-->

Arsip Literasi dari Sewon Toggle

Buntelan dari Forum Jakarta Paris

Rabu 19 Agustus 2009. Satu kardus buntelan buku dari EFEO (Lembaga Kajian Prancis tentang Asia) datang ke Alun-Alun Kidul (Alkid) Yogyakarta. Terbitan dari Forum Jakarta Paris itu tebal-tebal, teoretik, historik. Beberapa waktu silam Gelaran Ibuku/Indonesia Buku pernah mengirim surat untuk pengadaan buku-buku buat gelaran buku di pelosok yang tak terjamah oleh helai-helai buku. Dan Pak Henri Chambert-Loir mengabulkan permohonan itu.

Walau buku-buku ini tebal, serius, teoretik, historik, dan bagusnya untuk konsumsi mahasiswa tingkat akhir itu, Gelaran Buku/Indonesia Buku “nekad” tetap menyalurkannya ke kawasan-kawasan yang berada di ujung peradaban paling modern sana. Karena kami beranggapan postif-positif saja bahwa anak-anak di sana kadang tak sebodoh yang kita perkirakan untuk memamah buku-buku tebal, serius, teoretik, dan historik pula. Apalagi kami bermimpi dari tempat-tempat di ujung margin buku itu muncul cendekiawan-intelektual belia.

Inilah 24 eksemplar buku-buku tebal, serius, teoretik, historik itu.

1. Katalog Beranotasi: Ensiklopedoa, Kamus, dan Daftar Istilah Bahasa Indonesia (1741-1995) karya Jerome Samuel (4 eksemplar)

2. Indocina: Persilangan Kebudayaan karya B.P. Groslier (4 eksemplar)

3. Ayo ke Tanah Sabrang: Transmigrasi di Indonesia karya Patrice Levang (4 eksemplar)

4. Lebur!: Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura karya Helene Bouvier (4 eksemplar)

5. Bujang Tan Domang: Sastra Lisan Orang Patalangan karya Tenas Effendy (4 eksemplar)

6. 25 Tahun Kerjasama: Dimensi Budaya dalam Membangun Persatuan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (4 eksemplar)

Buntelan dari Serambi Kaki Langit

Ada dua surat mampir di Alkid Jogja, Markas Besar Indonesia Buku. Dua surat itu berisi pemberitahuan pengiriman buntelan.

Seturut kamus Gokil Kubugil, “buntelan” berarti kiriman buku yang dibungkus oleh seseorang atau lembaga untuk para kutubuku.

Indonesia Buku juga kini punya agenda mengirimkan surat penerimaan buntelan kepada penerbit-penerbit yang memiliki program “donasi buku” atau “zakat buku”. Donasi atau sedekah buku–atau dalam istilah Serambi “cinderahati Serambi”–adalah program dari sebuah lembaga atau pribadi yang menyumbangkan bukunya yang berlebih-lebih kepada kaum “fakir buku”.

Nah, ada dua penerbit yang buntelannya sudah Indonesia Buku telah terima dengan selamat. Yakni, Kaki Langit Kencana yang beralamat di Tambra Raya No 23 Rawamangun Jakarta dan Serambi di Jl Kemang Timur Raya No 16 Jakarta.

Buku-buku “zakat buku” itu akan disalurkan Indonesia Buku kepada dua gelaran buku di dua dukuh binaan: Pakis Pacitan dan Jambu Kediri.

Kini, di dua dukuh itu anak-anak SD hingga SMP sesaat lagi akan menerbitkan buku kolektif mereka yang pertama: Surat untuk Ibu Negara: 151 Serat dari Anak-Anak di Puncak Gunung Brengos (Gelaran Buku Pakis Pacitan) dan Aku dan Ibuku (Gelaran Buku Jambu Kediri)

Inilah daftar buntelan itu:

Kaki Langit Kencana

1. Gunung Makrifat: Memoar Pencari Tuhan karya Tri Wibowo BS, Juni 2009, 289 halaman (novel)

2. Divine Madness: Sketsa Biografis Sastrawan “Gila” karya Tri Wibowo BS, Juni 2009, 260 halaman (esai)

3. Cinta dalam Belanga karya Ambhita Dhyaningrum, Juni 2009, 271 halaman (cerpen)

Serambi

1. Kamus Khazar: Sebuah Novel Leksikon karya Milorad D Pavic, Juni 2009, 505 halaman (novel)

2. Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway, Mei 2009, 144 halaman (novel)

3. 80 Hari keliling Dunia karya Jules Verne, Juni 2008, 367 halaman (novel)

4. Breakfast at Tiffany’s karya Truman Capote, Februari 2009, 163 halaman (novel)

5. Maria karya Vladimir nabakov, Maret 2009, 205 halaman (novel)

6. The Written Laws of Business karya W.J. King, April 2009, 156 halaman (bisnis)

7. Mengajar Buah Hati dengan Cinta dan Logika karya Foster Cline dan Jim Fay, April 2009, 304 halaman (parenting)

8. Enzo karya Garth Stein, April 2009, 408 halaman (novel)

9. Lara Kusapa-Bonjour Tristesse karya Francoise Sagan, Februari 2009, 164 halaman (novel).

10. Bright Angel Time karya Martha McPhee, April 2009, 445 halaman (novel).

Buntelan-buntelan di atas segera disalurkan Indonesia Buku di dua gelaran buku di dukuh tinggi dan jauh di pulau Jawa ini.

ALKID

Kontrakan

bebasOmi Intan Naomi. Penulis budaya pop. Penerjemah juga. Di dua bidang itu ia cukup tangguh.

Tapi kemudian ia mati muda pada usia 34 tahun.

Saya tak ingin menceritakan kembali bagaimana riwayat hidupnya dan apa saja dilakukannya. Yang ingin saya catat di sini adalah ucapannya yang dikutipkan kembali oleh adiknya, perupa Bunga Jeruk.

Ketika ditanya kenapa tak beli rumah saja, kenapa ngontrak melulu, sontak Omi menjawab: “Kalau bisa mengontrak, kenapa mesti beli rumah.”

Dan Omi memang menjadi kontraktor sampai mati. Ia wafat di rumah kontrakannya.

Ada hal yang menarik di sini. Kalau sedikit diulak-ulik, sejatinya mengontrak  sudah jadi penanda status dalam kehidupan sosial kita. Mengontrak hanyalah bagi mereka yang tak bisa beli rumah. Mengontrak menunjuk langsung pada pribadi-pribadi yang secara ekonomi tak mapan.

Artinya, siapa pun yang mengontrak pastilah ia kaum menengah ke bawah alias miskin. Mengontrak sama sekali bukan pilihan sadar, melainkan keterpaksaan.

Orang-orang seperti Omi justru membaliknya. Omi jelas bukan orang miskin. Ia sangat bisa membeli rumah mentereng. Namun Omi memilih jalan lain. Ia mencoba memberi nilai dalam kerja mengontrak itu; bahwa dalam mengontrak ada soal identitas.

Identitas seperti apa? Itulah Kebebasan!!!!

Bukan cuma itu, kontrakan juga membuat kita berpikir banyak kali untuk mengonsumsi barang-barang. Bagi kontraktor, hanya barang yang paling primer yang dibeli karena ia sadar bahwa ia hanya singgah sebentar di tempat itu.

Dan buku termasuk barang yang paling primer. Omi pastilah sibuk sekali setiap pindah kontrakan akan membawa banyak buku.

Saya juga pernah mengalami kesibukan macam itu. Dan bertambah sibuk saya karena satu-satunya kendaraan yang saya punyai adalah sepeda. Dan untuk memindahkan ratusan buku, saya harus bolak-balik belasan kali dengan kardus yang ditaruh disadel.

Saya ngotot–barangkali juga para pencinta buku lainnya–untuk memindahkan semua buku itu karena keinginan untuk selalu dekat dengan fisik buku.

Dan itu tak kan terlampau kompleks bila bedol buku itu hanya dalam kota. Bagaimana dengan antar kota. Atau bahkan antar pulau. Bagaimana pula bila bukan hanya ratusan jumlah buku, tapi ribuan.

Pastilah itu repot sekali. Bagi orang keras kepala seperti Mohammad Hatta, yang memindahkan berpeti-peti bukunya ke Digul, pastilah itu sudah ia masukkan dalam kerangka sadar sebagai sebuah risiko.

Namun bagi mereka yang malas, mungkin buku itu diloak saja atau dibagi gratis ke teman-temannya. Atau dititip kepada teman yang dipercayakan.

Tapi setiap buku adalah jodoh. Tak ada pertemanan dalam dunia buku. Maksudnya, besar kemungkinan buku yang Anda titipkan kepada teman akan hilang jika memang jatuhnya jodoh tak tepat. Bahkan teman yang paling dipercaya sekalipun.

Saya kira, ini unsur tak bagusnya jika mengontrak. Kecuali bila Anda bisa membangun rumah sendiri di tiap-tiap kota yang menurut Anda penting.

Tapi itu tentu saja bukan watak kontraktor sejati. Bukan seorang pengelana. (Kan Panembahan)

Tim Penulis Seabad Pers Kebangsaan

Mereka bekerja dengan semangat anak muda zaman pergerakan. Hari ini mereka melihat, melakukan interview, lalu mencatat. Esoknya demikian juga. Kerja dibagi. Ada yang jadi pemberi kertas penugasan. Ada yang mengetuk satu pintu demi pintu tokoh-tokoh pers yang masih menghela napas. Ada yang menjadi “tamu2 khusus” Perpustakaan Nasional. Ada yg senantiasa menenteng kamera mencari sampul2 koran tua. Ada juga yg jadi editor dan duduk di belakang meja mengumpulkan hasil kerja lalu menyuntingnya; yang layak dipisah, yang ‘katrok’ masuk kotak. Tentu ada pencari frontpage2 koran2 terbaik dunia sebagai tampilan akhir semua hasil kerja. Pada akhirnya ada yang terus memasok gagasan sambil mencari secara mandiri persekot untuk memperlancar nadi semua rangkaian kerja. Kerja udah selesai dua tahun lalu. Untuk mengenangnya, ditampilkan kembali sosok mereka:

Zen Rachmat Sugito, editor seabad kebangkitan nasional, khususnya tokoh2 pergerakan. Termasuk di sini adalah seratus tokoh pers Indonesia.

Foto di samping (dari kiri ke kanan): Iswara, Narno, Agung DH, Hajar Nur, Rhoma Dwi, Reni Nur, dan Tunggul T. Mereka adalah sejarawan2 muda dari Jogja. Ada yang sudah lulus, ada yang masih berlabel mahasiswa. Mereka adalah para periset untuk koran2 tua.

Depan (duduk): Zen Rachmat Sugito, berdiri dari kiri ke kanan: Narno, Iswara, Tunggul, Rilla. Rilla Nug yang baru saja balik dari London khusus menulis biografi tokoh2 pers Indonesia.

Usman Iskandar alias The Legend of Paimo alias Paim Klimaks (tak puas uang kembali) adalah fotografer. Pernah di majalah Tempo dan Koran Tempo dan sekarang hilir mudik antara Veteran I Jakpus dan Kedoya (Media Indonesia). Wajah boleh seperti ustadz, tapi akhlak, o o o tak tegalah kami menyebutkannya…

Agung DH (yg merem) dan Pandu Lazuardy (buka mulut). Nama yg terakhir adalah rolling stoner dari banjarnagara. Desainer dan penggubah isi artikel biografi 365 koran klasik Indonesia ke dalam frontpage terbaik koran dan majalah kontemporer seluruh dunia.

Kiri ke kanan: Reni, Agung DH, Rhoma Dwi: Sedang berpose di perpustakaan Pramoedya Ananta Toer. Agung menghadap mesin tik yg biasa dipakai Pram. Kedatangan ke rumah Pram untuk mencari arsip Soenda Berita (1903-1904), Hindia Poetra (1919), dan Pantja Warna (19…).

Ke mana wajah lainnya? Hiks. (GM)

Srikandi Blog Buku: Sembahyang Buku si Anak Rel

Oleh Muhidin M Dahlan

Saya menyeret Ferina Permatasari—lahir 4 Feb 1977—di sebuah tikungan rel yang berkilat karena tiap lima menit digosok roda besi dan memintanya meletakkan telinga kanan di bantalan rel sebelah kanan. Lalu ia merunduk perlahan dengan lutut memacak di tanah yang kasar. Dari jauh, sejarah silamnya memanggil-manggil kenangannya. Kenangan itu tersusun tak putus-putus di palung kesadaran seperti ikatan batang-batang beton yang menyanggah besi panjang lintasan kereta yang bergerak melingkari kota.

Di bantalan rel, kereta listrik menderum cepat seperti buku yang dibaca dengan setengah berteriak dari mulut seorang anak kecil mungil yang senang dengan warna pastel. Ia belajar mengeja huruf dalam buku cerita dengan lafadz harus keras karena suara roda kereta yang memukul keras di persendian rel.

Ferina adalah anak kecil yang menghidupi bisingnya kereta dengan buku. Dihabiskannya waktu sekolah SMA 37-nya yang bersisian garis rel. Dara Palembang superasli ini (bapak Palembang, ibu Palembang) memang tak lalu jadi masinis atau srikandi-srikandi kereta. Ia menjadi srikandi buku yang dengan jalan memutar coba menghidmati ilmu akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sebagaimana Dumaria Pohan di Medan dan H Tanzil di Bandung. (Siapa keduanya, Fer? Temanmu juga?)

Dia, hari itu, ingin menunjukkan saya sejarah bagaimana buku-buku itu masuk di lemari bukunya. Lemari buku itu berwarna, dan dikait atasnya tertulis alamat: http://lemari-buku-ku.blogspot.com. Namun saya menampik dan bilang: saya sedang lapar dan atap Jakarta mempercepat rasa haus saya. Dia bilang sebentar lagi nyampe di rumahnya di Depok sambil matanya sibuk mengincar spanduk-spanduk kusam warung semipermanen terdekat. Dia memilih warung mie ayam. Katanya kalau makan di luar, ia lebih memilih mie apa saja. Mie instan juga boleh. “Saya juga suka bubur ayam. Favorit saya sih bubur ayam di Cipanas, tapi sekarang udah menurun kualitasnya, dan beralih ke bubur ayam Barito atau di Panglima Polim,” katanya sambil tersenyum melihat saya sedang belepotan memegang sumpit yang tak sanggup mengait mie yang berasap itu.

Diletakannya sebiji buku yang tak terlalu tebal. Katanya, kebiasaan membawa buku ke mana-mana itu sudah melekat sejak kecil. Bahkan untuk sarapan pagi ia menyertakan buku. Lantaran lama mencari buku sebelum sarapan dia pun kerap kesiangan dan terlambat sekolah. Lalu, kebiasaan itu kian merajalela saat memasuki usia bisa cari uang sendiri. Apalagi jalan tol di Jakarta sudah langganan macet. Dan sekarang bukan cuma ke kantor saja bawa buku, tapi ke mana saja. Apalagi kalau penasaran sama isi buku itu dan dia terpancing habis-habisan ingin menyelesaikan cerita dalam buku itu. Buku juga berguna sekali kalau lagi menunggu dokter. Buku setebal The Historian karya Elizabeth Kostova menjadi salah satu buku penunggu dokter. Si gemuk atau si kurus, tak pandang bulu, dia sambar untuk jadi teman jalannya.

Di atas meja warung bakmi ini si kurus yang kena giliran jadi satpam jalannya. Dan tentu saja saya.

Seusai dia membuka dompet dan mengeluarkan selembar jeroan birunya, kami berlalu. Dan sepanjang jalan menuju rumahnya dan keinginan memasuki lemari bukunya, dia berkisah soal lain tentang apa yang sudah dia kerjakan selama ini.

“Pertama kali kerja waktu kuliah semester akhir, judulnya sih magang, di salah satu kantor akuntan, tapi hanya bertahan 2 bulan aja. Alasannya karena ya… waktu itu ortu masih ngelarang anak gadisnya pulang di atas jam 12 malem, kerja setiap weekend (takut gak punya social life, kali ya…)… tapi, ada untungnya nih magang di sini, soalnya sempet ikutan audit ke Medan… kalo gak, sampai sekarang belum tentu udah liat Danau Toba. Nah, setelah lulus kuliah tahun 2000, langsung dapet panggilan kerja di salah satu perusahaan internet travel. Sebelum bom Bali pertama, bisnis di kantor ini lumayan lancar… tapi, gara-gara bom itu, kena efek juga berupa pengurangan gaji karyawan.. hiks… Dan dari tahun 2003 sampai sekarang, kerja di konsultan hukum. Sering dikira salah satu pengacara setiap kenalan sama orang, jadi harus pake tambahan… “Bukan lawyernya, tapi di bagian accounting.”

Sebelum mulutnya nerocos lagi, saya langsung nyambar posisi: “Dan buku Beijing Doll itu?”

“O, itu kerja sambilan…, buku terbitan Banana Publishing. Itu satu-satunya buku yang pernah diterjemahin (sampai sekarang).”

Dia beristirahat sejenak di ujung gang. Menghirup beberapa kubik udara lalu menghembuskannya. Di dahinya membintik beberapa butir air kotor dari pori yang dilumut debu. “Sorri. Nggak boleh terlalu capek. Aku lagi hamil nih,” katanya lirih. Dia memang belum lama ini menikah dengan Allen Ardinal. Tapi anehnya dia memanggil suaminya itu dengan: Bagus. Sepotong nama yang mengingatkan saya pada Den Baguse di buku puisi liris Linus Suryadi, Pariyem.

“Itu rumahku!” tunjuknya. Rumah yang ditunjuknya itu rumah dengan cat biru langit cerah dan disapu ungu muda. Di depannya mengonggok burung gemuk berparuh raksasa entah bernama apa. Saking raksasanya, burung itu memikul kabel listrik yang melintasi pepadi yang membentuk samudera kuning.

Tentu di dalam rumah itu lemari bukunya bersandar rapat di dinding-dinding. Namun katanya, rumahnya itulah lemari bukunya. Di situ, bukan cuma rumah berpatung itu yang ada, tapi beberapa rumah serupa. Saya menduga bahwa kawasan ini adalah deretan perumahan dengan warna-warna Andy Warhol, si raja warna pop itu. Dia hanya tersenyum kecil melihat saya yang masih terbingung-bingung di depan pintu.

“Itu semua rumahku!” katanya pendek.

Tersedaklah saya saat itu juga lantaran kaget dengan siapa saya berhadapan. Saya kemudian jadi awas kepada siapa saya sedang berbincang dan berjalan. Dia tentu bukan orang sembarang. Dia bilang pengetahuannya untuk membangun rumah-rumah maya yang asri dan penuh “nuansa” itu diperolehnya dari sejak kuliah. Namun buru-buru dia menambahkan bahwa saat itu dia belum maniak. Barulah dia intensif berhadapan dengan ilmu gaib internet itu sewaktu kerja di perusahaan internet travel.

Alasan dia, di setiap komputer ada fasilitas internetnya. Menurut saya dia adalah salah satu spesies yang mencari kerja dengan mempersyaratkan bahwa kantor itu harus berinternet. Sewaktu diterima pertama kali bekerja konsultan hukum, dia tak kebagian jatah internet karena dianggap sebagai ‘anak bawang’. Lantas itu membuatnya “mati gaya” kalo lagi disangsai rasa bosan mematikan alias ngantuk alias… Sebab hanya internet yang menjadi alat revolusinya untuk membunuh waktu-waktu usangnya; terutama chatting dan bergabung dengan milis. Dia tentu bukan lagi gadis kecil di pinggiran rel yang melafadz buku dengan suara keras lantaran dia sudah bergabung dengan komunitas-komunitas di milis. Milis pasar buku adalah milis pertama dia bergabung. “Dan dari sinilah cikal bakal aku mulai menjadi ‘kutubukugila’. Apalagi milis yang kuikuti sudah ketambahan milis kutubukugila setelah qanita dan klub sastra bentang.”

Dan apa boleh buat, nama besar itu pun disebutkannya juga akhirnya. H TANZIL (mesti saya tulis dengan huruf kapital agar selalu diberkati dan dijauhkan dari asap), “… adalah orang yang paling ‘berpengaruh’ buat aku dalam hal tulis-menulis review buku. Dari beliau aku kenal milis resensi buku, yang membuat aku memberanikan diri mengirim resensi sederhanaku ke milis itu. Sekalian latihan nulis, deh…,” katanya lirih dengan mata tak berkaca-kaca. Hiks.

Tapi, bukan saja dia jadi orang gila di milis orang gila buku, tapi malaikat cintanya pun hinggap di hatinya juga lewat du
nia gaib ini. Ya, si Den Baguse itu…..

***
Seusai mencuci muka yang baru saja disetrika oleh debu jahanam Depok, dia lantas menuju sofa favoritnya yang lembut. Di sisiannya ada beberapa buku bergeletak di sana. Dan memang lemari bukunya banyak dihuni oleh jenis buku-buku fantasi semisal serial Harry Potter atau Lord of the Rings. Lalu buku anak-anak seperti buku-buku Roald Dahl. Komik seperti Asterix dan Smurf. Kalau yang agak serius, mungkin sedikit berbau thriller seperti buku-bukunya James Patterson, Agatha Christie. Dia suka buku jenis ini, karena dia rupanya butuh yang namanya ‘sport jantung’.

Dia rebahan dengan tangan meraih sebuah buku bersampul merah. Sementara saya masih di gigir jendela dari kaca yang setengah terbuka sambil mengintai rumah-rumah yang lain di kawasan warna-warna cerah ini. Saya menghitung ada empat rumah-rumah cerah di sini. Dan semua itu milik mantan anak rel ini. Saya ingin bertanya siapa tahu rumah-rumah itu menegak dengan menyandang nama. Mata saya hanya memincing pelan ke arahnya karena tak mau mengganggunya yang sedang suntuk membacai Perempuan Terluka karya Qaishra Shahraz.

“Kamu ingin menanyai rumah-rumah itu kan?”

O o o, gumam saya ber o o o sampai tiga kali dalam hati. Pedalamannya tajam juga membacai pedalaman saya. Matanya masih tetap mengiris baris-baris buku sementara mulutnya menunjuk-nunjuk lincah rumah-rumah itu. Saya mengikuti pertunjukannya dengan mata yang berpindah dari satu rumah ke rumah lain, sementara matanya hanya berkilat-kilat di halaman buku.

“Ke empat rumah itu masih ‘dimaintain’ dengan intensif’. Rumah yang di sana dan pertama kali kubuat di kawasan ini namanya http://justanotherstories.blogspot.com. Itu rumah berantakan sekali. Pendeknya seisinya tentang barang sehari-hari dipakai. Kalo ada kejadian menarik buat dikeluhkan dan sekaligus ditulis… ya, kumasukkan di rumah ini. Di situ aku nggak bisa masuk dalam baris-baris buku karena terlalu ramai. Rumah ini kubuat untuk sebuah fantasi dan aku di sini pun belum terlalu lama; sekira Januari 2007. Dan kutuliskan fantasi itu sebagai resensi. Tapi upss, apa pantes ya kalo disebut resensi, karena rasanya sampai sekarang aku masih ‘menulis ulang’ ringkasan buku yang aku baca, hanya paling satu paragraf pendek yang nulis tentang pendapat untuk buku yang aku baca itu.

“Lain lagi rumah yang itu tuh, di depan agak serong ke kanan. Itu teater kecil kalau aku bosen dengan hidup. Namanya http://its-time-for-movie.blogspot.com. Intinya sama dengan rumah bukuku ini, tapi di sana isinya ‘tulisan ulang’ film-film yang kutonton. Biasanya, tiap weekend aku selalu nyempetin untuk nonton film.”

“Nah yang diujung sana itu namanya
http://f3r1na.multiply.com. Sebetulnya nggak pantes disebut rumah. Gardu mungkin lebih pas. Para tamuku, terutama laki-laki kutu buku gila, saya suruh nginep di sana. Isinya ya seperti para peronda yang sedang berkumpul di gardu. Gobal gabul, ngalor-ngidul. Isinya mlulu komentar singkat, atau kutipan singkat kalimat di buku yang kubaca atau film yang kutonton. Gardu itu hanya menampung segala macam keisengan walaupun saya pikir-pikir cukup seru juga….

Dia meletakkan kacamata mungilnya dan mengambil kacamata yang lain. Saya mengambil posisi agak ke samping. Tetap saja jauh darinya. Dia menukar kacamata itu dengan lebih tebal dengan gagang hitam yang besar. Konon, kacamata menunjukan kerakusan dan kerasukan dengan buku. Makanya, kacamata model yang dipakai Kuntowijoyo atau Soedjatmoko atau Soemitro menunjukan identitas intelektual yang menjadi pemamah buku yang lahap.

Tapi dia baca novel. Lalu tertawa. Awas, dia sedang kerakusan…. eh kerasukan! Dia tertawa lagi. Nyengir. Rupanya dia sudah berganti buku. Cepat amat. Dia sedang bersekutu dengan Keluarga Flood karya Collin Thompson.

Dalam sekejap dia sudah terbahak-bahak. Lalu setelah itu seperti meringis membayangkan hubungan keluarga Flood dengan keluarga Dent. Kemudian dia kembali mematung. Ada serombongan mahasiswa lewat di halaman rumah. Menggoyang-goyang tubuh burung raksasa di atap rumah. Nggak ngaruh. Burung itu tetap saja tegak. Lalu mahasiswa-mahasiswa itu lenyap di balik awan. Ada yang memanggil-manggil di luar rumah. Saya mengintipnya. Tampaknya penjaja sayur. Tapi Ferin sudah terlelap dalam tidurnya di rembang senja itu.

Malamnya dia bangun dan khusyuk menghadapi dengan intim berhala ciptaan Bill Gates. Suara ketukan jarinya lirih bukan lantaran malam hanya berteman bulan kuburan, tapi karena dia memang tak terlatih untuk mengetik cepat 250 huruf per menit. Dia menarik napas beberapa teguk. Malam itu dia bernazar untuk menyelesaikan dua buku sekaligusnya.

Rajinnya dia bangun malam lantaran janji pada dirinya sendiri agar selalu menuliskan apa yang sudah dibacanya dan setiap pekan sekali dia menyiarkan apa yang dibacanya kepada teman-temannya sesama penggila buku. Namun dia mengelak. Katanya pernah dalam dua minggu lemari bukunya tak disentuh. Makanya dia bersiasat, biar agak teratur, kalau lagi baca buku tebal, dia akan menyelinginya dengan buku yang lebih tipis. Biar lemari bukunya tetap mengepul dan berasap.

Dia juga menyinggung soal penulisan malam itu. Seturut tuturannya, dahulu sekali, ketika mau membuat resensi buku biasanya dia terlebih dulu nulis di buku catatan baru kemudian di ketik di komputer. Waktu berjalan, metode bergeser. Dia hanya mencatat nama-nama tokoh dan kejadian-kejadian penting dalam buku itu, lalu dikembangkan di komputer. Dan sekarang metode berubah karena rasanya lebih praktis dan cepat kalau dia langsung nulis di komputer. Sekali kerja sudah itu beres. Seperti halnya dia membereskan televisi yang beberapa waktu silam sudah dia kubur di gudang belakang karena dia tak bisa memanjatkan doa khusyuk ke hadirat buku yang maha kuasa jika ditemani suara berisik yang bersumber dari kotak sihir ajaib abad 20 itu.

Dia juga merasa bahwa dia lebih cepat dalam menulis resensi buku. Kadang 30 menit. Kalau yang lama biasanya sampai satu jam bersih dengan poles bedak gincu sekaligus kutes kukunya. Justru membaca yang lama. Apalagi buku-buku yang berpotensi jadi buku mogok dengan ketebalan yang kubikis. Mau tahu buku apa itu? Buku kumpulan cerpen atau kumpulan tulisan seperti bukunya Sigit Susanto yang berjudul Menyusuri Lorong-Lorong Dunia. “Kaya’nya bingung aja mau ngambil ‘intisari’nya.”

Namun ada juga buku yang bukan hanya dia lama membuat resensinya, tapi sekaligus menghindarinya. Yakni buku jenis horor. Misalnya, Gadis Icarus yang ditinggalkannya begitu saja karena merasa tak nyaman bacanya meskipun baru halaman-halaman awal. Bahkan Sihir Perempuan, yang entah kenapa dia beli, diabaikannya begitu saja lantaran dia deg-degan baca sinopsis di sampul belakang. Dia juga bingung apakah ketaksukaannya dengan fiksi horor karena trauma atau senyawa dengan rasa takut dengan gelap. Selalu dia merasa ada sosok yang melayang-layang dan berwajah seram. Dia lebih bisa sedikit menerima buku jenis thriller yang ‘berdarah-darah’.

Di antara jeda antara menulis resensi satu buku dengan buku lainnya, suaminya, Den Baguse, muncul dan mengecup keningnya. Wajahnya perlahan kembali dialiri darah. Dia tersenyum dan berucap terimakasih. Suaminya berlalu dari balik pintu. Sementara saya sudah terlempar di rumah gardunya dan tertawa-tawa bersama angin, penggorengan bolong, aspal, bau selokan yang anyir, serta nyamuk sebesar kelinging yang selalu menyanyi lagu-lagu buruk Rindu Pada-mu darah.

Saya melihatnya berada di garis jendela te
mpat saya sesiang tadi menerawang keluar. Dipikirannya melintas saat-saat menjadi siswa Sekolah Dasar Tebet Timur 19 dan membaca Lima Sekawan. Dia selalu terbayang kalau mereka lagi piknik dengan sandwich dan limun-nya. Lalu dia tersenyum kecil membayangkan suasana di asrama Malory Towers bersama St. Claire dan si Badung di buku cerita Malory Towers. Apalagi acara mengendap-endap pas acara pesta tengah malam.

Dia juga seperti tak mau ketinggalan selera kolektif juga mencintai Donald Bebek yang disikatnya dari Om-nya yang kebetulan langganan majalah itu. Gara-gara Donald Bebek ini dirinya pertama kali kenal kata ‘egois’. Korbannya siapa lagi kalau bukan Om-nya sendiri. Senjata ditusuk ke tuannya. Kira-kira begitulah. Bolak-balik dia mengatakan bahwa si Om ‘egois’ sampai si Om sebel dan nanya, “Tau gak sih artinya egois?”

Tak lupa bahwa dia pernah menjadi pelanggan majalah Bobo. Favoritnya serial Pak Janggut. Pernah juga ia tergila-gila sama Asterix dan Smurf. Sampai-sampai pernah berkhayal kalo Smurf itu ada dan ingin sekali ke perkampungan Smurf. Gara-gara Smurf juga, dulu pernah ada permen rasa sarsaparila dan minuman rasa sarsaparila yang jadi permen dan minuman favorit.

Waktu di SMP Negeri 115, Tebet, minat bacanya sedikit merosot. Bacaannya palingan hanya majalah Gadis yang hanya boleh dibeli setiap hari Sabtu sama bapak-ibu. Dia juga sudah mulai pacaran dan lebih sering nulis surat cinta ketimbang baca buku, dan lebih suka dengan musik metal ketimbang membaca.

Sewaktu di SMA Negeri 37 Kebon Baru, dia kembali diserang komik di sebuah kurun ketika teman-temannya lagi dirasuki penyakit kuning baca komik Jepang. Yang paling dia ingat tentu saja komik Candy-Candy dan Kung Fu Boy. Dia ngelak kalau disebut fans berat komik Jepang, walau dia sempat juga tersihir godaan maut mengoleksi serial Kung Fu Boy, Legenda Naga, dan beberapa lainnya. Tapi tak berlanjut. Dia malas menunggu sambungannya yang biasa lambat terbit.

Di gardu itu, saya melihat suaminya menutup pintu pagar. Beberapa benda di gardu itu pamit satu per satu. Yang tertinggal hanya nyamuk dan dan bau selokan yang selalu menggoda saya. Beberapa kali saya bermain petak umpet dengan nyamuk yang menyelinap hingga ke lemari bukunya. Dan saya langsung mendengar kata makian. Nyamuk mati. Dan tinggallah saya sendiri. Mata tak terpejam dan terpojok di papan pengumuman jadwal ronda. Di atas tripleks warna gelap itu tertempel dua kertas. Rupanya tulisan tangannya.

PAMFLET A: “Banyak manfaat dari membaca tulisan orang lain tentang buku yang mereka baca. Paling gak, kita bisa memilih mana nih buku yang cocok buat kita, mana buku yang kira-kira ‘penting’ gak sih buat dibeli atau dibaca, mana buku yang ‘heboh’ tapi ternyata biasa-biasa aja. Mana buku yang seru dan mana buku yang gak menarik. Moga-moga sih, dari menuliskan apa yang kita baca dan bagi ke orang, kita bisa membantu mereka seperti kita merasa terbantu dengan tulisan orang lain.”

PAMFLET B: “Kita biasanya mikir, apa sih gunanya ngeblog… tapi, ternyata ngeblog punya keasyikan sendiri yang bikin kita kecanduan. Kalo weekend gak liat blog sendiri atau orang lain, rasanya suka ada yang kurang. Ngutak-atik blog juga kadang jadi keasyikan tersendiri, ya… paling nggak bikin refreshing-lah….Salah satu gunanya ngeblog-terutama ngeblog buku—selain seperti disebutin di atas, menambah teman di dunia maya dan informasi perbukuan….”

Belum selesai saya membacai kalimat terakhir PAMFLET B, ada tangan yang merabai pundakku yang membuat mata kaki saya mendelik ketakutan dan jantung saya hampir terjun bebas lantaran masih teringat dengan film Sembahyang Buku

Hari kedua dari jadwal dua hari berkunjung kepadanya kembali dimulai. Daftar agenda yang sudah kususun akhirnya kutelan kembali karena dia mengajak saya ke toko buku yang sering dikunjunginya. Menurutnya ada dua tempatnya untuk beli buku: langsung ke toko buku atau beli online. Kalau online, bisa lewat inibuku.com atau bukukita.com, atau beli lewat orang-orang yang menawarkan buku-buku bekas.

Kalau beli langsung, maka toko buku favoritnya di Gramedia Pondok Indah Mall atau di Kinokuniya Plaza Senayan. Dia bahagia betul sewaktu ada rezeki jalan-jalan ke Singapura dan berjumpa toko buku Borders. Di situ serasa dia tak mau lagi kembali ke Depok dan ingin memborong semua buku di sana.

Jadwal pagi itu sudah ditentukan: Gramedia Pondok Indah Mall. Dia kerap belanja di sini. Alasannya klasik: tempatnya luas, buku-bukunya banyak, mau yang baru atau yang lama. Kalau dia ke Kinokuniya Plaza Senayan, alasannya karena tempatnya nyaman. Walau tak bawa buku pulang, melototi saja sudah puas.

Seperti pertemuan kemarin, selama perjalanan itu dan saat berkeliling di dalam istana pasar buku yang riuh, dia bercerita tentang kegiatannya selama ini bersembahyang buku di toko-toko. Biasanya, langkah awal yang dia lakukan adalah menyusuri semua rak, seperti menghitung saf barisan prajurit buku dari depan sampai belakang. Sebagaimana kutu buku lainnya, sudah sangat dia hapal kalau di depan pasti buku terbaru yang masih dalam tahap promosi atau buku terlaris. Lalu dia rayapi satu per satu rak itu. Dimulai dari buku sastra seperti novel sampai buku anak-anak.

Setelah rukun sembahyang pertama itu ditegakkannya, dia mulai yang lebih serius dan biasanya berlama-lama di rak buku incarannya. Kalau sudah tahu yang diinginkan, tanpa panjang nalar, buku itu akan berpindah ke keranjang dengan tak lupa memeriksa kemulusan fisiknya. Tak boleh ada ketekuk sedikit pun, pinggiran buku harus mulus, sampul harus mulus, bahkan plastik pembungkusnya pun tak boleh ada yang sobek. Lima menit dibutuhkannya untuk membolak-balik mencari-cari cacat di buku itu. Sekecil apa pun. Meski dia rela merayapinya sampai ke tumpukan paling bawah, atau susunan buku paling belakang.

Kalau misalnya buku incarannya tak ada, dia akan kembali ke rukun yang pertama: meneliti secara khidmat tumpukan buku terbaru. Yang paling menarik perhatian, tentunya, kalau judulnya langsung membikinnya “terpana” dan membuatnya khasyf atau melayang-layang tak sadarkan diri. Apalagi kalau itu buku favoritnya dengan sampul yang menggoda. Kalau sudah menyodok hati dan hati terbuka, buku itu pun masuk keranjang.

Kerap da
lam sembahyang itu ada sampai lima buku yang masuk ke keranjang. Tapi tak semuanya dia tukar di kasir. Makanya dalam keranjang itu, buku-buku itu saling menyikut berebut perhatian untuk masuk tiga besar yang masuk lemari bukunya di Depok. Sebelum masuk lemari buku pun, buku-buku yang berhasil memenangi perhatian itu mula-mula plastiknya dikoyak, lalu dia hirup uar aroma kertasnya, diambilnya sampul plastik, dan dibubuhinya tanggal dan tandatangan.

Kerap pula kekecewaan datang. Buku itu sudah lolos dari meja kasir. Namun ketika tiba masa penggayangan total di sofa bedah yang lembut, ternyata hanya heboh di sampul belakang ketimbang cerita yang sebenarnya. Kalau sudah begini, buku itu akan menjadi raja-raja mogok seumur hidup.

Selain hal-hal yang sudah disebutkan di atas, soal mood menjadi salah satu hal yang mempengaruhinya dalam sembahyang buku. Dia mencontohkan keragu-raguannya atas godaan setan yang tak dirantai oleh Tuhan sewaktu mau beli buku OUT. Buku karangan Natsuo Kirino ini sudah pernah masuk keranjang, tapi dia batalkan karena katanya secara mental belum siap. Lalu esoknya di kantor, ketika cermin hatinya suci berseri, jari-jarinya asyik menggerak-gerakkan mouse dan meng-klak-klik menu-menu di sebuah situs belanja online. Lalu OUT pun dengan mudah masuk ke lemari bukunya.

Nah, sekarang ini dia sedang menunjukkan pola sembahyang bukunya kalau berada di jalur gaib alias online. Dia bilang belanja amalan gaib atau online ini bisa bikin kalap, sebagaimana kekalapan para Muslim saat tahajud malam. Sebab begitu mata terpacak pada buku baru yang ‘terpajang’ di sana, pikirannya langsung membisik: “Wah, harus segera punya.” Apa lagi tergoda rabat, meski itu ‘hanya’ 15 %. Ada lagi ketakjuban dari sembahyang online ini. Yakni saat menanti pengiriman yang memakan waktu sampai dua tiga hari. Ada greget ingin cepat-cepat melihat buku baru hasil ‘jarahan’ di situs online.

HARI SENIN DATANG KEMBALI. Bagi orang kantoran, hari Senin adalah hari buruk karena memutus rantai kesenangan yang pendek umur. Tapi seperti biasanya, dia sudah datang pagi-pagi ke kantor. Bukan karena gila kerja, tapi pagi yang masih sepi itu digunakannya untuk membuka semua katup email, menatap dan meratapi blog-blognya, dan mengintip blog-blog teman-temannya.

Tak ada jejak komentar atau pesan di rumahnya di hari yang cerah itu. Kecuali secarik kertas yang ditulisnya dengan pelan tentang ibunya, Halyanani Djuwita:

“Mungkin kalo lagi pacaran, kita akan bilang tentang pasangan kita, ‘Aku gak bisa hidup tanpa dirinya.’ Mungkin seperti itulah arti Ibu secara keseluruhan buat aku, aku gak akan pernah bisa ngebayangin, kalau dalam hidupku gak ada Mama. Ibu… bingung kalo disuruh gambarin artinya… tapi, yang pasti… di saat ini, aku lagi hamil.. .tiba-tiba aku merasa, aku pengen kaya’ mama… Mama yang meskipun keras… tapi tough.. tabah dan mendampingi papa dalam saat senang maupun susah. Mama, yang meskipun kadang susah diajak sebagai teman curhat, tapi tetap bisa sebagai teman gosip atau teman jalan-jalan. Mama, yang meskipun sakit, tapi gak pernah ngeluh atau nunjukkin kalau beliau lagi sakit. Mama orangnya tegas, tapi juga sangat perhatian sama anak-anaknya. Sekarang, kalo mama lagi pergi ke luar kota, baru berasa… kalo gak ada mama, semua jadi kelimpungan.. meskipun anak-anaknya udah pada besar.”

Sebagai uang tiket pulang ke Jogja, dia serahi saya lima lembar kertas berharga. Masing-masing dari kelimanya tertulis buku-buku yang paling tidak sampai saat ini mengubah hidupnya. Sebab sudah menjadi kebiasaan saya setiap hendak pulang selalu meminta dan memaksa para tuan rumah menyiapkan lima kertas jimat ini agar saya pulang selamat sampai di Jogja. Dan inilah kelima buku yang mengubah hidupnya:

(1) SMURF: aku akan selalu menjadikan smurf sebagai buku/komik yang paling berkesan dalam hidupku.

(2) MALORY TOWERS: sudah kusebutkan di kisah sebelumnya. Terutama keingananku hidup di asrama yang seru.

(3) DI TEPI SUNGAI PIEDRA, AKU DUDUK DAN MENANGIS: ini buku pertama Paulo Coelho yang sanggup aku baca sampai habis, dan lumayan bisa dimengerti. Cerita ini aku baca ketika aku sedang dalam masa-masa gundah dalam hubunganku dengan calon suami (waktu itu), dan, aku cukup mendapat ‘pencerahan’ setelah baca buku ini.

(4) PERPUSTAKAAN BIBBI BOKKEN: pengen rasanya punya perpustakaan seperti Bibbi Bokken yang ditulis Jostein Gaarder itu.

(5) THE KITE RUNNER: hanya satu alasannya, karena kalimat Khaled Hosseini ini, “…. untukmu keseribu kalinya…”

Srikandi Blog Buku: Perkenalkan, Saya Endah Sulwesi!

Oleh Muhidin M Dahlan

Bukan karena di ujung namanya terpacak kata “Sulwesi” saya menulis tentang dia. “Sulwesi” dengan pakai “u” adalah kepulauan yang membesarkan raga awal saya. Dia bukan dari “Sulwesi” dengan pakai “u” atau dari “Solo”. Dia sudah 39 tahun menarik napas di Jakarta yang sudah jadi kampung besar tak senonoh dan kian urakan ini. Tapi saya tak tahu dia di Jakarta mana pastinya. Sebab saya tak bertanya tentang alamat. Dan memang apa gunanya saya bertanya tentang alamat rumah, jika dia lebih senang dikunjungi di alamatnya yang lebih anggun sekaligus semarak.

Dia berumah di blog. Di rumah itu dia bercerita tentang banyak hal, bertanya tentang banyak soal, mengeluh dengan kegilaan kota, dan mengabarkan apa yang baru saja dibacanya, serta menyapa siapa pun yang singgah. Rumah itu dinamainya Perca (www.perca.blogdrive.com).

Perca berarti kain sisa. Perca berarti kain sisa guntingan yang itu adalah ampas. Dan dia mencoba bertindak sebagai pengumpul sebagai pengais kain yang tercecer itu, kain ampas itu. Ah, saya jadi ingat pakaian compang-camping bertambal kain aneka warna kelompok Dewa Pengemis bertongkat dengan nekara yang selalu di telapak dalam film-fim Cina.

“Perca” bisa juga adalah kerendahatian. Dia selalu mengaca diri bahwa dia tak bisa menulis seumpama kemampuan mereka yang menulis di koran dan majalah-majalah yang lincah-lincah, yang prigel-prigel, yang cergas-cergas, yang gurih-gurih, dan yang sangat serius dengan intonasi bahasa yang sangat teratur dan pencecapan tinggi seperti ingin memberitahu para pujangga agung sebelumnya agar segera turun panggung karena para pengganti sudah siap memacak diri dan menepuk dada.

Pada banyak waktu, dia selalu mengibakan untuk belajar menulis kepada siapa saja yang dia temui. Juga kepada saya. Saya mengelak, tapi dia merajuk. Seperti “Perca”, dia memang selalu mengambil posisi berada di pinggir kain yang pasti dilewati lidah gunting. Dia tak ingin menjadi pusat yang “menerangkan” (me-kan). Biarlah dia menjadi yang “diterangkan” (di-kan).

Namun justru di sana, rumahnya menjadi pertemuan paling ramai para penggosip buku. Saya tahu cuma segelintir orang yang bersenda-senda dan bergurau-gurau di berandanya. Tapi intens dan tak bosan-bosannya. Mereka saling memamerkan buku-buku bacaannya, mengganti nama sekena-kenanya, dan membikin teka-teki. Pernah sepekan saya mengintip dalam diam prilaku-prilaku orang-orang yang nyaris kesurupan di beranda rumahnya.

Intensitas gosip itu didapatinya bukan secara instan. Beranda rumahnya menjadi sangat terbuka dan bersahabat, bukan terjadi hanya dalam waktu sekejap waktu sesore tadi. Ia mempersiapkan rumah itu sebagaimana ia mempersiapkan diri yang terus dirajami rasa sendiri; ke mana ia akan bercerita dan membagi kisah yang ia resapi dari buku-buku. Alasannya sangat sederhana, tapi di sana pula inti seorang pembaca yang terus berani bertahan dalam kutukan kesepian.

Dan dalam sepi yang mencucuk-cucuk itu pula, pada seputaran hari di tahun 2004, ia mengapling tanah, menanam struktur pondasi, dan mendirikan rumah. Tanahnya bernama blogdrive. Pondasinya bernama kecintaan pada buku dan keinginan kuat membagi kesukaan. Sementara rumahnya bernama buku.

Mula-mula, ia mengisi apa saja di blog ini. Apa saja furniture bahkan barang rongsokan yang dikirimi teman-temannya ditampungnya di rumah sederhananya itu. Ia memanggil-manggil kiriman. Dan kiriman-kiriman berdatangan. Tapi itu tak lama. Para pengirim barang mulai mengambil langkah mundur yang menandai bahwa pesta selamatan rumah barunya berakhir. Dan tertinggallah ia sendiri dengan sebuah kunci. Ia manggut-manggut. Tinggallah ia menjadi penulis tunggal di rumahnya. Jadilah ia ratu tanpa mahkota dan majikan tanpa pembantu di rumahnya.

Semuanya dikerjakannya sendiri. Mendaftar catatan belanja rutin dan berbelanja ke toko-toko buku. “Saya keluarkan setiap bulan dikisaran 100-200 ribu, Gus,” katanya kepada saya. Buku-buku itulah yang selalu menemaninya di tengah penat bus yang terseok di garis macet jika berangkat “merumput” di kebun teh. Maklum saja ia adalah karyawan kebun teh di bidang wisata agro.

Saya pernah membayangkan bahwa dia juga mau meresensi buku-buku tentang teh. Ah, gus jejen (www.pejalanjauh.blogspot.com) sudah dengan gagah ngomongin kopi di blognya, Dewi Lestari sudah dengan intens merasuki diri ke dalam genangan limbah kopi yang jelaga itu dalam sekuplet ceritanya. Tapi, Endah, kenapa tak kamu persembahkan juga kepada kami para pembenci kopi ini suguhan aroma teh. Teh apa sajalah. Bukankah tradisi minum teh sudah menjadi tradisi tua dalam sigi peradaban manusia.

Tapi saya menduga dia bukan penyuka buku-buku terbitan Trubus, sebab yang selalu mengiriminya buku-buku gratis memang bukan dari Trubus, tapi dari penerbit seperti Bentang Pustaka, Serambi, GPU, Qanita, dan Hikmah yang menerbitkan sastra. Rumahnya memang seperti rumah fiksi, sementara Trubus adalah memproduksi buku-buku yang membawa kita bergelut dengan lumpur dan berpeluh dengan butir keringat asin di bawah panggangan matahari.

Dia memang berhak mendapatkan kiriman buku gratis dari penerbit karena kerja diam-diamnya mendiskusikan buku-buku penerbit itu dalam rumah blog yang dipeliharanya dengan tekun. Dia terus menanam kecintaan setiap pekan di sana. “Dulu kadang dua kali seminggu saya ngaplud. Tapi sekarang setiap pekan saja,” katanya sambil ia malu-malu ketika saya tanyakan ke mana lagi dia menanam selain di rumahnya sendiri.

“Sudah berapa puluh kali kamu dimuat di koran?” tanya saya.

“Astaga!” dia melonjak seakan tak percaya. Saya juga kaget kenapa dia kaget.

Lalu dia berkisah bahwa dia rendah diri untuk menulis di koran. Menurutnya resensinya di rumah blognya itu hanya coretan-coretan ringan. Tercatat hanya tiga koran yang memuat tulisannya di usinya yang sudah 39 tahun ini: Riau Pos, Banjarmasin Pos, dan Koran Tempo. Dua koran pertama mengambil tulisannya di rumahnya (blog), sementara di Koran Tempo dia dihubungi Mas Dian Basuki untuk memuat resensinya.

“Kompas?” tanya saya. Lagi-lagi dia terbelalak. Dia seakan tak membayangkan resensinya yang dianggapnya cuma seperti kain perca itu melenggang maju ke ruang resensi Kompas yang djaga para cendekia berkain sutra itu.

Mungkin dia tak tahu atau memang diam saja bahwa dia dilirik banyak orang justru ketekunannya merawat rumahnya. Blog bisa juga dibilang seperti toko kelontong. Toko bisa memiliki pengunjung yang tiada henti jika terus dijaga, buka tutup tepat waktu, barang yang tak ada diadakan, dan kreatif serta terus-menerus melakukan apa yang disebut oleh master marketer Pak Hermawan Kertajaya dengan diferensiasi.

Ini buktinya: profilnya diliput oleh Koran Tempo edisi Desember 2005, Femina edisi 2006, dan Matabaca bulan April 2007. Dan keberadaan rumahnya menginspirasi seorang pendekar dan pelahap sekaligus pedagang pasar buku bernama H Tanzil membuat rumah serupa untuk menampung segumpal kegilaan atas buku. Dan beberapa orang lagi yang membuat hal yang sama di mana dulunya tak pernah terbayangkan olehnya sekira 3 tahun silam.

Dia memang nyonya rumah yang baik dan rajin. Dan yang tak lekang dari dirinya adalah dia tetap mencintai buku. Sudah 150 lebih buku yang diresensinya di rumah blognya dan masih banyak lagi buku yang menunggu dalam daftar belanja dengan macam-macam kategori: “Buku Harapan”, “Buku Mogok”, dan “Buku Tunggu”.

Tentu yang tak pernah bisa dia lupakan bahwa dia sadar bukulah yang mengubah hidupnya. Paling tidak ketika saya menanyai lima buku yang mempengaruhi hidupnya, dia dengan tangkas merinci.

(1) Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Di buku ini tak terlupa olehnya dengan sosok Minke dan keperkasaan Ontosoroh. Kalimat berat Ontosoroh ini salah satu yang dilafadzkannya kepada saya: “Minke, Nyo, ingatlah… lelaki yg menikahi perempuan hanya karena kecanti
kan dan hartanya, itu kriminal namanya. Dan perempuan yang menikahi lelaki krn ketampanan dan kekayaannya, itu pelacur namanya.
(2) Burung-burung Rantau karya YB Manunwijaya. Di buku ini ia lupa adegan apa yang paling menyentuh pedalamannya. “Apa ya? Pdhl aku membacanya dua kali tuh. O, yg aku ingat selama membaca buku itu aku mengidentifikasi diriku pd tokoh cewe tomboy di situ (siapa ya namanya) dan jatuh cinta pada Chandra, kakak lelaki di cewe ini.”
(3) Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di buku ini dia terpikat oleh gaya bercerita Tohari yang sederhana, membumi, dan pencatatan suasana alam desa yang detail. Kita seperti ikut mendengar desir angin atau gemericik air. Dan inilah adegan yang paling mengesaninya: bukak klambu.
(4) The Kite Runner karya Khaled Hosseini. Novel ini yang membikin matanya sembab di angkot membayangkan tentang persahabatan yang begitu rapat, bersetia, dan menyentuh.
(5) To Kill A Mockingbird karya Harper Lee. Novel klasik berkisah tentang seorang pengacara kulit putih yg membela negro. “Aku sangat terkesan dengan tokoh Atticus Finch.

Dia telah membuka diri buku apa yang telah dibacanya pas setelah satu kaki saya berayun di luar pertanda saya pamit pulang malam itu. Hari sudah sangat malam. Endah, salam selalu. Kamu adalah nyonya rumah yang baik. Kamu adalah Ontosoroh yang kamu kagumi; bertahan dalam waktu yang panjang dan melelahkan agar orang-orang mau mendirikan rumah-rumah blog buku.

“Ke mana kamu setelah ini, Gus?” tanyamu.

“Ke Medan. Ada seorang akuntan yang juga selalu bertapa dengan buku yang di kiri kanannya kantong-kantong belanja selalu terbuka satu kali duapuluh empat jam,” jawab saya. Saya pergi. Dia tetap berdiri di sana. Dan enggan menutup pintu bagi angin-angin yang mengantarnya keesokan hari berangkat ke kebun teh bersama satu-dua biji buku peneman dalam goyangan buskota yang membosankan.

Apa Susahnya Menerbitkan Buku Sendiri

Oleh Muhidin M Dahlan

Di suatu malam yang bingar, Puthut EA berceloteh panjang lebar. Puthut EA adalah seorang penulis fiksi masa depan asal Yogyakarta. Saya tak tahu, malam itu ia mabuk berat atau sedang kumat gilanya. Tawanya sungguh berderai-derai disertai dengan tubuh tambunnya yang bergerak dan perutnya yang bulat mengombak-ombak menahan tawa tergeli-geli. Beberapa kali harus berguling-guling di lantai berkarpet merah tua oleh sebab bahakan tawa yang tak tertahankan.

Dan malam itu ia sedang berceloteh tentang kematian penerbit.

“Sebentar lagi, mampuslah kalian para penerbit. Ini dia, Puthut EA, akan membuat sebuah naskah besar. Dan naskah itu akan saya terbitkan sendiri. Sampulnya saya kasih kawan membuatnya. Pemasaran saya serahkan semuanya kepada distributor dengan sistem Giro (Bilyet Giro-red). Tinggal nunggu empat bulan sampai dana cash cair. Nah, sambil nunggu itu saya mempersiapkan naskah baru.

“Dan mati konyol kalian penerbit, nggak dapat naskah. Akan saya umumkan semua ini kepada penulis-penulis Indonesia bahwa saatnya tidak menyerahkan naskahnya kepada penerbit. Ada cara yang jitu untuk menerbitkan sendiri karya. Tinggal buat naskah pracetak dan nggak usah direpotkan oleh distribusi dan royalti aman. Huahuahahahahahaha. Huahahahahahaha. Dan sebentar lagi penerbit akan kurus kering. Nggak dapat naskah dari penulis. Huahahahahahahahaha.”

Anggapan saya malam itu, Puthut memang sedang kumat dan ditambah oleh cekikan minuman beralkohol berkadar tinggi. Tapi kata-katanya itu sungguh cerdas. Dan memang, kerap otaknya memang encer kalau sedang mabuk. Betapa tidak, idenya itu lho sungguh brilian dan menggelitik, yakni ingin menerbitkan karya sendiri. Gagasan asing dan agak jauh dari riwayat pemikiran penulis sebelumnya bahkan hingga kini.

Selama ini penulis sudah terkotak dengan pemikiran bahwa untuk bisa lahir naskahnya menjadi buku perlu bantuan penerbit (mapan). Dan untuk itu menjadi pemandangan yang lazim bila penulis harus menenteng karyanya dan masuk dari satu pintu penerbit ke pintu penerbit lain untuk menjajakan naskahnya. Dan kalaupun diterima harus menunggu daftar panjang penjadwalan untuk sampai pada giliran terbit. Dan kalaupun sudah dicetak dan disebar ke toko-toko buku, masih dipusingkan dengan royalti yang dikemplang dan sang penulis akan keluar masuk lagi ke pintu penerbit untuk menagih. Pun bila bukunya sudah terjual di pasar, penulis tak langsung bisa mencicipi semua royaltinya, melainkan royalti itu akan dicicil dan diteteskan oleh penerbit secuil demi secuil. Bahkan banyak betul penerbit partikelir yang tak mau melapor dan membayar royalti kalau tidak ditagih secara ekstra rajin dengan muka ditebal-tebalkan.

Menerbitkan karya sendiri adalah satu cara dan terobosan baru untuk menghindari tetek bengek seperti itu. Umumnya yang dikeluhkan oleh penulis adalah modal awal cetak dan distribusi buku. Sungguh mendistribusikan buku sendiri adalah pekerjaan yang mutlak sibuk dan sedikit demi sedikit akan menggerus praktik menulis yang sudah dibangun sedemikian rupa dan dijaga kontinuitasnya. Tapi bukankah menagih royalti kepada penerbit nakal juga menguras tenaga dan bisa jadi membangkrutkan imajinasi dan marah-marah tak keruan juntrung. Apalagi bila tahu ditipu habis-habisan oleh penerbit?

Untuk soal modal awal cetak, barangkali cara klasik yang bisa dilakukan adalah dengan cara membongkar tabungan pribadi—kalau memang tabungan itu ada dan cukup tersedia. Katakanlah, untuk buku yang tebalnya hanya 200 halaman, penulis mengeluarkan dana produksi sebesar 4 jutaan rupiah. Tak terlalu besar bukan? Tapi kalau itu masih memberatkan, jangan khawatir ada cara lain, yakni bekerjasama dengan pihak distributor untuk mendanai dan mereka yang akan menalangi dana awal produksi. Carilah distributor itu. Biasanya ada dua cara yag dilakukan distributor. Kalau mereka memiliki dana cashflow yang mencukupi, mereka akan menyerahkan dana tunai kepada kita. Tapi bila dana cashflow itu tak ada, maka sistem yang diberikan adalah dengan pembayaran tunda sekian bulan yang biasa memakai transaksi kertas Bilyet Giro. Dan ada percetakan yang mau dibayar dengan sistem seperti ini. Dengan catatan tentu saja: distributor yang bersangkutan yang akan menjadi distributor tunggal. Di beberapa kota, terutama sekali di Yogyakarta, beberapa distributor buku mau dan berendah hati menalangi dana-dana taktis awal seperti ini.

Yang hanya kita lakukan setelah buku usai dituliskan adalah membuat pracetak. Mulai dari pengeditan, desain isi, desain sampul, koreksi, dan proofreading. Ada lagi, kalau ingin sedikit sibuk: mencari percetakan yang murah meriah, membuat separasi film untuk sampul dan menyerahkannya ke percetakan sampul, mencetak plate untuk isi, dan seterusnya.

Kalau tak ingin repot, ya sudah serahkan saja semuanya kepada percetakan. Yang perlu disiapkan hanyalah naskah dan desain sampul yang sudah dalam bentuk film reparasi. Dan percetakan yang akan melakukan tugasnya sampai selesai. Tinggal ongkang-ongkang kaki sampai tiba saatnya percetakan memberitahu bahwa buku selesai cetak dan kita membawanya ke distributor dan membuat faktur tanda terima penjualan. Selesai. Tinggal kita menunggu buku kita berbaur dengan buku yang lain di rak-rak toko buku untuk berjuang merebut hati dan gapaian tangan pembeli untuk merogoh dompetnya. Sambil menunggu perjuangan buku tersebut merebut hati pembeli di rak-rak toko buku, bolehlah sang penulis lenyap untuk sementara waktu sekian bulan dalam rangka menulis buku berikutnya.

Tapi satu catatan: sistem Bilyet Giro juga bukannya bebas risiko. Jika tak laku pihak distributor mengembalikan buku kepada sang penulis. Bila sejumlah dana yang tertera dalam kertas giro sudah cair, maka penulis berhak menggantinya. Dan biasanya dengan buku baru. Tapi itu tergantung perjanjian awal di atas kertas bersegel antara penulis dan penerbit. Tapi begitulah, bukan usaha namanya kalau bebas dari risiko. Bukankah semua usaha dan kerja memendam risikonya masing-masing? Jadi hadapi saja.

Seperti saya katakan tadi, jika buku yang bersangkutan tidak dibiayai oleh distributor tapi dari kantong penulis sendiri, maka sang penulis berhak memberikannya kepada distributor yang disukai dan dipercayai. Jadi bukan memakai jalur distributor tunggal. Bebas. Tapi ada satu risiko yang akan ditanggung oleh penulis sekiranya buku di pasaran tidak laku. Yakni, distributor yang bersangkutan berhak mengembalikan buku kepada penerbit yang dalam hal ini penulis sendiri. Tapi kalau yakin bahwa buku Anda pasti habis sekian bulan, maka bisa mencari alternatif distributor lain yang tidak memakai sistem Bilyet Giro. Yakni dengan sistem konsinyasi (titip barang: yang laku dibayar. Jika tidak barang kembali kepada si penitip) dengan persentase rabat yang mereka ambil jauh lebih kecil dibandingkan dengan distributor yang memakai sistem Giro. Dengan sistem konsinyasi, Anda hanya menunggu laporan setiap bulannya berapa buku Anda laku. Dengan sistem ini, stok dana sang penulis akan mengalir terus setiap bulannya.

Dengan memilih menerbitkan sendiri, dengan meluangkan waktu sebulan untuk sibuk mengurus percetakan buku, tentu bukan jadi masalah yang sungguh memberatkan, bukan? Niatkan saja, bahwa buku itu adalah bakal bayi Anda, dan Anda sebagai orangtua sang bayi bertanggung jawab mengurus sendiri persalinannya hingga nongol ke dunia secara sehat dan sempurna hingga masa penyapihan datang. Dan Anda berbesar hati merelakan waktu untuk melihat buku itu terbit dengan/dan tanpa harus menanti nomor urut yang panjang dari penerbit.

Bagaimana, cukup menantang bukan? Tak ada salahnya bila dicoba!

* Catatan yang disarikan dari pengamalan pribadi menjadi penulis dan menerbitkannya sendiri

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan