-->

Agenda & Donasi Toggle

24 Desember 2016 | Bincang-bincang Sastra Edisi 135 “Yogya Halaman Indonesia” | Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta

 

Bincang-bincang Sastra edisi 135

Pesta Puisi Akhir Tahun 2016 “Yogya Halaman Indonesia”

Minggu, 27 November 2016

Pukul 19.30 WIB

di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta

Studio Pertunjukan Sastra (SPS) kembali menggelar acara Pesta Puisi Akhir Tahun. Acara ini sekaligus menandai perjalanan Bincang-bincang Sastra yang sudah digelar hingga edisi ke 134. Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dalam Pesta Puisi Akhir tahun 2016 ini SPS menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi dengan judul yang sekaligus tema acara yakni Yogya Halaman Indonesia. Buku tersebut berisi puisi-puisi karya para penyair dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam acara ini, puisi-puisi mengenai kampung halaman masing-masing penyair akan dibacakan. Selain pembacaan puisi, akan ditampilkan pula pertunjukan musik puisi, tari puisi, dan teaterikal puisi oleh KMSI UNY, Sanggar Suar, Sanggar Rupagangga, Sanggar Serat Jiwa, dan Teater Topy. Tidak hanya itu, Muhidin M. Dahlan atau yang akrap disapa Gus Muh, akan menyampaikan orasi budaya sebagai refleksi perjalanan dunia kepenyairan di Yogyakarta hingga tahun 2016 ini.

“Melalui acara Pesta Puisi Akhir Tahun, SPS mencoba melihat keberagaman latar belakang penyair yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan menghadirkan potensi-potensi para penyair di Yogyakarta. Dalam sebuah puisi, penyair Indrian Koto menyebutkan bahwa Yogyakarta adalah tanah “kelahiran kedua”. Hal ini dapat dipahami bahwa mereka memiliki kampung halaman tempat kelahiran di daerah masing-masing, sedangkan Yogya adalah kampung halaman kedua tempat mereka kembali terlahir sebagai penyair,” ungkap Latief S. Nugraha, koordinator acara.

Tidak salah kiranya jika menyebut bahwa Yogya adalah halaman Indonesia. Banyak orang-orang dari berbagai daerah hidup dan berkarya di daerah istimewa ini. Keragaman itulah kekayaan Indonesia yang dalam hal ini tercermin lewat keberadaan masyarakat di Yogyakarta. Jika Jakarta adalah Ibukota negara, maka Yogyakarta adalah halamannya.

“Akhir-akhir ini banyak isu yang seakan memecah-belah nilai persatuan dan kesatuan bangsa. Sementara keberagaman itu sendiri sesungguhnya merupakan sifat keindonesiaan kita. Indonesia bukan merupakan batu sebesar truk, melainkan kerikil sebanyak satu truk. Hal tersebut perlu disadari dan dikukuhkan. Apa lagi saat ini Yogyakarta tengah diguncang isu tak sedap dengan adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelajar. Hal ini memalukan sekaligus memilukan. Yogya sebagai Kota Pelajar, Kota Pendidikan seyogianya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. SPS melalui acara Pesta Puisi Akhir tahun ini mencoba mempertemukan tegur sapa antarbudaya yang ada di Indonesia guna merawat persaudaraan masyarakat Yogyakarta,” imbuh Mustofa W. Hasyim, ketua Studio Pertunjukan Sastra.

“Semoga hal ini dapat menegaskan bahwa Indonesia yang tersusun dari batu suku bangsa yang berbeda-beda ini dapat menjadi bangunan kokoh dalam persatuan dan kesatuan. Mewakili keluarga besar Studio Pertunjukan Sastra, saya ucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepada para penyair yang telah bersedia mengirimkan dan bersedia membacakan puisi-puisinya,” pungkas Mustofa.

Tertanda,

Latief S. Nugraha,  koordinator acara.

 

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan