-->

Arsip Esai Toggle

Petrus Suryadi Sutrisno | Mencermati Tamatnya Edisi Cetak Majalah Newsweek

Majalah Berita Mingguan “Newsweek” yang terbit dalam dua belas bahasa di New York, AS dan beredar jutaan eksemplar di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia 31 Desember 2012 muncul dengan judul sampul “Last Print Issue” dan tidak akan pernah muncul lagi setelah berusia 80 tahun. (lebih…)

Maman S Mahayana | Posisi Puisi, Posisi Esai

Ketika jurnalistik berhadapan dengan tembok kekuasaan, sastra dapat digunakan sebagai saluran”. Begitu pesan Seno Gumira Ajidarma dalam buku antologi esainya, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997). Pesan itu juga sebagai bentuk pertanggungjawaban estetik atas sejumlah cerpennya yang berkisah tentang berbagai peristiwa aktual dan faktual. Secara cerdas, Seno menunjukkan posisi sastra yang bisa begitu lentur dalam menyampaikan kritik sosialnya. Maka, peristiwa sosial politik tentang petrus (Penembak Misterius, 1993) dan tragedi di Dili (Saksi Mata, 1994) yang tabu diberitakan sebagai laporan jurnalistik, dikemassajikan dalam bentuk cerpen yang asyik. (lebih…)

Melmarian | 5 Cover Novel Terjemahan Terjelek

Tadinya saya sempat ragu-ragu dalam menulis post ini. Ada wacana dari teman-teman BBI untuk mempost cover buku terjelek versi masing-masing, bukan untuk mencaci maki melainkan sebagai kritik yang membangun. Sebagai bukti bahwa kami para blogger buku peduli, bahkan sampai mengenai cover atau sampul buku.
(lebih…)

Arman Dhani | Lima Buku Tak Layak Terbit 2012

Menulis buku tak pernah mudah. Tapi bukan berarti setiap karya yang lahir harus diapresiasi dengan gegap gempita. Saya ingat dalam sebuah otobiografi, The Nightmare of Reason: A Life of Franz Kafka yang disusun Ernst Pawel, Kafka pernah hendak membakar semua karyanya karena dianggap tak layak baca. Beruntung naskah itu tidak jadi dibakar, karena semua orang kemudian tahu  bahwa karya Kafka akan melampaui zamannya. Penjaga estate Kafka Max Brod tidak hanya tidak membakar naskah itu, namun juga menerbitkannya sehingga kita bisa menikmati cerita-cerita kanonik yang luar biasa itu. (lebih…)

F. Daus AR | Makassar, Urbanisasi, dan Penulis

 

Sejarah para penulis di Makassar adalah sejarah lain dari urbanisasi. Saya memulainya dengan kiprah Retna Kencana Colliq Pujie (Arung Pancana Toa) pada tahun 1852 yang menuliskan kembali epos La Galigo, meski hanya sampai 12 jilid. Hasilnya, pengingatan kesadaran, sejarah, dan asal-usul dari epos tersebut dapat dijamah oleh generasi sekarang. (lebih…)

Muhidin M Dahlan | 2 Buku Putih, Satu Kesimpulan: PKI Penjahat!

Jika ditanya buku apa yang paling berpengaruh di memori publik terkait dengan kisah di seputar gerakan pembunuhan perwira-perwira tinggi Angkatan Darat atau yang dikenal dengan “Gerakan 30 September”, maka jawabannya adalah karya Nugroho Notosusanto, Ismail Saleh, Tragedi Nasional: Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia (Jakarta: Intermasa, 1968) dan Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya (Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1994). (lebih…)

Muhidin M Dahlan | Bangsa yang Tak Merawat Diri

 

Soekarno bilang, Indonesia adalah bangsa kuli dan kuli dari bangsa-bangsa. Menurut saya, Indonesia bangsa perusak. Bangsa yang tak punya mental merawat. Apa pun akan dirusaknya jika itu tak memberi keuntungan pragmatis. Tak peduli, bahkan milik berharga Proklamator Indonesia. Dua warisan dari dua bapak pendiri bangsa (founding fathers) itu, sepanjang reformasi, terkubur satu-satu.

Alkisah, Perpustakaan Idayu menyatu menjadi tanah di Sentul pada 2006. Perpustakaan yang berdiri tahun 1966 ini menyimpan koleksi bibliografi Indonesia sejak 1955; pertama oleh PT Gunung Agung (penerbit dan toko buku) kemudian dialihkan ke Idayu tahun 1966, termasuk koleksi kliping koran dari tahun 1960-an, koran-koran daerah dari seluruh daerah yang selalu diterima Idayu secara gratis. (lebih…)

Ninok Leksono | Apakah Copy-and-Paste Musuh Berpikir

“Untunglah di tengah zaman yang membuat orang mudah digelincirkan oleh kemudahan teknologi masih banyak orang—penulis, seniman, dan ilmuwan—yang masih suka melakukan pekerjaan orisinal.” (Sarah Wilensky, mahasiswa senior di Universitas Indiana, seperti dikutip Trip Gabriel, “International Herald Tribune”, 3/8/2010) (lebih…)

Zen RS | Van Der Wijk, Aku dan (I)buku

Oleh: Zen RS

Aku menemukan kembali Tenggelamnya Kapal van Der Wijk di Banjarmasin. Serta merta aku ingat kembali masa kanakku.

Di jalan Niaga, ada tiga buah toko buku. Jangan bayangkan toko buku itu macam Social Agency, kios-kios di Shopping Center, kios-kios di Palasari Bandung yang kini terbakar, kios-kios di Pasar Johar Semarang atau seperti lapak-lapak di Kwitang dan Bulungan Jakarta atau toko buku di jalan Semarang, Surabaya. Apalagi dengan toko bukunya Jose Rizal di TIM atau kios Pak Ucup di Jogja. (lebih…)

Muhidin M Dahlan | KUTU

Buku bersampul seekor kutu dengan punggung bertutul merah itu memamerkan diri dengan sebaris judul: Mencegah & Membasmi Rayap secara Ramah Lingkungan & Kimia. Buku itu ditulis Kurnia Wiji P dan Sulaeman Yusuf. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan