-->

Agenda & Donasi Toggle

27 02 2016 | Bentara Budaya Yogyakarta | Bincang Novel “180” Karya Mohammed Cevy Abdullah dan Noorca M. Massardi

BINCANG & BERBAGI NOVEL “180”
Karya Mohammed Cevy Abdullah dan Noorca M. Massardi

Bentara Budaya Yogyakarta,  Sabtu 27 Februari 2016

New Picture

Pengusaha Muda Mohammed Cevy Abdullah (36) dan pengarang Noorca M. Massardi (62), meluncurkan novel berjudul 180 yang ditulis berdua selama 14 bulan. Setelah dilincurkan pertama kali di Studio I, Botani XXI, Botani Square Mall, Bogor, pada Selasa, 22 Desember, dilanjutkan di Bentara Budaya Bali, pada 17 Januari 2016, dan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Kamis, 4 Februari 2016, untuk keempat kalinya novel inspiratif “180” diluncurkan dan dibahas dalam acara Bincang & Berbagi di Bentara Budaya Jogjakarta pada Sabtu, 27 Februari 2016. Acara di BB Jogja itu, selain dihadiri kedua pengarang juga dipandu oleh aktris teater dan pengarang cerpen Evi Idawati (43).

Dan, merupakan hal yang langka terjadi, novel setebal 318 halaman yang diterbitkan oleh divisi penerbitan sastra, seni dan budaya: Penerbit Kakilangit Kencana (Prenadamedia Group), Jakarta, itu akan dibagikan secara gratis sebanyak 10 ribu eksemplar. Cetakan pertama sebanyak 2.000 eksemplar diberikan langsung kepada undangan yang hadir pada acara launching pertama di Bogor, sementara selebihnya dibagikan pada setiap road show ke sejumlah kota besar di Indonesia, sepanjang 2016. Khusus untuk acara road show, itu novel 180 dicetak dalam tiga versi warna yang berbeda: hitam, merah, dan putih.

Sebagaimana di tempat lain sebelumnya, acara Bincang & Berbagi Novel “180” itu dibuka dengan penayangan dokumentasi visual peluncuran di pelbagai kota serta trailer film pendek Red Code yang ditulis/disutradarai/iproduksi oleh Mohammed Cevy Abdullah.

Ihwal motivasinya menulis novel, padahal sebagai pengusaha muda dengan aset triliunan rupiah ia pasti sangat sibuk, Mohammed Cevy Abdullah menyatakan, “Dengan novel 180 ini saya hanya ingin berbagi. Terutama bagi generasi muda, khususnya dari kalangan keluarga sederhana. Kita harus selalu bersemangat untuk menimba ilmu, tekun dan tabah menjalani hidup, dan harus senantiasa memelihara dan memiliki impian setinggi mungkin. Bila kita tetap fokus, bersikap terbuka, dan disiplin berjuang, insha Allah cita-cita kita akan terkabul. Dan, jangan lupa, Tuhan sudah punya skenario. Kitalah yang harus merebut dan mengisi peran itu. Kitalah yang harus memilih ingin menjadi apa. Bukan orang lain!” katanya.

Selain itu, menurut Mohammed Cevy Abdullah, ia sengaja menulis novel itu karena kepeduliannya terhadap perkembangan sosial dan psikologis masyarakat saat ini. Khususnya “Y Generations” Indonesia. Ia ingin menyampaikan pesan sosialnya melalui media novel, yang sarat akan nilai-nilai filosofi kehidupan yang penuh dengan fake, freak dan false. Novel itu juga merupakan sumbangsihnya, tidak hanya untuk memperkaya khasanah penulisan fiksi, tapi juga untuk menularkan spirit dan filosofi “Tora” kepada generasi muda Indonesia.

Sedang Noorca M. Massardi, yang mengaku baru pertama kali menulis novel bersama ini, menyatakan sangat menikmati proses penulisan, merancang plot, dan mengedit naskah novel 180. “Walau saya baru mengenal Mohammed Cevy Abdullah 14 bulan lalu, ternyata kami memiliki kesamaan dalam visi, misi, karakterisasi, dan konsep penulisannya. Alhamdulillah, semua lancar. Terutama karena niat kami memang sejalan. Ingin berbagi inspirasi tentang pergulatan hidup yang berakhir happy-ending, dengan generasi muda negeri ini, yang menyimpan energi luar biasa.”

Sementara itu, Syafruddin Azhar, selaku Senior Editor dari penerbit Kakilangit Kencana, mengatakan, ia memilih untuk menerbitkan novel 180 ini karena, “Karya novel ini merupakan genre yang langka dan unik yang ditulis secara tandem. Saya membayangkan suatu kerja sama yang rumit di dalam menyatukan pokok pikiran, dua gaya bahasa, dan plot cerita yang tidak mudah. Selain itu, novel 180 ini membawa pesan moral yang luar biasa dahsyatnya bagi pembaca, terutama generasi muda yang sedang dan hendak menapaki masa depannya. Hal ini sejalan dengan visi dan misi penerbitan kami, yang tidak hanya business oriented tapi juga membawa misi edukasi. Sebagai editor yang membaca draft awalnya, saya menilai tokoh Tora dalam novel ini bisa menjadi inspirasi hidup bagi pembaca, dengan meresapi hal-hal yang baik (aura positif) dan memilah hal-hal yang dirasakan tidak sesuai (aura negatif) dengan gaya hidup masing-masing pembaca. Dengan menyelami kisah jalan hidup Tora yang penuh riak dan warna tersebut, saya merekomendasikan novel 180 ini sebagai “ramuan ajaib” bagi mereka yang berpikir, memasuki tahun baru 2016…”

Novel inspiratif “180” mengisahkan tentang perjalanan hidup Tora, seorang pemuda petani miskin yang sangat disiplin, fokus, dan pekerja keras, yang bertekad untuk meraih cita-citanya: menjadi manusia cerdas dan sekaligus menjadi milioner pada usia 30 tahun!

Tora adalah anak dari keluarga petani miskin, namun sejak kecil punya cita-cita besar. Ia percaya semua mimpinya bisa diwujudkan melalui kerja keras, ilmu pengetahuan, percaya diri, dan tidak pernah mengasihani diri sendiri. Segala cara ditempuhnya untuk mencapai tujuan, hingga akhirnya ia dipercaya seorang pemodal asing untuk mengelola perusahaan agro-industri terbesar di Asia.

Tora adalah kisah sukses yang diraih melalui petualangan hidup yang hitam dan putih, namun semua dilakukannya dengan sepenuh kesadaran. Tetapi ia juga percaya bahwa semua yang diterima dan dijalaninya semata merupakan bagian dari skenario Tuhan untuknya. Termasuk bagaimana ia harus membagi dan mengelola cinta dan kasih sayang untuk ibunya, anaknya, dan sejumlah perempuan yang ikut mewarnai hidupnya baik dalam duka, dan keberhasilan, maupun dalam kemiskinan dan kelimpahmewahan.

180” adalah sebuah novel inspiratif untuk generasi muda kreatif, penuh impian, dan siap berpetualang dalam meraih cita-cita dan masa depan. Novel yang ditulis berdua dan belum pernah ada dalam sejarah literatur Indonesia modern, itu telah diedarkan di semua jaringan toko buku di seluruh Indonesia dengan harga @ Rp 70 ribu. (***)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan