-->

Agenda & Donasi Toggle

26 April 2016 | Haul #10 Pramoedya Ananta Toer | Sewon, Bantul

Hari/Tanggal:
Selasa, 26 April 2016
Pukul:
15.00 – 19.00 WIB
Tempat:
Gedung Balai Black Box Indonesia Buku/Radio Buku
Jl Sewon Indah No 1, Panggungharjo, Sewon, Bantul
(Barat Kampus ISI Yogyakarta)

pramoedya 2 - Copy Copy

Barangkali Kota Yogyakarta tak terlalu istimewa bagi prasais Pramoedya Ananta Toer. Saat muda dan bergolak bersama Lekra di tahun 60-an, ia hanya sekali dua kali menyampaikan referat di UGM tentang sastra daerah, khususnya pembaruan wayang untuk para petani dan kalangan rendahan. Empat tahun setelah Soeharto tumbang, Pram berkunjung ke Yogyakarta. Bukan lantaran panggilan keistimewaan Yogyakarta, namun karena buku-bukunya “Edisi Pembebasan” dicetak di kota yang terbebani oleh setumpuk sandangan ideal ini.

Dan, Pram muncul pertama kali berhadapan dengan publik seni rupa di kawasan Karangkajen pada November 2002. Galeri Gelaran Budaya mengundang Pram karena sebuah kedekatan dan persahabatan; Ilustrasi dan sampul “Edisi Pembebasan” Tetralogi Pulau Buru dikerjakan seniman-seniman Gelaran.

Pertemuan kecil yang disertai “insiden” di Karangkajen itu membuka pintu Pram berjumpa dengan ribuan pembaca novel-novelnya di Yogyakarta. Akademi Kebudayaan Yogyakarta pada 2003 menjadi penyelenggara “seminar besar” di UC UGM dengan menghadirkan Gus Dur, Mansour Fakih, dan Gadis Arivia yang dipandu Taufik Rahzen.

Seminar ini lebih menyerupai perjumpaan Pram dengan pembacanya dan Gus Dur dengan santri-santrinya yang membuat gedung pertemuan itu berlimpah manusia.

Pram senang, Pram semringah. Gairahnya menyala-nyala. Tak putus-putus dia tersenyum. Dia merasakan semangatnya pulih kembali setelah sekian puluh tahun dipingit kekuasaan dalam penjara dan dalam rumah.

Tapi, ia tetap irit mengomentari kota yang separuh kerajaan separuh republik ini. Setahun kemudian ia masih berkunjung ke Yogyakarta, namun dalam sebuah perjumpaan terbatas di hotel di perbatasan kota.

Sampai di situ! Pram tak pernah lagi berjumpa dengan pembacanya di kota yang pernah di suatu masa yang jauh berjuluk “Ibu Kota Revolusi” ini. Hanya keluarga besar saja yang bolak-balik Jakarta-Yogyakarta karena Penerbit Lentera Dipantara yang menerbitkan semua buku sastrawan kelahiran Blora 6 Februari 1925 ini dibikin dan dikelola di sini.

Sampai di situ! Hingga Pram wafat saat kalender menunjuk tahun 2006, bulan April, tanggal 30, hari Ahad, pukul 08.55 WIB.

Merujuk pada linimasa, satu dekade lebih dua tahun nyaris tak ada kegiatan yang menghadirkan Pram dan membicarakan karya-karyanya secara terbuka di Yogyakarta. Juga setelah kepergian Pram yang tahun ini berusia satu dekade, Pram lindap dan hanya hidup dalam benak para pembaca karya-karyanya di kota yang belum lama menikmati status ekonomi-barunya berkat keberkahan “Istimewa”.

Yayasan Indonesia Buku dan Radio Buku menghadirkan kembali Pram dalam gelaran “Haul dan Cerita”. Si penyelenggara haul ini, Indonesia Buku, adalah metamorfosis-tak-utuh dari gelaran budaya yang menjadi pengundang pertama Pram berhadapan dengan publik sastra-seni (kata-rupa) di Yogyakarta di tahun 2002.

Haul ini diisi serangkaian acara:
– Pemanjatan Doa
– Kesaksian dari Keluarga Besar Pramoedya Ananta Toer
– Peluncuran buku “Aku adalah Seorang Pramis” karya Muhidin M. Dahlan (Octopus, 2016)
– Penyerahan Berkas Reading Group Roman “Gadis Pantai” oleh Klub Baca Buku Yogya
– Peluncuran Buku Akademi Komunitas Radio Buku: (1) “Pendidikan Komunitas: Merajut Keragaman dari Pinggir Yogyakarta”; (2) “Tisu Basah Samlah: Sehimpunan Cerita Pendek” karya Tikah Kumala

Ayo, pembaca buku Pramoedya! Mari berkumpul, berdoa, sambil menyelami kisah teladan kegigihan Pram berkarya. Kami menunggu Anda di kawasan Selatan Yogyakarta (Sewon, Bantul).

Narakontak: 0818 466 399 (Faiz Ah Soul) – 0858 6835 7537 (Vivi Al-Mumtaz)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan