-->

23Tweets Toggle

23 TWEETS | KATALOG SENI – MANGGOLO MUDHO | YOGYAKARTA

Manggolo Mudho adalah komunitas seni Reyog Ponorogo. Ia merupakan unit kesenian dari Paguyuban Warga Ponorogo di Yogyakarta(PAWARGO). Lahir pada era 90’an, namun vakum selama kurang lebih 20 tahun dan aktif kembali pada 2012. Seni Reyog adalah kesenian rakyat dari Ponorogo. Ada dua versi yang berkembang: versi Legenda Bantarangin dan versi Suryoalam. Kesenian ini terbilang simpel dan fleksibel. Bisa sebagai sendratari maupun untuk dipentaskan di acara hajatan/pawai. Singo Barong/Dadhak merak adalah ikon dalam Seni Reyog Ponorogo. Berwujud topeng kepala macan dengan ornamen bulu merak. Topeng Dadhak Merak cukup besar dengan berat hampir 50kg, diangkat dengan kekuatan leher, gigi, kepala, dan dibantu tangan.

 

manggolo-muda

1 Kukuh Luthfi Samsiar, mahasiswa Sastra UGM. Berasal dari Jember. Sejak kecil akrab dan gemar dengan kesenian daerah. #KatalogSeni @kukuhluthfi

2 Abadha Alkautsar, mahasiswa Filsafat UGM. Lahir di Nganjuk, besar di Ponorogo. Sejak di Ponorogo ia belajar seni Reyog Ponorogo. #KatalogSeni

3 Manggolo Mudho adalah salah satu paguyuban Reyog Ponorogo di Jogja. Berada di bawah naungan PAWARGO Yogyakarta. #KatalogSeni @manggolomudho

4 Lahir pada 90’an namun sempat vakum selama 20-an tahun. Aktif lagi pada 2012. Penggiat di dalamnya adalah mahasiswa dan pekerja. #KatalogSeni

5 Para penggiat tidak hanya yang berasal dari Kota Ponorogo, namun juga dari luar. “Karena komunitas jadi kami terbuka”, ungkap Kukuh. #KatalogSeni

6 Seni Reyog memenuhi kriteria wiraga, wirasa, wirama. Olah gerak, olah rasa, dan olah nada. Ketiganya saling berkaitan. #KatalogSeni

7 Sampai sekarang, ada dua versi yang berkembang dalam Reyog: versi Legenda Bantarangin, dan versi Suryoalam. #KatalogSeni @manggolomudho

8 Versi Bantarangin bentuknya sendratari. Ada alur cerita, pesan moral, dan sajian pertunjukan yang lebih kompleks daripada Suryoalam. #KatalogSeni

9 Versi Suryoalam lebih fleksibel dan komunikatif. Biasa dimainkan dalam hajatan, pawai, atau untuk menyambut tamu. #KatalogSeni

10 Alat musik dalam Reyog terbilang sederhana: kenong, gong, kendang, slompret, dan angklung.  Juga ada dua jenis vokal: senggak dan wiraswara. #KatalogSeni

11 Kendang Reyog berukuran besar dan tanpa alat bantu pukul, perlu tenaga ekstra dalam memainkannya. Gong juga berukuran besar. #KatalogSeni

12 Slompret Reyog adalah salah satu instrumen yang perlu perhatian khusus. Si pemain bernafas sambil harus tetap meniup slompret. #KatalogSeni

13 Vokal dalam Reyog yang terdiri dari Senggak dan Wiraswara bertugas mendukung suasana gerak si penari. #KatalogSeni

14 Ada lima tokoh dalam tari. Warok dan Klana Sewandana ditarikan laki-laki. Sedang Jathil (prajurit berkuda) ditarikan perempuan. #KatalogSeni

15 Tokoh Bujang Ganong ditarikan oleh laki-laki. Si penari harus menguasai beberapa gerakan akrobatik (salto, roll, dan lain-lain). #KatalogSeni

16 Singa Barong/Dadhak Merak ditarikan laki-laki. Topengnya besar dengan berat sekitar 50kg. Diangkat dengan kekuatan leher dan gigi. #KatalogSeni

17 @manggolomudho adalah komunitas. Tidak terkait instansi manapun. Sangat terbuka untuk siapapun. Maharnya adalah cinta seni tradisi. #KatalogSeni

18 Ada beberapa acara pertunjukan seni #jogja yang pernah menjadi ajang  pentas @manggolomudho. Seperti FKY, pentas seni di TBY, dan lain-lain. #KatalogSeni

19 Saat ini @manggolomudho tengah bersiap untuk Festival Nasional Reyog Ponorogo ke-23 di Ponorogo. Latihan rutin di Kampus AMPTA. #KatalogSeni

20 Sebagai sebuah komunitas seni yang kebanyakan anggotanya anak muda, tentu banyak halangan yang dihadapi. #KatalogSeni

21 Mulai dari cekcok antar anggota atau pembagian waktu. Masalah yang ada harus dilewati sebagai sarana pendewasaan. #KatalogSeni

22 Bagi @kukuhluthfi, buku adalah semesta tersendiri yang mampu menghidupkan imajinasi. Dengan membaca ia berlatih mengasah akal budi. #KatalogSeni

23 Tutur Abadha, ketika ia melihat buku, yang terbayang adalah ruang luas untuk berimajinasi. Dengan buku ia berlatih membebaskan pikiran. #KatalogSeni

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan