-->

Arsip Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Kelima April 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Physics of the Fiture: How Science Will Shape Human Destiny and Our Daily Lives by the Year 2100

Karya Michio Kaku

Resensi ditulis Jansen Sinamo

Dimuat KOMPAS, 29 April 2012

Kaku membagi abad ke-21 menjadi 3 kurun: 2011-2030, 2031-2070, dan 2071-2100. Pada setiap kurun, dipetakannya menjadi enam kelompok teknologi futuristik yang bakal ranum: komputer super dan komputasi masif, kecerdasaan buatan dan robotik, kedokteran seluler dan molekuler, materi nano dan mesin-mesin super-renik, produksi energi planeter yang terbarukan, serta transportasi Magnetically levitated (maglev) trains, kereta api yang mengambang secara magnetis dan angkasa luar. Semuanya dimotori oleh 3 revolusi sains abad lalu: revolusi kuantum (1925), revolusi komputer (1948), dan revolusi biomokuler (1953). Dijelaskan pula bagaimana buah-buah revolusi ini menjadi mesin ekonomi global yang mengubah peradaban kita sejak itu.

Letusan Gunung Tambora 1815

Karya Bernice de Jong Boers | Helius Sjamsuddin

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat KORAN TEMPO, 29 April 2012

Benice de Jong Boers dan Helius Sjamsuddin, dengan tulisan-tulisan yang bernas dalam buku ini, mengangkat kajian mendalam tentang sejarah yang menganga dalam  buah bencana alam. Kajian de Jong dan Sjamsuddin mengungkap sebuah peristiwa yang membawa dampak luar biasa dalam sejarah umat manusia, yakni letusan Gunung Tambora. De Jong dan Sjamsuddin telah menjadikan peristiwa kelam ini dalam konsumsi eksotik yang memberikan inspirasi bagi jagat. Buku ini bertujuan membantu memberi informasi tentang letusan Tambora yang selama ini dilupakan hingga kemudian memperlihatkan bagaimana perubahan ekologis, demografis, dan kesengsaraan yang terjadi karena letusan itu.

Spiritual Journey, Pemikiran & Permenungan Emha Ainun Nadjib

Karya Prayogi R. Saputra

Resensi ditulis Rio F. Rachman

Dimuat JAWA POS, 29 April 2012

Penulis buku Spiritual Journey, Pemikiran & Permenungan Emha Ainun Nadjib itu gemar mencatat pengalaman demi pengalaman selama ikut dalam maiyahan yang digagas Cak Nun sapaan akrab Emha Ainun Nadjib sejak awal 2000-an. Mungkin, dia tidak pernah menyangka  saat tahun lalu sebuah penerbit besar meminta notulen yang ia buat untuk dibukukan. Maiyahan itu sendiri serupa dengan pengajian terbuka. Siapa saja bisa bertanya atau menjawab pertanyaan. Cak Nun jarang absen sebagai narasumber utama dalam kegiatan tersebut. Buku ini, sebagaimana maiyahan yang selalu memiliki pemapar yang variatif seperti menteri, seniman, pengamen, akademis, baik dari luar maupun dalam  negeri, bukan hanya berbicara tentang agama atau keislaman. Namun, juga diwarnai dengan topik fisika kuantum yang ternyata berkolerasi dengan kesaktian orang atau ulama zaman dulu, konsep kebangsaan mulai demokrasi hingga neoliberal, multikulturalisme yang membuka selebar-lebarnya pintu toleransi, dan persoalan hangat lainnya.

partikelSupernova 4: Partikel

Karya Dewi “Dee” Lestari

Resenksi ditulis Fauzi Fatchan

Dimuat JAWA POS, 29 April 2012

Tidak mengirim anaknya ke sekolah formal, ayah Zahrah, Firas, seorang dosen Mikologi IPB yang terobsesi pada fungi, menjadikan alam sebagai ruang-ruang kelas bagi anaknya. Ladang, kebun, hutan, bahkan bukit yang dianggap penduduk setempat angker adalah tempat si kecil Zahra memahami anatomi tubuh manusia hingga berbagai spesies hewan dan tumbuhan. Partikel yang merupakan rangkaian keempat supernova karya Dee mulai menyajikan banyak dialog kritis dan cerdas yang menggugah pemikiran yang lebih luas dan dalam antara Zahra, si anak yang belum genap meniggalkan masa kanak-kanak, dan orang-orang sekitarnya yang berusia lebih tua. Dialog-dialog tersebut memicu kita untuk merenungkan kembali cara kita dididik, diasuh, dan dibesarkan.

Perang Dingin: Episode Sejarah Barat dalam Perspektif Konflik Ideologi

Karya Dr. Tanto Sukardi Mhum

Resensi ditulis Fatkhul Anas

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 29 April 2012

Sejarah telah mencatat peperangan yang unik namun mengerikan. Perang tersebut adalah perang ideologi yang telah memecah dunia menjadi dua bagian : Blok Timur dan Blok Barat. Para ahli sejarah menyebut perang ini dengan nama ‘perang dingin’. Meski jauh dan riuh keramaian senjata, namun perang ini sangat mengerikan. Tak heran jika perang dingin ini memiliki kareakteristik tersendiri yang berbeda-beda dengan Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Suasana tegang,ketakutan, kecurigaan, sekaligus semangat untuk memepertahankan diri dan membela kelompoknya bercampur aduk menjadi satu membentuk perilaku  bangsa-bangsa. Suasana ketegangan ini sebagaimana digambarkan Dr. Tanto Sukardi Mhum. Dalam buku ini. Benar-benar memberi suasana dilematis sekaligus menjadi hantu yang menakutkan.

Casanova Syndrome

Karya Sayekti Pribadiningtyas

Resensi ditulis Futihaturrahmah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 29 April 2012

Kekerasan dirumah tangga akan terjadi, bahkan selalu menjadi akhir dari hubungan suami dan istri dalam sebuah rumah tangga. Ini terjadi diantara keduanya selalu mengedepankan sikap ego masing-masing. Sehingga hidupnya tidak pernah harmonis. Itulah yang ditulis psikolog Sayekti Pribadiningtyas dalam buku yang berjudul Casanova Syndrome. Casanova Syndrome diambil dari nama seorang lelaki yang bernama Giovanni Giacomo Casanova. Tipikal seorang lelaki yang tidak suka hanya dengan satu orang  wanita untuk dijadikan istri, melainkan banyak wanita. Tipikal suami itulah yang perlu dihindari upaya melangsungkan rumah tangga yang utuh, harmonis dan penuh kasih sayang. Karena suami tipikal Casanova berprinsip bahwa mengejar kenikmatan indarwi menjadi tujuan utama hidupnya, tanpa yang lainnya. Memilih wanita lebih dari satu.

Blakotang

Karya Widyo Babahe Leksono

Resensi ditulis Budi Wahyono

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 29 April 2012

Kumpulan geguritan (puisi Jawa), dalam kumpulan perspektif yang normatif selalu mengundang imej sebagai sebuah buku yang tampil ala kadarnya, cepat lusuh, namun memiliki magnet visioner yang layak ditafsir ulang. Ini terjadi geguritan-geguritan yang ada didalamnya dengan simbol-simbol  yang harus dibedah dan pembaca bisa mendapatkan kucuran pencerahan yang dikandung masing-masing guritan. Bahkan tidak mustahil, jika sudah berhasil diapresiasi, dalam kurun waktu tertentu akan menggoda pembacanya untuk melakukan tafsir ulang. Hasilnya, makna bisa konsisten tetapi juga bisa menawarkan makna baru sesuai dengan intensitas pemahaman pembacanya.

Manipulasi Kebijakan Pendidikan

Karya Darmaningtyas dan Edi Subkhan

Resensi ditulis Najamuddin Muhammad

Dimuat SUARA MERDEKA, 29 April 2012

Darmaningtyas dan Edi Subkhan lewat buku, Manipulasi Kebijakan Pendidikan mencoba menelanjangi kebijakan pendidikan yang terkonsep dan terimplementasi salah kaprah. Kritik kebijakan notabene hanya melihat realitas sosial yang kurang selaras dengan idealitas pribadi atau golongan tertentu, berbeda dengan Darmaningtyas dan Edi Subkhan yang melakukan kajian kritis berdasarkan Renstra (Rencana Sentrategis) Pembangunan Pendidikan Nasional, baik pada 2005-2009 maupun pada 2010-2014. Ini semacam evaluasi kritis terahadap kebijakan pendidikan nasional.

Playing “God”

Karya Rully Roesli

Resensi ditulis Igy

Dimuat TRIBUN JOGJA, 29 April 2012

Dalam kehidupan, tak sedikit manusia yang sebenarnya layak dilabeli “God”. Peryataan tersebut sesuai  pengejawantahan makna kata “God” dalam buku ini, yang merujuk sebuah tindakan  terkait manusia dalam membuat kepeutusan penting, yang secara signifikan mempengaruhi kehidupan orang lain. Pelabelan kata “God” pun , kemudian mengacu secara lebih spesifik kepada profesi yang ditekuni beberapa individu. Bahkan,  seiring berjalannya waktu, beberapa profesi tersebut telah mengakrabi dan melekukan apa yang dimaksud dengan idiom “God” dalam buku ini.

Genius Menulis: Penerang Batin Para Penulis

Dunia penulisan seperti dunia lainnya tentunya menarik dan memiliki keunikan tersendiri. Penulis-penulis muda bermunculan, beberapa di antaranya berhasil merebut hati pembaca atau memiliki segmen pasar tersendiri sesuai tema-tema tertentu. Tak hanya jumlah penulis muda yang bertambah, sejumlah tokoh-tokoh penting dari dunia hiburan, bisnis, dan politik banyak ikut pula menulis buku dengan berbagai motivasi antara meraih ketenaran, menuangkan gagasan baru, atau pencitraan sehingga memberi indikasi bahwa dunia penulisan sedang marak.  Apalagi didukung perkembangan teknologi internet yang kini memungkinkan semua orang dari latar belakang apapun bisa mempublikasikan tulisannya.

Sayangnya meski dunia penulisan tampak menarik dan menggiurkan untuk dijelajahi, tak banyak orang paham lika-likunya, apalagi jika bercita-cita ingin menerbitkan buku yang sampai kepada masyarakat pembaca yang diinginkan. Apalagi tak dapat dipungkiri dalam industri perbukuan di negeri ini sebenarnya sangat jarang sebuah buku bisa sungguh-sungguh disebut best seller, sehingga meskipun kondisi itu bisa dirancang, masih banyak orang yang pernah berkecimpung di dalamnya menganggapnya sebagai misteri.

Sekedar contoh buku fenomenal Harry Potter dan Laskar Pelangi semula ditolak banyak penerbit namun hasilnya kedua buku tersebut ketika terbit ternyata laris manis, sedangkan beberapa buku lainnya yang dipromosikan gencar berkat peran aktif media massa ternyata tak laku atau penjualannya di luar harapan. Berkaca dari hal ini, sesungguhnya memberi sudut pandang lain, yaitu siapapun Anda `jika serius tetap bisa punya andil asal mulai berkarya.

Buku karya Faiz Manshur ini mencoba memberi penerangan dengan cara unik, yaitu menguak dari dalam dunia penulisan seraya tak lupa menawarkan pelbagai kiat jitu agar pembaca yang tertarik di dunia penulisan “tidak tersesat”. Kalau buku-buku panduan lainnya lebih banyak memberi sekedar teori praktis dan motivasi saja, buku Genius Menulis ini punya cara lain yang lebih jitu, yaitu juga memberi pengertian agar selain bisa menulis, kita perlu juga memahami pasar dan industri buku yang sesuai dengan masa kini. Simaklah di halaman 220 “Royalti dan Target Realistis”, pembaca akan diberi info hitung-hitungan kalkulasi produksi buku juga royalti yang diterima sehingga mengerti bahwa sebagai penulis sejatinya bermitra dengan penerbit, bukan bertentangan dan tidak egois melulu memikirkan hanya karya penulis harus terbit menurut sudut pandang si penulis.

Juga di halaman 209, “Pasar Buku dan Nasib Penulis”, diterangkan secara rinci bahwa banyak hal yang harus diketahui para penulis agar kreativitasnya tidak mati. Pada bagian ini dijelaskan bahwa jika sudah cukup puas dengan satu bidang jenis penulisan, misalnya menulis karya sastra, tak ada salahnya mencoba menulis bidang lain, apalagi jika bidang lain itu ternyata lebih dibutuhkan banyak pembaca. Pertanyaan mengusik, bukankah hampir semua teori menulis sebenarnya tak begitu banyak perbedaannya asal paham tipe pembacanya?

Hal ini kerap terjadi sehingga sering banyak penulis merasa gengsi dan tak menyangka suatu saat kreativitasnya mentok lantaran buku-buku yang dahulu dihasilkan lebih sering tak terjual lantaran segan meneliti kemauan pasar lain yang lebih luas. Hasilnya jika penjualan buku tak sesuai harapan, selalu menuding bahwa masyarakat tak paham atau minat baca yang kurang. Padahal hal ini bisa ditempuh dengan cara menulis tema lain. Dalam buku ini ada kiat bahwa sebenarnya tak harus ambil pusing. Jika tak ada latar belakang untuk tema lain, sebenarnya apapun jenis tulisanmu yang diperlukan adalah riset, kemauan keras membaca, dan banyak berhubungan dengan orang-orang lapangan untuk menyerap ilmu tambahan (h.213), selain harus rajin pula ke toko buku guna mulai mencoba mengamati jenis buku lain selain buku favorit yang sering menjadi koleksi kita.

Pada`dasarnya ide buku ini memberi info dua pilihan tipe penulis yang bisa dicoba sesuai karakter Anda jika Anda baru memulai. Pertama menjadi penulis “perhatian ke dalam” yaitu tetap berkutat pada satu tema namun risikonya karyanya baru bisa laris setelah masa yang lama jika kalkulasinya memahat ilmu tanpa perhitungan pasar. Namun untuk tipe penulis ini baiknya Anda sepakat untuk tak bergantung hidup sepenuhnya dari tulisan. Kedua, jika Anda butuh uang dari tulisan pilihan strategi “perhatian ke luar” perlu yaitu mulai memikirkan “masyarakat sedang butuh apa dan kebutuhan mereka terlayani dengan baik.”

Buku ini banyak memberi penerangan bahwa selain diharapkan mampu menulis kita juga harus mampu pula mendekati sisi lain yang tetap dapat dicapai dari dunia penulisan agar kreativitas tidak mati. Dengan tak lupa mencantumkan berbagai contoh juga teori yang tak terkesan menggurui, buku ini mampu memunculkan motivasi sesungguhnya yang punya nilai lebih dari sekedar mempelajari teori atau kiat, karena dalam buku ini berhasil menguak tabir dunia penulisan yang selama ini belum pernah ditulis.

Misalnya di halaman 72 buku ini mencoba memberi motivasi bahwa penulis harus mulai mencoba “melawan penyakit dalam” dari diri sendiri yaitu percaya bahwa keterampilan menulis hanya berhasil dikerjakan karena “bakat”. Menulis pada hakekatnya adalah aktivitas manusiawi dan bisa dikerjakan siapa saja yang mau jadi penulis. Tak ada kaitannya dengan profesi, karir, dan pengalaman akademik yang harus tinggi sekali asalkan mau belajar, rajin baca, dan mau bergaul dengan orang yang lebih mahir.

Buku ini selain berguna buat pemula  juga cocok untuk yang sudah mahir namun merasa “tersesat” lantaran belum memeroleh manfaat lain dari hasil tulisan dengan lebih maksimal. Dunia penulisan memang menarik, namun kita bisa lebih mantap jika paham lika-likunya, terutama ketika karya kita masuk industri penerbitan dengan harapan terjual lebih memuaskan.

Ditunjang pengalaman 15 tahun di dunia penerbitan oleh penulisnya, di akhir buku ini ada beberapa quote penting yang bukan bermaksud sebagai sesuatu yang “sok bijaksana”, namun paling tidak dapat memberi motivasi sehingga Anda tak perlu ragu untuk terjun ke dunia ini, misalnya, ”Sakit hati dikritik itu wajar, tetapi tak baik dimiliki para penulis”, atau “Merencanakan penulisan karya besar bukan tindakan kriminal. Tapi hanya berencana tanpa tindakan nyata bisa diganjar julukan sang pembual”.
Jadi, selamat menulis!*

Donny Anggoro, wartawan/editor lepas

Judul: Genius Menulis: Penerang Batin Para Penulis
Penulis: Faiz Manshur
Pengantar: Remy Sylado
Editor: Miftahudin,M.A.
Isi: 286 hlm.
Penerbit: Nuansa, 2012

*)Oase Kompas, 18 April 2012

Resensi Buku Pekan Kedua April 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

The Sh@llows

Karya Nicholas Carr

Resensi ditulis Fajar Kurnianto

Dimuat KOMPAS, 8 April 2012

Setiap media baru lahir secara alami orang akan terperangkap dalam informasi konten yang dibawanya. Dalam buku ini Carr tidak main-main dalam menyimpulkan mengubah cara berpikir penggunannya bahkan bisa mendangkalkannya. Beberapa bukti empiris dan penelitian tentang otak dia tunjukan dalam buku ini. Misalnya, Carr menyebut seorang yang tadinya kutu buku dan pintar menulis, setelah asik tenggelam dalam komputer dan internet cukup lama tiba-tiba merasakan perubahan drastis. Intensitasnya dalam membaca buku menurun. Demikian juga dengan konsentrasinya berpikir dan menulis. Ia merasakan ada perubahan dalam otaknya.

Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai

Karya Soedjojono dkk

Resensi ditulis Imam Muhtarom

Dimuat KORAN TEMPO, 8 April 2012

Sejarah seni rupa yang modern belum lama, kurang lebih 80 tahun berjalan. Buku ini disususn secara kronologis berdasarkan topik dan bukan pada kronologi pelaku sejarahnya. Artinya , pada masa 1930-an tidak hanya melulu esai atau ulasan yang muncul pada saat itu , tetapi juga tulisan Onghokham yang ditulis pada 2005 mengenai mooi indie, atau tulisan Dan Suwaryono. Sedangkan sebagian besar tulisan berjumlah 70 esai ini ditulis ketika peristiwa seni rupa sedang atau masih terasa semangatnya.

Rain Over Me

Karya Arini Putri

Resensi ditulis Samsudin Adlawi

Dimuat JAWA POS, 8 April 2012

Hallyu atau gelombang korea sedang melanda dunia. Tak terkecuali, Indonesia. Mulanya, Korean Wave dipicu kerajingan orang terhadap drama romantis Asia, terutama drama Korea. Adapun Rain Over Me mengambil setting di Seoul. Tokoh utamanya Kim Hyu-Bin dan Yuna. Dua saudara tiri. Ibu Yuna, Farah, yang asli Solo, dinikahi ayah Kim Hyu-Bin. Saat kecil Yuna dan Hyu-Bin sempat hidup bersama di Seoul. Tapi, beberapa tahun kemudian mereka berpisah. Yuna ikut ibunya ke Solo. Hyun-Bin terus tumbuh, tetapi tidak bisa melupakan Yuna.

From Inderapura to Darul Makmur: A Deconstructive History of Pahang

Karya Farish A Noor

Resensi ditulis Ahmad Sahidah

Dimuat JAWA POS, 8 April 2012

Buku ini mengupas sejarah salah satu negara bagian Malaysia Pahang. Dari judulnya kita bissa memahami bahwa nama julukan untuk negeri ini pada mulanya Inderapura dan akhirnya berubah menjadi Darul Makmur, yang secara jelas menunjukan peralihan kekuasaan Hindu ke Islam. Namun, jauh lebih penting, sang penulis Farish A. Noor, menggunakan pendekatan dekonstruktif untuk melihat kembali sejarah yang tidak lagi terikat dengan persejarahan arus-utama. Dengan sudut pandang ini analisis terhadap sejarah juga menyodorkan cerita pinggiran (sub-altern) yang juga berhak hadir di panggung kisah.

Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit

gayatriKarya Earl Drake

Resensi ditulis RR Masyithah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 8 April 2012

Selama ini sejarah Nusantara lebih mengenal sosok Ken Dedes, Sang Ardhaneswari. Tetpi dengan apik, Earl Drake memosisikan Gayatri, anak bungsu Kartanegara yang juga dilahirkan sebagai perempuan ini. Buku ini semacam kisah perjalanan Gayatri dan apa yang dilakukan. Ia tak berhenti hanya sebagai permaisuri Raden Wijaya saja. Tetapi lewat buku ini Earl drake memaparkan kisah yang sangat jarang kita baca bagaimana peran Gayatri setelah suaminya meninggal termasuk ketika Jayanegara anak Raden Wijaya dengan Dara Petak naik Tahta. Gayatri-lah yang memutuskan untuk ‘mendidik’ Gajah Mada lelaki Sudra yang cerdas yang diangkat Jayanegara sebagai pengawal yang elite raja agar menjadi orang yang hebat.

Air Mata Terakhir: Sebuah Novel Pergulatan Ideologis

Karya Mukhotib MD

Resensi ditulis Agung Purwandono

Dimuat, KEDAULATAN RAKYAT, 8 April 2012

Sosok perempuan menjadi sentral dalam novel ini. Buku ini berkisah tentang tokoh Yati asal Dusun Bluwangan, diperkosa Syumanjaya, brandal kampungnya. Pemerkosaan menyebabkan jatuhnya ‘hukuman’ dari tokoh masyarakat setempat bagi Yati. Ia dipaksa menikah dengan Syumanjaya, dengan alasan dia hamil karena perkosaan tersebut. Novel ini menyandingkan ketidakberdayaan perempuan dengan keberanian yang juga dimiliki perempuan disisi yang lain.

Asia Hemisfer Baru Dunia: Pergeseran Kekuatan Global ke Timur yang Tak Terelakan

Karya Kishore Mahbubani

Resensi ditulis Muhammadun

Dimuat SUARA MERDEKA, 8 April 2012

Banyak titik penting yang bisa dijadikan penanda lahirnya peradaban baru Asia. Titik penting itulah yang dikupas oleh Kishore Mahbubani dalam bukunya yang bertajuk Asia Hemisfer Baru Dunia: Pergeseran Kekuatan Global ke Timur yang Tak Terelakan. Buku ini mengatakan kepada dunia, bahwa era baru sejarah dunia  akan segera dimasuki. Era baru yang ditandai dengan dua poin utama. Pertama, akhir dominasi Barat, meskipun tidak berarti akhir dari Barat. Kedua, kita akan melihat kembalinya Asia. Penulis melihat bahwa negara-negara asia telah menemukan pilar kebijakan Barat yang kemudian mendikte masyarakat Asia selama dua abad terakhir.

70 Tahun Tutty Alawiyah Di Mata Tokoh Indonesia dan Dunia

Editor Dr Zainal Abidin | Hoesein SH MH

Resensi ditulis  Damanhuri Zuhri

Dimuat REPUBLIAK, 8 April 2012

Dalam buku ini berisi komentar tokoh dari berbagai kalang mulai dari pejabat, ulama, cendekiawan, pimpinan ormas dan parpol, para rektor, hingga tokoh dunia. Pada buku setebal 600 halaman ini, ulama internasional terkemuka Syekh Yusuf Qardhawi mengatakan, Tutty Alawiyah adalah pejuang perempuan yang gigih dalam mengibarkan panji-panji Islam, baik di Indonesia maupun dunia internasional, melalui lembaga internasional Moslem Women Union (IMWU) yang dipimpinnya pada 2007-2010.

Sepanjang Jalan Dakwah Tifatul Sembiring

Karya Usamah Hisyam

Resensi ditulis Igy

Dimuat TRIBUN JOGJA, 8 April 2012

Buku ini berisi tentang seluk beluk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) serta hubungan Tifatul dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Tifatul mengakui, apa yang dipaparkan dalam biografinya kali ini murni ungkapan dari dalam PKS. Banyk kisah mengenai partai tersebut yang selama ini belum pernah diungkap kepada masyarakat umum. Lewat kisah hidupnya, Tifatul berupaya terbuka terhadap publik tentang beberapa kebijakan politik PKS pada saat itu, tak terkecuali sepak terjangnya di dalam partai. Sayangnya, dalam pernyataannya, ia justru lebih menekankan tentang sosok Susilo Bambang Yudhoyono, yang dinilai sebagai pribadi yang sangat berdedikatif.

Kumis Penyaring Kopi | Cerita Pendek Pinto Anugerah

Draft kumpulan cerpen ini didiskusikan dalam forum Obrolan Senja pada hari Sabtu, 7 April 2012, pukul 16.00 – 18.00. di Angkringan Buku, Yayasan Indonesiabuku, Jl. Patehan Wetan No 3 Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta. Setelahnya, nonton bersama film “Status” garapan sutradara muda Bambang C Irawan yang telah memperoleh beberapa penghargaan tingkat nasional.

Mula-mula saya bertanya-tanya, kenapa Pinto Anugrah banyak membicarakan ‘ibu’ dalam kumpulan cerpen berjudul Kumis Penyaring Kopi. Akhirnya saya memakluminya. Ia kelahiran Padang, ibu kota Sumatra Barat. Tanah kelahiran Malin Kundang. Mungkin dalam darah Pinto mengalir darah si Malin. Itu masih mungkin.

Tetapi, ada hal yang mengindikasikan bahwa Pinto ini seolah-olah si Malin itu. Ia paham betul dengan laut, kapal, bahkan sebuah kotak kayu—cerita yang mengawali cerita dalam kumceryang mengasumsikan harta karun. Juga sekarang Pinto sedang merantau. Meninggalkan ibunya di kampung.

Dalam cerita rakyat, Malin dikisahkan pulang ke kampung halamannya. Alasan kepulangannya selain ibu, karena ia cinta pada kampung halamannya. Hal demikian juga terjadi pada Pinto. Ia cinta betul pada kampung halamannya itu. tak ayal jika keduabelas cerita dalam kumcernya itu, seluruhnya adalah cerita tentang kampung halamannya, Padang, Sumatera Barat.

Selesai membaca kumcernya itu, saya berharap Pinto tak menemukan gadis ayu dan kaya agar ia tak menyerupai si Malin. Meski seharusnya saya tak perlu berharap demikian karena toh tak akan terjadi. Yang jelas terasa beda di antara mereka adalah, Malin bukan cerpenis.

* * *

Judul Kumis Penyaring Kopi dalam kumcer Pinto Anugrah ini sebenarnya sama sekali tak memiliki hubungan seluruh isi kumcernya. Ia bukan judul salah satu cerpen dan juga tak memiliki hubungan dengan satu cerpen pun. Memang, ada satu cerpen berbicara tentang kopi, tapi toh cerpen itu tak ada kedekatan dengan judul kumcernya itu. Ini memang bukan masalah besar, tapi biasanya inilah yang pertama ditanyakan pembaca ketika terbit dan dibedah nanti. Maka pemilihan judul perlu dipertimbangkan secara khusus, selain ia sebagai bonus bagi penulis.

Meski dengan judul kumcernya tidak memiliki hubungan dengan keseluruhan cerita yang disuguhkan, judul masing-masing cerpen cukup menarik. Pendek, memikat, dan membuat penasaran.

Padang merupakan tema besar yang diangkat oleh Pinto. Tema itu kemudian dieksplor menjadi beberapa tema kecil,seperti hak waris (dalam cerpen Kotak Kayu dan Pandam), ibu (atau bapak) (dalam cerpen Kota Lalu, Ibu; Kepundan Ayah; Anggang, Orang Rantai; dan Lapik Buruk). Kedua tema itulah yang sering kali diangkat ketika bicara tentang kampung halaman. Selain itu, guru mengaji juga kadang menjadi bahan pembuatan cerpen. Dalam kumcer ini, guru mengaji ada dalam cerpen Guru Siak. Sementara tema-tema lainnya seperti kopi, cinta, nenek, dan merantau ada dalam cerpen Kopi Daun, Emma Haven, Bakiak, Tiga Patahan.

Dari keseluruhan cerita yang disuguhkan, ada satu cerpen yang tidak biasa. Ciri-ciri cerpen yang ada dalam kuncer tersebut biasanya; banyak kosa-kata lokal, menyuguhkan cerita dengan serius, menggali kearifan lokal melalui hal-hal sederhana, dan idealis. Tapi yang satu ini cukup berbeda dari yang lain. Seperti cerpen yang lain, awal hingga pertengahan cerpen ini ditulis dengan serius dan pembaca diajak untuk mengencangkan otot, apalagi dengan isu-isu agama saat ini.

Diceritakan, seorang guru ngaji sedang berkunjung ke rumah muridnya karena undangan. Tiba waktu sholat, guru ngaji itupun bergegas sholat. Si murid yang juga pemilik rumah itu mengintip tamu yang juga guru ngajinya sedang sholat. Si murid merasa ganjil dengan sholat yang dilakukan guru ngajinya. Jawaban pun terus dicari, hingga akhirnya si murid menemukan globe di ruang pustaka sekolah. Ia mengerti, ke mana pun menghadap ketika sholat, ketemunya pasti akan ke arah kiblat karena bumi ini bundar. Pulang dari sekolah, ia langsung sholat. Sang ibu keheranan dan ini di luar kebiasaan anaknya. Ibu mengikutinya ke kamar, melihat anaknya sholat tidak menghadap ke arah semestinya, ibu marah. “Siapa yang mengajarkan?” “Guru mengajimu itu?” “Sesat!”. Guru itu lalu dipanggil untuk dimintai keterangan. Tak merasa mengajarkan hal demikian, ia pun bertanya pada muridnya, “Benar kau lakukan itu?”Mui mengangguk. “Benar kau melakukan itu karena melihatku pernah sembahyang seperti itu?” Mui mengangguk. Guru Siak berkerut keningnya, berpikir di mana kira-kira ia telah melakukan kekhilafan dalam sembahyang. “Di mana? Di tempat mengaji?” Mui menggeleng. Lalu menunjuk kamar abangnya dengan mukanya…. ia tidak menyangka bahwa Mui akan melihat cara ia sembahyang waktu itu. Tapi itu ia lakukan karena di dinding kamar itu, persis di hadapan saat sembahyang, ada poster perempuan setengah telanjang yang tertempel, makanya ia alihkan arah sembahyangnya.

Ya. Cerpen Guru Siak di atas terasa berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya. Sekilas membaca cerpen itu, saya tertawa cukup lama hingga merasa harus menghentikan membaca cerpen-cerpen lainnya untuk sejenak. Mulanya, saya mengira Pinto akan mengangkat masalah mendasar dalam beribadah bagi kaum muslim. Saya berfikir bahwa ini merupakan hal yang riskan, tapi saya meleset dan berbalik menjadi terhibur. Tepat rasanya cerpen itu berada di tengah-tengah cerpen yang lain, di mana saya merasa cukup penat dengan membaca cerpen-cerpen sebelumnya.

Bisa jadi, cerpen dengan tokoh utama Mui ini merupakan sendirian bagi MUI yang latah belakangan ini. Mengharamkan pilihan manusia dewasa yang sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk baik dirinya dalam hal agama.

Tak hanya berkutik pada wilayah lokalitas saja, Pinto juga menyuguhkan wacana kolonialisme dalam cerpen Orang Rantai, Emma Haven, dan Bakiak. Ke tiga cerpen itu memiliki keterkaitan dengan masa kolonialisme. Terutama sekali dalam cerpen Emma Haven. Emma Haven merupakan nama pelabuhan, yang kelak dikutip sebagai nama anak dari pasangan pribumi dan penjajah, Emma, agar kelak ketika kekacauan politik di Hindia sudah mereda, si penjajah dapat dengan mudah mengenali anaknya.

Cerpen Emma Haven seperti dibangun dengan kesadaran wacana kolinialisme pengarang dengan menyebutkan ciri utama bangsa Eropa menjajah belahan dunia. Misalnya terlihat dalam perdebatan antara anak dan ayah berikut ini,

“Pergilah ke tanah rempah itu! Di tanah rendah ini kau tidak akan dapat apa-apa, hanya sebagai pengangguran dengan seonggok daging yang akan membuat tanah ini makin tenggelam! Di sana tanah surga, tanah yang akan memberimu banyak keuntungan!”

“Keuntungan rampasan dari hak mereka? Kita akan dibenci tuhan, Ayah!”

“Tidak, saya yakin, tuhanlah yang mengutus kita ke tanah surga itu, tanah yang belum terjamah oleh tangan-tangan tuhan, dan kita diminta untuk mengajarkan mereka peradaban tuhan!”

“Kenapa harus tuhan alasannya? Dan saya tidak yakin, apakah dengan menjadi makelar lada itu sebuah pekerjaan penyampai tangan-tangan tuhan?”

“Ya.”

“Walau orang-orang di negeri itu tertindas?”

“Ya, karena mereka belum punya peradaban tuhan!”

“Mereka punya peradaban sendiri! Saya rasa, Ayah tahu itu. Ah, Ayah telah termakan kata-kata penguasa itu.”

“Tidak! Kita telah diutus tuhan untuk mengajarkan mereka peradaban. Itu keputusan gereja! Kita tidak bisa mengingkari!”

“Dan saya sudah merasa berdosa pada tuhan, namun tidak pada gereja!”

“Kalau kau tidak mau pergi ke tanah surga itu, baiklah, tanggalkan nama Schrik di belakang namamu!”

Ia tak bisa berkata lain. Ayahnya punya pilihan lain, “demi nama keluarga Schrik yang kau sandang!”

Demikian juga dalam cerpen Orang Rantai. Mulanya, sebuah keluar hidup bahagia. Sang ayah bekerja di pabrik milik Belanda. Di akhir bulan, saat gajian tiba, perusahaan akan menggelar pasar malam sebagai tempat pestanya para pekerja. Dalam kesempatan itu, sang ayah bermain dadu. Namun, di tengah riuhnya keramaian itu tercipta keramaian yang lebih gaduh. Lalu terdengar berita, sang ayah membunuh pembesar Belanda. Dari kondisi ini, sang ayah lalu mengalami pengasingan dan kerja Rodi. Cerpen ini memperlihatkan relasi kuasa antara penjajah dengan pribumi.

Pada cerpen Bakiak waktu melaju dengan cepat hingga masa PRRI. Cerpen ini fokus pada sejarah bakiak bagi seorang nenek. Bakiak yang hilang itu ternyata mas kawin dari suaminya. Ia disunting saat bakiak begitu berharga dan menjadi barang bergengsi. Sebab itulah ia sangat sedih dan tak ingin digantikan dengan bakiak yang lain. Ketika itu, komunis menarik simpati masyarakat dengan memberikan bakiak kepada penduduk. Bagi orde yang berkuasa, siapa pun yang memakai bakiak, ia adalah komunis. Maka suami si nenek dikejar-kejar oleh orde yang berkuasa meski ia sebenarnya bukan komunis. Si suami terus gelisah karena dikucilkan oleh negara dan masyarakat hingga akhirnya ia meninggal. Bakiak itu menjadi penyebab kematian si suami, begitulah si nenek yang meninggal karena kehilangan bakiak.

Ketiga cerpen terakhir mungkin merupakan cerpen yang benar-benar terjadi. Hal ini terlihat dengan tahun dan peristiwa yang disebutkan di dalamnya. Misalnya tahun 1938 pada cerpen Emma Haven, tahun 1891 pada cerpen Orang Rantai¸dan peristiwa PRRI pada cerpen Bakiak.

CERITA PENDEK-cerita pendek di dalam ini pernah dipublikasikan di Koran Tempo, Jurnal Nasional, Jurnal Nasional Bogor, Padang Ekspres, Haluan, Riau Pos, Jurnal Selarong, dan Jurnal Kreativa. Pernah memenangi beberapa sayembara penulisan cerita pendek, di antaranya: Lomba Cipta Cerpen Pemuda Menpora RI 2010, Sayembara Cerpen Balai Bahasa Padang 2005, dan Sayembara Cerpen Escaeva 2007. Pernah juga terpilih dalam beberapa penghargaan: Cerpen Pilihan Riau Pos 2008 dan Cerpen Pilihan Temu Sastrawan Indonesia II. Begitu juga di antaranya pernah menjelma sebagai naskah lakon dan naskah monolog, yang dipentaskan oleh Teater Langkah, Ranah Teater, dan Rumah Kreatif Kandangpadati.

Daftar Isi Kumis Penyaring Kopi

Kotak Kayu

Pandam

Kota Lalu, Ibu

Kepundan Ayah

Anggang

Orang Rantai

Kopi Daun

Emma Haven

Guru Siak

Tiga Patahan

Lapik Buruk

Bakiak

TENTANG PROSAIS

Pinto Anugrah, lahir 09 Maret 1985 di Sungai Tarab, Tanah Datar, Sumatra Barat. Besar di Padang dan berproses kreatif di sana. Untuk sementara ini tinggal di Yogyakarta. Sangat mencintai kampung halamannya. Hubungi di kootiq.anaklanun@gmail.com

Kabar Resensi Pekan Pertama April 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century

Karya I Nyoman Darma Putra

Resensi ditulis Thomas M Hunter

Dimuat KOMPAS, 1 April 2012

Buku karya I Nyoman Darma Putra ini memperkenalkan kepada kita betapa subur dan semaraknya kehidupan sastra Indonesia di Bali sejak zaman kolonial. Menguak sejarah perkembangan sastra secara detail sejak tahun 1920-an sampai 2000 dan menganalisis tema-tema dominan yang muncul-berulang dalam cerpen, puisi, drama, dan novel karya-karya penulis Bali. Buku yang merupakan pemyempurnaan dari disertasi ini adalah karya pertama yang menulis secara meyakinkan kehadiran dan perkembangan sastra Indonesia di Bali secara menyeluruh.

Sejarah Rempah, dari Erotisme Sampai Imperialisme

Karya Jack Turner

Resensi ditulis Riky Ferdianto

Dimuat KORAN TEMPO, 1 April 2012

Lewat buku ini, Turner berhasil mengangkat rentetan kesalahpahaman ihwal rempah pada masa lalu dan menceritakan kembali berbagai pernik perburuan rempah secara mendetail.  Turner seolah menegaskan anggapan bahwa rempah-rempah memberi pengaruh terhadap tokoh-tokoh penting dunia, dari Firaun Ramses, Yesus, Ibnu Sina, Marco Polo, Colombus, Hingga Vasco da Gama. Rempah tidak hanya menjajikan ekstase dalam sajian kuliner, tapi juga sisi erotika , manusia dan khasiatnya mengobati sejumlah penyakit.

Minamoto no Yoritomo

Karya Eiji Yoshikawa

Resensi  Fitri Zulfa

Dimuat JAWA POS, 1 April 2012

Sejarah memang ibarat puing-puing bangunan yang sudah usang. Tetapi, puing-puing itu dapat dijadikan sebagai data (bahan literer) untuk dikisahkan lagi menjadi sebuah cerita yang lantas bisa dijadikan pelajaran untuk generasi dimasa mendatang. Salah satu kisah dalam kepingan sejarah yang bisa dijadikan sebagai pelajaran itu adalah novel Minamoto no Yorimoto. Sebab, novel berlatar sejarah yang ditulis Eiji Yoshikawa (pengarang kenamaan Jepang) itu tidak lain mengisahkan kehidupan samurai pada abad ke-12 ketika Jepang masih diliputi sangketa perang saudara, perseteruan antarklan, bahkan hingga intrik perebutan kekuasaan yang dilakukan dengan bengis dn biadab.

Dari Relasi Upeti ke Mitra Strategis; 2.000 Tahun Perjalanan Hubungan Tiongkok-Indonesia

Karya Prof Liang Liji

Resensi ditulis Munawir Aziz

Dimuat JAWA POS, 1 April 2012

Catatan sejarah lintas dinasti di Tiongkok menjelaskan bahwa persinggungan kebudayaan antara Tiongkok dan Nusantara telah berlangsung selama 2.000 tahun lamanya, yakni sejak zaman Dinasti Han Timur (25-220). Prof Liang Liji membahas relasi tersebut dengan melakukan analisis secara mendalam. Yakni dengan membongkar beberapa kitab sejarah sejumlah kerajaan dalam narasi antardinasti di Tiongkok. Catatan hubungan antara Dinasti Tiongkok dan kerajaan Nusantara memberi dampak positif bagi relasi antara pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Indonesia. Prof Liang menyatakan, pada abad ke-20, hubungan RRT dan Indonesia dapat dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, periode 1950-1965. Tahap kedua, periode 1965-1988. Tahap ketiga, fase pasca-Orde Baru.

Gilad Atzmon, Catatan Kritikal tentang Pelestiina dan Masa Depan Zionisme

Karya Ahmad Syafii Maarif

Resensi ditulis Benni Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 April 2012

Perang saudara Israel-Palestina hingga kini belum menemui titik temu Israel tetap bersikukuh bahwa Palestina merupakan ‘tanah yang dijanjikan’ Tuhan. Maka dengan sekuat tenaga Israel akan tetap menduduki Palestina. Sebaliknya Bangsa Palestina menganggap bahwa yang mereka diami selama beberapa generasi adalah haknya. Buku ini menyuguhkan salah satu tokoh yang kritis dan menyuarakan hal tersebut. Ia adalah Gilad Atzmon lahir di Tel Aviv pada 9 Juni 1963 di lingkungan keluarga Zionis yang agak sekuler. Bagi Gilad Zionisme yang rasis tidak mungkin menjadi  bagian dari kemanusiaan, dan sangat mengancam perdamaian dunia. Gilad hanyalah satu dari banyak keturunan Yahudi yang makin sadar bahwa eksistensi dan perilaku rezim Israel di tanah Palestina melanggar semua hukum moral, kemanusiaan, internasional dan bahkan hukum agama mereka.

Jejaring Radikalisme Islam di Indonesia

Karya Bilver signh | Abdul Munir Mulkhan

Resensi ditulis Abdullah Hanif

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 April 2012

Rentetan aksi teror di tanah air sejak tahun 2000-an hingga kini masih menghantui kita. Islam acapkali tertuduh saat teror terjadi. Islam menjadi agama yang diberi stigma global sebagai pelaku teror. Padahal pada hakikatnya Islam adalah agama yang sangat menghargai keberagaman. Radikalisme diartikan sebagai paham atau aliran yang menghendaki perubahaan atau pembaharuan sosial politik secara drastis, bahkan seringkali dilakukan dengan cara anarkhis. Bilver Signh dan Munir Mulkhan, menawarkan solusi gerakan radikalisme melalui pendekatan kebudayaan.

Kisah Walikota yang Inspiratif; Jokowi, dari Jualan Kursi hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi

Karya Zenuddin HM

Resensi ditulis M Syaiful Amri

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 April 2012

Joko widodo atau Jokowi, adalah potert pemimpin sejati. Di balik kesederhanaan hidup, ia tak henti-hentinya memberikan terobosan spektakuler bagi kepentingan rakyat, itulah yang akan dilakukan. Baginya apalah arti pemimpin jika tak mampu memenuhi kebutuhan rakyat. Buku ini merupakan rekam jejak kepemimpinan Jokowi. Kisah-kisah inspiratif dalam estafet kepemimpinan dua periode benar-benar menggambarkan bukti bahwa pemimpin seperti Jokowi inilah yang patut ditiru pemimpin yang lain.

Anak Sejuta Bintang

Karya Akmal Nasery Basral

Resensi ditulis Irwan Kelana

Dimuat REPUBLIKA, 1 April 2012

Buku anak Sejuta Bintang ini menggambarkan kehidupan masa kecil salah seorang tokoh nasional. Dialah Aburizal Bakrie atau biasa disapa Ical. Seorang konglomert nasional, pemilik Group Bakrie, dan juga seorang politikus yang kini memimpin Partai Golkar. Mengambil setting Jakarta tahun 1951-1958, buku biografi yang dikemas dalam bentuk novel ini seperti memutarkan kembali romansa kehidupan masa TK dan sekolah rakyat (kini SD) Ical bersama ayahanda tercinta, Achmad Bakrie, dan ibunda tercinta Roosniyah, serta adik-adik, saudara-saudara, dan teman-temannya di Sekolah Yayasan Perwari. Seperti ditegaskan penulis pada awal buku ini, nama-nama tokoh, tanggal dan tempat kejadian, lokasi serta dialog yang terjadi dalam Anak Sejuta Bintang mengacu pada peristiwa yang pernah terjadi, baik dialami langsung maupun tidak langsung  oleh Aburizal Bakri, sepanjang kurun waktu 1951-1958.

Gayatri Rajapatni : Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit

Karya Earl Drake

Resensi ditulis Ing

Dimuat TRIBUN JOGJA, 1 April 2012

Earl Drake mantan duta besar Kanada untuk Indonesia (1982-1983), menulis buku bergenre roman sejarah tentang keberadaan sosok di balik kebesaran Kerajaan Majapahit. Earl Drake dalam karyanya ini, Gayatri Rajapatni : Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit, mengungkap sosok lain yang tak kalah besar dan patut direnungkan posisinya dalam kajian sejarah umum kerajaan tersebut. Uniknya tokoh besar  Majapahit ini ialah perempuan yang namanya hampir tenggelam di antara para pelaku sejarah laki-laki pada zamannya.

Kabar Resensi Pekan Keempat Maret 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Gayatri Rajapatni: Perempuan dibalik Kejayaan Majapahit

Karya Earl Drake

Resensi ditulis Soelistijono

Dimuat MEDIA INDONESIA, 25 Maret 2012

Dalam buku ini Drake tak hanya ‘menemukan ’ sosok perempuan terbesar dalam sejarah Nusantara yang nyaris tak lagi dikenal karena namanya tenggelam diantara para pelaku sejarah laki-laki pada zamannya. Disini Darke juga berhasil menghadirkan periode terbesar dalam sejarah masa silam kepulauan ini lengkap dengan segala intrik dan percaturan politiknya dengan gaya bertutur dan bahasa yang segar dan hidup.

Back to Work

Karya Bill Clinton

Resensi ditulis Yudo Anggoro

Dimuat KOMPAS, 25 Maret 2012

Krisis perekonomian yang terus mendera  Amerika Serikat (AS) saat ini membuat Bill Clinton tergerak urun rembuk untuk memberikan solusi dalam mencapai kembali apa yang dinamakan sebagai impian Amerika. Impian bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama besar menggapai cita-cita tanpa mempertimbangkan latar belakang etnis dan kelas sosial di Masyarakat. Dengan harapan yang masih ada, Clinton berusaha mengajak berbagai pihak untuk melupakan sejenak pertikaian dan hiruk-pikuk politik yang sering terjadi serta mengajak bersama-sama membangun mimpi Amerika. Namun, ini mustahil diraih jika mengedepankan strategi antipemerintah. Pemerintah justru merupakan aktor paling penting yang mesti dilibatkan dalam setiap kebijakan yang dibuat.

Gayatri Rajapatni: Perempuan dibalik Kejayaan Majapahit

Karya Earl Drake

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat KORAN TEMPO, 25 Maret 2012

Imperium Majapahit memiliki sejarah yang membanggakan. Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 Masehi. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta data arkeologis, sosiologis, dan antropologis, meliputi dokumen, puisi-puisi epik, dan tembang-tembang balada, hingga kajian-kajian modern, Earl Drake secara mengejutkan menemukan sosok perempuan terbesar dalam sejarah Nusantara yang nyaris tak lagi kita kenal karena namanya tenggelam diantara para pelaku sejarah laki-laki pada zamannya. Perempuan itu adalah Gayatri Rajapatni. Rupanya, Gayatri Rajapatni adalah sosok sentral pemberi ilham, yang dengan cara tradisional Jawa diam-diam memberikan wewenang kerajaan bagi kebijakan-kebijakan Gajah Mada.

Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai

Karya Soedjojono, dkk

Resensi ditulis Imam Muhtarom

Dimuat JAWA POS, 25 Maret 2012

Sejarah seni rupa Indonesia belum begitu lama. Secara intensif kurang lebih 80 tahun berjalan, dikurangi jeda kosong masa Raden Saleh yang meninggal 1880. Meski demikian, tetap penting artinya untuk kembali menilik apa-apa yang telah terjadi. Terlebih dalam perkembangan terkini, banyak keraguan mengenai arah dalam era seni rupa Indonesia kontenporer. Dalam situasi tersebut, penting diperhatikan kemunculan buku Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai. Buku itu hendak mengingatkan serangkaian sejarah yang menjadi latar belakang seni rupa Indonesia. sebelum mencapai titik seperti sekarang, sejarah seni rupa pernah begitu mengenaskan.

Ngawur karena Benar

Karya Sujiwo Tejo

Resensi ditulis Noval Maliki

Dimuat JAWA POS, 25 Maret 2012

Menghibur sekaligus mencerahkan. Jenaka tanpa harus melupakan persoalan bangsa. Begitu kuat kecintaan dan kerinduannya terhadap sejarah masa lalu serta budaya yang diwariskannya. Itu sebesar kecintaannya terhadap negara sehingga dia mau menghabiskan energinya untuk membedah beragam peristiwa teraktual dengan sudut pandang yang beraneka. Itu kesan yang tertangkap dari buku Sujiwo Tejo yang berjudul Ngawur karena Benaryang berisi kumpulan tulisannya diberbagai media massa nasional, seperti Jawa Pos.

Fikih Wanita

Karya Ustz Herlini Amran MA

Resensi ditulis Sam Edy Yuswanto

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 25 Maret 2012

Buku ini berisi kumpulan tanya jawab “Fikih Wanita” yang pernah dimuat di majalah Ummi. Terdiri dari beragam pertanyaan keseharian yang bisa jadi pernah atau bahkan sedang dialami oleh para wanita yang ada di sekitar kita. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita-wanita bermasalah dalam buku ini sepintas pertanyaan mudah, ringan, sepele, tapi ternyata tidak mudah untuk menjawab serta memberikan solusi terbaiknya.

Garam, Aduan Sapi dan Kekerasan : Esai-Esai tentang Madura dan Kebudayaan Madura

Karya Hubb De Jonge

Resensi ditulis Juma Darmapoetra

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 25 Maret 2012

Citra keras Madura telah melekat begitu kuat dalam lingkungan sosial masyarakat Indonesia. Madura dicitrakan berwatak keras, cepat panas, urukan, penuh semangat dan terkesan tidak beretika. Citra negatif dan streotipe yang melekat inilah yang terus berkembang hingga sekarang. Tidak jarang suku lain merasa takut berhubungan dengan manusia Madura secara luas. Buku ini membuka cakrawala berpikir masyarakat Indonesia untuk melihat manusia Madura secara luas. Deskriminasi kebudayaan lewat penciptaan streotipe hanya akan menimbulkan ketimpangan sosio kultural; etnis satu lebih tinggi dari etnis lainnya.

Berislam Secara Toleran

Karya Irwan Masduqi

Resensi ditulis Andi Andrianto

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 25 Maret 2012

Sebagai sebuah disiplin ilmu, konsep toleransi patut mendapat kritik –reflektif sekaligus menawarkan solusi yang solutif. Itu didasarkan pada kenyataan bahwa wacana toleransi yang acap digembar-gemborkan di negeri ini belum mampu menyentuh aspek hakiki kehidupan kelompok agama. Hal menarik dikupas dalam buku ini, yakni mengenai toleransi, pengetahuan toleransi yang tak jamak diketahui masyarakat umum. Spirit toleransi yang deskruktif seperti yang terjadi dewasa kini. Namun ajaran toleransi yang dapat membangun kerukunan agama antara satu dengan kelompok agama yang lain.

Mukzizat Shalat & Doa

Dimuat REPUBLIKA, 25 Maret 2012

Karya M Agus Syafii

Resnsi ditulis  Prima Restri Ludfiani

Agus Syafii dalam bukunya ini berusaha berbagi kepada sesama umat manusia tentang kisah pengalaman berat dan sedih yang dialami di kehidupan nyata. Tidak secara eksplisit membicarakan teknik berdoa, buku ini bercerita tentang perjalanan perenungan manusia dalam menemukan kembali jalannya kepada Allah. Naskah dalam buku ini, bermula dari curhatan di sebuah komunitas page facebook dengan alamat Mukzizat Shalat dan Doa yang menjadi salah satu The Best Ten page facebook Indonesia. buku ini berisi kumpulan kisah nyata dan inspiratif yang pernah dimuat di halaman facebook.

Hidden Heroes

Karya Arief Koes | Tim Kick Andy

Resensi ditulis Sunaryo

Dimuat SUARA MERDEKA, 25 Maret 2912

Kecacatan fisik tidak lantas membuat seseorang meratapi hidup dan melemahkan semangat untuk berkarya. Kecacatan justru bisa melecut seseorang untuk berbuat lebih baik dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.  Buku ini sangat relevan digunakan sebagai cermin di era kini. Utamanya ditengah hilangnya nilai-nilai empati, saling mengasihi, peduli pada sesama, dan semangat untuk membantu. Kiranya buku ini mampu menggugah semangat kita untuk saling berbagi, saling menolong, dan saling mencintai antar sesama manusia.

Jokowi, Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker

Karya Yon Thayrun

Resensi ditulis Toa

Dimuat TRIBUN JOGJA, 25 Maret 2012

Sosok Jokowi memang menjadi sorotan saat ini. Wali kota fenomenal ini sering menarik perhatian khalayak dengan aksinya yang “nyleneh”. Sebagai seorang walikota Solo, ia menarik perhatian publik dengan berbagai kebijakan yang membela kepentingan rakyat. Dalam buku ini, Yon Thayrun menuturkan keseharian Jokowi yang sederhana. Mulai dari kehidupan masa kecil Jokowi, sampai bagaimana akhirnya Jokowi “kecelakaan” dan masuk dunia politik.

Kabar Resensi Pekan Ketiga Maret 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia.

Gadis KretekGadis Kretek

Karya Ratih Kumala

Resensi ditulis Redaksi

Dimuat MEDIA INDONESIA, 18 Maret 2012

Dalam novelnya kali ini, Gadis Kretek, Ratih dapat meramu aroma kretek dengan kisah romantis. Ramuan itu pun bisa masuk dengan Smooth pada kisah utama yang bercerita tentang sejarah percintaan seorang juragan kretek di Kudus yang dihormati. Dalam novelnya itu, alur cerita Ratih terasa kuat saat masuk ke keluarga Bromo Soeraja. Background kebudayaan Jawa yang di tonjolkan turut memperkuat kisah percintaan yang terjadi pada ‘tempo dulu’ dan membawa pembaca ke sana.

Hak-hak Asasi Manusia: Polemik dengan Agama dan Kebudayaan

Karya F. Budi Hardiman

Resensi ditulis Franz Magnis-Suseno SJ

Dimuat KOMPAS, 18 Maret 2012

Pada tahun 1990 negara-negara Islam mempermaklumkan the Cairo Declaration on Human Rights in Islam di mana hak-hak asasi manusia dinyatakan berlaku sejauh tidak bertentangan dengan syariah Islam. Namun, debat tentang hak-hak asasi manusia belum juga selesai. Ucapan seperti “jangan memutlakan hak-hak asasi manusia” masih sering terdengar. Melihat situasi ini, buku F Budi Hardiman terbit tepat pada waktunya. Keunggulan buku ini adalah: pertama, penulis berhasil membantah sekian omongan dangkal yang menyamakan hak-hak asasi manusia dengan liberalisme Barat. Yang kedua, pembahasannya bertolak dari pengalaman-pengalaman negatif dalam medernitas.

Manipulasi Kebijakan Pendidikan

Karya Darmaningtyas | Edi Subkhan

Resensi ditulis Nawawi S

Dimuat KORAN TEMPO, 18 Maret 2012

Telah lama kebijakan pendidikan di Indonesia menjadi sasaran kritik dari berbagai kalangan. Mulai soal visi pendidikan yang tidak jelas sampai implementasi pendidikan yang berlumur masalah. Juga yang tidak kalah penting adalah soal akses dan pemerataan pendidikan. Buku yang disusun oleh Darmaningtiyas dan Edi Subkhan berjudul Manipulasi Kebijakan Pendidikan ini memberi lampu penerang yang sangat terang tentang realitas pendidikan kita saat ini. Ternyata setelah semua terang benderang, mulai soal sistem, implementasi, perangkat, hingga hal yang bersangkutan dengan pendidikan begitu bobrok dan memprihatinkan. Salah satu contoh dari sekian bobroknya sistem pendidikan kita adalah legistimasi Rintisan Sekolah Berstandar Intenasional (RSBI), yang merupakan wujud penggiringan pendidikan di Indonesia menjadi produksi kapital.

Dari Langit Turun Ke Bumi: Best Practices For Spiritual Leadership

Karya Misbahul Huda

Resensi ditulis Mursyid Burhanuddin

Dimuat JAWA POS, 18 Maret 2012

Dari Langit Turun ke Bumi adalah buku ketiga Misbahul Huda. Buku ini menyeruak diantara maraknya diskursus Spiritual Leadership. Seperti Mission Ini  Possible dan Ummi Inside, buku tersebut memilih angel dan penghampiran yang berbeda. Meski buku ini memuat 29 hukum dan teori spiritualitas, penulis tetap “hadir dan lebur” pada segenap teori yang dikemukakan. Dengan begitu buku how to tersebut terasa cair, praktis, dan tetap kredibel.

Compassion

Karya Karen Amstrong

Resensi ditulis Abd. Sidiq Notonegoro

Dimuat JAWA POS, 18 Maret 2012

Kekerasan demi kekerasan yang diatas namakan agama, sepertinya, bukan hal yang aneh lagi di negeri ini. Akibatnya jalan menuju perdamaian dan peredaan konflik semakin tertutup. Karena itu, tidaklah berlebihan bila kerap ditemukan fakta bahwa dibalik konflik yang di atas namakan agama, intern maupun ekstern umat beragama, bersemayam kepentingan politik “sekuler” sesaat. Bermula dari fakta-fakta seperti itu, yang ternyata juga terjadi hampir diseluruh belahan bumi ini, Karen Amstrong yang sangat dikenal sebagai profesor yang piawai menguraikan pelik sejarah agama-agama harus keluar dari maqom-nya sebagai sejarawan dan mengambil peran lazimnya seorang guru spiritual pribadi.

Perempuan Berbicara Kretek

Karya Abmi Handayani, dkk

Resensi ditulis Andi Adrianto

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 18 Maret 2012

Literatur Jawa klasik mengisahkan tentang sosok perempuan bernama Rara Mendut, berasal dari klan biasa, Mendut tak minder, apalagi pesimis. Bahkan, orang mengenal dia sebagai perempuan yang sangat berani. Suatu ketika, panglima tua namanya Tumenggung Wiraguna mempunyai maksud terselubung dengan Mendut. Merasa punya kekuasaan, Wiraguna bebas mewujudkan segala mimpi dan keinginannya, termaksud berniat menikahi Mendut. Mendut menolak ajakan Wiraguna, meski ia sadar resiko berat yang akan dihadapinya.

Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950-1965

Karya Jennifer Lindsay | Maya HT Liem

Resensi ditulis Mahroes Ali

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 18 Maret 2012

Kumpulan esai-esai panjang tergantung dalam buku berjudul Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950-1965 ini mengajak pembaca untuk turut serta ‘menziarahi’ kembali kepingan kebudayaan yang tercecer di Indonesia. dalam sejarah Republik Indonesia, dimensi kebudayaan karapkali terabaikan dan bahkan tak mendapatkan perhatian sama sekali. Seakan aspek budaya dilupakan begitu saja, dan lebih mengutamakan peristiwa heroik yang berdarah-darah.

Dinamika Asia Tenggara Menuju 2015

Karya C.P.F. Luhulima

Resensi ditulis Tommy Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 18 Maret 2012

Indonesia merupakan salah satu negara yang tergabung dalam suatu organisasi Asia Tenggara (ASEAN). Dengan masuknya Indonesia di ASEAN, Indonesia tentu memiliki peran yang penting dalam perkembangan masyarakatnya. Yang mana, ini sama hal-nya dengan Indonesia memiliki kesempatan untuk meningkatkan kerja sama dengan negara sesama anggota ASEAN demi kebaikan masing-masing negara dan ini akan berdampak baik pula kehidupan rakyatnya.  Buku ini hadir sebagai salah satu wujud keprihatinan kita semua dalam dunia perkuliahan bagi mahasiswa dalam program studi hubungan internasional  khususnya. Masih ‘kurangnya’ kepustakaan tentang hubungan internasional. Maka dengan terbitnya buku ini akan menambah literature.

Kuasa Ramalan

Karya Peter Carey

Resensi ditulis Abdullah Hanif

Dimuat SUARA MERDEKA, 18 Maret 2012

Kurang lebih dua abad silam terjadi peperangan sengit antara bangsa kolonial Inggris dengan Keraton Ngayogyokarto. Bangsa kolonial memporak-porandakan Keraton Ngayogyokarto. Ribuan karya monumental produk asli keraton dirampas dan dibawa oleh Inggris dan tidak dikembalikan hingga sekarang. Sebuah kerugian yang luar biasa diderita bangsa Indonesia, dan Keraton Ngayogyokarto khususnya. Hal ini mengetuk pintu hati salah satu ilmuan ternama Inggris, Peter Carey. Carey merasa bangsanya berhutang budi kepada Keraton Ngayogyokarto lantaran perampokan karya adihulung di atas. Ia kemudian menuliskan buku tentang sosok ternama putra asli Keraton, Pangeran Diponegoro. Buku ini hasil penelitiannya selama kurun 30 tahun dengan sumber karya adihulung hasil perampasan sebagai referensi utama.

Batik Nusantara : Makna Filosofis, Cara Pembuatan, dan Industri Batik

Karya Ari Wulandari

Resensi ditulis Redaksi

Dimuat TRIBUN JOGJA, 18 Maret 2012

Batik merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang fenomenal. Dalam buku ini Ari Wulandari berhasil menyajikan sejarah batik dengan cara yang ringan dan mudah dicerna pembaca. Kondisi pelestarian batik yang paling mutakhir pun disajikan dengan apik. Buku ini secara lengkap mengulas mengenai batik, dimulai dari sejarah batik di 24 provinsi dari Jawa Timur hingga Papua, pengenalan batik keraton, batik pesisiran, dan batik pendalaman.

Kabar Resensi Pekan Kedua Maret 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia.

megawatiMegawati: Anak Putra Sang Fajar

Karya Yvonne de Fretes dan Rita Sri Hastuti

Resensi ditulis ST Sularto

Dimuat KOMPAS, 11 Maret 2012

Terkumpul dari 50 tokoh dengan beragam latar belakang yang memberikan komentar tentang Megawati sebagai salah satu tokoh wanita pemimpin perermpuan yang pertama dalam sejarah kenegaraan di Indonesia merdeka, pendapat dan komentar mereka dirajut dalam satu bab. Sebagai lagu pujian , jangan berharap buku ini merupakan kajian berbobot tentang “Putra Sang Fajar”. Setiap tokoh membawa zaman dan eranya sendiri, begitu juga zaman dan ketokohan Soekarno dan Megawati.

Your Journey to be Ultimate U

Karya Rene Suhardono

Resensi ditulis Qaris Tajudin

Dimuat KORAN TEMPO, 11 Maret 2012

Buku ini pada akhirnya akan membuat kita menyadari bahwa pekerjaan kita bukanlah segalanya. Pada ujungnya, semua harus bisa memenuhi passion kita, bukan malah menyiksa. Membedakan antara pekerjaan (job) dan karier (career) adalah mantra Rene yang kita jumpai dibanyak tulisannya dan buku-bukunya, mantra ini memang berulang, tapi Rene berhasil membuat kita tak bosan mendengarnya.

366 Reflections of Life, kisah-kisah Kehidupan yang Meneduhkan Hati

Karya Sidik Nugroho

Resensi ditulis T. Nugroho Angkasa

Dimuat JAWA POS, 11 Maret 2012

Dalam buku ini terdapat 366 refleksi kehidupan yang ditulis Sidik Nugroho salah satunya kisah kegigihan seorang ibu bernama Sansan. Semula anaknya terlahir normal, tapi kemudian terserang virus ganas. Sibuah hati tercinta menjadi tuli. Kendati demikian, Sansan tidak menyerah. Dia justru memboyong Gween, nama anaknya, ke Australia. Dari kisah nyata itu, Sidik Nugroho mau mengatakan satu hal. Segiyogyanya, pengorbanan, usaha ucapan syukur, dan kepasrahan mesti dilakoni secara seimbang.

Cerita Cinta Enrico

Karya Ayu Utami

Resensi ditulis Tufail Muhammad

Dimuat JAWA POS, 11 Maret 2012

Kebebasan merupakan kebutuhan manusia setiap manusia yang tak bisa disangkal. Manusia membutuhkan kebebasan untuk dapat mengekspresikan keberadaannya didunia. Tetapi kebebasan juga bukanlah jaminan manusia akan bahagia. Ketika dengan kebebasannya manusia tidak tahu apa yang akan dilakukannya, kebebasan justru menimbulkan rasa kesepian yang sangat dalam terhadap seseorang. Kira-kira itulah yang menjadi tema besar (grand theme) novel karya Ayu Utama tersebut. Sebagai tokoh utama novel yang terlahir bersamaan dengan pemberontakaan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), Enrico mengalami masa-masa bayi yang sulit. Dia harus keluar masuk hutan dengan ibu (syirnie), kakak (Sanda), dan seorang pembantu (Rah).disisi lainnya ayahnya, Muhammad Irsad, harus berjuang di medan pertempuran membela PRRI (yang sesungguhnya tidak ingin dilakukannya) demi kepatuhannya kepada atasan.

Gilad Atzmon

Karya Ahmad Syafii Maarif

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat SUARA MERDEKA, 11 Maret 2012

Konflik Israel-Palestina hingga kini tetap berkobar. Konflik itu bukaanlah sebuah konflik yang sederhana. Dua negara dengan ideologi yang berbeda dan mendekralasikan diri untuk tak saling menyerah dan bertahan dengan pertempuran yang tak menemui ujung. Namun tak semua keturunan Yahudi sejalan dan setuju dengan semua kekejaman tersebut. Salah satunya bernama Gilad Atzmon yang oleh Syafii Maarif dibeberkan dengan jeli di buku ini. Buku Gilad Atzmon ini adalah catatan kritikal tentang Palestina dan masa depan Zionisme yang berawal dari hasil korenpondensi antara Ahmad Syafii Maarif dengan Gilad Atzmon, seorang Zionis yang akhirnya antizionis.

Kuasa Ramalan (3 Jilid)

Karya Peter Carey

Resensi ditulis Toa

Dimuat TRIBUN JOGJA, 11 Maret 2012

Waktu 40 tahun yang dihabiskan oleh Dr Peter Carey untuk meneliti kehidupan Pangeran Diponegoro benar-benar menguatkan buku ini. Taidak hanya sekedar lengkap namun juga mampu merangkai berbagai versi. Peter Carey merangkai dari sumber Belanda, inggris dan berbagai babad di Jawa dengan begitu akurat dan tepat porsinya.

Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi

Karya Savitri Scherer

Resensi ditulis Muhammad Harya Ramdhoni

Dimuat LAMPUNG POST, 11 Maret 2012

Apabila hanya membaca judul, orang awam akan berpendapat bagaimana seorang sekaliber Pramoedya tak mungkir dari kepentingan ideologi dalam menuliskan karya-karyanya. Bagaimana karya-karya sastra seorang Pram akhirnya luruh ke dalam kerja-kerja politik yang memiliki matlamat ideologis. Hal itu merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan mengingat keterlibatannya yang intens dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafilisi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Pandangan sekilas terhadap judul buku ini memang benar adanya. Buku ini bukan saja menjelajahi biografi seorang Pramoedya, melainkan juga hubungan antara dunia nyata dan dunia fiksinya. (Aya Hidayah/IBOEKOE)

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia.

Kabar Resensi Pekan Pertama Maret 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia.

Ideologi Islam dan Utopia: Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia

Karya Lutfhi Assyaukanie

Resensi ditulis Saidiman Ahmad

Dimuat KOMPAS, 4 Maret 2012

Represi Orde Baru ditenggarai mematikan imajinasi politik Islam hingga kini. Tahun 1955, partai-partai Islam berhasil meraup dukungan 43 persen suara. Namun 40 tahun kemudian, kekuatan-kekuatan politik Islam hanya meraih sekitar 15 persen suara (Pemilu 1999, 2004, dan 2009). Lutfhi Assyaukanie melalui Ideologi Islam dan Utopia: Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia memiliki pandangan yang berbeda. Memang benar, Soeharto dan Orde Baru-nya memiliki andil besar dalam perubahan orientasi politik masyarakat Muslim Indonesia. Namun, itu bukan faktor tunggal. Yang jauh lebih penting, menurut Lutfhi Assyaukanie, adalah perubahan argumen yang terjadi pada kelompok Islam sendiri.

Membunuh_IndonesiaMembunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek

Karya Abhisan DM | Hasriadi Ary | Miranda Harian

Resensi ditulis Ririn Agustia

Dimuat KORAN TEMPO, 4 Maret 2012

Buku berjudul Membunuh Indonesia: Konspirasi  Global Penghancuran Kretek itu membahas bagaimana sejarah kretek di Indonesia. Cerita dimulai dari sejarah komoditas lainnya, seperti garam, gula, jamu, yang lebih dulu terlibas karena adanya kampanye global yang dilakukan negara maju. Menggunakan contoh tersebut, buku ini mengatakan industri kretek dalam negeri juga terancam mengalami hal serupa.

Menerjang Batas

Karya Estu Ernesto

Resensi ditulis Miftakhul F.S.

Dimuat JAWA POS, 4 Maret 2012

Sepak bola memang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Sebab, inilah olahraga yang menjadi lingua franca bagi warga dunia yang terpisah secara etnis, agama, budaya, ataupun ideologi. Sepak bola membangkitkan luapan keinginan dan emosi yang tidak sama dengan olahraga lainnya. Sarana paling tepat untuk mengekspresikan diri. Baik dilapangan di tribun penonton, maupun di depan layar kaca. Itulah sepak bola yang tergambar dalam karya Estu Susanto ini. Tokoh utamanya, Edi Baskoro, selalu meyakini sepak bola bakal membuat jalan hidupnya bahagia.

Majapahit Peradaban Maritim: Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia

Karya Irawan Djoko Nugroho

Resensi ditulis Djoko Pitono

Dimuat JAWA POS, 4 Maret 2012

Buku sembilan bab ini pastilah akan menarik sebagai kajian maupun referensi, penulis mejelaskan secara runtut dan terperinci peradaban maritim yang melingkupi Jawa mulai awal hingga bangkrutnya. Dalam bab 2, misalnya, ditunjukan bagaimana Jawa sebagai kerajaan maritim nasional, para pendukungnya, juga bukti-bukti adanya upeti dalam catatan masa lalu.

Bismillah, Aku Tidak Takut Gagal!

Karya Ummu Azzam dkk

Resensi ditulis Sam Edy Yuswanto

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 4 Maret 2012

Buku motivasi yang berjudul Bismillah, aku Tidak Takut Gagal! Ini ditulis oleh 26 penulis dari berbagai profesi. Buku ini berisi puluhan artikel yang mengupas tentang cara mengubah tiap kegagalan agar menjadi sebuah modal utama untuk mempercepat kesuksesan.

Sosiologi Agama:  Esai-esai Agama di Ruang Publik

Karya Dr Zuly Qodir

Resensi Ditulis Rohman Abdullah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 4 Maret 2012

Esai-esai agama yang terkumpul dalam buku ini menjadi suatu acuan bagaimana langkah tepat beragam di tengah gempuran  arus globalisasi yang terus mengendus ini. Dalam hal ini, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia mendapat tantangan berat, sebab jika para pemuka umat tidak mampu menyiasati perubahan yang ditimbulkan globalisasi maka Islam sebagai agama perdamaian tak akan lagi mencerminkan adanya nilai-nilai perdamaian.

Dahlan –Asy’ari Kisah Perjalanan Wisata Hati

Karya Susatyo Budi Wibowo

Resensi ditulis Wagiyo

Resensi KEDAULATAN RAKYAT, 4 Maret 2012

Sosok KH Ahmad Dahlan dan KH Hasym Asy’ri tidaklah asing di telinga. Keduanya adalah pendiri organisasi Islam di Indonesia Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) namanya. Kedua tokoh ini terkenal rendah hati, ikhlas berilmu tinggi dan yang tidak banyak dimiliki tokoh-tokoh lain adalah memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap tanah air. Melalui buku ini “Dahlan Asy’ari, Kisah Perjalanan Wisata Hati” inilah Susatyo Budi Wibowo membeberkan betapa keduanya saling ‘bermusuhan’. Dan tentunya anggapan-anggapan tersebut bukan berdasarkan referensi yang jelas melainkan anggapan dari realita yang ada. Mereka hanya melihat perbedaan awal puasa, perbedaan idul fitri, qunud dan tidak qunud subuh dan lain sebagainya.

Detik Demi Detik

Karya Ayunin Dkk

Resensi ditulis Reiny Dwinanda

Dimuat REPUBLIKA, 4 Maret 2012

Sejumlah pertanda akan datang menghampiri orang yang sudah dekat ajalnya. Detik Demi Detik yang merupakan kumpulan 11 kisah nyata mendampingi orang yang menghadapi sakratulmaut bukanlah buku yang ingin membuat pembacanya bergedik. Detik Demi Detik merupakan antologi  yang disusun oleh 11 penulis.

Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek

Karya Abhisan DM | Hasriadi Ary | Miranda Harian

Resensi ditulis Bandung Mawardi

Dimuat SUARA MERDEKA, 4 Maret 2012

Buku ini mengundang pembaca untuk ziarah sejarah demi memunguti makna kretek dari sekian zaman. Sejarah kretek bisa ditelusuri dari tembakau dan cengkih. Tembakau sebagai bahan pembuatan kretek bukan tanaman asli Indonesia. Konon tanaman tembakau hadir  di Indonesia abad XVI.

Manusia Setengah Salmon

Karya Raditya Dika

Resensi Ditulis Toa

Dimuat TRIBUN JOGJA,  4 Maret 2012

Tema komedi dengan bahasan kehidupan sehari-hari masih menjadi Andalan Raditya Dika untuk memikat penggemarnya. Buku ini ditulis dengan gaya khas Radtya Dika, yaitu menjelek-jelekan diri sendiri. Buku ini bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Ada juga bab yang berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat ala Radtya Dika. Juga ada komik di beberapa bab yang dibuat Adriano Rudiman.

Kabar Resensi Pekan Keempat Februari 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

Diskursus Alternatif dalam Ilmu Sosial Asia; Tanggapan terhadap Eurosentrisme

Karya Syed Farid Alatas

Resensi ditulis Yasser Arafat

Dimuat KOMPAS, 26 Februari 2012

Ilmu sosial Barat menjadi rujukan, baik dalam novel konsep, teori, metodologi, penggunaan buku daras,  maupun bantuan dan riset dan pengajaran. Padahal ilmu sosial Barat sendiri memiliki sejumlah cacat bawaan yang sulit dimaklumi hingga kini. Pertama ia merupakan konstruksi pengetahuan sarat penghakiman bahwa Asia dan peradaban  non-Barat lainnya adalah dalil kelatarbelakangan umat manusia. Kedua beberapa konsep kunci dalam ilmu sosial Barat sungguh tak memadai untuk diterapkan di Asia. Misalnya konsep ‘religion’ yang sering dipakai oleh para antropolog dan sosiolog untuk melihat ‘agama’. Ketiga, ada darah kolonialisme yang mengaliri basis produksi dan tata operasionolisme ilmu sosial Barat.

Cerita Cinta Enrico

Karya Ayu Utami

Resensi ditulis Veven SP. Wardhana

Dimuat KORAN TEMPO, 26 Februari 2012

Terusik oleh teks sampul belakang: “Cerita Cinta Enrico adalah kisah nyata?”. Dalam buku ini Sosok utama “aku”, namanya Prasetya Riksa, bisa diacukan pada  sosok nyata fotografer Erik Prasetya, sementara nama kekasih yang kemudian menikah dan dinikahi senantiasa disingkat dalam inisial A hanya sekali disebutkan  komplet Justina A yang punya kesejaran akta kelahiran tertanggal 21 November 1968, tentulah sosok konkret  (Justina) Ayu Utami, penulis sejumlah novel, kolom dan buku Cerita Cinta Enrico ini. Yang menarik, pelbagai peristiwa yang dialami Rico selalu ada kaitannya dengan sejarah kontenporer Indonesia. Jika bukan sejarah nyata itu berpengaruh pada kehidupan Rico dan keluarga, sebaliknya kehidupan keluarga Rico yang sekali-sekali bahkan menggerakkan sejarah.

Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi: Esai-Esai tentang Orang Madura dan Kebudayaan Madura

Karya Huub de Jonge

Resensi ditulis Naufil Istikhari Kr

Dimuat  JAWA POS, 26 Februari 2012

Streotip hadir sebagai kultur budaya untuk memandang kelompok lain dengan sebelah mata. Dalam kaskus Indonesia, tidak banyak kelompok etnis yang menyandang streotip negatif dan samar-samar sebanyak melekat pada orang Madura. Elias (1976) mencatat, apabila menyangkut streotip orang luar, ciri-ciri “jelek” sering dibentuk dengan mengambil contoh individu “terburuk” dalam kelompok tersebut. Soal streotip kelompok sendiri, ciri-ciri “baik” dipetik dari orang dalam yang “terbaik” itulah yang terjadi pada orang Madura. Meski merupakan etnis terbesar ketiga di Indonesia, orang-orang Madura tidak diuntungkan secara sosial. Pandangan miring yang terlanjur melekat tidak mudah dihilangkan.  Karena alasan itulah, De Jonge, antropolog asal Belanda, memiliki ketertarikan kuat terhadap kebudayaan orang-orang Madura yang di setiap lintasan sejarah hampir selalu berlumuran stigma, streotip, citra negatif, dan parasangka-prasangka yang menyedihkan.

Jerusalem: The Biography

Karya Simon Sebag Montefiore

Resensi ditulis Hilyatul Auliya

Dimuat JAWA POS, 26 Februari 2012

Buku yang berjudul lengkap Jerusalem: The Bigraphy ini merupakan sebuah sintesis yang didasarkan kepada satu pembacaan luas tentang sumber-sumber primer, kuno dan modern, melalui seminar-seminar pribadi para spesialis, profesor, arkeolog, serta berdasar kunjungan-kunjungan langsung ke Jerusalem yang tak terhitung yang dilakukan penulisnya. Sejarah sering disajikan sebagai serangkaian perubahan brutal dan balas dendam kekerasan. Tapi, buku ini menunjukan bahwa Jerusalem adalah sebuah kota kontinuitas dan koeksistensi, sebuah metropolis hibrida dari bangunan-bangunan hibrida dan masyarakat.

Berjalan Menembus Batas

Karya A Fuadi dkk

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 26 Februari 2012

Kisah yang tertuang dalam buku ini bukan kisah politisi ataupun artis yang saban hari menguasai media masa. Buku ini hanya mengisahkan perjuangan hebat manusia-manusia biasa  yang hidup nyata tanpa kepalsuan membangun citra. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni melawan keterbatasan harta, menahan rasa sakit dan menembus batas usaha.

Belajar dari Seratus Puisi dari Seratus Penyair

Karya Sunardian Wirodono

Resensi ditulis A Asranur Arifin

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 26 Februari 2012

Dalam buku ini penulis menghimpun  seratus puisi dari seratus penyair Indonesia sejak RA Kartini (1879-1904), Chairil Anwar, Sapardi Djoko Darmono, Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini sampai nama Riskha Susanti. Setiap puisi mendapatkan semacam tanggapan yang akan mengantarkan pembaca pada pemahaman sebuah tema tertentu. Yang ditampilkan penulis bukan kronologi pemikiran tetapi begitu banyak pernik kebijaksaan yang akan tersusun menjadi sebuah mosaik kehidupan.

Ayahku Inspirasiku

Karya Mariska Lubis

Resensi ditulis Alwi Shahab

Dimuat REPUBLIKA, 26 Februari 2012

ketika Bung Karno bertekad menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa mandiri, dia pun menunjukan TD Pardede sebagai menteri Urusan Berdikari singkatan dari “berdiri di atas kaki sendiri”. Dia membentuk kabinet pada 1965, tak lama setelah terjadi G30S. Bagi presiden pertama RI ini, TD Perdede adalah orang yang mampu mengayuh biduk dalam gelombang. Meski TD Pardede telah berpulang pada usia 75 tahun pada 1991, sanjungan terhadapnya sebagai seorang pekerja keras membuat bangga mereka yang menghadiri launching buku tentang kehidupannya yang berjudul Ayahku Inspirasiku, pada 10 Februari 2011.

Identitas Tionghoa Muslim Indonesia, Pergulatan Mencari Jati Diri

Karya Afthonul Afif

Resensi ditulis 92

Dimuat SUARA MERDEKA, 26 Februari 2012

Buku ini menelusuri perilaku diskriminatif yang menimpa masyarakat Tionghoa. Orang Pribumi dan Tionghoa diadu-domba oleh rezim Orde Baru untuk melanggengkan  kekuasaan. Hal ini dilakukan pemerintah demi mengamankan “stabilitas” kekuasaan. Perlakuan deskriminatif yang dilakukan kelompok suku bangsa mayoritas pribumi terhadap kelompok minoritas Tionghoa, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat.

Jawara, Angkara di Bumi Krakatau

Karya Fatih Zam

Resensi ditulis Toa

Dimuat TRIBUN JOGJA, 26 Februari 2012

Novel ini mengangkat tema konflik horizontal antara jawara dan ulama (kiai dan santri) juga perihal meletusnya Gunung Krakatau. Pada bagian awal, pembaca disuguhi potongan-potongan kisah beberapa tokoh yang muncul silih berganti dengan persoalan masing-masing. Ada tokoh Badai, pendekar muda yang berambisi mencari kitab Serat Cikaudeun yang ditulis Syekh Mansyur, seorang ulama Banten. (Aya Hidayah)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan