-->

Agenda & Donasi Toggle

27 November 2016 | Bincang-bincang Sastra Edisi 134 “Doa Bulan untuk Pungguk” | Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta

 

bincang-sastra

 

Bincang-bincang Sastra edisi 134

“Peluncuran Kumpulan Puisi Doa Bulan untuk Pungguk karya Nuryana Asmaudi SA”

Minggu, 27 November 2016

Pukul 19.30 WIB

di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta

Bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan Penerbit Akar Indonesia, Studio Pertunjukan Sastra (SPS) menggelar bincang-bincang sastra dengan menghadirkan pembicara Hendragunawan S. Thayf dan Nuryana Asmaudi SA. Bincang-bincang ini akan dipandu oleh Andika Ananda serta diramaikan dengan pembacaan puisi oleh M. Faqih Mahfudz, Kedung Darma Romansha, Andy Sri Wahyudi, Riska S.N., Febiola Mahareza, dan Dita Yulia Paramita.

Nuryana Asmaudi SA, seorang penyair dari Bali yang sekaligus merupakan penulis kumpulan puisi Doa Bulan untuk Pungguk, merupakan pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah. Di kota kelahirannya tersebut ada jalan bernama Jalan Chairil Anwar yang kemudian membuat ia tertarik pada dunia sastra meski sesungguhnya ia berlatar belakang Dekorasi Ukir. Pada tahun 1996 Nuryana hijrah ke Bali dan di sanalah ia memperkaya pengetahuan puisi kepada Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira.

Ketua Studio Pertunjukan Sastra, Mustofa W. Hasyim menuturkan bahwa puisi-puisi karya Nuryana merupakan puisi yang unik dan menarik. Sang penyair banyak mengolah peribahasa-peribahasa dengan sudut pandang baru dan menjadikannya puisi (seperti terlihat dalam judul antologi puisinya, Doa Bulan untuk Pungguk). Selain itu, puisi-puisi karya pengasuh ruang seni Harian Bali Tribune ini juga memiliki citara humor yang mengejutkan. “Sampai saat ini tidak banyak sastrawan yang mengolah peribahasa dan memarodikannya dengan kata dan bahasa yang tangkas sebagaimana puisi-puisi Nuryana. Mungkin namanya memang tidak sepopuler rekannya di Bali seperti Raudal Tanjung Banua dan Riki Dhamparan Putra, tapi puisi-puisinya sejak semasa masih tinggal di Jepara hingga di Bali memberikan satu warna tersendiri dalam dunia puisi di Indonesia,” tutur Mustofa.

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan