-->

23Tweets Toggle

23 Tweets | Angkringan Buku – Allan Akbar (Memata-matai Kaum Pergerakan) | Yogyakarta

Diskusi buku Memata-Matai Kaum Pergerakan: Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934 karya Allan Akbar diselenggarakan Komunitas HaHaHiHi, Marjin Kiri, dan Etnohistori di Warung Kopi Lidah Ibu, Gejayan Yogyakarta pada 20 April 2013.

Tampil sebagai pembicara adalah Allan Akbar (Penulis) dan Uji Nugroho (Dosen UGM). Sementara pembaca kritis buku yang awalnya berasal dari skripsi Allan di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia 2012 ini ditugaskan kepada Muhidin M. Dahlan (Warung Arsip Yayasan Indonesia Buku), Wildan Sena Utama (asisten pengajar di UGM), dan Lubabun Ni’am (Editor Insist Press).

Diskusi berlangsung hampir 3 jam. Di Program “Angkringan Buku” ini kami putarkan hanya cuplikan #arsipsuara-nya. Arsip yang lebih lengkap tersimpan di warungarsip.co @warungarsip.

#23TWEETS
1. Booklovers, #AngkringanBuku kali ini memutar arsip suara diskusi buku Dinas Intelijen Belanda.

2. Pembicara dan pembaca kritis yang tampil di #MataMata | @allanakbar #UjiNugroho #WildanSena @warungarsip @masanik #AngkringanBuku

3. Memata-Matai Kaum Pergerakan: Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934 karya Allan Akbar (@allanakbar). #AngkringanBuku

4. Uji Nugroho: Memata-matai Kaum Pergerakan menyumbang historiografi baru tentang penulisan sejarah pergerakan. #AngkringanBuku

5. #UjiNugroho: Seperti Onghokham, karya @allanakbar bisa dipakai membaca pergeseran historiografi. Dari Indonesiasentris ke Netherlandsentris. #AngkringanBuku

6. #UjiNugroho: Karya @allanakbar berada di era demokratisasi sejarah: tak ada yang berhak memaksakan tafsir kecuali penulisnya. #AngkringanBuku

7. #UjiNugroho: Mata-mata atau Dinas Intelijen Politik #PID dibentuk serangkaian dengan Colonial State Project. #AngkringanBuku

8. #UjiNugroho: Akar dari banyaknya unsur militer dalam ruang sipil bisa dilacak genealogisnya dari pembentukan formasi Intelijen Politik #PID. #AngkringanBuku

9. #UjiNugroho: #PID diperlukan untuk ketertiban proyek negara kolonial. Dan pengganggu ketertiban itu kaum pergerakan. #AngkringanBuku

10. @allanakbar -> Buku Dinas Intelijen Politik #PID ini tidak dibuat untuk digudangkan (nasib banyak skripsi). Diharapkan memberi tawaran baru. #AngkringanBuku

11. @allanakbar: Dengan karya ini saya ingin mengubah 180′ historiografi pandangan terhadap pergerakan nasional. #AngkringanBuku

12. @allanakbar meriset bagaimana kolonial memandang kaum pergerakan sebagai kelompok yang berbahaya. #AngkringanBuku

13. @allanakbar mengulas #PID, mulai dari sebab muncul, struktur, dan sepakterjangnya “menertibkan” kaum pergerakan. #AngkringanBuku

14. @allanakbar mengaku kesulitan terbesar meriset #PID adalah sumber yang maha terbatas. #AngkringanBuku

15. Dua sumber utama yang dipakai @allanakbar: karya Harry Poeze (1994) dan Marieke Bloembergen (2011). #AngkringanBuku

16. Menurut @allanakbar #PID dibikin (1916) mulanya untuk menangkal serbuan negara utara: Jepang dan Jerman. #AngkringanBuku

17. Setelah Perang Dunia II, #PID bubar (1919). Ini keputusan keliru karena pergerakan di dalam negeri mengalami pasang. #AngkringanBuku

18. Akhirnya dinas intelijen baru dibuat: ARD (Algremeene Recherche Dienst) difungsikan untuk “menertibkan” aktivis. #AngkringanBuku

19. #PID | #ARD bertugas menghimpun semua informasi atas tindak-tanduk kaum pergerakan. Laporan itu diserahkan kepada Gubernur Jenderal. #AngkringanBuku

20. #PID atau #ARD pernah gagal saat pemberontakan PKI meletus. Dinas Intelijen itu tak bisa menangkal perlawanan itu. #AngkringanBuku

21. @allanakbar membatasi waktu risetnya 1916-1934. Ini dikritik para pembaca. Termasuk Harry Poeze. #AngkringanBuku

22. @allanakbar mengakui karya pertamanya setelah jadi sarjana sejarah masih banyak kekurangan. Penelitian berikutnya ia akan pertajam. #AngkringanBuku

23. Suara tiga pembaca kritis tak kami tayangkan karna keterbatasan waktu. Tersimpan di @warungarsip. #AngkringanBuku

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan