-->

Tokoh Toggle

Harya Suraminata “Hasmi” | Komikus Gundala Putera Petir | Yogyakarta

Harya Suraminata atau Hasmi (69), komikus dan dramawan asal Yogyakarta, meninggal dunia, Minggu (6/11), pukul 12.30, di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Kepergian penulis komik serial Gundala Putra Petir ini meninggalkan mata rantai sejarah tentang sastra komik di Indonesia. Sebagaimana dikabarkan Harian Kompas, Hasmi meninggal setelah menjalani operasi gangguan usus dan beberapa hari dirawat. Pemakaman pria kelahiran Yogyakarta, 25 Desember 1946, ini dilangsungkan pada hari Senin (7/11), di makam seniman Imogiri, DI Yogyakarta.

Hasmi boleh dibilang merupakan tokoh kontemporer dalam dunia komik Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan karyanya, Gundala Putra Petir, yang dibuat pada tahun 1969. Komik ini memang bernuansa Amerika, khususnya dalam hal bentuk figur manusia dan kostumnya. Hasmi mengakuinya bahwa tokoh Gundala yang diciptakannya terinspirasi oleh desain postur dan kostum sosok The Flash, karangan Gardner Fox, diterbitkan DC Comics.

Namun, tempat dan cerita komik diilhami oleh budaya Jawa, seperti kisah Ki Ageng Selo, yang dikisahkan mampu menangkap petir dengan tangannya. Dengan paduan Timur-Barat itu, almarhum menciptakan rekaan kehidupan dunia angkasa dengan tokoh Gundala, lengkap dengan tata kehidupan dunia yang futuristik.

Serial Gundala dibuat hingga 23 kisah. Penggarapannya dilakukan dalam rentang waktu 1969-1982. Kisah Gundala pada tahun 1982 difilmkan oleh PT Cancer Mas Film.

Sampai menjelang ajalnya, Hasmi masih produktif menjadi ilustrator kisah komik di surat kabar. “Sepanjang hidupnya, Hasmi mengandalkan dari komik,” kata seniman Butet Kartaredjasa, sahabat almarhum.

Hasmi juga dikenal sebagai pemain teater senior yang andal. Dia bergabung dalam teater Stemka yang dipimpin Landung R Simatupang. Almarhum juga sering menjadi aktor lakon-lakon Teater Gandrik Yogyakarta.

Menurut Butet, meskipun tidak hidup berkelimpahan, Hasmi adalah seorang penyantun bagi anak-anak tak berpunya. Ia menjelaskan, banyak anak yatim atau tak mampu yang disantuni Hasmi agar bisa bersekolah.

“Hampir seluruh hidupnya ditumpahkan untuk kemanusiaan, baik di dalam keseharian hidupnya maupun dalam karya-karyanya. Dia seorang besar yang tetap membumi,” papar Butet. Demikian Harian Kompas edisi 7 November 2016, mengabarkan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan