-->

Arsip Esai Toggle

Sofie Dewayani | Buku Anak dan Identitas Indonesia di FBF 2015

PERHELATAN akbar Frankfurt Book Fair (FBF) sudah usai. Lampu sorot yang menerangi panggung utama tempat Indonesia tampil sebagai tamu kehormatan telah dipadamkan. Properti pertunjukan telah dikemas.

Buku-buku yang mendandani penampilan Indonesia di panggung pentas dunia itu kembali ke tempatnya semula di negeri ini. Mereka (buku-buku) meng huni sudut-sudut sunyi.

Kesempatan tampil dan menjadi pusat perhatian di ajang seperti Frankfurt Book Fair ialah kemewahan bagi bukubuku produksi dalam negeri. (lebih…)

Korrie Layun Rampan | Pengarang dan Honorarium

Pada zaman Orde Baru pernah terjadi boom ekonomi bagi pengarang, penulis, dan sastrawan Indonesia dalam Proyek Inpres.

Waktu itu, pengarang diberi kebebasan menulis dan menerbitkannya. Maraklah penerbit di semua provinsi dan lahir para pengarang muda.

Kondisi itu memberi efek berganda bagi para pengarang dan penerbit. Para pengarang produktif—dan bermutu—yang karyanya dipesan dapat membeli kebutuhan hidup sehari-hari, rumah, mobil, dan sebagainya karena pemerintah memesan karya mereka dalam jumlah puluhan ribu eksemplar sehingga setiap tahun para pengarang mendapat penghasilan ekstra.

Setelah bergulirnya otonomi daerah, sejumlah kebijakan diserahkan ke daerah. Banyak daerah menganggap persoalan perbukuan kurang penting. Yang penting adalah pembangunan infrastruktur, seperti jalan, gedung, dan jembatan. Buku nanti dulu, yang penting anak-anak usia sekolah bisa melek aksara.

Berpindahnya kebijakan pusat seiring otonomi daerah membuat daerah harus memulai sesuatu yang baru, termasuk kebijakan mengenai perbukuan. Saya pernah mendapat surat penolakan bantuan pusat mengenai masalah perbukuan dari salah satu departemen bahwa kebijakan perbukuan itu ada di daerah sebab Proyek Inpres yang sentralistik sudah ditiadakan. (lebih…)

Muhidin M Dahlan | Infrastruktur Buku setelah Buchmesse

Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Harmonie Hall Congress Center Messe Frankfurt memukau ribuan hadirin yang menyaksikan pembukaan Frankfuter Buchmesse, 13 Oktober silam. Menteri Baswedan memampatkan sedemikian rupa wacana penghormatan pada keragaman dan politik bahasa sebagai instrumen mempersatukan bangsa. Indonesia mampu keluar dari momok kebinasaan dan menjadikan keragaman sebagai kekuatan karena “Bahasa Indonesia” diciptakan 27 tahun mendahului terciptanya negara-bangsa. (lebih…)

Muhidin M Dahlan | Habibie dan Jerman

Ketika Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Pekan Raya Buku Frankfurt, saya teringat Bacharuddin Jusuf Habibie. Bukan saja bahwa Habibie jauh sebelumnya telah menjadi “warga kehormatan” di Jerman, tapi posisi Habibie sebagai “duta teknologi” menunjukkan bahwa Jerman-Indonesia terhubung dengan baik.

Di Indonesia, Habibie adalah ikon manusia jenius Indonesia di mana semua alamat puncak-puncak kepintaran seorang terpelajar dinisbahkan kepada namanya, termasuk abadi dalam bait lagu Iwan Fals “Guru Omar Bakrie”. Sementara di Jerman, Habibie dikenal sosok pilih tanding yang bertalenta, cerdas, enerjik, terbuka, pekerja keras, dan loyal. Pribadi Habibie menunjukkan watak orang Indonesia yang tak biasanya. (lebih…)

Agus M Irkham | Minat Baca Tak Bisa Menunggu

Menteri Pendidikan Anies Baswedan, Jumat (24 Juli 2015), mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Nomor 21/2015 tentang program penumbuhan budi pekerti (PBP). Anies mengatakan, mulai tahun ajaran baru 2015/2016, permen tersebut harus sudah dijalankan melalui serangkaian kegiatan harian bersifat wajib maupun piihan. (lebih…)

Sofie Dewayani | Literasi dan Kelisanan

Banyak mahasiswa pascasarjana mengeluhkan kemampuan mereka untuk membaca. Mereka membaca dengan kecepatan yang sangat rendah dan tidak efektif karena mereka tidak mampu membuat prioritas dalam memilah informasi ketika membaca. Mereka tidak membaca dengan aktif dan merasa kesulitan ketika harus menganalisis dan menyintesis bacaan.

Dalam kegiatan mem baca terbimbing (guided-reading), guru bekerja dengan siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga hingga empat anak yang setara kemampuan membacanya. Guru lalu membantu anak untuk mengidentifikasi gagasan utama, pendukung, hubungan sebab-akibat atau pola argumen yang terdapat dalam bacaan, kemudian membimbing anak untuk melakukan asumsi, inferensi, dan menarik kesimpulan. Guru juga membantu anak untuk memaknai bacaan tersebut dalam konteks pengalaman mereka. Guru membantu menggugah minat anak terhadap teks yang dibacanya. (lebih…)

Hairus Salim | Khitah, Islah, dan NU

Teman saya baru-baru ini mengirim peran singkat. “Besok saya pulang ke kampung. Saya mau kembali ke khittah saja. Pamit. Mohon doanya.” Yang ia maksudkan kembali ke khittah (dengan huruf “t” ganda) adalah menjadi pedagang sebagaimana tradisi keluarganya dan meninggalkan profesi penulis yang selama beberapa tahun terakhir digeluti.

Kamus Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta (1952) belum memasukkan kata khitah ini. Tapi Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) sudah memasukkannya dengan mengartikan khitah sebagai cita-cita; langkah; rencana; tujuan dasar; garis haluan; landasan perjuangan; kebijakan. Bisa jadi kata “khitah” masuk ke perbendaharaan bahasa Indonesia atas “sumbangan” NU secara tidak sengaja melalui dinamika organisasinya yang mendapat liputan media.

Menjelang Pemilu 1982, NU–kala itu masih menjadi partai dan bagian dari fusi dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP)-mengajukan nama-nama tokohnya sebagai calon legislator. Namun sebagian besar nama tokoh ini dicoret dan digantikan nama-nama baru dari luar NU. Terjadilah konflik antara NU dan Parmusi, dua unsur dalam fusi PPP di satu pihak. Di pihak lain, konflik yang lebih sengit pecah antara Ketua NU KH Idham Chalid dan para kiai yang dipimpin Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Konflik ini berlangsung panjang dan lama, sehingga sangat melemahkan NU. Di tengah konflik itulah, muncul ide agar NU kembali ke hakikat pendiriannya yang awal. Ketika didirikan pada 1926, NU bukanlah partai politik, melainkan organisasi sosial-keagamaan dan berkhidmat pada masalah sosial-keagamaan. Gagasan ini kemudian dikenal sebagai kembali ke “Khittah 1926”, yang artinya NU kembali menjadi organisasi sosial-keagamaan. Sejak saat itu, kata khitah–dengan “t” tunggal–kondang di masyarakat. (lebih…)

Muhidin M Dahlan | Kejahatan Bermantel Buku

Kita memang menunggu KPK membuktikan O.C. Kaligis menjadikan buku sebagai “sandi” kejahatan suap dalam perkara operasi tangkap tangan di PTUN Medan. Kode buku ini mencuat dari pengakuan “ajudan” Kaligis, Yagari Bhastara Guntur. Dari nyanyian sumbang Gerry itulah buku diketahui dijadikan wadak menyimpan uang siluman yang dibawa Yurinda Tri.

Memakai “sandi buku” ini menarik pada dua perihal. Pertama, buku menunjukkan bahwa O.C. Kaligis adalah seorang yang sangat terpelajar. Bukan cuma itu saja, Kaligis di tengah kesibukannya yang luar biasa dikenal sebagai laki-laki yang doyan menerbitkan buku. Allahu Akbar, Kaligis telah menulis 78 judul buku. Belum termasuk rencananya membukukan cerita 10 istrinya. Jadi, menggunakan sandi buku dalam melakukan kejahatan suap direken-reken bisa mengelabui mata elang sang pemburu. (lebih…)

Anton Kurnia | Menjelang Pameran Buku Frankfurt 2015

Oktober tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan (guest of honour) dalam pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Buchmesse alias Frankfurt Book Fair atau Pameran Buku Frankfurt (PBF). Itu kehormatan besar. Untuk itu, sejak dua tahun silam pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melakukan serangkaian persiapan. Dalam ajang itu dipilih tema utama “17.000 Islands of Imagination” untuk menggambarkan keberagaman budaya Indonesia.

Panitia nasional yang diketuai Goenawan Mohamad menyiapkan lebih dari 200 buku, terutama karya sastra, untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Jerman serta ditampilkan dalam pameran tersebut. Lebih dari 100 penulis dan penampil dari Indonesia juga diundang untuk menghadiri acara yang berlangsung selama seminggu itu. (lebih…)

Agus M Irkham | Momentum Tamu Kehormatan

Indonesia menjadi tamu kehormatan (guest of honour) pada Frankfurt Book Fair 2015, yang akan digelar pekan kedua Oktober 2015.

Berbagai persiapan dilakukan. Di antaranya berupa penerjemahan 200 buku (sastra) ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Presiden Joko Widodo juga menerima 17 wartawan Jermandi Istana Kepresidenan. Para wartawan tersebut datang dengan niat menulis tentang Indonesia selaku tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair itu.

Selain itu, menurut keterangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, sebagai bentuk dukungan pemerintah, Presiden Jokowi juga berencana hadir dalam helatan tersebut. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan