-->

Agenda & Donasi Toggle

12 Februari 2017 | Rilis Hari Pertama Mocosik Festival | JEC, Yogyakarta

 

Buku dan Musik Jogja

Kekuatan Gagasan dan Keistimewan

Ada banyak hal yang bisa Anda saksikan jika datang ke Yogyakarta. Anda mungkin adalah bagian dari 6,5 juta orang yang dalam setahun berdesakan di Bandara Adisucipto, puluhan juta orang yang datang lewat terminal dan stasiun, atau ribuan orang yang datang dengan kendaraan pribadi.

Jika ingin sesuatu yang lebih, Anda bisa datang ke gigs musik yang dihelat di panggung kecil dan besar, di café dan warung kopi. Atau datang ke puluhan komunitas di warung kopi, kampus, dan lokasi-lokasi yang tak biasa. Di sana, Anda bisa menemukan sekelompok orang berbicara banyak hal tentang buku, menulis karya sastra, seni rupa, dan lain sebagainya. Cobalah menelisik lebih dalam, Anda akan tercengang.

Jogja menawarkan itu! Lebih dari sekadar wisata alam dan wisata warisan sejarah. Anda bisa datang menyaksikan riuh orang saling bergerombol dan berputar dalam lingkaran–seperti lirik lagu FSTVLST. Menyaksikan banyak sekali orang berpasangan tiba-tiba tampil di sebuah panggung dadakan layaknya pasangan duo Endah N Rhesaa. Atau mungkin musik berbahasa Jawa yang dikemas-dikawainkan dengan musik kontemporer layaknya Jogja Hip Hop Foundation.

Jogja juga mungkin bisa sedikit bersombong dengan kelebihan-kelebihan yang ia miliki. Selain memiliki banyak seniman, ia memiliki banyak pemikir. Pikiran-pikiran itu termuat dalam buku-buku yang terbit nyaris setiap hari. Ada puluhan penerbit, ada ratusan, dan bahkan mungkin ribuan penulis yang mengolah proses kretif mereka di Jogja. Mereka memproduksi karya fiksi dan nonfiksi, menghidupi dan menjadi debar jantung bagi hidup dan berkembangnya sebuah ekosistem budaya, wacana, pendidikan, dan seni penulisan.

Tahun-tahun belakangan, penerbit-penerbit baru, lahir, menyebut diri penerbit indie, self publishing, dan sebutan lainnya. Mereka bertransformasi, belajar dari generasi penerbit sebelumnya. Mereka memproduksi buku yang mereka suka, mengisi kantong-kantong toko buku alternatif, dan berseliweran tiap waktu beradu gagasan di dunia maya.

Di titik inilah Jogja pada akhirnya menjadi tempat yang baik buat kolaborasi. Karya-karya seni, khususnya musik, pada akhirnya mendapat limpahan stok inspirasi dari bacaan dan gagasan setiap buku yang terbit. Penulis membacakan karya diiringi musik dan penyanyi terinspirasi dari banyaknya bacaan yang tersedia di sini.

Agenda

Pada sajian hari pertama, Mocosik menghadirkan Tribute to Kuntiwijoyo–salah satu sastrawan Jogja yang banyak memberi perhatian pada kehidupan sosial, gerak budaya, dan memperhatikan masyarakat–di panggung literasi. Akan ada Hamdy Salad yang memberikan orasi budaya; bagaimana karya Kuntowijoyo memberi banyak sumbangan pada karya-karya lain setelahnya dan bagaimana karyanya berbaur dengan masyarakat serta menjadi insiprasi lintaskarya. Selanjutnya, akan ada Agoni, sebuah band independent Jogja yang akan menyanyikan lagu-lagu dengan lirik yang dekat dengan karya sastra. Yang secara langsung maupun tidak langsung terinspirasi dan bergerak dari spirit Kuntowijoyo.

Acara akan didahului oleh Laporan Lapangan Gerakan Literasi Indonesia, yang akan dibawakan oleh Nirwan Arsuka, seorang pegiat literasi. Ia mendirikan Pustaka Bergerak. Mengantar buku ke seluruh pelosok negeri dengan Kuda Pustaka, Bendi Pustaka, Motor Pustaka, Perahu Pustaka, dan deretan moda transportasi lainnya.

Selain Agoni, panggung musik juga akan diisi dan diramaikan oleh penampilan FSTVLST, sebuah kelompok musik yang banyak mengawinkan seni rupa, puisi, dan kritik dalam lagu-lagunya. Jogja Hip Hop Faoundation, yang pernah berkolaburasi dengan menyanyikan puisi-puisi dari banyak penyair di Indonesia. Dan bertambah semarak dengan hadirnya Endah N Resha, pasangan duo yang lirik-liriknya selalu kontemplatif dan sejuk, seolah kita tenggelam dalam kedalaman gagasan dan renungan, seperti membaca karya sastra. Mereka adalah pemusik-pemusik yang datang dari kekayaan lirik yang mustahil didapatkan tanpa banyak membaca buku.

Momen hari pertama Mocosik, barangkali adalah momentum yang baik bagi kelahiran sebuah ekosistem kolaborasi dan kerja-kerja kesenian yang kolaboratif. Musik bertemu buku, bersatu padu dalam irama dan lembar demi lembar pemikiran dan gagasan.

Sampai jumpa.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan