-->

Agenda & Donasi Toggle

27 AGUSTUS 2016 | BINCANG-BINCANG SASTRA EDISI 131 “SEMESTA PUISI UMBU LANDU PARANGGI | TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta akan menyelenggarakan acara Bincang-bincang Sastra edisi 131 dengan tema “Melodia: Semesta Puisi Umbu Landu Paranggi” pada hari Sabtu, 27Agustus 2016 pukul 20.00–23.00 bertempat di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta. Acara ini sekaligus hadiah bagi Umbu yang berulang tahun pada tanggal 10 Agustus lalu dengan usia mencapai 73 tahun.

Dalam acara ini akan ditampilkan lima reportoar musik puisi yang diangkat dari puisi-puisi Umbu Landu Paranggi yakni “Melodia”, “Ibunda Tercinta”, “Solitude”, “Kuda Merah”, dan “Sajak Kecil” oleh kelompok musik puisi Nankinun dengan personil Fitri Merawati (vokal) dan Afrizal Oktaputra (keyboard) berkolaborasi dengan Agi Agustian (acoustic guitar instrumental), Dian Adi MR (violin), dan Kurniaji Sastro Satoto (vokal scream). Selain itu, Bincang-bincang Sastra kali ini mengundang Asef Saeful Anwar sebagai pembicara yang akan mengulas perpuisian Umbu Landu Paranggi yang akan dipandu oleh Anindya Puspita. Fitri Merawati dan Afrizal Oktaputra juga akan berbagi kisah pengalamannya menggarap puisi-puisi sang Presiden Malioboro.

“Selama ini telah banyak pembicaraan mengenai Umbu Landu Paranggi dengan segenap ketekunannya menjadi guru, kesetiaannya kepada puisi, dan mitos-mitos yang menyelubungi kisah-kisahnya selama di Malioboro dan membina Persada Studi Klub (PSK) yang berhasil membidani sejumlah nama sastrawan garda depan Yogyakarta dan Indonesia hingga saat ini, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi Ag., Korrie Layun Rampan, Iman Budhi Santosa, dan masih banyak lagi. Selain itu, hijrahnya ke Bali sampai kini juga masih menghasilkan penyair-penyair berprestasi yang tergabung dalam Sanggar Minum Kopi, Tan Lioe Ie, Raudal Tanjung Banua, Wayan Jengki Sunarta, Mira M.M. Astra, Pranita Dewi, dan masih banyak nama-nama lainnya. Maka melalui acara ini Studio Pertunjukan Sastra mencoba kembali memaknai puisi-puisi karya sang Pangeran Sumba, yang menurutnya ialah “sukma dari sukma” sang penyair,” demikian dikemukakan Latief S. Nugraha, koordinator acara ini.

“Acara ini juga merupakan tonggak awal bagi kelompok musik puisi Nankinun hadir dalam arena sastra Yogya. Nankinun merupakan sebuah “pekerjaan rumah” yang diberikan Umbu kepada Fitri Merawati dan Afrizal Oktaputra setelah keduanya tampil membawakan dua reportoar musik puisi karya Umbu dalam acara Macapat Syafaat dengan tema “Berguru pada Umbu” yang digelar pada 17 Maret 2015 silam. Acara tersebut merupakan rangkaian dari acara 47 tahun Persada Studi Klub yang digelar pada 15 Maret 2015 di Rumah Maiyah,” imbuh Latief.

“Kembali pada esensi, saya kira demikianlah semangat yang ingin diketengahkan Studio Pertunjukan Sastra melalui acara ini. Spiritualitas yang terkandung dalam karya sastra perlu kembali dikaji. Mengutip kesimpulan Asef Saeful Anwar membaca puisi-puisi Umbu, bahwa kebakaan atau keabadian puisi terletak pada pesona pribadi sang penyair. Usianya mencapai angka 73 tahun, dan ia masih enggan menerbitkan puisi-puisinya dalam sebuah buku, seolah-olah apabila diterbitkan maka puisi-puisinya, jiwa dari jiwanya itu, akan terpisah dari dirinya. Semoga acara ini bermanfaat,” pungkas Mustofa W. Hasyim, ketua Studio Pertunjukan Sastra. (Latief S. Nugraha, sekretaris/koordinator acara Studio Pertunjukan Sastra)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan