-->

Tokoh Toggle

Muhammad Fauzi | Pustaka Sang Penjual Jamu | Sidoarjo, Jawa Timur

Di antara semua tukang jamu yang berkeliling menjajakan dagangannya, mungkin hanya Muhammad Fauzi yang menyediakan ”menu jamu” komplet. Ia menjual bermacam jamu untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus menawarkan buku untuk menyegarkan pikiran.

Muhammad Fauzi (34) atau yang akrab dipanggil Fauzi Baim bisa ditemui hampir setiap pagi di Jalan Gatot Subroto, Desa Karangbong, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Senin (14/11) pagi itu, ia mangkal di depan sebuah pabrik pengolahan udang untuk menunggu para buruh yang menjadi pelanggan setianya. Mereka biasa membeli jamu beras kencur, kunyit asam, sinom, dan pinang yang dijual Rp 2.500 per gelas.

Hari itu adalah hari pertama Fauzi kembali bekerja setelah dua minggu libur. Sambil mengobrol dengan pelanggannya, jari-jari tangan Fauzi yang menguning karena terkena kunyit bergerak lincah menuangkan jamu ke dalam gelas.

Jamu itu dikemas dalam botol-botol plastik dan ditata di atas keranjang kayu yang terpasang di jok belakang sepeda motor bebeknya. Berbeda dengan penjual jamu keliling lain, Fauzi juga membawa serta sekitar 80 buku, mulai dari buku agama, kesehatan, politik, novel, hingga komik. Buku-buku itu ditata di bagian belakang keranjang kayu yang dibubuhi tulisan ”Sak Iki Jamane Moco” atau ”Sekarang Zamannya Membaca”.

Selain menjajakan jamu, Fauzi juga menyediakan buku untuk para pelanggannya. Siapa pun yang membeli jamu boleh meminjam buku-buku itu secara gratis. Bahkan, para pembeli itu bisa meminjam buku hingga dua pekan.

Fauzi menyadari, pelanggannya, seperti para buruh pabrik itu, tidak punya banyak waktu membaca. Maka, dua pekan adalah waktu yang dirasa cukup untuk menyelesaikan satu buku.

Seperti halnya buku di perpustakaan, buku-buku itu telah diberi label. Bagi para peminjam, mereka harus mengisi formulir peminjaman. Bedanya dengan perpustakaan pada umumnya, para peminjam tidak perlu memiliki kartu anggota. Risikonya, keamanan buku tidak terjamin. Jika buku itu tidak kembali atau hilang, Fauzi akan mengikhlaskan.

”Kalau sudah takut duluan, takut buku hilang, ya, niat ini tidak akan jalan. Kenyataannya, buku-buku itu tetap kembali, sedikit yang hilang,” katanya.

Meski Fauzi sudah memberikan begitu banyak kemudahan, tetap saja tidak banyak yang meminjam buku-buku itu. Selama dua hari, Senin dan Selasa (14 dan 15/11), kami mengikuti Fauzi berjualan dan tidak menemukan satu pembeli pun yang meminjam buku itu untuk dibawa pulang. Beberapa dari mereka hanya melihat-lihat judulnya, membaca sekilas, dan mengembalikannya.

”Sekarang mencari orang yang suka membaca buku itu sulit sekali. Makanya saya ingin mengajak orang-orang, terutama pembeli jamu saya, untuk mulai membaca,” kata Fauzi yang pulang ke rumah sekitar pukul 12.00.

Luka masa lalu

Sebagai pria tamatan SMP, Fauzi tidak punya banyak keahlian untuk mencari nafkah setelah ia menikahi Imroatul Mufida (30) pada 2008. Ia pun mulai berjualan jamu, profesi yang pernah ia jalani semasa kecil bersama ibunya.

Fauzi lahir dari keluarga besar yang miskin di Desa Kedung Bendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Ia anak sulung dari 10 bersaudara. Kehidupannya menjadi berat ketika orangtuanya bercerai dan bocah yang masih duduk di kelas II SD itu harus membantu ibunya bekerja keliling kampung menjual jamu.

Setamat SMP, Fauzi bersikeras ingin belajar di pondok pesantren meski ibunya mendorongnya untuk masuk ke sekolah formal. Remaja itu memberontak dan akhirnya pergi ke Banyuwangi dan belajar di Pondok Pesantren Bustanul Arifin.

Namun, bencana menimpa keluarganya. Rumah mereka terkubur luapan lumpur Lapindo. Setelah mendapat ganti rugi, Fauzi tinggal di Desa Sukorejo, Buduran, Sidoarjo. Bersama istrinya, Fauzi tinggal di rumah seluas 26 meter x 6 meter.

”Kesulitan masa kecil yang mendorong saya menggerakkan literasi,” ujarnya. Semasa kecil, ia sangat kesulitan memperoleh buku karena harganya tidak terjangkau. Ia yakin, kondisi yang sama dialami sebagian masyarakat saat ini. Padahal, buku menjadi senjata utama bagi masyarakat untuk bangkit dari kemiskinan.

Maka, mulai 2011, ia membangun perpustakaan di bangunan bekas poliklinik desa di samping rumahnya. Perpustakaan itu ia namai Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat. Sebagian buku, terutama buku anak, disimpan di ruang tamu rumahnya yang sudah beralih fungsi menjadi perpustakaan. Modal awalnya adalah buku-buku yang ia kumpulkan selama mondok di pesantren.

Setelah itu, ia rutin membeli buku-buku bekas di Pasar Porong. Setiap dua minggu sekali, ia menghabiskan hingga Rp 200.000 untuk membeli buku. Kini, telah terkumpul sekitar 7.000 buku dan 4.380 buku di antaranya sudah diberi label sesuai standar umum perpustakaan.

Pada 2013, Fauzi mulai membawa buku-bukunya berkeliling sambil jualan jamu. ”Tidak semua orang bisa datang ke perpustakaan. Makanya, saya yang mendatangi mereka,” katanya.

Sekolah gratis

Tidak cukup menjual jamu dan membuat perpustakaan keliling, Fauzi tahun ini mulai membuka sekolah gratis di rumahnya untuk anak-anak usia PAUD, TK, dan SD di bawah naungan Yayasan Bustanul Hikmah Sukorejo. Yayasan itu didirikan Fauzi dan disahkan notaris pada Maret 2016.

Kini, siswa yang belajar di sekolah itu berjumlah 32 anak PAUD, 9 anak TK, dan 4 anak SD. Mereka adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tinggal di sekitar rumah Fauzi. ”Mereka bisa belajar gratis. Untuk formalitasnya, mereka nanti akan saya ikutkan program kejar paket supaya bisa lanjut ke SMP,” ujar Fauzi.

Anak-anak itu diajar enam pengajar, termasuk istri Fauzi. Setiap bulan, Fauzi memberikan insentif kepada kelima pengajar. Soal insentif ini, ia enggan mengungkapkan jumlahnya. Satu hal yang pasti, pendapatan dari menjual jamu sangat kurang untuk membayar para pengajar itu.

Dari menjual jamu, Fauzi rata-rata mendapat Rp 1 juta per bulan. Pemasukan lain ia dapatkan dari berbagai hadiah, honor sebagai pembicara, dan donasi. Fauzi beberapa kali memenangi lomba atau mendapat penghargaan dari kegiatan perpustakaan kelilingnya. Ada juga para donatur yang membantu.

Fauzi kemudian menunjukkan sebuah tangga yang menuju bagian eternit yang terbuka. ”Saya sedang bikin lantai dua, mau nambah ruang kelas lagi. Sudah ada dana untuk itu,” katanya.

Fauzi semakin dalam menceburkan diri dalam kegiatan sosial. Ia tidak mau ambil pusing menghitung jumlah uang yang telah ia keluarkan untuk membantu orang lain. Ia percaya, Tuhan juga akan ”hitung-hitungan” rezeki jika umatnya hitung-hitungan dan tidak mau bersedekah.

Disalin dari Harian Kompas, 25 November 2016

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan