-->

Agenda & Donasi Toggle

25 SEPTEMBER 2016 | BINCANG – BINCANG SASTRA EDISI 132 “BELAJAR DEKLAMASI” | NGAGLIK – SLEMAN – YOGYAKARTA

bincang2-sastra

Hari/Tanggal: Minggu, 25 September 2016
Pukul :19.30–22.00
Lokasi: DC Milk Cafe & Bar, Jalan Damai nomor 5A, Ngaglik, Sleman

Bincang-bincang Sastra edisi 132

Belajar Deklamasi

Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan DC Milk Cafe & Bar, didukung radiobuku.com akan menyelenggarakan acara Bincang-bincang Sastra edisi 132 dengan tema “Seni Deklamasi: Riwayatmu Kini” pada hari Minggu, 25 September 2016 pukul 19.30–22.00 bertempat di DC Milk Cafe & Bar, Jalan Damai nomor 5A, Ngaglik, Sleman. Dalam acara ini akan tampil para deklamator andal Yogyakarta, yakni, Tubagus Nikmatullah, Riska S.N., Iqbal H. Saputra, Novi Arisa, dan Kedung Darma Romansha diiringi lengking violin Doni Onfire. Mereka akan mendeklamasikan puisi-puisi karya penyair ternama Indonesia. Selain itu, selaku narasumber akan hadir Fairuzul Mumtaz (penggiat literasi di I: Boekoe) dan Anes Prabu Sadjarwo (pelatih teater dan guru bahasa Indonesia di MAN Yogyakarta II), dipandu oleh S. Arimba.

“Akan kembali diteroka mengapa seni deklamasi belakangan jarang diminati oleh para penyaji puisi. Sementara di Yogya, banyak acara sastra perayaan puisi, namun rasa-rasanya para penyair atau pembaca puisi lebih sering tampil dengan membaca puisi saja, atau malah mengolahnya menjadi musik puisi. Melihat kecenderungan tersebut, Studio Pertunjukan Sastra yang di tahun 2011, 2012, dan 2013 sempat menggelar Lomba Deklamasi Nasional merasa memiliki tanggung jawab untuk kembali menghadirkannya meski tanpa menyelenggarakan perlombaan seperti yang sudah-sudah,” terang Sedopati Sukandar, koordinator acara ini.

Sejauh ini diketahui bahwa istilah deklamasi berasal dari bahasa latin declamare atau declaim. Maksudnya adalah sebuah aktivitas untuk menyampaikan makna sesuatu hasil sastra dengan bantuan gerak tubuh yang puitik, dramatik, dan seirama dengan isi bacaan. Pada dasarnya, deklamasi merupakan salah satu model pembacaan karya sastra yakni puisi sebagai bentuk apresiasi sastra pascakarya. Deklamasi acap kali diartikan membaca puisi, tetapi membaca puisi tidak sama maksudnya dengan deklamasi. Pengertian membaca dalam deklamasi memiliki kaidah, aturan, dan tatacara tersendiri tidak sama dengan makna membaca pada umumnya, sebab penampilan mendeklamasi seringkali dapat disaksikan bahwa sang penampil tanpa membawa naskah.

Dewo PLO, direktur DC Milk Cafe & Bar, mendukung penuh penyelenggaraan acara ini. Menurutnya, “Seni deklamasi harus dilestarikan. Ini adalah salah satu cara menafsirkan dan mengungkapkan isi hati sebuah puisi. Dengan gerak tubuh, mimik muka, dan membaca puisi dengan lagu suara, tempo bicara, intonasi, saya rasa isi puisi dapat lebih bisa diresapi orang lain.”

“Deklamasi memiliki tujuan untuk mengutarakan pikiran atau kebijakan yang terdapat dalam sebuah puisi, sehingga nilai-nilai keindahannya terucap keluar dan terdengar oleh orang lain. Langkah yang perlu dilakukan dalam mendeklamasikan puisi adalah proses pembacaan, pemaknaan, penghafalan, dan pelafalan puisi. Artinya, sebelum berdeklamasi seorang deklamator harus mencari dulu mana puisi yang baik dan menarik untuk dideklamasikan. Supaya orang dapat melakukan deklamasi dengan baik perlu dipersiapkan dan latihan jauh sebelumnya. Kalau tidak kembali dipelajari maka salah satu jalan alternatif menghadirkan puisi di hadapan khalayak ini akan hilang dari panggung,” pungkas Sukandar.

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan