-->

Agenda & Donasi Toggle

21 OKTOBER 2016 | DISKUSI BUKU dan PAMERAN SKETSA | UNIVERSITAS SANATA DHARMA – YOGYAKARTA

 

ttjb_yogya

Hari/tanggal : Jumat, 21 Oktober 2016

Pukul : 14.00 – 16.30

Tempat : Ruang Lontar, Kampus II Universitas

Sanata Dharma, Jl. Gejayan, Mrican, Yogyakarta

Peserta:

  1. Akademisi: dosen dan mahasiswa
  2. Aktivis Demokrasi dan HAM
  3. Survivor Pelanggaran HAM masa lalu
  4. Warga masyarakat umum

Pembicara:

  1. Dr. Yosef Djakababa (Sejarawan, CSEAS-Indonesia, AIFIS)
  2. Hairus Salim (Budayawan, LKiS)
  3. Gregorius Soeharsojo Goenito (Penyintas dan Penulis)

Moderator:

  • Baskara T Wardaya SJ (USD)

 

Salah satu bentuk kekerasan massal yang terjadi pada tahun 1965 dan setelahnya adalah pembuangan para tahanan ke Pulau Buru. Pembuangan yang melibatkan belasan ribu orang itu tanpa didahului oleh proses pengadilan untuk menentukan apakah seseorang benar bersalah atau tidak, atau apakah seorang tahanan layak dihukum dengan pembuangan atau tidak. Padahal selama masa pembuangan di Pulau Buru banyak tahanan mengalami siksaan, hinaan bahkan kematian. Selain itu, pembuangan ke Pulau Buru ini sifatnya bukan spontan, melainkan dilakukan secara terencana, serta melibatkan banyak petugas negara, khususnya dari kalangan militer. Baik persiapan maupun pelaksanaan pembuangan itu sendiri tercatat secara administratif. Artinya, semuanya terencana dan bisa dilacak serta banyak saksinya, termasuk para penyintas dari pembuangan Pulau Buru.

Meskipun demikian, hingga hari ini belum pernah ada pernyataan resmi dari negara untuk mengakui apa yang terjadi di Pulau Buru, apalagi meminta maaf kepada para mantan korbannya. Kisah hidup dan penderitaan para tahanan itu seakan mau dilupakan begitu saja. Lebih dari itu, setiap upaya untuk mengangkat dan menarasikan kisah Pulau Buru hampir selalu mendapat tekanan baik langsung maupun tak langsung. Sebagai akibatnya, masyarakat tidak mendapat gambaran yang perlu mengenai apa yang terjadi di Pulau Buru sehingga bisa belajar dari lembaran hitam sejarah Indonesia itu.

Diskusi ini secara khusus akan membahas buku yang baru saja diterbitkan oleh INSISTPress Yogyakarta, yang berjudul Tiada Jalan Bertabur Bunga: Memoar Pulau Buru Dalam Sketsa (2016), ditulis oleh salah seorang penyintas Pulau Buru bernama Gregorius Soeharsojo Goenito. Isi bukunya adalah sketsa-sketsa, narasi serta puisi-puisi yang semuanya merupakan karya Pak Greg. Diharapkan bahwa dengan membaca dan mendiskusikan buku ini kita akan bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang situasi di dalam kamp pemerintah Orde Baru. Dengan begitu, selain akan mampu mendengarkan paparan langsung dari penyintas pulau pembuangan tersebut kita juga bisa belajar bersama sebagai modal membangun hari esok yang lebih cerah kepada kita semua.

Dalam rangkaian diskusi, panitia juga menggelar pameran sketsa. Sketsa yang dibuat Pak Greg saat menjalani tahanan politik, sejak penangkapannya pada 1966 hingga pembebasannya pada 1978, mengalami perubahan yang bisa dirasakan dari karakter goresan. Ada garis-garis dan goresan yang makin kuat seiring perjalanan waktu. Beberapa objek gambar makin tampak nyata. Sementara beberapa sketsa memiliki kejelasan goresan yang seolah berkait dengan keleluasaan (waktu dan kelegaan diri) ketika membuatnya. Terbaca juga peristiwa-peristiwa yang tumpang-tindih dan disegerakan untuk dimuat dalam satu bidang gambar yang mengandung kesadaran tentang kenangan menjelang pembebasan.

Satu hal yang menjadi catatan penting, sketsa-sketsa Pak Greg ini dibuat di Pulau Buru. Selama di Pulau Buru, rutinitas Greg menggarap lahan untuk ladang dan sawah. Dengan sembunyi sembunyi, dia membuat sketsa dengan alat-alat seadaanya. Kami kira selain Pramoedya Ananta Toer, nama Gregorius Soeharsojo Goenito adalah salah satu penyintas ’65 yang bisa berkarya ketika menjadi tahpol Pulau Buru.

Narasi berupa sketsa-sketsa dalam memoar ini mengandung ekspresi yang kuat dari goresan yang tampak jarang dan tak penuh dalam satu bidang gambar. Ekspresi-ekspresi itu menguatkan pengungkapan emosi penyintas atas peristiwa kelam yang dialaminya.

Diskusi dan Pameran Skesta ini merupakan hasil kerjasama antara Pusdema (Pusat Kajian Demokrasi dan HAM), Penerbit INSISTPress, dan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies).

 

Terimakasih.

a.n. Panitia

Dr. Baskara T. Wardaya, SJ. (Kepala PUSDEMA)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan