar itu menyebabkan mulut gua hancur dan mereka terperangkap dalam gua. Mira beserta keluarga bisa selamat keluar dari gua namun Dewi masih terperangkap di dalam.
Sandi Semesta berusaha mencari keberadaan Dewi namun sialnya ia bertemu dengan Bara yang menyandera Dewi, mereka berkelahi dan Sandi terluka parah. Dalam keadaan terluka parah Sandi ‘diambil’ oleh Devara Talmis sedangkan Dewi tetap menjadi sandera Devara Bara. Dengan demikian Sandi dan Dewi tak pernah ditemukan dan dikabarkan hilang dan mati terperangkap dalam gua yang runtuh.
Hilangnya Sandi dan Dewi membuat Mira merasa bersalah, karenanya Mira dengan bantuan orang tuanya melakukan proyek besar-besaran di gua Belanda untuk menemukan Sandi dan Dewi, jikapun tidak ia berharap dapat menemukan jasad mereka berdua. Namun proyek tersebut akhirnya membawa Mira pada sebuah temuan aneh di dalam gua yang berasal dari peradaban yang lebih maju dari manusia. Dan hal ini akan membawa Mira pada sebuah petualangan yang menakjubkan ke sebuah galaksi lain yang tidak mungkin akan ia lupakan.
Sementara di galaksi lain Sandi digembleng oleh Devara Talmis untuk menggantikan posisi Devara Bara. Sandi terus belatih sambil berharap jika kemampuannya telah memadai ia akan mengejar Bara dan menyelamatkan Dewi. Selain itu ada misi lain yang harus diemban oleh Sandi yaitu mencegah terjadinya pertempuran besar-besaran antara bangsa Sactrion dan penduduk bumi.
Secara umum novel ini memang menarik dan ini adalah novel Sci Fiction yang sesungguhnya dimana materi-materi sci-fic tidak hanya sekedar tempelan melainkan menjadi bagian dari sebuah kisah besar yang hendak dibangun oleh penulisnya. Penulis tampaknya tak canggung-canggung untuk mengisahkan kisahnya ini dengan setting di Bandung, Indonesia yang dikisahkan memiliki infrastruktur dan SDM yang hebat dalam teknologi ruang angkasa .
Walau novel ini adalah rekaan belaka namun penulis mendasari semua itu berdasarkan referensi ilmiah sehingga tak menimbulkan kesan sebagai kisah dari negeri khayalan. Apa-apa yang dituliskan mengenai teknologi komunikasi, transportasi, navigasi antara planet, dll dideskpripsikan dengan cukup mendetail sehingga seolah-olah teknologi itu sudah ada dan diterapkan padahal kenyataannya mungkin baru sekedar wacana atau prototipe saja. Namun karena didasarkan pada hal-hal yang ilmiah maka rasanya bukan tak masuk akal bisa di masa depan semua yang terdapat dalam novel ini akan terwujud juga.
Selain memaparkan kehebatan-kehebatan peralatan, pesawat, dan teknologi ruang angkasa yang sudah sangat maju dan, serunya duel antara Sandi dan Bara di Betelgeuse, kisah pertempuran antara pasukan bumi dan mahluk asing novel ini juga menyajikan dialog-dialog filosofis perihal keberadaan alam semesta antara tokoh Sandi dan Devara Talmis sehingga hal ini akan membuka cara berpikir dan wawasan pembaca dalam memaknai alam semesta.
Novel gemuk ini sepertinya memang mencoba memuaskan pembacanya dengan berbagai hal, selain materi sci fiction, penulis juga memasukkan unsur kisah asmara dandunia mahasiswa layaknya sebuah novel roman, mungkin hal ini dimaksudkan agar pembaca tak bosanmembaca novel sci fiction setebal 492 halaman. Namun justru di bagian ini saya rasa ada banyak hal yang terlalu didalami oleh penulis yang mungkin seharusnya bisa dipangkas agar novel ini bisa menjadi lebih ramping dan tidak berlarut-larut dalam kisah yang mungkin bisa mengaburkan pembacanya dari tema sentral novel ini.
Contohnya saat Sandi menolong keluarga kaya dari perampokan, lalu deskripsi keseharian Sandi dan kawan-kawannya di kampus, dan konflik antara dua geng pemuda.Saya rasa bagian ini bisa dipangkas lebih ringkas lagi sehingga pembaca bisa diajak langsung masuk ke inti kisah. Karena judul novel ini adalah Betelguese Incident : Insident di bait al-zura tentunya sejak awal pembaca umumnya akan bertanya-tanya ada insiden apa di Al Zura? Sedangkan di novel ini peritiwa di bait Al zura sendiri baru muncul di bagian-bagian akhir itupun tak banyak.
Sayangnya juga di bagian ketika menceritakan dunia mahasiswa Sandi dan Mira, penulis tak mengeksplorasi perangkat-perangkat teknologi yang mereka pakai saat itu. Kalau saja di bagian ini diceritakan bagaimana teknologi hp, computer, dan gadget2 lain di masa itu tentunya akan lebih menarik lagi.
Setting waktu yang bolak balik antara tahun 2026, 2057, 2032 dan kisahnya yang kompleks juga menuntut pembaca untuk lebih konsentrasi membaca novel ini. Ada beberapa bagian yang tak tuntas tapi memang sepertinya harus seperti itu karena ini merupakan buku pertama dari sebuah novel berseri dan kita baru akan bisa menemukan sebuah gambaran utuh jika sudah membaca seluruh seri dari novel ini. Semoga kemunculan judul berikutnya bisa terbit tak terlalu lama sebelum pembaca lupa akan apa yang telah dibacanya.
Terlepas dari hal-hal diatas ada banyak hal menarik dari novel ini. Dengan cerdas penulis juga mencoba memadukan kondisi geografis sunda kuno dengan misteri semesta yang belum terpecahkan. Penulis tampaknya berhasil menciptakan kisah masa depan yang didasarinya dari peristiwa-peristiwa geologi yang terjadi di Nusantara ribuan tahun yang lampau
Dan yang luar biasa, seperti telah saya ungkap diatas tak canggung-canggung menuliskan kisahnya dengan sangat Indonesia sehingga ada semangat optimisme yang hendak disampaikan bahwa Indonesia akan menjadi Negara maju di bidang teknologi ruang angkasa. Sebenarnya bisa saja penulis menuliskan setting kisahnya di negera maju atau di Negara antah berantah namun penulis dengan percaya diri meghadirkan setting kisahnya di Indonesia tepatnya di Bandung di kota yang pernah memberinya ide-ide sinpiratif di perjalanan hidupnya.
Toba Beta sedang menciptakan mimpi-mimpi masa depan bagi Indonesia. Akankah 40-50 tahun lagi Indonesia akan sedemikian majunya seperti dalam novel ini. Mimpi telah ditulis dan ditawarkan bagi kita dan generasi di masa depan, tinggal apakah kita mau bersuaha meraih mimpi itu?
Selain itu melihat betapa seriusnya penulis menggarap novel ini saya merasa jika penulis konsisten untuk menulis di jalur ini dan memiliki nafas panjang untuk melanjutkan judul-judul selanjutanya saya percaya ini akan menjadi era kebangkitan genre Sci Fiction lokal yang lama tenggelam dan tak terdengar di khazanah sastra tanah air.
@htanzil

IncidentPenulis: Toba Beta | Penerbit: PT. Bumi  joInitama Semesta | Cetakan: I, Juni 2010 | Tebal: 492 hlm

Oleh Tanzil Hernadi

Betelgeuse adalah adalah bintang yang terletak 427 tahun cahaya dari Bumi. Bintang ini merupakan bintang paling terang kedua di rasi bintang Orion dan bintang paling terang kesembilan pada langit malam. Nama Betelgeuse berasal dari kata Bait al-Jauzā, berasal daribahasa Arab yang berarti “rumah sang raksasa”.

Bintang yang menurut para ahli astronomi sedang mendekati kehancurannya dan dapat membengkak 100 kali lipat sebelum meledak ini oleh Toba Beta dijadikan judul sebuah novel science fiction Sebuah genre yang boleh dibilang masih jarang digarap oleh penulis-penulis lokal. Ini adalah novel pertamanya dan sekaligus merupakan buku pertama dari sebuah seri yang diberinya nama “Novel berseri petualangan jagad raya : Sandi Semesta”

Yang menjadi dasar dari novel berseri ini adalah sebuah rangkaian peristiwabencana alam sangat dahsyat yang terjadi akibat ledakan kataklismik Gunung Sunda Purba dan Gunung Toba Purba antara 100.000 hingga 50.000 tahun yg lalu. Efek dari Bencana tersebut ternyata memancarkan badai partikel unik. Badai partikel tersebut terus merambat dan melintasi ruang antarbintang dan mengarah ke suatu sector yang berjarak 36.200 tahun cahaya dari pusat galaksi Bimasakti.

Badai partikel itu akhirnya menghantam bintang Sactir yang berada di kawasan Global Cluster NGC-6101. Ada 10 planet yang mengitari bintang Sactir. Planet kedua dan ketiga terpanggang habis. Namun ada satu planet yang tak terkena bencana dimana di atas planet tersebut ada kehidupan dengan 600 juta jiwa dengan teknologi antarbintang yang canggih. Mereka adalah bangsa Sactirion. Mereka mengira bencana ini diakibatkan oleh sebuah peradaban di bumi sehingga mereka menyiapkan armada perang untuk menghantam bumi dan isinya.

Pada tahun 2056 sebuah pesan dari galaksi lain yang tidak diketahui darimana berasal sampai ke Bumi tepatnya pusat luar angkasa Indonesia. Saat itu Indonesia dikisahkan telah menjadi negara yang sangat maju dalam bidang IPTEK khususnya dalam hal teknologi ruang angkasa dimana Ciwidey – Bandung yang menjadi sentral penelitian ruang angkasa. Karena isi dari pesan itu belum mampu dipecahkan dan khawatir merupakan pesan penting dari kehidupan lain maka para ilmuwan dan petinggi negeri secara rahasia mengadakan rapat darurat untuk mencoba memahami isi pesan tersebut.

Lalu kisah dalam novel ini mundur ke tahun 2016-2037 yang mencertiakan sepak terjang dua orang mahasiswa INTERAIN (Institut Ruang Angkasa Indonesia)yang berlokasi di Ciwidei Bandung bernama Sandi Semesta dan Mira Darwis.Sandi Semesta adalah mahasiswa cerdas yang lahir dari keluarga sederhana. Sedangkan Mira Lesmana adalah putri seorang konglomerat yang memiliki pengaruh luas dan banyak membiayai proyek-proyek luar angkasa Indonesia.

Awalnya keduanya tidak saling mengenal namun sebuah persitiwa perkelahian antara dua geng pemuda yang melibatkan Mira Darwisyang saat itu sedang berpacaran dengan salah satu pimpinan geng tersebut akhirnya membuat mereka bertemu karena secara tidak disengaja Sandi Semesta menyelamatkan Mira dari kejaran anggota geng yang memusuhinya. Setelah kejadian itu Mira putus dengan pacarnya dan lambat laun tumbuh rasa cinta antara Sandi dan Mira

Bertahun-tahun kemudian di jagad raya sana dimana para Dewan Devara yang dalam novel ini dikisahkan menjadi semacam entitas yang mengatur kendali semesta tengah terjadi perselisihan pendapat soal pengaturan semesta raya, pertengkaran mereka mengakibatkan salah satu Dewan Devara yang bernama Bara keluar dengan membawa niat untuk mempengaruhi dan menguasai dewan devara yang ada.

Devara Bara berniat turun ke bumi untuk melakukan hal-hal jahat, niat ini diketahui oleh anggota dewan Devara lain. Devata Talmis yang mengetahui bahwa Bara sedang melakukan aktivitas berbahaya di dalam ruang yang sudah lama diciptakannya di gua Belanda area Taman Hutan Raya Dago, Bandung segera mengejarnya.

Pertemuan mendadak antara dua entitas tersebut menyebabkan kota Bandung dilanda guncangan gempa hebat berkekuatan 6.2 SR. Planet bumi seakan shock akibat peremuan dua kekuatan dahsyat yang muncul spontan di permukaannya. Saat itu kebetulan Mira Darwis dan keluarganya sedang mengunjungi Gua Belanda di Tahura dengan ditemani Dewi yang adalah adik dari Sandi Semesta. Gempa berkekuatan besar itu menyebabkan mulut gua hancur dan mereka terperangkap dalam gua. Mira beserta keluarga bisa selamat keluar dari gua namun Dewi masih terperangkap di dalam.

Sandi Semesta berusaha mencari keberadaan Dewi namun sialnya ia bertemu dengan Bara yang menyandera Dewi, mereka berkelahi dan Sandi terluka parah. Dalam keadaan terluka parah Sandi ‘diambil’ oleh Devara Talmis sedangkan Dewi tetap menjadi sandera Devara Bara. Dengan demikian Sandi dan Dewi tak pernah ditemukan dan dikabarkan hilang dan mati terperangkap dalam gua yang runtuh.

Hilangnya Sandi dan Dewi membuat Mira merasa bersalah, karenanya Mira dengan bantuan orang tuanya melakukan proyek besar-besaran di gua Belanda untuk menemukan Sandi dan Dewi, jikapun tidak ia berharap dapat menemukan jasad mereka berdua. Namun proyek tersebut akhirnya membawa Mira pada sebuah temuan aneh di dalam gua yang berasal dari peradaban yang lebih maju dari manusia. Dan hal ini akan membawa Mira pada sebuah petualangan yang menakjubkan ke sebuah galaksi lain yang tidak mungkin akan ia lupakan.

Sementara di galaksi lain Sandi digembleng oleh Devara Talmis untuk menggantikan posisi Devara Bara. Sandi terus belatih sambil berharap jika kemampuannya telah memadai ia akan mengejar Bara dan menyelamatkan Dewi. Selain itu ada misi lain yang harus diemban oleh Sandi yaitu mencegah terjadinya pertempuran besar-besaran antara bangsa Sactrion dan penduduk bumi.

Secara umum novel ini memang menarik dan ini adalah novel Sci Fiction yang sesungguhnya dimana materi-materi sci-fic tidak hanya sekedar tempelan melainkan menjadi bagian dari sebuah kisah besar yang hendak dibangun oleh penulisnya. Penulis tampaknya tak canggung-canggung untuk mengisahkan kisahnya ini dengan setting di Bandung, Indonesia yang dikisahkan memiliki infrastruktur dan SDM yang hebat dalam teknologi ruang angkasa .

Walau novel ini adalah rekaan belaka namun penulis mendasari semua itu berdasarkan referensi ilmiah sehingga tak menimbulkan kesan sebagai kisah dari negeri khayalan. Apa-apa yang dituliskan mengenai teknologi komunikasi, transportasi, navigasi antara planet, dll dideskpripsikan dengan cukup mendetail sehingga seolah-olah teknologi itu sudah ada dan diterapkan padahal kenyataannya mungkin baru sekedar wacana atau prototipe saja. Namun karena didasarkan pada hal-hal yang ilmiah maka rasanya bukan tak masuk akal bisa di masa depan semua yang terdapat dalam novel ini akan terwujud juga.

Selain memaparkan kehebatan-kehebatan peralatan, pesawat, dan teknologi ruang angkasa yang sudah sangat maju dan, serunya duel antara Sandi dan Bara di Betelgeuse, kisah pertempuran antara pasukan bumi dan mahluk asing novel ini juga menyajikan dialog-dialog filosofis perihal keberadaan alam semesta antara tokoh Sandi dan Devara Talmis sehingga hal ini akan membuka cara berpikir dan wawasan pembaca dalam memaknai alam semesta.

Novel gemuk ini sepertinya memang mencoba memuaskan pembacanya dengan berbagai hal, selain materi sci fiction, penulis juga memasukkan unsur kisah asmara dandunia mahasiswa layaknya sebuah novel roman, mungkin hal ini dimaksudkan agar pembaca tak bosanmembaca novel sci fiction setebal 492 halaman. Namun justru di bagian ini saya rasa ada banyak hal yang terlalu didalami oleh penulis yang mungkin seharusnya bisa dipangkas agar novel ini bisa menjadi lebih ramping dan tidak berlarut-larut dalam kisah yang mungkin bisa mengaburkan pembacanya dari tema sentral novel ini.

Contohnya saat Sandi menolong keluarga kaya dari perampokan, lalu deskripsi keseharian Sandi dan kawan-kawannya di kampus, dan konflik antara dua geng pemuda.Saya rasa bagian ini bisa dipangkas lebih ringkas lagi sehingga pembaca bisa diajak langsung masuk ke inti kisah. Karena judul novel ini adalah Betelguese Incident : Insident di bait al-zura tentunya sejak awal pembaca umumnya akan bertanya-tanya ada insiden apa di Al Zura? Sedangkan di novel ini peritiwa di bait Al zura sendiri baru muncul di bagian-bagian akhir itupun tak banyak.

Sayangnya juga di bagian ketika menceritakan dunia mahasiswa Sandi dan Mira, penulis tak mengeksplorasi perangkat-perangkat teknologi yang mereka pakai saat itu. Kalau saja di bagian ini diceritakan bagaimana teknologi hp, computer, dan gadget2 lain di masa itu tentunya akan lebih menarik lagi.

Setting waktu yang bolak balik antara tahun 2026, 2057, 2032 dan kisahnya yang kompleks juga menuntut pembaca untuk lebih konsentrasi membaca novel ini. Ada beberapa bagian yang tak tuntas tapi memang sepertinya harus seperti itu karena ini merupakan buku pertama dari sebuah novel berseri dan kita baru akan bisa menemukan sebuah gambaran utuh jika sudah membaca seluruh seri dari novel ini. Semoga kemunculan judul berikutnya bisa terbit tak terlalu lama sebelum pembaca lupa akan apa yang telah dibacanya.

Terlepas dari hal-hal diatas ada banyak hal menarik dari novel ini. Dengan cerdas penulis juga mencoba memadukan kondisi geografis sunda kuno dengan misteri semesta yang belum terpecahkan. Penulis tampaknya berhasil menciptakan kisah masa depan yang didasarinya dari peristiwa-peristiwa geologi yang terjadi di Nusantara ribuan tahun yang lampau

Dan yang luar biasa, seperti telah saya ungkap diatas tak canggung-canggung menuliskan kisahnya dengan sangat Indonesia sehingga ada semangat optimisme yang hendak disampaikan bahwa Indonesia akan menjadi Negara maju di bidang teknologi ruang angkasa. Sebenarnya bisa saja penulis menuliskan setting kisahnya di negera maju atau di Negara antah berantah namun penulis dengan percaya diri meghadirkan setting kisahnya di Indonesia tepatnya di Bandung di kota yang pernah memberinya ide-ide sinpiratif di perjalanan hidupnya.

Toba Beta sedang menciptakan mimpi-mimpi masa depan bagi Indonesia. Akankah 40-50 tahun lagi Indonesia akan sedemikian majunya seperti dalam novel ini. Mimpi telah ditulis dan ditawarkan bagi kita dan generasi di masa depan, tinggal apakah kita mau bersuaha meraih mimpi itu?

Selain itu melihat betapa seriusnya penulis menggarap novel ini saya merasa jika penulis konsisten untuk menulis di jalur ini dan memiliki nafas panjang untuk melanjutkan judul-judul selanjutanya saya percaya ini akan menjadi era kebangkitan genre Sci Fiction lokal yang lama tenggelam dan tak terdengar di khazanah sastra tanah air.

@htanzil

Karamazov Bersaudara | Dostoevsky (Novel Grafis)

karamazov

Judul: Karamazov Bersaudara (Novel Grafis)
Penulis: Dostoevsky
Penerjemah: Isao Arief
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tebal: 382 hlm
Oleh: Hernadi Tanzil
Buku Ini adalah novel grafis/komik yang diadaptasi dari salah satu karya monumental Vyodor Dostoevsky “Karamazov Brother”. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau salah satu masterpiece Dostoyevsky itu bisa diadaptasi ke dalam novel grafis, karenanya begitu melihat bukunya di rak buku komik di TB Gramedia saya langsung membelinya. Ketebalan komiknya juga membuat saya tertantang untuk membacanya. Dikemas dalam ukuran novel komik ini memiliki ketebalan 382 halaman! Wow! Belum pernah rasanya melihat dan membaca komik setebal itu dalam satu buku.
Yang juga membuat saya penasaran adalah pertanyaan bagaimana mungkin sebuah novel serius karya novelis Rusia ini bisa diadaptasi ke dalam komik? Mampukah panel-panel gambar dan kata-kata dalam balon gambarnya ini menyampaikan intisari novel setebal 700-an halaman ke dalam sebuah komik tebal.
Tadinya saya penasaran siapa komikus yang mengadaptasi Kamarazov Brother ke dalam bentuk komik, ternyata setelah melihat halaman copyright nya tak tertulis satu namapun kecuali nama pemegang copyrightnya yaitu VARIETY ART WORKS, EAST PRESS., LTD, Tokyo Japan.
Kisahnya sendiri menceritakan masa muda Aluysha, tokoh utama dan putra ketiga keluarga Karamazov. Ayahnya, Fyodor Karamazov adalah pria miskin yang kemudian menjadi kaya, dan memiliki tanah sehingga menjadi bangsawan dan memiliki istri yang cantik. Namun Fyodor bukanlah pria baik-baik, ia memiliki moral yang bejat, di depan istinya ia kerap bermain wanita dan minum minuman keras. Tak tahan dengan kelakuan suaminya, istrinya melarikan diri. Fyodor tak berubah, istri keduanya menjadi gila dan meninggal dunia, namun ia tak juga jera dan terus hidup seenaknya. Ia terus menumpuk harta, bermain wanita dan minum minuman keras.
Di tengah kehidupan bejat seperti itulah lahir ketiga anaknya, ia tega meninggalkan anak-anaknya dan terus hidup bersenang-senang dengan harta dan wanita-wanitanya sehingga ketiga anak-anaknya ini diasuh oleh keluarga yang berbeda sehingga masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Putra sulungnya, Dimitri adalah sosok pemberani yang menjadi tentara, seperti ayahnya ia suka bersenang-senang dan emosional. Ivan, putra kedua menimba ilmu di Moskow dan menjadi intelektual atheis. Dan yang terakhir adalah Aloyshia, pemuda yang baik hati, polos dan memutuskan untuk menjalani kehidupannya di biara.
Suatu saat sang ayah mengumpulkan ketiga anak-anaknya dan menyatakan bahwa ia akan menikah kembali. Foyodor juga menyatakan bahwa kini ia membutuhkan banyak uang karenanya ia tak akan memberikan satu rubel pun uangnya pada ketiga anaknya. Ivan dan Aloyshia tak keberatan dengan keinginan ayahnya namun Dimitri menolaknya apalagi setelah diketahui bahwa wanita yang ingin dinikahi oleh ayahnya adalah Grushenka yang masih menjadi kekasih Dimitri.
Pertemuan ayah dan ketiga anaknya itu menjadi ricuh karena baik Fyodor maupun dimitri saling mempertahankan keinginannya, ayah dan anak teribat perkelahian bahkan hampir saja Dimitri membunuh ayahnya sendiri. Beruntung perkelahian itu berhasil dicegah, Dimitri meninggalkan ayahnya dengan membawa dendam di hatinya dan ia tetap bertekad untuk menghalangi niat ayahnya untuk menikahi kekasih hatinya.
Dari peristiwa inilah kisah keluarga Karamazov berkembang, masing-masing tokoh kelak memiliki konfliknya sendiri-sendiri. Selain kakak beradik Karamazov muncul pula tokoh-tokoh lain yang ikut mewarnai kisah ini. Seperti yang menjadi ciri khas novel2 Dostoyevsky maka aspek psikologis tokoh-tokohnya begitu kental mewarnai sekujur tubuh komik ini.
Tak hanya itu, dengan membaca Karamazov bersaudara ini pembaca diajak memahami situasi sosial dan politik Rusia di abad 19 dimana kebebasan mulai berani diekspresikan namun ketidak adilan masih dirasakan sehingga mulai menimbulkan konflik antara para bangsawan dan rakyat kecil yang saat itu mulai dipengaruhi oleh gerakan komunisme.
Kembali ke pertanyaan di atas, mampukah komik ini mengadaptasi novel serius yg merupakan salah satu masterpiece Dostoevsky? Saya belum pernah membaca versi novelnya jadi saya tak bisa membandingkan antara komik ini dengan novelnya. Namun demikian walau kisah dan karakter tokoh-tokohnya kompleks dan saya tidak terbiasa membaca komik setebal ini saya tetap bisa memahami keseluruhan kisahnya.
Selain kisahnya yang menarik gambaran ekspresi wajah tokoh-tokohnya juga digambarkan dengan begitu baik sehingga mampu menggambarkan karakter dan situasi hati dari masing-masing tokoh2nya sehingga pembaca akan ikut larut dalam dramatisasi kisah yang terdapat dalam buku ini. Penyajian panel-panel gambarnyapun dibuat demikian dinamis, dalam satu halaman bisa terdiri dari 3 sampai 7 panel gambar. Atau kadang ada yang hanya berisi satu atau dua panel saja, bahkan ada dua halaman sekaligus yang hanya berisi satu panel gambar wajah tokohnya sehingga emosi dari si tokoh tergambar dengan jelas.
Terbitnya karya Dostevsky ini dalam bentuk komik ini patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Novel Karamazov Bersaudara ini hingga kini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Walau kini hadir dalam bentuk komik namun setidaknya ini adalah langkah awal untuk mengenalkan karya ini ke pembaca Indonesia sebelum membaca novelnya.
Selain Karamazov Bersaudara, penerbit Elexmedia juga menerjemahkan komik-komik yang diadaptasi dari karya2 sastra dunia dalam seri ‘World Masterpiece’ antara lain Metamorphosis (Kafka), Crime and Punishment (Dostoevsky), King Lear (Shaskepheare), dan sebagainya.
Tentunya kehadiran komik-komik seri World Masterpiece ini sedikit banyak dapat mempopulerkan karya-karya sastra klasik dunia ke pasar pembaca yang lebih luas lagi sehingga karya2 besar ini tak hanya dibaca oleh segelintir pembaca sastra saja tapi dapat juga dibaca dan dipahami oleh pembaca umum. Karena pasar komik manga lebih didominasi oleh pembaca remaja tentu saja akan jadi hal yang positif jika karya2 klasik dunia ini dapat dibaca oleh para remaja yang selama ini membaca Naruto, One Piece, Kungfu Boy, dll.
@htanzil

Judul: Karamazov Bersaudara (Novel Grafis)

Penulis: Dostoevsky

Penerjemah: Isao Arief

Penerbit: Elexmedia Komputindo

Tebal: 382 hlm

Oleh: Hernadi Tanzil

Buku Ini adalah novel grafis/komik yang diadaptasi dari salah satu karya monumental Vyodor Dostoevsky “Karamazov Brother”. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau salah satu masterpiece Dostoyevsky itu bisa diadaptasi ke dalam novel grafis, karenanya begitu melihat bukunya di rak buku komik di TB Gramedia saya langsung membelinya. Ketebalan komiknya juga membuat saya tertantang untuk membacanya. Dikemas dalam ukuran novel komik ini memiliki ketebalan 382 halaman! Wow! Belum pernah rasanya melihat dan membaca komik setebal itu dalam satu buku.

Yang juga membuat saya penasaran adalah pertanyaan bagaimana mungkin sebuah novel serius karya novelis Rusia ini bisa diadaptasi ke dalam komik? Mampukah panel-panel gambar dan kata-kata dalam balon gambarnya ini menyampaikan intisari novel setebal 700-an halaman ke dalam sebuah komik tebal.

Tadinya saya penasaran siapa komikus yang mengadaptasi Kamarazov Brother ke dalam bentuk komik, ternyata setelah melihat halaman copyright nya tak tertulis satu namapun kecuali nama pemegang copyrightnya yaitu VARIETY ART WORKS, EAST PRESS., LTD, Tokyo Japan.

Kisahnya sendiri menceritakan masa muda Aluysha, tokoh utama dan putra ketiga keluarga Karamazov. Ayahnya, Fyodor Karamazov adalah pria miskin yang kemudian menjadi kaya, dan memiliki tanah sehingga menjadi bangsawan dan memiliki istri yang cantik. Namun Fyodor bukanlah pria baik-baik, ia memiliki moral yang bejat, di depan istinya ia kerap bermain wanita dan minum minuman keras. Tak tahan dengan kelakuan suaminya, istrinya melarikan diri. Fyodor tak berubah, istri keduanya menjadi gila dan meninggal dunia, namun ia tak juga jera dan terus hidup seenaknya. Ia terus menumpuk harta, bermain wanita dan minum minuman keras.

Di tengah kehidupan bejat seperti itulah lahir ketiga anaknya, ia tega meninggalkan anak-anaknya dan terus hidup bersenang-senang dengan harta dan wanita-wanitanya sehingga ketiga anak-anaknya ini diasuh oleh keluarga yang berbeda sehingga masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Putra sulungnya, Dimitri adalah sosok pemberani yang menjadi tentara, seperti ayahnya ia suka bersenang-senang dan emosional. Ivan, putra kedua menimba ilmu di Moskow dan menjadi intelektual atheis. Dan yang terakhir adalah Aloyshia, pemuda yang baik hati, polos dan memutuskan untuk menjalani kehidupannya di biara.

Suatu saat sang ayah mengumpulkan ketiga anak-anaknya dan menyatakan bahwa ia akan menikah kembali. Foyodor juga menyatakan bahwa kini ia membutuhkan banyak uang karenanya ia tak akan memberikan satu rubel pun uangnya pada ketiga anaknya. Ivan dan Aloyshia tak keberatan dengan keinginan ayahnya namun Dimitri menolaknya apalagi setelah diketahui bahwa wanita yang ingin dinikahi oleh ayahnya adalah Grushenka yang masih menjadi kekasih Dimitri.

Pertemuan ayah dan ketiga anaknya itu menjadi ricuh karena baik Fyodor maupun dimitri saling mempertahankan keinginannya, ayah dan anak teribat perkelahian bahkan hampir saja Dimitri membunuh ayahnya sendiri. Beruntung perkelahian itu berhasil dicegah, Dimitri meninggalkan ayahnya dengan membawa dendam di hatinya dan ia tetap bertekad untuk menghalangi niat ayahnya untuk menikahi kekasih hatinya.

Dari peristiwa inilah kisah keluarga Karamazov berkembang, masing-masing tokoh kelak memiliki konfliknya sendiri-sendiri. Selain kakak beradik Karamazov muncul pula tokoh-tokoh lain yang ikut mewarnai kisah ini. Seperti yang menjadi ciri khas novel2 Dostoyevsky maka aspek psikologis tokoh-tokohnya begitu kental mewarnai sekujur tubuh komik ini.

Tak hanya itu, dengan membaca Karamazov bersaudara ini pembaca diajak memahami situasi sosial dan politik Rusia di abad 19 dimana kebebasan mulai berani diekspresikan namun ketidak adilan masih dirasakan sehingga mulai menimbulkan konflik antara para bangsawan dan rakyat kecil yang saat itu mulai dipengaruhi oleh gerakan komunisme.

Kembali ke pertanyaan di atas, mampukah komik ini mengadaptasi novel serius yg merupakan salah satu masterpiece Dostoevsky? Saya belum pernah membaca versi novelnya jadi saya tak bisa membandingkan antara komik ini dengan novelnya. Namun demikian walau kisah dan karakter tokoh-tokohnya kompleks dan saya tidak terbiasa membaca komik setebal ini saya tetap bisa memahami keseluruhan kisahnya.

Selain kisahnya yang menarik gambaran ekspresi wajah tokoh-tokohnya juga digambarkan dengan begitu baik sehingga mampu menggambarkan karakter dan situasi hati dari masing-masing tokoh2nya sehingga pembaca akan ikut larut dalam dramatisasi kisah yang terdapat dalam buku ini. Penyajian panel-panel gambarnyapun dibuat demikian dinamis, dalam satu halaman bisa terdiri dari 3 sampai 7 panel gambar. Atau kadang ada yang hanya berisi satu atau dua panel saja, bahkan ada dua halaman sekaligus yang hanya berisi satu panel gambar wajah tokohnya sehingga emosi dari si tokoh tergambar dengan jelas.

Terbitnya karya Dostevsky ini dalam bentuk komik ini patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Novel Karamazov Bersaudara ini hingga kini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Walau kini hadir dalam bentuk komik namun setidaknya ini adalah langkah awal untuk mengenalkan karya ini ke pembaca Indonesia sebelum membaca novelnya.

Selain “Karamazov Bersaudara”, penerbit Elexmedia juga menerjemahkan komik-komik yang diadaptasi dari karya2 sastra dunia dalam seri ‘World Masterpiece’ antara lain “Metamorphosis” (Kafka), “Crime and Punishment” (Dostoevsky), “King Lear” (Shaskepheare), dan sebagainya.

Tentunya kehadiran komik-komik seri World Masterpiece ini sedikit banyak dapat mempopulerkan karya-karya sastra klasik dunia ke pasar pembaca yang lebih luas lagi sehingga karya2 besar ini tak hanya dibaca oleh segelintir pembaca sastra saja tapi dapat juga dibaca dan dipahami oleh pembaca umum. Karena pasar komik manga lebih didominasi oleh pembaca remaja tentu saja akan jadi hal yang positif jika karya2 klasik dunia ini dapat dibaca oleh para remaja yang selama ini membaca Naruto, One Piece, Kungfu Boy, dll.

@htanzil

Historiografi Perbudakan | Anwar Thosibo (2002)

HistoriografiJudul : Historiografi Perbudakan, Sejarah Perbudakan diSulawesi Selatan Abad XIX
Penulis : Anwar Thosibo
Penerbit : Yayasan Indonesiatera
Cetakan : Pertama, Februari 2002
Halaman : 190 hlm

Riwayat Budak dari Sulawesi Selatan
Oleh: Dedy Ahmad Hermansyah

Sepanjang sejarah peradaban manusia, persoalan perbudakan seperti tak pernah alpa mewarnai setiap perjalanannya. Perbudakan menjadi sesuatu yang diperdebatkan, menyimpan kontradiksi-kontradiksi dalam dirinya sendiri: ia dianggap berjasa membangun peradaban, tapi sejarah dirinya sendiri kelam tanpa penerang.

Perbudakan, sebagai satu fenomena historis (sekaligus senantiasa aktual), mesti dipahami dalam perspektif yang lebih kontekstual. Sebab, pemahaman yang dangkal dalam melihat fenomena sosio-kultural tempat perbudakan itu hadir, akan membawa kita pada satu kesimpulan dangkal pula. Bahkan, kata ‘perbudakan’ itu sendiri mesti dibedah kembali, dari mana asal kata itu datang, jika kata itu hendak diuji kebsahannya pada satu wilayah yang berbeda.

Dalam perspektif itulah buku “Historiografi Perbudakan, Sejarah Perbudakan di Sulawesi Selatan Abad XIX” ditulis. Mengambil fokus tiga wilayah etnis: Bugis, Makassar dan Toraja. Keprihatinan penulis akan langkanya buku yang mejelaskan tentang perbudakan dari sudut pandang ‘Indonesia-sentris’, atau ‘etnis-sentris’, mendorongnya untuk menjelajahi fenomena perbudakan ‘dari dalam’, serta menguji konsep perbudakan yang kerap digunakan oleh kacamata Eropa untuk melihat perbudakan di Sulawesi Selatan. Usaha ini tentu saja tak bermaksud membela keberadaan perbudakan, melainkan mengajak kita lebih bisa memahami persoalan lebih dalam. Usaha ini juga tentu akan sangat berguna bagi mereka yang bergerak dalam aktifitas anti-perbudakan, agar dalam penyusunan agenda gerakan lebih kontekstual dan lebih efektif.

Buku ini menarik, selain alasan disebutkan sebelumnya—menggunakan sudut pandang Indonesia-sentris dan etno-sentris—juga, sebagaimana disebutkan dalam ‘Pengantar Penerbit’, dapat menjadi catatan sejarah kolonial, sebagai sejarah lokal, berguna juga dalam kajian sosial dan antropologi. Dari tiga alasan itu, kita akan memahami hubungan serta kaitan dan pengaruh antara kolonialisme dengan fenomena sosial dan budaya terkait dengan isu perbudakan.

Hubungan Vertikal Tuan-Hamba: Akar Praktek Perbudakan

Dalam naskah lontara Sulawesi Selatan, disebutkan bahwa masyarakat akan makmur bila anggotanya menempatkan di atas yang di atas, di bawah yang di bawah, di timur yang di timur, dan di barat yang di barat (hal. 89). Isi naskah lontara tersebut menjadi satu legitimasi tersendiri bagi satu hubungan vertikal dalam stratifikasi sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Hubungan bersifat hirarkis tersebut, dalam prakteknya penuh goncangan-goncangan, konflik-konflik, kontradiksi-kontradiksi.

Berangkat dari pola hubungan vertikal ini, Anwar Thosibo, penulis buku ini, mengajak kita menjelajah masuk ke dalam akar perbudakan di Sulawesi Selatan. Karakter-karakter serta pola interaksi antar aktor menjadi satu kekhasan tersendiri dalam usaha memahami perbudakan di Sulawesi Selatan.

Hubungan vertikal ini termanifestasi dalam hirarki tuan-hamba. Dalam masyarakat pertanian dikenal dengan ajoareng-joa, dan dalam masyarakat perdagangan dikenal dengan ponggawa-sawi. Ajoareng dan ponggawa adalah tuan yang berasal dari kelas bangsawan atau kelas terkemuka. Sementara joa dan sawi adalah pengikut yang berasal dari kelas bawah yang miskin atau hamba sahaya. Di antara tuan dan hamba, terjalin satu ikatan dan interaksi yang saling membutuhkan. Si hamba membutuhkan sang tuan untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari serta perlindungan, sebab itu ia harus menunjukkan kesetiaan kepada tuannya. Sang tuan harus memberi apa yang menjadi kebutuhan si hamba: perawatan, keamanan, makanan dan lain-lain. Yang penting diketahui: hubungan ini bersifat suka rela, artinya dapat diputuskan sewaktu-waktu. Hubungan bersifat suka rela ini, oleh masyarakat Sulawesi Selatan disebut dengan minawang (hal.78).Pola interaksi hirarkis ini kemudian diistilahkan dengan sistem kepengikutan.

Sistem pengikut ini merupakan unsur kunci dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Gagal memahami karakter-karakter dalam sistem ini, akan membawa kita pada kegagalan dalam melihat perbedaan nyata antara konsep perbudakan Eropa yang dibawa masuk ke dalam praktek perbudakan di Sulawesi Selatan. Mungkin istilah lokal untuk perbudakan adalah kasuwiang. Kasuwiang merupakan kepercayaan asli yang menunjuk pada laku perbuatan yang dijalani seorang hamba dalam usahanya mendekatkan diri kepada Tuhannya (hal. 166). Kasuwiang ini memiliki kemiripan kategori dengan perbudakan, tapi tak bisa dikatakan sama. Dalam perbudakan, hubungan tuan-hamba didasarkan nyata pada eksploitasi si hamba oleh sang tuan. Sementara dalam kasuwiang, hubungan tuan-hamba sedikit bersifat manusiawi, di mana sang tuan memliki kewajiban melindungi si hamba, dan si hamba memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada sang tuan.

Hubungan ini bahkan terkesan saling bekerja sama dan sangat akrab. Antara tuan dan hamba ada ikatan yang erat. Mereka saling membela dan melindungi jika salah satu pihak mendapat kesulitan atau bahaya. Jika harta seorang pengikut atau hamba dicuri, tuannya akan mengatakan, “hartaku dicuri.” (hal. 83).

Meski begitu, konflik kerap kali muncul antara tuan dan hamba. Hal ini terjadi biasanya jika si hamba merasa sang tuan tak mampu lagi memberi jaminan kebutuhan dan keamanan baginya dan keluarganya. Si hamba memiliki hak untuk pergi dan memutuskan hubungan sebagai pengikut si tuan.

Akan tetapi, kasus seperti itu jarang terjadi. Sistem pengikut dalam masyarakat Sulawesi Selatan begitu mengakar. Sekali ikatan minawang itu terjalin, sukar sekali untuk putus. Hamba yang terikat begitu erat dengan tuannya biasanya akan menunjukkan kesetiaan yang dalam untuk tuannya. Contoh paling nyata adalah cerita tentang Karaeng Bonto Kappang asal Maros. Suatu hari ia melarikan diri dari kejaran pasukan Belanda menggunakan perahu. Di tengah sungai ia tenggelam. Pengikut-pengikutnya yang mendiami sebuah kampung kecil di daerah Maros mendengar berita tentang tuan mereka. Mereka pun memutuskan untuk bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangan, tanda kesetiaan mereka kepada tuan mereka,Karaeng Bonto Kappang. Kampung itu pun dijuluki dengan kampung ‘turu bela’, artinya ‘ikut mati’. (hal. 84).

Budak: Barang Dagangan

Praktek perdagangan budak sebetulnya telah lama dijalankan jauh sebelum Belanda datang menaklukkan Sulawesi Selatan secara defintif pada 1667. Kerajaan-kerajaan besar yang menang perang akan mendapatkan tawanan. Para tawanan dari kerajaan yang dikalahkan, selain dijadikan budak kerajaan (oleh Belanda disebut Ornamen Slaven), juga dijual ke pulau-pulau seberang. Praktek perdagangan budak ini semakin marak dan merajalela seiring dengan meningkatnya aktifitas produksi barang hasil pertanian mau pun laut. Secara geografis, budak-budak yang dijual diambil dari pegununungan dibawa ke dataran rendah, dari kerajaan-kerajaan kecil ke kerajaan besar yang lebih kaya, dari masyarakat non-muslim ke masyarakat muslim.

Selain itu, maraknya perdagangan budak mulai muncul saat permintaan Belanda akan tenaga kerja meningkat. Belanda kekurangan tenaga kerja untuk dipekerjakan dalam geladak dan galangan kapal, di tempat-tempat kerajinan tangan, dan rumah-rumah pejabat, bahkan untuk mengisi lowongan ketentaraan pada tingkat rendahan (hal. 125). Garis distribusi penyaluran budak untuk Belanda melalui hirarki: lokal, regional, dan tempat penyaluran utama. Sampai dengan taraf tertentu, sistem hirarki ini memenuhi permintaan Belanda, yang tak pernah puas terhadap budak.

Praktek perdagangan perbudakan ini mendapat kritikan serius dari kelompok anti-perbudakan. Kelompok ini muncul dari kalangan liberal Belanda. Pada pokoknya, kaum liberal memperjuangkan kebebasan pribadi manusia dari segala bentuk penindasan dan pengungkungan oleh manusia atas manusia (hal. 145). Tokoh-tokoh yang vocal menyuarakan hal ini adalah Dirk van Hogendorp dan W.R. van Hoevell. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengkritik fenomena perbudakan ini dilakukan dalam banyak cara: tulisan dalam majalah dan buku, protes langsung ke pemerintah Belanda, menyusun konsep pembebasan budak kemudian diusulkan kepada pemerintahan Belanda. Namun, sesungguhnya, mendahului orang Belanda, Raffles telah menerapkan konsep anti-perbudakan saat Inggris menggantikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Sayangnya, karena umur kekuasaan Inggris yang singkat, yakni tahun 1812 hingga diambil alih kembali Belanda pada 1818, penerapan konsep itu tidak berjalan maksimal.

Usaha serius itu menghasilkan satu undang-undang tentang penghapusan perbudakan di seluruhNederland Indie yang dikeluarkan pada 7 Mei 1859. Dengan undang-undang ini, secara resmi perbudakan dihapuskan di seluruh Hindia Belanda sejak 1 Januari 1860. Praktek undang-undang ini melalui fase pendataan para budak, kemudian memberi ganti rugi kepada si pemilik budak. Fase ini diambil dengan terlebih dahulu melalui banyak rintangan dan halangan. Rintangan untuk penghapusan perbudakan itu adalah kekhawatiran terjadinya pemberontakan, disebabkan pemilik-pemilik budak adalah orang-orang berpengaruh, kaum bangsawan, yang salah satu penopang keberadaan dan status kebangsawanannya tergantung pada kepemilikan budak.

Akan tetapi, meski telah dibuat dan diberlakukan undang-undang tersebut, pengecualian diberlakukan untuk Sulawesi Selatan. Penindasan terhadap perbudakan pribumi sering dijadikan dalih untuk melakukan intervensi. Baru pada 1863 Belanda memperlihatkan kesungguhan dalam usaha menekan perbudakan di Makassar.

Rumah Arwah (House of Spirit) | Isabel Allende (2010)

Isabel AllendePenerjemah: Ronny Agustinus | Ukuran: 13.5 x 20 cm | Tebal: 600 halaman | Pertama, 1 Juni 2010

ARWAH PARA REZIM
Oleh Fahri Salam

Pada 1982, saat Nobel Sastra diberikan kepada Gabriel García Márquez untuk “penggambarannya yang kaya dengan kombinasi tuturan dongeng rakyat dan realitas, alusi dan kenyataan”, di tahun yang sama, Isabel Allende menerbitkan novel perdananya, La Casa de los Espiritus. Fiksi Allende menambah deretan generasi ‘post-boom’ – suatu gerakan kesusastraan Amerika Latin yang menjangkau dunia internasional dengan antusiasme yang lahap. Pionernya, Cien años de soledad, terbit pada 1967 dari tangan imajinasi Marquez yang mengenalkan realisme magis – pendekatan fiksi dengan menggabungkan realitas dan fantasi.

Jika Gabo mengenalkan Macondo, latar fiktif bagi keluarga Buenda, kisah perjuangan politik di tengah terpaan penindasan dan eksploitasi ekonomi, maka Allende mengenalkan latar negara Latin (alusi untuk Chile) – plus ladang pertanian bernama Tres Marias – dalam kurun pergolakan politik modern sesudah Perang Dunia melalui hikayat keluarga Trueba. Berfokus pada tahun-tahun pergulatan ideologi dunia, sama halnya Soledad, Allende menghembuskan nafas humanisme kepada tokoh-tokohnya dalam Espiritus.

Abad 20 memang penuh gejolak. Sesudah Perang Dunia, geopolitik antara blok Timur dan Barat mengubah peta nasib untuk jutaan umat manusia yang lahir di Dunia Ketiga. Jika kurun nasionalisme membentuk kesadaran akan pahitnya kolonialisme berselimut rasialisme, maka kurun berikutnya adalah kampanye “menangkal bahaya komunisme” untuk Asia, Afrika dan Amerika Latin. Ini era di mana sebagian umat dunia terpaksa mengungsi dari tanah lahir mereka; mereka terusir, mereka hilang secara paksa, mereka memangul senjata, mereka terpisah dari garis keturunan akibat fragmentasi keyakinan politik.

Kaum kiri di Indonesia, sebagian besar di Jawa dan Bali, harus tunggang-langgang mengemasi nyawanya pada 1965. Antara 500,000 hingga 2 juta orang terbunuh. Bagi mereka yang selamat, dituduh simpatisan dan anggota komunis, pemerintahan baru bentukan restu kepentingan modal – kolonialisme baru berkedok kapitalisme – membuka saluran modernisasi wilayah tak bernama Pulau Buru. Ini sebuah lokus isolasi di Kepulauan Maluku bagi sedikitnya 14,000 tahanan politik yang dipaksa mengeraskan otot-ototnya selama setidaknya 10 tahun dalam sistem kamp konsentrasi.

Pada 1974, Timor Leste dipaksa telentang di bawah boot tentara, yang kebanyakan dikirim dari Pulau Jawa. Hingga 1999, jumlah korban mati di negara baru itu sedikitnya 183,000 selama pendudukan ala teknokratisasi militer Indonesia.

Di Amerika Latin, hal sama pun berulang, tak terkecuali Chile. Upaya pendukung militer, terutama dari Amerika Serikat, telah menyalin mentah-mentah apa yang sudah dipraktikkan di Jakarta. Pada September 1973, militer mengkudeta pemerintahan sah presiden sosialis Salvador Allende, yang baru berkuasa tiga tahun. Augusto Pinochet, seperti halnya Mayjen Soeharto, berkuasa kemudian dan menikmati kekayaan di atas banjir darah.

Jutaan korban dibikin sunyi. Sastra, sedikit-banyak, memberikan suara.

Itulah kesan pendek dari garis besar kurun berdarah pada abad 20 sesudah membaca kesaksikan fiksi yang dibawa Allende dalam Espiritus. Buntut kudeta Pinochet, serta menyandang nama keluarga dari garis ayah, yang mengubah semua kehidupannya, Isabel Allende menyelamatkan diri ke Venezuela selama 13 tahun. Pada 1981, Allende mendengar kakeknya, berusia 99 tahun, sekarat di Chile dan mulai mengirimkan surat. Korespondensi surat-surat inilah yang mengilhami penulisan novel tersebut.

La Casa de los Espiritus atau The House of the Spirit (diterjemahkan menjadi Rumah Arwah oleh Ronny Agustinus), menuturkan tiga perempuan berbeda generasi dengan latar pergolakan politik di satu negara Amerika Latin. Kisah bermula dari kedatangan Barrabás, binatang serupa anjing dengan tubuh sebesar monster, yang dibawa buyut Marcos – paman Clara, nenekanda Alba. Clara, yang masih kecil namun sudah memiliki kemampuan sihir bak cenayang, mulai menulis segala kronik keseharian yang melingkari hikayat keluarganya. Esteban Trueba, pemuda bungsu dari keluarga kaya yang bangkrut, jatuh cinta kepada Rosa, yang memiliki kulit terang kebiruan, rambut hijau dan menyimpan keanggunan bahari.

Demi tekadnya menikahi Rosa, Trueba berburu emas, dengan sifatnya yang pemarah dan logis, melihat dunia hanya hitam dan putih. Malang baginya, Rosa mati keracunan tanpa sengaja — yang dialamatkan untuk ayah Rosa, Severo del Valle atas aktivisme politiknya yang berkiblat pada partai liberal.

Dimulailah petualangan Trueba membuka kembali lahan pertanian di ladang Tres Marias, warisan terbengkalai almarhum papanya. Ia kemudian menjadi tuan tanah sukses. Lelah dengan petuangan seksual terhadap gadis-gadis desa, yang dipandangnya sebatas objek ragawi dari cerminan penduduk desa bodoh dan miskin, Trueba menemukan pasangan hidup pada diri Clara, adik Rosa. Lahirlah anak-anak dari pasangan ini: Blanca, bersifat lembut namun pemberontak, serta si kembar Nicolás dan Jaime, yang berbeda watak.

Pada musim panas keluarga ini ikut Trueba ke Tres Marias. Seiring remaja, Blanca menambatkan hatinya pada pemuda dekil Pedro Tercero Garcia, anak petani si mandor Pedro Segundo Garcia. Percintaan tersembunyi dua remaja tanggung ini melahirkan Alba, cucu Trueba yang menjadi anggota keluarga paling disayang oleh Trueba sekaligus mesin penggerak kisah novel ini.

Tercero Garcia adalah manifestasi seniman rakyat, yang membuhulkan impian kaum petani mengolah tanahnya sendiri – melalui kisah sederhana dari lagu-lagu yang dibawakannya tentang ayam dan rubah. Jika ayam dapat bersatu, demikian isi dongeng rakyat Garcia, maka rubah pun akan takut mengganggu kehidupan mereka. Ayam adalah simbolisme kaum tani. Rubah adalah antagonisme tuan tanah dan pemilik modal. Kesadaran Garcia juga ditempa seorang pendeta sosialis yang meyakini “… gereja memang ada di sisi kanan, tapi Yesus Kristus selalu di kiri.”

Betapapun Trueba menyayangi Alba, ia tak pernah memaafkan tindakan Blanca, bahkan mencari-cari Tercero Garcia dan berusaha membunuhnya, lewat pertengkaran sengit, hingga meninggalkan cacat pada tangan Garcia. Bertahun-tahun kemudian mereka bertemu lagi, dalam situasi berbeda, di mana Trueba menjadi tahanan petani Tres Marias dan Garcia datang untuk menyelamatkannya atas permintaan Blanca. Keduanya akan rujuk sesudah Trueba menyadari aktivisme politiknya, yang berada di tangsi militer, berjalan penuh kelokan tajam – membunuh Jaime (dokter pribadi sang Presiden sosialis) dan menyiksa Alba atas dendam pribadi anak haram Trueba – suatu kepercayaan naif Trueba kepada kaum militer lewat kudeta yang disokong negara-negara Barat. Babak kudeta, yang menyuruk keluarga ini hingga tak terperi, merupakan salinan realitas atas peristiwa kudeta Chile pada 1973.

Isabel Allende menggali kehidupan para korban penggulingan berdarah ini sebagai arwah gentayangan yang menggelayut mendung hitam kediktatoran pemerintahan militer Pinochet. Generasi sesudah transisi rezim kotor ini menanggung beban sejarah maha berat di pundaknya. Saat rezim beralih ke arah yang lebih demokratis pada 90-an, baik di Eropa Timur maupun di Asia dan Amerika Latin, berbagai persoalan masa lalu itu terbuka bak kanker kronis yang segera diobati.

Ada negara-negara yang berhasil. Ada yang tersuruk dalam peperangan berlatar etnik. Ada kekerasan komunal di kota-kota terluar dari pusat-pusat kekuasaan. Segera sesudahnya, dunia internasional kembali diingatkan akan sejarah teror masa lalu, yang tak mungkin lagi bersandar pada alibi naif setelah mereka palingkan muka bertahun-tahun.

Latar Espiritus secara umum tak hanya Chile – negara si pengarang; namun juga secara geopolitik adalah negara-negara Amerika Latin. Saat negara Selatan mulai meraih politik populismenya – lewat pemimpin sosialis mereka, dari Venezuela hingga Bolivia — di Indonesia sendiri misalnya, yang mewarisi kejahatan HAM tanpa pernah diadili, masih berada dalam persimpangan, meski proses transisi itu sudah berjalan lebih dari satu dekade.

Bahkan kini yang menonjol populisme kaum kanan, berlatarbelakang agama mayoritas, yang menguasai ruang-ruang publik di jalanan; beberapa di antaranya telah memasuki legitimasi formal, lewat parlemen dan aturan legal. Keyakinan minoritas ditindas. Pemerintah seringkali dengan sengaja membiarkan proses pembusukan kebebasa sipil ini. Kemiskinan menjadi bisul busuk yang menjalar di wilayah-wilayah terluar. Protes-protes pemisahan diri ditekan dan dihancurkan; mereka kembali menjadi korban yang dipaksa untuk bungkam. Kekayaan alam, dari Acheh hingga Papua, dihisap dalam-dalam dan meninggalkan lubang-lubang kehancuran ekologis.

Novel La Casa de los Espiritus ini mengingatkan kita bahwa arwah korban dari para rezim perang kotor itu, untuk sebagian negara, sudah bisa tidur nyenyak di nirvana. Namun di sebagian negara lain, termasuk Indonesia, mereka masih bergentayangan. Mereka terbaring gundah di bahu generasi masa kini, menuntut kedamaian abadi melalui perjuangan yang seringkali bak dongeng sisiphus…

Disclosure:
* Untuk melihat mitologi prosa Allende selalu dimulai pada tanggal 8 Januari, gara-gara pengakuan internasional atas novel ini, sila tengok tautan wawancaranya.
* Untuk keterangan Nobel Sastra 1982 kepada Gabriel Garcia Marquez, lihat jendela ini.
* Untuk website Allende.

Pacar Merah Indonesia (Buku 1 dan 2) | Matu Mona

Pacar Merah Indonesia, Tan Malaka2Klandestin Para Super-Patriot

Oleh: Muhidin M Dahlan

Setelah pemberontakan PKI 1926 yang berlangsung di Banten, Batavia, Semarang, dan Padang dipatahkan dalam hitungan hari oleh pemerintah Hindia Belanda, ribuan pengikut orgaan paling militan di awal tahun 1920-an ini dibui dan dibuang ke Digul. Yang lainnya melarikan diri dan menjadi manusia kalong di negeri orang. Termasuk lima+satu pemimpin mudanya: Semaun, Djamaludin Tamin, Musso, Alimin, Darsono, dan tentu saja Tan Malaka.

Kisah pelarian lima+satu tokoh PKI itu yang kemudian dijadikan Matu Mona (nama pena wartawan Hasbullah Parindurie) sebagai latar cerita.

Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia) menjadi judul awal saat roman ini diterbitkan sebagai cerita bersambung di Pewarta Deli, 9 Juli-19 September 1934. Karena mendapat sambutan yang baik, seri cerita ini pun diterbitkan dalam bentuk buku pada 1938 oleh Centrale Courant en Boekhandel (Toko Buku dan Surat Kabar Sentral) di Medan.

Sebagaimana judulnya, roman ini menjanjikan adegan penyamaran yang licin, spionase yang seru dan penuh kejutan, klandestin dengan latar politik pengejaran pimpinan PKI yang ngalong di Eropa, Amerika, dan Asia.

Matu Mona mengaku, ia mengail bentuk roman ini dari dua karya sukses Baronesse Orczy yang sudah diterjemahkan Balai Pustaka pada 1928, yakni Beloet Kena Randjau atau Patjar Merah Terjerat dan Litjin Bagai Beloet. Pacar Merah dalam karya Matu Mona adalah Scarlet Pimpernel dalam karya Orczy.

Kita tentu saja tak mungkin melakukan pencocokan sejarah yang sepersisnya dalam roman Matu Mona ini. Sebagaimana kata “penyambung lidah” dan penemu kuburan Tan Malaka, Harry A Poeze, roman ini “mencampur-adukkan fakta, desas-desus, khayalan”.

Tapi dalam skala minimum, koneksi ke sejarah itu masih bisa dirabai. Misalnya penyebutan nama tokoh-tokohnya, seperti Djalumin, Paul Mussote, Ivan Alminsky, Semaunof, Darsonov yang memiliki kemiripan dengan nama tokoh-tokoh kunci PKI generasi pertama (Djamaludin Tamin, Musso, Alimin, Semaun, dan Darsono), yang menjadi dasar bahwa ini adalah roman sejarah yang diracik dengan bumbu khayal dan mitos yang kadang berlebih.

Atau tentang Tentonstelling Coloniale (Pameran Besar Hindia) di Paris yang merendahkan bangsa Timur yang dikecam penuh amarah oleh Paul Mussote. Peristiwa itu nyata dan kemudian oleh Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas dijadikan panduan penting untuk menjelaskan hubungan yang bias antara penjajah dan negara jajahannya.

* * *

Matu Mona menyebut kelima aktivis kalong itu sebagai Super Patriot dengan Pacar Merah atau Tan Malaka (nama ini tak pernah disebut) menjadi tokoh sentralnya. Pacar Merah dalam roman ini adalah nabi pergerakan Indonesia yang disamakan begitu saja oleh Matu dengan Mussolini di Italia, Stalin di Uni Soviet, Kemal Pasha di Turki (Buku 1: 43), Jose Rizal di Filipina (Buku I: 167), bahkan mirip dengan tokoh fiksi Don Quixot (Buku 1: 193)

Selain menjadi aktivis pergerakan yang misterius—mysteryman (dalam Buku 2 tertulis: mysterieman), Pacar Merah punya koneksi jaringan bawah tanah di banyak negara yang terus menjaga gerakannya dengan cita-cita besar memerdekakan Nusantara. Ia menjadi target utama PID Hindia Belanda di pelbagai negara karena pengaruhnya. Itulah sebab kepalanya dihargai sebesar: 50 ribu dollar. Proses pengejaran Pacar Merah bersama para pelindungnya inilah yang membuat roman ini menjanjikan ketegangan.

Di Buku 1, pembaca akan disuguhkan kisah Pacar Merah menjadi sosok yang “licin bagai belut” (hlm 78) dan dengan lihai berpindah-pindah tempat antar negara seperti: Bangkok, Singapura, Filipina, Indocina, New York, dan berakhir di Hong Kong dengan tertangkapnya Pacar Merah yang kemudian dilepaskan kembali. Sementara di Buku 2, kita akan mengikuti tokoh-tokoh ini gentayangan di Perancis, Spanyol, Jerman, Uni Soviet, dan berakhir di front pertempuran Palestina melawan Zionis Yahudi dengan tewasnya Alminsky dan luka parahnya Pacar Merah.

Dengan bahasa campur baur (Melayu, Inggris, Belanda, Prancis), Matu Mona menggosok kemampuan belut tokoh-tokoh ini lolos dari spionase PID yang ditanam di hampir semua negara. Berderet-deret nama samaran dilekatkan pada Pacar Merah untuk menjadikannya tokoh paling berkabut, seperti Vichitra (di Bangkok), Puting Ulap dan Profesor Martines (Filipina), Tan Min Kha (Indocina), Ibrahim el-Molqa (Arab/Palestina), dan Amru (Samarkand, Kauskasus, Rusia).

Bermacam-macam pula modus coba diracik Matu Mona agar ceritanya selalu menyimpan greget. Di Buku 1, misalnya, pembaca akan disuguhkan peristiwa bagaimana Pacar merah diselundupkan organ bawah tanah Siam-Malaya untuk lolos dari sergapan dalam kapal barang. Atau di Buku 2, bagaimana Darsonov berhasil memperdayai PID Paris dengan bersembunyi di Masjid (hlm 23-24).

Disebutkan juga bahwa Pacar Merah memiliki azimat yang bisa memprediksi apa yang terjadi di masa depan. Termasuk kekuatan gaib. “Aku dapat menghilangkan diriku. Biarpun beribu manusia mengepung,” kata Pacar Merah (Buku 1: 77-80; Buku 2: 46-48). Bahwa Pacar Merah punya aji kekebalan tubuh (Buku 1: 203). Bahwa Pacar Merah punya ilmu hipnotis yang bisa memperdaya PID Moskow (Buku 2: 183, 185). Bahkan Mussote, lewat perjalanan yang melelahkan menembus kembali Indonesia dieluk-elukkan warga sebagai Ratu Adil dengan membagi-bagikan beras dan uang kepada petani melarat. (Buku 2: 161, 163)

Dalam proses penyamaran itu, Pacar Merah dan rekan-rekannya senasib kemudian kita dapatkan menjadi manusia Super Patriot: pribadi-pribadi yang mencintai negerinya, tapi terperangkap menjadi warga tanpa negara selama bertahun-tahun lamanya. Kerinduan yang meraung dan petualangan penuh kesepian itu yang terus dieksploitasi Matu Mona dengan dilengkapi percintaan tanpa seks antara Pacar Merah dengan Ninon Phao (Bangkok), Pacar Merah dengan Agnes Palloma (Filipina), serta Ivan Alminsky dengan Michelle (Paris).

Matu Mona saya kira berlebihan meletakkan Pacar Merah dalam konteks pribadi menjadi kalong politik di Eropa, Amerika, dan Asia. Dari detail yang saya catat di Buku 1 dan 2, Pacar Merah disebut-sebut pribadi luhur tanpa cacat, seorang ksatria budiman (hlm 60), pentolan kebangsaan (hlm 90) yang kalis dari seks, sesosok di mana masa depan pergerakan Indonesia diletakkan di pundahknya.

Apalagi Matu Mona menempatkan Pacar Merah dan rekan-rekannya nyaris selalu hadir dalam momentum sejarah besar pergolakan revolusi di sejumlah negara.

Di Buku I, Matu Mona berada di tengah arus Revolusi Rakyat Thailand (hlm 70) yang hampir meledak, perang besar Tiongkok-Jepang di Indocina/Saigon (hlm 208). Sementara di Buku 2, Matu Mona menempatkannya di perang saudara Spanyol (hlm 50-51), di tengah kelahiran Fasisme Italia dan Perang Ethiopia, kecamuk Nazi Jerman (hlm 70), kediktatoran Kremlin menjadi-jadi (hlm 169), pawai kuasa Syah Iran (hlm. 201), maupun Perang Palestina-Israel (hlm. 78).

Dari segi menjaga ritme keterkejutan, Matu Mona terperangkap pada klise. Di Buku 2, Matu Mona kehilangan daya pukau bercerita sama sekali lantaran nyaris ia hanya mengulangi adegan-adegan detektif, penyamaran, dan tumpukan sindikasi supranatural yang sudah jor-joran disajikan di Buku 1.

Di buku 2 pembaca justru dijejali informasi-informasi ensiklopedis dan kronikal tentang perang dan golak politik besar di Spanyol, Ethiopia, Italia, Prancis, Jerman, India, Iran, Moskow, dan Palestina di tahun-tahun 30-an. Untunglah, pembaca masih tertolong oleh kisah-kisah konyol Darsonov dan kepulangan klandestin Paul Mussote ke Indonesia untuk mengumpulkan basis yang terserpih dan nyaris tak terterangkan dalam sejarah pergerakan.

———

Judul: Pacar Merah Indonesia: Petualangan Tan Malaka Menjadi Buron Polisi Rahasia Kolonial (Buku 1); Pacar Merah Indonesia: Peranan Tan Malaka dalam Berbagai Konflik Dunia (Buku 2)

Penulis: Matu Mona

Penerbit: Beranda, 2010

Tebal: xxxv+271 hlm (Buku 1); xxxii+228 hlm (Buku 2)

Elegy | Isabel Coitex | 2007 (Film-Buku)

Elegy: Kisah Prof Tua yg Malang

Oleh Muhidin M Dahlan

elegyELEGY

Sutradara: Isabel Coitex; Pemain: Ben Kingsley dan Penelope Cruz; Tahun: 2007 (diadaptasi dari novel Philip Roth, The Dying Animal)

Matikan HP. Dan bersantailah sejenak dengan menonton film sendirian. Di rumah yang semua-muanya putih. Seperti rumah terakhir yang menakjubkan. Kali ini giliran film bertitel: Elegy. Kisah seorang tua yang merebut sisa akhir hidupnya dengan buku, sastra, dan kelas mengajar.

Terlalu banyak seks dalam film ini. Tapi yang terpenting adalah sikap Prof David Kepesh atas dunia tua, sebagaimana kata Tolstoy: “Kebahagiaan besar seorang manusia adalah masa tua.” Nyaris nukilan memo Tolstoy itu berseberangan dengan sikap keras kepala filsuf Nietzche yang bilang: “Hidup termalang dan terlaknat justru umur yang melesat sampai tua.”

Mula-mula–dan akhirnya ini yang menguasai nyaris sepanjang film–adalah pengejaran atas intimasi. Ditemukannya tambatan itu pada diri mahasiswinya yang seksi, cerdas, dan menjanjikan: Consuela Castillo. Bersama Consuela, sang prof tua membentangkan perjanjian yang tak pernah terikat.

Prof David adalah khas intelektual pragmatis tua yang selalu merasa isi kepalanya selalu muda. Ia menguasai dengan baik semiotika, kritik seni, menghapal nama dan tempat-tempat yang akrap disebut dalam buku sastra dan sejarah seni Eropa dan Amerika, khatam kajian budaya pop, tanpa cela menyebut deretan nama minuman seperti glenfiddich, bourbon, vodka, cointreu, greund marnies, armagrac. Juga fasih menjelaskan tokoh srikandi cantik dari rimba Amazon, Hippolyta, yang memotong payudara kanannya supaya anak panahnya melesat tepat sasaran tanpa harus membungkuk.

Mirip dengan tema film yang diadaptasi dari novel Garcia Marquez, Love in the Time of Cholera, ini kisah tentang dunia seks kaum tua. Prof David adalah profesor terkemuka lantaran nyaris setiap pekan tampil dalam acara review buku di televisi atau radio, khusus membahas buku-buku bertema budaya pop. Dan tentu saja seks.

Menurut profesor ini, setiap melakukan seks dengan wanita para hamba sahaya umur ini adalah upaya menuntaskan balas dendam atas semua hal yang mengalahkan mereka dalam hidupnya.

Di sebuah diskusi buku di radio, Prof David membahas buku D.H. Lawrence yang dengan indah menulis kisah cinta Lady Chatterly. Bukan soal skandalnya dengan tukang kebunnya, melainkan pertanyaan tentang kesepian kaum tua yang mengejar impian yang terlewat. Dan seks berada dalam daftar impian itu.

Itu dia. Seks. Hanya seks. Bukan pernikahan. Prof David, pemuja warna hitam dan putih, adalah libertarian yang menolak institusi pernikahan dalam hidupnya. Ia menjadi si tua yang sinis. Tapi dia berusaha mengelak dari tuduhan itu. Katanya itu hanya sekadar sikap realistis. Dan dia bersembunyi di sana. Mengajar semiotika, kebudayaan mutakhir, mereview buku setiap pekan di radio ataupun televisi, menulis di New Yorker, bercakap puisi, bercengkerama di kafe favorit, dan macam-macam kegiatan purnadewasa.

Jadinya, film Elegy adalah memoar intelektual dan tindakan sehari-hari menjalani masa tua yang binal, ironi, dan kesepian yang menyertainya. Ia gigih membayar keheningan yang sama setiap harinya; sebuah bahaya halus yang mengintai dari usia yang terus tua; grigisan yang menerus layu.

Inilah kisah profesor tua yang malang yang dengan kesatriaan terakhirnya menolak olok-olok bahwa hidup sampai tua tiada lain adalah hidup yang laknat.

Bintang Merah | CC P.K.I.

1945_Bintang Merah Madjalah

Bintang Merah: Jalan Baru Bagi Kembalinya PKI di Atas Panggung

Terbit pertama kali pada November 1945, Bintang Merah adalah ladang bagaimana pemikiran intelektual-intelektual angkatan muda Partai Komunis Indonesia (PKI) dipupuk. Inilah jurnal yang menjadi penanda kepada publik bahwa PKI bangkit kembali setelah diprovokasi dan dikubur oleh pemerintah kolonial pada 1926. Namun nahas, Bintang Merah ikut terberangus bersamaan dengan kalahnya mereka di Madiun pada September 1948.

Sejak awal berdiri Bintang Merah telah memperkenalkan diri sebagai majalah politik dan diterbitkan Sekretariat Agit-Prop CC PKI. Dengan mengusung jargon ”Mingguan untuk Demokrasi Rakjat” Bintang Merah yang terbit sebanyak dua lembar ini adalah tempat Aidit, Njoto, dan tokoh-tokoh teras PKI menuangkan gagasannya. Masalah kepartaian dan pengumuman tentang CC PKI selalu menghiasi halamannya.

Namun sejak muncul larangan terbit Bintang Merah pimpinan PKI di Yogyakarta kala itu tidak berani menerbitkan kembali.

“Bintang Merah mengetengahkan satu hal bahwa PKI sangat sadar betapa efektifnya media cetak. Bagi PKI, jurnal atau koran bukanlah soal bisnis, tapi soal ideologi, sebagaimana dianut pendahulu-pendahulunya pada periode sebelum 1926. Yang menarik adalah setelah organisasi mereka dikropjok oleh pemerintah, mereka bangkit dengan mula-mula mengorganisasi ide mereka lewat jurnal. Dalam keyakinan anak-anak muda progresif seperti Njoto dan Aidit, Bintang Merah adalah jalan baru dan sekaligus buku pedoman kader membangun dan mendisiplinkan partai.”

Tahun 1949 setelah D.N. Aidit kembali dalam masyarakat, sejak peristiwa razia penangkapan September 1948 di Solo, Aidit dan Lukman segera menerbitkan kembali Bintang Merah untuk “memusatkan seluruh Partai pada satu pimpinan sentral”.

Dalam pengumuman redaksinya, jurnal Bintang Merah terbit kembali sejak 15 Agustus 1950 atau bersamaan dengan waktu peralihan RIS menjadi RI. Duduk di kursi sekretaris redaksi adalah Peris Pardede yang turut serta sebagai redaksi sejak permulaan terbit pada 1945. Pada terbitan ini P. Pardede, M. H. Lukman, D.N. Aidit, dan Njoto menjadi dewan redaksi tatkala terpilih menjadi pimpinan harian politbiro PKI. Di kediaman Pardede, Jalan Kernolong 4 Jakarta, Bintang Merah memasak gagasan-gagasan ideologi mereka sepanjang 1950-1951.

Artikel editorial yang dimuat dalam nomor pertama menyeru kepada semua kaum komunis, kaum patriot dan progresif supaya berkerumum di sekitar Bintang Merah untuk menjadi senjata memperkuat organisasi dan idiologi Partai Komunis Indonesia.

Sejatinya, kelompok yang berkumpul di sekitar Bintang Merah di Jakarta sudah cukup kuat, dan berkembang di seluruh negeri hanya dalam beberapa bulan. Kemajuan itu bisa dilihat dari cetakannya yang semula dicetak 3000, terus naik menjadi 5000, meningkat lagi 7500 dan pada tahun 1951 cetakan kedua mencapai 10.000. Jumlah ini  pun disinyalir terus mengalami peningkatan hingga cetakan-cetakan selanjutnya. Bagi jurnal serius dengan motto Madjalah untuk Demokrasi Rakjat, jumlah cetak itu sudah luar biasa.

Bintang Merah kita memberikan sinar tjemerlang menerangi djalan jang harus ditempuh oleh anggota Partai dan kaum buruh jang sedar akan klasnja. Demikianlah tidak bisa diungkiri lagi, bahwa tersusunnja kembali organisasi-organisasi Partai di-daerah-daerah adalah sebagian besar atas dorongan dan pimpinan BintangMerah kita. Ketjuali itu, bersamaan dengan memberikan dorongan dan pimpinan dalam menjusun kembali organisasi-organisasi Partai didaerah-daerah Bintang Merah kita sekaligus memberikan dasar dan pimpinan untuk memakai sendjata kritik dan self-kritik… ” (Bintang Merah, edisi 1-2 Djanuari 1951)

Jurnal setebal 86 halaman ini memuat artikel-artikel bandingan bagaimana pasang naiknya partai-partai komunis di dunia, baik di Rusia, Tiongkok, maupun Eropa, khususnya Prancis.

Bintang Merah juga memberi dasar-dasar pemahaman bagi Marxisme-Leninisme. Aidit kebagian tugas menulis dengan serius bagian ini, sebagaimana terbaca dalam artikelnya”Dasar-dasar Leninisme” dan ”Karl Marx” yang dimuat bersambung hingga lima kali.

Dari Bintang Merah kita bisa dipahamkan bagaimana anak-anak muda Aidit dan Lukman berselisih dengan rekan-rekannya di Menteng 21 seperti Wikana. Keduanya berkeras memberi tafsir dan makna atas Proklamasi Agustus. Bagi Aidit dan Lukman peristiwa Proklamasi Agustus adalah refleksi besar atas Revolusi Agustus di Uni Soviet.

Bintang Merah memang menjadi mesin penggodokan dan pematangan ideologi organisasi. Maka mereka yang diizinkan menulis di sini hanyalah segelintir orang dalam politibiro, terutama sekali Lukman, Aidit, dan Njoto. Nama yang terakhir ini dalam sebuah artikel panjanganya yang berjudul ”Pemalsuan Marxisme” menolak pengakuan Hatta sebagai seorang komunis. Pernyataan Hatta itu dilansir Njoto dari Harian Sin Po 3 November 1950: ”Apa bedanja antara saja dan seorang komunis? Bedanja jalah melainkan halnja saja masih memegang teguh igama dan seorang komunis tidak mau tahu igama. Lain dari dalam hal igama, tidak bedanja antara saja dan seorang komunis.”

Njoto jelas-jelas menolak pernyataan Hatta itu dengan mengatainya sebagai pengkhianatan atas Marxisme. Sebab di lapangan ekonomi, Hatta sebagaimana dalam percakapannya dengan Liem Koen Hian di Sit Po menganjurkan pembangunan ekonomi secara sosialis tapi menolak nasionalisasi. Terutama nasionalisasi atas perkebunan.

Itu hanya satu contoh bagaimana intelektual-intelektual PKI menyaring sedemikian rupa gagasan yang ”membelokkan” makna Marxisme. Ini terjadi oleh sebab jurnal ini sekaligus menjadi buku panduan bagi kader memahami Marxisme versi Partai Komunis Indonesia.

Pada akhirnya, Bintang Merah adalah jalan baru kedua PKI—setelah ”jalan baru” Musso di Madiun—yang dikelola dan digerakkan oleh anak-anak muda progresif, militan, dan radikal. Jurnal ini merupakan lokomotif pendorong hingga PKI menjadi partai yang diperhitungkan pada Pemilu 1955.  (Rhoma Dwi Aria Yuliantri)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan