-->

Arsip Literasi dari Sewon Toggle

Senjakala Kopi di Sewon

Pekan pertama 2016 bukan hanya dibuka dengan kehebohan “martabak” anak sulung Presiden RI Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. Usaha martabak “Markobar” itu mendapat cuitan dari dosen Universitas Bhayangkara Surabaya dengan alamat akun @mahsina_se: “Nurun ke anaknya pinjam dana ke bank Rp 1 miliar cuman buat martabak kampungan. Bangga dengan lulusan singapore, pulang kampung jualan martabak, ngorbanin bokap #internetmarketing jadi bahan olokan, candaan katanya #LogikaPekok”.

Adik Gibran pun, Kaesang Pangarep, membalas cuitan ibu dosen itu dengan luwes dan santai: “Gapapa, yang penting dari jualan martabak bisa untuk bayar sekolah di singapore. Saya hepi, markobar juga hepi”. Pecahlah pekan pertama 2016 dihebohkan isu “martabak”. Bahkan, soal Jonru si Komentator yang mengomentari foto Presiden Joko Widodo sarungan di Raja Ampat pun lewat.

Pekan pertama 2016 juga bukan hanya soal meme tentang Hakim Parlas Nababan di media sosial yang disebabkan ketok palu yang diayunkan wakil ketua Pengadilan Negeri (PN) Palembang itu menolak gugatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terhadap PT BMH (Bumi Mekar Hijau) dalam kasus pembakaran hutan. Kata-kata yang menyihir Sang Hakim adalah: “Lahan yang terbakar bisa ditanami lagi.” (lebih…)

Lokakarya Radio Streaming: Bertaruh dengan Waktu

Ada sedikit perbedaan dengan dua lokakarya tentang Radio sebelumnya yang diselenggarakan Radio Buku (2011 dan 2013) di Patehan Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta. Dua lokakarya sebelumnya sekadar memperkenalkan bagaimana menjadi penyiar di radio (belum spesifik radio yang berbasis internet). Juga tak membahas sama sekali salah satu piranti utama radio berbasis internet, yakni dunia aplikasi di internet itu sendiri.

Lokakarya yang diselenggarakan di studio baru Radio Buku di Sewon, Bantul selama dua hari ini, 2 dan 3 Januari 2016, menantang peserta yang jumlah lebih kurang 9 orang bahwa membuat radio internet pribadi dan gratis itu tak lebih dari satu jam. Syaratnya, ya ada tiga infrastruktur ini: listrik, jaringan internet, dan laptop/ponsel pintar. (lebih…)

Terlibat 2015

Menurut kamus Tesaurus, (ke)terlibat(an) adalah keikutsertaan, kontribusi, partisipasi, dan peran serta. Makna keterlibatan itu menunjuk pada bukan pokok, bukan (pelaksana) utama. Semacam partisipan, pendukung, penyerta dari berlangsungnya sebuah peristiwa.

Menjadi pendukung dan ikut serta dalam memberi kontribusi pada sebuah pergelaran bukan sesuatu yang buruk dalam sebuah kultur jaringan. Kultur yang menjadi tawaran khas dari platform internet ini mencoba menerabas batas eksklusivitas; bahwa kerjasama dalam hal berpartisipasi dan/atau terlibat dalam sebuah kalender peristiwa terbuka sangat memungkinkan. Sebagaimana kultur jaringan ini juga memunculkan lagi kerja kesukarelawanan yang massif.

Dan sepanjang 2015, keterlibatan macam apa–dan terutama sekali–terlibat bersama komunitas/lembaga yang mana saja Radio Buku?

Inilah sejumlah keterlibatan di mana Radio Buku yang saat ini dipimpin Fairuzul Mumtaz dengan segala laku kesetiaannya mengawal dan menata model kontribusi yang diberikan terkait dengan kapasitas sebagai komunitas yang menyelenggarakan serangkaian pendokumentasian suara dan kerja kreatif yang berbasis daring. (lebih…)

Kelas Esai di Sewon

Jika kelas dianggap sebagai sebuah kegiatan dalam ruangan dengan menghadirkan seorang guru kelas, seorang wali kelas, juga dihadiri peserta didik, maka ini kelas esai kedua yang diselenggarakan Indonesia Buku/Radio Buku.

Kelas esai pertama berlangsung pada 20 November 2010 ketika gedung Indonesia Buku/Radio Buku masih di pojok Alun-Alun Kidul Keraton Yogyakarta. Kelas esai pertama itu berlangsung hanya sehari, dengan dua mata pelajaran maha utama: mencari sumber dan bagaimana mengolah sumber itu menjadi esai yang tak hanya jelas dibaca, tapi juga menarik. Dan tak usah ditanya hasil. Nol besar.

Kelas esai yang kedua ini — yang kini dilangsungkan di gedung baru Indonesia Buku/Radio Buku sejak April 2014), Sewon, Bantul — dilangsungkan dengan rentang waktu yang lebih panjang berkat donasi seorang “sinterklas” (hamba Allah yang tak mau namanya disebutkan). Satu bulan untuk pengumpulan data dan sebulan berikutnya untuk pemasakan dan pengeditan. Dimulai dari pekan pertama Desember 2015 hingga pekan terakhir Januari 2016. (lebih…)

Undangan Lokakarya Radio Buku

Salam Booklovers,
Terima kasih telah mengapresiasi program volunteer sebagai penyiar di Radio Buku. Sebagai ucapan terima kasih, kami mengundang nama-nama di bawah ini untuk mengikuti lokakarya pembuatan radio streaming dan suara buku.

Mempertimbangkan suara mayoritas, workshop diadakan pada:
Hari: Sabtu – Minggu
Tanggal: 02 – 03 Januari 2016
Pukul: 15.00 – 22.00 WIB
Tempat: Radio Buku, Jl. Sewon Indah I, Panggungharjo, Sewon, Bantul, D.I. Yogyakarta
Materi: Jurnalisme Dasar (Faiz Ahsoul), Jurnalisme Media Sosial (Muhidin M Dahlan), Pembuatan Radio Streaming (Eka Yulwinar Saputra), Siaran dan pembuatan audiobook (Fairuzul Mumtaz). (lebih…)

Katalog “Info Buku” di Koran Minggu

Logo-Resensi-Buku-300x300Tahun 2006 hingga 2009, juga 2010, saat masih “ngantor” di Perpustakaan Nasional — maksudnya nyaris tiap hari memasuki perpustakaan pusat Republik Indonesia — terutama di Lantai 4, 7, dan 8, saya kerap nggerundel dalam hati ketika mendapatkan katalog koran hanyalah daftar nama dan tahun terbit koran. Apa isi koran yang disimpan dalam ruangan dengan dijaga tidak ketat itu, hanya menebak-nebak. Artinya, buka dulu, baru tahu isinya.

Saya nggerundel karena saya tak tahu bahwa menyusun katalog koran (lengkap dengan judul dari isi perut koran itu) memang bukan perkara mudah. Koran, tentu saja majalah, konsisten datang nyaris tiap hari dan tenaga tak pernah bertambah. Sementara asyik mengikuti kedatangan koran baru, ada yang tak boleh diabaikan, mengurusi (membuat katalog lengkap) koran/majalah yang terbit dari masa yang jauh. Jadilah pekerjaan ganda: di satu sisi mengejar masa depan; di satu sisi berlari ke masa jauh. Bertolak dan berpunggungan. Dan dua-duanya menuntut perhatian yang ekstra. Sialnya hanya dikerjakan oleh satu dan dua orang. Dan kerap hanya satu orang.  (lebih…)

Pak Jun: Berjaga di Kultur 20

“Jaga baik-baik kesehatan, mas gusmuh. Lihat saya ini habis betul dimakan gula,” kata Pak Junaedi di suatu hari Minggu saat saya mengambil koran minggu di kios tuanya, Diah Agency, Plengkung Gading, Alun-Alun Selatan Yogyakarta.

Longsornya tenaga Pak Jun terlihat dari wajahnya yang pucat. Kulitnya yang keriput dengan daging yang kian menipis. Sadar dengan kekuatan diri dan rapuhnya penyangga diri, kios koran yang dibangunnya sejak medio 70-an itu mesti tutup sore. Biasanya buka hingga pukul 9 malam.

“Saya sudah payah. Dulu biasa bangun pukul 3 untuk jemput koran di agen. Sekarang susah betul. Badan ini,” keluh Pak Jun terengah.

Seperti tubuhnya, kios korannya juga sebetulnya menuju titik amblas. Pelanggan koran/majalah cetak makin hari makin berkurang. Yang membeli eceran juga angkanya tak lagi signifikan. (lebih…)

NGOPI | #LiterasiSelatan #EquatorFestival

08 LAPAK ZINEKata dasarnya memang kopi. Dalam pelafalan harian kata kopi menjadi ngopi. Kata “ngopi” ini menimbulkan asosiasi macam-macam. Ngopi bisa bermakna harfiah, ya minum kopi, baik yang minum kopi primer yang diolah barista di warkop modern (kelompok masyarakat berkesadaran, cie), minum kopi tubruk yang umumnya disajikan simbok-simbok di warung-warung kecil, atau mereka yang mereguk dengan nikmat kopi-kopi Nusantara yang diantar, disaset, dan dipromosikan sebuah kapal uap (bukan pelni) dengan segala turunan perusahaannya.

Ngopi juga bisa berasosiasi sebuah perilaku atau tindakan menggandakan teks di atas kertas yang mengilhami lembaga kajian budaya KUNCI mengubah tipografi logonya dengan “mengopi” tipografi ala “Xerox”. Bahkan ajaib na na na, di beberapa tempat fotokopi yang dekat dengan kampus, agensi-agensi fotokopi sudah memiliki “pemikiran maju” dengan membuat daftar buku-buku utama yang layak kopi. Kok bisa tahu? Pengalaman berhadapan dengan praktik mengopi mengajarkan si agensi mesin fotokopi untuk mengurasi mana buku paling diminati kaum terpelajar kita. Dia membikin sistem yang praktis saja. Buatkan daftar, diserahkan uang, dan kopi. Bahkan bisa lebih bagus dari aslinya.

Praktik literasi mengopi adalah “khas kita”. Seperti mengopi buku yang teramat sangat dibutuhkan, tapi tak ada di toko buku. Ketika bersekolah atau berkuliah karena banyak urusan yang di luar, baik yang jelas maupun tak jelas, eh ketinggalan mata pelajaran. Dan jalan untuk mengejar ketertinggalan, baik tertinggal yang jelas maupun yang tak jelas, pasti ngopi catatan pelajaran teman. Ini “khas” Nusantara dan sudah “diajarkan” oleh guru dan orangtua sejak kelas 1 SD. (lebih…)

KBEA | #LiterasiSelatan #EquatorFest

04 MOJOK.CO

Mereka menyebut dua huruf di depan singkatan itu adalah Klinik Buku dan EA adalah singkatan yang melekat di belakang aktivis sosial dan penulis yang gandrung pada pencarian bentuk, Puthut EA. Tapi makin ke sini, saat Klinik Buku sungsang, akronim itu bergeser menjadi Keluarga Bahagia (eh, atau Komunitas Bahagia).

Pendeknya, saat ada kata bahagianya itu, tiba-tiba semuanya semringah. Mula-mula KBEA mendirikan mojok.co dengan tagline: “Sedikit Nakal, Banyak Akal” yang kemudian menjadi menjadi fenomena baru di dunia penulisan daring.

Di KBEA juga ada situs web yang menampung kelompok pemuda progresif, militan, tapi kesepian untuk menghabiskan energi yang banyak, tapi tak tersalurkan dalam asmara yang nyata, dalam sebuah aktivitas positif dan sehat (tapi belum tentu bahagia), yakni menulis. Namanya: jombloo.co.

Bersamaan dengan itu, dari rumah yang sama, muncul sebuah laman web yang berbeda dengan dua laman web sebelumnya yang menulis suka-suka. Di laman web ini menulis makalah serius adalah harga mati! Makin berjubel catatan kaki, makin dianjurkan. Prototipe di antara penulisan ala skripsi dan artikel-artikel populer di koran harian, diambil oper laman ini. Namanya pindai.org. (lebih…)

Matinya Literasi

Laporan khusus Media Indonesia 22 Juli 2015 tentang literasi di Yogyakarta ini muncul saat arus balik lebaran mulai berular-ularan di jalan raya. Judulnya pun seram, seseram angka jiwa-jiwa yang direnggut karnaval sosial setiap tahun dalam opera bernama mudik dan arus balik setelahnya.

“Matinya Literasi di Kota Pelajar”, demikian judul besar yang dituliskan Furqon Ulya Himawan. Mati. MATI. Mati. Sesuatu disebut “mati” bila tidak punya dayaguna. Kita bilang lampu itu mati karena si lampu sudah tak memancarkan cahaya. Kita bilang hape mati bila tidak bisa digunakan sedemikian mestinya.

Apakah literasi Yogyakarta sudah betul-betul mati dalam arti tak berguna lagi? Tiga artikel dalam dua halaman “Laporan Khusus” Media Indonesia ini mencoba menyorotinya. Termasuk pandangan dari kami yang bergiat di Sewon direkam di dalamnya.

Selamat mengunduh dan membacanya. Unduh di sini file pdf-nya di sini dan di sini.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan