-->

Arsip Resensi Toggle

Panduan Juri Musik & Nyanyi | Adjie Esa Poetra | 2012

Panduan Juri Musik dan NyanyiJudul: Panduan Juri Musik & Nyanyi
Penulis: Adjie Esa Poetra
Editor: Faiz Manshur
Isi:136 hlm.
Penerbit: Nuansa Cendekia, 2012

Yang Perlu Diketahui Dari Kontes Nyanyi

Oleh Donny Anggoro*

Gemebyar pelbagai kontes nyanyi misalnya seperti ajang Indonesian Idol tentunya membuat dunia musik bergairah. Apalagi kini dibantu dengan sistem penilaian yang melibatkan partisipasi aktif penonton via SMS dan ditayangkan di televisi pada prime time makin mengukuhkan keberadaan acara kontes nyanyi sebagai momen penting untuk memunculkan talenta baru di dunia seni musik. Hadirnya acara tersebut menginspirasi lomba-lomba serupa di berbagai daerah. Walau demikian, sayangnya tak banyak yang mengetahui bagaimana konsep penjurian dengan benar sehingga sepertinya dengan mencomot pemusik atau penyanyi yang sudah tenar sebagai juri urusan sudah beres.

Padahal dalam ajang kontes nyanyi Indonesian Idol belakangan ini, misalnya, komentar para jurinya sempat menjadi kontroversi lantaran mengomentari hal-hal yang tak berkaitan dengan musik. Uniknya hal seperti itu walau tak patut seolah dibiarkan supaya acara tersebut terasa penting berbekal konsep jurnalistik televisi sekarang “bad news is a good news” yaitu semakin memancing reaksi, apapun hasilnya sehingga sepertinya tak penting lagi apakah acara tersebut punya etika, pokoknya heboh!

Hadirnya buku ini seolah memberi penerangan kembali kepada tata cara standar penjurian yang benar. Ditulis oleh Adjie Esa Poetra, guru vokal senior yang pernah melahirkan sederet penyanyi tenar seperti almarhum Nike Ardilla, Melly Goeslaw, Rossa dan banyak lagi, buku ini menjadi panduan praktis bagi kita yang ingin menyelenggarakan kontes musik dan nyanyi.

Buku ini dibuka dengan bab yang menerangkan perihal integritas juri dengan mengingatkan syarat baku juri adalah orang yang selain kompeten dan jujur tapi tak terlalu kukuh dengan selera pribadinya sehingga akurasi penilaian bisa dipertanggungjawabkan. Juri yang adil adalah senantiasa memfungsikan otak dan perasaaan secara seimbang saat menilai, karena bernyanyi dan bermusik adalah pekerjaan hati dan sambung rasa sebagai media mengkomunikasikan karya seni bunyi dengan perasaan.

Adjie juga memberi penjelasan bahwa boleh-boleh saja seorang pemusik/penyanyi rock diminta menjadi juri lomba keroncong misalnya asalkan ia sendiri punya toleransi tinggi dengan jenis musik lain di samping pengetahuan dan memiliki kepustakaan musik yang memadai. Karena yang harus dihindari sebagai juri adalah orang yang terlalu fanatik terhadap satu jenis musik tertentu. Sedangkan untuk juri awam (bukan orang musik, biasanya selebriti seperti bintang film) yang kerap ada dalam tiap kompetisi nyanyi bisa diperlukan asalkan ia memiliki referensi musik yang baik. Kehadirannya secara tak langsung dapat menetralisir sikap juri lain yang mungkin sekarang sudah terlalu “kuno”, namun untuk menjaga kredibilitas, posisinya sebaiknya sebagai minoritas dengan rasio 5:1. Ini penting untuk menghindari fenomena kebuntuan penilaian antara juri karena akan lancar jika para juri sama-sama punya sikap toleransi selain bekal referensi musik yang memadai.

Dalam buku ini Adjie juga menulis beberapa profesi lain yang diperlukan untuk juri musik profesional, karena selama ini yang kerap dikenal hanyalah dari kalangan musisi atau penyanyi saja. Diantaranya mereka adalah guru musik/vokal, sound engineering, dan wartawan musik. Ketiga profesi ini memang kurang tampak karena perannya “di balik layar”, tapi cukup penting. Misalnya guru musik/vokal punya kemampuan mampu merangkul orang dari berbagai jenis musik. Begitu juga sound engineering yang kerjaan teknisnya terlibat sebagai operator studio rekaman karena profesinya sangat memungkinkan mengapresiasi berbagai jenis musik. Wartawan musik yang sudah pasti mampu mengkritik musik secara obyektif juga bisa dilibatkan karena kepustakaan musiknya yang luas dan beragam tak hanya memahami satu jenis musik saja. Untuk hal terakhir ini Adjie mengingatkan sebaiknya harus wartawan musik, bukan wartawan bidang human interest karena nantinya hanya mampu menilai penampilan fisik kontestan.

Buku ini penting dan mampu mengingatkan kepada khalayak agar kembali pada cara membentuk kompetisi nyanyi/musik yang berkualitas, bukan hal-hal lain yang dimaksudkan untuk menaikkan rating misalnya menampilkan kehebohan komentar juri yang tak berhubungan dengan musik.*

Donny Anggoro, editor lepas salah satu penerbit di Bandung, anggota Lembaga Bhinneka di Surabaya

Kabar Resensi Pekan Keempat Juli 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Dollhouse

Karya Kardashian

Resensi ditulis Larasati S Bunga

Dimuat MEDIA INDONESIA, 22 Juli 2012

Siapa yang tak kenal the Kardishian. Para penyandang nama itu kerap menjadi buah bibir dan bahan gosip terhangat di Amerika. Pembicaraan seputar Kardashian di dominasi kakak beradik Kardashian, Kourtney, Kim, dan Khloe. Cerita keseharian dan keluarga mereka saat terpuruk sampai kembali meraih kesuksesan dan kekayaan dituliskan gadis-gadis Kardashian dalam buku berjudul DollhouseI ini. Tak ada yang begitu spesial dari ketiganya. Kakak beradik Kardashian berprofesi sebagai model, wanita karier yang gemar berbisins, dan sosialita papan atas hollywood tentunya. Yang membuat ketiganya begitu disorot media yaitu gaya hidup mereka yang kontroversial dan melangkahi tabu.

Agama, Seksualitas, Kebudayaan; Esai Kuliah, dan Wawancara Terpilih Foucault

Penyunting  Jeremy R Carette

Resensi ditulis Fit  Yanuar

Dimuat KOMPAS, 22 Juli 2012

Di tangan tokoh-tokoh post -strukturalisme, makna-makna pun berguguran. Manusia dibuat tidak memercayai apa pun lagi. Semua realitas menjadi semu. Agama, moralitas-moralitas yang tersedia dalam masyarakat, mereka hancurkan. Dunia akademik abad  ke-19 sampai ke-20, khususnya ilmu-ilmu sosial, sangatlah kaya dengan berbagai pemikiran khasana pengetahuan. Berbagai cara pandang dan pemikiran muncul. Ada post-positivisme, femenologi, hermeneutika, strukturalisme, juga paradigma teori kritis. Belakangan, menghadanglah post-strukturalisme yang dilanjutkan post-modernisme. Salah satu tokohnya adalah Michel Foucault (1926-1984). Buku ini salah satu kompilasi berbagai tulisan, wawancara, dan materi perkuliahan yang pernah diberikan sepanjang hidup Foucault. Foucault berpendapat bahwa tak ada satu pun universalisme dalam filsafat, pun dalam dalam teori dan metodologi. Karena itu filsafat, dan teori hanya berlaku sangat efektif pada kelompok tertentu dan waktu tertentu.

The Mystery of Historical Jesus: Sang Mesias Menurut Al-Qur’an, Alkitab, dan Sumber-sumber Sejarah

Karya Louay Fatoohi

Resensi ditulis Riky Ferdianto

Dimuat KORAN TEMPO, 22 Juli 2012

Sang Mesias, Isa Almasih bagi umat Islam dan Yesus Kristus bagi umat Kristiani, tak pernah habis dibicarakan dan diperdebatkan. Kelahirannya, kehidupannya, kenabiannya, hingga kematian dan kebangkitannya terekam sebagai peristiwa luar biasa dalam berbagai manuskrip dan kitab suci. Sejumlah buku dan artikel sedianya telah banyak menguji kesejarahan Yesus menurut Injil. Semua itu bersumber pada teks-teks kanonik (teks-teks yang diakui gereja), naskah-naskah Yahudi, atau sumber-sumber historis lainnya. Namun tak banyak yang memotret dari pendekatan Al-Qur’an. Louay Fatoohi, dosen universitas Durham, Inggris, menulis buku yang meneliti jati diri Sang Maises. Louay berusaha mengisi kekosongan literatur tentang Yesus historis melalui perspektif  Al-Qur’an, sudut pandang yang kerap diabaikan para penulis di dunia Barat. Dari anunsiasi (pewartaan malaikat) akan kehamilan Maria Sang Perawan, kontroversi sosok suami bernama Yusuf, serta saudara lelaki dan perempuan Yesus yang tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an, hingga insiden penyaliban yang berujung pada perdebatan pentuhanan Yesus. Semua itu ia paparkan secara berimbang dengan mempertimbangkan perspektif Islam dan Kristen.

3600 Hari Mewujudkan Mimpi

Karya Fuad Ariyanto dan Juwita Hayyuning Prastiwi

Resensi ditulis Reza Akbar Felayati

Dimuat Jawa Pos, 22 Juli 2012

Hasan Aminuddin yang kiprahnya dituangkan dalam buku ini oleh Fuad Ariyanto dan Juwita Hayyuning termaksud pemimpin yang bertipikal unik selama dua periode di kursi bupati Probolinggo. menurut Fuad yang juga mantan Jawa Pos itu, keunikan Hasan terletak pada gaya kepemimpinannya yang pluralis dan egaliter dengan basis nilai-nilai santri khas tapal kuda yang kuat.

Ibuk

Karya Iwan Setyawan

Resensi ditulis Miftakhul F.S

Dimuat JAWA POS, 22 Juli 2012

Begitu mulianya kedudukan seorang bunda, Tuhan melukisnya dalam al-Quran bahwa surga berada di bawah telapak kakinya. Demi si buah hati, seorang ibu rela melakukan segala hal. Sering tanpa mengindahkan diri sendiri. Seperti itu pula Ngatinah. Perempuan di kaki Gunung Penderman yang dituturkan Iwan Setyawan dalam bukunya, Ibuk-pelafalan ibu oleh orang Jawa. Perempuan pemilik hati selembut embun yang menyegarkan. Perempuan pemilik tekad sekukuh Gunung Panderman.

Bunga Rampai Cerpen (Nyanyian kesetiaan)

Karya Miftah Fadhli, dkk

Resensi dirulis Sam Edy Yuswanto

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 22 Juli 2012

Buku ini berisi 34 cerita pendek pemenang Lomba Cerpen Nasional Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia Tahun 2012 yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Obsesi STAIN Purwekerto. Cerita-cerita dalam buku ini berkisah tentang cerita berlatar budaya (adat) yang tersebar, di pelosok negeri ini. Sebut saja cerpen yang berjudul ‘Nyanyian Kesetiaan’ karya Miftah Fadhli yang menjadi juara pertama, berkisah tentang tradisi yang berlaku di Adonara Timur. Di sana pria wajib menyerahkan sejumlah belis (gading gajah) pada wanita yang ingin dinikahinya. Lazimnya, anak perempuan pertama dihargai 10 batang gading gajah mencapai 10 juta rupiah.

Cinta Membaca

Karya Puput Happy, dkk

Resensi ditulis Armawati

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 22 Juli 2012

Membaca adalah cara yang paling elegan mendapatkan untuk ilmu. Dengan membaca, kita akan menjadi kaya dengan wawasan pengetahuan. Kita dapat memetik pengalaman dan kisah-kisah manusia hebat dari membaca. Banyak inspirasi dan motivasi diperoleh dari membaca. Buku ini semacam kontribusi untuk menumbuhkan budaya membaca. Cerita yang tersaji dalam buku ini menyuguhkan bahwa mereka yang membaca mampu menjadi sosok yang berbeda.

Handbook Teori Sosial

Karya George Ritzer

Resensi ditulis Abdullah Hanif

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 22 Juli 2012

Sebuah diskursus menarik kembali diangkat dalam buku berjudul Handbook Teori Sosial. Sebagaimana judulnya, buku ini mengupas tentang teori-teori sosial. Mulai dari teori sosial klasik hingga teori-teori sosial modern. Disadari atau tidak, teori-teori sosial telah lahir dan tumbuh di masyarakat sekitar kita. Teori ini lahir dari diskursif ilmu sosial. Yaitu sebuah cabang keilmuan yang menjadikan masyarakat sebagai objek penelitiannya. Sehingga pakar politik tidak jarang mengagungkan posisi masyarakat.

Cara Mudah Belajar Filsafat (Islam & Barat)

Karya Fuiad Farid Ismaiil dan Abdul Hamid Mutawalli

Resensi ditulis Abdullah Hanif

Dimuat SUARA MERDEKA, 22 Juli 2012

Bagi sebagian orang, filsafat dan agama adalah dua hal yang saling berkonfrontasi. Opini ini berangkat dari asumsi bahwa filsafat mengedepankan sisi rasional-empirik dalam setiap kajiannya, sedang agama bersifat metafisistransendental. Filsafat ini dinilai sebagai faktor yang paling krusial merusak keimana seseorang. Oleh karenanya, tidak sedikit pihak yang mengharamkan bersinggungan dengan dunia filsafat. Tentu stigma ini menohok bidang kajian filsafat. Publik lupa bahwa tidak sedikit filsuf yang semakin kokoh keyakinan beragamanya. Fu’ad Farid Ismaiil dan Abdul Hamid Mutawalli merespons opini publik tersebut  melalui buku ini.

Real Masjid 2

Karya @Tronitrax, dkk

Resensi ditulis Sigit Widya

Dimuat TRIBUN JOGJA, 22 Juli 2012

Kata konsisten tampaknya kayak disematkan kepada Tony Hernanto atau @tonytrax. Sudah kali kedua ini ia memilih momen Ramadhan untuk menerbitkan buku. Sama dengan tahun lalu, pada awal Ramadhan ini ia menelurkan sekuel Real Masjid, komik strip religi dan pekerti. Real Masjid tetaplah Real Masjid, yang muncul karena ketimbangannya antara memilih melanjutkan menonton pertandingan Real Madrid atau pergi salat subuh ke masjid. Ya kira-kira seperti itulah keadaan komik sekuel ini. @tonytrax selalu rela bergadang demi menyaksikan pertandingan kesayangannya, Real Madrid, namun kemudian harus dihadapkan kepada kewajibannya yang lain, yakni menjalankan salat subuh. Menganggap keduanya penting, ia berpikir untuk menuliskan kisah tersebut lewat Real Majid, gabungan dari Real (Madrid) dan (Pergi ke) masjid.

Kabar Resensi Pekan Ketiga Juli 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Swami Sri Sathya Sai Baba : Sebuah Tafsir

Karya Sai Das

Resensi ditulis T Nugroho Angkasa

Dimuat MEDIA INDONESIA, 15 Juli 2012

Buku swami Sri Sathya Sai Baba, sebuah tafsir yang semula berjudul Svami-Bhagavan Sri Sathya Sai Baba, sebuah tafsiran ini hampir 30 tahun lebih menghilang dari peredaran. Kemudian Ir Ni Luh Wayan Sukmawati menegtik ulang kopiannya sehingga bisa diterbitkan kembali. Buku ini terdiri dari delapan bab. Berisi tafsiran atas ajaran dan kehidupan Swami sathya Sai Baba. Antara lain, Swami sang Avataar, sang Penuntun, sang Pengasih, sang Pemersatu, sang Pelindung, sang Pengampun, sang Penyelamat, sang Pencegah, dan sang Sutradara.

Ulama & Kekuasaan: Pergumulan Elite Politik Muslim Dalam Sejarah Indonesia

Karya Jajat Burhanudin

Resensi ditulis Fajar Kurnianto

Dimuat KORAN TEMPO, 15 Juli 2012

Dalam sejarah Indonesia umumnya, dan khususnya sejarah Islam Indonesia, ulama memainkan peranan yang sangat penting. Bukan hanya menyebarkan Islam dan membangun sarana pendidikan untuk kaum pribumi, tapi juga dala merespons perubahan sosial di Nusantara. Baik itu ketika pada zaman kerajaan-kerajaan Islam, kolonial (Hindia Belanda), kemerdekaan, bahkan hingga zaman sekarang. Karya Jajat Burhanudin yang merupakan disertasinya di Universitas Leiden, Belanda, ini mencoba menelusuri peran ulama itu. Studi ini, seperti dikatakan Jajat, menekankan sejarah sosial dan intelektual, yang relatif terabaikan dalam studi tentang ulama Indonesia. Kajian ini dimaksudkan untuk memberi penjelasan historis tentang ulama kontemporer: revitalisasi dan reformulasi tradisi dalam rangka beradaptasi dengan tuntutan baru modernitas.

Dahlan Juga Manusia, Pengalaman Pribadi Mengenal Dahlan Iskan

Karya Siti Nasyiah

Resensi ditulis Anang Harris Himawan

Dimuat JAWA POS, 15 Juli 2012

Tak lazim! Itulah pandangan masyarakat terhadap sosok Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos dan direktur PLN. Itu disebabkan kebiasaan beliau yang tidak biasa sebagai pejabat negara. Buka tutup pintu tol, marah-marah, membanting kursi, tidur dirumah penduduk miskin. Gelimang fasilitas hampir tidak pernah beliau manfaatkan: mobil dinas yang sehari-hari  hanya ditempat parkir karena jarang beliau pakai, fasilitas komunikasi, rumah dinas, dan gaji yang tak pernah diambil, dan cara berpakaian yang tidak selayaknya para pejabat negara. Tingkah pola Dahlan yang seperti diatas bagi sejumlah kalangan dianggap janggal. Bagi yang berpikir negatif, bahkan hanya dianggap “pencitraan” di mata istana dan rakyat. Tapi bagi mereka yang pernah bersama-sama pria kelahiran Magetan itu, segala tindakan ayah dua anak tersebut bukanlah hal baru, bahkan sudah biasa. Kalau tidak seperti itu bukanlah Dahlan. Itulah sebagian yang terangkum dalam buku Dahlan Juga Manusia, karya Siti Nasyiah.

Hukum Islam dan Dinamika Perkembangan Masyarakat: Menguak Pergeseran Perilaku Kaum Santri

Karya Dr Pujiono

Resensi ditulis Abu Laka Sosl

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 15 Juli 2012

Kerapkali terjadi kesenjangan antara konsepsi hukum Islam dengan praktik hidup masyarakat. Para ahli hukum Islam menetapkan hukum normatif berdasarkan teks kitab suci dan atau nash. Tapi pada taraf implementatif pikiran maupun tindakan masyarakat tak mencerminkan ide hukum itu. Bahkan pada titik lain kecenderungan ‘menyimpang’ dari apa yang telah di kehendaki ulama tampak nyata dalam laku seharian mereka. Apa dan dimana letak kesalahan itu? Pertanyaan lebih spesifik, apakah produk asli kajian ahli hukum masih ada yang keliru? Ataukah produk hukum kadang bergeser dengan apa yang digagas ulama? Dan, apakah metodologi serta pendekatan  terhadap hukum Islam klasik masih kurang tepat sehingga hasil yang diperoleh tak kontekstual dengan situasi dan perkembangan zaman yang dinamis. Pertanyaan janggal itu berupaya dijawab dalam buku ini. Karya dr Pujiono menarik dan menggelitik pikiran.

A Cup of tea: Menggapai Mimpi (Kisah-Kisah Inspiratif Penyemangat)

Karya Herlina P Dewi dkk

Resensi ditulis Eka Siti Nurjanah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 15 Juli 2012

bermimpi adalah hal yang bisa dilakukan oleh semua orang. Bermimpi ibarat memasuki lorong waktu, menyimpan misteri yang tak terbatas. Siapa yang optimis, dialah yang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Namun sayangnya, tidak semua orang mapu menjadikannya nyata. Buku A Cup of Tea: menggapai Mimpi, akan mengantarkan kita untuk dapat menyelami seberapa besar dan kuatnya tekad para pejuang  untuk mewujudkan mimpi.

Karmaka Surjaudaja : Tidak Ada yang Tidak Bisa

Karya Dahlan Iskan

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 15 Juli 2012

Ditengah suasana rusuh pada tahun 1998 silam gedung Bank NISP di Jakarta tenyata tetap aman. Saat itu seluruh karyawan Bank NISP membuat pagar agar gedung tak rusak atau dijarah massa. Malah Bank NISP yang berlokasi di Bandung diserbu masyarakat untuk menyetor uang, padahal bank-bank lainnya mengalami penaikan dana dari nasabah. Loyalitas karyawan dan kepercayaan dari masyarakat terhadap Bank NISP tak datang seketika. Di balik eksistensi Bank itu ada sosok yang bernama Karmaka Surjaudaja. Dahlan Iskan dalam buku ini mencoba mengisahkan hidupnya.

Air Mata Tjitanduy: Sebuah Riwayat

Karya Bambang Setiaji

Resensi ditulis Irwan Kelana

Dimuat REPUBLIKA, 15 Juli 2012

Apa yang bisa kita bayangkan tentang Sungai  Citanduy pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 silam? Mungkinkah airnya jernih dan tenang serta pemandangan indah kiri-kanannya yang hijau oleh pephonan. Namun, sesungguhnya Citanduy menyimpan riwayat memilukan tentang para petani yang tergerus kekuatan uang dan kekuasan. Bicara hal tersebut mau tidak mau kita harus menoleh kebelakang. Sejak 1860, sistem tanam paksa (cultuur stelsel) yang digalakkan oleh pemerintah penjajah Belanda akhirnya ditinggalkan karena menyebabkan kelaparan petani ditanah Jawa. Kebijakan itu berganti dengan sistem pertanian liberal yang memunculkan pengusaha-pengusaha swasta Belanda pada awal-awal abad ke-20. Namun pada praktiknya, para pengusaha perkebunan bersama para elite bangsawan daerah, raja-raja kecil, tetap mempertahankan cara tanam paksa yang menguntungkan mereka. Konflik inilah yang diangkat oleh Bambang Setiaji melalui novelnya.

Chairul Tandjung, si Anak Singkong

Karya Tjahja Gunawan Diredja

Resensi ditulis Mansata Indah Dwi Utari

Dimuat SUARA MERDEKA, 15 Juli 2012

Khalyak tentu sangat familiar dengan detikNews, Trans TV, Trans 7. Jutaan pasang mata hampir tiap hari mengaksesnya. Namun tidak ada yang mengetahui sosok di balik ketiga media massa raksasa tersebut. Bahkan ketiganya pun hampir tak pernah menurunkan berita tentang si empunya. Kecuali hanya sekelumit candaan Sule yang pernah menyinggung sosok tersebut . siapa sosok di balik ketiga media massa tersebut akhirnya terjawab setelah terbit buku Chairul Tandjung si Anak Singkong. Buku ini mengulas kisah perjalanan hidup tokoh yang akrab disapa CT itu. Buku yang ditulis oleh Wartawan Kompas Tjahja Gunawan Diredja merupakan kado ulang tahun yang ke-50 CT.

Revolusi Pedas Sang Presiden Maicih

Karya Reza Nurhilman

Resensi ditulis Sigit Widya

Dimuat TRIBUN JOGJA, 15 Juli 2012

Keripik singkong sering dianggap sebagai makanan tradisional yang tidak berkelas dan identik dengan orang kampung. Namun, di tangan Reza Nurhilman atau yang kerap disapa AXL, keripik singkong mampu dirubah menjadi sesuatu yang dicari-cari, bahkan sebagai simbol gaya hidup dan produk bergengsi yang sukses menembus pasar internasional.  AXL berpikir, dalam berbisnis, kekuatan modal sejatinya bukanlah kunci utama. Kreativitas, didukung totalitas dalam melakukan kinerja, juga wajib diperhatikan. Dari terobosan-terobosan yang dilakukannya, AXL mencapai keberhasilan. Dan kini, ia mencoba berbagi pengalaman kepada khalayak dengan menerbitkan buku berjudul Revolusi Pedas Sang Presiden Maicih.

Komik dalam Sudut Pandang Kebudayaan

Oleh Donny Anggoro*

Judul: Panji Tengkorak,Kebudayaan dalam Perbincangan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Editor: Christina M.Udiani
Isi:xx+540 hlm.
Penerbit:Kepustakaan Populer Gramedia (KPG),2011

Sangat sedikit sekali buku kajian tentang komik lantaran komik di Indonesia umumnya masih dipandang sebagai bacaan anak-anak. Padahal lewat komik pun juga membuka pintu bagi studi kebudayaan, apalagi harus diakui komik juga “saudara” dalam wacana seni rupa. Beberapa budayawan yang menghargai komik sebagai hasil kebudayaan pun dapat dihitung dengan jari, diantaranya Arswendo Atmowiloto, Hikmat Darmawan, Agus Dermawan.T, JJ Rizal, dan tentunya penulis buku ini, Seno Gumira Ajidarma (SGA).  Beberapa sastrawan seperti Arswendo, SGA, dan Radhar Panca Dahana bahkan sempat menyampaikan beberapa karya tulisannya yang digubah menjadi komik di buku maupun di koran.

Buku kajian komik Indonesia pertama kali malah dibuat oleh peneliti asal Perancis, Marcel Bonneff pada 1973 yang juga berasal dari disertasi dan sudah pernah diterbitkan KPG pada 1998. Namun seiring dengan perkembangannya hingga kini pada abad XXI komik melahirkan beberapa pengamat yang cukup intens seperti Henry Ismono, saya, trio “Martabakers” (Hafiz Ahmad, Beny Maulana, & Alvanov Zpalanzani) dan Surjorimbo Suroto, siapa sangka sastrawan dan peminat komik SGA justru meraih gelar doktoralnya lewat kajian komik di Fakultas Seni & Budaya Universitas Indonesia.

Buku ini, Panji Tengkorak adalah disertasinya dan kini termasuk buku kajian terkini yang terbilang sangat komprehensif tentang komik Indonesia.   Sesuai judulnya, buku setebal 500 halaman lebih ini mengkaji secara teliti komik masterpiece Hans Jaladara,salah satu maestro komikus Indonesia yang masih hidup dan berkarya. Hans menciptakan komik silat Panji Tengkorak pada tahun 1968 dan kala itu karena populer juga punya cita rasa tersendiri namanya pun disejajarkan dengan maestro komik Indonesia lainnya, misalnya dengan Ganes Th pencipta Si Buta dari Gua Hantu dan Hasmi pencipta Gundala yang juga terbit pertama kali tahun 1968. Komik Panji Tengkorak agak mirip dengan Si Buta yaitu sama-sama menceritakan tokoh pembela kebenaran. Namun bedanya dalam Panji Tengkorak ada kisah romansanya dengan dua gadis cantik, Martiani dan Nesia. Kini untuk menikmati karya-karya terbaru Hans yang sedikit bergaya manga Anda dapat membaca majalah rohani Kristen untuk anak-anak “Kita” yang dipublikasikan divisi penerbitan lembaga Gereja Reformed Injili.

Buku ini mengkaji komik Panji Tengkorak dari berbagai sisi, tentunya dari kacamata teori komik yaitu teori komik Topffer,Gombrich,Eisner dan McCloud. Sedangkan dari teori kajian budaya SGA menuliskannya berdasarkan petimbangannya atas pembacaannya pada teori Foucault, Gramsci, Hall, dan Mulhern guna mempertimbangkan makna yang terungkap secara naratif.
SGA membagi pembacaan karya Panji Tengkorak berdasarkan 3 periode yang digambar Hans berubah-ubah, yaitu dari tahun 1968, 1985 dan 1996 secara kronologis. Uniknya pada gambar Panji Tengkorak 1996 gambarnya disesuaikan dengan selera pembaca saat itu (umumnya anak-anak yang kebanyakan penggemar komik Jepang) yaitu bergaya manga.

Sebelum menukik pada pembahasan tentang Panji Tengkorak, SGA mengawalinya dengan tulisan mengapa komik di Indonesia paling sedikit diperbincangkan sebagai suatu gejala kebudayaan walau komik pertama Indonesia sudah terbit sejak 1931, yaitu komik Put On karya Kho Wan Gie (Sopoiku) yang sempat diterbitkan ulang sebanyak 2 jilid pada 2010. SGA menyebutnya komik dengan tingkat popularitas tinggi dianggap menurunkan derajat intelektualitas, mengembangkan kemalasan membaca dan meliarkan khayalan sampai kekerasan juga pornografi merujuk pada tulisan Arswendo Atmowiloto dalam Seni Komik Indonesia (Pabrik Tulisan Yogyakarta,1980). Selain itu walau nyaris sepanjang tahun 1980-1990-an diskusi tentang komik sering digelar nyatanya hasilnya tak banyak berkembang dengan hanya membincangkan masa lalu kejayaan dan selalu mengeluhkan pelbagai hal yang menyebabkan keterpurukannya sehingga menurut SGA terjadi penanda kebuntuan dalam pengkajian komik.

Komik walau pernah diteliti hingga “merasuk ke tulang sumsum” oleh Bonneff ternyata menurut SGA belum pernah diperiksa dan dikaji dengan pendalaman atau pun pembongkaran radikal seraya memberi peluang pada perbincangan yang berkembang ke segala arah, mulai dari sebagai barang dagangan, karya seni, dan media komunikasi. Padahal jika memungkinkan perbinvangan yang dapat berkembang ke segala arah itu dapat memecahkan kebuntuan.

Sebenarnya perbincangan masalah komik yang di Amerika sendiri juga sangat populer bahkan berkembang menjadi ikon seni rupa baru dalam industri perbukuan macam Graphic Novels (Novel Grafis, merujuk istilah Will Eisner) karena men jadi bacaan dewasa pula akhirnya melahirkan “cap resmi” Comics Code Authority yang menetapkan aturan penerbitan komik selain juga menyensornya dengan maksud melindungi “racun” dari “wabah” komik. Lucunya di sana malah berkembang pula parodi cap resmi Comics Code Authority dari tulisan “Approved by The Comics Code Authority” menjadi “Approved by The Comics Code Anti Authority”  yang  memancing kreativitas pelanggarnya. Salah satu “hasil” komik dengan kode begini ini bisa disebut seri tak resmi komik Tintin yang beredar secara underground, yaitu Tintin in Thailand (yang berbau pornografi) dan Tintin in Iraq yang diberangus oleh Rockwell, suami kedua Fanny, janda Herge (Georges Remi) pencipta Tintin dari penerbit resmi Tintin.

Dalam penelian SGA komik Panji Tengkorak selain mengalami perubahan gaya menggambar, terdapat pula perubahan mencolok yang ditandai dari gambar adegan ciuman Panji Tengkorak 1985 yang dihilangkan sebagai peralihan dari bacaan dewasa pada 1996 karena pada 1996 komik ini diterbitkan sebagai bacaan anak-anak (hlm.97). Gambar tersebut akhirnya diganti dengan kata-kata suara orang berciuman. Selain itu perubahan ekspresi Panji dan Nesia, Panji tatkala membuang topeng tengkoraknya di hadapan Nesia, juga mengalami perubahan (hlm.101). Pada gambar tahun 1996 ekspresi mereka menjadi ke arah karikatural lantaran diterbitkan kembali menjadi bacaan anak-anak. Hal demikian menurut SGA mengacu pada kajian Scott McCloud di buku Understanding Comics (1993), prinsip komik sebenarnya adalah kartun, namun kartunnya tak harus berarti lucu, juga tak mengejar kerincian, melainkan menangkap dan mengungkap konsep karakter yang digambarkan (hlm.105).

Menariknya walau disertasi ini banyak mengambil teori dari berbagai tokoh pengamat komik, SGA juga merujuk pada pembacaan sastra, yaitu dari A.Teeuw. Yaitu fungsi efek komik, nilainya untuk pembaca tertentu tergantung relasi struktur dan cirri-cirinya serta anasir karya itu dengan horison (cakrawala) harapan pembacanya (hlm.107).

Buku ini cukup menarik untuk dimiliki tak hanya peminat komik saja melainkan peminat kebudayaan secara luas karena kehadirannya telah menemani satu dari peenlitian komik yang mumpuni setelah Bonneff, walau terpaksa gaya penulisan disertasi dalam buku ini dibiarkan oleh penerbit seperti aslinya, tak seperti buku Bonneff yang diolah menjadi bahasa populer oleh KPG.
Hadirnya buku ini tentunya memberi kesegaran baru dan sudut pandang lain (yaitu kebudayaan) pembaca dalam memandang komik walau dalam buku ini fokusnya adalah komik Panji Tengkorak. Pada bab-bab pertama penulis banyak membeberkan banyak hal mengapa kajian komik adalah penting yang tak bisa dianggap sepele karena dalam komik dapat terbaca pula kondisi sosiologis masyarakat Indonesia yang di berbagai periode berbeda-beda sesuai konteks zamannya. Membaca komik berarti membaca pula tanda-tanda zaman seperti membaca sejarah. Komik dapat dianggap sebagai salah satu pintu untuk membaca sejarah Indonesia yang pernah disebut peneliti komik HIkmat Darmawan sebagai “sastra gambar”.

Buku ini dalam industri perbukuan menemani wacana kritik komik Indonesia yang pernah ada seperti buku Marcel Bonneff (Komik Indonesia, 1998), Mohammad Natsir Setiawan (Menakar Panji Koming, 2002), Hikmat Darmawan (Dari Gatotkaca hingga Batman, 2005) dan trio Hafiz Ahmad, Beny Maulana, & Alvanov Zpalanzani (Histeria Komikita!, 2006).*

*) penulis adalah wartawan, anggota Lembaga Bhinneka di Surabaya.

*)OaseKompas, 9 Juli 2012

Kabar Resensi Pekan Kedua Juli 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Ibuk

Karya Iwan Setyawan

Resensi ditulis  Akhmad Sekhu

Dimuat KORAN TEMPO, 8 Juli 2012

Novel ini menceritakan kilas balik kehidupan keluarga Iwan, penulis novel ini. Kisahnya tentang ibuk, sang ibu, yang mempunyai nama asli Ngatinah, yang tak sempat menyelesaikan sekolah dasar, membantu Mbok Pah, neneknya, berjualan baju bekas dipasar. Ditempat orang jual beli ini pun ia bertemu dengan dan jatuh cinta kepada Abdul Hasyim, sang Playboy pasar yang juga kernet angkot dan akrab dipanggil Sim. Singkat cerita Tinah dan Sim pun menikah. Mereka pun menikah. Mereka pun menjadi ibuk dan bapak dengan dikaruniai lima anak. Hidup yang semakin meriah juga penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan yang dihadapi ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah. Banyak pesan yang disampaikan dalam novel ini. Meski hidup penuh keterbatasan, ibuk tetap bersemangat untuk terus menyekolahkan anak-anaknya.

Quo Vadis: Liberalisme Islam Indonesia

Karya Halid Alkaf

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat KOMPAS, 8 Juli 2012

Munculnya pelbagai wacana dan isu dalam perkembangan global menjadi titik mulai bagi pembaharu Islam Indonesia, khususnya dalam konteks pemikiran keagamaan. Mereka muncul dengan tekad menyesuaikan Islam dan arus globalisasi. Kehadiran globalisasi tidak boleh menggerus dan melenyapkan nila-nilai keagamaan dalam komunitas masyarakat. Namun,  kehadiran mereka sering dicerca dan ditampik, terutama berkenaan dengan aspek metodologi. Kaum pengkritik biasanya  mengatakan bahwa gerakan kaum progresif –liberal tidak memiliki metodelogi yang utuh dan kokoh. Dengan kata lain, gerakan ini miskin kajian fiqih. Buku dari hasil penelitian disertasi ini hadir dengan posisi obyektif dalam mengurai  dinamaika pemikiran Islam liberal Indonesia dari berbagai  prospektif, mulai dari sejarah, tipologi, metodo logi, analisis isu sampai agenda aksi. Halil Alkaf membuka imbas positif  pemikiran-pemikiran liberal, utamanya yang berkaitan dengan realitas masyarakat pluralistik. Salah satunya kemampuan  mengakomodasi pluralitas agama dan budaya, yang pada akhirnya mebangun hubugan yang sinergis antara agama dan pluralitas di masyarakat Indonesia.

I Love Monday: Mengubah Paradigma dalam Bekerja dan Bisnis

Karya Arvan Pradiansyah

Resensi ditulis J. Sumardianta

Dimuat JAWA POS, 8 Juli 2012

Mr. Lim, Pria Sepuh, bekerja sebagai tukang periksa engsel pintu hotel bintang lima di Singapura. Tugas utama Mr. Lim bukan sekedar mengurusi pintu. Dia menjaga dan memastikan keselamatan tamu hotel. Keselamatan tamu hotel manajer senior dan top manajemen. Mr Lim berusaha mengantisipasi kemungkinan paling buruk guna menghindarkan tamu dari bahaya. Jika terjadi kebakaran, ada engsel pintu macet, nyawa orang paling penting dipertaruhkan. Perusahaan bisa kehilangan decision market. Keluarga juga nestapa ditinggalkan orang yang dicintai. Mr Lim menjalani pekerjaan yang sepintas nyaris tanpa keistimewaan apa-apa itu dengan sungguh-sungguh, tekun, dan setia sepanjang hidupnya. Dia memiliki spirit nurturing love kelemahlembutan cintayang merawat pekerjaan. Kisah Mr Lim karyawan dengan hasrat kuat melayani itu, inspirasi konkret spirit I Love Monday. Buku terbaru Arvan Pradiyansyah ini menawarkan paradigma dan keyakinan baru dalam bekerja dan bisnis. Buku yang disusun berdasarkan pengalaman penulisnya menjadi konsultan dipelbagai perusahaan nasional maupun multinasional ini hendak mengubah paradigma pekerjaan: dari beban menjadi sumber kebahagiaan.

SINOPSIS FILM BUKU| Miss Potter

Setiap buku memiliki jodohnya. Penerbit bisa saja meragukan akan nasib nilai jual sebuah buku. Pembacaan mereka terhadap selera pasar memberi kuasa atas ketersediaan bacaan. Tapi pembaca punya seleranya sendiri. Dan prediksi penerbit tak selalu mampu menjangkaunya.

Nasib buku anak-anak bergambar yang ditulis Beatrix Potter membuktikan itu. Penerbit Warne Brothers menggangap karyaa Beatrix sebagai sebuah kekonyolan. Pasar tak akan menerima, dan buku itu akan gagal. Mereka menerima blue print buku konyol itu semata karena mereka harus memberi proyek untuk dikerjakan adik terkecil di perusahaan keluarga itu, Norman Warne.

Sebagai orang yang tak pernah berurusan dengan buku sebelumnya, Norman tak lantas memandang proyek buku Beatrix sebagai hinaan melainkan tantangan. Ia ingin membuktikan bahwa kakak-kakaknya telah salah memberikan penilaian. Norman mengagumi karya Beatrix. Baginya, karya itu unik, indah, dan penuh sentuhan artistik yang personal. Penghormatan seorang Norman atas karyanya adalah kebanggaan dan kegembiraan tersendiri bagi Beatrix. Maka ia pun mantap untuk meneruskan proyek dengan kerjasama saling mendukung dengan Norman.

Meski hanya Norman yang percaya pada karyanya-bahkan ibunya pun meragukan- ia tak berkecil hati. Dengan semangat ia mengunjungi percetakan Norman. Ia menentukan sendiri kualitas cetakan hingga didapati warrna yang tepat. Ukuran buku, harga buku, tampilan sampul, ia pula ikut menentukan. Norman manut saja dengan saran Beatrix. Sesekali ia memberikan usulan mengenai ukuran buku dengan pertimbangan penghematan kertas dan biaya cetak. Norman dan Beatrix pun menjalani persekutuan dalam buku dengan keyakinan penuh akan nasibnya. Mereka tahu buku itu memiliki pembeda. Meski mereka belum tahu apakah pasar akan menerimanya.

Dan ‘bayi’ mereka pun lahir. Buku mungil bersampul coklat itu terpajang di hampir semua toko. Penjualannya meledak melebihi harapan mereka sebelumnya. Anak ruhani itu telah menemukan jodohnya. Beatrix dan Norman sangat bangga dengan hasil pertama itu. Teman-teman orang tua Beatrix membincangkannya. Ayahnya pun bangga atas karyanya. Hanya ibunya yang terus meragukan dan keras hati berkeyakinan bahwa anaknya akan gagal.

Menurut ibu Beatrix, menjadi penulis tak akan menaikkan derajat kebangsawanan. Hanya akan jadi kerja yang sia-sia. Seperti umumnya seniman. Ibunya menganggap Beatrix bukan seniman berbakat besar. Beatrix seorang perempuan. Mestinya ia menikahi saja lelaki berharta. Tak perlu mengurung diri menggambar di kamar, tak punya teman, dan terus melajang.

Tapi bagi Beatrix, menggambar dan menulis cerita tak ada hubungannya dengan keputusannya menunda perkawinan. Ia hanya tak ingin menikah hanya karena alasan bahwa laki-laki itu layak. Ia ingin menikah karena memang hatinya menuntun. Menikahi laki-laki yang menghormatinya, menghargai bakat dan kemampuannya. Bukan sekedar melihat perempuan sebagai pajangan rumah.

Beatrix sudah menulis buku anak-anak dengan bakat yang tumbuh sedari ia belia. Kecintaanya pada seni lukis menitis dari ayahnya yang meninggalkan seni dan memilih jadi pengacara. Sejak kecil Beatrix telah mahir bercerita. Sebelum tidur ia selalu mendongeng untuk adiknya. Cerita yang ia karang sendiri. Umumnya tentang dunia binatang. Hewan-hewan itu berbicara, punya nama, dan menyimpan cerita seperti manusia. Tokoh binatang dalam cerita itu seakan hidup dan menjadi sahabat Beatrix. Mereka yang menemaninya hingga ia tumbuh dewasa.

Kawan-kawan imajinasinya itulah yang menjadi saksi ketika ia pun mulai jatuh hati pada Norman. Pada pesta natal, ia hadiahkan sebuah lukisan untuk buku barunya pada Norman. Mereka pun bersepakat menikah. Namun kehendak itu terhalang keras kepala ibu Beatrix yang melarang anaknya menikah dengan pedagang tanpa alasan jelas. Padahal keluarga moyang Beatrix juga berasal dari pedagang. Mereka pun harus kompromi dengan pernikahan yang disembunyikan. Malang, Norman harus pergi meninggalkan dunia sebelumpernikahan itu berlangsung.

Dalam kehancuran perasaan dan terputusnya harapan, Beatrix menjumpai sahabat imajinasinya. Ia berusaha menggambar dan menulis lagi. Namun ia gagal. Beruntung Milli-satu-satunya sahabat yang ia punya setelah bukunyaterbit- adik Norman menguatkannya kembali. Beatrix kembali berkarya. Namun ibunya terus mengutuki apa yang ia lakukan.

Maka Beatrix lantas berniat menyendiri dan keluar dari rumah. Ia pergi ke penerbit untuk menanyakan apakah honornya cukup untuk membeli sebuah rumah kecil. Terkejut dan bahagia Beatrix karena ternyata penerbit memberitahunya bahwa hasil karyanya akan mampu membelikannya sebuah rumah mewah dan hidup berkecukupan sepanjang sisa hidupnya.

Maka ia pun membeli lahan pertanian di sebuah pegunungan. Disana ia beternak dan bertani. Pertemuannya dengan sahabat lama membawanya pada kesadaran bahwa daerah disekitarnya terancam akan dibeli investor untuk perumahan mewah. Lahan pertanian nan eksotik disana terancam. Beatrix dengan berani akhirnya memutuskan untuk membeli lahan pertanian dalam lelang. Sekali membeli ia ketagihan. Namun ia sungguh puas dan bahagia. Lahan yang ia beli terus dipertahankan sebagai konservasi alam. Hingga akhir hayatnya, area itu menjadi taman nasional.

Beatrix telah membuktikan bahwa bakat dan ketekunannya menjalani dunianya mampu memberikan hasil. Sebagai seorang perempuan ia tak harus bergantung pada laki-laki. Pernikahan berdasar harta ia hindari karena ia tak mau menjadi perempuan tak berdaya di mata laki-laki. Dengan buku ia telah buktikan bahwa perempuan juga bisa berdaya. Meninggalkan sesuatu yang akan dikenang pun bila ia tak lagi ada di dunia. Buku membuatnya abadi.

Judul                : Miss Potter

Sutradara          :  Chris Noonan

Penulis             : Richard Maltby, Jr.

Pemain             :Renée Zellweger, Ewan McGregor,Emily Watson,Bill Paterson,Barbara Flynn

Produksi           : December 2006 (2006-12-03)

Durasi               : 92 menit

Kabar Resensi Pekan Pertama Juli 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Sepatu Dahlan

Karya Khrisna Pabichara

Resensi ditulis Qaris Tajudin

Dimuat KORAN TEMPO, 1 Juli 2012

Dahlan Iskan adalah sosok yang menarik. Semua orang tahu itu. Mantan wartawan Tempo itu berhasil menjadi pendiri raksasa media massa di Surabaya, lalu berhasil menangani PLN dengan baik. Saat diangkat menjadi menteri Badan Usaha Milik Negara, dia melakukan sejumlah gebrakan. Novel pertama dari Trilogi ini, Sepatu Dahlan, terbit pada Mei Lalu. Lanjutan yang belum terbit adalah Surat Dahlan dan Kursi Dahlan. Dalam Sepatu Dahlan, dikisahkan masa kecil Dahlan yang amat sederhana di sebuah desa di Magetan, Jawa Timur. Ia hidup demikian miskin hingga orang tuanya tak mampu membeli sepatu. Karena alasan ekonomi pulalah Dahlan ketika tamat SD tak masuk di SMP ibu kota kabupaten. Ia dimasukkan di pondok pesantren. Bersekolah dengan kaki telanjang.

Berjalan Menembus Batas

Karya A. Fuadi dkk

Resensi ditulis T. Nugroho Angkasa, Spd

Dimuat JAWA POS, 1 Juli 2012

Batasan hanya ada dalam pikiran yang sempit manusia sendirilah yang menciptakan limit (garis Pembatas) itu dalam benaknya. Tak heran kalau dalam bahasa inggris ada istilah, “Sky is the limit” lewat buku ini, A Fuadi dkk membongkar mitos tersebut. Batasannya bukan lagi langit, tapi berbanding lurus dengan spirit untuk terus berjuang. Berjalan Menembus Batas berisi 13 kisah nyata. Buku ini terbagi atas tiga bab: Melawan Keterbatasan Hidup, Menahan Rasa Sakit, dan Menembus Batas Usaha. Lakon-nya bukan politisi atau selebriti yang jadi sorotan media karena ketahuan korupsi dan kawin-cerai, tapi rakyat jelata kebanyakan. Wong Cilik yang legawa hidup apa adanya.

Wanita dalam Pembinaan Karakter Bangsa

Karya Prof Dr Husain Haikal MA

Resensi ditulis Akhmad Wakhid

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 Juli 2012

kiprah perempuan dalam pembangunan karakter bangsa memiliki dimensi penting. Tak berlebihan bila dikatakan maju tidaknya suatu bangsa tergantung seberapa besar peran perempuan didalamnya. Buku ini menyajikan data sejarah. Tidak saja mendeskripsikan peran perempuan di masa silam. Perempuan modern ditampilkan  dengan spirit dan karakter kepribadian kaum hawa  yang tak jauh beda dengan pendahulu, meski zaman telah berubah. Perempuan yang tangguh, pantang menyerah, relijius, cerdas, dan pekerja keras.

10 Mutiara Ahad Pagi

Karya KH Asyhari Marzuqi

Resensi ditulis Subegjo

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 Juli 2012

Berbagai tindak pidana yang merebak di negeri ini, sangat memiriskan siapapun yang masih memiliki nurani. Terlebih dalam kasus korupsi. Pelaku secara umum adalah kaum terpelajar. Mereka menyalahgunakan kesempatan setelah memiliki kekuasaan/kewenangan kerena wawasan keilmuan yang dimilikinya. Anugrah ilmu yang mestinya dimanfaatkan untuk kebaikan telah diselewengkan, ketika mereka memiliki kekuasaan. Kisah ini merupakan salah satu uraian hikmat dari buku KH Asyhari Marzuqi.

One Day in A Library

Karya Ida Mulyani, dkk

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 Juli 2012

Perpustakaan menjadi tempat yang tak pernah hilang ditelan zaman. Sejak zaman dahulu, perpustakaan senantiasa ada diberbagai belahan dunia. Bahkan, perpustakaan telah melahirkan sosok manusia-manusia besar. Ilmuan dan tokoh-tokoh besar dunia pasti memiliki riwayat sebagai pengunjung perpustakaan atau malah mendirikan perpustakaan pribadi. Buku One Day in A Library ini berisi kisah-kisah yang ditulis oleh puluhan yang menceritakan pengalamannya berhubungan dengan perpustakaan. Begitu banyak pengalaman yang didapatkan, entah itu menyenagkan, kurang menyenangkan, menegangkan, bahkan mungkin menyebalkan.

Go Thunderfly, Lintasilah Langit

Karya Violet Afifah

Resensi ditulis Irwan Kelana

Dimuat REPUBLIKA, 1 juli 2012

Jo (14 tahun), seorang jenius cacat yang introver, mengetahui bahwa lembah indah tempat teman-teman barunya bersekolah akan digusur untuk dijadikan hotel oleh papanya (yang merupakan seorang arsitek) dan kontraktor miliarder, Tohar Siranggeng. Kenyataannya itu membuka fron permusuhan antara kelompok Jo dan miliarder tersebut. Namun konflik melebar sebab jo dan kawan-kawannya kemudian terlibat intrik adu layang-layang dengan anak-anak Siranggeng yang kemudian berubah menjadi pertaruhan muskil, bertanding terbang melintasi Candi Borobudur. Kelompok Jo membuat Sebuah pesawat dengan satu tujuan untuk mempertahankan lahan sekolah mereka. Kalau pesawat itu berhasil tebang melintasi Borobudur, berarti Jo dan kawan-kawannya mendapatkan lembah dan sekolah mereka kembali. Namun kalau pesawat itu gagal terbang maka kegagalan tersebut harus dibayar dengan lebih mahal daripada sekedar kematian.

Kabar Resensi Pekan Kedua Juni 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Peranakan Tionghoa di Nusantara, Catatan dari Barat ke Timur

Karya Iwan Santosa

Resensi ditulis Riky Ferdianto

Dimuat KORAN TEMPO, 10 juni 2010

Peranakan Tionghoa adalah bagian dari keberagaman suku bangsa di Indonesia. Mereka tumbuh bersamaan dengan relasi perdagangan yang terbentuk sejak abad ke-11. Namun warga peranakan acap kali dipandang dengan stereotipe yang khas Orde Baru: antisosial, gila uang, dan tidak peduli lingkungan. Keunikan warga peranakan itu kini diabdikan oleh Iwan Santosa dalam buku terbarunya ini. Buku ini berisi kompilasi naskah asli seluruh tulisannya tentang budaya masyarakat peranakan yang ia tulis sejak 11 tahun lalu, baik sendiri maupun bersama sejumlah rekannya.

Bunga Jambu: Himpunan Cerita Pendek Remaja Dusun Jambu Kediri

Editor Ahmad Ikhwan Susilo

Resensi ditulis Yonathan Rahardjo

Dimuat JAWA POS, 10 Juni 2012

Cerita yang hidup adalah cerita yang saat setelah dibaca terasa sebagai kejadian yang nyata yang benar-benar terjadi dan terasa kesannya.  Mencapai cerita dengan standar seperti itu dapat ditempuh dengan berbagai cara. Tapi, intinya, sang pencerita (penulis) harus menjiawai ceritanya. Keberhasila penulis-penulis cerpen dalam kumpulan  cerpen Bunga Jambu ini dapat dirasakan dari seberapa besar penjiwaan mereka terhadap cerita masing-masing. Kedekatan kisah dengan pengalaman mereka alami saat berperan guna terciptanya cerita yang hidup.

TraveLove, Dari Ransel Turun ke Hati

Karya Trinity dkk

Resensi ditulis Sigit Widya

Dimuat TRIBUN JOGJA, 10 Juni 2012

Buku ini agak berbeda dibandingkan buku bergenre sejenis yang ditulis oleh Trinity. Selain bercerita tentang  travelling dan kisah asmara para pelakunya, bacaan ini memuat sembilan penulis top di bidangnya. Mereka adalah Andrei Budiman, Ariyanto, Claudia Kaunang, Lalu Abdul Fatah, Rei Nina, Rini Raharjanti, Sari Musdar, Salman Faridi, dan tentunya Trinity. Para petualang tangguh tersebut mengungkapkan sisi melankolis masing-masing, di balik kesan tangguh mereka sebagai penjelajah dunia. Dengan kata lain, kini mereka tidak malu untuk mengaku tunduk kepada cinta. Semua dibeberkan dengan gaya penulisan yang khas dan tanpa basa-basi.

Bekal Penting Bagi Peresensi Buku

TELAH termuat berbagai model tulisan resensi buku, baik di media cetak maupun elektronik. Apa pun modelnya, seorang peresensi buku bukanlah seseorang yang sedang menawarkan buku supaya buku itu laris manis. Seorang peresensi adalah orang yang sedang menggarap petunjuk singkat kepada publik tentang kandungan buku serta memberikan panduan bagi pembaca apa yang ingin disampaikan oleh penulis.

Karena itu, seorang peresensi yang handal senyatanya memiliki syarat-syarat yang diperlukan sehingga ia akan melakukan banyak hal, antara lain, peresensi perlu mengenal si penulis buku. Dari mana dia berasal, apa spesialisasinya, bagaimana pendekatan penulisannya, produktif atau tidakkah ia. Dengan mengenal sosok sang penulis akan sangat membantu untuk membedah isi otaknya.

Dengan kata lain, resensi buku bukan semata timbangan buku sebagai media promosi, melainkan juga sebuah pengadilan atas buku yang diresensi. Melalui resensi nasib sebuah buku bisa ditentukan takdirnya, cacat atau tiada cela. Itu sebabnya, penulis resensi dituntut bermata ganda: mata seorang pembaca dan pengkritik sekaligus.

Sekadar contoh, resensi yang menjadikan kritik sebagai landasan utama adalah resensi Poeradisastra berjudul “Dari Barat, atau Islam?” atas buku Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan karya Prof. R. Slamet Iman Santoso yang dimuat Tempo edisi 16 September 1978. Nyaris di semua lini buku profesor Universitas Indonesia itu kena gebuk dari segi metode, ideologi pengetahuan, hingga hal-hal teknis seperti kesalahan penulisan data dan sebagainya.

Akibat resensi Poeradisastra tersebut, Prof. Slamet Iman Santoso mengirim surat kepada Proyek Pengadaan Buku Departemen P&K. Sang Profesor mengecam cara kerja panitia pengadaan buku dan meminta agar rekomendasi untuk bukunya itu dicabut saja. Sementara dalam suratnya yang ditujukan ke Poeradisastra, Profesor Slamet menunjukkan kesan menyerah. “Bagi saya jelas, saya tidak mampu memperbaiki kesalahan itu, “ katanya. Singkat cerita, buku itu ditarik sendiri oleh penulisnya dari peredaran dan tak ada pembelaan sama sekali.

Dalam pola penulisannya, resensi buku sebetulnya mengalami kebhinekaan sesuai tingkat pengetahuan si peresensi. Selain model kritik seperti dicontohkan di atas, ada resensi yang hanya memendekkan isi buku menjadi beberapa paragraf. Atau sekadar meminjam informasi buku dan sampulnya untuk ditempelkan di tulisan yang kebetulan memiliki kesamaan tema. Ada pula jenis resensi yang mengulas lebih dari satu buku. Juga ada resensi yang ditulis seperti catatan perjalanan.

Buku Berguru Pada Pesohor Panduan Wajib Menulis Resensi Buku ini mengungkap berbagai jenis resensi selain memuat berbagai tips bagi para (calon) penulis yang ingin memasuki dunia resensi buku. Salah satu keunggulan buku ini, penulisnya mampu mengungkap spirit menulis yang bisa lahir dari dalam, bukan dengan melulu mengungkapkan sejumlah teori ataupun kaidah penulisan seperti lazimnya buku-buku sejenis.

Aturan mungkin perlu sebagai landasan saat menulis resensi buku, tetapi jangan biarkan aturan itu malah membuat seorang peresensi ragu-ragu. Satu hal yang sering terjadi yang akhirnya kebanyakan aturan membuat seseorang—terutama peresensi pemula—malah jadi mandek lantaran “ngeri” pada pelbagai teori yang membelenggunya.

Hal lain yang menarik dari buku ini, model-model resensi yang ada disertai berbagai contoh yang diambil dari resensi beberapa pernulis ternama di Indonesia, mulai dari Tirto Adhi Soerjo, Abdullah SP, Boejong Saleh, Abdul Hadi W.M. hingga Goenawan Mohamad dan Syahrir. Tahapan-tahapan penulisan resensi dari awal persiapan hingga pengiriman ke media tidak luput dari perhatian kedua penulis buku ini. Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan tidak lupa menyisipkan alamat media massa yang memuat kolom “resensi” berikut honorarium masing-masing media sebagai ganjaran bagi peresensi buku.

Buku-buku semacam ini terbilang sukses karena masuk kategori buku how to dan self help (motivasi diri) yang gampang dicerna. Buku jenis ini tergolong laku keras dalam dunia penerbitan buku di Indonesia, kendati sudah banyak terbit buku-buku sejenis dengan nama pengarang yang karya-karya tulisnya tidak termuat di media massa. Terlebih buku di hadapan pembaca ini disusun oleh kedua peresensi yang memang teruji dan sudah kenyang pengalaman di rimba tulis-menulis.

Memang buku ini tidak memuat banyak hal baru, namun tetap menarik untuk dibaca, terutama sewaktu membaca tip-tip praktis pada setiap bahasannya. Kebanyakan buku-buku panduan meresensi buku lebih cenderung teoritis dan menyulitkan. Hal ini sangat boleh jadi menyurutkan nyali para calon penulis yang ingin menceburkan diri dalam arena resensi buku. Cakupan bahasan yang ditampilkan buku ini sangat pas dan cukup inspiratif.

Terlepas dari beberapa kekurangan, buku ini sangat menolong para peresensi pemula, juga menyodok kesadaran para peresensi senior yang kualitas resensinya masih dalam level meringkas isi buku, memuji-muji ala sales, atau cuma menempelkan sampul buku tanpa menyentuh inti kandungannya.

Judul Buku : Berguru Pada Pesohor Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis : Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan
Penerbit : Dbuku, Surabaya
Cetakan : I, April 2011
Tebal : 266 halaman
Harga : Rp 60,000/-
*) Ahmad Fatoni, Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang

Kabar Resensi Pekan Keempat Mei 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Kronik Lumpur Lapindo, Skandal Bencana Industri Pengeboran Migas di Sidoarjo

Karya Bosman Batubara dan Paring  Waluyo Utomo

Resensi ditulis Soelistijono

Dimuat MEDIA INDONESIA, 27 Mei 2012

Tanggal 29 Mei menjadi hari sejarah kelabu bagi warga Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Hari itu, pada 2006, akibat aktivitas industri pertambangan yang dilakukan secara ceroboh oleh PT Lapindo Brantas, sebanyak 100 hingga 150 ribu meter kubik lumpur panas menyembur dari perut bumi dan tak terkendali hingga menjelma menjadi bencana kemanusian yang mengerikan. Lewat buku ini Bosman Batubara dan Paring Waluyo Utomo mencoba mengingatkan kita kembali untuk lebih respek melihat bencana lumpur itu dan menggugah pihak-pihak yang berkepentingan untuk memperhatikan penderitaan masyrakat yang menjadi korban.

Communication Power

Karya Manuel Castells

Resensi ditulis Ignatius Haryanto

Dimuat KOMPAS, 27 Mei 2012

Dari lima bab yang diuraikan dalam buku ini, Castells menggambarkan apa itu kekuasaan, apa itu komunikasi dalam dunia digital, kemudian ia juga menguraikan tentang masyarakat berjaringan, serta makna dari hubungan kekuasaan dalam masyarakat berjaringan global. Ia pun melakukan elaborasi atas dunia mikro individu, yaitu dalam pikiran manusia dan ia menunjukan bagaimana kekuasaan berdampak pada pikiran manusia tersebut.

Kuasa Ramalan : Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1885

Karya Peter Carey

Resensi ditulis Ririn Agustia

Dimuat KORAN TEMPO, 27 Mei 2012

Berperang karena makam leluhurnya Tegalrejo dirampas leh penjajah. Itulah sebab-musabab terjadinya Perang Diponegoro atau dikenal sebagai Perang Jawa (1825-1830) yang tertulis di tiap buku pelajaran sejarah Indonesia. Namun Peter Carey, sejarawan Inggris menguak lebih dalam penyebab perang yang menyebabkan banyak korban itu. Diponegoro digambarkan sebagai seorang muslim kejawen yang cerdas, dekat dengan petani Jawa, dunia santri, juga guru agama. Peter juga memaparkan bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan polik masyarakat Jawa pada abad ke-18 dan ke-19.

Malapetaka di Indonesia

Karya Max Lane

Resensi ditulis Afnan Malay

Dimuat JAWA POS, 27 mei 2012

Buku tentang tragedi 1965 ini merupakan esai kritis tentang peristiwa yang menurut penulisnya bukanlah merupakan sebuah tragedi. Bagi dia, pada istilah tragedi telah terjadi politisasi bahasa yang menggiring kita pada uapaya pembenaran bahwa yang terjadi sesungguhnya sesuatu yang tidak disengaja. Dalam pengantar buku ini penulis menyebutkan dirinya sebagai sejarawan yang berpihak. Kalau kita larut dalam indoktrinasi Orde Baru mengenai peristiwa kelam G 30 S/PKI, kita akan serta-merta memaknai Lane akan mengisahkan sebuah versi lain yang isinya melulu menghujat militer dan partai pendukungnya. Ternyata sama sekali tidak begitu. Keberpihakannya, diluar pasca gagalnya kudeta berdarah melalui terbunuhnya petinggi militer (sejumlah jendral dan perwira) dan bocah bernama Ade Irma Suryani Nasution pada malam 30 September 1965 itu, lebih pada penistaan kader-kader, simpatisan, atau siapapun yang dipersangkakan komunis yang menelan korban hingga dua juta anak bangsa yang lebih moderat menyebutnya  lima ratus ribu atau satu juta.

Manipulasi Kebijakan Pendidikan

Karya Darmaningtyas | Edi Subkhan

Resensi ditulis G

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 27 Mei 2012

Pendidikan merupakan hal yang sangat vital. Terlebih bagi pembentukan karakter sebuah peradaban yang selalu mengiringnya. Buku ini menyodorkan dasar-dasar pendidikan yang dibangun oleh founding father bangsa beserta segala aspek teori dan kerangka operasionalnya. Dengan ulasan dan bahasa yang cukup sistematis dan kritis, baik dalam ranah konsep maupun praktis atau aplikasinya, menjadikan buku ini berhasil menampilkan esensi pendidikan sejati.

100 Ilmuan Paling Berpengaruh di Dunia

Karya John Balchim

Resensi ditulis Ahmad Sholahuddin

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 27 Mei 2012

Di era sekarang, manusia telah dimanja berbagai kemudahan hidup dengan hadirnya teknologi yang maikn modern. Semakin berkembangnya ilmu teknologi (iptek) semakin mudah pula hidup manusia. Tapi afdol jika tidak tahu sejarah perkembangan serta para penggagasnya. Buku “100 Ilmuan Paling erpengaruh di Dunia” karya John Balchim ini, menurut sejarah ilmu sains dan para punggawanya. Mulai dari ‘anaximander (611 SM) orang pertama kali yang meragukan bumi itu datar dan bertiang. Phytagoras (581 SM), hingga Stephen Hawking seorang filsuf sekaligus fisikawan di abad 21 ini.

Worry Marketing – Strategi Pemasaran Berbasis kekhawatiran

Karya Fidelis Indriarto

Resensi ditulis Lukluk ul Maknun

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 27 Mei2012

Kekhawatiran yang bisa saja dirasakan setiap orang, lazim menyebabkan ketidakseimbangan dalam diri seseorang. Ketidakseimbangan ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan satu atau lebih tindakan untuk mengembalikan kondisi seimbang. Buku ini membongkar bagaimana kekhawatiran berpengaruh dalam pembentukan keyakinan seseorang. Keyakinan yang sudah terpengaruh ini, pada gilirannya sudah membentuk pola sikap. Sikap yang sudah terbentuk ini lantas berpengaruh pada niat, yang berujung pada perilaku seseorang.

Olahragawan Muslim Top Dunia

Karya Nidia Zuraya | Syahruddin El-Fikri

Resensi ditulis Irwan Kelana

Dimuat REPUBLIKA, 27 Mei 2012

Buku yang ditulis dua wartawan harian Republika ini mengangkat sosok dan prestasi para olahragawan Muslim tingkat dunia. Penulis mengelompokkan mereka berdasarkan jenis olahraga yang mereka tekuni, yakni tinju, sepak bola, pelatih, tenis, basket, dan bulu tangkis. Para olahragawan muslim yang berhasil mencetak tonggak prestasi tingkat dunia itu, antara lain, Muhammad Ali, Mike Tyson, Naseem Hameed dan Amir Khan (tinju). Dibidang olahraga sepak bola ternyata banyak sekali Muslim tersohor dan berprestasi. Misalnya, Zinedine Zidane, Franck Ribery, Samir Nasri, Hakan Sukur, Lilian Thuram, Yaya Toure, Mesut Oezil, dan Nicholas Anelka, dan masih banyak olahragawan yang lain. Mereka mampu membuktikan keteguhan dan keyakinannya meski mereka tinggal , berlatih, dan bertanding di negeri yang penduduk muslimnya minoritas. Mereka tetap menjalankan ibadah shalat, puasa pada bulan Ramadhan, zakat, haji, dan syiar Islam lainnya.

Celoteh Soleh : Bloger yang (kadang) Stand Up Comedian

Karya Soleh Solihun

Resensi ditulis Sigit Widya

Dimuat TRIBUN JOGJA, 27 Mei 2012

Dalam buku ini, Soleh Solihun menyuguhi pembaca dengan ungkapan-ungkapan khasnya. Juga sedikit profil mengenai dirinya. Iya juga tak malu membuka aib percintaanya, termasuk pergulatan batin pribadinya dalam menjalani hidup sebagai seorang Soleh Solihun, yang selalu mengaku bertampang pas-pasan dan sulit dapat jodoh.

John Balchim
Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan