-->

Agenda & Donasi Toggle

25 Maret 2017 | Bincang-Bincang Sastra Edisi 138 | Yogyakarta

BERGURU KEPADA SUTA NAYA DHADHAP WARU

 Hari, Tanggal: Sabtu, 25 Maret 2017

Pukul: 20.00 WIB

Tempat: Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta

Pengisi Acara:

Emha Ainun Nadjib; Iman Budhi Santosa; Nana Ernawati;

Renville Siagian; dan Kelompok Musik Puisi NanKiNun

Pemandu Acara:

Sukandar

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta dan Penerbit Interlude, kembali menggelar Bincang-bincang Sastra (BBS). Bertajuk “Berguru Kepada Suta Naya Dhadhap Waru”, BBS edisi 138 hadir dalam rangka peluncuran buku Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan karya Iman Budhi Santosa.

“Sebagai seorang sastrawan yang berlatar pendidikan sekolah perkebunan dan pernah bekerja di perkebunan teh, kedekatan dan pengetahuan Iman Budhi Santosa dengan tumbuhan terutama di Jawa tentu bukanlah hal yang aneh. Ketika berbincang soal tumbuhan dengan penyair yang memasuki usia 69 tahun di tanggal 28 Maret 2017 ini, kita akan kehilangan kata dan dengan setia mendengar serta menyimak kisah-kisah yang disampaikannya. Bagi Iman, tumbuhan adalah makhluk paling jujur dan ndrima ing pandum. Tidak pernah melawan ketika dipetik buahnya, dipangkas daunnya, atau ditebang dan dicacah-cacah batang pohonnya. Buku Suta Naya Dhadhap Waru: Manusia Jawa dan Tumbuhan ini merupakan karya mutakhir sebagai rangkaian dari buku kumpulan puisi Ziarah Tanah Jawa. Buku yang sangat langka dan indah ini, akan menghadirkan kembali ingatan-ingatan akan kampung halaman, masa kecil, masa ketika alam sekitar masih terbentang hijau, simpul-simpul kesadaran seakan dihidupkan, saling bertemu dan ditautkan,” tutur Sukandar direktur Penerbit Interlude yang menerbitkan buku tersebut.

Iman Budhi Santosa menghadirkan kegelisahannya, hubungan wong cilik di Jawa dengan tumbuhan pada masa lalu diam-diam telah menjelma dunia lain di luar sejarah mainstream yang dibakukan dan dibukukan oleh orang kebanyakan. Sebagaimana pohon-pohon yang tenang dalam kesunyian, demikianlah desa-desa ada mengukuhkan jati diri manusia di dalamnya sebagai sedulur sinarawedi. Disadari atau tidak, manusia Jawa adalah manusia tumbuhan, manusia agraris.

“Bagi saya, buku Suta Naya Dhadhap Waru ini adalah buku sastra. Hal ini menunjukan kecerdasan intelektualitas nenek moyang manusia Jawa di masa lalu yang mewujud sebagai sebuah kebudayaan bernama bahasa. Bahasa ciptaan leluhur inilah yang hingga kini kekal menjadi nama-nama pohon, diabadikan dan dimuliakan sebagai nama dusun-dusun dan desa-desa, khususnya di Jawa. Bukankah hal tersebut adalah perwujudan dari apa yang dinamakan sastra?” ungkap Latief S. Nugraha selaku koordinator acara.

“Berbeda dengan Emha Ainun Nadjib yang sama-sama belajar sastra di Malioboro, di hutan rimba dunia sastra Iman Budhi Santosa hadir jauh dari podium di panggung megah, lampu gemerlap, dan sanjung puja, namun nyatanya keberadaan dan karya-karyanya kokoh berakar di kedalaman. Cak Nun, bahkan dengan rendah hati jujur mengakui bahwa tidak cukup memiliki kemampuan membuat puisi seperti yang dicipta Iman Budhi Santosa. Di Persada Studi Klub (PSK) Iman Budhi Santosa disebut-sebut sebagai penyair yang paling berhasil memuisi. Ia begitu tekun mencatat renik-remah kehidupan. Tidak hanya menjadi puisi, buku Suta Naya Dhadhap Waru yang ketebalannya hampir 500 halaman itu menunjukkan perhatian yang besar, penting, dan perlu dari hal-hal yang barangkali oleh kebanyakan orang dipandang kecil, remeh, dan tak berguna. Peribahasa “Suta Naya Dhadhap Waru” yang akrab ditelinga selama ini dalam pandangan Iman Budhi Santosa ternyata mengandung makna yang mendalam terkait dengan sikap manusia Jawa yang agraris dan justru tersenyum bangga ketika keberadaannya dan derajatnya disamakan dengan tumbuhan,” imbuh Latief.

“Semoga acara ini dapat hadir sebagai pengingat bahwa manusia memiliki hubungan erat dan rekat dengan alam sekitar. Alam, khususnya tumbuh-tumbuhan merupakan saudara secara spiritual dan memang demikian adanya hukum alam sebagai sebuah sistem dan ekosistem. Kota demikian sibuk dengan pembangunan yang merusak alam, merusak peradaban, merusak persaudaraan antarmanusia, menjadi sebuah bencana dalam bejana besar bernama peradaban zaman. Sementara desa sebagai “ibu kota” kini pun tengah berada dalam ancaman modernitas kota sebagai “anak durhaka”. SPS memandang peristiwa-peristiwa tersebut amat sangat mendesak untuk dikaji lebih mendalam dan penting sebagai sebuah pengetahuan sastra, mengingat ilmu sastra yang dekat dengan filsafat sesungguhnya adalah ilmu mengenai alam semesta,” pungkas Latief.

 

Tertanda,

Latief S. Nugraha,  koordinator acara.

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan