-->

Literasi dari Sewon Toggle

Senjakala Kopi di Sewon

Pekan pertama 2016 bukan hanya dibuka dengan kehebohan “martabak” anak sulung Presiden RI Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka. Usaha martabak “Markobar” itu mendapat cuitan dari dosen Universitas Bhayangkara Surabaya dengan alamat akun @mahsina_se: “Nurun ke anaknya pinjam dana ke bank Rp 1 miliar cuman buat martabak kampungan. Bangga dengan lulusan singapore, pulang kampung jualan martabak, ngorbanin bokap #internetmarketing jadi bahan olokan, candaan katanya #LogikaPekok”.

Adik Gibran pun, Kaesang Pangarep, membalas cuitan ibu dosen itu dengan luwes dan santai: “Gapapa, yang penting dari jualan martabak bisa untuk bayar sekolah di singapore. Saya hepi, markobar juga hepi”. Pecahlah pekan pertama 2016 dihebohkan isu “martabak”. Bahkan, soal Jonru si Komentator yang mengomentari foto Presiden Joko Widodo sarungan di Raja Ampat pun lewat.

Pekan pertama 2016 juga bukan hanya soal meme tentang Hakim Parlas Nababan di media sosial yang disebabkan ketok palu yang diayunkan wakil ketua Pengadilan Negeri (PN) Palembang itu menolak gugatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terhadap PT BMH (Bumi Mekar Hijau) dalam kasus pembakaran hutan. Kata-kata yang menyihir Sang Hakim adalah: “Lahan yang terbakar bisa ditanami lagi.”

Di pekan pertama 2016 pula saya menemukan 6 dari 15 koran langganan Warung Arsip yang terbit di Hari Minggu, 3 Januari, menurunkan laporan khusus tentang kopi. Saya ketikkan judul dan halaman pemuatannya:

REPUBLIKA | Es Kopi Padang | 10

KORANTEMPO | Nikmat Aroma Kopi di Lembah Gumanti (Solok, SUmatera Barat) | 24

KORANSINDO | Warung Kopi Legendaris (Purnama), Bandung | 20

JAWAPOS/RADARJOGJA | Khasnya Aroma Kopi Luwak Asli (Kalasan, Sleman) | 6

SOLOPOS | Berburu Kopi Hingga ke Tanah Sabang | 2

TRIBUNJOGJA | Warkop Bukit Menoreh dan Lereng Merapi: Nikmatnya Ngopi di Pegunungan | 10

Semua laporan itu membawa satu nada: optimistis. Kopi itu nikmat senikmat-nikmatnya; baik dicicipi di warung-awarung dalam kota maupun diseruput di desa atau di pegunungan. Bahwa kopi itu adalah sebuah praktik nostalgis. Laporan-laporan itu menunjukkan bahwa kopi di tahun 2016 adalah salah satu bisnis yang dilakoni anak-anak muda dengan masa depan yang sungguh menjanjikan.

Namun di situlah saya justru masygul. Terutama nasib Warung Kopi yang kami dirikan pada 23 April 2015: Bintang Mataram 1915 dengan barista tunggal sekaligus manajer Faiz Ahsoul. Di bulan yang ke-6, warung kopi ini terjengkang dan kini tak berdaya. Kami hampir kehilangan imajinasi bagaimana melanjutkan warung ini di tahun 2016 yang disebut koran-koran dengan tone yang optimistik.

Bintang Mataram 1915 di tahun 2016 betul-betul anomali di Sewon. Ini adalah warung kopi satu-satunya yang menampilkan kopi primer di kecamatan ini dengan satu kampus kesenian yang megah, ISI Yogyakarta. Namun itu tadi, kami seperti kehilangan imajinasi, kreativitas, dan tangan yang rajin/terampil mengembangkan bisnis yang awalnya diharapkan mengisi kekosongan gerai bisnis yang kosong di Sewon.

Sebagai bisnis untuk Komunitas Perbukuan semacam Indonesia Buku, Bintang Mataram 1915 pada akhirnya melempar handuk berwarna putih di awal tahun 2016. Tapi secara impian, ia tetap dibiarkan hidup dalam kepala, walau sayup-sayup sampai. [Muhidin M Dahlan]

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan