-->

Agenda & Donasi Toggle

27 April 2016 | Bincang Bersama Eka Kurniawan | #KataRupaFest | Sewon, Bantul

Hari/Tanggal:
Rabu, 27 April 2016
Pukul:
15.30 – 17.30 WIB
Tempat:
Gedung Balai Black Box Indonesia Buku/Radio Buku
Jl Sewon Indah No 1, Panggungharjo, Sewon, Bantul
(Barat Kampus ISI Yogyakarta)

Disiarkan LIVE Streaming
radiobuku.com

Poster_KataRupaFest_Eka (2)

Eka Kurniawan (40) adalah seorang pembelajar keras kepala. Jauh sebelum internet menjadi gaya hidup terkini, Eka sudah menjadi pembaca dan penyusun koding. Jadilah situs web “bumimanusia”. Tak banyak komunitas maupun sastrawan yang “ngeh” dengan dunia website dengan pengodean yang njlimet di masa yang jauh itu; tapi Eka sudah menjajal diri menjadi “programmer” secara otodidak. Bukan hanya itu saja; sebelum dikenal sebagai penulis, ia juga layouter dan juga pembikin sampul majalah dan buku di kawasan Bulaksumur dan sekitarnya.

Yogyakarta adalah kota kedua Eka Kurniawan dan bahkan kota pertama untuk urusan pencarian kreativitas. Ia belajar nyaris tanpa batas. Ia mungkin bukan seorang organisatoris yang aktif dan lincah; namun ia selalu berada di tengah-tengah mereka. Ia pintar mengambil posisi dan sekaligus membuka jalannya sendiri. Ia menyeimbangkan kehidupan komunal yang riuh (mulai dari komunitas bumi manusia hingga Akademi Komunitas Yogyakarta/AKY) dan jalan olah pedang sendiri.

Jauh sebelum ia menjadi penulis dunia yang namanya berkali-kali ditulis di media internasional, Eka sudah merancang bacaannya sebagai bagian dari jalan perseorangan menuju dunia mahaluas itu.

Mula-mula ia menjadi penerjemah. Ia menjadi pemamah yang rakus karya-karya prosa sastrawan dunia; Kafka, Borges, Marquez, Gorki, Dostoyevsky, Twain, hingga Pram. Nama terakhir ini bahkan mengantarkannya lulus dari Filsafat UGM dengan skripsi di seputar Pramoedya dan Realisme Sosialis. Dalam perjalanan sunyi membacanya, Eka tertarik memang dengan sastra kiri dan kemudian merembet ke sastra-sastra nobel terkini.

Bacaan sastra dunia itulah yang dikawinkannya dengan bacaan remajanya: cerita silat, novel seks stensilan, dan komik. Maka jadilah karya-karya Eka Kurniawan yang Anda bisa baca di pelbagai buku himpunan cerita pendek dan sejumlah novel.

Dari rute bacaan itu, Eka jelas sangat sadar merancang bacaan dan asupan untuk kepalanya yang kemudian membias dalam karya-karyanya. Karya-karya Eka Kurniawan diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dunia tak terlepas dari bias dan tendensi bacaan yang dikonsumsinya itu.

Eka adalah teladan untuk sebuah pencarian gaya, bahasa, lewat jalan membaca yang tak main-main. Ia bukan datang tiba-tiba, ujug-ujug. Jalan ini ia rawat siang-malam hingga batas: “nggak masuk rumah sakit jiwa aja sudah syukur”. Ke mana-mana jalan kaki dengan sandal jepit, kaos oblong kedodoran, jins butut, dan menenteng tas kresek; mirip gembel.

Di Kata-Rupa Festival di Hari ke-2 ia akan berkisah buku-buku yang menjadi pondasi batu-kali membangun jalan kreativitasnya dan sekaligus persahabatannya yang hangat dengan teman-temannya dalam berkomunitas. Terutama di kota bernama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dipandu dan dipacu Bernard Batubara, sastrawan terkini yang menjanjikan, mari mendengarkan cerita Eka Kurniawan!

DATANG YA!

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan