-->

Peristiwa Toggle

Radya Pustaka Tarik 20 Naskah Kuno

Sebanyak 20 naskah kuno tulisan tangan yang saat ini tersimpan di perpustakaan Unversitas Indonesia (UI) Jakarta diminta untuk dikembalikan ke asalnya di Museum Radya Pustaka. Sementara 45 arca yang tersimpan di kediaman almarhum Go Tik Swan (KRT Hardjonagoro) juga akan dipindahkan ke nDalem Joyokusuman.

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo, sebagaimana dikabarkan KR (5/1/2017), mengungkapkan, sekitar 20 naskah kuno koleksi Museum Radya Pustaka belasan tahun lalu memang dibeli Universitas Indonesia. Pembelian dilakukan secara resmi disertai kuitansi, namun dalam kaitan pelestarian benda budaya akan lebih baik jika naskah tersebut dikembalikan ke tempat penyimpanan asal di Museum Radya Pustaka. Jika Museum Radya Pustaka harus memberikan penggantian pembelian, menurutnya, akan dicarikan jalan keluar terbaik.

Beberapa tahun lalu, pengelola Museum Radya Pustaka yang waktu itu masih ditangani komite sebenarnya pernah melakukan pendekatan dengan pihak UI. Hanya saja, upaya pengembalian belum membuahkan hasil terkait perubahan penyimpanan naskah yang semula ditangani Perpustakaan Fakutas Sastra Daerah kini tersimpan di perpustakaan Pusat UI. Sebagai lembaga ilmiah, pihaknya yakin pihak UI akan meluluskan permintaan Pemkot Solo untuk mengembalikan naskah kuno yang seluruhnya tulisan tangan itu ke tempat penyimpanan asal.

Menjawab pertanyaan tentang nasib 45 arca yang tersimpan di rumah Go Tik Swan, pria yang akrab disapa Rudy itu mengungkapkan, hampir tidak ada masalah, kecuali tinggal menunggu teknis pemindahan.

Secara administrasi, arca koleksi budayawan Solo itu telah diserahkan kepada Pemkot Solo sejak tahun 2009 dengan dibuatkan berita acara penyerahan. Hanya saja, eksekusi belum dilakukan karena masih dicarikan tempat yang tepat.

“Nanti akan dipindahkan ke nDalem Joyokusuman setelah proses revitalisasi rampung pada tahun ini,” ujarnya sembari menyebutkan, proses pemindahan akan melibatkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), sebab harus dilakukan secara hati-hati. Terlebih berdasar hasil peninjauan di lapangan, Selasa (3/1), hampir seluruh arca telah dilekatkan pada landasan semen sehingga perlu kecermatan saat melepaskan arca dari landasan.

Di sisi lain, KRAr Hardjosuwarno, selaku ahli waris Go Tik Swan, mengungkapkan, arca-arca klasik buatan antara abad 8 hingga 15 masehi itu sebenarnya sudah diserahkan pada negara pada tahun 1985. Terkait tak kunjung dilakukan eksekusi, pada tahun 2009 dilakukan penyerahan lagi kepada Pemkot Solo. Diharapkan, koleksi pribadi yang dikumpulkan Go Tik Swan dari hasil perburuan di daerah pedesaan antara tahun 1950 hingga 1965 segera dipindahkan sesuai wasiat almarhum Go Tik Swan.

Demikian Harian KR mengabarkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan