-->

Literasi dari Sewon Toggle

Koleksi Jawa Pos di Hari Minggu

Pada Januari tahun 2016 digitalisasi koran Jawa Pos dan Indo Pos yang terbit di Hari Minggu dimulai, tepat saat berita dari Gunungkidul datang lagi: sudah enam orang meninggal bunuh diri. Di titimangsa yang sama, hiruk-pikuk sejagad belum juga mereda menyambut berbagi (trailer) Suicide Squad.

Warung Arsip memulainya dari tahun 2005 atau satu dekade lebih setahun dari saat ini karena pada tahun itulah dikumpulkan secara serius Jawa Pos–dan terutama sekali Indo Pos yang terbit di Jakarta.

Mengumpulkan Jawa Pos, baik harian maupun edisi Minggu di Yogyakarta bukan perkara mudah. Bukan saja edisi-edisi yang lampau, melainkan edisi-edisi terkini. Saya sekira tiga tahun silam mencoba menyusuri di mana pusat koleksi Jawa Pos yang lengkap. Sebagai orang yang buta peta kolektor Jawa Pos, insting saya langsung bergerak ke Perpustakaan Daerah yang ada di Malioboro. Sebetulnya, sejak 2007 saya sudah mengetahui di Perpusda Malioboro ini tak ada koleksi Jawa Pos. Saya hanya memastikan ulang. Dan hasilnya tetap tak ada perubahan. Lalu saya bergerak ke Kampus UGM. Hasilnya sama saja.

Jalan terbaik tentu saja mendatangi kantor Radar Jogja yang ada di Jalan Lingkar Utara yang tak jauh dari Jogja International Hospital (JIH)–duh, nama rumah sakit yang berdekatan dengan Hartono Mall ini. Hasilnya, ya, ada, tapi tak lengkap.

Jadi? Jika Anda mencari koran Jawa Pos edisi Minggu, koleksi Warung Arsip bisa diandalkan. Tapi itu tadi, kebanyakan versi Indo Pos. Karena koleksi Warung Arsip didatangkan dari Newseum Indonesia yang berpusat di Jakarta Pusat.

Namun, jika mencari halaman buku, misalnya, edisi Jawa Pos yang terbit di Surabaya dan Indo Pos di Jakarta sama-sama memuatnya; sebagaimana kesamaan di halaman depan.

Sebagai informasi, untuk Jawa Pos/Indo Pos edisi Minggu, Warung Arsip menyimpan 1019 halaman atau 33 edisi. Edisi yang terbit setiap hari belum disentuh sama sekali. Maklum, Warung Arsip hanya komunitas, dan bukan Badan Kliping Nasional dengan anggaran yang datang secara reguler tiap bulan, walau seperti pengakuan dari Museum Pers Solo, jumlahnya teramat sedikit.

Membaca lembar buku atau esai di hari Minggu Jawa Pos ini saya terkenang dengan teman-teman saya sendiri yang kini menjadi “tulang punggung” dunia jurnalistik di Jakarta, seperti (Mantan Ketua Umum PMIII Cabang Yogyakarta) Ahmad Nurhasim.

Sekaligus saya tercenung menemukan sejumlah nama penulis produktif yang kini telah tiada karena berjumpa dengan maut di usia masih cukup muda, seperti Tasyriq Hifzhillah. [Muhidin M Dahlan]

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan