-->

Literasi dari Sewon Toggle

Cemas Bersama (Balairung) Buku – #LiterasidariSewon

Saya membuka lagi boks hitam di gudang-kotak Warung Arsip di Sewon, Bantul ini. Boks hitam khusus menyimpan artefak beberapa majalah Balairung UGM yang sempat saya koleksi dan beberapa di antaranya disumbangkan para jurnalisnya yang sedang berkiprah dan mengasah kemampuan menulis di dalamnya.

Dan soal Balairung, tak ada kesan yang lebih mendalam selain melihat kembali salah satu edisinya yang legendaris dengan cerita sampul: “Scripta Manent! Mengabadikan Pengetahuan Lewat Buku”

Cerita sampul ini bersejarah karena dua hal. Pertama, ini adalah edisi peralihan dari Balairung berbentuk majalah menjadi Balairung berbentuk jurnal. Kedua, jurnal ini memulainya dengan isu buku di Jogja saat mata masih berkejap-kejap di abad 21.

Membaca lagi jurnal oranye ini tentang buku Jogja di pergantian kuasa Soeharto dan di peralihan milenium setelah 15 tahun waktu terbitnya seperti membuka lagi kecemasan yang ditularkannya. Sepertinya tak ada yang optimistik yang ditebarkan jurnal mahasiswa beken itu tentang “industri buku” di Jogja. Enam esai serius, dan laporan-laporan yang lain berbicara tentang statistik dosa-dosa pelaku perbukuan di kota Jogja. Kata-kata “tirani”, “keserakahan”, konglomerasi”, “proyek pembodohan” adalah sederet frase yang ditudingkan langsung ke para terdakwa yang sedang berlomba menapaki tangga ke singgasana yang bernama “industri buku”.

Laporan dari Balairung ini seperti bertabrakan dengan cerita-cerita “para terdakwa” di masa itu yang barangkali masih bergiat di jalan buku saat ini dan menyebarkan cerita heroik yang rontok di masa peralihan.

Lima belas tahun kemudian setelah laporan yang perih itu di era ketika “demokratisasi membikin buku” berada tepat di ujung jari. Datangnya “demokratisasi menerbitkan buku” akankah makin menjauhkan terciptanya iklim “industri buku” yang menjanjikan kuantitas produk terbitan seimbang dengan jumlah penduduk Indonesia yang dicatat secara berkala oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Saat menerbitkan buku, alih-alih menerobos “kutukan 3000 eksemplar” yang sekian tahun menyimpan cerita runyamnya, kini berhadapan dengan pola menerbitkan buku “sesuai pesanan”.

Ini tentu siasat bagus untuk tetap bermain di buku dengan lebih semringah dan hati plong. Ketimbang kebahagiaan tak tercapai, eh ditambah sakit jiwa lagi karena dililit hutang-piutang cetak seperti cerita-cerita kelam yang direkam jurnal oranye dari Kampung Bulaksumur ini.

Saya lebih memilih menumpuk lagi jurnal ini dan menutup boks hitam terbitan-terbitan Balairung itu di rak yang semestinya.

Saya melanjutkan mengunduh edisi buletin Ekspedisi format lunak yang diterbitkan secara berkala LPM Ekspresi UNY di ekspresionline.com. Selain majalah/jurnal Balairung, di boks hitam Warung Arsip juga menyediakan majalah HIMMAH UII dan Ekspresi IKIP/UNY. Salam dari Sewon. [Muhidin M. Dahlan]

[Daftar Isi Majalah Balairung edisi “Scripta Manent!¬†Mengabadikan Pengetahuan Lewat Buku”]

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan