-->

Peristiwa Toggle

Lima Tulisan Menyambut Terpilihnya Bob Dylan sebagai Nobelis Sastra 2016

Pada 13 Oktober 2016 Sekretaris Permanen Akademi Swedia, Sara Danius, di Stockholm, Swedia, mengumumkan Robert Allen Zimmerman sebagai pemenang Nobel Sastra 2016. Nyaris semua media daring dan cetak di Indonesia menurunkan kabar soal keterpilihan musisi legendaris asal Amerika yang bernama panggung Bob Dylan itu. Dari beragam sambutan itu, ada lima tulisan yang direkomendasikan Radio Buku untuk menjelajahi biografi, sepak terjang bermusik, dan kontroversi yang mengiringi penetapan Dylan oleh Akademi sebagai laureat Nobel Sastra.

 

Bob Dylan

Sumber: flickr.com

(1) Dua Nada Kemenangan Bob Dylan Meraih Nobel | Nuran Wibisono | tirto.id | 15 Oktober 2016 | 995 Kata

Tulisan ini disajikan secara renyah. Soal kemampuan bermusik Bob Dylan dan lirik lagu-lagunya yang disebut-sebut ditulis laiknya “seorang empu menulis hikayat. Naratif. Macam mendengarkan kakak lelaki, paman, atau kakek yang mendongeng di hadapanmu sembari menenteng gitar”. Oleh Nuran, lirik Dylan dikatakan jauh lebih berbicara ketimbang musiknya. Apalagi suaranya. Lirik Dylan merentang jauh, dari protes tentang ketidakadilan seperti di “Hurricane”, perenungan tentang arti hidup di “Blowin’ in the Wind”, tentang perlunya menjadi adaptif di “The Times They Are A-changin'”, protes terhadap perang di “A Hard Rain’s a-Gonna Fall”, hingga “Like A Rolling Stone”, lagu bernuansa eksistensialis yang ditulis Dylan saat kelelahan dengan segala popularitas dan tekanan. Di sinilah soalnya: apakah lirik lagu pantas disamakan dengan novel, puisi, atau drama?

(2) Suara si Tukang Protes | Laraswati Ariadne Anwar | Harian Kompas | 15 Oktober 2016, hlm 16 | 1007 Kata

Disajikan dengan data yang kaya dan detail, tulisan ini menjelajahi kiprah bermusik Bob Dylan dan sejarah namanya 19 tahun silam masuk dalam bursa pencalonan Nobel Sastra. Adalah American Academy of Arts and Letters pada 1997 menjadi pengusul pertama nama Dylan sebagai kandidat penerima Nobel Sastra. Salah satu anggota lembaga itu, yakni Guru Besar Sastra Inggris Universitas Lexington, Gordon Ball, menilai, seni syair selama ribuan tahun bertahan melalui bahasa lisan. “Dylan mengembalikan penyebaran puisi ke bentuk dasar, melalui napas dan emosi manusia,” ujarnya dalam laman komite kampanye Dylan untuk Nobel Sastra. Dua tahun kemudian, majalah Time menobatkan Dylan sebagai salah satu dari 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia.

(3) Nobel untuk Bob Dylan dan Polemik yang Mengiringinya | Andi Baso Djaya | beritagar.id | 15 Oktober 2016 | 696 Kata

Tulisan ini “menyatukan” serpihan kutipan yang bertebaran di kanal daring maupun media sosial menyambut terpilihnya Bob Dyla sebagai pemenang Nobel Sastra 2016. Bukan hadiah berupa medali emas, gelar diploma, sertifikat, dan uang SEK8 juta (Rp11,8 miliar) yang menjadi perhatian banyak orang, tapi “ruang” dari mana dia mendapatkan kemasyhuran, yakni musik. Simaklah kicauan novelis Jodi Picoult (58) dalam akun Twitter resminya, @jodipicoult. “Saya ikut senang dengan terpilihnya Bob Dylan. Artinya saya juga bisa menang Grammy?” Atau pendapat Rabih Alameddine (57), penulis blasteran Lebanon-AS, juga melalui medium Twitter: “Bob Dylan memenangkan Nobel Sastra hampir sama konyolnya dengan keberhasilan Winston Churchill.”

(4) Ambisi Komite Nobel Sastra Memilih Bob Dylan | Ardyan Mohamad Erlangga | minumkopi.com | 15 Oktober 2016 | 1340 Kata

Sejak paragraf pertama, penulis sudah bilang gagasan yang direngkuh dalam tulisannya ini hasil dari otak-atik gathuk. Mathuk atau tidaknya, mesti dibaca selesai. Panjang memang. Ia menautkan kemenangan Bob Dylan sebagai peringatan kepada dunia dari Swedia dalam Pilpres USA yang panas di tahun ini. Siapa lagi kalau bukan pertarungan sengit antara Hillary Clinton yang kerap dituding perpanjangan kepentingan korporasi multinasional dan mewakili semua imaji buruk status quo elit AS dan Donald Trump yang punya daftar kontroversi sekaligus blunder politik yang sulit dirangkum sekali duduk. Nah, Komite Nobel Sastra gelisah dengan keadaan itu. Terpilihnya Bob Dylan sebagai pemenang merespon momen transisi yang dijelang rakyat Amerika, sekaligus upaya Nobel mengirim pesan kepada penduduk dunia yang merasakan ekses politik kotak suara satu negara adi daya.

(5) Nobel Sastra untuk Sang Musikus | Moyang Kasih Dewimerdeka | Koran Tempo, 15-16 Oktober 2016 | 859 Kata

Tulisan ini dimulai dengan sesuatu yang “ter”. Bacalah: “Sebuah rekor baru tercetak dalam 115 tahun sejarah anugerah Nobel Sastra. Adalah Bob Dylan yang membuat rekor itu. Legenda rock and roll ini menjadi musikus pertama yang pernah memenangi Nobel kategori literatur. Dia mendapat anugerah tersebut karena “telah menciptakan terobosan ekpsresi puitis dalam tradisi panjang lagu-lagu Amerika.” Selain merekam kontroversi kemenangan Dylan ini karena tidak memberikan apresiasi kepada sastrawan, tulisan ini banyak menyoroti kiprah sang nobelis sastra di panggung musik. Misalnya, puncak penciptaan Dylan dalam lagu adalah Like A Rolling Stone. Lagu berdurasi enam menit ini dianggap menabrak pakem lagu tiga menit yang populer. Lagu ini dinobatkan majalah Rollingstone sebagai lagu terbaik Dylan. Kritik sosialnya sangat keras dalam lagu ini. Pun demikian, Dylan telah dipilih Komite Nobel sebagai pemenang dan sastrawan Salman Rushdie melalui akun Twitter-nya memberi ucapan selamat: “Dari Orpheus sampai Faiz, lagu dan puisi selalu punya hubungan erat. Dylan adalah pewaris brilian dari tradisi bardic tersebut. Great choice.”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan