-->

Literasi dari Sewon Toggle

Lokakarya Radio Streaming: Bertaruh dengan Waktu

Ada sedikit perbedaan dengan dua lokakarya tentang Radio sebelumnya yang diselenggarakan Radio Buku (2011 dan 2013) di Patehan Alun-Alun Kidul, Keraton Yogyakarta. Dua lokakarya sebelumnya sekadar memperkenalkan bagaimana menjadi penyiar di radio (belum spesifik radio yang berbasis internet). Juga tak membahas sama sekali salah satu piranti utama radio berbasis internet, yakni dunia aplikasi di internet itu sendiri.

Lokakarya yang diselenggarakan di studio baru Radio Buku di Sewon, Bantul selama dua hari ini, 2 dan 3 Januari 2016, menantang peserta yang jumlah lebih kurang 9 orang bahwa membuat radio internet pribadi dan gratis itu tak lebih dari satu jam. Syaratnya, ya ada tiga infrastruktur ini: listrik, jaringan internet, dan laptop/ponsel pintar.

Adalah webmaster Eka Saputra yang menjadikan semuanya menjadi nyata; bahwa membuat radio streaming berbasis internet memang tak butuh waktu lama; 30 menit sudah bisa siaran dengan memakai nama radio suka-suka! Eka hanya perlu menjelaskan sekira 20 menit tentang bagan “kerja” radio streaming dalam bentuk flow chart; mulai dari dashboard, server, klien, dan seterusnya. Namun setelah semuanya dijelaskan secara rinci dan memang terlihat tak mudah membuat radio internet itu, Eka lantas begitu saja menghapus “rute kerja” pembikinan radio yang sudah dituliskan di papan.

Eka yang akrab disapa di dunia daring dengan “ekajogja” ini lantas mengatakan: “Semua cara itu kini tak perlu ada. Cukup Anda unduh aplikasi: mixlr. Mau live streaming, bikin playlist, dan menyimpan rekaman dilakukan dalam sekali kerja. Dan semuanya tersedia gratis!”

Sebagaimana menerbitkan buku menjadi begitu gampang, membuat radio berbasis internet juga berlaku hukum yang sama.

Menjadi seorang admin (bukan: penyiar) di Radio Internet juga mudah! Manajer Radio Buku dan sekaligus penggagas utama lokakarya, Fairuzul “Virus” Mumtaz, meyakinkan kepada ke-9 peserta segala kemudahannya. Bahkan, kata dia, Radio Buku hanya membutuhkan “laptop jadul”, satu mik, yang didukung infrastruktur listrik dan jaringan internet “secukupnya”, bisa melakukan LIVE Streaming berhari-hari peristiwa-peristiwa buku dan diskusi seperti Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) atau Seminar Nasional Politik Kritik Sastra di Indonesia di PKKH UGM.

Peserta hanya butuh dua jam sudah bisa menyusun playlist siaran untuk 10 jam dan sekaligus terjun bebas berinteraksi dengan lalu-lintas padat manusia di jagat media sosial semcam Twitter, Facebook, Instagram, dan segala aplikasi media sosial lainnya.

Tapi ada yang tak pernah berubah. Di dunia yang menjadikan informasi sebagai bagian dari kerjanya, kultur penciptaan informasi selalu ajeg dengan beberapa modifikasi.

Saya mencatat setidaknya ada beberapa hal yang ditawarkan kultur 2.0 yang menjadi keberlanjutan dari kultur lama: 20. Kultur 2.0 adalah gabungan antara website statis dan platform sosial media. Adapun kultur 20 adalah kultur cetak. Keduanya berbeda segalanya dalam medium, tapi sama dalam praktik “bina diri” jurnalisme.

1. Internet menawarkan percepatan, menyelenggarakan kecepatan secara “los stang”–pinjam istilah perupa Samuel Indratma. Apa yang terjadi di pojok dunia sana, yang di era “Dunia Dalam Berita” TVRI masih samar-samar pada sudah dua hari kejadian, di era ini secara serentak diketahui dunia.

2. Kecepatan dan percepatan melahirkan “jurnalisme 2 paragraf”; berita-berita dan tulisan yang ringkas. Jika dua paragraf sudah dirasa cukup memperlihatkan “kenyataan”, sebar! Sebelum tahun 2005, koran-koran cetak masih bertahan dengan format 9 baris. Namun dengan makin maraknya penggunaan media sosial dan web berita daring kian mendapatkan tempat, koran cetak mengubah formatnya menjadi kompak. Tulisan diperingkas, foto atau image yang diberi tempat yang lebih.

3. Lembaga berita daring yang hidup di era media sosial mau tak mau ramah dengan platform media sosial. Maka berlomba-lomba membikin tulisan yang selain ringkas, juga punya potensi untuk dibagi masyarakat pengguna media sosial itu. Keringanan berbagi adalah salah satu sukma yang ditawarkan internet.

4. Berhadapan dengan kebudayaan internet kita berhadapan dengan logika jaringan yang dibawanya sejak orok. Berjejaring adalah kehidupan egaliter yang terbuka yang ditawarkan dan sekaligus didesakannya. Berbagi harus karena interaktif harga mati!

5. Makin massifnya kehidupan internet dalam kehidupan sehari-hari masyarakat; bukan hanya mengubah pola berkomunikasi, sistem manajerial, tapi juga membawa dampak perubahan besar bagaimana menyajikan karya jurnalistik dengan menyertakan secara serentak empat hal sekaligus dalam sebuah tubuh informasi yang sebelumnya mustahil dilakukan secara mudah dan cepat: teks yang tersurat; foto yang memadatkan realitas; suara yang poliponik; video yang menyaksikan gerak; dan kesaksian warga di media sosial.

6. Kerja database menjadi keharusan dari mana kode-kode itu memanggil informasi yang sudah diproduksi! Kecepatan pastilah melahirkan limpahan informasi karena dikerjakan oleh lebih banyak kalangan. Sementara itu, hampir seluruh kerja di internet membutuhkan pangkalan data. Makin besar cakupannya, makin besar pula pangkalan data yang diperlukan. Untuk Youtube misalnya yang berbasis video, tentu memerlukan puluhan kali lipat pangkalan data ketimbang wikipedia yang berbasis teks. Bisnis pangkalan data dan server pun menjadi semacam kebutuhan primer saat ini yang di “kebudayaan 20” tak terbayangkan bisa semassif dan sprimer saat ini. Kearsipan dan perawatan pangkalan data, Anda tahu, adalah ilmu lama, tapi ditangani dengan cara yang sangat baru!

Kultur dengan segala cirinya seperti itulah yang dihadapi 9 peserta lokakarya pembuatan Radio Streaming di Radio Buku.

Gampang membuat radio streaming? Ya, gampang, sekali lagi. Cepat, sebagaimana di poin satu. Justru pada saat “bungah-bungah” hati karena kegampangan itu, Fairuzul Mumtaz menginjak pedal rem untuk melakukan pelambatan. Ya, terlihat memang cepat, namun sesungguhnya di belakang itu semua dikerjakan dengan sangat lambat. Untuk menyiapkan materi siaran, radio membutuhkan narasumber. Karena Radio Buku, misalnya, berbasis pada arsip suara, maka suara yang masuk diolah, diedit, dikomposisi, dibuatkan materi tweet untuk dibagi ke twitter; dan dibakar dalam compact disk/diunggah ke soundcloud versi Buletin Suara yang lengkap. Berapa lama dibutuhkan untuk menyiapkan materi seperti itu? Pembuatan Radio Streaming barangkali hanya butuh 30 menit langsung bisa dipakai, tapi kerja belanja dan pengolahan bahan bisa membutuhkan waktu di atas 24 jam. Tidak percaya, tanyalah ke-9 nama peserta belajar yang dilampirkan di bawah tulisan ini.

Artinya? Dalam kecepatan selalu ada unsur pelambatannya, sebagaimana komentar @syafiatudina di hari pertama lokakarya. Sebab demikian itulah hukum alam yang dipelajari dari rumus fisika gerak tentang percepatan dan perlambatan.

Dan di dalam hukum “percepatan” dan “perlambatan” itu selalu ada unsur intervensi “waktu”; sebagaimana platform media sosial semacam facebook dan twitter yang menggunakan frase “timeline”. Jika sudah bicara “waktu” maka terngiang lagi hukum kuno Darwin yang itu: yang tahan yang bisa berdiri kuat. Maka, daya tahan adalah pembeda setiap orang dan setiap komunitas ketika sama-sama berjalan di titian waktu dalam kultur ini. Salam dari Sewon! [Muhidin M Dahlan]

—————————————

Lokakarya 4

foto: @cyntarare

MEREKA YANG BELAJAR BERSAMA (di) LOKAKARYA RADIO STREAMING #3

Inisiator dan Fasilitator Utama
Fairuzul Mumtaz @fairuzulmumtaz

Pengampuh
Eka Saputra @3k4j6j
Faiz Ahsoul
Muhidin M Dahlan @warungarsip

Logistik
Khotimatul Khasanah
Nurul Hidayah

Peserta Belajar Terseleksi
Septiana Jaya Mustika @master_bee_hiro
Desyi Indriana @deccilosophy
Bondan Satria Nusantara @pengkarya
Innas Tsuroiya @innazous
Ginanjar Teguh Iman @ginteguh
Nor Qoidatun Nikmah @qoida21
Dwi Isnawati @dwiisnawati02
Rheisnayu Cyntara @cyntarare
Syafiatuddina @syafiatudina

Ruang Belajar
Ruang Pameran Radio Buku & Warung Arsip

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan