-->

Literasi dari Sewon Toggle

Koleksi Perpus: Rasia Bandoeng dan Cetak Terbatas

Salah satu berkah dari teknologi cetak terbatas adalah aktualnya masa lalu. Termasuk hadirnya buku-buku lama. Ketika berada di balik salah satu pekerja teknis lahirnya buku-buku lama, seperti Tempoe Doeloe dan Hikajat Siti Mariah yang diinisiasi dan ditukangi langsung Pramoedya Ananta Toer, teknologi cetak terbatas belum ada dalam impian. Cetak masih berporos pada aliran “minimal 1000 eksemplar”. Ancaman buku menumpuk di gudang adalah keniscayaan yang mesti diterima dengan kepasrahan yang disertai pisuhan.

Tapi, untunglah ada nama Pramoedya Ananta Toer di sampul depan. Di masa peralihan milenia itu, Pram adalah Midas dalam perbukuan. Apa saja yang disentuhnya adalah uang.

Tapi bagaimana dengan nama yang “biasa-biasa” saja, para medioker dan partikelir macam saya ini? Kutukan langsung berlaku bahkan buku belum dimulai pengerjaannya. Keberanian lindap.

Untunglah ada teknologi cetak terbatas yang membuat semuanya bahagia. Insiator yang menerbitkan buku-buku lawas senang karena hanya butuh modal kecil saat pracetak. Penyuka khasanah-khasanah klasik juga tersenyum karena kaum dengan jumlah sangat terbatas ini punya legitimasi bahwa apa yang mereka sukai itu ada, nyata, dan syukur-syukur bisa berlipat ganda. Bukpaganda, sebut saja demikian.

Dalam konteks itulah saya menyambut buku “Rasia Bandoeng” karya Chabanneau. Disunting Andrenaline Katarsis yang bersekutu dengan Hernadi ‘Lao Tan’ Tanzil. Diproduksi secara keroyokan oleh Katarsis Book, Tulus Pustaka, Tjimahi Heritage, Balad Junghuhn.

Salam saya dari Selatan untuk Bandung. [Muhidin M. Dahlan]

Rasia Bandoeng

#LiterasiDariSewon

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan