-->

Literasi dari Sewon Toggle

Itu Komik Kanan, Ini Komik Kiri

Jika di kanan ada “komik surga-neraka” (Siksa Neraka), maka di kiri ada “komik pemula” (Sejarah Gerakan Kiri Indonesia).

Yang kanan berdimensi ukhrowi, yang kiri berdimensi duniawi. Yang kanan ruang lingkupnya pascasejarah, yang kiri berada dalam garis sejarah. Yang kanan berlangsung di masa depan (bakal), yang kiri sudah berlangsung (past).

Kedua buku ini adalah horor, menebar ketakutan. Satu ketakutan pada dunia masa depan (kanan), satunya memperlihatkan betapa binatangnya manusia memperlakukan sesamanya (dalam lapik ingatan masa silam).

Saya belum pernah melihat verbalisme kekerasan selain ditampilkan dua “buku komik” ini. Dua-duanya berada dalam kenangan dan memori yang menebar teror yang mencekam.

Komik kiri secara verbatim menampilkan teror pemerkosaan, jenis-jenis penyiksaan yang merindingkan bulu kuduk, pemotongan alat kelamin, penyembelihan, cambuk, mutilasi, membakar tubuh, menggantung, mengupas kulit, mencongkel mata, memotong telinga, menggergaji tangan, dan menggerupuki batu hingga remuk terhadap perempuan dan laki-laki komunis atau mereka yang dituduh secara serampangan bagian dari PKI.

Komik kanan juga demikian dengan sekian “jika”. Jika di alam sejarah berbuat dosa itu, maka hukumannya di alam postsejarah (barzakh) adalah ini; si pendusta lidahnya dipotong, si kikir punggungnya disetrika, si pezina kelaminnya disodok linggis hingga tembus ke mulut, dan seterusnya, dan sebagainya.

Jika komik yang sebelah kiri adalah refleksi dari sebuah kebrutalan (dan sudah terjadi), maka komik yang kanan adalah hukuman yang datang dari masa depan.

Persamaan terakhir kedua buku ini adalah sama-sama dijual secara asongan. Terakhir saya lihat komik kanan ini dijual di penyeberangan kapal feri Ketapang-Gilimanuk. Sementara komik kiri ini ….

Ah, kepada siapa lagi berterimakasih jika bukan kepada Bilven Sandalista yang telah mengirimkan buku ini di perpustakaan gelaranibuku–nama perpus radiobuku yang dijaga Fairuzul Mumtaz. Dari segi teknis produksi, komik kiri ini berbeda segalanya. Yang kiri memakai matt paper, ukuran majalah, tebal, dan tentu saja berat, serta mahal. Yang kanan–karena mungkin belum terjadi, dijual asongan, 10 hingga 15 ribu, dan berwarna dengan kertas kualitas pas-pasan. Walau pas-pasan, ya, tak pernah mengurangi daya terornya.

Semoga komik kiri ini berguna untuk bacaan anak-anak sebagai pemula yang ingin tahu sisi kelam manusia-manusia kiri diperlakukan di Republik Indonesia ini, sebagaimana komik kanan itu yang jadi andalan pak/bu ustaz untuk “mempermudah” transformasi masyuk-nya ilmu agama kepada anak-anak sekolah dasar. [Muhidin M. Dahlan]

# LiterasiDariSewon

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan