-->

Agenda & Donasi Toggle

26 Maret 2016 | Bincang-bincang Sastra edisi 126 | Jemek Belajar Bicara Kepada Mustofa

 

CeMrwatUAAAXfVm

Apa pentingnya waktu?

Mengapa waktu bisa menelan peristiwa-peristiwa, nasib, dan harapan?

Waktu demikian dingin dan ’kejam’ menempel apa saja dan siapa saja lalu mengajaknya tenggelam dalam masa silam.

Waktu ’bisa berbaik hati’  untuk melupakan luka-luka hidup kita.

Tetapi waktu ’bisa juga nakal” karena dia bisa memunculkan masa lalu dalam waktu kini, kenangan bisa hidup dan menyertai kita, merayu kita atau mememeluk kita dengan mesra.

Lantas bagaimana pergumulan seorang Jemek Supardi dengan waktu?

Demikianlah penggalan puisi karya Mustofa W. Hasyim yang akan dipentaskan bersama Jemek Supardi dalam acara Bincang-bincang Sastra edisi 126, Sabtu, 26 Maret 2016 pukul 19.30 WIB di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Studio Pertunjukan Sastra. Dalam acara ini akan disajikan pentas pembacaan puisi oleh Mustofa W. Hasyim yang berpadu dengan pantomim ala Jemek Supardi dengan judul “Jemek Belajar Bicara Kepada Mustofa”. Selepas pentas, Jemek dan Mustofa pun akan berbincang mengenai gerak indah pantomim Jemek. Setiap gerak yang disampaikan Jemek merupakan simbol, sama seperti puisi, puisi juga menyampaikan simbol-simbol, bedanya puisi hadir lewat kata sementara pantomim hadir lewat gerak. Dalam acara ini barangkali menjadi pertama kali dalam sejarah selepas pentas Jemek akan bicara. Jemek akan belajar bicara kepada Mustofa.

“Pantomim telah membuat saya hidup untuk berpantomim,” demikian kata pria kelahiran 4 Maret 1953 itu. Jemek yang mulai menggeluti dunia pantomim sejak tampil dalam rangka ulang tahun Teater Alam pada pementasan Malin Kundang yang disutrdarai oleh Murtri Purnomo tahun 1974. Itulah karier pertama Jemek bermain teater setelah sekian tahun berproses di Teater Alam sebagai propertiman. Peran yang cukup membanggakan dan penting dalam kariernya kelak di dunia pantomim. Jemek berperan jadi air. Ia disuruh berbaring dan menggerakkan kakinya membuat gelombang air. Bukan wajah dan tubuh lainnya yang ditampilkan, tapi sekadar bahasa gerak sepasang telapak kaki. Ya, itulah karier pertama tokoh kita ini.

Jemek yang sebelumnya akrab disapa Pardi Kampret karena di tahun 1960-an hingga 1970-an, ia lebih memilik menjadi bocah ra nggenah. Di masa remajanya ia sudah memiliki nama besar kampret sebagai simbol anak kecil yang nakal, mbeling, clemer dalam arti yang sesungguhnya yakni suka mencuri buah-buahan dan merembet ke arah kriminal terutama di tahun-tahun 1965. Ia hidup dengan mencopet di Sekatenan, mencuri perhiasan mayat, judi cliwik, main kartu, dan bergaul dengan pelacur di rel kereta api. kampret lahir dari kelam kota Yogyakarta, di tengah keributan terminal Prawirotaman, Yogyakarta. Lelaki kurus, berambut gondrong dengan jidat melebar itu di masa mudanya begitu asyik mengakrabi kawasan kelam kotanya. Namun kemudian semua itu ia tinggalkan semenjak ia berkenalan dan jatuh cinta dengan dunia seni bernama teater yang mengantarkannya kepada seni gerak indah bernama pantomim.

“Kisah-kisah itu yang dioleh oleh Mustofa sebagai puisi, dan akan disajikan sebagai refleksi bagi Jemek dan masyarakat seni di era modern ini. Jemek yang memilih berbicara tanpa bicara mencoba belajar bicara. Ia akan merespon gegap gempitanya arus lalu lintas kota Yogya yang begitu cepat dan terburu-buru. Ia akan merespon maraknya menggunakan HP cerdas yang membuat semua orang justru membisu kepada sekelilingnya, menjadi apatis. Jemek akan merespon bagaimana orang-orang kini tak lagi mau berterima kasih kepada guru, orang maupun situasi yang telah mengajari makna hari-hari dalam kehidupan ini,” demikian kata Mustofa W. Hasyim, selaku penulis naskah puisi pementasan ini.

 

Tertanda

Sukandar, koordinator acara

 

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan