-->

Arsip Literasi dari Sewon Toggle

Lomba Penulisan “Bahasa Indonesia dan Kita”

Dalam rangka Bulan Bahasa (Oktober) 2012, harian Kompas mengajak semua Kompasianer berbagi pengalaman seputar penggunaan bahasa Indonesia. Mari mencintai bahasa Indonesia dengan meramaikan lomba menulis bertema “Bahasa Indonesia dan Kita” di Kompasiana.

Syarat dan ketentuan lomba:

– Lomba terbuka bagi Kompasianer dan umum. Peserta umum dipersilakan membuat akun Kompasiana untuk mengirimkan karya.
– Tulisan tidak melanggar Ketentuan Konten Kompasiana.
– Tulisan menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
– Peserta wajib mencantumkan tag “bahasadankita” (tanpa tanda kutip).
– Tulisan yang dikirimkan bersifat baru, belum pernah dipublikasikan di media lain, dan karya orisinal pemilik akun.
– Jumlah tulisan tidak dibatasi.
– Lomba tertutup bagi karyawan Kompas Gramedia dan keluarganya.
– Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.

Dewan juri:
Bambang Sigap Sumantri (Wakil Redaktur Pelaksana Kompas)
Tri Agung Kristanto (Kepala Desk Nusantara Kompas)
Pepih Nugraha (Managing Editor Kompas.com)

Lomba menulis ini dilaksanakan 10 Agustus-25 September 2012. Tulisan dengan tag lomba yang dikirimkan di luar periode tersebut tidak akan dinilai. Nama-nama pemenang akan diumumkan pada 18 Oktober 2012 di lembar Freez harian Kompas, Kompasiana, dan Kompas.com. Karya pemenang I-III akan dimuat di lembar Freez pada hari yang sama.

Tersedia hadiah menarik berupa uang tunai, piagam, dan suvenir untuk Kompasianer yang karyanya terpilih sebagai pemenang.

Pemenang I : Rp 5.000.000, piagam, dan suvenir Kompas
Pemenang II : Rp 3.500.000, piagam, dan suvenir Kompas
Pemenang III : Rp 2.000.000, piagam, dan suvenir Kompas
Hadiah hiburan : 10 paket suvenir Kompas dan voucer Toko Buku Gramedia @ 250.000

Pemenang lomba yang berdomisili di Jabodetabek akan diundang dalam penyerahan hadiah pada 20 Oktober 2012 bersamaan dengan seminar bahasa di Gedung Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Barat Nomor 33-37, Jakarta Pusat. Bagi pemenang di luar Jabodetabek atau yang berhalangan hadir, hadiah akan dikirim.

Keterangan:

Pajak hadiah ditanggung pemenang 5% (dengan NPWP), 6% (tanpa NPWP) dihitung dari 50% nilai hadiah.

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi:
retma.wati@kompas.com
nanik.dwiastuti@kompas.com
amin.iskandar@kompas.com

Tunggu apa lagi? Mari buktikan kita cinta bahasa Indonesia!

*)Kompas, 20 Agustus 2012

**) Redaksi Indonesiabuku tidak menerima pertanyaan terkait berita ini

Fundraising untuk Biaya Pengobatan George Junus Aditjondro

Kepada kawan-kawan yang baik,

Kami dan kolega dekat keluarga George Junus Aditjondro dan Erna Tenge, serta Enrico Aditjondro, hendak galang dana guna bantu biaya pengobatan Aditjondro yang dirawat di rumahsakit Bethesda, Yogyakarta. Sejak awal Juni, Aditjondro mengalami stroke akut, langsung dibawa ke UGD dan, dalam waktu begitu cepat, menjalani operasi bedah guna mengeluarkan darah membeku di otak kecil. Kini Aditjondro dirawat di ICU kamar 10.

Dia sempat keluar dari ICU tapi cuma bertahan sehari. Kondisi tubuhnya sulit untuk stabil. Infeksi paru-paru, diabetes, jantung, memicu apa yang disebut dokter “sulit memprediksi” progresi kesembuhannya. Dia kadang membaik tapi juga, serumit selang ventilator yang ditanam di tubuhnya, bisa cepat memburuk.

Pada 9 Juli, dia mengalami pendarahan lambung. Kolega dekatnya segera menggalang donor darah B. Kadar hemoglobin dia turun dari 7 jadi 5—normalnya 13-15 Hb. Namun transfusi darah belum bisa dilakukan karena demamnya belum turun. Esok paginya, Erna Tenge, istri Aditjondro, mengatakan dari saran dokter bahwa “Bapak akan butuh lebih banyak darah B” guna jaga-jaga nanti bila diperlukan saat bulan puasa, bulan suci umat Islam, di mana mereka yang menjalani ibadah puasa tidak boleh makan dan minum sebelum waktunya, termasuk mendonor darah.

Kesehatan Aditjondro tak pernah stabil sejak menderita kencing manis. Dia diharuskan cek rutin, minum banyak obat atas petunjuk medis, dan tubuhnya cepat mengalami komplikasi. Dia juga diharuskan untuk lebih sering istirahat. Tubuhnya begitu sensitif hingga dokter, yang merawatnya tahun lalu di Jakarta, mengatakan Aditjondro mengalami “metabolisme syndrome”.

Setiap minggu rumahsakit Bethesda mengeluarkan pemutakhiran “rincian biaya perawatan”. Hingga pekan ini seluruh biayanya sebesar Rp 201,067,200. Sementara ini keluarga baru membayar Rp 26,700,000. Total sisa yang harus dibayar Rp 174,367,200.

Bukti rincian biaya perawatan bisa dilihat dalam gambar berikut ini:

2012 07 10_Buku2_Pengobatan George Junus Aditjondro

2012 07 10_Buku3_Pengobatan George Junus Aditjondro

Kami akan update perkembangan Aditjondro setiap pekan, beserta biaya pengobatan, demi transparansi. Perbaruan biaya ini akan kami tulis di sini, atau bagi Anda yang ingin informasi langsung, bisa kontak kami atau via email bila Anda berkenan cantumkan email. Kami sangat berterimakasih atas bantuan Anda demi meringankan biaya pengobatan Aditjondro.

“Berapa saja, asal kita bergandeng tangan untuk saling bantu, demi kesembuhan Abang,” kata Erna Tenge.

Sila transfer donasi Anda ke rekening di bawah ini:

Bank Negara Indonesia Palu Sulawesi Tenggara
Nomor rekening 008 171 5855
Atas nama Erna Tenge, SE MS

Bank Central Asia cabang Wahid Hasyim
Nomor rekening 478 015 6002
Atas nama Enrico Suryo Aditjondro

Sila kontak kami untuk info lebih lanjut:

Erna Tenge 0813 4110 9244
Enrico Aditjondro 0815 9149 515
Woro Wahyuningtyas 0852 9222 3747
Junior Hafid Heri 0812 262 3456
Fahri Salam 0815 7867 3591

Sumber: riesalam.wordpress.com, 10 Juli 2012

Obrolan Senja: Draft Tesis "Axis Evil Comedy Tour"

Disampaikan pada Ahad 8 Juli 2012, di Obrolan Senja, Indonesia Buku kerja sama dengan Jojoncenter. Draf naskah yang dibahas ini adalah tesis Sakdiyah Ma’ruf di American Studies, Universitas Gadjah Mada (UGM)

Pengantar Diskusi: Axis of Evil Comedy Tour, Performing Marginality 9/11 Amerika

Oleh Sakdiyah Ma’ruf

EvilAmerika adalah negara yang disebut oleh Roger Rosenblatt, seorang kolumnis majalah TIME sebagai negara dimana detachment (ketidak pedulian) dan personal whimsy (keinginan-keinginan pribadi) menjadi syarat hidup yang keren. Ironi kemudian ditempatkan sebagai pahlawan masyarakat semacam ini. Masyarakat merujuk pada komedian (comics, ironists, satirists) bukan pada kenyataan. Tak ada lagi topik yang serius, semua bisa saja ditanggapi sinis atau dijadikan bahan bercanda. Bahkan kematian pun tak lagi dianggap nyata dan serius, lanjut Rosenblatt sambil mengutip kalimat terkenal dari film box office The Sixth Sense, “I see dead people.”

Pada tanggal 24 September 2001, beberapa hari setelah serangan 11 September, Rosenblatt mengajukan thesisnya yang kemudian banyak dibantah, tentang “the end of the age of irony.”  “You are looking for something to be taken seriously? Begin with evil,” demikian Rosenblatt memulai argumennya.  Trauma mendalam masyarakat Amerika menurut Rosenblatt akan mengakhiri segala macam produk olok-olok yang menbanjiri media.

Kenyataannya tentu tidak demikian, ketika trauma dimanfaatkan pemerintah (baca: kelompok neo-konservatif) untuk menancapkan hegemoni benar-salah (prophetic dualism) dalam rangka membenarkan segala tindakan (diantaranya UU Patriot Act di dalam negeri dan invasi ke Irak dan menuding segala bentuk kritik sebagai sikap tak patriotis/anti nasionalisme maka ironi menemukan kembali relevansinya. Komedi tak lagi menjadi hiburan semata tetapi menjadi alat untuk “speak truth to power.”

Pada konteks ini menjadi amat penting untuk membahas komedi oleh kelompok minoritas. Ketika komedi secara keseluruhan memang telah menemukan kembali posisinya sebagai counter discourse politik pasca 9/11 bagaimana dengan komedi kelompok minoritas?

Penelitian ini membahasnya dengan berfokus pada komedi yang dipentaskan oleh kelompok Arab American dan Muslim American yang secara politis merupakan “minoritas baru” di Amerika. Dalam konteks kampanye “us versus them”, Arab American dan Muslim American “secara otomatis” menjadi the other karena etnisitas dan agama mereka. Mereka tak perlu melakukan kritik terhadap pemerintah seperti yang dilakukan Michael Moore atau Howard Zinn misalnya.

Berbeda pula dengan Jewish American di masa Perang Dunia I dan African American di masa Revolusi tahun 60’an, Arab American dan Muslim American tidak dianggap warga negara kelas dua, mereka adalah representasi “asing” dan “musuh” Amerika. Sebagai yang diposisikan “asing” apalagi “musuh” mereka tak bisa mengelak menjadi korban pertama segala bentuk bigotry dan racism melalui kebijakan-kebijakan pemerintahan Bush pasca 9/11.

Pada masa sulit ini, Axis of Evil Comedy Tour muncul di garis depan perlawanan terhadap bigotry dan racism. Dengan materi-materi seputar “pelurusan” pandangan umum tentang Arab dan Muslim yang kebanyakan dibangun oleh citra media dan pemberitaan seputar perang Irak dan Afganistan, mereka mengajak warga Amerika berpikir ulang tentang Arab dan Muslim serta tentang siapa sebenarnya warga Amerika itu.

Apakah mereka berhasil bukanlah pertanyaan utama karena komedi tak menjamin dapat mengubah kebijakan atau bahkan meruntuhkan arogansi kekuasaan, kekuatan komedi terletak pada kemampuannya membuka ruang dialog, meluaskan wacana, memberikan alternative pandangan di tengah sempitnya perspektif moral dan politik Amerika pada masa pasca 9/11.

Bersandar pada pemikiran ini, penelitian saya yang berjudul Axis of Evil Comedy Tour: Performing Marginality in Post 9/11 America mengajukan 3 pertanyaan tentang apa materi/strategi Axis of Evil Comedy Tour? Mengapa materi-materi tersebut yang mendominasi dan apa fungsinya untuk membedah komedi dalam konteks Post 9/11 utamanya komedi yang ditampilkan oleh kelompok minoritas.*

Obrolan Senja Skripsi tentang Novel "Adam Hawa"

Skripsi ini pertama kali didiskusikan dalam forum Obrolan Senja untuk kemudian diujikan di depan Dewan Penguji Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Yogyakarta. Diskusi dilaksanakan pada hari Rabu, 13 Juni 2012, pukul 15.30 – 18.00 di Angkringan Buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No.3 Alun-alun Selatan, Keraton, Yogyakarta.

Hasti DewiMarginalisasi Perempuan dalam Novel Adam Hawa Karya Muhidin M. Dahlan

Skripsi Hasti Dewi (Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNY)

Perempuan oleh masyarakat kadang-kadang masih dianggap sebagai manusia kedua setelah laki-laki. Tatanan sosial memberi kedudukan perempuan tidak lebih penting dari laki-laki, sehinga perempuan menjadi termarginalkan bila dilihat dari berbagai macam aspek. Tidak dapat dipungkiri perempuan memang telah diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, dapat bekerja di luar rumah, bahkan dalam sistem sosial sudah berperan aktif, tetapi keyataannya perempuan masih dianggap lebih rendah dari laki-laki (Ratna, 2007:224).

Budaya patriarki yang masih berlaku dalam tatanan hidup bermasyarakat mengakibatkan posisi perempuan maupun laki-laki tidak merdeka. Masyarakat patriarki memiliki ketentuan yang ketat untuk bagaimana hidup menjadi perempuan dan menjadi laki-laki. Perempuan harus bersikap lemah lembut, cantik, emosional, keibuan, dan sifat-sifat feminin lainnya, sedangkan laki-laki itu berarti kuat, jantan, perkasa, dan rasional. Batasan tentang hal yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh perempuan dan laki-laki sangat jelas dibuat oleh masyarakat (Yuarsi, 2006:244).

Masyarakat patriarki malah menganggap perbedaan gender ini sebagai kodrat dari Tuhan yang tidak bisa dipertukarkan. Fakih (2008:12) menjelaskan bahwa hal tersebut telah melahirkan ketidakadilan gender.  Tidak hanya perempuan, laki-laki pun ikut menjadi korban atas ketidakadilan tersebut. Hal ini karena setiap jenis kelamin dituntut untuk memiliki sifat yang telah ditentukan oleh masyarakat, bukan pada dirinya sendiri.

Salah satu akibat ketidakadilan gender adalah marginalisasi, terutama terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan merupakan mahkluk lemah, lembut, halus, sensitif, dan sifat feminin lainnya membuatnya tidak memiliki kesempatan sama dengan laki-laki. Hak-haknya untuk diperlakukan sama dengan laki-laki dipinggirkan, bahkan diabaikan. Perempuan dianggap warga kelas dua (Abdullah,  2006:3).

Hal-hal semacam itulah yang menjadi perhatian para feminis di dunia. Berbagai cara dilakukan untuk memerangi ketidakadilan gender ini. Salah satu caranya melalui karya sastra. Karya sastra merupakan tiruan dari kenyataan. Salah satu fungsi karya sastra adalah mencoba menangkap hal-hal yang terjadi dalam masyarakat. Karya sastra dipakai oleh pengarang untuk menyampaikan pesan dan menggambarkan keadaan sekitar (Budiantara, dkk, 2002:19-20). Kemampuan tersebut menempatkan karya sastra sebagai sarana kritik sosial.

Novel Adam dan Hawa karya Muhidin M. Dahlan mencoba menghadirkan tokoh perempuan yang memiliki karakter yang berbeda dalam menghadapi masalahnya dengan laki-laki. Dahlan mengkisahkan tentang laki-laki yang membuat hukum bahwa perempuan di Taman Eden tidak boleh keluar dari rumah, karena tugas mencari makanan merupakan tugas laki-laki (Adam). Akibatnya kesempatan perempuan pada zaman tersebut untuk hanya dapat menikmati dunia luar saja tidak ada. Selain itu, Dahlan juga menampilkan bagaimana Adam mendidik anak laki-lakinya dengan keras, namun tidak demikian perlakuannya pada anak perempuan. Hal tersebut dilakukan karena anggapan Adam bahwa laki-laki harus lebih kuat dari perempuan. Adam juga membuat cerita bahwa perempuan terbuat dari tulang rusuk laki-laki, maka untuk timbal baliknya perempuan harus menuruti semua keinginan laki-laki termasuk untuk tidak mengenal dunia luar.

Novel Adam dan Hawa ditulis pada tahun 2005 dimaksudkan sebagai seri terakhir dari triloginya. Novel sebelumnya Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur dan Kabar Buruk dari Langit. Dahlan juga menjelaskan pada seri pertamanya, novel Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur, dia bermaksud menggugat Tuhan melalui tokoh perempuan yang sangat religius yang kemudian berubah menjadi pelacur.  Setelah itu untuk buku edisi keduanya Dahlan membuat  Kabar Buruk dari Langit yang menampilkan tokoh yang sedang mencari Tuhan. Pada seri terakhirnya, Adam dan Hawa Dahlan memberikan kritik tentang budaya patriarki yang sedang hangat dibicarakan pada tahun tersebut (2005). Saat novel ini diterbitkan, Dahlan mengaku pada tahun tersebut isu tentang perempuan banyak dimuat di beberapa jurnal terutama jurnal yang membahas tentang perempuan, Jurnal Perempuan dan beberapa surat kabar, misalnya Media Indonesia, Kompas, dan Republika. Dahlan merupakan pengarang yang peka terhadap kritik-kritik sosial dalam masyarakat. Karya-karyanya selalu menyuarakan isu yang sedang berkembang saat itu. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa tulisannya yang dimuat di surat kabar yang berjudul Cantik Itu Dilukai (Media Indonesia, minggu 16 Maret 2003), Pram, Srikandi, dan Seks (Media Indonesia, 3 Agustus 2003), dan sebagainya.

Novel Adam dan Hawa dipilih sebagai materi penelitian karena dua alasan. Pertama novel ini terindikasi menampilkan tokoh perempuan yang termarginalkan. Tokoh perempuan dalam novel Adam dan Hawa ini mengalami ketidakadilan hanya karena jenis kelamin mereka perempuan.  Alasan kedua, selain karena novel ini belum pernah diteliti, juga karena menghadirkan tokoh-tokoh perempuan yang membawa sifat dan sikap yang berbeda dalam mengahadapi ketidakadilan gender berupa marginalisasi. Penelitian ini menggunakan kajian sastra feminis ideologis sebagai pisau analisisnya. Hal ini dikarenakan feminis ideologis memfokuskan kajiannya pada citra, stereotip perempuan dalam karya sastra serta perjuangan perempuan terhadap keberadaannya.

Rumusan masalah yang akan dicari dalam penelitian adalah 1) Bagaimana wujud marginalisasi tokoh perempuan dalam novel Adam dan Hawa karya Muhidin M. Dahlan? 2) Apa penyebab marginalisasi pada tokoh perempuan dalam novel Adam dan Hawa karya Muhidin M. Dahlan? 3) Perjuangan apa yang dilakukan oleh tokoh perempuan dalam memerangi marginalisasi dalam novel Adam dan Hawa karya Muhidin M. Dahlan?

Dari rumusan masalah di atas, penelitian menemukan bahwa bentuk marginalisasi yang terdapat dalam novel Adam dan Hawa karya Muhidin M. Dahlan terdapat 5 bentuk. Bentuk marginalisasi tersebut meliputi pembatasan daya produktif perempuan, kontrol atas reproduksi perempuan, kontrol atas seksualitas perempuan, membatasi gerak-gerik perempuan dan sumber daya ekonomi yang dikuasai oleh laki-laki. Tokoh perempuan yang dimarginalkan adalah Maia, Hawa, Marfu’ah, dan Maemunah. Maia dimarginalkan oleh Adam dalam seksualitas dan gerak-geriknya yang dibatasi. Hawa mengalami kelima bentuk marginalisasi di atas, sedangkan Marfu’ah dimarginalkan oleh ibunya sendiri (Maia) pada seksualitas dan gerak-geriknya. Maemunah mendapatkan kontrol atas gerak-gerik yang dilakukan oleh ayah (Adam) dan ibunya (Hawa).

Penyebab marginalisasi dalam novel Adam dan Hawa karya Muhidin M. Dahlan ditemukan tiga sebab, yakni budaya, tafsir agama yang tidak memakai pemahaman gender, dan usia. Budaya merupakan faktor penyebab terjadinya marginalisasi paling dominan dalam novel tersebut. Marginalisasi yang disebabkan oleh budaya meliputi hal-hal yang berhubungan dengan pembentukan sistem patriarki, adanya ideologi familialisme, serta pelabelan sifat pada perempuan. Untuk tafsir agama sendiri lebih pada penggunaan nama Tuhan sebagai alat untuk berkuasa. Hal tersebut dipakai oleh tokoh Adam untuk menguasai seluruh manusia yang hidup di alam semesta. Sedangkan usia dikarenakan faktor pengalaman yang lebih banyak.

Perjuangan yang dilakukan tokoh perempuan dalam novel Adam dan Hawa karya Muhidin M. Dahlan ditemukan 3 langkah strategis. Hal tersebut meliputi protes yang dilakukan tokoh perempuan Maia dan Maemunah. Kedua tokoh ini melakukan aksi protes dengan dua cara yakni, tindakan dan omongan. Perjuangan selanjutnyadilakukan dengan cara memilih untuk hidup sendiri. Hal ini dilakukan oleh Maia, dia memilih hidup sendiri di dunia luar karena tidak sepakat dengan keputusan yang diambil Adam untuk menentukan jalan hidupnya. Yang terakhir adalah mencari pasangan lain. mencarai pasangan hidup lain ini dilakukan untuk mendapatkan laki-laki yang memiliki rasa saling menghormati dan menghargai dalam hubungannya.

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.    Identifikasi Masalah
C.    Batasan Masalah
D.    Rumusan Masalah
E.    Tujuan Penelitian
F.    Manfaat Penelitian
G.    Batasan Istilah

BAB II KAJIAN TEORI
A.    Marginalisasi Perempuan
1. Bentuk Marginalisasi Perempuan
2. Penyebab Marginalisasi Perempuan
3. Perjuangan Perempuan dalam Menghadapi Marginalisasi
B.    Gerakan Feminis dan Kritik Sastra Feminis
1.    Gerakan Feminis
2.    Kritik Sastra Feminis
3.    Macam-Macam Kritik Sastra Feminis
4.    Mitos Penciptaan Perempuan
C.    Tokoh dan Perwatakan dalam Fiksi
D.    Penelitian yang Relevan

BAB III METODE PENELITIAN
A.    Pendekatan Penelitian
B.    Wujud Data
C.    Sumber Data
D.    Pengumpulan Data
E.    Instrumen Penelitian
F.    Analisis Data
G.    Keabsahan Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Penelitian
1.    Bentuk Marginalisasi yang Dialami oleh Tokoh Perempuan dalam Novel Adam dan Hawa Karya Muhidin M. Dahlan
2.    Penyebab Marginalisasi pada Tokoh Perempuan dalam Novel Adam dan Hawa Karya Muhidin M. Dahlan
3.    Perjuangan Tokoh Perempuan dalam Novel Adam dan Hawa Karya Muhidin M. Dahlan dalam Memerangi Marginalisasi
B.    Pembahasan
1.    Bentuk Marginalisasi Tokoh Perempuan dalam Novel Adam dan Hawa Karya Muhidin M. Dahlan
2.    Penyebab Marginalisasi Tokoh Perempuan dalam Novel Adam dan Hawa Karya Muhidin M. Dahlan
3.    Perjuangan Tokoh Perempuan Melawan Marginalisasi dalam Novel Adam dan Hawa Karya Muhidin M. Dahlan

BAB V PENUTUP
A.    Simpulan
B.    Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Launching Buku Puisi Ira Wangsa

Launching Buku Puisi Ira Wangsa
Launching Antologi Puisi
Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu
karya Komang Ira Puspitaningsih
Kamis, 31 Mei 2012 | pukul 17.30 WIB | di I:Boekoe, Jl. Patehan Wetan 3, Kec. Kraton, Alun-alun Kidul Yogyakarta.
MC: Cilik Tri Pamungkas
Acara:
– Bincang Buku
– Baca Puisi: Retno Darsi Iswandari, Fairuzul Mumtaz, Mutia Sukma, Ayu Diah Cempaka, Anindya Puspita, dll
– Musik Puisi: Adi Rahmadi, Eka Jgj
– Musik Etnik: Sigit Sky Sufa dkk
– Puisi Visual
– Doorprize

2012 05 31_Buku_Puisi Ira WangsaLaunching Antologi Puisi “Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu” karya Komang Ira Puspitaningsih

Kamis, 31 Mei 2012 | pukul 17.30 WIB | di I:Boekoe, Jl. Patehan Wetan 3, Kec. Kraton, Alun-alun Kidul Yogyakarta.

MC: Cilik Tri Pamungkas

Acara:

  • Bincang Buku
  • Baca Puisi: Retno Darsi Iswandari, Fairuzul Mumtaz, Mutia Sukma, Ayu Diah Cempaka, Anindya Puspita, dll
  • Musik Puisi: Adi Rahmadi, Eka Jgj
  • Musik Etnik: Sigit Sky Sufa dkk
  • Puisi Visual
  • Doorprize

Penutup: makan malam

Inilah Jadwal Lengkap "Jalan-Jalan Sastra" Apsas 2012

Apresiasi Sastra adalah salah satu komunitas sastra di dunia daring. Mula-mula di mailing list dan kemudian di Facebook. “Kopi darat” kelima penggerak Apresiasi Sastra menggelar serangkaian acara sastra di pelbagai kota, antara lain Kendal, Kediri, Bandung, Banten, dan Yogyakarta.

Inilah jadwal selengkapnya:

26 April-2 Mei 2012
Pondok Maos Guyub, Boja, Kendal, Jawa Tengah

Parade Obrolan Sastra V menampilkan Remy Sylado, Iman Budi Santosa, dan sastrawan lainnya. Pemangku hajat Heri Chandrasantosa. Alamatnya: Jl. Raya Bebengan 221, Boja, Kendal, Jawa Tengah.

5-6 Mei 2012
Gelaran Buku, Jambu, Kayen Kidul, Kediri

Rangkaian acara di Gelaran Buku Jambu ini adalah: (1) Launching dan bedah buku “Kumpulan Cerpen Bunga Jambu” (Pembedah: Heri CS, Cak Juwaini, dan A Iwan Kapit); (2) Diskusi Reading Group (RG) dari dua RG: Pondok Maos Guyub (The Old Man and the Sea) dan Taman Baca Multatuli (Max Havelaar); (3) Diskusi Proses Kreatif Pramoedya Ananta Toer bersama Astuti Ananta Toer. Acara ini juga sebagai kehormatan bagi gelaran Buku Jambu karena menggelar Reading Group “Jalan Raya Pos” karya Pramoedya Ananta Toer. (4) Sastra Odong-Odong yang dipandu A Iwan Kapit dan Sigit Susanto. Acara Pendukung: Parade Drum Band Sekolah, Rebana, Pemutaran Film, Yoga Pinggir Kali.

Alamatnya: Jl. Masjid 423, Desa Jambu, Kec. Kayen Kidul, Kediri, Jawa Timur.

9 Mei 2012
Toko Buku dan Penerbit Ultimus, Bandung

Di komunitas ini diselenggarakan Peluncuran Buku “Menyusuri Lorong-Lorong Dunia Jilid 3” karya Sigit Susanto.  Alamat: Jl. Rangkasbitung No. 2A, Bandung.

11-12 Mei 2012
Taman Baca Multatuli, Lebak Banten

Menggelar Sastra Multatuli, 152 Tahun “Max Havelaar”. Dalam acara disajikan drama Saijah Adinda, Menulis Catatan Perjalanan, Jalan-jalan ke Baduy Dalam, yang rundown acara lengkapnya bisa dibaca di SINI

Alamat: Kampung Ciseel, Sobang, Lebak, Banten.

Apsas Iboekoe15 Mei 2012
Gelaran Ibuku/IBOEKOE
, Keraton Yogyakarta

Menggelar “Obrolan 10 Karya APSAS dalam Semalam #5”. Acara yang dimulai pkl 18.00 ini akan membedah 10 buku sastra, yakni:

Terjemahan: (Buku 1) Biografi dan Karya Pilihan – Edgar Allan Poe (Penerjemah: Tia Setiadi, Pembahas: Dea Anugerah); (Buku 2) Raise the Red Lantern – Su Tong (Penerjemah: Tahmani Astuti, Pembicara: Alexander Sun Lie)

Cerpen: (Buku 3) Surat dari Praha – Yusri Fajar (Pembicara: Katrin Bandel); (Buku 4) Jam Malam Kota Merah – Toni Lesmana (Pembicara: Tia Setiadi); (Buku 5) La Rangku – Niduparas Erlang (pembicara: Saeful Anwar)

Esai: (Buku 6) Politik dan Sastra – Andy Fuller (Pembicara: Ragil Nugroho); (Buku 7) Lorong-Lorong Dunia Jilid 3 – Sigit Susanto (Pembicara: Yusri Fajar)

Novel: (Buku 8 ) Secangkir Kopi untuk Relawan – Mohammad Al Azhir (Pembicara: Aguk Irawan MN); (Buku 9) Gadis Kretek – Ratih Kumala (Pembicara: Abmi Handayani

Puisi: (Buku 10) Mimpi Kereta di Pucuk Cemara – Setiyo Bardono (Pembicara: Saut Situmorang)

Obrolan Sastra ini dipandu Endah SR, Fairuzul Mumtaz, Ratih Fernandez, dan Andika Ananda. Tersedia bertumpuk buku untuk booklovers yang datang dan aktif berdiskusi.

Alamat: Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No.3, Pojok Alun-alun Kidul, Keraton, Yogyakarta.

Ulang Tahun IBOEKOE #6

iboekoe“Gerakan Literasi Berbasis Warga” di Hari Ibu Penulis 21 April (Ibu Kartini), Hari Bumi 22 April, dan Hari Buku Internasional 23 April. Sekaligus momen tanggal kelahiran Gelaran Ibuku/IBOEKOE 23 April, Angkringan Buku 22 April dan Radiobuku Live Streaming 21 April. Untuk itu, dengan …takdzim kami mengundang Anda dalam
“Launching Warung Arsip Warga Patehan”

Selasa, 23 April 2012
Jam 19.30 – selesai
di Indonesia Buku (I:Boekoe)/TBM Gelaran Ibuku
Jl. Patehan Wetan No 3 Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta

Susunan Acara

19.30 – 20-30
1. Sambutan Yayasan Indonesia Buku (Bapak Slamet Suwanto)
2. Sambutan PIK-R Patehan (Syaifudin Dharma Putra)
3. Sambutan Lurah Patehan (Drs. Risdodo Santoso)
4. Launching Website Warung Arsip Warga (Tri Astuti)
5. Pemutaran Film Dokumenter: “Djawa adalah Koentji”

20.30 – 22.30
6. Wayang Plastik
Lakoni: Antasena Takon Bapa
Dalang: Ki Guntur Songgolangit

Pameran Seni Rupa Anak karya 5 TBM (23-26 April 2012)

1.TBM Gelaran Ibuku
2.TBM Gelaran Taman Air
3.TBM Gelaran Dekat Sekolah
4.TBM ACI (Anak Cilik Indonesia)
5.TBM RW.05 Patehan.

Turut Mengundang
-Lurah Patehan
-PKK Patehan
-RW 01-05 Patehan
-RT 01-20 Patehan
-IBOEKOE

Inilah Buku-buku Yang Bikin Kamu Menangis

Pernahkah kamu membaca sebuah buku di pojok. Hening. Larut. Dan kamu pun menangis. Inilah buku-buku yang mampu menghunjam ke jiwa pembacanya. Buku-buku yang mengisahkan berlarat-larat kehidupan manusia di sisi-sisinya yang paling dalam.

Booklovers, membaca adalah tindakan yang sunyi. Tatkala kesunyian itu menyergap pedalaman hati, saat itulah pengelanaan spiritual di balik lembar-lembar buku dimulai dan berakhir dengan ingatan yang tak mudah lapuk.

Daftar di bawah ini adalah cerita dari pribadi-pribadi yang mengingat bacaan yang membuatnya terharu dan bahkan menangis. Mereka ingin membagi buku-buku apa saja yang membuai hati dan mengantar badai kesedihan di pelupuk mata. Mereka membagi tangisan dalam buku.

* * *

@AA_Muizz Buku yang bikin mewek itu “Rumah Tanpa Jendela”-nya bunda @asmanadia.

@ambudaff Buku yg bikin nangis itu “Anak-Anak Totto-Chan” by Tetsuko Kuroyanagi

@Andhi22r “Believe” by Morra. Critanya sm sekali ga sedih, tp buku itu bener2 mnghanyutkan, pnuh makna mrjuangin sbuah hubungan:’)

@awankington “Tuesdays With Morrie” by Mitch Albom. Sebuah kuliah singkat tentang kehidupan yg bikin air mata keluar. Anak @sasindo2010 hrs baca

@britaputri ‘Little Prince’ by Antoine de Saint-Exupéry. Bikin mewek,dan mengutuki sikap org dwasa. Pingin punya planet sendiri

@Dika_Prasetyo “Burung-burung Manyar” by Romo Mangunwijaya.  Ceritanya sungguh asyik.

@dudinov “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta” by Muhidin MD. Bag 2 Pengakuan ke-4, Bag 3 Pengakuan ke-7 & ke-9, baca tgl 24/12/2003

@dudinov Buku “orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan” by Soe Hok Gie. Terutama kisah dr. Wiroreno, residen Pati yang dieksekusi

@dudinov buku bikin mewek kamus Besar Bahasa Indonesia”, karena belum pernah satu kali pun khatam

@fanabis “The Boy in the Striped Pajamas” by John Boyne. Buku yg bikin mewek

@farida_10 Buku yg bikin mewek: “Hafalan Shalat Delisa” by Tere-Liye. Nangis inget dosa diri sendiri. Udah kebanyakan.

kite@FebyIndirani “Kite runner” by Khaled Hosseini bikin nangis! ya kan @louisetamindael

@FristiaFirst Buku yg bikin nangis itu, “Mahabharata”, waktu Abimanyu dibunuh.

@hennygalla “Kembang Jepun” by Remy Sylado. Udah lama banget bacanya. Aq lupa bagian mana. Tapi yg aq inget dulu aq nangis sampe sesenggukan di ranjang. Hahaha

@henrisaputro “Si Jamin dan si Johan” by Merari Siregar. Baca pas smp. Jadi inget adik gw.

@heyhega “Revolusi Iran” by Marjane Sartrapi. Bikin mewek, t’utama waktu pamannya tewas dihukum mati :'(

@heyhega Buku “Fioretti” bikin mewek. Lupa siapa yg nulis, itu buku pinjem dari @sienferz bertaun-taun lalu.

@heyhega Buku yg bikin mewek? Ya “Pangeran yg Selalu Bahagia”-nya OscarWilde :’)

@heyhega Yang jelas, semua buku “Lonely Planet” itu bikin mewek karena entah kapan bisa beneran menggunakannya utk keliling dunia

@husaensadam “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” by Hamka. Saya selesai baca buku itu 5 hari, ndak kuat nangis terus sampe diketawain sama @NodyArizona

@husaensadam “Mereka Bilang Saya Monyet” by @djenarmaesaayu. Ada beberapa cerita yg membuat mata saya meleleh…

@HutanKapas Buku yang bikin nangis, “Kami Anak-anak Bom Atom” by Osada Arata. Nangis skaligus marah pada perang dunia.

@irawangsa Ada 3 ChickenSoup yg berhasil bikin saya mewek2. “For Woman Soul”, “For Mother Soul”, dan “For Cat&DogLover Soul”.

@irawangsa Semua novel pop-nya Danielle Steel bikin aku nangis. Catat. Semuanya!!! Saya serius.. sepanjang kelas 2-3 SMP.. malam-malam saya habiskan dengan Danielle Steel.. Tau bagaimana aku berjodoh dng Steel? Krn salah satu puisi Putu Vivi Lestari berjudul “Zoya” = judul novel Steel.

@irenzzz “Kite Runner” by Khaled Hosseini. Buku lama ttg sahabat dan pengkhianatan, seandainya bs pengen mention temen yg udh sama Tuhan.

child@itsmeelok Buku yang bikin nangis “A Child Called it” karya Dave Pelzer. Pinjem dari @vinasays beberapa tahun lalu. Dri awal ampe akhir sedih hiks 😀

@khatimah Novel “Fate” by Orizuka. Bikin aq nangis.Kisah persaudaraannya mantap! Gak kebayang kalau aq jd Minhwan

@kucingperca Buku yg bikin nangis: “Soe Hok Gie, Sekali Lagi..” bagian surat cinta dari Kar :’)

@lenyhelena “Love You Forever” by Robert Munsch. Berkali-kali baca mewek, buku yg dibaca Joey untuk Rachel sbg hadiah ultah anak#FRIENDS

@Lutfiretno Saya nggak suka buku cengeng, tapi nangis juga waktu baca “Love Story”-nya Erich Seagal minjem dari @kawaiinunaa

@mapoenk “Novel Ayat2 Cinta” by Habiburrahman El Shirazy. Sempet bikin mata berkaca2 meski ga mewek:) Tau Buku itu referensi temenq

@mbaktiw Buku yg bikin nangis “cinta tak pernah tepat waktu” by Puthut EA. Iya ga, @elisabethmur.

@nadanakaneh “Bukan Pasarmalam” by Pramoedya. Sedihnya tuh dengan indah. Gak murahan

@nailafzv “The Road” karangan Cormack McCarthy

@NurulPurnama07 Buku yg bikin mewek “Mirror Image” by Danielle Steele. Perempuan kembar yg jatuh cinta pada psgan kembarannya, setting PD 2.

@pima96 Buku yang bikin nangis “Sheila” – Torey Heiden

@pradewitch Buku yang bikin nangis banyak sih. Tapi gue pilih “Bumi Manusia”-nya Pramoedya Ananta Toer, deh. Bagian cerita Nyai kecil dijual orangtuanya, cerita Jean Marais, banyak, lah. Cengeng, sih 😛

@ryowibowo “All Things Must Fight to Live” by Bryan Mealer. Sdih bcnya ktk bayi & anak2 kcl dbantai tnp ampun d Kongo.

@semut_nungging “Kumpulan Mantra Pengasihan Madura”. Gak hafal2, sementara gebetan terlanjur ditembak orang lain

@semut_nungging “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” by Pramoedya Ananta Toer. Tiap baca slalu nangis. Gak tahan bayangin kepedihannya. Sekaligus geram sama orba

@Tauladan Trilogi Dave Pelzer “The Lost Boy”, “A Boy Called ‘it’ “, “A Man Named Dave”. Bukan mewek sih tapi lebih ke trenyuh :d

bumi@wah_am “Tetralogi Pulau Buru” karya Pramoedya, ktika annelis diboyong ke Dutch, “kita tlah mlawan sinyo,shormat2ny” ungkap Nyai Ontosoroh pd Minke. Menyayat sekali bung.Betapa na sinyo dan nyai ontosoroh brjuang sekuat tenaga prtahankan Annelis agar ga diboyong

@yellohelle “Aku Ingin Menjadi Peluru” by Widji Thukul Terutama puisi ‘Ayolah Warsini’, ‘Ibu’, ‘Kepada Ibuku’, (tanpa judul), ‘Teka teki yang Ganjil’ :/

@yuliayulijo Buku “Sang Pemimpi” by Andrea Hirata. Hlm terakhir pas Arai terima beasiswa sorbonne sambil peluk foto ke-2 org tua T_T

Kuis #Kadobuku merupakan bagian dari perhelatan Ulang Tahun Indonesia Buku (IBOEKOE) ke-6 (2006-2012) yang jatuh pada 21, 22, 23 April 2012. Momen puncak acara ini adalah peluncuran situs baru yang menaungi dunia kearsipan alternatif.

Buku-Buku yang Paling Menjengkelkan

Yang Beruntung Dapat “6buku6orang” Pekan Pertama April “Buku Menjengkelkan”:
(1) Wahyudi Akmaliah @Wah_AM (2) Agus Priyo W @NazilKH (3) Azia Azmi @zhya_azmee (4) Indri ‘Juwono’ @miss_almayra (5) Gh Arief Wijaya @gh_arya (6) Desta Wasesa @HutanKapas

#KadoBuku 6 Orang 6 Buku. Foto model: Faiz Ahsoul

#KadoBuku 6 Orang 6 Buku. Foto model: Faiz Ahsoul

Buku adalah jendela dunia. Pepatah petitih itu nyaris klasik ketika buku masih menduduki tempat terhormat sebagai medium persebaran pengetahuan manusia. Tapi tak semua jendela itu bagus, tak semua buku itu baik. Ada yang terpuji, ada yang terkutuk. Ada yang tak terlupakan karena memberi haru dan keajaiban dalam hidup; ada pula yang tak terlupakan karena menjengkelkan dan bahkan isinya brengsek.

Sundal Ngarep Omahmu yang berakun @pitoist di twitter misalnya. Ia cinta buku, ia sayang buku. Pengakuannya begitu. Kecuali “buku2 motivasi, tentang MLM & buku agama yg ngerasa paling bener sendiri,” akunya dalam tagar pengakuan #kadobuku yang diselenggarakan @radiobuku untuk ulang tahun Indonesia Buku (IBOEKOE) ke 6, 2006-2012.

#Kadobuku pekan pertama April (3-7) ini mengangkat tema “Buku Yang Bikin Kamu Jengkel”. Diikuti 30-an pemilik akun twitter, bahkan ada yang beberapa kali melontarkan buah khuldi kejengkelan.

Tak semua secara spesifik menyebut judul. Ada yang jengkel–dan mungkin trauma–hanya dengan tema buku-buku itu. Ada yang bahkan mengutuk “Buku Nikah” yang begitu tipis, tapi sangat mahal untuk mendapatkannya (pengalaman @zenrs). Beberapa menyebut “Buku Tabungan” yang tak bersahahabat dan hanya menabung kesengsaraan.

Ada yang lupa judul, ingat nama penulis, tapi tetap merasa dizalimi buku itu karena terjemahan kacau (@pradewitch)

Yang lain-lain bersikap normal. Menyebut judul–bahkan penulis– dengan alasan-alasan yang selama ini tersembunyi.

Tapi tak semua menjengkelkan karena isi buku. Ada yang jengkel karena berkali-kali buku itu dipakai untuk menggaet hati perempuan, tapi selalu ditolak (pengalaman @Wah_AM). Sebut saja buku ingkar janji.
Beberapa booklovers menyukai (isi) buku itu, tapi ciut melihat tebal bukunya, seperti pengalaman @hahnsaja dan

Dan masih banyak lagi alasan-alasan mengapa buku-buku itu menjengkelkan, seperti trauma dengan buku-buku saat sekolah, seperti yang dialami @miss_almayra dan @irwanbajang.

Inilah buku-buku yang paling menjengkelkan versi booklovers:

DestaWasesa @HutanKapas
@radiobuku The Swordles Samurai. Karena mendompleng sejarah untuk penyebaran motivasi. JD lebih terkesan buku motivasi #KadoBuku

Andreas Hery Saputro @bebekandre
buat saya gak ada buku yg ngebosenin. Klo kurang cocok dg isinya, saya kasihkan org lain/ disumbangkan. Mungkin lebih berguna… dan buku yg paling banyak saya sumbangkan adl ttg motivasi diri. @radiobuku #KadoBuku

indri ‘juwono’ @miss_almayra
(1) buku menyebalkan: buku penataran P4, GBHN, Tap MPR no II/1978. SMP, SMA, Kuliah nggak ngerti gunanya apa. (2) (2) “Twilight series”. Ketipu baca vampir e, ternyata romance. Cuma baca karena ditantangin. #KadoBuku

Irwan Bajang @Irwanbajang
Buku yg bikin sy sebel: buku pelajaran matematika sy gak pernah paham untuk apa bljr sin, cos, tan &aljabar! #kadobuku

Sahad Bayu @sahadbayu
@radiobuku Oke! Buku yg paling menjijikkan adalah buku yang ditulis sama ghostwriter! #kadobuku *siap-siap ditikam ghostwriter sedunia*

Sundal Ngarep Omahmu @pitoist
@radiobuku gw ga pernah jijik ama buku, kecuali buku2 motivasi, tentang MLM & buku agama yg ngerasa paling bener sendiri #kadobuku

kaka qiqieyou @qiqieyou
@radiobuku “Kamus Bahasa Perancis” apalagi deng! Jengkelin, gk mampu dbc smlman. bikin pusing +ngantuk ciinnn.!! S(????)?

Sundal Ngarep Omahmu @pitoist
(1) gw ga pernah jijik ama buku, kecuali buku2 motivasi, tentang MLM & buku agama yg ngerasa paling bener sendiri. (2) buku terjemahan yg penyampaiannya jelek sekali rasanya gw pen ketemu penerjemah & editornya & ngulang nerjemahin bareng. (3) buku apapun yg ditulis & diterbitkan demi ego tanpa pertimbangan kaidah penulisan yg baik dgn bahasa berantakan & typo #kadobuku

Tomy son of Saleh @T0MSAL
@radiobuku buku novel terjemahan dgn setting andalusia wkt zmn Islam. “Pembawa Kabar dari Andalusia”, Ali Al Ghareem. Syaamil. sebal dgn data tahun/abad yg tdk akurat/kontradiktif. jd gak asik.

Edy Firmansyah @semut_nungging
“Genealogi Moral”-nya Nietzsche. aku tak pernah paham apa isinya sampek skrg. Mungkin aku yg o’on ato emang ribet isinya? @radiobuku #kadobuku

Dika Prasetyo W @Dika_Prasetyo
@radiobuku “Putri Cina”-Sindhunata. Alurnya gak jelas, tapi sangat bagus penggambaran tokohnya 😀

@mapoenk
“SelaputDaraLastri”, cumak 2 cerpen dri 15 yg aku suka #KadoBuku

fahri salam @fahrisalam
@radiobuku “Cala Ibi” mbak Nukila Amal, selalu gagal selesai mbaca. *bukan pembaca prosa interior*

Famega Syavira Putri @cyapila
“Mereka yang Dilumpuhkan” Bikin bosen tapi pengen baca, tapi tetep bosen sampai akhir.

pradewi tri chatami @pradewitch
(1) tau ga judul buku terjemahan Heidegger yg tipis gitu. Buku itu nyebelin: udah mah konsepnya susah, terjemahannya jelek. (2) “Buku Catatan Hutang”. Harusnya gue gak punya buku macam begitu #KadoBuku

agungdeha @agungdeha
buku yg plng nyebelin adlh buku yg udh dipesn tapi blm byr. Buku pesnan yang byrny murah bngt. buku byrn yg upahnya dimakan tmn.

Gh Arief Wijaya @gh_arya
“The Great Gatsby” Murakami yg jelek. jika tidak ada nama Fritzgerald & karena “rekomendasi” Murakami, ngga akan saya baca 3x. Isine biasa ae. #kadobuku

felicia @felicia_hana
@radiobuku buku “5 cm”. Bner2 bukan novel, isinya cuma gabungan lirik2 lagu sm kutipan puisi n film. Ngebosenin #radiobuku.

ratna ariani @mb_ratna
Buku tabungan, ga nambah2

Zen RS @zenrs
“Buku Nikah”. Segitu aja tapi praproduksi dan produksinya mahal sekali.

ary cahya @lalathijau
buku paling menyebalkan: “autumn of patriarch”, ga ada paragrafnya, masa kudu dibaca sedudukan? #KadoBuku (ditambahkan @fahrisalam: Gabo lagi renang kali ya pas nulis “musim gugur patriark”. Rumput kata, anak-anak kalimat, sungai mahabesar paragraf)

d*uz @d_uz
@radiobuku “TheJudge/SangHakim”, utk sekelas filsuf&laureat Nobel,novel EllieWiesel ini ga beda dgn novel2 detektif popular. #KadoBuku

azia azmi @zhya_azmee
@radiobuku “my name is red” – orhan pamuk, engga ngerti2 ceritanya.Udh baca ulang 3x, slalu brhenti di tgh2.Trus bukunya aku swap 😀 #KadoBuku

Yayas @AnindraS
@radiobuku “Foucault’s Pendulum”-nya Umberto Eco. Merasa autis saat membacanya, krn hrs mojok spy bs konsentrasi&butuh;waktu berhari-hari pula,ha2 #KadoBuku

Catastrova Prima @pima96
“Chicken Soup For The Soul”, wacana yg terlalu memanjakan hati #KadoBuku

Agus Priyo W @NazilKH
Menyebalkan? Emm, buku “HARUS BISA!” Alasannya? Emm, ada pada cover Om. Emm entahlah.. :)) #KadoBuku

Dimas Eka M.N @dmsNugraha
@radiobuku buku “Madilog”nya Tan Malaka pusing bacanya agak sulit dimengerti #KadoBuku

Wahyudi Akmaliah @Wah_AM
(1) “Perempuan Al-Qur’an”, Quraish Sihab. Sering jd kado buat dekatin ukhti, tp 3 kali kasih pd ukhti berbeda ditolak. (2) cara jadi penulis. Dah punya 6 buku spt ini, trmasuk “Aku,Buku,sepotong SajakCinta”.Tetap g bisa nulis n jd penulis. (3) Buku-buku karya Muhidin M.Dahlan yg terkini. Selain tebal,jg bisa buat ngelempar maling.Habiskan waktu buat bacanya he2. (4) Buku karyaku sendiri, “Islah di Tanjung Priok”.Aku yg nulis,aku yg baca, eh aku yang beli juga buat dikasih teman. #KadoBuku @radiobuku

hahn @hahnsaja
@radiobuku buku “Tetralogi Buru”. alasannya, ga bosen bacanya, tapi bukunya tebel beud 😀 #KadoBuku

Nonton Bersama Film ‘Status’ | Bambang C Irawan

statusDiputar ulang di Indonesia Buku pada hari Sabtu, 7 April 2012, pukul 19.00 – selesai. Selepas nonton bersama, akan diadakan diskusi seputar film tersebut. Sebelumnya, pukul 16.00 – 18.00 akan diadakan diskusi draft kumpulan cerita pendek Kumis Penyaring Kopi karya Pinto Anugrah.

Tidak mudah membuat film pendek yang mampu menampung visi secara komprehensif. Tapi film berdurasi 15 menit berjudul ‘Status’ ini mampu melakukannya dengan baik. Tidak mengherankan jika film ini memperoleh tiga penghargaan, salah satunya adalah AIMFest.

Film garapan sutradara muda Bambang C Irawan ini menarik perhatian saya –terutama—karena tokoh utamanya, Sugeng, diperankan oleh teman Mathole’ kita, Burhan Fanani. Dia adalah santri PMH Putra, bersekolah di Mathole’ selama 3 tahun dan belum pernah merasakan nikmatnya naik kelas, hihihi… (Pisss bro kalau you baca ini).

Karakter Sugeng dalam film ini menjadi simbol ‘korban ketidakadilan’ sistem pendidikan negeri ini yang kapitalistis. Sebagai guru honorer Sugeng tidak memperoleh penghargaan (baca: gaji) yang layak dari negara. Beberapa kali Sugeng berjuang agar statusnya bisa ditingkatkan menjadi PNS. Tapi prosedur yang rumit bin mbulet selalu menjadi penghalang. Alhasil, Sugeng tetap menjadi orang melarat dan akhirnya, karena keadaan terpaksa, ia ‘nilep’ –atau dalam bahasa tokoh Sugeng; meminjam– uang sekolah untuk membiayai kelahiran puterinya.

“Dan aku, Gita Pertiwi, aku lahir dari hasil korupsi,” begitu pernyataan liris sang narator film dalam ending cerita.

Secara umum film ini memang gud marsogud alias jos marijos, mampu menyerap problem ekonomi guru honorer dalam 15 menit bercerita. Teknik penggarapannya pun cukup cermat. Perpindahan satu scene kepada scane berikutnya dilakukan dengan sangat efektif (sesuai kebutuhan film pendek). Dibuka dengan adegan pengenalan karakter Sugeng sebagai guru yang pekerja keras. Yakni dengan menampilkan suasana subuh, kamera menyorot Sugeng yang tertidur dalam posisi duduk dengan meletakkan kedua tangan dan kepala di meja (persis dulu ketika Burhan Fanani tidur di bangku Mathole’, hihihi…), dan di sebelah kepala Sugeng tergeletak sebuah buku. Adegan yang berlangsung sekitar 5 detik ini sudah cukup memberikan kesan bahwa Sugeng tertidur di meja, bukan sengaja tidur. Dan kesan tertidur dengan sendirinya meningkatkan kesan kalau Sugeng pekerja keras.

Pada scane-scane berikutnya malah ada satu adegan yang mengesankan, yakni ketika tokoh Sugeng mau meminjam uang sekolah untuk biaya kelahiran puterinya. Adegan yang menggambarkan problem ekonomi Sugeng itu cukup digambarkan melalui gerak tangan dengan teknik sudut pandang (point of view) dan dalam posisi kamera zoom in. Cukup beberapa detik. Tapi kesan yang menghampiri imajinasi pemirsa sangat komprehensif.

Awalnya saya memang sempat kecewa dengan adanya narator bersuara perempuan yang kerap kali menyeling adegan. Keberadaan narator itu telah mengganggu kenikmatan saya. Tapi ketika sampai ending cerita, kesimpulan saya berbalik arah ketika secara tak terduga tampil sebuah adegan yang menunjukkan si narator ternyata salah satu tokoh dalam film itu sendiri, yakni Gita Pertiwi (diperankan Nita Diah Sulistiowati), anak perempuan Sugeng.

Di sini imajinasi pemirsa dibuat  melompat ke belakang. Pemirsa yang semenjak awal adegan menganggap film ini bercerita dengan alur maju, ketika tokoh Gita Pertiwi muncul, pemirsa akan memperoleh kejutan dengan memiliki imajinasi baru bahwa film ini menggunakan alur flash back. Di sinilah menurut saya salah satu kekuatan fim ini; mampu membuat imajinasi pemirsa melompat-lompat. Dan jujur, teknik ini memberikan pelajaran penting –justru– untuk proses kreatifitas kepenulisan saya.

Jika ada yang membuat saya bertanya-tanya selama menonton film ini, yakni kenapa dalam beberapa scene yang sebenarnya cukup signifikan tapi posisi kamera malah mengambil wajah Sugeng dalam posisi zoom out. Seperti ketika Sugeng didatangi orang yang menagih hutang. Saya tidak tahu kenapa pada saat itu kamera justru ‘tidak mau’ mengeksplorasi kesedihan Sugeng dengan menyorot zoom in wajahnya. Dugaan saya, kemera yang digunakan mungkin saja termasuk kamera genit, yang enggan menyorot zoom in wajah pas-pasan milik tokoh Sugeng ini (xixixiixi..pisss bro..).

Bagaimanapun film seperti ‘Status’, yang mengusung visi kuat, patut dijadikan inspirasi agar ke depan film Indonesia tidak dihiasi adegan paha dan buah dada. Dan catatan saya ini, tidak lebih dari sekedar catatan tentang film dari orang yang nggak ngerti film, qiqiiqiqi… Dan saya menulis catatan ini untuk tujuan bergaya saja, biar terkesan paham film, hahahaha…

Selebihnya silahkan teman-teman nonton sendiri film itu dan klik di sini

Sumber tulisan: Facebook Muhammad Agung F. Aziz

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan