-->

Arsip Literasi dari Sewon Toggle

Delapan Tahun Apresiasi Sastra di Sewon Bantul

Agenda hari kedua gelaran #RamaikanSelatan dalam rangka 9 tahun Indonesia Buku adalah malam Apresiasi Sastra: Obrolan 10 Karya Sastra Dalam Semalam. Komunitas ini dibentuk delapan tahun yang lalu oleh pecinta sastra dari milis online dan kemudian memanfaatkan grup di Facebook. Apresiasi sastra kedelapan ini akan membahas sejumlah karya, yaitu: (lebih…)

Ramaikan Selatan : Indonesia Buku Rayakan Hari Jadi

Merayakan hari jadinya yang kesembilan sejak 21 April 2006, Yayasan Indonesia Buku – lebih dikenal dengan IBOEKOE – menghelat perayaan literasi bertajuk #RamaikanSelatan.

Berlangsung dua hari, 22 & 23 April 2015, kegiatan ini terutama sekali adalah rangkaian pengenalan – pada hari pertama – dahan-dahan baru Iboekoe berupa: Katalog Offline Warung Arsip, Dinding Massa, Studio Baru Radiobuku, dan Warung Kopi Bintang Mataram 1915. Disusul Apresiasi Sastra pada hari kedua; mendiskusikan 10 karya sastra dalam semalam.

(lebih…)

Press Release #RamaikanSelatan Sembilan Tahun Indonesia Buku, Delapan Tahun Apresiasi Sastra

Tanggal: 22 – 23 April 2015

Pukul: 19.00-01.00 WIB

Tempat: Radio Buku, Jl. Sewon Indah I, Sewon, Bantul, D.I. Yogyakarta.

(lebih…)

Transisi 2014

Dalam kalender 2014, tak terlalu banyak yang dilakukan Yayasan Indonesia Buku. Karena inilah tahun transisi terbesar setelah 2006 dan 2009.

Di tahun 2006, Indonesia Buku berdiri yang dimulai dengan riset besar-besaran tentang pers dan kronik Indonesia di Jakarta, sekaligus menetapkan sikap bahwa penerbit IBOEKOE memilih jalur penerbitan indie sebagai jalan publikasi karya. Yang dimaksud dengan indie adalah: mencipta/meriset naskah sendiri, memproduksi dan mencetak sendiri lewat POD dalam selimut “Limited Edition”, dan mendistribusikan sendiri lewat jalur-jalur khusus dan setapak. (lebih…)

Chusna Rizqati: Karena Mengkliping itu tak Sama dengan Pernikahan Dini

Pekan lalu, anak sulung saya yang duduk di kelas 5 C SD Padokan 2, Kasihan, Bantul, kedatangan dua teman sekelasnya. Saya mengira Dipa Pinensula Whani dan temannya itu mengerjakan laporan perkemahan pramuka di Water Byuur, Bantul. (lebih…)

Agroliterasi: Khotim, Mangga, Cabe, Ikan

JIKA Anda berkunjung ke Gedung Bale Black Box — sebuah bangunan kotak berwarna hitam di mana Radio Buku, Warung Arsip, dan Perpus GelaranIbuku berteduh — niscaya disambut dua pohon mangga madu yang berbuah lebat di bulan November-Desember. Demikian pula di sisi kirinya, ada sebarisan kantong plastik hitam yang berjajar berisi tanaman cabe. (lebih…)

Catatan Ringkas Seusai Membaca ‘Rindu’ Tituk Romadlona Fauziyah

Kumpulan Cerpen Rindu Karya Tituk Romadlona Fauziyah diluncurkan pada Sabtu, 5 Januari 2013 dari pukul 16.00 hingga selesai di Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No 3, Alun-alun Selatan, Keraton, Yogyakarta. Acara ini gratis.

I
Jagat kesusasteraan Indonesia modern kembali disemarakkan oleh hadirnya penulis-penulis muda nan berpotensi, salah satunya ialah Tituk Romadlona Fauziyah (atau di lingkup akademik tertulis: Dra. Tituk Romadlona Fauziyah). Ia hadir dengan kumpulan cerpen bertajuk Rindu. Dalam karya perdananya itu, Tituk menampilkan 25 cerita pendek/kisah yang ditulisnya dari tahun 1982 hingga tahun 1992, suatu rentang waktu yang cukup panjang bagi seorang penulis, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang dapat menginspirasi pembacanya.

Hemat saya, Tituk bukanlah sosok perempuan pertama yang berkiprah di jagat kesusasteraan Indonesia, khususnya cerita pendek. Sebelumnya, publik telah mengenal nama Nh Dini, Helvy Tiana, Rosa, Asma Nadia, Nurul F. Huda, Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, hingga Rina Ratih. Dengan capaian-capaian estetik-literernya masing-masing, para pengarang tersebut telah tampil mewarnai jagat kesusasteraan Indonesia. Harapan serupa juga layak disematkan pada Tituk dengan karya perdananya ini. Jadi, terlepas dari capaian-capaian estetik-literernya, cerpen-cerpen Tituk tetap layak diapresiasi sebagai sebuah karya sastra yang kelak bermanfaat bagi kita.

II

Dalam karya sastra, apapun genre-nya, sesungguhnya menyimpan gagasan estetik dan budaya yang jumlahnya tidak sedikit. Gagasan tersebut sesungguhnya tidak hanya terhenti pada fungsinya yang reflektif atau ekspresif, melainkan juga berfungsi normatif, yakni sebagai suatu kekuatan yang mampu menciptakan sebuah ruang yang di dalamnya kita dapat bermain dan bergerak ke segala arah. Jadi, karya sastra memang merupakan, pinjam istilah Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, “rumah hidup” bagi kita. Mengapa demikian? (lebih…)

Obrolan Senja – Catatan Harian Seorang Santri

Draft buku Catatan Harian Santriwati Gontor ini akan didiskusikan untuk pertama kali dalam forum Obrolan Senja yang akan dilaksanakan pada hari Jum’at, 23 November 2012, Pukul 15:30-18:00 di Angkringan Buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No.3, Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta.

Judul                     : Senja di Atas Menara Cinta, Catatan Santriwati Gontor

Ditulis oleh           : Fahma, Siswi Akhir KMI 2011

Catatan harian pada dasarnya adalah catatan yang ditulis seseorang secara rutin setiap hari atas kejadian yang berlangsung di sekitarnya secara pribadi dan personal. Karena itu, catatan harian dapat berbentuk apa saja. Kumpulan puisi, artikel, dan bahkan curahan hati penulis.

Jenis terakhir itulah yang dilakukan Fahma dengan catatan hariannya. Ia menulis catatan harian selama Agustus 2010 hingga April 2011. Sebagai seorang siswi tahun terakhir KMI, ia menulis tentang apa yang ia rasakan selama periode tersebut di dalam asrama Pesantren Gontor.

Kertas adalah sahabat yang paling setia. Karena dapat menerima cerita apapun tanpa bosan.’ kata Anne Frank. Barangkali begitu juga yang dirasakan Fahma.

Ia menceritakan apa saja dalam buku ini. Kegiatan yang super padat di dalam asrama, kebiasaan buruk teman-teman, nasihat dan teguran para ustadz dan ustadzah yang terlalu sering, kerinduan pada ibu yang dicintai, hingga doa-doa yang disimpan dalam hati, semua itu ditumpahkan dalam buku tulis catatan harian ini. Fahma mengeluarkan kekesalan yang tidak dapat diungkapkan sehari-hari ke dalam buku tulis catatan harian.

Tentu saja ia berhak menghakimi, menilai, dan memilih secara jujur dalam buku harian ini. Karena kalau ia tidak dapat menulis dengan jujur di buku hariannya sendiri, pada siapa lagi ia dapat jujur?

Namun Fahma perlu berpikir ulang jika buku harian ini dipublikasikan. Apakah Fahma akan mempertahankan kejujurannya? Apa kali ini kejujuran itu termasuk membuka keburukan orang lain? Ataukah Fahma perlu menulis ulang dan memperhalus pendapatnya tentang orang lain? Ataukah justru harus dihapus? Barangkali hanya Fahma yang bisa memutuskan.

Berada dalam lingkungan multi-bahasa seperti Pesantren Gontor, secara tidak sadar mempengaruhi Fahma untuk menulis catatan harian dengan berbagai bahasa. Dalam draft buku hariannya ini setidaknya ada lima bahasa yang digunakan, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa China, dan tidak ketinggalan bahasa ibunya, Bahasa Sunda.

Berbagai macam istilah dan doa muncul dalam Bahasa Arab. Hal itu memang memperkuat setting pesantren dan karakter santri yang dimiliki Fahma. Namun kehadiran sebegitu banyak bahasa membuat saya sebagai pembaca tidak bisa menangkap apa yang sedang disampaikannya.

Tidak semua orang pernah tinggal di pesantren dan tidak banyak orang yang paham pada dua paragraf penuh berbahasa Arab yang Fahma tulis. Begitu juga dengan sekian paragraf yang ditulis penuh dengan Bahasa Sunda. Tidak semua pembaca bersuku Sunda, atau setidaknya bisa berbahasa Sunda.

Saran saya pada Fahma adalah untuk kembali menulis ulang diarinya dengan Bahasa Indonesia. Segera alih bahasakan istilah bahasa asing yang dapat dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Istilah asing yang sudah diserap dalam Bahasa Indonesia tidak apa dipertahankan. Dan bagi istilah yang tidak dapat digantikan, tidak apa dipertahankan namun ditambah dengan catatan.

Penulisan ulang juga berlaku untuk kalimat-kalimat dengan Bahasa Inggris namun masih berantakan tata bahasa yang digunakan. Saya hanya paham Bahasa Inggris, dan saya sudah menemukan kesalahan tata bahasa. Bukannya berprasangka buruk, namun barangkali ada kesalahan pula dalam tata Bahasa Arab atau Sunda yang sama sekali tidak saya mengerti.

Dalam buku harian ini, Fahma menumpahkan kekesalan dan kemarahan, lalu ia tiba-tiba menjadi sosok yang berbeda dengan menyemangati dan menyabarkan diri sendiri. Orang lain bisa mengira ia memiliki kepribadian ganda. Namun bagi saya hal tersebut normal dalam penulisan buku harian.

Buku harian menempatkan penulis berperan ganda sebagai pendengar. Buku harian ada sebuah wadah dialog dengan diri sendiri. Hal ini yang dipertahankan Fahma hingga akhir. Ia berhasil menjadikan buku catatannya sebagai buku curahan hatinya.

Namun hal ini pun bisa menjadi kekurangannya. Sejak awal Fahma kesal pada orang lain maupun diri sendiri lalu menyabarkan dan menyemangati diri. Sampai akhir tulisannya pun ia masih kesal pada diri dan orang lain.

Ia terlihat sebagai seorang gadis yang melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang setiap harinya. Tidak mengambil pembelajaran dari permasalahan sebelumnya. Begitu terus.

Pada tulisan-tulisan terakhir, ia sedikit terkesan menutup buku hariannya. Barangkali buku catatannya sudah hampir habis atau karena sesaat lagi ia akan lulus, entahlah. Agak aneh saja rasanya membaca buku catatan harian yang berpenutup. Buku catatan Soe Hok Gie dan Anne Frank tentu saja tidak berpenutup. Siapa yang tahu mereka akan meninggal?

Judul yang diberikan pada buku ini, Senja di Atas Menara Cinta – Catatan Santriwati Gontor, sepertinya terlalu muluk. Tidak ada kata senja dalam catatan harian milik Fahma ini, atau bahkan cerita tentang menara di pesantren Gontor.

Suasana pesantren memang terasa dalam buku catatan Fahma, namun seolah bisa terjadi di pesantren mana saja. Ia tidak menceritakan apa dan bagaimana Gontor dari sudut pandangnya. Ia bahkan tidak menceritakan apa itu OPPM, organisasi santri yang diketuainya, apa yang dilakukan di sana, dan lain-lain. Semua tentang dirinya.

Kerja Fahma memang akan sangat banyak untuk menjadikan buku hariannya ini siap terbit. Butuh keseriusan dan konsistensi. Tapi saya tahu ia bisa melakukannya. Ia telah berhasil konsisten menulis buku catatan selama delapan bulan, tidak banyak orang yang dapat konsisten melakukan itu.

Tinggal sedikit lagi, Fahma. (/Nadia)

Kenduri Literasi – Gerakan Revitalisasi Arsip

Penulis yang menulis tanpa data akan lumpuh. Wartawan yang menulis tanpa data akan menyesatkan. Seniman yang berkarya tanpa arsip akan kehilangan arah. Perusahaan yang bekerja tanpa arsip akan tumbuh lamban. Jika semua orang ditanya, pentingkah arsip, maka semuanya menjawab penting. Semenjana dengan itu, arsip juga adalah ihwal yang paling diabaikan. Bahkan hanya satu trip berada di atas sampah.

Lantaran itulah Yayasan Indonesia Buku dan komunitas-komunitas literasi yang sepaham dengannya tak jemu-jemunya mengajak untuk selalu melakukan revitalisasi arsip dengan cara sekreatif-kreatifnya yang dimampui.

Kenduri Literasi: Gerakan Revitalisasi Arsip

  • Hari/Tanggal: Minggu, 28 Oktober 2012
  • Pukul: 19.00 WIB
  • Tempat: Perpustakaan Indonesia Buku, Jl Patehan Wetan No 3, Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta

Acara ini juga dihadiri Walikota Yogyakarta (2001-2011) Herry Zudianto dan Wakil Bupati Sleman (2010-2015) Yuni Satia Rahayu. Menandai Upacara Kenduri Literasi, Komunitas Spiritual Cahaya Nusantara (Yantra) akan mendupai, memanjatkan doa, dan memercikan air suci dari 7 sendang untuk keberkahan.

ACARA-ACARA

1. Peluncuran Sepeda Buku (BoekoeBIKE)

Sepeda Buku dimaksudkan sebagai bentuk gerakan literasi untuk masyarakat urban di perkotaan. Apalagi Masyarakat Sepeda terbentuk di mana-mana di pelbagai kota di Indonesia. Sepeda pun menjadi life style. Sepeda Buku, dalam hal ini, selain sebagai bentuk dukungan atas aktivitas bersepeda yang menyehatkan raga dan lingkungan, juga ambil bagian dalam kampanye literasi masyarakat sepeda. Kotak Buku yang dibawanya ke mana-mana menjadi penghubung bahwa buku dan sepeda saudara. Sepeda menyehatkan raga, buku menyehatkan pikiran.

Karena itu namanya Boekoe BIKE. Frase itu bila dilafalkan bisa berarti “Buku Baik”. Buku yang berada dalam kotak Sepeda Buku adalah buku-buku bermutu dalam pelbagai genre. Bisa pula dilafalkan “Buku – Bike”, frase yang menandai bahwa pencipta sepeda Buku ini adalah dua komunitas, yakni IBOEKOE dan HUB. IBOEKOE adalah komunitas yang konsens dengan gerakan literasi, buku, dan revitalisasi arsip berbasis kampung; sementara HUB adalah komunitas yang mencintai sepeda sebagai bagian dari gerakan sosial dan lingkungan.

Rute dan jam gowes Sepeda Buku (boekoeBIKE) dari KM 0 – Benteng Keraton Jogja – Perpustakaan Indonesia Buku bisa dilihat di akhir catatan #AgendaBuku ini.

2. Peluncuran Meja Arsip

Meja Arsip adalah alat digitalisasi arsip berupa koran hingga ukuran A0. Ukuran yang demikian umum kita temukan pada koran-koran yang terbit sepanjang abad 20. Digitalisasi arsip adalah solusi bagi komunitas yang memiliki ruang penyimpanan yang terbatas. Selain itu, digitalisasi menjadi model kliping untuk masyarakat di milenium alaf yang hidup di alam digital internet. Sekaligus ini pembeda dengan pola pengklipingan abad 20 yang melahirkan dua maestronya: HB Jassin dan Pramoedya Ananta Toer.

Meja Arsip adalah ikhtiar mengubah arsip cetak dalam dunia analog menjadi file-file dalam dunia digital. Dalam konteks komunitas, Meja Arsip adalah pitanti digitalisasi koran pertama yang dipunyai komunitas literasi.

3. Peluncuran Buletin Suara Buku

Radio Buku didirikan bukan sebagai “radio biasa”, melainkan radio pengarsip suara. Terutama sekali suara-suara literasi dari beragam kalangan: penulis, pembaca, penerbit, komunitas, perpustakaan, dan sebagainya. Sebagai radio arsip, suara-suara yang direkam dengan baik kemudian disimpan dan dibagi kepada publik yang berminat dalam bentuk Compact Disc. Sebagaimana jargon Radio Buku, “Mendengarkan Buku”, Buletin Suara Buku juga punya jargon serupa, yakni “Buletin yang didengarkan”.

Pada acara kali ini, diluncurkan 10 Volume Buletin Suara Buku yang bisa dilihat di warungarsip.co-Suara Buku.

4. Peluncuran Bantal Arsip

Bantal Arsip yang diusahakan Agia Juju adalah usaha merevitalisasi kenangan paling personal yang nyaris lapuk bersama kaos atau t-shirt. Setiap orang yang memiliki kaos atau t-shirt yang sudah tak terpakai, tapi desain atau image dari kaos itu menyimpan kenangan, bisa direvitalisasi menjadi Bantal Arsip. Dengan demikian, Bantal Arsip mengawetkan ingatan personal dalam bentuk yang baru. Bantal Arsip membawa kenangan indah dalam tidur panjang. Nah, seperti apa model Bantal Arsip itu, silakan dilihat di warungarsip.co-Bantal Arsip.

5. Peluncuran Cookies Aksara

Dibuat dari bahan-bahan yang sehat buat anak dan keluarga, Cookies Aksara yang diusahakan Kuenamama dari Guwosari, Pajangan, Bantul ini, menghidupkan aksara Nusantara dalam ruang keluarga secara kreatif. Kita tahu ada 12 aksara yang beroperasi di Nusantara, di antaranya Pallawa, Latin, Arab, Jawa, Sunda, Lontarak, dan seterusnya. Usaha Cookies Aksara ini meneguhkan sikap dalam keluarga bahwa aksara tak hanya alat menghantar pengetahuan, tapi juga sekaligus bisa disantap.

Sebagai perkenalan awal, Kuenamama meluncurkan edisi Aksara Latin.

Acara ini diselenggarakan dan didukung oleh:

Yayasan Indonesia Buku |  Radio Buku | HUB | Yantra | Agia Juju | Kuenamama | PPTK-PAUDNI

Skripsi Swadesta Aria Wasesa: Representasi Kekuasaan Pada Novel Entrok Karya Okky Madasari

Fairuzul Mumtaz

Skripsi ini pertama kali didiskusikan dalam forum Obrolan Senja untuk kemudian diujikan di depan Dewan Penguji Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Yogyakarta. Diskusi dilaksanakan pada hari Jum’at, 31 Agustus 2012, pukul 15.30 – 18.00 di Angkringan Buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No.3 Alun-alun Selatan, Keraton, Yogyakarta.

Dalam kajian sosiologi sastra, dapat dikatakan bahwa karya sastra merupakan representasi dari realitas sosial. Realitas itu dibungkus penulis melalui karya sastra yang dibuatnya. Obyek karya sastra adalah realitas (Kuntowijoyo:127),oleh karena itu maka sebuah karya sastra merupakan cerminan realitas yang lebih lengkap dan jauh lebih komplit ketimbang cermin realitas itu sendiri.

Lukacs menegaskan pandangan tentang karya realisme yang sungguh-sungguh sebagai karya yang memberikan perasaan artistik yang bersumber dari imajinasi-imajinasi yang diberikannya. Imajinasi-imajinasi itu memiliki totalitas intensif yang sesuai dengan totalitas ekstensif dunia.Penulis tidak memberikan gambaran dunia abstrak melainkan kekayaan imajinasi dan kompleksitas kehidupan untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Jadi sasarannya adalahpemecahan kontradiksi melalui dialektika sejarah.

Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena idividual secara tertutup melainkan lebih merupakan sebuah ‘proses yang hidup’.Sastra tidak mencerminkan realitas sebagai semacam fotografi, melainkan lebih sebagai suatu bentuk khusus yang mencerminkan realitas.Dengan demikian, sastra dapat mencerminkan realitas secara jujur dan objektif dan dapat juga mencerminkan kesan realitas subjektif (Selden, 1991:27).

Salah satu jenis karya sastra yang mampu membungkus realitas adalah novel. Novel adalah salah satu bentuk dari sebuah karya sastra. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata dan mempunyai unsur instrinsik dan ekstrinsik. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya. Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut.

Menurut khasanah kesusastraan Indonesia modern, novel berbeda dengan roman.Sebuah roman menyajikan alur cerita yang lebih kompleks dan jumlah pemeran (tokoh cerita) juga lebih banyak. Hal ini sangat berbeda dengan novel yang lebih sederhana dalam penyajian alur cerita dan tokoh cerita yang ditampilkan dalam cerita tidak terlalu banyak.

Jika dilihat melalui kacamata sosiologi sastra, pembuatan novel tida bisa lepas dari tiga hal, seperti yang digambarkan Rene dan Wellek. Pertama, melalui kacamata pengarang. Pada sudut padnang ini karya sastra, semisal novel adalah cermina  dari pengalaman penulis yang bercampur dengan imajinasi penulis namun bisa juga tidak. Kedua, merupakan representasi fenomena di masyarakat. Sudut pandang ini memperlihatkan bagaimana novel mampu menjadi alat penyampai informasi atau fenomena di masyarakat. Ketiga, dampak karya sastra terhadap pembaca. Pada sudut pandang ini, suatu karya sastra akan berdampak pada masyarakat dan sejauh mana dampak tersebut mempengaruhi masyarakat.

Atas dasar tersebut tepatlah yang digambarkan Lukacs menyoal karya sastra, khususnya novel. Meminjam istilah Marxim Gorxy bahwa karya sastra adalah sepenuhnya cermin realitas, namun karya sastra tersebut juga memungkinkan untuk menambah atau mengurangi realitas tersebut karena kekuasaan yang ada dari si penulis. Penulis, dalam membuat karya sastra, baik itu puisi hingga novel adalah penguasa tunggal yang melegitimasikan kekuasaannya dalam bentuk karya sastra.

Begitu juga dengan realitas yang diangkat dalam karya sastra. Realitas pada masyarakat merupakan suatu hal yang biner. Ada yang beranggapan realitas tersebut salah dan ada pula yang beranggapan bahwa realitas itu adalah sebenar-benarnya kebenaran. Meski demikian, satu hal yang dapat disimpulkan dari keadaan tersebut adalah realitas adalah bentukan kekuasaan, membentuk kekuasaan, dan arena pertempuran kekuasaan dari setiap masyarakat.

Ketika penulis menyingkap relaitas tersebut, maka ketika itu pula ia sudah menjadi alat pembenaran dari kekuasaan yang berkelindan dalam realitas tersebut. Ketika menjadi alat pembenaran, maka karya sastra telah menjadi suatu alat politik yang membuat orang patuh akan realitas yang diungkap. Namun, tentunya bukan jaminan setiap orang akan patuh. Pembaca bisa saja menolak realitas yang ditawarkan karena dalam konteks wacana kekuasaan, pembaca tentunya juga seorang yang berkuasa.

Pada realita kontemporer, masyarakat acapkali menjadi alat sekaligus aktor dalam membentuk realitas. Perkembangan budaya dan percampuran budaya menjadi tunggangan dalam perebutan tersebut. Globalisasi membuat percampuran budaya semakin sering terjadi. Masuknya budaya asing yang bersifat kekinian ditengah masyarakat yang masih setengah feodal membuat perebutan semakin sengit. Sebagian menerima, sebagian lagi tidak. Keadaan ini menggambarkan bahwa realitas tidak lebih dari bentukan kekuasaan yang sicara sadar atau tidak sadar diungkap penulis dalam karya sastra, khususnya novel.

Salah satu novel yang membungkus karya sastra tersebut adalah novel yang dibuat oleh Okky Madasari berjudul Entrok. Novel ini adalah sebuah novel yang banyak berbicara menyoal realitas sosial.Terbit tahun 2010, novel ini bercerita soal orang-orang yang ingin menunjukan eksistensi diri melalui barang atau perilaku. Tokoh utama dalam novel ini bernama Marni, yang sangat menginginkan entrok (BH) untuk menopang buah dadanya yang mulai tumbuh. Setelah mendapatkan entrok, keinginannya semakin banyak. Marni seolah ingin menggambarkan bahwa usia berpengaruh pada banyaknya keinginan atau kepentingan yang menggambarkan usia tersebut.

Novel perdana Okky banyak memuat realitas sosial. Realita yang dimuat merupakan realitas yang terjadi pada masyarakat pada tahun 1950-1980an. Realitas yang terangkum dalam teks di novel ini besarkemungkinannya diselubungi oleh kuasa-kuasa yang dibentuk oleh aktor di lapangan. Atas dasar itu, teks dalam novel ini juga memungkinkan untuk memuat kekuasaan yang terselubung dalam realitas.

Kekuasaan, yang natinya akan banyak dibicarakan dalam makalah ini akan berfokus pada kekuasaan dari sudut pandang Postmodernisme. Dalam membedah kekuasaan tersebut akan dipakai pisau analisis kekuasaan Foucault, seorang sosiolog sekaligus filsuf asal Prancis yang garis besar uraian kekuasaannya bersumber pada dua hal, yaitu regulasi dan ilmu pengetahuan.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dalam novel ini, maka didapatkan lima buah kesimpulan. Kesimpulan itu adalah sebagai berikut.

  1. Selain sebagai karya sastra yang membawa semangat berkesenian, novel juga membawa semangat perlawanan dan mampu menampung realitas sosial yang ada pada masyarakat.
  2. Representasi Kekuasaan selalu ada dalam novel-novel yang menampung realitas di masyarakat.
  3. Novel Entrok merupakan novel yang memiliki tumbukan kekuasaan yang besar. Ini tidak terlepas dari pertempuran kuasa yang hadir melalui teks dalam karya sastra dengan kekuasaan pengarang itu sendiri.
  4. Dalam realitas sosial kekuasaan hadir melalui cara-cara yang halus dan tidak lagi hadir melalui cara-cara represif atau yang bersdifat kekerasan lainnya.
  5. Kekuasaan bisa dimiliki oleh siapa saja.
Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan