-->

23Tweets Toggle

23 Tweets | Buku Pertamaku – Ageng Indra | Yogyakarta

Ageng Indra, lahir 4 Maret 1996 di Banjarnegara. Ketika dewasa ia menetap di Boyolali, Jawa Tengah. Saat ini, ia sedang menyelesaikan studi di Jurusan TV dan Film Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Karena latar akademik inilah, Ageng menghidupkan beberapa komunitas perfilman sebagai media untuk mengapresiasi karya seni. Selain itu, kecintaannya kepada buku membawanya bergelut di dunia literasi dengan bergabung ke Radio Buku.

#23TWEETS.
1. Bersama teman-teman di @ISIJogja, Ageng Indra (@_iggo) bikin Komunitas Screening Film Berdebu #SFB agar tercipta ruang diskusi film indie. #BukuPertamaku

2. Tak hanya berjumpa film dan penonton, @_iggo jadikan diskusi sebagai bahan tulisan yang selanjutnya ia unggah di media daring. #BukuPertamaku

3. “Literasi dalam dunia film sangat terbatas, khususnya untuk catatan-catatan terhadap film itu sendiri.” Ungkap @_iggo . #BukuPertamaku

4. Selain aktif di #SFB, @_iggo giat berliterasi dengan menulis dan aktif bergabung sebagai penyiar volunteer di @radiobuku . #BukuPertamaku

5. Giat berliterasi di komunitas-komunitas , @_iggo bercerita tentang buku pertama yang ia baca. Yaitu buku yang berjudul #HumorDewasa. #BukuPertamaku

6. #HumorDewasa adalah buku yang menjadikan seks sebagai bahan yang umum untuk ditertawai. Buku itu ditulis dengan gaya homor. #BukuPertamaku

7. Diksi “Humor” dan “Dewasa” pada judul buku itu adalah hal pertama yang menarik perhatian @_iggo untuk membacanya. #BukuPertamaku

8. Usai membaca buku #HumorDewasa, @_iggo membaca buku Raditya Dika (@radityadika) yang berjudul #MarmutMerahJambu” pada kelas 3 SMP. #BukuPertamaku

9. Buku #MarmutMerahJambu dengan #InaMangunkusumo sebagai tokoh memberi pengalaman membaca yang menarik bagi @_iggo waktu itu. #BukuPertamaku

10. Berawal dari membaca #MarmutMerahJambu, lantas @_iggo banyak membaca buku-buku komedi sampai ia masuk di perguruan tinggi.#BukuPertamaku

11. Menurut @_iggo, menulis buku tak harus menulis buku berat seperti sastra. Tapi dengan buku komedi pun kita juga bisa menulis. #BukuPertamaku

12. Ketika bosan membaca buku-buku komedi, @_iggo melampiaskan kebosanannya tersebut dengan menonton berbagai macam film. #BukuPertamaku

13. “Film berhasil memenuhi hasrat kepuasaanku akan cerita, ketika membaca untuk sementara menjadi sangat membosankan,” tegasnya. #BukuPertamaku

14. Karena kecintaannya dengan buku, terlebih dengan film, @_iggo akhirnya memilih film sebagai alasan studinya di @ISIjogja. #BukuPertamaku

15. Di film @_iggo menemui banyak studi ilmu yang mau tidak mau harus dipelajari. Seperti sastra, filsafat, politik, dan psikologi. #BukuPertamaku

16. Karena itulah, @_iggo harus belajar sastra yang waktu SMA sedikit ia hindari karena bahasa yang terlalu berat untuk dicerna. #BukuPertamaku

17. Mulai dari semester 5, @_iggo mulai membaca buku-buku sastra dan sekarang terkesan dengan karya #PramoedyaAnantaToer khususnya. #BukuPertamaku

18. Buku sastra yang pertama @_iggo baca adalah roman #BumiManusia karya #PramoedyaAnantaToer, dibaca ketika sudah kuliah. #BukuPetamaku

19. “Aku mendapatkan kualitas dalam membaca buku sastra dan kualitas itu tidak didapatkan dalam buku lain (bukan sastra)”. @_iggo #BukuPertamaku

20. Usai baca sastra, @_iggo tak lagi membatasi pada buku apa yang harus ia baca. Dunia literasi mewajibkannya membaca semua buku. #BukuPertamaku

21. Yang ada dibenaknya hanyalah terus dan terus membaca, kemudian diimbangi dengan membuat film agar dunia literasi terbangun. @_iggo #BukuPertamaku

22. Untuk saat ini @_iggo masih mengembangkan kemampuan dan bakat menulisnya. Sembari terus giat berliterasi di komunitas. #BukuPertamaku

23. Cita-cita @_iggo ingin membangun dunia literasi di Indonesia yang masih rendah, dengan cara menghidupkan komunitas-komunitas perbukuan. #BukuPertamaku

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan