-->

Arsip Esai Toggle

Diana AV Sasa | AIR

Tanyakan pada buku, siapa musuh abadinya? Maka selain menjawab api, buku pasti akan menjawab: AIR. Perang buku dengan air itu kekal karena keduanya tak akan pernah bisa disatukan. Tak peduli setetes atau bah, air adalah musuh. Tak ada kompromi. Titik. (lebih…)

Puisi Rama Prabu | Dan Mereka Membakar Buku

:/pembakar buku

Buku, musuhnya api

Buku, musuhnya rayap

Buku, musuhnya lembab

Buku, musuhnya sebab

Buku, musuhnya musabab

Buku, musuhnya profesor anti buku

Buku, musuhnya agama satanic

tujuh musuh, tujuh rupa

tujuh jiwa, tujuh kuasa

ini kunci mati!

tapi, kemana kau bawa lari kerta-kertasku?

padahal aku tetap rindu!

kenapa kau bakar semua, padahal ada tapakku yang tak bisa kau hapus pupuskan

jenaka punakawan, sia-sia hidup kala laku tak berilmu

seperti dirimu!

ingatlah jiwa buku takkan layu di telan ragu, seperti hidupmu!

mereka telah hidup bersama taring-taringnya, bersama cakar-cakarnya

tapi kenapa kau tak bersikap bijak?

kita kan teriak, buku lawan buku

satu lawan satu

seteru lawan seteru

baku buku dengan baku buku

ini hidup sebelum mati, ini manusiawi sebelum sorgawi

jadi, jangan mati sebelum mati!

aku memang tahu, kau memendam jiwa penakut di dada

dibungkus nadi-nadi merah yang haus darah

serupa gundah pada para pujangga

mungkin kau dilahirkan dari api, atau dari air?

mungkin juga dari juwa sebab-musabab yang tanpa penanda “belati api”

kau peragu, aku tahu!

tapi diam lebih berharga kala kau tak tahu peluru

kan terarah kemana! bunuh diri.

pada buku yang telah jadi abu

ku titipkan kabar siang, disini mereka membelamu!

kau tahu siapa yang telah membinasa

datangilah dengan secucup cinta dari tinta penuh makna

walau itu di ranah dilema

buku ternyata tak punya musuh…!

di tanah ibu, jiwa merdeka

Bandung, 8 September 2009

* Dinukil dari Note Facebook Rama Prabu

Diana AV Sasa | API

Dari semua kekuatan alam, api adalah musuh buku yang paling tak bersahabat dan bengis. Bayangkan, hanya dari sepercik bara yang mengenai ujung buku, ia bisa terus merambat, membesar, dan kemudian melahap seluruhnya. Dari satu kemudian menjalar ke buku-buku lain di sekitarnya. Begitu cepat dan massif. Bahkan manusia pun meminjam api sebagai alat yang paling demonstratif untuk menunjukkan kekuasaannya. (lebih…)

Zen RS | Surat Terbuka untuk Prof Aminuddin Kasdi

Sungguh saya tidak habis pikir seorang guru besar sejarah seperti Sampeyan bisa-bisanya ngomong begini: “Sejarah memang versinya yang menang. Lha, gimana, kalah kok njaluk sejarah!”

Prof. Aminuddin Kasdi, sampeyan pasti tahu itu parafrase yang sudah nyaris menjadi klise, sekaligus sindiran yang tajam pada narasi sejarah yang dianggap selalu memberi porsi besar pada para “pemenang” dan mengabaikan para “pecundang”, tak peduli ia punya peranan besar atau kecil sekali pun. (lebih…)

Adhe | Ini Profesi, Bukan Proyek Harakiri

Status di Facebook bisa bermakna apa pun. Ini jagat maya, siapa pun bisa menulis (lihat: “menulis”, bukan “berkata”) apa pun. Kita bahkan boleh memajang gambar anak usia sekolah dasar sedang senggama, asli ataupun moda kreasi-duplikasi ala Photoshop, di tampilan situs jejaring sosial ini. Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) masihlah perlu sosialisasi, dan kita boleh sedikit memanfaatkan celahnya untuk bersenang-senang. (lebih…)

Muhidin M. Dahlan | Pram, Sarjana Benalu, dan Repoeblik Kaoem Ambtenaar

“Banyak orang yang cerdas! Banyak orang yang pandai! Tapi kecerdasan dan kepandaiannya itu hanya diperuntukkan untuk tujuan yang keji-keji belaka. Itu banyak terjadi, dan engkau tak boleh memasukkan dirimu ke dalam golongan orang yang seperti itu.” (Pramoedya Ananta Toer) (lebih…)

Anton Kurnia | Pramoedya Ananta Toer sebagai Kurir Sastra Dunia

Oleh Anton Kurnia

De plicht van een mens is mens te zijn—
Tugas manusia adalah menjadi manusia.
Multatuli)

Bisa jadi banyak karya para sastrawan dunia tak akan pernah dapat dinikmati oleh sebagian besar khalayak kita jika tak ada para penerjemah yang rela bersusah payah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini, andil para penerjemah sangat besar. (lebih…)

Muhidin M Dahlan | Refleksi Buku 2007 – Tahun Pembakaran Total

BAGI sebuah negeri yang diperintah penguasa ototiter, membakar buku adalah sebuah upacara. Tapi bagi negeri yang disebut-sebut sebagai salah satu negeri yang dikelola penguasanya dengan mekanisme demokrasi paling baik saat ini, membakar buku adalah sebuah ironi dan anomali. Sebab ditilik dari sisi mana pun, semangat membakar buku adalah semangat antiperadaban.

(lebih…)

Kabar Buruk dari Perpustakaan Kediri

Oleh Editor

Kabar buruk itu datang juga ketika di bulan Juni saya menyambangi Perpustakaan Kediri. Jadwal telah disusun dan bayangan pun telah padat dalam pikiran, bahwa saya akan bertemu dengan wajah kota tua yang eksotik, kota dengan catatan pengalaman setebal Gunung Kelud, dan aura perpustakaan menggetarkan; yang tatkala menerobos masuk ke dalamnya serupa memasuki genisa-genisa Mesopotamia yang masyhur di mana bau-bau kertas tua segera menyumpal pernapasan.

Namun perpustakaan itu terkunci rapat di Sabtu panas. Beberapa kali saya tempelkan muka di lempeng kaca jendela yang membuat saya agak ragu, benarkah ini perpustakaan sebuah kota yang berusia sealaf lebih di mana di sana semua sejarah kota terdokumentasi dengan baik. Sebab yang tampak di dalam dua patung logam berdiri setinggi loteng. Di luarnya ada lempeng prasasti yang bertuliskan Museum Mas Trip. Perpustakaan?

“Itu memang perpustakaan, Mas. Nggak tahu juga mungkin di atasnya. Hari Sabtu kayaknya libur. Tapi hari-hari biasanya ramai parkir motor di situ,” kata seorang pamongpraja di pos “jagamonyet” di kantor sebelah yang saya temui.

Perpustakaan yang bercat putih kusam dan toilet yang sangat kotor di lantai dasar itu saya tinggalkan untuk keesokan Seninnya datang lagi. Saya mesti melewati patung di bawah dan sanggar pramuka di lantai 2 untuk sampai ke ruang perpustakaan di lantai 3 dengan membawa satu pertanyaan mengapa perpustakaan ini harus tutup Sabtu.

Dan saya pun menerima jawaban yang sudah terduga dari kepala Perpustakaannya, bahwa tutupnya mengikuti jadwal kantor pegawai negeri dan bukan jadwal belajar masyarakat. Padahal di depan perpustakaan itu sekolah tetap hidup dan siswa-siswanya berkeliaran di jalanan.
Bahkan, perpustakaan ini pun tak punya nomor telepon mandiri, melainkan masih netek di kantor pemerintah kota. Persis usus birokrasi umumnya. Berbelit-belit. Tampaknya perpustakaan ini hanya dianggap sepele dalam sebuah kota legendaris seperti Kediri. Kehadirannya adalah sebuah ironi sambil lalu. Mendapatkan penghormatan literasi dari sini hanyalah angan-angan barbar.

Buku-buku di dalamnya pun kebanyakan buku yang sudah kadaluwarsa. Berharap mendapatkan sejarah kota dan sepak terjang penguasa dan parlementarianya yang memadai dan tak dikoleksi satu pun perpustakaan di Indonesia adalah kesia-siaan. Pun yang ada, alamak, hanyalah Memori DPRD Tingkat II 1977 Kotamadya Kediri.

Saya mencoba mencari peruntungan kalau-kalau ada buku penulis dari Kediri. Tak ada. Atau penerbit dari Kediri. Juga tak ada. Lalu saya bertanya kepada Kepala Perpustakaannya berapa jumlah koleksi di perpustakaan ini. “Tak tahu. Yang tahu staf saya. Lagipula saya hanya diangkat di sini,” katanya yang membuat saya bingung dengan kata “hanya diangkat”.
Lalu saya bertanya seasalnya, “Berapa nomor telepon perpustakaan?” Beberapa saat sibuk membuka arsip-arsip di atas meja, lalu menjawab perlahan: “Tak tahu. Staf saya yang tahu.” Apa saja kegiatan perpustakaan ini selain rutin menjadi transaksi pinjam-meminjam. “Biasanya ada lomba mengarang.” Saya bertanya apakah itu program untuk saat ini? “Bukan. Saya kan masih 1,5 tahun di sini. Jadi belum melakukan apa-apa,” katanya.

Dengan sedikit putus asa saya beralih ke salah satu staf di meja paling depan. Seorang perempuan lulusan D3 Perpustakaan Airlangga. Bertanya saya: “Adakah Rendra?” Jawab: “Tak ada.” Adakah Goenawan Muhammad?” Jawab: “Siapa itu, Mas. Kayaknya nggak ada. Tapi perasaan pernah saya baca nama itu di koran.” Chairil Anwar, katanya, ada tiga biji, tapi tak satu pun saya lihat tampangnya. Putu Wijaya satu, terselip di buku anak-anak. Pram ada, tapi entah di mana. Kebanyakan buku sastranya buku tipis keluaran Balai Pustaka lama yang sampulnya sudah lecet-lecet dan di sisi kanan atasnya selalu tertulis: “Tidak Diperdagangkan”.

Di ruangan temaram yang miskin penerangan itu saya gagal total bertualang mengikuti rute-rute perjalanan kota ini atau melihat aksi Mpu Baradah mengucurkan air dari kendi untuk membelah Kediri menjadi dua bagian yang kemudian dikenal dengan Daha dan Panjalu. Dada saya pun gagal tersengal-sengal menyaksikan pasukan Kediri yang lari kocar-kacir mendapat serangan kilat pasukan Tartar yang diboncengi Raden Wijaya via Brantas.

Saya ingin mendapatkan lagi cerita itu langsung dari kotanya sendiri, tapi musykil. Lalu bagaimana menyalahkan masyarakat pelajar Kediri yang tak rajin membaca, jika perpustakaan kotanya berdiri dengan niat setengah-setengah dan malas membujuk masyarakat membaca. Lagi pula dari genealogi sejarahnya, perpustakaan ini muncul dari ide veteran-veteran perang di bawah naungan Yayasan Trip, dan bukan kesadaran utuh pemerintah kota akan pentingnya perpustakaan sebagai pelita pemandu kecerdasan masyarakat. Apalagi perpustakaan ini dikelola dengan memakai naluri pegawai negeri yang miskin inovasi, bukan naluri seorang pustakawan yang betul-betul mencintai buku dalam hidupnya.

Saya memang tak tahu berapa besar dana yang disisihkan pemerintah kota dalam perawatan dan pengembangan perpustakaan yang “menumpang” di Museum Trip ini. Saya menanyakannya kepada Kepala Perpustakaan, tapi disuruh langsung bertanya saja ke Pemerintah Kota. Namun melihat kusamnya dindingnya, minimnya koleksi, serta sepinya kegiatan perbukuan akibat miskin inovasi para penjaganya, pastilah hanya sedikit. Padahal besar kecilnya dana itu menunjukkan pemihakan atas pentingnya literasi dalam sebuah kota yang kaya pengalaman hidup seperti Kediri. Apalagi kota ini dianugerahi tanah-tanah pertanian yang luas dan juga menjadi salah satu kota dari 7 kota yang memproduksi rokok terbesar di Indonesia.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan